(THE RED BULLET) BROTHER [Chap. 1]

TRB-BROTHER-NEW

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-15||Length: Chaptered||Genre: Family, Action, Crime, Tragedy||Main Characters: (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) Rapmon/Namjoon & (BTS) Jungkook ||Additional Characters: (BTS) Suga/Yoongi, (Winner) Mino, (Got7) Mark, (Got7) Bambam, (Block B) Zico & (B.A.P) Zelo||Disclaimer: I own nothing but storyline||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

“Seseorang yang disebut saudara bukan hanya dia yang lahir dari orangtua yang sama denganmu, tetapi orang yang selalu berada di sisimu, melindungimu dan berkorban untukmu, tidak peduli kau punya hubungan darah dengannya atau tidak.”

Prolog >> 1

HAPPY READING \(^O^)/

“WHOAA~~!!! Ini keren, Bambam~”

“Hah! Apa aku bilang tadi? Kau tidak akan menyesal ikut hiking denganku, Jungkook-ah. Ada banyak yang bisa kauabadikan dengan handycam-mu itu di sini~!”

Yeah. Harusnya kaubilang kalau kau dan teman-teman di klub pecinta alammu sering ke tempat-tempat yang keren seperti ini~!”

“Kenapa? Kau mau masuk klub pecinta alam, hah?”

“Tidak juga. Aku hanya ingin ikut sesekali… hehehe.”

“Cih, dasar! Mau enaknya saja.”

Dengan sebuah handycam di tangan kanannya, Jungkook tidak berhenti merekam sungai, padang rumput, taman bunga liar dan pemandangan-pemandangan indah lain yang ia lewati bersama beberapa anggota kelompok pecinta alam sekolah saat mengikuti kegiatan hiking di sebuah kawasan perbukitan di pinggir Kota Seoul. Berlima berjalan berurutan menapaki lintasan yang dibuat khusus untuk kegiatan hiking. Bambam, sahabatnya, berjalan paling belakang dan sahabatnya Jungkook berjalan di depannya.

“Beberapa meter lagi kita akan sampai di tempat tujuan. Hati-hati saat berjalan. Konsentrasi. Kalau salah menapakkan kaki, kau bisa jatuh ke jurang dan… ya, kau tahu kelanjutannya.” Bambam menjelaskan sambil merapatkan varsity juga membetulkan letak beanie-nya. Udara di sekitar mulai terasa dingin.

“Ya. Ya. Baiklah, Penjelajah Senior~” sahut Jungkook, menutup handycam-nya, lantas memasukkannya ke dalam saku hoodie merahnya.

Ini pertama kalinya Jungkook datang ke kawasan sejak ia pindah dari Busan ke Seoul 3 tahun yang lalu. Beruntung, Bambam mengajaknya ke tempat ini sebelum Jungkook menghabiskan 2 minggu liburannya tanpa membuat film pendek atau video dokumentasi.

“Semuanya! Hati-hati saat berjalan di area ini! Berjalan menyamping, pegangan pada dinding tebing!” Ketua klub pecinta alam yang berjalan paling depan berteriak memperingatkan anggota klubnya.

Mereka mulai berjalan menyamping dengan tubuh yang merapat pada dinding tebing, menapaki lintasan di sisi kiri tebing yang lebarnya hanya sekitar 40 cm. Di sisi kiri lintasan, ada sebuah jurang yang entah berapa puluh meter dalamnya. Yang jelas, begitu kau jatuh di sana, bisa dipastikan kau tidak akan melihat matahari terbit keesokan harinya.

Jungkook merasakan telapak tangannya mengeluarkan keringat dingin saat merayap pada dinding tebing yang kasar. Entah karena gugup atau karena udara yang semakin dingin karena ketinggian. Matahari yang bersinar sangat terik bahkan tidak sanggup untuk membuat tubuh Jungkook merasa hangat. Langkahnya yang kecil-kecil berbanding terbalik dengan ketakutan akan jatuh ke dasar jurang yang semakin besar. Ini salah satu alasan yang membuat dia enggan bergabung dengan klub pecinta alam dan memilih bergabung dengan klub sinema di sekolah, KEGIATAN KLUB PECINTA ALAM SERING KALI MENGUNDANG MALAIKAT MAUT!

“Tenangkan dirimu, Jungkook-ah. Jangan melihat ke bawah. Lihat saja ke depan dan berjalan pelan-pelan,” instruksi Bambam.

“A-aku mengerti,” cicit Jungkook.

Beberapa kali lelaki ber-hoodie merah itu menelan ludah saat sesekali mengintip ke arah jurang di bawah. Bulu kuduknya meremang dalam sekejap. Mendebarkan. Jungkook sungguh tidak habis pikir, kenapa Bambam menyukai kegiatan yang menantang maut seperti ini.

Tinggal beberapa meter lagi, Jungkook tiba di ‘tempat yang aman’. Jarak langkahnya yang sempit dan sangat hati-hati membuat ia jauh lebih lambat dibanding 3 orang lain yang lebih dulu tiba. Setidaknya, masih ada Bambam yang menemaninya menyusuri ‘jalan maut’ ini.

“Pelan-pelan saja, Brother. Tenang.” Bambam tidak berhenti mendikte sahabatnya. Beberapa kali tertawa kecil melihat gelagat Jungkook yang ketakutan.

“Y-ya, aku ta—OH! SHIT!!! OH, SHIT!!!”

Lelaki ber-hoodie merah itu mengumpat ketika ia melangkah dan… bebatuan yang menjadi pijakannya goyah. Wajahnya seketika pucat pasi. Dadanya tampak jelas kembang-kempis akibat napas yang tersengal, efek keterkejutannya. Degup jantungnya bedegup lebih cepat, rasanya ingin melompat menembus tulang rusuknya. Dia nyaris bernasib seperti serpihan-serpihan batu yang terjatuh ke dasar jurang.

“Hati-hati, Buddy. Ingat! Konsentrasi!” Bambam berusaha untuk tidak ikut panik, meski kejadian tadi cukup membuatnya ikut terkejut. Dia akan sangat merasa bersalah seandainya Jungkook benar-benar jatuh ke dasar jurang.

“Kau tidak apa-apa, hah?” teriak ketua kelompok, Junhong, di ujung sana.

Jungkook hanya mengangguk. Perasaan takut yang masih menyelimutinya, menahannya untuk sekedar berkata, “Aku baik-baik saja.”

Setelah beberapa saat menenangkan dirinya, Jungkook kembali melangkah. Mengambil langkah lebar untuk menghindari pijakan yang goyah itu, terasa sedikit susah karena dia juga harus tetap menjaga keseimbangan karena jalannya yang menyamping. Butuh sekitar 10 menit, Jungkook dan Bambam akhirnya tiba.

“Yang tadi nyaris saja~” gumam Jungkook setibanya ia di ‘tempat yang aman’.

Bambam terkekeh sambil menepuk pundak Jungkook. “Ya. Tapi untung kau selamat. Sensasinya menegangkan. Seru, bukan!?”

Jungkook mendengus. “Seru apanya? Aku hampir saja mati muda!” balas Jungkook. “Apa kita kita pulang lewat jalan itu lagi, hah?”

“Tidak. Kita akan lewat hutan,” sahut Bambam ringan.

Jungkook melotot. “Jadi, ada jalan lain di hutan untuk datang ke tempat ini?” Nada suaranya meninggi.

“Ya,” sahut Bambam lebih ringan dari sebelumnya.

Jungkook sadar dirinya baru saja dijahili. “Kenapa tidak bilang, hah? Kita kan bisa melewati jalan yang lebih aman!”

