[FF Freelance] Words from A Friend (Oneshot)

Words from a Friend

Words from a Friend

Byun Baekhyun, Luhan

Author: hanjeyoo | Genre: Friendship | Length: Oneshot | Rating: T

Poster: Gotou

Luhan mengatakan satu kalimat yang tak Baekhyun mengerti suatu hari dikala ikatan pertemanan mereka mulai terajut. Ketika Baekhyun tahu apa maksud dari kalimat itu, ia pun berjanji tak akan melupakannya seumur hidup.

.

Seoul, 2009

Baekhyun menutup resleting kopernya dan meletakkan barang itu di samping lemari pakaian. Ia saling menepukkan kedua telapak tangannya dan menghela napas lega, akhirnya selesai juga perkerjaan yang satu ini.

Lalu pandangannya teralih ke atas ranjangnya, tepatnya sesuatu yang tergeletak di atasnya. Ia mengambil benda itu; selembar kertas kusut yang tampak sudah dipegangi berkali-kali.

Ia terkejut bukan main ketika mendapatkan sebuah surat dari seorang Bibi kenalannya yang sudah lama sekali tak dijumpainya semalam. Sebuah tanda tanya besar terlintas di benaknya saat membaca deretan-deretan kalimat di dalamnya, bahkan ia sampai membacanya berkal-kali. Dan sekarang ia melakukannya lagi, seakan-akan surat itu berisi kalimat-kalimat yang bahasanya susah dimengerti, padahal tidak.

Salah satu poin terpenting dari surat itu adalah sebuah pesan yang berisi agar Baekhyun harus datang ke suatu tempat secepat yang ia bisa. Untuk menemui seseorang.

Baekhyun mengalihkan pangangannya lagi ke sebuah benda berbentuk persegi empat berwarna hitam yang terletak di atas meja belajarnya. Ia meletakkan kembali surat tersebut di atas ranjang dan mengambil benda hitam itu.

Sebuah bingkai foto. Hatinya langsung diserang kepahitan ketika melihat foto yang tertera dibalik kacanya.

Dua remaja lelaki berseragam SMA terlihat saling merangkul dan tertawa ke arah kamera sambil menunjuk satu sama lain. Mereka tampak sangat senang, seolah-olah tak ada beban yang dapat menembus dan merusak dinding kebahagiaan mereka di kala itu.

Salah satu dari kedua remaja itu tak lain adalah Baekhyun sendiri, yang saat itu hanyalah seorang remaja normal berusia18 tahun, dan yang satunya lagi adalah orang itu, seorang lelaki berkulit pucat dengan rambut ikal tebal yang turun menutupi sebagian dahinya.

Lelaki itu, seseorang yang sudah lama sekali tidak Baekhyun jumpai. Seseorang yang Baekhyun tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Seseorang yang menghilang tanpa kabar setelah pertemuan terkahir mereka sekitar dua tahun yang lalu.

Lelaki itu, seorang lelaki tak tahu diri yang sialnya sangat Baekhyun rindukan dan ingin ia tendang bokongnya kalau saja mereka bertemu lagi di suatu hari nanti. Atau katakan saja suatu hari itu adalah besok, ketika Baekhyun sudah sampai di sana, tempat yang dimaksud Bibi kenalannya itu.

Karena, sesuai dengan pesan sang Bibi, memang lelaki itulah yang akan dijumpainya di sana.

Seorang lelaki yang bernama Luhan.

*

Seoul, 2005

Bagi Byun Baekhyun, tak ada hal lain yang lebih membosankan dari hari pertama memasuki sekolah. Apalagi mengigat tak ada satupun orang yang dikenalnya di kelas ini. Hanya ada beberapa orang yang dilihatnya saat upacara penerimaan murid baru SMA Kyunghee kemarin. Dan ia belum memiliki niat untuk berkenalan dengan mereka semua. Mugkin ia akan melakukannya nanti.

Ia memandang lapangan sepak bola besar di balik jendela yang berada di samping kiri meja dan bangku tempat ia duduk. Lapangan itu dikelilingi bangku berbentuk tangga kayu di kedua sisinya. Ia pernah mendengar kalau tim sepak bola sekolah ini sering menjuarai kejuaraan sepak bola tingkat SMA di Seoul. Itu artinya kualitas pelatih beserta timnyanya memang baik.

Baguslah. Ia memang berniat untuk bergabung di klub sepak bola, ngomong-ngomong.

“Permisi, bolehkah aku duduk disampingmu?”

Baekhyun menoleh dan sedikit mengernyit pada seorang pemuda dengan tinggi pas-pasan yang sedang berdiri tak jauh darinya. Barusan pemuda itu memang berbicara dengan menggunakan bahasa Korea, tapi cara mengucapkannya terdengar sedikit aneh. Entah telinga Baekhyun yang salah dengar atau lelaki ini memang tak pandai berbicara dengan baik.

Lelaki itu mengangkat alisnya, menunggu jawaban dari Baekhyun. Setelah diperhatikan lebih teliti ternyata wajah lelaki itu kelewat imut sampai-sampai Baekhyun bisa saja percaya kalau lelaki ini mengaku kalau masih duduk di bangku SD, minus melihat tinggi badannya. Dan ada satu lagi keanehan pada dirinya; kulitnya putih sekali. Bahkan bisa dikatakan pucat.

Baekhyun mempersilahkannya dengan mengangguk singkat. Lelaki pucat itu pun langsung melempar tasnya di kursi yang terletak di samping kursi Baekhyun dan duduk di atasnya.

“Namaku Luhan.”

Baekhyun terkesiap. Sepertinya lelaki yang mengaku bernama Luhan itu tak henti-hentinya memberikan kejutan berupa berbagai kenanehan pada dirinya dalam satu waktu. Luhan? Nama macam apa itu?

Tapi Baekhyun tidak perlu mempermasalahkan hal sekecil itu. Lelaki ini hanya ingin berkenalan. Maka ia berkata, “Namaku Baekhyun. Byun Baekhyun.”

“Oh, senang berkenalan denganmu,” Luhan menunduk sopan, “Ngomong-ngomong, aku ini pindahan dari Cina. Bahasa Koreaku masih belum lancar. Harap dimaklumi.” Sekali lagi Luhan menundukkan kepalanya.

Cina? Pantas saja. Akhirnya Baekhyun mengetahui alasan dibalik beberapa keanehan yang ditunjukkan oleh Luhan beberapa saat yang lalu. Rasa bersalah pun langsung menyerangnya karena secara tidak langsung ia juga sudah mengejek orang ini, walau hanya dalam hati.

“Baiklah.” Jawab Baekhyun untuk menutupi rasa bersalah itu.

Hening menyelimuti keduanya sebelum tiba-tiba Luhan kembali bersuara semenit kemudian.

“Boleh aku… meminta tolong padamu?”

Baekhyun kembali menoleh ke arah Luhan, “Tergantung,” jawabnya sambil mengangkat bahu.

Luhan menggigit bibirnya, “Aku baru sebulan tinggal di negara ini dan aku belum mengenal banyak hal tentangnya. Karena kau adalah orang pertama yang kukenal di sekolah ini, jadi…” Luhan menatap Baekhyun ragu, “Kalau ada apa-apa, bisakah aku mengharapkan bantuanmu?”

Baekhyun berpikir sejenak. Tak lama ia mengangguk, “Tentu saja.”

Mendengar persetujuan Baekhyun, Luhan pun langsung tersenyun lega, “Terima kasih.”

Baekhyun mengira kalau persetujuan itu hanya sekedar omong kosong belaka agar dirinya tak dicap buruk oleh Luhan. Oke, mungkin ia akan membantu lelaki itu sesekali karena, hei, ia bukan seorang tour guide, kan, yang akan selalu menuntun pendatang baru satu ini ke mana saja?

Boleh saja ia mengira. Tapi ternyata ia salah.

Siapa yang menyangka kalau ternyata ia menepati apa yang disepakatinya itu lebih sering dari yang diperkirakannya di hari-hari kemudian?

Luhan benar-benar payah. Ia sering kali tersasar di sekolah yang menurut Baekhyun tidak seberapa luas dibanding SMP-nya dahulu. Tepat dua miggu sejak hari-hari di SMA Kyunghee dimulai, Luhan kehabisan stok makan siang karena tak kunjung menemukan keberadaan kantin selama 20 menit. Dua hari berikutnya, ia terlambat pada jam olahraga karena tersesat ketika mencari ruang ganti. Hal itu membuat Baekhyun terpaksa mengikutinya ke mana-mana jika si lelaki Cina itu hendak berpergian jauh.

Luhan juga sering kebingungan saat berbicara dengan orang-orang tertentu dikarenakan bahasa Korea-nya yang masih kacau.

