Love Story Between Us [Part 3]

love-story-between-us-3

Judul : Love Story Between Us|| Cast : All Got7′s member || Support Cast : You can find it! || Ratting : PG-12 || Genre : Friendship, Romance, Family || Disclaimer : cerita 100% milik author. Mohon maaf jika alur gaje dan cerita nggak nyambung. || Summary : Sekilas Bambam menoleh kearah Hayoung. Gadis itu sedang tersenyum sambil menatapnya, yang membuat Bambam jadi salah tingkah. “Eum… apa sabtu malam kau sibuk?” “Tidak begitu kok, kenapa?” “Ma… maaf ya kalau terkesan lancang. Apa kau mau pergi denganku?” Mendengar tawaran Bambam, Hayoung kembali tersenyum. Senyum yang sangat manis di mata Bambam. “Iya, aku mau. Kenapa kau harus minta maaf?”

Part 1 || Part 2

“Sudah tiga hari Jb Hyung tidak pulang,” ujar Youngjae saat sedang makan malam bersama lima anggota yang lain.

“Ponselnya pun tidak aktif,” sahut Junior sambil membereskan beberapa piring kosong.

“Mungkin saja ia sedang sibuk,” hibur Mark. “Aku juga tidak mengaktifkan ponselku kalau sedang sibuk, kan?”

“Tapi ini aneh. Apa sesuatu terjadi padanya ya?” simpul Jackson yang seketika langsung mendapat pelototan tajam dari Mark dan adik-adiknya.

“Jangan bicara sembarangan Hyung! Mungkin saja ucapan Mark Hyung benar,” sahut Bambam.

“Atau kita telepon kerumah orangtuanya saja?” usul Yugyeom. “Eh tapi, kita tidak punya nomor rumah orangtuanya.”

“Tidak seperti yang lain, Jb memang tertutup. Sama seperti Youngjae. Memang teman sekamar yang pas,” kata Junior.

“Enak saja. Aku tidak akan menghilang seperti ini,” bantah Youngjae.

“Jb Hyung… dia sedang sakit kan sebelum pergi seperti ini?” tanya Yugyeom. “Aku takut kalau ucapan Jackson Hyung benar-benar terjadi.”

“Aku tadi berpikiran seperti itu, makanya bisa mengambil kesimpulan seperti tadi,” sahut Jackson.

“Sudah, lebih baik kita berdoa saja semoga Jb baik-baik saja,” kata Mark menenangkan.

 

—<>—

 

“Jackson? Untuk apa kau memanggilku kesini?” tanya Bomi begitu ia sampai di lapangan basket. Lapangan basket siang itu cukup sepi, hanya ada Jackson yang asyik mendribble bola basketnya.

“Eh Nuna, kau sudah datang,” sahut Jackson sambil menghampiri Bomi.

“Memangnya apa yang ingin kau katakana?”

Jackson pun melihat kearah Bomi, setelah melempar asal bola basketnya, ia kembali menatap Bomi, yang membuat seniornya itu heran.

“Nuna, kau single kan?”

“Kalau iya, memang kenapa?”

“Maaf kalau terkesan lancang, tapi… aku sudah menyukaimu sejak lama. So, would you be my girlfriend?”

Mendengar pengakuan Jackson, Bomi sama sekali tidak terkejut. Sebab ia sudah tahu kalau juniornya itu sudah menyukainya sejak masa orientasi siswa.

“Maaf, aku tidak bisa menerimanya,” ujar Bomi.

“Kenapa? Apa karena… aku satu tahun lebih muda dibawahmu?”

“Kau satu apartemen dengan Mark, kan?”

“Iya, memang kenapa?”

“Andai saja Mark yang mengatakan hal ini padaku, mungkin akan lain ceritanya. Karena, aku menyukai Mark.”

“Kenapa harus Mark Hyung?”

“Kau tahu, dibanding dirimu, aku lebih menyukai Mark. Meskipun kalian tinggal satu apartemen, sama-sama bisa bahasa Inggris juga Mandarin, tetapi Mark jauh lebih baik daripada kau. Permisi,” ujar Bomi sambil pergi meninggalkan lapangan basket. Meninggalkan Jackson dengan perasaan hancur berkeping-keping.

“Sial!” umpat Jackson sambil kembali mengambil bola basketnya. Kemudian ia melempar asal bola tersebut ke dalam ring.

Agak jauh dari sana, tampak sepasang mata sedang memperhatikannya. Sepasang mata milik seorang gadis berambut pendek. Gadis itu sedaritadi sudah memperhatikan Jackson, termasuk saat pemuda itu sedang menyatakan cinta pada Bomi.

Andai kau tahu yang sebenarnya, Jackson… dan andai kau tidak salah orang…

 

—<>—

 

“Yang ini?” tanya Junior pada seorang gadis yang sedang kesulitan mengambil sebuah buku di rak paling atas. Junior pun mengambilkan buku yang di maksud si gadis.

“Gamshanida… lho, Junior Oppa?” sapa si gadis sambil membungkuk.

“Hayoung-ah, ini bukunya,” kata Junior sambil menyerahkan sebuah buku karya ilmiah pada Hayoung.

“Gomawo Oppa. Mungkin kalau tidak ada kau, sampai kapanpun aku tidak akan mendapatkan buku itu,” canda Hayoung. Junior hanya tersenyum kecil.

“Cheonma, kau sendirian saja?” tanya Junior basa-basi.