Bambam tertawa. “Sengaja. Kami hanya ingin memberimu sedikit pengalaman yang memacu adrenalin,” respon Bambam, masih dengan entengnya. Rasa-rasanya Jungkook ingin menjambak Bambam saat itu juga. “Ayo jalan. Kita harus tiba di tujuan saat tengah hari agar kita bisa kembali sore harinya,” ajak Bambam, berjalan mendahului Jungkook yang terlihat masih sedikit trauma dengan kejadian beberapa saat lalu.

Hah, sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mau menjadi anggota klub pecinta alam.

@@@@@

DAMN IT, BAMBAM! THIS IS SO AWESOME~!!!”

Bambam yang berdiri tepat di sebelah kanan Jungkook hanya menyungging senyum jumawa. Reaksi Jungkook persis seperti dugaannya sebelum berangkat. Begitu tiba di tujuan, tanpa basa-basi Jungkook langsung mengabadikan pemandangan sungai yang cukup lebar dengan air berwarna kehijauan karena alga yang hidup di dasarnya sekitar beberapa puluh meter di bawah sana. Tampak berkilau seperti hamparan emas karena biasan cahaya matahari.

“Ini bagian terbaik dari semua perjalanan menegangkan ini~” tambah Jungkook.

Lagi, lelaki ber-varsity biru di sebelahnya hanya tersenyum, lalu menegur, “Jangan banyak bicara. Hasil dokumentasimu nanti tidak bagus~”

Suara kekehan terdengar. “Gampang. Aku bisa menutupi suara kita dengan musik. Tenang saja.”

“Hei! Kalian berdua, ayo makan. Apa kalian tidak lapar, hah?” Junhong berteriak beberapa meter di belakang. Menikmati mi dalam cup plastik bersama 2 orang lainnya.

Bambam menoleh seraya melepas beanie-nya. “Baik, Sunbae~” sahutnya. “Jungkook-ah, ayo~”

Tidak ada yang lebih nikmat dibanding menyantap 1 cup mi instan di bawah matahari yang sinarnya terasa tidak begitu terik akibat terhalang oleh awan kelabu sambil memandang ke arah mahakarya Tuhan sejauh mata memandang.

Beristirahat beberapa menit setelah makan siang, mengobrol atau sekedar merebahkan diri memandang langit. Membiarkan udara yang cukup dingin membelai wajah, menenangkan pikiran dan memperbarui semangat sebelum memulai tahun ajaran baru 4 hari lagi.

“Kau mau kemana, Jungkook?” Bambam langsung melempar pertanyaan saat melihat sahabatnya beranjak dari pembaringannya.

“Panggilan alam,” Jungkook memegang perutnya. “Dimana aku bisa melakukannya, hah?”

“Di sana,” Bambam mengarahkan telunjuk kanannya ke arah hutan. “Jangan terlalu jauh masuk hutan. Nanti kau tersesat. Semuanya akan terlihat sama jika kau masuk ke dalam hutan.”

“Beres, Bos!” Lelaki ber-hoodie merah itu mengacungkan jempolnya ke arah Bambam sebagai tanda bahwa ia paham dengan penjelasan sahabatnya.

“Mau aku temani, hah?”

“Tidak usah!” Jungkook cepat menolak. “Aku bisa sendiri.”

Jungkook berjalan ke arah hutan sambil merekam apa yang berada di depannya. Hanya gambar batang-batang pohon yang besar yang tampak dalam layar kecil di sisi kiri handycam. Sesekali Jungkook menyorot ke arah aliran air sungai yang terlihat di antara batang-batang pohon di sisi kirinya. Oh, ini menyenangkan. Pengalaman pertamanya masuk ke dalam hutan.

Sebuah pohon berbatang sangat besar membuat Jungkook memutuskan untuk membuang apa-yang-seharusnya-dibuang di sana. Bergerak ke balik batang pohon, melakukan hal yang membuat ia masuk ke dalam hutan. Ini sangat menjijikkan, sebenarnya. Hanya membersihkan sisa kegiatannya dengan air yang hanya tersisa setengah botol.

Euwh~

Melupakan hal menjijikkan yang baru saja dilakukannya, Jungkook kembali beraksi dengan handycam-nya. Well, berjalan sedikit lebih ke dalam hutan sepertinya tidak apa-apa. Jungkook cukup percaya ingatannya masih bisa diandalkan untuk membawanya ke tempat teman-temannya berkumpul.

Lelaki ber-hoodie merah itu terus berjalan dan berjalan sembari menyorotkan handycam-nya ke beberapa titik yang menurutnya layak untuk diabadikan. Tanpa sadar, langkah kakinya telah membawanya keluar dari hutan, tiba di daerah tebing yang posisinya lebih rendah. Sungai yang terhampar di depan terlihat lebih dekat, hanya sekitar beberapa meter di bawah sana.

Jungkook melihat lintasan di sisi kirinya, lintasan yang mengarah ke sungai. Mengikuti nalurinya untuk merekam pemandangan yang bagus, ia menyusuri lintasan itu. Senyumnya merekah, menampilkan deretan gigi-gigi yang berjejer rapi, tanda bahwa ia benar-benar senang bisa mengabadikan tempat sebagus ini.

Jika ada lomba film dokumenter, Jungkook akan memasukkan video ini.

“DOR!”

Suara tembakan pistol membuat Jungkook terpaku sesaat, lantas celingak-celinguk mencari dimanakah suara itu berasal. Hingga, tanpa sengaja kedua matanya melihat beberapa orang di bawah sana, di tepi sungai. Jungkook ingin berlari, tetapi… rasa penasaran membuatnya bertahan, bahkan menyembunyikan tubuhnya di balik sebuah batu yang cukup besar untuk melindungi tubuhnya, melihat apa yang terjadi di bawah sana dengan bantuan handycam yang telah di-zoom sekitar 300%.

Di sana, melalui layar kecil di sisi handycam-nya, Jungkook bisa melihat sekitar 4 orang yang bersimpuh dengan mata yang diikat dengan kain sehingga Jungkook yakin, ke-4 orang itu tida bisa melihat seorang lelaki berambut cepak berwarna blonde berdiri di depan mereka, mengacungkan pistol ke arah mereka sambil mengatakan sesuatu. Tangan kanan Jungkook sedikit bergetar melihat apa yang direkamnya. Matanya membulat sempurna manakala ia melihat lelaki berambut blonde itu menembak ke-4 orang yang bersimpuh di hadapannya tepat di kepala secara berurutan. Persis seperti seseorang yang menembak orang-orangan kaleng dengan air soft-gun di arena tembak-menembak di saat festival tahun baru.

Napas Jungkook tersengal. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin keluar dari pori-pori dahinya. Tangan bahkan sekujur tubuhnya sempurna bergetar hebat. Jungkook sadar, ia baru saja menjadikan dirinya sebagai saksi mata sebuah pembunuhan massal. Gambar yang direkamnya bisa menjadi bukti yang sangat kuat.

“HEI, KAU!”

Jungkook terperanjat dan reflek menolehkan kepalanya ke asal suara. Melihat 2 orang berbaju hitam berdiri beberapa meter di sana. Tatapan geram yang ditujukan ke-2 lelaki itu pada Jungkook membuat ia sadar…, ia sedang dalam bahaya. Kedua orang itu pasti teman-teman orang yang berambut blonde di bawah sana. Tanpa pikir panjang, Jungkook melesat masuk ke dalam hutan.

“HEI, KAU! BERHENTI!!!”

Tentu saja Jungkook tidak mengindahkan apa yang diperintahkan kedua orang itu. Mengikuti instingnya, Jungkook berlari tunggang langgang dengan satu tujuan, tentu saja menyelematkan dirinya. Ada saat Jungkook menoleh ke belakang, hanya ingin memastikan seberapa dekat jarak antara ke-2 lelaki itu dengan dirinya. Dan, tungkainya semakin bergerak cepat menyadari bahwa… jarak ke-2 lelaki itu cukup dekat.

