[Chapter 7] Another Cinderella Story

Another Cinderella Story

“This is not Disney’s Cinderella anymore.”

by Shinyoung

Main Cast: Bae Suzy & Lee Junho || Support Cast: Ok Taecyeon, Lee Jieun || Genre: School Life, Drama & Romance || Length: Chapter 7/? || Rating: T || Credit Poster: Jungleelovely at Poster Channel || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2015 by Shinyoung.

Chapter 7 — Replacing Two Tickets

Prologue | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

*

“Bae Suzy!”

Suzy membalikkan badannya dan mendapati Jieun yang tengah berlari ke arahnya. Gadis itu tampak letih setelah mengejar Suzy dari depan gerbang sekolah. Walaupun gadis itu sudah mengenakan sepatu olahraganya, tetap saja ia kesulitan dengan rok selututnya itu.

“Ada apa denganmu?” tanya Suzy begitu Jieun tiba di hadapannya.

Jieun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Gadis itu merapikan rambutnya, kemudian merangkul gadis itu seraya melangkah menuju gedung utama sekolah yang mengarah pada kelas mereka.

“Apa yang kau lakukan, Suzy? Kau sudah gila?!”

“Apanya yang gila?”

“Aku sudah baca kalau kau menerima permintaan Junho untuk menjadi wakil ketua murid! Kau serius bekerja dengannya?!”

Suzy mengangkat kedua bahunya dengan malas—seakan ia tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Jieun. “Aku harus bekerja dengannya atau semua hal yang diketahui oleh Junho akan dibongkar olehnya ke seluruh sekolah. Lebih baik aku bekerja dengannya daripada harga diriku jatuh di depan anak-anak.”

Disamping Suzy, Jieun melotot tak puas. “Bagaimana bisa dia tahu rahasiamu? Memangnya apa rahasia itu? Dan—Dan, kenapa harus dia yang tahu? Memangnya kau yakin hanya dia saja yang tahu? Siapa tahu dia sudah memberitahu pada orang lain soal rahasiamu itu!”

Suzy menghentikan langkahnya, ia memutar badannya ke arah Jieun yang otomatis membaut Jieun juga ikut menghentikan kakinya. “Bagaimana bisa aku melupakan hal itu?! Ya, Lee Jieun! Cepat antar aku sekarang ke ruangannya.”

Tanpa harus mendengar konfirmasi dari Jieun, Suzy langsung menarik gadis itu menuju ruangan Junho yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Beberapa murid memperhatikan gerak-gerik mereka yang begitu heboh, namun tampaknya mereka tidak tertarik dengan Jieun. Mereka lebih tertarik memperhatikan Suzy yang tampak cantik di pagi hari.

Bahkan ada beberapa isu yang Suzy dengar, bahwa sekumpulan lelaki sudah membuat fanclub dengan nama ‘Saranghaneun Suzy’ yang membuat Suzy semakin mual. Dia yakin bahwa gerak-geriknya diamati oleh anggota fanclub itu. Dia juga mendengar beberapa isu bahwa fanclub itu tidak hanya berisi lelaki, namun juga para gadis yang berasal dari kelas 10 dan juga kelas 12. Mereka menganggap Suzy sebagai adik/kakak mereka yang paling cantik.

Menjijikan, itulah komentar Suzy ketika mendengar isu tersebut. Dia menganggap dirinya tidaklah semenarik itu. Menurutnya, masih banyak di luar sana yang lebih menarik daripada dirinya.

Dan sekarang juga mereka sudah tiba di depan ruangan Junho. Tanpa embel-embel salam atau mengetuk pintu, Suzy langsung menerobos masuk sehingga Junho yang baru saja ingin keluar menabrak gadis itu, dan keduanya pun terjatuh. Jieun yang ada di belakang Suzy tentu saja langsung melebarkan matanya dua kali lipat beserta mulut yang ternganga lebar.

Posisi Junho yang berada di bawah tengah meringis kesakitan dan Suzy yang berada di atas tengah merasa bersalah sambil memarahi dirinya. Cepat-cepat Suzy bangkit dari posisinya sebelum orang-orang menyangka hal yang tidak-tidak. Sedangkan itu, Jieun sudah hilang entah kemana.

“Aish, lagi-lagi kau,” ringis Junho sebal.

Pemuda itu bangkit dari posisinya sambil menepuk-nepuk celananya yang kemungkinan kotor akibat insiden barusan. Suzy hanya menggigit bibir bawahnya, menatap Junho khawatir. Namun, ekspresinya langsung berubah ketika ingat tujuan awalnya mengunjungi Junho.

YA! Kau tidak menyebarkan apa-apa soal insiden high-heels ku kan?”

Junho mendongakkan wajahnya dan menatap Suzy dengan heran, mengerutkan keningnya, sembari menggosok-gosok dagunya. Ia mengerling nakal tanpa Suzy ketahui. “Memangnya kenapa kalau aku menyebarkan insiden tersebut?”

