My Last (Chapter 1)

my-last-request-dkjung1

My Last (Chapter 1)

Written by DkJung

Poster by Junnie!ART

Main Casts : [Infinite] Kim Myungsoo | [A Pink] Son Naeun | [Infinite] Lee Sungjong

Support Casts : [Beast] Lee Gikwang | [Girl’s Day] Bang Minah

Genre : Romance | Length : Chaptered | Rated : Teen

><

Kim Myungsoo, lelaki tampan yang terlibat cinta segitiga, dimana ia harus memilih antara menjadi lelaki normal atau gay, dengan memilih Son Naeun atau Lee Sungjong.

><

Teaser

>< 

>Chapter 1<

Myungsoo hanya bisa menghela napas panjang begitu mendengar keputusan kedua orang tuanya untuk pindah dari Daegu ke Seoul, ibukota. Sebenarnya, Myungsoo tidak masalah sama sekali dengan kepindahan keluarganya ke kota besar itu, tetapi, jika ia pergi, ia meninggalkan seseorang yang begitu berharga di kota ini. Seseorang yang seharusnya bisa terus berada di sisinya sampai kapanpun. Kekasihnya, Lee Sungjong.

“Myungsoo-ya, kenapa kau diam?” tanya Tuan Kim.

“Apa harus?”

“Beginilah resiko pekerjaan Abeoji, kau harus bisa mengikutinya. Lagipula, seharusnya kau senang pindah ke Seoul, sekolah di sana pasti jauh lebih berkualitas dan lebih bagus. Apalagi setahun lagi kau akan lulus, kau bisa melanjutkan kuliah di sana,” jelas Tuan Kim.

Walaupun sudah mendengarkan penjelasan ayahnya, Myungsoo tetap tidak rela bila harus meninggalkan Sungjong. Lelaki itu terlalu berharga baginya. Geli memang, karena mereka berdua adalah sesama lelaki. Tapi, entah mengapa, Myungsoo merasa nyaman ketika ia bersama Sungjong, berbeda dengan ketika ia sedang bersama dengan seorang gadis. Ditambah lagi, mereka telah meresmikan hubungan mereka secara diam-diam.

Abeoji, aku izin ke kamarku dulu,” ujar Myungsoo sembari bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya.

“Tenang saja, mungkin ia hanya butuh waktu untuk berpikir, dia pasti mau pindah ke Seoul,” ucap Nyonya Kim mencoba menenangkan suaminya.

“Seomga saja, itu harus. Ia harus mau pindah.”

Sementara itu, setelah menutup pintu kamarnya, Myungsoo mengambil ponselnya yang berada di meja blajarnya lalu duduk di kursi belajarnya. Ia membuka kunci ponelnya, mencari kontak Lee Sungjong di aplikasi linenya, lalu mengirim chat pada lelaki itu.

Ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu. Kita bertemu di tempat jadian kita.

Tak perlu menunggu lama bagi Myungsoo untuk mendapatkan balasan dari Sungjong.

Arrasseo, Honey.

>><< 

Myungsoo tersenyum ketika melihat pintu kafe terbuka dan menampakan sosok yang sudah ia tungg-tunggu kedatangannya. Ia pun melambaikan tangannya sebagai isyarat agar Sungjong bisa melihatnya. Setelah melihat Myungsoo, Sungjong tersenyum lalu berlari kecil menghampiri meja dengan dua kursi yang telah ditempati Myungsoo itu.

Mianhae, kau pasti sudah menunggu lama, kan?” tanya Sungjong merasa tidak enak.

Aniyo, gwenchana, aku sudah biasa menunggumu lama.”

Sungjong hanya meringis pelan begitu mendengar jawaban Myungsoo.

“Aku hanya bercanda,” sela Myungsoo saat menyadari ekspresi Sungjong yang terlihat bersalah itu. Ia hanya terkekeh pelan melihat lelaki cantik di hadapannya itu. Sementara Sungjong hanya bisa tersenyum malu.

