Because It’s You (Saranghae) Part 10 B

ul-300x192

Title: Because It’s You (Saranghae) Part 10 || Author: Keyindra || Cast:  Yesung Super Junior,Yuri SNSD, Yoona SNSD, Siwon Super Junior. || Support Cast: Donghae Super Junior, Woohyun Infinite || Disclaimer: this FF is owned by my self,  all cast borrow by GOD, The Family, and SM Entertaiment || inspirate by novel, K-drama, music, MV, etc || Dont copy paste them without my permission. So please don’t be a silent readers. || Credit Poster by Hyeri Putri Artworker ||

Satu minggu sebelum hari pernikahan Jongwoon-Yuri….

Ketakutan, halusinasi dan pikiran buruk itu makin lama makin menghantui dirinya. Saat raga itu mulai mencoba melepas dari belenggu kegelapan yang menyakitkan. Kebohongan dan kepalsuan kini seakan menjadi teman hidupnya, melawan waktu untuk memutar balikkan fakta agar semuanya tak terbongkar. Tapi tidak untuk kali ini, ketika ia bisa melakukan segala cara untuk menutupinya. Situasi yang tengah dihadapinya memang tidak bisa dikatakan tenang. Rasa itu semakin menghantuinya kala cerita lama itu kembali teringat, semuanya sudah terkubur rapat namun kini terbuka kembali, ini jelas membuat membuat posisinya jelas terancam. Antara jujur atau tetap berbohong. Rasa takutpun seketika semakin ia rasakan. Melihat wajah Im Yoona yang bingung membuat ia harus segera mengambil keputusan akan tindakan apa yang harus ia ambil.

“nyonya. Peristiwa tabrak lari 12 tahun lalu itu ternyata belumlah ditutup. Putra Tiri Kwon Sangwoo, Mendiang Lee Donghae ternyata belumlah mencabut tuntutan untuk kasus kematian ayah tirinya itu sejak 12 tahun lalu, bahkan tuntutan untuk kasus ayahnya itu masih berlanjut meski yang melapor telah meninggal.”

Wanita itu terdiam seketika, pandangannya mendadak tiba-tiba bingung. Dan raut wajahnya berubah drastis. Rasa khawatir nan was-was itu semakin menggeluti dirinya.

“masalahnya sekarang adalah bukti dari kecelakaan itu sekarang telah dicurigai polisi.”

“omong kosong apa yang kau katakan ini?. Mobil itu sudah sudah tak pernah ku keluarkan lagi. Semua sudah ku ubah, dan tak ada saksi mata yang melihat kecelakaan itu.”Ia telan ludahnya mencoba untuk menetralkan perasaannya yang memang tengah merasa takut dan ragu akan tatapan datar dari seorang lelaki kaki tangannya yang sampai sekarang ia percaya.

“bagaimana mungkin mereka bisa curiga setelah 11 tahun berlalu?. Bukankah semua bukti kecelakaan itu sudah dihilangkan?.”

“ini ada kaitannya dengan putri anda Im Yoona yang melakukan pelelangan besar-besaran terhadap barang yang dimilikinya untuk acara social lusa. Dan mobil itu masih menjadi kunci pengungkap jika anda adalah……..”

“kau selalu menjamin seperti itu, tapi kenapa masih sering datang menemuiku?!.”

“bagaimana kalau polisi menargetkan tersangka pada putri anda, Im Yoona?. Dan mereka mengumpulkan bukti untuk menuntutnya?.”

“aniyo…aniyo..andwee…kejadian itu terjadi pada malam hari dan tak ada satu pun orang yang melihat jika Mobilku yang menabrak Kwon Sangwoo.”

Ketika ucapan pria semakin mengatakan yang sebenarnya, ia tak bisa lari dan menyembunyikan kenyataan jika hal ini akan mengganggunya kembali. Dia—Kwon Hyorin bingung tak tahu harus mengucapkan apa. Ketakutan memang mendominasi perasaannya ketimbang ia harus shock karena mendapati kenyataan jika kasus tersembunyi masa lalunya belumlah usai.

“lalu apa yang harus kita lakukan?.”

            “aku membutuhkan bantuanmu. Sekarang masalahnya adalah putri anda yang melelangkan mobil itu, dan draft tuntutan atas kematian Kwon Sangwoo kini masih bergulir hingga sekarang dan dari pihak korban sebagai penuntut perkara ini menjadi atas nama Kwon Yuri dari Kwon Donghae. Dan polisi kembali membuka kasus ini setelah kecurigaan polisi atas mobil itu dicurigai oleh penyelidik 12 tahun lalu.”

            Kwon Hyorin—wanita paruh baya itu memijat keningnya sejanak dan memejamkan matanya. Ia masih ingat betul rangkaian peristiwa 11 tahun lalu itu. Dimana malam itu ia hanya sendiri, tak ada siapapun. Hyorin melintas dengan kecepatan diatas rata-rata akibat pengaruh alcohol yang ia konsumsi saat ia tak semudah itu meraih obsesi ambisiusnya. Tidak, kecelakaan itu tidak sengaja, jika bukan karena emosi yang menggelutinya akibat pertengkarannya dengan Kwon Sangwoo. Ia muak dengan lelaki yang saat itu muncul kembali untuk menghalangi obsesinya—Whestin Choseon harus menjadi miliknya dan ia muak hidup sebagai orang miskin, cemoohan sekaligus sampah masyarakat. Namun sepertinya tak perlu sesulit itu untuk menyingkirkan Kwon Sangwoon, puncaknya pada malam itu tanpa segaja ia melakukan kesalahan terbesarnya dengan melakukan tabrak lari tanpa sengaja. Saat lelaki itu hendak menyebrang, dan Hyorin dalam pengaruh Alkohol membuat lelaki itu terpental beberapa meter terkena mobil yang dikendarainya. Karena kecelakaan itu ada satu orang meninggal dan orang yang mengendrainya adalah Hyorin.

Wanita itu kembali terdiam, saat dirinya kini harus diposisikan pada kenyataan jika semuanya hampir terungkap dan polisi mengetahui segalanya. Ia tak mau kehilangan posisi yang susah payah ia gapai, ia tak mau disudutkan pada kenyataan pahit ketika semua yang telah ia tutupi dan ini harus dia benar-benar akhiri dalam satu petikan jari—tidak semudah itu untuk menghancurkan Kwon Hyorin. “ini kacau jika mobil itu akan benar-benar disita polisi dan pemiliknya sekarang diketahui adalah putri anda sendiri, dan Im Yoona akan mengaku jika mobil itu adalah pemberian dari anda meski dirubah oleh pemiliknya. Kau harus mengambil mobil itu dan memusnahkan barang buktinya.”

“jika itu terungkap maka..”

“tidak ada yang tahu jika anda yang mengendarai mobil itu tengah malam dimana anda melakukan tabrak lari terhadap Kwon Sangwoo. Namun untuk rencana selanjutnya yang kau lakukan terhadap Kwon Sangwoon, aku tak menjamin jika itu akan terungkap juga.”

“tidak akan ada yang terungkap. Jika semuanya terungkap maka aku akan hancur. Termasuk kau yang akan terseret kedalamnya. Bersalah dan tidak bersalahnya tidak akanada yang peduli.”

**

Im Yoona nampak tidak fokus pada pekerjaannya. Berulang kali ia mencoba fokuskan dirinya padalayar monitor serta dokumen-dokumen yang tersaji didepannya. Ia hela napasnya yang melambangkan kegusaran kini tengah meliputi dirinya. Yoona menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya keras-keras. Oh God, setelah peninjauan proyek ini Meeting lagi meeting lagi. Apa seluruh hidupnya nanti akan didedikasikan hanya untuk meeting dan proyek?. Otaknya sudah lelah dan mulutnya sudah pegal seharian berargumen dengan para petinggi jabatan dan pemegang saham serta para pelaku proyek ini. Setidaknya dengan adanya deadline padat bisa mengusir suntuknya rumah, apalagi kalu bukan pelampiasannya di pekerjaan. Dan kini matanya berpusat pada sebuah draft proposal proyek kerja sama. Seolah ia tahu pada siapa ia akan bekerja sama.

Choi Corp?. Oh, ayolah ia bahkan sudah sangat mengenal betul perusahaan yang kini dikelola oleh suaminya—ralat bukan suaminya melainkan hanya status suami saja. Mengenai Choi Siwon entah mengapa tiba-tiba ia terngiang ucapan Choi Siwon tempo hari jika lelaki itu punya alasan mengapa ia seperti itu terhadapanya.

Apa karena dendam?.

Tidak. Choi Siwon sendiri bilang jika mengapa ia harus dendam padanya dan pria itu bukanlah tipikal seorang pendendam. Alasan lain yang membuat Yoona tak mengerti tentangnya, jika suatu saat masih seperti ini akankah ia memaafkan semuanya?. Kata maaf, Justru Yoona semakin pusing dengan sikap lelaki itu menjauhinya tapi untuk meminta maaf. Apa maksudnya itu?.

‘Ada apa sebenarnya dengan dirinya kini?. Kenapa akhir-akhir ini ia dipusingkan dengan perubahan sikap lelaki itu? Apa yang terjadi?. Kenapa dengan lelaki itu?. Apakah ia punya kesalahan besar sehingga sikap lelaki itu berubah padanya.

Ia ingin tahu dengan apa yang terjadi sebenarnya, maaf untuk apa?. Terlalu pusing ia memikirkan Choi Siwon yang tak berujung. Namun sekelebat pemikirannya mendadak tertuju pada buku catatana harian Lee Donghae yang berhubungan dengan masa lalunya, kini separuh terbagi atas pemikiran Choi Siwon dan Lee Donghae. Untuk Choi Siwon, ia tak mau memikirkannya dulu. Yoona arahkan pandangan matanya kembali pada lembar-lembar buku berwarna coklat tersebut—lebih tepatnya bukan karena ia masih penasaran dengan sosok Lee Donghae dalam catatan hariannya.

Tulisan Lee Donghae ada hubungannya dengan masa lalu yang ia tak pernah ingat sama sekali. Ia ingin membuktikan omongan Kwon Yuri jika Lee Donghae adalah lelaki masa lalunya serta hubungannya dengan Hana. Dan masih terngiang jelas dalam pikirannya pertemuannya dengan Lee Hana beberapa hari lalu sebelum gadis kecil itu sadar dari tidur panjangnya.

Ketika pikirannya ia bawa pada peristiwa beberapa hari lalu, perasaan sesak dalam hatinya menyelubungi seketika. Ia lihat—Yoona lihat dengan jelas saat sosok yang beberapa hari lalu tertidur dalam komanya itu memilukan. Sementara ia tak tahu sejatinya harus berbuat apa. Entah benar atau tidak, amesia sialan yang ia derita tak kunjung pulih juga. Tapi perasaanya ada sesuatu yang ia rasakan saat ia berdekatan gadis kecil tersebut yang diketahui sebagai putrinya. Masihkah ia ragu dengan pernyataan-pernyataan disekitarnya?. Secara ia mendapi jika yang Yoona inginkan adalah kenangan masa lalu yang ingin ia ingat sebelum kecelakaan tragis itu terjadi.

“annyeong..Hana-ya. Aniyo..Lee Hana.” Sapa Yoona dengan nada getir. Tidak ada respon lain selain detak kardiograf yang menunjukkan bahwa jantung Hana masih berdetak sebagaimana mestinya. Ia beranikan dirinya duduk disamping Hana, tangannya ia arahkan untuk sekedar menggengam gadis itu lemah.

“ahjumma tidak tahu harus memulainya darimana. Karena ahjumma tidak tahu tentang semuanya. Karena semuanya terasa asing bagiku.” Yoona hela napasnya pelan. Miris. Menatap sosok kecil Lee Hana yang terbaring tak sadarkan diri dengan wajah yang semakin pucat, pipi yang semakin tirus, tubuh yang semakin kurus, namun kecantikan dan kepolosan gadis kecil tetap terpancar dari tidurnya.

“aku mengenalmu Hana-ya. Ahjumma tahu jika kau adalah gadis periang yang penuh semangat. Semenjak mengenalmu pertama kali, ahjumma jatuh cinta padamu dan kala itu untuk selanjutnya ahjumma semakin menyayangimu.