Lalu, suatu hari ketika pulang sekolah, Luhan pergi ke pinggir lapangan untuk mendaftar ke klub sepak bola. Salah satu senior pun mewawancarainya, menanyakannya ini-itu yang berkaitan dengan sepak bola. Padahal senior itu sangat ramah, tapi Luhan malah membalas setiap ucapannya dengan tergagap-gagap, seakan-akan tak tahu susunan kata apa yang tepat agar terlihat sopan di depan sang senior. Baekhyun yang juga sedang mendaftar klub tersebut pun mau tak mau bergabung dalam percakapan itu. Untuk apa lagi kalau bukan—lagi-lagi—untuk membantunya?

Dan yang paling sial diantara semuanya, Luhan pernah menelepon Baekhyun lima menit sebelum bel masuk sekolah berdering.

“Baekhyun, kau di mana? Tadi aku tertidur saat di bus. Aku melewatkan sekolah kita! Aku tak tahu ini di mana! Tolong aku. Tolong! TOLONG!!!”

Baekhyun yang baru saja sampai di gerbang sekolah pun segera berlari menuju halte bus setelah mengatakan pada Luhan agar ia berhenti di halte terdekat. Sambil menggelengkan kepala tak percaya, ia melangkah menaiki bus yang baru saja datang dengan tampang kesal.

Dasar anak sialan! Merepotkan sekali!

Setelah melewati tiga halte, akhirnya Baekhyun pun menemukan Luhan yang sedang berdiri cemas dengan tampang superpaniknya. Lalu ekspresinya langsung berubah lega ketika menemukan Baekhyun datang.

Akibatnya mereka berdua pun terlambat dua puluh lima menit di pelajaran pertama dan terpaksa menerima hukuman dari Guru Kim, berlali lima putaran di lapangan sepak bola yang sedang terik-teriknya diterpa cahaya matahari pagi. Oh, benar-benar sial!

Baekhyun menyimpulkan kalau hal sial barusan telah berhasil menghancurkan tembok kesabarannya terhadap si lelaki Cina itu. Bukan terlihat seperti tour guide atau bahkan manager kalau saja Luhan ini seorang artis, tapi Baekhyun malah lebih terlihat seperti babysitter-nya.

Sejak itu Baekhyun pun memutuskan untuk menjauhi si lelaki pucat itu secara perlahan.

“Kau hanya tinggal berdua saja dengan Bibimu?”

Baekhyun bertanya ketika Luhan mengantarkannya dari apartemen milik Bibi Lin—bibinya Luhan—menuju halte bus. Mereka baru saja selesai mengerjakan makalah tentang sampah daur ulang dari Guru Lee. Sebenarnya ini bukan tugas Baekhyun, ia hanya—untuk kesekian kalinya—membantu Luhan yang kesulitan mengatur tata bahasa makalah tersebut agar terdengar ilmiah. Dan Baekhyun berjanji pada dirinya sendiri kalau ini adalah kali terakhirnya ia ingin repot dikarenakan makhluk bernama Luhan.

“Begitulah.” Jawab Luhan.

“Kenapa? Di mana ayah dan ibumu?”

“Mereka meninggal dunia tiga bulan yang lalu karena kecelakaan kereta api. Makanya aku pindah ke Korea dan dirawat oleh Bibi Lin.”

Baekhyun teridam. Ia bahkan tak sadar kalau langkahnya sudah terhenti.

Luhan ikut berhenti ketika sadar kalau Baekhyun tak lagi berjalan. Ia berbalik ke belakang dan menatap Baekhyun bingung.

Kedua orang tua Luhan telah tiada dan Baekhyun baru mengetahui fakta itu sekarang, setelah hampir sebulan mengenalnya. Tiba-tiba Baekhyun merasa sangat kasihan padanya. Luhan masih sangat belia. Ia masih punya harapan di masa depan yang cerah dan butuh dukungan dari orang-orang yang disayanginya. Namun, dua diantaranya malah pergi meninggalkannya.

“Maaf,” ucap Baekhyun dengan sedikit lirih, ia sendiri tak tahu mengapa suaranya bisa seperti itu.

Luhan tampak semakin bingung. Tapi sedetik kemudian ia tersenyum lebar, “Ah, tak apa-apa,” ucapnya sambil mengibaskan tangan, “Kau kan temanku. Masa kau tidak boleh tahu tentang ini, sih?”

Teman. Kehangatan yang menyelimuti hati Baekhyun ketika ia mendengar satu kata itu. Jadi, selama ini Luhan menganggap kalau mereka berteman?

“Ayo, cepat kita jalan. Sudah mau hujan.”

Ucapan Luhan tersebut membuat Baekhyun mengangguk dan lanjut berjalan di belakang Luhan. Dipandanginya punggung anak yatim piatu di depannya itu yang tampak kokoh, namun bisa saja rapuh sewaktu-waktu kalau tak ada yang ingin menahannya.

Tidak. Baekhyun tidak bisa melarikan diri begitu saja dari anak ini. Bukankah ia telah memutuskan untuk membantunya sejak awal? Ia tak ingin menjadi orang yang tidak bertanggungjawab atas ucapannya sendiri. Lalu, bukankah ia seharusnya bersyukur karena Luhan telah memercayainya selama ini? Menjadi kepercayaan seseorang itu bukanlah hal yang mudah karena butuh keyakinan secara pasti bagi orang tersebut untuk benar-benar mempercayai kita. Dan Baekhyun merasa sangat terhormat jika orang lain tak ragu atas kepercayaan mereka padanya.

Lalu, kalau dipikir-pikir lagi, walaupun Luhan sering membuatnya menghembuskan napas jengkel, bukankah Baekhyun juga tidak merasa kesepian karenanya?

Setelah selesai memikirkan itu semua, detik itu juga dengan keyakinan 100% Baekhyun segera membatalkan niatnya untuk menjauhi Luhan.

Ia juga berharap jangan sampai pemikiran itu datang lagi ke benaknya.

.

Hari demi hari terlewatkan. Tak terasa sudah lewat dari satu semester masa SMA ini berlangsung. Mereka yang yang dulunya tak mengenal satu sama lain kini pun sudah terlihat akrab. Selain belajar, suasana sekolah memang tak pernah lepas dari keributan remaja-remaja yang sedang beranjak dewasa itu.

Tak terkecuali bagi Baekhyun dan Luhan.

Mereka sering terlihat bersama. Pergi ke sekolah bersama. Makan siang bersama. Mengikuti klub sepak bola bersama. Pulang sekolah bersama. Benar-benar tak terpisahkan. Hingga Park Chanyeol, teman sekelas mereka, menyebut mereka ‘dua anak ayam’ karena selain ke mana saja selalu bersama, mereka pun mempunyai postur tubuh yang kurang tinggi. Yeah, mereka tak suka dengan alasan yang terakhir.

Hari-hari mereka pun banyak diisi dengan canda tawa, obrolan-obrolan sederhana, tindakan bodoh seperti kejar-kejaran di koridor sekolah, bermain hangman saat pelajaran Matematika berlangsung, dan berbagai kebandalan remaja lainnya.

Baekhyun sendiri tak menyangka bagaimana ia bisa menjadi seakrab ini dengan Luhan mengingat beberapa bulan yang lalu ia sempat mati-matian ingin menjauhinya. Mungkin karena selera humor Luhan yang bahkan menurut Baekhyun dapat mengimbangi Yoo Jaesuk. Bisa dikatakan level candaan mereka close enough.

Ia tahu alasannya bukan itu saja. Tapi juga karena ia merasa nyaman berteman dengan Luhan.

Luhan memang sering melakukan hal-hal bodoh dan teledor. Kalau di awal kedekatan mereka Baekhyun merasa sangat kesal karena hal itu, kini ia malah merasa terhibur. Bukan karena ia telah terbiasa menonton berbagai kekonyolan itu, tetapi karena hal itu memang pantas ditertawakan. Menurutnya begitu. Oh, maafkan Baekhyun, Luhan.

Misalnya mungkin kejadian yang satu ini.

Baekhyun berjalan ke luar gerbang sekolah ketika jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Ada beberapa urusan yang harus diselesaikan hingga ia pulang lebih lama hari ini. Ia pun melangkah dengan santai menyusuri troroar seraya menyiulkan lagu Dong Bang Shin Ki terbaru sampai seorang lelaki berseragam SMA Kyunghee berlari pontang-panting ke arahnya.

“Baekhyun-ah! Tolong aku!”

Baekhyun yang tak mengerti apa-apa hanya menurut ketika Luhan—lelaki itu—menarik dan memaksanya untuk berlari ke arah yang berlawanan dari jalurnya tadi. Langkah Luhan yang kecil namun lincah itu membuat Baekhyun kewalahan mengikutinya. Tak heran jika Luhan terpilih sebagai calon tim inti klub sepak bola sekolahnya untuk tahun depan.

