[Chapter 3] Another Cinderella Story

Another Cinderella Story

“This is not Disney’s Cinderella anymore.”

by Shinyoung

Main Cast: Bae Suzy & Lee Junho || Support Cast: Ok Taecyeon, Lee Jieun || Genre: School Life, Drama & Romance || Length: Chapter 3/? || Rating: T || Credit Poster: Jungleelovely at Poster Channel || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2014 by Shinyoung.

Chapter 3 — President of Student Council

Prologue | 1 | 2

*

“Aku tidak tahu, aku bisa atau tidak. Tapi, aku pasti akan berusaha.”

Pengucapannya begitu lemah, namun berhasil ditangkap oleh telinga Jieun. Jieun akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya mengerti. Seolah ia bisa membaca pikiran Tiffany, ia pun melenggang pergi meninggalkan Suzy dan Tiffany dalam diam membisu.

Disamping Tiffany, Suzy memilih untuk diam tak berkomentar. Semua yang baru saja didengarnya bukanlah urusannya. Dia tidak punya hak untuk menanyakan masalah tersebut. Walaupun ayahnya yang menggaji Tiffany, ia tetap memilih untuk tidak mencampuri urusan Tiffany.

“Um, Suzy-ya, sebaiknya kita segera berangkat. Hari semakin sore.”

“O—Oh, arasseo,” jawab Suzy sepelan mungkin.

Lalu, keduanya langsung memasuki mobil limousine hitam milik Suzy. Tiffany hanya diam tanpa bersuara ketika mereka sudah di dalam mobil. Tuan Jang yang duduk di kursi kemudi hanya fokus menatap jalan yang ditujunya. Mobil limousine tersebut sudah membelah jalan raya Seoul yang cukup longgar sore itu.

Sedangkan itu, Suzy hanya menatap smartphone-nya tanpa berkomentar apapun soal Tiffany. Dia sudah memutuskan untuk tidak menanyakan hal apapun pada Tiffany. Lagipula, ia tidak punya hak untuk bertanya walaupun ia sangat penasaran tentang hubungan Jieun dengan Tiffany. Mereka pasti punya hubungan sesuatu dengan lelaki bernama Lee Donghae.

“Tuan Jang, tolong antarkan kita ke toko pakaian kemarin di Cheongdam-dong,” ujar Tiffany tiba-tiba ketika melihat Tuan Jang yang ingin membelokkan mobilnya ke arah rumah Suzy. Tuan Jang dengan cepat membalikkan setirnya dan mengarahkan mobil menuju jalan raya yang berukuran lebih besar. “Maaf, aku baru memberitahumu.”

“Tidak apa-apa, Nona Hwang.”

“Um, Suzy?”

Tubuh Suzy langsung menegang ketika mendengar Tiffany memanggil namanya. Ia pun menolehkan kepalanya ke arah Tiffany lalu bergumam tidak jelas menanggapi panggilan Tiffany. Tiffany pun mendesah berat.

“Maaf, aku tidak bercerita padamu.”

“A—Ah, soal itu, aku tidak apa-apa. Lagipula aku tidak penasaran soal hal tersebut.”

Tiffany tersenyum kecil. “Maaf, aku bukan bermaksud tidak mau menceritakan hal ini padamu. Hanya saja, aku belum siap menceritakannya—Ah, kita sudah sampai disini. Ayo, kita sebaiknya segera turun dan mengambil papan namamu.”

Suzy pun terdiam menanggapinya lalu ia segera membuka pintu mobilnya sebelum Tuan Jang turun dan membukakan pintu untuknya. Ia tidak mau dianggap seperti anak kecil yang punya uang banyak. Ia menghela nafas sambil menatap ke arah toko tersebut.

Ketika Tiffany mendahuluinya, Suzy langsung mengekorinya dari belakang. Setibanya mereka di dalam toko tersebut, seorang perempuan yang sama muncul dan tersenyum ke arah keduanya. Ia menatap ke arah Tiffany dan bertanya, “ada yang bisa aku bantu, Nona Hwang?”

“Ah, aku mau mengambil papan nama Suzy.”

“Oh, papan nama Suzy… Sebentar ya, biar aku ambilkan dulu. Kalian bisa duduk sebentar dan minum teh di meja itu.”

Tiffany menoleh ke arah sofa dan meja panjang yang terletak di dekatnya. Matanya tertuju pada sebuah tas hitam yang terletak di ujung sofa. Ia menoleh kembali ke arah pelayan perempuan toko tersebut.

“Apa ada pengunjung lain?”

Perempuan tersebut membalikkan badannya sebelum masuk ke dalam ruangan yang ada di belakang. Ía mengangguk lalu tersenyum tipis. “Dia bahkan satu sekolah dengan Nona Bae. Dia pelanggan baru toko kami dan dia tengah mengepas seragamnya. Dia bilang bahwa seragam lamanya sudah tidak cukup karena ia tumbuh cepat.”

