[Chapter 2] Another Cinderella Story

Another Cinderella Story

“This is not Disney’s Cinderella anymore.”

by Shinyoung

Main Cast: Bae Suzy & Lee Junho || Support Cast: Ok Taecyeon, Lee Jieun || Genre: School Life, Drama & Romance || Length: Chapter 2/? || Rating: T || Credit Poster: Jungleelovely at Poster Channel || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2014 by Shinyoung.

Chapter 2 — New School

Prologue | 1

*

Berkali-kali jam alarm-nya berdering, namun ia tak kunjung bangun juga. Tangannya bergerak-gerak meraba jam ponselnya yang terus saja berdering karena panggilan alarm. Ia menguap lebar sambil mengucek matanya ketika ponsel sudah berada di tangannya. Matanya mengerjap berkali-kali untuk menyesuaikan pandangannya. Dilihatnya waktu yang sudah menunjukkan jam 7:30.

“Sial!”

Ia merutuki dirinya dan melempar ponselnya ke arah tempat tidur setelah ia menyibakkan selimutnya lalu bangkit dari tempat tidur. Buru-buru, ia menuju kamar mandi untuk menggosok giginya dan juga membasuh tubuhnya. Setelah selesai, ia segera mengenakan seragamnya bruu-buru. Dengan cepat, ia menyambar tas sekolahnya dan tak lupa kunci mobilnya.

Tak lama kemudian, ia sudah rapi dengan rambut yang ia jalin seluruhnya. Beberapa pelayan tampak kebingungan karena ia sudah menyambar roti yang ia gigit. Bahkan, ia tidak menyapa ayahnya yang sedang membaca koran. Lalu, ibunya yang baru saja keluar dari dapur menatap anaknya heran karena sudah memakai sepatunya.

YA! Lee Jieun!” Ibunya berteriak, namun anaknya sudah melengos pergi tanpa menoleh sedikitpun ke arah orang tuanya. Ibunya menggeram dan setelah itu ia menoleh ke arah suaminya. “Anakmu tidak tahu sopan santun!”

“Memangnya ini jam berapa sih? Kenapa dia buru-buru?” Suaminya menutup koran, kemudian ia menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 kurang 15. Mulut laki-laki tersebut langsung ternganga. “Bagaimana bisa anak itu sampai sekolah dalam waktu 15 menit?!”

Sang istri menepuk keningnya dan mengangguk mengerti. “Pantas saja dia buru-buru. Salahkan dia sendiri karena tadi malam dia menonton drama korea kesayangannya dulu,” ujar wanita itu. “Aku tidak akan membangunkannya sampai dia bangun, toh itu kewajibannya.”

“Kau benar, yeobo,” kata suaminya membenarkan perkataan istrinya. “Lee Jieun harus menjadi penerus keluarga ini, jadi dia harus disiplin. Tidak ada gunanya membangunkannya terus-terusan, dia tidak akan mandiri nantinya.” Si suami melipat koran dan memasukkan koran tersebut ke dalam tasnya.

Sedangkan itu, anak sepasang suami istri tersebut sudah kebut-kebutan di jalan tanpa peduli beberapa mobil memberikannya peringatan untuk berhati-hati. Sampai-sampai, ia hampir menabrak kucing yang akan menyebrang, namun dengan baik hati ia membiarkan kucing tersebut menyebrang. Waktunya tinggal 10 menit lagi sebelum bel dibunyikan.

Ia tidak mau membiarkan dirinya dihukum hanya karena tadi malam ia menonton drama korea ‘Three Days’ sampai larut malam. Itulah kesalahan fatalnya. Jika ia beraktifitas sepanjang hari, keesokan harinya pasti dia akan terlambat. Bodohnya dia, ia merutuki dirinya sendiri sambil terus mengklakson mobil-mobil yang menghalangi jalannya.

Kemacetan yang menghalanginya, membuatnya semakin tidak sabar padahal dia sudah sampai di Cheongdam-dong, tapi kemacetan menjalar dan memadati jalan yang menuju ke SHS (Seungri High School). Ia mengetuk-ngetuk setirnya beberapa kali.

Argh!”

Ia menoleh ke arah jam kecil yang diletakkan diatas dasbor mobilnya. Jawabanya adalah jam digital itu sudah menunjukkan pukul 7:58. Dua menit lagi tersisa baginya. Tepat saat itu, kepadatan mobil-mobil mulai berkurang dan dengan cepat ia menekan klakson mobil sedan hitam bermereknya itu.

