Resemble (Chapter 6/END)

resemble

Title : Resemble (Chapter 6/END)

Author : DkJung

Main Casts :

  • [A Pink] Jung Eunji
  • [Girl’s Day] Bang Minah
  • [Infinite] Lee Howon
  • [Beast] Lee Gikwang

Support Casts :

  • [F(x)] Jung Soojung
  • [Girl’s Day] Lee Hyeri

Genre : Friendship, Romance

Length : Chaptered

Rated : PG 14

Disclaimer : terinspirasi dari film favorit aku. Cat : anggap di ff ini muka eunji-minah mirip identik.

Summary :

Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan orang yang wajahnya serupa denganmu? Hal itulah yang dialami gadis cantik bernama Jung Eunji. Ia cucu dari pengusaha terkaya di Korea. Namun, tanpa disangka ia bertemu dengan Bang Minah, seorang gadis sederhana yang memiliki paras serupa dengannya.

 Chapter 1 . Chapter 2 . Chapter 3 . Chapter 4 . Chapter 5

 

 

Chapter 6

Aniyo, justru aku yang berterima kasih padamu, atas ini semua.”

“Terima kasih? Untuk apa? Bukankah seharusnya kau marah padaku? Aku, kan sudah menipumu selama ini.”

Gikwang tersenyum tipis. Ia mengambil sapu tangan dari dalam saku jas yang dipakainya lalu memberikannya pada Eunji. Gadis itu menerimanya sambil tersenyum.

“Kenapa aku harus marah? Lagipula, aku tidak merasa dirugikan sama sekali. Soal perjodohn ini, mungkin memang lebih baik bila kita batalkan saja.”

Mendengar jawaban Gikwang, Eunji menghentikan tangisnya lalu tersenyum. Ia lalu menggunakan sapu tangan Gikwang untuk mengelap air matanya.

“Aku ingin mencari Howon.”

“Kemana kita akan mencarinya?”

“Sepertinya dia mampir ke suatu tempat.”

OOO

Minah berdiri terpaku di depan pintu masuk kedai tempatnya bekerja. Di hadapannya kini sudah berdiri Eunji dan Gikwang. Entah apa yang membawa mereka kesini. Yang jelas, Minah sedang kesal. Lebih tepatnya, ia menyesal harus menerima tawaran Howon untuk menyamar menjadi Eunji. Mendadak, ia jadi kesal pada Eunji karena keegoisan gadis itu.

“Minah-ssi,” panggil Eunji.

“Mau apa kau?” tanya Minah dengan nada sinis.

Wae geurae? Kenapa dengan nada bicaramu itu? Aku hanya ingin bertanya dimana–“

“Howon? Kau masih peduli padanya? Wah, daebak!” sindir Minah.

“Kenapa kau bicara seperti itu? Tentu saja aku peduli padanya.”

Gojitmal! Kalau kau peduli padanya, kau tidak akan meninggalkannya dan membiarkannya menanggung ini semua sendirian! Setidaknya kau harus memikirkan tindakannya, ini semua ia lakukan demi kau! Tapi kau malah pergi ke Inggris dengan segala keegoisanmu! Sekarang lihat akibatnya, dia dipecat! Dan itu semua gara-gara kau!” bentak Minah tepat di hadapan wajah Eunji.

“Minah-ssi, keumanhae!” seru Gikwang. Mendengar panggilan itu, Minah menoleh ke arah Gikwang, lalu berjalan beberapa langkah mendekati lelaki itu.

“Jadi kau sudah tahu namaku yang sebenarnya? Dengar ya, aku tidak akan meminta maaf sudah membohongimu, karena memang ini semua bukan ideku, dan aku hanya berniat baik ingin menolong keluarga Jung,” Minah menghentikan ucapannya sejenak sambil melirik sinis ke arah Eunji. “Tapi ternyata mereka mengecewakanku, terlebih lagi setelah aku melihat Howon yang dipecat. Aku benar-benar menyesal karena telah begitu mudahnya mau berpura-pura sebagai Eunji untuk berkencan denganmu! Aku menyesal telah mengenalmu! Aku,” Minah berhenti berucap ketika air matanya sudah mulai menggenangi pelupuk matanya, siap untuk membasahi kedua pipinya.

