[Chapter 1] Another Cinderella Story

Another Cinderella Story

“This is not Disney’s Cinderella anymore.”

by Shinyoung

Main Cast: Bae Suzy & Lee Junho || Support Cast: Ok Taecyeon, Lee Jieun || Genre: School Life, Drama & Romance || Length: Chapter 1/? || Rating: T || Credit Poster: Jungleelovely at Poster Channel || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2014 by Shinyoung.

Chapter 1 — My Daddy

Prologue

*

Bunga-bunga mulai bermekaran seiringan dengan tersiramnya mereka oleh air. Seorang gadis muda dengan poni yang ia selipkan sebagian ke belakang kuping kanannya tengah menyiram bunga-bunga itu. Senyum khas nya tersungging di bibirnya.

Tangannya menarik pegangan gembor untuk menyiramkan air lagi pada akar bunga-bunga lain. Matahari mulai menyinari kepala gadis itu dan membuat rambutnya berkilauan.

Setelah selesai, ia membawa masuk gembornya kembali ke gudang panti asuhan yang terletak di belakang. Diletakkannya secara hati-hati seakan takut dicuri orang lain. Lalu, ia melangkah keluar dari sana dan mengunci pintu gudang rapat-rapat.

Gadis itu melangkah masuk ke dalam gedung panti asuhan tersebut. Tangannya menyelipkan lagi beberapa helai rambut yang menjuntai ke depan wajahnya. Ketika ia ingin membuka pintu, seseorang menepuk pundaknya.

Ia mengurungkan niatnya untuk membuka gagang pintu kamarnya, lalu membalikkan badannya. Didapatinya seorang biarawati yang tersenyum kecil ke arahnya. Cepat-cepat gadis itu membalas senyuman tersebut.

“Ada apa, Seohyun unnie?” tanyanya pelan.

Biarawati itu lagi-lagi hanya tersenyum. Ia merangkul pundak gadis itu dan membimbingnya untuk mengikuti langkahnya. Gadis itu sedikit mengerutkan keningnya karena biarawati itu tidak menjawab pertanyaannya.

Ketika mereka sampai di ruangan kepala biarawati, biarawati yang bernama Seohyun itu melepaskan rangkulannya. Lalu, ia menoleh ke arah gadis yang lebih pendek 5 cm darinya itu. “Masuklah,” titahnya.

“Masuk?” tanya gadis itu sambil menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jarinya. Ia menatap biarawati itu bingung. “Apa aku punya salah?” tanyanya.

Biarawati itu menggeleng pelan. “Suzy­-ya, kau tidak punya salah apapun. Masuklah. Kepala biarawati akan membicarakan hal ini denganmu, aku akan mengepak barang-barangmu.”

“Ta—Ta—”

Ucapannya terpotong ketika biarawati itu meletakkan jari telunjuknya pada bibir gadis itu. Gadis itu menghela nafas panjang dan mengangguk pelan. Lalu, biarawati itu pergi meninggalkannya.

Gadis itu membalikkan badannya dan menatap pintu ruangan itu dalam-dalam. Ia bahkan tidak berani membukanya. Menurut peraturan, siapapun yang dipanggil ke ruangan kepala biarawati artinya dia punya masalah. Gadis itu mengambil nafas dalam-dalam dan menarik gagang pintu tersebut.

Ia membukanya secara perlahan dan melalui celahnya, ia bisa melihat kepala biarawati yang tersenyum ke arahnya. Gadis itu mendorong pintunya ke dalam dan ia bisa melihat ruangan tersebut. Di dekat jendela terdapat meja kerja kepala biarawati. Di depan meja tersebut, terdapat tiga sofa—dua di kanan-kirinya dan sebuah sofa lebar panjang di bagian tengahnya—yang di batasi dengan meja beralasan kaca di tengah-tengahnya.

“Bae Suzy?”

Gadis itu tersentak. Cepat-cepat, ia kembali pada realita, kemudian ia menundukkan kepalanya pelan, dan menutup pintu. Ia menganggukkan kepalanya ke arah kepala biarawati itu sambil menatapnya takut-takut.

“Ayo, duduk,” ajak kepala biarawati tersebut. Suzy pun mengangguk lagi dan mengambil tempat di sofa yang bersebrangan dengan kepala biarawati tersebut karena sofa yang satu diduduki seorang laki-laki yang tak dikenalnya.

Suzy mengangkat kepalanya pelan untuk menatap laki-laki paruh baya tersebut. Mata laki-laki tersebut menjurus menatap ke dalam Suzy. Dari caranya berpakaian, Suzy bisa menebak bahwa laki-laki tersebut merupakan orang kaya—ia menebak bahwa laki-laki itu merupakan pengusaha terkenal di Korea Selatan.

Gadis itu memainkan jari-jarinya sambil menunggu kepala biarawati untuk berbicara kepadanya. Ia menatap kepala biarawati yang rupanya daritadi hanya memperhatikannya.

“Ada apa Nyonya memanggilku? Apa aku punya salah?” tanya Suzy memecah keheningan. Suzy menatap kepala biarawati dengan hati-hati. Namun, kepala biarawati itu justru menggeleng.

Ia berdeham pelan kemudian ia menunjuk laki-laki paruh baya tersebut dengan tangannya agar terkesan sopan. “Dia ingin menjemputmu, Suzy,” ujarnya pelan. Sampai-sampai Suzy harus membutuhkan pengeras. “Dia adalah ayahmu.”

“Apa? Ayah?”

