{30 DAYS CUPID-AFTER STORY} MACAU, I’M IN LOVE

MACAU, I'M IN LOVE

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Oneshot||Genres: Romance, Fluff, Friendship, School-life||Main Characters: (BTS) Jungkook & (OC) Min Chanmi||Additional Characters: (BTS) V/Taehyung, (BTS) Suga/Yoongi, (OC) Junmi & (OC) Shina||Disclaimer: I own nothing but storyline||A/N: ||Warning: It’s very long!

“Kalau kau tidak bisa mengatakannya, tunjukkan dengan tindakanmu!”

Prolog|Chp.1|Chp.2|Chp.3|Chp.4|Chp.5|Chp.6|Chp.7|Chp.8|Chp.9|Chp.10|Chp.11|Chp.12|Chp.13A||Chap.13B-End+Epilog||Side-Story (Jin’s Story)>>After Story

HAPPY READING \(^O^)/


“UWAAAH!!! AKHIRNYA MINGGU DEPAN LIBUUURRR!!!”

Taehyung berteriak di koridor sekolah saat ujian kenaikan kelas berakhir sore ini. Suara deep-husky-nya memancing beberapa siswa melihat ke arahnya, termasuk seorang guru yang berjalan sekitar beberapa langkah di depannya.

Pemuda berambut light caramel itu tidak peduli.

“Oh, ya, liburan ini kau ada rencana kemana, hm?” tanya Taehyung, menoleh ke arah Jungkook yang berjalan di sebelahnya.

“Tidak tahu. Hanya di rumah saja sepertinya. Memangnya kenapa, hm?” jawab Jungkook, melangkah santai sambil menatap lurus ke depan.

“Bagaimana kalau kita pergi liburan?”

Jungkook menoleh, mengernyitkan dahinya. Ah, ide aneh apa lagi yang ada di dalam kepala light caramel Taehyung, hah?

“Kau mau liburan kemana?”

“Ya, kemana saja. Ke Jeju, Mokpo, Busan. Ah, atau… bagaimana kalau kita ke luar negeri, hm? China, Jepang atau… ah, Macau? Bagaimana kalau kita liburan ke Macau saja?” balas Taehyung excited.

Mendengar itu, Jungkook hanya membalas usul luar biasa Taehyung dengan 1 kata mutiara yang menyentuh hati, “Sinting!”

“Siapa yang sinting? Aku cuma sedikit aneh, Jeon Jungkook,” ujar Taehyung, membuat Jungkook memutar kedua bola matanya, jengah. “Hari ini juga, aku akan mencari travel yang murah di internet. Lagi pula, kita kan tidak pernah liburan bersama. Ideku luar biasa, kan, Buddy?” Taehyung merangkul pundak Jungkook.

Pemuda berambut merah marun itu mendengus. Ya, memang benar apa yang dikatakan Taehyung. Mereka belum pernah pergi liburan bersama. Lagi pula, semester ini, Jungkook sudah terlalu banyak melalui hal-hal yang sulit. Berlibur di luar negeri sepertinya hadiah yang bagus untuk dirinya. “Terserah kau saja. Yang penting, kau yang mengurus semuanya,” balasnya kemudian.

“Beres!” Taehyung mengacungkan kedua ibu jari tangannya di depan wajah Jungkook. “Yoohoo~~ Macau, we’re coming~~!”

@@@@@

“Aku pulang~!” teriak Jungkook. Terus mengayunkan langkahnya masuk ke dalam rumah, terlihat mengernyitkan dahi ketika sayup-sayup telinganya mendengar perdebatan kecil yang sepertinya berasal dari ruang keluarga. Uh? Apa… Junmi Noona dan Yoongi Hyung sedang bertengkar?

“Tidak! Pokoknya aku mau pergi ke tempat ini, Yoongi.”

“Tidak bisa, Yeobo. Kau kan sedang hamil. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi, sementara usia kandunganmu masih muda. Lagi pula, ini kehamilan pertamamu. Aku takut terjadi apa-apa di jalan.”

“Tapi, Yeobo, jarang-jarang kita bisa memenangkan paket wisata. Apa lagi ini di luar negeri. Macau. Ayolah, Yeobo. Ini kesempatan emas untuk berlibur sebentar dari pekerjaan kita.”

Ya, benar saja. Ketika tiba di ruang keluarga, pemuda berambut merah marun itu mendapati Yoongi dan Junmi sedang memperdebatkan sesuatu. Sepertinya, objek perdebatannya adalah… sesuatu di dalam amplop cokelat yang dipegang Junmi.

“Ada apa ini?” tanya Jungkook disela-sela pedebatan kedua kakaknya. Sontak, keduanya—Junmi dan Yoongi—menoleh ke arah pemuda itu.

Noona-mu ini memaksa untuk pergi liburan ke Macau,” jawab Yoongi.

“Liburan ke Macau?” ulang Jungkook.

“Iya. Dia menang paket wisata liburan ke Macau.”

“Hah? Menang liburan paket wisata?” Jungkook terkejut.

Junmi beringsut menghampiri Jungkook, berdiri di sebelah adiknya itu. “Kau ingat, kan, sejak beberapa bulan yang lalu Noona rajin mengirim bungkusan-bungkusan sabun mandi untuk mengikuti undian yang ada di iklan itu? Nah, 2 hari yang lalu, seseorang menelepon Noona dan mengatakan kalau nomor undian Noona adalah pemenang untuk hadiah utama paket wisata keluarga ke Macau,” jelas Junmi. “Dan siang tadi, perusahaan yang memproduksi sabun itu mengirimkan Noona ini, Jungkook. Tiket pesawat pulang pergi Seoul-Macau. Sudah termasuk akomodasi di Macau dan uang saku pula,” lanjut Junmi menggebu-gebu.

“Wah, itu sangat menyenangkan, Noona,” sahut Jungkook terlihat excited.

Seolah mendapat dukungan, Junmi langsung melihat ke arah Yoongi dan berkata, “Tuh, kan? Jungkook saja bilang kalau ini menyenangkan. Tiket-tiket ini cukup untuk kita bertiga. Bahkan, kita masih bisa mengajak satu orang lagi. Kenapa kau tidak mengerti juga, Yeobo~?”

Yoongi menghela napas panjang. “Kau sedang hamil muda, Jagiya. Kau harus ingat itu. Aku tidak mau mengambil resiko kau keguguran karena perjalanan liburan ini.”

“Ah, ya, Yoongi Hyung benar, Noona,” sahut Jungkook, baru ingat bahwa… Noona-nya sedang hamil 2 bulan. “Sebaiknya Noona tidak usah pergi.”

Merasa dikhianati, Junmi mendelik ke arah Jungkook. Sukses membuat pemuda berambut merah marun itu menelan ludah, mengambil satu langkah mundur sebelum wanita hamil di dekatnya melampiaskan kekesalan padanya seperti yang pernah terjadi beberapa hari yang lalu. “Jadi…, kalian berdua tidak setuju dengan rencana liburan ini, hm?” tanya Junmi dengan nada yang membuat siapa saja yang mendengarnya merasa takut.

“I-iya, Jagiya. Sebaiknya, tiket itu dijual saja ke orang lain, hm? Bagaimana?” bujuk Yoongi, perlahan mendekati istrinya yang… sepertinya sudah terlihat paham.

Tapi, kenyataannya… Junmi malah membuang amplop cokelat itu ke lantai, sontak membuat Yoongi dan Jungkook terkejut. Wanita hamil itu lantas masuk ke dalam kamar, menutup pintu rapat-rapat. Namun seolah melupakan sesuatu, ia membuka kembali pintu kamar itu, melihat Yoongi dan Jungkook bergantian seraya berkata, “AKU TIDAK MAU MEMASAK MALAM INI! KALAU KALIAN BERDUA LAPAR, CARI MAKAN SAJA DI LUAR! DAN KAU, MIN YOONGI! MALAM INI KAU TIDUR DI SOFA!”

Dan, pintu kamar itu tertutup rapat, bahkan dikunci dari dalam.

Kedua lelaki di rumah ini terdiam memandang pintu kamar. Pelan, Jungkook menoleh ke arah lelaki di sebelahnya dan bertanya, “Hyung…, kau tidak apa-apa?”

Masih memandang ke arah pintu kamar, Yoongi menghela napas panjang sembari mengelus dadanya pelan. “Ya, Jungkook, aku tidak apa-apa,” jawabnya pelan.

“Sabar, Hyung, sabar.” Jungkook menepuk-nepuk bahu Yoongi, kemudian melanjutkan ucapannya, “Junmi Noona sedang hamil. Emosinya labil.”

Dan, sekali lagi Yoongi menghela napas dan mengelus dadanya. Sepersekian detik kemudian, lelaki itu menoleh ke arah Jungkook dan berkata, “Menjadi calon ayah itu ternyata seperti ini, ya!? Hah~”

Jika tidak di dalam situasi yang malang, Jungkook mungkin akan menertawakan Yoongi dan wajah memelasnya. Kasihan sekali calon ayah yang satu ini. Wkwkwk.

“Lantas, sekarang mau kita apakan ini, Hyung?” tanya Jungkook setelah ia memungut amplop yang dibuang Junmi beberapa saat lalu, memperlihatkan benda itu pada Yoongi.

“Entahlah,” Yoongi menggidikkan bahunya, “Mungkin dijual saja.”

“Dijual?”

“Ya, dari pada rugi? Mending dijual saja. Jual murah juga tidak apa-apa. Toh, uangnya masih bisa digunakan.”

“Tapi, bagaimana kalau Junmi Noona marah?”

“Paling marahnya cuma sebentar,” sahut Yoongi. “Hm, kira-kira… kita jual kepada siapa, ya, tiket-tiket itu?”

Untuk beberapa puluh detik keduanya terdiam memikirkan kepada siapa mereka harus menjual tiket-tiket itu. Toh, uang hasil penjualan tiketnya pasti lumayan. Bahkan, bisa disimpan untuk biaya persalinan nanti.

“Ah, aku tahu!” seru Jungkook. “Aku tahu harus menjual tiket ini pada siapa.”

Yoongi menatap Jungkook antusias. “Siapa?”

Jungkook tersenyum penuh arti. “Hehehe… Yoongi Hyung tidak perlu tahu siapa. Serahkan saja padaku.”

“Serahkan saja padamu?”

“Ah, maksudku, penjualan tiketnya, serahkan padaku. Tentang hasil penjualannya, hyung tenang saja. Aku akan bagi 2 dengan hyung.” Jungkook menaik-turunkan kedua alisnya, masih dengan senyuman itu.