“Hei! Mau ke mana kau, anak muda?! Urusan kita belum selesai!”

Baekhyun menoleh ketika mendengar suara cempreng itu. Seorang wanita setengah baya yang sedang menggunakan celemek hijau berlari ke arah mereka dengan sendok besar di tangan kanan yang diangkatnya ke atas.

Baekhyun bisa menebak kalau bibi dengan make-up supertebal itu itulah yang harus dihindari mereka, walaupun ia tak tahu alasannya. Ia dapat menanyakannya pada Luhan nanti.

Mereka pun terus berlari dan baru berhenti sampai suara dan langkah bibi itu tak terdengar lagi. Mereka terengah-engah dan langsung menjatuhkan tubuh di pinggir jalan kecil nan sepi yang etah di mana ini.

“Sebenarnya… ada… apa?” tanya Baekhyun, masih dengan napas memburu.

Luhan pun menceritakan dengan lengkap apa yang membuat bibi itu mengejarnya.

Baekhyun hanya menatap Luhan dengan wajah tanpa ekspresi usai Luhan menyudahi ceritanya.

“Hahahahaha!” namun tak lama Baekhyun malah tertawa terpingkal-pingkal.

Luhan mengernyit heran. Tetapi Baekhyun tak bisa berhenti tertawa.

“Apa yang salah?” tanya Luhan.

Salah. Luhan memang salah. Pasalnya beberapa menit yang lalu, ketika Luhan hendak memesan sepiring ddubboki di warung kecil milik bibi make-up-tebal yang terletak tak jauh dari sekolah, ia berkata pada sang Bibi, “Bibi, kau bajingan!”

“Aku hanya mengatakan kalau Bibi itu cantik. Bukannya berterimakasih, ia malah marah padaku! Lalu ia mengejarku. Lalu kau menertawakanku. Apa ini? Apa?!” gerutu Luhan sambil mengangkat kedua tangannya dramatis dengan posisi telapak tangan di atas.

“Hei, bodoh, sejak kapan kata ‘cantik’ itu menajadi ‘bajingan’ alias rascal?” Baekhyun menggeleng kepalanya, masih tekekeh geli, “Park Chanyeol lagi yang mengajarkanmu?”

Setelah mendengar perkataan itu, raut wajah Luhan langsung berubah datar. Dan hal itu membuat Baekhyun semakin menigkatkan level tawanya ke tahap maksimum. Ia sampai terguling-guling di atas trotoar dan memegangi perutnya yang kram akibat terlalu banyak terbahak.

Namun tak berapa lama Luhan pun ikut menertawai dirinya sendiri dan mereka berdua pun larut dalam tawa. Bahkan Luhan tampak tak peduli lagi kalau ini sudah untuk keberapapuluh kalinya seorang Park Chanyeol mengajarkannya ucapan tak benar dalam bahasa Korea. Kekesalan itu mungkin sudah tenggelam di lautan tawa mereka.

*

Seoul, 2006

“Haaah! Akhirnya aku bisa istirahat juga!” seru Baekhyun sambil menelentangkan tubuhnya di pinggir lapangan sepak bola.

Luhan duduk di sampingnya, “Latihan hari ini keras sekali,” ucapnya sebelum meneguk air di botol minumnya dan mengangkat tangannya, membalas sapaan demi sapaan anggota tim klub sepak bola yang beranjak pulang.

Memasuki akhir kelas dua SMA, memang banyak anggota klub sepak bola yang semakin akrab dengan mereka. Tak terkecuali adik-adik kelas yang sudah hampir setahun bergabung. Kedekatan itu mungkin bisa terjalin karena mereka sering berkumpul bersama untuk latihan.

“Saking kerasnya, Pelatih Jung bahkan bisa menghisap habis darahmu hanya dengan tatapannya saja,” Baekhyun kembali dalam posisi duduk sambil menatap Luhan serius, “Karena wajahmu tampak lebih pucat dari biasanya.”

“Ah, aku kan anemia. Sudah berapa kali aku katakan tentang hal ini padamu?” tanya Luhan sambil mengacak-acak rambutnya yang berkeringat.

Memang Luhan sudah pernah—bahkan beberapa kali—mengatakan kalau ia seorang penderita penyakit kekurangan darah merah itu saat Baekhyun menanyakan kenapa wajahnya selalu tampak pucat.

“Pokoknya, sekali lagi kau bertingkah seolah-olah menyuruhku menjelaskan mengapa wajahku tampak pucat, kuberi kau hadiah tiket satu hari kencan bersama Britney Spears. Mengerti?” ucap Luhan ketus.

“Britney Spears?” Baekhyun menatap Luhan seolah-olah ia adalah vampir Cina yang menjelma menjadi manusia namun gagal, “Ia terlalu tua, bodoh! Lagian kau tahu, kan, aku juga tak begitu suka wajah wanita-wanta barat. Ah, bagaimana kalau BoA saja? Hmm, Lee Hyori juga boleh. Tapi—aw! Kenapa kau memukulku?!”

“Sudah berbaik hati kutawarkan sebatang emas tapi kau malah meminta gunungnya!” sekali lagi Luhan memukul kepala Baekhyun dengan botol minumannya yang sudah habis.

“Oke, oke. Slow, man. Kalau begitu aku akan menanyakan tentang kepucatan wajahmu itu lain kali karena aku tak punya waktu luang untuk berkencan dengan siapapun minggu ini. Hari Sabtu kita ada pertandingan melawan SMA Myungji dan setiap pulang sekolah kita selalu sibuk latihan, kau pasti tahu itu. Jadi…” Baekhyun menatap Luhan penasaran, “Bagaimana kau bisa kenal dengan Britney Spears?”

Luhan mendengus seakan-akan meremehkan Baekhyun, “Hei, aku ini penasihat pribadinya jika ia sedang berkunjung ke Beijing. Hebat, kan?” ucapnya bangga.

Baekhyun tertawa mencemooh, “Yang benarnya kau itu tukang kebun rangkap pembersih kamar mandi di hotel tempat ia menginap selama di Beijing. Hahahahaha!”

“Sialan!” umpat Luhan namun ia ikut tertawa juga.

Setelah tawa reda tak ada lagi yang bersuara baik Baekhyun maupun Luhan.

Keduanya tampak menikmati suasana senja di pinggir lapangan sepak bola. Tak ada lagi anggota klub sepak bola yang tersisa di sana terkecuali mereka berdua. Langit jingga pun menambahkan kesan ketenangan di antara mereka, membuat mereka semakin larut dalam pemikiran masing-masing.

“Baekhyun-ah, kita ini meilleurs amis pour toujours, kan?” tahu-tahu Luhan membuka suara.

Baekhyun menoleh, bingung, “Apa?”

Luhan memang suka mengomel sendiri dalam bahasa ibunya. Tapi jelas-jelas bukan bahasa Cina yang tadi diucapkannya. Kalimat barusan malah terdengar seperti kumur-kumur. Entah bahasa apa itu dan entah apa juga artinya. Baekhyun tak mengerti.

Luhan bangkit dan berjalan ke arah kursi penonton, mengambil tasnya yang berada di sana. Lalu ia berbalik menatap Baekhyun, “The answer is definitely ‘yes’. I know it!”

Dan setelah itu Luhan berjalan menjauh meninggalkan lapangan tanpa sekalipun menoleh ke belakang, meninggalkan Baekhyun yang duduk seperti orang bodoh di atas rumput sambil memandang kepergiannya dengan ratusan bahkan ribuan tanda tanya di atas kepalanya.

Ada apa, sih, dengannya? batin Baekhyun.

.

Baekhyun dan Luhan sedang berjalan di koridor kelas dua saat sekolah usai. Baekhyun sibuk berceloteh tentang pertandingan sepak bola yang mereka menangkan ketika melawan SMA Myungji minggu lalu. Euforia kebahagiaan atas kemenangan itu memang masih hangat di kalangan murid-murid SMA Kyunghee. Tapi Luhan diam saja. Bahkan ia tak tampak menyimak kata demi kata yang terucap dari mulut Baekhyun yang sepertinya hampir berbuih.

“Jangan katakan kau tak senang sekolah kita menang karena selama aku berbicara kau selalu terlihat murung.” Ucap Baekhyun setelah sadar kalau hanya ia yang berbicara dari tadi.

“Aku senang, kok.”

Baekhyun menatap Luhan sangsi. Yang dikatakannya memang ‘senang’. Tapi kata tersebut sama sekali tak tergambarkan di raut wajahnya.

