[ONE SHOOT] Don’t Worry

don_t-worry-l1

Thank you so much  Nerita for the awesome poster xoxo

Author : Park Eun Ji
Cast : Kim Myungsoo [INFINITE]
          Bae Suzy [MISS A
Genre : Failed  Fluff
Rating : T

Disclaimer : Semua cast di sini? not mine 🙂 Alur cerita terinspirasi dari salah satu MV yang pernah aku tonton. FF ini juga di posting di beberapa blog dengan judul yang sama 🙂

Warning : Ini diceritakan dari POV Myungsoo dan sedikit POV Suzy di bagian akhir

Happy Reading xoxo

TEASER

“Kau tak perlu terlihat keren di depanku, yang penting kau ada bersamaku.”

Aku sedang asyik membicarakan pertandingan sepak bola dengan Sungmin sambil membereskan lokerku yang super berantakan. Saat itulah aku melihat Suzy yang sedang berjalan dari kejauhan. Gadis berkulit putih itu terlihat sedang membicarakan sesuatu dengan beberapa temannya. Ia terlihat mempesona dengan rambut hitam panjangnya yang dibiarkan tergerai. Langkah kakinya sangat anggun dan…

Tunggu dulu, ini bukan saatnya untuk mengagumi sosoknya, dia sama sekali tidak boleh melihatku! Aku langsung menjejalkan sisa-sisa barangku dengan asal, tak peduli jika ada barang yang tertindih maupun rusak sekalipun. Ketidakberadaanku di sekitar Suzy jauh lebih penting dari apapun.

” Myungsoo? Kau kenapa? ” Sungmin yang tadinya sibuk bicara tentang Liverpool –tim favoritnya yang kebetulan memenangkan pertandingan semalam- berhenti bicara dan menatapku heran.

” Sungmin, aku pergi dulu ya.” Aku segera menutup lokerku dengan kencang dan pergi menjauhi Suzy. Tak peduli dengan Sungmin yang menutup kedua telinganya kemudian menggerutu kecil karena pertanyaannya tidak terjawab. Untung saja Suzy sepertinya tidak menyadari keberadaanku. Kalau tidak matilah aku.

Aku menghindari Suzy dengan pergi ke taman. Kupelankan langlahku dan duduk di salah satu bangku. Coba kalian tebak mengapa aku menjauhi Suzy? Tidak, bukan karena aku belum membayar hutang ke Suzy. Ini semua karena kejadian-kejadian bodoh yang kualami seminggu belakangan ini. Itu  membuatku malu untuk bertemu dengan Suzy.

Hari Senin

Jam istirahat merupakan waktu yang paling aku suka. Bukan karena aku bisa makan siang dengan brutal, melainkan aku bisa bertemu dengan Suzy, murid kelas sebelah yang mencuri perhatianku beberapa minggu belakangan ini. Kudengar, dia menyukai pria yang kharismatik. Makanya aku harus terlihat keren di hadapannya. Hari ini aku sengaja melewatkan makan siang dan pergi ke taman. Aku sering melihat Suzy pergi ke sana sambil membawa buku sketsa dan kotak bekal makan siangnya.

 Aku mengedarkan pandangan ke seluruh taman dan menemukan Suzy sedang duduk di salah satu bangku, membelakangiku. Sinar matahari menyinari rambut hitamnya, membuatnya sosoknya semakin mempesona. Aku menghampiri Suzy sambil tersenyum, tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang. Akhirnya setelah sekian lama aku menyukainya, aku memberanikan diri untuk menghampiri dan menyapanya.

Aku berdiri di hadapannya dan berdeham kecil untuk memperbaiki kualitas suaraku.” Halo.” Aku mencoba menyapa Suzy yang sedang membuat sketsa awal pada lukisannya. Walaupun belum jadi, tapi garis-garis itu terlihat alami. Pasti hasil akhirnya akan bagus.

Suzy sedikit terlonjak, membuat garis yang sedang dibuatnya menjadi berantakan.

Ia kemudian mengangkat kepalanya, raut seriusnya berubah menjadi lebih rileks.” Oh, halo. Kau Kim Myungsoo kan?” Suzy menatapku penuh tanda tanya. Mungkin ia bingung karena melihat senyuman bodohku ini. Astaga, aku tidak boleh bersikap seperti idiot. Aku harus memberi kesan pertama yang baik.

