(THE RED BULLET) BROTHER [Chap. 2]

TRB-BROTHER-NEW

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-15||Length: Chaptered||Genre: Action-Crime, Family||Main Characters: (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) Rapmon/Namjoon &(BTS) Jungkook ||Additional Characters: (Winner) Mino, (Winner) Jinwoo, (Got7) Mark, (Got7) Bambam, (Winner) Taehyun, (EXO) Lay/Yixing||Disclaimer: I own nothing but storyline||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

“Seseorang yang disebut saudara bukan hanya dia yang lahir dari orangtua yang sama denganmu, tetapi orang yang selalu berada di sisimu, melindungimu dan berkorban untukmu, tidak peduli kau punya hubungan darah dengannya atau tidak.”

Prolog | 1 >> 2

HAPPY READING \(^O^)/


Home sweet home.

Jungkook langsung beranjak ke kamarnya saat ia tiba di rumah begitu Seokjin menjemputnya di rumah sakit. Hari ini dokter yang merawatnya di Seoul Hospital telah mengijinkan dia pulang dengan catatan, Jungkook harus melakukan rawat jalan hingga kondisi tubuh—terutama kepalanya—benar-benar stabil.

“Istirahatlah. Aku akan memasak,” kata Seokjin, setelah meletakkan barang-barang ransel Jungkook di dalam kamar si pemilik.

“Baik, Hyung~” sahut Jungkook. Duduk di tepi tempat tidurnya, melihat-lihat sekeliling kamarnya seolah ini pertama kalinya ia berada di ruangan yang di dindingnya terdapat beberapa poster film yang terpajang.

Begitu kakaknya keluar dari kamar, pemuda berambut hitam legam itu meraih ranselnya, mengeluarkan handycam kesayangannya dari sana. Beringsut ke arah meja belajar, menyalakan laptop yang diwariskan Seokjin kepadanya. Ia lantas menghubungkan handycam-nya dengan laptopnya. Beberapa kali terdengar suara ‘klik’ hingga layar laptop itu menampilkan rekaman video saat Jungkook dan teman-temannya melakukan hiking 3 hari yang lalu.

Sayup-sayup terdengar suara sodet yang beradu dengan wajan yang berasal dari dapur ketika Jungkook dengan cermat menonton hasil rekamannya. Video yang keseluruhan berdurasi 30 menit 43 detik itu masih menampilkan pemandangan indah saat perjalanan menuju tempat tujuan hiking-nya hari itu.

Hasil rekamannya benar-benar terlihat sempurna—setidaknya, itu menurutnya sebagai seorang sutradara muda yang berhasil menyabet juara pertama pada Festival Film Pendek Remaja di Busan bulan lalu. Ya, sempurna seandainya…

“Kalian tahu kalian berempat telah mengkhianati The Red Bullet.”

… seandainya, ia tidak merekam video pembunuhan massal ini. Yaaa, meskipun sebenarnya bagian pembunuhan ini bisa di-cut.

Jungkook merapatkan tubuhnya pada sisi depan meja dengan kedua tangannya berada di sisi kiri dan kanan laptop. Kedua matanya seolah tidak berkedip menonton gerakan demi gerakan dan suara-suara yang terdengar dari aksi pembunuhan massal yang direkamnya.

“Sebagai hukuman atas pengkhianatan kalian, hari ini juga, kalian berempat akan pergi ke neraka!”

“DOR! DOR! DOR! DOR!”

Ia sedikit memalingkan wajahnya saat adegan tembakan itu terpampang di layar laptopnya, menonton dari sudut matanya. Belum pernah Jungkook melihat pembunuhan secara keji seperti itu terjadi benar-benar tepat di depan matanya. Mengerikan. Rasanya jauh lebih mengerikan dibanding menonton film Saw.

“Apa yang kau tonton itu, hah?”

Refleks, Jungkook merendahkan layar laptopnya hingga nyaris tertutup sempurna ketika ia mendengar suara Seokjin di belakang. Sepersekian detik kemudian, ia menoleh, mendapati Seokjin yang telah mengganti seragam kepolisiannya dengan kaos sleeveless hitam, memperlihatkan lengan yang sedikit kekar dengan bekas luka sambaran peluru di lengan kiri.

“Hanya film,” lelaki muda berbaju merah itu menjawab.

Kening Seokjin berkerut, menatap adiknya curiga. Sementara Jungkook mulai merasa cemas, takut jika Seokjin tidak mempercayainya. Tepat saat itu, terdengar teriakan, “HEI! KAU~~!!!” dari laptop.

“Film action, hah?” tanya Seokjin.

Yang muda mengangguk cepat sambil berkata, “Ya. Hanya film action yang aku copy dari Bambam. Aku belum sempat menontonnya, Hyung, makanya…”

Sisa kalimat Jungkook tertelan oleh Seokjin yang menegurnya, “Jangan menonton film seperti itu. Kau tahu, kondisi kepalamu belum stabil kata dokter. Jangan menonton adegan yang membuat saraf-sarafmu tegang, mengerti?”

Seperti seorang anak kecil yang polos, Jungkook mengangguk. “Aku mengerti, Hyung. Maafkan aku.”

“Ya, sudah. Ayo, makan.”

Jungkook menyusul Seokjin ke ruang makan setelah meng-copy file video itu, menyimpannya di memory card yang terpisah. Di meja makan, seperti biasa hanya tergeletak 2 mangkuk masing-masing di depan 2 buah kursi yang saling berhadapan. Ada bulgogi, ikan kukus dan juga kimchi yang menjadi menu malam itu. Ya. Makan malam yang sederhana dalam porsi yang tidak begitu besar mengingat… mereka hanya tinggal berdua.

Kedua orang tua mereka telah meninggal sesaat setelah Seokjin diwisuda dari Akademi Kepolisian. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, tetapi nyawa kedua orangtua mereka yang duduk di depan, tidak bisa diselamatkan. Beruntung, Seokjin dan Jungkook yang hari itu duduk di belakang, masih selamat meski waktu itu, mereka harus dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu.

Berkisar 2 bulan setelah keluar dari rumah sakit, Seokjin yang diterima sebagai polisi di Seoul, mengajak adiknya ikut bersamanya. Dia tidak bisa meninggalkan Jungkook begitu saja. Bagaimana pun, Jungkook adalah adiknya, tanggung jawabnya.

“Besok hari pertama sekolah. Kau mau masuk, hm?” tanya Seokjin di sela-sela makannya sambil menatap adik yang duduk berhadapan dengannya.

