Be My Scandal! (Part 3)

be my scandal!

Title : Be My Scandal!

Author : Hyorenji

Casts : Miss A’s Bae Suzy, GOT7’s Jr. (Park Jinyoung)

Support Cast : 2PM’s Junho as Manager

Length : Series (Maybe?)

Genre : Romance, AU

Rating : PG-15

Disclaimer : Made by me.

Author minta maaf yaa kalo agak telat. Huhuhu please read like and comment! XOXO

Part 1   Part 2

***

Hal pertama yang dilihat Jinyoung saat ia membuka mata adalah sepasang mata indah milik Suzy, yang tetap terlihat menawan walaupun pandangan Jinyoung masih samar-samar. Nafas Jinyoung tertahan sejenak, menyadari seberapa dekat Suzy dengannya. Ia bahkan dapat mencium harum parfum yang Suzy kenakan—manis, seperti vanilla.

“Ehm.” Suzy berdeham sambil menarik tubuhnya menjauh dari Jinyoung. “Kau.. sudah bangun?”

Jinyoung perlahan mulai merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama di bagian punggungnya. Preman-preman sialan itu pasti sudah menghancurkan tulang rusuknya, sampai-sampai ia mengerang kesakitan hanya karena berusaha untuk duduk.

“Jangan!” Suzy dengan cepat menahan punggung Jinyoung, dan itu membuat jaraknya menjadi dekat kembali dengan pria yang sejak tadi belum mengucapkan sepatah katapun itu. “Kau tiduran saja. Aku akan panggilkan manajermu.”

Suzy baru saja beranjak meninggalkan Jinyoung saat tiba-tiba tangan pria itu terangkat untuk menggenggam tangannya. Langkah Suzy sejenak terhenti. Ia menolehkan kepalanya untuk menatap wajah Jinyoung, sekejap kehilangan nafsu untuk marah menyadari bagaimana pria itu tampak lemah.

“Apa?” Suzy tetap berusaha ketus, walaupun ia tak berniat untuk memulai pertengkaran dengan Jinyoung. Ia tak pernah membiarkan siapapun menyentuhnya sembarangan, namun kali ini ia akan memaafkan Jinyoung.

“Kau..” Jinyoung mengerahkan segenap tenaganya untuk berbicara, walaupun bibirnya terasa perih tiap kali ia mencoba menggerakkannya. “Gwaenchana?” Jinyoung tak tahu apa itu karena pandangannya yang kabur, tapi Suzy memang terlihat baik-baik saja. Tak satupun terlihat luka baik di wajah maupun bagian lain dari badan Suzy. Suzy juga tidak memakai piama rumah sakit seperti dirinya. Namun tetap saja, ia harus tahu bagaimana keadaan Suzy.

“Eung.” Suzy menjawab singkat. Ia tak habis pikir kenapa Jinyoung repot-repot menanyakan keadaannya sementara keadaan pria itu sendiri cukup patut untuk dikasihani. “Kau jangan banyak bicara. Cih. Dengan keadaan seperti itu sebaiknya kau tutup mulut dan istirahat.” Suzy melepaskan tangannya dari genggaman Jinyoung, berusaha melakukannya sepelan mungkin agar tak menambah rasa sakit pria itu.

Jinyoung meringis. Entah karena tangannya terasa sakit, atau entah karena perkataan Suzy yang ketus. Ia lalu hanya diam memandangi punggung Suzy yang kemudian menghilang di balik pintu kamar rawatnya.

“Syukurlah.” Ujarnya pelan. Saat salah satu dari preman-preman tadi malam mencoba menyakiti Suzy, sejujurnya Jinyoung benar-benar merasa marah. Ia marah karena ia tak mampu melindungi Suzy, bukan karena ia ingin rencana Junho berhasil namun karena ia benar-benar melihat Suzy sebagai seorang gadis tak berdaya yang membutuhkan pertolongan.

Saat kejadian itu berlangsung, ia sejenak melupakan segala hal tak mengenakkan yang telah terjadi di antara dirinya dan Suzy, dan ia benar-benar tulus ingin menolong gadis itu. Namun ia bahkan tak mampu menolong dirinya sendiri, sungguh memalukan.

