[Twoshoot] 1 of 2 강남 마지막 지하철(Gangnam Majimag Jihacheol)/Last Gangnam Subway

cvrgaggnnn

Shin Min Rin/Lin

present

강남 마지막 지하철(Gangnam Majimag Jihacheol)/Last Gangnam Subway

Main Cast:

-Park Jiyeon(T-Ara) as Park Jiyeon-

-Kim Myungsoo/L(Infinite) as Kim Myungsoo-

other cast(s):

Hyuk(VIXX) as Han Sanghyuk

Ken(VIXX) as Lee Jaehwan

others

Life, Lil bit Romance, Friendship, Lil bit comedy(?) | Rated T | TwoShoot

Disclaimer

Fanfic ini hasil remake dari short movie  30 menit “Nagoya Iki Saishuu Ressha”. Judulnya juga hasil diubah dari arti short movie tsb. Isi cerita di fanfic ini tidak semuanya sama dengan asli cerita. Mungkin bisa dijabarkan sekitar 25% plot asli dari saya(author). Cast belong to themselves. Please appreciate it >/////<

Summary

“Cause lost item have a story or a reason behind it.”

A/N WARNING! TYPO(s), OOC, OOT!

Don’t Like? Simple! Don’t Read!

=.=Happy Reading=.=

 

“Hah…. Semuanya sia-sia. Kenapa ini semua harus terjadi? Padahal semuanya sudah berjalan baik pagi ini.”

 

-=-

 

Jiyeon’s Home 06.15 KST

 

Alarm dari ponsel pintar ku itu(read: smartphone) mengawali pagi hari. Aku menyibakkan gorden kamar dan menyapa sinar mentari pagi yang dengan leluasa masuk melalui pantulan jendela besar dari kamar. Menyiapkan pakaian terbaik untuk hari ini, kemudian mandi dan gosok gigi serta sarapan pagi. Ku lakukan semua itu dengan cepat dan gesit.

Samar-samar terdengar dering ponsel dari arah kamar. Aku yang awalnya berniat untuk mencuci piring serta gelas bekas makan segera menundanya dan lebih memilih untuk berlari kecil menuju deringan ponsel tersebut. Segera ku angkat deringan telepon yang entah dari siapa itu dengan cepat.

Yoboseyo?” aku kemudian menjauhkan ponsel dari telinga dan melihat layar ponsel untuk memastikan orang yang menelpon ku ini.

“…………Ah Gwanjaein! Ne, jeosonghamnida. Ne, aku bergadang tadi malam untuk menyelesaikan sentuhan akhirnya. ”

Sambil masih menempelkan telpon yang masih tersambung dengan atasan ku. Aku bergerak mengambil mantel yang tergantung rapi di lemari.

“Desainernya akan pergi ke New York untuk menghadiri festival Fashion musim ini, jadi mereka sedang terburu-buru. Ne, jangan khawatir. Semuanya sempurna!” Masih sambil berbicara aku memakai mantel berwarna peach yang ku pegang. Tak lupa aku bergerak menuju meja yang tersusun buku-buku serta barang-barang penting ku disana. Meraih tas yang berada di kursi dekat meja lalu…

“Desainnya? Saya sudah menyimpannya di dalam flash disk,” tangan ku bergerak dengan cepat mengambil flash disk yang ada di atas meja. Memasukkannya ke dalam tas kertas yang sudah terisi beberapa lembar dokumen penting sebelumnya. “Ne? Tidak mungkinkan saya akan melupakannya setelah saya dipercayakan untuk presentasi kali ini, hehehe. Well, Gwanjaein nanti bisa memeriksa hasil desainnya. ”

Panggilan berakhir dan aku memasukkan handphone ku ke dalam tas. Aku mulai keluar dari kamar sambil menyampirkan tas di bahu dan tidak lupa membawa hal yang paling penting, yaitu tas kertas.

 

.-.-.

 

Seperti biasa, pagi yang sibuk dengan dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu lalang melaksanakan tugas mereka masing-masing. Sambil merasakan hangatnya sinar mentari pagi, aku sendiri berjalan menuju stasiun subway untuk pergi ke kantor.

Dua tahun yang lalu, aku mulai bekerja di sebuah perusahaan periklanan. Aku diberi kepercayaan untuk menyampaikan proyek presentasi setelah sekian lama aku bergabung dengan perusahaan, ini merupakan pertama kalinya aku diberi proyek penting! Apalagi kali ini adalah proyek besar! Dan besok aku akan menyampaikan proyek presentasinya. Uwaaaah, aku sedikit deg-degan dan senang.

Aku meletakkan kartu tiket di atas mesin pengscan dan berjalan menuju subway yang akan membawa ku menuju tempat tujuan. Orang-orang begitu ramai menunggu kedatangan subway yang akan membawa mereka ke tempat tujuan masing-masing. Aku melihat subway yang akan membawa ku, pintunya sudah terbuka dan dijaga oleh satpam disana. Beramai-ramai aku beserta orang lain memasuki pintu subway. Ketika aku memasuki subway. Hanya satu yang terlintas di pikiran ku. Mata ku mulai mencari-cari seseorang.

Assa! Aku melihatnya disana. Lucky! Dia sendiri kali ini. Tanpa sadar bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman dengan sendirinya.