Dan sedetik kemudian, Yoongi mengerti bahasa wajah Jungkook. “Hahaha… ya, ya. Aku akan serahkan semuanya padamu, Jungkook-ah.”

“Beres, Hyung!”

Oh, Kim Taehyung, aku punya tiket ke Macau~

Bersiaplah untuk menyerahkan semua isi dompetmu padaku~

@@@@@

Malam harinya, Jungkook terlihat duduk di salah satu café yang tidak jauh dari rumahnya ditemani bubble tea di atas meja. Beberapa saat lalu, ia meminta Taehyung untuk bertemu di sini. Ya, tentu saja untuk membicarakan ‘bisnis’ itu. Tapi, kenapa dia belum juga datang, hah? Dia sudah terlambat 10 menit dari waktu perjanjian!

Sebuah motor memasuki halaman parkir café menarik perhatian Jungkook. Dari motornya, tidak salah lagi itu motor Taehyung. Tapi, uh, tunggu sebentar! Siapa yang dibonceng—ah, pasti Taehyung terlambat karena menjemput Shina dulu.

“Maaf, ya, Jungkook, gara-gara aku… Taehyung sedikit terlambat,” ucap Shina begitu ia dan Taehyung duduk bersebelahan di dua buah kursi kosong yang berhadapan dengan Jungkook.

Pemuda berambut merah marun itu tersenyum simpul. “Ya, tidak apa-apa.”

Sooo, mana tiket yang kau bicarakan denganku di telepon tadi, hm?” tanya Taehyung tanpa basa-basi.

Jungkook mengeluarkan amplop cokelat itu dari dalam saku varsity-nya, lantas meletakkan benda itu di atas meja. “Ini. Di dalamnya ada 8 lembar tiket pesawat untuk pulang pergi dan 4 lembar bukti booking 2 kamar hotel,” jelas Jungkook.

Tangan kanan Taehyung bergerak meraih amplop itu, mengeluarkan beberapa lembar kertas panjang dari sana. Hanya sekedar mengecek apakah itu benar tiket asli atau… Jungkook hanya mengerjainya. “Oke. Harganya sama dengan yang kita bicarakan di telepon tadi, kan?”

“Yap. Tapi, kalau kau mau menambah sedikit juga tidak apa-apa,” ujar kemudian, lalu terkekeh.

“Enak saja. Harga yang kau berikan itu sudah hampir menguras sebagian isi buku tabunganku, tahu!” balas Taehyung. Dia lantas menoleh ke arah gadis di sebelahnya. “Bagaimana? Kau dan Bomi jadi ikut, hm?”

“Sepertinya, tidak,” sahut Shina. “Liburan ini, Bomi disuruh menjaga neneknya yang sedang sakit. Jadi…, sepertinya aku… tidak jadi ikut juga.”

Ya! Kenapa seperti itu, hm?” tanya Taehyung terkejut. Sedangkan, Jungkook hanya diam saja memperhatikan pasangan di depannya berdiskusi. “Jarang-jarang kan dapat tiket dengan harga ‘teman’ seperti ini. Lagi pula, tujuan liburan kita Macau, Shina. Kau kan pernah bilang ingin liburan ke sana, kan!?” lanjutnya.

“Iya. Tapi, kalau hanya aku yang perempuan, eomma tidak akan mengijinkanku. Bomi kan tidak jadi pergi. Kalau mau aku ikut, harus cari 1 perempuan lagi,” kata Shina.

Taehyung menghela napas. “Ah, kalau masalah itu, tenang saja. Aku sudah menemukan seseorang yang bisa menggantikan Bomi.”

“Siapa?” tanya Shina dan Jungkook bersamaan.

Pemuda berambut light caramel itu memamerkan senyum lebarnya, memandang Jungkook jahil sembari berkata, “Dia masih teman sekelas kita juga.”

Melihat tatapan jahil Taehyung dan sebuah clue yang baru saja diucapkannya, Jungkook terdiam dan berpikir.

Mungkinkah orang yang dimaksud Taehyung adalah…

@@@@@

“Kenapa kau mengajak Chanmi, hah? Kau sengaja?” tanya Jungkook pada Taehyung begitu mereka tiba di sebuah hotel tempat mereka menginap selama liburan 3 hari di Macau. Saat ini, keduanya berada di dalam sebuah kamar dengan 2 single bed di dalamnya. Jungkook duduk di tepi tempat tidurnya, menghadap ke arah Taehyung yang berada di depannya, langsung berbaring begitu matanya melihat kasur.

“Memangnya kenapa kalau aku mengajak Chanmi, hm? Toh, dia juga ingin pergi berlibur dan kebetulan sekali kita kekurangan 1 orang,” balas Taehyung, memiringkan tubuhnya ke arah sahabatnya, menjadikan salah satu tangannya sebagai tumpuan kepalanya.

“Tapi, kenapa harus Chanmi orangnya?” tanya Jungkook lagi. Di dalam kepalanya, ia berpikir Taehyung sengaja mengajak Chanmi ikut. Alasannya? Tentu saja untuk menggoda Jungkook.

Well, Jungkook memang menyukai… Chanmi.

Semua itu berawal dari sebuah acara makan malam keluarga Min, sekitar seminggu setelah acara pernikahan Yoongi dengan Junmi. Sebuah acara makan malam yang diadakan di rumah Chanmi. Dan pada malam itu, Jungkook menyadari sesuatu.

Chanmi… gadis yang bersuara malaikat.

“Sudahlah! Tidak usah banyak protes, Jeon Jungkook. Anggap saja sekarang kita sedang mengadakan double date di Macau.”

Ucapan Taehyung sontak membuat Jungkook melemparkan guling di tempat tidurnya ke arah pemuda itu. “Double date apanya, hah? Siapa yang pacaran dengan Chanmi?” bentaknya.

“Ya. Kau memang belum pacaran dengan Chanmi. Tapi, sebentar lagi akan pacaran, kan?” Taehyung menatap jahil sahabatnya.

“Kau gila!”

Masih dengan tatapan jahilnya, pemuda berambut light caramel itu berkata, “Ayolah, Brother. Macau ini tempat romantis untuk lokasi pernyataan cinta. Chanmi pasti suka.”

“Sinting! Aku tidak mau!”

Ya! Kalau kau seperti itu, Chanmi bisa diambil orang lain. Kau… mau kejadian yang lalu terulang, hm?”

“Diamlah! Aku mau tidur saja!” Jungkook langsung mengambil posisi tidur membelakangi Taehyung, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Entah untuk keberapa kalinya dalam beberapa jam terakhir, pemuda berambut light caramel itu membuatnya kesal.

Kekesalan dan kelelahan itu benar-benar membuat Jungkook terlelap. Begitu ia terbangun dan melirik tempat tidur di sebelahnya, Taehyung tidak ada di sana. Sebagai pengganti Taehyung, ada selembar kertas yang permukaannya terdapat tulisan, “Aku dan Shina jalan-jalan di luar dulu, Brother. Sebenarnya, aku juga ingin mengajakmu sekalian, aku sudah berkali-kali membangunkanmu, tapi kau tertidur seperti orang mati. Oh ya, Chanmi tidak ikut bersama kami… hehehe. If you know what I mean. Salam tampan, Taehyung.”

Pemuda berambut merah marun itu mendengus, meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sekilas, kedua irisnya melihat ke arah jam yang telah menunjuk pukul setengah 7 malam sebelum ia memutuskan untuk mandi.

Beberapa menit kemudian, Jungkook mendapati dirinya berdiri di depan cermin yang terletak di antara tempat tidurnya dan tempat tidur Taehyung. Memastikan kaos putih yang ia tutupi dengan kemeja berwarna navy yang membalut tubuhnya terlihat baik, juga sepotong celana selutut untuk bagian bawahnya.

“Kriiuuk~”

Suara perut yang keroncongan mengingatkan pemuda berambut merah marun itu untuk segera beranjak dari depan cermin. Beranjak keluar dari kamar setelah mengenakan sepasang sepatu berwarna merah. Pandangan pemuda itu lantas tertuju pada pintu yang berhadapan dengan pintu kamarnya. Yap, itu pintu kamar Shina dan Chanmi.

Well, Jungkook teringat pesan dari Taehyung.

Pemuda itu lantas mendekati pintu kamar bernomor 28B di depannya. Tangan kanannya terangkat, ingin mengetuk pintu bercat putih itu. Namun, ia juga sedikit ragu. Niatnya, ia ingin mengajak Chanmi mencari makanan sekalian jalan-jalan. Tapi, apa… Chanmi mau? Bagaimana kalau nanti gadis itu menolak ajakan Jungkook?! Oh tidak! Itu memalukan sekali. Atau mungkin… Chanmi sudah memesan makanan dari hotel ini. Atau…

“Uh? Jungkook-ah?” Gadis itu terkejut ketika melihat Jungkook berdiri di depan pintu kamar saat ia membuka pintu. Tapi, Jungkook pun tidak kalah terkejutnya. Dia kedapatan berdiri di depan pintu kamar. Oh God, bagaimana kalau nanti Chanmi bertanya, “Apa yang kau lakukan di situ?”

MAMPUS!

Harus jawab apa sekarang?

Pemuda berambut merah marun itu tersenyum kikuk sambil menggaruk-garuk bagian belakang lehernya. Oh, ayolah…, apa yang harus ia katakan sekarang? Kalau pun mau berbohong, harus menggunakan alasan yang dapat diterima oleh akal. Tapi…, alasan apa?

“Jungkook-ah?”

“Ah, itu… anu…” Pemuda itu masih sibuk memutar otak untuk menemukan alasan yang tepat.

“Kau… mau pergi mencari makan di luar?” tanya Chanmi kemudian.

Pemuda berwajah bulat itu mengangguk cepat.

“Ah, kebetulan. Aku juga sama,” kata Chanmi. “Mau… cari makan bersama, hm?”

“Y-ya…, kalau tidak keberatan,” sahut Jungkook dengan salah tingkahnya yang masih tersisa.

Chanmi mengulum senyum. “Ya sudah. Ayo.”

@@@@@

Jungkook dan Chanmi tiba di sebuah restoran di dekat hotel. Duduk saling berhadapan di kursi dekat jendela, leluasa melihat-lihat pemandangan orang-orang yang berlalu-lalang di luar, juga kerlap-kerlip lampu-lampu yang menambah indah suasana malam di Macau.

“Kupikir, kau pergi bersama Taehyung dan Shina,” sahut Chanmi memulai pembicaraan di antara mereka setelah memesan makanan.

Jungkook menggeleng pelan. “Tidak. Aku tertidur dan mereka meninggalkanku. Kau sendiri?”