“Oh, begitu rupanya. Baiklah kalau begitu, silahkan.”

“Tunggu sebentar, ya, Nona Hwang.”

Tanpa sungkan, Suzy dan Tiffany langsung duduk di sofa tersebut. Karena penasaran setelah mendengar percakapan tadi, Suzy menatap tas hitam tersebut. Ia menelitinya dengan cermat sampai akhirnya ia melihat sebuah gantungan kecil yang dikaitkan pada resleting tas tersebut. Gantungan kecil tersebut bertuliskan sebuah nama yang diukir dalam tulisan cetak ‘LEE JUNHO’.

Ia terdiam sejenak mencoba mengingat-ingat, apakah ada di kelasnya yang bernama Lee Junho. Pada akhirnya, ia menghela nafas karena tak satupun teman sekelasnya bernama Lee Junho seingatnya. Baru saja, ia ingin membuka ponselnya, seorang laki-laki keluar dan menyambar tas hitam yang ada di ujung sofa.

Dalam diam, Suzy mengangkat wajahnya perlahan dan menatap laki-laki bertubuh tegap tersebut. Laki-laki yang ia duga sebagai Lee Junho itu membalikkan badannya lalu berjalan menuju kasir. Ia mengeluarkan ponselnya lalu mendekatkan ponsel tersebut ke arah telinganya.

“Bisa tolong ambilkan barang-barang disini?” tanyanya. “Baiklah.”

Kemudian, ia menutup ponselnya. Ia membalikkan badannya dan menatap lurus ke arah Suzy. Sedangkan itu, Tiffany yang tengah asyik bermain games di dalam ponselnya tidak menyadari bahwa Suzy kini sedang panik karena laki-laki itu menatapnya dengan tajam dan tak dapat diartikan.

“Ada apa kau memperhatikanku dari tadi?” tanya laki-laki tersebut. Ia terdiam sejenak, tampaknya berpikir. Kemudian, ia menganggukkan kepalanya pelan lalu berdeham pelan. “Kau murid baru itu, bukan? Bae Suzy?”

Dengan pasrah, Suzy menganggukkan kepalanya pelan. “Iya. Ada apa?”

“Seharusnya akulah yang bertanya seperti itu? Ada apa kau memperhatikanku—Oh, jangan-jangan kau tidak mengetahui siapa kau?” tanyanya. “Kupikir, semua murid seharusnya tahu siapa aku. Bahkan, murid baru sepertimu dan atau murid pindahan lainnya.”

Seharusnya, katamu? Aku bahkan tidak ingin mengetahui namamu.”

Laki-laki tersebut tertawa kecil. “Kau tidak mau? Aku pikir kau sudah mengetahui namaku melalui—“ Ia memamerkan tasnya dan menunjukkan gantungan kecil yang sempat dilihat oleh Suzy beberapa menit yang lalu. “—ini, bukan?”

Mulut Suzy langsung terbungkam rapat. Ia mendesis pelan dan Junho hanya tersenyum remeh. “Aku bisa menebak bahwa mulai hari ini semua orang pasti tahu bahwa Bae Suzy adalah putri dari Bae Seungjoon. Jadi, siap-siap saja mulai besok hidupmu akan kacau karena murid di SMA Seungri bukanlah murid yang baik.”

Lagi-lagi Suzy hanya terdiam menanggapi ucapan Junho. Ia sendiri ingin membantah perkataan Junho, namun mulutnya seakan terjahit oleh ribuan jahitan benang hitam. Mulutnya tertutup rapat dan lidahnya tak dapat digerakkan untuk membalas perkataan tersebut.

“Oh, ya, perkenalkan, aku Lee Junho—“

Ia tersenyum tipis saat melihat wajah Suzy yang heran karena minta penjelasan lebih lanjut. Kemudian, ia menunjukkan sebuah lencana yang tertempel di rompinya dengan bangga ke arah Suzy. Lencana tersebut merupakan lambang sekolah SMA Seungri yang sempat Suzy lihat di gerbang sekolahnya itu. Lencana tersebut tertempel melalui peniti kecil pada rompinya.

“—Aku adalah ketua murid SMA Seungri.”

Sejujurnya, Suzy tidak dapat membantah perkataan Junho kemarin. Ia bahkan tidak sempat menutup mulutnya ketika melihat puluhan atau bahkan ratusan murid SMA Seungri yang keluar dari kelas hanya untuk melihatnya. Ia sedikit menyesal telah meminta Tuan Jang untuk mengantarnya setengah jam sebelum bel masuk.