Aku segera menghentikan senyumanku dan berdeham. ” Ah, maaf gambarmu jadi berantakan. Panggil saja aku Myungsoo.”

” Tidak apa-apa, aku bisa memperbaikinya nanti. Ada apa Myungsoo? Suzy bertanya sambil menyelipkan rambutnya di belakang telinga. Aku seperti terhipnotis oleh kecantikannya. Ternyata jika dilihat lebih dekat Suzy jauh terlihat lebih cantik.

” Kau tak apa?” Suara lembut Suzy memecahkan perhatianku padanya.

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Wanita di hadapanku ini benar-benar berhasil membuatku salah tingkah. ” Ngg, boleh aku menemanimu?”

 

Suzy mengerjapkan matanya. Tampaknya ia sedikit terkejut. Aku sudah gila! Apa yang aku katakan barusan? Kau sudah gila ya Kim Myungsoo? Dasar bodoh! Jangan terlalu agresif!

 

” Ngg, maaf aku mengatakan hal yang aneh. Silahkan lanjutkan lagi.” Aku menyeringai lebar, berusaha menutupi kecanggunganku karena Suzy tak kunjung bereaksi. Aku berbalik dan hendak melangkah. Tapi langkahku berhenti ketika ia memanggil namaku dan berkata.

” Tentu saja.”Aku membalikkan badanku dan melihat Suzy kini tersenyum, membuat kecantikannya semakin terpancar. Aku tercengang sementara ia menutup kotak bekal di sebelahnya dan menggesernya untuk tempatku duduk.

” Myungsoo?” Suzy menyadarkanku kembali. Astaga,Kim Myungsoo! Ingat kau harus terlihat keren di hadapannya.

Aku tertawa kaku dan perlahan duduk di sebelahnya lalu menatap lurus rumput hijau di hadapanku. Aku tak tahu harus bicara apalagi. Aku mendengar goresan pensil Suzy dan memutuskan untuk melihat gambarnya. Tunggu, kenapa gambarnya tidak sama dengan pemandangan di sini?

 

” Aku melukis bukan berdasarkan apa yang kulihat, tapi berdasarkan apa yang kubayangkan.” Seolah tahu pikiranku, Suzy memberi penjelasan.Walaupun aku hanya melihat wajahnya dari samping, tapi aku tahu matanya berbinar-binar, tanda bahwa ia sangat menyukai kegiatannya.

” Pasti hasilnya akan bagus.” Aku memberi pujian dengan tulus. Lukisan Suzy sekarang sudah seperempat jadi, mulai terlihat nyata.

” Terima kasih. ” Suzy tersenyum kembali. Inilah yang membuatku menyukainya sejak pertama kali aku melihatnya.

” Kalau boleh tahu, apa yang menjadi objek lukisanmu?” Aku memperhatikan Suzy yang sedang menarik garis dengan lembut. Hebat, hasilnya sempurna. Kalau aku yang melakukannya pasti hasilnya berantakan.

” Anjing peliharaanku. Suzy menjawab pertanyaanku tanpa mengalihkan pandangannya. Ia menaruh pensil sketsanya dan memandangku. Ah, aku rasa aku telah mengganggunya, pasti dia akan menegurku untuk tidak banyak bicara dan mengganggu konsentrasinya

“Menurutmu bagaimana Myungsoo? Apakah sudah cukup bagus? ” Suzy mengangkat calon lukisannya dan memperlihatkannya kepadaku. Aku berpikir sebentar. Lukisan ini sudah terlihat menarik bagiku.

” Kurasa sudah bagus. ” Aku berkata ragu karena aku tidak terlalu mengerti seni.

” Hmm… ” Suzy menggumam dan menambahkan sedikit detail pada lukisannya. Aku memperhatikan Suzy yang sedang serius. Suzy benar-benar menyukai seni.

“Ini adalah aliran realisme[1]. Aku sangat menyukai aliran ini karena di dalamnya terdapat kebenaran. Apa adanya dan tidak dibuat-buat. ” Tanpa diduga Suzy menceritakan hal yang disukainya kepadaku. Aku tersenyum.