“Sama. Aku menemukan selembar surat di tempat tidur Shina begitu aku terbangun.”

“Kompak sekali mereka.”

“Maksudmu?” Chanmi menatap Jungkook, bingung.

“Taehyung juga hanya meninggalkan selembar surat di tempat tidurnya.”

Chanmi mengangguk paham. “Ah, begitu?” gumamnya. “Hmm… mereka berdua curang sekali. Mentang-mentang pacaran, seenaknya saja meninggalkan kita,” gerutu Chanmi, terkekeh.

Jungkook hanya ikut terkekeh, tidak tahu harus membahas apa. Terlalu sibuk mengendalikan jantungnya yang berdetak cepat ketika melihat gadis di hadapannya terkekeh. Terlihat begitu manis dan lucu di matanya.

Gadis itu lantas mengalihkan pandangannya ke arah jendela, menumpu dahinya pada permukaan telapak tangan kanan yang ia naikkan ke atas meja. Pelan, ia menghela napas. “Kadang… aku iri pada Shina,” gumam Chanmi. “Enak sekali. Kemana-mana… selalu ada Taehyung.”

Seketika, pemuda berambut merah marun itu terkejut. “Kau suka Taehyung?” serunya tanpa sadar.

“Apa?” Chami tak kalah terkejutnya mendengar pertanyaan Jungkook. “Aku tidak menyukai Taehyung. Kau salah paham,” sahutnya sembari menggerakkan kedua tangannya untuk mendukung ucapannya. “Maksudku…, aku iri pada Shina karena… dia punya pacar,” jelas Chanmi.

Mendengar itu Jungkook bernapas lega. “Syukurlah~”

Akan super duper menyebalkan kalau Chanmi malah menyukai Taehyung. Ayolah, masa kejadian yang dulu terulang lagi?

Namun, gelagat Jungkook beberapa saat lalu membuat Chanmi heran. “Kenapa kau berkata ‘syukurlah’, hah?” tanyanya, memandang Jungkook, menuntuntut penjelasan.

Pemuda berambut merah marun itu terkesiap. “Ah, ti-tidak. Bukan apa-apa. Abaikan saja, Chanmi-ya. Yang barusan bukan apa-apa… hehe… he.” Jungkook tertawa canggung. Kenapa dia bertingkah seperti tadi, hah? Hampir saja ketahuan!

“Yakin tidak ada apa-apa?” Chanmi masih merasa ada sesuatu yang aneh.

“I-Iya. Tidak ada apa-apa.”

Gadis itu masih menatap pemuda di hadapannya beberapa detik, menggidikkan kedua bahunya, lalu berkata, “Ya, sudah kalau begitu.”

Tidak lama kemudian, seorang pelayan menghampiri mereka. Menghidangkan makan malam yang mereka pesan di hadapan masing-masing. Sepeninggal pelayan, tanpa basa-basi keduanya langsung menyantap makanan yang terlihat enak dan masih mengepulkan asap. Ya, benar-benar menikmati makanan itu tanpa ada satu pun yang bicara.

Namun…

Diam-diam pemuda itu memperhatikan Chanmi. Sesekali mencuri-curi kesempatan memandang gadis di hadapannya. Sesekali mengulum senyum samar mana kala kedua irisnya melihat Chanmi. Dan…, ini untuk pertama kalinya sejak tiba di Macau, Jungkook berterima kasih pada Taehyung. Kalau bukan karena dia yang pergi tanpa pamit secara langsung, Jungkook pasti tidak akan duduk di sini, terlebih makan malam bersama… gadis yang disukainya.

“Kau mau langsung pulang ke hotel atau…?” tanya Jungkook setelah keduanya selesai makan malam, berjalan keluar dari restoran. Matanya memandang Chanmi yang berjalan di sebelahnya.

“Tidak,” sahut Chanmi, melirik jam tangan ungu yang melingkar manis di pergelangan tangan kanannya, “Sekarang baru pukul 7 lewat 35 menit. Aku mau jalan-jalan sebentar. Kau?”

“Kau mau ke Macau Tower, hm?” tanya Jungkook.

“Macau Tower?” ulang Chanmi.

“Itu. Tempatnya sepertinya dekat dari sini,” lanjut Jungkook, menunjuk ke arah dimana Macau Tower berdiri. Terlihat tinggi menjulang di antara bangunan-bangunan di sekitarnya.

“Ah, ya. Terlihat sangat menarik.”

Keduanya lantas berjalan kaki menuju salah satu tempat wisata andalan di Macau itu. Sebuah tower tinggi yang bahkan masuk sebagai 10 bangunan tertinggi di dunia. Tidak butuh waktu lama untuk berjalan, Jungkook dan Chanmi tiba di Macau Tower. Membayar tiket masuk di ground floor lantas beranjak ke lift yang akan membawa mereka ke Observation Area.

“Woaah~” Chanmi tidak bisa menahan kekagumannya begitu ia dan Jungkook tiba di Indoor Observation Area—tepatnya di Observation Lounge di lantai 58.

“Ya~” sahut Jungkook kalem. Juga terpesona dengan keindahan Macau yang bisa ia lihat dari tempatnya berpijak.

“Hei! Ayo ke sana!”

Tahu-tahu Chanmi menarik Jungkook mendekati jendela. Mengajak pemuda itu untuk melihat pemandangan malam Macau lebih dekat. Lampu-lampu hotel dan kasino yang berkerlap-kerlip berwarna-warni di bawah sana membuat Macau terlihat sangat hidup di malam hari. Terlebih, lantai yang terbuat dari kaca transparan dimana kaki mereka berpijak memberikan sensasi seperti berjalan di atas udara.

“Ini benar-benar hebat, Jungkook-ah~” Chanmi tidak berhenti mengagumi apa yang dilihatnya.

“Ya~” Jungkook yang berdiri di sebelah Chanmi lagi-lagi hanya membalas singkat, lengkap dengan kedua mata yang… lekat memandangi sisi samping wajah Chanmi. Baginya, melihat wajah Chanmi yang berseri-seri—meski hanya dari samping—terlihat jauh lebih indah dari pada melihat kerlap-kerlip lampu-lampu hotel dan kasino yang terpampang jelas di depannya.

“Chanmi-ya~, Jungkook-ah~” Keduanya menoleh nyaris bersamaan ketika seseorang berteriak menyebut nama mereka. Melihat siapa yang berjalan menghampiri, Jungkook menghela napas. Kenapa harus bertemu mereka di sini?

“Ya~! Kau dan Taehyung tega sekali meninggalkan aku dan Jungkook di hotel. Curang!” sahut Chanmi begitu Shina berdiri di dekatnya.

“Salahkan Taehyung!” Shina menunjuk pemuda berambut light caramel yang berdiri di dekat Jungkook. “Dia yang mengajakku. Aku sudah bilang untuk menunggu kau dan Jungkook bangun.”

Taehyung menyengir lebar. “Maaf, maaf. Aku hanya tidak sabar ingin melihat-lihat Macau.”

Chanmi mendengus. “Huuu~ bilang saja kau tidak sabar pergi berdua dengan Shina~”

Sekali lagi, pemuda berambut light caramel itu hanya menyengir lebar.

Sesaat kemudian, Chanmi kembali ribut mengagumi pemandangan Macau. Semakin ribut karena… sekarang ada Shina yang menemaninya. Pelan-pelan berjalan menjauh dari tempat Jungkook dan Taehyun berdiri demi memuaskan diri melihat pemandangan 360 derajat yang diberikan oleh Macau Tower.

“Sejak kapan kau dan Chanmi di sini, hm?” Taehyung memulai pembicaraan begitu para gadis beranjak, melihat ke arah Jungkook yang berdiri di sebelah kirinya.

“Baru saja. Mungkin… sekitar 10 menitan,” jawab Jungkook tanpa balas menoleh ke arah Taehyung, malah melihat ke arah pemandangan di depan.

“Jadi…, kau mengerti maksud dari pesanku, hm?” tanya Taehyung lagi, kali ini sambil menyenggol-nyenggol lengan Jungkook.

“Aku tidak mengerti, Kim Taehyung!”

“Bohong~” respon pemuda berambut light caramel itu dengan nada menggoda. “Kau pasti mengerti, karena itu kau mengajak Chanmi ke sini, kan?”

Sedikit kesal, pemuda berambut merah marun itu menoleh dan berkata, “Ya! Aku ke sini untuk menikmati tempat wisata di Macau dan aku mengajak Chanmi karena aku tidak punya teman selain dia karena temanku yang lain telah pergi lebih dulu bersama pacarnya dan meninggalkanku sendirian di kamar!”

Taehyung memasang wajah datar sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya beberapa kali. Terperangah mendengar Jungkook yang berbicara sebanyak itu dalam satu tarikan napas.

“Kenapa kau diam saja, Kim Taehyung!” tegur Jungkook setelah mengatur napasnya yang sedikit tersengal.

“Tidak,” sahutnya. “Aku hanya baru sadar kalau kau ternyata bisa secerewet itu, Jungkook!”

Pemuda berambut merah itu mendengus, lantas kembali pada pemandangan di hadapannya. Ah, percuma saja. Bicara dengan Taehyung malah merusak mood-nya malam ini.

Soo, kapan rencanamu, hm?”

“Rencana apa?” Jungkook bertanya balik, kali ini sambil berjalan untuk melihat lebih banyak pemandangan yang bisa terlihat dari ketinggian 233 meter ini. Sesekali memotret dengan kamera yang ia bawa.

Taehyung mengikuti ke arah mana Jungkook mengayunkan langkahnya. “Tentu saja mengutarakan perasaanmu pada Min Chanmi. Masa kau tidak memikirkan hal itu, hm? Kita kan sudah membicarakan ini saat di hotel.”

“Aku tidak sempat memikirkan hal itu. Aku sangat lelah tadi,” sahutnya.

Pemuda berambut light caramel itu mendengus. “Kau ini benar-benar! Padahal sekarang kita sedang berada di Macau, bukannya memikirkan bagaimana cara mengungkapkan perasaan pada Chanmi dengan cara yang berkesan, kau malah banyak alasan.”

“Tujuan utamaku ke sini kan untuk berlibur, Kim Taehyung. Bukan untuk hal itu.”

“IYA! NANTI CHANMI KEBURU DIAMBIL ORANG, BARU KAU MENANGIS!” teriak Taehyung geregetan.

Sontak, Jungkook membungkam mulut Taehyung sembari menginjak sebelah kaki pemuda berambut light caramel itu. “Dasar bodoh! Kalau tadi Chanmi dengar bagaimana, hah!?” gerutunya, mengedarkan pandangan mencari dimana Chanmi berada. Beruntung, Chanmi berada jauh di seberang mereka, terlihat asik menikmati es krim bersama Shina, masih melihat pemandangan.

