WHEN YOU’RE SLEEPING

WHEN YOU'RE SLEEPING

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-15||Length: Ficlet||Characters: (BTS) Jin/Seokjin & You||Disclaimer: I own nothing but storyline||A/N: Edited, sorry if you still got typo(s).

HAPPY READING \(^O^)/

03.21 a.m

Angka-angka itu yang aku lihat saat aku membuka mataku, menoleh ke arah jam yang berada di atas nakas di sebelah tempat tidur. Aku mendengus. Ini masih terlalu cepat untuk beranjak menyiapkan sarapan.

Di balik selembar kain wol yang menyelimuti tubuhku hingga batas dada, aku memandang langit-langit kamar. Memejamkan kedua mata, mencoba untuk terlelap kembali. Sayangnya…, huh, kedua mataku tidak mau bekerja sama. Oh God, lalu apa yang harus aku lakukan hingga jam weker itu berbunyi tepat pukul 6 pagi?

Adanya pergerakan di atas tempat tidur seketika membuatku menyadari sesuatu. Dia ada di sini. Suamiku. Kim Seokjin. Terlalu lama dan terlalu sering bekerja di luar kota membuatku sedikit terbiasa dengan ketidakberadaannya di sisiku saat aku terlelap di malam hari.

Kugerakkan tubuhku menyamping. Membiarkan kedua mataku menelusuri wajah tidurnya yang polos bagai anak kecil, meski usianya sekarang membuat ia tidak bisa dikatakan anak kecil lagi. Posisinya yang menghadap ke arahku membuatku leluasa memandang setiap unsure dari wajahnya yang membuatku tergila-gila hingga saat ini. Dia bahkan jauh terlihat lebih tampan di tengah-tengah lampu duduk yang menyala temaram di belakangku.

Nakal, tangan kananku bergerak menyentuh pipi kirinya terlihat tembam, efek dari berat badannya yang sedikit naik belakangan ini. Tapi, dia tetap saja ketampanannya itu tidak luntur. Kugerakkan jempolku membelai pipinya pelan, takut mengganggu petualangan indahnya di alam mimpi.

Aku tersenyum. Sudah lama tidak membelainya diam-diam seperti ini. Menciptakan sensasi yang berbeda. Membuatku ketagihan, lantas ingin melakukan lebih. Mencubiti pipi yang terasa kenyal itu misalnya… hehe. Namun, kuurungkan niatku itu ketika… sebuah erangan pelan lolos dari mulutnya. Panik, kuhentikan kegiatanku, menyingkirkan tanganku dari pipinya.

Uh? Apa dia… terbangun karena ulahku?

Sesaat kemudian, kudapati jawabannya adalah tidak.

Fiuh, untunglah.

Namun, kejahilanku tidak berhenti hanya karena sebuah erangan pelan itu. Benar-benar ketagihan, kali ini kubiarkan jari telunjukku bergerak menyusuri garis wajah ovalnya. Masih belum puas, kini jemari telunjukku bergerak turun membelah dahinya, menyusuri tulang hidung mancungnya… hingga… telunjukku berhenti di sana, di bibirnya.

Aku menelan ludah.

Sesuatu yang ‘aneh’ memaksa masuk ke dalam pikiranku mana kala kedua mataku menatap lekat sepasang bibir yang pernah berhasil merebut ciuman pertamaku. Ah, sejak kembali dari Busan malam tadi, kami… belum sempat berciuman. Ma-maksudku…, a-aku… aish!

Kubalik tubuhku menghadap langit-langit dengan kedua telapak tangan menutup wajahku. Aish! Apa yang aku pikirkan barusan? Ingin menciumnya diam-diam. Oh, tidak! Bagaimana kalau nanti dia terbangun, lantas… berpikir bahwa aku mesum karena mencuri cium saat dia sedang terlelap.

Ah! That’s a no-no!

Tapi…, uh, aku menginginkan itu. Jujur saja, ditinggal olehnya selama hampir 2 minggu membuatku sangat merindukan… sentuhannya.

Aaarggh! Apa yang harus aku lakukan?

Kutolehkan kepalaku menghadap ke arah wajahnya, disusul tubuhku yang kembali pada posisi sebelumnya, miring ke arahnya. Telunjukku bergerak-gerak menyentuh pipihnya, mencubitnya. Ya, aku hanya ingin memastikan dia benar-benar tertidur.

Oke. Sepertinya dia sangat lelah dan… benar-benar lelap dalam tidurnya.

Baiklah. Aku akan melakukan itu. Aku akan melakukannya sangat perlahan sampai dia tidak sadar aku mencuri ciumannya. Dengan begitu, dia tidak akan menganggap aku mesum… hahaha.

Seperti yang sudah kurencanakan, kudekatkan wajahku dengan wajahnya. Pergerakanku yang pelan berbanding terbalik dengan degup jantungku yang semakin cepat setiap kali aku mengeliminasi jarak di antara wajah kami.

Semakin dekat.

Sangat dekat.

Terlalu dekat.

Dan…

“Kau mau apa?”

Suara itu menghantam indera pendengaranku, sukses membuatku terpaku di saat jarak bibirku dan bibirnya hanya tinggal beberapa mili meter lagi. Sontak, kujauhkan wajahku darinya. Bisa kurasakan pipiku memanas begitu menyadari apa yang baru saja terjadi.

Aku… tertangkap basah.

Tapi, kulihat ia masih memejamkan matanya. Ja-jangan-jangan…

“Se-sejak kapan kau…?” Aku tidak meneruskan kalimatku, tapi… kupikir ia tahu apa maksudku.

Seokjin membuka matanya, membuat lengkungan sabit dengan bibir yang sedikit lagi bersentuhan dengan bibirku beberapa detik lalu. Tapi, dibalik cahaya remang-remang lampu duduk, aku bisa melihat… ia menatapku jahil.

“Kau mau mencuri cium dariku, ya?” Seokjin bertanya dengan tatapan dan suara menggoda—tepatnya sedikit meledek.

“Ti-tidak,” elakku.

“Bohong~” sahutnya, lalu tersenyum jahil.

Uh, sial!

Tanpa berkata-kata, kubalik tubuhku membelakanginya. Menyembunyikan perasaan malu yang membuatku tidak mau memperlihatkan wajahku di hadapannya. Namun, sesaat kemudian, kurasakan sebuah telapak tangan menyentuh lengan kiriku disusul dengan kecupan-kecupan kecil di bahuku.

“Aku merindukanmu~” bisiknya, lalu bergerak membalik tubuhku hingga… tubuh kami berhadapan sekali lagi dan kali ini… dalam jarak yang sangat dekat.

“Aku juga~”

Dan, sesaat kemudian, kurasakan sesuatu yang sejak tadi kuinginkan itu menyentuh bibirku. Cukup lama, hingga Seokjin memutuskan untuk melepaskan ciuman itu. Kami saling bertatapan di antara suara-suara helaan napas yang tersengal.

“Apa semalam kau bermimpi indah, hm?” tanyanya memulai percakapan.

“Tidak juga. Kenapa?”

Seokjin tersenyum jahil. “Kalau begitu, biar kuberikan sesuatu yang lebih indah~” sahutnya, lantas menarik selimut menutupi sekujur tubuh kami. Well, there’s nothing that I can tell you. It’s so dark inside. Hihi.

-THE END \(^O^)/-

-Anditia Nurul ©2014-

-Do not claim this as yours-

-Do not re-post/re-blog without permission-

-Has been posted in my personal blog-

Advertisements

10 thoughts on “WHEN YOU’RE SLEEPING

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s