Jinyoung sedang sibuk dengan pikirannya sendiri—plus rasa sakitnya—saat tiba-tiba Junho masuk dengan wajah khawatir. Ia berlari ke arah Jinyoung dan kemudian memeluk pria yang langsung menjerit kesakitan itu kuat.

“Hyung! Apha!”

“Ah, maaf.” Junho melepaskan pelukannya sambil menyeka air matanya. Jinyoung sontak tertawa, menyadari Junho bisa juga menangis karena dirinya. Namun Junho tak peduli, ia benar-benar bersyukur Jinyoung telah siuman. “Kupikir kau akan meninggalkanku selamanya, bocah!”

“Dan membiarkanmu menjadi manajer artis lain?” Jinyoung meringis, namun bersikeras melanjutkan kalimatnya. “Tidak akan.”

“Dasar kau!” Junho mengacak-acak rambut Jinyoung namun tak sengaja mengenai luka di kepalanya. “Mian!” Junho langsung meminta maaf sebelum Jinyoung sempat memarahinya.

“Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam? Kenapa preman-preman itu menghajarku sungguhan? Lalu apa hyung yang menolongku dan Suzy?”

Ekspresi Junho berubah datar. Ia berdeham sambil menepuk pelan pundak Jinyoung. “Sudah, kau tidak perlu memikirkan kejadian tadi malam. Yang penting kau sekarang istirahat saja, agar proses penyembuhanmu berjalan lancar.”

Jinyoung mengangguk pelan. Ia kemudian teringat akan sesuatu. “Ah, si.. Suzy itu.. Apa dia benar-benar baik-baik saja?”

Junho memutar bola matanya sambil mendesis pelan, “Tentu. Sangat baik.”

“Mwo?” Jinyoung tak begitu mendengar Junho dengan jelas. “Hyung bilang apa?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa.” Junho kemudian menyambar ponsel Jinyoung yang terletak di meja di samping tempat tidur, buru-buru memasukkannya kedalam kantongnya. “Aku akan memanggil dokter,”

Jinyoung ingin menahan Junho namun ia tak memiliki tenaga lagi. Ia ingin bertanya mengapa Junho mengambil ponselnya, namun sepertinya Junho takkan bisa mendengarnya dari jarak sejauh itu dengan suaranya yang pelan dan lemah.

***

“Kau masih disini?” Junho tampak terkejut saat menyadari Suzy masih duduk di depan kamar rawat Jinyoung. Semalaman Suzy memang ada di samping Jinyoung, duduk diam dan memandangi wajah Jinyoung saat tak sadarkan diri. Junho menganggap itu sebagai ungkapan rasa kasihan, namun melihat Suzy masih ada disini membuatnya berpikir ada sesuatu yang aneh, lebih dari sekedar rasa kasihan.

“Eoh? Iya.” Suzy mencoba terlihat dingin, seperti biasa. “Di luar banyak wartawan, jadi aku rasa ini bukan saat yang tepat untuk pulang. Manajerku juga masih menjelaskan pada wartawan tentang kejadian yang sebenarnya.”

“Soal itu..” Junho menggaruk-garuk kepalanya sambil duduk di samping Suzy. “Suzy-sshi, aku ingin meminta tolong sesuatu padamu.”

“Meminta tolong?” Suzy menaikkan sebelah alisnya. “Apa?”

“Kau tahu, Jinyoungie masih dalam kondisi yang tidak baik. Aku tahu kau sempat kesal dengannya. Namun aku akan sangat berterima kasih jika kau merahasiakan apa yang terjadi sebenarnya tadi malam padanya, dan juga berita yang sekarang beredar di media.” Junho menatap Suzy dengan tatapan memohon. Saat ini, kesembuhan Jinyoung adalah yang nomor satu. Jadi Junho tak keberatan melakukan apapun deminya.

“Merahasiakannya?” Suzy mendengus. Ia memang belum sempat memberi tahu Jinyoung soal kejadian sebenarnya, namun ia juga tak berniat merahasiakannya. Jinyoung harus membungkuk berterima kasih padanya jika tahu kenyataan bahwa tadi malam Suzy-lah yang menyelamatkannya. Siapa sangka seorang Nation’s Fairy, Bae Suzy, menyimpan keahlian Taekwondo yang hebat?