Suzy melotot ke arahnya dengan kobaran api yang berkilat-kilat di sekitar matanya. Entah itu karena ia marah pada Junho atau karena ia memang sedang PMS saja. “Aku sudah melakukan satu syaratmu dan kau berani menyebarkan hal tersebut?!”

Junho hanya tertawa kecil, membereskan berkas-berkas yang ada di tangannya dan menyerahkannya pada Suzy. “Nah, kebetulan, aku tidak perlu menghampirimu ke kelas. Sekarang bawa itu,” titahnya dan Suzy hanya menerimanya. “Ayo, ikut aku ke ruangan kepala sekolah. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan dengannya.”

Tubuh Suzy hanya diam tak menanggapi perintah Junho. Antara gadis itu masih bingung dan juga ia belum bangun dari refleksnya. Bisa juga hal tersebut disebabkan oleh dirinya yang lama untuk merespon perkataan Junho.

Junho membalikkan badannya dan menatap Suzy bingung. “Tunggu apa lagi?” Laki-laki itu menghampirinya dan menepuk kepala gadis itu lembut. “Tenang saja, aku tidak akan menyebarkan hal tersebut pada murid SMA Seungri,” ujarnya pelan dan berlalu pergi meninggalkan Suzy sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sekolahnya.

Kali ini, Suzy benar-benar diam di tempatnya.

Parahnya, jantungnya berdebar dua kali lipat daripada biasanya.

 

Jam istirahat seharusnya Suzy isi dengan pergi ke kantin, tertawa bersama Jieun, dan juga bermain games terbaru yang menurut mereka seru. Hari ini justru kebalikannya karena ia harus berkutat dengan tugas-tugas baru yang diembannya sebagai wakil dari ketua murid—Lee Junho.

Melakukan hal tetek bengek bukanlah hal yang sulit bagi seorang Bae Suzy. Namun, kalau hal tetek bengek tersebut ternyata lebih parah daripada yang ia kira tentu saja membuatnya kesulitan. Dia tak habis pikir bagaimana bisa seorang Lee Junho mengerjakan semua hal seperti ini sendirian. Dia sudah membantu Junho saja, pekerjaan masih sebanyak ini.

Pantas saja, ia mendapati kantung mata di bawah mata Junho.

Laki-laki itu sendiri tengah duduk tak jauh darinya, di meja pribadinya, tengah merapikan berkas-berkas murid baru yang masuk semester ini. Suzy menghela nafas panjang. Dia juga termasuk murid baru yang masuk di semester ini dan juga salah satu murid yang bisa masuk dengan mudah.

Maksudnya, dia berbeda dengan murid baru yang lainnya.

Dia bisa masuk tanpa harus membayar uang lebih atau melakukan hal ini itu yang diajukan oleh kepala sekolah karena Ayah Taecyeon merupakan sahabat dari Ayah Suzy. Keduanya sepertinya punya hubungan yang erat. Mengingat Taecyeon, Suzy belum melihat lelaki itu seharian ini.

Atau mungkin karena Suzy terlalu sibuk berada di ruangan barunya.

“Kau sudah beres?” tanya Junho, ia membuat kertas-kertas yang di pegangnya menjadi satu dan dihentakkan ke atas meja agar lebih rapi. Dia meletakkan kertas-kertas itu dan menghampiri Suzy yang dari tadi tentu saja belum selesai.

Gadis itu terlalu banyak berimajinasi. “Aku belum selesai dan sepertinya aku akan lebih fokus ketika kau tidak ada disini. Sedaritadi tubuhmu itu membuat mataku terganggu jadi aku tidak bisa fokus.”

Junho menaikkan kedua alisnya. “Aku?”

Suzy mengangguk. “Ya, kau. Dari awal aku masuk ke sini, mataku merasa tidak enak ketika melihat kau, sebaiknya kau keluar dari sini dan cari kesibukan lain. Kalau kau sudah keluar mungkin aku akan lebih fokus dan lebih cepat mengerjakan hal ini. Karena rasanya aku ingin menendangmu keluar dari tadi.”

“Ah. . . Begitu, ya?” tanya Junho mengejek.

Laki-laki itu berdiri di hadapannya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia memperhatikan Suzy yang semakin tidak fokus. “Baiklah, aku akan keluar dari sini setelah kau setuju ikut denganku sepulang sekolah nanti.”

Suzy mengangkat wajahnya. “Memangnya kita mau kemana?”

“Oh, itu, rahasia.”

“Tidak, aku tidak mau ikut denganmu. Paling-paling aku hanya disuruh membantumu lagi membawa barang-barang tidak berguna. Tidak, aku tidak mau,” tolak Suzy berkali-kali walaupun Suzy tahu sebenarnya hatinya ikut penasaran karena Junho ingin membawanya ke suatu tempat.

Laki-laki itu berdeham, kemudian menyodorkan tangannya sehingga membuat Suzy kebingungan.

“Apa?” tanya Suzy heran.

“Tiket.”

