{30 DAYS CUPID’S SIDE-STORY}: JIN’S STORY-BECOME A CUPID

30DC-JIN STORY

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: Fantasy, School-life, Friendship, Sad||Main Characters: (BTS) Jin/Seokjin & (OC) Jeon Junmi||Additional Characters: (SuJu) Sungmin, (BTS) Suga/Yoongi, (ToppDogg) Kidoh/Hyosang, (AOA) Hyejeong, (2PM)Jun.K/Junsu & (Hello Venus) Yooara||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s). Warning: This is very long!

“Saat ini kau adalah cupid-30-hari. Kau akan diberi kesempatan selama 30 hari untuk menjalankan hukumanmu. Jika kau gagal, kau tidak akan hidup sebagai manusia lagi. Kau akan menjadi cupid selamanya.”

Prolog|Chp.1|Chp.2|Chp.3|Chp.4|Chp.5|Chp.6|Chp.7|Chp.8|Chp.9|Chp.10|Chp.11|Chp.12|Chp.13A||Chap.13B-End>>Side-Story (Jin’s Story)

HAPPY READING \(^O^)/


“Putus!”

“Apa?”

“Aku mau kita putus!”

“Tapi, kenapa?”

“Kau masih mempertanyakan alasannya, hah!? Jelas-jelas aku melihatmu bermesraan dengan lelaki lain kemarin!”

“A-Aku bisa menjelaskan kejadian itu, Seokjin Oppa~”

“Penjelasan? Aku tidak butuh penjelasan darimu, Seolhyun. Ini sudah ke-3 kalinya aku melihatmu bermesraan dengan lelaki itu. Hah, seharusnya kau sudah aku putuskan sejak dulu!”

“Tapi, tapi…, aku masih mencintaimu.”

“Cih! Omong kosong. Kau tidak mencintaiku! Kau mencintai uang orangtuaku, kan!? Kau mendekatiku karena aku anak orang kaya, kan!? Perempuan murahan!”

“Tapi, Oppa~”

“Lepaskan! Mulai hari ini kita putus! Jangan pernah menghubungiku atau muncul di hadapanku lagi, kau mengerti?”

Sepotong adegan saat hubungannya bersama Seolhyun harus berakhir semalam terus terputar di dalam kepala Seokjin. Membuat pemuda berwajah tampan itu berkali-kali mendengus kesal dalam perjalannya menuju sekolah.

Hubungan yang sudah 2 tahun ia jalin dan berusaha ia pertahankan dengan Seolhyun harus berujung pada kata putus yang keluar dari mulutnya. Bagaimana tidak!? Kemarin sudah yang ketiga kalinya ia melihat Seolhyun bermesraan dengan seorang laki-laki yang entah siapa.

Seokjin tidak bisa memberi Seolhyun kesempatan lagi. Dua kesempatan yang sebelumnya sudah Seokjin berikan sepertinya sudah sangat cukup, bahkan mungkin lebih untuk seorang Seolhyun. Dan semalam, Seokjin benar-benar menyerah mempertahankan hubungannya.

Dia memilih untuk menyudahi hubungannya dengan Seolhyun.

Tapi, bukan hanya itu yang membuatnya kesal pagi ini.

Pagi tadi, kedua orang tuanya bertengkar… lagi. Entah karena masalah apa, Seokjin tidak tahu dan tidak mau tahu. Dia tidak peduli lagi dengan sikap kedua orang tuanya yang selama beberapa bulan belakangan ini sering bertengkar.

Entahlah. Mungkin… kedua orang tuanya sebentar lagi juga akan berpisah.

“Hah~”

Seokjin mengembuskan napas berat, seolah dengan embusan napas itu, seluruh beban dalam hati dan pikirannya ikut keluar dari tubuhnya dan menguap bersama dengan udara di sekitarnya. Paginya benar-benar kacau hari ini. Sangat. Semoga saja tidak ada hal lain yang membuat mood-nya semakin bertambah buruk.

Dengan langkah malas, pemuda itu berjalan menuju sekolahnya, menyelipkan tangan kanan ke dalam saku celananya, sementara tangan kirinya memegang tali ransel merah yang tersampir di bahu kirinya. Jujur, ia sedikit malas ke sekolah hari ini, tapi… hah… dia tetap saja pergi ke tempat itu. Paling tidak, di sekolah ada Hyosang, sahabatnya, yang menemaninya.

“Seokjin-ssi~”

Seketika Seokjin menoleh ke asal suara begitu mendengar seseorang menyebut namanya. Didapatinya seorang gadis berkacamata yang tersenyum lebar padanya, memandangnya penuh penghambaan.

“Kau memanggilku, kan?” tanya Seokjin memastikan bahwa gadis-yang-entah-siapa yang berada di dekatnya ini memang benar orang yang memanggilnya.

Gadis itu mengangguk. “Ya.”

“Ada apa?”

“Ini untukmu!” Seketika gadis itu menjulurkan kotak bekal yang ia bungkus dengan kain berwarna merah muda ke arah Seokjin dengan kedua tangannya yang nampak bergetar.

Seokjin membulatkan kedua matanya. Ia sukses dikejutkan oleh seorang gadis yang tidak ia kenal—meski memakai seragam sekolah yang sama dengannya—tiba-tiba memberinya kotak bekal. Dalam sekejap, Seokjin bisa menebak bahwa gadis ini adalah satu dari sekian banyak gadis yang mengejar-ngejarnya di sekolah.

“Aku tidak mau menerimanya!” tolak Seokjin dengan nada ketus.

Kedua mata gadis itu membulat. Napasnya sedikit tersengal. Tangannya yang gemetar semakin terlihat gemetaran. “Ke-kenapa?” tanyanya kecewa.

Seokjin mendengus. “Siapa tahu kau memasukkan sesuatu yang bisa membuatku menyukaimu,” tuduh Seokjin. “Dengar, ya, kau bukan tipe idealku!”

Pemuda itu tidak peduli ucapannya barusan telah menyakiti gadis itu atau tidak, yang jelas, gadis itu telah menambah buruk mood-nya hari ini.

“Lebih baik kau melihat dirimu sebelum mendekatiku, Nona…” Seokjin melirik name tag yang tersemat di bagian kanan seragam gadis itu, “… Jeon Junmi!” lanjut Seokjin, kemudian berlalu dari hadapan gadis itu.

Putus dengan Seolhyun.

Pertengkaran orang tuanya.

Dan barusan, diberi bekal oleh seorang gadis yang… ugh, sangat jauh dari tipe gadis kesukaannya.

Ck! Hari ini hari yang sangat buruk.

@@@@@

Hari ini memang hari yang sangat buruk dengan Seokjin.

Putus dengan Seolhyun.

Pertengkaran orang tuanya.

Diberi bekal oleh seorang gadis yang sangat jauh dari tipe gadis kesukaannya.

Dan…

“BUGH!!!”

YA! APA-APAAN KAU, YOONGI???”

Ya! Sekali lagi kutahu kau menyakiti temanku, aku akan menghajarmu lebih parah dari yang kau dapat hari ini. Ingat itu, Kim Seokjin!”

Dan… dilabrak oleh Ketua Dewan Siswa, Min Yoongi, sahabat Junmi, gadis yang pagi tadi ditemuinya.

Yoongi menyandarkan Seokjin pada dinding gudang di bagian belakang sekolah. Kedua tangannya mencengkram kuat kerah baju pemuda tampan itu, menatapnya geram. Tetapi, Seokjin terlihat tidak takut. Dengan angkuhnya, ia malah mendorong Yoongi dan berkata, “Sampaikan pada temanmu itu, Min Yoongi yang terhormat, jangan coba-coba mendekati aku karena aku tidak akan pernah meliriknya sedikit pun. Kau mengerti?”

Untuk beberapa detik, keduanya sempat bertatapan sengit sampai Seokjin memutuskan untuk beranjak dari tempat mereka berada. Berlama-lama di sini membuatnya kesal.

Dengan langkah lebar, Seokjin menjauh dari gudang sekolah. Berjalan menunduk menyusur koridor menuju ruang kesehatan sekolah, tidak ingin siswa-siswi yang melintas di dekatnya tahu bahwa… ada sedikit luka di sudut kanan bibir yang merusak wajah tampannya.

Tiba di ruang kesehatan, Seokjin langsung membersihkan lukanya sendirian. Hanya meminta selembar handuk kecil, cairan antiseptik dan beberapa lembar kapas pada 2 orang siswi anggota klub kesehatan yang hari ini piket di ruang kesehatan. Duduk di depan cermin dengan tangan kanan memegang handuk basah, telaten membersihkan bekas-bekas darah yang menghiasi sudut bibirnya. Sesekali terdengar ringisan kecil yang membuat siswi di dekatnya melihat ke arahnya.

Ah, Seokjin tidak peduli dengan mereka.

“SEOKJIN-AH~?”

Pemuda itu melihat ke arah pintu melalui cermin di hadapannya. Dilihatnya Hyosang, sahabatnya, berjalan menghampirinya.

“Aku mencarimu sejak tadi. Anak-anak bilang kau berjalan ke arah ruang kesehatan. Apa yang kau lakukan di sini, hah? Kenapa wajahmu?” tanya Hyosang, berdiri di belakang Seokjin, melihat sahabatnya yang kembali membersihkan luka melalui cermin di depannya.

“Min Yoongi.”

“Yoongi?” gumam Hyosang dengan nada heran. “Apa yang dia lakukan padamu, hah? Dia memukulmu?” tebaknya.