“tulisan buku milik Lee Donghae mengatakan jika kau adalah putriku. Apakah benar kau putriku?. Apakah aku pernah menikah dengan ayahmu?. Apakah aku mengenalmu jauh sebelum kita dipertemukan untuk pertama kalinya?.”

“lalu jika kita berdua berhubungan?. Kenapa kita terpisah?. Apakah aku orang yang jahat dimasa lalu pada ayahmu. Sejahat itukah diriku pada masa lalu kalian?.”

“jika memang kesalahanku melukai kalian. Apa menurutmu kesempatan itu ada?.”

“maaf…”

“maafkan aku…”

“maafkan aku Lee Hana…aku memang wanita bodoh dan tolol tak bisa mengingat semuanya. Bahkan aku tak tahu entah diriku ini atau bukan.” Yoona merasa dirinya sangat bodoh –tolol. Seharusnya ia harus mengingat semuanya. Kenapa ia diombang-ambingkan oleh memori pikirannya sendiri yang menyiksanya hingga seperti ini dan melukai orang banyak.

“Lee Hana.. bangun.. sadarlah.. lihat dan ketahuilah bahwa aku disini untukmu. Aku menyayangimu. Bukankah kau menginginkan melihat ibu kandungmu.”

Tanpa ia sadari, cairan sebening kristal mengalir begitu saja dari pelupuk matanya, “Lee Hana.. kumohon, bangunlah. Aku di sini… Aku di sini..ini eomma Lee Hana.” Yoona letakkan tangan didahinya, menangis pilu, mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Dalam sejarah hidup seorang Im Yoona pertahannanya bobol sebagai wanita idealis nan arogan—ia menangis. Menangisi seseorang sosok kecil bernama Lee Hana.

“Bangunlah…”

“Semua orang menunggumu..”

“Bangunlah Lee Hana. Eomma menunggumu.”

Seperti mantra yang merupakan keajaiban yang diberikan Tuhan untuknya. Saat kalimat panggilan itu terucap dari sepasang bibir Im Yoona seakan memanggil Hana untuk kembali pada dunianya. Memanggil Hana untuk berada disisinya.

Dan Tuhan memang benar, ia benar-benar menyayangi umatnya. Perlahan jemari kecil itu mulai bergerak pelan.

Satu kenangan itu mungkin titik balik dimana a bisa mendapatkan masa lalunya. Keraguan itu masih ada dan terlintas dalam hati dan pikirannya. Ia yakin jika masih ada cara untuk mengembalikkan semuanya meski peluang itu sangatlah kecil. Sadar jika membuat kesalahan—Yoona harus segera memperbaiki semuanya sebelum semua terlambat, meski ingtan itu tak pernah ada. Persetan dengan semuanya.

Merasa ada yang mengganggu, lamunan itu buyar seketika karena sebuah ketukan pintu. Aktivitas itu terhenti saat ia merasakan pening yang luar biasa menghujam area bagian kepalanya. “akh….”Tubuhnya berhenti sejenak merasakan sesuatu yang lain. Denyutan hebat itu semakin terasa. Yoona berusaha dengan sekuat tenaga menahan rasa sakit yang kini timbul dan menghilang dalam hitungan menit lalu timbul kembali.

Lintasan bayangan yang ada didalam pikirannya mendadak muncul kembali serta kalimat-kalimat tulisan dalam catatan harian tersebut berdengung-dengung didalam kepalanya, ia tak tahu harus bagaimana ia untuk memulainya. Sebuah keadaan yang jelas menggambarkan dirinya yang rapuh namun tetap tak ingin dirinya akui. Tetap saja walau begitu Yoona menyadari keadaan ini buat dirinya takut. Ketakutan kehilangan semua memorinya. Terlebih lagi membuat orang terluka dan luka dan menyakitinya.

………..‘aku mencintainya, untuk itu aku tak mau menyakitinya Dan hanya satu alasannya untuk membuat pria itu membencinya agar dapat melupakannya.’……………..

………….‘ini adalah kekeliruan Im Yoona!. Mencintai pria itu adalah kesalahanmu yang terbesar dan terfatal. Pergilah!, jangan pikirkan aku. Aku tak mau membuatmu terluka dengan semua ini!.’…………….

Wanita itu tegakkan badannya sekuat tenaga—semampu yang ia bisa. Tubuhnya segera terduduk dan dengan bersamaan dirinya usap keringat dingin yang sekarang tengah bercucuran. Mata itu, senyum itu, wajah itu, dia lihat. Tidak!. Pikiran-pikiran yang bertebaran dalam mimpinya itu kini muncul kembali. Dan Yoona ya ng sekarang tengah merasa begitu gugup akibat mimpi tidurnya masuk kedalam kehidupannya—kembali ingat lagi sosok itu. Menjawab tanya serta dapat sirnakan rasa frustasi akan resah yang selalu hinggap ketika dilihat semuanya nampak sama. Yoona mulai ingat siapa sosok yang ada didalam bayangan mimpinya.

“Kumohon!. Sebenarnya apa yang telah terjadi?!.” Lirihnya. Nyaris seperti berbisik memohon.

Ketukan pintu itu semakin terdengar terasa kala keringat dingin kian mengalir deras saat kepalanya terasa pening sekali, namun ia sekuat tenaga berusaha menahannya. Ia tegakkan kembali badannya yang hampir saja limbung dan terhuyung, mencoba menjadi dirinya yang baik-baik saja dan harus kembali bersikap professional. Ketika ia dapati ternyata sekretarisnya, Yoona tak banyak memberikan ekspresi melihat orang itu hanya sebuah anggukan kecil yang menandakan ‘iya’. Dia lanjutkan kembali pandangannya yang mencoba berpura-pura pada dokumen-dokumen yang masih menumpuk dengan memberi kode jika seseorang bolehlah masuk.

“sajangnim.. “

Lidahnya kelu dan tenggorokannya tercekat saat kedua mata itu saling bertemu pandang dan bertatapan. Im Yoona mendadak kini membeku seketika. “Kwon Yuri?!.” pekiknya tertahan, menatap wanita yang kini sedang berjalan kearahnya dengan wajah datar—seolah tak mempedulikan apa yang kini mereka tengah alami.

Tersadar dari keterkejutannya Yoona buru-buru mengalihkan semua perhatiannya. Masih setengah kaget, Yoona persilahkan gadis itu untuk masuk, Ia teliti beberapa saat arah pandang wanita yang ada didepannya. Ketika ia mendapat titik terang , Yuri tersenyum kecil. Ia mengerti. “masuklah!. Nde?. Wae Gurae?.”

Merasa curiga dengan gelagat Yoona yang seolah menyembunyikan sesuatu, wanita muda itu menelingsik jika atasannya kini sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. “sajangnim, Gwenchana?. Apa anda sedang sakit?”

“gwenchana. Apa aku terlihat sakit?. Sedikit pusing memang tapi sudah tidak apa-apa,”.

Mencoba berkilah dari rasa sakitnya, Yoona coba tampakkan seulas senyum tipis menghadap orang didepannya itu. “bukankankah satu jam lagi rapat dimulai. Ada apa?. Apa ada masalah?.”

“ada beberapa berkas yang mungkin anda tandatangani sebelum rapat dimulai.” Mencoba menetralisir perasaan wanita itu menyerahkan beberapa map yang sedari ia pegang keatas meja—tepat didepannya. Yoona balas pandang orang itu yang kini tangannya masih berkutat dengan lembar pengesahan tersebut.

“mungkin ada yang bisa aku bantu lagi?.”

Gadis itu menggeleng pelan lekas merapikan berkas-berkas tersebut. Belum sampai ia berbalik untuk berjalan. Wanita itu nampak tersenyum tipis melihatnya. “animida.”

“Kwon Yuri-sshi..” panggilnya lagi.

Ingatan itu kembali mencuat seiring dengan tatapan yang sudah beradu pandang untuk beberapa menit. Sudut hatinya bertanya apakah itu penting untuk ia lakukan mengingat hubungan dirinya dan juga Yuri yang tidak baik sekarang. Rasanya itu terlalu berlebihan mengingat dirinya yang masih dingin pada wanita itu. Dan jika ia melakukannya ia takut jika dia akan menjadi lemah. Yoona masih belum rela. Ingat, rasa cintanya pada lelaki yang sama dicintai oleh Kwon Yuri masih menjadi obsesi sepihak dirinya.

“Jujur saja, aku masih belum percaya dengan semua kenyataan ini” Yoona keluarkan kalimatnya kemukakan pendapatnya. Dengan sedikit helaan napas ia kembali menyahuti.

“Tapi apapun itu, aku ikut senang karena dengan begitu lelaki yang kucintai bisa hidup bahagia dengan wanita yang dicintainya.” Lanjutnya. Mungkin sudah beberapa kali ia sakit dan hancur karena cinta yang tak terbalas, namun apa mau dikata itu semua sudah suratan takdir Tuhan yang setiap insan tak dapat merubahnya meski berusaha sekuat tenaga. Apa mau dikata, toh mereka akan tetap menikah jua.

“terima kasih atas undangannya. Aku harap kalian bahagia. Jongwoon telah memilihmu sebagai bagian dari hidupnya.”

Mendengar itu Kwon Yuri hanya kemudian terdiam. Entah kenapa pikiran buruk mulai menjalari otaknya setelah ia mendengar apa saja yang terlontar dari ucapan Im Yoona. Air mukanya berubah seketika. Gadis itu akhirnya kembali bersuara. “terima kasih. Aku harap kau bisa hadir dalam acara kami.”

“aku harap aku bisa. Tidak mungkin aku mencintai lelaki lain jika statusku kini dimata hukum dan agama adalah milik seorang pria lain. Terlalu picik jika aku tetap menuruti semua obsesiku mencintai Kim Jongwoon. Tapi aku tak naif juga jika perasaan itu sebagian besar masih lelaki itu yang memilikinya.”

Disaat dirinya mulai merasa sadar akan ucapan Yoona, ia pun kemudian menatap wajah mantan kakak ipar nya—mendiang Lee Donghae, pandangan bertanya. Belum sempat Yuri kemukakan ketidak mengertiannya, lalu sedikit memaksakan senyumnya. “aku permisi..”

Hanya anggukan yang Yoona berika sebelum kaki jenjang milik Kwon Yuri meninggalkannya. Tangannya meraih sesuatu dibalik laci meja kerja yang kini dihadapannya. Ia menundukkan wajahnya dengan satu tangannya menggenggam kertas undangan tersebut dengan serius.

*The Wedding. Jongwoon-Yuri*

Selembar kertas yang membuatnya harus menghentikan semua rasa cintanya—menghilangkan perasannya pada lelaki itu. Ia pandangi lagi kertas bertuliskan nama mereka berdua yang akan segera melakukan pernikahan dengan tatapan kosong—sesat kemudian ia pejamkan matanya dan tanpa sengaja air mata itu mengalir turun begitu saja. Pertahannnaya roboh kala itu juga, ia sadar jika menangis seketika lalu membuat dirinya semakin terlihat rapuh di hadapan pria itu. Namun apa daya jika cinta sepihak yang ia rasakan justru akan semakin menyakitinya. Cukup, ini sudah lebih dari cukup. Bukankah cinta memang tidak harus saling memilki?. Jongwoon bukanlah orang yang pantas ditakdirkan untuknya, lelaki itu ukan buruk atau tidak pantas, tapi ia hanya perlu mendapatkan yang lebih baik dari pria itu.

“berbahagialah Kim Jongwoon. Kau pantas mendapatkannya. Obsesiku terlau besar mencintamu. Tapi aku tak tahu sampai kapan aku bisa tak lagi mencintaimu.” Lirihnya.

**

Rasanya suara sorak sorai kegembiraan itu pun tetap saja terasa sepi seakan takada respon, Keadaan terasa cukup sunyi padahal ada banyak orang disana. Sesekali mereka bertatapan dan saling pandang. Secara jelas sekali dia—Im Yoona tidak tahu kenapa sepertinya mudah sekali menemukan tatapan Choi Siwon padanya. Meeting sudah selesai dan berakhir dengan baik dan memuaskan, namun Yoona melangkah keluar ruang meeting dengan seribu perasaan aneh yang entah kenapa berkecamuk mengganggunya. Ia memutuskan untuk langsung ke toilet untuk mencuci muka. Agak lama ia mematut dirinya di depan cermin.

