[Chapter 5] Another Cinderella Story

Another Cinderella Story

“This is not Disney’s Cinderella anymore.”

by Shinyoung

Main Cast: Bae Suzy & Lee Junho || Support Cast: Ok Taecyeon, Lee Jieun || Genre: School Life, Drama & Romance || Length: Chapter 5/? || Rating: T || Credit Poster: Jungleelovely at Poster Channel || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2015 by Shinyoung.

Chapter 5 — The Party

Prologue | 1 | 2 | 3 | 4

*

Begitu tiba di sekolahnya, Suzy langsung turun dari mobil limousine hitamnya. Sebelum melangkah masuk ke dalam gedung sekolah, ia melambaikan tangannya ke arah Tiffany, dan tersenyum tipis. Beberapa murid sempat menyapanya dan langsung disambut dengan hangat oleh Suzy walaupun ia tahu beberapa diantaranya pasti punya maksud tertentu.

Setibanya di depan kelas, ia sudah ditunggu oleh Junho dengan seragamnya yang rapi. Laki-laki itu menatap Suzy dengan pandangan seolah menyuruh gadis itu segera mengikutinya setelah ia meletakkan tasnya. Kedua bahu Suzy langsung turun ketika melihat Junho menunjuk ke belakang dengan ibu jarinya.

“Bae Suzy, cepat.”

Suzy hanya mengangguk malas, lalu mengikuti Junho menuju ruangan kerja laki-laki itu. Tak lama kemudian, mereka telah berada di ruangan Junho. Sedangkan Suzy menatap ke seluruh sudut ruangan, Junho mendekati meja kerjanya, lalu mengambil sebuah berkas yang tampaknya berisi file-file penting. Lalu, diserahkannya pada Suzy yang begitu terkejut melihatnya.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

Gadis itu langsung mendengus saat mendengar perintah Junho. Dengan malas, ia membuka berkas tersebut dan membacanya satu persatu. Setelah selesai, ia mendongakkan wajahnya lalu memiringkan kepalanya, menatap Junho dengan pandangan bingung.

“Jadi, aku benar-benar harus melakukannya?”

Junho mengangkat bahunya dengan senyum terpaksa. “Terserah, kalau kau mau. . . Kau bisa melakukannya. Yang pasti, setelah pesta tahunan, aku akan memberikanmu sebuah bonus alias hadiah karena kau mau melakukan tugas penting ini.”

Dengan pasrah, Suzy menghela nafas berat, disimpannya berkas tersebut diantara kedua tangannya. Ia melirik keluar jendela ruangan Junho dan menatap gedung yang ada di seberang. “Baiklah, mau bagaimana lagi. Aku tetap harus melakukannya, bukan? Walaupun kau tidak memaksa juga.”

Mendengarnya, Junho un tersenyum tipis, Suzy pun melenggang pergi meninggalkan ruangan Junho. Ia pun mulai menatap berkas tersebut kembali dan mengecek kelas mana saja yang harus ia hampiri dan mulai memikirkan apa yang harus ia lakukan nanti. Tidak mungkin ia menghampiri mangsa-mangsanya dan memaksanya langsung.

Saat memasuki kelas, pandangannyat tertuju pada murid-murid yang tampaknya sibuk membuka ponsel mereka. Dia penasaran apa yang sedang dibuka oleh murid-murid di kelasnya. Awalnya, ia ingin bertanya pada mereka, namun ia langsug mengurungkan niatnya mengingat posisinya di kelas masihlah sebagai murid baru.

“Suzy-ya!”

Gadis itu langsung tersentak saat mendengar namanya diserukan. Langsung saja, ia menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Jieun yang sudah berdiri di belakangnya dengan senyuman secerah mungkin. Suzy menebak bahwa gadis itu ingin menempel lagi padanya.

Benar saja, gadis itu sudah duduk disampingnya, padahal tempat tersebut sebenarnya diduduki oleh Jang Wooyoung. Sepertinya, Wooyoung yang sedang membersihkan papan tulis tidak keberatan dengan gadis yang disukainya itu menduduki tempat duduknya. Suzy mengira bahwa Jieun hanya duduk saja, rupanya gadis itu pindah dengan tasnya.

“Kenapa kau pindah kesini?”

Jieun langsung mengerutkan keningnya. “Memangnya kau mau seterusnya duduk disamping Jang Wooyoung? Apa yang menyenangkan dengan berteman dengannya? Lebih baik kau duduk disampingku, makanya aku tukaran tempat dengannya.” Gadis itu menunjuk Wooyoung yang sepertinya sadar lalu tersenyum lebar.