Suzy mendengus kemudian mengeluarkan rentengan tiketnya dan menyerahkannya pada Junho. Junho menarik salah satu tiket dan memberikannya pada Suzy. “Ini, aku menggunakannya untuk kau yang harus ikut denganku sepulang sekolah nanti. Aku tunggu di parkiran.”

Setelah itu Junho melenggang pergi keluar dari ruangan tersebut. Dan, Suzy hanya bisa mendecak kesal.

“Cih, dasar laki-laki licik.”

 

“Maaf, aku tidak bisa pulang denganmu, Jieun,” ucap Suzy penuh penyesalan.

Jieun hanya mengangguk pelan. “Arasseo, aku tahu, sekarang kau semakin sibuk setelah menjadi wakil Junho. Laki-laki itu tampaknya sering sekali membuatmu merasa terbebani. Aku tak bisa istirahat denganmu.”

Suzy terkekeh pelan. “Tak apa. Atau, kau mampir saja ke ruanganku! Dengan begitu kita bisa makan bersama saat istirahat. Mulai besok juga sepertinya aku akan minta dibawakan bekal karena tidak cukup bagiku untuk pergi ke kantin dulu. Bisa-bisa aku tidak dapat menyelesaikan pekerjaaanku.”

Lagi-lagi Jieun mengangguk dengan semangat. “Baiklah! Kalau begitu besok aku juga bawa bekal. Aku akan menghampirimu pada jam istirahat,” ujarnya dan melanjutkan, “ngomong-ngomong, kau mau kemana, sih? Sepertinya misterius sekali. Apa Lee Junho tidak memberitahumu?”

Suzy menggeleng. “Entahlah. Laki-laki itu selalu menindasku dengan tiket-tiket sialan itu,” jelas Suzy, menggeram kesal sambil mengepalkan tangan kanannya seolah-olah ia hendak meninju Junho saat itu juga. “Sudahlah, nanti malam kau ke rumahku saja, nanti aku ceritakan segalanya kalau aku sudah pulang. Appa sangat senang melihat aku punya sahabat sepertimu, Jieun-ah.”

Kali ini Jieun memamerkan gigi-giginya yang rapi. “Baiklah. Sampai nanti!”

Kemudian Jieun melangkah pergi menuju ruangan kelasnya. Kelas mereka memang baru saja menyelesaikan pelajaran Kimia pada jam terakhir. Pelajaran Kimia hari ini harus dilakukan di laboratorium Kimia yang terletak di ujung gedung. Tentu saja, itu membuat Jieun harus memaki-maki karena jaraknya yang begitu jauh. Sedangkan itu, Suzy sendiri sudah mengambil tasnya dan bisa langsung pulang.

Suzy sendiri langsung bergerak menuju lapangan parkir. Dia mencari-cari sosok Junho, namun tampaknya laki-laki itu tidak menunjukkan batang hidungnya. Alih-alih mencari Junho, gadis itu mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi lelaki itu. Namun, sebuah tangan justru lebih cepat mengambil ponselnya. Suzy pun memekik kencang, namun tangan yang lain berhasil menutup mulutnya.

Y—Mmph!”

“Bisakah kau berhenti memekik?”

Lelaki itu melepaskan tangannya dan menghela nafas berat, ia memijit pelipisnya dengan seksama dan menatap Suzy kesal. Sedangkan itu, Suzy langsung mendengus kesal. “Kupikir kau akan menculikku, Lee Junho.”

“Bodoh, mana ada penculik di sekitar sekolah. Kau sendiri bisa lihat betapa besarnya tubuh seorang satpam sekolah kita dan… Lagipula, tidak ada orang yang mau menculik gadis rewel sepertimu,” tutur Junho.

YA!”

“Kau lagi-lagi berteriak,” tukas Junho kesal. “Ja—”

Srek. . . Srek. . .

Tanpa aba-aba lagi, Junho langsung menarik pergelangan tangan Suzy dan membawa gadis itu menuju bagian belakang gedung sekolah. Keduanya bersembunyi di balik sebuah dinding kecil yang mengharuskan mereka untuk saling berdekatan. Lagi-lagi, Suzy ingin memekik lagi namun Junho berhasil menutup gadis itu.

Nafas Suzy menderu cepat karena ia begitu dekat dengan Junho. Junho yang bertubuh lebih besar daripada Suzy menutupi gadis itu sambil mencoba memastikan apa yang sedang terjadi di balik dinding kecil itu melalui sebuah lubang kecil. Tangan Junho yang berhasil membekap mulut Suzy tentu membuat gadis itu tidak bisa berteriak, walaupun sebenarnya gadis itu ingin sekali berteriak dan menanyakan apa yang terjadi.

“Sialan, dimana mobilnya? Dan kenapa tadi aku melihat sosok Lee Junho? Apa dia ada di sekitar sini?”

Bukan hanya nafas Suzy yang semakin cepat, namun nafas Junho juga semakin cepat. Tinggi Suzy yang tak jauh dari Junho berhasil membuat keduanya saling bertukar nafas dan itu juga membuat jantung Suzy berdentum tak berirama. Junho menatap Suzy dan memberinya isyarat yang tak dapat Suzy mengerti.