Beberapa mobil sempat memberinya jalan, namun waktu adalah waktu. Dia tidak akan memberikan beberapa detik terakhir bagi seorang Lee Jieun. Saat mobilnya tinggal beberapa meter lagi sampai di depan gerbang sekolah, penjaga sekolah sudah menutupnya duluan. Ia melirik jam digitalnya yang menunjukkan 8:01. Ia telat satu menit.

Akhirnya, ia keluar dari mobilnya setelah ia memarkirkan benda itu di depan gerbang sekolah. Ia menatap sang penjaga sekolah dengan mata meminta agar dikasihani. Laki-laki tua itu menggelengkan kepalanya berkali-kali, entah menolak permintaan Jieun atau tidak tahu mau berkata apa soal Jieun.

“Lee Jieun, dengar ya,” kata laki-laki tersebut. “Aku bahkan baru pertama kalinya melihatmu datang ke sekolah seterlambat ini. Katakan yang sejujurnya, kenapa kau bisa terlambat? Sayang sekali kau terlambat sekitar 1 menit.”

Lee Jieun mendesah pelan. Kemudian, ia menggosok-gosokkan tangannya sambil menghembuskan nafas panjang-panjang. “Oke, aku jujur. Aku menonton drama korea semalam. Jadi, aku terlambat. Aku sudah jujur. Jadi, apa aku boleh masuk?”

Laki-laki tersebut mengarahkan telapak tangannya kepada wajah Jieun, seolah-olah ia ingin menutup pembicaraan ini. “Parkirkan dulu mobilmu, setelah itu kita bisa membicarakan tentang hal ini baik-baik. Aku tidak mau mobilmu menghalangi jalan mobil milik Tuan Bae.”

“Siapa Tuan Bae?”

“Masukkan dulu, Lee Jieun.”

Akhirnya, dengan penuh kepasrahan, Jieun kembali ke dalam mobilnya. Lalu, ia memasukkan mobilnya ke dalam halaman sekolah setelah penjaga sekolah itu membukakan gerbang untuknya. Ia keluar dari mobilnya setelah ia memastikan bahwa ia sudah membawa barang-barangnya. Setelah itu, ia kembali ke arah pos penjaga sekolah itu.

Gadis itu menatap si penjaga sekolah lagi dengan tatapan memohon agar ia dibiarkan masuk. “Ayolah. Aku ingin belajar. Aku sudah tertinggal 15 menit pelajaran Sastra.”

Penjaga sekolah itu menekan sebuah tombol pada telepon gagangnya. Jieun ingin berteriak menghentikan penjaga sekolah tersebut, namun sayang telepon tersebut sudah diangkat. Penjaga sekolah itu mengeraskan suara teleponnya sehingga Jieun bisa mendengarnya. Jieun sangat tahu bahwa penjaga sekolah ini pasti sedang meminta Guru Kang untuk menghukumnya.

Tidak ada namanya tanpa hukuman jika sudah berhadapan dengan Guru Kang memang bertugas untuk memberikan detensi bagi murid-murid yang bermasalah dengan kedisiplinan. Sebab itu lah Guru Kang selalu terlihat tampak menyeramkan di mata murid-murid, walaupun Jieun selalu menolak pendapat murid-murid itu.

Halo?” ujarnya di ujung sana dengan nada yang keras. Suara Guru Kang membuat tubuh Jieun bergetar ketakutan. Dibalik suaranya itu, Jieun bisa menangkap bahwa guru tersebut memiliki masalah dengan tenggorokannya. Pasti.

Penjaga sekolah pun berdeham pelan. “Ada murid bermasalah disini. Dia Lee Jieun. Terlambat satu menit.”

Baiklah, aku akan segera kesana. Tunggu dalam 10 detik,” jawab guru itu, lalu menutup sambungan telepon secara sepihak padahal si penjaga sekolah ingin mengatakan sesuatu.

Ketika mendengar bahwa Guru Kang menjanjikan dirinya akan datang dalam 10 detik, Jieun langsung mulai berhitung. Ia berhitung mundur dari 10. Jieun tidak bisa membenci guru itu, kenyataannya ia kini terkagum-kagum saat ia menghitung angka 1, Guru Kang sudah berada di luar gedung sekolah.

Pria itu menyebrangi lapangan yang menghubungkan gedung sekolah dengan gerbangnya. Ia menatap Jieun dengan mata berkilat-kilat yang menandakan bahwa ia siap menerkam gadis itu dan mencabik-cabiknya menjadi potongan kecil—sama seperti ketika seekor singa yang ingin menerkam mangsanya karena mangsanya itu terus-terusan menggodanya.

