(THE RED BULLET) BROTHER [Chap. 4]

TRB-BROTHER-NEW

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-15||Length: Chaptered||Genre: Action-Crime, Family||Main Characters: (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) Rapmon/Namjoon &(BTS) Jungkook ||Additional Characters: (Got7) Mark, (BTS) Suga/Yoongi, (Winner) Mino, (Winner) Jinwoo, (BTS) J-Hope/Hoseok & (OCs) Sipir Penjara||Disclaimer: I own nothing but storyline||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

“Seseorang yang disebut saudara bukan hanya dia yang lahir dari orangtua yang sama denganmu, tetapi orang yang selalu berada di sisimu, melindungimu dan berkorban untukmu, tidak peduli kau punya hubungan darah dengannya atau tidak.”

Prolog | 1 | 2 | 3 >> 4

HAPPY READING \(^O^)/

Rapmon duduk di salah satu kursi di depan meja bartender di dalam sebuah club malam yang cukup terkenal di Seoul. Segelas martini berada di hadapan lelaki berambut blonde itu, baru saja meminum martini-nya sedikit. Matanya memandang orang-orang yang asik meliak-liukkan badan dan kepalanya seirama dengan musik di bawah kerlap-kerlip lampu disko di tengah ruangan.

Malam ini… Rapmon ingin bersantai. Ya, setidaknya begitu yang ia inginkan. Toh, Jungkook sudah memberitahunya dimana ia menyimpan file rekaman pembunuhan yang dilakukan Zico. Rapmon pun sudah memerintahkan Taehyun dan 3 orang anggota The Red Bullet yang lain untuk menyusup ke dalam rumah Jungkook—yang juga rumah Seokjin. Namun, ia tidak sepenuhnya bersantai. Ia hanya… ingin membereskan hal lain yang menjadi tanggungjawabnya selama… Suga berada di Macau.

“Kau sudah lama menunggu, hah?”

Mendengar suara itu, Rapmon menoleh ke asal suara, mendapati seorang lelaki yang melilitkan syal biru duduk di sampingnya. Lelaki itu tersenyum.

“Apa kau tidak kepanasan memakai syal, hah?” Rapmon mencoba berbasa-basi.

Yang ditanya lantas mengipas-ngipas bagian lehernya sambil berkata, “Sejujurnya, aku kepanasan, tapi… mau bagaimana lagi? Aku harus menyembunyikan tato The Red Bullet yang ada di leherku. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa bertahan di sana, hah? Bisa-bisa aku yang lebih dulu ditangkap dibanding Bobby dan J-Hope.”

Rapmon tertawa hambar. “Kau mau minum, hm?” tawar Rapmon.

Lelaki itu menggeleng.

“Kalau begitu…” Rapmon menyodorkan kotak rokok yang salah satu batang rokoknya menyembul di antara batang-batang rokok yang tersusun rapi. Lelaki itu menarik rokok yang menyembul, lantas menyalakannya dengan korek api yang baru saja disodorkan oleh Rapmon.

“Tentang J-Hope,” kata Rapmon, “Bagaimana kabarnya?”

“Dia masih hidup. Ada seorang polisi yang menolongnya,” jawab laki-laki itu. Kepulan asap tipis dari rokok keluar dari mulutnya. “Yang lebih parah, para polisi itu bergantian menjaga J-Hope semenjak… ya, aku meracuninya.”

“Jadi…, mereka… sedang berjaga-jaga, hm?” tanya Rapmon, kemudian meminum martini dari gelas yang ia letakkan di atas meja bartender di depannya.

Laki-laki yang ditanya itu menghisap rokoknya sebentar, mengeluarkan kepulan asap dari mulut juga hidungnya, lalu berkata, “Begitulah. Mereka sudah belajar dari kesalahan yang mereka lakukan saat menangkap Bobby.”

Lagi, Rapmon meminum martini-nya. “Apa… mereka mencurigaimu, hm?”

Laki-laki yang mengenakan syal biru itu mengalihkan pandangannya ke arah bartender yang sedang beratraksi membuang-buang botol ke udara di depannya. “Kupikir tidak. Mereka tidak atau mungkin belum mencurigaiku sama sekali.”

“Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya, hm? Kalau Suga Hyung tahu J-Hope belum disingkirkan…”

Kelanjutan ucapan Rapmon tertahan di ujung lidahnya begitu teman bicaranya berkata, “Sedang kupikirkan.”

“Apa? Kenapa kau…”

“Aku akan memberitahumu nanti. Aku hanya tidak mau kesalahan yang sama terulang lagi. Setidaknya aku jauh lebih berhati-hati pada polisi-polisi yang menjaga J-Hope.” Laki-laki bersyal biru itu lalu mengisap batang rokoknya dalam-dalam hingga bara api di ujung rokoknya menjadi lebih terang warnanya, mengepulkan asap yang lebih banyak dari mulut dan hidungnya. “Oh, ya, bagaimana dengan masalah file video Zico? Apa kau sudah menemukannya, hm?” Lelaki itu megubah arah pembicaraan.

Rapmon mengangguk pelan, kemudian berkata, “Aku sudah memerintahkan Taehyun dan beberapa anggota organisasi untuk menggeledah rumah anak itu. Kuharap mereka menemukannya sebelum…”

Laki-laki bersyal biru itu menoleh. Keningnya berkerut mendapati Rapmon tidak meneruskan ucapannya. “Sebelum apa, hah?” tanyanya denga nada menuntut.

Cepat, Rapmon menggeleng. “Bukan apa-apa,” sahutnya. “Oh, ya, apakah… kau mengenal Jeon Seokjin? Dia salah satu polisi di Kepolisian Seoul.”

“Ya, aku mengenalnya. Dia salah satu polisi yang dimasukkan dalam tim khusus yang bertugas mengusut semua kejahatan yang dilakukan oleh organisasi,” jelas laki-laki bersyal biru itu tanpa diminta. Sejurus kemudian, ia menjejalkan puntung rokoknya pada asbak yag tidak jauh di dekatnya seraya bertanya, “Kenapa, hm?”

Untuk kedua kalinya Rapmon menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya.”

“Tapi, darimana kau mengenalnya, hm?” Laki-laki bersyal biru itu menatap Rapmon dengan tatapan yang menunjukkan ia menuntut penjelasan.

“Ah, itu. Murid SMA yang merekam pembunuhan yang dilakukan Zico Hyung adalah adik dari Jeon Seokjin. Aku melihat foto mereka di ponsel bocah sialan itu.”

“Wah… wah… wah…, sepertinya ini menarik, Rapmon,” komentar lelaki bersyal biru, lalu tertawa pelan.

“Begitulah~”

“Rrrr… rrr… rrrr…”

Obrolan mereka terhenti begitu dering ponsel Rapmon terdengar. Buru-buru lelaki bersuara deep-husky itu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Matanya seketika membulat begitu membaca ID caller di penelpon di layar ponselnya.

“Suga Hyung,” gumamnya, melirik lelaki bersyal biru di sebelahnya. “Halo, Hyung?” Rapmon menjawab.