“HEI! BERHENTI~!!!”

Semakin ke-2 lelaki itu berteriak, Jungkook semakin meningkatkan kecepatan larinya. Dia seperti tidak bisa lagi mengendalikan kecepatan tubuhnya. Layaknya mobil dengan rem blong, Jungkook berlari sangat cepat tanpa bisa menghentikan dirinya sendiri. Hingga…, tanpa sengaja salah satu kakinya terantuk batu, membuatnya jatuh terguling-guling menuruni dataran.

Kedua lelaki itu berhenti mengejar begitu melihat remaja yang mereka kejar terguling-guling di bawah sana, lengkap dengan erangan kesakitan yang terdengar. Mereka saling berpandangan.

“Sepertinya dia akan mati. Ujung dari tempat ini adalah sungai yang dalam,” kata salah satu dari mereka.

“Begitu?”

“Ya.”

“Apa sebaiknya kita memastikan dia sudah mati atau belum, hah? Bisa gawat kalau ternyata dia selamat. Dia sepertinya melihat dan merekam pembunuhan tadi.”

“Tidak perlu. Aku yakin dia pasti mati di bawah sana. Sebaiknya kita kembali ke sana. Dia pasti mencari kita.”

Kedua lelaki itu menatap ke arah dimana Jungkook terjatuh untuk beberapa saat, lalu beranjak sambil meyakinkan diri mereka bahwa… remaja ber-hoodie merah itu telah mati di bawah sana.

@@@@@

Sebuah rumah susun tidak berpenghuni dikepung oleh beberapa orang yang berseragam abu-abu dan celana biru tua. Polisi. Beberapa orang melakukan pengepungan di luar, sementara beberapa orang lainnya menyusup ke dalam. Polisi mencurigai rumah ini adalah tempat penyimpanan narkoba, bagian dari jaringan bandar narkoba yang selama ini meresahkan Kepolisian Korea Selatan.

“SIAPA PUN KAU, MENYERAHLAH! RUMAH INI SUDAH DIKEPUNG OLEH POLISI!”

Seorang polisi berteriak kepada seseorang di dalam sebuah ruangan. Menyandarkan tubuhnya di balik dinding, menunggu respon dari orang yang ia—dan teman-temannya—kejar. Pistol telah bersiaga, bersiap menembak jika orang itu melakukan perlawanan.

“Kita harus masuk, Seokjin-ah!” bisik polisi lain yang berdiri di belakang polisi yang berteriak tadi.

“Kalau begitu, bersiaplah, Mino-ya.”

Mengikuti saran temannya, Seokjin, melangkahkan dirinya memasuki ruangan. Namun, baru selangkah…

“DOR! DOR!”

… seseorang di dalam langsung menembak, seketika membuat Seokjin bersembunyi di balik tembok, tempatnya semula. Napasnya tersengal, menyandarkan punggungnya. Begitu suara tembakan tidak terdengar, polisi itu melakukan tembakan balasan ke arah pantry—arah, dimana peluru yang nyaris menewaskannya, berasal. Ada seseorang yang bersembunyi di balik meja dapur itu.

“DOR! DOR! DOR! DOR!”

Empat peluru dilepaskan oleh Seokjin, membuat seseorang keluar dari persembunyiannya, berguling di atas pantry untuk berpindah posisi, lantas melarikan diri menuju ruangan lain di balik gorden merah. Seokjin dan temannya, Mino, mengejarnya. Seorang lelaki yang memakai baju hitam dengan lincah membawa tubuhnya menaiki tangga spiral yang terbuat dari besi menuju suatu tempat di atas.

“DOR!” Suara tembakan Seokjin terdengar di antara suara hentakan-hentakan sepatu yang menapaki anak tangga yang terbuat dari besi.

“DOR!”

“AGH!”

Buronan itu balas menembak. Seokjin sempat menghindari serangan, namun peluru itu malah melubangi lengan kanan Mino yang berada di belakangnya.

“Astaga! Mino… kau…”

“TIDAK USAH PEDULIKAN AKU! KEJAR DIA!” teriak Mino.

Seokjin meninggalkan Mino dan lengannya yang ditembus oleh peluru, mengeluarkan darah. Mengejar buronan hingga ke loteng. Tiba di loteng, Seokjin mendapati buronannya tampak bingung mencari jalan untuk kabur. Di sisi kiri dan belakang buronan ada tembok, sementara di sisi kanannya hanya pagar pembatas setinggi pinggang yang catnya sudah mengelupas. Tidak ada apa-apa di bawah sana selain rawa-rawa. Seokjin mengacungkan moncong pistolnya ke arah buronan, membuat buronan itu semakin tidak punya celah untuk melarikan diri.

“JATUHKAN SENJATAMU!” perintah Seokjin. “MENYERAHLAH!”

“TIDAK! TIDAK AKAN!” Sang buronan menolak keras, melihat-lihat sekitar,masih berusaha untuk memikirkan cara terlepas dari posisi yang tidak menguntungkan buatnya. Pistol yang dipegangnya pun mengacung ke arah Seokjin sebagai pertahanan terakhir jika Seokjin nekad meringkusnya saat ini.

“KAU SUDAH TERKEPUNG! KAU TIDAK BISA LARI KEMANA-MANA LAGI!”

“CEREWET!” Sang buronan melepaskan tembakan, namun tidak seberuntung yang tadi, kali ini peluru itu menyambar lengan kiri Seokjin. Polisi itu lengah sesaat dan buronan itu menggunakan kesempatan untuk kabur melalui tangga, tetapi…

“DOR! DOR!”

Seokjin menyarangkan 2 peluru tepat di masing-masing betis buronan, membuat buronan itu jatuh dan terguling menuruni tangga. Seokjin mengejarnya, mengabaikan luka yang mengucurkan darah di lengan kirinya. Di bawah, Seokjin mendapati beberapa orang polisi mengepung buronan itu, salah satu di antaranya langsung menggelangkan borgol di kedua pergelangan sang buronan.

“Kau tertembak?” Seorang polisi menghampiri Seokjin setelah 2 orang polisi lainnya membawa buronan itu ke mobil.

Seokjin mengangguk. “Hanya luka sambaran peluru. Tidak parah,” jawabnya. “Dimana Mino, hah? Tadi dia juga tertembak.”

“Dia sedang dibawa ke rumah sakit. Peluru itu terlalu dalam menembus otot lengannya,” jawab polisi itu, Mark. “Ayo, sebaiknya obati lukamu juga, lalu kembali ke kantor.”

Seokjin duduk di dalam mobil polisi yang ia kemudikan saat datang ke tempat ini. Mengobati luka di lengannya sendiri. Hal yang biasa dilakukan. Ia cukup beruntung lukanya tidak separah milik temannya, Mino.

“Akhirnya, kita bisa menangkap seseorang dari organisasi The Red Bullet,” Mark membuka pembicaraan di dalam mobil, duduk di balik kursi kemudi.

“Ya. Pastikan kali ini, dia tidak tewas,” Seokjin menyahut sambil membetulkan lengan seragam abu-abunya yang ia gulung untuk memudahkan ia mengobati lukanya.

“Hah. Organisasi itu benar-benar membuat kepalaku pusing saja!”

Seokjin tertawa pelan. “Kau pikir hanya dirimu, hah? Semua anggota tim juga merasa begitu, Mark Yi-En Tuan!” Dia menggeleng-gelengkan kepala. “Sudahlah. Kita susul teman-teman ke kantor. Aku sudah tidak sabar ingin menginterogasi tangkapanku hari ini.”