Keadaan yang tengah dihadapi oleh Suzy bukanlah keadaan yang baik. Kini, ia tengah berjalan di koridor lantai dua yang dipenuhi oleh murid-murid kelas dua. Mereka tengah asik memperhatikan Suzy yang sedang melangkah menuju kelasnya di 2-3. Butuh perjuangan bagi Suzy untuk mencapai kelasnya.

“Benarkah itu anak Bae Seungjoon?”

“Woah, dia cantik!”

“Hei, sebaiknya kita berteman dengannya, siapa tahu kita bisa dibayari ini itu.”

“Oh, dia memang mirip dengan ayahnya. Bae Seungjoon bilang bahwa Suzy menghilang saat dia kecil. Kupikir, dia mirip seperti salah satu anak panti asuhan di dekat rumahku, ternyata bukan.”

“Jangan asal bicara dengannya, lebih baik kita berteman dengannya.”

“Ada untungnya bukan berteman dengannya?”

Sejenak, Suzy menghela nafas saat mendengar bisikan-bisikan para murid tersebut. Ia paling tidak suka mendengar hal tersebut, terutama ketika motif utama mereka berteman dengannya adalah uang. Ia sangat membenci orang-orang seperti mereka. Hanya mengandalkan uangnya.

Sebelum ia sempat memasuki kelasnya yang tinggal beberapa langkah lagi, sebuah suara bedebum mengejutkan puluhan murid, tak terkecuali Suzy. Tubuh gadis itu menegang ketika melihat seorang laki-laki bertubuh tegap yang melangkah keluar dari kelas 2-5.

Laki-laki tersebut tersenyum tipis saat melihat Suzy yang membeku di tempatnya. Suzy tahu bahwa kini ia adalah korban selanjutnya. Murid-murid yang tadinya menonton Suzy, kini langsung berdesak-desakkan untuk masuk kelas. Tak ada satupun yang tertinggal kecuali Suzy.

Bahkan, Jieun yang baru saja ingin keluar kelas menghentikan langkahnya dan memilih untuk diam di tempat. Wajahnya begitu takut melihat laki-laki tersebut. Matanya bergerak liar menatap Suzy dan laki-laki itu secara bergantian. Bibirnya tertutup rapat sampai akhirnya ia mengucapkan sesuatu sepelan mungkin.

“Ok Taecyeon…”

“Bae Suzy?”

Suaranya begitu berat dan terkesan meminta jawaban atas pertanyaan. Namun, Suzy memilih diam tak bersuara. Tangannya yang berpegang pada tas punggungnya langsung mengerat ketika Taecyeon melangkah mendekat ke arahnya. Dalam hatinya Suzy berharap bahwa ada satu orang yang menolongnya, setidaknya.

“Ya, ada apa?”

Suzy menjawab dengan lantang tanpa bergetar sedikitpun, menunjukkan bahwa ia tidak takut sedikitpun pada laki-laki yang dijuluki sebagai penindas murid baru. Dengan berani, Suzy menegakkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya di depan dada lalu berdeham pelan.

“Oh, kau tidak mengenalku?”

“Untuk apa aku mengenalmu?” Suzy bertanya kembali, menaikkan alisnya dan tersenyum setipis mungkin. “Apakah kau orang yang berkedudukan penting disini? Ah, kalau memang benar, aku minta maaf karena tidak mengenalmu.”

“Bah, aku memang berkedudukan penting disini dan kau harus mengetahuiku. Aku adalah Ok Taecyeon—anak dari pemilik SMA Seungri. Salam kenal, Bae Suzy. Aku kira kau mengetahuiku semenjak orang tua kita berteman baik, bukan?” tanyanya pelan, lalu melangkah mendekat.

Mulut Suzy tertutup rapat dan kembali teringat pada perkataan ayahnya beberapa hari yang lalu atau bahkan kemarin jika ia tidak salah. Ayahnya mengatakan bahwa ia dimasukkan ke dalam sekolah milik sahabat ayahnya dimana anak dari sahabatnya itu bersekolah disana juga dan seangkatan dengannya.

Tidak salah lagi, dialah orangnya.

“Ayahku tidak pernah membicarakanmu karena itulah aku tidak mengenalmu.”

“Justru itulah, sekarang aku ingin memberitahumu tentangku.”

Suzy menaikkan alisnya. “Apakah penting bagiku untuk mengetahuimu?”

Perlahan, rahang Taecyeon mengeras. “Tentu saja penting bagimu.”

“Kalau begitu aku minta maaf karena tidak mengenalmu, bahkan mengetahuimu. Lain kali, jika ada murid baru… Sebaiknya kau yang datang padanya dan perkenalkanlah dirimu. Jangan hanya diam saja dan membiarkan orang-orang tidak mengetahui bahwa begitu pentingnya kedudukanmu disini, Taecyeon-ssi.”