“Aku sudah berada di rumah, Rapmon!”

Hanya satu kalimat itu yang diucapkan Suga sebelum ia memutuskan panggilannya. Jantung Rapmon mendadak berdebar kencang. Dari nada suaranya, ia bisa tahu ada sesuatu yang tidak beres di rumah. Entah apa, yang jelas… Rapmon harus segera pulang.

@@@@@

Rapmon baru saja memarikan sedan hitamnya di depan rumah, tepat di sebelah Lamborghini milik Suga. Lelaki itu menghela napas pelan sebelum memutuskan untuk keluar dari mobilnya. Sesaat, ia memandang sekitar. Tidak ada mobil sedan hitam lain yang terparkir. Itu artinya, Taehyun, juga P.O, Junhwe dan Jong-up—3 anggota The Red Bullet lainnya—belum selesai melaksanakan tugasnya.

Kemana anak-anak itu? Kenapa lama sekali?

Ia lantas mengambil langkah lembar memasuki rumah mewah itu. Melintasi ruang tamu, berbelok ke kiri menuju sebuah ruangan dengan pintu yang paling bagus di rumah ini. Ruangan khusus milik Suga. Pintunya tertutup rapat, namun… Rapmon yakin hyung-nya berada di dalam sana.

“Tok… tok…”

“Masuk!”

Mendengar sahutan itu, Rapmon membuka pintu, masuk dan menutupnya kembali. Di depannya, di balik meja, ia bisa melihat Suga duduk sambil memandang ke arahnya. Pandangan yang tidak biasa. Rapmon bisa melihat kejengkelan dari sorot mata, juga mimik wajah Suga.

“Pulang bersenang-senang, hah?” ketus Suga.

Sudah kuduga. Memang ada yang tidak beres.

“Tidak, Hyung,” Rapmon menyahut. “Aku… hanya menemui…”

“ALASAN!” bentak Suga seraya berdiri dan menggebrak meja.

Ucapan Rapmon terhenti di ujung lidahnya. Kepalanya seketika menunduk, meskipun ia tidak kaget. Toh, ia sudah biasa melihat Suga seperti itu. Namun, tidak ia pungkiri… ada ketakutan yang menyelinap ke dalam benaknya. Jika Suga marah, apalagi sampai membentak seperti ini…, tunggu saja… sebentar lagi… mungkin…

Suga berjalan menghampiri Rapmon, berdiri di depan adiknya itu dan berteriak, “KENAPA KAU BEGITU BODOH MENINGGALKAN RUMAH DALAM KEADAAN KOSONG, HAH? KEMANA SEMUA ORANG?”

mungkin dia akan marah padaku.

“Rumah tidak kosong, Hyung. Ada Kyung yang…”

“Kyung, hah?” Lagi-lagi Suga memotong. “PERGI KE LANTAI 2 DAN LIHAT SEPERTI APA KEADAAN KYUNG DI SANA!!!”

Rapmon menatap hyung-nya dengan kening berkerut. Apa maksud Suga Hyung menyuruhku seperti itu?

“ANAK ITU!” Suga menunjuk agak rendah ke sisi kanan tubuhnya. Rapmon menoleh ke arah yang ditunjuk Suga, terkejut mendapati Jungkook terkapar di sana dengan wajah lebam dan bekas darah di mulut juga di seragam sekolahnya. Satu yang bisa Rapmon simpulkan, Suga baru saja menghajar anak itu.

“KAU MAU TAHU APA YANG TERJADI BEGITU AKU TIBA DI RUMAH, HAH? AKU MENDAPATI ANAK ITU DI SINI, RAPMON! AKU MELIHAT ANAK ITU DI RUANGANKU DAN MENELEPON SESEORANG!!!”

Rapmon membulatkan kedua matanya dan tanpa sadar menggumam, “menelepon seseorang?” saking terkejutnya. “Bagaimana bisa?”

“BAGAIMANA BISA, HAH? KAU BERTANYA PADAKU BAGAIMANA BISA ANAK BRENGSEK ITU MASUK KE RUANGANKU DAN MENELEPON SESEORANG?” Kemarahan Suga semakin memuncak. “SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA SEPERTI ITU, RAPMON! AKU YANG HARUSNYA BERTANYA BAGAIMANA ANAK ITU BISA LEPAS? BAGAIMANA ANAK ITU MEMUKUL KYUNG HINGGA TEWAS? BAGAIMANA ANAK SIALAN ITU BISA BERADA DI RUANGANKU DAN MENELEPON SESEORANG YANG MUNGKIN SAJA POLISI???” teriak Suga, kemudian menghajar Rapmon seolah semua teriakannya barusan tidaklah cukup untuk meredam semua kekesalannya malam ini.

Rapmon terkapar di atas lantai di dekat kaki Suga. Seluruh badannya terasa ngilu. Sakit. Ini pertama kalinya Suga menghajarnya seperti barusan. Sementara itu, Suga yang masih berdiri, memandang nista ke arah Rapmon dan berkata, “Bawa anak itu kembali ke ruangannya. Pastikan kali ini kau mengikat dia dengan benar! Aku tidak mau melihat dia berkeliaran di rumah.”

Susah payah Rapmon berdiri dan menegakkan tubuhnya. Ia mengelap darah di sudut bibirnya, kemudian berkata, “Baik, Hyung. Maafkan aku.”

“Lekas lakukan yang aku perintahkan!”

@@@@@

Jungkook terbangun dari pingsannya dan dalam sekejap ia merasakan sekujur tubuhnya terasa sangat ngilu. Seluruh tulangnya terasa remuk dan ototnya sungguh nyeri. Wajahnya terasa bengkak dan perih di beberapa bagian. Ia kembali memejamkan kedua matanya, meringis menahan sakit. Sungguh, beberapa jam lalu adalah hal terburuk yang pernah terjadi dalam hidupnya. Dipukul tanpa ampun oleh lelaki yang Jungkook tidak tahu siapa namanya.

Jungkook kembali membuka kedua matanya yang terasa bengkak, lengkap dengan pandangannya yang agak kabur. Ah, pasti karena pukulan tadi, pikirnya. Sedetik kemudian, lelaki itu menyadari bahwa dirinya berada di ruang dimana ia disekap sebelumnya. Kedua tangannya kembali terikat erat di lengakn kursi—kursi yang baru tentu saja, namun kali ini, kedua kakinya juga ikut diikat. Jungkook benar-benar tidak bisa bergerak kemana-mana sekarang.

Ia memandang berkeliling. Sepi. Bahkan tubuh Kyung yang beberapa jam lalu terbaring di ruangan ini, sekarang raib entah kemana. Rapmon pasti sudah membereskannya. Di luar ini pun…, tidak terdengar suara bola bilyar yang disodok seperti biasanya. Yang terdengar hanyalah suara gerak jarum detik jam yang saat ini menunjuk pukul 2 dini hari. Apa… mereka tidak ada lagi di rumah, hah?