Junho mendengus kecil kemudian ia menarik gadis itu menuju sebuah gedung yang Suzy anggap sebagai gedung. Suzy hanya diam tak berkomentar karena dia tahu bahwa situasinya sedang genting hingga Junho menggenggam pergelangan tangannya dengan erat. Sampai-sampai dari belakang, Suzy bisa mendapati bulir-bulir keringat yang berhasil menjalar di sekitar leher Junho.

“Junho,” panggil Suzy pelan.

Namun, Junho hanya diam saja tak menanggapi panggilan Suzy. Akhirnya Suzy pun menutup mulutnya rapat-rapat ketika ia mendengar bunyi derapan lain di belakangnya. Keduanya memasuki gudang tersebut diam-diam, kemudian keduanya bersembunyi di balik sebuah loker besar yang sudah usang.

Keduanya berdiri di antara loker-loker besar dan sempit tersebut sehingga untuk kedua kalinya, mereka harus saling bersedekap dan Junho membekap mulut Suzy lagi dengan tangannya. Suzy yang tak kuasa memandang wajah Junho hanya bisa memalingkan wajahnya.

Krekk

“Lee Junho!”

Panggilan itu membuat gema ke seluruh ruangan sehingga suara lelaki itu terulang dua kali. Sosok tersebut melangkah masuk ke dalam gedung. Jantung Suzy berdegup dua kali lipat ketika sosok itu mendekati loker. Sialnya, Suzy ingin bersin akibat debu-debu yang beterbangan di sekitarnya.

Tepat saat gadis itu ingin bersin, Junho melepaskan tangannya dan membekap bibir gadis itu sehingga tubuh gadis itu melemas dan tak dapat melanjutkan aktifitasnya. Untuk pertama kalinya, bibirnya bertemu dengan bibir seorang laki-laki yang daritadi membuat jantungnya berdebar dua kali lipat.

“Sial, kemana laki-laki itu, sih?”

Setelah itu, sosok tersebut pergi meninggalkan gudang tersebut, tanpa menutup pintunya. Sedangkan itu, Suzy yang tak sempat menutup kedua matanya tentu saja hanya diam tak berkutik ketika Junho perlahan melepaskan ciuman manis tersebut. Laki-laki itu menatap Suzy dengan pandangan sedikit kesal.

Setelah yakin bahwa tak ada siapapun, Junho mendesah berat dan menghela nafas lega. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Dua tiket. Anggap saja ciuman tadi itu  bernilai dua tiket. Dan juga aku mencium bibirmu bukan karena aku ingin, tapi aku tahu mau ditutup dengan apapun bersinmu itu pasti akan kedengaran. Jadi, aku harus mencium bibirmu, refleks kau tidak akan bisa bersin.”

Tanpa berkata apapun lagi, Suzy hanya bisa mengatupkan bibirnya dan mengikuti sosok Junho yang hendak keluar dari tempat tersebut.

 

“Jadi, sebenarnya kita mau kemana?”

“Toko buku,” jawab Junho cepat. Laki-laki itu tampaknya tidak mau diganggu ketika ia sedang mengemudikan mobil. Tangannya dengan lincah memutar kemudi mobil dan juga menggerakkan kopling mobil.

Lain halnya dengan Taecyeon yang memasang aroma coffee laté, Junho memasang aroma bunga mawar bercampur vanilla. Suzy heran apakah laki-laki itu punya sifat perempuan yang terpendam atau memang ada maksud tersembunyi. Namun, pada akhirnya, Suzy tidak berani menanyakan hal tersebut.

Yang membuatnya masih terpukul adalah insiden di gudang tadi. Apa maksudnya?

“Junho… Apa tadi Taecyeon mau mencelakakanmu?”

Junho menarik nafas dalam-dalam. “Entahlah,” jawab laki-laki itu. Kemudian ia menginjak remnya secara perlahan ketika mereka tiba di sebuah perempatan jalan yang tengah memasang lampu merah. Ia menoleh ke arah Suzy sekilas. “Kau sendiri lihat apa yang dilakukan oleh Taecyeon tadi? Dia mencari mobilku dan bahkan mencari diriku. Artinya, dia ingin melakukan sesuatu dengan mobilku. Tapi, tampaknya dia tidak tahu kalau aku sudah ganti mobil.”

“Ah… Kupikir, dia hanya ingin menemuimu.”

“Hah?” Junho mengerutkan keningnya, kemudian ia tertawa pelan. “Bagaimana bisa orang sepertinya hanya ingin menemuiku. Pasti ada maksud lain. Aku yakin, dia pasti mendengar pembicaraan kita.”

“Pembicaraan kita yang mana?” tanya Suzy bingung.

“Saat aku mengajakmu untuk pergi sepulang sekolah ini,” kata Junho.

“Lalu kenapa dia harus mencarimu dan mau mencelakakan mobilmu? Artinya, dia juga mau mencelakakan aku?” tanya Suzy lagi untuk kesekian kalinya. “Aku tidak mengerti, padahal aku selalu bersikap baik dengannya.”