“Ya~” Jungkook menyahut singkat seiring dengan tangan kanannya bergerak menyumpit bulgogi dan memasukkan daging kecoklatan yang ditaburi wijen itu ke dalam mulutnya.

“Tidak usah memaksakan diri kalau kau masih merasa pusing. Aku bisa mampir ke sekolahmu untuk melapor.”

“Tidak, Hyung,” tolak Jungkook halus. “Aku ingin masuk sekolah. Aku bosan hanya diam dan berbaring.”

Seokjin mengangguk paham. Dia mengerti bagaimana membosankannya berdiam diri di atas tempat tidur selama beberapa hari.

“Rrr… rrr… rrr…”

Agak terburu-buru Seokjin beranjak mengambil ponsel yang ia letakkan di atas cabinet tempat koleksi buku-bukunya, tidak jauh dari meja makan. Sementara itu, Jungkook sibuk dengan mulutnya yang tidak berhenti mengunyah.

“Apa?”

“…”

“Tapi, dia tidak tewas seperti orang yang sebelumnya kita tangkap, kan!?”

“…”

Perhatian Jungkook sedikit tersita oleh perbincangan kakaknya dengan seseorang. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi kedengarannya penting sekali. Beberapa kali Seokjin memekik, membuat Jungkook penasaran dengan apa yang dibicarakan. Ah, paling juga tentang kasus yang melibatkan organisasi yang ditangani Seokjin Hyung dengan timnya. Lelaki berkaos merah itu mencoba untuk tidak ambil pusing.

“Sialan~!” Seokjin mengumpat saat ia kembali ke meja makan. Kesal dengan informasi yang baru saja disampaikan Jinwoo padanya.

“Ada apa, Hyung?”

“Anggota organisasi terlarang yang hyung ringkus beberapa hari yang lalu, dia hampir tewas keracunan. Beruntung ada Jinwoo yang menemukannya sehingga nyawanya masih bisa diselamatkan.”

“Keracunan?” ulang Jungkook memastikan.

“Ya. Ada kandungan arsenic yang ditemukan pada makanannya,” ujar Seokjin yang belum menyentuh makanannya sejak ia menerima telepon dari Jinwoo. “Informasi darinya sangat penting untuk meringkus semua anggota organisasi itu,” tambahnya.

“Apa organisasi itu sangat berbahaya, Hyung?” tanya Jungkook, lantas menyumpitkan nasi ke dalam mulutnya. Mengunyah lagi.

“Ya. Beberapa hari yang lalu bahkan ditemukan 4 mayat anggota organisasi itu di sungai. Sungai yang berada di dekat tempat yang kau kunjungi bersama Bambam itu!”

“Uhuk… uhuk…”

Jungkook tersedak sebagai akibat dari keterkejutannya mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh hyung-nya. Buru-buru ia meraih gelas dan meneguk air hingga tersisa setengah gelas. Untuk sesaat, ia terdiam menenangkan diri dan berpikir…

Empat mayat ditemukan di sungai yang berada di dekat yang ia kunjungi bersama Bambam!? Apa mungkin…

“A-apa… apa mereka mati tenggelam?” Pertanyaan memancing itu dilontarkan Jungkook. Ia hanya ingin memastikan.

“Tidak. Keempat mayat itu mati tertembak. Ada bekas luka tembakan di dahi masing-masing. Orang yang membunuh mereka sepertinya sengaja membuang mayat mereka untuk menghilangkan jejak.”

Air liur yang ditelan Jungkook secara paksa terasa pahit. Kasus yang diselidiki oleh hyung-nya adalah kejadian yang ia rekam hari itu. Pembunuhan massal anggota organisasi.

H-hyung…” panggil Jungkook, tanpa sadar nada bergetar keluar dari kerongkongannya.

“Ya?”

“A-apa nama organisasi itu?”

“The Red Bullet.”

Jungkook membelalakkan matanya begitu kalimat yang meluncur dari mulut kakaknya mengetuk gendang telinganya. Otot-otot wajahnya menegang. Kedua tangannya mengepal, bahkan sumpit yang berada di dalam genggaman tangan kanannya tampak bergetar.

Tidak salah lagi. Pembunuhan yang aku rekam itu, pembunuhan itu dilakukan oleh The Red Bullet. Aku mendengar orang yang membunuh mereka mengucapkan nama itu.

“Kau kenapa, hah? Apa kau pernah mendengar tentang mereka?” tanya Seokjin, memandang adiknya, cukup bingung dengan reaksi Jungkook.

Apa aku ceritakan saja pada Seokjin Hyung? Tapi, bagaimana kalau mereka tahu aku membeberkan video itu. Bisa-bisa—Ah! Tidak. Mereka pasti mengira aku meninggal saat aku terjatuh hari itu.

“Hei, Jeon Jungkook!” Seokjin memukul bibir mangkuk adiknya dengan salah satu sumpit.

Sang adik terperanjat kaget, mengembalikan dirinya ke alam nyata sambil berkata gelagapan, “A-Ada apa, Hyung?”

Sang kakak mendengus. “Kau kenapa tidak menjawab pertanyaanku, hah? Kau melamun?” tebak Seokjin, sedikit dongkol.

“Ma-maafkan, aku, Hyung. Tadi… tadi aku memikirkan sesuatu.”

“Memikirkan apa, hah? Anak kecil sepertimu belum pantas memikirkan apapun selain sekolah!” Seokjin mencurigai adiknya memikirkan seorang gadis.

Jungkook mendengus pelan. Kakaknya masih saja menganggapnya anak kecil. Dia tidak suka itu. Tapi, ya… di mata Seokjin, dirinya tetap saja anak kecil.

Hyung?”

“Hm?” Seokjin yang saat itu mulai menikmati makan malamnya, hanya berdehem untuk merespon panggilan Jungkook.

“Kau pernah berjanji padaku, kau akan melindungiku, kan?”

Seokjin memandang adiknya dengan mulut yang sibuk mengunyah, menelan makanannya sebelum berkata, “Ya. Kenapa?”

Lelaki berusia 18 tahun itu menghela napas berat. Ada perasaan ragu menyelimutinya, hanya saja… “A-aku… aku ingin…”

“Rrr… rrr… rrr…”

“Tahan sebentar!” perintah Seokjin, beranjak menghampiri ponselnya sekali lagi. Entah apa yang terjadi, tetapi Seokjin tidak menghabiskan makan malamnya. Memerintahkan Jungkook untuk tidak mencuci piring sebelum ia sendiri keluar dari apartemen dengan jaket kulit cokelat kesayangan yang menyelimuti tubuhnya.

“Aku ingin memperlihatkanmu video pembunuhan itu, Hyung!”