Sedetik kemudian, pertanyaan Jungkook terjawab. Masih ada orang di rumah ini begitu matanya melihat sosok kabur seorang lelaki berjalan ke arahnya. Rapmon-kah? Atau…

“Kau sudah sadar, hah?” Lelaki itu bertanya dengan nada membentak seraya berdiri tepat di depan Jungkook. Suara deep-husky itu membuat Jungkook yakin bahwa… yang mendatanginya memang Rapmon.

Jungkook memilih diam. Berbicara pun tidak akan berguna, menurutnya. Lagi pula, Rapmon jelas bisa melihat dia sudah sadar.

“Siapa, Jungkook-ah?” tanya Rapmon, “Siapa yang kau telepon tadi?” bentaknya sambil menjambak rambut Jungkook dengan tangan kanannya, menariknya agak kebelakang sehingga ia bisa melihat dengan jelas betapa parahnya wajah Jungkook setelah dihajar oleh Suga.

Jungkook masih memilih diam dan hanya melihat Rapmon melalui pandangannya yang masih kabur.

“Kau menelepon hyung-mu, hah? Kau menelepon Jeon Seokjin?” geram Rapmon, semakin menjambak erat rambut Jungkook, membuat siswa SMA itu agak meringis. “JAWAB AKU, BRANDAL KECIL!” teriak Rapmon kesal disusul sebuah tamparan keras di pipi kiri Jungkook setelah ia melepas jambakannya.

Lagi, Jungkook meringis.

Kedua bahu Rapmon tampak naik-turun setelah ia melampiaskan kekesalannya. Pandangan matanya menatap tajam Jungkook yang semakin tidak berdaya di kursinya. Belum puas, Rapmon menekan kedua pipi Jungkook—jari jempolnya menekan pipi sebelah kanan, sementara keempat jari lainnya menekan pipi sebelah kiri. Menekannya begitu keras sehingga Jungkook merasakan luka-luka di pipinya semakin terasa perih.

“Kau mau mencoba bermain-main dengan kami, hah? Kau belum tahu dengan siapa kau berurusan?” desis Rapmon. “Kuharap kau pernah mendengar nama ini Jungkook, The Red Bullet. Dan seperti yang telah kau lihat, organisasi ini tidak segan-segan membunuh anggotanya sendiri, apalagi membunuh orang yang membawa masalah bagi organisasi! Kau cukup beruntung karena Suga Hyung tidak langsung membunuhmu tadi,” lanjutnya. “Sekali lagi kau mencoba melarikan diri, Jungkook, aku benar-benar akan membunuhmu. Aku akan membunuhmu perlahan agar kau bisa menyesali perbuatanmu telah ikut campur, kau mengerti?”

Jungkook sama sekali tidak merespon. Namun, ia mendengar dengan jelas setiap perkataan yang diucapkan Rapmon.

“Rrrr… rrrr… rrrr…”

Ponsel Rapmon berdering. Ia menyentak wajah Jungkook ke arah kanan, lantas merogoh saku jas dengan tangan kanannya. Lelaki berambut blonde itu sejenak membaca tulisan yang tertera di layar. Ah, akhirnya dia menghubungiku juga.

“Hei, P.O! Kau dimana, hah? Kenapa baru menghubungiku sekarang? Aku sudah menghubungimu sejak tadi!” Rapmon langsung menggerutu.

“….”

“Apa? Taehyun, Junhwe dan Jongup mati?”

“….”

“Dasar Bodoh! Kenapa bisa terjadi hal seperti itu, hah? Kenapa kau tidak becus mengerjakan tugas semudah itu?”

“….”

Rapmon mendecih mendengar penjelasan P.O di ujung sana. “Sial! Polisi pasti akan semakin mengejar kita!” gerutunya kemudian.

“….”

“Akan aku beritahukan ini pada Suga Hyung,” kata Rapmon. “Dan, sebaiknya kau pulang karena dia sejak tadi mencarimu!” lanjutnya, lalu memutuskan panggilan dengan kasar.

Rapmon kembali memandang ke arah Jungkook. “Orang-orangku tidak berhasil mendapatkan video itu. Itu artinya, kau akan terus berada di sini. Tapi, kupikir itu cukup bagus untukmu, hah!? Setidaknya, kau masih bisa hidup untuk beberapa hari lagi.”

Jungkook masih tidak merespon. Namun, rahangnya bergetar dan napasnya yang tersengal menunjukkan ia ingin sekali menghajar Rapmon.

“Dan satu lagi,” ujar Rapmon. “Sepertinya, hyung-mu sudah tahu tentang siapa yang menculikmu. Itu berarti… dia juga akan ikut disingkirkan.”

Seluruh tubuh Jungkook menegang mendengar kalimat terakhir yang terlontar dari mulut Rapmon. “TIDAK! JANGAN BUNUH SEOKJIN HYUNG! DIA TIDAK TAHU APA-APA! DIA TIDAK TAHU APA-APA!” seru Jungkook panik.

Rapmon menyeringai. “Wah… wah… wah. Hanya karena aku mengancam akan menyingkirkan kakakmu, kau langsung bersuara, hah? Kelihatannya kau sangat menyayangi kakakmu itu!”

“Jangan lakukan apapun padanya. Aku mohon. Seokjin Hyung tidak tahu apa-apa. Ini salahku. Ini semua salahku!”

Suara decihan terdengar dari Rapmon. Rasanya begitu menggelikan melihat Jungkook memelas, memohon-mohon demi Jeon Seokjin. Cih! Benar-benar menggelikan!

“Kita lihat saja nanti, Jeon Jungkook!”

@@@@@

Jam di dinding menunjukkan pukul 8 kurang 15 menit ketika beberapa sipir penjara sedang menikmati kopi susu masing-masing di ruang tahanan yang terdiri dari beberapa sel penjara. Namun, dari arah pintu masuk, seorang lelaki berseragam abu-abu dengan celana biru tua tampak berjalan ke arah mereka dengan langkah lebar, tegas dan terkesan buru-buru.

“Hei! Bukankah itu Opsir Jeon?” Salah satu dari mereka menunjuk lelaki itu, membuat semua sipir itu menoleh ke arah yang ditunjuk.

“Ya. Dia memang Opsir Jeon. Tapi, mau apa dia ke sini pagi-pagi begini, hah?”

Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu karena mereka semua juga tidak tahu.

“Apa tahanan yang bernama Jung Hoseok itu telah keluar dari rumah sakit, hah?” tanya Seokjin dengan nada serius begitu ia berdiri di dekat para sipir.

“Ya. Dia di selnya sekarang.”

“Aku ingin bicara dengannya. Bawa dia ke ruang interogasi sekarang!”

Begitu salah satu sipir beranjak menuju sel, Seokjin bergerak menuju ruang interogasi yang masih berada di dalam ruang tahanan. Ruang interogasi adalah sebuah ruangan yang tidak begitu luas. Hanya ada sebuah meja dan 2 buah kursi yang disusun saling berhadapan di tengah ruangan. Seokjin duduk di salah satu bangku, menunggu Hoseok di sana.

