(THE RED BULLET) BROTHER [Chap. 3]

TRB-BROTHER-NEW

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-15||Length: Chaptered||Genre: Action-Crime, Family||Main Characters: (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) Rapmon/Namjoon & (BTS) Jungkook ||Additional Characters: (Got7) Mark, (BTS) Suga/Yoongi, (Winner) Mino, (Winner) Jinwoo, (Got7) Bambam, (Winner) Taehyun, (BlockB) Kyung & (B.A.P) Daehyun||Disclaimer: I own nothing but storyline||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

“Seseorang yang disebut saudara bukan hanya dia yang lahir dari orangtua yang sama denganmu, tetapi orang yang selalu berada di sisimu, melindungimu dan berkorban untukmu, tidak peduli kau punya hubungan darah dengannya atau tidak.”

Prolog | 1 | 2 >> 3

HAPPY READING \(^O^)/

Rapmon baru saja keluar dari ruangan dimana ia menyekap Jungkook. Melihat Taehyun dan teman-teman yang tinggal serumah dengannya, masih asik bermain bilyard di ruang tengah.

“Bagaimana? Kau sudah tahu dimana anak itu menyimpan file video pembunuhan yang dilakukan Zico Hyung?” tanya Taehyun, sekilas melihat ke arah Rapmon yang duduk di sofa, lantas mengambil posisi untuk menyodok bola putih di atas meja bilyard.

Terdengar suara bola bilyard saling berbenturan sebelum Rapmon menjawab, “Tidak,” lalu disusul teriakan, “Yes!” dari Taehyun. Bola berwarna merah masuk ke dalam hole.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan pada anak itu?” Taehyun bertanya lagi, kali ini sambil menggosok-gosok ujung stick-nya.

“Entahlah.” Rapmon menjawab tanpa minat menjelaskan. Sedetik kemudian, ia beranjak dari duduknya sambil berkata, “Aku mau keluar sebentar. Malam ini salah satu dari kalian harus menjaga anak itu. Aku tidak mau dia kabur.”

Rapmon melajukan mobil hitamnya dari sebuah rumah mewah menuju taman di tepi Sungai Han. Sebentar lagi pukul 11 malam ketika Rapmon melirik jam tangannya saat ia menepikan mobilnya, lantas keluar dari mobil.

Lelaki itu duduk di bangku taman, menyalakan sebatang rokok, mengisapnya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap dari mulutnya. Matanya memandang ke depan, Sungai Han tampak hitam mengerikan, meski di bagian lain terlihat indah karena air mancur dan pantulan cahaya lampu-lampu hias di jembatan.

Pandangannya menerawang. Telinganya masih bisa mendengar dengan jelas nama yang diucapkan Jungkook saat ia menanyakan nama lelaki di wallpaper ponsel anak itu. Jeon Seokjin. Ya. Jeon Seokjin.

Rapmon masih tidak percaya bahwa… setelah 20 tahun, ia bisa melihat seperti apa kakaknya sekarang. Tampak bahagia dengan orang tua baru dan… adik barunya. Berbeda sekali dengan dirinya. Tetap tidak memiliki orang tua, sama seperti 20 tahun lalu, namun paling tidak… ia memiliki kakak, memiliki saudara baru.

Dua puluh tahun berlalu begitu lama bagi Rapmon. Terlebih di awal ia dipisahkan dengan kakak kandungnya sendiri. Tidur sendiri di dalam kamar, menangis sambil melihat tempat tidur kakanya yang kosong di malam hari. Masih beruntung, setiap akhir minggu, Seokjin dan orangtua barunya datang ke panti untuk melihatnya.

Tapi, semua itu terjadi… selama 6 bulan saja.

Bulan-bulan dan tahun-tahun berikutnya, Seokjin dan orangtua angkatnya tidak pernah lagi datang melihatnya. Rapmon—yang saat itu masih bernama Namjoon—mendengar dari Moon Eomonim, Seokjin dan keluarganya telah pindah ke Busan. Ya. Pindah ke Busan. Benar-benar meninggalkan Namjoon.

Dan 5 tahun setelah itu, panti asuhan terbakar dan Moon Eomonim meninggal. Anak-anak panti terlantar, termasuk Namjoon. Rasanya sangat-sangat menyedihkan bagi seorang anak yang saat itu baru berusia 8 tahun.

Seokjin tidak tahu semua itu. Tidak tahu bagaimana penderitaan Namjoon kecil. Beruntung, kehidupan menyedihkan itu hanya berlangsung tidak begitu lama hingga… akhirnya Namjoon bertemu dengan Suga, anak kecil yang saat itu berusia 10 tahun. Seperti sesendok gula pasir yang ditambahkan dalam minuman pahit kehidupan Namjoon, Suga menjadikan Namjoon adiknya—adik angkatnya. Seperti itu sampai detik ini.

“Ck!” Rapmon mendecakkan lidah, membuang puntung rokoknya yang tersisa setengah ke atas tanah, kemudian menginjaknya. Menyesali sikap bodohnya barusan, mengingat masa lalu yang sudah lama ditinggalkannya.

Lelaki itu lalu mengeluarkan ponsel milik Jungkook dari sakunya. Melihat-lihat isi dari ponsel itu, termasuk isi kotak masuk dan… galeri fotonya. Semua foto didominasi foto Jungkook tentu saja. Namun, di antara sekian foto bocah itu, Rapmon terdiam memandangi sebuah foto cukup lama. Ada foto Jungkook di sana, memakai jas hitam, terlihat rapi. Tapi bukan itu yang menjadi magnet bagi mata Rapmon. Lelaki di sebelah Jungkook di foto itu, Seokjin yang terlihat gagah dengan seragam Akademi Kepolisian. Foto yang diambil di hari kelulusan Seokjin dari Akademi Kepolisian.

“Jadi, sekarang kau seorang polisi, hah?” Rapmon berbicara pada foto yang terpampang di layar. Sebuah senyum getir menghiasi wajah lelaki itu. “Aku ingin tahu seperti apa reaksimu ditelepon oleh seseorang yang telah kau lupakan sejak 20 tahun yang lalu,” dan senyuman getir itu berubah menjadi seringaian.

Rapmon mencari nomor ponsel Seokjin list contact ponsel Jungkook, lalu menghubungi nomor itu dengan ponselnya sendiri. Lelaki itu mendengar nada sambung beberapa saat hingga…

“Haloo~?”

… suara Seokjin terdengar.

Seperti ini suaramu setelah 20 tahun, hah?

“Haloo~?”

Rapmon menyeringai. Sengaja tidak menjawab.

Tiba-tiba saja sambungan telepon itu terputus. Seokjin memutuskannya sepihak. Rapmon mendengus tertawa. Dari nada suaranya, Seokjin terdengar sedang mencemaskan sesuatu. Ah, tentu. Dia pasti mencemaskan Jungkook.

Beberapa menit, Rapmon sengaja membuat jeda, lantas… ia kembali menghubungi Seokjin.

“Ya, halo?” Sebuah seringaian kembali menghiasi wajah Rapmon mendengar nada bicara Seokjin yang terkesan jengkel.

Namun, ia tetap sengaja tidak bersuara.

“Siapa pun kau, jangan menghubungiku saat ini kecuali kau tahu dimana adikku, Jungkook!”

Sebegitu cemasnya kau kehilangan adikmu yang baru, hah?