“Iya,” jawab kepala biarawati itu tegas. Dibalik jawabannya ada rasa prihatin terhadap gadis itu dan juga sekilas sindiran pada Suzy agar bersikap sopan pada kilatan-kilatan matanya. “Aku harap kau percaya padaku, Bae Suzy.”

Suzy terdiam karena dia bingung tidak tahu mau mengatakan apa pada ayahnya. Tangannya mengepal entah ingin meninju ayahnya atau menampar ayahnya atau hanya membiarkan saja perasaan itu meluap dalam dadanya. Perasaan antara bingung, marah, benci, dan juga perasaan rindu. Bahkan, jika bisa bertarung, perasaan rindulah yang memenangkan segalanya.

Dadanya berdegup dengan kencang karena dia marah setelah tahu bahwa orang tuanya lah yang meninggalkannya saat ia kecil di depan panti asuhan. Dia marah karena orang tuanya lah, ia dikucilkan. Ia marah karena ia merasa dinjak-injak oleh teman-temannya.

Selama 17 tahun, dia tinggal di panti asuhan. Tidak ada yang berubah pada dirinya selain menjadi anak buangan. Dia mendekam di panti asuhan yang sama sekali tidak membuatnya senang. Semuanya membuatnya marah. Namun, lagi-lagi, dia tidak bisa berteriak untuk memaki ayahnya karena perasaan rindu lah yang memenangkan segalanya.

Seakan-akan dia lupa akan semua kemarahannya, perlahan air matanya mengalir. Laki-laki paruh baya itu cepat-cepat duduk mendekat ke arah Suzy. Ia ingin menenangkan Suzy, namun Suzy langsung mendorong tangan laki-laki itu agar menjauh dari badannya.

Dia menangis dalam diam. Laki-laki itu menghela nafas panjang dan ia pun menepuk kepala Suzy pelan. Sedangkan itu, kepala biarawati hanya bia menunggu adegan anak-ayah itu.

“Kenapa ayah membuangku?” tanya Suzy di sela-sela tangisannya. “Kenapa?!” pekiknya marah. Laki-laki itu sedikit tersentak namun ia mencoba mengerti alasan gadis itu marah padanya.

“Maafkan aku, Suzy. . .”

“A—Aku. . .” Dia terdiam sejenak kemudian ia menatap laki-laki tersebut dalam. Ada kilatan di matanya. “Apa kau benar kau ayahku? Aku butuh tes DNA. Aku tidak bisa mempercayai orang asing sepertimu.”

Mata sang kepala biarawati langsung melotot ke arah Suzy tidak percaya. Ia menahan kemarahan yang membuncah di dadanya. “Suzy-ya.”

“Tidak apa-apa, Nyonya,” ujar laki-laki tersebut. “Kita bisa tes DNA sekarang dan kemungkinan hasilnya akan datang besok. Kalau kau mau kita bisa pergi sekarang dengan mobilku.”

Suzy menoleh sekilas ke arah laki-laki tersebut dan mengangguk. Kemudian, ia bangkit dari sofanya. “Aku mau ganti baju dulu, setelah itu kita bisa pergi dan tes kebenarannya.”

Laki-laki tersebut hanya mengangguk pelan dan membiarkan Suzy keluar dari ruangan dengan menghentak-hentakkan kakinya. Sepeninggalan Suzy, laki-laki tersebut memijat pelipisnya dan menghela nafas frustasi. “Aku pikir Suzy akan percaya padaku.”

“Abaikan saja dia. Dia memang selalu membutuhkan kepastian,” kata kepala biarawati tersebut. “Lagipula, bukan salahnya untuk meminta hal seperti ini. Dia sering dikucilkan oleh teman-temannya. Dia sering bercerita pada biarawati Seohyun kalau dia diejek bahwa dia anak buangan.”

Laki-laki tersebut mendecak. “Apa kau menyalahkanku sekarang ini?”

“Tentu saja tidak, Tuan Bae.” Kepala biarawati itu tersenyum kecil sambil menggeleng pelan. “Dulu aku memang menyalahkanmu, Tuan. Alasannya mudah, karena anda meninggalkan Suzy di depan sana dengan sepucuk surat bahwa anda ingin menamainya ‘Bae Suzy’. Sekarang, aku tidak menyalahkan siapapun. Aku merasa terhormat karena anda kembali menjemput Suzy.”

Laki-laki tersebut mengangguk mengerti. Lalu, ia membenamkan dirinya di sofa panjang tersebut. “Aku meninggalkannya karena aku punya alasan.”

“Kalau boleh aku tahu, apa itu?”

“Itu semua karena ibu Suzy meninggal saat melahirkannya. Aku takut aku tidak bisa mengurusnya. Karena itulah, aku menaruhnya di depan panti asuhan ini. Aku yakin, dengan begitu Suzy bisa tumbuh menjadi anak yang baik dan terurus.”

Kepala biarawati tersebut tersenyum. “Aku mengerti sekarang kenapa sering ada kiriman uang yang dikhususkan untuk Bae Suzy dari bank. Mereka mengatakan uang tersebut harus digunakan untuk Suzy. Namun, Suzy bilang dia tidak mau. Jadi, kugunakan uang tersebut untuk membelikan baju untuk Suzy dan sisanya masih banyak sekali.”

Ia berhenti sejenka kemudian ia bangkit dari sofanya dan menuju mejanya. Ia menarik laci meja tersebut dan mengambil sebuah amplop cokelat yang berukuran sangat tebal. Ia menyerahkannya kepada laki-laki tersebut. “Ini, uang yang masih tersisa. Masih sangat banyak.”