Pintu ruangan terbuka dan seorang sipir masuk bersama orang yang ditunggu oleh Seokjin. Sipir itu mendudukkan Hoseok di bangku kosong yang tersisa.

“Aku ingin bicara berdua dengannya. Kau boleh menunggu di luar,” kata Seokjin kepada sipir, tetapi kedua matanya malah menatap Hoseok yang sedetik kemudian mengalihkan wajah darinya.

Sipir itu pun berjalan keluar dari ruangan, menutup pintu dari luar. Sejenak, Seokjin melirik ke arah pintu, memastikan tidak ada orang yang mengintip atau menguping. Lantas, ia kembali menatap Hoseok dan bertanya tanpa basa-basi, “Apa kau mengenal Rapmon?”

Hoseok mendengus. “Aku tidak tahu! Aku tidak mengenalnya,” sahutnya dengan nada menyebalkan.

“Aku benar-benar serius bertanya padamu, Jung Hoseok. Apa kau mengenal Rapmon?” Nada suara Seokjin sedikit meninggi.

“Sudah kubilang aku tidak tahu!”

“BRAAKK!!!”

Seokjin berdiri sambil menggebrak meja di hadapannya. Kilat emosi terpancar jelas di kedua matanya. Sepersekian detik kemudian, kedua tangannya terjulur dan mencengkram kerah baju Hoseok sehingga tawanan itu berdiri. “Jangan coba-coba mempermainkan aku, Jung Hoseok. Sekali lagi aku bertanya padaku,” gumam Seokjin dengan nada geram, “Apa kau mengenal Rapmon atau Kim Namjoon?”

Hoseok menghela napas, lalu berkata dengan ringan, “Ya. Aku mengenalnya. Kenapa?”

“Apa dia anggota The Red Bullet, hah?”

“Sebenarnya ada apa? Kau menyuruhku ke sini untuk bertanya tentang Rapmon, hah?”

“Jawab saja pertanyaanku, Jung Hoseok!” bentak Seokjin, memukul meja.

Hoseok memutar kedua bola matanya malas. “Ya. Dia juga anggota The Red Bullet, sama sepertiku. Kau mau bertanya apa lagi?”

Seokjin menghembuskan napas kuat-kuat setelah ia memastikan semuanya. Jadi benar, anggota The Red Bullet yang datang ke rumahnya kemarin memang ada kaitannya dengan penculikan Jungkook?

Sial! Kenapa Jungkook bisa terlibat dengan organisasi itu, hah? Bagaimana bisa anak itu terlibat dengan The Red Bullet?

Seokjin menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya, lalu kembali bertanya, “Dimana organisasimu biasanya menyekap orang yang mereka sandera?”

Hoseok memalingkan wajahnya, seolah malas untuk meladeni pertanyaan Seokjin.

“Jawab pertanyaanku, Jung Hoseok!” geramnya. “Dimana… organisasimu biasanya menyekap orang yang mereka sandera?”

“Kenapa kau ingin tahu?” Hoseok balas bertanya tanpa nada takut sedikit pun.

“Teman-temanmu menculik adikku,” desis Seokjin. “SEKARANG KATAKAN DIMANA MEREKA MENYEKAPNYA, HAH?” Wajah Seokjin memerah setelah melampiaskan semua kegeramannya pada Hoseok.

Hoseok terdiam sesaat, lalu beberapa saat kemudian sebuah seringaian menghiasi wajahnya. “Aku akan memberitahumu…” gumamnya sembari menyingkirkan tangan Seokjin yang mencengkram baju, lalu melanjutkan, “asal kau bersedia memenuhi satu syarat.”

“Apa?” sahut Seokjin cepat.

Hoseok menyeringai sekali lagi, kemudian berkata, “Keluarkan aku dari penjara!”

“Apa?” kaget Seokjin, berharap telinganya salah dengar.

“Keluarkan aku… dari penjara!” Hoseok mengulang.

Seketika kedua mata Seokjin tercengang begitu syarat yang diajukan Hoseok dengan jelas menghujam telinganya. Yang benar saja? Membebaskan Hoseok dari penjara? Tidak! Itu tidak mungkin! Bagaimana kalau ketahuan Mark, Mino dan Jinwoo? Bagaimana kalau ketahuan oleh Inspektur Shin dan Inspektur Kepala?

Hoseok duduk di kursinya, lalu menaikkan kaki kirinya ke atas paha kanannya dan melipat kedua tangannya di depan dada, lengkap dengan seringaian yang masih menghiasi wajahnya. “Aku tahu persyaratanku cukup sulit bagimu, Opsir…,” ia melirik name tag yang tersemat di seragam Seokjin, “… Jeon Seokjin, tetapi… kupikir itu sebanding dengan keselamatan adikmu.”

Seokjin menundukkan pandangannya melihat Hoseok, namun tidak berkata apa-apa.

“Kuberitahu kau satu hal, Opsir Jeon, semakin lama kau menemukan adikmu, semakin kecil pula kesempatan kau bisa menemukannya dalam keadaan hidup. Kau tahu? Organisasi The Red Bullet bukan organisasi sembarangan. Mereka tidak segan-segan membunuh adikmu!”

“KAU!” pekik Seokjin. Ia tidak bisa membayangkan jika yang dikatakan Hoseok benar-benar terjadi. Ia tidak bisa membayangkan… adiknya, Jungkook, tewas di tangan organisasi busuk itu. Seokjin menghela napas berat. “Dengar, Jung Hoseok. Persyaratan yang kau ajukan tidak masuk akal. Aku tidak bersedia,” tolaknya. Tidak mau bersabar lagi, Seokjin menarik pistolnya dan mengacungkannya tepat di depan wajah Hoseok. “Katakan saja dimana mereka menyekap adikku?”

Hoseok memutar kedua bola matanya jengah. Ah, ini terlalu membuang-buang waktu menurutnya. “Kau mau menembakku, hah? Kau mau membunuhku?” tanyanya dengan nada dan tatapan menantang.

“Ya!” Seokjin berucap. “Aku akan membunuhmu jika kau tidak mau mengatakan dimana tempatnya!” ujar Seokjin memperingatkan.

Suara decihan terdengar dari Hoseok. “Kau tidak akan membunuhku, Opsir Jeon!” kata Hoseok. “Tidak akan. Aku tahu itu,” lanjutnya dengan nada yakin.

Seokjin mengerutkan keningnya dan bertanya, “Kenapa, hah? Kenapa kau berkata seperti itu?”

Hoseok tertawa pelan. “Kau sudah tahu di organisasi, namaku adalah J-Hope. Nama itu tidak diberikan secara sembarangan. Ada kata yang bermakna harapan di situ, Opsir Jeon. Di beberapa situasi, aku adalah harapan dari organisasi. Dan, dalam situasimu sekarang, aku satu-satunya harapanmu agar kau bisa menemukan dimana adikmu dalam waktu cepat,” katanya.

Polisi itu terdiam. Dalam hati ia membenarkan ucapan Hoseok. Ya, hanya Jung Hoseok harapannya untuk menemukan dimana Jungkook disekap dalam waktu yang singkat. Ia pun tidak mau berlama-lama mengingat… adiknya berada di tangan orang yang benar-benar jahat.

