[Chapter 6] Another Cinderella Story

Another Cinderella Story

“This is not Disney’s Cinderella anymore.”

by Shinyoung

Main Cast: Bae Suzy & Lee Junho || Support Cast: Ok Taecyeon, Lee Jieun || Genre: School Life, Drama & Romance || Length: Chapter 6/? || Rating: T || Credit Poster: Jungleelovely at Poster Channel || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2015 by Shinyoung.

Chapter 6 — A Glamour High-Heel

Prologue | 1 | 2 | 3 | 4 | 5

*

Semua orang yang ada di dalam ruangan itu tampak menunggu dengan wajah cemas. Diantara semua orang, hanya Bae Seungjoon yang tampaknya sudah berkeringat dengan kening yang daritadi ia kerutkan. Wajahnya langsung berubah ketika mendengar sebuah pintu digeser.

Ketiganya bangkit dari tempat mereka dan melihat seorang dokter yang sudah keluar dengan wajah santai. Tanpa komentar lagi, Bae Seungjoon langsung berhambur ke arah si dokter dan menarik jas kerja dokter itu. Wajahnya bahkan lebih panik daripada sebelumnya.

“Ada apa dengan Suzy?”

“Ah. . .” Dokter itu tersenyum tipis. “Bukan sesuatu yang perlu Anda cemaskan soal anak Anda, Bae Suzy. Tuan Bae. . . Anak anda hanya tidak siap menerima alkohol dalam jumlah setinggi itu, bisa-bisa dia mabuk tingkat tinggi dan pingsan be—”

“Tu—Tunggu, Dokter? Apa maksudmu? Alkohol?”

Kening dokter tersebut berkerut samar, wajahnya seolah meneliti wajah Bae Seungjoon, memastikan bahwa yang baru saja didengarnya bukanlah kebohongan seorang ayah yang tidak tahu apa-apa soal anaknya. Dokter tersebut mengambil nafas dalam-dalam dan menghelanya perlahan, melipatkan dadanya di depan dada.

“Iya, Tuan Bae. Apa Anda tidak tahu bahwa minuman tersebut mengandung alkohol?”

“Ti—Tidak, setahuku sekolah tidak boleh mengedarkan minuman seperti itu, terutama hal itu sangat dilarang oleh sahabatku—ah, maksudku kepala sekolah SMA Seungri,” Bae Seungjoon bercerita.

Dokter tersebut terdiam, berpikir sejenak. Mungkin, ini pertama kalinya ia mendengarkan curhatan seorang ayah yang tampaknya sangat overprotektif pada anaknya. Padahal tidak.

Jieun sendiri memilih duduk diam menunggu kepastian sambil mencuri pandang ke arah Bae Seungjoon dan Dokter Park. Bertanya-tanya, apa yang sedang dibicarakan oleh keduanya. Tangannya daritadi tidak berhenti dikaitkan satu sama lain, seolah ia sudah gugup setengah mati.

Di sampingnya, ada Junho yang duduk diam membungkam. Tidak seperti Jieun yang mencuri-curi pandang, laki-laki itu tampaknya lebih memilih untuk mengisi jam kosongnya dengan berpikir. Di kepalanya, begitu banyak pikiran yang berlalu-lalang dan berusaha memecahkan otak Junho. Junho hanya menggelengkan kepalanya pelan dan memegangi pelipisnya.

Masih di depan ruang rawat Suzy, Bae Seungjoon bergerak gelisah. Bulir-bulir keringat sudah  memenuhi pelipisnya. Bahkan, menjalar sampai ke hidungnya. Matanya berkedut seolah ia khawatir bahwa Suzy akan pergi meninggalkannya, walaupun Dokter Park sudah mengatakan bahwa Suzy baik-baik saja.

“Aku tidak tahu, Tuan Bae,” ujar Dokter Park.

Kening Bae Seungjoon langsung berkerut samar, mencoba berpikir kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat anaknya itu meminum alkohol tersebut. Namun, ia hanya bisa mendesah berat, menyadari bahwa ia tidak akan tahu apa-apa jika ia tidak berusaha mencari tahu.

Ia pun berterima kasih pada Dokter Park, lalu beralih pada Junho. Dengan pelan, ia menepuk bahu lelaki itu dan tersenyum tipis begitu Junho mengangkat wajahnya ke arahnya.

“Begini, Lee Junho, aku ingin mencari tahu siapa yang telah berani menyampurkan minuman yang diminumnya dengan alkohol.”

Wajah Junho langsung terkejut bukan main begitu mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Bae Seungjoon. Ia bangkit dari tempat duduknya, begitu juga dengan Jieun yang tadi hanya diam saja.

“Apa yang terjadi?” tanya Junho cepat.

“Huh,” Bae Seungjoon mendecak. “Justru itu, aku juga bertanya padamu. Sebenarnya apa yang terjadi di pesta tahunan sekolah? Aku benar-benar kecewa padamu, bagaimana bisa kau membiarkan minuman berakohol terjual di sekolah Seungri? Aku pikir SMA Seungri adalah sekolah terbaik di Seoul.”