“Baiklah, kalau kau tidak mau bicara. Aku akan memutuskan—”

“Aku tahu dimana adikmu!” Rapmon akhirnya memperdengarkan suaranya pada Seokjin ketika lelaki yang dihubunginya itu hendak memutuskan panggilannya secara sepihak lagi.

“Benarkah? Dimana dia? Dimana adikku?”

Rapmon mendecih. “Kau terdengar sangat mencemaskannya.”

“Bicara apa kau? Tentu saja aku sangat mencemaskan adikku. Katakan dimana dia. Aku akan memberimu imbalan.”

Imbalan?

Rapmon tertawa. Yang benar saja? Berapa yang bisa ia dapatkan dari Seokjin jika ia mengembalikan bocah sialan bernama Jeon Jungkook itu padanya, hah? Rasa-rasanya harga 5 ton ganja atau harga sebuah jantung manusia yang masih bagus jauh lebih mahal dibanding imbalan yang akan diberikan Seokjin.

“Hei! Apa yang lucu, hah? Kau benar-benar bersama Jungkook atau tidak?”

Mendengar Seokjin memakinya, Rapmon memutuskan panggilan secara sepihak. Biar saja lelaki itu kesal. Hitung-hitung sebagai balasan karena Seokjin melakukan hal yang sama sebelummya.

Rapmon memutuskan untuk menghubungi Seokjin sekali lagi, kali ini menggunakan ponsel Jungkook. Well, Seokjin butuh bukti kalau… Jungkook sedang bersama Rapmon, bukan!? Nada sambung terdengar cukup lama. Seokjin sepertinya tidak berminat lagi untuk…

“Hei! Sudah kukatakan, jangan hubungi aku kecuali kau tahu dimana adikku!”

“Dan, aku juga sudah mengatakan, aku tahu dimana adikmu!” Rapmon membalas bentakan Seokjin dengan bentakan juga.

Sesaat, Rapmon mendengar Seokjin mendengus. “Aku sedang tidak punya waktu untuk main-main, Tuan. Kalau Jungkook memang bersamamu, biarkan aku bicara dengannya! Aku ingin mendengar suaranya!”

Malam ini, seringaian itu tampak setia menghiasi wajah Rapmon. “Wah… wah… wah. Apa saat menjawab telepon ini kau tidak melihat ID contact-nya, hah?”

Ada jeda yang tercipta beberapa saat sebelum Rapmon kembali mendengar Seokjin yang berkata, “Kau… kau menelepon memakai ponsel Jungkook?!”

“Ya.”

“Lalu, dimana Jungkook sekarang? Apa dia baik-baik saja. Tolong, biarkan aku bicara dengannya!”

Rapmon memutar kedua bola matanya jengah. Hah, apa-apaan? Sejak tadi dia hanya mencari si bocah sial itu. “Sejak tadi kau hanya mencari Jungkook, Jungkook dan Jungkook. Tidakkah kau penasaran denganku, hm?” tanya Rapmon, memancing Seokjin pada percakapan yang jauh lebih menarik dibanding dengan membahas bocah yang saat ini terkurung di salah satu kamar di rumahnya.

“Apa? Memangnya kau siapa?”

Seringaian itu benar-benar setia menghiasi wajah Rapmon. Untuk keberapa kalinya seringai itu muncul dalam beberapa saat terakhir. “Ah, kenapa kau baru menanyakannya, hah? Aku sudah kehilangan mood untuk memperkenalkan diriku…, Jeon Seokjin.”

Rapmon sengaja menyebut nama lelaki itu. Ayo, Kim Seokjin. Kau pasti terkejut aku tahu namamu, kan? Nama barumu, tepatnya.

“Hei! Bagaimana kau…”

“Atau… kupanggil saja kau dengan nama… Kim Seokjin.” Rapmon melanjutkan sebelum Seokjin menyelesaikan ucapannya. Apa… sekarang kau sudah tahu dengan siapa kau bicara, Kim Seokjin?

“Apa ini kau…, Kim Namjoon?” Telinga Rapmon dengan jelas mendengar Seokjin menyebutkan namanya, nama lamanya.

“Ah, rupanya kau masih mengingat nama itu, hah? Kupikir setelah 20 tahun ini, kau sudah lupa dengan nama itu. Sayang sekali… Kim Namjoon sudah mati,” ketus Rapmon pada kalimat terakhir.

Namun ia mendengar Seokjin membantah ucapannya. “Tidak! Kau pasti Namjoon. Aku benar, kan? Kau Kim Namjoon, kan? Kim Namjoon, adikku.”

Rapmon tertawa lagi. “Kau bilang apa, Jeon Seokjin? Adik? Rupanya kau masih menganggap Kim Namjoon itu adikmu setelah 20 tahun kau meninggalkan dia sendirian di Ilsan. Kau pasti sudah gila, hah!? 20 tahun, Seokjin-ah! 20 tahun dan kau masih mengakui Kim Namjoon itu adikmu? Aku tidak percaya ini!”

“Aku…”

Baru satu kata yang diucapkan Seokjin yang sepertinya hendak membela diri, Rapmon memotongnya dengan berkata, “Dengarkan aku baik-baik, Jeon Seokjin. Kim Namjoon yang kau kenal sudah mati! Sudah lama mati! Aku tidak menggunakan nama itu lagi, sama seperti kau yang tidak menggunakan nama ‘Kim Seokjin’ sebagai identitasmu sekarang.”

“Namjoon-ah, aku…”

“Rapmon!” Lagi-lagi Rapmon memotong. “Itu namaku sekarang! Ah, dan tentang adikmu, Jeon Jungkook, dia menjadi tahananku sampai aku menemukan sesuatu yang ada padanya.”

Seokjin baru ingin membuka mulut, ketika Rapmon berbicara lagi, “Aku tahu kau seorang polisi sekarang. Tapi, kalau kau menginginkan Jungkook kembali dalam keadaan utuh, jangan libatkan polisi lain. Tadinya…, kupikir urusan ini hanya urusan antara aku dan adikmu yang kurang ajar itu, tapi ternyata… akan lebih menarik jika kau juga terlibat, Tuan Jeon Seokjin.”

Dan, dia pun memutuskan panggilannya.

@@@@@

Keesokan paginya, sebuah mobil terparkir di tepi jalan di depan Paran High School. Seokjin keluar dari mobil itu dengan setelan jas putih yang lengannya digulung menyisakan ¾ bagian dan celana kain berwarna navy. Ia melangkah menuju gerbang, mengatakan tujuannya datang ke sekolah ini.

Ya, apalagi tujuannya selain menyelidiki kasus penculikan Jungkook. Kasus yang terpaksa harus ia tangani sendiri, mengingat ancaman Rapmon semalam. Di antar oleh salah seorang satpam, Seokjin menyusuri ruang-ruang kelas menuju ruang kepala sekolah. Bagus ia tidak memakai seragam polisinya sehingga tidak terlalu menarik perhatian siswa-siswi yang sedang belajar di dalam.

“Selamat pagi, Kepala Sekolah Byun.” Seokjin memberi salam begitu ia diijinkan masuk ke ruangan kepala sekolah.

Kepala sekolah Byun, seorang wanita berusia sekitar 50 tahun yang mengenakan kacamata bundar ber-frame cokelat, berdiri dari duduknya dan membalas salam Seokjin, “Selamat pagi. Silakan duduk.”