Keunde, ada hal penting apa yang ingin kau katakan padaku?” tanya Sungjong dengan ekspresi wajah yang tampak penasaran.

Myungsoo diam sejenak, entah harus bagaimana ia mengatakannya pada Sungjong. Membayangkannya saja ia sudah tak tega. Ia mana sanggup bila harus berpisah dengan Sungjong.

Seolma, kau mau mengenalkanku pada orang tuamu dan menyatakan hubungan ki–“

“Aku akan pindah.”

Akhirnya, perkataan Sungjong terpotong dengan ucapan Myungsoo yang tiba-tiba itu.

“Pi-pindah?”

Keurae.”

Keunde waeyo? Eodiyeo?”

“Ayahku pindah kerja ke Seoul, jadi aku harus ikut dengannya. Mianhae,” ucap Myungsoo.

“Jadi kau akan meninggalkanku begitu saja? Apa kau tidak mencintaiku?”

“Sungjong-ah, kau tahu sendiri, aku sangat mencintaimu, ini semua bukan keinginanku. Aku janji, aku akan sering berkunjung ke sini jika sudah pindah nanti. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, percayalah padaku.”

“Tapi tetap saja kita akan berjauhan,” ucap Sungjong sambil menundukkan kepalanya. Ia terlihat sangat sedih.

“Kita masih bisa berkomunikasi, kan? Lagipula, seperti yang aku bilang tadi, aku akan sering mengunjungimu.”

“Bagaimana jika kau selingkuh di sana?”

Aish, mana mungkin aku selingkuh? Aku, kan sudah memilikimu. Itu sudah cukup bagiku.”

Sungjong menghela napas sejenak, kemudian ia tersenyum. “Arrasseo, tapi kau harus berjanji akan sering mengunjungiku.”

Keurae, kau tenang saja.”

>><< 

Naeun tidak berhenti melamun saat permainan bola voli telah dimulai. Kepindahan tetangganya, Lee Taemin membuatnya shock berat. Ia tidak sanggup membiarkan lelaki itu pergi. Naeun sudah sejak lama menyukai Taemin, hanya saja Taemin belum sempat mengetahui hal itu dan justru lebih dulu pindah. Naeun menyesal tidak menyatakan perasaannya lebih awal. Kini semuanya sudah terlambat, Taemin telah pindah jauh ke Amerika.

Pagi itu adalah jadwal pelajaran olahraga bagi kelas 2-3. Tetapi, Naeun terlihat diam saja, dan tidak sekalipun mendapat giliran servis ataupun mendapatkan bola untuk melakukan passing. Hingga pada akhirnya, sebuah servis melayang mendekati kepalanya.

“Naeun-ah, awas!”

DUK

Terlambat. Servis yang sangat keras itu akhirnya tepat membentur hidung Naeun, membuat kepalanya menjadi pusing. Dan ternyata, darah juga keluar dari hidung gadis itu. Naeun pun mencoba melihat ke arah lawan untuk mengetahui siapa yang baru saja melakukan servis sekencang itu. Ia pun dapat melihat Minah tersenyum sambil melambaikan tangannya. Gadis itu memang tiada habisnya mengerjai Naeun.

“Naeun-ah, hidungmu berdarah! Ayo kita ke ruang kesehatan!” seru Youngji sambil membantu Naeun berdiri lalu membantunya juga untuk berjalan.

“Tidak perlu ke ruang kesehatan, antarkan saja aku ke toilet,” ujar Naeun sambil memegangi lubang hidungnya yang terus mengeluarkan darah.

Sesampainya mereka di toilet perempuan, Naeun langsung menyalakan kran air wastafel untuk mencuci hidungnya.

Aish, Bang Minah jinjja! Gadis sialan! Mau sampai kapan dia membuatku menderita seperti ini?!” umpat Naeun sambil terus membersihkan hidungnya.