Bibir Taecyeon langsung terkatup rapat. Ia menatap Suzy lurus ke dalam saat mendengar ucapan Suzy yang baginya benar-benar sangat tidak sopan. Beberapa murid mulai berbisik membicarakan bahwa Suzy berada di posisi yang sangat tidak aman. Sebentar lagi, Suzy akan menjadi mangsa Taecyeon.

Tanpa basa-basi lagi, Taecyeon mempertipis jarak diantaranya dengan Suzy. Ia menatap gadis yang tak berkutik itu. Di dalam hati, Suzy mengumpat karena telah mencari masalah dengan laki-laki berotot itu. Dan secepat kilat, Taecyeon menaikkan tangannya dan Suzy segera menutup kedua matanya. Ketika Taecyeon hendak menarik kerah Suzy, sebuah tangan tiba-tiba menahan tangan Taecyeon dan berdiri di hadapan Suzy.

Saat menyadari bahwa tak ada satupun yang terjadi padanya, Suzy segera membuka matanya perlahan dan menyadari bahwa seorang laki-laki sudah berdiri di hadapannya. Murid-murid langsung menatap keluar jendela.

“Wah, ini gawat! Ketua murid, Lee Junho!”

“Kita harus memotret momen ini!”

“Tahan kameranya!”

Ucapan Junho langsung membuat seluruh murid yang hendak memotretnya terdiam. Junho menatap ke arah seluruh murid dan mengisyaratkan pada mereka untuk menyimpan ponsel mereka sebelum ia sita dan ia berikan pada Guru Kang. Sedangkan itu, Lee Jieun langsung berlari keluar kelas dan menarik Suzy.

Suzy pun melebarkan matanya menyadari bahwa Jieun tengah menariknya keluar dari arena pertandingan itu. “Tunggu, Jieun-ssi!” ucapnya. Ia melepaskan tangannya dengan lembut tak mau menyakiti perasaan gadis itu. “Aku harus melihat mereka, aku lah yang menjadi korban disini. Aku tidak boleh langsung pergi dan kalaupun ada guru yang memanggil mereka, semua ini karena salahku yang sudah menarik Junho-ssi.”

Mendengar itu, Jieun terdiam. Ia pun tersenyum tipis menanggapi Suzy. “Kau benar, Suzy-ya. Kau memang gadis yang sangat hebat. Kembalilah.”

Setelah Suzy tersenyum ke arah Jieun, ia kembali melangkah menuju koridor kelas yang mulai ramai dibicarakan oleh murid-murid SMA Seungri. Rupanya, ada murid kelas 2 yang telah mengabarkan soal pertarungan hebat ini pada murid-murid SMA Seungri baik hoobae maupun sunbae.

“Ok Taecyeon, ayo ikut ke ruanganku. Lagi-lagi kau tertangkap ingin menarik kerah seorang murid baru. Bahkan, seorang gadis,” ucap Junho tanpa menatap Taecyeon yang sudah ingin marah pada laki-laki itu.

Mata Taecyeon tertuju pada Suzy yang mendekat ke arah mereka berdua. “Tentu saja, tapi kau juga harus membawa gadis sialan itu. Dia telah menghinaku dengan perkataan tajamnya. Aku tidak ingin ikut jika gadis itu tidak ikut. Apapun yang terjadi, Bae Suzy harus ikut denganku.”

Junho membalikkan badannya. Ia melebarkan matanya saat mendapati Suzy yang justru tersenyum kecil menanggapi ucapan Taecyeon. “Bodoh! Kenapa kau kembali?” desis Junho sepelan mungkin.

“Baiklah, aku akan ikut denganmu, Tuan Taecyeon yang terhormat.”

Ketiganya terdiam dalam keheningan. Tak ada satupun yang mencoba mengangkat suara, sampai akhirnya Junho pun berdeham pelan lalu meletakkan berkas yang dibacanya sebelumnya. Matanya tertuju ke arah Taecyeon.

“Dengar, Ok Taecyeon, kau sudah berbuat ulah beratus-ratus kali bahkan ribuan kali dengan murid baru dan juga murid lama. Sunbae, hoobae, dan bahkan yang seangkatan juga menjadi korbanmu. Ayahmu ini sangat tidak suka mendengarmu berkelahi terus.”

“Aku bukan anaknya,” ujar Taecyeon sedingin mungkin. “Dia bukan ayahku. Aku tidak punya ayah sepertinya. Dia terus-terusan menyuruhmu untuk menjagaku agar seperti anak baik. Memangnya kau siapa? Jangan-jangan dia justru menganggapmu sebagai anaknya.”

“Aku tidak pernah menjagamu, Ok Taecyeon. Tapi, mendengar ocehan murid-murid tentang kejadian ini, tentu saja membuatku langsung bertindak. Aku pikir, kau tidak akan menyadari kehadiran Suzy-ssi. Rupanya kau menyadari kehadirannya.”