Laki-laki tersebut menolak dengan mendorong kembali amplop cokelat tersebut ke arah kepala biarawati. “Tidak usah dikembalikan. Gunakan saja uangnya untuk biaya renovasi panti asuhan ini atau anggap saja itu ucapan termakasihku pada panti asuhan ini karena telah mengurus Suzy.”

“Ta—Tapi, Tuan. Ini terlalu banyak. . .”

“Tidak apa-apa. Sungguh.”

Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka dan muncul Suzy disana dengan rambut terikat semuanya. Kemudian, ia menatap laki-laki tersebut dengan mata yang berkilat-kilat akibat marah. “Ayo.”

“Bae Suzy, kita sudah sampai.”

Suzy menarik nafas dalam-dalam dan menahan nafasnya ketika pintu mobil limousine tersebut dibuka. Ia masih menahan nafasnya saat ia turun dari mobil dan melihat betapa besarnya rumah tersebut. Ia bahkan tidak bisa mendeskripsikan betapa besarnya rumah tersebut. Ketika ia mencoba kembali membalikkan badannya ke arah pagar, rupanya pagar tersebut jauh sekali dari rumahnya.

Dengan jalan beraspal yang menghubungkan jalan dari depan rumah sampai pagar. Didepan rumah ada sebuah bundaran kecil yang ditanami pohon daun pendek yang biasanya digunakan untuk membentuk manusia, hewan, atau yang lainnya. Pohon daun tersebut dipotong secara rapi.

Ia harus memberikan acungan jempol bagi arsitek rumah ini karena bentuknya yang terkesan seperti kastil. Bahkan, Suzy tidak bisa menemukan letak garasi rumah ini karena kenyatannya mobil limousine tadi entah hilang kemana. Sampai-sampai, Suzy harus berpikir dua kali tentang parkir basement yang mungkin saja ada.

Untuk memasuki rumahnya, ada dua undakan tangga yang membentuk secara setengah lingkaran dan jumlah anak tangganya tidak terlalu banyak. Di kiri bangunan utama ada sebuah menara yang menjulang tinggi dan rata-rata rumah ini dibangun dengan warna senada yaitu putih dan atapnya yang dicat abu-abu.

“Suzy-ya, selamat datang di rumahmu,” ujar ayahnya sambil membuka pintunya. Kemudian, ia menatap ke dalam ruangan tersebut dengan mulut ternganga. Benar tentang dugaannya bahwa rumah tersebut lebih luas daripada yang ia bayangkan. Dari luar memang tampak besar, namun di dalam jauh lebih luas.

Suzy melepas sepatunya dan ia juga sedikit tersentak dengan jumlah pelayan yang menyambut ayahnya. Jumlahnya mungkin sekitar 10 orang kalau Suzy tidak salah berhitung. Rata-rata pelayan tersebut perempuan, namun ada juga 4 laki-laki yang tampak seperti koki menurut dugaan Suzy.

Ia merentangkan kedua tangannya ke atas sambil duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Sebuah televisi berukuran mungkin sekitar 80 inci—jika Suzy tidak salah menebak—tertempel di dinding.

Ketika ayahnya menghidupkan televisi, ia menarik nafas dalam-dalam dan melonggarkan dasinya yang daritadi mencekik lehernya. Ia menatap anaknya. “Jadi, bagaimana? Kau senang?”

“Aku pikir kau tidak punya pelayan sebanyak ini,” kata Suzy. Ia memutar bola matanya malas. “Aku juga mengira bahwa kau tidak punya rumah seluas dan sebesar ini. Ini tampak seperti ya—um, kau tahu, rumah-rumah impian.”

“Baguslah, aku anggap rumah impian itu sebagai pendapat positifmu,” kata ayahnya sambil tersenyum kecil. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan menekan sebuah angka diatas sana. “Halo.”

Suzy menoleh ke arah televisi dan mengganti-ganti channel. Ia kini bertanya-tanya soal kamarnya. Ia juga bertanya-tanya soal rumah ini, mungkin saja ayahnya punya ruang gym atau sebagainya. Suzy menarik nafas dalam-dalam untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Lagi-lagi, ia mengedarkan pandangannya—sekedar mengecek—pada bagian rumah tersebut. Ia berdecak kagum saat melihat sebuah lampu mewah yang dibuat dari kaca tergantung pada tengah-tengah ruangan tersebut.

Tiba-tiba, seorang gadis dengan rambut yang cukup panjang masuk ke dalam rumah dan tersenyum kecil. Suzy sedikit tersentak saat melihat bahwa wajah perempuan tersebut sangat cantik. Dengan mata yang membentuk seperti senyuman menurut Suzy.

“Nah, Suzy-ya,” panggil ayahnya. “Ini adalah Tiffany. Dia akan menjadi asisten pribadimu. Dia akan membantumu dalam segala hal yang kau butuhkan. Jadi, aku tidak perlu kesulitan jika aku sedang tidak ada di rumah.”

Perempuan tersebut membungkuk rendah ke arah Suzy dan ia menyodorkan tangannya. Cepat-cepat, Suzy bangkit karena merasa tidak enak. Tiffany tertawa kecil. “Aku Tiffany. Tiffany Hwang. Aku 5 tahun lebih tua dan kau bisa memanggilku unnie. Terserah kau.”

“Ah, aku Suzy. Um? Salam kenal?”

