My Last (Chapter 3)

my-last-request-dkjung1

My Last (Chapter 3)

Written by DkJung

Poster by Junnie!ART

Main Casts : [Infinite] Kim Myungsoo | [A Pink] Son Naeun | [Infinite] Lee Sungjong

Support Casts : [Beast] Lee Gikwang | [Girl’s Day] Bang Minah

Genre : Romance | Length : Chaptered | Rated : Teen

>< 

Kim Myungsoo, lelaki tampan yang terlibat cinta segitiga, dimana ia harus memilih antara menjadi lelaki normal atau gay, dengan memilih Son Naeun atau Lee Sungjong.

Teaser > Chapter 1 > Chapter 2

 

>Chapter 3<

Naeun pergi ke sekolah seperti biasanya hari ini. Ya, walaupun kemarin ia cukup malu karena mendapat penolakan dari Myungsoo, ditambah lagi dengan insiden tumpahnya semua makanan Myungsoo pada seragamnya, tapi Naeun tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan tetap terus mengejar Myungsoo. Bagaimanapun caranya, ia akan selalu berusaha agar Myungsoo bisa menjadi miliknya.

Hari ini Naeun sudah siap berangkat ke sekolahnya pagi-pagi sekali. Naeun memang tergolong siswa yang rajin datang pagi ke sekolah. Baru saja ia menutup pagar rumahnya, ia melihat Myungsoo juga baru keluar dari rumahnya. Karena tidak ingin melewatkan kesempatan, Naeun pun berlari kecil menghampiri Myungsoo.

“Myungsoo Oppa!” panggilnya sambil langsung mengapit lengan Myungsoo.

Ya, mwohaneunggoya?” tanya Myungsoo yang terlihat tidak suka dengan perlakuan Naeun terhadapnya.

Wae? Apa aku tidak diperbolehkan memegang tanganmu? Aish, Oppa, apa tanganmu ini begitu mahal?”

“Lepaskan.”

Ne?”

“Aku tidak suka orang asing menyentuh anggota tubuhku.”

“Orang asing? Oppa, aku bukanlah orang asing! Aku tetanggamu, bahkan, aku sudah dijodohkan denganmu, apa Oppa lupa?”

“Aku tidak lupa, aku hanya tidak ingin mengingatnya. Ya, jangan panggil aku Oppa, aku tidak suka itu! Tidak sembarang orang bisa memanggilku begitu! Sekarang juga, kau menyingkir dariku, atau aku tidak akan pergi ke sekolah.”

Naeun menghela napas berat sambil melepaskan tangannya yang mengapit lengan Myungsoo. Tak selang sedetik setelah Naeun melepaskan tangannya, Myungsoo langsung berjalan pergi dengan mempercepat langkahnya meninggalkan Naeun. Naeun pun tidak diam begitu saja. Ia mulai berjalan di belakang Myungsoo, dengan menjaga jarak agar Myungsoo tidak merasa terganggu. Sejujurnya, Naeun ingin sekali bisa berangkat ke sekolah bersama dengan Myungsoo. Ya, walaupun tidak bisa pergi sebagai kekasihnya, setidaknya, sebagai tetangganya. Tapi, rasanya hal itu tidak akan terjadi, karena Naeun sudah terlanjur membuat Myungsoo marah dan benci padanya.

Ketika mereka sampai di halte bus, Naeun mencari tempat dimana ia tidak terlalu dekat dengan Myungsoo. Selama menunggu bus, Naeun tak henti-hentinya memandangi Myungsoo. Sepertinya, Naeun memang sudah jatuh cinta dengan ketampanan Myungsoo. Ketika bus datang, Naeun membiarkan Myungsoo masuk terlebih dahulu, barulah ia masuk. Tentu saja, begitu masuk ke dalam bus, Naeun memilih tempat duduk paling belakang, jauh dari Myungsoo yang duduk di kursi depan. Dengan begitu, selama perjalanan ke sekolah, Naeun bisa memperhatikan Myungsoo.

Begitu sampai di gerbang sekolah, Naeun terkejut ketika Myungsoo langsung dikerubungi oleh siswi-siswi yang membawa berbagai macam hadiah, mulai dari surat, coklat, bunga, boneka, dan yang lainnya. Mereka semua berteriak histeris menyerukan ‘Myungsoo Oppa’, ‘boshita’, ‘kau benar-benar tampan dan keren!’, ‘jadilah kekasihku!’ dan sebagainya. Sementara itu, Myungsoo hanya mengambil satu persatu hadiah yang diterimanya, lalu segera meninggalkan gerombolan siswi tersebut.