Baekhyun tahu kalau Luhan sudah selalu bersikap seperti ini setiap hari sejak tiga hari yang lalu. Bedanya hari ini Luhan tampak lesu. Mungkin ia sedang pusing karena ulangan harian Kimia mendadak dari Guru Han tadi. Atau mungkin anemianya sedang kumat. Langkahnya pun lunglai dan sesekali ia memegangi perutnya sembari meringis pelan.

“Kalau begitu—”

Ucapan Baekhyun terpotong ketika Luhan berlari melewatinya menuju kamar mandi dengan kecepatan superkilat. Melihat itu Baekhyun segera mengikutinya. Kebetulan sedang tak ada orang di dalam sana.

Mata Baekhyun membulat ketika dilihatnya salah satu bilik kamar mandi yang pintunya terbuka dan di dalamnya terdapat Luhan yang sedang berjongkok di depan toilet, mengeluarkan banyak cairan kental berwarna kuning kecokelatan dari dalam mulutnya.

Ia muntah. Sontak Baekhyun langsung menghampiri Luhan. Ia panik dan tidak ada yang bisa dilakukannya selain menggosok-gosok puggung dan leher Luhan. Selama dua menit ke depan Baekhyun hanya melakukan itu sampai akhirnya cairan itu berhenti keluar dari mulut Luhan.

Luhan menekan tombol push pada toilet dan terduduk lemah bersadarkan dinding bilik. Baekhyun segera menawarkannya botol air mineral dari dalam tasnya dan Luhan menerimanya sebelum meneguk air yang tersisa.

Baekhyun menatap Luhan yang tampak tak berdaya itu penuh tanya, “Kau kenapa? Tidak keracunan kimchi yang sangat pedas dari Kyungsoo saat makan siang tadi, kan?”

Luhan menggeleng kecil, “Tidak. Aku…” ia menelan ludah dengan susah payah, “Aku hanya tidak enak badan.”

Kemarin hujan memang turun sangat deras ketika pulang sekolah dan Luhan tak bisa tak membuat bajunya basah kuyup walaupun ia hanya berlari dari teras gedung sekolah sampai  halte bus tanpa menggunakan payung. Mungkin itu yang membuat kondisi tubuh Luhan menjadi kurang sehat seperti sekarang ini.

Baekhyun menghela napas dan menganguk. Jadi ia pun segera membantu Luhan bangkit dan menyuruhnya absen pada pertemuan klub sepak bola setelah ini. Mungkin Luhan hanya perlu istirahat di rumah dan setelah itu ia akan baik-baik saja.

Tapi mungkin tidak.

Karena seminggu setelahnya, disaat Baekhyun dan Luhan tengah selesai belajar bersama di perpustakaan untuk mempersiapkan ujian akhir semester mingu depan, Baekhyun mendapati tubuh Luhan terjatuh dan tak sadarkan diri di koridor yang sepi ketika mereka sedang berjalan di sana.

Baekhyun yang panik langsung menggendong lelaki itu dan membawanya ke rumahnya, mengingat kediaman Baekhyun memang terletak tak begitu jauh dari sekolah. Ia bahkan tak terpikir untuk membawa Luhan ke klinik sekolah yang jauh lebih dekat. Pikirannya saat itu memang sedang sangat buntu.

Luhan baru terbangun dua jam kemudian di atas tempat tidur di kamar Baekhyun.

“Di mana aku?” tanya Luhan bingung sambil menatap ke sekeliling ruangan.

“Di mana lagi kalau bukan di kamarku? Masa kau tidak ingat,” jelas Baekhyun yang sedang menonton televisi dari kursi meja belajarnya.

“Oh, iya. Aku, kan, baru sadar. Ngomong-ngomong, kenapa aku bisa ada di sini?” tanya Luhan sebelum memandang tempat tidur Baekhyun, “Dan terbangun di sini?”

“Kau pingsan setelah kita keluar dari perpustakaan tadi,” jawab Baekhyun yang sekarang tak lagi terfokuskan pada acara di televisi. Ia menatap Luhan yang tampak sedikit terkesiap. “Terima kasih untukmu karena telah membuatku kalang kabut seperti orang gila saat menemukanmu tergeletak di lantai. Untungnya kau kurus dan rumahku dekat dari sekolah. Kalau tidak mungkin tulang punggungku sudah patah semua karena memapah berat tubuhmu. Tapi sial sekali ternyata di rumahku sedang tak ada orang dan yang bisa aku lakukan hanyalah menunggumu hingga siuman. Dan untuk yang kesekian kalinya dalam dua tahun belakangan aku bertanya mengenai kesehatanmu, kau ini sebenarnya kenapa, sih?”

Luhan mendesah berat, “Untuk yang kesekian kalinya juga aku menjawab kalau aku tidak apa-apa,”

“Pingsan itu bukan apa-apa maksudmu?”

Luhan berdecak, “Selain harus latihan di klub minimal tiga kali seminggu, belakangan ini aku memang sering belajar hingga larut malam untuk mempersiapkan ujian akhir. Aku hanya kelelahan, Baekhyun-ah. Dan kau tahu, kan, kalau aku orangnya mudah lelah? Mungkin kejadian barusan hanyalah puncak dari semua kelelahanku belakangan ini.”

Alasan Luhan memang masuk akal. Tapi Baekhyun sama sekali tak percaya dengan segala ucapannya. Entah apa yang membuatnya berpikiran seperti itu. Yang jelas, Baekhyun masih saja curiga dengannya.

“Yang benar saja? Kau bahkan pingsan hingga dua jam lamanya.”

Luhan terdiam cukup lama. Kebimbangan terpampang jelas di wajahnya, seperti sedang mempertimbangakan sesuatu. Antara ingin memberitahu suatu hal pada Baekhyun atau tidak.

Tak lama kemudian Luhan pun mengangguk dan menatap Baekhyun. “Baiklah, akan kuberitahu padamu.”

Alis Baekhyun terangkat. Jadi memang ada sesuatu dibalik semua ini yang Luhan coba tutupi dari dirinya. Baekhyun pun bangkit dari kursinya dan duduk di piggir tempat tidur, menunggu ucapan yang akan dikatakan Luhan sambil memain-mainkan sebuah karet gelang yang ia ambil dari atas meja belajar tadi.

“Sebenarnya… aku menderita sebuah penyakit, bukan hanya anemia,” Luhan menghela napasnya, “Dokter bilang… harapan hidupku hanya tinggal beberapa bulan lagi…”

Tangan Baekhyun langsung terhenti tepat ketika karet gelang tersebut membentuk sebuah bintang. Ia segera menoleh pada Luhan dan menatapnya tak percaya seraya menjatuhkan karet gelang itu ke tanah.

Hening.

“Tapi…” Luhan menggigit bibir bawahnya dan menatap Baekhyun dari ekor matanya dengan sangat hati-hati. Ia seperti sedang… menahan tawa. Lalu ia berseru, “Tapi aku bohong! Hahahaha!”

Setelah itu hanya terdengar tawa Luhan mengisi ruangan yang sebelumnya diliputi senyuian. Sementara Baekhyun yang tadinya tak bisa berkata-kata saking kagetnya hanya bisa menatapnya dengan tatapan datar.

“Sialan kau!” hanya umpatan itulah yang diucapkan Baekhyun sebelum ia melempar Luhan dengan guling, satu-satunya benda yang dekat dari jangkauannya. Luhan pun mengelak dan membalasnya dengan melempar bantal ke wajah Baekhyun. Mereka terus-menerus melakukan hal itu yang tentu saja diiringi tawa.

Melihat hal itu tiba-tiba saja kecurigaan di benak Baekhyun bahwa Luhan sedang menyembunyikan sesuatu darinya itu perlahan mulai hilang. Ia yakin Luhan tidak kenapa-kenapa. Ia yakin Luhan sehat-sehat saja. Buktinya, lelaki itu kini bahkan tampak lebih kriminal dari preman-preman di pasaran. Karena saat ini Luhan sedang berlari mengelilingi rumah keluarga Byun sambil mengejar Baekhyun untuk membalas dendam setelah mendapatkan betubi-tubi pukulan guling di kepalanya.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

*

Seoul, 2007

Tahun terakhir di SMA pun datang. Kenyataannya menjadi murid kelas tiga bukanlah hal yang mudah bagi banyak orang, termasuk Byun Baekhyun. Suneung (ujian masuk universitas) tinggal satu bulan lagi dan persiapan untuk memasuki universitas pilihan harus direncanakan mulai dari sekarang kalau ia tak ingin menyesal nantinya. Ia dan Luhan pun telah menentukan jurusan dan universitas tujuan mereka.