Seokjin baru saja duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan Kepala Sekolah Byun, hanya diantarai sebuah meja kerja, ketika wanita 50 tahunan itu bertanya, “Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan…” Mimik wajah wanita itu nampak seperti menanyakan nama tamunya.

“Jeon Seokjin, Kepala Sekolah,” sahut Seokjin cepat sambil menunjukkan lencana kepolisian yang baru saja ia keluarkan dari saku kemejanya.

Wanita itu sedikit terkejut dengan kedatangan seorang polisi ke kantornya. “Apa ada yang bisa saya bantu, Opsir Jeon?” tanya beliau lagi.

Seokjin pun menjelaskan maksud kedatangannya ke sini. Mengatakan dirinya adalah saudara dari Jeon Jungkook, tetapi sekarang… adiknya itu diculik. Seokjin datang ke sekolah ini untuk melihat rekaman CCTV sekolah, berharap ada petunjuk yang bisa membantunya menemukan keberadaan Jungkook sekarang.

“Baiklah, Opsir Jeon. Mari saya antar ke ruang pengawas sekolah,” kata Kepala Sekolah Byun setelah Seokjin menjelaskan maksudnya.

Mengikuti kepala sekolah, Seokjin masuk ke dalam sebuah ruangan yang hanya berjarak beberapa meter dari ruang kepala sekolah. Di dalam ruangan itu, ada banyak monitor yang menampilkan gambar-gambar yang direkam oleh CCTV yang dipasang di hampir setiap sudut sekolah, kecuali toilet. Juga, ada seorang lelaki yang usianya sekitar 40 tahunan, duduk di sebuah kursi yang menghadap ke arah monitor-monitor itu.

“Pak Min, tolong perlihatkan rekaman CCTV kemarin kepada Opsir Jeon. Ada sesuatu yang ingin beliau selidiki.”

Patuh, lelaki itu mengambil beberapa kaset dari sebuah lemari, kemudian menyerahkan benda-benda itu pada Seokjin. “Ini rekaman CCTV kemarin, Opsir. Anda bisa melihatnya di monitor yang ini.”

Kepala sekolah Byun pun meninggalkan Seokjin bersama petugas yang mengawasi monitor. Sang petugas tetap menjalankan pekerjaannya, sementara Seokjin mulai sibuk menonton rekaman CCTV kemarin.

Jari telunjuk Seokjin terlihat sibuk mempercepat video yang terputar. Hanya fokus ketika ia melihat Jungkook terekam di beberapa tempat; di ruang kelas, di laboratorium, kantin dan perpustakaan. Tapi, sama sekali tidak ada yang mencurigakan. Semuanya terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada yang bisa dijadikan petunjuk.

Seokjin masih menyempatkan diri melihat CCTV yang dipasang di depan gerbang, melihat Jungkook keluar dari sekolah bersama Bambam yang membawakan ranselnya, sebelum ia menyudahi kegiatannya menonton rekaman CCTV. Aish! Apa yang harus dia lakukan sekarang?

“Bagaimana, Opsir? Apakah Anda menemukan sesuatu?” Seokjin menggeleng lemah sembari menyodorkan kaset-kaset itu pada petugas.

“Terima kasih atas bantuan Anda. Maaf merepotkan. Saya permisi dulu.”

Polisi muda itu lantas berpamitan kepada Kepala Sekolah Byun, mengatakan bahwa ia tidak menemukan apapun yang bisa dijadikan petunjuk. Seokjin lalu masuk ke dalam mobilnya, melajukan mobil itu ke arah apartemen. Hari ini, dia memang sudah meminta ijin untuk tidak bertugas—ya, meski dia harus berususah payah mencari alasan. Dia tidak akan mungkin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

@@@@@

Jungkook masih di sana, duduk terikat di dalam sebuah kamar sendirian. Tubuhnya terlihat lemas, kelopak matanya sayu dan tenggorokannya sungguh terasa kering. Sejak diculik, ia belum makan atau minum apa-apa. Buku-buku dan tas yang semalam berada di atas tempat tidur, kini tercecer di atas lantai berkat salah satu anak buah dari Rapmon tidur di sana untuk menjaganya agar tidak kabur.

Di luar ruangan, sama seperti semalam, masih terdengar suara beberapa orang laki-laki di luar. Tertawa terbahak, entah menertawakan apa. Sesekali diselingi suara bola yang disodok, sepertinya permainan bilyard semalam masih berlanjut.

Jam di dinding menunjuk pukul 10 pagi ketika seseorang masuk ke dalam kamar itu. Rapmon. Pandangan mendelik langsung dilayangkan Jungkook, sementara Rapmon hanya mendecih. Ia lantas duduk di bangku yang berada di hadapan Jungkook, menumpuk kaki kiri di atas kaki kanannya.

“Bagaimana kabarmu hari ini, hah?” Rapmon bertanya dengan nada yang terdengar meledek.

“Seperti yang kau lihat. Apa perlu aku menjelaskannya, hah?” ketus Jungkook.

Rapmon mendencih. “Ya. Ya. Kulihat kau sangat tidak baik, Jeon Jungkook,” sahut Rapmon. “Well, pagi ini aku ingin membicarakan lagi tentang hal yang kemarin. Dimana… kau menyimpan file video pembunuhan yang dilakukan Zico Hyung?”

“Jawabanku masih sama,” Jungkook mengalihkan wajahnya dari Rapmon, “aku tidak mau memberitahumu dimana aku menyimpan benda itu.”

“Begitu?” Rapmon bergumam. “Kau… tidak mau berubah pikiran, hah?”

Sekilas, Jungkook mengalihkan wajahnya ke arah Rapmon, lalu dengan nada yang sangat tegas dan mantap berkata, “Tidak!”

Sebuah seringaian tersemat di wajah Rapmon seiring dengan tangan kanannya mengeluarkan sesuatu dari balik saku jas dari bahan jeans yang dikenakannya hari ini. Kedua mata Jungkook agak membelalak dan wajahnya tegang kala melihat sebuah belati yang terlihat mengkilap berada di dalam genggaman laki-laki di hadapannya.

“Baiklah… mungkin… kau akan mengatakannya jika… temanku yang berbicara padamu~” katanya sembari menggerak-gerakkan pisau lipat itu di depan wajahnya. Rapmon bisa mendengar gumaman Jungkook yang mengatainya brengsek. Sejurus kemudian, Rapmon mendekati Jungkook, mengelus wajah Jungkook dengan belatinya yang mengkilap sambil berkata, “Apa yang harus aku lukai di wajahmu agar kau mau bicara. Kau punya usul, hah?”

Jungkook menggeram dengan kedua matanya yang menatap Rapmon lebih tajam dari belati yang kapan saja siap melukai wajahnya. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Seandainya tangannya tidak terikat, dia pasti sudah menghajar lelaki bersuara deep-husky yang nampak menikmati kegiatannya, mengancam Jungkook.

“Ah, bagaimana kalau… mata, hah? Matamu sudah terlalu banyak melihat hal yang seharusnya tidak boleh kau lihat.”

Jungkook menelan ludah, ketakutan. Namun, ia tetap berusaha agar kontur wajahnya tidak menunjukkan seperti apa yang dirasakannya saat ini.

“Lihat! Kau pasti ketakutan sekarang. Jadi, kau tidak mau berubah pikiran, hah? Kau tetap tidak mau memberitahukan dimana kau menyimpan file video itu?” Rapmon mengulas senyum kemengangan di wajahnya. Well, mungkin… ini akan berhasil.