Mengesampingkan masalah percintaan dan perasannya terhadap Kim Jongwoon. Yoona edarkan pandangannya dengan seksama dengan dirinya sendiri. Jujur saja dirinya mulai merasa tidak nyaman akan pandangan mata Choi Siwon. Melihatnya membuat wanita itu teringat akan sebuah hal yang ia tahu namun tak ingat sama sekali. Yoona harap jika amesia silan yang saat ini tengah menggerogoti memori pikirannya bisa segera sirna, ia ingin tahu sebenarnya ada motif dan hubungan apa anatara dirinya dan Choi Siwon dimasa lalu.

“Segalanya akan lebih mudah kalau Nam Woohyun mendampingiku tadi. Dia bisa mengalihkan perhatianku dari pria itu, tapi entah apa dia bisa mengalihkan perasaan yang sedang kurasakan sekarang ini.”

Polesan Lipgloss dibibirnya mengakhiri kegiatannya masuk kedalam kamar mandi sebelum ia melangkah keluar dari toilet. Matanya membulat ketika melihat seseorang juga melangkah ke arahnya dalam jarak yang sangat dekat. Dan Yoona pun tak sempat mengubah arahnya hanya untuk sekedar menjauhinya—justru yang ia malah memekik keras ketika membentur tubuh itu. Ia merasa sepeti kakinya pendek sebelah hingga keseimbangan tubuh itu goyah pula. Ia menunggu dirinya jatuh, namun ia justru merasa sedang berada dalam sebuah dekapan hangat.

“aakhh..”

“Gwenchana?. Im Yoona-shhi?.” Suara berat yang khas terdengar lembut di telinganya. Yoona bisa merasakan napas yang menerpa sebelah wajahnya, sebelum membuka mata.

“Choi Siwon?!.”pekiknya tertahan. Tubuhnya terlalu membeku untuk melepaskan diri dari dua lengan kekar Siwon yang menyelubunginya.

Selintas bayangan itu ada namun entah siapa itu. Bukan-bukan Choi Siwon. Tapi lelaki itu.

…………“apa kau tahu kacaunya aku setelah akhir dari tragedi pesta dansa itu berakhir. Siwon. Bagaimana kau menyuruhku untuk melupakanmu jika kau tak pernah menyadari perasaanku sedikitpun?. Lantas apakah semuanya akan berakhir jika belum dimulai?.”………..

…………”apa aku yakin mencintainya?. Apa aku mencintai Lee Donghae jika hatiku mengatakan yang kucinta adalah Choi Siwon?……….

Entah matanya rusak atau apalah, pandangan Yoona berubah seketika. Ia tak salah focus menatap raut wajah Siwon. Bukan Siwon, tapi sosok lelaki yang ada dalam mimpinya—yang sering hadir dalam mimpinya. Sekelebat bayangan muncul dalam ingatannya, sekelebat rasa hangat dan nyaman yang serupa seperti saat ini kembali terkuak.

“kk—kau..”

“iya ini aku. Aku masih menunggu dan menjagamu.”

“aniyo..”

“aku mencintaimu my dearest Yoong..”

Dan iya yakin jika kini dirinya hanyalah sedang berimajinasi tapi tak bisa dipungkiri jika itu adalah kenyataan. Yoona yakin jika ia sangat mengenali wajah pria itu. Dia sangat mencintai pria itu yang kini mendekapnya. Apakah itu bayangan Lee Donghae?.

Yoona pernah merasakan dekapan hangat ini.

Yoona pernah menyerahkan dirinya dalam dekapan ini.

Yoona mencintai lelaki itu dan tak mau menanggung beban dan melukainya.

Apakah pria itu Lee Donghae?.

Kenangan-kenangan berputar-putar dikepalanya, makin lama membuat kepalanya terasa berdenyut-denyut, makin kuat hingga ia tak bisa menahannya lagi, dan semuanya menjadi gelap. “AAKH!”

“YOONG…YOONG…IM YOONA!!.”

*****

Kedua tangannya ia lipat didada saat pandangan matanya mentap sekasama seseorang yang berarti dalam hidupnya memejamkan mata dengan indahnya. Bibirnya melengkungkan senyum. Seiring berjalannya waktu mungkin inilah jalan takdir yang harus dijalaninya. Jika bukan karena rengekan Seorang Lee Hana beberapa hari yang lalu untuk mengunjungi makam ayah kandungnya, tidak mungkin ia kini berada di distrik kelahirannya kini jika tak mengikuti keinginan gadis kecil itu.

Memandang dan memandang. Sudah lebih dari 3 menit hal serupa telah dia suguhkan saat ini. Menatap teduh, mengukir senyum, menyatakan sebuah kebahagian dan benar adanya jika hatinya sangat menghangat menatapnya. Beberapa saat setelahnya sebuah gerak aktif dirinya lakukan yang sontak saja hal tersebut membuat sosok lain merasa terkejut, tangannya ia gerakkan untuk menutupi tubuh itu yang tampak terlihat lelah.

“Euungghh” lenguhan pelan berkumandang dan perlahan mata itu mulai terbuka pelan. Rasanya memang sedikit pegal dirasa oleh tubuh yang kini baru membuka matanya kala tidur lelap untuk sesaat. Sedikit menggeliat kecil dia lakukan untuk meregangkan ototnya yang dirasa kaku. Sedetik kemudian mata iku tebuka lebar dengan senyuman khas yang menyambutnya.

“ee….mianhae. Apa aku mengganggu tidurmu?. Maaf mengangganggu.” Yuri tersenyum kikuk—mati langkah saat lelaki itu justru bangun dari tidurnya. Niatannya hanya ingin memandangi wajah tampan itu hingga puas namun pada akhirnya ia tertangkap basah atas kelakuannya sendiri.

“sepertinya aku tertidur. ah..tidak justru seharusnya aku tidak tidur disembarang tepat seperti ini. Oh, ya mana yang bisa kubantu untuk membawa barang-barang yang kau butuhkan?.”ucap Jongwoon sambil berusaha meregangkan otot-otot tubuhnya setelah mencapai kesadarannya. Pria alihkan pembicaraannya dengan gadis itu. Lekas mengubah posisinya menjadi terduduk untuk menegakkan badan.

“wajahmu sedikit pucat?. Apa oppa sakit?.” Yuri taruh tangannya didahi Jongwoon mencoba merasakan perbedaan suhu tubuh yang ada pada dirinya dan lelaki itu, tapi justru lelaki itu menepisnya pelan menandakan jika semuanya baik-baik saja.

“gwenchana. Akhir-akhir ini aku memang terlalu sibuk dengan urusan pasien jadi jarang tidur. Tapi tidak apa-apa kok, ini sudah biasa.” Jongwoon terbitkan senyum tipisnya sembari acak pelan rambut Yuri.

“begitukah?. Jangan berbohong!. Apa kau sedang tidak baik-baik saja?.” Yuri mengerucutkan bibirnya lucu—kenapa lelaki selalu berkilah padahal secara ia nyata melihat kondisi Jongwoon yang kurang stabil.

“Jongwoon Samchon!!..” pekikan suara kecil nan lantang itu sukses membuat mereka berdua menoleh ke sumber suara. Gadis kecil itu sedikit mempercepat langkahnya kala orang yang tengah ia rindukan kini berada dihadapannya.

“annyeong..Hana-ya..”

“kenapa baru datang dan tidak memberitahu!. Kemana saja selama ini samchon huh?!.” Sungutnya. Lee Hana merengut sebal, bibirnya mengerucut lucu lantas duduk disamping lelaki muda itu dengan tangan yang ia lipat kedalam dada—terlihat lucu.

“maafkan samchon ya. Kemarin terlalu sibuk jadi tak bisa mengantarmu pulang. Tapi bukankah ada Shin Uisanim yang memperbolehkan pulang.”

“tidak mau!.” Ketus gadis kecil itu seraya memalingkan wajahnya yang justru membuat lelaki itu ingin tertawa dengan tingkah polah Hana.

“jadi kau tidak memaafkan samchon hem?. Euhmm…mungkin karena kita sedang berselisih, lebih baik kita batalkan saja acara nanti malam. Bukankah begitu Yuri-ya?.” Jongwoon mengerling genit kedipan mata terjadi dengan sedikit lambat kala perasaan tak paham mulai tercipta.—memberi isyarat untuk mengiyakan saja.

“andwee..anii. aku memaafkan samchon. Tapi nanti malam harus tetap pergi!. Yaksok!.” Mau tak mau ia akhirnya menyerah juga atas kekesalannya sendiri. Tawa itu terlihat begitu indah bagi siap yang memandangnya. Itu kenyataan, rasanya belum percaya jika yang dia saksikan sekarang adalah nyata. Namun dengan jelas ia lihat pemandangan itu begitu memancarkan sebuah keceriaan. Ketulusan yang tengah orang itu berikan pada putri kecilnya

“baiklah kalau begitu. Kita segera membersihkan rumah ini dan mengambil beberapa barang untuk rumh kita di Seoul. Arrachi?!.”

MataYuri terus menatapi punggung putrinya yang semakin menjauh hingga punggung itu hilang dibalik pintu kamar. Setelah memastikan sang putri masuk ke dalam kamar, kini matanya beralih menatap lelaki yang duduk di hadapannya. Seulas senyuman terukir di bibir Yuri ketika matanya bertemu pandang dengan Jongwoon.

            “sepertinya kau tampak bahagia hari ini?. Jongwoon sunggingkan senyumnya menanggapi ucapan itu. Kepalanya menoleh sejenak pada sosok yang bersuara kemudian kembali menatap dua orang yang sedari tadi menjadi objek utamanya.

            “kedekatanmu dan Hana seolah mengalahkanku yang sejatinya orang tua tunggal yang membesarkannya.” Suara kikikan itu terdengar sebagai balasan. Ada rasa geli yang terselip dalam kebahagiaan itu sekaligus kecemburuan yang justru tak perlu dirasakan.

            “Hana memang putrimu. Tapi aku salah jika dekat dengannya dan mencoba menjadi sosok yang ia impikan selama ini?. Memberikannya kasih sayang?.” Jongwoon ucapkan dengan nada geli namun terdengar lembut, dia rangkulkan tangannya pada bahu Yuri sembari mengecup sayang kening calon istrinya kelak.

            “jika Hana dulu tak bisa mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Mungkin menjadi seorang yang selalu ada bagi Hana adalah salah satu alasan kenapa Tuhan mempertemukan kita.” Ia dekap dari samping tubuh Yuri. pria itu kecup sebelah pipi Yuri berharap ada senyum yang terpancar setelah ia melakukannya.

“Tidakkah itu cukup adil? Anggap saja itu sebagai balasan kasih sayang dari Tuhan. Dia tahu apa yang dibutuhkan oleh umatnya.” Yuri tersenyum. Ia menagguk ringan, tangan wanita itu menggenggam erat tangan Jongwoon, —mengiyakan omongan Jongwoon.

“jadi, lekaslah bersiap sebelum malam menjelang, kita tidak jadi keluar.”

“tap—tapi belum selesai aku membereskan barang-barang dirumah—.”

“ssttt..tidak ada penolakkan!.” Jongwoon menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. Haruskan ia menatap wajah wanita itu dengan jarak satu senti seperti itu. Rasanya jantungnya ingin lepas saat itu juga menerima tatapan itu.

Perlahan wajah lelaki itu mulai mendekat, deru napasnya pelan-pelan menyeruak menerpa wajahnya. Jarak itu semakin mendekat kala sapuan bibir lembut itu dingin menyentuh bibirnya yang tampaknya agak terkejut hanya bisa menerima perlakuannya untuk beberapa detik memejamkan matanya.

“eomma..ak—ku bi—“

Langkah itu terhenti sejenak sebelum ia melangkah lebih jauh lagi. Hana hentikan langkahnya—ia tahu jika pemandangan yang tersaji dihadapannya itu bukanlah hal yang layak ditonton. Sebelum ada mata lain yang melihatnya berada disini. Namun belum sempat ia melenggangkan kakinya untuk pergi, kedua insan yang dimabuk asmara yang sedang menikmati masa indah sebelum pernikahan itu menyadari jika ada seseorang yang sedang memergokinya.

“Hana-ya?!!..”