Kaki ku berjalan mendekatinya, lebih tepatnya kursi kosong yang berada disampingnya. Aku mendudukkan diri ku disampingnya dengan perasaan yang amat bahagia. Matanya yang memejam tidur tanpa terasa ada gangguan itu terlihat damai. Wajahnya yang tampan makin terlihat tampan saat tertidur. Dia namja tampan yang sering ku lihat di subway setiap pagi, akhirnya hari ini aku bisa duduk disampingnya! Senangnyaaaa.

Subway mulai berangkat, mata ku memandang lurus ke depan melihat ramainya penumpang sekarang. Aku sangat menikmati hidup ku selama mengendarai Seoul Metro. Dan kalian harus tau! Namja tampan disamping ku sekarang menyandarkan kepalanya tepat di pundak ku! Kyaaaa~ wajahnya yang tampan terlelap tidur seperti bayi saja. Aku tersenyum senang, pipi ku terasa memerah.

It’s so lovely lovely sarang seurowo~

Nan niga jakkuman johajwo~

Seketika sekitar ku terasa seperti dikelilingi hati merah muda serta sinar mentari hangat dan dilatar belakangi oleh lagu Mr. Chu dari A-pink yang sangat manis.

Subway sudah berjalan sedari tadi dan namja tampan di samping ku kini sudah tidak menyandarkan kepalanya di bahu ku lagi. Sekarang kepalanya malah tersandar pada dinding kaca dibelakangnya. Aku meliriknya sesekali dengan senyuman yang masih terpatri saat melihatnya. Kenapa namja ini sangat tampan?

 

~

 

Jiyeon mengeluarkan lembaran dokumen dari tas kertasnya, memeriksanya sejenak dan menyimpannya kembali di belakang badannya. Tas kertas itu dihimpitnya dengan punggung belakang agar tidak menghilang. Jiyeon pun juga memeriksa handphonenya sebentar lalu memasukkannya kembali ke dalam tas miliknya. Sesekali ia tak lupa untuk melirik ke samping kanannya melihat lelaki tampan itu. Ia pun tersenyum kembali. Sungguh cinta membuat orang tidak waras.

“Kita akan sampai ke stasiun Gangnam! Kita akan sampai ke stasiun Gangnam! We are about to arrive at Gangnam station! We are about to arrive at Gangnam station!”

Terdengar pemberitahuan dari pengeras suara yang terpasang pada sudut langit-langit subway. Para penumpang yang berhenti pada stasiun Gangnam pun mulai bersiap-siap untuk turun. Jiyeon seakan tersadar dari lamunannya, dan ia menyampirkan tas ke bahunya sebelum suasana mulai ramai dan tas yang diletakkan bebas di pangkuannya terombang-ambing oleh lautan manusia. Ia tak mau sampai itu terjadi, karena itu pernah kejadian padanya sebelumnya. Ngomong-ngomong lelaki di sampingnya masih tertidur dengan pulas. Tak henti-henti kepalanya terhantuk-hantuk seperti mengikuti irama yang berasal dari hentakan kecil subway.

Jiyeon kembali menatap namja di sebelahnya. Ia tampak seperti berpikir sesuatu. “Seingat ku, bukannya dia biasa turun di Gangnam?” Jiyeon bergumam pelan dengan mata yang masih tak lepas dari namja berjas lengkap seperti seorang karyawan kantor itu.

Subway masih berjalan menuju stasiun pemberhentian Gangnam yang berada sudah tidak jauh lagi. Di stasiun Gangnamnya sendiri terlihat para penumpang yang akan menempati subway selanjutnya sudah mulai bersiap untuk menanti kedatangannya. Satpam penjaga garis tepi rel pun mulai mengangkat papan ditangannya.

[Stasiun Gangnam]

“Gangnam-gu! Gangnam-gu!”

Subway sudah berhenti tepat di stasiun Gangnam begitu terdengar suara dari pengeras suara. Lelaki di sebelah Jiyeon masih tetap tertidur tanpa merasa terganggu sedikitpun. Subway berhenti, suara hentiannya terdengar jelas dan para penumpang mulai bergerak untuk turun. Jiyeon pun mengalihkan pandangannya yang sebelumnya tersita pada lelaki di sebelahnya untuk melihat para penumpang yang sudah bergerak menuju pintu subway.

“Periksa kembali barang bawaan anda. Harap untuk tidak meninggalkan barang bawaan anda di dalam subway.” Suara petugas yang terdengar dari pengeras suara kini terdengar kembali mengingatkan para penumpang.

Jiyeon memalingkan wajahnya pada lelaki di sebelahnya. Sekarang hanya penumpang yang akan terus melanjutkan perjalanan yang tetap berada dalam subway yang tersisa. Jiyeon menatap lelaki itu dan menepuknya.

Chogiyo. Ini stasiun Gangnam.” Lelaki tadi terbangun dengan terkejut. Lalu ia memandang sekelilingnya dan melihat jendela di belakangnya. Dari gerak-geriknya kelihatan sangat panik.

“Aaaah, gawat!” dengan cepat lelaki tadi berdiri tanpa menoleh atau mengucapkan sepatah kata pun. Ia berlari menuju pintu subway tampak sangat terburu-buru. Sepertinya ia akan melakukan sesuatu yang penting baginya.

Lelaki itu meninggalkan kebingungan bagi Jiyeon yang sekarang hanya menatap kepergiannya. Jiyeon menoleh ke sampingnya dan mendapati tas jinjing plastik lelaki itu tertinggal.