Jieun bergidik ngeri ketika ia membayangkan bagaimana dirinya dicabik-cabik oleh pria itu. Mungkin saja, Guru Kang adalah setengah srigala yang menyamar sebagai guru di sekolahnya itu. Jieun terkekeh sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sudah berpikiran yang tidak-tidak sekarang.

“Ada apa kau tertawa, Murid Lee Jieun?”

Jieun langsung gelagapan. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal karena dia tidak tahu mau menjawab apa. “Aku hanya membayangkan sesuatu yang lucu tentang idolaku. Maafkan aku, Guru Kang.”

“Lupakan,” ujar guru itu tajam. Kemudian ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menatap Lee Jieun dalam-dalam seolah meneliti wajahnya. “Alasan kau terlambat? Aku tidak ingin kau berbohong dan aku ingin kau menjawab sejujur-jujurnya. Tidak boleh ada yang tertinggal secuil pun. Aku bisa tahu gerak-gerikmu jika kau berbohong.”

Jieun mendengus sepelan mungkin. “Tidak ada yang tertinggal secuil pun? Termasuk cerita ketika aku sedang mandi, Guru Kang?” tanyanya. “Apa aku harus menceritakannya juga?”

YA!” Guru itu langsung melotot marah. Ia menyentil kening gadis itu dan Jieun langsung meringis pelan sambil menggosok-gosok keningnya yang kini mulai berwarna merah. “Sekarang ceritakan!”

“Aku tadi malam menonton drama korea dan aku tidur malam. Tadi pagi aku bangun telat,” jelas Jieun. “Aku tidak berbohong dan aku tidak melewatkan secuil pun. Sesuai dengan yang kau inginkan, Guru Kang. Sekarang, apa hukumannya? Aku mau masuk kelas secepatnya.”

Guru Kang memberikannya tatapan membunuh. “Kau ini benar-benar ya, Lee Jieun. Tapi yasudahlah, aku tidak mencium gerak-gerik kebohonganmu. Sekarang, aku memintamu untuk melakukan push up 100 kali di depanku. Aku tidak mau kau berhenti untuk istirahat, tapi kalau minum, aku mengizinkanmu.”

“Baik,” kata Jieun percaya diri. Ia tergelak di dalam hatinya karena Guru Kang tidak tahu bahwa di rumahnya jika ia sedang tidak ada pekerjaan, ia sering melakukan push up, back up, sit up, dan scout jump. Ia meletakkan tasnya di samping pintu pos penjaga sekolah, lalu mulai melakukan push up-nya.

“Nona muda,” panggil seorang pelayan yang membuat Suzy terlonjak kaget. Sebenarnya, ia masih tidak terbiasa dengan panggilan ‘nona muda’ yang diperuntukkan padanya.

“Ada apa?” tanya Suzy sambil menyisir rambutnya, lalu ia menoleh sekilas ke arah ambang pintu dimana pelayan tersebut berdiri. “Dan aku tidak mau dipanggil ‘nona muda’.”

“Maaf, Tuan memanggil Nona.” Pelayan tersebut tidak menanggapi komentar yang berasal dari mulut Suzy. Mungkin, karena memang seharusnya ia memanggil Suzy sebagai ‘nona muda’. “Tuan ada di ruang kerjanya.”

Setelah pelayan itu pergi, Tiffany masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk—pintu kamar Suzy dibiarkan terbuka—dahulu. Suzy menoleh ke arah Tiffany dan menatapnya dengan wajah penuh tanya.

Tiffany terkekeh pelan. “Kau harus bertemu dengan ayahmu sekarang, Suzy. Ada yang ingin dibicarakannya tentangmu dan ini adalah hal penting. Kau harus memutuskannya hari ini juga.”

Suzy menyelipkan sebuah jepitan rambut di sela-sela rambutnya yang kemungkinan akan terjatuh ke bawah menutupi telinganya. Gadis itu bangkit dari kursi yang berhadapan dengan meja riasnya. Lalu, ia mengambil tas punggungnya yang berisi buku-buku baru.

“Memangnya begitu penting?”

“Sangat.”

Dengan helaan nafas panjang, Suzy memutuskan untuk menemui ayahnya. Karena bentuk dari rumah ini yang begitu luas, terkadang membuat Suzy merutuki dirinya karena jarak antar ruangannya sangat jauh. Bukan itu saja, jumlah anak tangga yang berada disana benar-benar membuat Suzy semakin ingin menyumpah-nyumpah pada rumah itu.