Lekas mereka berdua segera menghentikan aktivtas yang tanpa sadar tengah terlihat oleh orang dibawah umur. Wajah mereka bahkan masih bersemu merah terhanyut oleh suasana. Menyadari akan hal itu lantas pria bermarga Kim tak tahu apa yang harus dilakukan, ia garuk tengkuknya pelan merasa salah tingkah.

“ah, sepertinya aku harus segera membantumu menyelesaikan pekerjaan ini.” Ucapnya salah tingkah.

“Kau benar-benar berniat membantuku?” Tanyanya sambal mendongak dan tersenyum manis.

“Tentu saja.” Jawab pria itu percaya diri sambil memasang gesture membanggakan dirinya.

“kalau begitu bisakah kau..” Yuri tersenyum geli melihat raut wajah calon suaminya yang terlihat salah tingkah dan malu didepan Hana. Lantas pria itu berjalan melewatinya tak tahu apa yang sebenarnya harus dilakukan.

**

Sesuai perintah orang yang ia cintai, Jongwoon akhirnya mengiyakan permintaan Yuri. Merasa salah tingkah didepan kedua perempuan tersebut, ia justru mengiyakan perintah itu tanpa mengerti apa maksudnya. Yang ia tahu hanya untuk mengambil beberapa buku tentang design arsitektur bangunan, yang ia itu ia sendiri pun tak tahu. Kim Jongwoon melangkahkan kakinya ke lantai dua bangunan rumah Yuri. Kini ia memasang wajah sedikit takut dan tertegun begitu ia membuka pintu dihadapnnya—ia mdapati lantai atas rumah Kwon Yuri yang ditempatinya belasan tahun yang lalu sebelum kepindahannya ke Seoul untuk melanjutkan hidup dan melupakan semua masalahnya. Sedikit gelap dan berdebu memang, saat langkah kakinya menuntunya menuju ke sebuah ruangan yang menurutnya cukup menyeramkan pula dengan lemari-lemari yang entah isisnya apa didalamnya.

            “rak nomor dua disebelah kiri lemari paling atas..” Jongwoom bergumam kecil sambil memperhatikan rak-rak lemari tersebut dan mencarinya dengan teliti. Rak itu terletak cukup tinggu dan Jongwoon yakin jika dirinya memerlukan sesuatu untuk mempermudah dirinya meraih rak itu. Tak menemukan sesuatu yang dapat membantunya. Ia putuskan untuk berusaha meraih kertas-kertas itu dengan jari-jarinya sambil berusaha menjinjit.

“ah dapat. Ternyata isriku mengoleksi buku seperti ini. Dasar workhaholic sekali. Bahkan pemikirannya tak bisa ditebak jika ia sudah membuat rancagan bangunan.”

Jongwoon tersenyum puas ketika berhasil mendapatkannya. Namun sebelum ia beranjak dari tempatnya saat ini, sesuatu jatuh dari atas dan menimpa dirinya.

BRAKKK…

Dokumen-dokumen yang justru ia tak ingin ketahui sama sekali terjatuh pula akibat ulahnya yang tak sengaja menarik buku iku dengan sedikit paksaan, alhasil semua lembaran-lembaran yang sudah terlihat using tersebut jatuh tercecer dihadapannya. Jongwoon berjongkok lalu berusaha merapikan lembar demi lembar kertas itu. Namun, di tengah kesibukannya mengumpulkan kertas-kertas itu, matanya menangkap sebuah kotak kayu tipis yang sudah dalam keadaan terbuka dan menyebabkan isinya jatuh bertebaran di sekitar kotak itu.Jongwoon yang awalnya berniat mengembalikkan isi kotak tersebut terbelalak kaget bukan main saat kedua bola matanya menemukan sebuah foto yang cukup aneh baginya yang sudah ulai mengusang.

“Yoona….dan Han..”

Tak memungkiri jika foto itu foto Im Yoona dan gadis kecil itu ia yakin 100% jika yang sedang berada dalam pelukannya dalah putri kandungnya sendiri—Lee Hana. Jongwoon terus menatap foto itu dengan tatapan penuh Tanya sekaligus nanar. Merasa menemukan petunjuk atas apa yang di  temukannya Jongwoon lantas mencari sesuatu yang lain ia yakin jika masih ada yang lainnya selain ini. Pasti..pasti ada. Batinya menguatkan—dan keyakinannya itu kini membawanya pada sebuah fakta baru. Fakta dimana ia kini mulai mengerti tentang apa yang terjadi sebenarnya.

“Lee Hana….Yu..” ucapan Jongwoon terhenti begitu saja bersamaan dengan dirinya yang mendadak mematung setelah membaca salah satu lembar itu. Tanpa ia sadari tubuhnya yang tengah berjongkok kehilangan keseimbangan hingga menyebabkan dirinya jatuh terduduk di lantai. Tangannya mencengkeram kertas itu kuat-kuat bersamaan dengan ledakan yang ia rasakan di dadanya. Jongwoon buka lagi lembar berikutnya sebelum ia hanya bisa menatap tak percaya apa yang baru saja ia baca.

“ini tidak mungkin…tak mungkin..semuanya harus diperjelas..”

            “Im Yoona..Nam..Woohyun..” tanpa Jongwoon sadari, kini tubuhnya seolah terduduk jatuh diatas kertas-kertas yang berhamburan dan benda penuh kenangan itu. Rasanya seperti ia kehilangan kekuatan. Matanya menatap kosong sebuah lembaran diary yang kini baru saja ia baca. Mendadak hatinya diselimuti perasaan takut dan detak jantungnya seolah berlomba dengan nafasnya yang memburu.

            “J—jadi selama inikah….”

Satu hal yang pasti kini ada dalam benak dan pikiran Jongwoon tentang siapa kunci yang bisa menjelaskan semua ini, ia yakin saat lelaki yang dikenalnya itu tersebut dalam diary lama Im Yoona yang baru saja ia temukan. Tak salah ia menduga jika pasti ada sesuatu yang tersembunyi. Semuanya ini nyata dan tak dapat Jongwoon jabarkan lagi ketika semuanya harus menjadi dalam satu petikan jari. Semuanya harus ia jalani dan ia alami dengan begitu cepat seolah tanpa jeda dengan fakta yang selama ini tersembunyi.

Dan sekarang, tanpa bisa berkata apalagi—Kim Jongwoon ketikkan beberapa kalimat tepat menuju pada orang tersebut. Saat ini ia butuh penjelasan juga.

“Benarkah itu kau sayang?. Bagimana kabarmu sayang?. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Pantaskah kau memanggilku dengan sebutan eomma. Aku bukan wanita baik. Bahkan menjadi eomma aku pun tak pantas. ” Wanita itu Im Yoona menatap sendu sekaligus bahagia mendapati bayi kecil itu tetap tenang dalam tidurnya sesekali bayi perempuan itu menggeliat kecil sekaligus membuka mulutnya hati dan mulutnya justru bertentangan, jika dirinya menolak kehadiran banyi perempuan nan cantik itu.

            “cantik. Nama itu adalah pemberian dari Appa hummm?. Lee Hana berarti bunga yang cantik atau artinya satu?. ” Yoona mulai terisak diam, pertahananya saat itu roboh seketika. Ia tak dapat menahan tangisnya.

            “maafkan eomma. Kau pantas membenciku, tapi bagaimanapun juga kau adalah putriku, tak pernah terbesit sedikipun eomma membencimu. Eomma lakukan semua ini untuk kebahagiaan appa. Eomma tak mau jika Appa harus tersakiti karena eomma.”

            “Lee Hana putri eomma yang cantik, berjanjilah kau akan tumbuh menjadi gadis yang hebat dan cantik. Kau boleh marah atau bahkan benci sekalipun pada eomma, tapi satu hal yang harus kau tahu tak pernah terbesit sekalipun eomma membencimu atau tak mengharapkan kehadiranmu.”

            “ini mungkin pertemuan pertama dan terakhir untuk kita. Sebelum akhirnya kita berpisah tanpa tahu sampai kapan kita bertemu lagi. Berjanjilah pada eomma jika kau akan hidup bahagia tanpa ada eomma disisimu.”

Dan untuk pertama kalinya Im Yoona mencium kening putrinya yang baru saja menghirup oksigen didunia. Kenyataan membawanya untuk sampai pada titik ini. Titik dimana ia harus pergi dan meninggalkan semuanya termasuk darah daginya sendiri yang baru saja ia lahirkan. Tetes air mata itu semakin tak terbendung saat ia lebih memilih untuk pergi agar melindungi mereka. Ia tak rela jika sampai mereka berdua menjadi korban dari kekejaman ibunya dan ia memilih bertahan untuk mereka berdua. Tidak! Lebih baik ia memilih pergi demi kebahagiaan mereka berdua.

            Dan tak jauh dari mereka seseorang tampak begitu haru sekaligus bahagia mengabadikan momen ini. Lelaki itu yakin jika tak ada satu ibu yang pernah melahirkan anak mereka—membenci darah dagingnya sendiri. Ia Yakin. Dan foto itu akan ia kenang sepanjang hidupnya.

            **

To: Nam Woohyun

Bisakah kita bertemu?. Aku yakin kau pasti mengetahui sesuatu. Kau berhutang banyak cerita padaku. Sebelum semua terjelaskan.

Bisa dikatakan lancang atau tidak yang pasti ia sudah masuk kedalam lubang masalah yang suatu saat akan menyeretnya juga. Ini sudah hari ketiga sejak dirinya tinggal di distrik Gyeonggi-Do—tempat dimana ia dan kenangan-kenangan indah bersamanya terjadi. Ia berharap, sangat berharap jika Kwon Yuri akan mengerti, Ia tak bisa memikirkan hal apapun selain Kwon Yuri dan sejak awal dia juga sudah menaruh hati pada perasaan Kwon Yuri—meski kini ia yakin perasaannya terhadap Kwon Yuri tak akan pernah terungkap untuk selamanya.

Nam Woohyun kini berada tempat dimana ia tahu dan saksi perjalanan hidup Kwon Yuri dan Lee Donghae sebagai sepasang kakak-beradik. Ia yakin jika ada yang janggal dengan semuanya dan prinsik Woohyun adalah ia tak bisa berlama-lama pada hutang masa lampau. Sampai masalah ingatan Im Yoona belum selesai dan hubungannya dengan kebencian Kwon Yuri, dia tidak bisa terfokus pada hal lain. Dan disinilah saat ini mereka berdua akan bertemu. Pesan pendek dari Kim Jongwoon membuatnya harus mau tak mau menuruti keinginan lelaki itu untuk bertemu dengannya. Ada apa?. Tolol jika ia tidak tahu. Jelas-jelas Kim Jongwoon butuh penjelasan saat ini. Tentu saja ia tahu apa topic yang akan mereka berdua bicarakan. Woohyun melirik arlojinya dengan detak jantung yang tidak beraturan.

Lama sibuk dengan pemikirannya Woohyun justru tak sadar jika lelaki bermarga Kim itu baru saja mendorong pintu kaca coffee shop ketika matanya sudah menangkap sosok dirinya duduk di meja dekat kasir dengan sebuah cangkir di depannya. Matanya hanya jatuh menatap cangkir itu, dan segera terangkat ketika menyadari jika Jongwoon tak menepuk bahunya pelan—membuyarkannya dari lamunan berkepanjangan. Woohyun tolehkan kepalanya dan mendapati sosok yang ditunggunya sejak tadi kini berada dihadapnnya.

“Nam Woohyun-sshi..”

“apa kau terlalu lama menunggu?.” Ucap pria itu sambil duduk dihadapan Woohyun.

“hanya 15 menit, tidak begitu lama.”

“Nam Woohyun. Aku tak ingin berbasa-basi. Aku yakin kau sudah mengenal lama Kwon Yuri daripada aku mengenalnya. Entah kau tahu atau tidak alasan mengapa aku mengajakmu untuk bertemu. Jongwoon rogoh saku jaketnya, ia serahkan sebuah buku kecil yang terlihat usang, dan satu benda lagi yang membuatnya terpaku diam—tergambar jelas jika itu foto pernikahan Lee Donghae dan Im Yoona beberapa tahun lalu dengan Yuri dan Woohyun disisi keduanya. Jelas spekulasi Jongwoon beranggapan jika lelaki itu sedikit banyak tahu.