‘Ah, bukankah itu milik namja tadi?’ Jiyeon berbicara dalam hati dan tanpa pikir panjang ia mengambil tas itu dan berdiri melihat ke depan saat lelaki itu masih terlihat siluetnya dalam subway.

Jamkamman!”

Jiyeon berlari mengejar lelaki tadi sambil membawa tas jinjing plastik milik lelaki itu. Hingga ia melupakan sesuatu yang penting tertinggal dalam subway.

 

~

 

Nafas Jiyeon mulai ngos-ngosan berlari menaiki anak tangga mengejar namja tadi yang masih terlihat punggungnya.

Chogiyooo!” Teriak Jiyeon seraya menaiki anak tangga dan masih mengejar namja tadi. Lelaki tadi pun segera menoleh ke belakang dan melihat Jiyeon yang berlari mengejarnya. Matanya membelalak kaget.

Ia berhenti sejenak dan memandang Jiyeon. “Ne?”

Jiyeon mendekatinya dan menunjukkan tas jinjing plastik milik lelaki tersebut.

“Ini…. Kau meninggalkannya.”

Lelaki tadi melihat tangannya dan terkejut entah untuk keberapa kalinya sambil menatap Jiyeon takjub dan tersenyum senang.

“Aah, omona. Syukurlah!” lelaki tadi berkata sambil mengambil tas jinjing itu dari tangan Jiyeon. Ia tiba-tiba menggenggam tangan Jiyeon. “Gomapseumnida sudah mengantarkannya sampai kesini.”

Lelaki itu tersenyum lembut dan tulus. Pipi Jiyeon tiba-tiba merona. Lelaki di depannya ini terlihat sangat lebih lebih tampan saat tersenyum. Dan lagipula, tangan Jiyeon sekarang digenggam oleh lelaki yang selama ini diperhatikannya. Jiyeon menunduk tersipu malu sambil menyunggingkan senyum sumringahnya.

Cheonmaneyo…” jawab Jiyeon dengan malu-malu.

“Oh. Bagaimana agasshi bisa tau kalau aku akan turun di stasiun ini?”

Keuge… karena kita sering naik subway yang sama. Aku sering melihat mu turun di stasiun Gangnam,” Jiyeon melepaskan genggaman tangan mereka dan menunjuk ke belakang, menghilangkan kegugupannya. Lelaki di depannya mengangguk mengerti.

“Ah, Joneun Park Jiyeon imnida.” Jiyeon memperkenalkan diri dan menunjukkan kartu namanya pada lelaki di hadapannya. Serupa dengan apa yang dilakukan Jiyeon, lelaki itu juga menunjukkan kartu nama miliknya dan ikut memperkenalkan diri.

“Kim Myungsoo imnida,”

Mereka pun saling bertukar kartu nama. Lelaki bernama Myungsoo itu meraih kartu nama Jiyeon dan membacanya sebentar.

“Jiyeon-ssi kau sungguh penyelamat ku hari ini!” Myungsoo memasukkan kartu nama Jiyeon ke dalam dompetnya dan menunjuk tas jinjing plastik miliknya. “Ini adalah dokumen yang aku kerjakan sepanjang malam untuk presentasi pertama ku.”

“Waaa… Jeongmal? Aku juga akan menyampaikan presentasi pertama ku….. dokumen ini….” Jiyeon mengalihkan pandangannya menatap tasnya dan matanya membelalak kaget tiba-tiba. Tas kertas itu tidak ada terselip di tas Jiyeon!

“Heeeee??! Tidak ada….” Jiyeon menoleh ke kiri dan kanan mencari-cari tapi tidak ada juga. “Tidak ada…”

Jiyeon menatap Myungsoo dengan matanya yang membulat besar, “TIDAK ADA!”

Jiyeon berlari dengan cepat menuruni anak tangga dan meninggalkan Myungsoo disana. Myungsoo hanya terdiam dengan pikiran yang bingung melihat kepergiannya secara mendadak.

“INI BURUK! AAAAH, GAWAT GAWAT! HAAAAA…!” Saking paniknya Jiyeon, ia tak sadar kalau orang-orang kini tengah melihatnya yang menuruni tangga sambil bermonolog dengan suara yang cukup keras.

Begitu Jiyeon sudah berada di bawah dan mencari subway tadi. Subway tadi sudah berjalan meninggalkannya yang panik karena baru sadar tas kertas penting itu tertinggal. Sungguh malang nasib Jiyeon.

“Haaaaa….!” Jiyeon memegang pipinya panik dan hanya melihat kepergian subway itu dengan sangat tidak rela.

 

~

 

Subway itu sudah berjalan menjauh dari stasiun Gangnam. Penumpang di dalamnya tidak seramai sebelumnya. Terbukti dengan penumpang yang berdiri memegang holder sudah mulai sedikit. Hanya penumpang muda yang berdiri memberikan kursi mereka pada yang lebih berhak.

Dua orang lelaki berjas lengkap dengan tas mereka itu berjalan mencari kursi kosong. Dan syukurlah mereka mendapatkannya sekarang.

“Kalau kita naik di stasiun Gangnam banyak penumpang yang berkurang seperti ini.” Lelaki yang terlihat bername tag Lee Jaehwan itu berbicara kepada lelaki yang terlihat lebih muda darinya, dan tertera Han Sanghyuk pada name tagnya. Mereka berbicara sambil duduk bersebelahan.

Ne, maja Hyung.” Jawab Sanghyuk sambil tersenyum.