Ayahnya langsung tergelak. “Aku pikir ini pengalaman pertamamu, Suzy. Jadi, aku harus ke kamarku dulu untuk berangkat meeting. Aku menyerahkan segalanya pada Tiffany.”

“Terimakasih, Tuan,” ujar Tiffany sambil membungkuk dan ayahnya pergi meninggalkan mereka berdua dalam keheningan. Setelah ayahnya menghilang di lantai dua, Tiffany langsung menoleh ke arah Suzy. “Ayo, Suzy, kita harus ke kamarmu dan nanti kita harus mengepas seragam barumu.”

“Seragam?” Suzy mengerutkan keningnya.

Tiffany mengangguk dan keduanya secara beriringan melangkah meninggalkan ruang tengah. Suzy menduga bahwa keduanya akan menuju kamarnya yang kemungkinan sangat-sangat besar.

“Apa ayahmu belum cerita?” tanya Tiffany. “Mulai besok, kau akan bersekolah di SMA Seungri.”

“Seungri? Aku tidak pernah mendengar sekolah tersebut. Apa itu sekolah privat atau bagaimana?” tanya Suzy. “Kalau sekolah tersebut memang terkenal, artinya aku lah yang memang tidak tahu apa-apa.”

Tiffany tertawa pelan sambil membuka pintu kamar yang dicat berwarna putih tersebut. Suzy sempat terbatuk-batuk ketika ia melihat kamarnya yang ditempeli wallpaper dengan warna merah muda dan bunga-bunga kecil. Sangat menyenangkan menurutnya. Terutama ada sebuah rak buku yang menjulang tinggi. Disana sudah diisi beberapa novelnya yang sempat ia tumpuk di dalam kamar panti asuhannya.

Dia tidak menduga bahwa pelayan ayahnya tersebut sudah menaruh semua barang-barangnya sebelum ia sampai di rumah ini. Mereka pasti sangat bekerja keras. Sebuah tempat tidur berukuran king size yang diapit dengan dua meja kecil tersebut berseprai putih dan hitam.

Ia juga mendapatkan sebuah meja belajar dimana diatas mejanya sudah bertumpukkan buku-buku yang ia duga sebagai buku dari SMA Seungri. Saat Suzy sedang asik mengedarkan pandangannya, Tiffany membuka lemari pakaiannya yang belum sempat Suzy lihat.

Suzy tersentak begitu melihat di dalamnya. Ada berpuluh-puluh dress cantik dan glamour yang bergantung disana. Kaus-kaus lamanya dilipat dan ditumpuk di paling bawah. Ada juga baju-baju barunya. Rok selutut dengan berbagai bentuk dan berbagai warna tergantung disana. Selain itu, ada juga celana jeans lama dan baru yang juga dilipat bertumpuk-tumpuk.

Ia tidak bisa berkata apa-apa ketika Tiffany mengambilkan sebuah kaus berwarna putih tanpa lengan, sebuah jaket jeans berwarna biru dan juga celana pendek berwarna biru.

“Aku harus memakai hal itu?”

Tiffany mengangguk kemudian ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Ia menyodorkannya ke arah Suzy dan tersenyum. “Kau adalah anak dari Empire Group. Kau harus tahu bagaimana caranya berpenampilan dan ini adalah buku-buku dimana kau akan tahu bagaimana caranya berpakaian dengan cocok.”

Suzy membuka buku tersebut dan ia ternganga. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Tiffany dalam-dalam. “Apa aku punya semua baju semacam ini? Memangnya aku punya crop top? Cardigan? Hoodie?”

“Tentu saja kau punya semuanya tapi warnanya beda. Bahkan, kalau memang kau tidak punya satu dari hal tersebut,” Tiffany memetikkan jarinya. “Kau bisa langsung beli dengan cukup menelponku.”

Suzy mengambil nafas dalam-dalam dan menutup buku tersebut. Lalu, ia meletakkannya ke atas meja. Akhirnya, ia pun mengangguk dan segera berganti pakaian di dalam kamar mandinya. Ketika ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian pilihan Tiffany, perempuan tersebut bertepuk tangan kagum.

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. “Kau memang cantik! Sekarang, kau harus tahu bagaimana caranya menata rambutmu dan juga cara merias wajahmu. Tentu saja bukan dengan warna-warna yang terkesan nyonya-nyonya, tapi warna natural.”

Sekali lagi, Suzy mendesah berat seakan-akan dia tidak siap akan semua ini.

Keadaan Cheongdam-dong tampak ramai seperti biasanya. Diisi dengan perempuan-perempuan berjiwa fashion dan juga shopaholic. Berbagai toko-toko pakaian yang berjajar di sepanjang jalan membuat setiap mata terbuka lebar ketika melihatnya karena kebingungan ingin membeli ini dan itu.

Sedangkan itu, mobil limousine milik Suzy—tentu saja milik Suzy semenjak ayahnya memilih untuk menggunakan mobil pribadinya—membelah jalan raya. Banyak mata menatap mobil tersebut, padahal di dalamnya Suzy sudah merutuki dirinya sendiri karena ia menyesal tidak membantah ketika ayahnya memberikan limousine itu untuknya.

“Jadi,” kata Tiffany membuka pembicaraan. “Aku belum sempat menjawab pertanyaanmu. Seungri High School berada tak jauh dari sini dan itu bukanlah sekolah privat tentu saja. Murid-murid disana rata-rata merupakan anak dari pengusaha terkenal dan tentu saja sekolah elit.”

“Aku akan sekolah disana?”