“Aku hanya meminta satu hal, Opsir Jeon,” Hoseok berkata lagi, “keluarkan aku dari penjara ini!”

@@@@@

Seokjin melajukan mobilnya di atas badan jalan Kota Seoul yang tidak begitu ramai kendaraan. Jelas saja, ia menyetir pada pukul 2 dini hari. Kedua tangan kanannya mencengkram erat roda kemudi dengan kaki kiri yang menginjak pedal gas dalam-dalam. Jarum di speedometer menunjuk angka 120.

Ya. Sangat cepat.

Secepat detak jantungnya sekarang.

“CKIIT~!!!”

Seokjin menghentikan laju mobilnya yang tertahan lampu merah. Ia menggunakan kesempat selama 30 detik itu untuk menenangkan pikirannya yang sungguh dirumitkan oleh kejadian-kejadian selama beberapa hari ini.

Pertama, Jungkook—adik angkatnya—hilang dan ternyata… pelakunya adalah adik kandungnya. Ya, adik kandung yang sudah lama tidak pernah ia temui, Kim Namjoon, atau sekarang… Rapmon.

Kedua, kemarin, beberapa anggota The Red Bullet menyelinap ke rumahnya tanpa alasan yang diketahuinya. Seokjin telah menembak mati beberapa orang di antara mereka, meski ada seorang yang melarikan diri. Ini semakin buruk karena orang-orang The Red Bullet telah mengetahui alamatnya. Bahkan mungkin, seluruh anggota organisasi The Red Bullet itu tahu bahwa… ia, kakak Jungkook, adalah seorang polisi. Shit! Itu sangat berbahaya!

Dan sekarang…

“Apa yang kaulakukan? Lampu hijaunya sudah menyala!”

Teguran dari seseorang yang duduk di jok di sebelahnya menyentak Seokjin kembali ke alam nyata. Sekilas, ia menoleh ke arah orang itu, kemudian melirik lampu lalulintas dengan warna hijau yang menyala. Tanpa berkata apa-apa, Seokjin kembali melajukan mobilnya, namun kali ini tidak secepat sebelumnya.

“Aku tahu kau pasti sedang memikirkan apa yang baru saja kaulakukan, kan?” tebak orang yang duduk di jok sebelah. “Hah, membebaskan tahanan, terlebih tahanan sepertiku, aaah, akan sangat buruk kalau sampai teman-temanmu tahu. Apalagi kalau atasanmu juga tahu. Kau bisa dipecat,” lanjut orang itu yang tidak lain adalah… J-Hope atau Jung Hoseok.

Ya. Dan yang membebani pikiran Seokjin selain 3 hal lainnya adalah… orang yang duduk di sebelahnya. Ia tahu akan sangat besar resikonya membebaskan Hoseok dari penjara, meski… ia melakukannya seolah-olah Hoseok yang berhasil melarikan diri. Tapi kalau ketahuan? Seperti yang Hoseok bilang, Seokjin bisa dipecat, diberhentikan secara tidak hormat.

Oh, God.

“Karena itu,” ucap Seokjin dengan mata yang memandang lurus jalanan di depan, “jangan sampai aku menyesali keputusan dan resiko besar yang harus kutanggung karena membebaskanmu diam-diam dari penjara,” lanjut Seokjin.

Hoseok hanya tertawa hambar.

Suasana di dalam mobil kembali sunyi seperti sebelumnya. Hanya terdengar deru mobil dan sesekali suara klakson kendaraan yang melintas. Seokjin tidak tahu harus berkata apa karena… sangat canggung ketika seorang polisi duduk satu mobil dengan seorang penjahat. Terlebih dengan kenyataan bahwa… dalam beberapa hari kedepan, mereka kelihatan akan sering bertemu.

Seokjin telah melajukan mobilnya sejak 1 jam setelah ia membebaskan Hoseok dari selnya ketika… ponsel yang berada di atas dashboard-nya berdering. Sekilas, lelaki dibalik kemudi itu melirik ponselnya, melihat nama Mark tertera di sana.

Sepertinya, para sipir itu sudah tahu kalau Hoseok menghilang dan melaporkannya pada Mark. Buru-buru Seokjin menepikan mobilnya, lalu menyambar ponsel yang masih berdering itu.

“Jangan bersuara!” pesannya sebelum menjawab panggilan. “Ya?” sahutnya dengan suara yang dibuat seolah-olah ia terbangun dari tidurnya.

“Jung Hoseok kabur!” Mark terdengar panik di ujung sana. “Seorang sipir meneleponku dan mengatakan kalau dia kabur,” jelasnya.

“Ba-bagaimana bisa?” Seokjin ber-acting seperti ia tidak tahu-menahu soalnya kaburnya Jung Hoseok. Sekilas ia melirik Hoseok di sebelahnya, sedangkan yang dilirik perlahan mengalihkan wajahnya ke arah jendela.

Seokjin mendengar Mark menghela napas berat. “Aku tidak tahu. Tapi, bisa saja… ini ulah anggota The Red Bullet yang menyusup dalam kepolisian.”

Ah, kalau Mark tahu sekarang Jung Hoseok berada di sebelahku, matilah aku.

“A-apa… apa Jinwoo dan Mino juga inspektur Shin sudah mengetahui ini?”

“Inspektur Shin sudah tahu. Aku baru mau menelepon Jinwoo dan Mino,” jawab Mark. “Kita akan mengadakan rapat untuk membicarakan ini begitu jam kerja. Tolong hubungi semua anggota.”

Seokjin menghela napas. “Baik.”

Dan sedetik kemudian, Mark memutuskan panggilannya.

“AAH! MATILAH AKU! MATILAH AKU!” Seokjin berteriak kesal di dalam mobilnya.

Hoseok menoleh ke arahnya, mendecih. “Belum apa-apa, kau sudah ingin mati. Bagaimana kau bisa menyelamatkan adikmu kalau seperti itu?” sinisnya.

Seketika Seokjin melempar tatapan tajam padanya. “Kau jangan banyak bicara, Jung Hoseok. Aku tidak akan seperti ini jika kau tidak mengajukan syarat yang membuatku tidak punya pilihan!”

“Aku hanya memanfaatkan kesempatan yang ada, Opsir Jeon,” sahut Hoseok datar sembari memandang jalan di depan.

Polisi itu mendengus. “Diamlah. Sekarang aku harus menyembunyikanmu di suatu tempat.”

Beberapa saat kemudian, Seokjin menepikan mobilnya di depan sebuah motel yang terletak jauh dari pusat Kota Seoul. Bergegas ia menyuruh Hoseok yang telah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang diberikan Seokjin sehingga lelaki itu terlihat seperti orang-orang pada umumnya.

“Untuk sementara, kau akan tinggal di sini,” kata Seokjin, berdiri di ambang pintu kamar, sementara Hoseok telah berbaring di atas tempat tidur. “Aku akan menemuimu lagi siang ini,” lanjut Seokjin.