“Harusnya aku pergi bersama Youngjae karena kami sudah janji akan pergi ke toko buku sepulang sekolah. Tapi tadi, mendadak klub karya ilmiah ada rapat. Daripada menunggu Youngjae rapat, lebih baik aku kesini sendirian,” jelas Hayoung. “Kau juga sendirian?”

“Iya, aku mau mencari referensi untuk tugas yang diberikan dosenku. Kau suka baca buku seperti ini?”

“Anni, ini titipan Youngjae. Aku lebih suka sastra fiksi dibanding buku seperti ini. Nanti bisa tolong kau berikan buku ini pada Youngjae? Kalian kan, tinggal satu rumah.”

“Baiklah, nanti akan kuberikan.”

“Terimakasih lagi ya, Oppa.”

“Kau sudah makan?”

“Belum, kalau Oppa?”

“Belum juga. Kajja kita makan ke restoran langgananku, biar aku yang traktir,” tawar Junior.

“Jjinja Oppa?”

“Iya, ayo.”

 

—<>—

 

“Bambam-ah, ayo kita pulang,” ajak Yugyeom. Sementara Bambam hanya terus membaca komik, walau Yugyeom tahu sebenarnya Bambam tidak benar-benar membaca komik tersebut.

“Kau duluan saja. Nanti aku menyusul.”

“Kau ini kenapa sih? Dan kenapa daritadi kita hanya berdiam diri disini?” tanya Yugyeom. Waktu pulang sekolah sudah lewat satu jam yang lalu, tapi bukannya pulang, Bambam dan Yugyeom justru pergi ke taman sekolah.

“Kau tahu, tadi Jimin bilang suka padaku, dan ia ingin aku menjadi pacarnya,” beritahu Bambam.

“Lalu, kenapa kau tidak terima saja?”

“Mana bisa begitu. Besok kan aku ingin mengajak Hayoung Nuna kencan, sekalian aku ingin menembaknya. Kalau aku terima Jimin, bisa lain ceritanya.”

“Lalu kau memberi jawaban apa pada Jimin?”

“Aku bilang tidak, tapi kalau aku melihatnya, aku merasa tidak enak padanya. Lalu aku harus bagaimana?”

Yugyeom menatap sahabatnya yang sedang baca komik itu. Kalau dilihat-lihat, Bambam memang cukup imut meskipun lebih pendek sekitar 10 senti dibanding dirinya. Pipinya agak tembem dan memiliki senyum menawan, serta sifatnya yang ramah dan sedikit kekanakan, siapapun pasti akan menyukainya. Kalau melihat Bambam, kadang Yugyeom jadi ingat dengan adik laki-lakinya.

“Lalu kenapa kita bersembunyi disini?” tanya Yugyeom lagi.

“Kan sudah kubilang, aku tidak berani melihat Jimin. Jadi aku akan pulang kalau sekolah sudah benar-benar sepi. Aku takut Jimin masih berkeliaran di sekolah. Kalau kau mau pulang, pulang saja duluan,” sahut Bambam sambil terus membaca komik.

Yugyeom hanya geleng-geleng kepala, kemudian ia rebahan dibawah pohon besar sambil menjadikan tasnya sebagai bantal.

 

—<>—

 

“Hei Mark, kau tahu?” beritahu Bomi begitu Mark keluar dari perpustakaan.

“Tidak, kan kau belum memberitahuku,” ujar Mark dingin. Sejujurnya, ia sedang tak ingin diganggu oleh gadis dikuncir satu yang kini berjalan disampingnya itu.

“Kau kenal Jackson Wang kan?” tanya Bomi, sementara Mark hanya mengangguk. “Tadi, ia menyatakan cintanya padaku.”

“Lalu, apa jawabanmu?”

“Ya tentu saja aku menolaknya,”

“Kenapa?”

“Aku tidak tertarik padanya. Entahlah, Jackson bukan tipeku.”

Dan kaulah tipeku, lanjut Bomi dalam hati.

“Oh begitu. Kau bisa pergi sekarang? Aku sedang sibuk.”

 

—<>—

 

“Jackson-ah, bisakah kau berhenti untuk mendapatkan cinta dari Bomi Eonni?” tanya Hyeri. Jackson yang bingung dengan pertanyaan Hyeri segera melempar bola basketnya dan menghampiri Hyeri yang sedang duduk di pinggir lapangan.

“Maksudmu?” tanya Jackson.

“Maksudku, kau kan sudah 3 kali ditolak oleh Bomi Eonni, tidak bisakah kau lebih peka terhadap perasaan seseorang yang menyukaimu?”

“Menyukaiku?” tanya Jackson sambil menaikkan alisnya. “Memangnya ada gadis yang menyukaiku? Bomi Nuna saja menolakku karena aku ini bad boy.”

“Ada,” jawab Hyeri dengan pasti.

“Siapa orangnya?”

“Ada didepan matamu. Bisakah kau berhenti mengejar seseorang yang tidak pernah menoleh padamu, sementara didepan matamu ada seseorang yang selalu menunggumu?” ujar Hyeri.

“Kau…”

Hyeri pun menatap Jackson dengan tatapan iya-orang-itu-adalah-aku. Sementara Jackson semakin bingung dengan tatapan sahabatnya itu.

tbc…

 

gimana readers? maaf kalo mengecewakan, maaf juga lama, dan maaf juga kalo terlalu singkat karena pas nulis part ini author lagi ide buntu + sibuk sama persiapan uas hehe 😀 komen ditunggu ya

2 thoughts on “Love Story Between Us [Part 3]

  1. waduh kayanya semuanya semakin terus terang satu sama lain, suka ya bilang suka, kalo enggak ya langsung tolak hihi
    next part soon

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s