” Kalau begitu, pasti kau mengidolakan Pablo Picasso ya? SetahukuPicasso suka melukis dengan aliran realisme.” Aku benar-benar tak tahu apa yang kukatakan, semoga itu benar...atau salah.

Suzy mengerutkan dahinya. Aduh, pasti aku salah bicara. ” Beliau memang salah satu tokoh idolaku. Tapi Picasso melukis dengan aliran kubisme[2], Myungsoo. ” Kemudian ia tersenyum dan kembali melanjutkan sketsanya.

Dugaanku benar, aduh betapa memalukannya. Pasti Suzy sedang menertawaiku dalam hati. Seharusnya aku tidak perlu sok tahu seperti tadi!

Hari Selasa

Hari ini aku pulang sekolah lebih sore. Itu karena aku mendapat giliran piket. Setelah selesai piket, tahu-tahu hujan turun. Sebenarnya aku membawa payung, tapi aku malas pulang ke rumah saat hujan deras seperti ini. Jadi aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan untuk menunggu hujan reda. Lagipula aku tak mau sepatuku menjadi basah karena hujan, aku tak punya sepatu cadangan.

Pintu perpustakaan berderit pelan ketika aku buka. Sudah berapa lama pintu ini tak diberi pelumas? Pustakawan membalas sapaanku dari balik komputer, entah apa yang dia kerjakan. Aku baru mengunjungi perpustakaan ini beberapa kali. Campuran wangi yang kusuka antara pengharum ruangan vanilla dengan aroma buku-buku beragam usia selalu menyambutku setiap kali aku datang ke sini. Jendela-jendela berukuran sedang diletakkan di ruangan untuk membaca. Sayang kali ini cuaca sedang hujan, jadi aku tak bisa melihat sinar matahari  menyinari ruangan ini dengan lembut. Hanya tirai berwarna kelabu yang menutupi jendela-jendela itu.

Aku berjalan menuju rak-rak buku yang menjulang tinggi dan mencari bagian biografi. Aroma dari buku-buku yang sudah menguning dimakan usia tercium semakin kuat. Di rak kelima, aku akhirnya membaca tulisan ‘BIOGRAFI’ yang tercetak dengan huruf hitam dan kertas kuning yang dilaminating di rak bagian atas. Aku sedang mencari buku biografi Pablo Picasso. Seniman ini adalah salah satu tokoh idola Suzy, aku penasaran apa yang membuat Suzy menyukai tokoh ini. Siapa tahu aku bisa mengetahuinya dengan membaca buku biografinya.

Setelah menemukannya di rak tingkat kedua, aku berjalan menuju ruangan baca. Saat melewati salah satu rak, kulihat Suzy sedang berusaha menggapai buku yang diambilnya. Walaupun sudah berjinjit dan mengangkat tangan setinggi-tingginya, ia masih terlihat kesulitan. Aku harus membantunya, tak kubiarkan ia kesulitan seperti itu.

 

Aku setengah berlari dan mengambil salah satu buku dengan asal. Kuharap itu buku yang benar. ” Ini bukunya. ” Aku memberikan senyum terbaikku. Suzy sedikit terkejut karena kehadiranku yang mendadak.

” Maaf, tapi buku itu baru saja kutaruh. ” Ucap Suzy pelan. Oh, aku salah paham rupanya. Dasar bodoh!

Aku tertawa canggung dan segera mengembalikan buku itu ke tempat asalnya. Suzy mengamati buku yang kupegang. Senyum lebar langsung ditampilkannya. ” Kau menyukai Picasso juga?”

Aku hanya menggumam tak jelas. Apakah aku harus menjawab ‘Tidak, aku hanya ingin mencari tahu tentang tokoh idolamu saja’ sambil tersenyum lebar? Itu mencari mati namanya, Suzy pasti curiga padaku.

” Jika ada waktu luang, cobalah baca juga buku ini.” Ia mengambil buku dari salah satu rak dan memberikannya kepadaku. “ Buku ini membahas tentang aliran kubisme yang digeluti oleh Pablo Picasso. Aku sangat menyukai buku ini.” Jelasnya. Aku hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mataku karena tak paham apapun soal aliran kubisme. Lalu kusadari Suzy telah menatapku lekat-lekat. Apa ia mulai terpesona padaku?

