(THE RED BULLET) BROTHER [Chap. 6-END]

TRB-BROTHER-NEW

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-15||Length: Chaptered||Genre: Action-Crime, Family||Main Characters: (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) Rapmon/Namjoon, (BTS) Jungkook & (BTS) Suga/Yoongi||Additional Characters: (Winner) Mino, (Winner) Jinwoo, (Got7) Mark & (Got7) Yugyeom||Disclaimer: I own nothing but storyline||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s). Ada scene yang terinspirasi dari film The Call.

Prolog | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 >> 6-END

HAPPY READING \(^O^)/

“SIAL! JADI TRANSAKSI MALAM INI GAGAL, HAH?”

“Begitulah, Hyung. Aku tidak tahu siapa yang membocorkan informasi trnsaksi ini pada polisi. Mereka nyaris menangkap kami.Tapi, sepertinya para polisi itu berhasil menangkap laki-laki itu.”

“APA? SIAL! Lalu, dimana kau dan Yugyeom sekarang?”

“Dalam perjalanan pulang.”

“Baiklah.”

“Ngomong-ngomong, aku membawakan sesuatu untukmu, Hyung.”

“Apa?”

Hyung akan tahu begitu aku dan Yugyeom tiba.”

Rapmon memutuskan panggilannya setelah ia memberitahu Suga bahwa transaksi narkoba Yugyeom dengan seseorang gagal karena adanya beberapa orang polisi. Lelaki itu bersandar pada sandaran jok, memandang keluar jendela, melihat deretan bangunan-bangunan toko yang nampak berkelebat di bawah cahaya lampu jalan.

“Sebenarnya dia siapa, Hyung?”

Rapmon menoleh dan mendapati Yugyeom yang berada di sebelahnya, melihat ke arahnya. “Laki-laki yang di bagasi mobil, hm?”

“Tentu saja,” sahut Yugyeom cepat. “Memangnya siapa lagi?”

Decihan samar terdengar dari Rapmon. “Dia kakak Jungkook,” jawab Rapmon. Sejurus kemudian, ia kembali mengalihkan wajahnya ke arah jendela.

“Benarkah?” Yugyeom agak terkejut. “Bagaimana kau bisa tahu kalau dia… kakak Jungkook?” tanya Yugyeom yang terlanjur penasaran.

Rapmon membiarkan pertanyaan itu tidak terjawab dan tetap memilih memandang apa yang berada di luar jendela. Tidak peduli terkadang cahaya lampu jalan yang terbias membuatnya silau. Untuk saat ini, dia… tidak mau membahas tentang lelaki yang berada di bagasi mobil.

@@@@@

Waktu telah menunjuk pukul 11.54 tengah malam ketika 2 mobil polisi dan 1 ambulans terparkir di depan sebuah lorong sempit. Beberapa polisi yang berpakaian biasa tampak menggiring 2 orang laki-laki keluar dari lorong sempit itu, lengkap dengan borgol yang melingkar di pergelangan tangan masing-masing laki-laki itu.

Beberapa saat lalu, Mark, Jinwoo dan Mino berhasil membekuk 2 orang pengedar narkoba yang mereka curigai bekerja sama dengan organisasi The Red Bullet. Memang terbukti benar, sayangnya… anggota The Red Bullet itu berhasil kabur dengan teman-temannya.

“Bawa mereka ke sel dan segera buat laporan untuk penangakapan ini,” perintah Mark kepada salah seorang polisi yang menggiring 2 orang pengedar narkoba itu.

“Siap!”

Dan, 2 mobil polisi itu pun beranjak dari lokasi.

Tidak lama, Mark berjalan menghampiri Jinwoo yang sedang diobati di dalam mobil ambulans. Perkelahian yang tidak bisa dihindari saat pembekukan itu membuat telapak tangan Jinwoo tertikam pisau lipat milik salah satu pengedar. Beruntung, Mark dan Mino hanya menderita luka lebam di beberapa bagian wajah. Tidak begitu parah.

“Bagaimana keadaanmu?” Mark duduk di sebelah Jinwoo yang telapak tangan kanannya sedang dililit perban oleh seorang mantra.

Jinwoo menoleh ke arah Mark, memaksakan senyum muncul di wajahnya, lantas berkata, “Sedikit lebih baik dari sebelumya.”

Mark melihat-lihat sekitar, kemudian menyadari sesuatu. “Dimana Mino dan Seokjin?”

“Mino kembali ke pub untuk mencari Seokjin. Apa kau tidak sadar hanya kita bertiga yang mengejar pengedar itu, hah?”

Mark tertegun. Ya, memang hanya dirinya, Mino dan Jinwoo yang mengejar kedua pengedar itu. Dan, dia baru sadar bahwa Seokjin tidak ada bersama mereka. Ah, ya, bukankah tadi Seokjin sedang berada toilet saat kejadian itu?!

“Ah, itu Mino. Dia sudah kembali,” seru Jinwoo, melihat Mino yang berjalan menghampiri ia dan Mark dari kejauhan.

“Dimana Seokjin? Kau tidak menemukannya, hah?” tanya Mark begitu Mino berdiri di hadapannya seorang diri.

Mino menggeleng. “Dia tidak ada di sana. Kata beberapa orang yang aku tanyai, Seokjin terlihat berlari keluar dari club di saat kita mengejar pengedar itu. Kupikir dia ingin membantu mengejar.”

“Tapi, kenapa dia tidak ada?” gumam Mark bingung.

Mino menggidikkan bahunya.

“Apa kalian sudah mencoba menghubungi ponselnya?” tanya Mark lagi.

“Sudah,” Mino menyahut, “tapi, tidak dijawab.”

“Aneh. Tidak biasanya dia seperti ini selama menjadi bagian dari tim,” kata Jinwoo. Telapak tangannya kini telah diperban dengan baik. “Apa mungkin…” Dia menoleh ke arah Mark.

“Apa?” Mark yang menyadari pandangan Jinwoo padanya, balas menoleh dan bertanya.

Jinwoo menghela napas pelan. “Kupikir kau tahu maksudku. Bukankah… malam ini, pengedar yang kita kejar adalah pengedar yang biasanya bekerja sama dengan organisasi The Red Bullet? Bisa jadi Seokjin mengejar anggota The Red Bullet itu,” jelas Jinwoo, memandang Mino dan Mark bergantian.

