[FICLET] A Cup of Coffee

B6HQLdXCYAEXTS3

Pangsit Koreya | EXO’s Tao | Slice of Life | 376 words| PG-17

.

The sweetness of my favorite coffee won’t ever run out
Just like you

.

Langit cerah tak berawan.

Begitu ujar ramalan cuaca harian di salah satu stasiun tv lokal pagi ini. Nyatanya, atmosfer flat nomor 305 adalah sebaliknya. Kelabu dan mencekam, layaknya diselimuti cumolo nimbus tak kasat mata yang dapat menjatuhkan badai kapan saja.

Sapaan lembut surya pagi, hembusan mesra angin musim semi, dan aroma kafein yang menguar samar. Semuanya Tan dapatkan ketika kelopak matanya terbelah pagi ini. Dan pribadinya tak sedikitpun menduga malapetaka akan diundang oleh seseorang yang tengah bergumul di pantry.

Sebenarnya tidak ada yang melakukan dosa besar. Seperti membelah dada ayam dengan garpu atau mencincang bawang bombay dengan pisau daging. Namun roomate-nya terlambat sadar bahwa sepasang orbs black pearl telah menangkap basah aksi menyeduh secangkir kafein bar-barnya. Yang mana dalam kamus hidup seorang Aline Tan, bar-bar bermakna melenceng dari prosedur. Dan tidak perlu dipertanyakan mengapa tiga puluh detik kemudian amarah yang serupa badai petir diperdengarkan.

Sekedar informasi, kesalahan pagi ini bukan sepenuhnya salah lelaki jangkung tersebut, dan jika ada hukuman yang akan menimpanya, Tao tidak segan mengajukan resep kopi yang ia unduh semalam sebagai tersangka. Tambahan alasan, karena selama ini area pantry adalah daerah kekuasaan Tan secara mutlak, Tao sempat kesulitan menemukan singgasana bubuk kopi dibalik kelima sekat kitchen set, sehingga ia memilih memindahkan aturan menuang gula setelah bubuk kopi di awal. Daripada terlewat, elaknya.

Tao memberi beberapa tepukan pada cuping telinganya untuk meredakan efek berdengung yang nyaris merobek gendang telinga. Sempat terbesit tanya, apakah salah keputusannya tidak menebus obat pencahar semalam? Sepertinya sebungkus saja akan cukup untuk menahan Tan seharian di dalam kamar mandi. Lalu rungunya bebas dari omelan pedas, setidaknya untuk kurun waktu 24 jam.

Atau tidak. Jika jadi gelandangan adalah takdir yang akan ia dapatkan keesokan harinya.

Dengan seulas senyum masam, ia memutar punggung sembari mengangsurkan secangkir cairan hitam manis yang mengepul ke hadapan dewi pencabut nyawanya.

“How about a cup of sweet coffee, Tan? It’s time to charge your sweetness, isn’t it?”

~끝~

A/N : FYI, berlandaskan fenomena spam foto Huang Zi Tao di taimlen dan kemaniakan terhadap iklan sni*ckers, maka terciptalah karya abracadabra ini.. Huahahaha oke seqian. ❤

Advertisements

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s