Tanpa disadari oleh Sanghyuk, ternyata ia menyandarkan dirinya pada tas kertas berwarna putih yang ada disana. Karena kuatnya kasus pencurian dalam subway, dan ia juga takut tasnya dicuri. Ia menaruh tasnya dibelakang badannya menimpa tas kertas tadi. Jaehwan tampak mengedarkan pandangan menatap sekelilingnya.

 

Sedangkan di tempat lain, di stasiun Gangnam tempat Jiyeon berada saat ini…

Jeosonghamnida Gwanjaein…” Jiyeon menjawab telponnya sambil berjalan penuh kepanikan, dari nada suaranya jelas terdengar penyesalan.

“Tiba-tiba saya merasa tidak enak badan, jadi saya pergi ke rumah sakit dulu,” Jiyeon menaiki tangga masih tetap berbicara pada atasannya. Ia berhenti sesaat karena kaget oleh pembicaraan atasannya, “GeuronikkaGogjongmaseyo Gwanjaein. Percayakan padaku, ne.”

Ekspresi wajahnya sudah mulai agak tidak enak karena berbohong pada atasannya. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Sambungan telepon diputus dan Jiyeon hanya bisa menghela nafas menatap layar ponselnya.

“Haaaaa….. Aku tadi buru-buru dan lupa untuk membackup datanya…. Haaaa eotheokeeee? Aku dalam masalah besar sekarang…”

Jiyeon menunduk lesu seakan tak berdaya. Ia hanya bisa berjalan lunglai. Matanya mengitari keadaan sekitar. Cahaya lampu seakan-akan bersinar terang menyinari sebuah ruangan kecil yang terdapat ramai orang di dalamnya. Tertulis ‘Lost & Found Items’ pada papan di atas pintu kaca tersebut dengan berbagai bahasa. Lampu neon bersinar dengan terang di kepala Jiyeon dan ia berlari menuju ruangan Lost & Found Items tersebut.

‘Lost & Found Items! Yap! Disini!’, Jiyeon berkata dalam hati dan mengangguk mantap seraya memasuki ruangan yang dipenuhi ramainya orang di dalam.

Suara ribut-ribut tercipta dari ramainya orang disini. Dari bermacam fisik, permasalahan, teriakan yang tidak sabaran serta ada seorang asing makin meramaikan suasana di depan meja petugas. Jiyeon hanya bisa menghelas nafas melihat orang seramai ini.

“Aku kehilangan mikropon ku! Namanya Koi.” Ucap salah seorang lelaki berambut panjang dan berjaket warna hijau.

“Aku sudah beri tahu kau kalau aku kehilangan kaligrapi kerajinan tangan punya ku yang bertuliskan ‘Gwenchanaseyo Eomma’!” seorang bibi-bibi berkata dengan setengah berteriak.

“Medali ku hilang!” ucap seorang paman yang terlihat sangat tidak sabaran.

Seorang gadis muda mengunyah permen karet dengan santainya dan berucap, “Aku ketinggalan anak ku di subway!”

Mata Jiyeon tercengang terbelalak mendengarnya. Bagaimana bisa anak pun bisa ketinggalan dalam subway?

Dengan tenang petugas yang berada di hadapan mereka itu berbicara dan memberikan barang-barang mereka yang tertinggal.

“Ini. Mikroponnya.”

“Ini. Kaligrapi kerajinan tangannya.”

“Ini. Medalinya.”

“Ini. Anaknya.” Dengan santainya petugas tadi memegang lengan si anak kecil yang mengisap ibu jarinya dan memberikannya kepada ibu muda permen karet tadi. Ibu muda itu terlihat tidak panik menemukan anaknya kembali.

Seketika kerumunan orang-orang yang berada di depan meja petugas mulai berkurang, mereka pergi sambil membawa barang bawaan mereka yang tertinggal. Hanya tinggal Jiyeon seorang.

“Apa masalahnya?” tanya petugas itu kepada Jiyeon. Jiyeon yang masih bengong menatap kepergian orang-orang tadi kini memfokuskan dirinya disini. Ia berjalan mendekati meja petugas tadi.

Chogiyo, bagaimana bisa orang-orang tadi meninggalkan barang, hmm seperti medali!?”

“Dia membawa medali bersamanya dalam subway, dan waktu itu mulai hujan. Dia baru ingat soal beberapa jemuran baju yang masih dijemur di rumah dan pada saat sampai stasiun tujuannya, dia langsung pergi, lupa membawa medalinya.”

Jiyeon masih dengan tatapannya yang membulat mengangguk mengerti. Aneh-aneh saja orang bisa melupakan barang hanya karena lupa mengangkat jemuran.

“Apapun barang yang hilang, pasti ada cerita atau alasan dibalik itu semua.” Petugas tadi kembali melanjutkan percakapannya. Jiyeon mengangguk mengerti dan seperti takjub oleh perkataan petugas ini.

Arasseo…”

“Nah, apa yang kau lupakan agasshi?” petugas itu kembali bertanya.

Mata Jiyeon memutar memikirkannya. Bisa-bisanya ia lupa pada saat begini.

“Ah! Tas kertas berwarna putih dan ada tulisan ‘Royale.co’!”

 

Beralih ke dalam subway yang dimaksudkan Jiyeon. Subway itu masih dalam perjalanannya untuk menuju stasiun pemberhentian selanjutnya. Tampak kedua namja tadi berbincang-bincang membicarakan pekerjaan kantor.

