Worried that Mathced with Science

B9Z1nHHCAAEbpen

Spesial untuk ulang tahun J-Hope

Selamat hari bertambahnya angka umur, Jung Hoseok Oppa!

image by Love Moment (thanks a lot)

                Sendu mengguyur diriku hingga meremas tulang-tulangnya ke dalam keadaan yang serumit-rumitnya. Membasahi lorong-lorong hatiku dengan guyuran kekecewaan yang memabukkan. Aku masih disini sedangkan kau berkelana, berpetualang jauh melanglang buana. Kau umbar janji dan madumu di depanku, dulu saat kau benar-benar mencintaiku. Sungguh emas dan memabukkan. Kau sumpal hatiku dengan guyonan yang kali ini kusesali adanya. Kau pembual. Pembohong. Dan penghancur paling ulung.

Pada buku yang aku baca, dimana manusia digolongkan menjadi dua, yaitu golongan Pencampak dan Tercampak. Yang bahkan sempat kucampakkan faktanya. Kini aku berpusar pada kedua golongan itu. Dimana sedihnya aku menjadi golongan tercampak yang memalukan. Aku terus saja melolong sedih saat kau hilang bahkan tak peduli padaku. Ku kira, saat kau merayuku untuk menjadi pelindungmu kau adalah golongan manusia diluar apa yang penulis itu katakana. Nyatanya tidak, kau bahkan menempati peringkat satu untuk kategori Pencampak paling ulung. Kau mengatakan jika hanya aku yang ada dalam hatimu, kau selalu bilang hanya dirikulah yang paling baik memberimu apapun, kau mengatakan yang lebih-lebih. Malah nyatanya kau berpaling, aku sadar jika yang ada dalam dirimu hanya pembuluh darah. Vena dan arteri yang memompa darahmu ke seluruh tubuh. Kau bahkan lupa akan itu, bodoh.

Emosi dalam diriku meletup, hingga batu dan kotak surat yang ada didepanku berakhir dengan tergelatak searah dengan sumbu x. Aku terus berjalan sambil mengumpat. Merapalkan serentetan nama hewan yang bisa dibilang cukup memalukan bahkan untuk ditulis. Sebuah café tertangkap oleh retinaku membentuk bayangan gedung dengan beberapa kursi kayu didepannya. Beberapa muda-mudi tengah asyik dengan urusannya sendiri. Mengalihkan fakta bahwa mereka berada disitu dengan seorang teman, atau mungkin pacar. Payahnya, aku datang sendiri padahal umurku lebih banyak makan garam ketimbang mereka.

Aku duduk disebuah kursi kayu yang diteduhi dengan payung berwarna hijau. Ku luruskan kakiku dan kusandarkan pada kursi yang lain. Orang-orang tak menyalahiku karena tak sopan, karena mereka tak memiliki waktu untuk peduli dan mereka lebih muda dariku. Dua earphone bertengger manis di kedua telingaku dan melantunkan lagu instrumental yang mirip dengan nyanyian kucing. Seorang pelayan perempuan menghampiriku. Yang bisa kupastikan dia lebih cantik daripada orang yang telah mencampakkanku. Atau mungkin hanya perasaanku saja. Dia menawarkan sebuah buku kecil padaku yang langsung ku tebak adalah daftar menu. Tetapi telapak tangan kananku membentuk gerakan torsi manis, tepat di depan matanya. Pupil gadis itu membesar seketika, mungkin terkejut. Ia tersenyum lalu kembali ke tempat asalnya. Bayangannya menjauh dari bola mataku dan aku mulai memejamkan mata.

Erangan kucing di telingaku semakin terdengar mantap. Suara piano dan biola yag dipadukan dengan brass yang memukau, aku bahkan tak menyangka grup orkes seperti itu bisa memainkan lagu se-keren ini. Tak terasa kepalaku terayun ke atas dan kebawah sesuai dengan irama pantulan bola.

Lalu mataku terbuka.

Wah, urat jala dalam mataku terasa sedikit kendur hingga membentuk bayangan seseorang beberapa kali. Aku memejamkan mata lalu membukanya lagi. Bayangan seseorang itu terlihat lagi. Bahkan dengan jarak yang lebih dekat. Aku memejamkan mata lagi. Kemudian membukanya lagi.

Sial!

            Wanita itu datang lagi. “Hoseok Oppa!”

Teriakan kucing dalam telingaku semakin menjadi yang malah membuat telingaku geli. Wanita dibelakangku terus meraung dengan kerasnya. Dan yah, aku mengacuhkannya dengan alasanku sendiri. “Hoseok Oppa?”

Wanita itu menyentuh pundakku. Aku tak tahu mengapa kecepatan rata-rataku berkurang bahkan disaat suasana seperti ini. Aku berbalik, memutar tubuhku 90 derajat. Bayangan wajahnya tersirat sangat sempurna. Aku mulai ingat wajah itu, mata, hidung dan bibir itu. Aku ingin berlari.