Bergegas Mark menyalakan mesin mobil, melajukan kendaraan itu menuju Kantor Pusat Kepolisian Seoul. Dia juga sama tidak sabarnya ingin menginterogasi salah satu anggota The Red Bullet, sebuah organisasi yang diketahui adalah dalang dibalik pengedaran obat-obatan terlarang di Korea Selatan. Tidak hanya itu, beberapa hasil penyelidikan belakangan ini mengatakan, The Red Bullet juga bergerak di bidang penjualan organ-organ tubuh manusia.

Tidak mudah menangkap mereka. Kejahatan yang mereka lakukan selalu direncanakan dengan rapi. Karena itu, pihak Kepolisian Seoul membentuk tim khusus untuk menangani semua kasus yang melibatkan organisasi The Red Bullet. Tim itu cukup bekerja dengan baik. Sekitar 2 minggu yang lalu, mereka sempat menangkap seorang anggota The Red Bullet—Bobby—dan dari anggota yang tertangkap itulah, pihak kepolisian mengetahui tentang organisasi kejahatan ini. Hanya saja, baru beberapa hari mendekam di penjara, anggota The Red Bullet itu tewas keracunan arsenic di dalam makannya.

“Rrrr… rrr… rrr…”

Waktu telah menunjuk pukul 4 sore lewat 45 menit ketika Seokjin mendengar ponselnya berdering. Merogoh celana hitamnya, mengeluarkan ponselnya dari sana. Keningnya agak berkerut begitu melihat nama adiknya tertera di layar ponsel. Uh? Bukankah dia bilang baru akan pulang besok pagi, hah?

“Ya, Jungkook-ah?” sahut Seokjin setelah merapatkan ponsel di telinga kirinya.

“Seokjin Hyung?”

Sekali lagi keningnya berkerut ketika mendengar suara yang menyebut namanya itu bukanlah suara adiknya.

“Ini siapa? Dimana Jungkook?” Nada suara Seokjin terdengar sedikit cemas. Mark yang mengemudi di sebelahnya bahkan sempat mengalihkan perhatian padanya.

“Ini Bambam,” sahut si penelepon.

“Bambam?” ulang Seokjin. “Ada apa?”

“Jungkook masuk rumah sakit. Seokjin Hyung bisa ke Seoul Hospital sekarang?”

Seokjin membulatkan kedua matanya. “Apa? Rumah sakit? Apa yang terjadi, hah?” Kepanikan jelas tersirat dari nada suara polisi muda itu. Lagi-lagi membuat Mark mengalihkan pandangannya dari jalan raya.

“Nanti aku jelaskan. Hyung harus ke sini sekarang.”

“Baiklah. Aku segera ke sana. Jangan kemana-mana sampai aku datang, mengerti?”

Seokjin baru selesai memutuskan panggilan dari Bambam ketika Mark bertanya, “Ada apa, hah? Siapa yang masuk rumah sakit?”

Seokjin menoleh ke arah rekan setimnya. “Adikku. Bisa antarkan aku Seoul Hospital, hah?”

“Tentu saja.”

Lelaki yang lengannya terluka itu menyandarkan punggungnya seiring Mark memutar balik arah kendaran menuju arah Seoul Hospital. Menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya.

Apa yang terjadi pada anak itu?

@@@@@

Sesosok remaja berusia 18 tahun terbaring lemah di atas tempat tidur. Kepalanya dibebat dengan perban berwarna kecoklatan. Selang infuse yang mengalirkan cairan glingerkose terpasang pada nadinya. Beberapa luka lecet menghiasi wajah tampannya, juga di tangan kanan-kirinya—setidaknya itu yang terlihat.

Di sisi kanan tempat tidurnya, seorang lelaki yang usianya terpaut 7 tahun lebih tua, tampak tertidur sembari menyandarkan punggung lelahnya pada sandaran kursi. Masih mengenakan seragam kepolisiannya. Kedua tangannya dilipat di depan dada dengan kaki yang lurus ke depan, masuk ke dalam kolong tempat tidur.

Seokjin telah tiba di ruangan ini sejak beberapa jam yang lalu. Terkejut mendapati kondisi adiknya yang memburuk, berbanding dengan keadaannya saat hendak berangkat hiking pagi dini hari tadi—penuh semangat. Tanpa banyak bicara, ia langsung melakukan ‘interogasi’ pada Bambam, sahabat adiknya—orang yang mengajak Jungkook untuk hiking.

Dengan nada penuh penyesalan, Bambam menceritakan apa yang terjadi.

“Jungkook pamit untuk buang air setelah makan siang, Hyung. Aku bilang agar dia masuk ke dalam hutan, tetapi jangan masuk terlalu jauh. Tapi, sekitar 20 menit setelah Jungkook pergi, dia tidak kembali juga. Aku dan teman-teman mulai cemas. Kami memutuskan untuk melakukan pencarian sendiri, tetapi kami tidak berhasil menemukan Jungkook.” Bambam mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya. “Kami memutuskan untuk meminta bantuan dari warga yang tinggal di pedesaan di dekat hutan dan… beberapa dari mereka menemukan Jungkook pingsan di dekat sungai. Setelah itu, kami membawa Jungkook ke sini.”

Seokjin bisa menebak apa yang membuat Jungkook tidak kembali ke tempat teman-temannya. “Dia pasti keasikan merekam sesuatu! Ck!”

“Eungh~” Erangan pelan itu membuat Seokjin yang tidak sepenuhnya tidur, langsung terjaga dalam sepersekian detik. Dilihatnya Jungkook membuak kedua matanya perlahan, mengerang sekali lagi sambil menyentuh kepalanya.

“Bagaimana keadaanmu? Sudah mendingan, hm?”

Agak pelan, Jungkook mengalihkan wajahnya ke sebelah kanan. Kedua matanya membulat dan tubuhnya sedikit tersentak melihat siapa yang duduk di sana. “Seok-Seokjin Hyung?” gumamnya nyaris tak terdengar. “Se-sejak kapan hyung di sini?” tanyanya, kali ini sedikit lebih terdengar dibanding yang sebelumnya.

“Beberapa jam yang lalu,” jawab Seokjin. “Bagaimana keadaanmu, hm?” Lelaki itu mengulang pertanyaan yang belum sempat dijawab oleh adiknya.

Jungkook yang tubuhnya dibalut seragam pasien Seoul Hospital itu menghela napas sebelum berkata, “Kepalaku agak pusing, Hyung.”

Seokjin mengangguk. Tidak lama, ia mengalihkan pandangan ke arah nakas. Ada makan malam untuk pasien di sana. “Ah, apa kau lapar, hm? Ini ada makanan untukmu.” Seokjin mengambil mangkuk berisi bubur.

Sang adik menggeleng. “Aku tidak napsu makan, Hyung.”

“Kalau begitu, minum susu saja,” kali ini Seokjin mengambil segelas susu setelah meletakkan mangkuk bubur di tempatnya semula, “kau harus mengisi perutmu.”

Jungkook menurut. Dengan telaten Seokjin menyuapi susu ke dalam mulut adiknya, sesendok demi sesendok. Anak muda itu belum bisa melakukannya sendiri. Sedikit pergerakan membuat kepalanya terasa pusing.

“Apa yang terjadi, Jungkook-ah? Kenapa kau bisa seperti ini?” tanya Seokjin sambil menyuapkan sesendok susu ke dalam mulut adiknya. Tapi…

“Uhuk… uhuk…” Jungkook tiba-tiba terbatuk—tepatnya tersedak. Cairan putih yang baru saja masuk terlihat keluar dari tepi mulutnya. Pertanyaan kakaknya barusan membuatnya terkejut karena teringat sesuatu. “Handycam-ku! Dimana handycam-ku, Hyung?” tanyanya panik.