Agak kasar, Taehyung menyingkirkan tangan sahabatnya. “Aku memang sengaja supaya Chanmi mendengarnya. Kalau menunggu kau bergerak, Chanmi tidak akan tahu perasaanmu. Kalau terus seperti itu, lama-lama Chanmi bisa diambil orang! Kau mau kejadian dulu terulang, hah?” Taehyung menggerutu balik, nampak tersengal-sengal. “Aku mau ke lantai atas. Kalau Shina mencariku, bilang aku sedang berada melihat orang melakukan bungee jumping di lantai 61,” lanjutnya, berlalu dari hadapan Jungkook.

Sepeninggal Taehyung, pemuda berambut merah marun itu masih berdiri di sana, memandang kerlap-kerlip lampu kendaran yang jauh di bawah sana melalui lantai transparan tempat kedua kakinya berpijak. Dalam hati membenarkan ucapan sahabatnya. Kalau menunggu dia yang bergerak, Chanmi… tidak akan pernah tahu seperti apa perasaannya pada gadis itu. Tapi, Jungkook cemas. Cemas kalau-kalau… jawaban Chanmi tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya.

Sesaat kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke arah Chanmi. Mendapati gadis itu tertawa dengan wajah yang berseri-seri. Terlihat bahagia sekali. Terbersit keinginan untuk… menjadi salah satu alasan dibalik semburat merah muda di wajah gadis itu, tapi… APA CHANMI MENYUKAIKU?

@@@@@

“Kau tidak akan pernah tahu apakah Chanmi menyukaimu atau tidak kalau kau tidak pernah menanyakan hal itu padanya.”

Pagi-pagi… Taehyung memulai harinya dengan… sepotong nasehat untuk Jungkook sebelum mereka turun ke lantai dasar hotel untuk sarapan gratis.

“Kau ini. Sejak semalam, kau selalu menekanku seperti itu. Apa kau pikir aku tidak tersiksa, hah? Kau pikir perasaan ini mudah?” sewot Jungkook yang duduk di tepi tempat tidurnya, melihat ke arah Taehyung yang sedang berdiri di depan cermin, menyisir rambut light caramel-nya.

Taehyung mendengus, lantas berbalik dan berjalan ke arah Jungkook. “Dengar ya, Jeon Jungkook,” katanya sembari mengacungkan sisir hitam yang dipegangnya tepat di depan hidung sahabatnya, “Aku tahu ini tidak mudah. Kau dan aku pernah mengalami perasaan yang lebih sulit dari ini, ingat? Aku berkata seperti ini karena aku sahabatmu. Aku tidak akan membiarkanmu sakit hati 2 kali karena kebodohanmu sendiri!” lanjut Taehyung.

Pemuda berambut merah marun itu mengalihkan pandangannya dari tatapan Taehyung, lalu sedetik kemudian kembali menatap pemuda di hadapannya, “Lalu apa yang harus aku lakukan, hah?”

“Harus berapa kali aku bilang kalau kau harus memberitahu Chanmi bahwa kau menyukainya. Kalau kau tidak bisa mengatakannya, tunjukkan dengan tindakanmu!”

“Seperti kau yang menjadi Tuan Mawar, hah?”

“Y-ya, kurang lebih,” sahut Taehyung agak kikuk. “Ya, pokoknya… kalau tidak bisa dengan ucapan, tunjukkan dengan tindakan!” jelasnya. “Hah, ayo. Sebaiknya kita sarapan, kemudian membicarakan ini lagi. Para gadis itu sepertinya sudah berada di bawah.”

Jungkook mengikuti Taehyung berjalan keluar dari kamar. Bersiap sarapan di restoran hotel sebelum mengunjungi tempat-tempat wisata lain di Macau. Tiba di restoran, Taehyung dengan mudah mengenali Shina yang terlihat mengenakan pakaian yang baru dibelikannya sekitar sebulan yang lalu.

“Apa yang kalian berdua lakukan di kamar, hah? Kenapa lama sekali?” tanya Shina begitu Taehyung mengambil tempat di sebelahnya.

“Tidak ada. Jungkook bangun terlambat, jadi aku menunggunya~” kilah Taehyung, sontak membuat Jungkook—yang duduk berhadapan dengannya—melotot ke arahnya. Jelas-jelas Taehyung yang bangun terlambat, malah memutarbalikkan fakta. Chanmi yang melihat itu hanya bisa terkikik geli.

Shina mendengus. “Ya, sudah. Kalau begitu mau sarapan apa, hm? Biar aku ambilkan~” tanya gadis manis itu pada Taehyung.

“Samakan dengan sarapanmu saja~”

“Bubur Macau? Baiklah~,” sahutnya seraya berdiri dari duduknya. Bersamaan dengan Shina, Jungkook juga berdiri—berniat ingin mengambil sarapan untuk dirinya, tapi… “Ng, Jungkook-ssi. Kau duduk saja,” ujar Shina padanya.

“Tapi…” gumamnya sedikit bingung, juga tidak mau merepotkan.

“Tidak apa-apa. Memangnya kau mau makan apa?”

Agak kikuk, Jungkook menjawab, “Emm… samakan dengan Taehyung saja.”

Okay.” Gadis manis itu lantas melirik gadis di sebelah Jungkook dan berkata, “Chanmi-ya, ikut aku~”

Taehyung menggerakkan pandangannya ke arah Shina bergerak, memandang gadisnya beberapa detik, lalu melihat ke arah Jungkook di depannya, tersenyum lebar. “See? Itu salah satu cara Shina menunjukkan cintanya padaku,” ucapnya dengan nada penuh rasa bangga. “Ingat. Jika tidak bisa dengan kata, tunjukkan melalui tindakan!”

Jungkook memutar kedua bola matanya, agak jengah. “Iya. Aku mengerti,” sahutnya.

Beberapa saat kemudian, Shina dan Chanmi kembali ke meja, menghidangkan dua piring sarapan masing-masing di depan Taehyung dan Jungkook. Sekitar 15 menit waktu mereka habiskan untuk sarapan, lantas kembali ke kamar untuk bersiap-siap ke Senado Square.

Jarum jam menunjuk pukul 9 lebih 42 menit ketika Jungkook dan ketiga temannya duduk manis di dalam bis umum yang membawa mereka dan beberapa orang lain menuju salah satu tempat wisata terkenal di Macau. Hanya sebentar duduk di dalam bis, mereka pun tiba di sebuah kawasan seluas 3.700 meter.

Bangunan-bangunan bergaya Portugis berdirih kokoh di depan mata, menggoda Jungkook membidikkan kameranya ke beberapa bangunan. Termasuk membidik sebuah kolam air mancur yang menyambut mereka di bagian depan Senado Square.

“HEI, JUNGKOOK~!!!” Taehyung yang telah berjalan beberapa meter di depan sana berteriak. Jungkook menghentikan kegiatannya, bergegas menyusul ketiga temannya. “Apa yang kau lakukan di sana?” tanya pemuda berambut light caramel itu begitu Jungkook berada di dekatnya, berjalan bersisian sekitar beberapa langkah di belakang Chanmi dan Shina.

“Hanya mengambil beberapa gambar untuk kenang-kenangan~” sahutnya.

“Sejak di Macau Tower kau terlihat asik dengan kameramu. Aku berani bertaruh kalau jumlah gambar yang kau ambil pasti lebih banyak dari pada jumlah lembaran uang di dompetmu,” ledek Taehyung.

“Sok tahu!” sinis Jungkook, tiba-tiba mengarahkan kameranya pada wajah Taehyung, mengambil gambar wajah pemuda itu tepat di saat ia sedang menguap lebar. That’s the best one. Jungkook tertawa.

Ya! Kenapa memfoto aku secara tiba-tiba seperti itu, hah!? Hasilnya pasti jelek sekali. Kemarikan kameramu, biar aku hapus!” Taehyung berusaha merebut kamera dari tangan Jungkook, sementara pemuda berambut merah marun itu berusaha menjauhkan kameranya dari jangkauan tangan Taehyung.

Ya! Hasilnya bagus, Kim Taehyung! Sangat tampan!” ujar Jungkook , meledek, di sela-sela kegiatannya mem-blok ‘serangan’ Taehyung.

“Aku tidak percaya padamu, Hidung Besar!”

Ya! Kau bisa merusak kameraku, dasar Alien!”

Mendengar keributan kecil di saat mereka sedang melihat-lihat sebuah bangunan museum dari luar, Shina dan Chanmi pun menoleh ke asal suara. Seketika membulatkan mata mereka begitu orang yang… menarik perhatian pengunjung sekitar itu adalah… dua makhluk yang mereka kenal.

“BUKH! BUKH!”

Tanpa basa-basi, Chanmi menghampiri mereka, memukul pipi Jungkook dan Taehyung dengan pamflet yang berisi informasi tentang Senado Square.

Ya~! Apa yang kau lakukan, Min Chanmi!” protes Taehyung.

“Justru kami yang harus bertanya seperti itu, Kim Taehyung~!” ujar Shina gemas sembari menjewer telinga kanan Taehyung, membuat pemuda berambut light caramel itu meringis. “Apa yang kalian lakukan sampai membuat keributan seperti itu? Bikin malu!”

Taehyung mendegus setelah Shina melepas jeweran di telinganya, mengelus pelan daun telinga kanannya yang sedikit nyut-nyutan. “Salahkan Jungkook,” telunjuknya mengarah ke Jungkook, “Dia memfotoku secara tiba-tiba.”

Pemuda berambut merah marun itu hanya bisa tersenyum kecut.

“Hanya karena itu kalian berdua membuat keributan?” tanya Chanmi tidak percaya. “Kalian berdua, kalau sudah bertemu, selalu bersikap kekanak-kanakan.”

Taehyung dan Jungkook diam menundukkan kepala, persis seperti dua orang anak yang sedang dimarahi oleh ibunya.

Shina mengembuskan napas panjang. “Ya sudah. Kalau seperti ini, sebaiknya kita jalan terpisah untuk beberapa saat. Kalau kalian bersama terus, entah kelakuan memalukan apa lagi yang akan kalian lakukan nanti,” ujar gadis manis itu. “Bagaimana?” Ia memandang kekasihnya dan Jungkook bergantian.

“Baiklah~” sahut Jungkook.

“Oke. Kalau begitu, kau bersama Chanmi. Aku dengan Taehyung,” atur Shina.

“Tunggu!” sahut Taehyung cepat. “Bukankah setelah dari tempat ini…, kita mau pergi ke Grand Lisboa, hah? Apa kita juga pergi terpisah ke sana?”