“Kau sama sekali belum memperbaiki ini. Apa yang kau dengar hah? Aku sudah memberi tau mu untuk melakukan apa kan?” Jaehwan menyentilkan jarinya pada kertas yang dikeluarkan Sanghyuk dari map miliknya. Kelihatannya Jaehwan sedang memeriksa hasil kerjaan Sanghyuk.

Ne, Ne. Mianhamnida hyung!” hanya itu yang terucap dari mulut Sanghyuk melambangkan penyesalannya.

Karena kursi di sebelah kanannya diduduki oleh orang lain, Sanghyuk yang mengeluarkan isi mapnya sambil menunggu pemeriksaan Jaehwan pun meletakkan beberapa berkas dari dalam tasnya tadi ke belakang badannya. Berkas-berkas dokumen Sanghyuk pun bercampur dengan tas kertas milik Jiyeon.

[Stasiun Seocho-Gu]

Subway yang membawa Jaehwan dan Sanghyuk sudah berjalan pelan dan berhenti di stasiun pemberhentian Seocho-Gu. Para penumpang mulai bersiap untuk bergerak turun.

 

~

 

“Tidak ada? Apa kau yakin?”

Ye, tentu saja. Semua informasi yang berhubungan dengan barang hilang akan langsung diberitaukan kesini sesudah itu ditemukan petugas. Tas kertas yang kau maksud belum ditemukan.” Petugas tadi menjelaskan. Perasaan Jiyeon bercampur aduk, pikirannya kacau balau. Alisnya bertautan bingung dengan bagaimana nasibnya kelak kalau tas kertas itu benar-benar tidak ditemukan.

“Haaah… begitu ya…” ucap Jiyeon dengan lemah. Rasanya hari ini hari paling terburuk baginya. Jiyeon memejamkan matanya sejenak dan mengurut pelipisnya. “Haaaah… kenapa aku bisa melupakannya???!”

“170.000 barang.” ucap sang pertugas tiba-tiba.

Ye?”

“Itu adalah jumlah barang hilang yang kita temukan setiap tahun.” Mata Jiyeon membelalak kaget seolah tak percaya bahwa banyak juga orang melupakan barang-barang mereka. Tapi para petugas subway ini memang begitu tangguh bisa mencari barang-barang hilang itu.

“Kebanyakan orang tidak tau kenapa mereka bisa melupakan barang bawaannya.” Petugas tadi kembali melanjutkan penjelasannya.

“Tapi, dalam kasus ku, ini adalah dokumen sangat penting yang menyangkut nyawa ku, tau.” Jiyeon bersikukuh berbicara menggebu-gebu teringat soal dokumen pentingnya.

“Karena merupakan barang yang sangat penting. Harusnya kau menyimpannya dengan aman, bukan?”

“Tentu saja!”

“Jadi, kau tidak seharusnya menghilangkannya. Tidak tanggung jawab itu tidak bagus. Terutama dengan barang yang tidak biasa kau bawa. Tapi ketika ada hal lain yang menangkap perhatian mu lebih banyak, kau akan dengan mudah melupakannya.”

Satu perkataan dari petugas tadi tepat menembus Jiyeon, menusuknya hingga ke dalam-dalam organ tubuhnya. Jiyeon teringat akan sesuatu. Kejadian dalam subway terputar kembali dalam ingatannya. Ketika Myungsoo, lelaki tampan yang sering diperhatikannya itu tertidur di bahunya dan yang lebih penting….. ketika Jiyeon mengejar Myungsoo untuk memberikan tas jinjing plastik milik Myungsoo. Ia baru teringat pada saat itu ia melupakan tas kertasnya di kursi subway.

Jiyeon hanya bisa terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya tidak percaya dengan kebodohan yang dilakukannya kali ini. Benar-benar fatal. Jatuh cinta itu bisa membuat mala petaka juga, ya…

Jinjja? Ne, arasseo. Gamsahamnida, ye…” petugas tadi mengakhiri pembicaraannya lewat telepon.

Jiyeon masih terdiam di tempatnya merenungi kesalahannya tanpa bisa berkata apapun karena itu memang kesalahan yang diperbuatnya.

“Sepertinya barang mu yang hilang juga tidak ditemukan di stasiun.”

“Apa ada kemungkinan petugas stasiun tidak melihatnya?”

“Hmmm kalau soal itu… yang kau maksud itu adalah tas kertas kan?” Jiyeon mengangguk menanggapi pertanyaan petugas tersebut. “Mungkin bisa saja terselip diantara tempat duduk atau antara sandaran dan tempat duduk.”

Jeongmalyo? Kalau begitu, aku akan mengeceknya sendiri langsung. Apakah Ahjusshi tau kira-kira subwaynya sekarang dimana?”

“Kau tadi bilang kalau turun dari subway jam 07.40 benar?” tanya petugas lagi dan disambut anggukan dari Jiyeon. Petugas itu memeriksa jadwal subway dari buku yang dipegangnya,“Jadii… sekarang subwaynya… menuju ke Seocho-gu setelah itu bergerak ke Bangbae line lalu menuju stasiun Dongjak-gu,”

Jiyeon mengambil buku catatan kecilnya dan mulai mencatat. “Hm… Jadi kau bisa naik subway yang menuju stasiun Sinsa.”

“Stasiun Sinsa, ne? Algeusseumnida.” Jiyeon mengangguk mengerti sambil menyelesaikan catatannya dan kembali memasukkan buku kecil tadi ke dalam tas kembali.