Mark menghela napas panjang. “Baiklah. Aku akan mengecek Seokjin di rumahnya lebih dulu,” ujar Mark. “Mino-ya, kau yang antar Jinwoo pulang. Oke?”

Mino mengangguk. “Baiklah. Beritahu kami apakah Seokjin ada atau tidak ada di rumahnya,” pesan Mino.

“Aku mengerti,” sahut Mark. “Aku duluan.”

Dan, Mark pun beranjak menuju tempat dimana ia memarkir mobilnya. Melajukan mobilnya cukup kencang di badan jalan yang tida begitu ramai. Semoga saja Seokjin memang berada di rumahnya.

@@@@@

Guncangan yang agak keras ketika sedan hitam itu melintas di atas jalan berlubang membuat Seokjin tersadar. Ia membuka kedua matanya, namun yang ia dapati hanya kegelapan yang sedikit disinari cahaya merah kejinggaan yang sejajar dengan kepala dan kakinya di bawah sana.

“Ini dimana?” gumam Seokjin pelan.

Ia mencoba untuk meluruskan lututnya yang terlipat hingga menyentuh dadanya, tapi ruang geraknya terbatas. Mencoba untuk mengambil posisi duduk, namun kepalanya membentur sesuatu di saat ia baru menggerakkan sedikit tubuhnya. Deru mesin, getaran-getaran yang menjalan ke sekujur tubuhnya, ruang yang sempit dan lampu merah kejinggan di 2 sudut membuat Seokjin yakin dirinya berada di dalam sebuah bagasi mobil.

Pelan-pelan, ingatannya melayang ke kejadian terakhir yang bisa diingatnya. Sebuah sedan hitam menghadangnya, ada Namjoon di dalam mobil itu dan… ada seseorang yang membekap hidungnya dari belakang. Apa mungkin—AH! TIDAK! AKU PASTI BERADA DI DALAM MOBIL NAMJOON!

Seokjin berusaha merogoh saku belakang untuk mengambil ponselnya. Cukup beruntung, Rapmon tidak mengikat kedua tangannya. Agak sulit ia mengambil ponselnya karena ruang geraknya yang terbatas, namun setelah beberapa menit, ia berhasil.

Ada tulisan 4 panggilan tidak terjawab dari Mino begitu Seokjin menghidupkan layar ponselnya. Ah, mereka pasti mencariku. Sejurus kemudian, Seokjin menghubungi kembali ponsel Mino. Ayo, Mino, jawab teleponku.

Beberapa kali Seokjin mencoba menghubungi Mino, tetapi lelaki itu tidak menjawab panggilannya. Aish! Apa yang dilakukannya, hah?

Lelaki itu kemudian mencoba menghubungi Jinwoo, tapi… hasilnya jauh lebih parah dari Mino.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silakan hubu—”

Seokjin langsung memutuskan panggilannya begitu suara operator yang terdengar. Ia mendecak sebal. Kenapa di saat-saat seperti ini malah tidak ada yang menjawab panggilannya? Apa mereka semua sudah tidur, hah?

Satu-satunya harapan, Seokjin menghubungi Mark. “Jawab panggilanku, Mark. Kau satu-satunya yang aku harapkan sekarang,” gumam Seokjin sembari menunggu panggilannya dijawab oleh Mark.

Lelaki itu benar-benar ingin berteriak kesal, namun tepat di saat itu…

“Seokjin-ah?” Suara Mark terdengar.

“Mark-ah! Mark-ah!” panik Seokjin. “Syukurlah kau menjawab teleponku.”

“Kau dimana, hah? Kami mencarimu dari tadi? Aku sedang dalam perjalanan menuju rumahmu sekarang,” Seokjin bisa mendengar tersirat sedikit kecemasan pada nada suara Jinwoo.

“Aku diculik.”

“Apa?”

“Aku diculik, Mark-ah. The Red Bullet. Mereka menculikku. Sekarang aku berada di dalam bagasi mobil. Mereka membawaku ke suatu tempat. Mungkin ke tempat Jungkook disekap. Sekarang apa yang harus aku lakukan?”

Ada jeda sejenak sebelum akhirnya Mark bertanya balik, “Apa kau tahu jenis mobil mereka, hah?”

“Y-ya,” sahut Seokjin yang kemudian menyebutkan merk sedan dari orang yang menculiknya.

“Kau melihat lampu belakang mobilnya, kan?” tanya Mark memastikan.

“Iya, iya,” jawab Seokjin cepat.

“Apa kau bisa melepaskan kap lampu itu, hah?”

“Aku tidak punya alat untuk melepaskan kap lampu itu, Mark-ah. Tidak apa-apa di dalam bagasi ini selain aku dan ponselku!”

“Kalau begitu dorong saja. Dorong sekuat tenagamu sampai kap lampu itu lepas!”

Seokjin menghela napas panjang. Hawa di dalam bagasi yang panas dan kepanikan yang melingkupinya sejak tadi membuatnya merasa kepanasan. Lelaki itu bisa merasakan bagian dada dan punggung pakaiannya terasa basah karena keringat.

“Baiklah, akan aku dorong sekarang.”

“Jangan matikan ponselmu. Aku berbalik menuju kantor kepolisian. Aku akan melacak posisimu begitu aku tiba di sana.”

“Aku mengerti.”

Lelaki di dalam bagasi itu meletakkan ponsel di dekat tubuhnya, kemudian menggunakan kedua tangannya untuk mendorong kap lampu yang sejajar dengan kepalanya. Seokjin mengerang, mengerahkan kekuatannya, tapi tidak berhasil membuat kap lampu itu bergerak sedikit pun pada percobaan pertama. Ia mencoba mendorong kap lampu itu lagi untuk kedua kalinya, namun… seiring dengan itu, ia merasakan laju mobil melambat, seperti akan berhenti.

“Mark-ah, Mark-ah, mobilnya berhenti. Mungkin sudah sampai di tempat tujuan. Aku akan menghubungimu lagi,” kata Seokjin buru-buru, kemudian menyembunyikan ponsel di balik punggungnya.