“Kita bertemu di sini,” Chanmi menunjuk gambar sebuah bangunan yang tertera pada pamflet dan memperlihatkannya pada Taehyung, “Ruins Of St. Paul Church sebelum berangkat ke Grand Lisboa. Bagaimana?”

“Oke. Setuju. Sampai bertemu di sana, Chanmi-ya, Jungkook-ah,” ujar Shina riang. “Ayo, Taehyung, kita museum yang di sana.” Dan langsung menarik Taehyung menuju museum yang beberapa saat lalu difotonya bersama Chanmi.

“Lalu, sekarang bagaimana?” tanya Jungkook sepeninggal pasangan kekasih itu, melihat ke arah Chanmi.

“Mau mencari ole-oleh, hm? Menurut informasi dari pamflet ini, di sini banyak toko yang menjual ole-ole khas Macau.”

Jungkook mengangguk pelan.

Keduanya pun berjalan menyusuri bagian lain dari Senado Square. Menyusuri jalan-jalan sempit yang di sisi kiri dan kanannya berjejer pusat-pusat perbelanjaan dan restoran. Beberapa kali bersenggolan dengan pengunjung sekitar mengingat tempat ini cukup ramai oleh penduduk lokal maupun wisatawan asing seperti mereka. Jungkook tidak henti mengarahkan kameranya ke beberapa titik yang menurutnya sangat menarik untuk diabadikan. Dan… tentu saja, beberapa kali diam-diam mengarahkan kamera ke arah Chanmi yang terlihat kagum dengan suasana perpaduan antara China dan Portugis.

“Hei! Ayo masuk ke toko itu. Sepertinya menarik~” Saking semangatnya, tanpa sadar Chanmi menarik Jungkook memasuki salah satu toko di sisi kanan jalan.

Begitu masuk, begitu banyak benda-benda menarik untuk dibeli. Kalung dengan ukiran yang unik, gantungan kunci gelang dan… ah, banyak. Chanmi bahkan terlihat bingung mau membeli yang mana untuk teman-teman dan orang-orang di rumah.

“Untuk apa membeli gantungan kunci sebanyak itu, hah? Kau menjualnya sepulang dari sini?” tanya Jungkook heran melihat Chanmi membeli sekitar 15 atau mungkin 20 gantungan kunci.

“Ole-ole untuk teman-teman dan orang-orang di rumah,” jawabnya. “Memangnya kau tidak mau membelikan sesuatu untuk Junmi Eonni atau Yoongi Oppa, hah!?” tanya Chanmi, memandang Jungkook sembari menaikkan sebelah alisnya.

“Aku tidak mengerti urusan seperti ini!” sahut Jungkook seadanya.

Gadis itu menghela napas. “Kau ini. Tinggal pilih saja barang-barang yang ada di sini, kan!?”

“Tapi aku tidak tahu apa kualitasnya bagus atau tidak. Kalau salah beli kan rugi, Chanmi-ya.”

“Aish!” Chanmi memutar kedua bola matanya agak jengah. “Biar aku bantu pilihkan,” sahut Chanmi.

Setelah memilih dan membayar barang-barang yang mereka beli, Jungkook dan Chanmi memutuskan untuk beristirahat di sebuah bangku sebelum melanjutkan perjalanan mereka menuju Ruins Of St. Paul Church yang berada di ujung jalan.

“Hah~ lelahnya~” ujar Chanmi, menyandarkan punggung setelah meletakkan beberapa bungkusan belanjaan di sisi kiri tubuhnya.

“Kau lapar, hm? Haus?” tanya Jungkook.

Gadis itu menoleh, lalu mengangguk pelan.

“Ya sudah. Tunggu di sini sebentar.”

“Kau mau kemana?” cegah Chanmi saat melihat Jungkook berdiri.

“Membeli makanana dan minuman. Aku juga lapar,” sahut Jungkook.

“Tapi, kau kan…” Chanmi tidak meneruskan ucapannya karena Jungkook lebih dulu berlari meninggalkannya.

Sembari menunggu, Chanmi membebaskan matanya memandang bangunan-bangunan cantik di depannya. Sesekali mengalihkan pandangan ke arah rombongan turis yang melintas di sekitarnya. Huh, tempat ini benar-benar padat wisatawan.

“Hei!”

Gadis itu menoleh ketika suara Jungkook mengetuk gendang telinganya. Mendapati pemuda berambut merah marun itu duduk di tempatnya semula sambil membawa 2 buah kantung plastik, yang satu berisi 2 botol air dan yang satu lagi… entah berisi apa.

“Ah, kau berhasil mendapatkan makanan dan minuman, hm. Syukurlah. Tadi aku sempat khawatir,” ujar Chanmi.

Jungkook menatap gadis itu, mengernyitkan dahinya. “Khawatir kenapa?”

“Kau kan tidak bisa bahasa inggris… hehe.”

Untuk sesaat Jungkook merasa terpukul dengan kenyataan bahwa… ya, dia memang tidak menguasai bahasa internasional yang satu itu. “Meskipun aku tidak bisa bahasa inggris, tapi aku bisa bahasa Tarzan. Semua orang di dunia tahu bahasa itu!” ujar Jungkook, seketika membuat Chanmi tertawa.

“Oh, ya, ini untukmu,” kata Jungkook, menyodorkan sebotol air minum dan sebuah kotak kecil yang di dalamnya terdapat 3 buah kue berbentuk mangkuk berwarna kuning keemasan.

“Ini apa?” tanya Chanmi, memperlihatkan isi kotak pada Jungkook.

Portuguesse Egg Tart. Kata orang sekitar yang aku temui tadi, ini adalah kue khas Macau. Dia bilang kue ini sangat enak. Makanya, aku penasaran dan membelinya… hehe,” jawab pemuda berambut merah marun itu polos.

“Menjelaskan semua itu padamu dengan bahasa Tarzan, hah?” tanya Chanmi, sedikit dengan nada meledek.

“Kurang lebih seperti itu,” sahut Jungkook agak gondok. “Tapi, kelihatannya… kue ini memang enak,” tambahnya, kemudian… menggigir pinggiran Portuguesse egg tart pertamanya dan…

“Eumm~ ini enak, Jungkook-ah~” seru Chanmi lebih dulu. “Aku menyukainya~”

Pemuda berambut merah itu terkekeh sembari memandang Chanmi jahil. “Ya, aku bisa melihat kau sangat menyukai kue itu. Isi kuenya sampai mengotori ujung bibirmu.”

“Ha? Benarkah?” Chanmi terkejut sendiri, lantas menyentuh ujung bibirnya. “Ah, iya,” ucapnya polos.

“Mau tanding makan egg tart denganku, hm?” tantang Jungkook. “Yang duluan menghabiskan 3 egg tart-nya, dia yang menang.”

“Lalu, apa hadiah yang aku dapatkan seandainya aku menang?” tanya Chanmi.

“Kau boleh memakan ini,” sahut Jungkook sambil menunjukkan satu kotak egg tart yang berada di dalam kantung plastik. Tadinya, ia ingin menyimpan kue itu dan memakannya begitu tiba di hotel, tapi… menjadikan kue itu sebagai imbalan lomba ini… hmm, sepertinya menarik.

Melihat imbalannya, sekotak egg tart yang lezat itu, Chanmi langsung mengangguk. “Baiklah! Aku terima tantanganmu, Jeon Jungkook!” kata Chanmi, tanpa aba-baba langsung menjejalkan kue mungil itu ke dalam mulutnya, mengunyahnya secepat yang ia bisa. Melihat itu, Jungkook tertawa, lantas sepersekian detik kemudian mengejar ketertinggalannya.

Yes! Aku menang!” seru Chanmi setelah menelan potongan egg tart terakhirnya. Menunjukkan wajah sombong ke arah Jungkook yang berjuang mengunyah egg tart terakhir yang memenuhi mulutnya, membuat pipinya terlihat tembam.

“Khau churangh, Chammi-ya~” gumam Jungkook dengan mulut penuh egg tart, lalu menelan kunyahan yang sepertinya terasa pahit.

Tidak peduli ia curang, Chanmi menjulurkan lidahnya ke arah Jungkook, lantas tangan kanannya tanpa izin mengambil sekotak egg tart yang menjadi hadiah. “Yee~ ini milikku~ Terima kasih, Jungkook-ah. Aku makan lagi, ya~”

Jungkook terkekeh pelan melihat Chanmi yang terlihat seperti seorang gadis kecil yang baru saja diberi makanan kesukaannya. Manis. Apalagi dia terlihat lahap memakan kue mungil berwarna kuning keemasan itu. Lucu.

Buru-buru Jungkook mengarahkan lensa kameranya ke arah gadis itu. Meng-capture gambar berkali-kali dari sisi yang sama. Sesekali terkekeh ketika melihat hasil capture-nya yang menunjukkan mimik derp seorang Min Chanmi.

Well, meskipun tidak memenangkan pertandingan Portuguesse egg tart tadi, tapi… melihat Chanmi yang menggemaskan seperti ini, kekalahan barusan bukan apa-apa. Malah…, yang ia dapat sekarang jauh lebih baik dibanding dengan sekotak egg tart yang bisa ia dapat seandainya ia yang menang.

Sungguh bodoh, jika Jungkook harus menukar 3 Portuguesse egg tart itu dengan mimik wajah bahagia Chanmi. Ya, dan sepertinya… kau tahu siapa yang sesungguhnya menang di sini.

“Ddrrtt… ddrrtt…”

Getaran sebuah benda yang menggelitik paha Jungkook membuat pemuda itu menghentikan kegiatannya, lantas merogoh saku celananya. Lampu layar ponselnya berkedap-kedip genit sambil memperlihatkan tulisan ‘Taehyung’s calling’.

“Halo?” sahut Jungkook.

Ya! Kau dan Chanmi berada dimana sekarang? Aku dan Shina sudah berada di depan tempat kita berjanji untuk bertemu.”

“Ah, begitu. Kami ke sana sebentar lagi.”

“Memangnya kau sedang apa dengan Chanmi?”

Jungkook melirik Chanmi yang masih asik dengan egg tart-nya, tersenyum. “Sudahlah! Kau tidak perlu tahu. Tunggu saja kami di sana. Oke?”

“Ya, ya. Bersenang-senanglah, Jungkook~” sahut pemuda berambut light caramel itu, lalu memutuskan panggilannya.

Jungkook memasukkan ponselnya ke dalam sakunya dan kembali melihat ke arah Chanmi. Hah, hari ini dia benar-benar menang banyak. Sepuasnya melihat lengkungan manis itu tersemat di wajah gadis yang disukainya.