Seokjin yang baru saja mengambil tisu di meja yang berada di belakangnya, agak terkejut melihat gelagat adiknya yang kepanikan. “Sudahlah. Jangan memikirkan handycam-mu,” Seokjin agak kasar menyeka lelehan susu di sudut mulut adiknya. “Pasti karena keasikan merekam sesuatu, kau sampai seperti ini, kan?”

“Aku ingin melihat handycam-ku, Hyung. Apa handycam-ku rusak, hah?” Jungkook masih dalam keadaan paniknya.

Lelaki berkemeja putih yang lengannya digulung sampai siku itu mendengus. “Di sana,” ia menunjuk ransel Jungkook yang tertutupi hoodie merahnya, “ada di dalam tasmu.”

“Bisa tolong ambilkan untukku, Hyung? Aku ingin memastikan benda itu tidak rusak.”

Lagi, Seokjin mendengus, kali ini disertai dengan bola matanya yang memutar jengah. Agak malas, ia beringsut menghampiri ransel adiknya, mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam dari sana.

“Memangnya apa yang kau rekam, hah? Kenapa sampai panik seperti itu?”

Mengacuhkan pertanyaan kakaknya, Jungkook menyalakan benda itu. Beberapa detik menunggu hingga jemarinya bergerak menekan-nekan tombol-tombol kecil pada handycam-nya. Tidak lama, layar kecil di sisi kiri benda itu menampilkan gambar dirinya dan ke-4 temannya yang bersiap memulai hiking.

Benda ini masih bagus.

“Sudah cukup!” Seokjin merebut benda itu dari tangan adiknya.

Hyung! Jangan…!” Jungkook panik.

“Kenapa?” Sesaat, Seokjin melihat video yang terputar, lantas mendengus pelan, kemudian mematikan benda itu. “Kau harus banyak istirahat. Jangan memikir video, film atau apapun yang berkaitan dengan handycam-mu ini!”

Jungkook hanya bisa memanyunkan bibirnya melihat Seokjin memasukkan handycam-nya ke dalam ranselnya. Jujur, ia ingin sekali lagi melihat apa yang direkamnya sampai ia dikejar-kejar, jatuh terguling-guling dan baru bisa berhenti ketika tubuhnya tertahan oleh batang pohon yang roboh, berakhir dengan terbaring di tempat ini. Tapi…, dia tidak bisa menonton video itu di sini.

Ada kakaknya.

Dan…, Jungkook ingin merahasiakan video itu.

@@@@@

“BODOH!!!” Lelaki berjas hitam dengan dalaman kaos berwarna merah terang itu berteriak tepat di depan wajah seseorang di dalam sebuah ruangan yang dicat berwarna merah-hitam. Sepasang mata sipitnya mendelik mengerikan ke arah seseorang yang dimarahinya. “BAGAIMANA BISA ADA ANAK KECIL YANG MEREKAM KAU MEMBUNUH SAMPAH TIDAK BERGUNA ITU, ZICO-YA?” Lelaki itu menendang Zico dengan kaki kanannya yang ditutupi sepatu sepatu pantofel bersol tebal. Sangat sukses membuat Zico terjengkang menabrak lemari tempat deretan botol berisi minuman keras terpajang. Beberapa di antara jatuh dan pecah membasahi lantai marmer.

“A-Aku… sudah melaksanakan tugas yang kau perintahkan di tempat yang paling jarang didatangi orang, Hyung. A-anak itu…, anak itu sama sekali di luar dugaanku. Kedua anggotaku yang mengejarnya mengira anak itu sudah mati saat jatuh terguling-guling di suatu tempat, tapi… anak itu ternyata hanya pingsan saat ditemukan oleh polisi hutan yang melakukan patroli sungai.”

Lelaki yang dipanggil dengan sebutan ‘Hyung’ itu mendecih. Menganggap apa yang dikatakan Zico hanyalah sebuah alasan tidak berguna.

“Kau tahu? J-Hope baru saja ditangkap hari ini! Itu sangat berbahaya bagi organisasi kita. Dan sekarang, kau datang dan mengatakan bahwa ada seorang anak SMA yang merekammu saat membunuh orang-orang yang telah mengkhianati organisasi?” Ia menatap Zico berang. “ITU SAMA BERBAHAYANYA DENGAN PENANGKAPAN J-HOPE!” teriaknya marah. Sebuah tato bergambar peluru berwarna merah bertuliskan The Red Bullet terlihat jelas pada batang lehernya yang menegang. “BAGAIMANA KALAU ANAK ITU MEMPERLIHATKAN VIDEO ITU KEPADA ORANG-ORANG? LEBIH BURUK, BAGAIMANA KALAU DIA MEMPERLIHATKAN VIDEO ITU PADA POLISI? KAU MAU MEMBUSUK DI PENJARA, HAH?” Lelaki itu menarik kerah pakaian Zico, memaksa lelaki yang tampak tegang itu untuk berdiri menghadapnya.

“A-Aku…” Zico masih berusaha membela diri, tapi…

“BUGH!” Lelaki itu memukul sisi kanan wajah Zico dengan tinju kanannya, membuat Zico kembali jatuh di atas lantai marmer, tangannya terkena pecahan botol. Sakit. Tapi, jauh terasa lebih sakit bagi Zico karena jemari lelaki itu dihiasi cincin-cincin emas berukuran besar, meninggalkan bekas kemerahan yang berbeda di pipinya, juga luka berdarah di sudut kanan bibirnya.

“Kau tahu apa akibatnya jika seorang anggota telah melakukan hal yang membahayakan organisasi, hah?” Lelaki itu mengeluarkan revolver dari balik jas hitamnya, mengacungkan mulut senjata itu ke arah Zico.

Tanpa pikir panjang Zico merangkak berlutut di hadapan lelaki itu sambil berkata, “Maafkan aku, Hyung. Aku akan melaksanakan tugasku lain kali. Maafkan aku.” Dia memohon sambil mengeluarkan air mata. Bahkan seorang penjahat pun akan menangis jika akan berhadapan dengan kematian.

“Itu adalah peraturannya, Zico-ya~!” desis lelaki itu, masih mengarahkan moncong revolver-nya ke arah kepala Zico. Jari telunjuknya bersiap menarik pelatuk…

“TOK! TOK! TOK!”

… tapi, seseorang mengetuk pintu ruangan.

“Suga Hyung, boleh aku masuk?” Disusul suara deep-husky yang terdengar di balik pintu.

Lelaki yang memegang revolver itu, Suga, melirik Zico dan berkata, “Kau beruntung masih bisa menghirup udara untuk beberapa menit ke depan,” lantas, berteriak, “Masuklah, Rapmon!”

Pintu terkuak dan lelaki berjas hijau keabuan memasuki ruangan. Pemandangan dimana teman baiknya, Zico, yang sedang berlutut di depan Suga, membuatnya heran. Ah, dia pasti belum mendengar kabar.

“Apa yang terjadi, Hyung? Kenapa Zico…?” Ia memandang Suga dan Zico bergantian.

Suga menoleh dan berkata, “Jadi, kau belum mendengar kabar, hah?”

“Kabar? Kabar yang mana, Hyung?” Kening lelaki berusia 23 tahun itu berkerut. “Yang aku dengar hanya kabar J-Hope tertangkap di tempat biasa ia melakukan transaksi besar-besaran.”

“Kau ketinggalan berita yang lebih baru, rupanya.” Suga menyeringai. “Si tolol ini melakukan 1 kecerobohan yang fatal. Ada seorang anak SMA yang merekamnya melakukan pembunuhan terhadap… ya, kau tahu, para pengkhianat keparat itu!”