“Ya. Terserah kau saja,” sahut Hoseok dengan nada malas.

Seokjin mendengus. “Jangan coba-coba melarikan diri, Hoseok.”

“Aku mengerti, Opsir Jeon. Sekarang pergilah karena aku ingin tidur di kasur baruku yang empuk.”

Lagi, Seokjin mendengus. “Aku akan membawa kunci kamarmu agar kau tidak bisa kemana-mana,” ucap Seokjin, menutup pintu, lantas menguncinya dari luar. Di saat itu, Hoseok hanya bisa mengumpat. Ini sama saja dengan di penjara. Ia tidak bebas kemana-mana. Tapi, pling tidak, di sini, ia punya tempat tidur yang empuk.

HOAH~

@@@@@

“Hah~ aku tidak habis pikir, bagaimana bisa Hoseok kabur dari selnya, hah? Dan lagi, aku penasaran, siapa anggota The Red Bullet yang menyusup ke dalam kepolisian?” Mino mengenyakkan bokongnya di kursinya begitu ia dan ketiga temannya tiba di ruangan setelah berjam-jam mendengar instruksi dari Inspektur Shin untuk menangani masalah kaburnya tahanan ‘penting’ mereka, Jung Hoseok, juga mencari tahu siapa anggota The Red Bullet yang menyusup ke dalam kantor Kepolisian.

“Bagaimana Jung Hoseok kabur, menurutku itu sudah tidak terlalu penting. Bagaimana pun caranya, yang jelas, cara itu sudah membuat ia berhasil melarikan diri,” ujar Mark dari kursinya, memandang teman-temannya bergantian. “Yang penting sekarang adalah… menemukan Jung Hoseok sesegera mungkin!” tegasnya.

“Kupikir, menemukan anggota The Red Bullet yang menyusup ke dalam kepolisian pun sama pentingnya, Mark,” sela Jinwoo. “Meskipun kita kembali menemukan Hoseok, bisa saja, anggota The Red Bullet yang menyusup itu mencoba membunuhnya lagi,” lanjutnya. “Hanya saja…,” Jinwoo mengusap-usap dagunya, “ada sesuatu yang mengganjal pikiranku,” lanjutnya.

“Apa?” Mino langsung bertanya. Mencondongkan tubuhnya ke arah Jinwoo, menatap rekan setimnya itu antusias.

“Mengapa anggota The Red Bullet yang menyusup itu malah membantu Hoseok melarikan diri?”

Mino mengalihkan pandangannya ke arah Mark yang bersuara, disusul Jinwoo yang bertanya, “Kau juga berpikiran sama denganku, hm?”

Mark mengangguk pelan.

“Memangnya apa yang menjadi masalah dengan hal itu?” tanya Mino tidak mengerti.

Jinwoo menghela napas sejenak, lantas menjelaskan, “Anggota The Red Bullet yang menyusup itu, sebut saja Mr. X. Beberapa hari lalu, dia mencoba membunuh Hoseok dengan memberi racun sianida pada makanannya. Motifnya pasti untuk membungkam mulut Hoseok agar tidak berbicara lebih banyak tentang organisasi The Red Bullet pada polisi. Bukankah itu yang dilakukan oleh si Mr. X pada Bobby?”

“Lalu, pertanyaannya, kenapa sekarang dia malah membantu Hoseok melarikan diri?” Mark melanjutkan. “Kupikir, itu tidak mungkin perintah dari bos organisasi The Red Bullet. Jika memang seperti itu, seharusnya Mr. X membantu Hoseok kabur dari penjara lebih awal, bukannya mencoba membunuh Hoseok. Tapi, seperti yang kita tahu, yang dilakukan Mr. X pertama kali adalah mencoba menyingkirkan Jung Hoseok,” jelasnya.

Mino mengangguk paham, lantas berasumsi, “Tapi, bisa jadi, Mr. X itu bukannya membantu Hoseok kabur dengan tujuan agar Hoseok terbebas dari segala pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pihak kepolisian padanya. Bisa saja, Mr. X itu membebaskan Hoseok dan membawa Hoseok ke tempat rahasia organisasi The Red Bullet, lalu menghabisinya di sana.”

Mark dan Jinwoo terdiam mendengar asumsi Mino yang ada benarnya juga.

Namun, di tengah-tengah suasana yang mendadak hening itu, tiba-tiba Mino berceletuk, “Hei, Jeon Seokjin, kenapa sejak tadi kau diam saja, hah?” yang membuat Mark dan Jinwoo mengalihkan pandangan ke arah Seokjin yang duduk diam sambil menyandarkan punggung pada kursinya, memandang kosong ke arah meja di hadapannya.

Mendengar celetukan Mino yang menyebut namanya, ia terkesiap. Mendapati semua mata tertuju padanya, sedikit salah tingkah, ia berkata setelah memaksakan dirinya tersenyum kikuk, “Tidak apa-apa.”

“Ah, iya. Bahkan saat rapat dengan Inspektur Shin tadi pun kau juga diam seperti patung,” ujar Jinwoo menambah ucapan Mino. “Apa kau punya masalah lain di rumah?” tanya Jinwoo dengan nada sedikit cemas.

Di saat Seokjin hendak menggerakkan kepalanya untuk menggeleng, tiba-tiba Mark bertanya, “Apakah Jungkook sudah ketemu?”

Seokjin mematung memandang Mark. Bagaimana Mark bisa tahu kalau Jungkook hilang?

Seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran temannya, Mark melajutkan, “aku tahu itu dari Bambam.”

Ah, ya. Aku lupa kalau rumah Mark berdekatan dengan rumah Bambam.

“Hei, kenapa kau tidak memberitahu kami kalau adikmu hilang, hah?” Mino sewot di kursinya.

“Ini urusanku. Aku tidak mau ada orang lain yang ikut campur!” balas Seokjin tegas.

Mino, Mark dan Jinwoo saling berpandangan satu sama lain, kemudian kembali memfokuskan pandangan mereka pada Seokjin.

“Sudah berapa lama adikmu hilang, hah?” Kali ini Jinwoo yang bertanya.

“Ini hari ketiga dia hilang.”

“Kau ini bagaimana, Jeon Seokjin? Kau seorang polisi dan kau tidak mau meminta bantuan teman-temanmu untuk mencari adikmu? Kau tahu adikmu dalam bahaya, kenapa kau tidak mengatakan apapun pada kami?” Mino masih sewot.

Mark melirik Mino dan menegurnya pelan, “Tenanglah sedikit, Song Mino!”

Yang ditegur mendengus.

“Sudah jam makan siang,” Seokjin berdiri dari duduknya sambil melihat jam, “aku mau istirahat,” ucapnya, lantas beranjak keluar dari ruangan. Menghindari semua tatapan teman-temannya.

Ah, entah apa yang akan mereka katakan kalau tahu bahwa yang menculik Jungkook adalah anggota organisasi The Red Bullet.

