[Chapter 4] Another Cinderella Story

Another Cinderella Story

“This is not Disney’s Cinderella anymore.”

by Shinyoung

Main Cast: Bae Suzy & Lee Junho || Support Cast: Ok Taecyeon, Lee Jieun || Genre: School Life, Drama & Romance || Length: Chapter 4/? || Rating: T || Credit Poster: Jungleelovely at Poster Channel || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2014 by Shinyoung.

Chapter 4 — The Boys

Prologue | 1 | 2 | 3

*

Musim panas sudah berlalu satu bulan dan sudah puluhan festival musim panas yang berlangsung di Seoul. Murid-murid di Korea mengganti seragam mereka dengan seragam musim panas. Begitu juga dengan SMA Seungri yang memiliki empat varian seragam sesuai dengan pergantian musim, seragam olahraga, seragam formal, dan seragam informal.

“Hei!”

Lee Junho mengangkat wajahnya dengan mata sendu. Sudah sekitar 3 jam ia duduk di depan meja belajarnya, menatapi berkas-berkas sekolah. Begitu mengetahui siapa yang datang, matanya menatap tajam gadis yang sudah duduk di sofa kamarnya. Gadis itu tersenyum lebar melihat wajah kesal Junho.

“Oh, ayolah, Lee Junho, ini bukan waktunya untuk mengurung diri di dalam kamar hanya untuk membaca berkas-berkas tidak penting!” ujar gadis itu, menyambar sebuah majalah fashion yang tergeletak diatas meja kaca di depannya. Ia membalik-balik majalah tersebut dengan wajah bosan.

“Ini bukan urusanmu, Lee Minyoung,” jawab Junho dingin.

Gadis itu melempar majalahnya dengan kesal. Ia pun bangkit dari sofanya lalu menarik rambut Junho dengan kasar. Spontan, Junho pun berteriak kesakitan. “Ya! Jangan panggil aku dengan nama lengkap! Panggil saja Min! Arasseo? Min! Jika kau sekali lagi memanggil—“

“Lee Junho! Min! Apa yang kalian lakukan diatas sana?”

Suara ibu Junho yang berteriak dari lantai bawah tentu saja langsung membuat Min melepaskan tangannya dari rambut Junho. Dengan susah payah, Junho menarik nafasnya dan merapikan rambutnya yang sempat ditarik oleh Min. Sedangkan itu, Min segera berlari keluar dari kamar Junho dan berdiri di dekat tangga.

Aniyo, Imo! Aku hanya bermain sebentar dengan sepupuku tersayang, Lee Junho. Jangan khawatirkan kami, Imo! Lagipula, kami kan sudah dewasa,” balas Min dengan cepat. Ia pun kembali ke kamar dan menarik Junho. “Lihat! Junho baik-baik saja bukan, Imo?”

Ibu Junho, Lee Hyerim, menoleh ke arah Junho dan mengecek keadaan Junho yang rupanya rapi-rapi saja. Ia pun menganggukkan kepalanya. “Arasseo, Min. Aku hanya khawatir saja kalian bertengkar lagi. Sudahlah kalau begitu, jangan bertengkar—“

“Min! Panggilah Junho dengan Oppa. Ingat, dia lebih tua daripada kau!”

Min langsung melompat ketika melihat ibunya yang sudah berdiri disamping Lee Hyerim. Junho pun hanya menghela nafas berat lalu kembali ke kamarnya. Ia bukanlah anak kecil yang masih suka bertengkar dengan Min. Sekarang, ia sibuk memikirkan pesta sekolah bulan depan yang membutuhkan dana besar.

“Aku tidak mau memanggilnya Oppa sampai kapanpun! Dia bukan kakakku!”

Suara Min yang begitu lantang hanya bisa membuat Junho menutup telinganya. Ia pun membuka berkas-berkasnya lagi den membaca program kerja pesta tahunan sekolah tersebut. Sudah sekitar 1 tahun ia bekerja sendirian tanpa adanya seorang wakil. Bukannya mereka tidak mau mendapatkan posisi wakil dewan sekolah.

Hanya saja…

Mereka menolak bekerja sama dengan Junho yang dapat menyelesaikan segalanya sendirian. Sampai hari ini, ia akhirnya tahu bahwa ia tidak dapat bekerja sendirian. Tugas ini terlalu berat baginya. Dia tahu yayasan sekolah atau ayah Taecyeon, Ok Hyunjae sangat bergantung padanya.

“Sudahlah, Hyejung-ah, biarkan anakmu itu. Min memang begitu dari dulu,” Lee Hyerim berkata pada Hyejung, adiknya itu.

Park Hyejung pun mendecak pelan. “Baiklah, terserah dia,” katanya. Park Hyejung pun beranjak pergi meninggalkan ruang keluarga dan menuju halaman belakang. Sedangkan itu, Lee Hyerim hanya bisa tersenyum tipis.