“Begitulah,” sahut Seokjin singkat.

“Kenapa?”

Seokjin melihat menatap wajah Hyosang melalui cermin dan berkata, “Kau tahu gadis yang selalu bersamanya, kan?”

“Y-Ya. Jeon Junmi. Kenapa?”

“Gadis itu memberikan bekal untukku pagi tadi, tapi aku menolaknya. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, tapi saat jam istirahat, Yoongi melabrakku dan menghajarku di gudang belakang,” jelas Seokjin.

“Kenapa tidak melapor pada guru konseling, hah? Jabatan Yoongi sebagai Ketua Dewan Siswa bisa dicabut kalau guru tahu dia berkelahi,” ujar Hyosang agak memanas-manasi.

Tetapi, Seokjin malah mendengus. “Sudahlah. Aku tidak mau memperpanjang urusanku dengannya.”

“Kau takut padanya?” Hyosang sengaja menggoda.

Seokjin menengok ke arah Hyosang, sedikit mendongak untuk melihat wajah sahabatnya itu. “Takut pada Min Yoongi? Cih! Aku tidak takut sedikit pun padanya.”

“Kalau begitu, kenapa—”

“Aku sudah bilang, aku tidak mau memperpanjang urusanku dengannya. Aku tidak suka berurusan dengan dia atau pun gadis yang selalu bersamanya itu.”

“Ya, ya. Terserah kau saja,” balas Hyosang, memutar kedua bola matanya. “Tapi, kau tidak mungkin masuk ke dalam kelas dengan wajah seperti itu, Princess. Kau bisa langsung ketahuan sudah berkelahi kalau Han Sonsaengnim melihat wajahmu.”

“Aku tahu,” kata Seokjin singkat. “Aku memang berencana untuk tidak masuk pelajaran ketiga. Jadi, kau tahu kan tugasmu apa, Slave?”

Hyosang menabok kepala Seokjin. Kesal dengan sebutan Slave yang Seokjin berikan untuknya. “Ya, ya, aku tahu apa yang harus aku lakukan,” ucap Hyosang kemudian.

Tidak lama berselang, suara bel tanda jam istirahat berakhir pun terdengar. Tanda bagi Hyosang dan kedua siswi yang bertugas piket di ruang kesehatan untuk kembali ke kelas masing-masing. Sementara itu, Seokjin memilih untuk melewati jam pelajaran ketiga dengan tidur di ruang kesehatan. Paling tidak, tidur di saat siswa-siswi lain sedang belajar adalah hal terbaik untuknya hari ini.

Atau mungkin… menjadi hal yang paling buruk dari semua yang telah ia alami hari ini.

@@@@@

Tubuh Seokjin menggeliat pelan di atas tempat tidur. Perlahan-lahan pemuda itu membuka kedua matanya, membiarkan cahaya menelusup ke dalam matanya. Setengah sadar, pemuda tampan itu mengambil posisi duduk, lantas melihat sekitarnya.

HEI! SEJAK KAPAN RUANG KESEHATAN DIDOMINASI WARNA MERAH MUDA?

Seokjin kaget bukan main. Terakhir kali, sebelum ia tidur, sangat jelas bahwa dinding ruang kesehatan berwarna putih. Tapi…, ruangan ini berbeda dengan ruang kesehatan yang terakhir kali ia lihat.

Dalam keadaan yang sangat panik, pemuda itu membiarkan kedua matanya menyapu seluruh benda-benda yang berada di dalam ruangan itu. Dinding ruangan, tempat tidur dan selimut, semua benda di dalam ruangan ini penuh dengan warna merah muda.

Tempat ini benar-benar bukan ruang kesehatan.

“Aku dimana sekarang?” Seokjin bertanya pada dirinya sendiri.

Dan, tepat di saat Seokjin hendak turun dari tempat tidurnya, ada seseorang yang membuka pintu ruangan itu—mungkin… lebih tepatnya ada makhluk lain yang membuka pintu itu. Makhluk dengan pakaian serba merah muda, lengkap dengan sepasang punggung di sayap juga sepasang antenna di kepalanya itu berjalan menghampiri Seokjin. Sementara, Seokjin yang tidak mengenal siapa dan makhluk apa yang sedang berjalan ke arahnya hanya bisa diam terpaku di tempatnya. Kedua matanya lekat memandang makhluk itu.

“Si-siapa kau?” tanya Seokjin sedikit takut. Meski semua benda di ruangan, bahkan makhluk yang sekarang berdiri di sebelah tempat tidurnya berwarna merah muda—warna kesukaannya, tetap saja dia takut.

Makhluk itu tersenyum. “Perkenalkan, Aku Ming. Cupid. Aku anak buah dari Dewi Venus. Saat ini kau berada di istana Dewi Venus.”

Cupid?

Dewi Venus?

Anak buah?

Istana?

Oke! Ini benar-benar mimpi yang sangat aneh! Aneh sekali. Seokjin harus segera bangun sebelum mimpi aneh ini berlanjut. Seokjin memukul-mukul pipinya, berusaha untuk segera bangun. Tapi…, kenapa ia tidak juga bangun?!

“Kim Seokjin-ssi, percuma kau melakukan itu. Yang sedang kau lihat ini bukanlah bagian dari mimpimu. Ini semua nyata,” kata Ming, berusaha menenangkan. Ah, selalu ada adegan seperti ini setiap kali ia harus menjadi cupid mentor. Ck!

“Kau pasti bohong, kan!? Kau pasti orang suruhan Yoongi untuk mengerjaiku. Ya! Katakan pada Min Yoongi, aku tidak suka caranya. Jika dia belum puas memukulku, suruh dia berhadapan denganku. Jangan mengerjaiku dengan cara seperti ini!”

Ming memutar kedua bola matanya jengah. “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Kim Seokjin. Aku tidak mengenal Min Yoongi. Kau berada di sini karena kau harus menjalani hukuman, bukan karena dikerjai oleh seseorang!”

“APA?” Seokjin membulatkan kedua matanya. “HUKUMAN?” ulangnya memastikan.

Ming mengangguk pelan, lalu berkata, “Saat ini kau adalah cupid-30-hari. Kau akan diberi kesempatan selama 30 hari untuk menjalankan hukumanmu. Selama 30 hari itu kau harus menyatukan 4 pasangan yang telah ditentukan. Jika kau gagal, kau tidak akan hidup sebagai manusia lagi. Kau akan menjadi cupid selamanya.”

Rahang Seokjin jatuh mendengar penjelasan cupid di dekatnya. “KAU SUDAH GILA, HAH? HUKUMAN MACAM APA ITU? LAGI PULA, KENAPA AKU DIHUKUM? AKU TIDAK MELAKUKAN KESALAHAN APAPUN!!!” protes Seokjin.

“Kau melakukan satu kesalahan, Kim Seokjin. Bagimu, mungkin itu bukan sebuah kesalahan, tapi bagi kami, bagi para cupid dan Dewi Venus, tindakanmu adalah sebuah kesalahan dan kau harus dihukum untuk itu.”

“Memangnya apa yang telah aku lakukan?” Seokjin sungguh tidak mengerti dengan semua ini.

“Kau telah membuat seseorang patah hati. Kau membuat seseorang tidak percaya lagi terhadap kekuatan cinta. Jeon Junmi. Kau mengenal gadis itu, bukan? Dan, kau ingat apa yang telah kau perbuat padanya pagi ini?”

Seketika Seokjin terdiam. Ya, dia ingat betul setiap gerak dan ucapan yang ia tunjukkan pada Junmi pagi tadi. “Ja-jadi… karena gadis itu…”

“Bukan karena gadis itu. Dia tidak punya salah apa-apa. Kau yang salah. Kau telah membuatnya tidak percaya lagi dengan cinta,” jelas Ming.

“Jadi…, aku harus menjalani hukuman ini agar aku bisa kembali menjadi manusia, hah?”

“Tepatnya, kau harus menjalani hukuman ini dan kau harus berhasil menyatukan 4 pasangan jika kau ingin kembali menjadi manusia seutuhnya, Kim Seokjin!”

Seokjin kembali terdiam. Membiarkan otaknya mencerna setiap kalimat yang telah diucapkan oleh makhluk yang mengaku cupid bernama Ming di dekatnya. Haha… tidak. Ini pasti hanya mimpi. Ini mimpi. Aku tidak mungkin menjadi cupid-30-hari. Tidak mungkin! Ini pasti hanya mimpi. Hanya mimpi.

@@@@@

Tapi, sayangnya… semua itu bukan mimpi.

“AARGGHH!!!”

Seokjin berteriak frustasi di dalam kamarnya yang terlihat sangat berantakan. Bagaimana tidak? Dia benar-benar menjadi cupid-30-hari. Kalung dengan bandul berbentuk hati telah menghias lehernya sejak 7 hari yang lalu, termasuk love-tablet yang kini tergeletak di lantai kamarnya.

“Astaga! Apa yang kulihat ini, hah? Apa yang terjadi padamu, Seokjin?” Ming, cupid mentor Seokjin, muncul tiba-tiba di dalam kamar pemuda itu.

Seokjin yang duduk menekuk lutut di atas tempat tidurnya, menoleh ke asal suara, menatap Ming dengan sorot mata yang tajam. “Kau masih bertanya apa yang terjadi padaku? Apa kau bercanda, Ming?” Seokjin turun dari tempat tidurnya, beringsut ke hadapan Ming. “Aku pusing. Aku stress. Aku… aku… aku…”

“Cukup!” potong Ming. “Kau harus menenangkan dirimu, Seokjin. Aku tahu ini tidak mudah bagimu. Aku butuh kau tenang sekarang. Tenangkan pikiranmu dan fokuslah pada apa yang telah kau capai selama beberapa hari ini tentang targetmu.”