Setelah tersenyum lebar, Wooyoung kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Suzy sendiri hanya bisa menghela nafas berat. Ia melirik Jieun yang tampaknya santai saja menyadari bahwa Suzy tidak suka padanya. Gadis itu justru mengajak Suzy berbicara dengan beribu-ribu pertanyaan yang diajukannya.

“Jieun-ssi, memangnya kau tidak keberatan jika aku tidak mau berteman denganmu? Kau tahu, aku tidak ingin berteman dengan siapapun,” kata Suzy jujur.

“Sepertinya aku harus bertanya, memangnya kau mau seterusnya sendirian? Apa kau bisa sekolah disini tanpa teman?” tanya Jieun, mengangkat alisnya yang kanan. “Apa kau tidak merasa kesepian apabila kau tidak punya teman?”

Suzy terdiam. Dia membenarkan apa yang ditanyakan oleh Jieun barusan, ia tidak dapat hidup sendirian selamanya. Dia tidak bisa selamanya sendirian, seperti saat dimana dia masih di panti asuhan. Tanpa teman itu rasanya pahit, tidak ada yang bisa dia ajak bicara, tidak bisa membicarakan sesuatu yang ia sukai, atau mengajak seseorang kemanapun itu. Tidak bisa memberitahu isi hatinya saat ini.

“Bagaimana?” Jieun bertanya.

“Maaf,” jawab Suzy dengan wajah bersalah. “Aku tahu, seharusnya aku tidak menolakmu yang ingin berteman denganku. Tapi, sebaiknya kau jangan berharap apapun padaku karena aku bukanlah teman yang menyenangkan untukmu.”

Jieun terkekeh pelan. “Bukan masalah, aku bisa melihat sesuatu yang menarik dari pancaran sinar wajahmu itu.” Tangannya bergerak membuat lingkaran di sekitar wajah Suzy. “Yah, kau mau tahu apa yang sedang mereka lihat di dalam ponsel mereka, bukan?”

Suzy tersenyum tipis kemudian mengangguk. “Memangnya mereka sedang membicarakan apa? Apa ada sesuatu yang penting yang aku lewatkan?”

Jieun menggeleng. “Bukan. Setiap pagi, mereka biasanya akan mengecek situs sekolah yang selalu update tentang sekolah. Beritanya menarik dan semua murid di sekolah bisa menulis artikel disana. Kau sudah buat akunnya?”

Kali ini, giliran Suzy yang menggelengkan kepalanya. Jieun pun tersenyum dan meminta ponsel Suzy lalu menunjukkannya cara-cara untuk membuat akun disana. Tak lupa juga, gadis itu menunjukkan apa saja apa yang ada di situs sekolah. Setelah selesai, Suzy langsung berterimakasih pada Jieun.

Setelah Suzy selesai melakukan perbincangan dengan murid-murid yang kata Junho dapat memberikan sponsor, ia langsung kembali ke kelasnya. Sebelum melakukan misinya itu, Jieun sempat menawarkan dirinya untuk menemaninya, namun Suzy langsung menolak karena ia takut membawa-bawa nama Jieun jika nanti ia mendapatkan masalah.

Walaupun sebenarnya bukan masalah.

Dia kembali mengecek berkas-berkas yang ada di tangannya, lalu mencontreng nama-nama yang sudah ia ajak bernegosiasi. Murid-murid tersebut setuju dengan perjanjian bahwa nama mereka akan masuk artikel sebagai murid yang memberikan sponsor atas pesta tahunan sekolah.

Sebelumnya, pesta tahunan sekolah hanyalah pesta biasa-biasa saja yang dihadiri oleh band dan penyanyi Korea ternama yang uangnya didapatkan dari bayaran bulanan murid-murid. Kali ini, Suzy menduga bahwa Junho akan melakukan perubahan dengan menambah sponsor makanan dan minuman ternama.

“Ayo, ke kantin,” ajak Jieun setelah Suzy mengambil iPad yang ada di dalam tasnya.

Tak lupa, gadis itu juga membawa berkas-berkas tersebut karena bagaimanapun berkas itu sangat penting dan tidak boleh hilang. Suzy pun mengangguk lalu keduanya melangkah menuju kantin yang tak jauh dari kelas mereka. Ketika di koridor, sebenarnya Suzy sedikit merasa resah karena pandangan anak-anak yang begitu hormat padanya.

Saat di kantin, Jieun menyenggol bahu Suzy cukup keras sehingga gadis itu menghentikan tangannya yang hendak menyuapkan makanan. Suzy menoleh ke samping dan menatap Jieun lekat seolah gadis itu bertanya-tanya alasan Jieun menyenggol bahunya.

“Kenapa daritadi aku mendengar murid-murid membicarakanmu?”

