(THE RED BULLET) BROTHER [Prolog]

NEW11

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: Family, Crime, Tragedy, Drama||Disclaimer: I own nothing but storyline||A/N: Maaf ya, untuk casts-nya saya rahasiakan dulu di chapter ini… hehe. Tapi, dari judulnya, mungkin kalian sudah bisa menebak FF ini memakai casts utama dari boygrup apa. Untuk admin, maaf saya tidak mencantumkan tag casts yang dipakai di FF ini, tapi hanya di chapter ini saja kok admin-ssi. Biar misterius/? gitu. Gapapa, ya?

“Seseorang yang disebut saudara bukan hanya dia yang lahir dari orangtua yang sama denganmu, tetapi orang yang selalu berada di sisimu, melindungimu dan berkorban untukmu, tidak peduli kau punya hubungan darah dengannya atau tidak.”

HAPPY READING \(^O^)/

Langit terlihat begitu polos. Tidak ada awan yang tampak, benar-benar hanya langit biru yang membentang di atas sana. Matahari bersinar cerah. Burung-burung berterbangan menghiasi langit, namun ada juga yang bertengger pada ranting-ranting pohon, bersiul-siul merdu.

Suara tawa riang terdengar menyenangkan di halaman belakang sebuah panti asuhan di Ilsan. Anak-anak yang berusia sekitar 3 hingga 7 tahun berada di sana, bermain-main seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh anak-anak seusia mereka. Yang laki-laki tampak asik bermain bola, memanjat pohon atau sekedar berlarian mengelilingi halaman. Sedang yang perempuan tampak lucu bermain masak-masakan, bermain boneka atau jahil memetik bunga-bunga aster yang ditanam pengurus panti di sana.

Tidak jauh dari taman belakang, tepatnya di dalam bangunan panti, berdiri 3 orang yang memandang anak-anak dari balik jendela. Satu di antara mereka adalah Nyonya Moon, wanita 52 tahun yang berbaik hati mendirikan tempat ini untuk menampung anak-anak yang orang tuanya telah meninggal atau… orang tua yang menelantarkan mereka. Sementara 2 orang lainnya adalah sepasang suami-istri yang… berniat untuk mengadopsi salah satu dari sekian anak yang berada di sana.

“Mereka semua terlihat menyenangkan, Yeobo~” Sang istri menoleh pada lelaki yang tampak berwibawa di sebelahnya. Senyum jelas terpancar di wajah yang telah dihiasi garis-garis penuaan di beberapa bagian.

“Ya. Kau benar,” suaminya menyahut.

“Mereka semua anak-anak yang baik,” kata Nyonya Moon. Dan, tidak lama, mereka bertiga melihat seorang anak lelaki yang merebut boneka Barbie dari seorang anak perempuan, “Ya, walau pun ada juga yang sedikit nakal,” Nyonya Moon melanjutkan, “namanya juga anak-anak.”

Sepasang suami istri itu, kembali fokus pada anak-anak yang bermain-main di belakang. Sang istri tampak yang paling antusias. Wanita 33 tahun itu memang sangat ingin memiliki anak, namun sayang… 8 tahun usia pernikahannya, ia tidak juga dikaruniai sosok bayi mungil di tengah-tengah ia dan suaminya. Pernah, 4 tahun yang lalu ia hamil, tapi… kandungannya tidak bertahan. Malang, ia keguguran. Dan setelah itu, ia tidak pernah hamil lagi.

“Eum, Nyonya Moon,” sang istri memanggil, Nyonya Moon menoleh, “anak laki-laki yang di sana,” sang wanita menunjuk ke arah seorang anak laki-laki yang duduk sendiri di bangku, tidak bisa bermain karena kaki kanannya di-gips, “siapa namanya?”

Nyonya Moon melihat ke arah yang ditunjuk oleh wanita itu—begitu pun suami sang wanita. Nyonya Moon pun menceritakan tentang siapa dan bagaimana anak itu bisa berada di panti ini, juga alasan mengapa kakinya di gips. “Minggu lalu dia terjatuh dari pohon. Kakinya terkilir, karena itu di-gips.”

Sang wanita pun menoleh ke arah suaminya dan berkata, “Aku menyukai anak itu, Yeobo. Bagaimana kalau… dia saja yang kita adopsi?”

“Sebaiknya kau mengenal anak itu lebih dulu. Jangan terburu-buru mengambil keputusan,” kata sang suami bijak. Nyonya Moon pun berkata demikian.

Sang istri pun meminta ijin untuk menemui anak laki-laki itu di sana. Nyonya Moon mengiyakan. Dan, tanpa menunggu lagi, wanita itu mendekati anak yang hanya duduk diam di bangku taman, menemani anak itu berbicara, bahkan terlihat tertawa bersama. Entah lelucon apa yang diceritakan oleh wanita itu.

Sementara itu, di sebuah ruangan, Nyonya Moon dan suami wanita tadi duduk saling berhadapan, di antarai sebuah meja kayu berwarna cokelat. Di atasnya, ada beberapa lembar dokumen, termasuk foto seorang anak. Anak yang kakinya di-gips.

“Seperti yang sudah saya katakan tadi, Tuan, dia masuk ke panti asuhan ini 2 tahun yang lalu. Kami menemukannya tertidur di teras panti bersama dengan adiknya yang waktu itu masih berusia 1 tahun,” Nyonya Moon memulai penjelasan seiring dengan sang suami membaca data-data tentang anak yang mereka bicarakan. “Kami menduga bahwa… orang tua mereka sengaja meninggalkan mereka di depan panti bersama-sama.”