“Kumohon.” Junho tiba-tiba berdiri dan kemudian berlutut di hadapan Suzy. “Aku memohon bukan sebagai manajernya, tapi sebagai seorang hyung yang tidak ingin melukai perasaan adiknya.”

Suzy menatap Junho tak percaya. Dimana harga diri pria itu? Berlutut di hadapan seorang gadis yang lebih muda sepertinya?

“Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Jinyoung jika ia tahu bagaimana sekarang orang ramai membicarakannya,”

“Kau aneh. Justru harusnya dia senang sekarang orang-orang mengenalnya, dan mulai mencari tahu tentang dirinya. Itu semua karena aku, kan?” Suzy secara tak sadar memasang tampang angkuhnya. Harusnya Junho berterima kasih karena sekarang nama Park Jinyoung berada di peringkat pertama berbagai search engine, terkait juga dengan nama Bae Suzy. Setelah ini pasti ia akan jauh lebih terkenal.

“Mengenalnya? Sebagai seorang aktor rookie yang diselamatkan oleh sang Nation’s Fairy atas serangan sekelompok preman?” Junho menekankan kata-katanya, sedikit tersinggung dengan perkataan Suzy. “Suzy-sshi, apa ada laki-laki yang harga dirinya tidak terluka jika seorang wanita yang harusnya mereka lindungi malah melindunginya balik? Dan parahnya, sekarang seluruh orang di negara ini tahu tentang itu! Apa kau pikir dia akan senang?”

Suzy berdiri dari duduknya dan menghela nafas kesal. Sepertinya niat baiknya untuk menolong Jinyoung tadi malam tidak dihargai sama sekali.

“Lalu apa menurutmu lebih baik aku tidak usah menolongnya? Membiarkannya mati dihajar begitu saja sementara kau sang manajer menghilang entah kemana?” Suzy mengeluarkan semua yang ada dalam pikirannya. Ia tak suka disudutkan, seolah-olah dia adalah seseorang yang bersalah dalam kejadian ini. “Aku hanya berniat menolongnya, walaupun aku sangat kesal padanya. Siapa yang menyangka tiba-tiba ada wartawan datang? Lalu kenapa aku yang menjadi pihak yang salah?”

Junho bertahan dalam diam. Ia bukan menyalahkan Suzy karena menolong Jinyoung, namun ia juga tak mau gelar pahlawan yang harusnya diterima Jinyoung malah menambah gelar Suzy. Suzy sudah terlalu banyak menerima perhatian, dan saat ini dirinya jugalah yang akan mendapat simpati masyarakat.

Sementara Jinyoung? Dari beberapa komentar di artikel berjudul “(Breaking) Nation’s Fairy Menyelamatkan Hidup Seorang Aktor Rookie!” yang telah Junho baca, para netizen mengolok-olok Jinyoung. Mereka mengatai Jinyoung tidak jantan, lemah, bahkan bocah yang tidak pantas ditolong oleh seorang Bae Suzy. Tentu saja Junho tak ingin Jinyoung tahu tentang hal itu, setidaknya saat ini.

Suara deringan ponsel Suzy membuatnya tersentak. Ia mencoba menormalkan nafasnya sambil menerima panggilan itu dan berjalan menjauh dari Junho. Panggilan itu dari manajernya, yang berkata bahwa sepertinya ia tak bisa meninggalkan rumah sakit saat ini juga karena para wartawan masih menunggunya di luar rumah sakit.

Suzy berjalan kembali ke ruang rawat Jinyoung, menghela nafas lega menyadari Junho sudah tidak ada di depan pintunya. Ia tak ingin berdebat dengan Junho, namun ia juga tak punya tempat lain untuk pergi. Dan alasan utamanya, ia masih khawatir dengan keadaan Jinyoung.

Gadis itu kembali duduk di kursi yang tadi ia duduki,  kemudian menutup matanya sambil menyandarkan kepalanya ke dinding. Ia terbayang akan wajah Jinyoung. Tak heran, semalaman tadi ia hanya duduk memandangi Jinyoung, menyadari betapa polosnya wajah pria yang dipenuhi luka itu saat tidur. Jinyoung terlihat sangat lemah dan rapuh.

