God Of Death

GoD_Cover

Title

God of Death

Author

Kidhy

Cast

Kim Myungsoo

Son Naeun

Genre

Semi-Fantasy | Romantic

Rating

Teenager

Disclaimer

PLOT is MINE, Casts are belong to the God.

DO NOT TRY TO RE-POST MY FICTION!

Please leave a Comment after reading

Summary

Saat kisah romansa tidak mengenal kata dewa dan manusia…

**************

Mati, meninggal, terpisahnya ruh dan raga. Rasanya setiap manusia pasti mengetahui hal itu dengan catatan mutlak, semua makhluk hidup pasti mengalami kematian. Tidak ada makhluk hidup dimuka bumi yang tau kapan Dewa Kematian akan mengambil harta terpenting dari tubuhnya. Tidak ada yang tau bagaimana cara Dewa Kematian mengambil harta itu. Juga, tidak ada yang bisa menawar tatkala sang Dewa Kematian mendatanginya.

Hampir seluruh makhluk hidup mempercayai pernyataan-pernyataan di atas karna memang kenyataannya seperti itu. Namun mungkin sebuah kisah tentang kematian dan cinta akan mematahkan pendapat tentang pernyataan terakhir. Bukan. Bukan seorang makhluk hidup yang menawarnya, tapi Dewa itu sendiri.

Kisah ini dimulai dari awal musim gugur tahun 2012, dimana seorang pria tengah menatap Death Note* ditangannya. Secara fisik, pria ini tampak seperti pria kebanyakan, namun jika orang yang tengah bertahan antara hidup dan mati melihatnya, orang tersebut hanya akan menemukan sosok Dewa Kematian dalam dirinya. Ya, dengan kata lain, hanya orang-orang yang hampir—atau sudah—mati yang dapat mengetahui wujud aslinya. (*Death Note = Semacam buku pegangan daftar-daftar manusia yang akan dicabut nyawanya oleh sang pemilik buku (Dewa Kematian))

“Nama : Son Naeun. Lahir : 10 Feb 1990. Wafat : 30 Sep 2012.” Pria itu membaca Death Note kepunyaannya, ia menghela nafas dan bergumam, “Aku masih punya 6 hari sebelum waktu kematian gadis itu.”

Dengan inisiatifnya sendiri, pria itu pergi ke tempat dimana targetnya beraktifitas, menyamar dan mencoba membaur dengan manusia disana. Melihat dan memperhatikan gerak-gerik gadis yang jadi incarannya minggu ini.

Dari pengamatannya, ia dapat menilai bahwa Naeun adalah seorang gadis pendiam yang gemar membaca. Juga sesosok sopan dan baik, ditambah dengan paras menawan yang dimilikinya, setiap orang pasti berpendapat bahwa gadis itu sempurna.

Jika sudah seperti ini—menemukan target, sang Dewa Kematian hanya perlu membututinya—dengan menyamar sebagai manusia—dan hingga saatnya tiba, Dewa Kematian akan mengambil ruhnya—entah dengan cara halus atau kasar.

Sudah tiga hari sang Dewa Kematian menyamar menjadi manusia bernama Myungsoo guna membututi Naeun. Myungsoo merasakan ada sesuatu yang janggal dihatinya ketika melihat Naeun. Seperti saat ini, manusia yang notabenenya Dewa Kematian tersebut duduk di taman tak jauh dari tempat gadis itu berdiri, merasakan gemuruh-gemuruh yang tidak pernah dirasakannya sedari ia terlahir kembali menjadi seorang Dewa.

Terlahir kembali? Ya. Hampir semua umat manusia berpendapat setiap manusia yang mati, ruhnya akan kembali ditiupkan menjadi sebuah individu baru sebagai bentuk siklus kehidupan selanjutnya bagi manusia yang mati tersebut. Namun adakalanya sebagian pendapat salah. Nyatanya, beberapa dari mereka yang mati ditiupkan kembali ruhnya bukan sebagai manusia, namun sebagai malaikat ataupun dewa yang hidup abadi didunia berbeda.