“Wah, daebak, bagaimana bisa dia menerima hadiah dari gadis-gadis ini sedangkan menerima cintaku saja tidak?” gumam Naeun sambil menatap punggung Myungsoo yang semakin menjauh. Setelah Myungsoo tidak terlihat, Naeun mengalihkan pandangannya pada siswi-siswi yang baru saja memberikan hadish pada Myungsoo.

Ya, kalian pikir kalian siapa?! Bagaimana bisa kalian bisan kalian berani-beraninya memberikan hadiah pada Myungsoo Oppa?! Asal kalian tahu ya, Myungsoo Oppa sudah dijodohkan denganku, jadi, jangan dekati dia lagi!”

Mworagu? Memangnya kau pikir kau siapa, bisa-bisanya mengaku dijodohkan dengan uri Oppa?” tanya salah seorang siswi.

Mwo? Uri Oppa? Jinjja!”

Akhirnya, Naeun pun tidak bisa meredam emosinya. Ia menghampiri gadis yang baru saja melawan perkataannya. Alhasil, ia justru habis dikeroyok habis oleh siswi-siswi tersebut.

>><<

Omo, Naeun-ah! Apa yang terjadi denganmu?” tanya Youngji terkejut melihat keadaan Naeun yang benar-benar kacau.

“Dasar gadis-gadis gila! Mereka membuatku marah!” erang Naeun sambil mengacak rambutnya yang sudah berantakan itu.

Keadaannya memang sangat kacau. Rambutnya berantakan karena dijambak, wajahnya terdapat beberapa lebam karena dipukuli.

“Memangnya apa yang sudah kau lakukan sampai seperti ini?”

“Gadis-gadis itu mendekati Myungsoo Oppa! Bagaimana bisa mereka berani-beraninya mendekati pacarku?!”

Ya, Son Naeun, sudah kubilang kurangi percaya dirimu itu. Bagaimana bisa kau menganggap orang yang sudah jelas-jelas menolakmu menjadi pacarmu? Bukankah sudah jelas bahwa dia itu tidak menyukaimu?”

“Youngji­-ya, kenapa kau tidak mendukungku?”

“Bukannya aku tidak mendukungmu, aku hanya tidak ingin melihatmu terus menyakiti dirimu. Kau lihat sendiri, kan nasibmu? Sudah kau ditolak Myungsoo Sunbae, sekarang kau malah dikeroyok oleh penggemarnya. Malang sekali dirimu.”

Naeun menghela napas berat sambil mengacak-ngacak rambutnya yang sudah berantakan itu. Saat Naeun mengacak-ngacak rambutnya, Youngji tak sengaja melihat terdapat luka goresan pada pipi mulus Naeun. Sepertinya, luka goresan kuku salah seorang penggemar Myungsoo.

“Naeun-ah, sepertinya kau terluka,” ujar Youngji sambil menyentuh luka goresan di pipi Naeun diiringi ringisan pelan dari si penderita luka.

“Antar aku ke ruang kesehatan.”

>><<

Naeun memperhatikan bayangan dirinya di cermin kamar mandi perempuan di sekolahnya. Ia meraba plester yang baru saja ia pakai untuk menutup luka goresan di pipinya. Dalam hati, ia mengumpat para siswi penggemar itu yang sudah membuatnya kesal dan terluka.

“Gadis-gadis seperti itu seharusnya tidak ada di dunia ini!” umpat Naeun.

“Kapan kau akan menyerah dari Myungsoo Sunbae?” tanya Youngji.

“Menyerah bagaimana? Aku belum saja berjuang untuk mendapatkannya.”

“Berjuang? Hal gila apa lagi yang akan kau lakukan dengan sia-sia, Naeun-ah, percuma saja, dia tidak akan tertarik padamu! Lelaki pendian seperti dia tidak akan menyukai gadis sepertimu. Sepertinya dia bukan lelaki yang mudah jatuh cinta,” ujar Youngji yang terlihat lebih tahu soal karakter laki-laki dibandingkan Naeun.

“Kenapa kata-kata yang kau ucapkan selalu tidak pernah membantuku?”

Ya, Son Naeun!”

Naeun dan Youngji reflek membalikkan tubuhnya ketika suara seorang gadis yang baru memasuki toilet memanggil Naeun. Ternyata Bang Minah, gadis itu baru saja menguping pembicaraan Naeun dan Youngji.

“Bang Minah?”