“Itu memang benar, Tuan Bae,” sahut Junho. Lelaki itu membenarkan dasinya yang mengikat di lehernya, begitu sesak rasanya, jantungnya juga ikut berdentum dengan cepat saat berhadapan dengan Bae Seungjoon. “Tapi, aku sama sekali tidak tahu bahwa minuman bubble bisa mengandung alkohol. Setahuku, minuman bubble tidak akan mengandung alkohol. Aku benar-benar minta maaf Tuan Bae, biarkan aku mencari tahu soal ini dan aku akan menemukan pelakunya.”

Keesokan harinya, ketika sekolah sangatlah sepi karena diliburkan. Tentu saja, kepala sekolah mengizinkan murid-muridnya untuk beristirahat setelah pesta tahunan yang diadakan semalaman penuh itu. Murid-murid pastilah sangat tepar setelah pesta yang berhasil membuat badan mereka remuk.

Namun lain halnya dengan para pengurus sekolah yang harus sibuk membereskan segala hal tetek-bengek yang ditinggalkan di sekolah. Seusai pesta tahunan, ratusan sampah bertebaran di aula sekolah dan juga di sekitar sekolah yang digunakan untuk puluhan stan makanan-minuman, juga perhiasan.

Orang tua murid yang juga ikut datang berhasil menambah kekacauan tersebut, yaitu dengan beberapa puntung rokok yang dibuang mereka, juga sampah-sampah bekas makanan dan minuman. Bahkan, kantung makanan atau minuman yang mereka bawa dari luar.

Seperti makanan siap saji.

Jika murid lain saat ini sedang bersantai ria di atas tempat tidur sambil membaca majalah atau juga memainkan ponsel mereka, lain halnya dengan Lee Junho yang harus membuang tenaganya demi membereskan kekacauan ini. Juga, tugas tambahan lain yang harus diembannya akibat kecelakaan semalam.

Kecelakaan semalam membuatnya tidak habis pikir. Padahal, ia sudah memeriksa seluruh makanan dan minuman yang akan dijual di sekolah nanti. Dia benar-benar yakin bahwa tidak ada minuman yang mengandung alkohol. Terutama, minuman bubble yang sebenarnya berasal dari teh.

Semalam, ia sudah menghubungi Kim Junsu yang berlaku sebagai pemilik sponsor minuman bubble tea itu. Namun, Kim Junsu benar-benar yakin bahwa ia sudah mengecek seluruh sampel dari bubble tea tersebut. Bahkan, semalam, ia juga menyempatkan dirinya untuk mengecek kembali minuman yang dijualnya. Ternyata, hanya satu minuman yang dipilih Suzy lah yang mengandung alkohol.

Bubble tea itu disediakan di dalam satu gelas yang sudah dicetak oleh perusahaan sebelum dikiriman ke SMA Seungri. Tujuannya adalah agar pembeli tidak harus menunggu minuman tersebut lebih lama dan dapat menerimanya secara instan. Pelayan yang bertugas menjaga juga mengaku bahwa ia tidak tahu menahu soal minuman itu, ia hanya mengambilnya secara acak seperti yang disediakan oleh perusahaan dan memberikannya pada Suzy ketika gadis itu mampir.

Pada akhirnya, Junho masih terjebak di sekolahnya saat ini.

“Lee Junho!”

Junho membalikkan badannya setelah memungut sebuah gumpalan kertas bekas makanan siap saji dan memasukkannya ke dalam kantung plastik hitam besar yang dibawanya daritadi untuk menyimpan kumpulan sampah. Ditemukannya Jang Wooyoung yang membawa-bawa laptopnya ke mana saja.

Aish, kalau kau mau nanya soal Jieun, aku tidak punya waktu untuk itu.”

“Siapa juga yang mau menanyakannya,” tukas Wooyoung kesal. Laki-laki itu mengecek kembali sebuah secarik kertas yang ada di dalam genggamannya dan menatap Junho sekilas, kembali pada kertas dan lagi-lagi menatap Junho. “Baiklah, karena kau tampaknya dapat dipercaya, kau harus menyimpan sepatu hak tinggi yang tertinggal, aku tidak tahu itu punya siapa, tapi harganya mahal.”

Junho menghentikan aktifitasnya dan beralih pada Wooyoung. Ia menaikkan alisnya. “Eh? Sepatu hak tinggi? Memangnya siapa yang mau meninggalkan sepatunya? Semua orang pasti pulang dengan sepatu mereka dan—”

“Ya, intinya, jangan banyak tanya lagi, cepat cek saja di samping gedung sekolah. Aku tidak mengerti dengan gadis sekarang, apa mereka mau cerita mereka berakhir seperti Cinderella dengan menginggalkan sepatu—”

Mendadak, Wooyoung menepuk bahu Junho sekeras mungkin dan berhasil membuat laki-laki itu meloncat akibat pukulan itu. Junho lantas mendecak kesal dan menatap Wooyoung bingung.

“Ada apa, sih? Kau tidak harus memukulku, Jang Wooyoung.”

“Ini benar-benar hebat! Website sekolah pasti langsung ramai!”