Seokjin perlahan mundur dan duduk di tepi tempat tidurnya. Kedua tangannya bertumpu di atas pahanya, kepala menunduk dengan jemari yang menangkup hidung mancungnya. “Ini sangat sulit, Ming,” gumam Seokjin. “Kau tahu bagaimana kondisiku, kondisi keluargaku.”

Cupid itu mendekati cupid trainee-nya, duduk di sebelahnya dan menyentuh pundak bidang Seokjin. “Jangan cengeng seperti itu, Kim Seokjin! Kau masih punya 23 hari. Masih ada banyak waktu untuk menyelesaikan ke-4 misimu. Kalau kau masih ingin menjadi manusia, kau tidak boleh buang waktu lagi. Kau harus bekerja sangat keras mulai sekarang.”

Pemuda tampan itu menoleh ke arah Ming, lantas menghela napas. “Jadi, menurutmu aku bisa menyelesaikan misi ini, hm?”

Ming mengangguk. “Tentu saja. Kau tidak boleh membuang waktumu.”

“Bagaimana kalau… nanti aku tidak berhasil?”

“Jangan memikirkan hal dulu sebelum kau mencoba untuk menyelesaikan misi pertamamu! Berhasil atau tidak, semua itu bergantung dari usaha dan kepercayaan pada kemampuanmu sendiri. Kalau kau percaya kau mampu, kau pasti bisa.”

“Begitu?” Seokjin menatap Ming lekat-lekat.

Ming mengangguk. “Tentu saja,” sahutnya sembari menepuk-nepuk pundak Seokjin.

Lagi, Seokjin menghela napas panjang. “Baiklah, Ming. Terima kasih sudah memberiku motivasi.”

“Itu tugasku, Seokjin,” balas Ming. “Ya, sudah. Aku harus kembali ke istana Dewi Venus sekarang. Kau harus ingat pesanku. Tenangkan pikiranmu dan fokuslah pada apa yang telah kau capai selama beberapa hari ini tentang targetmu.”

“Ya, Ming. Aku mengerti!”

“Oke. Sampai jumpa besok.”

Dan Ming pun menghilang. Hanya meninggalkan selembar bulu sayap berwarna merah mudanya terayun-ayun dibawa angin, lalu mendarat lembut di lantai, di dekat kaki Seokjin.

@@@@@

Pagi-pagi sekali Seokjin telah terlihat berjalan melewati gerbang Paran High School. Suasana di sekolah masih sangat sepi, tetapi… memang ini yang Seokjin butuhkan. Berada di rumah—mendengar pertengkaran orang tuanya yang… ah, Seokjin sendiri malas untuk mengingatnya—membuat kepalanya pusing. Ditambah dengan hari ini adalah hari kedelapannya sebagai cupid-30-hari, Seokjin semakin tertekan.

“Kring~ kring~”

Seketika Seokjin menengok ke belakang begitu mendengar suara ‘kring-kring’. Didapatinya seorang gadis yang tengah mengayuh sepeda berwarna hijau muda ke arahnya, membuat Seokjin menepi, memberi jalan untuk gadis bersepeda itu, Hyejeong, teman sekelas sekaligus… target pertamanya.

Kedua mata Seokjin mengikuti arah kemana Hyejeong mengayuhkan sepedanya. Bahkan hingga gadis itu berhenti di tempat parkir, Seokjin memilih untuk berhenti melangkah dan menunggunya. Untuk sesaat, Seokjin heran. Biasanya, Hyejeong datang ke sekolah dengan motornya. Kenapa pagi ini kendaraannya malah ‘turun derajat’?

“Motor milik oppa-ku masuk bengkel kemarin. Karena itu dia yang memakai motorku ke kampusnya hari ini. Mau tidak mau, aku terpaksa naik sepeda,” jawab Hyejeong ketika ia dan Seokjin berjalan bersisian menyusuri koridor menuju kelas mereka.

“Kalau begitu, kenapa tidak minta diantar oppa-mu saja?”

Hyejeong tertawa pelan. “Hongki Oppa mana mau mengantarku? Arah sekolah kami berlawanan. Dia itu sangat menyebalkan,” gerutu Hyejong. “Aku tidak tahu apa dosaku di masa lalu sampai aku harus mendapat oppa seperti dia sekarang. Ugh,” lanjutnya, lalu kembali tertawa pelan. Seokjin pun ikut tertawa mendengar penuturan gadis di sebelahnya hingga…

“HYEJEONG-AH~~!!!”

Meski hanya Hyejeong yang dipanggil, namun Seokjin ikut menoleh ke asal suara. Seorang lelaki tampak berlari pelan menghampiri keduanya, tepatnya… menghampiri Hyejeong. Seokjin sedikit terkejut melihat lelaki itu. Uh, bukankah lelaki itu yang harus ia pasangkan dengan Hyejeong?

“Junsu Sunbae? Ada apa?” tanya Hyejeong sembari menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga kanannya, menatap seniornya itu.

“Kau… kau ke sekolah naik apa?” tanya pemuda itu, Junsu. “Tadi aku melihat Hongki memakai motormu,” lanjutnya. Seokjin nampak mengerutkan keningnya. Uh? Senior ini tahu tentang keluarga Hyeojeong?

“Ah, aku naik sepeda. Kenapa, Sunbae?” Hyejeong bertanya balik.

Seokjin bisa melihat seniornya itu sedikit salah tingkah saat berkata, “A-ah… ti-tidak. Tidak apa-apa. Ya, sudah. A-aku… aku mau ke kelasku dulu.”

“Oh, baiklah, Sunbae.” Hyejeong menyempatkan diri membungkuk sekilas sebelum seniornya itu berlalu dari hadapannya. Tidak lama setelah itu, ia dan Seokjin kembali melanjutkan perjalanan menuju kelasnya.

“Junsu Sunbae mengenal kakakmu, hm?” tanya Seokjin, ingin menuntaskan rasa penasarannya beberapa saat lalu.

Hyejong menoleh ke arah pemuda itu dan berkata, “Tentu saja. Kami bertetangga. Dia bahkan sudah mengenal Hongki Oppa sejak kecil.”

“Ah, pantas saja~”

Hyejong mengernyitkan dahinya, memandang Seokjin heran. “Pantas saja apanya, Seokjin-ah?”

“Dia terlihat sedikit kecewa tadi. Sepertinya dia ingin menjemput atau mengantarmu pulang nanti. Sayangnya kau naik sepeda jadi…” Seokjin tiba-tiba terdiam. Sesuatu terlintas di pikirannya.

“Hei! Kau kenapa, Kim Seokjin? Kenapa kau tiba-tiba diam, hah?” tegur Hyejeong.

Pemuda tampan itu langsung menggeleng cepat seraya berkata, “Ah, tidak. Bukan apa-apa, Hyejeong-ah. Aku mau ke kantin. Kau duluan saja ke kelas. Bye~”

Dan, Seokjin pun berlari meninggalkan Hyejeong begitu saja. Terlihat semangat menuju tempat yang ada di dalam bayangannya. Tempat Hyejeong memarkir sepedanya.

Maafkan aku, Hyejeong.

Aku terpaksa harus melakukan ini.

@@@@@

Yaaa~~!” Seorang gadis berteriak kesal di tempat parkir. “Siapa yang mengempeskan ban sepedaku? Jahat sekali!” gerutunya sembari berjongkok di dekat ban belakang sepedanya yang kempes. Bukannya hanya ban belakang, tetapi ban depan sepedanya juga kempes, ditusuk oleh sesuatu yang tajam. Mungkin paku.

“Aish! Bagaimana aku pulang kalau seperti ini, hah!?” Gadis itu, Hyejong, lantas berdiri sambil melihat-lihat sekitar. Seketika sadar bahwa… suasana sekolah sudah cukup sepi. Hanya ada 3 buah motor yang tersisa di halaman parkir sekolah, entah motor milik siapa.

Ck! Seharusnya, Hyejeong sudah pulang sejak tadi, tetapi… Seokjin yang memaksa menyalin catatannya di sekolah membuat jam pulangnya tertunda 30 menit. Dua kali lebih sial, ban sepedanya dikempeskan oleh… seseorang. Argh, tidak bisakah dia lebih sial dari ini?

“Awas saja. Kalau sampai ketahuan siapa yang mengempeskan ban sepedaku, akan kucincang dia!” geram Hyejeong, sukses membuat seseorang yang berada di atas pohon di dekatnya—sejak tadi mengamati Hyejeong—menelan ludah. Ya, siapa lagi orang itu kalau bukan Kim Seokjin!?

Well, Hyejeong sepertinya tidak main-main dengan ucapannya.

“Aish! Sekarang bagaimana aku pulang?” Hyejeong kembali menggerutu. Kali ini ia kembali berjongkok di dekat sepedanya, menekan-nekan karet hitam yang melingkar itu, berharap ada keajaiban sehingga benda itu kembali seperti semula. “Aish! Ponselku pakai acara lowbat pula. Bagaimana bisa menghubungi Hongki Oppa kalau seperti ini? Huhuhu~”

“Tuk… tuk…”

Namun tiba-tiba…, seseorang mengetuk-ngetuk pelan puncak kepala gadis itu. Sukses membuat gadis itu terkejut. Sontak, ia berdiri dan menoleh ke arah seseorang yang mengetuk kepalanya.