Sayangnya, Jungkook mengucapkan kalimat itu setelah Seokjin menutup pintu apartemen.

@@@@@

“Namanya Jeon Jungkook. 18 tahun. Siswa tingkat 2 di Paran High School.” Bibir tipis lelaki berambut hitam yang duduk di dalam sebuah mobil sedan itu bergerak-gerak membaca beberapa baris tulisan yang tertera di layar tablet di tangannya.

“Benar-benar masih anak-anak.” Seseorang bersuara deep-husky yang duduk di sebelahnya, di belakang kemudi, berkomentar. Tidak lama, lelaki berbibir tipis di sebelahnya menyodorkan tablet yang memperlihatkan foto seorang anak laki-laki dengan tubuh yang dibalut seragam sekolah Paran. Lagi, lelaki bersuara deep-husky itu berkomentar, “Kelihatannya dia anak baik-baik.”

Lelaki berbibir tipis itu melanjutkan, “Dia tinggal di sebuah rumah di Cheongdam-dong bersama kakaknya.”

“Kakak?”

“Orangtuanya sudah lama meninggal.”

Yang bersuara deep-husky itu mendecih. “Ternyata sama sepertiku,” gumamnya. “Lalu, informasi apa lagi yang kau dapatkan tentang anak itu, Taehyun-ah?”

Taehyun, lelaki berbibil tipis itu berkata lagi setelah lelaki yang bersuara deep-husky, Rapmon, mengembalikan tablet padanya. “Bulan lalu dia memenangkan penghargaan sebagai Sutradara Terbaik pada Festival Film Pendek Remaja di Busan.”

“Sutradara Terbaik?” Rapmon bergumam, lantas mendecih sekali lagi, sebelum berkata, “Pantas saja dia merekam adegan penembakan yang dilakukan Zico Hyung. Adegan itu pasti jarang sekali ditemukannya, hm. Anak yang berani. Aku penasaran ingin bertemu dengannya secara langsung.”

“Jadi, kau sudah tahu apa yang akan kaulakukan padanya, hah?” Taehyun penasaran.

Rapmon menoleh ke arahnya, menyeringai. “Tentu saja. Kau pasti… sudah tahu nomor ponselnya, kan?”

Taehyun tertawa. “Pertanyaan itu menggelikan, Rapmon-ah. Tentu saja aku tahu informasi dasar seperti itu.”

Dan, Rapmon tersenyum puas.

Entah sudah berapa puluh menit kedua lelaki yang masing-masing tubuhnya dibalut baju kaos merah dan jaket kulit hitam, duduk di kursi sebuah sedan yang terparkir tidak jauh dari Paran High School. Semua jendela mobil tertutup rapat, tidak ada celah untuk orang-orang yang melintas, mengintip ke dalamnya. Di belakang mobil itu, ada mobil sedan hitam lain.

“Sebentar lagi dia akan keluar,” ujar Taehyun.

“Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya,” desis Rapmon, memainkan jari di atas roda stirnya. Kedua matanya mendelik mengerikan ke arah gerbang Paran High School.

Sekitar 5 menit kemudian, seperti binatang yang dilepas dari kandangnya, siswa-siswi Paran berhamburan melintasi gerbang. Jalan raya yang semula lengang, sekarang padat karena kendaraan pribadi siswa-siswi yang bergerak meninggalkan sekolah. Rapmon menurunkan jendela di sebelahnya, matanya dengan jeli mencari wajah anak lelaki berwajah tampan dengan hidung besar di antara wajah-wajah yang tidak sabar untuk tiba di rumah.

“Itu dia!” Taehyun yang duduk di sebelahnya—juga mencari wajah Jungkook di—menunjuk ke arah seorang lelaki yang baru saja melintasi gerbang sekolah. Tampak berbicara dengan seorang temannya yang membawa ransel merah.

Rapmon di sebelahnya hanya mengelus dagu dengan pandangan yang tidak lepas dari sosok anak lelaki yang sekarang duduk sendirian di halte, memangku ransel merah yang dibawa oleh temannya beberapa saat lalu.

“Berikan nomor ponselnya padaku,” Rapmon menyerahkan ponselnya pada Taehyun, “aku ingin tahu seberani apa dia.”

“Halo?” Rapmon bisa mendengar suara Jungkook menjawab teleponnya dengan sangat ramah. Kedua matanya masih mengawasi Jungkook yang duduk di halte dari balik kaca depan mobilnya.

“Jangan perlihatkan video pembunuhan yang kau rekam di bukit 4 hari yang lalu pada siapa pun, Jeon Jungkook!” Rapmon memperingatkan tanpa basa-basi.

Taehyun menyimak pembicaraan Rapmon dengan ‘anak kecil’ itu. Beberapa kali terkikik geli ketika Rapmon mengeluarkan nada tinggi, mengancam Jeon Jungkook. Dari pembicaraan itu, Taehyung tahu rekannya tidak berhasil membujuk Jungkook untuk menyerahkan file video rekaman itu padanya. Terlebih…

SHIT! BOCAH BRENGSEK!”

… terlebih Rapmon langsung mengumpat kesal sambil membenturkan ponselnya pada stir.

“Kenapa, hah?” Taehyung bertanya, namun Rapmon mendengar ada kesan meremehkan di sana, membuatnya semakin kesal saja.

“Anak itu—berani-beraninya dia mematikan teleponnya. Sialan!” Sekali lagi, Rapmon melampiaskan kekesalannya pada stir sedan yang tidak bersalah. “Sepertinya, aku memang harus menjalankan rencana yang sudah kusiapkan untuknya.”

“Lebih baik begitu. Kau hanya buang-buang waktu mengancamnya melalui telepon,” komentar Taehyun.

Rapmon lantas menelepon seseorang, entah siapa. Hanya beberapa kalimat yang ia ucapkan, namun bernada tegas dan memerintah. Tidak lama kemudian, begitu melihat Jungkook masuk ke dalam bis berwarna biru, Rapmon melajukan mobilnya, begitu juga mobil sedan hitam lain di belakangnya.

@@@@@

Jungkook turun dari bis. Lekas mengayunkan langkah melanjutkan perjalanan pulangnya, menyusuri jalan-jalan sepi yang setiap hari ia lewati. Beberapa kali Jungkook menghembuskan napas dari mulutnya, merasa kepanasan dengan cahaya matahari yang seperti akan membakar rambut hitam legamnya. Belum lagi ransel merahnya yang terasa cukup berat karena di dalamnya ada bundle script film pendek ber-genre action yang akan digarapnya.

Tanpa lelaki itu sadari, 2 buah mobil sedan hitam mengikutinya sekitar 10 meter di belakang.

