GO BACK [2SHOOT]

Go Back

by selvs

Genre : Drama | Rate : General | Type : Twoshoot | Main Cast : JYJ’s Jaejoong & T-Ara’s Jiyeon | Support Cast : 4Minute’s Jihyun & ZE;A’s Siwan

Disclaimer : Inspired by Music Video Return by Lee Seunggi & Introduction of Arsitecture(2013)

I even still think that words ‘I love you?’

 

 Go Back

“Tidak, tidak, aku tidak mau—“

Aku menggelengkan kepalaku spontan ketika pernyataan itu keluar dari mulut Jihyun. Gadis itu bergidik, air wajahnya kali ini terlihat agak tidak mengenakan. Dan aku tahu ini karna dia kecewa.

“Ayolah, hanya menjadi wali-ku, aku cukup mengenalnya,” Jihyun yang kala itu memakai sweather rajutan berwarna merah tua meraih telapak tanganku manja. Sejujurnya aku tidak tega melihatnya memohon seperti itu tetapi apa boleh buat, apa yang baru saja dia katakan cukup membuatku melontarkan penolakan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Aku menggenggam tangannya sembari menyunggingkan sebuah senyuman yang entah terlihat manis atau tidak “Kau bisa meminta Hyuna kalau mau,” Kataku lembut.

Untuk sesaat Jihyun hanya diam, kemudian perlahan tangannya yang berada di genggaman tanganku longgar hingga dia membiarkan tangannya terlepas dari genggamanku “Aku tidak mau,”

Aku mengangkat tangaku dan menarunya di atas kepalanya “Tolonglah, aku menyetujui siapapun kecuali Jung Seonsaengnim—“ Kataku lagi sambil menggelu-elus kepalanya.

Jihyun mendongak, menatap tajam kearahku kemudian menggeleng lemah “Tidak, tidak ada satupun yang pantas menjadi waliku selain dirinya,”

Aku menurunkan tanganku kecewa “Baiklah, tetapi kita jangan menemuinya di sekolahku. Kau tahu rumahnya—kan?

Jihyun menggeleng “Selama ini kami hanya bertemu di taman belakang sekolahmu, dia tidak pernah membawaku untuk kerumahnya.” Jihyun memandang keluar jendela, lurus melewati bahuku kemudian tersenyum, mengingat masa-masa indah dirinya bersama Jung Seonsaengnim yang sering ia ceritakan kepadaku.

“Kalau begitu bisakah kalau aku tidak ikut?”

“Kau harus ikut, aku tidak mungkin pergi seorang diri. Apa kesan yang aku dapat kalau calon suamiku tidak ikut? Bukankan aku terlihat seperti seorang calon pengantin yang tidak bahagia?“

***

 

Musim Panas 2002

Lelaki itu menatap jam dinding yang tergantung tepat di atas papan tulis bewarna hijau yang penuh dengan coretan rumus-rumus Fisika bekas pelajaran Kim Seonsaengnim—guru fisika mereka. Waktu menunjukan pukul 2 siang, masih sekitar 3 jam lagi Bel pulang berbunyi tetapi mood-nya untuk belajar sama sekali telah habis. Matanya beranjak ke sesosok gadis berambut panjang yang duduk di barisan paling depan tempatnya duduk.dia tidak tahu persis siapa namanya tetapi menurut wali kelasnya gadis itu berasal dari sebuah kota di Propinsi Chungcheong Selatan, entah apa nama kotanya yang jelas dia baru saja datang dari sana dan bersekolah disini sejak 2 hari yang lalu.

“Jung Seonsaengnim! semua diam, Jung Seonsaengnim datang—“ Lelaki itu masih memperhatikan gadis yang sejak tadi sibuk menulis bahkan ketika guru Bahasa Koreanya, Jung Seonsaengnim datang.

Pria berkacamata itu mengedarkan pandangannya, memandang beberapa siswa yang tampak tegang, yang berpura pura sibuk dengan membuka buku catatan mereka, atau beberapa yang sibuk dengan urusan yang tidak berhubungan dengan mata pelajaran Bahasa Korea kala itu.

“Bajumu!“ Bisik Junsu yang duduk tepat di sebelah kiri Jaejoong, namun nampaknya lelaki itu benar-benar telah terbius dengan sosok misterius yang duduk di sana .

“Kim Jaejoong?“

“Ya?” Jaejoong terkejut setengah mati mendengar suara Jung Seonsaengnim yang kini sudah berdiri di hadapannya.