Mobil pun berhenti. Seokjin hanya diam sembari memikirkan apa yang sedang terjadi di luar. Apa sudah sampai, hah?

Namun, ia mendengar suara sesuatu. Suara air. Ah, apa mungkin mereka singgah untuk mengisi bensin?

Suara air itu pun tidak terdengar lagi. Tidak lama setelahnya, mobil pun kembali melaju. Seokjin bergegas menggerakkan tangannya meraba-raba permukaan bagasi di sisi tubuh untuk mencari ponselnya, berbicara dengan Mark kembali.

“Halo? Mark-ah? Kau masih di sana, hah? Mark Tuan?”

“Apa yang terjadi?” tanya Mark di seberang.

“Mereka baru saja mengisi bensin,” jawab Seokjin. “Sekarang mobilnya sudah melaju kembali.”

“Kalau begitu, lakukan apa yang aku katakan tadi. Dorong kap lampu mobilnya.”

Sekali lagi, Seokjin mendorong cap lampu itu sekuat tenaganya. Mobil yang sesekali bergerak membelok membuatnya cukup pusing, terlebih dengan posisinya yang kesempitan dan pengap. Lelah lebih cepat terasa.

“Bagaimana?” Terdengar Mark bertanya.

“Aku sedang berusaha, Mark-ah,” jawab Seokjin, lalu mengerang untuk mengerahkan seluruh kekuatannya yang tersisa dan…

“PLOP!”

“Sudah lepas, Mark-ah. Sudah lepas,” ucap Seokjin. Terselip kelegaan pada nada suaranya.

“Apa kau bisa melihat sesuatu di luar, hah? Cari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk kemana mereka membawamu!”

Seokjin mengikuti instruksi Mark. Mendekatkan wajahnya pada lubang yang tempat cap lampu mobil yang terlepas dan terjatuh di jalan. Melalui lubang yang kira-kira selebar ukuran jengkal kelima jarinya, Seokjin melihat apa yang baru saja dilewati oleh mobil. Sulit. Di luar gelap.

“Kau sudah melihat sesuatu, hah?” Suara Mark terdengar di speaker.

“Tidak,” Seokjin menyahut. “Terlalu gelap di luar, Mark-ah.”

Terdengar suara dengusan Mark.

Tidak lama, Seokjin melihat ada cahaya kekuningan dari kejauhan. Agak menyilaukan matanya karena beberapa kali cahaya kekuningan ini menyorot tepat ke arah wajahnya melalui lubang. Semakin cahaya itu mendekat, semakin Seokjin menyadari bahwa cahaya itu adalah lampu mobil.

“Aku melihat ada mobil di belakang mobil ini, Mark!” seru Seokjin.

“Benarkah? Lalu, apakah kau sudah melihat sesuatu?” tanya Mark lagi.

Sekali lagi Seokjin melihat ke luar. Cahaya lampu mobil di belakangnya cukup membantunya melihat apa yang ada di luar. “Aku tidak yakin, Mark-ah, tapi… ini seperti jalan yang biasa dilalui untuk menuju Daegu.”

“Daegu?”

“Ya. Sepertinya begitu.”

“Apa mobil itu masih ada di belakangmu?”

“Ya~”

“Julurkan tanganmu ke luar!” instruksi Mark.

“Apa?” Seokjin mengerutkan keningnya.

“Julurkan tanganmu melalui lubang itu! Pastikan pengemudi mobil itu melihat tanganmu, oke?”

Seokjin paham maksud Jinwoo. Bergegas ia menjulurkan tangan kanannya melalui lubang cap lampu, melambai-lambai pada seseorang yang berada di dalam mobil yang berada di belakangnya. Ah, semoga dia melihat tanganku. Tolonglah.

Seokjin melihat mobil di belakangnya itu berusaha menyalip mobil sedan ini, mungkin seseorang di balik mobil itu telah melihat tangan Seokjin. Mobil itu tidak lagi terlihat di belakang mobil sedan dan… beberapa saat kemudian, mobil sedan ini berhenti.

“Sepertinya dia melihatku, Mark-ah. Pengemudi itu melihatku!” beritahu Seokjin.

Entah apa yang terjadi di luar, Seokjin hanya mendengar keributan. Seseorang bertengkar dengan orang lainnya. Dan, sepersekian detik kemudian, ia mendengar suara perkelahian. Seseorang mengerang kesakitan di luar. Pengemudi itukah?

Seokjin panik. Mampus!

Suara keributan di luar tidak terdengar lagi, namun sesaat kemudian, kepanikan Seokjin bertambah begitu ia seseorang mengintip melalui lubang lampu. Pandangan mata mereka bertemu. Shit!

“BRENGSEK!”

Orang itu berteriak, kemudian membuka bagasi dengan kasar. Kap bagasi terangkat dan Seokjin mendapati seorang lelaki jangkung menatapnya tajam, seketika menarik Seokjin keluar dari bagasi dan…

“BUGH!”

… mengantam pipi kirinya dengan sebuah pukulan. Seokjin terhuyung. Sesaat ia menyadari, selain lelaki jangkung itu, ada 2 orang laki-laki lain yang berdiri di belakangnya—si laki-laki jangkung.

“KAU! BERANI-BERANINYA KAU MERUSAK MOBILKU!!!” teriak lelaki jangkung itu.

Seokjin mencoba melawan balik, mengayunkan pukulan ke arah lelaki jangkung itu, namun lelaki itu dengan mudah menahan serangan Seokjin dan langsung menyerang perut Seokjin dengan sebuah pukulan lagi. Polisi itu reflek membungkuk dan tepat di saat itu, si lelaki jangkung langsung menghantam leher Seokjin dengan pukulan sikunya.

Polisi itu jatuh tersungkur di atas aspal.

Pingsan.

@@@@@

Waktu telah menunjukkan pukul 4 pagi ketika suara yang cukup gaduh itu terdengar di gudang tempat anggota The Red Bullet berkumpul. Jungkook membuka matanya perlahan, melihat sekitar dan mendapati beberapa anggota The Red Bullet yang duduk di dekat meja, tempat bermain domino semalam berhasil terjaga karena suara berisik itu. Dari arah pintu, Jungkook melihat Rapmon berjalan bersama Yugyeom. Semalam, Suga memerintahkan kedua orang itu untuk melakukan transaksi dengan salah satu teman mereka di Seoul. Tapi, ada yang aneh.