“Iya,” kata Tiffany. “Ayahmu yang memilih untuk sekolah disana. Yah, ayahmu ini punya sahabat yang rupanya pemilik sekolah ini dan kabar gembiranya, anaknya juga sekolah disana dan seumuran denganmu.”

Suzy mendengus pelan. “Apa gembiranya?”

“Nah, kita sudah sampai,” kata Tiffany. “Kita bisa menunggu sebentar untuk mengepas badanmu.”

“Lalu, kenapa baju-baju di lemariku sesuai ukuranku?” tanya Suzy. “Kalau begitu seharusnya seragamnya juga sudah Appa pesan sejak beberapa hari yang lalu jika dia tahu kalau aku akan sekolah disana.”

“Tentu saja,” kata Tiffany. “Ayahmu belum sempat kalau soal seragam itu. Kalau baju-baju tersebut memang sudah ayahmu belikan sejak beberapa minggu yang lalu dan ya—kau tahu kan ayahmu sibuk.”

Pintu mobil pun dibukakan oleh supir pribadi Suzy mulai hari ini yaitu Tuan Jang. Cepat-cepat, Suzy tersenyum dan keluar dari sana. Menurutnya, ia masih tidak terbiasa dengan bungkukan-bungkukan orang-orang itu.

Mereka berdua melangkah masuk ke dalam butik tersebut. Lalu, seorang perempuan muda dengan rambut yang digerai tersebut tersenyum kecil ke arah Tiffany dan juga Suzy. Tiffany pun menyerahkan kartu namanya dan juga sebuah secarik kecil.

“Nona Hwang, anda bisa tunggu disini,” ujar perempuan tersebut sambil menunjuk ke arah sofa lebar yang terletak di dekat meja kasir. “Aku akan mengambilkan seragamnya dan nanti bisa dicoba oleh Nona Suzy.”

Tiffany mengangguk dan ia menarik Suzy untuk duduk di sofa tersebut. Ia menghela nafasnya lega sambil meminum teh yang disediakan oleh butik tersebut. Suzy menatapnya heran. “Apa kita diperbolehkan meminumnya?” tanya Suzy sepelan mungkin.

“Tentu saja!” Tiffany menjawabnya dengan berapi-api. Ia meletakkan cangkirnya, kemudian mencengkram pergelangan tangan gadis itu. “Kita disini datang sebagai pelanggan VIP dan ini semua karena kedudukan ayahmu yang sangat berpengaruh di Korea. Jadi, kau harus bersyukur.”

Suzy hanya mengangguk pelan kemudian ia membenamkan tubuhnya ke sofa tersebut ketika Tiffany melepaskan cengkramannya dan melanjutkan meminum teh-nya. Lama-lama, Suzy merasa bahwa dia tidak haus. Maka itu, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan meminum teh-nya.

Perempuan itu datang kembali dengan dua seragam di tangannya. Yang pertama adalah kemeja berwarna putih yang dipadukan dengan jas berlengan abu-abu dan badan kotak-kotak biru. Ditambah dengan rok pendek yang kira-kira mencapai pahanya berwarna hitam. Sedangkan yang kedua adalah kemeja putih yang dipadukan dengan jas abu-abu berkotak-kotak ditambah dengan sebuah pita merah yang menempel pada kemeja putihnya. Ditambah dengan rok hitam yang sama seperti seragam pertama.

Ada sedikit kekaguman pada seragam tersebut karena warnanya yang berbeda daripada sekolah-sekolah lain. Lambang Seungri High School dijahit di bagian jasnya tepat di depan dadanya. Ia juga menduga-duga bahwa seragam kedua lah yang harus dikancing semua jasnya.

Butuh waktu sebentar untuk mengepaskan dan kebetulan seragam yang diberikan tersebut memang sangat pas, tidak terlalu besar dan tidak terlalu sempit. Setidaknya, seragam tersebut memberikan sedikit kelonggaran pada tubuhnya, jadi dia tidak usah khawatir soal seragam yang terlalu menempel pada tubuhnya—maksudnya, agar tidak membentuk bagian-bagian yang tidak ia inginkan.

Setelah memberikan kartu kredit milik Suzy, mereka berdua pulang dengan seragam yang dimasukkan ke dalam tas kertas. Ketika Tuan Jang ingin mengambil tas belanja tersebut, cepat-cepat Suzy menolak dan tersenyum sambil mengatakan bahwa ia bisa membawanya sendiri.

Lagipula, tidak semua hal harus dikerjakan oleh orang lain menurut Suzy. Disaat ia bisa mengerjakannya, kenapa tidak. Ia tidak mau terlalu merepotkan seseorang yang sudah lebih tua darinya, terutama Tuan Jang tampak berumur sekitar 40 atau sudah mendekati kepala lima.

Ketika mereka sampai di sebuah restoran, jam menunjukkan pukul 4 sore dan Suzy merasa ia benar-benar membutuhkan makanan karena ia belum makan siang dan sekarang seharusnya ia sudah makan malam.

Sesuai peraturan yang diberikan oleh Tiffany, ia harus menjaga tubuhnya. Suzy sempat berpikir untuk apa, tapi akhirnya ia hanya menuruti peraturan yang diberikan Tiffany. Menurut Tiffany, ia harus makan pagi dan juga makan malam pada pukul 5 sore. Tiffany juga melarangnya untuk makan diatas jam 6. Perempuan tersebut menyarankan agar Suzy makan buah-buahan di malam hari atau juga salad.