Melihat hal itu, Gikwang hanya bisa terdiam. Ia hanya bisa menatap lurus ke arah wajah Minah yang kini sudah ditutupi kedua tangannya. Gikwang tahu, gadis itu tengah menangis, tapi ia hanya bisa diam.

Minah pun sadar ia menangis di tempat yang salah. Dengan cepat ia menghapus air matanya dengan kedua punggung tangannya lalu berlari masuk ke dalam kedai. Tak lupa ia membalik papan bertuliskan open menjadi close. Tersisalah kedua orang yang tengah mematung di depan kedai tutup itu.

OOO

Gikwang baru saja memasukkan mobilnya ke garasi ketika ibunya keluar dari rumah lalu berlari kecil menghampirinya. Ia lalu segera keluar dari mobil.

“Kenapa kau baru pulang malam-malam begini?”

Mianhae, Eomma, aku pergi tidak bilang-bilang dulu, karena tadi mendadak Presdir Jung memintaku untuk datang ke rumahnya. Ada sedikit masalah di keluarga Jung, ehm, bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan kita di dalam saja, Eomma?” tanya Gikwang sembari berjalan masuk mendahului ibunya yang kemudian menyusul.

Sesampainya di dalam, Nyonya Lee langsung menutup pintu lalu duduk di hadapan Gikwang di ruang tengah rumah mereka. Ayah Gikwang yang sudah lama meninggal mengharuskan Nyonya Lee dan Gikwang tinggal berdua saja.

“Apa yang terjadi?” tanya Nyonya Lee yang sudah tak sabar ingin mendengar penjelasan dari Gikwang.

“Begini Eomma, sebenarnya, ada sedikit kesalahan. Gadis yang selama ini kukencani bukanlah Jung Eunji, melainkan Bang Minah, gadis yang berpura-pura menyamar menjadi Eunji. aku sendiri tidak tahu apa alasannya. Yang jelas, hari ini adalah hari pertama aku bertemu dengan Eunji yang asli, dan kami berdua telah sepakat, untuk membatalkan perjodohan ini,” jelas Gikwang.

“Membatalkan? Keunde wae? Bukankah kau bilang kau menyukai Eunji?”

Gikwang tersenyum tipis. “Eomma, bukankah tadi aku bilang bahwa gadis yang selama ini kukencani bukanlah Eunji yang asli? Dia adalah Bang Minah. Dan apa Eomma tahu? Setelah berkencan dengannya, aku jadi semakin menyukainya. Dan aku baru tahu, bahwa dia sebenarnya bukanlah Jung Eunji. Tapi entah mengapa, aku tidak marah mengetahui kebohongan ini semua, Eomma. Entah mengapa aku justru merasa lega ini semua terbongkar. Aku justru merasa lega begitu mengetahui bahwa Minah bukanlah Eunji, karena memang Eunji yang diceritakan oleh Presdir Jung sangat berbeda dengan gadis yang kukencani, yaitu Minah. Aku harap, Eomma bisa menerima keputusanku ini. Dan, jangan paksa aku untuk tetap melakukan perjodohan dengan Keluarga Jung.”

Nyonya Lee menghela napas sejenak, sebelum akhirnya tersenyum.

“Hanya kau yang berhak menentukan hidupmu, Gikwang-ah, Eomma hanya berharap yang terbaik untukmu. Apapun keputusanmu, tentu akan Eomma dukung. Kalau memang kau tidak mau dijodohkan dengan Eunji, gwenchana, keunde, kalau bukan dengan Eunji, kau mau bertunangan dengan siapa? Dengan gadis itu?”