“BRRMMM~~!!!”

Salah satu dari mobil itu bergerak, sementara yang satu lagi diam di tempatnya. Mobil hitam yang bergerak itu melaju ke arah Jungkook yang berjalan cepat-cepat, tidak tahan dengan matahari yang membuatnya gerah. Melintas di sebelah lelaki berseragam biru tua itu dan…

“CIIIITTT~~!!!”

… langsung berhenti tiba-tiba menghadang jalan Jungkook.

Lelaki beransel merah itu terkejut mana kala 3 orang lelaki berpakaian hitam-hitam bertubuh kekar keluar dari mobil, mengerumuninya.

“Ka-kalian siapa?” Jungkook menggenggam kedua tali ranselnya sambil memandang satu per satu wajah-wajah mengerikan dengan hiasan luka codet di beberapa bagian wajah masing-masing.

“SERAHKAN FILE VIDEOMU PADA KAMI!!!” gertak lelaki yang ditengah. Suaranya bagai guntur menggelegar.

Siswa Paran High School itu menelan ludah. Salah satu dari mereka, mungkin saja orang yang meneleponnya tadi, begitu pikirnya.

“Tidak! Tidak akan kuserahkan!” Jungkook memindahkan ransel merahnya ke bagian depan tubuhnya, memeluk benda itu erat-erat. Wajahnya tegang. Jantungnya berdegup kencang, menggedor-gedor susunan tulang rusuknya. Seluruh tubuhnya dibasahi keringat dingin, lengkap dengan deru napasnya yang memburu.

“BERIKAN KEPADA KAMI SEKARANG JUGA, ANAK KECIL!” Lelaki kekar yang ditengah berteriak sambil mengeluarkan sebilah belati dari saku belakang celananya.

“JANGAN GANGGU AKU! AKU AKAN MEMBERIKAN FILE VIDEO INI KEPADA POLISI KALAU KALIAN MENDEKAT!” Jungkook mencoba menggertak, tetapi itu terdengar seperti sebuah guyonan yang sangat lucu di telinga ketiga lelaki kekar itu. Mereka malah tertawa. Jungkook sadar, hal yang barusan dilakukannya benar-benar bodoh.

Tetapi, melihat ketiga lelaki kekar itu lengah, Jungkook berlari secepat mungkin menyusuri jalan yang telah lalui. Ketiga lelaki itu sadar dan mengejarnya. Sekali lagi, Jungkook harus mengalami aksi kejar-kejaran, namun… sekali lagi pula, jalan Jungkook di hadang oleh mobil hitam yang lain.

Dia… tidak bisa kemana-mana lagi.

Dan tepat di saat, itu… salah satu dari ketiga lelaki kekar mengambil kesempatan membekap hidung dan mulut Jungkook dari belakang. Anak muda itu berontak dengan mulut menggumam tidak jelas. Seiring dengan bau chloroform yang membuatnya kehilangan kesadaran, samar-samar… Jungkook melihat seorang lelaki berjas hijau-keabuan keluar dari mobil hitam yang menghadang jalan larinya.

“Kau tidak bisa kemana-mana lagi sekarang, Jeon Jungkook~!”

Suara deep-husky itu masih sempat menembus lubang telinga Jungkook sebelum dia jatuh tidak sadarkan diri.

@@@@@

J-Hope atau Jung Hoseok, anggota The Red Bullet yang menjadi tahanan Kepolisian Seoul, terbaring lemah tidak berdaya di atas tempat tidur di klinik khusus tahanan—bangunannya hanya terpisah beberapa puluh meter dari gedung kantor Kepolisian Seoul. Semalam, dia nyaris tewas keracunan arsenic yang ada di dalam makanannya. Beruntung, Jinwoo, datang melihatnya di sel tahanan tepat waktu dan membawanya ke rumah sakit sebelum Hoseok tewas seperti anggota The Red Bullet sebelumnya.

“Bagaimana keadaannya, dr. Zhang?” Seokjin mewakili ketiga temannya yang berada di dalam kamar inap Hoseok, bersuara, menanyakan kondisi Hoseok pada dokter yang menangani.

Dr. Zhang Yixing, dokter muda yang baru masuk sekitar 6 bulan yang lalu di rumah sakit ini, menjawab, “Racun arsenic cukup banyak masuk ke dalam tubuhnya, Opsir Kim,” sahutnya. “Beruntung…” dokter yang selalu mengenakan baju kerah tinggi dibalik jas kedokterannya menoleh ke arah Jinwoo yang duduk tidak jauh dari Seokjin yang berdiri, “… beruntung Opsir Kim Jinwoo membawanya ke sini tepat waktu sehingga kami masih sempat menguras isi perutnya sebelum terlambat.”

Seokjin bernapas lega.

“Hampir saja kita kehilangan anggota The Red Bullet lagi,” gumam Mino, berdiri menyandarkan punggungnya pada dinding di dekat pintu, memandang kesal ke arah Hoseok. Sepertinya dia masih kesal karena Hoseok telah menembak lengannya.

“Kalian tidak usah cemas,” ujar dr. Zhang, “kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan tahanan kalian ini,” lanjutnya.

“Terima kasih atas bantuan Anda, dr. Zhang,” balas Seokjin. Dr. Zhang mengangguk, kemudian meninggalkan ketiga polisi itu di ruanan. Seokjin kemudian menoleh ke arah Jinwoo dan Mino, kemudian berkata, “Ayo kembali ke kantor. Mark pasti sudah menunggu kita di sana.”

“Aku tetap di sini!” sela Jinwoo, membuat Seokjin dan Mino yang menarik kembali langkahnya menuju pintu ruangan.

“Kenapa?” Mino bertanya.

“Hanya ingin berjaga-jaga,” ia memandang Seokjin dan Mino bergantian. “Kalian paham maksudku, kan?”

Untuk sesaat, Seokjin dan Mino tidak mengerti, hingga Jinwoo berkata, “Kalian ingat tentang kecurigaanku, kan?”

Serempak, Mino dan Seokjin menepuk dahinya pelan. Mereka tahu maksud Jinwoo ingin tetap berada di sini. Polisi yang pernah mengambil sekolah psikologi itu hanya ingin menjaga Hoseok dari kecurigaannya tentang adanya anggota The Red Bullet di Kepolisian Seoul. Bukan tidak mungkin, nanti akan ada seseorang yang berseragam polisi datang untuk membunuh Hoseok atau ya…, siapa pun yang bekerja di tempat yang berhubungan dengan Kepolisian Seoul.