Taecyeon mendesis. “Tentu saja aku menyadarinya. Ia terlalu cantik sehingga aku bisa menangkapnya di posisi manapun, bahkan di tengah keramaian,” Taecyeon menyindir sambil melirik Suzy.

Namun, Suzy disampingnya hanya terdiam dan duduk dengan tegap, tak menanggapi perkataan Taecyeon yang tentu saja menusuknya. Gadis itu hanya menatap lurus ke luar jendela ruangan Junho, menatapi burung-burung yang tengah beterbangan dan gumpalan awan-awan yang sedang sibuk bergerak dengan pelan.

“Aku sedang tidak ingin bercanda, Taecyeon. Aku serius dengan perkataan ayahmu bahwa dia tidak ingin kau terus-terusan membuat ulah. Berhentilah menindas murid-murid baru. Kau ingin terus mengerjakan hukuman akibat ulahmu ini? Semakin banyak kau berulah—“

“—maka semakin banyak juga pekerjaan yang akan kau kerjakan. Bla bla bla… Aku sudah bosan mendengarmu berbicara seperti itu terus, Lee Junho. Kau bahkan bukan ayahku. Kalaupun aku setiap hari menindas mereka, apa pedulimu? Apa kau akan datang dan tiba-tiba berubah menjadi ibuku? Tidak, ‘kan?” potong Taecyeon panjang lebar. “Berhentilah mengurusiku. Kau pasti punya urusan sendiri.”

Setelah mengucapkan hal tersebut, Taecyeon bangkit dari tempat yang didudukinya, lalu pergi meninggalkan ruangan Junho tanpa mengucapkan perpisahan sepatah katapun. Suara pintu yang dibanting membuat bahu Suzy langsung terangkat. Ia mendengus pelan lalu menoleh ke arah Junho yang tampak sudah menyerah dengan pekerjaannya.

“Kau dekat dengannya, ya?” tanya Suzy pelan.

Junho terdiam sebentar, lalu menghela nafas berat. Ia pun bergumam pelan menanggapi pertanyaan Suzy, lalu mengambil berkas yang tadi diletakkannya di atas meja. Ia membalik-balik berkas tersebut, lalu berhenti pada suatu halaman. Kemudian, Junho menyodorkan berkas tersebut pada Suzy. Dengan segera, Suzy menerimanya dan membaca berkas tersebut.

“Dia teman dekatku, dulu. Semenjak ibunya meninggal, dia menjadi orang yang sering marah dan bahkan dingin. Dia selalu menindas murid-murid baru untuk kesenangannya. Dia percaya bahwa ibunya belum meninggal.” Junho menarik dasinya yang berantakan akibat tarikan Taecyeon. “Semenjak itu, dia selalu membuat ulah di sekolah, tujuannya untuk mencari perhatian dan yang kau baca itu adalah daftar ulah yang sudah dibuatnya semenjak pertama kali.”

Mata Suzy membaca dengan cepat halaman tersebut. Begitu banyak tulisan yang dituliskan pada halaman tersebut dan nama-nama murid yang menjadi korban penindasan Taecyeon. Di dalam hati Suzy, ia merasa sedikit prihatin dengan kondisi psikologis laki-laki tersebut. Dia tahu bahwa sebenarnya Taecyeon percaya ibunya sudah meninggal, namun untuk menutupi perasaan sedihnya, ia melampiaskannya dengan menindas murid-murid tersebut.

“Aku yakin, dia hanya ingin mencari perhatian karena itulah aku tidak pernah kesal padanya walaupun dia terus-terusan berbuat ulah.”

“Apa dia mengerjakan semua hukuman yang diterimanya?” tanya Suzy penasaran.

Junho pun mengangguk. “Begitulah, setiap hari ia menerima hukuman dan menjalankannya. Tapi, hari ini ada yang berbeda dengannya. Dia tidak mau menerima hukuman dan justru memintamu untuk ikut menjalankan hukumannya. Aku yakin kau tidak—“

“Aku mau membantunya,” potong Suzy.

“Kupikir kau akan menolak untuk membantuku,” ucap Taecyeon ketika mereka mulai mengerjakan hukuman mereka.

Awalnya, Junho ingin memberikan tugas yang berat, namun mengingat bahwa ada Suzy yang ikut membantu, akhirnya ia memilih untuk memberikan mereka tugas ringan. Tugas ringannya adalah membersihkan lapangan indoor sekolah yang akan dipakai untuk pesta tahunan sekolah.

“Tentu saja aku akan membantumu jika kau memintanya.”

Suzy mulai mengepel sudut lapangan. Baginya, pekerjaan seperti ini adalah pekerjaan yang mudah semenjak ia selalu membantu membersihkan panti asuhan. Taecyeon hanya terdiam mendengar jawaban Suzy, kemudian melanjutkan pekerjaannya. Ketika keduanya selesai, mereka pun terududuk di tengah lapangan tersebut.