“Junsu Sunbae?” seru Hyejeong.

“Kenapa kau masih di sekolah, Hyejeong-ah? Apa yang kau lakukan tadi?” tanya Junsu sembari melirik sekilas sepeda yang berada di belakang Hyejeong.

Sedikit salah tingkah, Hyejeong menjelaskan, “Ah, itu. Tadi aku diminta tolong teman untuk meminjamkan catatan. Makanya aku baru pulang sekarang. Tapi…” Hyejeong pun menengok sekilas ke arah sepedanya, “ban sepedaku dikempeskan oleh seseorang. Jadi…, aku tidak tahu pulang dengan cara apa. Aku mau menghubungi Hongki Oppa, tapi ponselku lowbat.”

“Ah, begitu. Lalu, dimana temanmu?”

Gadis cantik itu menggidikan bahunya. “Tidak tahu. Begitu selesai menyalin catatanku, dia langsung kabur begitu saja,” sahutnya.

Junsu mengangguk pelan. “Ah, begitu,” responnya. “Em, bagaimana… kalau aku… antar kau pulang?”

“Uh?” Hyejeong membulatkan kedua matanya. “Tapi, sepedaku?”

Pemuda tampan itu menepuk dahinya pelan. “Ah, iya. Sepedamu, ya!?” gumamnya. “Err… bagaimana kalau… aku temani ke bengkel sepeda dekat sini?”

“Memangnya ada?”

Junsu mengangguk pelan. “Ya. Di dekat rumah temanku. Sekitar 3 blok dari sekolah. Tidak terlalu jauh,” jelasnya. “Bagaimana?”

Sedikit malu-malu, Hyeojeong mengangguk pelan sambil berkata, “Kalau… ini tidak merepotkan Junsu Sunbae…, baiklah~”

Pemuda tampan itu tertawa pelan. “Tidak merepotkan,” jawabnya. “Ayo~”

Junsu bergerak mendekati sepeda Hyejeong, menuntun sepeda itu sembari berjalan bersisian dengan sang pemilik sepeda menuju gerbang sekolah. Terlihat mengobrol, entah tentang apa, namun sesekali keduanya terlihat tertawa.

Sementara itu, Seokjin yang sejak tadi memantau dari atas pohon pun menunggu bandul kalungnya berpendar. Ming pernah berkata padanya bahwa… kalung itu akan berpendar jika ia berhasil.

“Aish! Kenapa benda ini tidak berpendar juga, hah? Apa aku gagal?” gerutu Seokjin. Tepat di saat Seokjin kesal, ingin memutuskan kalung itu, tiba-tiba saja…

Ya! Kalau kau berani memutuskan kalung itu, aku akan membawamu ke istana Dewi Venus.” Ming muncul. Berdiri di dekat pohon, tepat di bawah Seokjin.

Pemuda tampan berambut eboni itu menundukkan kepalanya. “Benda ini tidak berpendar, Ming. Apa aku gagal? Atau…, benda ini rusak?”

Cupid itu memutar kedua bola matanya. “Benda itu tidak mungkin rusak, Kim Seokjin. Mungkin saja kau ga…”

Ming tidak jadi meneruskan ucapannya begitu cahaya warna-warni yang berpendar-pendar memancar dari bandul kalung Seokjin. Pemuda tampan itu tidak berkedip melihat kalungnya bereaksi sepeti itu. Lantas, beberapa detik kemudian, seiring dengan memudarnya cahaya warna-warna yang berpendar di sekitar bandul, sebuah bentuk hati muncul di tengah bandul.

“Ming… aku berhasil!” seru Seokjin heboh. “Aku berhasil! Aku berhasil!” serunya lagi.

“Ya. Ya. Sekarang turunlah dari sana dan lihat siapa targetmu selanjutnya,” perintah Ming.

Untuk sesaat Seokjin terdiam. “Aku tidak tahu bagaimana caranya turun,” sahutnya polos.

BODOH!

@@@@@

Hari-hari terus berlalu dan… Seokjin masih menjalani hukuman cupid-30-harinya. Hari ini telah terhitung sebagai hari ke-28-nya. Ya, tersisa 2 hari lagi dan masih harus menyatukan 1 pasangan lagi. Tidak ada banyak waktu yang tersisa. Seokjin harus bergegas untuk menyelesaikan misi terakhirnya jika… ia masih mau menjadi manusia seutuhnya. Hanya saja… ada sedikit masalah.

“BAIK! KALAU BEGITU, MULAI HARI INI KITA BERCERAI!”

“YA, MEMANG SEHARUSNYA KITA BERCERAI SEJAK DULU!”

“AKU AKAN MENGURUS PERCERAIAN INI KE PENGADILAN DAN SEOKJIN IKUT DENGANKU!”

“APA? TIDAK BISA! AKU IBUNYA! SEOKJIN HARUS IKUT DENGANKU! DIA ANAKKU!”

“TIDAK! AKU TIDAK BISA MEMBIARKAN SEOKJIN DI BAWAH PENGAWASANMU! DIA HARUS IKUT DENGANKU!”

Di dalam kamarnya, Seokjin hanya bisa memutar kedua bola matanya jengah sambil mendengus berkali-kali mendengar pertengkaran orangtuanya. Ayolah, ini masih terlalu pagi untuk bertengkar, meributkan masalah perceraian dan memperdebatkan seorang anak. Cih! Bahkan di saat Seokjin keluar dari kamar, lengkap dengan seragam dan tas di punggungnya, kedua orang tuanya bahkan tidak memperhatikannya. Sibuk memperebutkan Seokjin dan hal-hal yang… ah, sudahlah.

Menyebalkan! Sungguh, hidup Seokjin beberapa minggu belakangan ini sangat berantakan. Seolhyun yang meminta balikan, hubungan orang tuanya yang… uh, sepertinya tidak bisa diselamatkan dan… hukuman cupid-30-harinya. Seokjin beruntung ia masih waras hingga detik ini.

Tiba di sekolah, Seokjin tidak langsung berjalan menuju kelasnya. Ia butuh waktu untuk sendiri pagi ini, paling tidak… untuk memperbaiki mood-nya yang benar-benar berantakan. Pemuda itu mengayunkan langkah ke loteng laboratorium kimia, tempat yang selama beberapa hari ini cukup sering ia kunjungi setiap sepulang sekolah. Ini pertama kalinya ia mendatangi tempat itu di pagi hari.

“Tap… tap… tap…”

Pemuda tampan itu menapak satu per satu anak tangga dengan mantap dan sedikit terburu-buru. Namun…, semakin dekat ia dengan loteng, semakin telinganya mendengar ada… suara orang lain di sana. Suara seseorang yang sedang menyanyikan beberapa baris lirik lagu. Seketika…, Seokjin menapak perlahan. Rasa penasaran membuat ia bersikeras untuk naik ke loteng, ingin tahu siapa yang… mengambil tempat pribadinya itu.

Dan…

Beberapa detik kemudian, rasa penasaran Seokjin terbayar sudah. Dia melihat seorang gadis duduk di salah satu bangku dari beberapa bangku yang tidak terpakai yang berada di sana.

“Kau?” seru Seokjin terkejut. Sontak orang tersebut menoleh ke arahnya, tak kalah terkejutnya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Orang itu—atau lebih tepatnya, gadis itu, Jeon Junmi, langsung berdiri dari duduknya, buru-buru menyembunyikan beberapa lembar kertas di balik tubuhnya. Panik. Saking paniknya, gadis itu mulai menggigiti bagian bawah bibirnya sembari menundukkan kepala, menghindari kontak mata dengan Seokjin.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Seokjin begitu posisinya dan Junmi hanya berjarak 2 langkah.

“I-Itu…” gumam Junmi gugup dengan posisinya yang masih menunduk, memandang lantai semen kasar, tempat mereka—ia dan Seokjin—berpijak.

Tahu Junmi menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya, Seokjin mencoba merebut dan dalam satu kali gerakan, beberapa lembar kertas itu berada di tangan Seokjin. Junmi tidak melakukan perlawanan sedikit pun. Sementara itu, Seokjin membaca apa yang tertulis di permukaan kertas putih—kertas partitur—yang sedikit kusut itu.

“Kau bisa menulis lagu?” tanya Seokjin, menyingkirkan kertas-kertas itu dari depan wajahnya, memandang Junmi yang masih menghindari kontak mata dengannya.

Junmi tidak menjawab.

Seokjin membaca tiap-tiap bait lirik yang tertulis di sana dan… sepersekian detik kemudian, ia meraih tangan kanan Junmi—diam-diam membuat Junmi kembali terkejut—dan mengembalikan kertas-kertas partitur itu. “Menarik,” sahutnya, lantas berlalu dari hadapan Junmi, beranjak menuju sebuah meja yang tidak jauh dari susunan bangku, namun… ia berhenti begitu mendengar Junmi bersuara.

“A-aku tidak bisa menulis lagu. Ini bukan milikku. Ini milik Yoongi.”

Pemuda tampan itu menengok Junmi yang kini berada di belakangnya sekilas, menyeringai samar, lantas berkata, “Ah, si Ketua Dewan Siswa itu.”

Junmi tidak merespon.

Seokjin kemudian berbaring di atas beberapa buah kursi yang telah ia susun sejajar, menjadikan ranselnya sebagai bantal, lalu melihat Junmi dan berkata lagi, “Kau sangat dekat dengan laki-laki itu, ya?”