Well, Jungkook sangat bersenang-senang hari ini.

@@@@@

Waktu telah menunjuk pukul 9 malam ketika Taehyung baru saja selesai mandi. Keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang dibalut kaos oblong putih dengan bawahan handuk biru sembari mengeringkan rambut light caramel-nya dengan selembar handuk kecil. Matanya lantas mengarah kepada seseorang berbaju merah yang sejak tadi berbaring di atas tempat tidur. Asik memandang foto melalui kameranya. Bahkan beberapa kali orang berbaju merah itu tersenyum sendiri.

Ya! Sebaiknya kau pergi mandi, Jungkook. Sudah hampir setengah jam kau melihat-lihat foto Chanmi di situ.”

Pemuda berambut light caramel itu sedikit menggeser posisi kamera dari depan wajahnya untuk memandang Taehyung. “Siapa yang melihat foto-foto Chanmi,” sewotnya. “Aku hanya melihat foto-foto yang kuambil saat jalan-jalan tadi.”

“Ya, termasuk foto Chanmi, kan!?” balas Taehyung enteng setelah ia duduk di tepi tempat tidurnya, menghadap ke arah Jungkook.

Samar-samar bibir Jungkook melengkung. Memang benar apa yang diucapkan Taehyung, tapi… ia tidak mau mengakui itu di depan sahabatnya. Taehyung bisa semakin gencar meledeknya seandainya ia mengakui itu.

“Lalu, kapan, hm?”

Ah, tidak lagi.

“Apanya yang kapan?” tanya Jungkook pura-pura tidak mengerti.

Taehyung menghela napas. “Tentu saja mengungkapkan perasaanmu pada Chanmi. Apa kau… berpikir untuk memendam perasaanmu itu, hm?”

Pemuda berambut merah marun itu menggidikkan bahunya, lalu merebahkan tubuhnya memandang langit-langit kamar. “Ya…, aku ingin Chanmi tahu perasaanku, tapi…”

“Tapi apa?”

“Entahlah, Taehyung. Lagi pula, seandainya… kami pacaran, apa aku harus menyembunyikan itu dari Yoongi Hyung dan Junmi Noona atau…”

Pemuda berambut light caramel itu melembar handuk yang ia gunakan untuk menyeka rambutnya ke arah Jungkook, mendarat tepat di wajah pemilik rambut merah marun itu. “Jangan memikirkan hal itu dulu. Kau saja belum mengungkapkan perasaanmu pada Chanmi, bagaimana bisa kau berpikir sampai ke situ, hah?”

Ya! Aku kan hanya berandai-andai, Kim Taehyung!” sahut Jungkook setelah menyingkirkan handuk lembab itu dari wajahnya.

“Kusarankan padamu, sebaiknya kau mengungkapkan perasaanmu sebelum tahun ajaran baru dimulai.”

Mendengar itu, Jungkook kembali menegakkan tubuhnya, mengambil posisi duduk. “Memangnya kenapa?”

“Kata Shina, semalam Chanmi mendapat telepon dari Sungjae Sunbae.”

“Sungjae Sunbae? Ah, senior yang sekelas dengan Hara Sunbae dan Jimin Sunbae, kan?”

Taehyung mengangguk mantap.

“Memangnya kenapa kalau dia menelepon Chanmi?” Jungkook bingung.

Pemuda berambut light caramel itu memutar kedua bola matanya jengah. “Kau ini benar-benar tidak berpengalaman tentang hal seperti ini, ya!? Bayangkan saja, seseorang menelpon gadis itu saat gadis itu berada di luar negeri. Kau tahu kan, melakukan panggilan telepon beda Negara itu mahalnya seperti apa?”

“Ya,” sahut Jungkook datar. “Lalu?” tanyanya polos.

Taehyung menepuk dahinya. Sahabatnya yang satu ini benar-benar payah untuk hal seperti ini. “Masa kau tidak mengerti? Seorang laki-laki rela menghabiskan sekian banyak pulsa untuk menelepon seorang perempuan, menurutmu, itu tanda apa, hah?”

“Ya, mungkin saja ada urusan penting,” jawab Jungkook datar, membuat Taehyung seketika ingin mengiris pergelangan tangannya. Aish! Sahabatnya ini benar-benar tidak berpengalaman.

“SUNGJAE SUNBAE JUGA MENYUKAI CHANMI, DASAR BODOH!!!” teriak Taehyung sambil melempar Jungkook dengan guling di belakangnya.

Mimik wajah pemuda berambut merah marun itu berubah datar, mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. “KENAPA TIDAK BILANG DARI TADI, HAH!?” balasnya, terkejut. “Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau… Sungjae Sunbae mendahuluiku? Bagaimana ini Taehyung?” paniknya.

Pemuda berambut light caramel itu memutar kedua bola matanya jengah. “Aku harus berapa kali mengatakan padamu kalau kau harus segera mengutarakan perasaanmu pada Chanmi kalau kau tidak mau kedahuluan orang lain!”

“Tapi, bagaimana kalau Chanmi…”

“Apa?” potong Taehyung kesal. “Bagaimana kalau Chanmi tidak menyukaimu? Atau, bagaimana kalau ternyata Chanmi menyukai Sungjae Sunbae? Itu yang mau kau tanyakan padaku?” tebaknya. “Itu urusan belakang! Yang penting, Chanmi harus tahu bahwa kau menyukainya dan yang paling penting, kau juga akan merasa lega setelah kau mengungkapkan perasaanmu.”

Jungkook mendengus. “Jadi, harus mengutarakan pada Chanmi, hm?”

“Tentu saja. Kecuali kalau kau mau melihat Chanmi bersama Sungjae Sunbae, silakan saja sembunyikan perasaanmu selama-lamanya,” sahut Taehyung sedikit sinis.

“Begitu?”

“Tentu saja,” ujar pemuda berambut light caramel itu. “Sudah, ya. Aku lelah, mau tidur. Aku harus punya tenaga penuh untuk mengelilingi The Venetian besok.”

The… apa?” potong Jungkook.

The Venetian. Tempat wisata terakhir yang kita kunjungi sebelum kembali ke Seoul,” sahut Taehyung. “Sudah ya. Aku mau tidur. Selamat malam~” Taehyung berbaring dengan posisi membelakangi Jungkook setelah menutupi separuh tubuhnya dengan selimut.

Jungkook yang masih duduk di tepi tempat tidurnya pun terdiam. Ucapan-ucapan Taehyung beberapa saat lalu masih terngiang-ngiang di kepalanya. Sungjae Sunbae… menyukai Chanmi.

Apa… memang harus mengungkapkan perasaanku secepatnya?

Tapi…

Bagaimana kalau…

“Itu urusan belakang! Yang penting, Chanmi harus tahu bahwa kau menyukainya dan yang paling penting, kau juga akan merasa lega setelah kau mengungkapkan perasaanmu.”

Pemuda berambut merah marun itu menghela napas. Kalau ternyata Chanmi tidak membalas perasaannya, paling tidak… Chanmi tahu bahwa Jungkook menyukainya. Ya, setidaknya… Chanmi berhak tahu kalau… ada seseorang yang mencintainya.

@@@@@

“Apa yang dilakukan Jungkook? Kenapa dia lama sekali?” tanya Chanmi kepada Shina dan Taehyung saat ketiganya berada di tempat pemberhentian shuttle bus yang akan membawa mereka ke The Venetian Resort and Hotel.

Taehyung dan Shina menggidikkan bahu. Mereka juga tidak tahu apa yang dilakukan Jungkook.

Sesaat setelah keluar dari hotel, Jungkook meminta izin teman-temannya untuk pergi ke suatu tempat. Entah kemana, dia tidak mau mengatakannya pada Taehyung, terlebih kepada Shina dan Chanmi. Hanya meminta ketiga temannya itu menunggu di tempat pemberhentian shuttle bus.

“Taehyung-ah, sebaiknya telepon Jungkook. Sebentar lagi bis ini akan berangkat,” ujar Shina.

“Ya. Sebentar.” Taehyung buru-buru merogoh saku varsity birunya, mengeluarkan ponsel, menekan serentetan nomor yang telah ia hapal. Sesaat kemudian, ia merapatkan ponsel itu ke telinga kirinya dan…

“Halo?” Terdengar suara Jungkook di seberang.

Ya! Kau dimana, hah? Cepatlah ke sini! Sebentar lagi bisnya akan berangkat.”

“Aku sedang dalam perjalanan ke sana.”

“Baiklah. Kau harus tiba di sini sebelum bisnya berangkat!”

“Oke.”

Taehyung memutuskan panggilannya.

“Bagaimana? Apa katanya?” tanya Chanmi antusias.

“Dia sedang dalam perjalanan ke sini,” jawab Taehyung setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku varsity-nya. “Sebaiknya kita masuk ke dalam bis sekarang. Nanti kita tidak kebagian tempat duduk,” ujar Taehyung.

Shina dan Chanmi mengikuti Taehyung masuk ke dalam bis berwarna biru bertuliskan The Venetian Resort and Hotel yang terparkir tidak jauh dari mereka. Memilih duduk di kursi panjang yang terletak di bagian belakang sembari menunggu Jungkook. Tapi…

Ya! Ya! Sepertinya bis ini akan berangkat!” seru Shina panik ketika melihat supir bis yang tadinya berada di luar, masuk ke dalam bis dan duduk di tempatnya.

“Mustahil! Jungkook bisa tertinggal!” tambah Chanmi.

“Astaga! Mana anak itu?” Taehyung pun mulai panik, melihat ke luar jendela, mengecek apakah Jungkook sudah terlihat atau tidak.

Bis berwarna biru itu perlahan mulai bergerak mundur, hendak keluar dari area parkir. Mampus! Jungkook benar-benar bisa tertinggal. Namun, beberapa saat kemudian, Taehyung bisa melihat sosok Jungkook berlari ke arah bis yang sebentar lagi melaju di atas badan jalan.

STOP! STOP! STOP!” Taehyung berteriak. Semua penumpang menoleh ke arahnya, termasuk supir bis yang melihat melalui spion besar di tengah. Bis… berhenti bergerak.

Why did you shout out?” tanya supir bis yang masih duduk di balik kemudi.

My friend. Wait. He is out there!” jawab Taehyung dengan broken English-nya.

Supir bis itu pun membuka pintu, lantas Jungkook masuk ke dalam bis dengan napas yang tersengal. Pemuda berambut merah marun itu pun menghampiri teman-temannya di bangku belakang, berkali-kali mengucapkan I’m sorry sepanjang menyusuri lorong di antara bangku-bangku bis. Merasa tidak enak dengan penumpang lainnya.