Siapa orang yang diseret di belakang mereka, hah?

Aku… seperti mengenal pakaiannya.

Jungkook memicingkan matanya, ingin melihat dengan jelas wajah seseorang yang diseret ke hadapan Suga yang berdiri sambil berkacak pinggang. Astaga! A-apa aku tidak salah lihat?

“Siapa laki-laki yang kau bawa itu?” tanya Suga ketika Rapmon dan Yugyeom berdiri di sampingnya. Mata sipitnya memandang nista ke arah laki-laki yang sengaja dibuat berlutut di hadapannya.

Rapmon menyeringai. “Jeon Seokjin,” sahutnya, lalu menoleh ke arah Jungkook yang matanya telah membulat sempurna mendengar nama yang disebut agak kencang oleh Rapmon, “kakak Jeon Jungkook.”

HYUNG! SEOKJIN HYUNG! HEI! LEPASKAN, SEOKJIN HYUNG!” Jungkook meronta-ronta di kursinya.

Mendengar adiknya berteriak, Seokjin, menoleh dan… “JUNGKOOK-AH? JUNGKOOK-AH?”

Reflek Seokjin berlari ke arah Jungkook, namun…

“DOR!”

HYUNG!!!” pekik Jungkook, terkejut, ketika melihat Seokjin jatuh berlutut sekitar 4 kotak ubin di depannya.

Seokjin meringis. Sakit. Ia menoleh untuk melihat betisnya, ada lubang di celana jeans-nya, tembus ke dalam daging betis kirinya. Darah mulai merembes keluar membasahi bagian celana jeans di sekitar lubang peluru itu. Lelaki itu lantas melihat ke arah Suga yang dengan angkuh berjalan menghampirinya—diikuti Rapmon dan Yugyeom—setelah meniup moncong revolver-nya. Sebuah seringaian lebar menghiasi wajahnya.

“Maaf aku terpaksa harus membatalkan acara reuni adik-kakak ini,” ujar Suga, berjongkok di samping Seokjin dengan tangan kanan yang mencengkram pipi laki-laki itu, memaksa Seokjin melihat ke arahnya.

“Dasar brengsek!” umpat Seokjin di antara pipinya yang ditekan dengan sangat keras oleh Suga.

Suga mendecih. “Kau seharusnya berterima kasih, Jeon Seokjin-ssi. Adikku Rapmon masih berbaik hati membawamu ke sini untuk melihat adik kecilmu yang sialan ini sebelum aku dan adik-adikku menghabisi kalian berdua,” ujarnya. “Tapi…, aku ingin memastikan satu hal terlebih dulu padamu…” Suga membuat jeda, lantas melanjutkan, “apa kau dan teman-teman polisimu sudah melihat video itu, hah?”

Seokjin terdiam, berpikir sejenak. Berpura-pura tidak tahu tentang video itu pasti akan sangat memperburuk keadaan. Tapi, jika mengatakan yang sebenarnya, mungkin…

“KENAPA KAU DIAM SAJA? AKU BERTANYA PADAMU, OPSIR JEON SEOKJIN, APA KAU SUDAH MELIHAT VIDEO YANG DIREKAM OLEH ADIKMU ITU, HAH?” Suga berteriak tepat di depan wajahnya.

“Ya. Aku sudah melihatnya,” sahut Seokjin.

“Cih!” Suga menghentakkan wajah Seokjin ke kiri seiring ia melepas tangannya dari pipi laki-laki itu. Tidak lama, ia berdiri dan mengacungkan moncong revolver-nya ke arah Seokjin.

“TIDAK! JANGAN! AKU MOHON PADAMU, JANGAN TEMBAK SEOKJIN HYUNG!!!” Jungkook yang melihat adegan itu langsung memekik sekali lagi. “DIA TIDAK TAHU APA-APA! KALAU KALIAN MAU MEMBUNUH SESEORANG, BUNUH AKU SAJA! AKU! AKU YANG MEREKAM VIDEO ITU! AKU YANG SALAH! BUNUH AKU SAJA!!!”

Samar-samar, suara tawa Suga terdengar, namun tidak lama, suara tawanya semakin terdengar jelas. “Astaga! Apa kalian berdua sedang bermain drama atau apa, hah?” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berusaha meredam tawanya. Adegan barusan sungguh sangat lucu baginya. “Kau dengar itu, Jeon Seokjin? Adikmu memohon-mohon agar aku tidak membunuhmu!” lanjutnya seraya menurunkan tangannya yang mencondongkan revolver ke arah Seokjin. Ia lantas menoleh ke arah Jungkook. “Well, sebenarnya, kalian berdua akan aku bunuh, hanya perlu memutuskan apakah aku akan membunuh Seokjin atau… kau duluan, Jeon Jungkook. Tadinya, aku ingin membunuh kakakmu lebih dulu, tapi…” Suga berjalan ke arah Jungkook sambil berkata, “sepertinya aku berubah pikiran.”

“Kau…” gumam Jungkook geram, menatap tajam Suga yang telah berdiri di hadapannya. Kedua tangannya terkepal erat.

“Kenapa, Jungkook-ssi? Apa sekarang kau menyesal, hah? Apa sekarang kau menyesal telah merekam kejadian itu?” tanya Suga dengan nada suara yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga Jungkook. Lelaki bermata sipit itu mencondongkan wajahnya ke depan wajah Jungkook, memamerkan seringaiannya.

“CUIH~!”

Tanpa diduga oleh Suga, Jungkook meludahinya. Semua orang yang melihat kejadian itu terkejut. Sontak, Suga menjauhkan wajahnya, lantas jari-jari tangan kanannya menyentuh cairan kental di pipinya. Ludah. Ludah Jungkook ada di pipinya.

“Suga Hyung?!” Rapmon dan Yugyeom terburu-buru menghampiri Suga.

Pemimpin The Red Bullet itu mengeluarkan selembar sapu tangan berwarna merah dari saku celananya, menyingkirkan benda yang sangat nista menurutnya itu dari wajahnya. Lalu, melemparkan sapu tangan itu ke wajah Jungkook.