Gadis itu pelan-pelan balas melihat ke arah Seokjin, lantas mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan pemuda tampan itu.

“Kalian pacaran?”

Junmi menggeleng cepat sambil berkata, “Tidak. Kami tidak pacaran. Dia… dia sahabatku.”

Sekali lagi Seokjin menyeringai samar. “Ah, ya, kau kan suka padaku. Tidak mungkin kau malah berpacaran dengan laki-laki menyebalkan seperti Min Yoongi itu,” sahutnya sedikit angkuh.

“Yoongi tidak menyebalkan!” ujar Junmi cepat, lagi dan lagi membuat Seokjin menyeringai samar.

Tepat di saat ia ingin mengucapkan sesuatu untuk membalas ucapan Junmi, seseorang berteriak. “JUNMI?”

Seokjin dan Junmi melihat ke asal suara, mendapati Yoongi berjalan tergesa-gesa ke arah Junmi sambil membawa sebuah kresek yang sepertinya berisi roti dan susu. Melihat Yoongi, Seokjin mengambil posisi duduk sembari memasang wajah angkuh terbaik yang ia punya.

“Selamat pagi, Ketua Dewan Siswa,” sapanya dengan intonasi yang tidak mengenakkan bagi Yoongi.

Yoongi menatap pemuda itu tajam. “Apa yang kau lakukan di sini, hah? Kau mau membuat Junmi menangis lagi?” bentaknya, sementara Junmi yang berada di dekatnya berusaha untuk mengajak Yoongi menjauh dari tempat ini.

“Tidak. Aku hanya mengobrol sebentar dengannya.”

Yoongi mendengus. “Ayo, Junmi. Kita pergi!” katanya, menarik tangan kanan Junmi dan beranjak dari loteng. Membiarkan Seokjin yang tengah memandang mereka sendirian.

@@@@@

Bel tanda pelajaran hari ini berakhir baru saja menggema ke seluruh penjuru sekolah, namun… Seokjin masih berada di sana, di loteng laboratorium kimia. Menggeser posisi duduknya ke dekat dinding, berlindung dari terik matahari yang siap sedia menghitamkan kulit putih susunya. Membiarkan angin yang bertiup lembut memainkan anak rambut, membelai kedua pipi dan kelopak matanya.

Meski berada di sekolah, tapi… ia tidak mengikuti 1 pelajaran pun hari ini.

Kepalanya benar-benar penuh dengan masalah-masalah yang sangat sukses mengacaukan hari-harinya. Terlebih… tentang hukumannya sebagai cupid 30 hari. Beberapa jam lalu, Ming menemuinya, seperti biasanya menanyakan bagaimana perkembangan target terakhir Seokjin, Jin Hyosang dan Yoo Ara.

“Waktumu tinggal beberapa hari, Seokjin-ah!”

Seokjin mengalihkan wajahnya dari tatapan Ming, memandang atap bangunan kelas yang terlihat dari tempatnya berada. “Aku tidak yakin bisa menyelesaikan ini, Ming.”

“Apa? Hei! Kau tidak bisa berkata seperti itu, Seokjin! Kau sendiri pernah bilang padaku bahwa kau tidak mau pergi ke Istana Dewi Venus. Ucapanmu barusan terdengar seperti kau mau saja pergi bersamaku ke istana. Kau mau usahamu selama ini sia-sia, hah?”

Pemuda tampan itu menghela napas panjang, lalu menengok ke arah Ming. “Entahlah. Aku sudah lelah. Ini… terlalu sulit untukku.”

“Tapi, bukan berarti kau harus putus asa seperti ini! Terkadang keajaiban terjadi di saat yang tidak kau duga, Seokjin. Kau harus berusaha hingga waktumu benar-benar habis.”

Seokjin menyeringai samar. “Keajaiban? Apa benar ada keajaiban untuk seorang cupid-30-hari, hah? Kenapa tidak terjadi sejak dulu saja, Ming. Atau…, kenapa tidak terjadi sekarang saja. Aku sangat butuh keajaiban untuk masalah ini, masalah orang tuaku, Seolhyun…”

“Keajaiban membutuhkan waktu, Seokjin.”

“Kalau butuh waktu, bukan keajaiban lagi namanya,” lirih Seokjin, kembali mengalihkan wajahnya. “Aku butuh waktu untuk sendiri, Ming. Tolong tinggalkan aku,” pintanya.

“Baiklah.”

Sepeninggal Ming, Seokjin kembali terdiam. Oke. Waktunya memang tersisa 3 hari lagi, tetapi… target ketiganya ini… sedikit sulit. Masalahnya ada pada Hyosang, sahabatnya. Pemuda itu… gengsi. Gengsi mengakui bahwa… ia menyukai Yooara. Terlebih, ia dan Yooara sudah dikenal sebagai pasangan Tom and Jerry, tidak pernah akur setiap kali mereka bertemu. Tapi, Hyosang melakukan itu untuk… menyembunyikan perasaannya.

“Ck! Bodoh!” gerutu Seokjin.

“Ehm~”

Deheman lembut itu membuat Seokjin menoleh ke asal suara. Mendapati gadis yang pagi tadi ditemuinya di tempat ini, Junmi, sedang berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah kresek hitam. Tanpa mengucap satu patah kata, Junmi meletakkan kresek berisi beberapa bungkus roti dan sebotol minuman dingin di sebuah bangku dekat Seokjin, lantas berbalik, hendak meninggalkan pemuda itu. Tapi…

“Tunggu!” cegah Seokjin. Buru-buru pemuda itu beranjak dari tempatnya, beringsut ke hadapan Junmi sambil membawa bungkusan yang diberikan gadis itu. “Apa maksudmu memberikan ini?” tanya pemuda itu, menatap Junmi yang tengah menundukkan kepalanya, lamat.

“Aku…” gumam Junmi pelan, “Aku melihatmu masih berada di tempat ini saat jam istirahat. Kupikir kau tidak beranjak dari tempat ini seharian, jadi… aku bawakan makanan itu. Kau… pasti lapar, kan!?” Terlihat takut-takut, Junmi mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Seokjin. Takut kejadian beberapa minggu lalu terulang.

Seokjin menghela napas sembari melihat bungkusan hitam di tangannya. “Ya, aku memang lapar. Terima kasih,” sahutnya, sangat berhasil membuat Junmi terperangah.

Seokjin… BERTERIMA KASIH PADANYA???

Apa karena sinar matahari yang memanasi kepala pemuda itu sehingga… ia menjadi baik pada Junmi?

Atau…

“Apa kau ada waktu?” tanya Seokjin lagi. “Aku butuh teman untuk berbicara.”

Untuk kedua kalinya, Junmi terkejut. Setelah mengucapkan kata terima kasih untuk pertama kalinya, sekarang… Seokjin meminta Junmi untuk menemaninya. Astaga, sebenarnya apa yang sedang terjadi pada anak itu?

“Bagaimana?” tanya Seokjin sekali lagi.

Junmi mengangguk pelan. “Y-Ya.”

Gadis itu mengikuti Seokjin kembali ke bangku-bangku yang berjejer di dekat dinding. Seokjin duduk di salah satu bangku, begitu juga dengan Junmi. Sengaja membuat jarak 2 bangku kosong dari Seokjin. Bagaimana pun, ia masih bertanya-tanya, mengapa Seokjin menjadi baik seperti ini?

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Seokjin begitu ia menoleh ke arah Junmi, hendak menawarkan makanan yang dibawa gadis itu, namun yang didapatinya adalah Junmi yang sedang melihatnya seperti orang asing.

Gadis itu menggeleng. “Ti-tidak. Tidak apa-apa. Maafkan aku,” sahutnya.

“Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku jadi baik seperti ini padamu, ya!?” tebak pemuda tampan itu. “Aku benar, kan?”

Dan sepersekian detik kemudian, Junmi mengangguk.

Pemuda tampan itu tertawa pelan, lantas menundukkan kepalanya dan berkata, “Maafkan aku. Aku sudah terlalu jahat padamu.”

“Y-Ya.”

Seokjin lantas menoleh ke arah Junmi, tersenyum sekilas pada gadis itu, kemudian memandang ke arah depan. Tidak lama, ia menghela napas berat.

“K-kau… ada masalah, ya?” tanya gadis itu terdengar hati-hati.

“Begitulah.”

“Ma-masalah… apa?” tanya Junmi penasaran. “Ah, kalau kau keberatan, tidak usah cerita. Maaf, aku terlalu lan—”

“Tidak apa-apa,” potong Seokjin. Lagi dan lagi ia menghela napas berat, lantas berkata, “Orangtuaku sebentar lagi akan bercerai,” jawabnya.

“Ce-cerai?” ulang Junmi memastikan.

Pemuda tampan itu menoleh ke arah Junmi, lalu mengangguk pelan. Dan selanjutnya, ia mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada orang tuanya, apa yang membebani pikirannya selama ini. Kecuali tentang hukuman cupid-30-hari itu tentu saja. Sadar atau tidak, Seokjin sudah terlalu banyak bercerita tentang dirinya kepada gadis yang… well, bisa dibilang baru akrab dengannya sejak beberapa puluh menit yang lalu.

“Rasanya aku ingin mati saja,” sahut Seokjin mengakhiri ceritanya.

“A-apa?” seru Junmi cepat. “Kau… kau tidak bisa berkata seperti itu, Seokjin-ssi. Kau… kau… tidak boleh…” Junmi nampak ragu melanjutkan kalimatnya.