“Katakan secepatnya, Jeon Jungkook. Katakan dimana kau menyimpan file video itu atau… kubiarkan temanku ini,” sahutnya sambil memainkan pisau lipatnya membentuk lingkaran di sekitar mata kiri Jungkook, “mencungkil matamu?” lanjutnya. “Kuberikan kau waktu 30 detik untuk memikirkannya.”

“30… 29… 28… 27…” Jungkook menundukkan kepalanya seiring dengan Rapmon yang memandangnya sembari menghitung mundur waktu yang diberikannya. Memikirkan, apa dia harus mengatakannya atau tidak, juga resiko yang akan dihadapinya tentu saja. “19… 18… 17… 16…” Urat-urat di kepala Jungkook terasa semakin berdenyut tiap kali Rapmon menyebutkan angka-angka. Berpikir keras untuk mengambil keputusan yang benar-benar penting… untuk keselamatannya. “8… 7… 6… 5… 4… 3… 2…”

“Aku akan mengatakannya!” Dengan cepat Jungkook bersuara. Senyum kemenangan itu kembali menghiasi wajah Rapmon. Hah, sudah dia duga. “Aku akan memberitahumu dimana aku menaruh file itu.”

Rapmon melipat belatinya dan menyelipkan benda itu kembali ke dalam saku vest-nya. “Dimana… kau menyimpannya?”

“Di memory card yang aku simpan di dalam kamarku.”

Lelaki bersuara deep-husky itu lantas mengeluarkan ponselnya—ponsel dengan nomor barunya—dari saku belakang celana, menghubungi seseorang dan berkata, “Perintahkan beberapa orang untuk menggeledah rumah Jeon Jungkook. Temukan memory card yang berada di kamarnya. Segera!” Lantas, ia menyimpan kembali alat komunikasi itu ke tempatnya semula. Ia kembali memandang Jungkook yang masih terikat di kursinya, menyerigai dengan lebarnya, “Begitu aku menemukan benda itu, kau… sudah tidak berguna lagi. Kau tahu maksudku, kan? Tapi, sebelum waktu itu tiba, kubiarkan kau menghirup oksigen di kamar ini sebagai hadiah dariku atas kebaikanmu itu.”

“BRENGSEK!” maki Jungkook.

Rapmon yang telah berjalan menuju pintu, berhenti sejenak dan tanpa menoleh ke arah Jungkook ia berkata, “Sampai bertemu, Jungkook-ssi. Sampai bertemu di perjumpaan terakhir kita.”

SHIT!

@@@@@

Seokjin masih menyetir mobil menuju rumahnya. Raut cemas seakan tidak mau terlepas dari wajah tampannya. Beberapa kali ia mendecakkan lidah, kesal dengan situasi dimana ia benar-benar tidak bisa menemukan apapun yang dijadikan petunjuk untuk tahu dimana posisi adiknya sekarang.

Mencoba menghubungi Rapmon, tapi… nomor itu tidak aktif. Begitu juga dengan nomor Jungkook. Melacak nomor telepon mereka berdua pun sama saja. Rapmon pintar. Sepertinya, dia sudah tahu Seokjin mungkin akan melakukan pelacakan sehingga ia lebih dulu mengantisipasinya, merusak nomor ponselnya dan juga nomor ponsel Jungkook.

Seokjin benar-benar tidak punya petunjuk sedikit pun. Ia tidak habis pikir, apa yang harus ia lakukan selanjutnya untuk menemukan dimana Jungkook berada dan… mencari tahu apa alasan Rapmon menculik Jungkook.

Apa… apa mungkin karena Rapmon ingin balas dendam?

“CKIITT~!”

Lelaki itu seketika menghentikan laju mobilnya begitu melihat sesuatu di kejauhan. Sebuah mobil sedan hitam terparkir di depan rumahnya. Siapa? Mark? Mino? Jinwoo? Ah! Mustahil! Mobil mereka tidak seperti itu!

Seokjin melajukan mobilnya, sehingga jaraknya dengan jarak mobil sedan hitam di depan menjadi lebih dekat. Bergegas Seokjin merogoh ponselnya, mengirim pesan kepada temannya di bagian satuan kepolisian lalu lintas. Meminta temannya itu untuk mengecek siapa pemilik dari kendaraan dengan nomor polisi yang baru saja ia kirim.

“Rrr… rrr… rrr…”

Sekilas Seokjin mengerling ke arah layar ponselnya. Sejurus kemudian, ia merarapatkan ponsel, menjawab panggilan dari temannya, “Kau sudah tahu?” Tanpa basa-basi, Seokjin bertanya.

“Itu mobil Tuan Do Taesun. Seminggu lalu mobil itu dilaporkan telah dicuri,” kata teman Seokjin.

Mobil curian? Apa mungkin…

“Apa kau melihat mobil itu, Seokjin-ah?” Suara di ujung telepon membuyarkan lamunan Seokjin.

Ia menggeleng—meski tidak dilihat oleh temannya—dan berkata, “Tidak. Sudah dulu. Aku ada urusan penting. Terima kasih atas bantuanmu.”

Dahi Seokjin mengernyit mengamati mobil hitam itu dari tempatnya. Sekitar 10 menit, ia menunggu pergerakan dari mobil sedan hitam itu, namun… nihil. Mobil itu tetap berada di sana, tidak bergerak. Seketika Seokjin melajukan mobilnya, berbelok pada sebuah belokan di depan, menyusuri jalan yang membawanya ke bagian belakang rumah.

Ada sesuatu yang tidak beres terjadi.

Seokjin menepikan mobil tidak jauh dari bagian belakang rumahnya. Bergegas keluar dari mobil, memanjat tembok samping rumah yang setinggi 2 meter. Tidak sulit mengingat postur tubuhnya yang tinggi. Begitu berhasil, Seokjin berjalan perlahan menuju pintu belakang rumah. Berhati-hati membuka pintu yang beruntung sekali ia lupa menguncinya saat berangkat, karena itu dia bisa masuk ke dapur.

“Apa yang kalian lakukan? Cepat cari!”

Jantung Seokjin berdegup kencang mendengar suara seseorang berteriak di dalam rumahnya. Tidak salah lagi, ada orang yang menyusup. Seokjin berjingkat cepat menuju pantry yang terletak di dekat pintu yang menghubungkan dapur dengan ruang tengah, berjongkok di sana, menyembunyikan dirinya sembari melihat kondisi di ruang tengah. Satu hal yang disesalinya saat ini, dia meninggalkan pistolnya di laci di dalam kamarnya.

“Cari di seluruh ruangan di rumah ini! Cepat!”

Tepat di saat itu, seorang lelaki berpakaian hitam, lengkap dengan pistol jenis tokalev berjalan menuju dapur. Seokjin buru-buru melihat sekitar, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai senjata. Melihat pisau yang terpasang di tempat pisau di dekat kompor, Seokjin bergegas menyambar benda itu, lantas bersembunyi di samping lemari piring yang beberapa puluh cm di depan kompor.

Seokjin merapatkan tubuhnya pada sisi lemari yang terbuat dari kaca hitam. Tangan kanannya yang memegang pisau, berada di depan dadanya, dalam posisi bersiap untuk menyerang kalau-kalau lelaki berbaju hitam itu melihatnya. Kedua matanya mengawasi pergerakan lelaki itu melalui kaca lemari.