“Kau masih tidak menyadarinya? Minah menyukai Gikwang Sunbae! Sedangkan Gikwang Sunbae menyukaimu, bukan?” ujar Youngji.

Naeun terdiam sejenak. Ia baru tahu kalau sebenarnya Minah menyukai Gikwang.

Ya, itu namanya ia tidak bisa menerima kekalahan! Sudah jelas, kan? Aku lebih cantik darinya, makanya Gikwang Sunbae lebih menyukaiku!” ucap Naeun dengan percaya dirinya.

“Ah, kau ini, bagaimana bisa kau begitu percaya diri?”

“Aku bukannya percaya diri! Tapi memang benar, kan? Tidak hanya Gikwang Sunbae, kau tahu, kan, sudah banyak lelaki yang menyatakan cintanya padaku, tapi semua aku tolak! Bedanya, Gikwang Sunbae belum pernah menyatakan perasaannya padaku.”

“Cinta itu bukan untuk dikatakan, Naeun-ah.”

“Wah, Youngji-ya, darimana kau dapat kata-kata itu?”

Youngji memutar bola matanya. “Kau meledekku?”

Keduanya pun tertawa bersama.

>><< 

Myungsoo sama sekali tidak bisa merubah ekspresi murungnya hari ini. Sepanjang perjalanan menuju Seoul, ia hanya bisa diam dengan ekspresi murungnya sambil menatap kosong ke arah jalan. Sungguh, ia tidak ingin pindah. Ia tidak sanggup berpisah dengan Sungjong. Ia takut tidak bisa meluangkan waktu untuk sering mengunjungi Sungjong. Terlebih lagi, ia pasti harus sering membuat alasan nantinya, agar bisa bertemu Sungjong.

Ya, ada apa dengan wajahmu itu, huh? Kita akan pindah ke rumah yang lebih bagus, bersebelahan dengan teman dekat Abeoji. Katanya, ia mempunyai seorang anak perempuan, ia setahun lebih muda darimu, sekarang ia kelas dua sma. Anaknya cantik,” ujar Nyonya Kim.

Mendengar hal itu, Myungsoo hanya menganggukkan kepalanya sekilas lalu kembali diam. Mau secantik apapun anak teman ayahnya itu, Myungsoo tidak akan pernah tertarik apalagi sampai jatuh cinta dengannya. Tapi Myungsoo mulai merasa ada yang ganjil. Ia merasa seperti ia akan dijodohkan dengan gadis itu.

“Memangnya kenapa kalau dia cantik?” tanya Myungsoo.

Aniya, siapa tahu kau tertarik padanya, rencananya, Abeoji dan Tuan Son akan mendekatkan kalian berdua,” ujar Nyonya Kim.

Mendekatkan. Benar dugaan Myungsoo, ia akan dijodohkan dengan gadis yang baru diceritakan ibunya itu. Benar-benar menyebalkan. Lalu bagaimana dengan Sungjong? Tentu saja Myungsoo akan lebih memilih Sungjong ketimbang gadis yang diceritakan ibunya.

“Apa aku akan dijodohkan? Eomma, aku bahkan belum lulus sma.”

“Kami tidak menjodohkan kalian, hanya mendekatkan, siapa tahu cocok, kan?”

Myungsoo hanya bisa menghela mapas panjang lalu lebih memilih untuk memejamkan matanya. Percuma saja kalau ia bilang ia telah punya pacar pada ayah dan ibunya, yang ada, mereka justru shock karena mengetahui jenis kelamin pacar Myungsoo saat ini.

“Myungsoo-ya, kau harus bersikap ramah dengannya nanti, arra?”

Myungsoo hanya diam, tidak membuka matanya. Ia malas mendengar ocehan ibunya terus dan lebih memilih untuk tidur saja.

>><< 

Gikwang berlari kencang dari kelasnya menuju kelas 2-3. Sesampainya di sana, ia melihat Naeun tengah duduk sambil memegang segumpal tisu di tangannya dan sekotak tisu terlatak di atas mejanya. Dengan cepat, ia menghampiri bangku Naeun.