Mereka membicarakan pesta tahunan yang akan diadakan bulan depan yaitu ketika akhir semester pertama.

“Pesta tahunan?”

“Iya, pesta ini diselenggarakan setiap tahunnya dan diawali dengan kenaikan semester bukan kenaikan kelas. Intinya, agar berbeda dengan yang lain. Pesta tahunan ini akan memilih ratu dan raja.”

Suzy menoleh ke arah Taecyeon sekilas. “Kau datang kesana?”

Taecyeon mengangkat bahunya. “Untuk apa? Aku hanya akan dianggap mengacaukan segalanya,” ujarnya santai. “Lagipula, jika kau mau datang  kesana, setidaknya kau harus membawa pasangan. Kau akan dianggap bocah jika kau datang sendirian.”

“Memangnya harus membawa pasangan?”

“Bukan harus. Aku bilang setidaknya.”

“Kalau begitu datang saja denganku, aku tidak ada pasangan.”

Mendengar itu, Taecyeon langsung menolehkan kepalanya ke arah Suzy dan melotot. Ia pun mendorong kening Suzy ke belakang. “Kau sinting? Aku tidak mau datang denganmu, bocah.”

Laki-laki itu berdiri lalu menepuk bokongnya. Ia menoleh ke arah Suzy dan menyodorkan tangannya. Suzy menatapnya heran. “Kau tidak mau kembali ke kelas? Ini sudah jam 11.”

Suzy pun terkekeh pelan lalu ia menerima uluran tangan Taecyeon dan berdiri. Kemudian, keduanya melepas tangan masing-masing. Suzy pun berdeham pelan saat melihat Taecyeon yang ingin melangkah ke arah lain bukan menuju kelas.

“Kau tidak mau kembali ke kelas?”

Taecyeon membalikkan badannya lalu mengangkat alisnya. “Untuk apa?”

“Tentu saja untuk belajar, Taecyeon-ssi. Kalau kau terus-terusan seperti itu, kau tidak akan pernah tahu dimana ibumu sekarang.” Suzy pun menutup mulutnya rapat saat mengingat bahwa dia baru saja membicarakan ibunya Taecyeon. “Ngomong-ngomong, terimakasih. Aku sekarang mengerti kenapa kau seperti ini padaku. Kau membutuhkan teman, bukan?”

Taecyeon menarik ujung bibirnya ke atas lalu mendengus. “Aku tidak membutuhkanmu sebagai teman. Hidup sendiri bukanlah suatu keadaan yang sulit.”

Setelah berkata demikian, Taecyeon benar-benar pergi menuju ke arah yang berlawanan dan Suzy menebak bahwa laki-laki itu akan menuju atap sekolah. Tempat dimana satu-satunya ketenangan berada. Suzy berniat mengikutinya, namun ia mengurungkan niatnya mengingat bahwa ia harus belajar.

“Jadi kau benar-benar membantunya membersihkan lapangan indoor?”

“Iya, memangnya wajahku berbohong?”

“Bukan,” ucap Tiffany pelan. “Aku hanya tidak percaya. Untung sekolah menelponku bukan menelpon ayahmu. Jika ayahmu mendengarnya, hubungan ayahmu dengan Tuan Ok pasti tidak akan sebaik sebelumnya. Lebih baik, kau tidak mencari masalah dengannya, Suzy-ya.”

Arasseo, aku hanya ingin mengubah sikapnya. Itu saja,” ujar Suzy enteng.

Tiffany menghela nafas panjang. “Baiklah, hari ini, kita ke kantor ayahmu karena ayahmu ingin mengenalkanmu pada orang-orang di kantornya. Ayahmu juga berpesan agar kau bersikap semanis mungkin dan sapalah Tuan Ok.”

Nama Tuan Ok yang disebut oleh Tiffany langsung membuat Suzy menolehkan kepalanya. “Tuan Ok juga bekerja di kantor ayah?”

“Bukan, Tuan Ok adalah pemilik salah satu gedung apartemen di Gangnam. Karena itulah, Taecyeon juga tinggal disana dan memilih tinggal sendirian. Hari ini dia mengadakan rapat dengan ayahmu karena itu dia ada di kantor ayahmu.”

“Oh, begitu,” Suzy menanggapi sambil mengganggukkan kepalanya. “Lalu, apalagi yang harus aku lakukan?”

“Kupikir, cukup segitu saja. Sisaya, kau bisa bersikap sewajarnya.” Tiffany mengalihkan pandangannya pada Tuan Jang. “Tuan Jang, tolong antar kami ke kantor Tuan Bae, ya. Secepatnya.”

“Baiklah, Nona.”