” Ada noda kapur di wajahmu.” Ia menunjuk pipi kanannya sambil terlihat menahan tawa. ” Sampai jumpa.” Suzy berlalu meninggalkanku.

Aku meraba pipi kananku dan menemukan noda kapur yang menempel di tanganku.Aku membelalakan mata dan dengan panik membersihkan sisa noda kapur yang tersisa. Aduh, ini pasti karena aku membersihkan papan tulis tadi. Memalukan sekali rasanya! Aku pasti terlihat konyol tadi. Hebat Kim Myungsoo, dalam sehari kau melakukan dua hal yang membuatmu terlihat bodoh di depan orang yang kau suka.

Hari Rabu

Jam istirahat, aku memutuskan untuk tidak pergi ke taman ataupun ke perpustakaankarena aku malu bertemu dengan Suzy. Lagipula rasanyasudah lama aku tidak merasakan nikmatnya makanan kantin, jadi akumemutuskan untuk pergi ke sana. Aku mengantri sendirian, teman-temanku datang lebih dulu dan kini sedang makan dengan brutal. Aku harap aku mendapat tempat kosong di sana.

 

” Hai Myungsoo.” Aku seperti mendengar suara Suzy memanggilku, tapi dia tidak pernah ke kantin. Sepertinya aku salah dengar.

Tepukan di bahuku membuatku otomatis membalikkan badan, ternyata benar Suzy. Apa yang harus aku lakukan? Menghindar? Tidak, itu akan membuatku terlihat konyol.

” Oh, hai Suzy. Tumben sekali datang ke kantin.” Aku akhirnya berhasil membuat diriku untuk berbicara. Biasanya dia selalu membawa bekal sendiri dan memakannya di taman.

” Aku bangun kesiangan, jadi tidak sempat membuat bekal. ” Suzy menghela napas pasrah. Raut kecewa sedikit terlihat di wajahnya, ah aku tak akan membiarkannya terus seperti ini. Aku harus menghiburnya.

” Kau tahu? Hari ini mereka memasak beef teriyaki. Itu adalah menu favorit di kantin ini.” Aku memberitahu Suzy dengan penuh semangat.

” Benarkah? Kalau begitu aku datang di saat yang tepat.” Suzy mulai tersenyum manis. Sungguh, senyum Suzy lebih cantik dari senyum wanita manapun di dunia ini. Aku serius.

Antrian berjalan maju, aku maju selangkah lagi. Suzy mengikutiku untuk maju. ” Kau suka makanan Itali?” Aku kembali berbicara.

Suzy mengangguk, aku melanjutkan lagi. ” Kalau begitu, kapan-kapan mau makanPizza bersama?”

Suzy menggelengkan kepalanya . Kim Myungsoo, agresif sekali kau ini! Apa sih yang ada di pikiranmu? Tentu saja dia akan menolak tawaranmu!

Suzy kemudian tersenyum. ” Aku tidak suka Pizza, bagaimana kalaupasta?”

Senyumku yang tadi sempat hilang terbit kembali. ” Ah, tentu saja. Dengan senang hati.”

Akhirnya giliranku tiba, aku melihat makanan yang tersedia. Dimana beef teriyakinya?

” Permisi, bukankah hari ini ada menu beef teriyaki?” Aku berbicara kepada petugas kantin.

” Hari ini tidak ada menu beef teriyaki. ” Petugas kamtin itu terlihat bingung. ” Tapi kami memasak chicken teriyaki. Kau mau?” Petugas kantin menawarkan kepadaku.Ah, Sungmin bodoh! Seharusnya aku tidak mendengarnya saat berceloteh tentang menu makanan di kantin.

Aku mengangguk, sementara petugas kantin menyiapkannya aku memandang Suzy yang sedang mengerutkan keningnya. Segera, aku memasang senyum bodoh. “Maaf.”

” Tak apa. Semua orang bisa berbuat salah.” Suzy tersenyum penuh pengertian.

Haha, aku kembali terlihat bodoh. Tapi setidaknya aku berhasil mengajak Suzy untuk makan bersama. Kuharap ini terakhir kalinya aku terluhat bodoh di hadapan Suzy.