 

***

Angin musim dingin membawa laju mobilku memasuki sebuah perkarangan luas yang berujung pada sebuah gedung sekolah tua dengan tembok-tembok bata yang tidak di cat. Aku dan Jihyun mengedarkan pandangan mencari sosok yang kucari. Suasana disini memang tidak berubah, kecuali beberapa pohon yang terlihat menjulang dan membuat suasana rindang menyelimuti tempat ini.

Aku menoleh kearah Jihyun yang sedang sibuk dengan ponselnya “Bagaimana?”

Gadis itu mendongak “Aku sedang berusaha  menelponnya,“ Jihyun berjalan membelakangiku kemudian mendengus kesal sambil mengangkat tinggi-tinggi ponselnya “Aisssh, kenapa sinyal disini buruk sekali?”

Aku kembali mengedarkan pandangan sembari menunggu kabar dari Jung Seonsaengnim yang sedang berusaha dihubungi oleh Jihyun. Mataku mendapati sebuah bangku taman di bawah rindangnya pohon Mapel Jepang yang daunya mulai mengering. Kemudian suara seorang gadis terdengar, memutar memoriku yang sudah lama tidak mengingatnya.

“Ini musim dingin, Jadi kau tidak perlu takut untuk kepanasan. Pelanggaranmu juga akan sedikit berkurang…”

Aku mendongakkan kepala menatap langit yang cukup cerah walau sesekali Hujan salju masih saja turun. Sudah berapa lama aku tidak ketempat ini? Mungkin 7 tahun? 12 tahun? Entahlah. Aku mengalihkan pandangan menatap sebuah pintu kaca yang ada di sisi gedung. Arsitektur gedung sekolahnya sudah sedikit dirubah, mungkin pintu kayu bukan lagi tren dimasa ini.

Aku berdiri dan berjalan mendekat tetapi tiba-tiba sosok gadis berambut panjang, terlihat dipengelihatanku, menatapku sembari tersenyum.

***

Jaejoong menatap langit cerah musim Panas dengan mata yang sedikit berair. Diatas sebuah bangku taman, lelaki itu mengeratkan pegangannnya. Seragamnya tampak kusut sore itu. Suasana hatinya juga sangat buruk setelah mendapat point atas pelanggaran yang dia buat. Tentang hal konyol seperti harus memasukkan ujung kemeja kedalam celana atau memakai ikat pinggang.

Jaejoong tidak begitu menyukai cuaca panas, ia tak tahan jika harus berpanas-panasan atau memakai pakaian yang rapih karna keringatnya pasti akan mengucur deras sekali sehingga bajunya basah. Jika saja sekolahnya mengizinkannya untuk bisa bertelanjang dada di Musim panas mungkin ia bisa sedikit lebih menghargai peraturan sekolahnya tetapi rasanya mustahil menemukan sekolah yang mempunya peraturan semacam itu. Dan maka dari itulah, setiap musim panas sebelum liburan, dia selalu mendapatkan point karna tidak memasukkan baju atau apapun yang berhubungan dengan seragam yang dia kenakan.

“Sedang apa kau disini?”

Jaejoong menoleh ketika mendapati suara lembut milik seorang gadis terdengar. Murid baru, gadis itu tersenyum dengan tangan yang memegang 2 botol air yang berembun karna uap dingin, lalu disodorkannya satu kearah Jaejoong kemudian disambut oleh lelaki itu dengan senyuman .

“Tidak, aku hanya merasa lelah.”

Gadis itu membalas senyumannya kemudian duduk tepat disamping Jaejoong, mendongak menatap langit seperti yang dilakukan Jaejoong sebelumnya.

“Lelah? Karna pelanggaran? Aku juga tidak menyukai musim panas.” Katanya tanpa melepaskan senyumannya .

Jaejoong menoleh heran, gadis itu seakan bisa menerewang isi otaknya “Bagaimana kau tahu?”

“Apa itu penting? Musim dingin jauh lebih baik dari musim panas, semua orang tahu itu—“

Lelaki itu kembali tersenyum dan kembali menatap langit sore “Ah, kau benar.“

“Jadi—siapa namamu?” Gadis itu menoleh.

“Jaejoong, Kim Jaejoong.” Jaejoong kembali menatap gadis itu “Dan kau?”

“Park Jiyeon.”

 

***

 

Jiyeon, entah ini mimpi atau nyata tetapi gadis itu benar-benar sedang tersenyum kearahku. Aku berusaha berjalan mendekatinya. Kendati suara panggilan yang dilontarkan Jihyun sudah terdengar tetapi aku tidak peduli dan hanya berjalan mendekati Jiyeon yang masih berdiri di ambang pintu masuk gedung sekolah .

“Jaejoong-ah,” Aku menoleh ketika tiba-tiba Jihyun menarik lenganku paksa “Jung Seonsaengnim, dia sudah menunggu didalam.”