“aku tak munafik Nam Woohyun-sshi—aku menemukan buku diary Im Yoona digudang rumah lama Yuri. Didalam kotak hitam itu aku menemukan selembar foto pernikahannya dengan mendiang Lee Donghae. Dan didalam buku harian itu mengatakan jika Yoona sangat berterima kasih padamu.”

“ini buku harian yang kumaksud itu. Bacalah!. Entah kau pernah membacanya atau tidak , aku yakin sedikit banyak kau pasti mengerti!.” Lanjutnya.

Astaga!. Kenapa kejadian ini terulang kembali. Situasi kini tengah tak menguntungkan baginya.

Lelaki itu berusaha membunuh rasa ngerinya atas tatapan datar yang diberikan oleh Kim Jongwoon, ia mendengut ludahnya membunuh rasa gugupnya. Jantungnya berpompa seiring dengan darahnya yang berdesir. Bodoh jika ia tak mengerti dengan kotak hitam yang dimaksud oleh Jongwoon. jelas-jelas ia adalah orang yang menyimpan memory tertulis Im Yoona untuk Lee Donghae sebelum Kematian Lee Donghae 7 tahun lalu. Sambil berusaha mengatur degupan jantungnya, Woohyun berusaha berpikir titik awal dari cerita yang akan ia buka pada pria ini.

“baiklah aku akan bercerita tapi tidak secara detail, dan aku yakin jika kau pasti membaca buku harian Yoona noona keseluruhan. Aku memang yang menyimpan buku itu dirumah lama Kwon Yuri. Dan aku yakin kau pasti sudah tentang semuanya, meski tak banyak, Tapi aku yakin sebagian cerita Yoona noona saat di Amerika kau yang mengetahuinya Kim Jongwoon-sshi.” Ucap Woohyun mencoba mengatur napasnya dan degub jantungnya yang tak beraturan.

“sebelum aku bercerita lebih jauh. Kau harus tahu satu hal Kim Jongwoon-sshi. Yoona noona tidak pernah barang sekalipun membenci Lee Hana—putri kandungnya. Ia lakukan itu karena sebuah alasan.”

“Alasan?.” Jongwoon mengernyit bingung tak mengerti.

“Ia ingin melindungi mendiang Lee Donghae dan Hana. Tidak pernah terbesit sekalipun ia membenci mereka. Aku tidak tahu dibalik semua yang Yoona lakukan atas dasar apa. Yang pasti ia telah memilih, dan ia pergi untuk kebahagian mereka. Kata benci yang Yoona tulis didalam buku hariannya hanyalah omong kosong belaka yang sesungguhnya membuat wanita itu rapuh.”

“Yoona noona lebih memilih untuk pergi daripada ia semakin menyakiti mereka berdua.”

“dan kau membiarkan Kwon Yuri jatuh dalam doktrin spekulasinya yang salah paham selama ini?!.” Bingo!. Tepat dugaan, Jongwoon mencoba menerka apa yang selanjutnya Nam Woohyun lontarkan—yaitu kaitan masalah ini dengan Kwon Yuri.

Haruskan Woohyun tanggapi dengan anggukan jika nyatanya semuanya memang benar?. Ia yakin jika tak segera dibuka masalah ini, Kwon Yuri dan Im Yoona akan terlibat perang dingin yang sama sekali tak berhenti.

“maafkan aku Kim Jongwoon-sshi..” lirih Woohyun dengan suara yang bergetar.

“lalu apa alasanmu menyimpan buku harian itu pada gudang rumah Kwon Yuri?.”

“aku ingin waktu yang menjelaskan semuanya. Setelah kematian Lee Donghae, Yuri menjadi hancur, ia tak punya pegangan hidup dan siapa seseorang yang ada untuknya. Aku menyerah Kim Jongwoon-sshi. Lalu aku biarkan buku itu dirumah Kwon Yuri, berharap jika suatu saat jika ia membutuhkan Im Yoona dan ia tahu alasan mengapa wanita itu pergi meninggalkan mereka. Namun semuanya berbeda, seiring dengan berjalannya waktu kebencian Kwon Yuri semakin mengakar dan ia tak ingin seorang pun melukai Lee Hana sama seperti Lee Donghae….”

“dan puncaknya adalah kecelakaan di New York 5 tahun silam dan ia divonis menderita Prospanogsia. Yoona bisa mengingat semuanya. Itu yang membuat Kwon Yuri semakin membencinya!.” Sela Jongwoon, pria itu melanjutkan omongan Nam Woohyun yang ia tangkap dari ceritanya dan mencoba menghubungkan dengan kenyataan yang terjadi pada Im Yoona saat ini.

“aku tahu, tidak ada yang harus disalahkan disini.” Lanjut Jongwoon kembali dengan wajah yang tampak sedikit kacau.

“Yang Yuri inginkan adalah Yoona bisa menebus semua kesalahnnya. Sementara keadaan saat ini Yoona masih dalam tahap membuka ingatan masa lalunya kembali.”

Hujan mengguyur kota sejak tadi sore dengan derasnya—langit mendung dipadu dengan kilat dan petir yang menggelegar, namun tak dihiraukannya. Wanita itu masih tetap saja berdiri menatap kosong dari kejauhan bangunan yang ia tempati selama berbulan-bulan lalu. Badannya basah kuyub—matanya sudah mulai lelah seiring dengan airmatanya yang sudah surut untuk keluar. Wanita tahu, ia tak pantas disini dan pergi menghilang adalah satu-satunya cara agar mereka berdua dapat hidup bahagia.

“Donghae oppa, aku tahu pasti kau sangat membenciku. Tapi itu mungkin yang terbaik. Aku tak mau jika kau semakin mencintaiku kau akan berada dalam bahaya.” Tawa miris itu ia hadirkan sebelum ia balikkan badan dan pergi menjauh dari tempat tersebut. Lebih baik Donghae membencinya daripada ia harus kehilangan mereka berdua akibat ulah ibunya.

Cukup Yoona kembali pejamkan matanya, ketika kalimat-kalimat jahat nan kejam ia lontarkan pada Lee Donghae, Kwon Yuri serta darah dagingnya sendiri. ia tahu ia bukanlah wanita baik seperti seorang ibu dengan penuh kasih sayang. Sudut hatinya mengerang dalam, tak mau melakukan itu, jika ia boleh memilih maka ia ingin hidup bersama dua orang yang dicintainya itu. Namun sepertinya ia telah memilih takdirnya sendiri pergi meninggalkan lelaki itu demi kebahagiian mereka.

Ketika Yoona mendadak terhenti dengan mata menatap sosok yang kini berdiri didepannya dengan payung yang sudah melindungi dirinya dari guyuran air langit. “KK—aau..” terperangah kaget saat ia dapati sosok lelaki muda yang ia sangat kenal betul siapa dia.

“apa yang noona lakukan disini?.”

Yoona usap wajahnya yang terlihat menyedihkan lalu tersenyum kecut pada laki-laki didepannya kini. “ak—ku..ak—ku hanya..”

“noona..”

“Aku tahu semua ini memang salah. Entah harus bagaimana aku mengatakan maaf karena sudah menyuruhmu melakukan sesuatu yang salah.” ada jeda disana. Yoona coba tarik napasnya dengan berat. “aku melakukannya karena aku mencintai mereka. Lee Donghae Lee Hana.”

“Ini hanyalah sebuah permintaan konyol yang aku harapkan dapat merubah hidupmu dan hidupnya. Aku tahu ini mungkin tidak akan mudah, tapi aku percaya. Jangan pernah mengatakan alasan mengapa aku berpura-pura membenci mereka berdua. Biarkan mereka membenciku selamanya daripada aku harus mengorbankan mereka demi diriku sendiri. aku tahu kau bisa melakukannya. Tolong jangan pernah kau memberitahu mereka tentang kedatanganku kesini.”

“kau jangan gila noona?!. Kau justru akan menghancurkan hidup Donghae Hyung!.” Pekiknya.

“setidaknya hidupnya bisa bangkit kembali, setelah kepergianku. Lalu jika aku tetap memilih dan tetap egois mempertahankan Donghae. Ibuku akan menghancurkan semuanya termasuk membunuhnya dan putri kandungku sekalipun ia tega.”

“Woohyun-aa?. Bukankah kau mencintai Kwon Yuri—adik Lee Donghae. Itu sama seperti yang kau lakukan. Bukankah kau melakukan itu juga demi Kwon Yuri?. Kau mencintainya dan kau akan melakukan apapun demi kebahagiannya. Hibur dia—biarkan ia membenciku, asalkan mereka semua bahagia.”

“aku pergi Woohyun-aa. Maafkan aku jika aku banyak memiliki kesalahan padamu. Hingga waktunya tiba biarkan waktu yang berbicara. Aku pergi.” Yoona tak dapat tahan perasaannya lagi, munafik jika aku tak mengharpkan putrinya dan ingin tetap bersamanya. Ia ibu kandungnya—ikatan batin antara ibu dan anak itu jelas ada.

“Yoona noona…kau yakin akan pergi?. Apa kau serius?.”

Wanita itu lekas berhenti sejenak melihat kebelakang dan tersenyum untuk terakhir kalinya pada Woohyun.

“Nam Woohyun, aku percaya padamu. Kau bisa melakukannya.” Dan itu adalah ucapan terakhir Yoona sebelum wanita itu pergi meninggalkan semuanya yang pernah terjadi dalam hidupnya, melepas kebehagiaannya dan membuka lembaran tanpa adanya cela masa lalu yang menghantui. Dan ini adalah hari terakhirnya di Korea sebelum ia pergi.

Tanpa ia sadari setelah kepergiannya, Woohyun—ia temukan sebuah benda yang tanpa sengaja membuatnya penasaran. Sebuah benda dari kertas yang berntuk kotak dan berwarna krem hamper basah terkena air hujan. Tak salah lagi jika itu milik Im Yoona. Dan Woohyun yakin jika ada alasan dibalik semua ini.

*****

            Rasanya deru suara mobil berhenti tetap terasa hening bagi dirinya. Bahkan dalam keadaan menyetir pun, pikirannya entah melayang kemana. Desahan panjang terhembus keluar dari mulutnya sebelum ia menoleh ke arah jendela mobil malam yang semakin berangin. Sekelebatan pikirannya berkecamuk di dalam otaknya hingga rasanya ia sedang dihimpit dengan dua buah batu besar. Ia tahu selama ini ia sudah salah mengira. Jongwoon sandarkan kepalanya pada kursi mobil sebelum ia sejenak memejamkan matanya—mencoba berpikir untuk sekejap yang masih saja bergelut dengan hatinya.

            “Kwon Yuri…” panggilnya lirih. Bak semilir angin yang mungkin tak akan terdengar dengan jelas.

            Lantas dalam beberapa detik Jongwoon edarkan pandangannya kesekitar dan menangkap sosok yang ia cintai tengah berada diluar—masih memusatkan penglihatannya Jongwoon pandang Yuri secara lekat-lekat yang kini tengah menikmati suasana malam. Kwon Yuri lekas tersenyum menyapa lelaki yang dicintainya kini melangkah kian mendekatinya. Ukiran senyum manis itu kini semakin dapat ia lihat dari jarak dekat saat wanita itu menyambutnya dengan sorot keteduhan yang memandangnya.

            “kenapa pulang selarut ini?. Darimana saja?.” Pria itu tak menjawab, hanya lemparan sebuah senyuman kecil yang Jongwoon berikan pertanda ia memang sedang sedikit kacau karena pertemuannya dengan Nam Woohyun barusan.

            “masuklah..ini sudah malam.”pintanya.

            Bukan Kim Jongwoon jika lelaki itu tak tenang sebelum menyelesaikannya. Rasanya hati dan omongannya bertolak belakang untuk saling berkompromi. Langkah kaki Jongwoon semakin ia dekatkan pada wanitanya sebelum Yuri membalikkan badan masuk kedalam rumah. Ia tahan langkah wanita itu—mengeratkan pelukannya pada gadisnya. Tangan kekar Jongwoon sempurna melingkar pada perut Yuri yang didalamnya tumbuh calon buah hatinya kelak.