Gikwang tersenyum mendengar pertanyaan ibunya. Mendadak, ia teringat Minah, gadis itu pasti tengah marah padanya.

“Mungkin aku memang menyukainya, Eomma.”

OOO

MWORAGU? MEMBATALKAN PERJODOHAN? JUNG EUNJI! KAU SUDAH MEMBUAT HARABEOJI KECEWA, DAN KINI KAU MAU MEMBATALKAN PERJODOHAN?”

Suara bentakan presdir Jung yang begitu keras menggema di seluruh penjuru ruangan. Eunji yang saat itu menjadi objek kemarahan kakeknya hanya bisa menunduk, menangis.

Mianhae, Harabeoji, aku tidak bisa terus-menerus menuruti kemauan Harabeoji yang menjodohkanku dengan para lelaki yang tidak aku cintai, aku sudah punya lelaki yang aku cintai,” jawab Eunji sambil menangis.

Mwo? Memangnya siapa lelaki itu? Apa dia lebih kaya dari Lee Gikwang?! Apa dia sudah bisa membelikanmu rumah mewah?!”

Harabeoji, kebahagiaan bukan hanya berasal dari materi! Untuk apa aku mempunyai suami yang kaya bila hatiku tersiksa? Kenapa Harabeoji tidak pernah bisa mengerti perasaanku? Apa yang selama ini Harabeoji pikirkan hanyalah uang? Kekayaan? Kemewahan? Apa Harabeoji pikir, Harabeoji sudah bisa membahagiakan aku? Aniyo! Aku tidak pernah merasa bahagia selama aku berada di rumah ini!”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Eunji langsung beranjak pergi dari hadapan kakeknya, berlari menuju kamarnya.

“Jung Eunji! Mau kemana kau?!” bentak Presdir Jung. Namun percuma, Eunji enggan mendengarkannya dan lebih memilih untuk mengurung dirinya di kamarnya.

BRAK

Mendengar suara pintu yang ditutup begitu kencang, membuat Presdir Jung berjalan menuju pintu kamar Eunji.

“Eunji-ya, buka pintunya sekarang juga!” seru Presdir Jung sembari mengetuk pintu.

Mianhae, Harabeoji, keunde, aku hanya akan membuka pintu bila Howon sudah kembali bekerja di sini, dia tidak salah apa-apa,” ujar Eunji dari dalam kamar.

Mworagu?! Dia itu sudah dipecat, mana mungkin bekerja di sini lagi! Terserah padamu, kalau kau mau terus-menerus mengurung dirimu sendiri di kamar, Harabeoji tidak akan melarang!”

Setelah perkataan itu terucap, Presdir Jung pergi meninggalkan kamar Eunji. sementara Eunji hanya bisa memecah tangisannya semakin keras.

OOO

Annyeonghase–ya! Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Minah terkejut melihat Gikwang datang ke kedai tempatnya bekerja.

Wae? Bukankah setiap orang berhak datang kesini?” tanya Gikwang sambil tersenyum. Dalam situasi apapun, sepertinya lelaki itu masih bisa tersenyum.

Keurae, semua orang kecuali kau! Lagipula, kau, kan orang kaya, kenapa harus makan di sini?” tanya Minah dengan nada bicara yang sangat sinis.

Melihat ekspresi cemberut Minah, Gikwang justru tersenyum, ia lalu berjalan beberapa langkah agar lebih dekat dengan gadis itu. Sementara itu, Minah justru melakukan sebaliknya, ia melangkah mundur seiring dengan langkah kaki Gikwang. Menyadari Minah menjauhinya, Gikwang mempercepat langkahnya lalu segera menarik lengan Minah. Akhirnya, ia berhasil membawa gadis itu keluar dari kedai. Sesampainya di luar, Minah langsung memberontak.

Ya! Mwohaneunggoya?!” seru Minah setelah berhasil melepaskan genggaman tangan Gikwang dari lengannya.