“Huh?”

Suzy mengangkat alisnya, kemudian ia menoleh ke sekitar kantin dan mendapati beberapa murid yang tampaknya tengah melirik ke arahnya sedikit-sedikit. Mereka langsung melanjutkan makan mereka begitu menyadari bahwa Suzy memperhatikan mereka.

“Daritadi aku mendengar kalau kau menghampiri kakak kelas.”

“Iya,” Suzy mengakui. “Aku memang tadi menghampiri kakak kelas untuk meminta sponsor. Pasti mereka mengira bahwa aku punya masalah dengan kakak kelas. Tentu saja, tidak, aku hanya meminta mereka untuk menyediakan sponsor dari orang tua mereka.”

“Ah. . .” Jieun menganggukkan kepalanya mengerti. “Aku kira ada apa.”

“Bae Suzy-ssi.”

Panggilan itu langsung membuat Suzy mendongakkan wajahnya. Walaupun panggilan itu ditujukan untuk Suzy, seluruh murid tampaknya juga ikut memperhatikan ke arah mereka. Suzy mendesah berat.

“Ada apa, Kim Junsu-ssi?”

Kim Junsu yang merupakan senior Suzy langsung berdeham pelan. Ia menyodorkan tangannya ke arah Suzy dan langsung disambut pandangan bingung oleh Suzy. Gadis itu berpikir, mungkin laki-laki itu mau mengajaknya bernegosiasi. Laki-laki itu memang salah satu murid yang memberikan sponsor, tapi dia tidak puas jika hanya namanya saja yang ditulis. Jadi, Suzy menganggap bahwa ia bisa menyelesaikan masalah tersebut nanti saja.

“Aku menerima permintaanmu tadi,” jelas Junsu.

“Ah. . .” Suzy pun terkekeh pelan menyadari kebodohannya. Kemudian ia mengangguk dan menerima jabatan tangan Junsu yang begitu erat, sampai-sampai lelaki itu bisa menariknya dan mengecup pipi Suzy cepat.

Begitu cepat kejadiannya, sehingga Suzy tidak menyadari bahwa murid-murid sudah bersiul ke arahnya dan Junsu sudah pergi meninggalkan kantin bersama teman-teman sekomplotannya.

Dua minggu kemudian, ketika Suzy baru saja keluar dari kelasnya, kerumunan anak-anak tampak heboh membentuk segerombolan di depan papan pengumuman besar yang terletak di dekat aula sekolah. Baik perempuan maupun laki-laki tampaknya tidak ada yang tak tertarik pada papan pengumuman tersebut.

Gadis itu mengangkat alisnya dan ikut tertarik untuk membaca pengumuman baru yang tertempel. Daripada berdesak-desakkan dengan murid yang lain, gadis itu akhirnya memilih untuk menunggu di belakang kerumunan sampai murid-murid yang lainnya pergi meninggalkan papan tersebut.

Setelah sepi, dia melangkah maju dan menghampiri papan terebut. Dibacanya pengumuman yang tampaknya baru ditempel beberapa menit yang lalu. Dapat terlihat dari kertas pengumuman yang masih rapi tertempel disana dan juga solatip putih bersih yang membantu kertas tersebut agar tertempel.

 


 

Seungri Daily Times, 29 May 2015

BREAKING NEWS: Are you ready for the party?

Apakah kalian semua siap untuk pesta tahunan SMA Seungri? Tentu saja! Ketua murid kita, Lee Junho, mengumumkan bahwa pesta akan diadakan sebentar lagi dalam hitungan detik! Jika kalian siap, lebih baik kalian membaca pengumuman ini!

Tempat         : Aula SMA Seungri

Waktu           : 3 Juni 2015 // 19:00

Dress code   : Glamour

Kenakanlah pakaian kalian yang paling mewah karena kita akan memilih Ratu dan Raja pesta. Tentu kalian semua pasti ingin menjadi Ratu dan Raja pesta, bukan? Sampai jumpa di pesta! [Kim Junsu]

FEATURES:          School-party  | Dress Code | The Queen & The King | June

DON’T FORGET TO BRING YOUR COUPLE OR YOUR FRIENDS!

 


 

Setelah selesai membacanya, Suzy langsung mendecak pelan dan tertawa kecil. “Kim Junsu. . . Sunbaenim yang satu itu.” Dia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. “Benar-benar membuatku terkejut.”

Setibanya di tempat parkir SMA Seungri, Suzy langsung melangkah menuju mobil sedan hitam yang sudah dihidupkan. Tanpa basa-basi lagi, ia langsung masuk ke dalam mobil itu dan menemukan Jieun dengan wajah bosan, sebosan-bosannya.