“Apa kau menyukai lelaki lain selain Gikwang Sunbae?” tanya Minah dengan selidik.

“Apa maksudmu?”

“Kalian jelas-jelas sedang membicarakan Myungsoo Sunbae, kan? Siswa baru pindahan itu, benar kan? Son Naeun, apa kau menyukainya? Keurom, bagaimana dengan Gikwang Sunbae? Apa kau akan membiarkan dia? Dia begitu mencintaimu, sedangkan kau justru menyukai lelaki lain, seharusnya dia bisa menyadari bahwa gadis yang ia pilih seharusnya aku, bukanlah kau!”

“Bang Minah, aku tidak menyukai Gikwang Sunbae, tidak sedikitpun. Jadi, kau tenang saja, aku tidak akan merebutnya darimu.”

Gojitmal,” ucap Minah.

“Aku bersungguh-sungguh, Bang Minah!”

Keurom, kau harus berjanji padaku. Kau tidak akan mendekati Gikwang Sunbae lagi. Apapun yang dia lakukan padamu, kau tidak boleh mendekatinya. Arra?”

Naeun menghela napas panjang. Ia kesal. Entah harus bagaimana lagi ia menghadapi Bang Minah yang selalu menganggapnya menyukai Lee Gikwang. Padahal, jelas-jelas Gikwang lah yang mengejar Naeun.

Arrasseo,” akhirnya Naeun menjawab.

Setelah mendengar jawaban Naeun, Minah langsung berjalan meninggalkan Naeun ke luar toilet. sementara Naeun hanya memutar bola matanya karena kesal.

“Dia begitu menyebalkan. Apa dia tidak sadar bahwa hampir seluruh lelaki di sekolah ini menyukaiku? Jinjja,” ucap Naeun sambil menata rambutnya di depan cermin. “Ah, luka ini pasti membekas,” lanjutnya.

Ya, apa kau tidak sadar bahwa kau juga menyebalkan?” tanya Youngji lalu berjalan keluar toilet meninggalkan Naeun.

Ya, Heo Youngji!” panggil Naeun.

Namun percuma Youngji sudah pergi cukup jauh, sehingga ia tidak bisa mendengar Naeun. Akhirnya, Naeun pun keluar dari toilet. dan ternyata, sudah ada Gikwang di hadapannya.

“Naeun-ah, gwenchana?” tanya Gikwang.

Ne, gwechana.”

“Kudengar kau dipukuli oleh siswi-siwi kelas satu di halaman depan sekolah, apa itu benar?”

Ne.”

Aigoo, lihatlah, pipimu berdarah!”

Gwenchana, aku ke kelas dulu,” ujar Naeun seraya meninggalkan Gikwang. Ia harus bisa menghindari Gikwang agar ia tidak telibat masalah lagi dengan gadis yang bernama Bang Minah.

>><<

Sungjong berjalan menyusuri trotoar dalam perjalanan menuju rumahnya. Akhir-akhir ini, moodnya selalu jelek. Mungkinkah, karena Myungsoo tidak ada di sampingnya? Ya, mungkin saja. Sungjong benar-benar merasa kesepian tanpa lelaki itu. Sungguh, ia sudah cukup kecanduan akan sosok Myungsoo di sampingnya. Sungjong memang belum bisa meyakinkan hatinya bahwa ia mencintai Myungsoo. Hanya saja, bila ia bersama Myungsoo, ia merasa sangat nyaman.

Sungjong baru saja berniat menyebrang jalan ketika seorang gadis berseragam sma yang berbeda dengannya menghampirinya.

“Sungjong Oppa!” panggil gadis itu seraya menghampiri lalu berdiri di samping Sungjong.

Sungjong hanya menatap gadis itu dingin lalu mengalihkan pandangannya, mencoba menganggap bahwa gadis yang tengah berdiri di sampingnya itu tidak ada.

Oppa, sudah lama sekali, ya, kita tidak bertemu?” tanya gadis itu, mencoba ramah dan mencairkan suasana.

“Kau masih bisa tersenyum seperti itu?” tanya Sungjong sinis.

Gadis yang tadinya tersenyum cerah itu mendadak merubah ekspresi wajahnya menjadi kecewa. Raut kecewa itu juga bercampur dengan raut bersalah. Gadis itu benar-benar merasa bersalah. Lelaki di hadapannya bisa berubah menjadi sinis padanya adalah karena dirinya sendiri.