 

Di lain pihak….

Jalan raya yang lengang tidak begitu banyak kendaraan lewat saat itu menggambarkan suasana yang menemani dua orang namja yang tengah berjalan menuju suatu tempat.

“Berikan aku data kostumer.” Jaehwan memerintahkan Sanghyuk yang dibalas oleh bersangkutan dengan ucapan ‘ya’ dengan tegas. Sanghyuk secepatnya membuka tas dan memeriksa map di dalamnya untuk diberikan pada Jaehwan. Ia berjongkok sebentar untuk mencari data dokumen itu. Tiba-tiba ia malah menemukan barang asing dalam tasnya.

“Eh?!” ucap Sanghyuk kebingungan melihat tas kertas ikut masuk ke dalam tasnya.

“Ada apa?” tanya Jaehwan yang ikut bingung melihat reaksi Sanghyuk.

Mianhamnida hyung…. Sepertinya ada barang orang lain yang terikut ke dalam tas ku. Ku rasa ini tercampur karena kesalahan ku saat memasukkan berkas dokumen tadi.” Sanghyuk memegang tas kertas tadi sambil membolak-balikkannya. Jaehwan malah menarik berkas dokumen data kostumer yang tersembul dari tas Sanghyuk.

“Seseorang bisa dalam masalah. Cepat kembalikan ke stasiun.” Perintah Jaehwan sambil memegang dokumen data kostumer barusan.

Ne hyung! Baiklah.” Sanghyuk dengan cepat memasukkan kembali barangnya ke dalam tas dan berlari menuju stasiun.

“Jangan sampai kau tersesat dan telat datang presentasi!” Jaehwan meneriaki Sanghyuk yang agak menjauh darinya. Jaehwan masih memandang Sanghyuk dan menggeleng-geleng kecil tak lama kemudian ia mengalihkan pandangannya pada dokumen yang berada di tangannya.

 

Kembali lagi ke keadaan Jiyeon saat ini….

Jiyeon berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa sambil menempelkan ponsel di telinganya.

“Ah! Jeosonghamnida Gwanjaein… rumah sakitnya sangat ramai. Sepertinya akan sangat lama….”

Tepat pada saat itu pula. Subway incaran Jiyeon baru saja pergi meninggalkan stasiun Sinsa. Baru saja Jiyeon sampai setelah menaiki subway dari stasiun Gangnam kemari tapi subway itu mengkhianatinya kembali. Jiyeon hanya bisa berteriak panik dan menghentakkan kakinya gusar, dan ia lupa kalau panggilan telepon masih tersambung dengan atasannya itu.

Ne? Anianiyo… aku maksud Aaaargh sakit! Sakit! Kepala ku sangat sakit Gwanjaein. Makanya aku berteriak, ‘Aaaargh! Sakiit! Sakiiiit! Aaaaargh kepala ku sangat sakit dan rasanya aku mau demam! Suster cepat!’ begitu Gwanjaein.” Jiyeon berakting seolah-olah kesakitan walaupun atasannya tidak melihat saat ini tapi aktingnya itu nyata dilakukan di depan umum. Ia membohongi atasannya lagi sekarang.

Ne….aku akan telepon kau lagi nanti Gwanjaein.” Dengan lesu Jiyeon mematikan sambungan teleponnya. Ia menghela nafas untuk kesekian kalinya.

Jiyeon menunduk lesu. Ia berjalan dengan bahu yang merosot menuju bangku kosong stasiun yang ada disana. Menjatuhkan tubuhnya pada bangku kosong itu dan menghela nafas lagi untuk kesekian kalinya.

‘Ah andwae… kenapa aku bisa menghilangkannya disaat begini…’ Jiyeon berbicara dalam hati, menyesali perbuatannya yang begitu ceroboh, benar-benar membuatnya frustasi saat ini. ‘Ujian masuk universitas, taekwondo, bahkan cinta…. Aku selalu menggagalkannya.’

Jiyeon menggigit bibir bawahnya. Kebiasaan yang selalu dilakukannya ketika dilanda rasa cemas dan frustasi yang teramat sangat.

‘Tapi ini adalah presentasi pertama ku yang ku persiapkan dalam waktu 3 bulan. Aku tidak boleh menyerah segampang ini.’ Jiyeon mengangguk, api semangat dalam dirinya membara.

Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan cepat. Mungkin saja di stasiun persinggahan ini ada yang bisa dimintai pertolongan. Walaupun bentuk pertolongannya kecil sekalipun itu akan sangat membantu.

Ada seorang petugas suubway sedang berjaga agak jauh dari tempat Jiyeon berada sekarang. Jiyeon berlari kecil dan mendekati petugas tersebut.

Chogiyo,” Petugas subway tersebut menoleh dan mengangguk sambil menunjukkan tatapan bertanya kepada Jiyeon.

“Em… bagaimana caranya agar aku bisa mengejar subway yang baru saja pergi?” Jiyeon berhenti tepat di hadapan petugas subway setelah tadi masih berlari mendekati petugas.

“Saya cek dulu,” petugas subway mengangguk mengerti dan merogoh saku jasnya untuk meraih buku catatan yang berisikan jadwal subway hari ini. Jiyeon merasa mendapatkan secercah cahaya terang, ternyata masih ada pertolongan.