“Kenapa kau kasar sekali? Aku ingin bicara padamu,” ujar Gikwang.

“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, aku sudah tidak menyamar sebagai Eunji lagi, jadi, kalau kau memerlukan sesuatu, datangi saja Jung Eunji, jangan aku!”

Minah baru saja akan memasuki kedai ketika tiba-tiba Gikwang menariknya ke dalam pelukan lelaki itu. Minah mencoba berontak namun Gikwang lebih kuat mendekap tubuh Minah yang lebih kecil darinya itu.

“Aku tidak ada urusan dengan Jung Eunji, dan aku datang ke sini untuk menemui Bang Minah, bukan gadis yang menyamar sebagai Eunji, tetapi Bang Minah yang sebagai dirinya sendiri, apa kau masih tidak mengerti?” ucap Gikwang yang masih belum melepaskan Minah dari pelukannya.

Arrasseo, mianhae, aku sudah bersekongkol untuk membohongimu. Itu saja, sekarang kau pulanglah, urusan yang kau maksud adalah permintaan maaf dariku, kan? Sekarang aku sudah minta maaf!” Minah masih saja bicara dengan nada tinggi, namun suaranya sedikit teredam karena bahu Gikwang menutupi setengah wajahnya.

“Tidak bisakah kau bicara pelan sedikit? Permintaan maafmu ditolak.”

Waeyo?”

“Mana ada permintaan maaf macam itu? Kalau kau membentak seperti itu, sama saja kau mencari masalah, bukannya menyelesaikan masalah!”

Minah menghela napas panjang. Ia tidak ingin berlama-lama berada di pelukan Gikwang, jadi ia lebih memilih untuk menuruti kemauan lelaki itu agar urusan mereka cepat selesai.

Arrasseo. Lee Gikwang-ssi, jeongmal mianhaeyo, aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi,” ucap Minah dengan nada yang diperhalus.

Mendengar itu, Gikwang mulai melepaskan pelukannya. “Nah, begitu.”

Keurom, aku harus kembali bekerja.”

Minah hendak kembali masuk ke kedai, tetapi Gikwang menahan kembali tangannya.

“Apa lagi?!”

“Wah, lihatlah, kau membentak lagi! Tidak pantas gadis cantik sepertimu berteriak-teriak saat bicara, sungguh tidak cocok,” ujar Gikwang yang berpura-pura menasihati Minah. Minah semakin kesal dibuatnya.

“Urusan kita sudah selesai, jadi, lebih baik kau pulang.”

Aniyo, ini semua belum berakhir, dan tidak akan berakhir. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, agar ketika aku pulang ke rumah nanti, statusku sudah berubah.”

“Status? Apa maksudmu?”

“Statusku yang tadinya single, menjadi kekasih Bang Minah, eottae?”

Mwo?! Neo michoseo? Kau kan seharusnya menjadi kekasih Jung Eunji!”

“Aku dan Eunji hanya dijodohkan, lagipula kami tidak saling mencintai, bahkan kami baru bertemu satu kali, mana mungkin aku bisa mencintainya. Bagaimana Bang Minah, hm?”

“Bagaimana apanya?”

“Apa kau tega menolak lelaki tampan sepertiku?”

Aniyo, ah, maksudku–“

“Yap! Aku rasa itu sudah cukup untuk merubah statusku. Dengan begini, aku bisa pulang dengan tenang. Annyeong chagiya!” seru Gikwang seraya melambaikan tangan ke arah Minah yang masih terdiam. Ia lalu masuk ke dalam mobilnya. Sebelum ia benar-benar pergi, ia menurunkan kaca jendela mobilnya itu.

“Ingat, ya, sekarang kau adalah pacarku, jadi, jangan dekati lelaki lain, arrasseo? Sampai besok Minah-ya!” ucap Gikwang sambil tersenyum sangat lebar. Ia lalu menutup kaca jendela mobilnya dan menjalankan mobilnya menjauhi kedai tempat Minah bekerja.