“Kau tidak apa-apa, Hyung?” tanya Yugyeom yang berada di samping Suga, cemas. “BERANI-BERANINYA KAU MELUDAHI—” Belum sempat Yugyeom menyudahi ucapannya, bahkan hendak melayangkan pukulan ke arah Jungkook, Suga mengangkat tangan kanannya sebagai tanda untuk menyuruh Yugyeom berhenti. “Kenapa, Hyung?” tanya Yugyeom bingung. “Anak sial ini sudah berani meludahimu!” protes lelaki jangkung itu.

“Diamlah, Yugyeom-ya,” kata Suga. “Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Sepertinya…, Jeon Jungkook belum banyak belajar selama beberapa hari ia bersama kita. Mungkin…, aku harus memberinya pelajaran lain sebelum aku benar-benar membunuhnya,” lanjut Suga. “Rapmon-ah, Yugyeom-ya?”

“Ya, Hyung?” sahut Rapmon dan Yugyeom nyaris bersamaan.

Sambil memandang tajam tepat ke mata Jungkook, Suga berkata, “Hajar Jeon Seokjin. Biarkan Jungkook-ssi melihat bagaimana kakaknya menderita karena ulahnya.”

Kedua mata Jungkook membulat sempurna. Rapmon, Yugyeom dan anggota The Red Bullet yang berada di sana seketika menghajar Seokjin. Memukul wajah lelaki itu, menendang tubuhnya, menghajarnya sampi Seokjin terlihat benar-benar tidak berdaya.

“HENTIKAN! HENTIKAAANNN!!!” Jungkook kembali berteriak sambil berusaha berontak melepaskan rantai yang mengikat tubuhnya. “JANGAN PUKULI SEOKJIN HYUNG! HENTIKAAAAAN!!!”

“Selamat menikmati pertunjukan, Jungkook-ssi.”

Dan, Suga pun berlalu dari tempat itu, membiarkan adik-adiknya memperlihatkan ‘pertunjukan seru’ kepada Jungkook.

@@@@@

Mark menginjak pedal gas camero hitamnya cukup dalam ketika ia mengemudi menuju rumah sahabatnya, Seokjin. Kedua tangannya menggenggam erat roda kemudi, kedua matanya fokus memandang jalan di depan. Kantuk yang biasanya sudah datang menyapanya pada jam-jam seperti ini, kali ini belum datang. Entahlah. Yang Mark pikirkan saat ini hanyalah tiba di rumah Seokjin secepatnya dan memastikan laki-laki itu berada di sana.

“Rrr… rrr… rrr… rrr…”

Dering suara ponsel di atas dashboard membuat Mark memelankan laju kendarannya sejenak, lantas sekilas melirik layar ponselnya yang menyala. Nama penelepon yang tertera di layar membuat Mark menekan salah satu tombol yang ada pada kemudi mobilnya.

“Seokjin-ah?” Mark bersuara.

“Mark-ah! Mark-ah!” Lelaki itu bisa mendengar suara panik Seokjin di seberang. “Syukurlah kau menjawab teleponku.”

“Kau dimana, hah? Kami mencarimu dari tadi? Aku sedang dalam perjalanan menuju rumahmu sekarang,” tanya Mark cepat.

“Aku diculik.”

Apa? Diculik?

Mark buru-buru menepikan mobilnya. Kata Seokjin, ia disekap di dalam bagasi mobil dan sedang dibawa ke suatu tempat, entah kemana. Mark memberikan instruksi kepada Seokjin begitu ia tahu jenis mobil apa yang membawa Seokjin ke tempat-yang-tidak-diketahuinya, lantas kembali melajukan mobilnya menuju kantor kepolisian Seoul. Sungguh beruntung, ia baru saja lewat di depan kantor tersebut.

“Baiklah, akan aku dorong sekarang,” suara Seokjin terdengar.

“Jangan matikan ponselmu. Aku berbalik menuju kantor kepolisian. Aku akan melacak posisimu begitu aku tiba di sana,” pesan Mark.

Mobil camero hitam itu berbelok menyusuri jalan di sisi sebelah, melaju cepat. Jalan yang sepi dan jarak yang tidak begitu jauh, hanya sekitar 5 menit, Mark tiba di kantor kepolisian. Dari luar, beberapa lampu ruangan masih menyala yang berarti masih ada beberapa orang yang bekerja di dalam. Sambil berjalan menuju gedung kantor, Mark masih berbicara dengan Seokjin.

“Daegu?”

“Ya. Sepertinya begitu.”

“Apa mobil itu masih ada di belakangmu?”

“Ya~”

“Julurkan tanganmu ke luar!” instruksi Mark.

“Apa?” Nada suara Seokjin terdengar bingung.

“Julurkan tanganmu melalui lubang itu! Pastikan pengemudi mobil itu melihat tanganmu, oke?”

Begitu masuk di dalam gedung, Mark berlari menuju ruangan tempat alat-alat pelacakan berada. Dari luar, lampu ruangan itu masih menyala. Para polisi lainnya mungkin juga sedang mengadakan pelacakan untuk kasus kejahatan lain.

“JBLAAK~!”

Tanpa basa-basi, Mark menjeblak pintu ruangan, membuat orang-orang di dalamnya seketika menoleh ke arahnya, memandangnya penuh tanya.

“Tolong lacak ponsel Jeon Seokjin sekarang,” perintah Mark kepada polisi yang bertugas mengoperasikan alat pelacak itu. “Cepat!”

“Memangnya apa yang terjadi dengan Opsir Jeon?” tanya salah satu polisi yang ada di sana.

“Dia diculik oleh organisasi The Red Bullet,” jawab Mark.

“Astaga! Bagaimana bisa?”

Mark menggidikkan bahunya dan berkata, “Aku juga tidak tahu. Bagaimana cara mereka menculik Seokjin, itu tidak penting lagi. Sekarang, yang paling penting adalah menemukan Seokjin.

“Dapat!” seru polisi yang bertugas mengoperasikan mesin pelacak. Sontak, Mark antusias melihat ke arah monitor, fokus pada titik merah yang berkedip-kedip.