Setelah itu, Tuan Jang membelokkan mobil menuju Seocho-gu tempat dimana kantor ayahnya terletak. Sebelum mobil benar-benar memasuki tol, Suzy memasang earbud-nya, lalu tenggelam dalam tidurnya yang nyenyak. Setelah mencapai titik relaksnya, samar-samar Suzy melihat gedung sekolahnya.

Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mendapati bahwa keadaan sekolah saat itu adalah di malam hari. Perlahan, ia melangkah masuk ke dalam gedung sekolahnya. Keadaannya terang dan ramai. Ia bisa melihat ribuan hiasan yang menghiasi dinding sekolah. Entah itu di koridor sekolah atau di dalam kelas.

Sambil mencoba mencari tahu, ia melangkah menuju aula sekolah yang berada di belakang gedung utama. Walaupun ia tidak tahu dimana aula tersebut, ia terus melangkah hingga akhirnya ia menemukan ratusan murid SMA Seungri yang berpakaian formal. Sambil melangkah, ia mengecek keadaannya yang ternyata mengenakan dress hitam.

Ia melangkah masuk dan mendapati murid-murid yang menoleh ke arahnya. Suzy mencoba tak mengusiknya ketika ia mendapati tubuh Junho yang berada diantara keramaian. Ia berlari menuju ke arah laki-laki tersebut. Akibatnya, suara sepatu berhak langsung berdentum ke seluruh ruangan. Ia pun berhenti dan menatap sepatu hak hitamnya yang berkilauan.

“Lee Junho!”

Tanpa ragu, ia memanggil nama tersebut dan laki-laki itu langsung membalikkan badannya. Junho menaikkan alisnya ketika melihat Suzy yang tampak terengah-engah dengan dress hitamnya. Suzy menarik nafas dalam-dalam, lalu mengankat wajahnya dan menatap Junho.

“Sekolah sedang merayakan apa?”

“Kau tidak tahu?” tanya Junho sambil mengerutkan keningnya, di tangannya terdapat gelas yang berisi air putih. Laki-laki itu meneguknya, lalu meletakkannya di meja bundar terdekat. Kemudian, ia melipat kedua tangannya di depan dada. “Lihat sekelilingmu, kita sedang merayakan hari ke seratus—“

“Suzy­-ya!”

Dalam sekejap, nafas Suzy tertarik dengan kencang. Detik selanjutnya, ia membuka matanya, nafasnya terengah-engah. Bulir-bulir keringat tidak luput dari keningnya dan juga di sekitar lehernya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian ia mendapati Tiffany yang duduk di dekatnya dengan wajah khawatir.

Gadis itu menyentuh kening Suzy perlahan lalu menghela nafas lega. “Aku pikir kau sakit. Rupanya, kau hanya mengalami mimpi buruk. Ayo, kita sudah sampai di kantor ayahmu. Sebaiknya kita segera bergegas.”

Suzy hanya mengangguk pelan, kepalanya terasa berat. Dengan cepat, ia menyambar botol yang berisikan air putih dan menegaknya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menatap keluar jendela. Tiffany yang baru saja selesai berbicara dengan Tuan Jang langsung turun dan membalikkan badannya.

“Ayo?”

“O—Oh, ne. Kau duluan saja, Unnie. Aku bisa menyusul.”

“Baiklah, biar aku bilang pada ayahmu bahwa kau masih ada keperluan penting.”

Lagi-lagi Suzy hanya mengangguk. Ia pun menyenderkan tubuhnya lalu menempelkan punggung tangan kanannya di depan keningnya. Ia dapat merasakan keringat yang mulai menjalar ke tangannya. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya juga bergetar ketika mengingat mimpi tadi.

“Tadi itu apa?”

“Hei, Suzy-ya!”

Suzy langsung menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Tadinya, ia memang sedang mengerjakan tugas tambahan yang diberikan oleh Guru Park semenjak ia memang ahli dalam pelajaran Inggris. Namun, mendengar namanya dipanggill dalam informal, ia langsung menolehkan kepalanya.

“Lihat!”

Melihat gadis itu berlari menuju ke arahnya langsung membuat Suzy menurunkan sudut bibirnya. Ia mengakui bahwa ia memang membutuhkan teman, tapi saat ini dia sedang tidak mood untuk berteman dengan gadis periang yang tampaknya tidak punya teman itu, Lee Jieun.

Tanpa basa-basi, Jieun langsung menyodorkan selembar kertas yang tampaknya sudah teremas-remas. Sebelum membacanya, Suzy menatap gadis itu dengan pandangan putus asa. “Kenapa kau terus menghampiriku?”

“Aku tahu kau butuh teman sepertiku. Lagipula, aku memang mau berteman denganmu. Apa kau senang terus-terusan sendirian?”