Mwoya, bagaimana bisa dia memutuskan hal itu seenak jidatnya?” gumam Minah. Tanpa sadar, senyum mulai mengembang di wajahnya. Ia memang tidak keberatan sama sekali dengan keputusan Gikwang itu. “Omo, apa yang terjadi denganku? Aku pasti sudah gila!”

OOO

TUK TUK TUK

“Nona, ini sudah waktunya makan malam, mohon keluar dulu, Nona belum makan sejak malam kemarin,” ujar seorang pelayan wanita di depan pintu kamar Eunji sambil membawa nampan berisi makanan.

Mianhae, aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku hanya akan keluar jika Howon sudah bekerja di sini lagi,” jawab Eunji dari dalam kamar.

Eunji memang tidak terlihat tertekan dari luar. Bagaimana tidak? Pakaiannya rapi, rambutnya selali ia sisir, seprainya tidak pernah berantakan, kamarnya selalu bersih dan tertata rapi. Tetapi, jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa tertekan. Ia bisa saja menghancurkan kamarnya, membanting semua hiasan-hiasan di kamarnya, memecahkan vas bunga, dan melakukan hal gila lainnya. Akan tetapi, itu bukanlah sifatnya. Eunji bukanlah gadis yang temperamental. Lagipula ia sadar, bersikap seperti itu tidak akan membuat masalahnya selesai. Satu-satunya yang ia butuhkan saat ini hanyalah seorang lelaki bernama Lee Howon.

“Apa dia masih tidak mau keluar?” tanya Presdir Jung pada pelayan wanita yang nampak terkejut itu.

Ah, ye.”

“Anak kurang ajar! Jung Eunji, keluar kau sekarang!”

Shireo, aku tidak akan pernah keluar sampai Harabeoji mempekerjakan Howon kembali di rumah ini!”

TING TONG

Presdir Jung menjauhi pintu kamar Eunji untuk lalu berjalan menuju pintu utama untuk melihat siapa yang datang.

Nuguya?” tanya Presdir Jung pada salah seorang pelayan yang baru saja membukakan pintu.

“Lee Howon datang, Sajangnim.”

MWORAGU? APA YANG MAU SI BRENGSEK ITU LAKUKAN HINGGA BERANI-BERANINYA DATANG KEMBALI KE SINI?”

Suara Presdir Jung yang cukup keras itu dapat terdengar dari kamar Eunji hingga membuat gadis itu terkejut. Entah bagaimana ia yakin bahwa yang datang adalah Howon, orang yang ia tunggu-tunggu. Dengan cepat ia membuka kunci pintu kamarnya lalu berlari menuju pintu masuk utama rumah kakeknya yang luas itu. Sesampainya di sana, Eunji tak kuasa menahan tangisnya.

“Howon-ah!” seru Eunji. ia baru saja akan berlari ke arah Howon ketika Presdir Jung menghalanginya. Howon yang melihah hal itu hanya bisa terdiam lalu menundukkan kepala. Ia sungguh takut pada mantan atasannya itu.

Sajangnim, jebal, jangan bersikap seperti ini pada Nona Eunji, ia tidak menginginkan perjodohannya, tolong hentikan, jangan membuat Nona Eunji tersiksa,” ujar Howon yang mulai mencoba memberanikan diri.

Mwo? Kau berani mengaturku sekarang? Kau sudah berani memerintahku sekarang, huh? Dasar!”

Presdir Jung hendak melayangkan sebuah tamparan ke arah pipi Howon namun Eunji dengan sangat cepat menghalanginya sambil menahan tangan kakeknya itu.

“Eunji-ya, neo mwohaneunggoya?!”