“Mungkin sangat tidak masuk akal jika aku meminta maaf sekarang ini.” Ujarnya yang sampai ke dalam gendang telingaku. Aku menunduk, menatap kedua sepatuku yang berwarna merah. Membuat nafsu makanku hilang. “Seharusnya begitu.” Aku membalas seadanya.

“Tetapi….”

Ia hendak berbicara tetapi aku buru-buru menampiknya. “Maaf, aku buru-buru saat ini.” Aku berkata dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya. Lalu berbalik dan mencoba berlari. Tetapi wanita itu menggenggam tanganku. Aku bisa merasakan cat kukunya menempel di telapak tanganku. Aku mencoba mengusir perasaan bahwa aku masih berharap dengan ini. Berharap bahwa ia masih mau menerimaku dan memelukku. Tetapi kelakuannya telah membuaatku muak dan menghentikan proses hormon dalam tubuhku.

“Bisakah kau melepaskan tanganku. Kurasa kita bahkan tak punya waktu untuk berbicara.” Aku mencoba menjelaskan dan wanita itu tampak merasa biasa. Sepertinya telah siap dengan tameng penolakan yang telah ku ajukan padanya. Ia menunduk. Mungkin aku salah, gadis yang ada di depanku setidaknya lebih cantik dari pelayan itu. Meskipun hanya limitnya. Aku tidak benar-benar yakin, sih.

“Kau sangat marah padaku dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Setidaknya aku tidak ingin ada catatan buruk tentangku dihatimu. Atau mungkin harimu. Cukup aku yang merasa bersalah.”

“Sesuai dengan kodrat Tuhan yang telah ia gariskan. Setiap sesuatu yang diciptakan selalu berpasang-pasangan. Kau bisa jadi yang merasa bersalah, tetapi aku tetap menjadi korban dari pelaku yang merasa bersalah. Cukup pergi dan menjauh dariku. Maka lambat laun sel otakku akan menghapus memorimu hingga bentuk matamu pun tak mempunyai ruang dalam chip otakku. Cukup aku yang merasa bersalah seperti ini. Lalu kita impas. Urusan kita selesai.”

Wanita itu hendak membalas argumenku yang demi apa lebih teoritis dari yang ku kira. Ia membuka mulutnya lalu menutupnya lagi. Mungkin karena aku mulai menjauh darinya. Percuma saja ia berbicara padaku yang telah menjauh. Setidaknya gas memiliki batas maksimum untu merambat.

Hatiku serasa tumbuh kembali. Lubang-lubang disekitarnya yang sepertinya 10 menit lalu masih mengosongkan diriku perlahan mulai rapat kembali. Aku bisa bernapas lega dan alveoulusku mulai normal kembali.

Sesuai dengan prinsip stasioner dimana setiap f’(x) akan mencapai 0 pada titik maksimumnya. Begitulah aku. Saat awal aku mengenal wanita itu, f(x) dalam diriku masih menunjukkan fungsi nai karena gairah diriku padanya masih condong ke kanan. Namun, setinggi-tingginya bola pasti ia berhenti juga, tepat dititik maksmumnya. Aku pun begitu. Ia telah mencampakkanku keaah titik nol, sehingga kadar yang disebutnya cinta itu sudah benar-benar habis. Lalu sekarang hatiku condong kearah kiri, dimana geliat cinta dalam diriku menunjukkan fungsi turun. Kearah fungsi negatif. Mungkin cukup disini otakku mengisi setiap inci dari dirinya dengan memori dirimu.

End.

 

 

Walaaa! Ini sedikit hadiah dariku buat kak J-Hope yang selalu bikin biasku (baca: Jimin) polah gak karu-karuan. Oke, meski ff itu bukan kado yang baik, atau bisa dibilang jauh banget dari kata idela, tapi aku cuman bisa ngasih ini. Ngucapin hbd belum tentu dia baca, ngirim hadiah ke mahalan, yaudah mendingkan bikin ff terus dishare suapaya fans J-Hope baca. Kan nyenengin orang juga pahala.

Biasanya kan hari ultah gini dihiasi dengan cerita bertema uur, ulang tahun atau pesta. Yah, salahkan otak ini karena tidak berfikir demikian. Malah ngurusin rumus atau istilah yang kadang udah dilupain satu jam setelah dilafalkan. Bodohnya aku. Bodohnya aku. Buat yang gak ngerti sama maksud ff ini, meding skip aja. Seriusan. Bukan maksud hati ingin mneyuguhkan ff yang jelek, jujur aku buat ini mikir juga lo kayak buat pr, tapi karena ini gak jelas. Yah sekedar curahan hati seorang siswa.

Dan, selamat membaca dan DIRGAHAYU J-HOPE OPPA 21 Tahun / 22 Korea

One thought on “Worried that Mathced with Science

  1. ceritanya sebenernya bagus, sayang banget banyak typo terutama di bagian akhir jd kurang nyaman bacanya..
    biasain aja di beta reader dulu sblm dikirim / posting *saran aja loh ya toh aku juga gbs bikin yg begini* semangat terus author🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s