“Min, kau tidak boleh seperti itu pada ibumu. Bagaimanapun, ibumu benar bahwa Junho lebih tua. Seharusnya kau memanggilnya dengan tambahan Oppa,” saran Lee Hyerim pada Min yang masih berdiri di tempatnya tanpa menyadari bahwa Junho sudah pergi daritadi dan mengunci kamarnya.

Arasseo,” jawab Min pelan akhirnya. Min pun menghela nafas panjang lalu berlalu pergi mencari kamar Hangyul yang tepat ada disamping kamar Junho. Ia membuka kamar tersebut tanpa mengetuknya dahulu dan mendapati Hangyul yang sedang bermalasan di atas tempat tidurnya membaca komik.

“Hangyul, sedang apa kau?”

“Ah, eonni, kau tidak lihat aku sedang apa?”

Hangyul justru bertanya balik tanpa mengalihkan pandangannya dari komiknya. Min pun menghela nafas panjang. Ia pun duduk di pinggir tempat tidur dan menatap meja belajar Hangyul.

Singkat cerita, ibu Min—Park Hyejung atau Lee Hyejung—menikah dengan seorang laki-laki yang bermarga Lee. Satu tahun sebelumnya, kakak Hyejung—Park Hyerim atau Lee Hyerim—juga menikahi laki-laki bermarga Lee. Park bersaudara begitu senang ketika mengetahui bahwa marga mereka sama-sama Lee. Setahun setelah kelahiran Junho, Min pun lahir, begitu juga dengan satu tahun berikutnya, lahirlah adik Junho yaitu Lee Hangyul.

Pada akhirnya, Lee Junho hanya terus bertengkar dengan Min yang sering berkunjung ke rumah Junho. Sedangkan itu, Hangyul punya kesenangan sendiri—membaca novel atau komik di kamarnya—tanpa mempedulikan kedua kakaknya itu. Walaupun begitu, Junho tetap menyayangi adiknya.

Unnie-ya, jangan bertengkar terus dengan Junho oppa. Dia sudah tua.”

Mendengar itu, tawa Min langsung pecah dan tak dapat dihentikan sampai-sampai Junho menghampiri kamar mereka dan menyaksikan kejadian yang membuat kepalanya semakin pusing.

“Oh, yaampun! Lee Junho! Adikmu mengatakan bahwa kau sudah tua!”

Junho langsung mendengus mendengar perkataan Min. Dengan geram, ia membanting pintu kamar Hangyul tanpa berkata apapun dan kembali ke kamarnya. Sebelum memasuki kamarnya, ia menekan kedua pelipisnya sambil mengeluh pelan memikirkan tugas-tugasnya.

Mobilnya berhenti ketika tiba di depan sebuah gedung berukuran sedang. Gedung tersebut sepi dan tampak tak ada yang mengunjunginya. Lagipula, tidak akan ada orang yang berani menjaga gedung yang menyimpan ribuan abu tersebut. Kecuali, seorang laki-laki tua yang ditinggal istrinya dan memilih untuk bekerja secara tanpa pamrih disana.

Laki-laki dengan pakaian rapi itu turun dari mobilnya dan melangkah keluar. Sambil membawa sebuah kotak kecil dalam genggamannya, ia melirik kesana-kemari mencari si penjaga gedung.

“Taecyeon-ssi?”

Mendengar namanya dipanggil, ia langsung membalikkan badannya. Begitu terkejutnya ia ketika melihat gadis tersebut. Gadis itu mengenakan dress hitam selutut, dengan rambut dikuncir. Poninya yang terbelah dua tampak bergelombang dan Taecyeon yakin bahwa gadis itu menata rambutnya tadi pagi.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Kau sendiri?”

Bahu kedua gadis itu langsung merosot saat mendengar pertanyaan Taecyeon. Taecyeon meneliti wajah gadis itu dan menyadari bahwa gadis itu juga punya urusan yang sama disini—mengunjungi makam seseorang. Tanpa basa-basi lagi, Taecyeon langsung memalingkan pandangannya.

“Kau juga punya keluarga yang sudah meninggal, Bae Suzy?”

Gadis itu terdiam dan ia pun pergi meninggalkan Taecyeon tanpa menjawab pertanyaannya. Sepatu hak berwarna hitamnya mengakibatkan suara yang cukup keras di sepanjang lorong. Ia menghampiri seorang laki-laki tua yang daritadi dicari oleh Taecyeon, lalu gadis itu menyerahkan sebuah kantung ke arah laki-laki itu.

Entah dari mana asalnya, Taecyeon pun ikut tertarik dan mendekati mereka. Suzy pun tersenyum saat melihat laki-laki tua itu menerima kantung yang diberikan oleh Suzy sebelumnya.