Aku mengangguk sekilas kemudian beralih lagi kearah pintu masuk gedung namun gadis itu sudah tidak ada.

***

“Jadi—Kau ingin aku menjadi walimu saat upacara pernikahan kalian?” Pria berkacamata itu mendelik.

Jihyun mengangguk semangat, aku bisa melihat dari wajahnya kalau bertemu dengan Jung Seonsaengnim yang katanya adalah guru spiritual sejak dirinya menginjak bangku SMA membuatnya senang. Aku tidak yakin ini takdir atau hanya kebetulan, tetapi dia sangat senang karna ternyata Jung Seonsaengnim adalah guruku juga saat duduk di bangku SMA .

“Aku mohon, kau tahu bukan kalau kedua orang tuaku sudah tidak ada—“

Pria itu membetulkan bingkai kacamatanya yang merosot turun kemudian meneliksik raut wajahku yang tampak datar-datar saja “Apa ini benar benar Kim Jaejoong?”

Aku mendelik kaget “Apa?”

“Ya, tentu saja pria ini adalah Kim Jaejoong.” Jihyun meraih telapak tanganku kemudian menunjukan cincin pertunangan kami yang menyelip di jari manis masing-masing kearahnya “Kau lihat, kami sudah pacaran lebih dari 5 tahun.”

“Apa?” Pria itu menatapku tajam “Kukira kau telah menjalin hubungan dengan Park Jiyeon,”

“Apa? Park Jiyeon?”

***

“Kau lihat ekspresinya tadi?” Gadis itu tertawa lepas ketika dia dan Jaejoong berhasil memanjat tembok sekolah yang tinggi sekali “Dia seperti, pamanku ketika marah. Matanya akan melotot dan urat urat matanya akan terlihat memerah.” Jiyeon memperaktekan apa yang dia ucapkan .

Jaejoong tertawa geli “Bodoh! Kau jelek sekali ketika meperaktekan itu.” Katanya .

Jiyeon mendelik “Benarkah?” Tanyanya kecewa, Gadis itu memegang pipinya yang merona lalu mengusapnya pelan “Ah, bagaimana ini? Jaejoong mengataiku jelek, ibu bagaimana ini?”

Mereka berdua kembali tertawa lepas ketika Jiyeon memasang raut wajah yang dibuat-buat layaknya anak kecil “Hentikan Jiyeon, Kau akan semakin jelek kalau seperti itu—“

“Benarkah? Benarkah?” Katanya sambil melangkah mendekati Jaejoong hingga jarak antara wajah mereka terpaut dekat sekali.

Jaejoong mendelik kemudian mengalihkan pandangannya gugup “Apa yang kau lakukan?” Kekehnya.

Jiyeon kembali tertawa “Hey, ada apa denganmu?”

“Lebih baik kita pergi dari sini sebelum Jung Seonsaengnim menangkap kita.” Lelaki itu meraih lengan Jiyeon kemudian pergi dari tempat itu dengan senyuman yang semringah.

 

***

 

Aku bisa merasakan tatapan yang Jihyun dan Jung Seonsaengnim arahkan kepadaku Pria paruh baya itu seharusnya tidak perlu menanyakan tentang Jiyeon di depan Jihyun, penjelasan apa yang harus kujelaskan nantinya ketika dia bertanya?

“Jadi—“ Jung Seonsaengnim menautkan alisnya “Kau ingat bukan?”

Aku menoleh gugup kemudian mengangguk samar dengan sedikit senyuman “Kau ingat? Lalu siapa Park Jiyeon? Mengapa aku tidak tahu tentang hal ini?” Jihyun meraih bahuku sambil sedikit mencondongkan badannya.

Aku menggeleng cemas “Ini bukan hal penting,” Kali ini aku benar benar bingung .

Jihyun mendengus kamudian melepaskan tangannya di bahuku “Cinta pertama? Atau—“

“Dia sering bolos sekolah bersama Jiyeon,” Kata-kata Jung Seonsaengnim memotong apa yang akan Jihyun katakan.

Aku menghela nafas, pria paruh baya itu membantuku dan aku cepat cepat mengangguk “Dia temanku, teman ketika mendapat pelanggaran.”

Jung Seonsaengnim memukul dahiku gemas dan akupun meringis kesakitan, apa yang dia lakukan? “Hal buruk seperti itupun masih kau ingat, jadi bagaimana mungkin kau tidak mengingat Park Jiyeon, gadis yang terpengaruh olehmu?” Katanya sembari mengangkat tinggi tinggi dagunya.