Junho hanya diam dan kembali mengemudikan mobilnya ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau. Alhasil, keduanya kembali terdiam. Lagi-lagi Suzy merasa gelisah karena dia tidak tahu apa yang harus dibicarakan dengan Junho. Selama ia mengenal Junho, dia tidak tahu apa yang disukai laki-laki itu atau hal-hal lainnya soal Junho.

Jika ia memang harus membuat catatan, maka yang dia tahu, Junho adalah laki-laki yang menyebalkan baginya, menuntut, egois, dan juga menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Seperti mengajukan tiket-tiket itu sebagai 15 syarat agar sepatu high-heels nya dikembalikan.

Licik, itulah komentar Suzy.

Dibalik semua sikap buruknya itu, Suzy juga mendapati beberapa sikap baik Junho. Ya, walaupun sedikit, setidaknya dia tahu kalau Junho adalah salah satu orang yang cepat bertindak, bisa melakukan segala hal atau multitalent, dan juga… Romantis. Oke, sebenarnya Suzy tidak mau mengakuinya, hanya saja hatinya mengakui bahwa laki-laki itu cukup romantis.

Lupakan.

“Kita sampai,” ujar Junho.

Suzy menatap keluar jendela dan mendapati sebuah gedung tinggi dengan tiga lantai. Saking terkejutnya, Suzy tidak dapat menutup mulutnya yang ternganga itu. “Ini toko buku? Setinggi ini? Sebesar ini? Aku tidak pernah tahu. Ah, dasar, Tiffany unnie tidak pernah mengajakku kesini!”

“Tiffany?” Junho menolehkan kepalanya.

Suzy pun ikut menoleh ke arah Junho, kemudian menganggukkan kepalanya dengan semangat, diikuti sebuah senyuman manis khas Suzy. “Iya. Tiffany unnie adalah orang yang bertugas sebagai asisten pribadiku. Biasanya dialah yang menemaniku kemana saja ketika aku kesepian. Dia itu cantik dan berbakat. Dia jago Bahasa Inggris. Sayang sekali, dia dulu hampir mau menikah, tapi tunangannya meninggal di tengah jalan menuju pernikahan. Ah, ya, nama lengkapnya Tiffany—”

“Hwang?”

Bibir Suzy langsung terkatup rapat saat mendengar ucapan Junho. Mendadak tubuhnya bergetar seolah ia mendengar suatu pernyataan yang mengejutkan. “B—Bagaimana bisa kau mengetahuinya? Kau bisa membaca pikiranku?”

Junho mendesah berat dan menggosok pelipisnya. “Tentu saja tidak, bodoh. Aku mengenalnya. Dan… Laki-laki itu adalah Lee Donghae tunangan Tiffany noona.” Junho membuka pintu mobilnya. “Ayo, sebaiknya kita segera membeli buku-buku yang kita perlukan, setelah itu kita bisa pulang.”

Suzy pun hanya mengangguk. Otaknya tidak dapat bekerja keras memikirkan orang-orang yang mengenal Tiffany. Meskipun hanya dua orang, lalu kenapa dua orang itulah yang saat ini ada di sekitarnya. Mengingat bahwa Junho dan Jieun punya marga yang sama, Suzy jadi curiga apabila Junho dan Jieun adalah kakak-adik yang tak mau memberi tahu identitas mereka.

Tapi, tidak mungkin juga. Atau… Mungkin juga.

Sudahlah, Suzy bergumam sendiri kemudian mengikuti Junho yang sudah melangkah masuk ke dalam toko tersebut. Deretan buku yang terletak dimana-mana membuat Suzy ngiler seketika. Gadis itu sangat mencintai buku dan novel. Alhasil, ia mengeluarkan dompetnya dan mengecek apakah kartu kredit yang diberikan oleh Tiffany masih disana. Ternyata, masih disana.

Dalam sekejap, Suzy sudah membawa tiga buku novel tebal dari seri ‘The Mortal Instruments’ dan juga empat buku komik yang belum sempat dibacanya ketika masih di panti asuhan. Buku-buku tersebut pastilah sangat mahal untuk dibeli oleh perpustakaan di panti asuhannya. Alhasil, sekarang ia berhasil membelinya. Di dalam gedung sebesar itu, tentu saja Suzy akan kesulitan mencari-cari Junho.

Namun, tampaknya ia tidak perlu waktu yang lama untuk mencari sosok tersebut. Laki-laki itu rupanya ada di deretan buku pelajaran. Suzy hanya bisa menghela nafas berat dan menghampiri laki-laki itu dengan kesal. Ia berdiri di sampingnya dan mengikuti pergerakkan laki-laki itu.

“Jadi, kau kesini hanya untuk membeli buku-buku pelajaran? Oh, ayolah, sekarang ini bukan waktunya untuk belajar!” ujar Suzy kesal.