Tangan kanan Seokjin menggenggam erat pisau begitu melihat lelaki hitam yang juga bersiaga memegang tokalev-nya mulai mendekat ke posisi dimana ia berada. Mengatur napas dan berusaha untuk tetap fokus. Dan, tepat di saat lelaki itu melihat Seokjin, sang polisi, seketika menendang tangan si lelaki, membuat tokalev-nya terlepas dari pegangan. Seokjin menyerang si lelaki, mendorongnya hingga terjatuh ke lantai dan langsung menguasainya dengan duduk di atasnya. Terjadi pergulatan sengit di antara mereka begitu tanpa sengaja pisau Seokjin juga terlepas dari tangannya. Berguling ke sana-kemari dengan posisi tangan yang berada di leher masing-masing lawan, mencekik.

Posisi berubah sehingga lelaki itu yang menguasai Seokjin. Sang polisi itu nyaris tidak bisa bernapas, namun tepat di saat itu ekor matanya menangkap tokalev lelaki yang mencekiknya berada tidak jauh dari tangannya kanannya yang tergeletak di lantai.

“Mati kau! Mati kau!” Lelaki itu mencekik Seokjin penuh napsu, sementara yang dicekik berusaha memanjangkan tangannya untuk menjangkau tokalev di dekatnya. Benar-benar nyaris mati, ketika Seokjin berhasil meraih tokalev itu dan tanpa menunggu lagi, ia langsung menembak kepala lelaki yang mencekiknya. Lelaki itu ambruk di atas tubuh Seokjin.

Bergegas Seokjin berdiri dengan tokalev di tangannya. Seorang berbaju hitam lain datang ke dapur, melepaskan satu tembakan yang meleset. Seokjin balas menembak, setelah sebelumnya ia bersembunyi di balik lemari piring. Tapi, tembakannya meleset juga. Untuk beberapa saat, terjadi baku tembak antara Seokjin dengan lelaki berpakaian hitam yang berlindung di balik dinding yang membatasi dapur, di dekat pintu. Kaca hitam lemari piring pecah tercecer di lantai akibat tembakan.

“Sial!” Seokjin menggerutu pelan menyadari peluru pistolnya sudah habis.

Lelaki itu tidak menembak lagi. Buru-buru Seokjin mengambil kesempatan itu. Merayap di lantai menuju meja pantry di dekat pintu. Segera ia menyandarkan punggungnya pada lemari pantry, menunggu aksi selanjutnya dari lelaki berpakaian hitam yang menyerangnya.

Begitu si lelaki berpakaian hitam melangkah memasuki dapur mencari keberadaan Seokjin, seketika Seokjin melompat dan membuat lelaki itu terkejut hingga tanpa sadar menjatuhkan pistolnya. Seokjin menghantam kepala laki-laki itu dengan pegangan pistol dan menutup serangannya dengan siku tebas di leher. Laki-laki itu ambruk.

Seokjin lantas mengambil pistol lelaki itu—yang masih berisi peluru—dan membuang pistol yang satunya. Bergerak menuju kamar Jungkook dan menemukan ada 2 laki-laki lain di sana. Suara tembakan berkali-kali kembali terdengar sampai salah seorang dari lelaki itu melompat ke arah Seokjin.

“Cari benda itu, P.O. Akan kuurus orang ini,” ujar lelaki itu, Taehyun, yang mencekik leher Seokjin, mengunci pergerakan laki-laki itu di dinding. Sementara, laki-laki yang dipanggilnya dengan nama P.O itu kembali melanjutkan tugasnya mencari sesuatu, tampak terburu-buru.

Seokjin masih berusaha melepaskan cekikan Taehyun yang mulai membuatnya kesulitan bernapas. Wajahnya panas dan terasa aliran darah di sekitar wajahnya tersumbat. Dalam keadaan nyaris mati yang dialaminya sekali lagi, Seokjin langsung menendang bagian ‘tertentu’ dari Taehyun sehingga membuat laki-laki itu melepas cekikannya dan mengerang kesakitan.

Seokjin menendang Taehyun hingga laki-laki itu terjengkang. Dengan langkah tegas mendekati Taehyun, meraih kerah baju lelaki bermata sipit itu dan memukulnya beberapa kali. Terdesak, Taehyun mencoba melawan. Balas melayangkan pukulan-pukulan ke wajah dan tubuh Seokjin.

“BRUKK~!”

Seokjin terjengkang setelah Taehyun menendang tubuhnya, menabrak rak tempat koleksi buku-bukunya. Taehyung lekas menduduki perut Seokjin, menguasai lelaki itu, kemudian mengeluarkan sebilah pisau lipat dari saku jaket kulit hitamnya.

Kedua mata Seokjin terbelalak melihat benda yang berkilat-kilat itu. Sekujur tubuhnya menegang, lengkap dengan degup jantung yang berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya. Taehyun hendak menusukkan pisaunya ke bagian tubuh Seokjin, namun polisi itu menahan tangan Taehyun yang memegang pisau. Untuk beberapa saat, Taehyun berusaha untuk membunuh Seokjin, sementara Seokjin berusaha untuk tidak membiarkan pisau itu menusuk tubuhnya.

“Mati kau sekarang,” geram Taehyun saat sedikit lagi mata pisaunya menusuk leher Seokjin, sementara sang polisi masih berusaha sebisanya untuk menahan pergerakan tangan Taehyun.

“Sedikit lagi…” Taehyun mengerahkan sisa tenaganya untuk membunuh Seokjin, namun…

“DOR! DOR!”

Seokjin terkejut ketika mendengar suara tembakan yang disusul tubuh Taehyun yang tiba-tiba jatuh menimpanya. Bergegas Seokjin menyingkirkan tubuh Taehyun dari atas tubuhnya, kemudian mengambil posisi duduk dan mendapati seorang polisi berdiri tidak jauh di depannya.

“Sepertinya aku datang di waktu yang tepat, Kim Seokjin,” sahut polisi itu.

“Daehyun-ah?” gumam Seokjin. “Hah, untung ada kau. Aku hampir saja mati.”

Jung Daehyun adalah teman seangkatan Seokjin di Akademi Kepolisian. Lulus dari sana dan diterima di Kepolisian Seoul, namun di tugaskan di kantor polisi wilayah Cheongdam-dong.

“Beberapa tetanggamu menelepon ke kantor karena mereka mendengar suara tembakan yang berasal dari rumahmu. Karena itu aku segera ke sini dan ternyata benar,” jelas Daehyun, mengukurkan tangannya untuk membantu Seokjin berdiri. “Mereka siapa, hah?” tanya Daehyun kemudian.

“Entahlah…” gumam Seokjin, bergerak memeriksa mayat Taehyun yang mengeluarkan darah segar setelah 2 butir peluru bersarang di tubuhnya. Dan di saat itu, matanya menangkap gambar tattoo yang tidak asing. Tatto berbentuk peluru berwarna merah dengan tulisan The Red Bullet di bawahnya.

Astaga!

“Kau tidak apa-apa, Seokjin-ah?” tanya Daehyun, terlihat cemas dengan reaksi Seokjin yang tampak berbeda setelah memeriksa mayat.

Seokjin mengalihkan pandangannya dari mayat Taehyun ke arah Daehyun, kemudian menggeleng cepat. “Ti-tidak. Tidak apa-apa, Daehyun-ah,” sahutnya. “O-oh, ya, terima kasih sudah menolongku.”