Tanpa menjelaskan apapun lagi, Wooyoung langsung berlari meninggalkan Junho sendirian. Junho sendiri hanya mendesah berat lalu berjalan menuju sisi gedung sekolah dimana ia harus menemukan sebuah sepatu berhak yang berharga diatas rata-rata, menurut Wooyoung tadi dan menyimpannya.

Matahari terik tengah menerjang masuk ke dalam kamar tersebut saat jam di dinding menunjukkan pukul 1 siang. Sambil menghirup secara perlahan, ia menggerakkan jari-jarinya. Hidungnya langsung merespon begitu mencium wangi obat-obatan. Ia mengerjapkan matanya, penglihatannya masih buram, dan ia memilih untuk menunggu sebentar. Setelah yakin bahwa penglihatannya baik-baik saja, ia berusaha bangkit.

Disadarinya bahwa ia kini berada di dalam sebuah kamar rawat inap.

Lagi-lagi, ia mengerjap dan melirik ke sekitarnya, kemudian mendapati ayahnya yang tengah tertidur di atas sebuah sofa dan juga Tiffany yang tengah tertidur pulas disamping tempat tidurnya. Ia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi semalam sehingga ia harus dilarikan ke rumah sakit.

Namun, kepalanya langsung berdenyut begitu bekerja.

Ia pun menggelengkan kepalanya. Secara hati-hati, ia melepaskan infus yang menempel pada pergelangan tangannya. Gadis itu menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit yang menjalar ke dalam tangannya begitu jarum infus tersebut terlepas. Karena tak mau membangunkan orang-orang, ia pun turun dari sisi tempat tidur yang satunya, dan menggunakan sandal rumah sakit yang terletak di bawah tempat tidur.

Sebelum melangkah keluar dari kamarnya, ia menyambar ponsel dan juga dompet miliknya yang rupanya ada di dalam tas Tiffany. Ia pun keluar dan menutup pintu ruang rawat inapnya. Setelah memastikan bahwa tidak ada siapapun yang berusaha untuk menghentikan aksinya, ia pun segera bergerak menuju lift.

Ia menyangka bahwa perjalanannya akan lancar-lancar saja, namun rupanya seorang laki-laki justru menahan tangannya tepat sebelum ia memasuki lift tersebut. Hampir saja, pintu lift merenggut nyawanya kalau laki-laki itu tidak menariknya tepat waktu. Setelah menariknya, keduanya ototmatis terjatuh dan gadis itu berhasil menimpa si laki-laki yang menyelamatkan nyawanya.

Perlahan, gadis itu membuka matanya dan mendapati Junho yang tengah meringis pelan akibat tindihan badannya. Cepat-cepat Suzy bangkit dari tempatnya dan menepuk-nepuk piyama rumah sakit yang masih dikenakannya.

Ya! Apa yang kau lakukan disini?” tanya Suzy kesal ke arah Junho.

Junho mengerjap dan terduduk disana sambil menatap Suzy malas. “Justru, seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Bae Suzy. Sedang apa kau jalan-jalan sendirian? Jelas-jelas, kau masih menggunakan baju rumah sakit. Pasien dilarang jalan-jalan ketika ia masih diinfus.”

Suzy melirik tangannya yang ternyata menunjukkan bekas diinfus, ia pun mendengus kesal karena kebodohannya. “Aku hanya ingin cari udara segar, lagipula untuk apa aku ada di rumah sakit ini, seingatku—aku masih baik-baik saja,” katanya ragu.

Cih, kau baik-baik saja?” Junho menatapnya dengan remeh.

“Tentu saja, aku baik-baik saja!”

“Coba biar aku cek sejenak—” Junho menempelkan telapak tangan kanannya ke arah kening Suzy dan langsung membuat gadis itu melangkah mundur. Laki-laki itu tersenyum tipis dan berkata dengan santai, “memangnya kau tidak tahu apa yang terjadi denganmu kemarin? Kau pingsan karena kau minum bubble tea yang mengandung alkohol, tahu.”

Otomatis, kedua mata Suzy langsung melebar dua kali lipat. “Apa?! A—”

Junho menarik gadis itu ke arah ujung koridor yang mengarah pada balkon rumah sakit. Disana tidak ada siapa-siapa dan Junho sengaja memilih tempat tersebut daripada harus melihat orang-orang melirik ke arah mereka dengan pandangan tidak suka akibat terikaan Suzy.

“Untuk apa kita kesini?” tanya Suzy.

“Suaramu terlalu keras dan kau membuat orang-orang berpikir bahwa aku tengah memarahimu,” jelas Junho sambil memutar bola matanya.

“Terus, kenapa bubble tea yang aku minum itu mengandung alkohol?!”

“Mana aku tahu! Makanya aku harus mencari tahunya dulu, Nona.”

Sekarang giliran Suzy yang memutar bola matanya, kemudian ia meninggalkan Junho, namun laki-laki itu menahannya lagi. Suzy pun berbalik dan menatap Junho bingung, meminta penjelasan.

“Ada apa lagi, Lee Junho?”

“Kau harus kembali ke kamarmu, sini biar aku antar.”