Maka dari itu sekarang mereka tak ingin banyak main-main lagi. Jadwal latihan di klub sepak bola mulai dilonggarkan menjadi dua minggu sekali bagi kelas tiga. Mereka berdua juga mengambil kursus di bimbingan belajar setiap pulang sekolah yang mengharuskan mereka pulang ke rumah ketika hari sudah gelap.

Hari ini adalah hari Jumat dan bimbingan mereka tampak lebih melelahkan dari hari-hari biasanya. Otak Baekhyun serasa ingin pecah saking banyaknya rumus-rumus Matematika yang berkutat di kepalanya tadi. Belum lagi ada banyak cara menyelesaikan soal yang belum ia mengerti. Kedua hal itu membuat suasana hatinya buruk hingga ia memutuskan untuk langsung menjatuhkan diri di ranjangnya saja ketika sampai rumah nanti.

Tetapi sepertinya ia tidak bisa. Tahu-tahu saja Luhan mengajaknya menonton pertandingan sepak bola bersama di rumah Baekhyun. Katanya ia juga ingin menginap mumpung esok hari libur. Dan dengan sangat terpaksa Baekhyun mengiyakan ajakannya, karena bukan Luhan namanya kalau ia tak berhasil memaksa keinginannya pada seorang Byun Baekhyun.

Sepertinya Baekhyun sial sekali hari ini karena begitu sampai rumah Ibu malah mengomelinya panjang lebar karena Baekhyun tak pernah menyirami tanaman-tanaman kesayangannya selama Ibu pergi ke Singapur selama seminggu ini. Padahal Baekhyun mengharapkan oleh-oleh atau apa, tapi mengapa ini yang terjadi?

Setelah Ibu selesai dengan omelannya dan telinga Baekhyun sudah terasa cukup panas, Baekhyun pun segera berjalan menuju kamar tidurnya. Sebelumnya Luhan memang sudah kabur terlebih dahulu ke kamar Baekhyun karena tak ingin menertawai temannya yang sedang tersiksa itu secara langsung.

Dalam perjalanannya menuju kamar, Baekhyun sangat berharap agar setelah ini tak ada lagi kesialan yang akan menimpanya. Ya, semoga saja.

Tapi yang dilihatnya ketika ia membuka pintu kamarnya adalah hal yang sama sekali tidak diinginkannya saat ini.

Luhan sedang membaca komik di atas tempat tidurnya sembari tertawa-tertawa tak jelas. Sesekali ia memasukkan segenggam keripik kentang dari dalam toples besar ke dalam mulutnya, menyebabkan remah-remah keripik itu jatuh ke atas tempat tidur. Tapi ia tampak tak peduli dan terus-menerus melakukan hal itu.

Dan baju kaus yang dikenakannya…

“Hei, apa itu yang kau pakai?!”

Luhan yang sepertinya baru menyadari kehadiran Baekhyun tersentak ketika lelaki itu berteriak. “Oh… aku pinjam bajumu.” Jawabnya santai.

Masalahnya kaus hitam bertulisan ‘Bangkok City’ itu adalah kaus tidur terbaik Baekhyun yang akan menambah mood-nya—walaupun sedikit—ketika ia memakainya. Terdengar remeh memang, tapi itulah yang dibutuhkan Baekhyun saat ini.

“Kenapa kau tidak menungguku dan bertanya terlebih dahulu? Dan—astaga, Luhan!”

Mata Baekhyun membesar seakan-akan ingin keluar di tempatnya ketika melihat pakaian lemarinya yang terbuka dan baju-bajunya yang berserakan di lantai. “Kau ingin meminjam baju atau memaling barang-barangku, hah?!”

Luhan sedikit terkesiap melihat Baekhyun yang sudah seperti orang kesetanan itu. Makanya ia pun langsung meletakkan komik serta toples keripik kentang di atas nakas dan buru-buru memungut baju-baju tersebut. Ia melipatnya asal-asalan dan meletakkan—atau bisa dikatakan melempar—pakaian-pakaian itu di tempat yang tak sesuai dengan yang sebelumnya. “Tadi aku bingung ingin memilih baju yang mana, jadi aku sedikit membongkar lemarimu. Lalu—”

“CUKUP!”

Tangan Luhan pun langsung berhenti memungut baju-baju itu. Ia menatap Baekhyun dengan alis terangkat. Mungkin awalnya Luhan mengira Baekhyun hanya mengomelinya dan tidak benar benar sedang marah. Tapi ternyata tidak.

Habis sudah kesabaran Baekhyun.

“Kau ini, selalu bersikap sesukanya saja!” pekik Baekhyun sambil menatap Luhan berang.

“Kenapa kau jadi marah?”

Baekhyun menggepalkan kedua tangannya, menahan emosi yang meluap-luap hingga terasa sampai di ubun-ubun, “Kau kira aku nyaman dengan segala kehendakmu yang tak ingin kau kalahkan dari orang lain itu selama ini?! Dan satu lagi, aku sangat lelah sekarang ini, kau tahu itu, tapi kau tetap saja memaksaku untuk bermain bersamamu. Kau tak pernah memikirkan orang lain, ya? DASAR EGOIS!”

Luhan terdiam. Ia tampak tak percaya mendengar bentakan yang tak disangka-sangkanya akan keluar dari mulut Baekhyun. Selama ini Baekhyun memang sering marah padanya, tapi sepertinya tak pernah sampai ke tahap yang seserius ini.

Mereka saling bertatapan tanpa suara. Suasana pun begitu hening, menegangkan, dan penuh emosi. Emosi yang sepertinya ikut menjalar di hati Luhan.

“Aku memang salah. Terima kasih karena telah mengingatkanku dengan cara membentak seperti tadi. Aku kecewa padamu.” Ujar Luhan.

Dengan itu ia melepas kaus terbaik Baekhyun dari tubuhnya, mencampakkannya, dan memungut kemeja sekolahnya dari atas tempat tidur lalu memakainya asal. Setelah itu ia mengambil tas ranselnya dan berjalan dengan langkah lebar menuju pintu. Ia memegang kenop pintu dan menoleh sekilas ke arah Baekhyun dengan sorot mata yang penuh kekecewaan sebelum keluar dan membanting pintunya dengan sangat keras.

Baekhyun mengira pertengkaran itu hanya akan berlangsung sesaat karena selama ini mereka tak pernah bertengkar lebih dari 24 jam. Karena ada saja yang bisa ditertawakan bersama walaupun mereka sedang saling kesal dan itu membuat mereka selalu berbaikan dengan mudahnya.

Tapi tidak untuk kali ini.

Ia dan Luhan tak saling bicara selama tiga hari sejak kejadian tersebut. Baekhyun masih kesal dan selalu menghindarinya. Begitu juga Luhan yang langsung membuang muka jika mereka berpapasan.

Mereka pun kini tak duduk bersama lagi. Baekhyun pindah ke bangku paling pojok kanan belakang di samping Kim Jongdae, murid termalas di kelas. Itu mungkin lebih baik daripada harus menghadapi Luhan.

Tapi mereka juga tak bisa terus-terusan seperti ini. Kalau boleh jujur, sebenarnya Bakehyun ingin sekali berdamai dengan Luhan dan meminta maaf padanya. Ia rindu kebersamaan mereka.

Namun di sisi lain ia juga merasa tak dihargai jika harus memulai percakapan terlebih dahulu. Biar bagaimanapun, menurutnya kesalahan lebih banyak berada di pihak Luhan. Jadi ia pun memutuskan untuk membatalkan niatnya itu.

Kini satu minggu telah terlewatkan dan bagi Baekhyun minggu ini merupakan minggu terburuknya selama SMA. Ia merasa sangat kesepian dan Jongdae bukanlah orang yang tepat untuk diajak mengobrol karena sepanjang pelajaran ia selalu tertidur di atas mejanya.

Sorenya, ia menemukan Luhan berbicara dengan Pelatih Jung saat pertemuan klub sepak bola mereka. Ia tak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka dan Baekhyun benar-benar tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Luhan keluar dari klub sepak bola. Ia mengatakan kalau ia memiliki masalah pribadi yang tak bisa dikatakannya pada Pelatih Jung.

Setelah mendengarkan izin keluar dari Pelatih Jung yang sangat kecewa karena salah satu gelandang terbaik klub itu mengundurkan diri, Luhan pun menbungkuk hormat padanya dan berbalik.

Di situ pandangannya dan Baekhyun bertemu. Sepertinya ia tahu Baekhyun sudah berada di sana dan memasang telinga atas percakapannya dengan Pelatih Jung sejak awal. Tapi ia langsung membuang muka. Ia pun lanjut berjalan dan tiba-tiba saja langkahnya terhenti tepat ketika ia sampai di samping Baekhyun.