@@@@@

“Ah, kenapa kau baru datang, hah? Aku hampir mati kelaparan!” Hoseok langsung menggerutu begitu pintu kamarnya dibuka dan Seokjin masuk dengan membawa makanan untuknya.

Hoseok beringsut ke arah sepasang meja-kursi di dekat jendela, bergegas membuka bungkusan makanan yang diletakkan Seokjin di sana. Sementara itu, Seokin duduk di tepi tempat tidur, memandang Hoseok yang mulai mengunyah.

“Malam ini juga, aku ingin kau mengantarku ke tempat dimana organisasimu menyekap sanderanya,” ucap Seokjin memulai pembicaraan.

“Tidak bisakah kau menunda pembicaraan itu sampai aku selesai mengisi perut, hah?” Sekilas Hoseok melirik Seokjin, lalu kembali fokus pada makanan di hadapannya.

“Tidak bisa!” Seokjin menyahut cepat. “Semalam…, adikku sempat meneleponku. Dia hanya mengucapkan beberapa kata sampai…”

Seokjin membuat jeda sambil menatap kosong ke arah lantai. Kali ini Hoseok sepenuhnya mengalihkan pandangannya ke arah Seokjin dan bertanya seolah ia tidak sabar mendengar kelanjutannya kalimat Seokjin, “sampai apa?”

“Sampai… aku mendengar bunyi tembakan dan… panggilan adikku terputus,” lirih Seokjin. “Karena itu, malam ini aku ingin memastikan apakah adikku masih hidup atau tidak. Malam ini juga aku harus membebaskannya!” tegasnya.

“Bagaimana adikmu bisa meneleponmu, hah? Kalau dia disandera oleh organisasi, aku yakin dia tidak akan berani bertindak sejauh itu,” kata Hoseok menyadari ada hal yang janggal.

Seokjin menggidikkan bahunya. “Aku tidak tahu. Yang jelas, adikku berhasil menghubungiku hingga ia ketahuan oleh salah satu temanmu di organisasi itu!”

Hoseok meraih botol air putih di dekatnya, meneguk airnya hingga tersisa setengah, kemudian bertanya pada Seokjin, “Apa kau masih menyimpan nomor yang digunakan oleh adikmu saat dia mengubungimu semalam?”

“Ya,” sahut Seokjin, berjalan ke arah Hoseok, berdiri di sebelah lelaki itu dan memperlihatkan sebaris nomor yang tertera pada layar ponselnya. “Aku sudah menemui pihak yang mengurus tentang nomor telepon rumah, tetapi mereka tidak mau memberitahu tentang siapa dan dimana alamat pelanggan mereka yang memiliki nomor telepon ini.”

Hoseok menghela napas panjang. “Sepertinya kau memang tidak bisa menunda untuk menyelamatkan adikmu,” kata Hoseok. “Dia tidak disekap di tempat biasa, tetapi…”

“Tetapi…?”

“Tetapi, di rumah pemimpin The Red Bullet. Suga Hyung,” jawab lanjut Hoseok.

Seokjin mengerutkan keningnya mendengar nama itu. “Suga… Hyung?”

Hoseok mengangguk. “Ya, Suga Hyung. Pemimpin The Red Bullet. Orang yang paling kejam, paling jahat yang pernah aku kenal.”

Polisi itu mengusap wajahnya. Gusar. Jadi, Jungkook sekarang berada bersama dengan otak di balik organisasi kejahatan kelas kakap, hah? Astaga! Ini gila!

Hah, kakak macam apa dirinya, hah?

Tidak bisa menjaga adiknya.

“Apa kau benar-benar ingin aku mengantarmu ke sana, hm?”

“Tentu saja!” sahut Seokjin tegas.

Hoseok menghela napas panjang sekali lagi. “Kuperingatkan kau untuk bersiap-siap karena orang-orang yang kau hadapi bukan sembarang penjahat!”

“Aku tahu. Aku sudah siap.”

“Baiklah. Malam ini juga. Aku akan mengantarmu ke sana.”

@@@@@

Dan malam ini, Hoseok benar-benar mengantar Seokjin ke tempat yang ia maksud. Duduk di jok di sebelah Seokjin yang mengemudi sambil menunjukkan ke arah mana Seokjin harus berbelok.

“Di depan, belok kiri,” suara Hoseok terdengar di antara suara penyiar radio yang terdengar pada radio di dashboard.

Dengan patuh, Seokjin menuruti ucapan Hoseok. Membelokkan mobilnya ke arah kiri tanpa mengucap sepatah kata pun semenjak mereka berangkat dari motel dimana ia menyembunyikan Hoseok. Entahlah. Dia sedang tidak mood untuk berbicara atau… mempersiapkan diri… bertemu dengan… ya, kupikir kau tahu siapa.

“Kenapa kau menuruti ucapanku begitu saja, Opsir Jeon?” tanya Hoseok, setelah ia mematikan radio di dashboard, menoleh ke arah Seokjin.

“Apa maksudmu, hm?” Seokjin bertanya balik tanpa menoleh sedikit pun.

Hoseok menghela napas sejenak, lantas menjawab, “Kenapa kau mau menuruti ucapanku begitu saja. Kusuruh kau belok kiri, kau belok kiri. Kusuruh kau belok kanan, kau belok kanan. Apa tidak terpikirkan olehmu bahwa… bisa saja aku membohongimu, hm?”

Seokjin tidak atau belum merespon hingga sesaat kemudian, ia menghentikan laju mobilnya tepat di saat lampu lalulintas berwarna merah. Ia mengembuskan napas panjang, kemudian menoleh ke arah Hoseok dan berkata, “Aku sudah memikirkan itu sebelum aku membebaskanmu diam-diam dari penjara, Jung Hoseok. Kau mungkin akan menganggap bahwa aku benar-benar putus asa mencari adikku sehingga aku begitu mudah menuruti ucapanmu. Ini mungkin terdengar lucu, tapi… aku percaya kau akan membantuku.”

Hoseok mendecih. “Naif sekali.”

“Sama halnya denganmu,” sahut Seokjin cepat. “Kenapa kau tidak mencoba kabur saat aku meninggalkanmu di motel? Kenapa tidak menelepon pengurus motelnya untuk membukakan pintu untukmu, lalu kau bisa bebas pergi. Kenapa kau tidak melakukannya?”

Dan Hoseok terdiam di tempatnya, berbanding terbalik dengan mobil yang kembali melaju di atas badan jalan.

Ucapan Seokjin barusan berhasil membuatnya bertanya pada diri sendiri. Ya, kenpa aku tidak melakukan yang dikatakan Seokjin-ssi? Kenapa aku tidak kabur saja saat dia meninggalkanku di motel? Haha… ini aneh! Baru beberapa hari di penjara dan aku menjadi orang baik—bahkan, menolong seorang polisi menemukan adiknya di tempat organisasi. Astaga!

“Di depan kita belok ke arah mana, hah?”

Pertanyaan Seokjin membuat Hoseok terkesiap. Ia menggeleng pelan seolah menyingkirkan jauh-jauh pikirannya beberapa saat lalu, melihat jalanan di depan dan berkata, “Terus saja.”