            Lagi dan lagi Yuri dibuat ingin mendadak mati seketika karena serangan jantung yang tiba-tiba akibat lelaki itu memperlakukannya sedemikian rupa. Deru napas Jongwoon membuat bulu kuduknya sedikit berdiri, menggelitik tengkuknya. Dalam posisi seperti ini Yuri dapat merasakan dadanya bergemuruh dan jantungnya semakin berpacu cepat seiring dengan eratan pelukan lelaki itu dan kepalanya kini ia letakkan dibahu Kwon Yuri. Dekapan pria itu mampu membuatnya yang sudah diam kini semakin kelu untuk bersuara.

            “tak adakah yang ingin kau jelaskan Kim Jongwoon-sshi. Kkk—kau darimana?.”

            Jongwoon mengernyit, ia rasa mungkin ini sudah saat ia berbicara pelan dengan Yuri tentang kenyataan yang sebenarnya. “bertemu Nam Woohyun—temanmu.”

            “Nam—Woohyun?. Tumben sekali. Bukankah kau baru saja mengenal lelaki itu.?. memang apa yang kau lakukan bersamanya?.”

            “hanya urusan lelaki ketika kami tak sengaja bertemu. Kami hanya sekedar minum kopi bersama. Tidak boleh?.”

            Yuri tertawa kecil menanggapinya sebelum lelaki itu lanjutkan kembali omongannya. “Hana sudah tidur ya?.” Tanya lelaki itu lagi.

            “baru saja dia tertidur. Bukankah kau bilang jika ia harus cukup istirahat selama proses pemulihannyanya.”

“kau lelah hummm?.. ini sudah malam tidak baik untuk untuk wanita hamil sepertimu tidur larut malam.”satu tangan menyapu puncak kepala Yuri dengan penuh sayang. “kau terlihat lelah.” Jongwoon ulangi lagi perbuatannya, ia ciumi wangi tubuh gadis itu sedikit berlebih yang membuat Yuri hanya bisa menahan geli sambil menggigit bibir bawahnya—berusaha menetralisir perasaannya yang sering kacau sejak mengenalnya dan mencintai lelaki itu. Masih mencoba—Yuri beranikan dirinya untuk membalikkan badan dan menatap lelaki itu intens. Mata yang membuatnya jatuh cinta hingga detik ini dan membuatnya gila. Ia mencoba menatap bola mata Jongwoon sedalam yang ia bisa. Yuri rasa tatapan mata itu, sejak Jongwoon memeluknya ia merasakan ada sesuatu yang berbeda ia rasakan sat Jongwoon memeluknya.

            “aniyo!. Masuklah, justru kau terlihat sangat lelah oppa.” Tolaknya halus. Bukan Kwon Yuri jika ia bisa diam dengan tenang sementara sosok lelaki itu terlihat sedikit aneh. Ia mencium gelagat aneh dan menangkap jika Jongwoon kini dalam keadaan yang tidak seperti dirinya. Menyadari hal itu Yuri lekas beranjak masuk kedalam rumah kala pelukan calon suaminya itu sedikit melonggar. Langkahnya ia gunakan untuk masuk kedalam sejenak sebelum ia kembali dengan sesuatu yang kini berada ditangannya. Dan itu benar ketika mata Yuri menatap ketidakberesan pada Kim Jongwoon.

Berbeda dengan lelaki bermarga Kim itu, nampaknya pikirannya masih saja diliputi sejuta pertanyaan yang menyerang dirinya sebelum menjelaskan detail dari masalah ini. Jongwoon usap slide ponselnya untuk kesekian kali sebelum ia memastikan untuk mengirimkannya pada sosok diseberang saya—yang ia yakin jika orang itu setidaknya bisa memberikan solusi untuk masalah Yuri. Jongwoon baca sekali lagi pesan yang baru saja ia tulis sebelum ia sending dan mengunci layar slide ponselnya. Lama ia berkutat dengan pemikirannya Otaknya terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang terjadi sejak pertemuannya dengan Nam Woohyun beberapa saat yang lalu. Semua ini seperti mimpi—Sengaja ia memang menyembunyikan dari Yuri sebelum ia menemukan titik temu dari masalah antara Yuri-Hana dan Yoona.

Hingga lelaki itu tak sadar jika kini Kwon Yuri sudah berada disampingnya—terlalu larut dengan pemikirannya. Sadar-sadar, Jongwoon merasakan tangan kirinya yang sedari tadi sakit tanpa peduli rasakan kini mulai menghangat. Kwon Yuri—kini tengah duduk disebelahnya hanya untuk sekedar mengompres tangan memar itu dengan telaten. Hal ini justru membuat Jongwoon kembali ke alam sadarnya.

“Yuri-aa..Apa yang kau lakukan?.” Tanya Jongwoon menyernyit bingung dengan apa yang dilakukan oleh gadisnya.

“seharusnya kau mengatakan jika tanganmu terluka akibat membantuku mengambil barang digudang tadi siang. Kau ini terlalu keras kepala, kenapa tidak bilang hum?, dan bahkan kau bisa menahannya sampai acara jalan-jalan kita berakhir lalu pergi begitu saja setelahnya. Dasar tidak peka pada diri sendiri!.” Sahut Yuri sedikit menggerutu sambil tetap fokus pada tangan Jongwoon.

“darimana kau tahu?.”

“nah, selesai. Jangan bekerja menggunakan tanganmu terlalu berat jika tanganmu ingin terlihat seperti gradasi warna dengan tuxedo pernikahan kita. Atau jangan berharap kau bisa menggerakkan tangan kananmu saat upacara pernikahan kita berlangsung.” Yuri berdecak lantas menggembungkan pipinya kesal.

Harus diakui memang jika omongan gadisnya itu memang benar, jika tangannya tak segera ditangani, maka semakin hari akan semakin membengkak. Jongwoon masih mendongakkan kepalanya menatap gadisnya. Dan apa yang menarik perhatiannya kini?. Ketika mata Jongwoon menangkap sesuatu yang tak asing baginya. Ia yakin jika itu adalah benda yang ia miliki pula, matanya berbinar saat kalung itu masih tetap bertengger manis dileher Kwon Yuri. Jongwoon Yakin jika kalung yang Yuri pakai adalah kalung yang yeoja itu berikan saat keduanya berada diambang batas antara hidup dan mati karena tragedy kecelakaan mengerikan itu.

“kau kenapa?.” Ucapan Yuri sukses membuatnya terperanjat kaget dan menyadari jika kini Yuri duduk disampingnya. “apa yang kau pikirkan?.” Lanjutnya kembali.

“ah..itu, kau sudah selesai?.” Balas Jongwoon salah tingkah dengan menggaruk tengkuknya pelan.

Yuri mendesis kesal. “kau ini!. Terlalu banyak melamun akan membuatmu seperti orang kerasukan roh halus.” Sungut Yuri sebal sambil mengerucutkan bibirnya lucu dan menggembungkan pipinya kesal.

Lelaki bermarga Kim itu justru tersenyum dengan manis memperhatikan setiap senti wajah cantik yang terlihat lucu baginya. Untuk beberapa detik ia terpesona dengan wajah itu ia tak menyangka, jika jalan hidupnya akan seperti ini dan takdir seolah menggariskan mereka berdua untuk bersama.

“tidurlah. Kau terlihat mengantuk” ujarnya lembut. Satu tangannya menyapu puncak kepala Yuri dengan sayang. Ia sentuh sebelah pipi Yuri dengan lembut. Wanitanya membalas pandang namun tak beri anggukan atau gelengan sekalipun. Hanya balas memandang dan itu sudah menjadi jawaban.

“tapi—”

“menurutlah.” Sela Jongwoon cepat. “istri yang baik selalu menuruti apa yang suaminya katakan” Rona bersemu merah itu jelas terpeta dari kedua pipi Yuri yang terlihat malu. Istri?. Bahkan keduanya baru minggu depan mengucap janji suci pernikahan. Lelaki itu terkekeh kecil lantas ia bawa tubuhnya kini bawa tubuhnya menaiki atas ranjang. Walau sedikit sulit, pria itu paksa calon istrinya untuk mau merebahkan tubuh sama halnya seperti dia. Lekas gadis bermarga Kwon itu membaringkan badannya menuruti perintah Jongwoon meski ia tak memungkiri jika kini matanya sudah tak mau sedikit diajak berkompromi karena lelah yang mendera.

Mata itu masih setia memandang setiap inci lekuk wajah Kwon Yuri yang berbading disebelahnya, satu tangannya membenarkan helaian rambutnya yang turun melewati pelipisnya—Jongwoon amati wajah itu secara detail Ditariknya selimut yang berada dibawah kaki mereka hingga sebatas dada, Jongwoon membalikkan posisinya ke kanan dan menatap Yuri yang kini masih belum bisa terpejam.

“Yuri-ya..gomawo, Jeongmal Gomawoyo. Aku tidak akan pernah bisa membalas apa yang pernah kau lakukan padaku. Tanpamu, entah sekarang aku bisa hidup atau tidak.”

“kenapa oppa berbicara seperti itu?.” Seketika Yuri tolehkan kepalanya memandang Jongwoon—mengernyit bingung. Ia lihat jelas raut wajah Jongwoon yang kini tengah memandangnya. Raut wajah yang selalu membuatnya terpesona dan sukses mengaduk-aduk perasannya.

“hampir 6 tahun lalu. Peristiwa mengerikan itu terjadi. Kala itu aku tak tahu harus bagaimana dan yang jelas aku membanting stir mobil untuk melindungi kami berdua saat bus tergelincir dan menabarak pagar pembatas jalan. Dan saat aku berada diantara hidup dan mati Tuhan mengirimkanku seorang gadis untuk menolongku, memberikan kesempatan untuk hidup bagiku.” Yuri menghela napas cukup panjang—tubuhnya sedikit bergetar. Gadis itu sedikit menegang saat ia ingat kota Megapolite dunia itu—New York. Dimana semuanya berakhir tragis dan ia kehilangan sosok tumpuan hidupnya dan kekecewaan itu semakin ia rasakan saat secara mentah-mentah Yuri terima hinaan dan cacian dari wanita yang dicintai Lee Donghae. Kedua tangannya terangkat menyentuh kedua tangan Jongwoon yang merengkuhnya erat dan berusaha melepaskannya. Baginya semuanya sudah berakhir seiring dengan berjalannya waktu. Meski kini ia mencoba untuk membuka hatinya kembali pada Im Yoona.

“apa semuanya karena aku?. Kenapa kau yakin jika itu aku?. Padahal kita belum pernah bertemu sama sekali?.”

“hatiku yang mengatakan. Lalu kalung salib yang kau berikan padaku seolah menandakan jika ada seseorang yang   selalu men-supportku untuk tetap bertahan dalam kondisiku yang diambang batas antara hidup dan mati. Ketika aku mendapati kenyatan jika seseorang yang berjasa padaku menghilang tanpa jejak, aku benar-benar merasa hancur karena terlalu bodoh untuk tak bisa menghargai atas apa yang telah dilakukannya.”

Yuri menghela napas pelan berusaha menetralisir perasaan yang tengah berkecamuk tak tentu. Ia tak menyangka jika lelaki itu akan berkata seperti ini. Kepalanya ia tundukkan berusaha keras mencoba tak menahan panasnya mata yang mulai ingin mengeluarkan cairan beningnya. “Seiring berjalannya waktu aku menganggap jika itu hanya rencana Tuhan untuk menolong seseorang. Aku tak pernah berpikir jika dengan menolongmu maka kau akan mencintaiku..” Yuri tersenyum kecil, lagipula untuk apa ia mengingatnya toh sama juga ia mengharap pamrih dari seseorang yang ia tolong. “Jalanku memang disana. Aku menolongmu karena hatiku yang menginginkannya dan Tuhan menuntunku untuk sampai dititik itu. Aku diberi kesempatan hidup, maka aku harus memanfaatkan sebaik mungkin.”

Entah harus berekspresi seperti apa kini, tapi Jongwoon hanya bisa tersenyum kecil penuh haru, Ia jelas merasakan hangat pada hatinya. Ketulusan hati Kwon Yuri membuatnya benar-benar jatuh hati hingga cintanya pada sosok Yuri membuatnya tak ingin meninggalkannya barang sedikitpun hingga terjadilah kejadian yang sehrusnya tidak terjadi sebelum mereka menikah. Pria itu menatap kosong hingga beberapa saat kemudian ia lepas pada tawa pelan karena merasa lucu akan perlakuan singkat itu. Hatinya cukup mengecap rasa lega.