“Tapi, kau sudah berjaga di sini sejak semalam,” sahut Seokjin. “Kau butuh istirahat. Biar aku saja yang…”

“Tidak, Seokjin-ah,” Jinwoo menelan ucapan Seokjin yang belum selesai. “Sebaiknya kau berada di kantor untuk melanjutkan penyelidikan bersama Mark.”

“Tapi, kau…”

“Cukup!” Mino menyela. “Biar aku saja yang berjaga di sini. Jinwoo-ya, kau pulang saja dan tidurlah. Kau tidak mau kantung matamu itu berkantung mata, kan? Seokjin-ah, kau yang temani Mark melakukan penyelidikan lanjutan. Aku akan berjaga di sini.” Mino menghampiri Jinwoo, menyuruh polisi itu menyingkir dari tempat duduk.

“Kau akan menjaganya dengan benar, kan?” Seokjin bertanya, menunjukkan tampang tidak yakin hanya untuk menggoda Mino.

“Tentu saja!” Mino sewot. “Kalau dia mencoba bunuh diri atau ada seseorang yang mencoba membunuhnya, aku akan langsung menembaknya,” cerocos Mino sambil menunjukkan pistolnya.

Seokjin dan Jinwoo terkekeh. “Baiklah. Kami percaya padamu. Kami pergi dulu~” pamit Seokjin, lantas keluar dari ruangan bersama Jinwoo.

Berpisah dengan Jinwoo di tempat parkir, Seokjin berjalan menuju ruang kerjanya di lantai 3. Membuka pintu bercat abu-abu, mendapati Mark sedang duduk di balik mejanya. Tampak sibuk membaca sesuatu pada selembar kertas yang dipegangnya.

“Jung Hoseok baik-baik saja. Mino sedang menjaganya di sana,” ujar Seokjin memulai pembicaraan sembari mengayunkan langkah menghampiri meja Mark. “Omong-omong, apa yang kau baca itu, hah?”

Mark menyingkirkan kertas itu dari depan wajahnya, sedikit mendongak untuk melihat rekannya. “Aku menemukan beberapa hal dari otopsi mayat,” lelaki berambut cepak berwarna hitam itu membuka lacinya, mengeluarkan sesuatu yang dibungkus dengan plastik barang bukti, lantas meletakkannya di atas permukaan mejanya, “4 butir peluru full metal-jacket.”

Seokjin mengambil bungkusan plastik bening berisi 4 butil peluru, lalu bergumam, “Tokalev?!”

Mark mengangguk. “Tepat! Mereka ditembak dengan pistol jenis tokalev.”

Well, ini berbeda dengan jenis pistol yang digunakan Hoseok,” sahut Seokjin. “Kupikir, sebuah organisasi kejahatan seperti itu akan menggunakan jenis senjata yang sama,” lanjutnya polos. Sesaat membuat Mark bertanya-tanya, bagaimana mungkin ada seorang polisi yang berpikiran seperti itu?

“Dan…, ada satu lagi,” Mark mengalihkan fokus Seokjin dari barang bukti yang masih dipegangnya, “Kata polisi hutan di sana, beberapa warga menemukan seorang remaja laki-laki berusia 18 tahun yang pingsan di dekat sungai. Bukankah kau bilang… adikmu berada di tempat ini di hari mayat-mayat itu ditemukan, hm?”

Seokjin terdiam, membiarkan otaknya mencerna kalimat Mark. Ya, di hari mayat-mayat itu ditemukan, Jungkook memang berada di sekitar tempat itu, hiking bersama teman-temannya. Hanya saja…, Jungkook tidak menceritakan sesuatu yang—ah! Sebentar! Bukankah… semalam Jungkook ingin mengatakan sesuatu padaku?

“Apakah… adikmu menceritakan sesuatu padamu, hm?” sela Mark.

Seokjin terkesiap, agak gelagapan berkata, “Semalam… semalam dia memang ingin mengatakan sesuatu padaku, tetapi… Jinwoo meneleponku sebelum Jungkook sempat bercerita.”

“Sial!” Mark mengumpat pelan. “Mungkin saja adikmu…”

Tanpa menunggu Mark menyelesaikan ucapannya, Seokjin langsung menyambar ponsel di laci mejanya. Sekilas melirik jam yang terpajang di dinding, memastikan ia tidak menghubungi Jungkook di saat adiknya itu sedang belajar. Bergegas menekan serentetan nomor yang telah ia hapal begitu jam yang dilihatnya seolah mengatakan bahwa ‘sekarang adalah jam pulang sekolah’.

Terdengar nada sambung saat Seokjin merapatkan ponsel di telinga kirinya. Menunggu Jungkook menjawab panggilan sambil melihat ke arah Mark yang juga nampak tak sabar menunggu Seokjin berbicara dengan adiknya.

“Nomor yang Anda tuju sedang sibuk.”

Seokjin mendengus. “Suara operator!”

Menghubungi nomor yang sama sekali lagi, bahkan berkali-kali, tetapi… tetap saja suara operator yang terdengar.

“Ck! Apa yang dilakukan anak itu? Kenapa tidak mendengar dering ponselnya, hah?” Seokjin menggerutu gemas. Berencana akan mengomeli sekaligus menanyai Jungkook tentang apa yang akan dikatakannya semalam. Tanpa ia ketahui…, saat ini adiknya sedang berada dalam bahaya.

@@@@@

Pelan-pelan Jungkook membuka kedua kelopak matanya yang terasa agak berat. Pandangannya kabur, efek dari pembiusan yang dilakukan padanya. Namun detik demi detik, pandangannya mulai jelas dan ia telah sadar sepenuhnya. Kaget, Jungkook mendapati dirinya duduk di sebuah kursi kayu dengan kedua tangannya yang diikat dengan kain usang pada masing-masing lengan kursi. Diikat sangat erat karena ia bisa merasakan pergelangan tangannya tidak bisa digerakkan. Sedikit beruntung, kakinya masih bebas.

Kedua mata Jungkook memandangi ruangan dimana ia berada. Sebuah ruangan bercat abu-abu dengan poster-poster perempuan berpakaian minim terpajang di permukaannya. Di sebelah kanannya, sebuah tempat tidur yang dialasi sprei polos yang terlihat seperti gorden yang sudah tidak terpakai, tampak awut-awutan seperti ada seseorang yang baru saja tertidur di sana, tapi tidak merapikannya. Ada ransel merahnya di sana. Di sisi kiri Jungkook ada sebuah meja kecil dengan lampu duduk yang sama persis dengan lampu di meja belajarnya. Di dekat meja itu, ada sebuah kursi kayu lain.