“Apakah… apakah setelah itu, orang tua mereka pernah datang atau…” Laki-laki itu tidak meneruskan ucapannya, namun berharap Nyonya Moon paham maksudnya.

“Tidak, Tuan. Tidak pernah sekali pun orang tua mereka datang.”

“Lalu, adiknya…?”

Nyonya Moon menarik napas sejenak sebelum berkata, “Adiknya sekarang berusia 3 tahun. Tadi kita juga melihatnya di antara anak-anak di halaman belakang. Anak yang tadi merebut boneka dari temannya.”

Laki-laki itu mengangguk.

Tiba waktunya jam makan siang bagi anak-anak, sang wanita menemui suaminya, juga Nyonya Moon. Dia terlihat senang dan bersemangat. Mulutnya tidak berhenti menyerocos, menceritakan betapa ia sangat cocok dengan anak yang sudah diincarnya dalam beberapa jam saja.

“Jadi…, Tuan dan Nyonya… akan mengadopsi anak itu?”

“Iya, Nyonya Moon. Kami akan mengadopsinya,” sang istri menjawab dengan sangat mantap.

Seminggu kemudian, setelah semua surat-surat adopsi dilengkapi, pasangan suami istri itu kembali ke panti asuhan untuk menjemput anak angkat mereka—sebut saja dia ‘sang kakak’. Hal yang sudah biasa terlihat ketika salah seorang dari anak panti diadopsi oleh sepasang suami istri, anak-anak yang ditinggalkan dan anak yang diadopsi menangis. Namun, yang paling sedih hari itu adalah—ya, tentu saja anak yang diadopsi itu dan adiknya.

“Huhuhu… huhuhu… huhuhu…” Sang adik tidak henti-hentinya menangis di dalam gendongan Nyonya Moon saat hyung-nya bersiap meninggalkannya—dalam keadaan pipi yang basah air mata tentu saja.

“Jangan sedih. Kami berjanji akan membawamu ke sini setiap akhir minggu. Kau tidak akan benar-benar berpisah dengan adikmu dan teman-temanmu di sini,” wanita itu membujuk sang kakak.

Tetap saja sang kakak menangis. Menyedihkan.

Agak berat hati, pasangan suami istri itu pun membawa anak angkat mereka masuk ke dalam mobil. Sang kakak masih menangis, begitu juga teman-teman yang ditinggalkannya. Anak kecil berwajah tampan itu baru berhenti mengeluarkan air mata—namun masih terisak—ketika ia dibawa masuk ke dalam sebuah apartemen.

“Mulai hari ini, kau akan tinggal di sini,” sang istri berjongkok di hadapan anak angkatnya sambil memegang kedua bahunya, “dan, mulai sekarang… aku adalah eomma-mu,” sang istri menunjuk dirinya, “dan… dia adalah appa-mu,” lanjutnya sambil menyentuh pundak suaminya yang juga berjongkok di sebelahnya.

“Kami adalah keluargamu sekarang.”

@@@@@

Semuanya berjalan baik selama 6 bulan sejak pasangan suami-istri itu mengadopsi sang kakak yang berusia 5 tahun dari panti asuhan. Seperti janji mereka, setiap akhir minggu selama 6 bulan itu, sang anak selalu diantar ke panti asuhan, dibiarkan bermain di sana seharian, lantas dijemput begitu sudah waktunya untuk tidur.

Semuanya benar-benar berjalan baik sampai…

“Kita akan pindah ke Busan,” sampai sang suami mengucapkan kalimat itu di suatu makan malam yang menyenangkan.

Sang istri yang saat itu sedang menyuapi sang kakak seketika meletakkan sendok di dalam mangkuk, menatap suaminya dengan tatapan terkejut dan meminta penjelasan.

“Aku baru saja naik jabatan di perusahaan. Aku dipercaya untuk memimpin kantor cabang yang berada di Busan.”

Seulas senyum mengembang di wajah istrinya. “Benarkah? Itu bagus,” serunya bersemangat. “Tapi…,” gumamnya pelan sembari menoleh ke arah anak mereka yang tampak bingung dengan pembicaraan orang tuanya—juga bingung kenapa eomma malah berhenti menyuapinya, “bagaimana dengan anak kita? Kalau kita pindah ke Busan, itu artinya dia… tidak akan bisa bertemu dengan adik dan teman-temannya di panti.”

Sang suami menghela napas pelan. “Dia akan baik-baik saja. Aku yakin. Seiring berjalannya waktu, dia akan terbiasa tidak bertemu dengan adik dan teman-temannya.”

“Tapi…,” sang istri merasa tidak tega. Ia menatap sang kakak dengan mata yang berkaca-kaca.

“Tidak apa,” sang suami menyentuh pundak istrinya, mencoba menenangkan. “Dia akan baik-baik saja bersama kita di Busan.”

Dan sebulan kemudian, keluarga itu pindah ke Busan setelah sebelumnya berpamitan dengan orang-orang yang berada di panti asuhan tempat sang anak pernah tinggal. Sekali lagi, adegan mengharu-biru terjadi, terlebih antara sang kakak dengan adiknya. Mereka akan terpisah jauh dan… entah kapan bisa bertemu lagi. Atau…, mungkin mereka tidak akan pernah bertemu.

@@@@@

“KEBAKARAN~!!! KEBAKARAN~!!! KEBAKARAN~!!!”