Seolah paham apa yang akan dikatakan Junmi, Seokjin kemudian berkata, “Sudahlah. Aku hanya bercanda. Masa aku mati dalam keadaan seperti ini. Itu sama saja melarikan diri.”

“Seokjin-ssi?

“Kau tidak perlu mencemaskanku. Kupikir… aku baik-baik saja.”

“Tapi…”

“Sudah sore. Sebaiknya kau pulang.”

“Lalu kau?”

“Aku masih ingin di tempat ini sebentar.”

“Apa nanti… kau akan pulang ke rumahmu?”

Seokjin terdiam untuk beberapa saat, lalu berkata, “Entahlah.”

Junmi terdiam memandangi pemuda di dekatnya untuk beberapa saat. Tidak lama kemudian, ia berpamitan pada Seokjin, beranjak meninggalkan pemuda itu di loteng sendirian. Beberapa kali ia berbalik melihat Seokjin sebelum menapak tangga. Terlihat sangat mencemaskan… pemuda itu.

@@@@@

“Kenapa kemarin kau tidak masuk sekolah?” tanya Hyosang begitu ia berhasil menyejajarkan langkahnya dengan Seokjin yang sedang berjalan menyusuri koridor sekolah keesokan harinya.

Tanpa menoleh ke arah Hyosang, Seokjin menjawab, “Tidak apa-apa.”

“Semalam aku meneleponmu, tapi ponselmu tidak aktif. Aku juga ke rumahmu, tapi… Kim Ajussi bilang kau tidak pulang. Sebenarnya kau berada dimana kemarin, hah?” tanya Hyosang lagi, penasaran.

Pemuda tampan itu menoleh ke arah Hyosang dan berkata, “Sudahlah. Aku berada dimana kemarin sama sekali bukan urusanmu, Hyosang.”

Hyosang tidak membalas ucapan Seokjin. Memilih diam dan tetao berjalan di sisi sahabatnya meski… ia sebenarnya penasaran. Jarang sekali Seokjin bersikap seperti ini padanya sejak mereka bersahabat. Sebenarnya… apa yang terjadi padamu, Seokjin?

YA!!! JIN HYOSANG! KAU KAN YANG MENYELIPKAN BANGKAI CICAK KE DALAM NOVELKU???”

Seokjin dan Hyosang—terlebih Hyosang—terlihat kaget begitu mereka sudah dekat dari kelas, namun tiba-tiba Ara—teman sekelas mereka—menghampiri mereka—tepatnya, Hyosang—sambil marah-marah. Gadis itu bahkan memukul kepala Hyosang dengan novel setebal 300 halaman. Sangat sukses menjadi santapan mata orang-orang di sekitar.

Ya! Ya! Ara-ya, stop! Ya! Berhenti! Sakit! Ya!” Hyosang berusaha menghindar dari serangan-serangan Ara. Berlari ke sembarang arah, benar-benar ingin menghindar dari Ara yang terlihat kesal sekali.

Seokjin menghela napas, memutar kedua bola matanya jengah, lantas kembali berjalan menuju kelasnya. Apa yang terjadi pada Hyosang, dia tidak mau tahu. Toh, Hyosang pasti akan menceritakan apa yang dilakukan Ara padanya nanti.

Dan, ya… benar saja.

Hyosang langsung menyerang gendang telinga Seokjin dengan ceritanya saat mereka berada di kantin, diminta oleh Ryu Sonsaengnim untuk menggandakan beberapa lembar bahan diskusi hari ini.

“Dan kau tahu, Seokjin-ah, dia menendang kakiku! Sakit sekali! Dasar! Dia itu perempuan atau bukan!? Tendangannya seperti tendangan laki-laki!” Hyosang mengakhiri ceritanya dengan gerutuan. Hyosang duduk di salah satu bangku plastik, sementara Seokjin memilih berdiri di dekat mesin fotokopi, menunggu gilirannya.

“Salahmu juga. Kenapa kau mengerjai gadis itu, hah? Kau sudah tahu dia seperti apa kalau berhadapan denganmu,” balas Seokjin, menengok ke arah Hyosang yang berada di belakangnya.

“Ya, aku tahu,” sahut Hyosang singkat.

Setelah gilirannya tiba, Seokjin memberikan beberapa lembar kertasnya kepada noona penjaga kantin untuk digandakan. Sesaat kemudian, ia duduk di sebelah Seokjin sembari menunggu fotokopiannya selesai.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Seokjin ketika ia mendapati Hyosang terlihat sibuk memencet-mencet tombol ponselnya, bahkan sambil tertawa samar segala.

Yang ditanya pun menoleh dan menjawab, “Hanya mengerjai Yoo Ara saja.”

Seokjin mendengus. “Mau sampai kapan kau seperti itu, hah? Berpura-pura menjadi… siapa?”

“Lee Minho.”

“Ya, Lee Minho. Mau sampai kapan kau berpura-pura menjadi Lee Minho?”

Hyosang menggidikkan bahunya. “Entahlah. Mungkin… akan seperti ini seterusnya,” jawab pemuda itu, terdengar lirih di bagian akhir.

Untuk sesaat, Seokjin memandang sahabatnya. Merasa kasihan…, juga sedikit kesal. Kasihan karena… Ara sama sekali tidak tahu perasaan Hyosang padanya. Dan kesal karena… diam-diam Hyosang mendekati Ara dengan identitas palsu yang dibuatnya sejak 3 bulan lalu, Lee Minho. Yang terburuk dari itu semua, Hyosang pernah berkata bahwa… Ara menyukai Lee Minho. Ya, Ara malah menyukai tokoh buatan Hyosang, bukan Hyosang!

Menyedihkan.

“Kau tahu, Hyosang? Kau bodoh! Seharusnya kau mengutarakan saja perasaanmu pada Ara!”

Hyosang memaksakan dirinya tersenyum. “Entahlah, Seokjin. Aku tidak yakin Ara akan menerimaku. Dia… sangat menyukai Lee Minho yang kubuat.”

Sekali lagi Jin mendengus. “Kau membuat semua ini semakin terlihat sulit!” katanya, lantas beranjak untuk mengambil fotokopiannya yang sudah selesai. Hyosang diam saja sembari mengikuti Seokjin yang hendak beranjak dari kantin.

Namun…, tepat di saat itu, mereka berpapasan dengan… Junmi dan… Yoongi.

Untuk beberapa saat, Seokjin dan Junmi saling bertukar pandang, tapi… segera Seokjin mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Ya, bersikap seolah… kemarin ia tidak menceritakan sepotong masalah yang dihadapinya pada Junmi.

Ya, seolah… sikapnya kemarin bukan apa-apa.

@@@@@

Hari ke-29 dan… sama sekali belum ada kemajuan untuk target ketiganya. Seokjin sungguh bingung harus bagaimana meminta Hyosang untuk… mengakui semua kebenaran yang telah ia sembunyikan dari Ara. Apa yang telah dilakukan Seokjin untuk membuat Hyosang mengakui perasaannya selalu berakhir percuma. Hyosang selalu mengelak.

“Ah, aku cari kemana-mana, ternyata kau di sini,” ujar Hyosang begitu ia melihat sosok Seokjin berada di dalam ruang loker. Berdiri di depan lokernya, sedang mengambil sesuatu dari sana.

Sekilas, Seokjin mengalihkan pandangannya ke arah Hyosang dan bertanya, “Ada apa?”

“Ada hal yang sangat gawat, Kim Seokjin!” seru Hyosang.

Pemuda tampan itu lantas melihat ke arah Hyosang setelah menutup pintu lokernya. Mendapati wajah sahabatnya agak tegang. “Apa yang gawat, hah?” tanya Seokjin dengan nada santai.

Hyosang menghela napas dan berkata, “Ara… ingin bertemu dengan Lee Minho! Gadis itu ingin bertemu dengan tokoh buatanku, Seokjin? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Lee Minho tidak mungkin menemui Ara, kau tahu!?” Heboh Hyosang.

“Kalau begitu, temui Ara dan katakan kalau kau menyukainya!” tegas Seokjin.

Tapi…, tepat di saat itu…

“Kau tadi bilang apa, Seokjin-ssi?” Entah kapan datangnya, namun suara Ara sukses membuat kedua pemuda itu terkejut. Refleks, keduanya melihat ke arah pintu, melihat Ara yang balas menatap mereka lamat sambil mengayunkan langkah ke arah mereka. “Kau bilang… kalau Hyosang menyukaiku?” ulangnya, menatap Seokjin dan Hyosang bergantian.

Untuk sesaat, ketiganya terdiam. Masih terkejut dengan kejadian beberapa detik lalu. Sampai…, Hyosang membuka suara dengan mengatakan, “Siapa yang menyukaimu, hah? Ya! Jangan percaya diri seperti itu! Memangnya hanya kau yang bernama Ara di sekolah ini, hah? Ada banyak Ara di sini!”

Ya, lagi dan lagi Hyosang mengelak.

Dan, Seokjin hanya bisa mendengus. Aish! Sampai kapan Hyosang akan seperti ini, hah?

Sementara itu, Ara yang masih berdiri di sana, perlahan mengangguk—meski sedikit kesal dengan ucapan Hyosang barusan. “Oh, ya. Maaf aku sudah salah paham,” sahutnya, kemudian beranjak menuju lokernya.

Sepeninggal Ara, Seokjin langsung menyandarkan tubuh Hyosang ke loker. “Dasar bodoh! Kenapa kau tidak mau mengaku, hah!?” desisnya pelan.