Baekhyun menoleh ke arahnya. Wajah Luhan terlihat sama pucat seperti saat lelaki itu muntah dan duduk tak berdaya di dalam toilet beberapa bulan yang lalu. Entah Baekhyun salah lihat atau apa, tapi mata Luhan juga tampak menguning. Lalu lelaki itu pun menatap Baekhyun dari ujung matanya dengan tatapan… sedih? Sebab kilatan mata itu tampak bergetar, seperti menahan sesuatu. Namun Baekhyun tak bisa menilai lebih jauh lagi karena setelah itu Luhan kembali melangkah pergi dengan cepat.

Segala sesuatu yang terjadi hari ini tampak janggal di mata Baekhyun. Mulai dari Luhan yang keluar dari klub sepak bola tanpa Baekhyun ketahui rencananya terlebih dahulu, hingga tatapan sendu Luhan yang penuh tanda tanya itu. Ia terus-menerus memikirkan apa yang sebenarnya telah terjadi hingga ia tak bisa memejamkan mata pada malam harinya dan berujung tak menemukan satupun jawaban dari segala keanehan itu.

Akhirnya ia memutuskan untuk menanyakannya langsung pada Luhan besok. Tak peduli lagi dengan segala gengsi yang dimilikinya. Ia harus menyelesaikan masalah ini secepat mungkin.
Tetapi ternyata Luhan tak datang keesokan harinya, dua hari kemudian, hingga sampai seminggu setelahnya. Selama itu ia tak kunjung menampakkan batang hidungnya di sekolah.

Teman-teman di kelas, anggota klub sepak bola, dan guru-guru mulai menanyakan tentang kabar Luhan kepada Baekhyun mengingat memang ialah salah satu orang terdekatnya. Tapi Baekhyun hanya bisa menggelengkan kepala karena ia memang tak tahu apa-apa.

Hari itu juga Baekhyun memutuskan untuk pergi ke rumah Luhan usai pulang sekolah dan mengabaikan bimbingannya. Ibu pasti marah kalau tahu ia membolos kursus, tapi urusan yang satu ini terdengar lebih penting baginya. Jadi ia tetap berkukuh untuk melakukannya.

Tapi yang didapatinya saat sampai di depan pintu apartemen Luhan hanyalah sapaan serta ketukan pintu yang tak terjawabkan. Penjaga apartemen mengatakan bahwa mantan pemilik apartemen itu memang sudah tak tinggal di sana lagi sejak empat hari yang lalu. Ia juga tak tahu di mana mereka sekarang karena mereka tak ada memberitahunya.

Baekhyun tak percaya dengan semua ini.

Luhan pergi. Pergi entah ke mana. Ia menghilang begitu saja tanpa memberikan sedikitpun petunjuk.

*

Beijing, 2009

Waktu kecil Baekhyun pernah meminta pada orang tuanya untuk membawanya jalan-jalan ke negeri tetangga, Cina. Ia ingin sekali menonton pertunjukkan Barongsai secara langsung dari negeri asalnya setelah melihat pertunjukkan itu di China Town ketika Tahun Baru Cina sewaktu umurnya lima tahun. Ia pun berpikir pasti akan sangat menyenangkan jika ia bisa menggapai keinginannya yang satu itu suatu hari nanti.

Yang dirasakan Baekhyun ketika kakinya menginjak Beijing International Airport untuk pertama kalinya bukanlah rasa bahagia ataupun excited seperti yang diperkirakannya belasan tahun yang lalu. Kegundahanlah yang mendominasi perasaannya saat ini. Semakin dekat dengan tujuannya datang ke sini, semakin besar tanda tanya yang terdapat dalam dirinya mengenai apa yang terjadi pada tujuannya itu—Luhan. Entah sumpah serapah apa juga yang ingin ia ucapkan pada lelaki iti jika mereka akan benar-benar bertemu nanti. Siapa suruh ia pergi tanpa mengabarinya dua tahun yang lalu?

Maka dari itu setelah keluar dari pintu kedatangan luar negeri, ia pun segera mencari taksi tanpa banyak berpikir. Tak sulit mencarinya, jadi ia pun langsung memilih taksi terdekat dan masuk ke dalamnya. Kepada sang supir ia memberitahukan alamat sebuah rumah sakit yang diberikan Bibi Lin lewat pesan kemarin dengan bahasa Cina pas-pasan. Baekhyun tak tahu mengapa Bibi Lin menyuruhnya ke sana. Tapi perasaannya mengatakan ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Lagi-lagi, ia teringat akan isi surat yang telah membawanya ke sini itu.

.

Halo, Baekhyun-ah. Ini Bibi Lin. Kau masih ingat padaku, kan?

Sebelumnya aku ingin memberitahumu kalau aku dan Luhan sudah pindah ke Beijing dua tahun yang lalu. Maaf karena tidak memberitahumu soal itu.

Kemarin aku menemukan alamat rumahmu di tumpukan buku-buku Luhan yang tak terpakai. Kuharap alamatmu masih sama seperti yang ada di sini.

Baekhyun-ah, aku punya satu permohonan. Bisakah kau datang ke sini, ke Beijing, untuk menemui Luhan? Kurasa ia sangat membutuhkanmu saat ini. Tolong sekali, Baekhyun-ah. Dan kurasa kau sudah sepantasnya mengetahui tentang suatu hal. Untuk itu aku sangat mengharapkan kedatanganmu, Nak.

Ini nomor ponselku jika kau memerlukannya 045*********.

.

Baekhyun menyapukan pandangannya ke sekeliling lobi rumah sakit yang sangat asing baginya ini ketika ia sudah sampai di sana. Sudah lima menit ia berdiri di sini atas perintah Bibi Lin. Tapi sampai sekarang ia belum menemukan wanita itu di sisi manapun.

Tahu-tahu seseorang menepuk punggungnya. Ia tersentak dan langsung menoleh ke belakang.

“Bibi Lin?”

Wanita itu kini tampak lebih tua dari terakhir kali ia temui dua tahun yang lalu. Wajahnya terlihat kuyu karena kelelahan dan garis hitam di bawah matanya menandakan kalau ia sering terjaga saat malam. Namun kali ini ia masih bisa memoleskan senyuman lebar di wajahnya ketika ia memeluk Baekhyun.

Setelah saling menanyai kabar satu sama lain, Baekhyun pun tak bisa lagi menahan rasa penasaran yang selalu membuatnya tak tenang beberapa hari ini.

“Bibi, kenapa kau menyuruhku ke sini? Dan di mana Luhan sekarang? Bagaimana kabarnya?”

Bibi Lin diam saja. Ia menunduk dan raut penuh kesedihan terpampang jelas di wajanya.

“Pergilah ke kamar nomor 312 di lantai tiga.”

Hanya itu jawaban yang diberikan Bibi Lin setelah keheningan selama setengah menit.

Maka di sinilah Baekhyun sekarang, di depan pintu kamar 312. Berbagai pemikiran buruk terbesit di benaknya. Mengapa Bibi Lin tidak menjawab pertanyaannya dan malah menyuruhnya ke sini? Dan siapa yang ada di dalam kamar ini? Apakah ada sangkut pautnya dengan Luhan? Atau…

Semua pertanyaan itu pun terjawab ketika Baekhyun membuka pintu kamar.

Luhan ada di sana, duduk di atas tempat tidur, bersandarkan bantal sambil menghadap ke arah jendela di sebelah kirinya.

Itu dia.

Luhan menoleh ke arah pintu ketika menyadari ada yang memasuki kamarnya. Dan matanya langsung melebar ketika bertemu pandang dengan Baekhyun.

Baekhyun berjalan mendekat tanpa melepaskan pandangannya dari Luhan. Ia berhenti di samping ranjangnya, masih tetap memandang lelaki itu.

Dari jarak yang lebih dekat ini Baekhyun memandangi lelaki sialan yang akhirnya berhasil ia temukan itu. Tampang ‘anak SD’ memang masih terpampang jelas di wajahnya. Hanya saja kali ini ia tampak lebih… tak sehat?

Kulitnya memang masih pucat seperti dulu, tapi kini lebih parah. Rona merah di pipi yang terkadang masih dapat terlihat sedikit jika wajahnya ditimpa cahaya matahari pun sudah tak tampak lagi. Wajahnya juga terlihat lebih tirus. Bukan hanya itu, mata yang terakhir kali Baekhyun lihat berwarna kekuningan itu pun tampak lebih menguning lagi. Dan rambutnya yang dulunya setebal sarang burung itu juga sudah menipis.

“Kau… kenapa?”

Hanya itu yang bisa diucapkan Baekhyun dari sekian banyak pertanyaan yang terlintas di otaknya. Hatinya terasa pilu melihat keadaan temannya itu sekarang sampai-sampai suaranya saat menanyakan hal tersebut terdengar sangat pelan seperti bisikan.