Jam 05.13 pagi hari suara teriakan itu terdengar membangunkan warga di sekitar panti asuhan. Anak-anak panti menangis berlarian keluar dari bangunan yang mulai membakar bangunan panti. Warga di sekitar membantu memadamkan api dengan peralatan seadanya sambil menunggu pemadam kebakaran datang.

Api yang besar. Tampak berkobar-kobar menyelimuti bangunan. Asap hitam pekat membumbung ke langit disertai dengan ampas-ampas hitam yang berayun-ayun di udara, mendarat di tanah. Suasana di sekitar terasa panas, namun anak-anak panti dan juga pengurus masih berdiri tidak jauh dari bangunan panti, memandang rumah mereka yang… ah, entahlah, apa bangunan itu masih bisa digunakan atau tidak.

Suara sirine petugas pemadam kebakaran terdengar mendekat. Dua unit mobil pemadam diturunkan untuk memadamkan api yang masih berkobar. Dan baru 1 jam kemudian, api berhasil dipadamkan. Tampak bangunan panti sudah menghitam di tengah-tengah matahari yang mulai memancarkan cahayanya. Tanpa atap, dinding bangunan yang roboh di beberapa bagian dan barang-barang yang rata dengan tanah.

“Apa masih ada barang yang bisa diselamatkan?” tanya Nyonya Moon yang terduduk di tepi trotoar di depan panti kepada beberapa orang warga sekitar yang membantunya.

“Tidak ada. Semuanya… sudah tidak bisa digunakan,” sahut salah satu warga.

Nyonya Moon kembali menangis setelah tangisannya berhenti untuk beberapa saat. Sekarang, beliau tidak tahu harus bagaimana. Terlebih, ketika memandang wajah anak-anak panti yang berkumpul di sekitarnya, akan beliau titipkan dimana mereka?

Nyonya Moon, beberapa pengurus panti dan anak-anak panti kembali menangis memikirkan bagaimana kehidupan mereka kedepannya. Rumah tempat mereka hidup selama ini sudah tidak ada. Mereka tampak saling berpelukan satu sama lain, meski ada beberapa yang mencoba untuk menenangkan anak-anak dan pengurus panti yang bersedih. Namun, tidak ada yang terlihat paling sedih selain Nyonya Moon dan… anak laki-laki yang menjauhkan diri dari teman-teman dan pengurus pantinya.

Sang adik.

Berdiri di depan pagar panti, memandang bangunan yang hangus terbakar. Air matanya mengalir, sama dengan teman-teman dan orang-orang yang selama ini membesarkannya. Hanya saja…, bukan itu yang ia tangisi. Di saat-saat seperti ini…, dia… membutuhkan hyung-nya.

Tapi, hyung-nya sudah tidak berada di Seoul sejak 2 tahun yang lalu.

Hyung-nya berada di Busan bersama keluarganya.

Dan, tidak tahu tentang kejadian buruk ini.

@@@@@

Di waktu yang sama dengan terjadinya kebakaran di Seoul, seorang wanita dilarikan ke rumah sakit. Dia adalah sang istri yang dulu mengadopsi sang kakak di panti asuhan yang terbakar itu. Namun hari ini, dia dilarikan ke rumah sakit bukan karena penyakit yang kambuh atau pun kecelakaan.

Dia… akan melahirkan.

Ya, hanya sekitar 1 tahun lebih setelah mengadopsi seorang anak dari panti asuhan yang terbakar, wanita itu… hamil. Ini seperti mimpi baginya, juga bagi suaminya. Segalanya tampak jauh lebih baik semenjak mereka mengadopsi sang kakak. Lihat saja, sang suami naik jabatan dan… sang istri bisa hamil kembali.

Anak itu… seperti membawa keberuntungan bagi keluarga mereka.

“Euungh… aku tidak tahan… eungh… hhh… sakittt~” Sang istri mengerang kesakitan saat para suster mendorong ranjang beroda menuju ruang bersalin.

“Sabarlah, Yeobo. Kau harus kuat. Kau akan melahirkan. Kau harus kuat. Kau harus kuat demi anakmu,” sang suami berkata memberi semangat kepada istrinya yang masih mengerang kesakitan.

Sang istri masuk ke ruang bersalin, sedangkan suaminya hanya bisa berdiri di depan pintu ruangan. Tidak terdengar apa-apa di dalam, mungkin karena ruangannya yang telah dipasangi alat peredam suara. Sang suami tak henti merapalkan doa, berharap istrinya bisa melahirkan anak mereka—anak kandung mereka—dengan selamat.

Sekitar beberapa jam kemudian, sang istri berserta suaminya berada di dalam sebuah ruang perawatan. Sang istri masih perlu memulihkan kondisinya setelah melahirkan sembari menunggu bayi kecil mereka yang saat ini sedang dibersihkan oleh para bidan.

Eomma~!”

Pintu ruangan terbuka dan seorang anak lelaki berseragam sekolah dasar menghambur masuk. Di belakangnya ada seorang wanita—adik dari sang istri—yang membawakan ransel dari anak lelaki itu.

“Ah, kau sudah pulang, hm? Bagaimana di sekolah?” tanya sang istri—sebut saja sekarang sang eomma—ketika sang kakak telah berdiri di sisi ranjangnya.

“Kata Yoo Sonsaengnim, bulan depan akan diadakan pertunjukan, Eomma. Yoo Sonsaengnim sudah membagi peran untuk kami. Aku jadi polisi, Eomma~” Anak lelaki itu berceloteh dengan riangnya.

“Benarkah? Bukankah kau memang ingin menjadi polisi?”

“Iya, Eomma. Aku akan menembaka penjahat. Dor! Dor!”