“Aku tidak berani, Seokjin. Aku takut Ara tidak menyukaiku.”

“Bagaimana kau bisa tahu kalau dia tidak menyukaimu, sedangkan kau tidak pernah memberi tahu Ara bahwa kau menyukainya!”

Hyosang terdiam, tidak membalas ucapan Seokjin. Memilih mengalihkan wajahnya, menghindari tatapan mata Seokjin yang cukup tajam. Dan…, beberapa detik kemudian, Seokjin menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya.

“Kalau kau benar-benar menyukai Ara, biarkan dia tahu!” ucapnya, lalu beranjak meninggalkan Hyosang.

@@@@@

Seokjin berada di sana, di loteng laboratorium Kimia, sejak ia tiba di sekolah. Memandang kosong ke arah lapangan basket yang ada di bawah sambil beberapa kali menghela napas berat. Hari ini adalah hari terakhirnya untuk menyelesaikan hukuman cupid-30-harinya, tapi… ia merasa bahwa… dia tidak akan berhasil. Hyosang… sepertinya tidak akan mengutarakan perasaannya pada Ara.

Selain itu… ada hal lain yang membuat… perasaannya semakin buruk.

Semalam… appa-nya telah menerima surat gugatan cerai dari eomma-nya. Kedua orang tuanya benar-benar akan bercerai. Dan…, ah, dia akan menjadi anak broken home.

Cih!

Ini… menyedihkan.

Seokjin benar-benar tidak mengerti kenapa dia harus mengalami semua ini. Dan, kenapa semuanya terjadi di saat yang bersamaan. Semua masalah seperti berbutir-butir peluru yang ditembakkan kepadanya, yang siap menembus tubuhnya, membuatnya mati seketika.

“Apa lebih baik aku bunuh diri saja? Toh, pada akhirnya… aku juga akan mati atau… menjadi cupid,” batin Seokjin.

Buru-buru pemuda itu menyeka air mata yang membasahi kedua belah pipinya, lantas melepas ransel di punggungnya. Untuk beberapa detik, sekali lagi ia menatap lapangan basket di bawah sana. Tergambar jelas di kedua pelupuk matanya, seperti apa wujudnya jika ia… nekat melompat dari loteng laboratorium kimia.

Dia akan mati dengan darah segar yang mengucur dari kepalanya.

Mengerikan, tapi… tidak lebih mengerikan dibanding hidup penuh dengan masalah yang… tetap saja akan memecahkan kepalanya—setidaknya, seperti itu menurutnya.

Pemuda tampan itu lantas menelan ludah. Seluruh tubuhnya terlihat bergetar. Dan adegan selanjutnya, ia… dengan nekat memanjat dinding pembatas loteng setinggi 1 meter dan berdiri di atasnya, bersiap untuk melompat.

Kedua matanya masih memandang lapangan basket di bawah sana. Tidak peduli beberapa siswa-siswi yang mulai berdatangan, melintas di atas lapangan itu. Jantung pemuda itu berdetak sangat kencang hingga keringat dingin perlahan-lahan keluar dari pori-pori kulitnya. Sekali lagi ia membayangkan dirinya di sana, terbaring di atas lapangan basket dengan darah yang mengucur. Mati mengenaskan.

Pemuda itu menghela napas panjang, membiarkan kedua paru-parunya menikmati oksigen untuk terakhir kalinya. Perlahan memejamkan kedua matanya, bersiap untuk melompat dan…

YA! APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA, HAH?” teriak Yoongi panik begitu mendapati seorang siswa dengan gelagat hendak bunuh diri. Terlebih, siswa itu adalah Kim Seokjin! Tidak hanya Yoongi, Junmi yang datang bersama pemuda berkulit putih itu pun terlihat lebih panik.

Seokjin menoleh ke asal suara dan berkata dengan ketusnya, “Bukan urusanmu, Min Yoongi!”

“TURUN SEKARANG JUGA, KIM SEOKJIN! DI SITU BERBAHAYA!!!” perintah Yoongi.

Pemuda tampan itu mendecih pelan. “Memangnya kau siapa? Kau tidak punya hak untuk memerintahku!”

“KUPERINGATKAN KAU, TURUN SEKARANG JUGA! JANGAN COBA-COBA UNTUK BUNUH DIRI! ITU PERBUATAN BODOH!”

“Iya, Seokjin. Benar apa yang dikatakan Yoongi,” ucap Junmi, mencoba membujuk Seokjin.

“Bukan urusan kalian aku mau bunuh diri atau tidak! Kalian pergilah dari sini,” sahut pemuda tampan itu.

Ya! Aku tahu ini bukan urusan kami kau mau bunuh diri atau tidak, tapi… kami tidak mungkin membiarkan kau melakukan itu di depan mata kami. Kau pikir kami manusia macam apa, hah?” balas Yoongi, mengepalkan kedua tangannya menahan emosi.

“Turun dari sana, Seokjin-ssi. Apa kau tidak memikirkan orangtuamu, hm? Sahabatmu? Orang-orang yang kau sayangi. Apa kau tidak memikirkan mereka?”

“BERISIK! AKU TIDAK PEDULI DENGAN MEREKA SEMUA! KALIAN BERDUA PERGI DARI SINI!!!” teriak Seokjin.

Di bawah sana, siswa-siswi yang sudah banyak berdatangan, membentuk kerumunan. Berteriak meminta Seokjin turun dari sana, termasuk beberapa guru yang melihat kejadian ini. Sementara itu, Yoongi dan Junmi yang berada di loteng, masih berusaha membujuk Seokjin.

Ya! Dengarkan aku,” ucap Yoongi lagi. “Kalau kau tidak peduli dengan mereka, setidaknya kau harus peduli pada dirimu sendiri. Kau mau mati dengan cara mengenaskan, hah? Kau mau arwahmu tidak tenang karena cara matimu yang mengenaskan? Kau mau seperti itu?”

Seokjin terdiam. Entah apa yang terjadi. Mungkin… otaknya itu sedang mencerna ucapan-ucapan Yoongi barusan.

Dan… perlahan Junmi menghampiri pemuda itu, lantas berkata, “Kemarin kau bilang padaku bahwa kau tidak mau mati dalam suasana seperti ini. Itu namanya melarikan diri. Kau ingat ucapanmu itu kan…, Seokjin-ssi?”

Pemuda tampan itu menengok ke arah Junmi, melihat gadis itu mengulurkan tangan padanya, bahasa tubuh bahwa ia meminta Seokjin untuk turun dari sana. Beberapa detik keduanya bertatapan, seperti berkomunikasi melalui mata masing-masing… hingga… Seokjin menyambut tangan gadis itu dan… turun dari sana.

Namun…

BRUKKK!

Dia… seketika pingsan begitu kedua kakinya menapak pada lantai loteng.

@@@@@

Pemuda tampan itu terbaring lemah di atas tempat tidur sebuah rumah sakit. Botol infus berisi cairan terhubung dengan tubuhnya melalui selang kecil yang tersambung dengan pembuluh darahnya. Kedua matanya terpejam rapat dengan. Terlihat sangat pulas tertidur setelah pingsan selama beberapa jam.

Di dekatnya, tampak Junmi duduk di sebuah bangku di sisi kiri tempat tidur pemuda tampan itu, Seokjin. Sejak pulang sekolah, berada di sana menjaga pemuda itu. Menunggu hingga pemuda itu terbangun dari tidur lelapnya. Ia bahkan tidak pulang ke rumahnya untuk sekedar mengganti seragam sekolahnya.

Gadis itu menghela napas panjang. Sungguh, ia sedikit masih tidak percaya bahwa pagi tadi… ia hampir saja melihat pemuda di hadapannya mati bunuh diri. Beruntung, ia dan Yoongi pergi ke loteng, ingin mengobrol di sana sebelum jam pelajaran di mulai. Kalau tidak, mungkin saja… Seokjin sekarang sudah mati.

“Eungh~”

Seokjin mengerang pelan, seketika membuat Junmi terkejut. Pelan-pelan pemuda tampan itu membuka matanya. Sesaat kemudian, ia menoleh dan melihat Junmi berada di dekatnya. “Kau? Sejak kapan kau di sini?” tanyanya lemah, melihat Junmi dengan tatapan sayu.

“Sejak pulang sekolah.”

“Ah, begitu,” sahutnya nyaris tidak terdengar.

“Bagaimana keadaanmu? Apa… sudah mendingan?” tanya Junmi.

Seokjin mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan gadis itu. Tidak lama, Seokjin bergerak untuk mengambil posisi duduk. Buru-buru Junmi membantunya, meletakkan sebuauh bantal untuk tempat Seokjin bersandar. Tepat di saat itu, seseorang membuka pintu kamar tempat Seokjin dirawat.

“Yoongi-ya?” gumam Junmi begitu melihat sahabatnya masuk sambil membawa beberapa bungkusan.

“Aku bawakan pakaian ganti dan juga makan malam untukmu,” kata Yoongi. “Dan, buah-buahan untukmu, Kim Seokjin,” lanjutnya. Ia lantas mendekat ke tempat tidur Seokjin dan bertanya, “Apa kau sudah merasa baikan?”

“Ya,” sahut Seokjin masih dengan suara yang nyaris tidak terdengar. “Terima kasih sudah menolongku siang tadi.”

“Ya,” balas Yoongi.