“Kau lama sekali,” komentar Jieun.

“Ya. . .,” Suzy memasang sabuk pengamannya. “Aku tadi baru membaca papan pengumuman. Kau sudah baca?”

Jieun mengangguk. “Wooyoung langsung memberiku kertas itu ketika ia selesai mencetaknya. Kau tau sendiri bukan kalau aku paling malas ikut mengerumuni sesuatu yang bisa aku dapatkan begitu saja?”

Suzy terkekeh pelan. “Kau sendiri mau datang dengan siapa?”

“Um. . .” Jieun berpikir sejenak. “Tak ada pilihan lain selain Wooyoung yang sudah mengajakku sejak satu bulan yang lalu atau juga dengan kau sendiri yang tidak ada pasangan.”

“Aish,” Suzy meringis kesal. “Aku pasti akan menemukan pasanganku. Kau datang saja dengan Wooyoung.”

Jieun hanya tertawa kecil menanggapi Suzy, sedangkan Suzy sendiri merogoh ponselnya yang ada di dalam tasnya. Kemudian, ia menghubungi nomor Tiffany yang berada di favorites-nya dan mendekatkan ponselnya ke arah telinganya.

“Halo, unnie?”

“Halo, Suzy-ya! Ada apa?” sapa Tiffany disana dengan riang. “Aku baru saja mau meminta Tuan Jang untuk menjemputmu kesana. Sebentar lagi—”

“Tidak! Tidak usah, unnie!” tukas Suzy cepat. “Aku. . .”

“Ada apa? Jujur saja padaku, aku tidak akan memberitahu ayahmu jika ini masalah perempuan. Atau kau mau pulang dengan laki-laki, ya? Cepat sekali kau ini, kau cantik, sih. Tenang saja, aku mengizinkanmu. Baik—”

“Bukan! Aku pulang bersama Jieun!” Lagi-lagi Suzy memotong karena Tiffany mengatakan hal yang tidak-tidak tentang dirinya. “Intinya, aku pulang bersama Jieun mulai hari ini. Jadi, Tuan Jang tidak usah menjemputku lagi.”

“Ah. . . Begitu, ya. Ya sudah, hati-hati, ya.”

Setelah itu, sambungannya terputus dan Suzy menghela nafas lega. Kemudian ia menatap Jieun yang sudah siap disampingnya dengan wajah senang sambil memegang kemudi mobilnya.

“Jadi, bagaimana?”

“Tentu saja, jadi. Nah, sekarang, ayo kita berangkat!”

Jieun segera melajukan mobilnya meninggalkan halaman sekolah. Gadis itu dengan terampil mengemudikan mobilnya, menyalip beberapa mobil sedan yang tak kalah bagus daripada mobilnya.

Ya! Jieun, jangan ngebut!” seru Suzy ke arah Jieun.

Jieun pun terkekeh pelan. “Ne, arasseo.

Tak lama kemudian, keduanya sudah tiba di COEX Mall yang terletak di Samsung-dong. Setelah memarkirkan mobil Jieun, keduanya turun dan segera memasuki mall tersebut. Saat memasuki, Suzy langsung menarik nafasnya dalam-dalam seolah sudah lama sekali ia tidak ke mall.

Mengingat bagaimana kehidupannya di panti asuhan tentu saja membuatnya kesal. Teman-temannya yang tidak pernah menganggapnya karena ia adalah anak buangan dan juga anak yang paling disayang kepala biarawati. Kenangan buruk itu tentu ingin dihapus oleh Suzy secepatnya dan ia berharap ia tidak akan bertemu dengan teman-teman sepanti-asuhannya.

“Sekarang kita kemana dulu?”

Suzy berpikir sejenak kemudian ia menjentikkan jarinya. “Ke toko baju dulu.”

Jieun mengangguk lalu keduanya segera melangkah menuju toko baju yang diketahui oleh Jieun berada di lantai nomor dua. Setelah tiba, Suzy langsung berhambur masuk dan menuju bagian wanita dimana menjual dress dengan harga diatas rata-rata. Jieun yang mengekori di belakang hanya bisa mendecak tak percaya.

“Kau mau yang mana?” tanya Suzy tanpa keberatan sedikitpun.

Jieun mengangkat alisnya. “Aku? Aku masih punya ba—”

“Oh, ayolah! Jangan sungkan-sungkan, aku mau kau memakai dress baru!” seru Suzy sambil menggeser-geser dress yang bergantung. Matanya yang tajam meneliti satu persatu dress tersebut.