Beberapa menit kemudian, Seokjin menghentikan mobilnya sekitar beberapa meter di depan sebuah rumah mewah yang terletak di pinggir Kota Seoul. Dari depan, rumah itu tampak seperti rumah yang nyaman, besar dan luas. Siapa sangka, rumah itu adalah tempat tinggal bos organisasi kriminal di Seoul.

“Kau tunggu di sini!” ucap Seokjin yang terlihat tidak sabar untuk memasuki rumah itu dan mencari Jungkook. Pistol semi otomatis yang baru saja ia keluarkan dari laci dashboard di depan Hoseok, kini ia selipkan di pinggangnya.

“Apa kau gila?” Hoseok menahan tangan Seokjin, sontak membulat lelaki itu menoleh sambil mengerutkan keningnya, bingung. “Kau mau masuk sendirian ke dalam sarang macan? Kau mau membuat dirimu seperti daging segar, hah?” lanjut Hoseok.

“Tapi, kalau kau masuk, mereka akan tahu kau kabur dan…”

“Mereka pasti sudah tahu aku kabur, Seokjin-ssi! Mereka pasti sudah tahu.”

“Jadi kau…?”

Hoseok mengangguk. “Ya, aku akan menemanimu masuk.”

@@@@@

Sepi.

Itu suasana yang didapati Seokjin dan Hoseok begitu mereka berhasil masuk melalui pintu rahasia yang ditunjukkan Hoseok di samping kanan rumah. Sejujurnya, Hoseok bukanlah anggota yang sering menginap di rumah ini, dia menginap di tempat lain. Hanya saja, sepengetahuannya, di jam seperti ini… rumah biasanya akan ramai oleh para anggota yang mabuk atau sekedar bersenang-senang dengan mengundang beberapa gadis penghibur.

Tapi…, kenyataan di depan mata mereka sungguh berbeda.

“Aneh. Sepertinya tidak ada orang,” kata Hoseok.

“Mungkin mereka ada di lantai 2.” Seokjin menunjuk tangga.

Hoseok memandang Seokjin dan bertanya, “Kau mau naik?”

Tanpa ragu sedikitpun, Seokjin mengangguk. Ia berjalan di depan mengingat… hanya dia yang memiliki senjata saat ini. Menapaki tangga secara perlahan dengan tangan yang memegang pistol, bersiaga.

Mereka pun tiba di lantai 2, tapi… tetap saja tidak ada orang di sana. Hanya ada meja bilyard yang bola-bolanya tergeletak secara acak di atas meja, juga 2 buah stick yang di sandarkan pada sisi kanan meja bilyar.

“Sepertinya, Suga Hyung dan anggota lain sudah pergi dari sini,” ujar Hoseok.

“Ya. Kita terlambat!” desis Seokjin.

Ia melihat sekitar, kemudian matanya mendapati sebuah pintu kamar yang terbuka. Penasaran, Seokjin masuk ke dalam kamar itu. Seketika, kedua matanya membulat sempurna begitu melihat ransel Jungkook tergeletak di lantai kamar, juga bukunya yang terhambur di sekitar.

“Mereka menyekap adikku di ruangan ini!” seru Seokjin, bergegas menghampiri ransel Jungkook untuk memastikan bahwa… itu benar-benar ransel adiknya, berjongkok di dekat ransel itu. “Ini benar-benar ransel adikku!” gumamnya setelah mengecek ransel itu dan membaca sebaris nama yang tertera di sampul buku. Ada tulisan ‘Jeon Jungkook’ di sana.

Hoseok yang entah sejak kapan berdiri di belakang Seokjin, berkata, “Mereka juga membawa adikmu.”

“BRENGSEK!!!” geram Seokjin. Kedua bahunya naik turun karena amarahnya. “Lalu, menurutmu, mereka kabur kemana, hah?”

“Aku tidak tahu mereka kabur kemana. Organisasi punya banyak tempat untuk bersembunyi, Seokjin-ssi.”

Seokjin mendecakkan lidahnya.

“Tapi…, mungkin orang itu tahu,” ucap Hoseok kemudian.

Kening Seokjin berkerut. “Siapa maksudmu?”

“Anggota The Red Bullet yang mencoba meracuniku.”

“Siapa orangnya?”

“Dia adalah…”

“ANGKAT TANGAN!!! INI POLISI! KALIAN BERDUA JANGAN BERGERAK!!!”

-TaehyungBelumCebok

Anditia Nurul ©2015

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

-Also posted on Read Fanfiction-

 

13 thoughts on “(THE RED BULLET) BROTHER [Chap. 4]

  1. siapa sih? haduuuuhhh kan penasaran~ mino ya, apa mark, atau jinwoo? kali dari muka yang paling kriminal diantara ketiganya sih mino, tapi siapa tau kan muka unyu kaya jinwoo dan mark bisa sepinter itu nyembunyiin rahasia
    harapan satu satunya cuma ada sama j-hope dan si polisis penyusup itu, ah tapi jangan ketemu dulu deh biar seru /apa
    nah loh seokjin ketahuan kan, bisa ditangkep ya makin ribet deh urusannya
    next part soon

  2. Duuuuuh siapa sih anggota The Red Bullet yg nyamar jadi polisi?
    pasti… Seokjin dijebak kan sekarang? Karena di membebaskan Hoseok dan di TKP dia sama Hoseok, jadi keliatannya dia anggota The Red Bullet yg nyamar. Iya kan? Aiih ><

    lanjuuuuuuuuuuut
    ditunggu banget kelanjutannya
    hwaiting! ^^

  3. haduuuu itu siapa si penghianat????!!
    j-hope ihiw makin tampan aja kalo baik giduuu~
    ditunggu next nya;)

  4. Aiiiiish kayanya sih bukan mino deh mata2nya soalnya author pasti pengen ngasih kejutan
    Tapi kalo Mark hadeuuuh dia bias aku nih kaga mau dia jahat
    Jinwoo kayanya bkn, soalnya s penyamar bilang ada polisi yg menggagalkan rencananya membunuh j-hope, dan orang yg nyelametin j-hope itu jinwoo kan?
    Ah Mark yaaa penyusupnya -_-
    Next part soon

  5. Plz Suga sadis banget beuh, bahkan sama Namjoon yang udah di anggep sebagai adik._.
    J-hope jadi baik ya? iyasih mukanya gak cocok jadi muka-muka kriminal wkwk.
    Jungkook udah dipindahin/? yah usahanya Jin yang panjang/? bakal sia-sia gak ya ;A;
    siapa sih anggota TRB yang ngeracuni J-hope? Jinwoo ya? atau Mino? ;A;
    Penasaran! berhubung udah ada kelanjutannya._. aku lanjut baca ya thor~

    • Iya. Suga jahatnya jahat/? deh di sini… heheh *dihajar pens Suga Ho oh. Hope jadi baik.  Dan iya, Jungkook udah dipindahin. Baca next chap.

      Makasih udh RC^^

      Terkirim dari Samsung Mobile

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s