“Aku tak berharap kau akan menjawab ‘aku baik-baik saja’ karena yang kulihat sekarang ini jelas-jelas kebalikannya.” Lanjutnya.

Ya, Baekhyun sangat yakin Luhan tak baik-baik saja. Rumah sakit, perubahan fisik, dan kepindahannya ke Beijing. Pasti ada sesuatu di balik ini semua. Dan Baekhyun tak mau lelaki itu menyembunyikan sesuatu darinya.

Luhan menghela napas berat, melepas tatapannya dari Baekhyun, lalu kembali menatap ke luar jendela. “Kau tahu aku aku di sini dari Bibi Lin, kan?”

“Jawab pertanyaanku dengan sebuah jawaban, bukan pertanyaan.” Ucap Baekhyun sambil menggertakkan giginya geram. Ia benci jika Luhan bersikap seperti ingin mengalihkan pembicaraan. Kalau dulu mungkin ia selalu berhasil, tapi tidak untuk kali ini. Tidak akan.

Pandangan Luhan memang masih terpaku pada sesuatu di balik jendela sana, tetapi Baekhyun tahu ia sedang memikirkan hal lain dan tidak terfokus dengan apapun yang sedang dilihatnya.

Lagi-lagi Luhan menghela napasnya dan menoleh pada Baekhyun. “Kanker hati,” ucapnya santai seraya mengangkat bahu, “Stadium akhir.”

Selama beberapa detik Baekhyun tak bisa mengedipkan mata bahkan menarik napas. Otaknya berusaha untuk mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan Luhan, padahal ia sudah tahu jelas apa yang diucapkannya karena ia tidak tuli. Ia hanya perlu menganalisis kombinasi dari kata-kata tersebut, menilainya apakah kalimat itu masuk akal atau tidak. Ia tahu ia seperti orang bodoh kalau seperti ini, tapi hanya itulah yang bisa ia lakukan untuk meyakinkan dirinya kalau apa yang dikatakan Luhan itu tidak benar.

Ia jadi teringat kejadian yang hampir membuat jantungnya hampir copot beberapa tahun yang lalu—hal yang juga ia rasakan sekarang—ketika Luhan mengatakan bahwa umurnya tak akan lama lagi dan berujung dengan pengakuan kalau itu semua hanyalah candaan. Dan kali ini Baekhyun pun berharap Luhan juga akan mengatakan kalau yang barusan dikatakannya hanya sebuah lelucon yang menurutnya sama sekali tak lucu.

Baekhyun tertawa miris sambil menggelengkan kepalanya, “Kali ini kau gagal menipuku.”

“Aku tidak sedang bercanda.”

Tawa Baekhyun langsung lenyap.

Baekhyun menatap temannya itu lebih seksama. Dari raut wajahnya jelas sekali mengartikan kalau ia benar-benar sedang serius. Lagi pula, keadaan Luhan yang sekarang sudah membuktikan kebenaran kata-katanya tadi.

Nyatanya Baekhyun hanya terlalu shock sehingga tak mudah rasanya menerima kenyataan ini begitu saja.

“Sejak kapan?” tanya Baekhyun lirih.

“Sejak musim dingin tiga tahun yang lalu. Akhir kelas dua SMA.”

“LALU KENAPA KAU TIDAK PERNAH MEMBERITAHUKANNYA PADAKU?!”

Di luar kontrolnya, tiba-tiba saja Baekhyun sudah meneriakkan kata-kata itu. Suaranya menggema di seluruh ruangan.

Cukup. Ia tak mau lagi mendengar berbagai informasi yang membuat hatinya seperti tersobek-sobek. Ia tak mau mengingat bahwa Luhan sudah mulai mengidap penyakit itu ketika pertemuan terakhir mereka yang tidak mengenakkan dua tahun yang lalu. Ia tak mau menyadari kalau selama ini Luhan sudah menderita dan mencoba untuk bertahan hidup tanpa Byun Baekhyun, dirinya, orang yang entah masih atau tidak dianggap sebagai seorang sahabat bagi Luhan.

Luhan tampaknya sama sekali tak terganggu dengan amarah Baekhyun. Ia masih duduk diam dan menolak untuk menatap Baekhyun.

Baekhyun membuka mulutnya, baru saja ingin mengomentari kebisuannya sebelum Luhan mengucapkan satu kalimat yang berhasil membuat Baekhyun menutup mulutnya kembali.

“Kau… kau tak berhak marah jika kau tak tahu apa yang kurasakan saat itu.”

Luhan menatap Baekhyun dengan berani sebelum melontarkan,

“Kau tak tahu betapa kaget dan frustasinya  aku saat menerima vonis penyakit ini dari dokter. Kau tak tahu betapa sedihnya aku mengingat buruknya takdir hidupku selama ini hingga rasanya ingin bunuh diri saja. Kedua orang tuaku meninggal dunia, aku yang harus meninggalkan tanah kelahiran, hingga penyakit sialan ini. Kau tak tahu bagaimana tak teganya aku melihat Bibi Lin yang tetap tegar dan berusaha semampunya membantu penyembuhanku, susah payah bekerja menguras keringat!” seru Luhan dengan penuh emosi.

“Disaat-saat seperti itu aku ingat aku masih mempunyai teman-teman, guru-guru, dan Bibi Lin yang setia padaku. Aku tahu aku masih punya harapan untuk hidup. Tapi aku tak tega untuk memberitahu mengenai kondisiku padamu. Saat itu aku berpikir mungkin aku akan memberitahunya lain kali, jika waktunya sudah tepat. Namun ternyata aku tak sempat mengatakannya padamu, sampai akhirnya sekarang ini kau tahu sendiri.”

Kini mata Luhan tampak berkaca-kaca. Ada sorot kepedihan yang mendalam di sana.

“Lalu tiba-tiba Bibi Lin mengajakku untuk kembali ke Beijing karena mungkin keluarga-keluargaku di sini bisa membantuku. Aku tak tega menolak ajakan Bibi karena aku tahu jelas betapa sulitnya kondisi keuangan Bibi saat itu. Dan… kau tak tahu betapa beratnya hatiku untuk meninggalkan Seoul setelah aku menghabiskan bertahun-tahun hidupku di sana, bersama teman-teman di sekolah, bersama Byun Baekhyun, satu-satunya sahabatku yang tiba-tiba berubah  seperti asing di detik-detik kepindahanku!”

Luhan tak bisa lagi menahan kepiluan itu karena setetes air mata langsung jatuh dari pelupuk matanya usai ia mengucapkan kalimat itu. Cepat-cepat ia menghapusnya dan kembali mengalihkan pandangannya ke jendela. Lelaki itu menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan, menenangkan diri.

Yang bisa dilakukan Baekhyun saat itu hanyalah membisu. Tak ada satu patah katapun yang sanggup ia ucapkan setelah mendengar apa yang diucapkan Luhan barusan. Kesedihan lelaki itu seakan menular ke tubuhnya, membuat hatinya ikut merasakan pilu atas derita yang dialami temannya selama ini.

“Lu-Luhan…” akhirnya Baekhyun membuka suara setelah beberapa menit.

“Maafkan aku…” ucapnya lirih sambil menatap Luhan yang lagi-lagi hanya ingin membuang muka. “Maafkan aku atas kejadian malam itu…”

“Aku tak pernah marah padamu. Saat itu aku hanya sedikit kecewa. Dan demi Tuhan, sekarang aku baik-baik saja. Kau tak perlu meminta maaf padaku.” Luhan mengusap wajahnya dan mendesah panjang sebelum melanjutkan, “Seharusnya… seharusnya aku yang meminta maaf, karena selalu bersikap semauku saja.”

Tidak. Baekhyun juga tak pernah benar-benar marah padanya. Mungkin rasa egois karena ingin memenangkan pendapat sendiri yang membuatnya tak ingin berbaikan pada Luhan saat pertengkaran hebat mereka itu. Ditambah lagi suasana hatinya yang sedang kacau. Sungguh, entah sudah berapa kali ia tekankan pada diri sendiri bahwa segala kekurangan sahabatnya itu telah diterimanya dengan tangan terbuka.