Jadi, benar-benar di Daegu, hah?!

“Seokjin-ah? Kami sudah tahu kemana mereka membawamu. Daegu,” kata Mark kepada Seokjin yang masih dalam mode panggilan. Namun, tidak ada respon sama sekali. “Seokjin-ah? Kau masih di sana? Jeon Seokjin?”

Benar-benar tidak ada respon.

Ya. Bagaimana Seokjin bisa merespon jika ia telah diseret ke dalam gudang tua itu dan meninggalkan ponselnya di bagasi.

@@@@@

Hyungah? Bangun, Hyung. Seokjin Hyung~” Jungkook berteriak memanggil-manggil Seokjin yang terbaring tidak berdaya setelah dikeroyok oleh anggota The Red Bullet. Mati? Pingsan? Entahlah. Jungkook tidak tahu apakah Hyung-nya yang terbaring 5 ubin di depannya masih hidup atau tidak.

“Seokjin Hyung? Bangunlah, Hyung. Ayo bangun! Jangan mati, Hyung!” Wajah Jungkook telah dibasahi air mata sejak tadi. Ya. Bagaimana mungkin dia tidak menangis melihat kakaknya dipukuli, ditendang dan—ah, Jungkook tidak mau mengingat kejadian itu.

“Seokjin Hyung~ Jangan mati, Hyung~”

Rapmon yang saat itu sedang mencoba untuk tidur di salah satu sofa panjang di dekat situ, cukup merasa terganggu dengan suara Jungkook. Kesal, ia menghampiri Jungkook dan berkata, “Hei! Kau bisa diam tidak? Jangan berisik!”

“Kau membunuh Seokjin Hyung, hah? Kau memukulinya sampai mati?”

Rapmon memutar kedua bola matanya, jengah. “Memang kenapa kalau dia mati? Kau tidak perlu menangisinya seperti itu? Pada akhirnya, semua orang akan mati.”

“TAPI DIA HYUNG-KU! DIA HYUNG-KU DAN KAU TELAH MEMBUNUHNYA, KAN? SEMUA ORANG MEMANG AKAN MATI, TAPI AKU TIDAK MAU HYUNG-KU MATI KARENA ORANG JAHAT SEPERTIMU! DASAR PEMBUNUH!”

“PLAAAKKK~!!!”

Jungkook meringis. Pipi kanannya yang baru saja ditampar Rapmon benar-benar terasa perih.

“Dengarkan aku, Jeon Jungkook. Jujur, aku tidak suka mendengar kau menyebut Seokjin adalah Hyung-mu. Kau tahu? Itu menyakitkan telingaku.”

Laki-laki 18 tahun itu memandang Rapmon dingin. Sambil menahan perih di pipinya, ia berkata, “Kenapa? Ada yang salah, hah? Dia Hyung-ku. Suka atau tidak suka, aku akan memanggilnya seperti itu.”

Rapmon mendecih. “Dari pertama kali aku melihatmu, Jungkook-ssi, aku langsung membencimu. Awalnya, aku tidak tahu kenapa aku merasa begitu, tapi… setelah aku tahu semuanya, ternyata aku memang pantas untuk membencimu.”

“Apa maksudmu?” gumam Jungkook tidak mengerti.

“Karena orangtuamu,” sahut Namjoon, mencondongkan wajahnya ke arah Jungkook, “ karena appa dan eomma-mu telah mengambil Seokjin Hyung dariku!”

Jungkook mengerutkan keningnya. “Apa yang kaubicarakan?” tanyanya, semakin tidak mengerti.

“Jadi kau tidak tahu, hah? Kau tidak tahu bahwa appa dan eomma-mu telah mengadopsi Seokjin Hyung, hah?”

Apa?

Mengadopsi?

“20 tahun lalu, Jeon Jungkook. 20 tahun lalu, orangtuamu mengadopsi Seokjin Hyung dari sebuah panti asuhan di Ilsan. 20 tahun lalu orangtuamu memisahkan seorang kakak dari adiknya. 20 tahun lalu orangtuamu memisahkan Seokjin Hyung dariku!” jelas Rapmon penuh penekanan. “Namanya bukan Jeon Seokjin, tapi Kim Seokjin. Kim-Seok-Jin! Kau mengerti?”

Meski hanya beberapa rangkai kalimat, tapi rasanya Rapmon baru saja menghujamkan lembing ke dada Jungkook. Laki-laki itu tertohok. Ucapan-ucapan Rapmon barusan sangat—ah, maksudnya, terlalu sulit untuk dipercaya.

“Ba-bagaimana? Bagaimana bisa?” gumam Jungkook dengan keterkejutan yang masih melingkupi perasaannya. “Ja-jadi, jadi…, Seokjin Hyung…”

“J-Jungkook-ah?” Suara parau itu terdengar di belakang Rapmon.

Rapmon dan Jungkook melihat ke asal suara. Seokjin. Terlihat Seokjin sedang berusaha untuk menegakkan tubuhnya. Terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya, mengotori lantai.

HHyung~” gumam Jungkook.

“Ah, ternyata kau masih hidup, hah?” Rapmon berbalik mendekati Seokjin. “Kupikir kau sudah mati.”

“Bi-bicara a-apa kau?” desis Seokjin, masih berusaha mengumpulkan tenaganya untuk berdiri. “A-aku… aku tidak akan mati… se-semudah itu,” lanjutnya, berdiri sambil mengelap darah di bibirnya, namun sepersekian detik kemudian ia ambruk.

Rapmon berjongkok di dekat Seokjin, menjambak rambut laki-laki, membuat wajahnya menengadah. “Kau sudah kuat sekarang, hah? Kupikir kau masih sama seperti dulu. Anak laki-laki cengeng.”

Tawa samar terdengar dari Seokjin. “20 tahun… 20 tahun waktu yang cukup lama untuk mengubah anak laki-laki cengeng menjadi pria kuat. Bu-bukan begitu, hah?”

“Cih!” Rapmon melepas kasar jambakannya.

Hyung!” Jungkook menyela. Perhatian Rapmon dan Seokjin teralih ke arahnya. “A-apa… apa benar kau… adalah anak angkat? A-Apa benar kau bukan kakak kandungku, tetapi kakak kandung laki-laki itu, hah? Apa benar itu, Hyung?”