Warna gemerlap yang tak disukai Suzy langsung dilewatinya begitu saja. Ketika menemukan dress hitam, ia langsung menyambarnya dan memasangkan dress tersebut di depan tubuhnya. Ia berbalik pada Jieun yang masih tampak sibuk memilih-milih dress mahal tersebut.

Ya! Jieun! Bagaimana dengan ini?”

Jieun menoleh ke arah Suzy. “Kau coba saja dulu,” saran Jieun.

Suzy mengangguk cepat dan secepat kilat juga Suzy sudah berlari menuju ruang ganti. Hanya berlangsung beberapa menit, Suzy sudah keluar dari ruang gantinya dan menampakkan dirinya yang menggunakan dress hitam tersebut. Dress hitam itu dirancang dengan indah dan juga permata kecil yang menempel di sekitar kerahnya dengan renda-renda hitam yang juga menghiasi kerahnya.

“Wah! Kau cantik sekali, Suzy-ya!”

Suzy hanya tersenyum tipis kemudian ia menatap dirinya lagi ke arah cermin yang menempel pada dinding di sampingnya. “Aku akan beli ini. Sekarang giliranmu, Jieun-ah!” katanya. “Aku ganti dulu, setelah itu aku akan membantumu mencari dress yang cocok untukmu, ya.”

Kemudian, Suzy masuk lagi ke ruang ganti dan kembali dengan seragam yang sudah dikenakannya. Tak lupa juga dengan dress hitam yang sudah digantung berada di tangannya siap untuk dibeli. Ia menaruh dress-nya di atas sofa kecil yang ada di dekatnya, lalu menuju dress yang tengah dipilah-pilah oleh Jieun.

Dalam waktu hitungan detik, Suzy menemukan sebuah dress berwarna krem pastel yang tampaknya cocok untuk Jieun. Dress tanpa lengan itu langsung diserahkannya pada Jieun. Dress selutut itu langsung diterima oleh Jieun.

“Bagaimana? Bagus bukan pilihanku?” tanya Suzy.

Jieun mengangguk setuju. “Iya, aku coba dulu, ya. Setelah itu kita ke toko sepatu.”

Benar saja, setelah Jieun keluar dengan dress tersebut, Suzy langsung membulatkan matanya dua kali lipat dan mengerjap kagum. Ia bahkan bertepuk tangan gembira ketika melihat Jieun yang tertawa kecil. Gadis itu berputar dengan dress-nya.

“Ayo, cepat! Sebaiknya kita langsung bayar,” ucap Suzy.

Arasseo, aku ganti baju dulu.”

Ketika Jieun keluar dengan seragamnya, Suzy langsung menyambar dress gadis itu dan membawanya. Jieun langsung melotot ketika Suzy menyerahkan kartu kreditnya dan membayarkan dress milik Jieun.

Ya! Bae Suzy. . .”

Waeyo?” tanya Suzy dengan wajah tanpa dosa. “Aku membayarkannya. Sudahlah, kau jangan banyak protes. Kata ayahku, tidak apa-apa jika aku membayarkanmu.”

Jieun hanya bisa menghela nafas berat. Setelah keduanya menerima tas belanja yang berisi dress masing-masing, mereka segera menuju toko sepatu terdekat. Suzy menemukan sebuah high heels hitam yang ia sukai. High heels tersebut memiliki ukuran heels setinggi 2 cm. Disekitar high heels tersebut, menempel permata kecil yang membuatnya tampak mahal.

Sedangkan Jieun, ia menemukan sebuah high heels berwarna krem yang tampak simpel dan ada pita yang akan melekat di sekitar pergelangan kakinya. Setelah keduanya membayar, mereka segera pulang.

Ya! Lee Jieun! Bagaimana ini?”

“Ada apa, sih?” tanya Jieun heran.

Suzy terdiam kemudian berpikir sejenak, memilih antara menceritakannya pada Jieun atau tidak. Hingga akhirnya, ia memilih untuk menceritaannya pada Jieun, daripada ia harus memendam sesuatu yang membebani hatinya itu. Gadis itu kembali beralih pada Jieun.

“Jieun, sebenarnya aku diajak oleh dua orang,” ungkap Suzy.

“APA?” Jieun menolehkan wajahnya dengan ekspresi kaget. “Kau bohong, bukan?”

“Aku. . . Serius.”

Aigoo, kau ini benar-benar populer, ya,” komentar Jieun. “Memangnya siapa yang mengajakmu dan kenapa kau baru bilang sekarang? Kau tahu, malam ini kita sudah harus ke pesta dan kau baru memilihnya sekarang?”

Mata Suzy beralih pada kaca spion tengah dan mengecek makeup yang sudah menempel di wajahnya. Rambut gadis itu digelung dan membiarkan yang lainnya digerai dibawah gelungan tersebut. Ia juga memakai kalung permata yang dibelikan ayahnya secara khusus untuknya.