Ruang inap seketika dipenuhi suara tawa ketika sang kakak yang sekarang berusia 7 tahun itu memeragakan adegan menembak penjahat dengan jari telunjuk dan jari jempol yang diposisikan menyerupai pistol. Lucu sekali.

“Oh, ya, Eomma? Kata Ajumma, adik sudah lahir. Dimana dia, Eomma? Aku ingin melihat adikku.”

Tepat di saat itu, pintu ruangan terbuka sekali lagi dan seorang bidan berseragam orange pastel masuk sembari menggendong seorang bayi yang dibungkus dengan selimut berwarna biru.

“Ah, itu dia, adikmu datang~” seru ajumma.

Semua pandangan mengarah ke arah suster yang menghampiri sang eomma yang baru saja melahirkan. Perlahan, membaringkan bayi laki-laki tampan itu di sisi kiri tubuh sang eomma.

“Ini adikmu~” kata sang Eomma. “Mulai sekarang, kau adalah hyung~”

Anak lelaki itu mendekat, memandang adiknya antusias. “Wuaaah~ adik kecil sekali~”

Lagi-lagi terdengar suara tawa pelan karena ucapan polos sang anak.

“Nah, karena adik masih kecil, hyung harus membantu appa dan eomma menjaga adik, oke?” Kali ini giliran appa yang duduk di sisi lain ranjang yang bersuara.

Sang kakak—sebut dia hyung sekarang—itu langsung mengambil posisi hormat layaknya seorang polisi sambil berkata dengan lantang, “Siap, Appa~!”

Dan, hyung itu kembali memandangi adiknya—adik barunya.

@@@@@

Di sinilah sang adik tinggal. Di sebuah panti asuhan lain yang jauh dari lokasi panti yang terbakar 5 tahun yang lalu. Ya, 5 tahun sudah berlalu dan sekarang… sang adik telah berusia 10 tahun. Setelah peristiwa kebakaran itu, para anak-anak panti dipisah dan dititipkan kepada beberapa panti asuhan berbeda di Seoul. Menyedihkan. Setelah terpisah dengan kakak kandungnya, sekarang harus terpisah dengan teman-teman dan pengurus panti yang sudah membesarkannya sejak lama.

Dan…, semakin menyedihkan mengingat fakta bahwa… di sini, di panti asuhan ini… dia tidak mendapat begitu banyak teman, berbeda dengan di panti asuhan sebelumnya. Di sini dia mendapat bully-an dari beberapa anak yang lebih dulu tinggal di panti ini. Hampir setiap hari dia menangis karena dipukuli atau dimarahi oleh anak-anak yang jauh lebih besar darinya. Meskipun sudah mengadu dan pengurus panti pun sudah memperingatkan anak-anak nakal itu, tapi… tetap saja… bully-an itu selalu diterimanya.

“Hei, kau! Pergi ke sana! Ambilkan robot-robotan yang dijual itu.”

Di suatu siang, sang adik dan beberapa anak panti, termasuk anak-anak nakal yang sering mem-bully-nya berada di sebuah lapangan tempat sebuah acara diadakan. Semacam sebuah festival. Ada panggung kecil di tengah lapangan, beberapa wahana permainan dan juga stand-stand penjual mainan yang berjejer di sekeliling bagian dalam lapangan.

“Apa? Kau menyuruhku mencuri?”

“Ya. Kenapa?”

“Aku tidak mau!” Sang adik menolak dengan tegas.

“Kau harus mau!” desak salah satu anak nakal yang badannya paling besar. “Kalau tidak, kau akan menerima ini!” ancamnya sambil menunjukkan kepalan tangan yang cukup besar untuk ukuran anak 12 tahun.

“Tidak! Aku tidak mau!”

“Kau benar-benar mau dipukul, ya?”

Sang adik mendengus. “Baiklah. Tunggu di sini.”

Ini bukan kali pertama sang adik disuruh mengambil sesuatu yang bukan miliknya oleh anak-anak berbadan besar itu. Dan akhirnya selalu seperti ini, mau tidak mau… sang adik terpaksa harus mengalah dan… melakukan apa yang diperintahkan.

Sang adik mendekati stand yang dimaksud oleh anak lelaki tadi. Di bagian depan stand memang ada sebuah robot-robotan yang tampak menarik bagi anak laki-laki manapun, termasuk sang adik sendiri. Untuk beberapa saat, sang adik mengamati stand itu, melihat keadaan sembari menunggu adanya kesempatan untuk… mengambil robot-robotan itu diam-diam.

Pemilik stand tampak sibuk melayani pelanggan, begitu juga dengan seorang gadis yang membantunya. Melihat tidak ada orang yang berada di sekitar robot-robotan dan tidak ada yang memerhatikan, dengan cepat sang adik menyambar robot-robotan itu…

“HEI! PENCURI!”

… tapi, sang pemilik stand melihatnya.

Sang adik kabur ke sembarang arah, begitu juga dengan anak-anak nakal yang menyuruhnya. Anak kecil berusia 10 tahun itu berlari keluar dari area lapangan ke arah pasar yang tidak jauh dari sana. Ada 2 orang dewasa yang mengejar sambil berteriak menyuruhnya berhenti. Tetapi anak itu tetap saja lari. Berhenti? Yang benar saja? Dia akan dipukuli oleh 2 orang dewasa itu.

Sang adik berlari di antara orang-orang yang menjajakan jualannya. Tidak jarang mendapat umpatan ketika tanpa sengaja ia menyenggol barang jualan. Dia… tetap tidak berhenti berlari dengan robot-robot yang masih berada di tangannya. Ia melihat sebuah gudang, entah gudang apa, tetapi pintunya terbuka.