Suzy mendengus. “Aku bukan anak kecil, aku bisa ke sana sendiri. Sudahlah, kau pulang saja, lagi pula aku tidak membutuhkanmu disini, memangnya kau mau apa disini? Menungguku sampai aku kembali ke rumah?”

Junho terkekeh pelan. “Arasseo, kau kembalilah ke kamarmu. Aku bukan mau bertemu denganmu, aku ingin bertemu dengan ayahmu, ada sedikit yang harus aku bicarakan dengannya.”

“Dia ada di kamarku dan untuk apa kau berbicara dengannya?”

“Memangnya ini urusanmu?”

Suzy pun mendesis kesal, lalu melangkah pergi meninggalkan Junho menuju kamarnya. Sedangkan Junho sendiri hanya bisa tertawa melihat tingkah laku Suzy yang menurutnya kekanakan itu.

Sekolah sudah kembali berjalan seperti biasanya, namun murid-murid pagi ini lebih heboh daripada biasanya. Baik Jieun, maupun murid-murid yang lainnya membuka gadget mereka untuk mengecek halaman website sekolah yang rupanya menggemparkan sekolah.

Artikel baru yang ditulis oleh Wooyoung lagi, berhasil menarik ribuan pengunjung untuk melirik sejenak artikel tersebut. Bagaimana tidak, tentu saja semua orang kini membicarakan sebuah sepatu hak yang tertinggal di pesta tahunan sekolah. Mengapa begitu heboh?

 


 

Seungri Daily Times, 5 June 2015

SUPER BREAKING NEWS: Another Cinderella Story?

Siapa yang menyangka bahwa seorang murid yang tak diketahui identitasnya, telah meninggalkan sebuah sepatu berhak dengan harga yang sangat tinggi? Ini tentu saja ada di SMA Seungri! HANYA di SMA Seungri! Lagipula, apa gadis itu berharap bahwa ceritanya akan berhakhir seperti Cinderella?

Bagi, siapapun yang meninggalkan sepatu berhak ini dengan sengaja atau tidak sengaja, mohon menghubungi ketua murid SMA Seungri, Lee Junho. Dibawah juga ada foto dari sepatu tersebut! [Jang Wooyoung]

FEATURES:          School-party | Cinderella | A-Left-High Heel | June

WHOSE HIGH HEEL IS THIS?

 


 

Suzy baru saja tiba di sekolah dan ponsel terbarunya itu terus bergetar mendapatkan notifikasi. Sejak malam pesta tahunan tersebut, nomor Suzy tersebar luas, entah bagaimana caranya. Gadis itu mendapat undangan grup sekolah, grup murid-murid terkenal, grup murid-murid belajar, dan yang lainnya. Intinya, dia hanya tidak mau dianggap sombong, jadi ia langsung menerima semua grup tersebut.

Setelah ikut menjadi anggota dari website sekolah, notifikasinya ikut bertambah. Sambil melangkah menuju kelasnya, gadis itu mengecek satu persatu notifikasi yang berhasil membuat ponselnya terus bergetar.

Pikiran gadis itu sebenarnya dibagi dua, antara sepatu haknya yang hilang dan juga kabar Taecyeon yang belum menghubunginya. Lelaki itu entah kemana semenjak malam tersebut. Gadis itu juga tahu bahwa Junho lah yang membawanya ke rumah sakit ketika gadis itu pingsan tiba-tiba.

“Lupakan hal tersebut,” gumamnya sambil membuka website sekolah.

Namun, matanya langsung melebar dua kali lipat begitu membaca artikel utama yang terpasang di website sekolah. Ia melirik ke arah sekitar, pantas saja seluruh murid hari ini tampak sibuk dengan gadget mereka. Begitu tiba di kelasnya, ia langsung duduk di tempatnya dan Jieun pun menghampirinya.

“Suzy, ikut aku!” desisnya sambil menarik gadis itu keluar kelas.

Beberapa pasang mata melirik mereka dengan pandangan ingin tahu, namun tampaknya mereka tidak tertarik begitu Jieun bertingkah seolah tak ada apa-apa yang terjadi diantara keduanya.

Ketika keduanya sudah tiba di atap sekolah, Jieun pun menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Suzy menatapnya bingung, namun tampaknya ia sudah tahu begitu Jieun hendak mengeluarkan ponselnya. Jieun menunjukkan artikel yang baru saja dibacanya ke hadapan Suzy.

“Kau sudah baca ini?”

“Sudah,” aku Suzy pelan sambil menyisir rambutnya ke belakang.

“Aku tidak percaya bahwa kau bisa meninggalkan sepatu hakmu disana!”

Dengan malas, Suzy mengangkat bahunya. “Aku juga tidak mengerti kenapa kau yang heboh padahal aku lah yang mengalami hal ini. Memangnya seluruh murid di sekolah ini membicarakan sepatu hak milikku?” tanya Suzy.

Jieun menganguk dengan semangat, seakan ia yakin bahwa seluruh murid di SMA Seungri membicarakan artikel tersebut. “Kecuali Lee Junho, aku yakin. Yang membuatku heboh adalah, apa kau yakin kau akan menghampiri Junho dan mengaku bahwa sepatu hak tersebut adalah milikmu? Memangnya kau yakin bahwa Junho tidak akan membeberkan rahasia ini?”