“Tuan Oh, tolong diminum obatnya,” ujar Suzy pelan.

Ne, arasseo, Suzy-ya,” jawab Tuan Oh senang. Laki-laki itu tersenyum tipis lalu mengecek ke dalam kantung tersebut dan menatap Suzy lagi. “Makam ibumu sudah aku rapikan kembali. Silahkan kunjungi dia, bunga yang terakhir kali kau tinggalkan sudah layu. Dia pasti meminta Bunga Dahlia yang baru.”

Mata Taecyeon berhasil melebar dua kali lipat saat mendengar perkataan Tuan Oh. Mereka punya keadaan yang sama—ibu mereka sudah meninggal. Namun, Taecyeon masih mempercayai bahwa ibunya masih hidup di dunia dan tak akan pernah meninggalkannya. Jika ia memang percaya hal tersebut, lalu kenapa ia masih mengunjungi makam ibunya?

Kali ini, Taecyeon tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh dirinya sendiri. Ia sendiri bahkan tidak tahu bahwa keadaannya sangat menyedihkan, mengharapkan ibunya agar tetap hidup di dunia. Sekali lagi, ia merasa terpuruk meningat keadaannya yang menyedihkan.

“Terimakasih, Tuan. Semoga kau selalu diberikan umur yang panjang.”

Setelah itu, Suzy meninggalkan Tuan Oh dan berjalan menuju bagian belakang gedung. Taecyeon menduga bahwa makam ibu Suzy terletak di belakang gedung. Dengan berat hati, Taecyeon pun menemui Tuan Oh dan mengucapkan salam. Setelah itu, ia langsung bergerak menuju makam ibunya yang tak jauh dari makam ibu Suzy.

Tangannya bergetar ketika memandangi kotak loker berkaca tersebut. Di dalam sana, ada foto ibunya yang tersenyum cerah dengan balutan dress mahal, tak ternilai harganya. Itulah foto terakhir yang mengambil wajah ibunya. Setelah itu, ibunya harus bercerai dengan ayahnya dan ia diambil oleh ayahnya.

Ia sangat merindukan ibunya.

Terlebih, dengan masakan ibunya. Dadanya terasa sesak ketika mengingat kejadian tersebut. Kejadian malam hari dimana ia harus menyaksikan dengan kedua matanya, bahwa ibunya benar-benar meninggalkan dunia. . .

.

.

.

Hari sudah gelap dan tak ada satupun orang rumah yang sudah pulang. Dengan hati teguh, Taecyeon berusaha memikirkan hal-hal yang positif. Malam itu, ia sudah membuat janji dengan kedua orang tuanya untuk merayakan pesta ulang tahunnya secara kecil-kecilan.

Dia tahu bahwa kedua orang tuanya sudah bercerai semenjak empat tahun yang lalu, namun hal tersebut tidak menjadi penghalang baginya untuk merayakan ulang tahun yang ke-14. Jantungnya kian berdegup dengan kencang saat menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.

Jam yang dijanjikan oleh Taecyeon adalah pukul 8 malam. Namun, belum ada tanda-tanda bahwa kedua orang tuanya akan pulang. Akhirnya, dengan berani, ia mengambil jaket hitam tebalnya dan tak lupa juga tas kecilnya. Di dalamnya, ada dompet dan juga keperluan yang lain jika dibutuhkan.

Ia melangkah keluar dari rumahnya dengan hati berani setelahmengunci rapat rumahnya. Dia berjalan secara perlahan keluar dari kompleknya dan menyetop sebuah taksi kuning. Sang supir menanyakan tujuannya, ia pun menjawab dengan menyebutkan alamat kantor ibunya.

Tak sampai lima belas menit, ia sudah tiba di gedung kantor ibunya. Ia turun dari taksinya dan menatap lurus ke arah gedung tersebut. Lampu-lampu gedung sudah padam dan hanya ada seorang satpam yang berjaga. Melihat seorang anak sekolah menengah tanpa tujuan berdiri di dekat pos satpam, laki-laki itu menghampiri Taecyeon.

“Ada keperluan apa, anak muda?”

“Ah, aku ingin bertanya, apakah perempuan bernama Ok Jungah sudah pulang?”

Satpam tersebut tampaknya terkejut mendengar Taecyeon menyebut nama wanita itu. Ia pun meneliti wajah Taecyeon, namun akhirnya ia hanya mendecak pelan. “Ada urusan apa dengan Nyonya Jungah?”

“Aku anaknya.”

“A—Ah, begitu, ya?” Satpam tersebut tampak gelagapan. “Nyonya Jungah baru saja pulang dengan seorang laki-laki, Nak. Tapi, aku tidak tahu siapa dia. Yang pasti, tampaknya mereka tengah bertengkar.”