Joisonghaeyo, Harabeoji. Aku tidak bisa membiarkan kau terus-menerus bersikap seperti ini pada Howon. Aku tidak tega melihat Howon yang terus-menerus disalahkan, dia tidak bersalah! Dia hanya mencoba membantu keluarga ini. Dia tahu Harabeoji mempunyai penyakit jantung, jadi dia mencari gadis lain untuk menggantikanku di saat aku tidak ada agar Harabeoji tidak terkejut saat mengetahui aku tidak ada di rumah. Dia selalu berusaha untuk melakukan pekerjaannya sebaik mungkin agar tidak mengecewakanmu, bukankah howon tidak pernah mengecewakanmu sekalipun selain insiden ini, Harabeoji? Howon adalah pekerja keras yang baik! Lagipula, apa Harabeoji mendapat kerugian besar atas ulah Howon, huh? Apa Harabeoji menjadi bangkrut hanya karena ulah Howon? Aniji? Keurom, kalaupun Howon sudah berhasil mengelabuhimu dengan cara menggantikanku dengan gadis lain dan Harabeoji tidak menyadarinya, itu berarti Harabeoji belum mengenalku dengan baik,” jelas Eunji panjang lebar lalu berjalan keluar menarik Howon bersamanya, namun, sebelum melewati pintu keluar, Eunji berbalik lalu berkata, “Dan yang perlu Harabeoji tahu, aku sangat mencintai Howon.”

OOO

“Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku malu,” ucar Eunji sembari menutupi wajahnya yang memerah.

“Aku tidak menyangka kata-kata seperti tadi bisa keluar dari mulut Nona, wah! Daebak!” seru Howon lalu bertepuk tangan.

“Memangnya kenapa? Apa aku tidak pantas berbicara seperti itu? Jadi selama ini kau meremehkanku?”

Aniyo, bukan begitu. Aku tidak menyangka gadis yang biasanya anggun bisa berbicara lantang di hadapan kakeknya.”

Hening. Suasana mendadak canggung di ruang tengah rumah Howon yang sederhana itu.

“Ibumu kemana?” tanya Eunji memecahkan keheningan.

“Menjemput adikku, seperti biasa.”

Eunji hanya bisa menganggukkan kepala mendengar jawaban dari Howon.

“Apa kata-katamu tadi itu benar?” tanya Howon.

“Perkataan yang mana? Aku, kan bicara panjang lebar tadi,” jawab Eunji, mencoba menghindari pertanyaan Howon yang mungkin membahas tentang kata-kata terakhirnya, bahwa ia mencintai Howon. Sungguh, sebenarnya gadis itu sangat malu.

“Saat kau mengatakan bahwa kau mencintaiku, apa itu benar?”

Eunji terdiam. Ia benar-benar malu. Tentu saja itu benar, sejak pertama Howon menginjakkan kaki di rumahnya, Eunji memang sudah tertarik dengan pengawal pribadinya itu. Hanya saja, ia pendam perasaan itu, karena ia takut Howon tidak merasakan hal yang sama dengannya.

“Menurutmu?” Eunji justru balas bertanya.

“Menurutku? Hm, aku harap itu benar.”

Waeyo?”

“Karena sebenarnya, aku juga mencintaimu, Nona, sejak lama.”

Eunji terkejut mendengar ucapan Howon. Ia pun lantas tersenyum karena ternyata Howon mempunyai perasaan yang sama dengannya.

“Jangan ikuti perjodohan lagi, aku sudah sering sakit hati menjadi pengawalmu setiap kali kau kencan dengan lelaki pilihan Presdir Jung.”

“Tenang saja, aku tidak akan mengikuti perjodohan lagi. Lagipula, aku sudah menentukan lelaki pilihanku.”

Nugu?”

Neo.”

Omo, jinjja?” seru Howon tak percaya. Eunji mengangguk.

Howon lalu berlari keluar dari rumahnya menuju halaman depan rumahnya yang tidak terlalu luas. Ia lalu berteriak sekencang-kencangnya karena saking senangnya. Sementara Eunji yang mendengar teriakan Howon itu hanya bisa terkekeh. Setelah berteriak, Howon kembali masuk, menarik Eunji agar gadis itu berdiri lalu menarik tubuh Eunji ke dalam pelukannya.