“Naeun-ah, gwenchana? Bagaimana bisa kau terluka, teman-temanmu bilang kau terkena bola, ya?” tanya Gikwang.

Naeun hanya mengangguk sekilas untuk menjawabnya.

“Siapa yang melempar bola padamu? Biar aku beri pelajaran!” ucap Gikwang sembari menatap seisi kelas Naeun. Dengan polosnya, Naeun menunjuk ke arah Minah yang saat itu tengah membaca buku di bangkunya yang terletak paling pojok.

“Bang Minah, apa kau menjahili Naeun lagi?” tanya Gikwang.

Minah menutup bukunya lalu mengangkat kepalanya. ia hanya menggeleng sekilas lalu berjalan keluar kelas.

Ya, Bang Minah! Eodiga?!” seru Gikwang, ia lalu berlari keluar kelas Naeun untuk mengejar Minah.

“Apa dia benar-benar mencintaiku? Lalu kenapa dia mengejar gadis lain?” gumam Naeun.

“Kau ini, Gikwang Sunbae mengejar Minah karena dia telah menjahilimu! Dia melakukan semuanya demi kau, karena dia mencintaimu! Apa itu masih belum jelas bagimu?” ucap Youngji yang duduk tepat di sebelah Naeun.

Keurae, tentu saja dia akan melakukan apa saja untukku, aku tahu itu,” ucap Naeun dengan yakin.

Tepat setelah itu, ponsel Naeun berdering. Ia lalu melihat layar ponselnya yang bertuliskan panggilan masuk dari ibunya.

Ne, Eomma,” ucap Naeun menjawab telepon ibunya.

Naeun-ah, pulang sekolah nanti, kau jangan kemana-mana, ya, langsung pulang ke rumah. Ada tamu yang akan datang ke rumah kita.”

“Tamu? Dari mana? Keunde, aku sudah ada janji.”

“Hari ini saja Naeun-ah, kau batalkan saja dulu janjimu itu, ini penting sekali. Eomma jamin, kau tidak akan menyesal.”

Arrasseo, aku pulang cepat.”

Naeun memutuskan panggilan denga ibunya, ia lalu menatap Youngji dengan penuh rasa bersalah. Seharusnya ia pergi menemani Youngji ke toko buku dan dvd hari ini, tetapi ibunya mendadak menyuruhnya pulang cepat.

Gwenchana, kenapa kau menatapku begitu? Kita bisa pergi lain kali, Naeun-ah,” ucap Youngji sambil tersenyum.

Mianhae, kita pergi besok saja, ya,” ucap Naeun merasa tidak enak pada sahabatnya itu. Youngji mengangguk.

>><< 

“Sungjong-ah!”

Panggilan Sungyeol itu menyadarkan lamunan Sungjong yang tengah menyendiri di atap sekolah. Tempat itu seolah menjadi tempat favoritnya untuk melepas penat. Ya, apalagi saat ini ia tengah bersedih karena ditinggal jauh oleh Myungsoo.

“Kemarin, kau menemui Myungsoo? Dia berpamitan denganmu?” tanya Sungyeol. Sungjong hanya mengangguk.

“Kau pasti sedih, ya?” tanya Sungyeol lagi, Sungjong kembali mengangguk.

“Apa kau begitu menyukainya? Tidak bisakah kau melepaskannya saja, Sungjong-ah?”

Wae? Kenapa aku harus melepaskannya? Aku mencintainya, dia mencintaiku, kami saling mencintai!”

“Sungjong-ah, sadarlah! Walau bagaimanapun, kau itu tetap seorang lelaki! Tidak seharusnya kau berpacaran dengan sesama jenismu, sadarlah! Aku bicara begini karena aku sahabatmu, aku tidak ingin kau meneruskan hubunganmu dengan Myungsoo. Jauhi dia, ini berbahaya!”