Tepat di saat Jungkook bertanya-tanya dimana dirinya, seseorang membuka pintu ruangan. Lelaki bertubuh tinggi dengan rambut blonde yang dimodel spike itu berjalan memasuki ruangan. Sebotol whiskey digenggam oleh tangan kanannya, sementara tangan yang satunya menggenggam sebuah gelas kaca. Ia memandang Jungkook, mendapati ‘anak kecil’ itu memandangnya kesal.

“DIMANA AKU?” Jungkook berteriak, meronta di kursinya.

Lelaki yang memegang botol whiskey itu terkekeh, meletakkan botol dan gelasnya pada meja, kemudian menarik kursi kayu, membawanya ke hadapan Jungkook. Ia lantas duduk di atasnya, menaikkan satu kaki di atas pahanya sambil bersandar melipat kedua tangan di depan dada.

“Jangan berteriak-teriak seperti itu di rumahku. Aku tidak suka ada orang yang berisik di sini.”

Suara deep-husky itu membuat Jungkook tahu orang ini—ya, meski tetap tidak tahu siapa namanya. “KAU! KAU YANG MENELEPONKU, KAN? KAU YANG MENGANCAMKU, KAN?” Jungkook masih berteriak, meronta, tidak peduli sang tuan rumah baru saja mengatakan ia tidak menyukai ada orang yang berisik di rumahnya.

“Aah, jadi kau bisa tahu aku hanya dengan mendengar suaraku!?” ucap lelaki itu dengan nada terkejut yang dibuat-buat. “Wah… wah… wah…,” kali ini dia bertepuk tangan teratur, “aku terkesan.”

“LEPASKAN AKU! LEPASKAN AKU!” Jungkook berteriak tidak terkendali, meronta-ronta, ingin melepaskan diri dari semua benda-benda yang mengekangnya.

Lelaki bersuara deep-husky di depannya hanya memutar kedua bola matanya jengah. Ia bahkan beranjak menuangkan whiskey ke dalam gelasnya, mengacuhkan Jungkook yang mengumpat padanya. Ia lantas kembali duduk di kursi yang berhadapan dengan Jungkook, meneguk minumannya, kemudian berkata, “Hei! Hei! Apa seperti itu cara orang tuamu mendidikmu saat kau berhadapan dengan pemilik rumah, hah?”

“BRENGSEK! KAU BRENGSEK! LEPASKAN AKU! PEMBUNUH! LEPASKAN AKU!”

Suara dengus tawa terdengar dari lelaki bersuara deep-husky itu. Semua teriakan dan umpatan Jungkook seperti sebuah hiburan bagianya. Ah, atau… dia sudah terlalu sering mendengar orang-orang berkata seperti itu padanya.

Well, well, well. Kupikir kau berteriak seperti anjing menggonggong karena kau belum tahu siapa aku. Jadi, sebagai tuan rumah yang baik, aku akan memperkenalkan diriku padamu terlebih dulu.”

“AKU TIDAK PEDULI SIAPA KAU! LEPASKAN AKU! LEPASKAN! LEP—”

“DIAM!!!”

Teriakan Jungkook tertahan di tenggorokannya ketika lelaki itu berteriak. Meski begitu, tatapan geram masih terpancar dari sorot mata Jungkook. Kedua bahunya naik-turun seiring dengan napasnya yang tersengal. Wajahnya merah padam, dengan keringat yang menghiasi dahinya.

Melihat Jungkook membisu, lelaki itu melanjutkan ucapannya. “Seharusnya kau diam seperti ini sejak tadi, Jeon Jungkook.”

“Bagaimana kau bisa tahu namaku, hah?” desis Jungkook.

Lelaki itu menyeringai, lalu meneguk whiskey-nya lagi. “Itu hal yang mudah. Di zaman yang serba modern seperti ini, aku bahkan bisa tahu ukuran pakaian dalammu dengan mudah.”

Mata Jungkook terbelalak.

Lelaki bersuara deep-husky itu terbahak.

“Astaga! Lihat wajahmu. Kenapa kau sekaget itu, hah?” Dia tertawa lagi. Jungkook menatapnya tidak suka. “Okay, Jeon Jungkook…” lanjut lelaki itu, “aku lanjutkan ucapanku tadi. Sepertinya kita harus berkenalan sebelum memulai kerjasama.”

“Sudah kubilang, aku tidak mau tahu siapa namamu! Penjahat! Pembunuh!”

“Rapmon! Aku Rapmon!” ujar lelaki itu, tidak peduli apa yang dikatakan Jungkook barusan. “Sekarang kau sudah tahu namaku, jadi… kuharap kita bisa bekerjasama dengan baik.” Rapmon berdiri dari duduknya, meletakkan gelasnya di meja, kemudian memperbaiki jaket hitam yang menutupi kaos merah di baliknya.

“Kerjasama apa maksudmu, hah?” Jungkook mendongak, mendelik.

“Beritahu aku, dimana kau menyimpan file video itu?” Rapmon bertanya sambil menyelipkan kedua telapak tangannya ke dalam saku jeans robek-robek yang membungkus kedua kakinya.

Jungkook mengalihkan wajah dari tatapan tajam Rapmon seraya berkata dengan ketusnya, “Tidak akan kuberitahu!”

Rapmon mendecih, lantas tangan kirinya menjambak rambut hitam legam Jungkook, membuat wajah siswa Paran High School itu mendongak padanya. “Jangan membuat situasi ini sulit, Jungkook-ssi. Kau sudah cukup mempersulitku dengan menculikmu. Sekarang, mari kita permudah semua ini. Beritahu aku dimana kau menyimpan file video itu. Aku akan menyuruh anggotaku untuk mengambilnya dan kau akan aku lepaskan.”

“BOHONG!” Jungkook berteriak. “Kau tidak akan melepaskanku. Aku tahu itu. Mana mungkin kau melepaskan saksi mata pembunuhan itu, hah? Kau pasti akan membunuhku bersama dengan kau melenyapkan barang bukti itu, kan?”

Kesal, Rapmon menjambak rambut Jungkook lebih keras. Mimik meringis tampak jelas menghiasi wajah Jungkook. Sakit, tentu saja.

“Jadi, kau tidak akan mengatakan dimana kau menyimpan file video itu, hah?”

Jungkook menyeringai, lalu berkata, “Tidak! Tidak akan pernah aku katakan padamu! Itu jaminan agar aku tetap hidup! Kau tidak akan mungkin membunuhku jika kau tidak mendapatkan file video itu, bukan?”