 

Hari Kamis

Aku menyusuri jalan menuju rumahku sambil tersenyum-senyum. Hari ini, aku berhasil untuk tidak terlihat bodoh di hadapan Suzy. Kami juga mulai mengobrol banyak hari ini. Ternyata orang tua Suzy adalah seniman yang sudah mengadakan pameran di mana-mana. Pantas saja Suzy suka melukis. Selain itu Suzy juga pecinta binatang, selain anjing ia punya beberapa ikan hias dan seekor kucing. Suzy orang yang sangat memyenangkan untuk diajak bicara.

Oh iya, aku baru ingat kalau sejak kemarin aku ingin sekali makan es krim. Jadi aku akan mampir ke minimarket sebentar.

Aku mengambil es krim yang aku inginkan dan pergi menuju kasir. Di meja kasir, kulihat Suzy sedang merogoh-rogoh tasnya. Sepertinya ia sedang mencari sesuatu.

” Maaf, yang ini dibatalkan saja. Uangku tidak cukup.” Suzy menunjuk sebuah bungkus camilan. Oh rupanya uangnya kurang. Petugas kasir hendak mengambilnya, tapi kucegah.

” Biar aku saja yang bayar sekalian. Ini.” Aku menyerahkan barang yang kubeli dan memberikan sejumlah uang kepada penjaga kasir. Tapi kemudian aku sadar, uang yang kuberikan bahkan tidak cukup untuk membeli es krim.

” Maaf, uang anda tidak cukup.” Petugas kasir memperjelas apa yang ada di pikiranku barusan.

Aku tersenyum kaku. Bagaimana ini? Itu uang terakhirku!

” Ini untuk membayar sisanya.” Tahu-tahu Suzy mengeluarkan sejumlah uang lecek dari kantung kecil di tas ranselnya. Aku menghela napas lega. Tidak. Belum sepenuhnya lega karena aku terlihat konyol barusan. ” Terima kasih Suzy. Aku jadi merepotkanmu.

Tidak apa-apa.” Suzy tersenyum.

 

Hah, sekarang harga diriku sudah jatuh ke jurang yang sangaaaaattttt dalam di hadapan Suzy. Good job Kim Myungsoo!

Fyi, rumah Suzy hanya berbeda dua gang dengan rumahku. Pantas saja aku bisa bertemu dengannya di minimarket dekat rumahku. Ini kesempatan yang bagus. Kami bisa berangkat dan pulang sekolah bersama.

Ah, tidak tidak tidak! Lupakan pikiran bodohku barusan, aku tak berani untuk melakukannya. Beberapa hari ini aku terlihat bodoh di hadapannya. Lupakan juga untuk mengajaknya makan pasta bersama.

 

Hari Jumat

Pulang sekolah tadi, aku terkejut Suzy sudah menungguku di samping kelas. Ia menanyakan tentang ajakanku untuk makan bersama. Tak kuduga dia masih ingat dengan ajakanku tempo hari. Aku sempat mengurungkan niatku tadi. Aku malu sekali karena tindakan-tindakanbodoh yang aku lakukan.

Tapi kalau kupikir-pikir lagi, acara makan ini siapa tahu bisa mengembalikan sedikit harga diriku yang telah jatuh. Jadi aku putuskan untuk mengajak Suzy makan pasta di sebuah kedai tak jauh dari sekolah kami hari ini. Kebetulan hari ini kami pulang lebih cepat karena ada rapat guru.

 

” Kau benar Myungsoo, ini pasta terenak yang pernah kucoba.” Setelah bicara, Suzy kembali memasukkan sesendok pasta ke dalam mulutnya.

Aku tersenyum melihatnya, syukurlah sepertinya tidak ada hal yang memalukan yang harus kualami hari ini. ” Kalau mau tambah silahkan saja. Aku yang traktir.”

Suzy menggeleng sambil menaruh garpunya. Setelah menelan makanannya ia berkata ” Tidak bisa, kan aku yang menagih janji. Jadi, kita harus bayar bersama ok?”

Aku baru ingin menjawab, tapi Suzy berkata lagi sambil menampilkan raut jenaka. ” Jika kau tidak mau, aku tidak mau makan lagi bersamamu.”

Walaupun Suzy hanya bergurau, tapi aku menganggapnya serius. Tidak boleh! Itu hal yang buruk! Jadi, dengan terpaksa aku mengangguk lemah. ” Ok Bae SuzyAgassi.”