Dia dan Jieun memilih untuk berangkat bersama, sedangkan itu ayahnya menyusul dengan mobil limousine di belakang. Tujuan ayahnya ikut datang adalah untuk bertemu dengan ayah Taecyeon yang notabene adalah sahabatnya.

“Sebenarnya, aku diajak oleh Taecyeon dan Junho.”

“APA?!”

Hampir saja, Jieun membanting kemudinya jika Suzy tidak menahan gadis itu. Jieun melirik sekilas ke arah Suzy tak percaya, sedangkan itu Suzy hanya membungkam mulutnya daripada memanas-manasi Jieun. Jieun sendiri hanya bisa berdecak kagum ke arah Suzy.

“Kau benar-benar, ya. . . Bae Suzy. Jadi kau memilih siapa?” tanyanya. “Atau jangan-jangan, kau belum memilih mereka? Karena itu kau memilih berangkat bersamaku, ya?!”

Suzy menggeleng. “Aku sudah memilih salah satunya tadi malam.”

“Ah, kupikir kau belum memilihnya. Siapa yang kau pilih?”

“Oh, itu. . .”

“Siapa?” tanya Jieun penasaran.

Suzy pun tersenyum miring. “Rahasia.”

Jieun hanya mendengus dan memilih untuk segera mempercepat perjalanan. Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di sekolah tiga puluh menit sebelum pesta dimulai. Setelah memarkirkan mobilnya, keduanya turun dengan elegannya.

Begitu turun dari mobil, Suzy langsung mengedarkan pandangannya. Di lapangan parkir sekolah, terparkir begitu banyak mobil bermerek yang tak dapat dihitung. Ada banyak murid yang memilih untuk datang bersama dengan orang tua mereka dan bertemu dengan pasangan mereka di sekolah.

Seperti yang ia lihat sekarang, Jieun yang langsung disambut oleh Wooyoung ketika gadis itu baru memasuki gedung sekolah. Sedangkan itu, Suzy sendiri masih melangkah bersama ayahnya, Bae Seungjoon. Murid-murid yang baru datang langsung melirik ke arah Suzy dan ayahnya dengan iri.

“Mana pasanganmu?” tanya ayahnya.

Suzy mengangkat bahunya. “Mungkin dia masih bersama ayahnya.”

Bae Seungjoon hanya terkekeh pelan. Ketika mendekati pintu aula, Suzy langsung ditarik oleh seseorang sehingga tangan gadis itu terlepas dari ayahnya. Baik Suzy maupun ayahnya langsung menoleh ke arah orang yang berhasil menculik Suzy itu. Sebuah senyuman tipis langsung diberikan oleh laki-laki itu pada Bae Seungjoon sambil membungkukkan tubuhnya rendah.

“Ah, Taecyeon-ssi. . .,” sapa Bae Seungjoon sambil tersenyum.

Annyeonghaseyo, Tuan Bae,” sapa Taecyeon balik. Perlahan tangannya merangkul gadis itu lalu tersenyum hangat, sehangat mungkin agar ia boleh membawa anaknya. “Boleh aku pinjam sebentar anak perempuanmu, Tuan Bae?”

Bae Seungjoon mengangguk semangat. “Tentu saja, aku tahu kau adalah anak yang baik,” komentar pria itu.

Taecyeon mengangguk. “Terimakasih, Tuan Bae.”

Setelah itu, Taecyeon langsung menarik tangan Suzy memasuki aula sekolah. Murid-murid yang sudah ada di dalam aula sekolah tentu saja langsung menolehkan wajah mereka ketika mendapati Taecyeon yang datang bersama Suzy. Wajah murid-murid langsung kaget bukan main saat melihat mereka datang bersama.

Suzy hanya bisa tersenyum kecut menyadari ekspresi yang diberikan oleh murid-murid. Gadis itu langsung menarik Taecyeon menuju kerumunan dan berharap murid-murid tidak mempedulikannya. Benar saja ketika suara Jang Wooyoung yang berdiri sebagai MC disana mengalihkan perhatian murid-murid.

“Nah, mari kita mulai malam ini!”

Sambutan meriah murid-murid tentu saja membuat Suzy sedikit risih. Terutama ketika Taecyeon yang menggenggam jemari gadis itu. “Kenapa?” tanya Taecyeon saat menyadari wajah Suzy yang membuatnya penasaran.

“Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya. . . Masih tidak percaya kalau aku harus pergi bersamamu,” komentar Suzy pedas. Gadis itu menahan nafasnya yang semakin panas karena tidak suka. “Aku tidak percaya soal yang dikatakan ayahku.”