Sebelum melangkah masuk, Suzy mengetuk pintu ruangan kerja ayahnya.

Baru saja ia ingin melakukan untuk yang ke-28 kalinya, sebuah mobil limousine besar membuat klakson di depan sana. Cepat-cepat, Guru Kang dan Jieun langsung menyingkir. Mereka berdiri di pinggir pos penjaga sekolah. Lalu, si penjaga sekolah membukakan pagarnya lebar-lebar.

Mobil limousine hitam berkilat yang jendelanya ditempeli stiker hitam agar tidak terlihat itu memasuki halaman sekolah dan membuat Lee Jieun ternganga lebar. Begitupula dengan Guru Kang yang ikutan terheran-heran, sampai ia lupa dengan Lee Jieun yang tadi dia hukum.

Pemandangan itu, membuat Jieun menggelengkan kepalanya tak percaya. Bahkan, anak dari pemilik sekolah tidak pernah membawa mobil, ia justru membawa motor besar yang membuat anak-anak takut.

“Lee Jieun, lanjutkan push up-nya. Kau sudah mengerjakan 28 kan?” tanya Guru Kang memecah keheningan. Jieun mengangguk semangat, ia tidak mau berlama-lama disini toh ia harus masuk ke dalam kelas. Cepat-cepat, ia melanjutkan push up-nya.

Namun, matanya mencoba melirik ke arah kiri dimana mobil limousine itu menurunkan penumpangnya. Ternyata seorang pria dengan jas hitam yang tampaknya berumur 40 tahunan dan juga seorang gadis cantik. Jieun terus melanjutkan push up-nya sambil memperhatikan gadis itu.

Gadis itu memiliki rambut panjang yang menutupi punggungnya. Rambut panjang itu tebal dan berwarna hitam kecoklatan. Rambutnya tampak terawat dan juga ada poni yang menutupi kening gadis itu. Bulu matanya yang lentik dan alisnya yang cukup tebal. Hidungnya lumayan mancung untuk ukuran keturunan Korea dan bibirnya yang tipis namun sedikit tebal dibagian bawahnya membuat gadis itu semakin cantik dan mendekati batas sempurna.

Tentu saja, tidak ada yang sempurna selain Tuhan, kan?

Si penjaga sekolah cepat-cepat menghampiri pria yang berjas itu. Ia membungkuk pelan dan ia menatap pria itu. “Tuan Bae, bukan?”

“Lee Jieun, kau sudah menyelesaikan push up-mu untuk yang ke 70 kalinya. Apa kau tidak merasa lelah?” tanya Guru Kang akhirnya. Padahal sebenarnya laki-laki itu hanya ingin menggertak Jieun, namun Jieun tampaknya santai-santai saja dengan hukumannya.

Jieun menghentikan push up-nya dan mengangkat kepalanya agar bisa melihat Guru Kang. “Tidak,” kata Jieun. “Aku bisa menyelesaikannya sampai berapapun agar aku bisa masuk ke kelas secepatnya. Aku sudah tertinggal 20 menit.”

“Lee Jieun!” panggil penjaga sekolah.

Gadis itu langsung menoleh dan ia bangkit dari posisinya. Ia menatap penjaga sekolah itu bingung. “Ada apa? Apa aku harus menambah hukumanku atau bagaimana? Aku mau masuk kelas,” katanya marah. “Aku tidak mau menambah hukuman Cuma karena aku telat satu menit.”

“Bukan itu, Lee Jieun,” kata penjaga sekolah. “Tuan Bae ingin kau mengantar anaknya masuk ke kelasnya. Dia berada di kelas yang sama denganmu dan mulai hari ini dia akan sekolah disini.”

Mata Jieun melebar, kemudian ia membalikkan badannya untuk melihat Guru Kang yang sudah memegang tas sekolahnya. Guru itu menyerahkannya kepada Jieun sambil mendesah berat. “Aku pikir sebaiknya kau masuk ke kelas. Aku tidak akan mengurangi nilaimu karena kau sudah melakukan yang terbaik.”

Guru Kang pun pergi meninggalkan gadis itu setelah Jieun menerima tas sekolahnya. Ia menyandangkannya di bahu kanannya dan menatap gadis yang notabene dijuluki murid baru itu. Ia menatapnya dari atas sampai bawah. Bisa Jieun tebak bahwa gadis itu baru saja membeli seragamnya kemarin.

Gadis itu berdeham pelan dan menatap Jieun sedikit kesal. “Ayo,” katanya. “Mau antarkan aku atau tidak? Kalau tidak, aku bisa pergi sendiri. Toh, sekolah ini tidak seluas hutan kan?”