“Ju-Jungkook… k-kau…” gumam Seokjin pelan.

“Katakan padanya, Seokjin. Katakan padanya apa sebenarnya yang sudah terjadi.” Rapmon berdiri dan memandang ke arah Jungkook.

HHyung?” lirih Jungkook. “Apa benar, hah?”

Seokjin terdiam sesaat. Pelan, ia mencoba untuk duduk, lalu mengangguk pelan. Melihat itu, rahang Jungkook jatuh bersamaan dengan bulir-bulir air mata yang mulai menggenangi kedua pelupuk matanya.

“Ja-jadi, kau hanya anak angkat appa dan eomma?” ulang Jungkook.

Lagi, Seokjin mengangguk.

“Astaga~” sela Rapmon, “ini menyedihkan bukan, Jungkook-ssi? Suasana yang sangat tidak tepat untuk mengetahui hal penting yang selama ini disembunyikan darimu. Ternyata, Hyung-mu ini adalah Hyung-ku,” lanjut Rapmon dengan nada yang dibuat-buat seolah ia turut bersedih, lengkap dengan tangan kanannya menepuk-nepuk pelan pundak kanan Jungkook.

“Jangan sentuh!” pekik Jungkook, memandang Rapmon tidak sudi.

“Kau? Kau masih bisa berlagak angkuh seperti itu, hah?” kesal Rapmon, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya. Pistol. “Harusnya aku melakukan ini sejak awal aku menculikmu, Jungkook-ssi. Kau hanya membuatku kesal, kau mengerti?” Rapmon merapatkan moncong pistolnya di dahi Jungkook.

“Jangan, Namjoon-ah! Ja-jangan lakukan itu…” Seokjin menggeser-geser tubuhnya ke arah Rapmon, memeluk kaki kanan laki-laki itu, “jangan bunuh Jungkook. Tolong. Di-dia… dia tidak tahu apa-apa.”

Tapi, Rapmon malah menendang Seokjin. “Sudahlah! Aku muak dengan semua ini. Aku akan menye—”

“SEMUANYA!!!” Yugyeom yang baru masuk ke dalam gudang sambil berlari, berteriak kencang, “POLISI SEDANG MENUJU KE SINI!!!”

@@@@@

Seokjin yang terkapar di lantai di dekat kursi Jungkook, sayup-sayup mendengar suara derap orang-orang yang berlari memasuki gudang seiring dengan suara tembakan dan kegaduhan yang terdengar di sana-sini.

“A-apa… apa yang terjadi, Jungkook-ah?” Seokjin memaksa suaranya keluar untuk bertanya.

“Polisi, Hyung. Ada banyak polisi.”

“ASTAGA! SEOKJIN-AH? JUNGKOOK-AH?”

“MARK HYUNG!!!”

Mark? Mark ada di sini?

“Astaga. Keadaan kalian parah sekali?” Seokjin bisa merasakan tangan Mark mencoba membalik tubuhnya dari posisi telungkup ke posisi telentang. Dari pandangan yang agak buram, Seokjin bisa melihat Mark sedang membantu Jungkook melepas rantai yang melilit tubuhnya.

“Ma-Mark?” Suara Seokjin parau. “Ba-bagaimana kau bisa berada di sini, hah?” tanyanya dengan suara yang nyaris tidak terdengar di ujung kalimatnya.

“Aku melacak ponselmu,” jawab Mark. “Kau dan Jungkook harus segera diobati,” lanjutnya, membantu Seokjin untuk bersandar di dinding dengan bantuan Jungkook, kemudian menghubungi rumah sakit untuk mengirim ambulans.

Suasana di dalam gudang telah sepi. Namun di luar, suara tembakan, mobil yang meninggalkan gudang dan suara sirine mobil polisi semakin lama semakin tidak terdengar. Anggota The Red Bullet melarikan diri dan polisi tentu saja tidak akan melepas mereka.

“Dimana Jinwoo dan Mino?” tanya Seokjin lagi.

“Mino sedang menuju ke sini. Jinwoo tidak ikut. Dia terluka karena kejadian semalam.”

“A-apa… apa yang tadi itu adalah polisi Daegu, hm?”

“Ya,” sahut Mark. “Temanku di Daegu mengabarkan bahwa mereka akan menggerebek sebuah tempat yang mereka duga sebagai markas organisasi The Red Bullet di sini. Karena itu, aku datang untuk memastikan apakah kau benar-benar dibawa ke sini dan… ya, ternyata benar.”

Seokjin mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lagi. Berkonsentrasi menahan sakit di sekujur tubuhnya, menunggu hingga ambulans yang ditelepon oleh Mark datang. Sesekali ia melirik Jungkook yang bersandar tidak jauh darinya. Kondisi adiknya itu tidak jauh beda dengannya.

Seokjin mengulurkan tangan kirinya, menggenggam tangan kanan Jungkook yang seketika membuat lelaki 18 tahun itu menoleh ke arahnya. Jungkook memandang genggaman tangan Seokjin dan wajah kakaknya itu bergantian. “Bertahanlah sebentar lagi. Mark sudah menghubungi ambulans,” ucapnya, masih dengan suara parau.

Namun, di tengah-tengah suasana yang mulai kondusif itu…

“DOR! DOR! DOR!”

“MARK!!!” Seokjin berteriak.

Suara tembakan terdengar dan Mark yang tidak jauh di hadapan Seokjin langsung rubuh bersimbah darah oleh serangan yang tiba-tiba itu. Seokjin dan Jungkook menoleh ke arah tembakan berasal dan…

“KAGET, HAH?” sinisnya, berjalan mendekati Seokjin. “Aku beruntung karena aku tidak ada di sini saat polisi mengerumuni tempat ini. Dan kurasa, aku datang di saat yang tepat. Bukan begitu, Seokjin-ssi?”

Seokjin memandang geram. “BAJINGAN!!!”

Suga mendecih. “Terserah apa katamu, Seokjin-ssi. Tapi, aku benar-benar akan mengakhiri semuanya di sini. Sekarang juga. Di tempat ini,” ucapnya dingin. “Kau yang pertama.” Suga mengarahkan moncong revolver-nya ke arah Seokjin dan…

“DOR!”