“Pelankan suaramu, bodoh,” tegur Junho. “Aku kesini untuk membeli buku-buku yang dibutuhkan perpustakaan, Nona. Seperti yang kau dengar tadi, kepala sekolah meminta buku-buku pelajaran ditambahkan. Jadi, tadi aku ke perpustakaan dulu dan meminta daftar buku yang kira-kira dibutuhkan.” Junho menoleh pada Suzy dan melirik buku belanjaan Suzy yang begitu banyak. “Seharusnya kau tidak beli buku seperti itu. Tidak berguna.”

YA!” desis Suzy kesal.

“Terserah kau, intinya kau bantu aku cari buku lagi. Biar kita cepat pulang.”

 

Besok adalah Hari Sabtu, jadi wajar saja kalau Jieun menginap di rumahnya. Jieun sudah memutuskan bahwa setiap minggu dia akan pergi menginap di rumah Suzy. Toh, jarak rumah Jieun ke rumah Suzy tidak terlalu jauh, sehingga membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja kalau tidak macet.

“Jadi, apa yang kalian berdua lakukan hingga pulang semalam ini, eoh?”

Suzy membanting tubuhnya ke atas tempat tidur. Sedangkan itu, Jieun hanya membalik-balikkan majalah yang tengah dibacanya. Memang benar, Jieun sudah menghubungi Suzy bahwa dia akan tiba di rumah Suzy lebih awal. Dia sendiri berbincang dengan Tiffany sebelum Suzy tiba.

Molla. Kami hanya pergi ke toko buku dan ya… Begitulah.”

Jieun mengambil kantung belanja yang berisi novel dan komik yang baru dibeli oleh Suzy. Gadis itu mengecek satu persatu buku tersebut dan terkekeh pelan. “Jadi, kalian berdua hanya membeli novel atau buku pelajaran?” tanyanya dan melangkah menuju rak buku Suzy, kemudian menyelipkan buku-buku baru tersebut. Ia menoleh ke arah Suzy. “Katanya kalian berdua beli buku pelajaran, kenapa kau malah bawa pulang novel? Dan… Komik? Aku tidak mengerti.”

Suzy bangkit dari posisinya dan terduduk di atas tempat tidur. “Bukan begitu. Jadi, kami memang kesana untuk beli buku pelajaran yang dibutuhkan di perpustakaan. Lalu, aku menemukan beberapa buku novel yang baru. Belum pernah aku baca. Makanya, aku beli beberapa. Sedangkan itu, aku hanya bantu-bantu Junho mencari buku pelajaran. Setelah itu, kami mampir ke kafetaria untuk beli minum dan ngobrol sebentar.”

Jieun melirik Suzy. “Ngobrol apa?” tanyanya dengan nada penuh menggoda.

“Aish, kami hanya membicarakan Tiffany unnie dan kau sendiri. Kau itu bagaimana, sih? Masa aku dengar kabar ini dari seorang Lee Junho, bukan dari dirimu sendiri,” omel Suzy kesal. Kemudian ia bangkit lalu melepaskan seragamnya. “Sudah, nanti dulu, aku mau mandi dan ganti baju. Setelah itu, kita bisa ngobrol lagi.”

Jieun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berdecak beberapa kali melihat tingkah Suzy. Gadis itu sendiri melangkah menuju kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya yang kotor itu. Setelah selesai, ia mengambil handuknya dan mengenakan baju tidurnya. Lalu, ia menuju wastafel dan memandang lurus ke arah cermin.

Perlahan, pupil matanya bergerak menuju bibirnya. Bayangan soal dirinya yang berciuman dengan Lee Junho masih berbekas di pikirannya. Ia masih tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang Lee Junho dengan mudah mencium bibirnya. Terutama, itu hanya karena ada kehadiran Taecyeon disana.

Sampai detik ini juga, Suzy masih penasaran, sebenarnya apa yang terjadi antara Junho dengan Taecyeon. Dia yakin bahwa penyebab mereka berselisih adalah kematian Ibu Taecyeon. Toh, kalau memang Taecyeon masih percaya bahwa ibunya masih hidup, kenapa saat itu dia mengunjungi makam ibunya?

“Hei, Suzy! Sampai kapan kau akan di dalam sana? Aku bosan, nih!”

Kontan, Suzy melonjak dan segera bangkit dari alam bawah sadarnya. Ia pun menyisir rambutnya dan berseru pada Jieun, “arasseo! Aku sedang merapikan rambut.”

Setelah itu, Suzy melangkah keluar dari kamar mandinya dan melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Jieun yang sebelumnya tengah memandang keluar balkon pun ikut masuk ke dalam kamar setelah mengunci pintu geser yang mengarah pada balkon kamar Suzy. Tanpa pikir panjang lagi, Jieun segera ikut melompat ke tempat tidur dan berbaring di samping Suzy.

“Jadi, kau mau aku cerita apa?”

Suzy mendecak. “Tidak perlu, aku sudah tahu semuanya. Kau adalah sepupunya Junho. Jadi, ayahmu bersaudara dengan ayah Junho. Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Suzy kesal. “Lalu, soal kakakmu, Lee Donghae… Aku turut berduka cita.”