Taecyeon pun membasahi bibirnya, kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto—foto yang tak lain adalah foto ayahnya. “Apakah ini laki-laki tersebut?”

“Oh, benar! Matjayo!

Setelahi tu, Taecyeon langsung berlari meninggalkan pos satpam tersebut. Kemudian, ia menghubungi nomor ayahnya. Baru berselang beberapa detik, ponselnya langsung tersambung dengan ayahnya.

“Ada apa, Taecyeon?”

“Abeonim… Kau sedang ada dimana?”

“Aku sedang ada di Kafe Revouzi. Ada apa?”

“Ah… Aniyo. Aku hanya mengkhawatirkan dirimu.”

Setelah itu Taecyeon langsung memutus sambungannya. Ia pun menyetop lagi sebuah taksi dan meminta sang sopir untuk mengantarnya menuju Kafe Revouzi yang disebutkan ayahnya tadi. Taksi pun melaju dengan cepat berhubung jalan semakin sepi ketika hari semakin larut.

Sesampainya disana, Taecyeon langsung turun dari taksi tersebut dan melangkah masuk ke dalamnya. Tepat di sudut ruangan, ada ayahnya dan ibunya yang tengah duduk berhadapan dengan tatapan tajam menatap satu sama lain. Jantung Taecyeon berdegup tak karuan saat ibunya bangkit dari kursinya.

Cepat-cepat, Taecyeon berlari keluar dan bersembunyi di balik dinding Kafe. Ia melihat ayahnya yang juga bangkit sambil memberikan isyarat pada seorang pegawai Kafe untuk menunggunya. Keringat dingin membanjiri keningnya saat ibunya melangkah cepat untuk menyebrangi jalan.

“Ok Jungah!”

Suara ayahnya tentu saja berhasil membuat ibunya berhenti di tengah jalan. Taecyeon masih di tempat persembunyiannya menatap kejadian tersebut. Ibunya membalikkan badan dengan wajah sedih saat mendengar namanya.

Nama tersebut, seharusnya sudah tidak digunakan oleh ibunya. Ia seharusnya kembali ke marga sebelumnya, yaitu Ji. Ji Jungah, begitulah nama aslinya. Bukan nama perkawinannya dengan ayahnya, yaitu Ok Jungah. Di dalam hati Taecyeon, ia berharap bahwa ibunya bisa kembali membangun rumah tangga tersebut.

“Eo—”

Belum sempat Taecyeon meneriakkan panggilan ibu pada Jungah, wanita itu sudah ditabrak habis oleh sebuah truk. Tubuh Taecyeon langsung membeku ketika melihat ibunya terlempar sekitar dua puluh meter. Ia berteriak, menangisi ibunya saat melihat genangan darah yang membanjiri aspal.

Ia pun berlari mendekati ibunya yang sudah tak bernyawa, begitu juga dengan ayahnya yang tak dapat berkata apapun. Tangisan seorang anak kecil yang tak berdaya berhasil membuat orang-orang langusn menghampiri mayat tersebut. Ibunya, dengan kepala yang hampir lepas dari tempatnya dan mata yang masih terbuka lebar tentu saja membuat Taecyeon langsung menjerit tak karuan.

“Eomma!!”

Pada akhirnya, ia tahu bahwa teriakannya adalah teriakan keputus asaan. Tak ada yang bisa mengembalikan waktu karena pada akhirnya mereka yang menyesal di kemudian hari lah yang meminta waktu dikembalikan. Salah satu dari mereka adalah Ok Taecyeon yang menyesali kematian ibunya.

.

.

.

Tanpa ia sadari, air mata sudah membasahi pipinya. Seseorang juga sudah berdiri di sampingnya dan memeluk laki-laki itu. Ketika sadar dari kenangan buruknya, ia pun langsung menghapus air matanya dengan cepat dan menoleh ke bawah, didapatinya Suzy yang memeluknya dengan hangat.

“Suzy-ssi,” panggilnya lemah.

“Sebentar saja, kumohon. Aku tahu kau sangat merindukan ibumu,” ucapnya pelan.

Entah setan apa yang sudah merasuki tubuh Taecyeon, laki-laki itu membiarkan Suzy untuk memeluknya dengan hangat. Perlahan, laki-laki itu membalas pelukan Suzy dan terisak lagi untuk kesekian kalinya.

“Taecyeon-ssi. . .”

Dengan pelan, Suzy memanggil nama laki-laki itu, berusaha menenangkannya. Walaupun dia tidak pernah terisak seperti ini karena mengingat ibunya, ia tahu bagaimana sedihnya Taecyeon jika meningat ibunya. Di dalam hatinya, Suzy prihatin karena dibalik sikap dingin dan penindas Taecyeon, hati laki-laki itu rapuh hanya karena ibunya.