“Ya. Sama-sama.”

“Oh, ya, Daehyun-ah,” sahut Seokjin lagi.

“Ya?”

“Bisa kau rahasiakan ini, hm?”

Alis Daehyun bertaut. “Maksudmu?”

“Tolong rahasiakan kejadian ini. Tolong jangan ceritakan kepada siapa pun bahwa ada seseorang yang datang mengacau di rumahku. Bisa, kan?”

Daehyun mengangguk.

“Terima kasih.”

Seokjin kembali memandang mayat Taehyun.

Astaga. Mustahil!

Apakah orang yang menculik Jungkook adalah anggota The Red Bullet?

Tapi, apa kaitannya Jungkook dengan organisasi itu?

@@@@@

Suara ribut di luar tidak terdengar sejak 30 menit setelah Rapmon keluar dari ruangan. Suasananya tidak pernah sesepi ini. Apa mungkin… mereka telah pergi ke rumah Jungkook untuk mengambil laptop itu?

Semoga Seokjin Hyung ada di rumah.

“Haaah, sialan!”

Pintu ruangan terbuka dan seseorang berkaos merah berjalan ke arah tempat tidur sambil memakan sebuah apel. Bukan, dia bukan Rapmon. Bukan juga orang yang menjaganya semalam. Kali ini orang lain. Duduk di tepi tempat tidur, masih memakan apel sembari memandangi Jungkook yang mengalihkan wajah darinya.

“Hei, kau!” Dia berteriak.

Jungkook tidak menggubris.

“Apa kau tuli, hah?”

Jungkook masih tidak menggubris.

“Aish! Kau ini!” Lelaki itu menggerutu. “Kau tahu? Sekarang, beberapa dari teman-temanku sedang pergi ke rumahmu untuk mengambil file video pembunuhan itu dan yang lainnya malah pergi bersenang-senang. Sementara aku di sini bertugas untuk menemanimu. Jangan membuatku bosan dengan mengacuhkanku seperti itu, Bocah~!”

Jungkook menoleh, namun matanya memandang jengah lelaki yang berbicara padanya.

Lelaki itu berbaring, lalu menggigit apelnya yang tersisa setengah. Suara gigitan apelnya terdengar jelas di tengah kesunyian di rumah ini. “Kau…, kau kenapa merekam aksi pembunuhan massal yang dilakukan Zico Hyung, hah? Kau penasaran atau… ingin memamerkan itu pada teman-temanmu di sekolah? Kudengar…, kau pernah mendapat penghargaan sebagai sutradara terbaik~” cerocos lelaki itu panjang lebar. Semakin membuat Jungkook jengah memandangnya. Sadar dipandangi seperti itu, lelaki tersebut berkata, “Hei! Jangan memandangku seperti itu. Anggap saja aku ini temanmu. Yaa… meskipun sekarang kau adalah tawanan. Tapi, karena hanya kita berdua di sini, kau satu-satunya orang yang bisa aku andalkan untuk menghilangkan kebosananku~” Lelaki itu masih berbicara. “Namaku Kyung. Kau Jungkook, kan?”

“Hmm.” Jungkook menjawab malas.

Kyung menggigit apelnya lagi. “Kau kelas berapa, hah?”

“Apa pentingnya untukmu?” ketus Jungkook.

Kyung mendengus. “Hei! Aku bertanya baik-baik, Bocah. Aish! Kupikir tadinya kita bisa berteman sampai Rapmon dan yang lainnya pulang, tapi… sepertinya kau tidak bisa diajak berteman,” gerutunya, kemudian keluar dari ruangan.

Sesaat, Jungkook memandang Kyung berjalan hingga lelaki itu keluar dan menutup pintu rapat-rapat. Sejak tadi, sejak Kyung berkata bahwa hanya ia sendirian di rumah ini, Jungkook berpikir untuk… kabur. Ya, tentu saja. Tapi, masalahnya adalah… bagaimana melepaskan diri dari kain yang mengikat erat tangannya dengan lengan kursi?

Sambil berusaha menggerak-gerakkan kedua pergelangan tangannya, berharap ikatannya bisa melonggar dengan sendirinya, Jungkook memandang sekitar, mencari benda yang bisa ia gunakan untuk melepas ikatannya. Poster, kursi, meja dengan lampu belajar di atasnya, tempat tidur, bantal dan—ah! Tunggu dulu. Lampu?!

Jungkook teringat sesuatu. Sebuah adegan di dalam film House In The End Of Street yang beberapa minggu lalu ia tonton. Beruntung, kedua kakinya tidak diikat. Jungkook menggeser kursinya ke dekat meja perlahan dengan bantuan kedua kakinya, tidak mau membuat keributan. Kursi itu mendekat ke meja sedikit demi sedikit. Beberapa kali Jungkook berhenti jika mendengar suara-suara di luar. Ah, mungkin itu si Kyung yang entah melakukan apa.

Begitu jaraknya sudah tidak jauh dari meja, Jungkook berhenti, kemudian memutar kursi menghadap ke meja. Kaki kanannya terangkat untuk menggeser posisi lampu duduk agar berada di tepi meja, lantas menekan—tepatnya menginjak—tombol on yang berada di lempengan hitam datar yang sekaligus menjadi kaki lampu. Sedetik kemudian, lampu itu menyala. Dan masih menggunakan kakinya, Jungkook merendahkan posisi lampu, membuat benda itu terlalu merunduk.

Semuanya sudah siap. Jungkook kembali menggeser-geser bangkunya mendekati meja. Ketika ia tepat berada di depan meja, ia memutar lagi posisi bangku menyampingi meja sehingga tangan kanannya yang terikat oleh kain itu tepat berada di bawah cahaya lampu. Dari apa yang Jungkook tonton di film itu, sang aktris tampak kesakitan begitu cahaya lampu mulai memanasi kain. Terlihat sangat perih dan menyengat. Dan Jungkook harus merasakannya jika ingin bebas saat ini—setidaknya begitu yang ia harapkan.

Hanya butuh beberapa menit ketika Jungkook mulai merasakan panas dari cahaya lampu menghancurkan kain yang mengikat tangan kanannya perlahan-lahan, sekaligus menyengat kulitnya. Sakit. Perih. Melepuh. Wajah Jungkook berkerut, meringis sambil memejamkan mata. Kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Kuku-kuku jari tangannya seolah akan menancap pada telapak tangannya. Ia bahkan menggigit bibirnya sendiri, menahan agar ia tidak mengerang kesakitan.

Dan…, semua kesakitan itu kini dibayar dengan tangan kanannya yang bebas bergerak. Terlihat bekas lepuhan di permukaan kulitnya. Namun, Jungkook tidak memperdulikan itu. Tanpa pikir panjang, ia bergegas melepas ikatan di tangan kirinya, juga di tubuhnya. Sekarang, dia benar-benar sudah bebas bergerak.

Jungkook beringsut ke belakang pintu, merapatkan telinganya pada daun pintu, menajamkan pendengarannya. Di luar sepertinya masih sepi. Tangan kanan Jungkook bergerak menyentuh knop pintu, berharap dalam hati semoga… pintunya tidak dikunci.

“CKLEK~!”