Petugas subway tersebut membuka lembar demi lembar catatan kecilnya lalu tersenyum, “Subway yang tadi… akan berangkat ke stasiun Bangbae. Ah ada subway yang sebentar lagi akan berangkat ke stasiun Bangbae juga.”

Algeusseumnida. Terimakasih banyak Ahjusshi!” Begitu mendengar penjelasan dari sang petugas Jiyeon tersenyum senang dan berlari ke subway yang sebentar lagi akan berangkat sebelum ketinggalan.

 

~

 

Gedung megah berwarna putih gading itu berdiri megah di tengah-tengah distrik Gangnam. Bisa diduga kalau ia memiliki belasan atau mungkin puluhan lantai di dalamnya.

“Jika di sesi selanjutnya juga, itu hanya perusahaan kita yang benar-benar bisa melakukannya! Integrasi rekayasa tanah, kita akan mengusulkan ini pada klien-klien. “ Suara lantang dan tegas milik Myungsoo yang sedang menyampaikan presentasinya menggunakan mikropon terdengar di seluruh ruangan. Ruangan benar-benar dipenuhi oleh petinggi perusahaan, direktur, manajer dan beberapa orang yang penting dari perusahaan.

Lelaki itu mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan lagi penjelasan presentasinya, “Bisa dilihat lebih detil dari layar yang ada di samping saya. Ini adalah usulan rencana pembangunan untuk tahun 2014. Akhir kata, saya ucapkan terima kasih banyak!”

Tepuk tangan meriah membahana memenuhi ruangan yang menjadi latar belakang selesainya presentasi. Myungsoo selesai menyampaikan presentasi pentingnya diselingi dengan senyuman dan membungkuk hormat setelahnya. Orang-orang yang berada di dalam ruangan terlihat begitu puas dengan hasil presentasi. Bahkan sang petinggi perusahaan yang duduk di ujung kursi tersenyum puas.

Lampu menyala begitu Myungsoo beranjak dari posisinya sambil membawa dokumen berkas kembali ke kursinya. Semuanya masih belum menyelesaikan aksi tepuk tangan mereka.

Senyuman cerah terkembang sempurna di wajahnya begitu ia duduk dan disambut senyuman oleh manajer yang duduk disampingnya.

“Kau melakukannya dengan hebat.” Puji manajer padanya. Myungsoo tersenyum kembali dan menarik kursinya kemudian duduk.

“Ini berkat pencerahan anda yang hebat, Sajangnim!”

Manajernya tersenyum lalu membuka suara kembali, “Kau telah bekerja keras. Malam ini aku akan mengajakmu bersantai. A, aku tau ada restoran yang bagus dan makanannya enak di dekat stasiun Bangbae.”

Gomapseumnida Sajangnim!”

Myungsoo tersenyum cerah menampilkan sederetan gigi-giginya yang putih. Manajernya pun begitu terkekeh sebelum kembali melihat dokumen yang dibawa Myungsoo barusan. Perasaannya betul-betul senang hari ini, semuanya berjalan dengan sukses.

 

~

 

Sanghyuk berjalan dengan cepat sambil menenteng kertas putih bertuliskan ‘Royale.co’. Posisinya sekarang berada tidak jauh lagi akan sampai ke stasiun subway. Sinar matahari mulai meninggi setengah. Ia melihat jam tangannya dengan ekspresi wajah yang mengerisut.

“Aku tidak bisa tepat waktu kalau aku mengantarkannya kembali ke stasiun.” Sanghyuk bergumam seraya menolehkan wajahnya melihat tas kertas tadi.

Padahal sudah tidak begitu jauh lagi jaraknya akan sampai ke stasiun. Kira-kira 400 meter lagi dari tempatnya berada sekarang tapi ia sudah mengeluh dengan keadaannya. Keringatnya mulai bercucuran membasahi pelipisnya.

Ia berubah pikiran secara tiba-tiba. Membalikkan badannya dan memutuskan untuk tidak jadi pergi ke stasiun. Ia lebih memilih untuk sampai pergi ke kantor duluan ketimbang mengantar tas kertas tadi yang merupakan nyawa bagi pemiliknya.

Sanghyuk berjalan dengan cepat mengurungkan niatnya tadi. Begitu ia berjalan sebentar, tong sampah terlihat di depan matanya. Ia berhenti sejenak seolah-olah memikirkan sesuatu. Ia melirik tas kertas tadi bergantian dengan tong sampah tersebut.

Ia pun mendekati tong sampah dan melihat kembali tas kertas tadi dengan mengerjap-ngerjap.

Aishmianhae!” Sanghyuk menggigit bibir bawahnya sambil membungkuk hormat pada tas kertas itu. Menyampaikan maafnya secara tak langsung pada pemiliknya melalui barang pemiliknya. Ya, terkadang barang itu seperti memiliki tali ikatan batin dengan pemiliknya.

Sanghyuk meletakkan tas kertas putih tersebut diantara apitan tong sampah. Lalu berlalu pergi dengan perasaan tidak enak.

 

Jantung Jiyeon berdetak hebat tiba-tiba. Ia merasakan ada hal aneh yang terjadi. Raut wajahnya berubah. Dengan cepat Jiyeon merogoh tasnya, mengambil ponselnya dan menekan-nekan lalu meletakkannya di telinga kirinya.

Perasaan cemas tak karuan menyelimuti dirinya sekarang. Sambungan telepon sudah tersambung. Ia menggigit kukunya menunggu dengan cemas.

“Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan…..”