“Aku antar,” kata Jieun akhirnya. Kemudian ia berjalan duluan dan gadis itu mengekorinya dari belakang dengan sedikit marah. Walaupun, sebenarnya Jieun tahu bahwa gadis itu marah pada ayahnya karena telah meninggalkannya bersama Jieun—yang tidak dikenalnya sama sekali.

Bae Suzy terseok-seok berjalan di belakang Lee Jieun dengan tas yang ia sampirkan di bahu kanannya. Ia marah pada ayahnya karena ia tidak mengenal Lee Jieun yang daritadi menggumamkan lagu. Gadis itu tampaknya periang, Suzy ingin menyapa gadis itu, namun ia langsung mengurungkan naitnya begitu mengingat bahwa ia hanyalah murid baru.

Akhirnya, Suzy berdeham pelan dan gadis itu menolehkan kepalanya sambil tersenyum. Dengan berusaha semaksimal mungkin, Suzy menahan senyumnya dengan tatapan marah. “Yang benar saja, aku dibiarkan di belakangmu?”

Gadis itu tertawa. “Kau ingin berkenalan denganku, bukan?”

Spontan, Suzy langsung melebarkan matanya karena gadis itu bisa mengetahui jawabannya. Ia menatap gadis itu tidak percaya. Bagaimanapun, dia kan sudah berusaha semarah mungkin. Atau memang aktingnya tidak bagus, karena itulah Jieun bisa mengetahuinya.

“Ayolah!” kata gadis itu sambil merangkul Suzy. “Namamu siapa? Kau pasti sudah tahu namaku kan?” tanyanya dengan senyum manisnya. “Kau pasti orang terkaya yang pernah ada!”

“Bukan aku yang kaya, Lee Jieun-ssi. Ayahku lah yang memiliki segalanya,” ucap Suzy sambil tersenyum tipis, akhirnya. Ia tidak bisa menahan aktingnya dan ia menyetujui perkataan Jieun soal dirinya yang ingin berkenalaan. Tapi, dia tidak bisa langsung berkenalan, bagaimanapun dia baru mengenal Jieun.

Dia tahu bahwa ia tidak bisa mempercayai Jieun. Ia baru disini dan ia tahu bagaimana rasanya jika seorang teman baru yang ternyata berteman denganmu hanya karena uangmu banyak. Suzy menghela nafas panjang dan ia harus menahannya dulu sampai ia tahu kalau Jieun adalah teman yang sebenarnya bukan teman yang memanfaatkannya.

Apalagi, menusuk dari belakang.

“Namamu siapa?” tanya Jieun lagi. “Kau belum menyebutkan namamu! Itu tidak adil dan kau kenapa tidak memakai papan namamu? Disini diwajibkan untuk memakai papan nama.”

“Aku murid baru, Lee Jieun-ssi,” kata Suzy. “Aku tidak akan dihukum karena aku belum sempat memesannya. Mungkin, setelah pulang nanti aku baru mau memesannya.”

“Mau aku temani?” tawar Jieun. “Namamu! Astaga, kau belum menyebutkan namamu sejak tadi. Aku heran, kenapa kau tidak mau menyebut namamu. Apa kau ini agen rahasia?”

Suzy ingin tertawa namun ia tidak bisa. Ia harus menjaga aktingnya dan ia merutuki dirinya sendiri. Padahal, ia hanya menyebutkan namanya, namun itu selalu terasa susah di bibirnya. Sampai akhirnya, ia tidak bisa menyebut namanya ketika mereka sudah tiba di depan kelas.

“Ayo, masuk,” kata Suzy menyuruh Jieun. “Kau yang bersekolah disini lebih lama dariku, jadi kau harus masuk duluan. Lagipula, aku kan murid baru dan aku tidak punya hak untuk itu.”

Jieun mendengus pelan kemudian membuka pintu kelas dan seluruh murid menatap kehadirannya dengan mulut ternganga karena gadis itu tidak pernah sekalipun terlambat datang ke sekolah. Di belakang Jieun, Suzy merutuki dirinya karena ia harus masuk ke kelas baru.

Gadis itu menggertakkan giginya dan masuk ke dalam setelah Jieun menjelaskan bahwa ia terlambat pada guru laki-laki yang dipanggil Jieun sebagai Guru Jung. Guru Jung hanya mengangguk dan membiarkan Jieun duduk di kursinya. Rupanya, gadis itu duduk di barisan paling depan.