“Sudahlah, lupakan saja soal kakakku. Memang sudah ajalnya dan… Untuk apa aku menceritakan padamu soal statusku dengan Lee Junho, hah?! Memangnya penting, ya, untukmu? Kalaupun aku tidak cerita padamu, tidak akan ada gempa bumi!” seru Jieun dengan mata menyala-nyala ke arah Suzy. “Dan, mana mungkin aku akan berteriak-teriak sepanjang koridor sekolah sambil membawa papan bertuliskan ‘Aku adalah sepupu Lee Junho si Ketua Murid’? Tidak, ‘kan?”

Spontan, tawa Suzy langsung meledak begitu saja bak roket yang ditembakkan ke arah langit dan meledak di sana. “Ne… Arasseo—Arasseo. Hentikan lawakanmu,” ucapnya sambil mengelus perutnya menahan sakit akibat tertawa berlebihan. Kemudian ia mengusap air mata yang sempat menetes akibat menahan tawa.”

“Memangnya apa yang diceritakan oleh Junho padamu?”

“Dia bilang karena dialah Donghae meninggal.”

Jieun terdiam. “Sebenarnya bukan karena dia jugalah yang menyebabkan Donghae Oppa meninggal. Aku tidak pernah menyalahkan Junho atas kematian Oppa. Tapi, aku tahu kalau memang takdir lah yang menuntut kematian Donghae Oppa.”

 

2 tahun yang lalu. . .

“Dimana pacarmu itu, Tiffany?”

Arasseo! Sebentar lagi mungkin dia akan datang,” ucap Tiffany tidak sabar ke arah ibunya. Ibunya yang memang memiliki sikap tidak sabaran sering kali memarahi Tiffany hanya karena ulah kecil Tiffany. Perempuan fashionita itu sendiri sudah sibuk merapikan tatanan rambutnya yang padahal sudah rapi.

“Ya sudah, Eomma tunggu di dalam. Lihat tamu sudah menunggu kalian daritadi,” ujar ibunya lagi. “Bagaimana sih? Seharusnya kita lah yang datang terakhir dan pengantin lelaki yang datang duluan.”

Belum sempat Tiffany menjawab lagi, ibunya sudah melangkah masuk ke dalam gereja dengan suara sepatu hak yang dihentak-hentakkan. Sedangkan itu, tangan Tiffany sendiri sudah gemetaran menghubungi nomor Donghae yang sama sekali tak diangkat. Tiffany mengetuk-ngetukkan sepatu haknya dengan gelisah.

“Dimana sih dirimu, Lee Donghae?” gumam Tiffany, lalu menggigit bibir bawahnya sambil menatap lurus ke arah pintu gerbang gereja yang belum menunjukkan sosok Donghae. Daritadi hanya mobil-mobil tamu yang semakin bertambah.

Unnie?

Tiffany menolehkan wajahnya dan mendapati Jieun. “Jieun-ah, kau sama sekali tidak tahu dimana keberadaan kakakmu itu? Daritadi aku hubungi nomornya tapi dia tidak menjawab sama sekali. Dia itu benar-benar menyebalkan. Apa dia sedang menyetir?”

Jieun menggeleng pasrah. “Aku sendiri tidak tahu. Tadi, dia memang bilang kalau dia akan berangkat sendiri karena dia mau beli sesuatu dulu. Makanya, kami sekeluarga meninggalkannya. Sedangkan dia sendiri entahlah menuju kemana. Kalaupun aku tahu, mungkin aku sudah memberi tahumu daritadi, Unnie.

Tiffany terkekeh pelan menyadari kebodohannya. “Ya sudah, sebaiknya kau masuk dulu. Aku khawatir pada Ibumu. Siapa tau dia berpikiran yang macam-macam soal Dong—”

“Dia belum datang juga?”

Baik Tiffany maupun Jieun sama-sama membalikkan badan mereka dan mendapati Ibu Jieun—Nyonya Lee—dengan wajah penuh gelisah. Wanita itu menggunakan gaun krem pastel yang sangat pas untuk wajahnya. Walaupun di wajahnya ada beberapa kerutan kegelisahan dan penuaan, itu tidak menjadikan halangan bahwa wajahnya memang cantik alami.

“Belum, Eomoni. Aku rasa dia sedang menyetir,” jawab Tiffany sopan.

“Tapi, Tiffany, kenapa aku merasa gelisah daritadi? Kenapa aku rasanya—”

Drrt… Drrt..

Ponsel Tiffany yang berdering sekaligus bergetar tentu saja membuat ketiganya langsung terdiam. Cepat-cepat Tiffany mengangkat panggilan telepon tersebut yang rupanya dari nomor Donghae. Saat menerima panggilan itu, saat itu juga ia merasa sangat menyesal telah mengangkat panggilan tersebut.

Seketika, wajah Tiffany yang megekspresikan kebahagian berubah drastis. Tak ada ekspresi disana. Senyumannya memudar, matanya melayu dan bahunya langsung merosot ke bawah ketika mendengar bahwa tunangannya itu telah pergi selamanya.