Oppa–“

“Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu. Aku muak mendengarnya. Jangan pernah anggap kita pernah saling mengenal.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Sungjong langsung menyebrangi jalan melalui zebra cross begitu lampu hijau pejalan kaki sudah menyala. Sementara itu, gadis dengan nama ‘Jung Yein’ yang tertera pada nametagnya, hanya bisa terdiam di tempat, menatap kepergian Sungjong dari kejauhan.

Oppa, Sungjong Oppa, jeongmal mianhae.

>><< 

Myungsoo segera membereskan alat tulis dan buku-bukunya begitu bel pulang sekolah berbunyi. Ia lalu berjaan keluar kelasnya menuju lokernya untuk mengambil tasnya. Begitu sampai, Myungsoo langsung memasukkan alat tulis dan bukunya ke dalam tas hitamnya lalu menggendong tasnya. Tepat saat ia menutup pintu lokernya, tampaklah wajah Naeun yang ternyata sedari tadi tertutup oleh pintu loker Myungsoo yang terbuka.

Mwohae?” tanya Myungsoo dingin. Naeun tersenyum lebar.

Oppa, hari ini kita pulang bersama, ya?”

“Aku tidak bisa.”

Waeyo?”

“Aku tidak bisa terus-menerus melihat wajahmu. Aku sangat membencimu. Melihat wajahmu terus, membuatku ingin muntah saja!” ucap Myungsoo sembari memalingkan wajahnya.

Naeun tercengang mendengar perkataan tajam Myungsoo. Ia tidak menyangka Myungsoo sampai ingin muntah bila melihat wajahnya, sungguh jahat. Namun, ia tidak akan menyerah. Ia akan terus berusaha untuk mendapatkan Myungsoo.

“Tenang saja, aku tidak akan mengganggumu, aku hanya ingin pulang bersamamu, boleh, kan?”

Ya, yang kau sebut pulang bersama itu adalah hal yang sangat menggangguku! Jadi, kalau kau tidak ingin menggangguku, jangan pulang bersamaku, baik hari ini, maupun seterusnya. Jangan pernah menempel padaku lagi!”

Myungsoo baru saja akan meninggalkan Naeun, namun gadis itu mengajukan pertanyaan yang membuatnya menghentikan langkahnya.

“Bagaimana dengan perjodohan kita?”

Myungsoo membalikkan tubuhnya lalu menjawab, “Masa bodoh akan hal itu, aku akan mencari cara untuk membatalkannya. Karena sampai kapan pun, aku tidak akan mau dijodohkan denganmu.”

“Apa kau begitu benci padaku? Apa salahku? Apa tidak boleh aku sekedar menyukaimu? Bagaimana bisa kau bertingkah seperti ini? Bagaimana bisa kau begitu jahat?”

“Aku? Jahat? Aku hanya mencoba menyingkirkan apa yang tidak kusukai. Apa itu yang disebut jahat? Keurom, yang pantas disebut jahat adalah kau. Kau kan sudah tahu aku tidak suka denganmu, tapi kenapa kau terus menggangguku?”

Oppa.”

“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu! Jangan menganggap kita ini sudah akrab. Nyatanya, tidak sama sekali, kan? Harus berapa kali aku menegaskannya padamu, aku tidak suka padamu!”

“Apa tidak ada sedikitpun kesempatan untukku?”

Eobseo. Karena aku sudah menyukai orang lain, dan itu bukan kau. Kau, sama sekali bukan tipeku!”

Setelah itu, Myungsoo benar-benar pergi meninggalkan Naeun seorang diri. Sementara Naeun hanya bisa terdiam menatap punggung Myungsoo yang semakin menjauh. Perlahan, cairan hangat mulai membasahi kedua pelupuknya. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada loker Myungsoo yang belum tertutup rapat. Mungkin karena saking marahnya, Myungsoo lupa mengunci lokernya.

Karena penasaran akan sesuatu, Naeun pun membuka loker Myungsoo secara perlahan. Ia lalu mulai mencari-cari hal menarik yang mungkin disembunyikan oleh Myungsoo. Dan akhirnya, ia menemukan sebuah foto. Dalam foto itu, Myungsoo terlihat sedang merangkul seorang lelaki yang kelihatannya lebih muda dengan paras yang cukup cantik untuk ukuran laki-laki. Naeun lalu membalikkan foto itu. Ternyata, ada tulisan yang tertera di sana ‘Kim Myungsoo & Lee Sungjong, Forever <3’.

Omo!” ucap Naeun terkejut sambil menutup mulut dengan salah satu tangannya.