Seluruh muridnya duduk sendiri-sendiri dan bangku yang kosong hanya ada di barisan paling belakang dekat jendela kelas yang mengarah ke luar sekolah. Suzy mendesah berat. Ia pun menatap Guru Jung sambil menyerahkan berkas-berkas yang dibawanya.

“Oh, kau murid baru itu,” kata Guru Jung. “Aku adalah wali kelasmu. Jadi, silahkan perkenalkan dirimu sekarang dan secara singkat. Kalau ada yang mau bertanya silahkan tapi jangan bertanya yang aneh-aneh. Terutama kau,” ujar Guru Jung tajam sambil menunjuk seorang laki-laki. “Jang Wooyoung.”

Bae Suzy menatap pergerakan mata Guru Jung yang mengintimidasi seorang laki-laki yang duduk di barisan paling belakang. Tepat disamping bangku kosong itu. Laki-laki itu tampaknya santai-santai saja dengan tatapan marah dari Guru Jung. Ia hanya mengangguk menanggapinya.

“Halo,” kata Suzy pelan. “Namaku Bae Suzy. Terimakasih.”

“Kau anaknya Bae Seungjoon?”

“Iya,” jawab Suzy mantap.

Tak lama kemudian, murid-murid mulai saling berbicara sepelan mungkin. Ia yakin bahwa sekarang mereka tengah membicarakannya karena ia tahu ayahnya adalah pengusaha hebat yang terkenal di Korea. Suzy menatap Guru Jung yang mengangguk dan menyuruhnya untuk duduk di bangku yang tersisa. Bagus, sekarang ia duduk di paling belakang.

Ia mengeluarkan buku sastranya dan mulai mencatat apa yang sedang diterangkan oleh Guru Jung. Sedangkan itu, disampingnya—Jang Wooyoung—tengah asik mengunyah permen karet. Bahkan, laki-laki itu sempat menawarkan Suzy. Namun, dengan halus ia menolak bahwa ia punya permen karet sendiri. Sebenarnya, Suzy ingin mengatakan alasannya menolak itu karena memakan permen karet di kelas itu tidak baik.

Tapi, ia memilih untuk membungkam alasan itu rapat-rapat dan memikirkan alasan lain yang tidak menyinggung perasaan laki-laki tersebut. Sesekali, Jang Wooyoung bercerita kalau dia tertarik pada Lee Jieun dengan bisik-bisik dan Suzy menanggapinya dengan senyuman tipis. Beberapa kali, Suzy mengangguk sambil mencatat.

Ia ingin menyudahi pembicaraannya dengan Wooyoung, namun ia lagi-lagi merasa bahwa ia bisa menyinggung perasaan laki-laki tersebut. Ia tidak ingin ia ketahuan oleh Guru Jung hanya karena ia berbicara dengan laki-laki yang satu ini. Pelajaran Guru Jung diakhiri dengan suara bel yang menggema di seluruh penjuru sekolah.

Laki-laki itu mencengkram kerah seragam murid berkaca mata itu. Laki-laki itu tersenyum sangar untuk menunjukkan gigi-giginya yang rapi. Ia mengeratkan cengkramannya pada laki-laki berkacamata itu. Sesekali, sang pemilik kacamata mengerang karena butuh oksigen, namun laki-laki yang mencengkramnya justru mengeratkan.

Ketika laki-laki itu perlahan melepaskan cengkramannya, ia mendorong laki-laki itu menuju loker sekolah dan terdengar suara debuman yang keras karena tubuh si kacamata bertabrakan dengan pintu loker. Beberapa anak yang berlalu lalang mencoba tidak menggubris pemandangan itu.

Menurut mereka, semua itu sudah menjadi hal yang sangat biasa dan bukan lagi pemandangan yang harus semua orang membantu mereka. Kalaupun, mereka membantu, yang ada mereka jugalah yang terkena ancaman.

“Lee Jieun,” ujar Suzy yang kebetulan lewat disana. “Kenapa kau terus mengikutiku? Apa kau tidak punya teman lain? Aku benar-benar ingin sendirian dan kau hanya akan mendapatkan masalah jika berteman denganku.”

Lee Jieun tersenyum kecil. “Aku tahu kau pasti membutuhkan teman. Ayolah, kita bisa ke kantin bersama!” ajak Jieun semangat. Lalu, ia menunjuk laki-laki yang tengah ribut-ribut itu. “Itu adalah Ok Taecyeon. Dia adalah anak dari pemilik sekolah ini dan kau tahu, dia sering menindas murid-murid. Kau harus berhati-hati”

“Aku tidak peduli,” kata Suzy sambil menggeser layar iPad-nya. Suzy membuka aplikasi ‘Daum Naver’. Saat itu juga, ia melebarkan matanya ketika melihat judul artikel yang paling banyak dibaca disana. Ia ingin mengumpat, namun mengingat ada Jieun disampignya, ia kembali membungkam.