“HEI! BERHENTI!!!”

Tanpa pikir panjang, sang adik masuk ke dalam gudang itu. Tumpukan karung beras yang disusun hingga nyaris menyentuh atap tampak memenuhi sisi kanan gudang itu. Sementara di sisi kirinya ada tumpukan kardus, juga beberapa tong minyak. Sang adik berhenti dan celingak-celinguk mencari tempat bersembunyi. Kedua bahunya tampak naik-turun karena napasnya yang tersengal.

“Dimana anak itu? Kenapa dia hilang?” Terdengar suara-suara orang dewasa itu di luar.

“Sepertinya dia masuk ke dalam gudang!”

“Ayo, kita periksa!”

Derap langkah mendekati pintu gudang terdengar di telinga, namun sang adik masih bingung harus bersembunyi dimana. Beruntung, tepat di saat, itu… ada seseorang yang menariknya berlari ke bagian gudang yang lebih dalam dan bersembunyi di balik tong-tong minyak, menyelimuti diri mereka dengan terpal berwarna coklat.

“Kau siapa?” tanya sang adik heran kepada anak lelaki lain yang bersembunyi bersamanya.

Anak lelaki itu hanya menempelkan jari telunjuk di bibirnya sebagai isyarat agar anak yang ia tolong itu tidak berisik.

“Kau periksa di sana! Aku periksa di sini!”

“Jangan berisik~” desis anak lelaki yang menolong sang adik ketika mereka mendengar suara langkah yang mendekat ke arah tong tempat mereka bersembunyi. Keduanya menahan napas begitu mendengar salah satu dari orang dewasa itu sepertinya berhenti tepat di depan tong. Hanya berharap agar lelaki itu tidak memeriksa apa yang ada dibalik terpal cokelat.

“Anak itu tidak ada di sini!” teriak lelaki itu, berjalan menjauh dari tong. “Mungkin dia berlari ke tempat lain.”

“Dasar anak sial! Dia berhasil kabur!”

“Ya, sudah. Ayo kita kembali!”

Beberapa menit kemudian, tidak terdengar apa-apa lagi. Sepertinya kedua lelaki itu sudah benar-benar pergi. Anak yang menolong sang adik itu bergegas menyibak terpal yang menutupi mereka, menghirup udara sebanyak yang bisa ditampung kedua paru-parunya. Hah, sungguh sesak dan panas!

“Sepertinya mereka sudah pergi,” kata anak itu kemudian, menoleh ke arah sang adik yang balas menoleh ke arahnya. Sang adik menatap anak laki-laki yang tampaknya jauh lebih tua darinya. Entahlah. Mungkin seumuran dengan kakaknya.

“Kau kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh di wajahku?” Anak lelaki itu merasa risih.

Sang adik lekas menggeleng.

Anak lelaki itu menatap sang adik lagi, kemudian robot-robotan di dalam pelukannya menarik perhatian anak lelaki itu. Dalam sekejap, otak dibalik batok kepalanya itu mengambil kesimpulan, “Kau mencuri itu?”

Sang adik melihat robot-robotan, lantas mendongak menatap anak lelaki di depannya, kemudian berkata, “Aku disuruh oleh temanku untuk mengambil ini.”

Anak lelaki itu mendengus. “Itu sama saja dengan kau mencuri, makanya kedua orang dewasa tadi mengejarmu.”

Sang adik tidak berkata apa-apa lagi.

“Namamu siapa?” Anak lelaki itu bertanya.

Sang adik menyebutkan namanya, juga menanyakan balik nama anak lelaki yang sudah menolongnya.

“Kelihatannya kau lebih muda dariku,” kata anak lelaki itu setelah menyebut namanya. “Aku 12 tahun. Usiamu berapa?” tanyanya lagi.

“10 tahun…”

Tidak lama, anak berusia 12 tahun itu mengajak sang adik keluar dari gudang. Mereka mengobrol sebentar di depan gudang sebelum akhirnya anak berusia 12 tahun itu berkata, “Sudah, ya. Aku sampai ketemu lagi,” ujarnya, beranjak meninggalkan sang adik. Namun…

“Tunggu!”

Anak berusia 12 tahun yang sudah berjalan sekitar 5 langkah di depan itu seketika berbalik mendengar sang adik berteriak padanya. Dia pun bertanya, “Ada apa?”

“Bo-boleh… boleh aku ikut denganmu?”

Sejenak, anak berusia 12 tahun itu melongo, sedikit kaget dengan apa yang barusan di dengarnya.

Buru-buru sang adik melanjutkan, “Kau bilang kau tinggal bersama dengan anak-anak jalanan lain. Boleh aku tinggal bersamamu juga? Aku sudah tidak betah tinggal di panti. Mereka jahat padaku. Aku tidak mau lagi tinggal bersama mereka.”

Anak berusia 12 tahun itu menghela napas pelan. “Dengar, kehidupan di jalanan itu jauh lebih buruk dari pada kehidupan di panti asuhan. Setidaknya, di panti kau bisa tidur di tempat yang nyaman dan makan 3x sehari. Hidup di jalanan tidak sebagus itu.”

“Tidak apa-apa,” sahut sang adik. “Aku tidak apa-apa tidur di jalanan. Aku hanya ingin bebas dari anak-anak nakal yang suka memukuliku,” lirihnya.