Dewa Kematian ini juga pernah merasakan terlahir menjadi manusia pada umumnya. Ya, nama ‘Kim Myungsoo’ yang dipakainya adalah memang namanya dikehidupan sebelumnya. Nyawanya  dicabut 40 tahun lalu karna kecelakaan beruntun ditahun 1972.

Sejenak gemuruh dihati Myungsoo membuatnya berfikir,

‘Apakah setelah mati ia menjadi malaikat?’

‘Apakah setelah gadis itu mati kami dipertemukan dalam keabadian?’

‘Apa yang terjadi padaku? Mengapa hati ini berdetak lebih cepat dari biasanya?’

Mata Myungsoo terpejam, berusaha mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri. Dan saat ia membuka matanya, bukan jawaban yang ia dapatkan, namun senyuman gadis itu. Sebuah senyuman yang membuat hatinya berdetak lebih cepat.

Hari-hari berlalu dan lusa adalah hari yang ingin dihindari Myungsoo. Hari ini—seperti hari-hari sebelumnya—Myungsoo membututi Naeun. Myungsoo duduk di taman universitas tempat Naeun menimba ilmu, menunggu gadis jelita tersebut keluar dari kelasnya.

Senyumannya merekah saat gadis berambut panjang hitam legam itu berjalan keluar bersama temannya.

Ingin sekali Myungsoo berjalan ke arahnya untuk sekedar menyapa atau mengantarnya pulang—secara terang-terangan. Tapi ia tau itu hanya menimbulkan masalah. Jadi Myungsoo hanya menatap punggung Naeun yang lambat laun menghilang diantara kerumunan mahasiswa lain.

“Suatu saat aku pasti akan menyapamu.”

***

Son Naeun. Itulah nama seorang gadis yang duduk di balkon apartmentnya ditemani secangkir teh hijau hangat. Matanya tidak lepas dari pemandangan city-line scape disinari hangatnya mentari senja. Sebuah—atau satu-satunya—pemandangan yang bisa dinikmati di kota besar seperti Seoul.

Matanya terpejam, menikmati belaian halus sinar mentari senja, sesekali ia menghirup nafasnya dalam-dalam dan menghebuskannya dengan perlahan. Berfikir sesuatu yang tidak pernah ia duga.

“Sampai kapan batas waktuku untuk menghirup oksigen lagi?”

Kelopak mata yang indah itu terbuka perlahan. Dan saat matanya terbuka sempurna, lensanya tidak lagi menangkap pemandangan city-line scape tapi seorang namja bertubuh tegap berbalut kemeja putih dan potongan celana hitam tengah menatapnya—dari bawah gedung apartmentnya. Tatapan tajam namun ampuh meluluhkan siapa saja yang menatapnya.

Naeun kembali memejamkan mata, berharap namja yang tengah menatapnya tadi hanya hayalan belaka. Dan benar saja, saat ia kembali membuka mata, tidak ada sosok namja tersebut. Matanya mengerjap-erjap sembari melirik kesana-kemari mencari namja tersebut. Hasilnya nihil, tidak ada sosok namja seperti yang ia lihat tadi.

Naeun beranjak dari kursinya, mengangkat cangkir tehnya, berjalan masuk ke dalam sembari memijat pelan keningnya. “Mungkin aku kelelahan sampai menghayal seperti tadi.”

‘Tapi… disini(hati)… mengapa ada rasa kehilangan saat aku tidak menemukannya?’

Disisi lain—tepatnya langit, seorang Dewa yang terbiasa memakai nama Kim Myungsoo, berdiri dengan raut wajah yang tidak dapat diartikan. Matanya tak henti menatap sebuah kamar apartment dengan perasaan kalut.

‘Aku bukan hayalan. Aku nyata tapi terlalu pengecut untuk muncul dihadapanmu. Dan tolong hilangkan rasa kehilangan yang tumbuh disana saat melihatku, aku takut rasa itu akan berkembang. Karena aku bukanlah makhluk yang pantas di rindukan. Karena aku bukan manusia. Karena aku… yang akan menghentikan nafasmu lusa…’

The day…

30 September 2012

Seorang gadis tengah memejamkan mata, menghirup dalam-dalam wangi aroma terapi yang dapat menenangkannya, sesekali ia berdehem mengikuti irama music opera produksi Austria yang berdentum lembut.