“Kedengarannya menyenangkan. Aku mau pesan pitbangsu,” kata Suzy sambil mengomentari cerita Tiffany tentang masa kecilnya yang bahagia. Lain dengan Suzy yang harus tinggal di panti asuhan.

Tiffany tersenyum kecil. “Aku pesan steak daging sapi,” katanya ke arah pramusajinya. Pramusaji tersebut mengulang pesanan mereka dan mengatakan bahwa pesanan mereka akan datang dalam 7 menit. Mereka berdua mengangguk mengerti dan pramusaji tersebut pergi. “Aku tahu bahwa kau memang terlahir di panti asuhan,” lanjut Tiffany seolah-olah ia ingin tetap melanjutkan perbincangan tersebut agar suasanya tidak terlalu sepi.

“Ngomong-ngomong, apa kita tidak mengajak Tuan Jang untuk makan?” tanya Suzy akhirnya. Sedaritadi, ia melirik keluar jendela ke arah tempat parkir dimana Tuan Jang di luar mobil. “Aku merasa kita harus mengajak Tuan Jang.”

Tiffany mengambil nafasnya dalam-dalam. “Aku pikir, kau adalah gadis paling baik yang pernah aku temui. Aku tidak berhak mengajak Tuan Jang karena yang menentukan segalanya adalah kau, Bae Suzy.”

“Lebih baik aku mengajaknya,” kata Suzy. Ia bangkit dari kursinya dan melangkah keluar restoran. Di tempat duduknya, Tiffany memperhatikan segalanya. Bagaimana cara Tuan Jang menolak secara halus karena merasa tidak enak dan Suzy yang terus-terusan memaksanya.

Sampai akhirnya, Tiffany terkekeh pelan ketika melihat Suzy menarik laki-laki berumur 48 tahun tersebut keluar dari mobilnya setelah Tuan Jang menekan kunci mobilnya. Tuan Jang pun berkali-kali membungkuk ke arah Suzy, namun Suzy hanya menanggapinya dengan senyuman kecil.

Walaupun memang terkesan memaksa, Tiffany harus mengagumi gadis itu dan menggosokkan tangannya. “Gadis itu benar-benar menyenangkan. Sudah pasti Tuan memilih gadis itu menjadi penerusnya walaupun dia bukan laki-laki,” gumamnya pelan sebelum mereka tiba.

Suzy menarik Tuan Jang bersamanya, kemudian ia duduk. Sedangkan itu, Tuan Jang masih berdiri disana dengan wajah menunduk. Suzy pun tertawa ke arahnya. “Ayolah, Tuan Jang. Duduk saja, disampingku. Aku yang membayarnya!”

“Ta—Tapi, Nona. Aku benar-benar tidak pernah makan dengan majikan sendiri,” katanya pelan. Lagi-lagi, ia mencoba menolak secara halus. “Aku tidak berhak untuk makan bersamamu.”

“Oh, ayolah,” rengek Suzy. Gadis itu menatap tajam Tuan Jang dan mengancamnya dengan tawa khasnya, “kalau begitu, aku akan memecatmu jika kau tidak mau makan denganku.”

Tiffany tertawa kecil. “Sudahlah, Tuan Jang. Duduk saja, toh, Suzy merasa tidak enak karena kau pasti juga belum makan siang. Ayo, kita makan.”

Tuan Jang mengangguk pelan, dengan hati-hati ia duduk disamping Suzy, dan Suzy memanggil seorang pelayan dan ia bertanya pada Tuan Jang tentang pesanan yang ingin dipesannya. Namun, Tuan Jang justru menyerahkan segalanya pada Suzy karena merasa tidak sopan. Suzy pun akhirnya memilihkannya grilled chicken dan Tuan Jang berkali-kali berterimakasih padanya.

“Jangan begitu, Tuan Jang,” kata Suzy sambil tersenyum malu. “Kau memang belum makan siang kan?” tanya Suzy dan disambut dengan gelengan kepala Tuan Jang pelan. “Nah, kalau begitu, aku memang seharusnya sudah membelikanmu makanan. Jangan diganti, ya!”

“Tapi—Nona, aku merasa—.”

“Oh, ayolah, Tuan Jang. Jangan membantah. Aku benar-benar membayarimu makanan. Jangan sungkan,” kata Suzy. Tepat saat itu pesanan mereka datang dan juga milik Tuan Jang.

Tiffany tersenyum tipis ke arah pramusaji tersebut. Setelah makanan sudah siap semua diatas meja, ia segera mengambil garpu-nya dengan tangan kiri dan pisau di tangan kanan. Kemudian, mereka berdua segera makan dan juga Tuan Jang yang ikut makan disampingnya.

Ketika mereka selesai, Suzy melirik ke arah makanan milik Tuan Jang yang belum habis. Suzy mengerutkan keningnya. “Ada apa, Tuan Jang? Kenapa makanannya tidak dihabiskan? Apa tidak enak?”

“Bukan—Bukan, Nona! Aku mau membawa pulang sisanya untuk anakku. Mereka belum pernah makan ayam panggang seenak ini,” kata Tuan Jang sambil tersenyum malu. “Aku boleh membawa pulangnya kan?”

“Astaga, Tuan Jang,” ujar Suzy sambil tertawa kecil. “Habiskan saja! Kita bisa memesan lagi untuk anakmu. Ada berapa anakmu?”

“No—Nona! Tidak usah—Sungguh, tidak usah! Aku—.”