Suzy menepuk keningnya bahwa ia melewatkan hal tersebut. Ia pikir semuanya akan berjalan lancar-lancar saja jika ia menghampiri Junho dan meminta sepatu haknya itu. Ia pikir semua akan berjalan mulus, namun ia lupa bahwa Junho bisa saja memberitahu kepada semua orang bahwa Suzy telah meninggalkan sepatu haknya.

Betapa cerobohnya Suzy. Terutama, jika ternyata sepatu hak tersebut tertinggal karena ia pingsan setelah meminum bubble tea yang mengandung alkohol itu. Semuanya bisa menjadi kacau apabila berita yang semula baik-baik saja menjadi buruk di mulut murid-murid SMA Seungri.

Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak mau membayangkan apa yang akan terjadi nanti jika ia tidak mengatasi masalah itu.

“Bagaimana jika aku saja yang mengambil sepatumu itu?” tawar Jieun.

“Jangan!” tukas Suzy cepat. “Begini, Jieun, aku yakin Junho tidak akan menyerahkan sepatu mahal itu pada siapapun. Dia pasti ingin kau mencoba sepatu hak itu. Lagipula, saat kemarin kita membelinya, ukuranmu jauh lebih kecil daripada milikku, bukan? Aku ingat sekali.”

“Oh, iya,” ujar Jieun sambil manggut-manggut. “Lalu bagaimana?”

“Aku. . . Aku tidak tahu, kita bisa pikirkan hal tersebut nanti.”

“Baiklah, setidaknya jika kau membutuhkan bantuanku, panggil aku langsung.”

Suzy menganggukkan kepalanya ragu. Ia menggigit bibir bawahnya dan berkata dengan pelan, “kalau saja Wooyoung tidak menulis artikel itu. Dasar laki-laki bawel, dia senang sekali membuat sekolah heboh.”

 “Tampaknya kau sedang sendiri, Suzy-ssi.”

Suzy langsung membalikkan badannya dan mendapati Taecyeon yang sudah melangkah dengan wajah lamanya—bukan seperti yang kemarin yang Suzy tahu. Laki-laki itu kembali menjadi Taecyeon yang senang menindas. Suzy tidak tahu apa alasannya laki-laki itu sering berubah-ubah.

Huh,” Suzy mendengus dan kembali membalikkan badannya, menatap lurus ke arah lapangan sekolah yang begitu luas dan di kelilingi oleh gedung sekolah. “Seperti yang kau lihat, aku memang sendiri, bukan?”

“Baiklah,” ucap Taecyeon sambil berdiri di sampingnya. Laki-laki itu meminum air mineral yang berada di dalam botol kemasan itu dan menyimpannya di dalam kantung celananya begitu selesai. “Jadi, kemana kau malam itu? Kau tiba-tiba menghilang dari peredaran dan aku tak bisa menemukanmu.”

“Memangnya kau peduli denganku?” tanya Suzy kembali.

Taecyeon tertawa riuh rendah. “Aku? Mempedulikanmu? Tentu saja. Mana mungkin aku tidak bisa mengkhawtirkan seorang gadis cantik sepertimu.”

Sunyi langsung menjawab setelah Taecyeon berkata seperti itu. Suzy pun mencoba diam dan tetap menatap ke arah lapangan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, bahkan ia berusaha untuk tidak bergerak. Walaupun ia memang sudah berusaha, rasanya seperti tubuhnya membeku untuk pertama kalinya.

Inilah yang tidak pernah Suzy rasakan sebelumnya. Merasakan jantungnya berdebar dengan cepat dan juga merasakan aroma parfum laki-laki. Selama tinggal di panti asuhan, lelaki lebih menganggapnya sebagai gadis yang tidak tahu apa-apa, sehingga ia dijauhi oleh siapapun.

Suzy akhirnya memilih untuk berdeham pelan. “Sebaiknya aku kembali ke kelas. Sebentar lagi bel masuk akan berdering.”

“O—Oke, baiklah,” jawab Taecyeon akhirnya dan membiarkan Suzy pergi begitu saja meninggalkannya, memasuki ruangan kelasnya yang tak jauh dari tempat mereka berbicara tadi.

Sebelum Taecyeon sempat melangkahkan kakinya, sebuah tepukan yang cukup kencang, langsung menghentikannya. Taecyeon pun menolehkan kepalanya dan mendapati Junho yang sudah menatapnya dengan pandangan tajam.

“Kau menindas murid lagi?”

Taecyeon mendorong tangan Junho yang masih menempel di bahunya. “Ada masalah jika aku menindas murid-murid remehan itu?” Taecyeon menaikkan alisnya dan membenarkan kerah pakaiannya. “Sebaiknya kau tutup mulut apabila kau tidak mau menjadi korban selanjutnya dan aku tidak main-main, Lee Junho.”