Kegiatan tersebut sontak terhenti tatkala bel apartment yang dihuninya sendiri berbunyi. Dengan cepat ia melangkah menuju pintu guna membukakan pintu tersebut. Wajah cantiknya membentuk ekspresi yang tidak dapat diartikan.

“Halo, maaf mengganggumu. Aku Kim Myungsoo, tetangga barumu. Aku tinggal di kamar nomor 1501.”

“Halo. Kedatanganmu tidak menggangguku. Apa ada yang ingin anda bicarakan? Silahkan masuk kalau be—”

Tubuh Naeun seakan membeku. Bibirnya mengatup tidak melanjutkan kalimatnya lantaran Myungsoo mendekapnya erat. Erat menyiratkan berbagai rasa, entah itu rindu, kasih sayang, salam pertemuan atau salam perpisahan.

Bagaikan mempunyai keahlian hipnotis, Myungsoo berkata, “Tutup matamu, tarik nafas dalam kemudian keluarkan, cobalah untuk rileks.”

Sebuah kecupan ringan mendarat dikeningnya, memberikan sejuta rasa ketenangan bagi Naeun. Punggungnya pun tak luput dari belaian tangan Myungsoo. Tubuhnya lemas. Dari ujung jemari kaki, menjalar ke atas, fungsi organ tubuh gadis tersebut muai non-aktif satu per satu.

Matanya terbuka, berharap dapat menatap pria yang mendekapnya. Ada yang ingin disampaikannya. Satu pertanyaan. Satu kalimat.

Telepati. Bahkan detik-detik akhirnya, Naeun percaya hal tersebut dapat dilakukannya.

“Apa kau dewa kematianku?”

“Aku minta maaf karna lancang melakukan ini, tapi dugaanmu benar. Aku dewa kematian.”

“Terimakasih karena telah melakukannya dengan seperti ini.”

“Kau layak mendapatkannya.”

Naeun tersenyum bahagia. Seyuman paling indah yang pernah dibuatnya. Senyuman terakhirnya.

“Sampai bertemu lagi, Ms. Son.” Myungsoo membaringkan tubuh kaku gadis tersebut di sofa, menyelimutinya, memberikan kecupan di kening Naeun.

“Tidurlah dengan damai.”

THE END

Annyeong Haseo, *bow

Haiii eperibodeh~ Kidhy yg baru disini baru aja ngepost ini epep.

Sebenernya ini ff udah lama dibuat, cuman belum di post resmi. Tadinya ini juga bukan ff, cuman cerpen yang dibuat dalam waktu sempit saat pelajaran kimia yang bikin mumet itu -_- Dan versi ori cast nya bukan MyungEun, tapi Hana-Alex (OC percobaan author._.v)

Soal ‘Like A BBANG!’ itu bakalan kepost lama, kayaknya pertengahan bulan oktober. Author lagi banyak kegiatan yang menyita waktu😦 Maaf banget.😦

Chaaaa, tapi author tetap minta kritik+saran yang membangun dari kalian.. Mohon bantuannya, BUDAYAKAN RCL ><

Kamsahamnida🙂

10 thoughts on “God Of Death

    • Hidup MyungEun ^o^9
      Trimakasiiiiiiih😀 *meleleh*
      Tungguin ya yang ‘Like A Bbang’.. Itu MyungEun juga kok *promosi *plak *kabur
      Makasih udah baca + respon chinguuu🙂

  1. Myungeun,,, aaa,, hawhawhaw… Krenn thorr dohh jdi pngen squelnya gtu, wakwau,, kekeke daebak thorr critanya dpt nih, doh keknya myungeun emng puna kimestris mrka brdua😦

  2. Yuhuuu~ makin so sweet aja ff myungeun nya ❤️❤️ Bikin deg2an jugaa 😁😁 next dan lanjutkan karya2 mu tentang ff myungeun oke? Semangatt!!! 👍👍

  3. bagus banget thor… pendek, tapi ngena.. >< ini ga ada kelanjutannya gitu pas udh meninggal dan kenapa meninggalnya? semangat untuk nulisnya ya thor~~ ^^9

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s