Jiyeon menjauhkan ponsel dari telinganya dan menutup sambungan telepon. Ia menunduk lesu dan menghela nafas.

“Desainernya tidak akan mengangkat telepon selagi mereka sibuk,” Jiyeon berbicara pelan, sangat pelan, saking frustasinya. “Menemukan tas kertas, itu hanya satu-satunya jalan!”

Jiyeon mengangguk yakin tak peduli dengan tatapan orang-orang sekitarnya yang kini menatapnya dengan aneh. Ia sudah berada di stasiun Bangbae sekarang, menunggu sang subway datang.

Begitu akurat. Suara subway sudah terdengar dari kejauhan. Mata Jiyeon berbinar-binar dan menoleh dengan cepat ke asal suara. Gema mikropon pemberitahuan sudah terdengar di stasiun. Kepala subway sudah terlihat dengan jelas sekarang.

Jiyeon tersenyum lega, “Sudah datang disini! Disini! Disini! Disini! Ayo!”

Jiyeon menggoyangkan kakinya dengan semangat membuat orang-orang semakin menaruhperhatian padanya. Ia lebih memilih tak peduli dan fokus utamanya memang pada sang subway.

Subway berhenti tepat setelah itu. Pintu otomatis subway terbuka dan Jiyeon langsung masuk dengan cepat mencari bangku yang didudukinya tadi. Orang-orang tidak begitu ramai di dalamnya. Jiyeon tersenyum senang begitu melihat bangkunya. Ia menuju baris ke empat dan mendekati bangkunya.

Sayangnya ada seorang bibi-bibi gemuk sedang duduk disitu dengan kepala yang terhantuk-hantuk. Sepertinya bibi ini sedang ngantuk parah. Jiyeon melihatnya dan sedetik kemudian membuka suara.

Chogiyo,” Jiyeon berbicara tepat di hadapan si bibi, membuat si bibi tersadar dan mendongakkan wajahnya menatap dirinya.

“Aku sangat minta maaf tapi bisakah Ahjumma bergeser sedikit ke tempat kosong di sebelah?” Kedua tangan Jiyeon bergerak ke kanan menunjukkan tempat yang memang masih kosong. Bibi itu kelihatan terkejut.

“Hah? Ige mwoya??”

“Tolong! Tolong pindah tempat sekarang!” Suara Jiyeon meninggi dengan tegas, ia memegang tangan si Bibi dengan tatapan tegas dan memohon. Membuat semua orang di dalam subway agakk sedikit terganggu dan beberapa memperhatikan mereka.

“Ukh! Apa yang kau mau sebenarnya?!” Si bibi terlihat emosi karena merasa terganggu. Wajahnya sudah berubah menahan amarah tapi ia mengindahkan permohonan gadis muda di hadapannya ini. Dengan cepat ia berdiri dan masih bersuara mengomeli Jiyeon.

Jiyeon lebih memilih diam. Ia langsung mencari-cari di bangku tersebut. Melihat-lihat tapi tidak ada. Teringat dengan perkataan petugas subway yang berada di ‘Lost & Items Center’ Jiyeon mulai memasukkan tangannya ke dalam sela antara sandaran dan bangku.

Mata Jiyeon membulat. Ia merasakan sesuatu. Mulutnya membulat dengan dihiasi senyuman. Sepertinya ia akan benar-benar ketemu dengan tas kertas pentingnya.

Tring! Bingo, ketemu.

Tapi bukan barang miliknya. Sebuah dompet bermotif bohemian dan gantungan bunga jingga terlihat di depan matanya. Jiyeon membulatkan matanya.

“Ah, apa ini?”

“TIDAAAAAAKKKKK!!!! Dom…. Dompet kuuuuu!!!!!” Bibi tadi berteriak histeris sambil menunjuk-nunjuk dompet yang masih berada di tangan Jiyeon. Suara teriakan si Bibi membuat semua orang heboh dan melihat mereka.

“Apa yang kau lakukan???! PENCURI! PENCURI! TOLONG AKU! ADA PENCURI!” Bibi tadi berteriak histeris tak terkontrol dan sontak semua orang langsung berkumpul mengerumuni mereka.

Ahjumma ini salah paham! Aku…..”

“Dia! Dia pencuri! Dia mengambil dompet ku! Dia pencuri!” Si bibi semakin menjadi-jadi menoleh ke kanan kirinya menyudutkan Jiyeon yang masih memegang dompet tersebut dengan wajah tak bersalah.

Semua orang terlihat bingung melihat keributan yang mendadak. Raut wajah Jiyeon sudah terlihat begitu jengah dengan keadaan ini ditambah lagi si Bibi mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan wajah.

“TIDAK! AKU BUKAN PENCURI!”

 

 

 

 

To be Continue….

—-

Notes from me:
Halo! kyak yg udh disebutin di diclaimer, klo ini ff hasil remake dr short movie 30 menit “Nagoya Saishuu iki Ressha”-nya Matsuren. aku sengaja remake krna aku suka sama amanat dr cerita movie pendek ini 😄

O iya, maaf ya klo bnyak kekurangan dr remake-an ini. Kurang lebih mohon maaf ^^ klo mau kasi kritik&saran, i am very welcome for that^^ dannnnn ff ini udh dipost sblmnya di wp pribadi kkkk ppyong!

Advertisements

2 thoughts on “[Twoshoot] 1 of 2 강남 마지막 지하철(Gangnam Majimag Jihacheol)/Last Gangnam Subway

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s