Ia lalu kembali membalikkan foto itu. Myungsoo terlihat sangat dekat dengan lelaki di sebelahnya itu. Entah mengapa, Naeun merasa hubungan keduanya lebih dari seorang teman. Apalagi, ada tanda hati dibaik foto itu.

Maldo andwae! Seolma, Myungsoo Oppa menyukai laki-laki?”

>><<

Naeun segera turun dari taksi begitu melihat Myungsoo yang juga turun dari taksi yang berada tepat di depan taksinya. Hari ini, Naeun membuntuti Myungsoo. Ia benar-benar penasaran, kenapa Myungsoo menaiki taksi dan kenapa ia tidak langsung pulang ke rumah.

Hyung!” panggil seorang lelaki yang tengah duduk di kursi luar sebuah restoran.

Lelaki itu masih mengenakan seragam sekolah. Melihat dari seragamnya, Naeun yakin bahwa lelaki itu bukan anak sekolah di Seoul.

Ya, Lee Sungjong, apa kau membolos hari ini hanya untuk menemuiku?” tanya Myungsoo seraya menghampiri lelaki yang dipanggil Sungjong.

Naeun mendadak tertegun. Sungjong? Ia segera merogoh saku seragamnya untuk mengambil foto yang ia temukan di loker Myungsoo. Benar, ternyata Myungsoo menemui Lee Sungjong, lelaki dalam foto itu.

Bogoshipeo, aku tidak kuat berpisah denganmu lama-lama. Jadi aku naik bus untuk sampai ke sini,” ujar Sungjong.

Mianhae, ini semua karena aku. Kau jadi harus menderita seperti ini.”

Aigoo, gwenchana. Ini semua kulakukan karena aku mencintaimu.”

Naeun langsung menutup mulutnya dengan salah satu tangannya karena terkejut mendengar ucapan yang dilontarkan Sungjong. Naeun merasa dugaannya benar, bahwa Myungsoo dan Sungjong adalah sepasang kekasih. Daebak.

Nado saranghae, Sungjong-ah,” ujar Myungsoo seraya memeluk Sungjong.

Kim Myungsoo. Habis sudah kau, nasibmu ada di tanganku. Lihat saja nanti, batin Naeun sambil kembali memasukkan foto yang ia temukan di loker Myungsoo. Ia mengambil ponselnya lalu mengambil gambar adegan berpelukan antraa Myungsoo dan Sungjong.

“Lihat saja, apa yang akan terjadi bila seluruh sekolah tahu tentang hal ini, Myungsoo Oppa.”

>To Be Continued<

Seperti biasa, harap tinggalkan komentar bila ingin ff ini segera dilanjutkan^^

 

 

 

21 thoughts on “My Last (Chapter 3)

  1. Ya ampun cinta membutakan semuanya. Bahkan mereka lupan akan sakit hatinya nanti, saling menindas saling mengancam dan yang pasti akan saling menyakiti hati masing masih karna harus berbohong.

  2. Entah saya mau comment apa tntang naeun, Naeun-ku kau.. Astaga, tidak tau malu !
    Utk myungsoo yg trlalu mencintai seungjong, aissh.. Bkin bete nih myungsoo!
    Duh myungsoo, you’re so mean.

    Knp hrs TBC thor? Saya msh mau baca lagi, semoga next chap gak lama2 ya thor. Semangat trus nulisnya, good job btw.

    Anyway utk next chap sprtinya aku sdh ada gambaran, ancam-mengancam? Pertengkaran sengit lagi?

  3. Astagaa… Smga endingnya myungsso blik jdi normal/? Kwkwkw duhh ehh ga nyangka klo mislkan myungsoo bner smpe gtu.. Kyaaa.. Andweeee (╥﹏╥) fihgting thor ☆L(´▽`L )♪

  4. Jiahhh , Naeunnya knp jdi radak jahat ? Wew tpi mending Naeun bgtu agar dia bsa dpt myungsoo trs myungsoonya gk jdi gay

  5. hanjeeer, chapter ini seriusan gregeeet. saran dari teaser-chapter 3 ini, penulisannya lebih diperbaiki yaaa;-) coba baca novel-novel terjemahan deh, pasti dapet pencerahan hehe. semangat nulisnyaaa kamu<3

  6. pukul aku eoonie!!! BUAKKK!!!! Sukurinnnn tuh myungsoo.. keungkap juga rahasia elu pannn😀 Bawahawaha… senng aku bacanya😀 abis nya greget sm mereka berdua guy -,- azemmmm bangettt!!!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s