Suzy tercengang. Apa aku salah bicara?

” Ah, maaf kau tidak suka ya aku memanggil nama panjangmu?” Aku bertanya dengan hati-hati.

Suzy segera tersadar dan tersenyum. ” Tidak, justru aku suka sekali. Ini pertama kalinya seseorang memanggil nama lengkapku selain keluargaku. “

Aku sesaat tercengang, kemudian ikut tersenyum. Suzy mengambil tisu di sampingya lalu mengelap sudut bibirku. Aku terlonjak kaget.

” Ada saus yang tertinggal.” Kata Suzy tenang sambil tetap membersihkan.

” Ah, te…terima kasih. Biar aku saja.” Aku mengambil tisu yang dipegang Suzy dengan tangan gemetar.

 

Yihhhaaaaaa!!! Ini hari terbaik dalam hidupku! Yah, walaupun aku sedikit terlihat memalukan tadi. Maksudku, seharusnya pria kan yang melakukan itu kepada wanita? Bukan sebaliknya.

Aku menghela napas berat. 80% aku terlihat seperti idiot, 20% aku terlihat keren. Itu hasil surveiku selama beberapa hari belakangan ini. Sangat bagus kan? Tapi aku tidak menyerah, aku harus memperbaiki imageku di mata Suzy.

” Bae Suzy, aku pasti akan terlihat keren di depanmu.” Ucapku penuh tekad.

Beberapa saat kemudian aku baru sadar, aku pergi ke tempat yang salah. Tempat ini sering didatangi oleh Suzy. Ah, bodoh ini namanya bukan menghindari, tapi menemui Suzy! Semoga saja Suzy belum datang sehingga ia tidak mendengar ucapanku barusan.

Aku mendesah frustrasi. Kenapa aku selalu melakukan tindakan bodoh? Ck, lebih baik aku bergabung dengan Sungmin di lapangan voli. Tunggu, kenapa terdengar goresan pensil di sebelahku?

Bae Suzy

Aku duduk di bangku favoritku di taman, di bawah pohon cherry yang sedang berbunga dan menebarkan wangi manis. Setiap jam istirahat aku selalu ke sini karena suasana taman ini sangat menenangkan dan membuatku semangat untuk melukis. Aku tak melihat kehadiran Myungsoo dimanapun, entah kenapa dia seperti menghindariku. Jujur saja, aku senang dengan kehadirannya walaupun terkadang ia melakukan hal-hal konyol. Seminggu yang lalu, tepatnya hari Senin kemarin ia tahu-tahu menyapaku dengan senyum konyol. Sejak saat itu kurasa kami mulai akrab. Oh iya, Myungsoo adalah teman seangkatanku.

Teringat tujuan awalku, aku mulai memberi warna pada lukisan Fuji -anjingHavanesepeliharaanku-. Tiba-tiba, seseorang datang dengan langkah lunglai. Ia menggeser kotak bekalku dan mulai terlihat melamun. Aku mengangkat kepalaku dan menemukan Myungsoo tengah duduk di sebelahku dan menatap lurus air mancur di tengah taman. Ia seperti terlihat banyak pikiran. Jadi kuputuskan untuk tidak mengganggunya dan kembali melanjutkan aktivitasku.

Beberapa menit telah berlalu, selama itu pula aku mendengar Myungsoo menghela napas berat berulang kali. Tampaknya masalah yang dihadapinya sangat berat. Berani taruhan, dia pasti tidak menyadari keberadaanku.

” Bae Suzy, aku pasti akan terlihat keren di depanmu.” Kudengar Myungsoo menyebut namaku dan berkata pelan. Tapi aku merasakan keyakinan di setiap kata-katanya. Aku menyapukan goresan terakhir di lukisanku, setelah sebelumnya aku mendengar desahan frustrasi dari Myungsoo.

” Astaga Suzy? Sejak kapan kau ada di sini?” Myungsoo terlonjak kaget ketika menyadari keberadaanku.

Aigoo, Myungsoo. Aku sudah ada di sini bahkan sebelum kau datang. ” Aku menggeleng perlahan. Benar kan dia tidak menyadari keberadaanku sejak tadi?