“Kau dari mana saja? Kau hampir ketinggalan!” gerutu Taehyung begitu Jungkook duduk di dalam bis yang mulai melaju.

Pemuda itu menggeleng sambil mengatur napasnya yang tersengal. “Ada… hh… urusan penting,” jawabnya.

“Urusan penting apa?” tanya Chanmi.

Jungkook menyengir. “Tidak. Bukan apa-apa. Tidak usah dipikirkan,” sahutnya.

Taehyung, Chanmi dan Shina tidak bertanya lagi. Meski penasaran, namun… keindahan bangunan-bangunan yang mereka lewati sepanjang perjalanan menuju membuat perhatian mereka teralihkan. Tidak lama kemudian, bis berwarna biru itu pun memasuki halaman sebuah bangunan yang sangat besar. Nampak indah dan megah dari luar.

Yap. Mereka akhirnya tiba di The Venetian Resort and Hotel.

“Woaah~”

“Ini indah sekali. Menakjubkan.”

“Kita benar-benar seperti berada di Venesia.”

Mulut Taehyung, Shina dan Chanmi tidak berhenti melontarkan decak kagum ketika mereka menjejakkan kaki di bagian dalam The Venetian Resort and Hotel. Lobby-nya terlihat indah dengan langit-langit yang dihias sedemikian rupa yang disangga dengan tiang-tiang yang terlihat kokoh. Lantainya pun terlihat mengkilap. Sementara Jungkook mengagumi keindahan arsiktektur bangunan itu melihat jepretan foto berkali-kali.

Kaki-kaki mereka terus melangkah menyusuri setiap area di dalam resort itu hingga… mereka sampai di area yang membuat wisatawan mengunjungi tempat ini. Di lantai 3, toko-toko pakaian dan aksesoris branded berjejer di sepanjang jalan. Sebuah kompleks pertokoan yang menyerupai suasana asli di Venesia. Namun, bagian terbaik adalah… Grand Canal, sebuah kanal buatan yang membelah kompleks pertokoan.

Keempatnya mendekat pada pagar pembatas kanal, memperhatikan wisatawan yang menikmati perjalanan menyusuri kanal dengan menaiki gondola. Terlihat semakin menyenangkan ketika sang gondolier—pengemudi gondola—menyanyikan lagu berbahasa italia, membuat suasananya benar-benar seperti di Venesia.

“Ah, aku mau coba menaiki gondola. Sepertinya menyenangkan, iya, kan, Chanmi?” kata Shina dengan kedua mata yang tidak lepas memandang sebuah gondola yang menjauh dari tempat mereka berdiri.

“Ya. Tapi, bukankah naik gondola itu mahal, hm? Memangnya uangmu masih cukup?” balas Chanmi.

Shina hanya menyengir lebar. Sayang sekali.

“Ya! Sebaiknya kita ke sana. Sepertinya menarik!” Jungkook menunjuk sesuatu di kejauhan. Terlihat banyak orang-orang yang berkerumun di sana.

Mereka lantas mengayunkan langkah menuju tempat yang ditunjuk Jungkook. Sebuah street perform dimana dua orang sedang melakukan beberapa atraksi. Jungkook dan teman-temannya masuk ke dalam kerumunan, menyaksikan pertunjukan lebih dekat.

“Tangan mereka lincah sekali~” gumam Chanmi.

“Iya. Coba lihat itu. Mereka santai sekali melakukannya~” sahut Shina.

“Ah, kalian berdua kampungan. Yang seperti itu, aku juga bisa~” celetuk Taehyung yang berdiri di sebelah Shina.

Kedua gadis itu langsung menoleh ke arah Taehyung, menatapnya dengan tatapan are-you-just-kidding-or-something? Sementara, Jungkook hanya terkekeh. Yang benar saja? Tidak mungkin seorang Kim Taehyung bisa melakukan hal seperti itu.

Shina dan Chanmi masih asik menonton sambil sesekali berkomentar atau sekedar berdecak kagum. Taehyung pun masih menonton, sesekali melirik sekitar. Dan, Jungkook masih asik dengan kameranya, memotret banyak hal termasuk… ya, kau tahu siapa.

Ya! Lihat itu, Shina. Kelihatannya pertunjukan yang ini lebih sulit!” ujar Chanmi. Menyadari Shina tidak merespon, gadis itu menoleh ke arah Shina, mendapati temannya itu terlihat celingak-celinguk mencari sesuatu. “Ada apa, Shina?” tanya Chanmi kemudian.

Shina menoleh dan menjawab, “Taehyung dan Jungkook tidak ada. Mereka masih di sini tadi.”

“Mungkin mereka jalan-jalan di sekitar sini,” ujar Chanmi, berusaha menenangkan.

“Ya, mungkin saja,” sahut gadis manis itu. Ia lantas merogoh saku skinny jeans-nya, mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi Taehyung.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.”

Tapi, suara operator yang terdengar.

“Aish! Kenapa ponselnya tidak aktif?” gerutu Shina terlihat sedikit cemas. Gadis itu lantas mencoba menghubungi Jungkook, tapi… yang terdengar pun sama, suara operator. “Mereka itu pergi kemana? Kenapa tidak bilang-bilang?” Shina terlihat semakin panik.

“Tenanglah, Shina. Mereka berdua bukan anak kecil lagi,” ujar Chanmi menenangkan.

“Iya, tapi kan—ah, kau tunggu di sini. Aku akan mencari mereka.”

“Ya! Kalau biar aku bantu mencari mereka juga!” kata Chanmi.

Shina menggeleng pelan. “Kau tetap di sini, siapa tahu mereka kembali. Kalau mereka kembali, cepat hubungi aku, ya!?”

Chanmi menghela napas pelan, lalu mengangguk paham. “Baiklah~”

Shina pun beranjak keluar dari kerumunan, sementara Chanmi masih berdiri di tempatnya. Menggidikkan bahu, gadis itu kembali menyaksikan pertunjukan di depannya bersama pengunjung di sekitarnya. Sekitar beberapa menit kemudian, ia merasakan sesuatu di dalam tasnya bergetar.

“Jungkook?” gumam Chanmi setelah melihat ponsel yang baru saja ia keluarkan dari tasnya. “Ya, halo?” jawabnya seketika.

“Chanmi-ya?”

“Ya. Kau dimana sekarang? Kau bersama Taehyung, kan!?”

“Ya.”

“Shina sedang pergi mencari kalian. Sebaiknya kalian segera kembali ke tempat yang tadi.”

“Aku sedang bersama Shina juga sekarang.”

“Lalu, kalian dimana? Biar aku susul kalian ke sana.”

“Temui kami di dekat tempat kita melihat gondola tadi.”

Chanmi mengangguk. “Baiklah. Aku segera ke sana.”

Gadis itu bergegas menuju ke tempat yang dimaksud Jungkook. Namun, setibanya di sana… dia sama sekali tidak melihat Jungkook, Shina atau pun Taehyung. Padahal, gadis itu yakin bahwa ini adalah tempat mereka melihat gondola tadi. Ish! Dimana mereka?

Tepat di saat itu, ponsel Chanmi bergetar lagi. Jungkook.

“Kau dimana, hm? Aku sudah tiba di tempat kita melihat gondola tadi.”

“Aku di suatu tempat.”

Chanmi mendengus pelan. “Iya, tapi dimana?”

“Kau harus menaiki gondola kalau ingin tiba di tempat kami. Ada satu gondola yang sedang menepi di dekatmu, bukan?”

“Apa?” Chanmi mengernyit. “Yang benar saja? Uangku tidak cukup untuk me—”

Belum selesai Chanmi berbicara, Jungkook memotong ucapannya. “Tidak usah mengkawatirkan itu. Kau naik saja.”

“Sebenarnya kalian ada dimana?”

“Sudahlah. Naik saja ke gondolanya. Gondola itu akan membawamu ke tempat kami.”

“Kalian bertiga… tidak sedang berencana untuk membuangku di kanal buatan ini, kan?”

Terdengar suara kekehan Jungkook di seberang. “Tidak. Tenang saja. Sebaiknya kau naik sekarang, Chanmi-ya.”

“Iya, iya. Aku akan naik. Kalian tunggu aku, oke?”

“Pasti.”

Chanmi pun mengayunkan langkah mendekati seorang gondolier—pengemudi gondola. Berbicara dalam bahasa inggris, mengatakan bahwa ia diminta oleh temannya untuk menaiki gondola ini.

Ah, your friend is Jungkook, right? I’ve been waiting for you,” kata gondolier itu. “Please, this way,” lanjutnya, mempersilakan Chanmi untuk naik ke gondola. Sesaat kemudian, sang gondolier pun mulai mendayung gondolanya menyusuri kanal.

Chanmi duduk manis di sana, di atas gondola, seorang diri. Menikmati perjalanan, terlebih sambil mendengarkan nyanyian lagu berbahasa italia dari sang gondolier. Pemandangan toko-toko-toko yang berjejer di sisi kiri dan kanan kanal terlihat lebih indah.

Dan, untuk ketiga kalinya, ponsel Chanmi bergetar. Untuk ketiga kalinya pula, nama itu tertera di layar ponselnya.

“Ya, Jungkook?”

“Bagaimana? Kau sudah naik gondolanya?”

“Ya. Terima kasih sudah membayarkan sewa gondola ini, Jungkook-ah.”

“Ya. Sama-sama,” sahutnya di suatu tempat. Suara Jungkook tidak terdengar beberapa detik. Namun, tepat di saat Chanmi membuka mulut, hendak menegur, Jungkook tiba-tiba berkata, “Oh, ya, Chanmi. Sebenarnya… ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”

“Kau mau mengatakan apa?”

“Tolong menoleh ke sisi kirimu,” pinta Jungkook.

“Sisi kiri?” gumam Chanmi, lantas menoleh ke sisi kirinya. Ia bisa melihat beberapa orang berjejer di sana dan… tidak lama kemudian, orang-orang tersebut mengangkat masing-masing selembar kertas berwarna-warni seiring Chanmi melintas di hadapan mereka. Di permukaan masing-masing kertas bahkan tertulis satu kata yang kalau di sambungkan dengan kata-kata selanjutnya… akan membentuk sebuah kalimat dalam bahasa Inggris.

CHANMI, I LOVE YOU. WOULD YOU BE MINE?

Chanmi menutup mulutnya tidak percaya. Bulir-bulir air matanya bahkan terlihat di kedua pelupuk matanya. Tersentuh. Barusan… dia tidak salah membaca kalimat itu, kan? Apa lagi, orang-orang yang berdiri di tepi kanal mulai bertepuk tangan setelah menyadari apa yang baru saja. Someone already confess his love to the girl who sit on gondola.