“Tuan Jang,” panggil Tiffany tiba-tiba. “Jangan seperti itu. Suzy benar-benar mau membayarkannya. Anak-anakmu pasti sangat senang,” kata Tiffany lalu ia menoleh ke arah Suzy. “Anaknya ada dua. Yang satu laki-laki dan yang satu lagi perempuan,” jelas Tiffany sambil tersenyum.

Suzy mengangguk dan memanggil seorang pramusaji untuk memesan tiga ayam panggang—satu lagi untuk istri Tuan Jang tentunya. Dalam beberapa menit, pesanan mereka datang. Suzy mengambil pesanan tersebut dan menyerahkannya pada Tuan Jang yang kembali berterima kasih padanya.

Gadis itu mengambil bill-nya dan memberikannya pada kasir beserta kartu kreditnya. Setelah selesai, ia memasukkannya ke dalam dompetnya kemudian ia melangkah kembali ke arah mejanya. Ia mengajak Tiffany dan Tuan Jang untuk segera pulang karena sudah jam 5 sore.

Suara burung-burung bersahutan memekakkan telinganya ketika ia baru ingin menyibakkan selimutnya dan mematikan alarm ponselnya yang daritadi terus menganggu tidur nyenyaknya. Ia mengerang kesal dan mematikan alarm tersebut dengan menggeser layar ponselnya. Lalu, ia melirik ke arah bagian atas ponselnya dan mendapati waktu yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi.

Hari ini, ia harus masuk sekolah barunya yang memasang peraturan untuk datang sebelum jam 8. Tapi, ayahnya mengatakan bahwa ia bisa datang lebih dari jam 8 dengan ayahnya yang akan mengurus data-datanya. Ia merentangkan tangannya ke atas ketika pintu kamarnya diketuk. Ia mendengar suara Tiffany dari luar yang memanggilnya.

“Masuk saja, aku tidak menguncinya,” kata Suzy sambil menmengambil nafas dalam-dalam. Kemudian pintu kamarnya terbuka dan masuklah Tiffany bersama dua orang pelayan yang membawakan sarapannya. Ia menatapnya dengan mata melebar. “Untuk apa dibawa kesini? Aku bisa makan di ruang makan.”

“Astaga,” kata Tiffany sambil menggosok hidungnya. “Seharusnya aku tahu bahwa kau akan berkata seperti itu.” Ia berbalik ke arah dua permbantu tersebut. “Bawa saja kembali, biarkan saja dia makan di ruang makan.”

Kedua pelayan tersebut menganggukkan kepalanya lalu membungkuk sedikit ke arah Suzy. Seperti biasa, Suzy langsung membalas bungkukkan mereka cepat-cepat. Kepergian dua pelayan itu meninggalkan mereka dalam keheningan.

Tiffany menatap Suzy dari atas sampai bawah. Lalu, ia membuka lemari pakaian Suzy dan mengeluarkan seragam pertama yang Suzy duga sebagai seragam utama SMA Seungri. Ia meletakkannya diatas tempat tidur kemudian ia melipat kedua tangannya.

“Sekarang kau mandi, lalu kita bisa bergegas,” kata Tiffany. “Ayahmu akan mengurus data-datanya. Sedangkan, aku akan membantu ayahmu dalam menyelesaikan data-datamu. Setelah itu, saat pulang sekolah nanti, Tuan Jang akan menjemputmu. Jangan sampai kau hilang kemana-mana. Kalau kau sampai hilang, aku bisa pastikan besok ayahmu akan segera memesan bodyguard.”

Mata Suzy langsung membulat. “Apa?!” pekiknya tak percaya. Mulutnya ternganga lebar. “Bodyguard? Segitunya kah ayahku? Tidak mungkin! Astaga, akan kupastikan mereka langsung dipecat segera jika ayahku benar-benar memesan bodyguard untukku.”

“Akan kupastikan juga bahwa ayahmu langsung mencari bodyguard baru. Sebaiknya, kau tidak membuat ayahmu khawatir,” kata Tiffany sambil memetik jarinya. “Dia termasuk orang yang over-protective.”

“Kau tahu darimana?” tanya Suzy. Ia mengangkat alisnya yang satu. “Apa jangan-jangan kau menyukai ayahku?” terka Suzy. “YA! Ayahku memang single, tapi kumohon jangan! Aku tidak butuh ibu baru!”

Tiffany langsung tergelak. “Oh, yaampun, Suzy. Aku bahkan lebih tua 5 tahun darimu. Aku tidak mungkin menyukai ayahmu, astaga. Aku sudah bekerja lama dengan ayahmu, jadi aku tahu tentang ini dan itu. Sekali lagi, aku sudah punya kekasih.”

“Kekasih?” Suzy menyunggingkan senyum jahilnya. Ia terkekeh pelan. “Siapa itu? Apa dia tampan? Apa dia mapan? Apa dia benar-benar mencintaimu?” tanya Suzy bertubi-tubi. Ia tidak bisa menyimpan rasa penasarannya.

“Siapa? Tentu saja rahasia. Tentu saja dia tampan dan mapan. Kalau pertanyaan terakhir tentu saja tidak usah dijawab juga kau tahu jawbaannya,” kata Tiffany sambil tersenyum tipis. “Sudahlah, kau lebih baik mandi.”

Ne, unnie,” ujarnya sambil menekankan kata ‘unnie’ pada Tiffany. Seakan-akan menekankan bahwa ia lebih muda disini. Tiffany langsung melotot ke arahnya tepat sebelum Suzy masuk ke dalam kamar mandi dengan seragam ditangannya.