“Benarkah?” Rapmon terkejut. “La-lalu, apa yang akan kita lakukan?”

“Karena itu aku menyuruhmu ke sini, Rapmon. Aku menugaskanmu untuk menuntaskan masalah ini! Cari tahu siapa anak itu! Apakah dia masih hidup atau sudah mati? Jika masih hidup, aku ingin kau menghabisinya!” perintah lelaki 25 tahun itu. “Habisi anak itu sampai tidak ada yang tersisa darinya,” tambahnya dengan nada yang membuat bulu kuduk siapa pun bergidik ngeri.

“Aku mengerti, Hyung.”

Jangan melakukan kesalah sedikit pun, Rapmon.” Suga menoleh ke arah Zico yang melihatnya dengan tatapan memelas. “Karena jika kau melakukannya…”

“DOR!”

“… kau akan berakhir seperti Zico!”

Tubuh Zico langsung ambruk di atas kaki Suga dengan darah yang mengaliri tubuhnya begitu sebuah peluru dari revolver menembus batok kepalanya. Rapmon terkejut. Bukan karena kejadian penembakan itu, tetapi… ia terkejut Suga melakukan hal itu pada Zico. Bagaimana pun, Rapmon tahu, Zico adalah salah satu adik kesayangan Suga, sama seperti dirinya.

Suga menendang mayat Zico yang menyentuh sepatunya, jijik, kemudian berjalan mengitari meja, duduk di kursinya sambil menaikkan kedua kakinya ke atas meja. “Kuharap kau benar-benar mengerti, Rapmon,” katanya sambil mengelap moncong revolver dengan selembar sapu tangan kesayangannya.

“I-iya, Hyung~” Nada suara Rapmon sedikit bergetar.

“Bagus,” sahut Suga. “Keluar dari ruanganku dan laksanakan tugasmu,” perintahnya. Rapmon berbalik untuk keluar dari ruangan, tapi… Suga kembali bersuara, “Dan perintahkan seseorang untuk membersihkan ruanganku. Aku ingin ruanganku bersih sebelum aku berangkat ke Macau.”

“Baik, Hyung. Aku permisi.”

Suga mengalihkan pandangannya dari revolver ke arah punggung Rapmon yang menjauh seiring lelaki itu melangkah menuju pintu. Aku tidak segan-segan menghabisimu juga kalau kau mengecewakanku, Rapmon!

@@@@@

“Bagaimana keadaan adikmu? Kudengar dia masuk rumah sakit?”

Sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut teman seruangannya, menyambut Seokjin yang baru saja duduk di kursinya.

“Dia baik-baik saja, Mino-ya,” jawabnya. “Kau sendiri? Bagaimana lenganmu?” tanyanya, menunjuk lengan lelaki di hadapannya melalui gidikan kepala.

Sekilas, Mino melirik lengan kirinya yang diperban dan berkata, “Ya. Jauh lebih baik dibanding kemarin.”

Suasana pagi ini belum begitu ramai di Kantor Pusat Kepolisian Seoul, terlebih… di dalam sebuah ruangan tempat para tim khusus ditugaskan. Dari 4 kursi-meja yang ada, baru 2 kursi yang terisi. Entah kemana 2 orang lainnya. Padahal, di jam seperti ini biasanya mereka telah ribut membahas hasil penyelidikan tentang tugas khusus yang menjadi tanggung jawab mereka.

“Apa… orang yang telah kita tangkap kemarin telah diinterogasi, hm?” Seokjin bertanya.

“Sepertinya belum. Mark dan Jinwoo tidak memberitahuku apapun.”

Seokjin berdiri dari duduknya. “Baiklah. Aku yang akan melakukannya…”

Tepat di saat ia hendak memegang knop pintu, ada seseorang di luar yang lebih dulu membuka pintu. Dengan sangat jelas, Mino bisa melihat daun pintu itu menghantam dahi Seokjin.

“DUK!”

“AKH!”

“Astaga. Kau tidak apa-apa?” Jinwoo terkejut menyadari daun pintu yang didorongnya menghantam kepala seseorang.

Seokjin yang menggosok-gosok dahinya berkata, “Tidak apa-apa selama ketampananku tidak hilang~”

Mino dan Jinwoo berteriak meledek. Seokjin tertawa kecil, lantas menyingkir, memberi jalan untuk Jinwoo, salah satu teman setimnya, masuk ke ruangan. “Memangnya kau mau kemana, Seokjin-ah?” tanya Jinwoo lagi.

“Menginterogasi anggota The Red Bullet yang baru ditangkap kemarin.”

“Jung Hoseok?! Aku sudah melakukannya semalam,” sahut Jinwoo. “Tapi, dia tidak mau mengatakan apapun padaku.”

“Dia harus dipaksa,” gumam Seokjin di tempatnya, menatap kedua rekannya bergantian.

“Ya. Kita tidak bisa membiarkan dia menutup semua informasi yang membantu kita untuk menangkap orang-orang di balik organisasi itu,” tambah Mino.

Jinwoo menghela napas. “Kalian tidak mengerti,” selanya. “Dia tampak ketakutan dan tertekan. Dari gelagatnya yang aku lihat selama aku melakukan interogasi, beberapa kali kulihat matanya melirik ke arah pintu. Seolah-olah…, dia merasa dirinya sedang diawasi seseorang di luar.”

“Siapa? Siapa yang mengawasinya?” Seokjin bertanya antusias.

“Aku juga tidak tahu,” sahut Jinwoo. “Sejak kematian anggota The Red Bullet yang lalu, si Bobby, aku merasa bahwa… ada seseorang atau lebih yang merupakan anggota mereka di kepolisian ini.”

“Jangan bicara yang tidak masuk akal!” celetuk Mino. “Mana mungkin ada anggota mereka yang masuk ke tempat ini? Apa mereka sudah gila?”

“Tapi, itu bisa saja terjadi, Mino-ya!” Jinwoo kukuh dengan pendapatnya. “Bagaimana bisa racun arsenic ada di makanan anggota yang tewas itu, sementara makanan para tahanan lain baik-baik saja. Hanya dia yang keracunan dan tewas. Itu berarti ada orang yang menaruh racun arsenic di makanan orang itu!” Jinwoo tampak terengah-engah setelah menjelaskan alasannya.

“Jadi, kau yakin bahwa memang ada anggota The Red Bullet yang menyelinap di kantor kepolisian ini, hm?” tanya Seokjin.

“Apa aku harus menjelaskan ulang semua ucapanku tadi, hah?” balas Jinwoo sedikit emosi. “Kita harus mencari tahu apa benar ada anggota The Red Bullet yang berada di dalam tempat ini!”

Tepat di saat Jinwoo mengakhiri ucapannya, pintu ruangan terbuka sekali lagi. Mark masuk dengan langkah tegas sambil membawa sebuah amplop cokelat berukuran besar.

“Apa yang kau bawa, Mark-ah?” tanya Seokjin penasaran. Pandangannya mengikuti Mark yang berjalan ke mejanya.

“Aku menemukan sesuatu,” kata Mark, melihat satu per satu wajah teman-teman seruangannya dengan tangannya yang sibuk mengeluarkan beberapa lembar kertas dari amplop yang dibawanya, “yang berkaitan dengan The Red Bullet.”

Tiga kata terakhir seperti sebuah magnet yang menarik Seokjin, Jinwoo dan Mino beranjak dari kursi masing-masing dan berdiri di depan meja Mark. Seokjin yang berada di tengah, memegang lembar dokumen yang diberikan Mark, membacanya bersama Jinwoo dan Mino yang berdiri di sisi kiri dan kanannya.