Lelaki itu bernapas lega mengetahui pintu ruangan ini tidak dikunci. Ah, si Kyung tadi pasti lupa menguncinya. Jungkook menarik daun pintu sepelan mungkin agar tidak berderit. Begitu pintu terkuak sedikit, Jungkook agak melongokkan kepalanya melihat apa yang ada di luar. Hal pertama yang tertangkap oleh matanya adalah sebuah meja bilyar berada di tengah ruangan—yang sepertinya adalah ruangan santai. Sebuah sofa panjang berwarna cokelat berada di sisi kiri meja, merapat di dinding. Tidak jauh sofa, sebuah lemari berisi beberapa botol minuman berdiri tegak. Jungkook mengalihkan pandangannya ke sisi lain, ada sebuah jalan untuk ke ruangan di sebelah—entah ruangan apa.

Menghela napas panjang, Jungkook memberanikan dirinya melangkah keluar dari ruangan dimana ia dikurung. Berjalan hati-hati dengan mata dan pendengaran yang bersiaga mengawasi sekitarnya. Jungkook harus menemukan jalan keluar sebelum Kyung tahu dia melarikan diri.

@@@@@

Tempat dimana Jungkook dikurung adalah sebuah rumah yang tidak begitu mewah, namun bertingkat 2. Tampak berantakan dengan beberapa potong baju yang dengan sengaja di sampirkan pada sofa atau diletakkan begitu saja pada kursi. Jungkook telah berhasil turun dari tangga tanpa sepengetahuan Kyung. Hanya saja, Jungkook masih bertanya-tanya, dimana laki-laki kurus itu!?

“Apa? Iya. Nanti aku menemuimu setelah tugasku selesai. Oke, Baby?”

Bergegas Jungkook menyembunyikan tubuhnya di balik dinding dekat tangga begitu melihat Kyung ada di ruang makan. Duduk di salah satu kursinya, menikmati sesuatu sembari menghubungi seseorang yang terdengar seperti kekasihnya. Dari tempatnya bersembunyi, beberapa kali Jungkook mengintip, mengawasi gerak-gerik Kyung di sana.

Di depan Jungkook ada sebuah ruangan besar yang dibagi menjadi 2 bagian tanpa sekat. Di sisi kanan adalah ruangan makan, sementara sisi lainnya adalah ruang tamu. Dari tempatnya bersembunyi, Jungkook bisa melihat pintu keluar ada di sana, di sisi berlawanan dengan Kyung. Hanya saja, ia tidak bisa bergerak. Kyung pasti akan melihatnya dengan sangat jelas. Sementara di seberang tangga, ada sebuah ruangan dengan pintu yang cukup besar. Entah ruangan apa itu, tapi tampaknya sebuah ruangan yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang.

“Apa? Iya. Di bar seperti biasa.”

Kyung masih berbicara tanpa menyadari Jungkook berada di dekatnya. Sekali lagi Jungkook mengintip di balik dinding dan… tepat di saat itu—entah cuma perasaannya saja atau memang benar—Kyung melihatnya. Lekas Jungkook merapatkan tubuhnya di dinding. Jantungnya berdegup kencang seiring dengan hatinya merapalkan doa, berharap bahwa tadi Kyung tidak benar-benar melihatnya.

“Eh, sebentar. Aku mau mengecek sesuatu.”

Sepertinya Kyung memang melihatnya. Lelaki kurus itu beranjak dari meja makannya, bergegas mengayunkan langkah ke arah tangga di balik dinding. Dan…, sedetik kemudian ia mendecakkan lidahnya. Tidak ada siapa-siapa.

“Aneh. Tadi aku melihat ada orang yang mengintipku.”

Kyung mendongak ke lantai atas sebelum menjejakkan kakinya menapaki satu per satu anak tangga. Melangkah melintasi ruang santai menuju pintu ruangan dimana Jungkook di kurung. Ia membuka pintu, menghampiri Jungkook dan…

“Kau…, kau tidak bergerak dari tempat itu, kan?” Kyung mendapati Jungkook duduk di kursi dengan tangan yang masih terikat pada lengan kursi. Posisinya sama seperti terakhir kali ia meninggalkan anak itu.

Jungkook mendengus. “Bagaimana aku bisa bergerak, hah? Kau tidak lihat aku terikat di sini?”

Kyung melirik kedua tangan Jungkook yang tampak terikat, kemudian mengangguk. “Kupikir tadi aku melihatmu di dekat tangga,” sahut Kyung. “Ya, sudah. Duduk saja di situ,” ucap Kyung.

Tepat di saat dia berjalan beberapa langkah memunggungi Jungkook menuju pintu…

“HYAAA~!!!”

“PRAAAKKK!!!”

“Ukh~”

… Jungkook dengan gerakan cepat melepas ikatannya yang longgar, kemudian mengangkat kursinya, bergegas mendekati Kyung dari belakang dan menghantam lelaki kurus itu dengan kursi hingga Kyung ambruk di atas lantai.

Dua kaki kursi itu patah, berserakan di sekitar tubuh Kyung. Jungkook melempar sisa kursi ke sisi lain, mengatur napasnya yang tersengal sambil memandang Kyung yang tidak sadarkan diri. Pingsan? Mati? Entahlah. Jungkook tidak tahu dan tidak ingin tahu. Namun, melihat Kyung dalam keadaan seperti itu, ia bergegas keluar dari ruangan, menuruni tangga secepat mungkin dan berlari menuju pintu depan.

SHIT! KENAPA TIDAK MAU TERBUKA, HAH? AYO, TERBUKA!!!” Jungkook mengerang frustasi begitu mendapati pintu itu terkunci. Saking kesalnya, ia mencoba menendang pintu, mendobraknya, tapi… pintu itu tidak terbuka sedikit pun.

SHIT!

Jungkook bergerak memeriksa semua ruangan yang ada di rumah, mencari pintu belakang, pintu samping, atau apapun yang bisa membuatnya keluar dari rumah ini. Sayangnya, semua sama saja. Pintu belakang dikunci, begitu juga dengan pintu samping. Semua jendela sudah dilindungi dengan teralis.

“Kunci! Aku harus mencari kuncinya,” gumam Jungkook pada diri sendiri.

Hal pertama yang terlintas di pikirannya adalah… Kyung. Laki-laki itu pasti menyimpan kunci rumah ini.

Jungkook kembali ke ruangan tempat ia dikurung. Mendapati posisi Kyung masih sama seperti terakhir kali. Tengkurap di atas lantai, tidak sadarkan diri. Bergegas Jungkook memeriksa saku celana belakang Kyung, tidak ada kunci di sana. Ia membalik tubuh Kyung, memeriksa saku depan celana, juga saku kemeja, tapi… ponsel Kyung yang tergeletak tidak jauh dari tubuh sang pemilik, berdering.

Tangan kanan Jungkook terjulur meraih benda itu, membaca tulisan ‘1 message received’ tertera di layar. Jungkook membuka pesan yang dikirim oleh Rapmon dan membaca isinya…

Suga Hyung sudah pulang dari Macau. Kalau dia tiba lebih dulu di rumah dan mencari orang-orang, bilang kami berada di luar mengurus sesuatu. Ah, katakan padanya, anak SMA yang merekam video pembunuhan Zico Hyung sudah aku sekap. Jaga anak itu baik-baik. Kami akan segera pulang.

Gawat! Aku harus segera keluar sebelum Rapmon dan teman-temannya pulang.