Tidak butuh waktu lama untuk seorang Bae Suzy mandi. Cukup membasuh tubuhnya dengan air dan sabun, lalu membilasnya. Pagi ini juga ia mencuci rambutnya untuk hari pertama di sekolah. Biasanya, ia tidak pernah seperti itu setiap hari pertama di sekolah, baik tahun ajaran baru atau juga kenaikan kelas. Dia tidak peduli akan penampilannya.

Namun, hari ini dia membutuhkan sesuatu yang berbeda daripada sebelumnya. Ia merasa sangat diinjak-injak jika ia mengingat bagaimana teman-temannya mengejeknya dengan julukan ‘anak buangan’. Sangat menyayat memang, tapi hari ini dia akan membuktikan bahwa julukan ‘anak buangan’ itu bukan ditujukan untuknya.

Ia keluar dari kamar mandi dengan seragamnya. Tiffany bertepuk tangan saat melihat betapa rapinya gadis itu. Lalu, Suzy membuka laci lemari bajunya dan mengambil pengering rambut berwarna merah muda yang ada di dalam sana. Ia menusukkan pengeringnya pada stop kontak.

Setelah selesai, ia mengembalikan pengering rambutnya dan menyisir rambutnya yang tebal dan sedikit acak-acakan akibat pengering rambut tersebut. Cepat-cepat, Tiffany mengambil pencatok rambut yang tersimpan di laci lemari juga dan segera membantu Suzy.

Setelah membuat ujung rambut Suzy sedikit bergelombang, mereka pun keluar dari kamar dengan tas punggung yang sudah disampirkan di bahu kanan Suzy. Mereka menuju ruang makan ketika jam menunjukkan pukul 6:40. Di ruang makan sudah ada ayahnya yang tengah membaca koran.

“Pagi, Appa,” panggil Suzy pelan sambil duduk di kursi yang ada di dekat ayahnya. Tiffany pun ikut menarik kursi yang ada di samping Suzy. Suzy meletakkan tasnya yang berisi buku-buku baru dan buku-buku paket tebal di dekat kakinya.

Ayahnya melipat korannya dan ia mengelus kepala Suzy. “Pagi, Suzy-ya. Apa kau sudah siap untuk hari ini?” tanya ayahnya. Suzy mengangguk pelan ketika para pelayan datang dengan semangkuk sereal untuk Suzy.

Selain sereal, ada juga segelas air putih untuk Suzy. Ayahnya yang ternyata sedari tadi sudah menunggu mereka—Suzy dan Tiffany—pun ikut makan setelah mereka selesai berdoa.

Ketiganya makan dengan nikmat dalam keheningan. Setelah selesai, para pelayan mulai berdatangan dan mengambil piring-piring mereka. Ayahnya bangkit dari kursinya, diikuti oleh Suzy dan Tiffany yang mengekori di belakang. Ketika ayahnya mendapatkan telepon, Suzy justru menggoda Tiffany soal kekasihnya.

Suzy tidak akan menyerah sampai Tiffany memberitahu identitas kekasihnya secara jujur kepada Suzy. Ketiganya masuk ke dalam mobil limousine milik Suzy. Ayahnya mempersilahkan kedua perempuan tersebut untuk masuk duluan. Suzy dan Tiffany duduk di kursi yang berada di paling belakang, sedangkan ayahnya mengambil kursi yang ada di dekat jendela.

“Oh, ayolah, Appa, kita benar-benar ke sekolah menggunakan mobil ini?” tanya Suzy ketika ayahnya sudah selesai berbincang-bincang di telepon. Suzy menduga bahwa ayahnya tengah membicarakan perusahaan karena ia bisa menangkap beberapa perkataan yang diucapkan oleh ayahnya.

Ayahnya hanya mengangguk pelan dan kembali sibuk dengan ponselnya. Lalu, setelah selesai mengetikkan sesuatu diatas sana, ia mengankat kepalanya dan menatap Suzy. “Ini kan mobilmu, Suzy. Jadi, kau harus terima kalau kau harus diantar ke sekolah menggunakan mobil ini. Di SHS, banyak kok yang menggunakan limousine tapi punyamu paling baru.”

“Benarkah?” tanya Suzy dengan mata yang melebar. Ayahnya mengangguk. “Tidak mungkin! Tapi, bagaimanapun, ini punyamu, Appa. Aku masih tidak bisa mengklaim bahwa mobil ini milikku.”

Ketika ayahnya ingin menjawab, Tuan Jang sudah duluan mendahuluinya. Ayahnya bisa memaklumi karena ia sadar bahwa mobil sudah berhenti di suatu tempat. “Kita sudah sampai, Tuan.”

“Astaga, ini akan menjadi menyenangkan.”

To be Continued

November 5, 2014 — 06:00 A.M.

Advertisements

56 thoughts on “[Chapter 1] Another Cinderella Story

  1. Hidup Suzy benar-benar berubah 180 derajat dari sekarang. Jadi keinget drama The Heirs, tentang sekolah yang isinya anak konglomerat semua.

    Suer, ini cerita keren banget. Aku suka karakter Suzy di sini.

  2. haha jadi pengen kaya suzy deh ~
    punyaa ruma kaya gitu.
    yang bikin bingung itu tiffany nya ._. heheh entahlah seperti ada sesuatu
    junho taec belum muncul disini hehe

  3. Hoho suzy baik hati diaini dan appanya astaggga wkwkwk
    pacar tifany siapa??
    apa yg akan selanjutnya terjadi disekolahh

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s