“Aku mendapatkan data ini dari temanku yang bertugas sebagai polisi hutan. Mereka menemukan 4 mayat saat melakukan patroli sungai di sore hari. Empat mayat dengan luka tembak di bagian dahinya,” jelas Mark.

“Adikku pergi ke tempat ini kemarin,” celetuk Seokjin.

Mino lantas merebut kertas dokumen itu dari tangan Seokjin, kemudian bertanya, “Lalu, apa hubungan ke-4 mayat itu dengan organisasi The Red Bullet?” tanyanya sambil menatap Mark.

Tangan kanan Mark bergerak mengeluarkan 4 lembar foto dari dalam amplop yang sama, kemudian menjejerkannya di hadapan teman-temannya sambil berkata, “Perhatikan foto-foto ini. Ada tato khusus di satu bagian di masing-masing tubuh mayat.”

Jinwoo, Seokjin dan Mino mengambil masing-masing selembar dari foto itu, mengamati tato yang dimaksud oleh Mark. Tato bergambar peluru merah dengan sebaris tulisan di sekitarnya. Dalam beberapa saat, mereka bisa menyimpulkan sesuatu.

“Mereka anggota The Red Bullet!” Jinwoo, Seokjin dan Mino berseru kompak. Tato itu bukan sesuatu yan asing lagi bagi mereka. Bobby, anggota The Red Bullet yang mereka tangkap, namun tewas, J-Hope atau Jung Hoseok, mereka berdua memiliki tato di salah satu bagian tubuh yang menandakan bahwa mereka adalah bagian dari organisasi terlarang itu.

“Lalu, kapan waktu kematian mereka?” tanya Jinwoo.

Mark menghela napas. “Waktu kematiannya tidak bisa diperkirakan. Lama terendam di dalam air mengacaukan kondisi tubuh mayat sehingga tim forensik kesulitan menenutukan kapan tepatnya kejadian ini.”

“Kita harus pergi ke tempat ini untuk melakukan penyelidikan,” usul Seokjin.

Mark mengangguk. “Aku baru mau mengusulkan itu.”

“Baiklah, kita berangkat sekarang.”

@@@@@

Ini hari pertama Jungkook masuk sekolah setelah terbaring selama 4 hari di rumah sakit. Menjalani hari sekolah seperti biasa—meski hari ini dia telah resmi menjadi siswa kelas 2; belajar, istirahat, belajar istirahat dan belajar lagi hingga bel tanda usai menggema ke seluruh penjuru sekolah.

Menyenangkan.

Paling tidak itu yang dirasakan Jeon Jungkook setelah 4 hari merasa bosan karena tidak ada yang menemaninya di rumah sakit. Hyung-nya, Seokjin, tidak bisa menemaninya karena harus bekerja. Di sekolah, dia bisa bertemu dengan teman-temannya. Tertawa dan melupakan sakit di kepala yang kadang masih terasa.

“Kau tidak apa-apa pulang sendirian? Apa aku suruh anak-anak untuk mengantarmu saja, hah?” Jungkook bisa menangkap nada cemas dari suara sahabat yang menemaninya berjalan menuju halte di depan sekolah.

“Ya. Aku bisa pulang sendiri. Tenang saja. Kau tidak usah cemas seperti itu.”

Meski kedengarannya ringan, tapi Bambam tetap merasa tidak enak jika membiarkan Jungkook pulang sendirian dengan keadaan yang belum stabil. Kalau bukan karena ada rapat dadakan dengan klub pecinta alam sepulang sekolah, Bambam sudah pasti akan mengantar sahabatnya itu pulang. Sekarang saja, Bambam sampai berbaik hati membawakan ransel merah milik Jungkook untuk menebus rasa bersalahnya. Padahal, Jungkook sama sekali tidak menganggap Bambam melakukan kesalahan. Semua yang dialaminya terjadi karena…, ya, ulahnya sendiri.

“Sebaiknya kau masuk. Rapatmu pasti sudah mulai,” ujar Jungkook begitu ia tiba di halte, duduk dengan beberapa siswa lain.

“Benar tidak apa-apa?” Bambam menyerahkan ransel merah itu kepada si pemilik.

“Tentu saja. Aku bukan anak kecil berusia 5 tahun yang harus kau temani untuk menunggu bis, Bambam.”

“Baiklah,” sahut Bambam. “Aku masuk. Maaf tidak bisa menemanimu, Buddy. Sampai jumpa besok.” Bambam melambaikan tangannya sebelum berlari masuk ke dalam area sekolah.

Bis berwarna biru yang biasanya membawa Jungkook ke halte yang paling terdekat dengan rumahnya belum juga terlihat. Beberapa kali lelaki beransel merah itu mengecek arloji yang melingkar di pergelangannya. Biasanya tidak selambat ini. Apa rute bis itu bertambah, hah?

Jungkook baru mau merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel ketika secara kebetulan benda itu bergetar. Ia mengeluarkan benda itu, melihat layar yang menampilkan sebaris nomor yang belum tersimpan di ponselnya.

Kening Jungkook berkerut. Ah, paling salah satu dari gadis-gadis yang ingin mendekatinya. Ya, lumayan untuk teman berbicara sambil menunggu bis itu datang.

“Halo?” Sapaan yang sangat terdengar ramah.

“Jangan perlihatkan video pembunuhan yang kau rekam di bukit 4 hari yang lalu pada siapa pun, Jeon Jungkook!”

Lelaki beransel merah itu seketika memucat. Tangan kanannya yang memegang ponsel nampak gemetaran seiring dengan kedua matanya yang membulat sempurna. Napasnya seolah tertahan saat telinganya dengan jelas mendengar pemilik suara deep-husky itu mengancamnya.

“Si-siapa kau?” tanya Jungkook agak berbisik, tidak mau orang di sebelahnya mendengar.

Terdengar suara tawa di seberang ponsel. “Kau tidak perlu tahu siapa aku, Anak Kecil! Kau hanya perlu menuruti kata-kataku. Jangan perlihatkan video itu pada siapa pun dan berikan file video itu padaku!”

Tidak! Jika aku memberikan video ini, dia pasti akan langsung membunuhku saat itu juga. Bagaimana pun, aku sudah menjadi saksi mata atas kejadian ini. Tapi…

“Jangan berpikir terlalu lama,” ujar suara di seberang seolah tahu apa yang sedang dilakukan Jungkook. Sontak, Jungkook celingak-celinguk melihat sekitar, mencari orang yang mencurigakan. Firasatnya mengatakan orang yang sedang meneleponnya berada di sekitar sini. “Katakan kau bersedia memberikan file video itu padaku dan aku akan memberikan apapun yang kau mau. Bagaimana? Apa kita sepakat?”

“Tidak!” tegas Jungkook. “Aku tidak akan memberikan file video itu padamu. Kau pasti akan langsung membunuhku saat itu juga. Aku benar, kan?”

Lagi, terdengar suara tawa. Sejujurnya, Jungkook merasa takut. Tapi, dia tidak mau menunjukkan ketakutannya kepada orang yang sedang mengancamnya. “Jangan sok tahu, Anak Kecil! Aku tidak akan membunuhmu. Percaya padaku!”

Kali ini gantian Jungkook yang tertawa—tepatnya, tertawa untuk menutupi rasa takut yang menyelimutinya. “Apa kau pikir aku bodoh? Mana mungkin aku percaya pada penjahat sepertimu!” jawabnya sengit.

“BAIKLAH KALAU KAU MENANTANGKU, ANAK KECIL! KAU BENAR-BENAR AKAN MATI JIKA KAU TIDAK MAU MEMBERIKAN FILE VIDEO ITU PADAKU! YOU’RE IN DANGER, KID!”

Dan Jungkook langsung memutuskan panggilan dari orang misterius itu.