Lelaki 18 tahun itu terdiam sejenak, menenangkan dirinya. Tidak lama, ia kembali bergerak memeriksa semua ruangan di rumah. Kunci rumah ini pasti tersembunyi di salah satu ruangan, begitu pikirnya. Satu per satu ruangan, juga baju-baju yang berserakan, telah ia periksa, tapi… tetap saja hasilnya nihil.

“Aish! Apa lelaki yang bernama Rapmon itu membawa kunci rumah ini, hah?” Jungkook berdiri di tengah ruangan di lantai. “Atau… kuncinya ada di dalam ruangan ini?” Berdiri sambil memandang satu-satunya ruangan yang belum dimasukinya sejak tadi. Ruangan dengan pintu yang tinggi, tampak berbeda dengan pintu lain di rumah ini. Entah ruangan apa itu. Jungkook… merasa sedikit takut untuk mendekat.

“Mungkin… memang ada di ruangan ini.” Lagi-lagi dia berkata pada dirinya sendiri.

Setelah mengumpulkan keberanian, Jungkook menggerakkan kedua kakinya mendekati pintu. Jantungnya berdebar kencang begitu tangannya menyentuh gagang pintu yang terasa kokoh dalam genggamannya. Perlahan, ia mendorong pintu itu dan… ya, pintunya terbuka. Tidak dikunci sama sekali.

Terlanjur, Jungkook semakin memberanikan diri mendorong daun pintu hingga terbuka lebar-lebar. Kaki kanan Jungkook melangkah terlebih dahulu memasuki ruangan, disusul kaki kirinya.

Lambang peluru berwarna merah dengan tulisan The Red Bullet yang tergambar pada dinding di depannya menjadi hal pertama dilihat oleh mata Jungkook. Lelaki itu sadar, dia bukan di tempat sembarangan. Ini… bisa saja markas dari Organisasi The Red Bullet. Tempat yang selama ini dicari-cari oleh polisi—terlebih kakaknya, Seokjin. Dan lagi, ruangan yang ia masuki ini… sepertinya memang bukan ruangan yang bisa dimasuki oleh sembarang orang.

Sebuah meja dengan kursi yang terlihat mewah tertata beberapa meter di depan Jungkook. Di atas meja, ada beberapa lembar amplop dan juga telepon. Di dekat meja ada sebuah lemari dengan banyak botol bir yang tersusun. Barang-barang di dalam ruangan ini didominasi warna merah-hitam.

Astaga! Jungkook! Apa yang kau lakukan? Kenapa berdiri saja di sini, hah?

Setelah menggerutui dirinya sendiri, Jungkook berlari menghampiri meja berharap dia bisa menemukan kunci rumah di lacinya. Tapi sayangnya…, laci itu terkunci. Entah untuk keberapa kalinya ia mengerang frustasi karena sebuah kunci rumah yang tidak kunjung ditemukannya.

Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?

Jungkook duduk di kursi di balik meja, menumpu kedua sikunya pada tepi meja, sementara kedua tangannya menjambak kesal rambut di sisi kiri dan kanan kepalanya. Ayolah, semua yang sudah ia lakukan selama beberapa jam terakhir akan menjadi sia-sia kalau ia tidak menemukan kunci rumah itu. Bagaimana dia bisa kabur dari sini kalau…

Telepon?

Di tengah-tengah keputus-asaannya, tanpa sengaja Jungkook menyadari adanya telepon di atas meja. Dan sesuatu terlintas di pikirannya, menghubungi Seokjin Hyung. Tanpa menunggu lagi, Jungkook menarik pesawat telepon itu mendekat ke arahnya. Jari telunjuknya dengan lincah jari telunjuknya menekan serentetan nomor ponsel Seokjin, lantas merapatkan gagang telepon di telinga kirinya. Nada sambung pun terdengar.

Angkat teleponku, Hyung! Cepat angkat!

Beberapa puluh detik nada sambung itu membuat Jungkook menderita, sampai…

“Ya, halo?”

… sampai suara Seokjin terdengar di seberang.

Hyungah! Ini aku, Jungkook!” sahutnya cepat.

“Jungkook-ah? Kau baik-baik saja? Kau dimana sekarang?” Suara Seokjin terdengar kaget bercampur antusias di ujung sana.

Jungkook menarik amplop yang berada di atas meja, membacakan tulisan alamat yang tertera di sana, “Aku di…”

“DOR~!”

Belum sempat Jungkook mengatakan dimana dia sekarang, pesawat telepon itu ditembak oleh seseorang. Jungkook mengalihkan pandangannya ke arah pintu seiring dengan telepon itu terlepas dari genggamannya. Kedua matanya membelalak lebar mendapati seseorang berjalan sambil menodongkan pistol ke arahnya. Lehernya tercekat. Keringat dingin seketika membanjir keluar dari pori-pori kulitnya, sekujur tubuhnya gemetar dan degup jantungnya yang berdetak dengan kencang. Seketika Jungkook merasa lupa bagaimana cara bernapas.

Orang itu kini berdiri di dekat Jungkook dengan moncong pistol yang merapat pada pelipis Jungkook. Lelaki berusia 18 tahun itu tahu posisinya sekarang jauh… jauh lebih membahayakan dari sebelumnya. Terlebih saat orang itu bertanya, “Siapa kau? Dan, apa yang kau lakukan barusan?”

-TaehyungBelumCebok

Anditia Nurul ©2015

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

-Also posted on Read Fanfiction-

10 thoughts on “(THE RED BULLET) BROTHER [Chap. 3]

  1. agussss!!!! pasti si dia deh tu dateng2 main tembak hehe
    haduuh gimana itu nasibnya jeka alay bin ajaib(?) tapi ganteng gak ketulungan itu kalo udah ketauan kekgitu-_-
    si jin tomang pasti deh ntar dateng jadi pahlawan kesorean bistu tembak2an lagi deh #soktaukumat
    cepet lanjutnya ya author-nim;)

  2. itu sugaaaaa, iya kan?!
    huuaaa makin seru ih, deg degan bacanya apalagi scene terakhir uh serasa nonton secara live. suasana masih kaku masih gemeter jungkook menghubungi jin, eh ditembak telponnya uuhh gimana nggak kaget coba
    next part soon

  3. Aaaaaaaaa ><
    ugh… percakapan Seokjin-Namjoon di luar harapanku~ :" karena yah… wajar Namjoon malah berbalik 'benci' sama Seokjin
    oke… siapa yg nembak gagang teleponnya? Namjoon, ngga mungkin. Atau… Suga?
    ditunggu ya kelanjutannya~~~
    Hwaiting! ^^

  4. Kukira Namjoon bakal telpon-telponan sama Seokjin sambil nangis /lol . tapi kayanya gak mungkin si ya, kan Rapmon preman/? abiz wkwk. Untung Daehyun dateng ke rumahnya Jin, tapi kenapa dia semudah/? itu buat mau ngerahasiain yang beginian(?) ya. itu si Jungkook udah panjang perjalanannya/? eh malah ada yang nembak duh jadi sedih.-. yang nembak suga bukan si? btw kepanjangan dari TBC diperbarui/? ya? lol

    • Wkwk… ga mungkin ah. Namjoon kan ceritanya udah benci banget sama Seokjin. Emang sengaja dia rahasiain, kalo temen2 polisinya tau, kan bahaya buat Jungkook.  Baca next chapter, yg nembak Jungkook, Suga atau bukan? Duh… wkwk… udh terlanjur suka sama kepanjangan TBC yg itu, beb

      Makasih udh RC^^ Terkirim dari Samsung Mobile

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s