Tanpa sadar Suzy tersenyum, mengingat bagaimana tadi malam Jinyoung mencoba menolongnya. Pria itu tak bisa bela diri sama sekali, hingga malah ia yang akhirnya ditolong oleh Suzy. Betapa bodohnya Jinyoung. Namun Suzy tak bisa memungkiri ia masih terngiang akan suara Jinyoung yang memanggil namanya sebelum kehilangan kesadaran.

Perlahan rasa kantuk mulai menyerang Suzy. Kekhawatirannya pada Jinyoung membuatnya tak sempat tidur. Akibatnya walaupun saat ini matahari sudah terbit, Suzy tak dapat menahan keinginannya untuk tidur. Hingga akhirnya, ia tertidur pulas dengan wajah Jinyoung yang masih membekas dalam pikirannya.

***

“Tidurlah, hyung.” Jinyoung berujar pelan pada Junho yang berkali-kali menguap sejak tadi. Ia bertaruh Junho pasti tak tidur semalaman karenanya.

“Tidak, aku tidak..hoaam..” Junho memang tak bisa menyembunyikan rasa kantuknya, dan itu membuat Jinyoung terkekeh pelan.

“Sudahlah. Aku tidak apa-apa. Hyung kan tidak tidur semalaman, jadi wajar saja kalau hyung mau tidur sekarang.”

“Aku tidur, walaupun cuma dua jam.” Junho tersenyum pada Jinyoung, kemudian tersadar akan sesuatu. “Ah, dia yang tidak tidur semalaman.”

“Dia.. siapa?”

“Siapa lagi? Bae Suzy.” Junho mengatakan itu seolah-olah itu adalah hal yang biasa, dan ia tidak menyadari perubahan ekspresi di wajah Jinyoung.

Suzy memanglah orang pertama yang Jinyoung lihat saat membuka mata, namun ia tak menyangka seorang Nation’s Fairy yang ketus seperti Suzy mau menungguinya semalaman walaupun sebenarnya ia tak pantas sama sekali untuk mendapatkan perhatian seperti itu. Lagipula bukan dia yang menyelamatkan Suzy, kan? Ia tak tahu siapa yang menyelamatkan dirinya dan juga Suzy, namun ia akan sangat berterima kasih pada siapapun itu.

“Hyung?”

“…”

Jinyoung menghela nafas saat menyadari Junho telah tertidur—setelah dengan bangga mengatakan ia tak mengantuk—di sofa yang ada di dekatnya. Bagus. Sekarang ia tak punya teman bicara. Walaupun bibirnya terasa perih tiap ia berusaha berbicara, tak berbicara sama sekali jauh lebih menyakitkan.

Tiba-tiba pintu ruang rawatnya terbuka, menampilkan seorang perawat yang mendorong meja beroda berisi makanan untuknya. Namun bukan itu yang menarik perhatiannya, namun sesosok gadis berambut panjang yang tampaknya tengah tertidur di kursi di depan ruang rawatnya—ia bisa melihatnya walaupun tidak begitu jelas.

“Suster,” panggil Jinyoung pelan.

“Ne?”

“Apa.. yang sedang tertidur disana.. adalah Bae Suzy?”

Sang perawat mengangguk sambil meletakkan makanan Jinyoung di meja kecil di samping kepalanya. “Ne, kau sangat beruntung. Dia telah menye—” Perawat itu sontak menutup mulutnya dengan tangannya begitu ia ingat pesan Junho padanya tadi, untuk tidak mengatakan apapun pada Jinyoung demi pemulihannya.

“Telah.. apa?”

“Ah, ani. Maksudku, dia menungguimu hingga ia tertidur di kursi seperti itu.” Sang perawat buru-buru menyelesaikan urusannya dan kemudian beranjak keluar dari ruang rawat Jinyoung.

Perasaan iba dan simpati membanjir di hati Jinyoung. Siapa sangka Suzy benar-benar peduli padanya setelah apa yang telah ia lakukan? Bahkan setelah dipikir-pikir, ia malu dengan rencananya dan Junho yang berniat menggunakan Suzy untuk mengangkat popularitasnya. Suzy terlalu baik untuk dimanfaatkan seperti itu, pikirnya.