Sekitar lima menit, pelukan mereka bertahan. Sampai akhirnya, Taecyeon pun berhenti terisak dan dengan cepat ia menyadarkan dirinya, kembali ke realita. Secepat mungkin, ia menghapus air mata yang masih membekas di bawah pelapuk matanya dan juga pipinya.

Sorry.”

Suzy langsung tersentak pelan saat mendengar ucapan Taecyeon yang begitu lembut dalam Bahasa Inggris. Laki-laki itu melepaskan pelukan mereka, lalu membalikkan badannya. Begitu tahu bahwa laki-laki itu tidak mau terlihat ketika menangis, Suzy pun memahaminya. Gadis itu mengikutinya dari belakang, sampai akhirnya keduanya sudah berada di luar gedung.

“Jadi, kau juga menyimpan abu ibumu disini?”

“Bukan aku,” jawab Suzy pelan. Ia menatap ke arah langit biru yang dihiasi gumpalan awan-awan beragam bentuk. Gadis itu tersenyum tipis sambil mencoba menghirup udara segar pegunungan. “Ayahku yang menyimpannya.”

Taecyeon menanggapi pernyataan Suzy dengan gumaman pelan. Ia tidak tahu caranya untuk menghangatkan suasana canggung. Terutama, Suzy yang berdiri di belakangnya dan ia sendiri yang sama sekali tidak berani membalikkan badannya. Pada akirnya, ia tahu bahwa ia hanyalah seorang laki-laki lemah.

“Kau kesini sendirian? Tidak bersama ayahmu?”

Ne, aku sendirian. Kau tidak mau pulang?”

Mendengar itu Suzy pun hanya terkekeh pelan. “Tentu saja mau, tapi aku harus menunggu supirku dulu. Aku tadi menyuruhnya pergi dulu untuk membeli makan, kupikir aku akan lama disini. Ternyata benar, aku memang lama disini. Dan, semuanya karena kau.”

Taecyeon membalikkan badannya. “Aku tidak pernah memintamu untuk memelukku. Kau saja yang berlebihan.” Ia mendengus, sedangkan itu Suzy hanya tersenyum tipis menanggapinya. “Kalau begitu, aku akan antar kau pulang, daripada kau harus menunggu supirmu itu.”

“Tidak usah, aku hanya akan merepotkanmu,” tolak Suzy sehalus mungkin.

“Apa semua perempuan di Korea selalu seperti ini?”

Belum sempat Suzy menjawab pertanyaan Taecyeon, laki-laki itu sudah menarik Suzy menuju mobilnya. Laki-laki itu menggerakkan dagunya, memberikan isyarat pada Suzy untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Dengan ragu, Suzy menarik pintu mobil Taecyeon, lalu masuk ke dalamnya.

Kesan pertama Suzy untuk mobil Taecyeon adalah; rapi.

Saat memasuki mobil Taecyeon, Suzy menghirup nafasnya dalam-dalam sehingga ia bisa mencium harum coffee laté yang membuat Suzy terkejut. Ini adalah pertama kalinya ia menghirup harum kopi di dalam mobil. Ketika Taecyeon masuk, laki-laki itu langsung menoleh ke arahnya dengan pandangan heran.

“Kau tidak mau memasang sabuk pengamanmu?”

“A—Ah,” Suzy langsung gelagapan, kemudian ia segera memasang sabuk pengamannya. Ia pun merutuki dirinya yang bisa melupakan hal termudah seperti itu. setelah memasangya, ia menoleh ke arah Taecyeon. “Taecyeon-ssi, kau menyukai kopi, ya? Ini pertama kalinya aku memasuki mobil dengan pengharum kopi…”

“Oh, itu… Bukan aku yang menyukainya, ibuku. Dia adalah pecinta kopi. Karena itulah, aku memasang pengharum kopi agar teringat terus dengannya dan minuman favoritnya adalah Coffee Laté,” Taecyeon mengakui.

Suzy pun hanya mengangguk pelan. Ia pun menatap keluar jendela ketika mobil Taecyeon menuruni lereng gunung. Hawa dingin gunung dapat terasa ke dalam mobil ketika mereka melewati perkebunan. Suzy tersenyum cerah menatapi pemandangan indah tersebut.

“Suzy-ssi.”

“Hm?”

“Terimakasih untuk hari ini.”

Untuk pertama kalinya, Suzy mengakui bahwa kesan pertamanya dengan Taecyeon memang buruk. Namun, setelah pengalaman kemarin, ia merasa tidak seharusnya ia berkata bahwa Taecyeon adalah lelaki yang buruk. Lelaki itu cukup baik baginya, terutama pelukan hangat dari Taecyeon kemarin.

Ia pun menggelengkan kepalanya, lalu kembali fokus pada layar ponsel putih bermerek Apple tersebut. Sekali lagi, ia membaca pesan yang dikirimkan oleh Junho beberama menit yang lalu untuknya. Ia mengerti maksud Junho, namun ia tidak mengerti pesan tersirat dibaliknya.