“Chanmi-ya?” panggil Jungkook.

Saking terkejutnya, Chanmi lupa kalau… Jungkook masih tersambung dengannya.

“Ju-jungkook-ah, kau…”

“I-Iya, Chanmi. Maafkan aku, aku tidak berani mengatakannya secara langsung. Karena itu…, aku mengungkapkannya dengan cara yang seperti ini,” kata Jungkook. “Aku… sudah lama merasakan itu, Chanmi. Tapi…, aku… baru berani memberitahumu sekarang.”

Chanmi tidak tahu harus merespon seperti apa.

“Sebentar lagi kau menepi. Aku sudah bisa melihatmu,” ujar Jungkook kemudian. Sontak, Chanmi memandang ke arah depan dan… ya, di sana, di dek gondola, ia bisa melihat Jungkook berdiri. Bahkan Shina dan Taehyung pun berdiri di dekatnya.

Gondola pun menepi dan Chanmi telah berdiri berhadapan dengan Jungkook. Gadis itu menundukkan wajahnya, tidka berani melihat wajah Jungkook setelah apa yang baru saja dialaminya. Jungkook pun terlihat sama salah tingkahnya.

“Ja-jadi…, Chanmi-ya, a-apa jawabanmu?” tanya Jungkook terlihat malu-malu sembari menunjukkan sesuatu di telapak tangan kanan dan kirinya. Ada masing-masing sebuah Portuguese egg tart di telapak tangan pemuda berambut merah marun itu. Hanya saja… ada sesuatu yang berbeda. Ada tulisan ‘YES’ di bungkusan egg tart di sebelah kanan, sementara yang di sebelah kiri terdapat tulisan ‘NO’. “Kalau kau bersedia, ambil egg tart yang kanan. Kalau… menolak, ambil egg tart yang kiri,” jelasnya.

Pelan-pelan Chanmi memberanikan dirinya melihat wajah Jungkook. Dari semua yang sudah terjadi hari ini, sepertinya pemuda itu… benar-benar menyukainya.

“Ambil yang sebelah kanan, Chanmi-ya. Lebih enak,” celetuk Taehyung di belakang, sontak membuat Shina meliriknya sekilas. Sesekali gadis itu memotret dengan kamera yang dititipkan Jungkook padanya.

“Kau… kau tidak perlu mengkhawatirkan rasa egg tart-nya berbeda, Chanmi. Ini dibeli di tempat yang sama. Jadi…, kau… tinggal pilih saja,” ujar Jungkook kikuk.

Pemuda berambut merah marun itu menggigit bibir bagian bawahnya, gugup, ketika melihat Chanmi menggerakkan tangan kanannya. Berusaha mengatur napasnya agar tetap terlihat tenang, meski dalam hati merasa was-was… kalau Chanmi mengambil egg tart yang berada di tangan kirinya.

“Yang di sebelah kiri… tidak beracun, kan?” tanya Chanmi. Mendengar itu, detak jantung Jungkook yang tadinya cepat, malah semakin cepat. Ah, kenapa Chanmi menanyakan egg tart yang di sebelah kiri? Apa mungkin… dia ingin… mengambil egg tart yang itu?

“Ti-tidak,” jawab Jungkook pelan sambil menundukkan sedikit kepalanya.

“Kalau begitu…,” Chanmi membuat jeda, Jungkook menahan napas, “aku… ambil yang ini.”

Dan egg tart di tangan kanan Jungkook itu pun berpindah ke tangan Chanmi.

Pemuda berambut merah marun itu menghela napas lega seiring dengan sebuah lengkung lebar yang manis menghiasi wajah tampannya. Taehyung yang berada di belakang mereka pun mulai bertepuk tangan heboh, sementara Shina hanya tersenyum, masih sesekali memotret. Bukankah… kejadian ini perlu diabadikan, hm?

“Aku… boleh makan egg tart ini sekarang?” tanya Chanmi, menatap Jungkook, malu-malu.

Jungkook mengangguk. “Tentu saja,” sahutnya.

“Jadi…, mulai sekarang kita akan sering double date, iya, kan?” Taehyung merangkul bahu Jungkook, memandang sahabatnya dan Chanmi bergantian.

“Tidak!” sahut Jungkook dan Chanmi bersamaan.

“Ayo, Chanmi, kita pergi saja dari sini.” Jungkook menarik tangan kanan Chanmi, beranjak meninggalkan dek gondola. Bahkan, Shina pun ikut meninggalkan pemuda berambut light caramel itu sendirian.

“YA! KALIAN BERTIGA~~!!!”

@@@@@

“Apa-apaan kau!? Pulang dari Macau hanya membawa gantungan kunci. Apa tidak ada ole-ole yang lain?” tanya Yoongi.

Jungkook baru saja tiba di Seoul beberapa jam yang lalu. Setelah beristirahat sejenak dan makan malam, ia memberikan ole-ole yang dibawanya dari Macau. Tapi kelihatannya, sang penerima ole-ole kurang begitu suka.

“Ada egg tart di kulkas,” jawab Jungkook, duduk di sofa ruang televisi bersama Yoongi. “Oh, ya, Junmi Noona… masih marah, Hyung?”

“Tentu saja. Kau pikir selama kau di Macau, aku tidur dimana, hah? Di kamarmu!”

“Pantas saja sepreiku bau!” celetuk Jungkook pelan, namun masih terdengar oleh telinga Yoongi.

“Kau bilang apa, Jeon Jungkook?”

Pemuda berambut merah marun itu menggeleng cepat. “Tidak, Hyung. Bukan apa-apa.”

Yoongi menghela napas. “Ya sudah. Besok aku minta ole-ole di Chanmi saja. Kau sungguh payah.”

Refleks, Jungkook terkekeh. Ole-ole dari Chanmi pun sama saja. Cuma gantungan kunci.

“Kenapa kau tertawa, hah? Apa yang lucu?” tegur Yoongi, mendelik ke arah Jungkook.

Lagi, pemuda itu menggeleng cepat. “Tidak, Hyung. Tidak ada yang lucu.”

“Kau… dan Chanmi… dan kedua temanmu itu… tidak melakukan hal yang macam-macam selama di Macau, kan?” tanya Yoongi curiga, semakin menatap Jungkook tajam.

“Tidak. Kami hanya jalan-jalan. Itu saja. Tidak ada yang lain, Hyung~” sahut Jungkook membela diri. Well, Yoongi memang belum tahu satu fakta bahwa… Jungkook dan Chanmi berpacaran sekarang.

Beruntung, di malam sebelum pergi ke The Venetian, Jungkook mendapatkan ide setelah lebih dulu mencari informasi tentang tempat wisata itu. Dan pagi harinya, ia baru bisa menyiapkan potongan-potongan kata yang ia print di atas kertas berwarna-warni di tempat fotokopi yang tidak jauh dari hotel. Itu yang membuatnya nyaris ketinggalan bis. Taehyung bahkan baru mengetahui hal itu di The Venetian, begitu juga dengan Shina.

“Err… Hyung, aku mau ke kamarku dulu.” Buru-buru Jungkook melompat dari sopa, berlari ke dalam kamarnya.

Ya! Nanti malam kita tidur bersama, ya!?”

“CKLEK!”

Jungkook mengunci pintu kamarnya dari dalam, tanda ia menolak permintaan saudara iparnya itu. Huh, yang benar saja? Kalau Yoongi masuk ke dalam kamarnya, bisa-bisa… rencananya untuk backstreet dari Yoongi gagal total.

Di dalam kamar, Jungkook mengeluarkan sebuah amplop cokelat berukuran sedang, juga sebuah album foto. Pemuda berambut merah marun itu duduk di lantai, menumpahkan isi amplop cokelat yang berupa sekian puluh lembaran foto-foto yang ia kutip di Macau. Dengan telaten menempelkan satu per satu foto-foto pada halaman album, termasuk foto-foto Chanmi yang mendominasi. Entah ada berapa puluh foto gadis itu yang ia kutip secara diam-diam.

Dan… setelah semua foto-foto itu tertempel di dalam album, Jungkook mengambil spidol dari laci meja belajarnya. Menuliskan sebaris kalimat di bagian dalam penutup album foto itu.

MACAU, I’M IN LOVE.

-THE END \(^O^)/-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also posted on author’s personal blog (Noeville) & Read Fanfiction / Fanfiction Side

Annyeong~ ^^/

Maaf ya, FF ini baru sempat di-post sekarang. Minggu lalu lagi kurang fit sih, jadi FF-nya belum selesai. Jadi, baru bisa di-posting hari ini. Gimana? Panjang banget, ya? Hehehe… maaf ya kalau kepanjangan. Tadinya ngetik aja, tahu-tahu jadinya sepanjang ini -.\

Oh, ya, ini cerita terakhir dari 30 Days Cupid, ya!? Ini udah bener-bener end!

Btw, terima kasih untuk kalian yang sudah mengikuti FF 30 Days Cupid sampai ke after story-nya. Makasih banget.

Udah, ya. Segini aja. Sampai jumpa di FF aku selanjutnya. Bye ^^/

14 thoughts on “{30 DAYS CUPID-AFTER STORY} MACAU, I’M IN LOVE

  1. Wah, Kookie ke Macau kok ngajak aku sih? Aku kan mau ke The Venetian Macau juga. Payah nih, Jungkok!!! -_-
    Well, adegannya benar-benar so sweet saat di gondola itu. Pingin juga kayak gitu, tapi langsung ke Venesia-nya ajalah, hehe😀
    Sekarang, karena ini udah beres, di tunggu FF MarkZy-nya ya! ^^
    Sekian aja, oke? Sampai jumpa di FF MarkZy, Eonni~

    With Love,

    Siwan Lovely Wife

  2. kyaa~~ ga kepanjangan kok thor.. wkwkw.. Keren!! wah.. jungkook soo sweet… :3 sama sama thor~🙂 di tunggu ff mu yg lain ya~ Fighting!!

  3. Ecieeee
    senangnya akhirnya jungkook punya pacar haha😃😃
    Confess nya jungkook ke chanmi so sweet banggetttt eoonnn!!! AARRGHH😲😲
    dah yang penting jungkooknya bahagia deeehh😉😉
    fanfic lainnya ditunggu ya eoonn fightingg🙋

  4. Waaaaaaa!!!!!ini ff terkeren yg pernah aku baca! Serasa kek liat filem! DAEBAAKKKKKKKKK!!!KEREN BGT! BUAT FILEMNYA YA,,aku produsernya😀 kikiki.Hwaiting oke,buat ff selanjutnya!! ^_^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s