Lagi, anak berusia 12 tahun itu menghela napas pelan. “Baiklah. Kau boleh ikut denganku,” sahutnya. Seulas senyum sang adik mengembang di wajah, kemudian menyusul anak berusia 12 tahun yang telah berjalan duluan itu. “Kita lihat apa kau bisa tahan dengan kehidupan di jalanan.”

“Aku pasti bisa.”

“Kau percaya diri sekali!”

“Ya.”

“Oh, ya, mulai sekarang, kau harus memanggilku hyung.”

Sang adik mengangguk patuh. “Tentu saja, Hyung~!”

Dan keduanya pun berjalan bersisian menuju suatu tempat yang tidak jauh dari gudang. Tempat dimana beberapa anak-anak jalanan berkumpul dan hidup bersama-sama. Meski begitu, sang adik tidak keberatan meninggalkan kehidupan ‘nyaman’-nya di panti. Sekarang, dia merasa lebih baik. Ya, setelah dia mendapatkan hyung yang baru.

@@@@@

“Dan, inilah dia lead actor kita hari ini, lelaki yang sebentar lagi akan diwisuda dari Akademi Kepolisian~!”

Seorang lelaki berusia remaja masuk ke dalam sebuah kamar sambil memegang handycam di tangan kanannya. Handycam itu menyorot ke arah lelaki lain yang lebih tua tengah berdiri di depan cermin sambil mengikat dasi berwarna hitam di lehernya. Lelaki yang memegang handycam berjalan ke belakang lelaki yang satunya, merekam gambar lelaki yang mengenakan dasi itu yang terpantul di cermin.

“Kapan kau akan berhenti merekam video tidak penting, hah?” tanya lelaki yang memakai dasi itu sambil melihat ke arah lelaki yang lebih muda melalui cermin.

“Jangan berkata seperti itu, Hyung. Suatu hari nanti akan ada rekaman videoku yang menjadi hal penting untukmu~!”

Lelaki yang dipanggil hyung itu memutar bola mata jengah. “Penting apanya? Kau hanya merekam gambar yang tidak berguna.”

Lelaki yang memegang handycam itu mendecih mendengar komentar hyung-nya. “Cerewet! Hyung selalu berkata bahwa videoku itu tidak penting. Anggap saja sekarang aku sedang latihan merekam gambar yang menarik dan artistik.”

“Berlagak sekali!”

“Eyyy… jangan berkata seperti itu,” ujar lelaki yang memegang handycam agak tidak terima. Kali ini ia mengarahkan handycam-nya mengikuti lelaki yang ia panggil dengan sebutan hyung yang sedang bergerak ke tepi tempat tidur, mengenakan pantofel yang telah disemir hingga mengkilap. “Sama seperti hyung yang bercita-cita menjadi seorang polisi sejak kecil dan hari ini sudah tercapai, aku juga ingin mencapai cita-citaku sebagai sutradara.”

“Ck! Sebaiknya kau belajar yang benar. Sebentar lagi kau akan ujian akhir. Kau harus bisa masuk SMA favorit!”

Lelaki yang memegang handycam itu menghentikan kegiatannya, lantas menyusul hyung-nya duduk di tepi tempat tidur dan berkata dengan nada malas, “Aku baru duduk di bangku kelas 2 SMP, Hyung. Ujian akhir masih 1 tahun lagi.”

Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu. Anak lelaki yang 17 tahun lalu diadopsi dari sebuah panti asuhan di Ilsan kini tampak gagah dengan seragam Akademi Kepolisian-nya. Dia sudah berusia 22 tahun sekarang. Benar-benar tumbuh dengan baik di tengah-tengah keluarga yang mengadopsinya, meski… sekarang keluarga ini telah memiliki anak kandung.

Ya, bayi mungil yang lahir di hari dimana panti asuhan di Ilsan itu terbakar kini telah berusia 15 tahun. Menjadi adik yang baik, terkadang cukup jahil menganggu lelaki yang sedang duduk di sebelahnya. Hyung-nya.

“Anak-anak, sedang apa kalian, hah? Ayo bergegas. Sebentar lagi upacara wisuda dimulai.” Suara yang terkesan berwibawa itu terdengar di ambang pintu kamar. Sang eomma yang 17 tahun lalu terlihat masih cukup segar, kini terlihat tidak sesegar dulu dalam usianya yang genap setengah abad.

“Iya, Eomma~” sahut kedua anaknya nyaris bersamaan.

Sekitar 30 menit kemudian, satu keluarga itu telah tiba di tempat acara wisuda diadakan. Para siswa yang diwisuda duduk di tempat yang sudah disediakan, terpisah dengan anggota keluarga yang turut menyaksikan anak-anak mereka diwisuda.

Ya, dan anak pembawa keberuntungan itu… benar-benar mencapai cita-citanya sejak kecil, menjadi seorang polisi.

@@@@@

“Menghadap ke kamera. Senyum. Tahan. 1… 2… 3…”

“CKLIK!”

Acara wisuda telah usai. Sang eomma, sang appa bersama kedua anak mereka baru saja mengabadikan momen berharga kelulusan anak pertama mereka dari Akademi Kepolisian. Beberapa foto baru saja di-capture oleh sang fotografer.

“Ah, setelah ini, kita makan siang bersama,” usul sang appa. “Hyung-ah, mau makan apa?” Beliau bertanya kepada anak tertuanya.

“Pizza! Pizza! Aku mau makan pizza!” Lelaki yang berusia 15 tahun itu yang malah menjawab, tampak semangat begitu mendengar mereka akan pergi makan-makan.