Akhirnya, Suzy hanya mendesah berat, lalu mengambil kertas yang tadi diberikan oleh Jieun. Ia langsung melebarkan matanya dua kali lipat ketika membaca judul dari kertas yang tupanya sebuah buletin sekolah. Suzy yakin Jieun pasti merampas kertas tersebut dari mading sekolah.

 


 

Seungri Daily Times, 5 May 2015

BREAKING NEWS: Upcoming school party on next month!

Kepala sekolah SMA Seungri baru saja mengumumkan bahwa SMA Seungri akan mengadakan pesta tahunan sekolah. Pesta tahunan yang diadakan setiap pergantian semester ini akan diadakan bulan depan, Juni. Tidak dapat dipungkiri bahwa seluruh murid sudah menunggu kabar gembira ini. Tahun ini, pesta tahunan akan diadakan secara berbeda, yaitu akan dipilih seorang ratu dan raja pesta. [Jang Wooyoung]

FEATURES:          School-party  | The Queen & King? | Headmaster | June

WHO WILL BE THE QUEENKA AND THE KINGKA?

 


 

Setelah selesai membacanya, Suzy menyodorkan kembali lembaran kertas tersebut pada Jieun. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Ia menutup buku Bahasa Inggris-nya, melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap Jieun.

“Untuk apa kau memberikanku ini?”

“Ya, tentu saja untuk memberitahumu, Suzy. Kau kan murid baru.”

“Aku tidak butuh hal tersebut.”

“Oh, ya?”

Saat Suzy hendak menganggukkan kepalanya, ponselnya berdering. Cepat-cepat, Suzy menyambar ponselnya yang ada di dalam kotak pensilnya. Ia mendekatkan ponselnya secepat kilat saat membaca nama ayahnya yang menelpon.

Ne?” Suzy mengawali pembicaraan. “Ah, ne, aku baru saja tau—Apa? Ikut? Tidak! Aku tidak mau—Tapi, Appa… Aku benar-benar tidak mau. Tunggu, lagipula jika mau datang butuh pasangan—Eh—Bukan begitu, aku benar-benar tidak tahu—Ne, araseo.

Setelah itu, Suzy menutup ponselnya. Kemudian, ia menoleh ke arah Jieun dengan pandangan mengintimidasi. “Jangan bilang kau sudah tau?”

“Tau apa?”

“Ayahku.”

Jieun mengangkat alisnya. “Ayahmu? Apa yang aku tahu tentang ayahmu?”

Melihat wajah Jieun yang begitu bingung, Suzy langsung menghela nafas berat, lalu meletakkan telapak tangan kanannya di depan keningnya. Ia mulai memijit pelipisnya, lalu menatap Jieun lagi. Lagi-lagi, ia menghela nafas berat.

“Baiklah, dengar, aku terpaksa datang ke pesta tersebut. Hari ini, temani aku ke salon. Kau bawa mobil bukan?”

Jieun menganggukkan kepalanya, lalu mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam saku seragamnya. Ia menunjukkannya pada Suzy. “Tapi,” Jieun menurunkan kuncinya. “Kenapa kau tidak pergi saja bersama Tiffany unnie? Bukankah dia manajermu?”

“Memang benar, ayahku bilang dia sedang ada keperluan mendadak hari ini. Jadi, dia tidak bisa bekerja hari ini dan Tiffany unnie menyarankan dirimu untuk menjadi penggantinya. Maksudnya, menemaniku. Bukan sebagai manajerku.”

Mata Jieun langsung membulat dua kali lipat. “Wah! Tiffany unnie memang yang terbaik!”

To be Continued

December 12, 2014 — 10:00 P.M.

::::

a.n: Hai! Maaf banget, aku bener-bener minta maaf karena waktu yang bener-bener ditunda ini. Aku bener-bener gak maksud bikin kalian gantung dan nungguin gini /g. Intinya, aku minta maaf banget. Aku bener-bener gak ada waktu dan aku sempet kehabisan ide. Gini deh, awalnya emang aku targetin 2 minggu setelah aku post chapter 2. Ternyata, aku gak bisa. Aku gak dapet ide dan minggu selanjutnya, aku malah ada UAS. UAS itu bener-bener bikin kepala pusing. Setelah UAS, ternyata masih ada remedial lah, class-meeting lah, apa lah, tugas kurang lah, udah capek.

Intinya, sekian dan maaf bikin kalian nunggu sampe 1 bulan. Gak lagi deh, hehe. Aku janji kok pas liburan, aku bakalan ngerjain chapter selanjutnya. Jangan lupa, komentar+upvote+like ya! Makasih!<3

42 thoughts on “[Chapter 3] Another Cinderella Story

  1. Hahh suzy mimpi apaan itu???
    Maksud nya apaan
    wkwkwk suzy penasaran ama taec ampe ngebantuin hukumannya. Aigoo
    jieun seneng tuh bsa ke salon bareng.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s