Saranghaeyo.”

OOO

Eunji hanya diam sambil sesekali menatap kakeknya. Semalam ia tidak pulang karena menginap di rumah Howon, dan pagi ini, kakeknya meneleponnya untuk segera pulang. Kini mereka duduk berhadapan di ruang tengah.

“Kemarin Gikwang dan Nyonya Lee datang. Mereka sepakat untuk membatalkan perjodohan kalian. Harabeoji memutuskan untuk menyetujuinya setelah mendengarkan alasan Gikwang dan alasanmu yang hampir mirip. Kalian sama-sama telah menemukan pasangan masing-masing. Dan juga, mendengar Nyonya Lee yang menghargai keputusan Gikwang, Harabeoji juga merasa harus menghargai keputusanmu, Eunji-ya. Harabeoji sadar, selama ini belum bisa membahagiakanmu. Mianhae, seharusnya di saat kau sudah tidak punya orang tua seperti ini, Harabeoji bisa memahamimu dan membahagiakanmu, Mianhada,” ujar Presdir Jung sambil berkaca-kaca.

Melihat kakeknya berbicara seperti itu, Eunji lalu berpindah duduk di sebelah kakeknya lalu memeluknya erat.

“Aku juga ingin meminta maaf, Harabeoji. Maafkan aku kalau selama ini belum bisa menjadi cucu yang baik.”

OOO

“Eunji-ssi, Howon-ssi, apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Minah yang terkejut melihat kedua orang itu di depan pintu kedai.

“Sepertinya kita harus bicara, Minah-ssi,” ucap Eunji.

Minah pun meminta izin kepada atasannya. Setelah itu, ia keluar kedai untuk menemui Eunji dan Howon. Namun, tanpa berkata apa-apa, tiba-tiba saja Eunji memeluk Minah.

Jeongmal gomawo, Minah-ssi,” ujar Eunji.

“Untuk apa?”

“Karena telah menyelamatkan aku. Gomawo, kau sudah mau menggantikanku, sehingga aku selamat dari perjodohanku dengan Gikwang. Keurigu, mianhae, aku mungkin sudah banyak membebanimu, mianhae.”

Minah menghela napas sejenak lalu tersenyum, perlahan ia pun membalas pelukan Eunji.

Gwenchana, bukankah itu gunanya teman?”

“Kita tetap berteman, kan?”

Keurom.”

Gomawo, Minah-ya.”

Keurae, gwenchana, Eunji-ya.”

The End

5 thoughts on “Resemble (Chapter 6/END)

  1. nggak nyangka ff ini udah end. beruntunglah ff ini nggak secomplicated yang kubayangin.
    aku paham kok gimana sebelnya minah ke eunji, emang kasihan howonnya. wah, ibunya gikwang baik banget yaps. dia nggak maksa apapun. nah tinggal kakeknya eunji yang beruntungnya akhirnya luluh deh.
    paling suka cara nembaknya gikwang sih. meski maksa tapi cute banget. beruntunglah ini happy ending semuanya. aku suka penuturanmu di setiap chapter. keren! ditunggu ff lainnya, keep writing~

  2. Sedikit gg rela ini end tapi akhir yang manis… suka banget scene minah dan gikwang d sini
    semoga ad ff minah lagi yang d buat… terima kasih sudah menyelesaikannya hingga akhir… keren^`

  3. yaayy akhirnyaaa selesaaaii
    untung aja masing masing keluarga mereka mau mahamin posisi gikwang dan eunji yg nggak mau dijodohin, akhirnya mereka bahagia dengan pasangan mereka sendiri

    yaa.. kalo di inget inget emang berat sih jadi minah dan howon karena mereka yg harus pura pura dan super hati hati biar gak ketahuan, salut banget sama mereka (y)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s