“Kau yang seharusnya tutup mulut,” Junho mendesis marah. Matanya berkilat-kilat seperti ingin membunuh pemuda di hadapannya. “Kuharap kejadian itu adalah kejadian terakhir yang kau lakukan pada murid-murid karena aku tidak akan segan-segan melaporkanmu pada ayahmu dan segera mengeluarkanmu dari sekolah ini.”

“Cih,” Taecyeon tertawa remeh ke arah Junho. “Kau hanya bisa main lapor dengan ayahku itu.”

Setelah itu, Taecyeon langsung melangkah pergi meninggalkan Junho. Sebelum ia benar-benar meninggalkan si Ketua Murid, ia berbalik dan berkata pada Junho dengan suara yang dikeraskan, “jika aku dikeluarkan, maka aku akan kembali ke sekolah ini tanpa peduli pada siapapun dan aku tidak akan segan-segan menghancurkan kehidupanmu, Lee Junho.”

Taecyeon pun melangkah pergi dengan angkuhnya dan beberapa murid sempat membungkam mulut mereka begitu mendengar perkataan Junho. Meskipun Junho tidak takut, di lubuk hatinya, ia tetap merasa waspada mendengar ancaman Taecyeon. Selama yang ia tahu, ketika Taecyeon mengatakan sesuatu yang berbau ancaman, biasanya laki-laki itu akan menepati janjinya.

Jadi, jika laki-laki itu ingin menghancurkan kehidupan Junho, maka Junho seharusnya waspada dengan perkataan Taecyeon.

Sepulang sekolah, seluruh anak langsung berhambur keluar layaknya para korban penyiksaan akibat dikurung terlalu lama di sekolah. Namun, kalimat tersebut mungkin berlebihan, mungkin juga tidak karena tampaknya wajah mereka langsung segar begitu keluar dari kelas.

Kecuali, murid-murid kelas 3 yang mulai mendapatkan jam tambahan untuk melatih diri mereka agar dapat melanjutkan ke universitas yang ternama. Meskipun, mereka semua tentu saja dapat memasuki universitas yang baik dan dapat melihat masa depan yang cerah, guru-guru tetap memberlakukan hal tersebut.

Berbagai keluhan muncul diantara mulut-mulut murid senior. Mencoba kabur dari jam pelajaran tambahan, namun selalu gagal karena mereka semua dijaga ketat oleh para penjaga sekolah dan Guru Kang. Meskipun begitu, beberapa murid juga terpaksa mengikuti kemauan guru-guru yang rupanya didukung oleh orang tua murid.

Sedangkan itu, Jieun sendiri baru saja membereskan tasnya. Ia menghampiri Suzy yang sibuk dengan ponselnya.

“Suzy-ya, kau mau pulang atau tidak?”

“Aku tidak tahu, aku harus pergi ke ruangan Junho dulu untuk memastikan bahwa laki-laki itu tidak berusaha mencari tahunya dulu. Aku tidak mau dia tahu duluan, lebih baik aku memberitahunya.”

Jieun langsung tertawa terpingkal-pingkal begitu mendengar jawaban Suzy. Menyadari pandangan tajam dari Suzy, gadis itu segera menghentikan gelak tawanya dan menatap Suzy dengan perasaan bersalah.

“Maaf, ya, tapi serius, aku benar-benar tidak bisa membayangkan wajah Junho begitu mengetahui bahwa kau lah yang meninggalkan high-heel itu.”

“Terserah kau saja. Yang pasti aku tidak akan membiarkan dia mengetahuinya sebelum aku menyatakannya padanya.”

Jieun pun bertepuk tangan lalu mengacungkan jempol ke arahnya. “Bagus, kau memang gadis paling berani yang pernah ada dan kalau ada apa-apa bilang saja padaku. Aku pasti akan langsung datang membantumu. Sekarang, aku mau pulang dulu, masih ada banyak pekerjaaan yang harus aku lakukan.”

Suzy mengangkat bahunya. “Terserah, aku mau kesana dulu.”

Setelah itu, keduanya langsung berpisah dan Suzy segera menyandang tasnya ke atas bahunya dan mengambil langkah seribu agar bisa lebih cepat tiba di ruangan Junho yang berada di dekat ruang guru.

Begitu tiba di depan ruangan Junho, gadis itu langsung merapikan rambutnya. Ia berdiri disana dan membaca nama Junho yang tertempel di depan pintu putih tersebut. Sebelum mengetuk pintu, gadis itu berdeham sebentar.

“Masuk,” kata suara di dalam yang bisa dipastikan milik Junho.

Suzy langsung menarik gagang pintu ruangan itu dan mendorongnya ke dalam. Ia melihat Junho yang tengah sibuk menatapi sepatu hak miliknya sambil mencoba menelitinya. Mata Suzy pun langsung membulat dua kali begitu melihat laki-laki itu sedang meneliti sepatunya.

Junho mengangkat wajahnya. Ketika mendapati Suzy, ia langsung meletakkan sepatu hak yang dipegangnya. Ia menyenderkan tubuhnya dan menunjuk ke arah sofa yang ada di dekatnya—mengisyaratkan agar Suzy duduk disana.

“Ada apa?”

“U—Um, aku. . .”