“Hyung..” Jinyoung berusaha membangunkan Junho yang baru saja tertidur beberapa menit lalu. “Junho hyung!” Jinyoung mengeraskan suaranya, dan secara ajaib itu mampu membangunkan Junho.

“Eo?” Junho langsung bangkit dari tidurnya. “Wae? Apanya yang sakit?” Dengan khawatir ia buru-buru berjalan menuju tempat tidur Jinyoung.

“Aku bisa meminta tolong sesuatu?” Jinyoung mengeluarkan senyum terbaiknya untuk memohon pada Junho, dan Junho merasa sesuatu yang aneh tengah dipikirkan oleh anak itu.

***

“Baiklah. Kau lebih.. ugh.. memilih gadis ini daripada aku?” Junho hampir saja ‘melemparkan’ tubuh Suzy di sofa yang tadi sempat ia pakai untuk tidur—yang mungkin tidak sampai dua menit.

Jinyoung hanya tersenyum, ia bisa saja mengatakan ‘tentu tidak, bagiku Junho hyung adalah yang nomor satu!’ namun kali ini ia ragu. Selama ia menjadi trainee hingga debut seperti sekarang, ia tak punya teman dekat selain Junho. Walaupun mereka tidak sedekat itu—Jinyoung masih normal, kok! Sumpah!—namun Jinyoung merasa ia memiliki hutang budi yang teramat besar pada Junho. Dan membiarkan Junho tidur di sofa itu tentu bukan masalah besar, namun kini ia yakin membiarkan Suzy disana adalah pilihan yang tepat.

“Fiuh.” Junho menghela nafas panjang sambil menghapus peluh kecil di dahinya. Jika besok ada artikel berjudul ‘Nation’s Fairy Tidak Seringan yang Kalian Kira!’ tersebar dimana-mana, Junho akan pura-pura tidak tahu. Itu bisa saja terjadi mengingat betapa kesalnya ia pada Suzy.

“Hyung tidak ingin membeli makanan?”

Junho mengerutkan keningnya. “Kenapa?” matanya lalu melirik ke arah Suzy yang sepertinya malah makin tenggelam dalam tidurnya. “Kau ingin aku membelikan wanita ini juga?”

“Mmhm.” Jinyoung tersenyum manja. “Hyung.. Kau memang benar-benar mengerti.”

Tanpa banyak bicara, Junho melangkah keluar dari kamar rawat Jinyoung. Sedetik setelahnya, mata Jinyoung langsung tertuju pada Suzy. Walaupun ia sedang tertidur dengan pakaian training yang ia kenakan tadi malam, seorang Bae Suzy benar-benar pantas menyandang gelar Nation’s Fairy. Seperti tak ada celah kecatatan di wajahnya, bahkan tanpa polesan make up sekalipun.

Perasaan apa ini?

Jinyoung merasakan perutnya bergejolak. Bukan rasa sakit atau apa, melainkan sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelum ini. Sedikit aneh, seolah ribuan kupu-kupu tengah beterbangan dalam perutnya. Ia menahan nafas sambil tetap memandangi wajah Suzy dari kejauhan.

Apa aku.. jatuh cinta?

TBC

6 thoughts on “Be My Scandal! (Part 3)

  1. ya ampun suka deh sama brothership nya junho sama jinyoung, kayanya tuh junho sayaaang banget sama jinyoung walau jinyoung bukan saudara kandungnya juga
    suzy ih hayo udah ada perhatianlah sama jinyoung walaupun dikit hihi. ih jinyoung juga kayanya udah muncul rasa nih
    next part soon

  2. Kyaa kenya waktu itu aku deh yang vote jinyong suzy eh sekarang malah ketinggalan bacanya*aigomianhaene* eish tapi tenang aja kedepannya kalo bakalan rajin komen ffmu eon!
    Omo jadi dichapter ini suzy yang nolongin jinyoung dari preman2 itu? Aigo uri suzy memang jjang!
    Next chapter ditunggu, fighting!

  3. yeeeeaaaaayyy akhirnya di posting jugaaaa !!!!

    keren thor! makin suka aku sama alurnya !!! makin penasaran apa yang terjadi nanti sama sang “nation’s fairy” and “aktor rookie” ini….

    hehehehehe,,next part ya thor !!!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s