Jihyun mendelik, Jung seonsaengnim kembali salah bicara, aku bisa melihat jelas dari ekspresinya, dia berusaha melindungiku “Pengaruh?”

Jung Seonsaengnim mengangguk mantap “Benar, Jaejoong sangat suka membolos dan mengenakan seragam yang tidak rapih saat musim panas dan hobinya itu menular ke Park Jiyeon. Dia punya teman saat harus dipanggil keruang guru karna berbagai pelanggaran.” Katanya dengan jari telunjuk yang terus-menerus menunjuk kearahku .

Aku mendelik “Apa?” Kataku pura pura terkejut .

“Hey—Aku bahkan masih menyimpan buku catatan pelanggaranmu Kim Jaejoong,” Katanya.

Jihyun tertawa “Kalian sungguh membuatku tertawa,” Katanya kemudian menutup mulutnya berusaha menahan tawanya yang pecah.

Jung Seonsaengnim ikut tertawa “Kalau kau melihat cara berpakaiannya dimusim panas, kau pasti akan tertawa terbahak bahak.” Kini telunjuknya menunjuk-nunjuk kearah Jihyun.

Aku mendengus kesal “Apa apaan ini?”

Jihyun meraih tangaku cepat lalu digenggamnya kemudian diangkat tepat di depan mata Jung Seonsaengnim dengan bangga “Jadi, apa kau akan menjadi waliku?”

Jung Seonsaengnim merubah ekspresinya yang sebelumnya ceria menjadi ekspresi datar, suasana berubah tegang “Apa?” Pria paruh baya itu menggaruk tengkuknya “Bagaimana ya—”

“Ayolah—“ Pinta Jihyun dengan raut wajah memelas.

“Baiklah, tetapi ada satu syarat yang harus kau penuhi,”

***

Musim Dingin 2002

“Ini musim dingin, Jadi kau tidak perlu takut untuk kepanasan. Pelanggaranmu juga akan sedikit berkurang…”

Jiyeon menempelkan telapak tangannya diatas kepala Jaejoong sambil tersenyum. Lelaki yang duduk di sampingnya hanya tersenyum, kemudian kembali menikmati perjalanan menuju sekolah yang ditempuh dengan Bis pagi itu.

“Ah—Kurasa….”

Jiyeon mendelik “Apa?” Tanyanya penasaran.

Jaejoong kembali menoleh dengan senyum nakalnya “Kau harus membelikanku sweather hangat nona Park,” Katanya.

Jiyeon mendengus kesal, menautkan kedua alisnya kemudian melipat kedua tangannya di dada “Apa pentingnya?”

“Kalau tidak, aku akan melanggar peraturan lagi!” Nada bicaranya terdengar mengancam.

“Coba saja, aku tidak yakin kau akan benar benar melakukan itu!” Katanya seakan tidak peduli.

Jaejoong mendelik kesal kemudian sedikit menggeser posisi duduknya “Jangan mendekatiku kalau begitu,”

Jiyeon tertawa geli sekali, gadis itu sangat suka melihat ekspresi kesal yang di perlihatkan Jaejoong ketika dia marah “Jangan merajuk seperti itu, kau sangat cantik jika marah, aku jadi iri.” Ejeknya tanpa melepas tawanya .

Jaejoong kembali mendekatkan posisi duduknya ke Jiyeon kemudian mendekatkan bibirnya ketelinga Jiyeon “Tetapi, apa kapan kapan aku boleh bermain kerumahmu? Kau bilang ibumu adalah seorang koki?”

Jiyeon mendelik “A-apa?” Tanyanya sedikit terkejut.

Jaejoong menatap dalam mata Jiyeon “Aku hanya sekedar ingin tahu dimana rumahmu, bukankah kita teman? Kalau bisa sih—aku ingin mencoba masakan ibumu,” Kata Jaejoong kembali dengan nada nakal.

Jiyeon mengalihkan pandangannya kemudian menjawab gugup “B-baiklah,” Kekehnya dengan sedikit mengangguk.

 

***

Entah apa tujuan Jung Seonsaengnim, tetapi aku yakin kalau apa yang dia lakukan hanya sekedar formalitas tidak ada maksud lain. Pria paruh baya itu membawa kami kerumahnya sebagai syarat. Aku tidak cukup heran mengingat selama ini kami tidak pernah tau dimana tempat tinggalnya tetapi apa ini syarat yang masuk akal? Jihyun menawarkan diri membantu Nyonya Jung untuk membuat makan malam dan Nyonya Jung terlihat cukup antusias menerima tawaran yang Jihyun berikan, walau sebenarnya Jihyun tidak pernah bisa memasak.