“sudahlah jangan diungkit lagi. Aku seperti wanita yang menginginkan balas budi atas apa yang telah aku lakukan. Jika kau mencintaiku atas alasan balas budi, aku berterima kasih. Namun jika menilik perasaanku, aku jujur jika aku memang telah jatuh cinta pada sosok dirimu….Kim Jongwoon” lirihnya yang terdengar seperti berbisik.

Sebuah rasa rasa bahagia dan percaya diri yang tumbuh dalam hatinya memang dirasakan berbeda dari yang sudah pernah terjadi. Senyumnya mengembang indah “dan perasaan itu terbalaskan saat gadis cantik itu mulai mencuri hati pria dingin yang sulit peka untuk mencintai wanita.”

“aku mencintaimu Kwon Yuri…saranghae..” Hati Yuri semakin terenyuh. Sudut matanya sudah memanas menahan kabut yang sekali gerakan akan berubah menjadi sebuah linangan bening yang keluar dari kedua mata bulatnya. Sebelum itu untuk kesekian kalinya Jongwoon daratkan bibirnya pada kening Yuri—mengecupnya sayang. Entah sudah berapa kali lelaki itu mengatakan mencintainya, tapi masa lalu mereka lah yang membuat mereka tak menyadari jika cinta mereka sudah bersemi sejak mereka pertama kali dipertemukan oleh takdir. “aku juga mencintaimu Kim Jongwoon..” lanjutnya.

**

“oppa..” panggilannya pelan. Meski mengantuk, matanya sulit untuk terpejam, ia masih saja terjaga dari tidurnya—saat kepalanya menyandar indah dengan posisi berbaring. Yuri terima pelukan lelaki itu dalam tidurnya—menghirup aroma maskulin lelaki itu yang menyeruak masuk hingga saraf-sarafnya tak dapat bersinkronisasia lagi saat Jongwoon mendekapnya erat dengan mata yang sudah terpejam namun indra pendengarannya masih bisa bekomunikasi.

“hmmm..”

“kau belum menjawab pertanyaanku. Ada apa kau menemui Nam Woohyun?.”

“kami hanya mengobrol sebentar mengenai hubunganmu….”

“hubungan?.” Dahinya mengerut, Yuri belumlah bisa menangkap apa maksud dari perkataan lelakinya itu. Kepalanya mendongak. Ia menerawang luas. Membayangkan malah masih bisa mengingat ucapan lelaki bermarga Nam beberapa waktu lalu terkait mereka berdua. Apakah perubahan sikap Jongwoon sedikit aneh baginya kini adalah karena pertemuannya dengan Nam Woohyun?. Apa yang dikatakan oleh lelaki itu sehingga membuat Jongwoon seperti ini?.

“datanglah!. Kau tamu wajib yang aku tunggu dalam upacara pernikahanku.”

Woohyun tersenyum kaku— tidak terkejut memang, tapi ia paksakan senyumannya saat ia terima lembar undangan yang sedikit menggetarkan hatinya. Mencoba mengalihkan pandangannya mengarah pada beberapa aktivitas para pekerja yang sedang menyantap hidangan makan siang dalam cafetaria kantor saat makan siang. Salahkah jika ia mengungkapkannya kini?. Sudah terlambatkah?. Iya sudah terlambat, karena yeoja yang didepannya kini sudah menjadi milik orang lain.

“datanglah bersama calon istrimu. Janjimu harus kau tepati!.”

“apakah menurutmu aku dan dia terkesan cocok dan saling mencintai dengan dia?.” Yuri mengangguk, ia bawa senyumannya yang berbinar pada lelaki itu.

“kurasa kalian berjodoh. Bukankah kau mencintainya?.”

“bukan berjodoh. Lebih tepatnya karena perjodohan!.”

“aku masih menyukai gadis sederhana sejak kita sering bersama seperti beberapa tahun silam. Tapi aku terlalu tolol dan bodoh tak bisa mengungkapkan isi hatiku. Yang jelas kini gadis itu sudah bahagia dan aku ikut bahagia.”

“mengenai itu. Bisakah aku tahu, mungkin aku mengenalnya?. Bolehkah aku mengetahui siapa gadis yang kau cintai?.” Gadis itu terkekeh kecil menanggapi, satu tangan yang lain mengaduk-aduk teh nya dan mamsukkan beberapa balok gula untuk menun

Woohyun terdiam sesaat, ia meneguk ludahnya yang terasa pahit hingga tenggorokannya seakan tercekat. “Kwon Yuri. Bisakah aku mengungkapkannya meski kesempatan itu sudah tertutup?.”

“mak..sudmu?.” kernyitan dahi itu menunjukkan penasaran sekaligus bingung apa yang dimaksud kalimat Nam Woohyun itu.

“masih adakah perasaan yang kau rasakan lebih dari sahabat untukku?. Apakah kau bisa membuka hati lain jika perasaan itu masih tertambat dihatimu sebagian?.”

“Nam Woohyun-sshi…apa maksudmu?.”

“aku hanya ingin mengungkapkannya saja. Kau tidak perlu menjawab, karena aku sudah tahu jawabnnya. Semoga kau bahagia Kwon Yuri, aku berdoa untukmu. Anggap saja itu adalah pengakuan yang tertunda. Jangan kau ambil pusing, aku bahagia karena kau bahagia.

 

“ya, hubungan kalian..” Yuri tertegun. Mungkinkah lelaki yang dianggapnya sebagai sahabat sejatinya itu mengaku jujur dihadapan calon suaminya itu. Namun nyatanya salah besar jika ia menilai sosok Nam Woohyun bermulut ember tentang pengakuan perasaannya jika mencintai Yuri pada Jongwoon.

“Im Yoona..” lirihnya,

Sedikit lega karena Yuri tahu jika mereka berdua bertemu tidak mebicarakan pengakuan cinta Nam Woohyun untuk dirinya. Tapi..tapi kenapa Im Yoona?. Sekarang apalagi yang terjadi Tuhan. Sepertinya Tuhan memang belum memberinya sedikit waktu untuk bisa terepas dari wanita itu.

“bagaimana dengannya?. Sudahkah dia..”

Belum sempat Jongwoon melanjutkannya Yuri tahu ara pembicaraan Jongwoon menuju kemana. Bohong jika Yuri tak bisa menebak arah kemana pembicaraan Kim Jongwoon. Meski melenceng dari apa yang dia duga.

“dia sempat menemui Hana saat Hana masih koma. Aku mengesampingkan egoku agar Hana bisa sadar dengan kehadiran ibu kandungnya. Ketakutan itu masih ada saat aku bertemu dengannya. Aku takut jika masa lalu saat ia menyakiti kami berulang pada Hana. Dia menyakiti Donghae oppa hingga akhir hayatnya. Dan pernah beberapa kali menamparku bahkan ucapannya sering membuat kami merasa dianggap seperti sampah dihadapannya. Baik jika itu yang dia inginkan tapi penolakkan atas kelahiran Hana dan menyia-nyiakannya membuat kami semakin terluka dengan dia.”

“kau salah Yuri-aa..”

“salah?.”

“meski bagaimanapun seorang ibu tak ada yang menolak kehadiran anak yang pernah ia lahirkan. Aku yakin pasti ada alasan dibalik semua itu.”

“alasan?.”

“Apa maksudmu Oppa, mengapa bicaramu jadi berbelit-belit seperti ini?!”

“catatan harian Im Yoona..kau akan mengerti.”

Dan kini Yuri menemukan fakta baru tentang kejadian yang sebenarnya. Spekulasi diri yang mensoktrinnya selama bertahun-tahun harus ia hapus dan kubur dalam-dalam saat lelaki itu memberikan sebuah buku kecil usang padanya. Wajah gadis itu masih menampakkan ekspresi tidak percaya sebelum akhirnya ia jatuh dalam tangisannya sendiri—menangis pilu dalam pelukan Jongwoon.

*****

Hembusan angin seperti tak terasa oleh indra peraba tubuhnya, tubuh dan jiwanya kini seakan berkelana entah kemana, rasanya berjalan pun ia tak sanggup. Menangis berteriak pun rasanya tak ada guna. Jengah, suntuk, bingung, rasanya ingin meledak seketika. Seisi kepalanya sudah penuh dengan semua permasalahan sejak dulu. Kenapa kenyataan dan takdir yang baik tak selalu berpihak padanya. Kenyataan jika kini mulai berbicara, masih adakah kesempatan untuk memperbaikinya.

Bodoh!. Jika ia tak mengetahui isi dari diary yang diberikan Kwon Yuri beberapa waktu lalu. Seperti puzzle memory masa lalu itu terangkai indah membentuk suatu gambaran nyata. Persetan dengan ingatannya yang sudah kembali atau belum, yang jelas ia hanya ingin mencari masa lalunya berbekal buku harian orang yang dikatakan sebagai suaminya itu.

Ia hanya ingin melampiaskannya. Dengan emosi yang masih belum stabil serta keadaan yang terbilang kacau ia parkirkan mobilnya tepat didepan bar. Wanita itu menghembuskan napasnya keras-keras. Ia tak tahu lagi harus bagimana bertindak, saat kenangan-kenangan masa lalu itu berputar dalam memorinya, ia tak dapat menghindarinya. Bodoh jika ia tidak bisa mengingatnya, saat sambungan-sambungan antara memori itu menyatu.

“7 tahun lalu aku tak membalas perasaan orang yang mencintaiku.” Siwon lirik dulu kearah wajah Yoona. Dia lihat Yoona nampak serius mendengarkan apa yang akan dia ceritakan. Merasa cukup, iapun melanjutkan.

“namun aku terlalu bodoh tak perah menyadarinya. Dan disaat aku tak pernah mempedulikan orang yang mencintaiku. Temanku justru menaruh hati padanya, ia mencintainya. Namun kesalahan karena kebodohanku itu tak sengaja terjadi. Wanita yang menaruh hati padaku justru menyalamatkan nama baikku. Menghindarkanku dari tuntutan seseorang yang memfitnahku. Wanita itu justru mengalami koma beberapa hari, namun dengan rasa ikhlas lelaki itu menyusulku ke bandara untuk hanya sebentar saja menemuinya. Mengabaikan hatinya karena mencintai wanita itu.”

“hingga akhirnya mereka berdua menikah, karena lelaki itu tak sengaja melakukan itu pada gadis itu hingga ia hamil. Namun pernikahan itu terjadi atas keterpaksaan. Setelah putri mereka lahir wanita itu meninggalkannya begitu saja.”

Rentetan kalimat itu jelas masih berputar-putar dalam pikiran Yoona. Saat untuk kesekian kalinya ia baca isi buku harian itu Yoona yakin jika curahan hati mendiang Lee Donghae hampir mirip—bukan hampir tapi sama persis dengan omongan suaminya beberapa bulan lalu—Choi Siwon.

12 Februari 2008

Dia sadar dari tidur panjangnya. Dan yang ia butuhkan adalah lelaki itu. Lelaki yang menjadi cinta pertamanya. Orang yang dicintainya menghindarinya, membawa hatinya yang masih setengah untuk lelaki itu. Ini memang menyakitkan, namun jika ia bahagia. Melepasnya adalah hal yang paling membahagiakan atas nama cinta.

Tidak mungkin..

Senyum miris ia torehkan ketika pada kenyataannya ia memang terlalu bodoh hingga tak mengetahui apa-apa sampai-sampai ia tidak sadar jika selama ini ia tinggal dengan lelaki yang menjadi bagian masa lalunya.

Choi Siwon dan Lee Donghae saling berhubungan dengan masa lalunya. dan bodohnya ia sama sekali tak peka dengan dua kejadian yang secara jelas dapat diartikannya. Lalu sepersekian detik matanya mulai memanas, menahan sesak didada saat ia bisa mengartikan semua ini. Ia tampakkan ekspresi tak percaya dengan semua ini. Sebelah tangan Taeyeon terangkat menutupi mulutnya.

“Tidak mungkin kejadiannya bisa seperti ini.” Isaknya lirih bersama deras air mata yang mengalir dipipinya.