“Hei! Hei! Kenapa kau yang heboh? Biarkan hyung-mu memilih. Ini adalah hari istimewa untuknya~” kata sang eomma.

“Pizza, Hyung! Bilang kau mau makan pizza!” Lelaki berusia 15 tahun itu berusaha mengkompor-kompori hyung-nya. Berharap dengan begitu, hyung-nya akan mengatakan ia ingin memakan pizza, tetapi…

“Aku ingin makan bulgogi~!”

Lelaki berusia 15 tahun itu mendengus keras. Bulgogi? Aish! Hyung ini benar-benar tidak bisa diandalkan. Selalu saja makanan itu. Apa dia tidak bosan makan daging?

“Baiklah, karena hyung sudah memutuskan untuk makan bulgogi, maka siang ini kita akan makan bulgogi di restoran langganan,” kata sang appa.

Begitu menerima beberap lembar hasil cetakan foto, mereka pun masuk ke dalam mobil. Sang appa menyetir, sang eomma duduk di sebelahnya, sementara kedua anak mereka duduk di jok belakang, ribut mengomentari hasil cetakan foto.

“Kau lihat, Hyung? Aku tidak kalah tampan memakai jas hitam seperti ini. Hahaha.”

Sang hyung menoyor dahi adiknya. “Berisik! Dilihat dari sudut manapun, aku ini lebih tampan darimu!”

Terdengar suara decakan lidah dari lelaki berusia 15 tahun itu. Tidak terima, ia membalas ucapan hyung-nya. Memang selalu seperti itu. Keduanya selalu memperdebatkan hal-hal yang tidak penting.

“Hei! Jangan berisik. Appa sedang fokus menyetir. Jangan mengganggu konsentrasinya.”

Tapi, teguran eomma mereka hanya seperti angin lalu. Keduanya memenuhi mobil dengan ledekan, teriakan, suara erangan ketika mereka mulai saling menabok kepala lawan masing-masing. Masih hal yang biasa terjadi di antara 2 kakak-beradik itu.

“Aish! Mereka berdua, selalu seperti ini,” sang eomma menggerutu setelah sekilas melihat situasi ‘perang saudara’ di jok belakang.

Sang appa tertawa pelan, lantas melirik kaca spion, tidak mau ketinggalan melihat kedua anaknya yang masih berisik memperdebatkan siapa yang paling tampan, siapa yang paling pintar, siapa yang paling banyak diperebutkan gadis-gadis di sekolah dan… ah, perdebatan tidak penting.

“Biarkan saja selama mereka tidak saling membunuh.” Appa tertawa singkat, “Begitu hyung pindah ke Seoul, tidak akan seperti ini lagi situasinya,” lanjut sang appa kepada eomma. “Lagipula, dengan begitu mereka… terlihat lebih akrab seperti…”

Appa, di depan!” pekik Eomma.

Saking asiknya berbicara, sang appa kehilangan fokusnya sehingga tidak melihat adanya mobil van melaju yang melaju kencang ke arah mobil mereka. Tanpa pikir panjang, sang appa membanting stir ke kanan untuk menghindar, namun… ia lupa dengan keberada pembatas jalan. Suara tawa berganti dengan suara teriakan yang disusul suara tubrukan yang cukup keras.

“AAAAA~~~!!!”

“BRUUUK~!!!”

Hyung yang saat itu masih setengah sadar, melihat sekitar. Eomma yang duduk di jok depan terdorong ke depan hingga kepalanya membentur dashboard mobil hingga pelipisnya berdarah. Hyung tidak bisa melihat seperti apa kondisi appa yang duduk di jok tepat di depannya. Ia lantas menoleh ke sebelahnya. Adiknya… tampak tidak sadarkan diri. Lalu, sayup-sayup terdengar suara orang mendekati mobil. Hyung masih sempat melihat beberapa orang berdiri di luar dan… semuanya menjadi gelap.

@@@@@

Sementara itu, di dalam sebuah bar di daerah Ilsan, sang adik yang telah berusia 20 tahun duduk bersama dengan seorang lelaki yang usianya 22 tahun. Ya, lelaki berusia 22 tahun itu adalah hyung baru sang adik, yang menolongnya dari kejaran 2 orang dewasa ketika sang adik mencuri robot-robotan 10 tahun yang lalu. Di depan mereka, berjejer beberapa botol minuman keras, juga 2 kotak rokok yang salah satu kotaknya terbuka.

“Apa orang itu benar-benar akan datang, Hyung? Kenapa lama sekali? Kita sudah menunggu selama 1 jam di sini~!” gerutu sang adik, lantas meraih salah satu botol minuman keras dan meneguknya langsung dari botolnya.

“Dia akan datang,” sahut lelaki 22 tahun itu di sela-sela kegiatannya menyalakan sebatang rokok. “Karena dia akan tahu seperti apa akibatnya kalau dia tidak menepati janjinya pada kita,” lanjutnya, kemudian menyelipkan batang rokok itu di antara bibirnya.

“Kupikir dia belum tahu siapa kita, Hyung. Makanya dia terlambat,” sang adik masih menggerutu. “Dan kau! Ah, biasanya kau juga malas menunggu, Hyung. Kenapa hari kau—”

“Karena yang akan kita temui ini adalah orang penting, Dongsaeng-ah. Orang penting untuk bisnis organisasi kita.” Lelaki 22 tahun itu mengisap batang rokoknya sekali lagi, disusul kepulan asap tipis yang keluar dari mulut dan hidungnya.

Sang adik hanya bisa mendengus pelan, kemudian meminum birnya sekali lagi.