Dengan judul ‘Bae Seung-Joon dan Anaknya’, tentu saja akan menarik perhatian pembacanya. Bahkan disana disebutkan bahwa Suzy menghilang begitu saja saat ia kecil dan ditemukan di panti asuhan. Suzy sedikit berterimakasih, setidaknya soal ‘pembuangan’ dirinya itu tidak disebutkan oleh ayahnya. Ayahnya pasti bekerja keras untuk membohongi para wartawan yang menurutnya sinting.

“Ada apa?” tanya Jieun sambil menarik kursi dari meja kantin sekolah. Jika bisa diuraikan, kantin ini merupakan kantin yang bersih dan benar-benar teratur. Bahkan, murid-muridnya juga mengantri dengan tertib.

Suzy mengangkat kepalanya. “Untuk apa kau disini?”

“Lihat,” ucap Jieun sambil menunjuk semua kursi yang sudah diduduki oleh murid-murid dan tak ada satupun yang Suzy kenal. “Semua kursi sudah penuh. Tidak mungkin bagiku untuk duduk di bawah seperti gelandangan. Jadi, lebih baik aku duduk disini daripada nanti ada seseorang yang mengganggumu. Terutama, Jang Wooyoung.”

Suzy hanya mendengus. “Aku tidak peduli soal itu dan aku harap kau tidak menempel padaku lagi, aku benar-benar kehabisan akal saat kau berada di dekatku terus menerus.”

“Aku akan terus menggentayangimu jika kau tidak mau berteman denganku.”

Suzy mengerutkan keningnya. “Memangnya kau yang memutuskan dengan siapa aku berteman? Bahkan, ayahku tidak pernah memaksaku untuk berteman dengan ini atau itu.”

Jieun hanya tertawa pelan menanggapi perkataan tersebut. Padahal, Suzy menatapnya marah—mata  yang berkilat-kilat, bibir yang melengkung ke bawah, dengusan nafas yang terdengar kuat—akibat gadis itu masih duduk manis diatas kursinya.

“Kau menindas murid lagi?”

Suara itu membuat badan murid laki-laki yang tengah memukuli seorang murid itu berbalik secepat detik berganti. Laki-laki penindas itu tersenyum kecut, lalu ia mengusir keringat yang menjalari lehernya. “Apa pedulimu, Lee Junho?”

“Apa peduliku?” Junho tertawa sinis. “Aku adalah ketua murid, jadi aku berhak memberimu hukuman karena kau telah menindas murid-murid yang tidak bersalah, Ok Taecyeon. Terutama, kau adalah pemilik dari sekolah ini. Tidak sepantasnya kau menindas mereka.”

Taecyeon mendengus kesal, walaupun ia menampilkan gigi-giginya. “Benarkah itu tidak pantas? Lalu apa yang pantas untukku? Duduk diam di kelas dan berpura-pura menjadi murid teladan? Apa kau tidak takut jika ayahku akan mengeluarkanmu dari sini setelah memberiku hukuman?”

Junho tersenyum tipis. “Aku tidak takut.” Ia menunjukkan sebuah kertas panjang dengan tulisan berderet yang tak bisa terbaca oleh Taecyeon karena jarak antara mereka jauh. Namun, jauh dibawah deretan tulisan itu tertera sebuah tanda tangan yang bisa Taecyeon kenali.

“Ah,” ujar Taecyeon. “Jadi kau sudah mendapatkan izin dari ayahku untuk menghukumku kapanpun itu? Selamat, Lee Junho. Sekalian saja, kau jadi anak angkat ayahku. Cih, jadi saudara tiriku.”

Entah bagaimanapun Taecyeon berusaha menyindir Junho, tak akan ada yang berubah diantara mereka. Junho menurunkan kertas tersebut lalu ia tersenyum setipis mungkin. “Jadi, hukumannya adalah membersihkan toilet.”

“Semudah itu?” Taecyeon tersenyum mengejek ke arah Junho, lalu ia melirik ke arah murid yang tadi ditindasnya. “Pergi kau, menganggu saja,” usirnya. Murid laki-laki tersebut hanya mengangguk dan langsung menyambar tasnya dan pergi meninggalkan mereka.