Lee Junho: Bae Suzy-ssi, aku meminta bantuanmu. Bisakah kita bertemu hari ini?

Bae Suzy: Untuk apa?

Ketika Suzy baru saja membalas pesan tersebut, ponselnya berteriak meminta diangkat. Ia membaca layar ponselnya dan tertera nomor yang tak dikenalnya. Suzy terdiam sejenak dan berpikir, kemudian ia menyadari bahwa nomor asing tersebut merupakan milik Junho.

Akhirnya, ia memilih untuk mengangkat telepon tersebut. “Halo. Ada apa?”

Disana, Junho mendesah berat. “Suzy-ssi, maaf, aku butuh bantuanmu hari ini juga. Bisa kita bertemu? Keperluan mendadak. Kalau bisa, sebaiknya kau segera bersiap, aku akan menjemputmu dalam waktu setengah jam mendatang.”

Dengan memutar bola matanya, Suzy sebenarnya malas untuk berurusan dengan orang ini. “Arasseo, setengah jam lagi, aku tunggu di rumahku. . . Tunggu! Kau memangnya tahu alamat rumahku?”

“Tentu saja. Kau lupa aku ini siapa? Aku punya data seluruh murid SHS.”

Tut.

Suzy langsung memutuskan sambungan tersebut, dia tidak mau berceloteh lebih panjang dengan laki-laki itu. Dia mendecak ketika mengingat bagaimana sombongnya Junho mengatakan posisi pentingnya itu. Ah, untuk apa aku memikirkannya, pikir Suzy geram.

Setengah jam kemudian, Junho benar-benar sudah tiba di depan rumah Suzy dengan mobil sedan hitam miliknya. Laki-laki itu mengenakan kaus berwarna biru laut dan celana jins hitam yang melekat di kaki panjangnya. Sebuah kacamata hitam ikut bertengger diatas kepalanya untuk menunjukkan bahwa ia ingin sedikit gaya.

Sedangkan itu, Suzy hanya mengenakan kemeja putih berkerah dengan lengan pendek dan celana pendek beberapa senti diatas lututnya. Kemeja putihnya pun dimasukkan ke dalam celana pendeknya, lalu ia juga membawa tas selempangnya. Setelah berpamitan dengan ayahnya yang sibuk di ruang kerja, ia langsung melangkah keluar rumah.

Dimasukinya mobil sedan hitam milik Junho, kemudian menatap laki-laki itu geram. Ia memberikan pandangan seolah laki-laki itu sudah mengganggu Hari Minggu yang menyenangkan miliknya. Junho hanya terkekeh kemudian ia melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Suzy.

“Jadi. . . Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan denganku?”

“Ini soal sponsor pesta tahunan.”

“Lalu? Apa hubungannya denganku, Lee Junho-ssi?” Suzy bertanya dengan berat hati—sebenarnya lebih ke heran—seolah ia tidak siap. Kemudian, ia menoleh ke arah Junho dengan pandangan berapi-api. “Dan. . . Bisakah kau berbicara selengkap mungkin? Tidak usah sepotong-sepotong, itu membuatku kesal.”

“Baiklah, Nona Galak.” Junho mendengus pelan, sedangkan itu Suzy hanya memutar bola matanya. “Jadi, semenjak kau ini perempuan alias gadis yang langsung terkenal di sekolah, aku memintamu untuk meminta sponsor dari beberapa murid. Aku tahu kau bisa berakting semanis mungkin di hadapan mereka. Kau minta mereka untuk ikut memberikan sponsor pada pesta tahunan ini.”

“Sponsor apa? Kenapa aku tidak mengerti dengan perkataanmu ini?” tanya Suzy bingung. Keningnya berkerut karena terlalu polos untuk memahami hal-hal seperti ini—maklumi saja, karena ia sebelumnya berada di panti asuhan. “Memangnya pesta tahunan ini bakal membutuhkan sponsor?”

“Tentu saja,” jawab Junho tanpa mencurigai kepolosan Suzy sedikitpun. Laki-laki itu tampaknya tidak ingin ikut campur dengan permasalahan otak Suzy yang rupanya perlu diasah. “Kami membutuhkan sponsor untuk menyelenggarakan sebuah pesta tahunan dan kami harus mempersiapkannya dari sekarang. Karena itu, aku memintamu untuk meminta anak-anak itu. Orang tua mereka rata-rata merupakan direktur utama dari perusahaan makanan, minuman, atau barang-barang ternama lainnya.”

Setelah mengerti, Suzy pun mengangguk-nganggukkan kepalanya. Ia menoleh ke arah Junho yang tampaknya mengemudikan mobilnya ke arah tak tentu, sampai tidak sadar bahwa sebenarnya mereka dari tadi hanya memutari komplek rumah Suzy. Suzy pun hanya terkekeh pelan.