Sekitar 15 menit kemudian, seorang lelaki bertopi biru tampak berjalan menghampiri mereka bersama dengan 2 orang lelaki lain yang berjalan di belakangnya. Salah satu dari 2 lelaki itu membawa sebuah koper hitam. Melihat lelaki itu mendekat, sang adik berkata, “Apakah dia orang yang kita tunggu, Hyung?”

Lelaki 22 tahun yang tadinya asik memandangi beberapa gadis yang sedang berjoget di atas panggung kecil di depan sana, seketika menoleh ke arah sang adik. “Siapa?”

“Orang itu,” sahut sang adik sambil menunju ke arah depan.

Lelaki 22 tahun itu melihat ke arah yang ditunjuk sang adik, seketika menyeringai begitu melihat bahwa… lelaki itu yang memang ditunggunya. Tanpa disuruh atau tanpa meminta izin, lelaki itu duduk berhadapan dengan mereka—sang adik dan hyung barunya, sementara 2 lelaki yang bersamanya, berdiri di belakang.

“Kau terlambat 1 jam lebih dari waktu perjanjian kita, Tuan!” ujar lelaki 22 tahun itu langsung bersuara.

“Aku sibuk mengurus sesuatu,” balas lelaki itu dengan nada yang terkesan angkuh.

“Kuharap ini pertama dan terakhir kalinya kau membuat kami menunggu. Kau tahu? Bukan hanya kau yang sibuk. Kami juga. Kami punya hal lain yang harus diurus selain bisnis ini, Tuan!” lelaki 22 tahun membalas dengan nada yang tak kalah angkuhnya. “Apa bosmu tidak memberitahumu kau sedang berususan dengan siapa?”

Lelaki bertopi biru itu terdiam.

“3 huruf,” sahut lelaki 22 tahun itu, “TRB.”

Kedua mata lelaki bertopi biru itu membulat begitu 3 huruf itu menembus gendang telinganya. Dia… dia pernah mendengar organisasi itu. Bukan organisasi sembarangan. Reputasinya sudah cukup terkenal di kalangan organisasi kejahatan di Korea Selatan.

The Red Bullet.

TaehyungBelumCebok-

Anditia Nurul ©2015

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Annyeong ^^/

Gimana prolognya?

Apa kalian tertarik untuk membaca chapter selanjutnya?

Btw, ada ngga yang bisa nebak siapa casts yang sengaja saya sembunyikan identitasnya/? di sini? Ada?

Di sini ada 4 orang casts misterius, tapi sebenarnya, maincast-nya hanya 3 orang: Hyung yang baru saja diwisuda dari Akademi Kepolisian, remaja 15 tahun yang hobi membuat video dan sang adik yang telah berusia 20 tahun. Satu cast lainnya adalah lelaki berusia 22 tahun itu.

Ada yang bisa menebak siapa mereka?

Untuk memudahkan, clue-nya adalah… mereka berempat adalah member dari sebuah boygrup yang sama. Boygrup ini punya konser solo sendiri yang namanya ada di judul FF ini. Well, itu sudah cukup memudahkan, bukan?

So, ada yang bisa menebak siapa ke-4 orang itu?

Komen juseyo~ ^^

17 thoughts on “(THE RED BULLET) BROTHER [Prolog]

  1. udah pasti atuh ini mah bantan yang mainnn xD
    entahlah aku msh blm bisa nebak siapa aja yg jd cast nya._.
    kayaknya sih ya yang remaja 15thn itu jeka deh wkwk yaa semoga aja tebakanku bener hehe^^
    aku berharap banget jk main ff iniii hehehe
    ffnya menarik kakkk
    aku tunggu kelanjutannyaa
    keep writing and fighting^^9

  2. uuuuwwaaaaa~ lama gak berkunjung kesini dan ternyata ada ff baru!!!
    kayaknya sih tau si kakak akademi kepolisian sama si adek 15tahun hihi😉
    ditunggu lanjutannya thorr
    btw enak tuh denger nama organisasinya ‘the red bullet’ bayangin cowok galak galak ganteng gimana gitukan isinya aaaa

  3. Hai thor! aku reader baru disini! bersyukur aku terdampar/? disini dan yang pertama aku cari adalah ff dengan cast BTS! Dan taraa~ yang kutemukan ‘(THE RED BULLET) BROTHER’ yang udah chap 5~ dan segera aja aku klik prolognya dulu’-‘ berdasarkan cast yang tertera/? kayanya si ‘Hyung’ itu Seokjin, adik kandungnya itu si Jungkook soalnya dia keliatannya unyu(?) dan adik barunya itu Namjoon, eh apa kebalik ya wkwk, terus si adik itu ditemuin Mark, e iya gak si, ah entahlah, daripada penasaran karena udah ada chap 1 nya, bahkan sampe chap 5._. aku mau baca dulu~

  4. Hai thor! aku reader baru disini! bersyukur aku terdampar/? disini dan yang pertama aku cari adalah ff dengan cast BTS! Dan taraa~ yang kutemukan ‘(THE RED BULLET) BROTHER’ yang udah chap 5~ dan segera aja aku klik prolognya dulu’-‘ berdasarkan cast yang tertera/? kayanya si ‘Hyung’ itu Seokjin, adik kandungnya itu si Jungkook soalnya dia keliatannya unyu(?) dan adik barunya itu Namjoon, eh apa kebalik ya wkwk, terus si adik itu ditemuin Mark, e iya gak si, ah entahlah, daripada penasaran karena udah ada chap 1 nya, bahkan sampe chap 5._. aku mau baca dulu~

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s