Rapmon menghentak kepala Jungkook ke depan saking tidak bisa lagi menahan kekesalannya. “Baik!” ujarnya kesal. “Kalau kau tidak mau memberitahu aku dimana kau menyimpan file video itu, aku akan mencarinya. Begitu aku dapatkan, akan kupastikan kau meninggalkan dunia ini dengan cara yang tidak pernah kau pikirkan! Camkan itu, Jeon Jungkook!”

Tepat di saat, Rapmon berbalik dan menendang kursi yang didudukinya hingga terjengkang, suara ponsel berdering menarik perhatiannya. Hanya sebentar saja, Rapmon tahu suara itu adalah suara ponsel yang berasal dari ransel Jungkook.

Seketika Rapmon, menghampiri ransel merah Jungkook bersamaan dengan Jungkook berteriak ‘jangan sentuh barang-barangku!’. Membuka benda itu kasar dan menumpahkan isinya begitu saja di atas tempat tidur. Ponsel Jungkook tergeletak terbalik, masih berdering. Tangan kanan Rapmon menyambar benda itu, melihat tulisan singkat yang tertera di layar: ‘Hyung calling’.

Hyung-mu menelepon. Ah, dia pasti sangat mencemaskan adiknya yang sangat keras kepala ini.”

Tanpa izin dari sang pemilik, Rapmon memutuskan panggilan itu. Sepersekian detik kemudian, muncul tulisan lain di layar: 17 missed calls from hyung, 9 missed calls from Bambam. Tapi, bukan itu yang membuat mata Rapmon terbelalak. Sebuah foto keluarga yang menjadi wallpaper itulah yang membuat pandangan lelaki itu tidak lepas dari salah satu dari 4 wajah bahagia yang terpampang di sana.

“Kau! Siapa orang ini?” Rapmon kembali ke hadapan Jungkook sambil menunjuk wajah seseorang di layar ponsel.

Pemilik ponsel itu melihat sosok yang ditunjuk oleh Rapmon, kemudian balas menatap lelaki itu sambil berkata, “Hyung-ku, Jeon Seokjin!”

Kedua bola mata Rapmon membulat sempurna. Ia menghirup udara sebanyak yang bisa ditampung kedua paru-parunya, berusaha menguasai dirinya. “Jeon Seokjin, hah?” ulangnya mengalihkan wajah dari Jungkook. “Dia sepertinya sangat mencemaskanmu, Jeon Jungkook. Kau beruntung memiliki saudara seperti itu.”

Kening Jungkook berkerut mendengar apa yang diucapkan Rapmon. Belum sempat ia meminta Rapmon menjelaskan, lelaki itu telah lebih dulu berjalan menuju pintu sambil membawa ponselnya.

Ah, tidak! Ini gawat!

@@@@@

Seokjin terenyak di atas sofa di ruang tamu dengan tangan kanan yang memegang ponsel. Ia mengusap wajah tampan yang dihiasi mimik lelah. Mengembuskan napas berkali-kali, untuk menyingkirkan kelelahan yan tidak hanya menyelimuti wajahnya, tapi seluruh tubuhnya.

“Kemana anak itu?” gumamnya gusar.

Jam di dinding telah menunjuk pukul 11 malam, tetapi adiknya, Jungkook, belum juga kelihatan batang hidungnya di rumah. Seokjin berkali-kali menghubunginya, tetapi Jungkook tidak menjawab. Beberapa panggilan terakhir malah diputuskan begitu saja sebelum suara menjengkalkan operator menusuk gendang telinganya. Ia bahkan sudah menghubungi Bambam, sahabat adiknya, tapi anak itu juga tidak tahu dimana Seokjin. Sedikit melegakan, Bambam mau membantu Seokjin menghubungi teman-teman lain. Toh, bisa saja Jungkook menginap di rumah temannya yang lain—begitu, menurut Bambam.

Ini pertama kalinya Jungkook pulang terlambat tanpa memberi kabar, terlebih hingga malam telah larut seperti ini. Kecemasan Seokjin bertambah mengingat adiknya itu belum sehat sepenuhnya. Dan sekarang, aish, anak itu malah tidak memberi kamar! Susah dihubungi pula!

Di tengah-tengah kelelahan yang mulai memudar, Seokjin bergerak ke arah dapur. Mengambil segelas air dingin dari dispenser, meneguknya sampai tidak ada setetes air yang tersisa. Ia menghela napas lega.

“Rrr… rrr… rrr…”

Ponsel yang tiba-tiba berdering di dalam genggaman tangan kirinya membuatnya nyaris menjatuhkan gelas di dalam genggaman tangan kanannya. Seokjin membawa ponselnya itu ke depan wajahnya, melihat sebaris nomor yang belum tersimpan tertera di layarnya.

Apa mungkin ini Jungkook?

Atau mungkin ini Bambam?

“Halo?” Seokjin berucap.

Tapi…, tidak ada suara dari orang yang meneleponnya.

“Haloo~?”

Masih tidak ada sahutan.

Kesal, Seokjin memutuskan begitu saja panggilan itu, kemudian membawa tubuhnya ke ruang tengah. Duduk di sofa setelah menyalakan televisi, menonton sebuah film dari channel film luar negeri. Rasa cemas yang menyelubungi perasaannya membuat kantuk seolah enggan menyapa. Dia benar-benar tidak bisa tidur sebelum tahu Jungkook berada dimana dan seperti apa kondisinya sekarang.

Bagaimana pun… itu satu-satunya cara untuk… Seokjin membalas kebaikan kedua orangtuanya, menjaga Jungkook baik-baik.

“Rrr… rrr… rrr…”

Dering ponsel yang tergeletak di sisi kiri tubuhnya mengalihkan perhatian Seokjin dari adegan mesra—sekaligus menjadi adegan paling terkenal—Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet di buritan kapal Titanic—yang juga menjadi judul film yang ia tonton. Agak jengah, Seokjin memutar kedua bola matanya begitu melihat nomor-orang-iseng itu tertera di layar ponselnya.

“Ya, halo?” Tersirat sedikit nada jengkel pada suara Seokjin saat menjawab panggilan itu.

Sama seperti tadi, orang yang menghubunginya sama sekali tidak berbicara. Berkata ‘a’ saja tidak.

“Siapa pun kau, jangan menghubungiku saat ini kecuali kau tahu dimana adikku, Jungkook!”

Sama sekali tidak ada respon dari orang yang menelepon.

“Baiklah, kalau kau tidak mau bicara. Aku akan memutuskan—”

“Aku tahu dimana adikmu!” Suara deep-husky itu terdengar

“Benarkah? Dimana dia? Dimana adikku?” Seokjin berdiri dari duduknya. Wajahnya yang berkerut kesal beberapa lalu, kini terlihat sedikit lebih cerah.