Junho tertawa. “Begitukah caramu mengusir seseorang yang telah kau tindas?”

“Apa urusanmu soal caraku mengusir murid itu?”

“Kalau begitu, hukumanmu berubah.” Junho melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Silahkan bersihkan toilet dan bersihkan halaman depan di dekat gerbang sekolah dan bantu juga penjaga sekolah untuk menunggui murid-murid yang sering datang terlambat. Cukupkah itu bagimu?”

“Sial.”

Ketika bel sekolah berdering ke seluruh sekolah, murid-murid di kelas 2-3 langsung membereskan buku-buku mereka. Setelah mengucapkan salam pada Guru Jung, murid-murid pun berhambur keluar dari kelas tak terkecuali Bae Suzy. Begitupula dengan Jieun yang juga sudah siap dengan tas punggungnya.

Ponsel Suzy berdering saat Jieun hendak menyapa gadis itu. Buru-buru, Suzy merogoh ponselnya lalu menerima panggilan ponsel itu. Didekatkannya ponsel miliknya ke arah telinga, lalu mendengar suara-suara gemerisik yang membuat telinganya merespon dengan tidak baik.

“Halo, Tiffany?”

Aku di depan sekolah. Ayo, sebaiknya kita segera ambil papan nama yang sudah aku pesankan.

Suzy membulatkan bibirnya walaupun ia tahu bahwa Tiffany tidak dapat melihat ekspresi terkejutnya. “Arasseo, jawab Suzy akhirnya kemudian memutuskan sambungan teleponnya dan melangkah menuju pintu utama sekolah.

Ketika melihat mobil limousine hitam yang sudah terparkir rapi di dekat gerbang, ia pun membatin. Terutama saat melihat Tiffany dengan cantiknya berdiri di dekat mobil tersebut lalu melambai ke arah Suzy. Tawa khas miliknya muncul ketika melihat wajah Suzy yang tampak sebal.  Beberapa murid memperhatikan Tiffany yang tentu saja menarik perhatian.

Tiffany yang merupakan keturunan Amerika dan Korea tentu saja memiliki rambut kecoklatan bergelombang yang indah. “Suzy-ya!” sapanya saat Suzy sudah hampir dekat dengannya. Gadis muda itu merangkul Suzy lalu tersenyum tipis ke arahnya. “Bagaimana dengan sekolahmu hari ini?”

“Begitulah, tidak terlalu menyena—“

Eo? Tiffany unnie?!”

Baik Suzy maupun Tiffany langsung menoleh ke belakang dan mendapati Lee Jieun tampak terkejut berdiri di belakang mereka. Matanya membulat seketika mendapati bahwa yang dipanggilnya benar-benar Tiffany. Kontan, Tiffany langsung melebarkan matanya dan menyadari bahwa yang dilihatnya bukanlah ilusi, ia pun memeluk Jieun erat-erat.

Sesaat setelah keduanya merasa cukup baik, Tiffany dan Jieun saling melepaskan pelukan mereka. Kemudian, keduanya tertawa pelan. “Oh, bagaimana kabarmu, Unnie? Ah, tentu saja kau sangat baik saat ini melihat wajahmu yang begitu ceria. Tidak ada isu bahwa kau merasa sedih, bukan?”

Tibat-tiba, air muka Tiffany langsung berubah dan segalanya dapat dibaca oleh Suzy. Namun, Suzy tidak tahu apa maksud dari eskpresi tersebut. Entah percampuran antara sedih, kesal, dan menahan amarah. “O—Oh, tentu saja. Bagaimana dengan kau sendiri, Jieun? Apa kau baik-baik saja?”

“Iya, aku baik-baik saja. Begitu juga dengan Oppa. Dia—dia pasti merindukanmu, Unnie. Tolong sesekali kunjungi dia. Dia juga ingin dikunjungi seperti penghuni lain,” kata Jieun dalam suara yang sangat pelan. Dengan takut, ia melirik ke arah Tiffany.

Mungkin jawaban yang diharapkan oleh Jieun tidak akan perah dikabulkan oleh Tuhan karena Tiffany menggeleng pelan. “Maafkan aku, tapi aku tidak bisa—aku belum cukup kuat untuk mengunjungi makam Donghae.”

To be Continued

November 19, 2014 — 10:00 P.M.

42 thoughts on “[Chapter 2] Another Cinderella Story

  1. Donghae disini jadi siapannya tifany ya???
    jieun pengen temenan ama suzy jieun jga ga punya temen ya. Hehe

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s