“Aku… rindu masa-masa di mana aku masih bisa menghadapi hidup ini dengan senyuman dan kebahagiaan, tanpa menghiraukan fakta kalau ada sesuatu dalam tubuh ini yang dapat memperpendek umurku, dan melupakan rasa sakit yang bisa datang kapan saja,” Luhan pun menatap Baekhyun kembali dengan tatapan yang sulit ditebak, “Aku ingin kembali ke waktu itu, Baekhyun-ah, ingin sekali…”

“Luhan.” Baekhyun mencengkram kedua bahu lelaki itu dan menatapnya dalam-dalam. “Satu hal yang perlu kau tahu dari segala hal yang ada di dunia ini, bahwa aku, Byun Baekhyun, adalah sahabat terbaikmu sampai kapanpun dan sahabat yang setia itu tak akan membiarkan sahabatnya menderita, menangis, atau apapun itu yang membuat hatinya sakit. Mungkin dulu aku belum menyandang gelar ‘sahabat setia’ itu. Tapi aku berjanji, mulai sekarang aku akan mencoba untuk mendapatkannya dan kau boleh memukul kepalaku jika aku lari dari janjiku yang satu ini!”

Cengkraman kuat dari kedua tangan Baekhyun sepertinya sama sekali tak membuat Luhan tak nyaman atau kesakitan karena ia tak memprotes. Luhan hanya menatap Baekhyun dengan tatapan… terharu? Lalu—

Plak! Luhan memukul kepala Baekhyun keras sekali, membuat lelaki itu berteriak kesakitan dan melepaskan cengkeramannya, sampai-sampai ia melompat selangkah ke belakang. Baekhyun mengelus kepalanya yang ngilu sambil menatap Luhan heran.

Ya! Kenapa kau memukulku?!”

Luhan diam saja dengan ekspresi wajah datar. Namun lamat-lamat Baekhyun bisa melihat sudut bibir Luhan tertarik dan saat itu juganya tawa tersembur. Luhan tertawa keras sekali sambil sambil menunjuk Baekhyun dengan ekspresi geli.

“Wajahmu tadi… lucu sekali! Hahaha.”

Awalnya Baekhyun tak mengerti apa yang sedang terjadi. Tapi, seperti mendapat petunjuk ketika melihat Luhan yang tak henti-hentinya tergelak, ia pun tertawa hebat. Ia sendiri tak tahu apa yang lucu dari tindakan Luhan yang memukul kepalanya setelah ia berceramah panjang lebar tadi. Namun ia tak peduli. Ia hanya ingin menikmati suasana ini. Merasakan sensasi persahabatan yang sangat ia rindukan dan meresapnya ke dalam sel-sel tubuhnya.

Akhirnya ia bisa menikmati waktu-waktu seperti ini lagi. Betapa rindunya.

“Sudah lama sekali rasanya kita tidak seperti ini.” ucap Baekhyun saat tawanya sudah mulai reda.

Luhan mengangguk. Ia masih tak berhenti tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Baekhyun-ah…”

“Ya?”

“Kata Bibi Lin aku sudah mendapatkan donor hati empat hari yang lalu. Mungkin sekitar tiga hari lagi aku akan menjalani operasi transplatasi hati. Doakan agar operasiku lancar. Sehingga… aku dapat sembuh kembali.”

Baekhyun tersenyum dan mengangguk mantap, “Pasti.”

Baekhyun pun memutuskan untuk menetap di Beijing sampai hari di mana Luhan akan dioperasi itu datang.

*

Operasi transplatasi hati Luhan berjalan dengan baik. Dokter dan para tim medis lainnya berhasil melakukannya. Semua orang sangat bahagia, tak terkecuali Baekhyun dan Bibi Lin.

Namun Luhan meninggal lima tahun kemudian.

Walaupun sudah mendapatkan hati baru, namun sel-sel kanker telah menyebar ke dalam darah Luhan dan otomatis sel-sel itupun hinggap dan berkembang lagi di hati Luhan yang baru. Hal itu membuat kondisi Luhan yang tadinya membaik, semakin memburuk.

Luhan pun menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang di suatu sore yang hangat pada tanggal 5 Mei, sehari sebelum hari ulang tahun Baekhyun.

*

Beijing, 2014

Suasana pemakaman sudah mulai sunyi, kerabat-kerabat Luhan mulai berpulangan sekitar seperempat jam yang lalu. Hanya tersisa Baekhyun dan Bibi Lin di sana. Mereka berdua  duduk berlutut di samping makam Luhan.

Tak ada yang bersuara. Keduanya begitu larut dalam suasana duka yang mendalam.

“Baekhyun-ah…”

Baekhyun langsung menoleh ketika Bibi Lin memanggilnya.

“Kau masih ingin di sini?”

“Sebentar lagi, Bibi.”

“Baiklah. Kalau begitu Bibi akan menunggumu di gerbang pemakaman. Oh, ya,”

Bibi Lin mengeluarkan sesuatu berbentuk persegi panjang dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Baekhyun.

“Ini… hadiah ulang tahunmu yang sudah disiapkan Luhan sejak tiga hari yang lalu.”

Setelah mengatakan itu, Bibi Lin menepuk pundak Baekhyun pelan sambil tersenyum. Wanita itu pun bangkit dan segera berjalan meninggalkannya.

Baekhyun mengamati benda yang ada di tangannya itu. Penasaran, ia langsung membuka bungkusannya. Dan yang didapatinya setelah bungkusan itu terlepas seluruhnya adalah sebuah buku tebal berwarna biru tua. Buku biografi Helen Keller.

Lalu ia teringat akan sesuatu. Sekitar dua minggu yang lalu saat ia sedang mengobrol dengan Luhan lewat aplikasi video callSkype, ia mengatakan pada Luhan bahwa ia sangat penasaran pada sosok wanita tunanetra yang telah menggemparkan dunia itu. Saat itu Luhan berkata kalau sebentar lagi pasti rasa penasaran itu akan hilang. Awalnya Baekhyun tak mengerti apa maksudnya. Namun sekarang ini, setelah ia mendapati buku ini di tangannya, akhirnya ia paham.

Selain buku itu Baekhyun juga menemukan selembar kartu ucapan ulang tahun. Tanpa berpikir panjang ia pun langsung membacanya.

.

Selamat ulang tahun yang ke-26, Baekhyun-ah!

Bagaimana hadiahnya? Semoga kau tak penasaran lagi dengan sosok inspiratif itu. Kau tahu, kan, dibalik kekurangan seorang manusia Tuhan pasti memberikan kelebihan untuknya.

Oh, ya. Kau masih ingat kata-kataku beberapa tahun yang lalu? Meilleurs amis pour toujours. Kurasa sampai sekarang kau masih belum tahu itu apa. Dasar! -_-

Tapi baiklah, akan kuberi tahu. Itu bahasa Prancis, artinya, ‘bersahabat selamanya’. Dan asal kau tahu, butuh seharian bagiku untuk belajar mengucapkan kalimat itu dengan sempurna layaknya orang Prancis. Ngomong-ngomong, kita memang berteman selamanya, kan? xD

— Luhan

.

Baekhyun menutup kartu itu dan pandangannya langsung buram. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tak akan menangis setelah pemakaman Luhan usai. Tapi sepertinya ia sudah terlanjur melanggarnya karena kini air mata yang sudah susah payah ditahannya itu jatuh tepat di atas kartu ucapan.

Baekhyun menangis dalam diam. Ia menatap buku biografi Helen Keller pemberian Luhan dan makam lelaki itu secara bergantian sambil menggigit bibirnya yang bergetar hebat. Hatinya benar-benar perih kala mengingat bahwa sahabatnya kini sudah hidup di alam yang berbeda dengannya. Mereka tak akan pernah bisa bercengkrama, bermain, dan melakukan hal-hal sederhana yang biasa dilakukan sepasang sahabat seperti yang mereka lakukan dahulu.

Tapi Baekhyun tahu, walau demikian, Luhan masih tetap mengisi bagian dari kehidupannya sampai kapanpun. Kenangan-kenangan persahabatan mereka masih tersimpan jelas di memori otaknya dan ia tak akan pernah melupakannya atau berniat sedikitpun untuk melakukannya. Segala pelajaran dari masalah-masalah yang mereka hadapi pun akan selalu dijadikannya sebagai guru untuk masa depan, yang ia sangat bersyukur pada Tuhan karena telah memberikan masalah itu padanya untuk sesuatu yang lebih baik.

Luhan, orang yang telah mengajariku makna pertemanan yang sesungguhnya. Kenyataannya kau memang sudah pergi meninggalkan dunia ini. Namun, kau akan selalu hidup di hati orang-orang yang menyayangimu.

Selamat tinggal, sahabatku. Yang selamanya akan terus menjadi sahabatku.

End

.

.

.

Yap, ini namanya super fail.

Aku bukan shipper mereka. Aku bukan boyxboy shipper lebih tepatnya. Tapi aku pengen aja gitu buat FF friendship yang sad (walaupun gagal). Dan terpilihlah Baekyun-Luhan untuk FF ini xD

2 thoughts on “[FF Freelance] Words from A Friend (Oneshot)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s