.

.

.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?”

Lee Donghae membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang pelayan yang tengah tersenyum ke arahnya. Donghae pun menganggukkan kepalanya ragu sambil merapikan tux nya yang daritadi membuatnya merasa tidak nyaman.

“Apa Anda hendak melamar seseorang—Atau mungkin Anda ingin menikah?”

“Iya… Hari ini saya ingin menikah, tapi saya ingin memberikan kejutan untuk calon istri saya. Saya tidak tahu harus memberikan apa karena saya bukan tipe orang yang sering memberikan kejutan padanya,” jelas Donghae jujur. Ia tersenyum tipis. “Apa Anda bisa sarankan barang apa yang bisa saya berikan nanti untuknya? Saya takut jika saya yang memilih bisa-bisa calon istri saya tidak suka.”

Pelayan itu mengangguk. “Di toko ini, kami menyediakan begitu banyak hadiah yang bisa Anda berikan untuk pasangan Anda. Mari ikut saya,” ujar pelayan itu sambil mengarahkan tangannya pada lorong toko seakan meminta Donghae untuk mengekorinya.

Keduanya pun menelusuri toko tersebut dan pelayan itu berhenti pada salah satu rak yang diisi oleh kotak-kotak kecil dan juga bola salju kaca. Pelayan itu menoleh ke arah Donghae dan menunjuk salah satu bola salju kaca. “Anda bisa memberikan pasangan Anda hadiah ini, berhubung sekarang di Bulan Desember, maka akan sangat cocok untuk memberinya hadiah ini.”

“Ah, tapi sepertinya dia tidak akan suka hal-hal yang terlalu kekanakkan.”

Pelayan itu tersenyum tipis. “Kalau begitu, berikan dia ini.” Sang Pelayan mengambil salah satu kotak kecil berwarna merah muda yang disekelilingnya dihiasi pita-pita kecil dan juga ada sebuah putaran kecil yang menonjol di depannya. Sang Pelayan memutar putaran kecil itu dan terbukalah kotak tersebut.

Seketika Donghae terdiam ketika melihat kotak yang rupanya kotak musik itu. Kotak musik itu memutarkan instrumen lagu ‘And One’ milik Kim Taeyeon—salah satu member grup SNSD. Begitu indah didengar bahkan Donghae tak dapat berkata-kata. Si Pelayan tampaknya senang mengetahui bahwa pilihannya benar.

“Kalau begitu, saya ambil ini. Tolong segera dibungkus di dalam kertas kado. Dan, saya bayar pakai ini,” katanya sambil menyerahkan kartu ATM miliknya. Pelayan tersebut mengangguk dan segera melangkah menuju meja kasir.

Tak lama kemudian, Donghae sudah siap dengan hadiahnya. Kemudian, ia melangkah keluar dan bersiap menuju mobilnya untuk segera menuju gereja dan menikahi Tiffany tanpa menunggu waktu lagi. Namun, belum sempat ia masuk ke dalam mobilnya, seseorang memanggil namanya. Ia pun mengurungkan niatnya dan mencari-cari siapa yang tengah memanggilnya.

Hyung!”

Donghae pun menemukan sosok tersebut tengah melambaikan tangannya di seberang jalan sana. Rupanya Lee Junho—sepupunya—yang menggunakan tux hitam. Tampaknya, laki-laki itu juga hendak menghadiri pernikahannya. Namun, kenapa sendirian?

Tanpa melihat ke kanan dan ke kiri, Junho langsung menyebrangi jalan. Saat itu juga Donghae melebarkan matanya dua kali lipat begitu melihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi yang melaju dari arah kiri. Tanpa berpikir panjang lagi, Donghae melempar hadiah yang baru dibelinya dan menyebrangi jalan untuk menyelamatkan Junho.

 “Hyung!!!”

Sedangkan itu, di depan gereja sendiri, tangis isak pecah. Namun, tidak untuk Tiffany. Gadis itu tak bisa meneteskan air matanya sedikitpun karena ia begitu terpukul akan kematian Lee Donghae.

“Donghae-ya. . .”

To be Continued

February 16, 2015 — 01:00 A.M.

::::

a.n: HAHA! MAMPUS LU PADA. PADA KLEPEK-KLEPEK KAN BACA CHAPTER INI. GAK MAU TAU LU PADA KUDU, WAJIB, HARUS, HAVE TO, MUST KOMENTAR. Baik, ‘kan, kali ini ditambahin 500 words. Lebih panjang maksudnya wkwk. Udah, ah, gak mau bacot. Sekian. Jangan lupa baca juga ff aku yang lain ‘Forbidden Love‘. Makasiiih❤

52 thoughts on “[Chapter 7] Another Cinderella Story

  1. Yaampun junho kisseu suzy trus bilang itu kupon ..kk Suzy smpe speachless.. sebenrnya penasaran juga permasalahan taec sm junho.. hwaiting authornim

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s