“Ada apa?” tanya Junho, menoleh sekilas ke arah Suzy.

“Kau tahu. . . Dari tadi, kau hanya memutari komplekku dan sebenarnya aku tidak perlu ganti baju jika kau hanya mengajakku untuk memutari komplek dan membicarakan hal semudah ini. Kau bisa membicarakan hal ini lewat telelpon,” komentar Suzy.

Junho pun langsung menepuk keningnya begitu menyadari hal tersebut. “Bukan itu, aku tadinya ingin mengajakmu ke festival makanan. Tadinya, aku mau pergi bersama dengan saudara sepupuku, tapi dia ada acara dengan ibunya. Karena itu, berhubung aku mau berbicara—eh, lebih tepatnya meminta bantuanmu, aku mau mengajakmu ke festival makanan itu.”

“Ah. . .” Suzy pun mengontrol tawanya lalu mengangguk-nganggukkan kepalanya. “Intinya, aku akan melakukan hal yang kau minta. Itu adalah pekerjaan yang mudah, aku sudah sering melakukannya dulu.”

“Baiklah, dengan begitu, aku akan memposisikanmu sebagai PJ sponsor dalam pesta tahunan ini. Aku tahu kau murid baru, tapi sepertinya kau punya kemampuan yang baik dalam menyelenggarakan acara,” Junho mengakui. “Sekarang, kau mau tidak pergi ke festival makanan itu?”

Dengan ragu, Suzy menoleh ke arah Junho. “Oke, aku ikut.

Awalnya, Suzy memang membenci keramaian, terutama ketika melihat anak-anak yang berlarian diantara kerumunan orang. Bukan karena ia membenci anak kecil, ia hanya tidak ingin anak-anak tersebut hilang dan tersesat, lalu mereka sibuk mencari orang tua mereka. Pada akhirnya, Suzy-lah yang harus turun tangan dan membantu mereka bertemu dengan orang tua mereka.

Dengan gugup, Suzy berjalan disamping Junho yang tampaknya menikmati keramaian tersebut. Di tangan laki-laki itu sudah ada sekantung Takoyaki dan Okonomiyaki yang dibelinya ketika memasuki festival tersebut. Sebelum membeli, Junho sempat menawarkan Suzy untuk membelinya, namun gadis itu menolak dengan alasan ia masih kenyang.

“Suzy-ssi¸ kau tidak menyukai keramaian ya?”

“A—Ah, bukan begitu,” Suzy langsung menjawab dengan gelagapan. “Aku hanya tidak suka melihat anak kecil yang berlarian, aku takut mereka tersesat dan kehilangan orang tua mereka. Karena, pada akhirnya, harus ada orang yang turun tangan untuk membantu mereka.”

“Kalau begitu, kita saja. Ayo, sebaiknya, kau menikmati festival makanan ini. Untung aku mengajakmu, kalau tidak, memangnya kau senang berada seharian di dalam rumah megahmu itu?” tanya Junho lalu tertawa.

Mereka melewati beberapa stan makanan yang sama sekali tidak menarik perhatian Suzy. Suzy pun mendengus. “Biarkan aku melihat-lihat dulu. Nanti, kalau aku sudah menemukannya, aku bisa langsung membelinya. Aku tidak mau sepertimu, langsung membeli apa yang kau lihat. Lapar mata.”

Dalam hatinya, Junho ingin mengomentari gadis ini, namun ia mengurungkan niatnya. Ketika Suzy hampir menabrak seorang laki-laki bertubuh besar, Junho langsung menarik gadis itu. Ia menatap Suzy dengan kesal. “Hati-hati. Kau tahu, ‘kan, kalau tempat ini ramai? Sebaiknya kita bergandengan, aku tidak ingin kau mengalami kejadian yang aneh-aneh.”

Suzy hanya terdiam dan tidak mengomentari saran Junho. Ia pun mengikuti kemauan Junho yang menggenggam jemarinya dengan erat. Ketika melihat stan yang menjual ayam bakar, Suzy langsung membulatkan matanya. Ia menunjuk stan tersebut dengan senang.

“Kau mau itu?”

“Iya, dari dulu aku selalu mau itu.”

Junho menoleh ke arahnya dengan pandangan bingung, namun ia langsung menepisnya. Ia tidak mau menanyakan hal-hal yang aneh pada Suzy. Toh, pada akhirnya, jika ia menanyakan hal tersebut, Suzy hanya akan menolak menjawabnya, seperti orang lain yang tidak ingin diganggu privasinya.

“Baiklah, kau tunggu disini, bias aku yang membelikannya.”