” Benarkah? Aku tidak menyadarinya.” Myungsoo terlihat bingung.

” Kenapa kau menghindariku?” Aku langsung bertanya pada intinya. Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk menanyakannya, tapi aku ingin penjelasan darinya,

Myungsoo mengacak rambut hitamnya. ” Karena aku tidak ingin terlihat bodoh di hadapanmu untuk yang sekian kalinya.”

” Kau tak perlu terlihat keren, yang penting kau ada bersamaku.” Detik berikutnya aku baru menyadari aku telah mengatakan sesuatu yang konyol.

Myungsoo memandangku tak percaya. ” A..apa?”

” Aku tidak akan mengulanginya.” Aku pura-pura sibuk dengan buku sketsaku untuk mencegah Myungsoo melihat wajahku yang mungkin sudah memerah.

” Suzy, kau ingin aku bersamamu?” Myungsoo bertanya dengan nada tak percaya. Pasti ia menganggapku wanita yang agresif. Tidak boleh, aku harus mengalihkan pembicaraan.

” Aku su-”

” Jangan! Jangan kau yang katakan duluan ok?” Myungsoo langsung panik. Ada apa dengannya? Katakan apa?

” Aku menyukaimu Bae Suzy. Suatu saat aku akan menjadi pria yang kharismatik, yang sesuai dengan tipe idealmu.” Myungsoo menggenggam tanganku dan menatapku dalam-dalam. Saat aku mendengar perkataan Myungsoo, aku terkejut. Ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan. Fyi, aku juga menyukai Myungsoo. Mungkin sejak ia pertama kali berbicara padaku tempo hari.

Aku mengulas senyum lebar. ” Pria kharismatik bukan tipe idealku lagi. ” Myungsoo mengerjap-ngerjapkan matanya.

” Pria sepertimu lah tipe idealku.” Aku berkata dengan cepat dan pelan. Berharap Myungsoo tidak mendengar perkataanku.

Wajah Myungsoo seperti ingin menangis dan ia langsung memelukku. ” Sungguh, aku akan memperbaiki diriku. Ini terakhir kalinya aku terlihat konyol di hadapanmu. ” Myungsoo berkata serak sambil tetap memelukku. Aku merasa bahuku sedikit basah.

Aku membalas pelukannya dan menepuk-nepuk punggungnya. ” Sebenarnya, aku bukan ingin mengatakan suka padamu tadi. Aku ingin berkata bahwa aku sudah menyelesaikan lukisanku.”

Myungsoo melepas pelukannya, menghapus air matanya kemudian berkata. ” Maaf, aku salah paham.”

” Aku janji akan memperbaiki diriku. Setelah itu aku akan memintamu menjadi kekasihku. Kau tidak boleh menolaknya ok?” Myungsoo mengedipkan sebelah matanya.

” Jika kutolak, bagaimana?” Aku mengisenginya. Tidak mungkin aku menolak pernyataan cinta dari pria setampan Myungsoo kan?

” Aku akan terus mengatakannya sampai kau mau menerimanya karena aku adalah tipe pria idealmu. ” Tak kuduga Myungsoo menanggapinya dengan serius. Sesaat kemudian ia menampilkan raut jenaka.

Aku tertawa pelan. ” Akan kutunggu pernyataan cintamu untuk yang kedua kalinya.”

fin

[1] Realisme di dalam seni rupa berarti usaha menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan embel-embel atau interpretasi tertentu. Maknanya bisa pula mengacu kepada usaha dalam seni rupa unruk memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan hal yang buruk sekalipun.

[2] Kubisme adalah aliran yang cenderung melakukan usaha abstraksi terhadap objek ke dalam bentuk-bentuk geometri atau bentuk balok-balok untuk mendapatkan sensasi tertentu. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Pablo Picasso.

Sumber: wikipedia.

A/N : Aku tahu endingnya antiklimaks ;_; maafkan yah namanya juga masih amatiran ._.v Akhirnya setelah berulang-ulang revisi, naskah FF yang udah lama mengendap di laptop ini berhasil di publish /terharu/ Masih banyak kekurangan di FF ini. Mind to RCL? gamsahamnida~ #haveaniceday xx

6 thoughts on “[ONE SHOOT] Don’t Worry

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s