TaehyungBelumCebok-

Anditia Nurul ©2015

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

-Also posted on Noeville-

Annyeong ^^/

Gimana?

Yang di chapter prolog kemarin, ada yang tebakan casts-nya benar?

Kalau ada, chukae, ya.

Sayangnya, ini ngga berhadiah. Cuma tebak-tebakan saja agak kalian bisa ikut berpartisipasi/? dalam FF ini… hehehe.

Btw, ini FF action pertama aku. Gimana menurut kalian?

Komen juseyo~~ ^^

19 thoughts on “(THE RED BULLET) BROTHER [Chap. 1]

  1. Ih Jungkook sok kece banget sih mengumpat pake bahasa Inggris gitu, so bule kamu ah, pindahan dari Busan juga😄
    Entah kenapa aku malah ketawa ga jelas di beberapa bagian ff ini, contohnya di bagian Suga nonjok Zico dan Zico kesakitan gara2 cincin yang dipake Suga, aku jadi kebayangnya si Suga pake cincin batu ali yang lagi beken gitu wkwkwk😄
    Btw penasaran nih siapa mata2 organisasi Red Bullet dalam kepolisian? Mino kah? Mengingat wajahnya yang paling gangster haha
    Atau malah Seokjin? 😨 OH NOOOO
    Next chapt ditunggu segera, semangaaaat

    • Biar keren aja gitu, Jungkook-nya… haha.😀 Njiiir… bayangannya sampai ke sana segala… kkk. Tapi gapapa. Anggap aja Suga pake cincin itu juga. Ga mau ketinggalan jaman😄 Hehehe… tebak tebak. Akan kamu tau seiring jalan cerita.

      Gomawo udah RC^^ Terkirim dari Samsung Mobile

  2. berbahaya bangey ya kayanya the red bullet ini, sekali masuk dan ngga bisa keluar lagi
    adiknya jin yg sebenernya itu rapmon bukan? nebak aja sih..
    ah masa ada mata mata di kepolisisan, siapa? apa jin ah kayanya engga deh mino mungkin atau mark atau jinwoo ya masih tidak ada yg mencurigakan
    keren! aku suka hihi
    next part soon

  3. mulai ketebak deh nih cast yang di prolog.
    si kakak si adek si adek angkat si anak jalanan yang ketemu si adek(?)
    keren nih ceritanya sok sok galak gitu kan red bullet padahal mah aslinya…. tau deh:)
    ditunggu lanjutnya thorr~

  4. yeay tebakanku jeka benerrrrr wkwk
    jk sok kece bat dah ah pas lagi naek gunung xD
    omg helloww demi apapun keknya geng trb ini horor banget ya’-‘ ketuanya bang agus lagih:v

    sepertinya aku mulai meraba raba(?) konfliknya._. jadi kan ntar si rm pen ngebunuh jk dan jk berusaha nutupin bukti trus sj juga lg nyari buronan trb dan pas tau itu ade kandungnya bingung deh harus begimana’-‘ haha *ini ngarang banget

    ohemjih kakak pintar sekali mengambil cameonya aaaaa bias aku semuaaaa demi deh ini antara polisi ama buronannya ganteng2 semua:g

    makin daebak atuh trbnya
    tetep selalu post tiap minggu ya._. aku akan selalu baca kok;) tapi rada ngaret kaya sekarang gapapa lah yaa:D

    keep writing and fighting^^9

    • Haha… ah, Jeka sih always kece dong…😉
      Ya kira-kira begitulah geng TRB. Ketuanya Agus yang mukanya imut-imut-sangar/?😄

      Errr… ya, kita lihat saja nanti ceritanya bagaimana… hehehe

      Oh iya dong *kibas rambut* biar enak juga ngebayangin orang-orang ganteng berantem/?😄

      Sip. Ini selalu di-post tiap minggu kok. Selasa. ^^

      Gomawo udah RC ^^

  5. Waaaa kyknya tebakanku bener deh… sebelumnya kan aku udah sempat liat main castnya sebelum baca prolog😀 pas baca prolog awalnya agak kabur/?/ siapa yg jadi siapa… tapi waktu ‘Eomma’ melahirkan aku langsung memutuskan bahwa/sok amat bahasanya/ Jin itu ‘Hyung’nya (karena dia cast yg paling tua wkwk xD), RapMon itu ‘Dongsaeng-nya Hyung’ (marga mereka sama haha), nah Jungkook itu ‘Dongsaeng lainnya Hyung’ (dia yg paling muda, dan main cast yg tersisa wkwkwk)

    Terus ortunya Jin & Jungkook gimana? Mereka…. meninggal?
    dan, awalnya aku kira yg nembak 4 orang di hutan itu RapMon… tapi ternyata Zico
    dan lagi… Suga kejam banget :” astaga
    itu RapMon tau kontaknya Jungkook dari mana? Aduuuuh
    terus terus, siapa anggota The Red Bullet yg ada di kepolisian? Karena yah aku setuju sama Jinwoo

    Sebenarnya masih ada banyak hal yg pengen aku bilang… termasuk… kenapa J-Hope yg harus ditangkap?! :” dan juga betapa senangnya aku saat ada Mark sama Zelo di sana ><

    • Hehehe… lebih mudah nebaknya dong kalo udah liat maincasts sebelum baca prolog😀
      Di chapter dua, dijelaskan kok ortu Jungkook meninggal atau tidak.
      Iya. Itu ZIco. Ide awalnya sih emang Rapmon, tapi aku ubah jadi Zico… hehe ^^v
      Sengaja. Kan dia bosnya😀
      Wkwkwk… supaya J-Hope cukup ambil bagian di FF ini😀
      Hehe… Zelo cuma numpang lewat/?😀

      Gomawo udah RC

  6. Tebakanku di prolog salah ya’-‘ ternyata adiknya Jin itu Jungkook yaduh maap saya gak terlalu pandai dalam bidang menebak, btw aku udah comment panjang dan ada tulisan ‘your comment is awaiting moderation’ dan gak muncul ya? jadi sedih(?) ah sudahlah.
    gak nyangka ya si J-hope jadi penjahat, padahal mukanya unyu-unyu polos gitu;’) sebenernya ada sedikit yang bagian ngakak/? si Hope bilang ‘CEREWET’._. Sumpah ya disini Suga jahat bener, emang si dia itu mukanya pas/? buat di jadiin tokoh jahat LOL. btw ini fanfic nya keren! aku suka sama ceritanya berhubung udah ada chap selanjutnya aku mau baca dulu thor~

  7. ATIDAKK!!~ kakakk, bagaimana bisa kau milih Cast-nya bias aku semuaaa, sumpah ye, ini ganteng2 semua, pdhl mereka dari berbagai Boyband di Korea(?) #abaikan’-‘. Aku ampe menjerit gaje/? Apalagi pas si Jongkuk gak nurut ama BamBam terus si Suga kejam ama si Zico/?:| Kyaaa~!! Aaaa~ aku tuh paling suka Genre FF yg kek ginii.. Entah napa bosen ama yang Romance/?._. #plak. Betewe, ini udh bagus kok kakk..:) Typoo-nya dikit bangett, dan cuman ada ‘sedikitt’ kesalahan di yang pas si Mino ngeliat ke “lengan kirinya yang tertembak” itu kan padahal lengan kanannya.. #baiklah,lupakansajaomongkosongkuini(?)\(‘-‘ ) Btw, aku suka banget kakk:) Keep Writing Yes!?♥ Gomapsumnidaa~^^ ..

    • Hai. Maaf telat ya di balas.

      O, ya? Wah. Padahal milihnya random/? aja :v

      Oh, iya… wkwkwk. Kesalahan editing :v
      Makasih ya udah dikasi tau.

      Makasih udah RC ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s