**

“aku memang bodoh… Lee Donghae..kenapa aku baru menyadarinya humm..sebegitu mengerikah dulu aku menjadi wanita iblis yang sering menyakitimu?.” ia tertawa miris dengan tatapan redup ia pandangi botol berisi wine yang tinggal setengah, tangannya masih lincah mengisi gelas lalu menegaknya secara terus menerus. Haruskah ia mabuk hari ini? Omong-omong, dia sudah lama tidak minum. Mungkin alkohol bisa menjadi pelampiasnnya untuk menyelsaikan masalah. Apa sekarang saat yang tepat? Come on! Masa bodoh kalau sekarang bukan saat yang tepat karena dia bisa telat besok karena sakit kepala. Malam ini dia harus melampiaskan pada sesuatu. Apalagi kalau bukan alkohol—alkohol adalah jalan satu-satunya.

“aku wanita jalang yang menghancurkan hidup seseorang…” Ucapya mendesah gusar dengan keadaan yang sudah mulai kacau. Jangan tanyakan dirinya karena apa. Ia sendiri tak tahu apakah masalahnya atau minumannya yang membuat kepalanya terasa berat dan kini ia merasakaan pandangannya mulai mengabur. Tangisan bercampur kekehan miris itu kini menjadi efek dari semua itu posisi terduduk,  ia dapat merasakan kakinya benar-benar terasa lemas sekarang. Perlahan, ia merasakan kelopak matanya terasa berat dan setelah itu semuanya terasa gelap untuk gadis itu. Rasanya ia ingin mengakhiri hidupnya saja jika hidupnya seperti ini.

“Im Yoona?!. Aishh..what are you doing girl on here?. Is it midnight time?. Drunk until dead time?. Arrghh micheoseo!.” Wanita tomboy pemilik bar yang menyerupai lelaki itu berusaha sekuat mungkin untuk menjaga nada suaranya, karena rasanya ia bisa meledak karena amarah sekarang juga. Ia mengguncang bahu Yoona kencang dan membuat wanita itu mengangkat kepalanya.

Dengan tatapan frustasi, wanita itu—Im Yoona meneguk demi tegukan cairan dengan kadar alkohol dengan kadar tinggi untuk menghilangkan semua pikirannya. Dalam sekejap ia merasakan tubuhnya dialiri oleh sesuatu yang asing. Bersamaan dengan rasa itu, ia memejamkan matanya berusaha mengumpulkan semua pikirannya. Salah jika ia belum mengingat sama sekali masa lalunya, tapi picik ia jika memungkirinya. Entah benar atau tidak pikirannya kini, mimpi yang selalu menghantuinya kini menjadi kenyataan.

“oh…Amber…Josephine…Liu?.” ucapnya terbata. Yoona terkekeh sendiri saat dengan remang-remang ia setengah sadar menangkap sosok wajah temannya itu. “mmmmm….Amber-sshi yeogisseo mwohaneungoya(apa yang kau lakukan disini)?.”

“yak!. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu!. Kenapa kau menjadi sekacau ini?!.” Pekiknya jengkel. Wanita itu tak tah haruskah ia iba atau miris melihat sosok sahabatnya dengan kondisi nya kini?. Rambutnya acak-acakan dan kepalanya ia benamkan di kedua tangannya yang terlipat. Di dekatnya terdapat sebuah botol bir yang sudah akan habis.

“amber..hikss..hiksss…i’m stupid girl..aku wanita bodoh, bertahun-tahun aku hidup di Amerika tanpa tahu keadaanku yang sebenarnya…aku mengingatnya Amber Liu..aku ingat..” tangisan bercampur erangan orang mabuk semakin membuatnya frustasi akan hidup yang kini dijalaninya.

Tanpa alasan dan omongan yang berlanjut, gadis keturunan Amerika-Korea-China itu lekas memposisikan dirinya berjongkok di dekat gadis itu. Dan dengan bantuan salah satu pegawainya ia kalungkan tangan Yoona pada pundaknya, menyeretnya keluar. Sementara tas gadis itu, sudah terselempang di tubuh Amber.

“sebegai sahabatmu. Akan ku antar pulang kau Im Yoona-sshii. Aku tak tahu jika kau sekacau ini.” Ia dudukkan Yoona dikursi mobil dengan mendengus pasrah, sementara satu tangan yang lain memegang kendali mobil Im Yoona. Tak mungkin membiarkan Yoona dalam keadaan mabuk seperti ini menyetir.

“amber Liu..jangan mengantarku pulang. Aku masih sadar..” suara serak itu otomatis menurungkan dirinya untuk segera menjalankan mobil, mata Yoona terpejam dengan stir tangan menahan tangan Amber yang kini tengah memegang kemudi hanya bisa pasrah menuruti omongan itu. Perlahan mata itu mulai terbuka Satu tangannya memijat pelan pelipisnya yang masih dirasa berdenyut.

“kau bisa mengantarkanku ke sebuah tempat?. Aku tak ingin pulang.”

Masih coba Yoona kuatkan hatinya, takdir mempermainkannya. Bagaimana tidak seolah dalam sekejap ia merasakan jika ia tak dibiarkan sedikitpun untuk sekedar bernapas. Sejak saat dirinya harus diposisikan pada kenyataan jika kini ia telah sedikit banyak mengetahui masa lalunya. Rasa penyesalan itu memang datang terlambat dan rasanya benar-benar pahit serta menyiksa.

“arrgghh Im Yoona!. Aku heran denganmu beberapa hari terakhir ini hidupmu seperti mayat hidup tak berguna. Kau gila!. Ini jam 3 dini hari dan kau tak ingin pulang, malah pergi ke suatu tempat. Kau…..!.”

“aku mohon..hanya kau yang bisa aku harapkan. Aku tak punya siapa-siapa lagi yang kini peduli padaku. Aku mohon Amber-ah…”

Saat itu juga otak Amber berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Yoona. Meskipun kata-kata itu terucap dengan tak karuan, ia yakin jika kini Im Yoona tengah menghadapi masalah yang cukup besar—terdengar dari ucapannya. “baiklah. Kemana kita?.”

“Gyeonggi-Do. Tempat dimana aku bisa mengingat semua masa laluku.” Lirihnya.

**

Waktu memang seakan cepat berlalu, fajar menyingsing taat kala sinar surya itu mulai sedikit menyeruak. Tak tidur semalaman, wanita itu tak merasakan lelah barang sedikitpun. Tanpa peduli waktu yang hampir menunjukkan pagi, sosok wanita itu masih berdiri ditempatnya, memandang nanar apa yang kini tersaji didepannya. Memori ingatnnya kembali terhubung dengan kenyataan masa lalu yang pernah dilaluinya. Tubuh itu terduduk dengan begitu lemah. Rasanya kini jiwa wanita itu tengah melayang keluar dari raga yang ia miliki. Ia menatap kosong dengan satu tangan yang masih setia untuk menyentuh bagian dadanya yang masih terasa belum percaya akan apa yang baru saja ia dapatkan. Ia menangis sejadi-jadinya merasa begitu jatuh pada dasar yang paling dalam, bahkan ia tak menghiraukan anggapan jika dirinya adalah wanita paling cengeng didunia. Tangisannya terdengar sangat menyakitkan bagi siapa saja yang mendengar.

“hmmm..kau diam berarti jawabanmu masih sama ya?. Ya sudah kalau begitu, berarti aku harus lebih keras lagi berjuan untuk mendapatkan hatimu.”

“aku tahu kau masih mencintainya. Tapi aku akan mencoba sekuat tenaga mendaptkan hatimu.” Dengan senyuman lebar lelaki itu mengepalkan tangannya ke udara memberi dirinya semangat yang membuat wanita didepannya. Lekas lelaki itu berlari dari hadapannya.

“ya!. Donghae-sshi!.”

“apa aku bilang aku menolakmu?!. Kau bodoh!.”

Ia melanjutkan. “bagaimana bisa aku menolakmu jika kini sebagaian hatiku kau yang mencurinya?.

Perlahan kepalanya bergerak untuk menoleh kesisi kiri dimana kini nampak seorang wanita muda yang tak lain adalah Amber yang menungguinya sejak 2 jam yang lalu. Kepalanya kini tertunduk lemah menatap batu nisan bertuliskan nama Lee Donghae tepat didepan matanya. Air matanya yang kini harus kembali ia keluarkan dengan sangat terpaksa setelah ia coba untuk tidak melakukannya lagi, Otaknya masih terlalu sulit untuk menerima itu semua. Dan kini, yang bisa ia lakukan adalah menangis. seiring dengan penyesalan yang datang terlambat .

“Yoong-aah..” sentuhan pelan pada pundaknya membuatnya menoleh sejenak. Hujan di pagi buta belumlah reda, hampir 2 jam ia lihat sosok Yoona yang menangis di depan pusara seseorang yang tak diketahuinya sama sekali.

Tubuh itu mulai bangkit saat ia rasa air matanya sudah kering—hampir tak mau keluar lagi akibat terlalu lelah. Keadaannya sangat kacau rambutnya terlihat sepeti tak pernah dirawat, dan lingkaran hitam dibawah matanya menunjukkan jika wanita itu tengah dialnda masalah yang besar. Langkahnya ia paksakan dengan menyeret kakinya gontai berbalik arah, ia akhiri aktivitas menangis didepan pusara tersebut. Yoona pandang nanar situasi disekitar yang rnya termasuk Amber yang kini tengah memayungi tubuhnya yang basah kuyub kedinginan air hujan. Namun justru wanita itu menepis tangannya tanpa ia mau menolehkan wajahnya barang sedikitpun.

“Jangan sentuh aku. Aku wanita jalang dan biadab.” katanya dingin dan pelan. Ia tepis tangan itu.

“aku mengecewakannya. Aku jahat padanya hingga aku tak tahu jika dia sudah tiada?. Kemana aku selama ini, hingga tak tahu jika pria itu telah tiada?!.” Yoona berteriak histeris, ia lanjutkan langkahnya yang sedikit terseret-seret. Mungkin karena merasa lelah dan kondisi batin wanita itu yang kacau membuat tubuhnya lemas.

“aku mengecewakannya Amber..aku menyia-nyiakan hidupnya hingga ia pergi meninggalkanku tanpa sempat aku meminta maaf.”

Jarak itu semakin jauh dari langkahnya. Ia biarkan Yoona berjalan tanpa tahu pergi kemana arahnya. Tubuhnya yang sudah mulai menggigil karena guyuran hujan harus tetap ia pertahankan ketahanannya saat ia lihat tubuh Yoona ambruk. Dan saat itu juga tubuh gadis bermarga Im itu tak sadarkan dirinya.

*****

TBC

*

*

*

*

Hay Readers… ^-^🙂🙂

maaf banget ya baru bisa publish setelah 3 bulan lebih menghilang dari dunia Maya..kekekeke.. maklum uda semester akhir ujung-ujungnya sibuk magang sm KKN #CURHAT #PLAKKK

akhirnya selesai juga part amburadul kaya begini #tariknapassamalapingus😄

Aku harap part ini bisa membuka tabir masalah Yoona-uri dimasa lalu, dan readers enggak berbondong-bondong tanya flashbacknya ke author kerena author sendiri masih bingung mau bikin flashback yang kaya gimana #hufft..

Thanks Banget ya para Clouds, Inspirit, Myungzy Shipper yang uda inspirasi banget tulisannya..Luv You Gaess.

Maaf banget ya aku PW part ini, soalnya silent readers semakin meraja lela,

Author harap banget kalian bisa ngasih komentar yang membangun buat penulisan next part..

Password sudah saya buka karena saya sendiri pusing dengan sms yang masuk dan banyak tanya buat naggepinnya. terserah mau dikomen ato enggak itu hak pribadi masing-masing, sudah pada dewasa jadi saya tahu anda pasti punya kritik dan saran. dan untuk next part semakin banyak siders maka aku enggak bisa janjiin kapn publishnya solanya saya sendiri masih bisa lanjut atau enggaknya masih ragu.

So, 60 Komentar Gak memberatkan kalian buat lanjut ke next part kan🙂

see you gaeesss…Luv You❤❤❤❤

61 thoughts on “Because It’s You (Saranghae) Part 10 B

  1. Auhor , knpa ff yng ‘pray for love part 3’ , gk d’lnjut ? Pdhal kan ff nya bguss , pliss d’lnjut dong aku pnasaran sma klanjutan nya😉

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s