“Aku tahu kau sahabatku, tapi kau tidak berhak mengatur urusan pribadiku!”

Sungjong lalu pergi berlari meninggalkan Sungyeol sendirian.

“Kapan dia akan sadar? Aku tahu, dulu dia tidak seperti ini, sebelum semuanya terjadi.”

>><<

Eomma, aku pul–“

Naeun mendadak menghentikan ucapannya ketika melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya. Sepasang suami istri dan seorang anaknya yang luar biasa tampan. Naeun bahkan sampai lupa berkedip menatap wajahnya.

“Naeun-ah, masuk cepat!” seru Nyonya Son.

Naeun segera sadar dari lamunannya. Ia lalu berjalan pelan dan anggun mendekati sepasang suami istri paruh baya dan seorang anaknya itu lalu membungkuk Sembilan puluh derajat.

Annyeonghaseyo, Son Naeun imnida, bangapseumnida,” ucap Naeun sambil tersenyum lalu duduk di samping ibunya dengan anggun. Tepatnya, dibuat anggun.

“Ini anak saya, Son Naeun, yang saya ceritakan tadi. Anak saya yang sulung bernama Son Dongwoon, tapi ia masih kuliah hari ini, jadi belum pulang.”

“Ah, jadi Naeun ini memiliki seorang kakak laki-laki, ya?” tanya Nyonya Son yang sepertinya sangat menyukai Naeun.

Ne,” jawab Naeun singkat sambil tersenyum.

“Kenalkan anak tunggal kami, namanya Kim Myungsoo, ia sudah kelas tiga sma, dan besok akan mulai bersekolah di sekolahmu, Naeun-ah,” ujar Nyonya Son.

Naeun lalu mengalihkan pandangannya pada Myungsoo. Lelaki itu hanya diam sambil menatap kosong ke arah meja. Ia bahkan tidak melirik ke arah Naeun sedikitpun.

“Bagaimana, Myungsoo-ya, Naeun ini cantik, bukan?”

Naeun yang dipuji seperti itu langsung menata rambutnya, menyelipkannya sedikit di belakang telinga.

Molla,” jawab Myungsoo singkat.

Naeun hanya bisa menganga. Myungsoo adalah lelaki pertama yang tidak mengatakan bahwa dirinya cantik. Bagaimana bisa begini? Padahal Naeun sudah jatuh cinta dengan Myungsoo pada pandangan pertama.

“Ada apa dengan jawabanmu itu? Bagaimana bisa kau menjawab seperti itu?” bisik Nyonya Kim yang merasa malu karena jawaban Myungsoo.

Gwenchana, Naeun-ah, mungkin dia hanya malu mengatakannya di depan orang tuanya. Kau harus yakin bisa mendapatkannya, harus! Aku bisa gila kalau begini terus, dia tampan sekali! Wah, daebak, batin Naeun.

“Ah, bagaimana bisa anda memberikan pertanyaan seperti itu pada Myungsoo?” tanya Nyonya Son, mencoba mencairkan suasana.

Eomma, aku lupa belum mencabut charger laptopku di kamar. Aku segera kembali,” ujar Myungsoo lalu pergi terlebih dahulu. Terlihat jelas sekali bahwa Myungsoo menghindari perjodohan yang akan dilakukan kedua orang tua mereka. Mau secantik apapun gadis yang dijodohkan dengan Myungsoo, ia tetap akan mencintai Sungjong.

Apa-apaan dia itu? Apa dia baru saja menghindariku? Benar-benar! Lihat saja, kau akan jatuh cinta padaku, Kim Myungsoo.

>To Be Continued<

Terimakasih sudah membaca, maaf untuk typo yg tidak disengaja ya.

HARAP TINGGALKAN KOMENTAR BILA INGIN FF INI DILANJUT, TERIMAKASIH^^

21 thoughts on “My Last (Chapter 1)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s