“Ta—”

Belum sempat Suzy menyelesaikan perkatannya, Junho sudah meninggalkan Suzy diantara keramaian orang-orang tersebut, lalu melangkah menuju stan tersebut. Dengan hati-hati, Suzy bergeser dan berdiri di dekat pohon rindang di luar kerumunan orang-orang itu. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Junho yang tengah bernegosiasi dengan si penjual ayam bakar itu.

Tak lama kemudian, laki-laki itu kembali dengan sekantung ayam bakar dan menghampiri Suzy yang tampak cemas.  Laki-laki itu tersenyum kemudian memberikannya pada Suzy. “Ayo, kita pergi ke stan yang lain, masih ada banyak makanan,” katanya pada Suzy.

Setelah itu, Junho kembali menggenggam tangan Suzy seolah itu bukanlah hal yang perlu dihebohkan. Dengan ragu, Suzy pun menerima genggaman Junho dan membalas genggaman tangan laki-laki itu. Sambil menatap kantung yang berisi ayam bakar, ia pun memperhatikan tengkuk laki-laki di depannya.

Matanya meneliti, menyadari bahwa rambut Junho dipotong unik. Laki-laki itu memiliki potongan rambut yang unik pada akhirnya. Lucu, gumam Suzy saat memperhatikan ujung rambut Junho yang terletak pada tengkuknya. Mereka melewati berbagai stan dan stan lagi. Akhirnya, mereka kembali dan Suzy membawa banyak kantung makanan, begitu juga dengan Junho yang tak kalah banyak.

Setelah selesai dengan festival makanan itu, Junho mengajak gadis itu menuju sebuah danau yang terletak tidak jauh dari festival makanan. Mereka duduk di sebuah bangku yang berhadapan dengan danau tersebut. Suzy langsung bersedekap ketika terduduk, ia menatap lurus ke arah danau itu.

“Bagaimana dengan hari ini?” tanya Junho sambil membuka bungkus makanan Takoyaki dan Okonomiyakinya. Laki-laki itu menyodorkannya pada Suzy sebelum memakannya. Suzy pun mengambil sumpit milik Junho lalu menyuapkan sebuah Takoyaki ke dalam mulutnya.

“Mm. . . Menyenang—Mmm. . . Kan.”

“Lebih baik makan dulu sampai habis. Jangan berbicara sambil makan,” tegur Junho.

Arasseo.

Setelah selesai mengunyah Takoyakinya dan menelannya habis-habis, Suzy pun melanjutkan, “menyenangkan dan juga mengasyikkan. Ngomong-ngomong. . . Terimakasih sudah mengajakku kesini.”

Disamping Suzy, Junho pun terkekeh pelan lalu memakan Takoyakinya. Ia menoleh ke arah Suzy sekilas. “Sudah ku bilang, aku pasti membuatmu senang. Kalau tidak ada aku, kau pasti sekarang masih mengurung diri di kamar dengan iPad-mu itu. Atau, kau sedang berpergian dengan asistenmu itu.”

“Terus, kenapa kau harus mengajakku? Memangnya kau yakin aku akan mengurung diriku atau pergi dengan Tiffany unnie?” tanya Suzy tak percaya. Ketika mendapati wajah Junho yang kebingungan, ia kembali melanjutkan, “maksudku Tiffany unnie adalah asistenku.”

“Ah. . . Bukankah semua gadis di SHS akan seperti itu?”

“Kau memang sok tau,” komentar Suzy kesal. Sebelum melanjutkan, Suzy menatap danau sebiru laut tersebut. Burung-burung menghampiri danau itu untuk sekedar bermain atau mencipratkan air. Beberapa ikan tampak muncul ke permukaan lalu kembali masuk ke dalam danu. “Aku bukan seperti mereka. Lebih baik aku pergi berjalan-jalan seperti ini daripada aku berada di kamar seharian.”

“Ah, rupanya kau tidak seperti yang lainnya.”

“Aku memang berbeda.”

Hari itu, untuk pertama kalinya, Suzy tersenyum bahagia.

To be Continued

December 20, 2014 — 10:00 P.M.

::::

a.n: Halo! Semuanya, sekali lagi aku minta maaf ya buat sebelumnya aku nge-post nya sangat telat dan hampir sebulan. Huahaha. Hari ini, aku terima rapor dan mulai besok aku liburan! Uyeay, jadi aku bisa update setiap minggu seenggaknya. Atau secepatnya. Kalau bisa sih aku ngetik dulu buat chapter selanjutnya. Yeah, aku sangat membutuhkan saran kalian, kalau misalkan kayak feels-nya kurang dapet, atau alurnya kecepetan atau kelambatan, atau yang lainnya, tolong komentar, ya! Aku sangat menghargai komentar kalian.

Akhir kata, don’t forget to comment, likes, or give rate, okay? Thankyouuu<3

39 thoughts on “[Chapter 4] Another Cinderella Story

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s