“Katakan saja. Kau sudah menemukan orang yang memberimu racun?”

Suzy menggeleng pelan dan sebentar-sebentar melirik ke arah sepatu hak miliknya yang terletak di atas meja kaca di hadapannya. Gadis itu menggerakkan otaknya, memikirkan jawaban yang akan diberikannya untuk Junho. Bagaimana bisa ia segampang itu mengucapkan bahwa ia akan mengambilnya dari Junho.

“Ada apa?” tanya Junho lagi.

“Uh, itu. . . Itu sepatu hak milikku.”

“. . .”

Junho pun terdiam lama, ia mengambil sepatu hak tersebut dan tersenyum tipis. Suzy menatapnya heran. “Kenapa justru kau yang mengambilnya? Seharusnya kau mengembalikannya padaku, Lee Junho.”

“Ah. . . Kalau kau memang mau itu, aku bisa memberikannya. Namun, aku akan menyebarkannya pada seluruh murid di sekolah bahwa kau lah yang meninggalkan sepatu hak bermerek ini dan mereka akan mengira bahwa kau telah melakukan sesuatu yang menarik perhatian alih-alih ingin terkenal.”

“Apa?!” Suzy melotot ke arah Junho dengan marah. “Aku benar-benar tidak tahu bahwa sepatu hakku tertinggal begitu saja! Kau juga tahu kan bahwa aku mabuk alkohol akibat minuman sialan itu.”

“Baiklah, aku tidak akan mengatakan hal itu pada murid-murid.”

Suzy menghela nafas lega. Namun, rupanya mimpi buruknya belum selesai karena Junho semakin tersenyum dengan misterius. Nampaknya, laki-laki itu senang membuat Suzy kesal.

“Tapi, aku mau kau melakukan 15 hal.”

“Kau gila?”

Kali ini, nafas Suzy semakin cepat dan jantungnya berdegup kencang. Rasanya seperti ia baru saja menyelesaikan maraton berulang kali akibat pernyataan laki-laki itu. Toh, sebenarnya bukan masalah jika ia tidak mendapatkan sepatu haknya. Namun, yang menjadi masalah adalah apabila Junho menyebarkan cerita yang bukan-bukan pada murid SMA Seungri.

Itu adalah masalah karena ayahnya adalah Bae Seungjoon.

Dia tidak mau membuat ayahnya merasa sedih akibat apa yang telah diperbuatnya. Bukan hanya sedih, namun ia membuat reputasi ayahnya menjadi buruk. Terutama, seseorang bisa saja menyebarkan bahwa Suzy dulunya adalah anak yang dibuang ke panti asuhan.

“Bagaimana? Jadi kau pilih disebarkan atau melakukan 15 hal itu?”

Suzy menarik nafas dalam-dalam seolah apa yang telah dipilihnya adlaah hal terburuk yang pernah ada. “Baiklah! Aku akan melakukan 15 hal yang kau minta itu. Tapi, aku minta satu syarat untukmu.”

“Apa itu?”

“Aku tidak mau kau meminta hal yang bukan-bukan.”

“Tenang saja, ini bukan hal yang terkait dengan hal-hal semacam itu,” kata Junho tenang, setenang mungkin. Lalu, ia meletakkan sepatu hak milik Suzy di atas meja. “Ambil itu dan mulai detik ini juga aku akan menggunakan satu kupon 15 hal. Jadi, aku harap kau tidak terkejut.”

“Saat ini juga? 15 kupon?”

Junho mengangguk dan berdiri. Ia berjalan menuju mejanya dan mengambil sebuah kertas, juga gunting. Entah bagaimana caranya, dalam waktu singkat ia telah membuat 15 kertas potongan kecil yang bertuliskan ‘Kupon 15 Hal’ dan di bawahnya tertera sebuah tulisan kecil yang tak dapat dimengerti oleh Suzy yaitu ‘SJ’.

“Apa ini SJ?”

“Nanti juga kau tahu setelah semua 15 hal itu kau lakukan,” kata Junho dan mengambil salah satu kupon. “Ini.” Laki-laki itu menunjukkan kuponnya. “Aku menggunakan satu kupon yaitu aku meminta kau untuk menjadi wakilku sampai masa jabatanku selesai yaitu dalam waktu 3 bulan.”

 

To be Continued

February 1, 2015 — 01:00 P.M.

::::

a.n: SERIUSAN, AKU MINTA MAAF BANGET! INI HAMPIR SEBULAN DAN AKU BARU UPDATE. AKU MINTA MAAF BANGET BUAT READERS KU TERSAYANG:((

Jujur, semasuk sekolah baru satu bulan, rasanya aku kayak dicekek sama tugas dan pr. Baru masuk satu bulan aja udah kayak gini. Aku gak kuat, tapi gapapa sih daripada dapet sekolah jelek gabut mulu dan guru gak pernah masuk wkwk. Ya, intinya, maaf sekali. Begini, jadi aku sekolah itu dari Senin-Jumat, nah pulangnya itu jam set5, set4, dan set3. Senin sama Rabu itu aku selalu les dulu sampe set7. Setiap hari selalu aja ada pr dan tugas jadi gak sempet buat nulis. Kalaupun sempet, aku cuma nulis beberapa potong kata doang. Aku gak mau sampe bikin kalian kecewa sama aku, udah nunggu lama akhirnya jelek. Lebih baik aku nulis pelan-pelan tapi bagus daripada cepet-cepet akhirnya jelek.