Seokjin mendengar lawan bicaranya mendecih, kemudian berkata, “Kau terdengar sangat mencemaskannya.”

“Bicara apa kau? Tentu saja aku sangat mencemaskan adikku. Katakan dimana dia. Aku akan memberimu imbalan.”

Lawan bicara Seokjin tertawa. Dalam sekejap, perasaan antusias itu kembali pada perasaan kesal. Sungguh, jika bukan karena orang di telepon ini tahu keberadaan Jungkook, Seokjin akan memutuskan panggilannya sekarang juga.

“Hei! Apa yang lucu, hah? Kau benar-benar bersama Jungkook atau tidak?”

“Tut… tut… tut…”

Lawan bicaranya memutuskan panggilan secara sepihak.

SHIT!

Lelaki itu melemparkan ponselnya ke atas sofa, menyusul tubuhnya. Sekali lagi mengusap wajahnya, lalu memijat puncak hidung mancungnya. Aish! Di saat-saat seperti ini malah ada orang iseng yang mengganggunya.

“Rrr… rrr… rrr…”

Seokjin tidak berniat mengerling ke arah layar ponsel yang tidak jauh darinya. Ah, paling orang iseng tadi.

“Rrr… rrr… rrr…”

Namun, ponsel itu tidak berhenti berdering.

“Rrr… rrr… rrr…”

Benar-benar tidak berhenti berdering hingga terpaksa Seokjin dengan malas meraih ponselnya, langsung menjawab panggilan tanpa melihat ID contact penelepon di layar.

“Hei! Sudah kukatakan, jangan hubungi aku kecuali kau tahu dimana adikku!”

“Dan, aku juga sudah mengatakan, aku tahu dimana adikmu!” Suara deep-husky itu meyakinkan Seokjin bahwa yang menelepon sekarang adalah orang yang sama dengan yang meneleponnya sebelum ini.

Seokjin mendengus. “Aku sedang tidak punya waktu untuk main-main, Tuan. Kalau Jungkook memang bersamamu, biarkan aku bicara dengannya! Aku ingin mendengar suaranya!” tegas Seokjin.

“Wah… wah… wah. Apa saat menjawab telepon ini kau tidak melihat ID contact-nya, hah?”

Sontak Seokjin melihat layar ponselnya dan… kedua matanya terbelalak lebar melihat ID caller si penelepon: Naui Dongsaeng.

“Kau… kau menelepon memakai ponsel Jungkook?!”

“Ya.”

“Lalu, dimana Jungkook sekarang? Apa dia baik-baik saja. Tolong, biarkan aku bicara dengannya!” tegas Seokjin dengan nada menuntut.

Lagi dan lagi, Seokjin mendengar lawan bicaranya tertawa. Rahang Seokjin sedikit bergetar menahan emosinya. Sungguh, dia benar-benar akan memutuskan telepon seandainya orang ini hanya mengerjainya. Tetapi ini…, orang ini menelepon menggunakan ponsel Jungkook. Bisa saja Jungkook sedang bersamanya.

“Sejak tadi kau hanya mencari Jungkook, Jungkook dan Jungkook. Tidakkah kau penasaran denganku, hm?”

Lawan bicaranya malah mengalihkan pembicaraan.

“Apa? Memangnya kau siapa?” Seokjin melontarkan pertanyaan yang seharusnya sejak tadi ia tanyakan.

“Ah, kenapa kau baru menanyakannya, hah? Aku sudah kehilangan mood untuk memperkenalkan diriku…, Jeon Seokjin.”

“Hei! Bagaimana kau…”

Belum sempat Seokjin melanjutkan kalimatnya, orang yang berbicara di ujung telepon itu melanjutkan, “atau… kupanggil saja kau dengan nama… Kim Seokjin.”

Dan seketika Seokjin mematung mendengar nama itu menembus lubang telinganya. Kedua matanya membelalak lebih lebar lagi. Tangan, bahkan seluruh tubuhnya bergetar. Potongan-potongan kejadian di masa lalu terputar di dalam kepalanya, seperti film yang memaksa untuk ditonton.

Pelan, Seokjin menggumamkan sebuah nama, “Apa ini kau…, Kim Namjoon?”

TaehyungBelumCebok-

Anditia Nurul ©2015

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

-Also posted on Noeville-

11 thoughts on “(THE RED BULLET) BROTHER [Chap. 2]

  1. Tuh kaaaaaaan si Jin emang pasti ada apa2nya sama Red Bullet. Dan aku penasaran kenapa Jungkook seringkali berkaitan dengan warna merah, tas merah, kaos merah. Mata2 Red Bullet di kepolisian Jinwoo kah? Next chapt segera ya semangaaat 😀

  2. nah kan kena deh jungkook..
    wah ini red bullet emang nggak main main ya, bertindak nggak pake basa basi, sekali dipancing nggak kena ya langsung ke tujuan
    nah loh namjoon udah tahu kalo seokjij itu kakaknya, hanya dengab lihat fotonya?
    next part soon

  3. waaaaa kim seokjin dan kim namjoon akan segera bertemu uyee~~~
    penasaran bakal kayak apa kakak-adek yang kepisah bertemu as polisi penjahat cepet lanjutnya thorr!!!
    jungkook ih macho deh teriak2 gitu(?)

  4. uyeahhhhh namjun tau kakanyaa

    huaa bebijungkuk kesian:” kamu disakiti lagi hiks disitu kadang saya merasa sedih :’v

    aigoo setelah bertahun tahunn akhirnya kim adekakak akan bertemu lagi’-‘

    makin daebakk;)
    keep writing and fighting^^9

  5. Duh maaf thor aku commentnya telat ya, padahal waktu itu udah ijin/? mau baca, udah baca si tapi belum selesai.-. karena faktor kesibukan/? pelajar /apasi. duh maaf jadi curhat(?) ._.
    Ini keren banget! aaa jungkook kenapa si gak bilang aja ke Seokjin kalo dia tau, kan jadinya begini.-. kok aku curiga Jinwoo itu anggota TRB ya? abis dia bersikukuh mau jagain j-hope.
    Duh kok kasian sama Namjoon ya.-. dia jahat kan? aku penasaran /.\ karena udah ada kelanjutannya, bahkan sampe ending._. aku mau baca sekarang thor~

    • Gapapa, kok. Santai aja ya ^^ Ya, Jungkook kan udh mau ngasi tau tuh, tp keburu Seokjin pergi. Hmm… Jinwoo bukan ya? Heheh… iya.

      Makasih udh RC^^

      Terkirim dari Samsung Mobile

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s