Ketiganya lantas terdiam. Sedikit—ah, tidak, cukup canggung dalam situasi ini. Meski berada di ruangan yang sama, tetapi… mereka tidak begitu akrab, bukan!? Terlebih, Seokjin dan Yoongi. Keduanya terlihat sedikit saling memalingkan wajah satu sama lain, menghindari kontak mata yang intens.

Dan, di saat Seokjin memalingkan wajahnya, ia melihat Ming berdiri di sisi lain tempat tidurnya. Seketika… ia teringat bahwa… Ming pasti ke tempat ini untuk membawanya ke… istana Dewi Venus. Ya, dia sudah yakin gagal. Lupakan saja tentang Hyosang yang menyatakan perasaannya pada Ara. Itu… tidak akan terjadi—begitu menurut Seokjin.

“Oh, ya,” Seokjin bersuara, “Kau belum makan, kan, Junmi?” tanya Seokjin.

Gadis itu mengangguk.

“Kalau begitu, pergilah makan. Kau pasti lapar. Kau… juga tidak mungkin menyia-nyiakan makanan yang sudah dibawakan Yoongi untukmu, kan?”

“Tapi, kau?”

“Biar aku yang menemani Seokjin,” sahut Yoongi cepat, membuat Junmi dan Seokjin melihat ke arahnya.

“Tidak. Kau temani Junmi saja. Aku tidak apa-apa sendirian. Lagi pula, hanya sebentar, kan?”

Masih sedikit cemas, Junmi bertanya lagi untuk memastikan, “Kau yakin benar-benar tidak apa-apa kalau… sendirian?”

Pemuda tampan itu mengangguk.

“Baiklah. Aku dan… Yoongi keluar dulu. Kami akan segera kembali,” pamit gadis itu.

Begitu Junmi dan Yoongi meninggalkannya sendiri, Seokjin pun mengarahkan pandangannya pada cupid di dekatnya. “Kau ke sini… untuk menjemputku ke istana Dewi Venus, bukan?” tanyanya langsung.

“Kenapa bicaramu seperti itu, hah? Kau masih punya waktu 30 menit lagi. Banyak yang bisa terjadi dalam waktu 30 menit itu, Kim Seokjin,” balas Ming.

Seokjin yang masih terduduk di atas tempat tidur pun mendengus samar. “Ya, banyak yang bisa terjadi, tapi… tidak untuk Hyosang menyatakan perasaannya pada Ara,” sahut Seokjin pesimis.

“Kalau seperti itu katamu, apa… kau sudah siap dengan konsekuensi dari kegagalanmu menjalani hukuman, hm?”

Pemuda tampan itu berusaha tersenyum. Tepatnya…, memaksakan dirinya untuk tersenyum, walau hanya sebuah lengkung samar. “Ya~” sahutnya singkat.

“Baiklah. Kita… hanya perlu menunggu waktumu habis.”

Dan suasana kembali hening. Ming masih di sana, berdiri di sisi tempat tidur Seokjin. Sementara pemuda itu hanya bisa menundukkan pandangannya, menatap selimut biru polos yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Digenggamnya bandul hati dari kalung yang tersembunyi di balik seragam pasien rumah sakit Seoul Hospital-nya. Sudah ada 3 buah hati di dalam bandul itu, kurang satu lagi agar dia… bisa tetap menjadi manusia.

Ya, kurang 1 lagi dan semuanya bisa kembali normal.

Kurang 1 lagi dan Seokjin bisa terlepas dari hukuman bodoh ini.

Kurang 1 lagi dan Seokjin bisa menghirup kebebasan tanpa harus ada bayang-bayang cupid seperti yang terjadi padanya selama 30 hari ini.

Namun sepertinya…

Semua ini tidak akan berhasil.

Entah, apakah masih ada keajaiban untuk pemuda itu.

“10… 9… 8…” Ming mulai menghitung mundur detik-detik terakhir waktu untuk Seokjin, “7… 6… 5…”

Sepertinya… tidak ada.

“4… 3…”

Semua ini akan berakhir sebentar lagi.

“2… 1… Habis. Kau gagal, Kim Seokjin.”

Seketika cahaya merah muda berpendar-pendar sangat terang menyelimuti seluruh tubuh Seokjin. Sesaat, kemudian… tubuh pemuda itu terangkat ke angkasa. Selama beberapa detik cahaya itu terlihat sangat terang, lantas perlahan-lahan… cahayanya memudar dan… di sana, di atas tempat tidur itu… terlihat sesosok makhluk dengan pakaian merah muda, sepasang sayap di punggung juga sepasang antenna di kepalanya.

Ya.

Dia adalah… Seokjin.

Seokjin yang… telah berubah menjadi… cupid seutuhnya.

“Sudah waktunya untuk ke istana Dewi Venus, Cupid Jin.”

@@@@@

SEOKJIN TIDAK ADA DI KAMARNYA!

Junmi dan Yoongi sangat terkejut begitu melihat kamar inap pemuda itu tak berpenghuni. Selang infusnya tergeletak di atas tempat tidur, membasahi sprei biru olo situ.

“Dia juga tidak ada di kamar mandi,” kata Yoongi setelah mengecek kamar mandi, mengira Seokjin berada di sana.

“Apa dia kabur?” Junmi terlihat panik, menatap Yoongi.

“Kita cari di luar. Dia mungkin belum jauh dari sini.”

Keduanya keluar dari kamar inap Seokjin, berkeliaran ke seluruh penjuru rumah sakit, mencari Seokjin yang… mungkin saja berjalan-jalan di sekitar gedung rumah sakit. Keduanya pun bertanya pada beberapa orang yang mereka temui, termasuk satpam yang menjaga pintu masuk. Tapi… tidak ada satu pun dari mereka yang… mengaku melihat Seokjin.

Seokjin benar-benar telah menghilang.

-THE END \(^O^)/-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also posted on author’s personal blog (Noeville) & Read Fanfiction (will be post on Fanfiction Side)

A/N: Annyong… annyong… ^^

Ketemu lagi… hehe.

Well, bagaimana side-story-nya? Cukup memuaskankah? Hehehe

Sebenarnya, FF ini mau aku post minggu kemarin, cuma… akunya lagi berduka dan gak sempat ngelanjutin penggarapan(?) FF ini. Jadinya, baru sempat aku posting sekarang… hehe. Maaf juga cover-nya seadanya kkk~ baru dibikin beberapa menit sebelum FF ini di-post soalnya… wkwkwk. Cover dadakan -__-v

Oh iya, buat yang nge-request cerita untuk Jungkook-Chanmi, kalo gak ada hambatan…, aku posting minggu depan ya. Kalo bukan minggu depan, berarti minggu depannya lagi… hehe. Yang jelas, untuk Jungkook-Chanmi, FF-nya on writing ^^

Oke deh. Sekian aja cuap-cuapnya. Ditunggu komennya, ya~~ ^^

 

11 thoughts on “{30 DAYS CUPID’S SIDE-STORY}: JIN’S STORY-BECOME A CUPID

  1. Eonni~
    Aku merasa tersentuh dengan FF ini. Cerita tentang Kim Seokjin itu… sesuatu banget. Aku suka yang ceritanya sad begini eonni T.T
    Kapan-kapan bikinin FF Jin yang bergenre sad ya eonni?🙂

    Sekian aja deh komennya, Eonni. Di tunggu yang Jungkook-Chanmi oke?^^

    With Love,

    Siwan Lovely Wife

  2. Wahhh sedih ya hidupnya Jin sebelum jadi cupid .. Kerenlah jalan ceritanya dan disini suami aku (bc:Yoongi) /jeehh ngaku2/ sangat amat keren, walau sempet kesel2n sama Jin tapi Yoongi bener2 terlihat baik hati disini .. Aku suka aku suka.

    Bikin FF dengan cerita lain yg main cast’a Min yoongi dong thor ~ hehehe *request aja sih, gk dibikinin jg gpp*

    Keep Fighting thor !!!

    • Iya. Kesian ya u,u
      Hehe… iya. Tetep tolongin Jin walo sbnrnya dia kesel juga sama itu orang😄

      Well, untuk FF cast Yoongi aku punya, tapi di-posting di bloh sebelah… hehe

      Gomawo udah RC ya^^

  3. Owh owh gini tuh kisah sebelum jin jadi cupid, kasian dia u.u gegara banyak problem jadi mudah menyerah gini. Mingnya sih bukannya kasih motivasi malah dibiarin waktu abis *protes ke ming. Ah ya aku turut berduka.

  4. Yah dasar si hyosang tuh, hiks pengecut, gara2 dia mah sukjin jadi cupidd..
    Hikkss sukjin nya kasihan bangettt😢😢
    Ih kesel mah sama si hyosang, pake ada lee minhonya segalaa
    Yaudah deh, pokoknya rasa penasaran tentang crritanya sukjin yang jadi cupid sudah terbayarkan,, ff lain ditunggu eon
    Fightinggg~~

  5. Maaf baru baca -0-
    aku seminggu ini sibuk ama skolah u,u
    tp ffnya keren lho sad ampe aku nangis T_T
    Jin nya bnyak masalah T_T
    pokoknya keren lha (y) ditunggu ff Jin yg lainnya ^^

  6. HWAAAA .. AUTHOR UDAH BUAT GUE BAPER SETELAH BACA FF YANG 30 DAYS CUPID AND SEKARANG GEGARA FF INI GUE BAPER AGAIN >< JAHAT LU THOR u,u TAPI TETEP KEREN FFNYA .. KEEP FIGHTING THORR ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s