Jadi, ya, gitu. Wajarin aja kalau aku update nya lama. Serius deh. Minggu depan itu baru aku dapet minggu tenang, super tenang menurut aku. Itu pertama kalinya dalam satu minggu pr itu cuma 3. Biasanya semua pelajaran full sama pr dan tugas dan ulangan. Sorry, jadi curhat, aku cuma mau kasih tau doang. Daripada terjadi kesalah pahaman;—; Makasih banyak buat readers yang masih setia menunggu sampai akhir cerita ini.

Sekali lagi, jangan lupa komentar, likes, atau feedback-nya. Aku kerja keras buat ff ini. Makasih!♥♥♥

38 thoughts on “[Chapter 6] Another Cinderella Story

  1. Kira2 siapa yg ngsih alkohol k suzy? Hmmm junho ngerja’in suzykah dngan 15 kupun. Apa sj itu? Dah gk sbar siapa yg ngsih alkohol suzym klau ktahuan apakah appa suzy akan bertindak?

  2. ciee updatenya pas ulang tahun gue nih…

    keren. keren serius. penasaran sama 15kuponnya. cuma…taec rada brutal ya?:/

  3. Wah daebak.. siapa yg ngasih alkhohol diminuman Suzy Oennie ? 15 permintaan ?..
    Suzy Oennie mulai suka sama Taecyeon kha ?
    aihh penasaran…
    ah lupa kenalan. hehehe..
    Annyeong authornim.. iris imnida, saya reader baru disini..
    izin baca FF2 nya ya..😀
    FF nya bagus, ditunggu next partnya ya author😀

  4. yah.. akhirnya update juga.. thor, moment nya junho suzy banyakin yah thor.. next chap ditunggu^^
    ps: jangan lama lama.. hehe

  5. author sibuk bgt yaa, lebih sibuk dari anak kls 3. Tapi pas bgt loh, kamu update pas aku udah rada free. memuaskan bgt sama chapter ini, meskipun nunggunya sampe bulukan gini :’))
    “merasakan jantungnya berdebar dengan cepat…” jangan bilang kalo suzy suka sama taec :3 penasaran sama 15 hal yg di kasih junho ke suzy. Ditunggu thor chapter selanjutnya😀 lama juga gpp dh, biar jln ceritanya makin mateng hihi

    • huahahaha iya banget:’)) sedih sekolah di sekolah aku mah. waaah, terhura makasih yaa udah nungguin sampe bulukan:v maaf wkwk.

      suzy suka sama taecyeon gak yaa? hihi. sipsippp, makasih yaaaa<3

      • aku ke sindir loh thor, guru di sekolah aku jarang masuk k kelas :3

        ga boleh suka, soalnya taec sukanya sama aku (?) iya samasama❤ kalo bisa sh update nya ntar aja udah kls 3 un *kelamaan yaa, kasian readers yg lain x)

      • maaf ya gak maksud huahaha</3 soalnya, ntar pas kuliah pasti kita yang ngejar dosen bukan dosen yang ngejar kita kayak di sekolah hehe;-)

        update nya lama? eheehe, gak ada rencana mau ngetik lama-lama soalnya lagi minggu tenang nih jarang ada tugas dan pr wkwk.

  6. Finally , setelah penantian yg ckup panjang akhrnya d next juga…uda lmyan bnyk junzy moment tapi msh blm bsa ketebak prsaan suzy’y, wlpyn brhrp ‘y sma nuneo ku..hhe.fighting authornim!!!

  7. lol tp lucu aja ternyata dia pingsan karna alcohol intollarance haha dipikir sakit lumayan parah gitu hehe udh panik aja
    uooo.. suzy bereaksi segitunya taecyeon~
    wkwkwk disuruh jd wakil, mampus dah suzy wkwk kupon pertama aja begitu gmn kupon2 berikut nya haha
    semangat thooooor nulisnya ^^

    • wkwk, itu karena suzy baru pertama kali minum alkohol dan kadar alkoholnya cukup tinggi disitu:v wkwkwk. makasih banyak udah baca, komentar, dan semangatnya!<3 siaaap!

  8. akhirnya posting juga :))
    jadi suzy pingsan gara-gara bubble tea-nya ada alkoholnya .-. yg ngasih alkohol siapa ya, masak junho -.-
    trus itu sepatunya suzy pake ketinggalan berasa cinderella wkwk sepatunya bagus banget btw #pengenpake
    junho lucu ngasih suzy kupon berasa itu kupon spesial paket hemat makanan xixi ^^
    cepet dilanjut yaa, udah penasaran to the max .
    btw, semangat juga sekolahnya ^^

  9. Sipa yg udah ngasih alkohol ya???
    Loh loh octaeck balik lg jd penindas??? Knppp wadohhh ada perang ne kayanya

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s