“Kenapa tidak percaya?” tanya Taecyeon heran.

“Kau benar-benar meminta hal tersebut pada ayahmu?”

“Tentu saja. Kalau kau masih tidak percaya, sekarang kau bisa tanyakan hal tersebut pada ayahku atau ayahmu,” ucap Taecyeon santai. “Memangnya kau mau pergi dengan siapa jika tidak denganku? Lee Junho? Cih, laki-laki itu tidak bisa apa-apa. Dia hanyalah seorang laki-laki yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya.”

Mulut Suzy hanya membungkam tak menanggapi pertanyaan Taecyeon. Lagi-lagi ia teringat akan perkataan ayahnya kemarin. Tepat sepulang dari sekolah, ketika ia baru saja mengiyakan ajakan Junho.

 

Saat Suzy baru saja melepas sepatunya, gadis itu langsung menuju kamarnya. Namun, seorang pelayan menghampiri gadis itu dan meminta gadis itu menuju ruang kerja ayahnya dimana ayahnya sudah menunggu gadis itu. Ketika Suzy menanyakan tujuan ayahnya memanggilnya, si pelayan hanya terdiam dan meminta Suzy langsung menuju ruang kerja Bae Seungjoon.

Tanpa bertanya lagi, Suzy akhirnya mengiyakan permintaan pelayan tersebut dan langsung menuju ruang kerja ayahnya yang berada di lantai 3. Jemarinya bergetar ketika ia hendak mengetuk pintu ruang kerja ayahnya. Sebelumnya, ia tidak pernah kesana dan ia dilarang untuk memasuki ruang kerja ayahnya.

“Masuk,” ucap Bae Seungjoon.

Suzy langsung melotot saat Bae Seungjoon sudah memintanya masuk padahal ia sama sekali belum mengetuk pintu ruang kerja ayahnya. Gadis itu menarik gagang pintu ruang kerja Bae Seungjoon dan melangkah masuk ke dalam dengan takut-takut.

Ayahnya sudah duduk di meja kerjanya, di atas kursi putar beroda dengan mata yang menatapnya dengan hangat. Suzy menutup kembali pintu tersebut dan membalikkan badannya, menghadap ke arah ayahnya. Ayahnya menarik nafas dalam-dalam dan menghela nafas berat.

Pria itu meletakkan kacamata yang sebelumnya bertengger di hidungnya. Lalu, ia menyeruput secangkir kopi. Sedangkan Suzy, sudah bergerak tak sabar ingin tahu apa yang hendak dikatakan oleh ayahnya.

“Suzy-ya. . .,” panggil Bae Seungjoon pelan, sepelan mungkin sampai-sampai Suzy tak dapat mendengarnya jika gadis itu tidak mendengarkan dengan seksama. “Kau sudah punya pasangan ke pesta?”

Suzy terdiam dan memilih membungkam mulutnya. Pada akhirnya, sebuah pertanyaan justru terlontar dari mulut manisnya. “Jika belum, ada apa? Dan jika sudah, ada apa?” tanyanya.

Ayahnya terkekeh pelan. “Ok Taecyeon. . . Aku pikir, laki-laki itu sepertinya dia tertarik padamu karena dia meminta ayahnya untuk menyampaikan padaku agar kau mau pergi ke sana dengannya. Suzy-ya. . . Dengarkan baik-baik, tawaran ini sangatlah berharga bagimu karena Taecyeon adalah anak yang baik.”

Mendengar itu, Suzy hanya tersenyum masam. Jantungnya sudah berdegup kencang. Bagaimana bisa ia menyetujui bahwa Taecyeon adalah anak yang baik sementara di sekolah laki-laki itu terus membuat ulah hanya karena ibunya sudah meninggal. Meskipun Suzy memang sedikit prihatin dengan laki-laki itu, tetap saja, di matanya laki-laki itu adalah murid yang nakal.

“Jadi, kuharap kau mau pergi bersama dengan Taecyeon, Suzy-ya. . .

Sementara itu, Suzy dengan terpaksa hanya bisa mengangguk menyetujui perkataan ayahnya. Dia sendiri tidak mau membuat ayahnya kecewa bukan main mengetahui bahwa di matanya, Taecyeon bukanlah murid yang baik. Tentu saja, dia tidak mau membuat hubungan ayahnya dengan ayah Taecyeon menjadi renggang hanya karena dirinya.

 

“Aku tidak mau bertanya soal itu pada ayahku atau ayahmu,” kata Suzy.

Taecyeon tersenyum miring. “Jadi, kau percaya, bukan?”