Selama menunggu mereka membuat makan malam, aku dan Jung Seonsaengnim duduk di balkon rumahnya yang setengah bergaya hanok dengan lantai kayu jati yang hangat. Kami berdua duduk menyender pada tembok rumahnya yang juga terbuat dari kayu jati sembari mendongak, memandang langit sore yang mulai menggelap.

“Jadi,” Ucap Jung Seonsaengnim memecah keheningan, aku menoleh kearahnya dengan alis yang tertaut sempurna “Dimana gadis itu?”

Aku mengalihkan pandangan kembali memandang langit sore dengan ekspresi datar “Tidak tahu,” Kataku singkat.

Jung Seosaengnim mendengus dan bisa kurasakan pria itu memandangku sekilas sebelum akhirnya kembali menatap langit “Kim Jaejoong—” Katanya sembari menghela nafas berat “Apa aku yang jauh lebih tahu darimu?”

Aku mengerutkan dahi, tidak begitu mengerti dengan apa yang baru saja dia katakana “Apa maksudmu?” Tanyaku kembali sambil menoleh ke arahnya.

“Jadi kau sama sekali tidak mengetahuinya?” Aku menggeleng kemudian Jung Seonsaengnim kembali berbicara “Gadis itu pindah ke Amerika setelah kau pindah ke Seoul.”

Aku mendelik setengah terkejut “Apa?”

Jung Seonsaengnim akhirnya menoleh, pria itu terenyum simpul sementara air mukanya sangat susah untuk bisa ditebak “Kau tidak tahu.”

***

 

“Maaf, aku tidak bisa.”

Jaejoong meremas ujung kemejanya, masih menggenggam gagang telepon..

“Kenapa?” Tanyanya pelan.

Gadis yang mendengar diseberang sana hanya diam tetapi Jaejoong bisa mendengar deru nafasnya yang gugup, setelah beberapa detik Jiyeon diam, gadis itu akhirnya menjawab “Keluargaku,”

“Keluargamu kenapa?”

“Melarangku untuk bertemu dengamu,”

“Apa?” Jaejoong terkejut, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja Jiyeon katakan.

“Maafkan aku, tetapi aku benar benar tidak bisa—“

Jaejoong menutup sambungan teleponnya secara sepihak, lelaki itu tidak mengerti dengan apa yang baru saja Jiyeon katakan. Apa karna Jaejoong memberi pengaruh buruk kepada Jiyeon? Apa karna Jiyeon sering mendapat point pelanggaran ketika bergaul dengannya? Entahlah, Lelaki itu tidak terlalu peduli dengan semua alasan itu. Yang dia bingungkan hanya satu, mengapa perasaan dan sikapnya menjadi aneh begini? Kenapa dia harus merasa marah dan menutup sambungan telponnya?

***

“Ayahnya meninggal dunia,”

Aku mendelik, meninggal dunia? Aku tidak tahu bagaimana perasaanku kali ini ketika mendengar apa yang baru saja Jung Seonsaengnim katakan, tetapi aku tidak salah dengar bukan?

“Dan dihari terakhir kau masuk sekolah sebelum pindah ke Seoul, dia menitipkan pesan padaku,”

Aku terus menatap dalam-dalam mata milik pria paruh baya yang duduk disampingku dengan rasa penasaran yang sudah mencapai ubun-ubun “Apa itu?”

Jung Seonsaengnim tersenyum samar “Katanya dia minta maaf karna telah membohongimu,”

Aku tertawa tanpa sebab, tertawa dan tertawa sampai air mataku menetes saking gelinya tertawa. Aku tidak tahu apa sebenarnya aku senang atau terkejut atau apalah tetapi kali ini perasaan yang dulu sempat mengusikku datang kembali dan kali ini jauh lebih besar. Kali ini bahkan sampai membuatku menangis? Aku menangis saat tertawa?

“Kim Jaejoong, apa kau tidak apa apa?” Tanya Jung Seonsaengnim dengan nada cemas. Aku mengusap air mata yang tadi mengalir melewati tulang pipiku kemudian tersenyum simpul.

“tidak apa-apa,” Jawabku sambil mengibaskan tangan.

“Ada satu hal lagi yang harus kau ketahui,” Pria itu kembali menatapku dalam.

“Katakanlah.”

Jung Seosaengnim menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum menjawab “Kemarin Park Jiyeon juga mendatangiku,”

“Apa?”

“Dia datang mencarimu,”

 

To Be Continue

Note : ff ini adalah ff refisi yang dulu pernah aku share, happy reading! tulisan miring = flashback

Advertisements

4 thoughts on “GO BACK [2SHOOT]

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s