Kali ini, hanya teriakan riuh para murid saat melihat sekelompok murid kelas 12 yang bernari di atas panggung kecil itu. Sekelompok murid-murid itu rupanya grup dance cover BEAST. Kali ini, mereka menarikan lagu BEAST yang berjudul ’12:30’ yang sedang ramai dibicarakan oleh orang-orang.

Suzy memijat pelipisnya dan ia beralih pada Taecyeon. “Kau disini saja dulu, aku mau keluar. Mau cari udara segar,” kata gadis itu seolah berharap agar Taecyeon tidak mengikutinya.

Taecyeon hanya mengangguk dan melangkah menuju bar, meninggalkan Suzy yang dengan tertatih-tatih menggunakan high heels-nya menuju keluar aula sekolah. Di luar sekolah, ada garden party yang banyak menawarkan makanan dan minuman. Makanan dan minuman itu sendiri merupakan sponsor dari murid-murid yang sempat diminta oleh Suzy.

Entah kenapa, Suzy memilih menuju salah satu stan yang menjual minuman bubble tea dan memesan rasa Taro. Begitu mendapatkan minumannya, gadis itu kembali berkeliling dan mencari-cari salah satu yang daritadi belum ia temukan. Ketika gadis itu melangkah menuju taman belakang sekolah yang tampaknya sepi, ia langsung menemukan yang dicarinya.

“Lee Junho!” panggilnya dengan semangat.

Gadis itu langsung menutup mulutnya menyadari bahwa dirinya terlalu bersemangat memanggil laki-laki itu. Laki-laki yang sibuk membaca sebuah berkas di tangannya itu langsung menoleh ke arah Suzy.

“Ah, Bae Suzy,” sapanya tak semangat.

“Eh, kenapa?” tanya Suzy bingung dan duduk di bangku taman.

Junho sendiri yang sedang berdiri pun ikut duduk disamping Suzy dan kembali memfokuskan dirinya pada berkas-berkas di tangannya. “Ini, daritadi aku harus membaca jadwal pesta ini. Aku harus meyakinkan bahwa pesta ini berjalan dengan lancar,” jelasnya.

Suzy memperhatikan wajah laki-laki itu yang tampaknya kusut akibat pekerjaannya yang terus menerus dan tanpa henti tersebut. Di bawah mata Junho ada sebuah kantong hitam yang tampak jelas bahwa laki-laki itu pasti kelelahan. “Kau seharunsya istirahat dan berhenti kerja terus-menerus,” saran Suzy.

Sambil meminum Taro bubble tea-nya, Suzy melepaskan high heels miliknya yang kanan. High heels itu berhasil membuat kakinya terasa nyeri sedari tadi. Dia bahkan mendapati kaki kanannya yang sudah memerah akibat high heels tersebut.

Junho melirik ke arah kaki kanan Suzy. “Kau tidak biasa menggunakan high heels, ya?” tanyanya. Laki-laki itu bangkit dan menyerahkan berkas yang ada di tangannya pada Suzy. “Biar aku ambilkan plester. Kau tunggu disini.”

Suzy mengangguk dan membiarkan Junho meninggalkannya. Sambil menunggu, ia menatap kaki kanannya yang begitu merah dan juga langit malam yang dihiasi oleh bintang-bintang berkelap-kelip. Tak lupa juga, ia juga meminum Taro bubble tea-nya sampai setengah.

Namun, lama kelamaan, kepalanya terasa pusing dan juga nafasnya terasa panas. Matanya berkunang-kunang dan yang dilihatnya hanyalah buram. Ketika ia hampir menutup matanya akibat pusing, ia mendengar namanya dipanggil.

Ya! Bae Suzy!”

Dan setelah itu, Suzy pingsan di tempat.

To be Continued

January 4, 2015 — 10:00 P.M.

::::

a.n: Hai! Pas kan dua minggu? Hehe. Aku kerja mati-matian loh buat chapter yang ini hehe. Soalnya, besok udah sekolah lagi dan aku jadi pusing gimana caranya supaya part ini dapet feels-nya dan ya gitulah. Oh, ya, special thanks to Jungleelovely udah buatin poster yang keren banget. Kadang-kadang, aku suka heran sendiri kenapa aku minta dibuatin poster sama orang lain buat ff sendiri padahal aku sendiri bisa._. Mungkin karena hasilnya lebih memuaskan kali, ya, hehe. Udah ah, gak mau banyak ngomong. Intinya, sih, ya, keep reading aja.

Don’t forget to comment and like! Or vote will be loved hehe. See you in the next chapter! Byeeee♥♥♥♥♥ 

48 thoughts on “[Chapter 5] Another Cinderella Story

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s