“BRUUK~!!!”

Kedua mata Jungkook membulat sempurna. Begitu juga dengan… mata Seokjin. Sesaat setelah bunyi tembakan itu, Suga… tiba-tiba rubuh dan nyaris menimpa Seokjin jika lelaki itu tidak segera menyingkir dari tempatnya semula.

Siapa?

Siapa yang menembak Suga?

Na-namjoon-ah?” gumam Seokjin.

Rapmon berdiri sekitar 2 meter di depan Seokjin. Tangan kanannya masih mengacungkan pistol semi-otomatisnya. Ah, rupanya dia berhasil melarikan diri dari polisi yang mengejarnya tadi dan kembali ke gudang.

“Na-namjoon-ah, kau…” Seokjin hendak berdiri menghampiri Rapmon, tapi…

“DOR!”

Rapmon melepas sebuah tembakan, namun tembakannya meleset. Peluru full metal jacket itu bersarang di dinding di sebelah kanan wajah Seokjin. Lelaki itu—Seokjin—seketika terpaku.

“Tetap di sana!” perintah Rapmon, lantas menurunkan tangan kanannya.

Seokjin menuruti perintah Rapmon. Duduk di tempatnya, memandang Rapmon yang mengayun langkah mendekatinya. Kedua matanya tidak lepas memandang Rapmon yang balas memandangnya dengan tatapan dingin. Gema langkah kaki Rapmon menyelubungi seisi gedung.

“Na-namjoon-ah?” gumam Seokjin sekali lagi begitu Rapmon berdiri tepat di hadapannya.

“Kau jangan berpikir bahwa aku membunuh Suga Hyung karena ingin menyelamatkanmu juga adikmu, hah. Aku membunuhnya karena aku hanya tidak ingin dia yang melakukan apa yang harus aku lakukan.”

Jantung Seokjin berdegup kencang mendengar apa yang baru saja diucapkan Rapmon. Sekilas, ia melirik ke arah Jungkook, mendapati wajah anak itu pucat dan tegang. Sepertinya dia juga mengerti apa maksud dari ucapan Rapmon.

“Ja-jadi, kau tetap akan membunuh aku dan Jungkook?”

“Benar.” Rapmon kembali mengacungkan tokalev-nya ke arah Seokjin.

“Apa kau dendam padaku karena meninggalkanmu?”

Rapmon mendecih. “Menurutmu bagaimana, hah?”

Seokjin bungkam.

“Memang begitu,” ujar Rapmon. “Kau pikir aku tidak sakit hati, hah? Kau hidup enak selama 20 tahun belakang ini dengan keluarga barumu. Kau mendapatkan fasilitas hidup yang mewah, makanan enak, pakaian yang bagus. Kau bahkan disekolahkan sampai menjadi seorang polisi.” Rapmon menghela napas sejenak. “Sementara aku? Kau tahu, setelah kau pindah ke Busan, panti asuhan terbakar. Aku, Moon Eomonim dan anak-anak panti lainnya terpaksa harus hidup di panti yang terpisah. Hidupku sungguh sangat tidak menyenangkan, kau tahu?”

Rapmon masih bercerita panjang lebar tentang seperti apa hidupnya dulu. Ya, dulu sebelum ia bertemu dengan Suga. Dulu, sebelum ia menjadi anggota The Red Bullet. Sementara itu, Jungkook memandang ke arah Seokjin. Mulutnya bergerak mengucapkan sesuatu tanpa suara, seperti memberi kode kepada Seokjin.

“Aku masih beruntung karena aku bisa bertemu dengan Suga Hyung. Kalau tidak bertemu dengannya, mungkin aku…”

“HYAAA~~!!!”

Tiba-tiba saja Jungkook menyerang Rapmon, namun…

“DOR!”

Lelaki itu dengan cepat mengarahkan moncong pistolnya ke arah Jungkook dan melepas tembakan tepat mengenai perut. Jungkook jatuh sambil tangannya memegang bagian perut yang berdarah terkena tembakan.

Tapi, di saat perhatian Rapmon teralihkan pada Jungkook, gentian Seokjin yang menyerang dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Mendorong Rapmon hingga terjengkang ke lantai dan tanpa sengaja melepas tokalev dari genggamannya. Seokjin bergegas menguasai lelaki itu dengan duduk di atas perutnya, mengayunkan beberapa pukulan ke arah wajah.

“BUKH!”

“BUKH!”

“DZIG!”

“UGH!”

Rapmon berhasil menahan pukulan Seokjin, lantas mendorong tubuh Seokjin, membuat lelaki itu terbaring ke sisi kirinya. Tanpa basa-basi, giliran Rapmon yang melayangkan pukulan ke wajah.

“JANGAN… BUKH… COBA-COBA… BUKH… MELAWANKU,” Rapmon menyelingi tiap kata dengan sebuah pukulan, lantas menutup kalimatnya dengan sebuah pukulan yang lebih keras dari sebelumnya, “BUGH!!!”

Seokjin merasakan seluruh wajahnya jauh lebih sakit dari sebelumnya. Nyeri dan bengkak terasa dimana-mana. Belum lagi rasa perih akibat luka yang muncul di beberapa bagian wajahnya. Sakit.

Seokjin lantas melihat Rapmon merangkak meraih tokalev-nya, kemudian berdiri dan mengacungkan moncong tokalev itu ke arah Seokjin sekali lagi.

“Mari akhiri semuanya di sini, Kim Seokjin.”

Polisi itu menutup matanya ketika jari telunjuk Rapmon bersiap menarik pelatuk. Tidak ingin melihat peluru pistol itu melesat cepat menembus bagian tubuhnya dan membuatnya mati.

Ini ironis.

Sungguh.

Tidak pernah Seokjin bayangkan dirinya akan mati di tangan adiknya sendiri.

“Selamat tinggal, Seokjin Hyung~”

Dan sepersekian detik kemudian, suara itu pun terdengar.

“DOR!”

@@@@@

Satu per satu para pelayat beranjak dari kompleks pemakaman. Meninggalkan sebuah makam dengan foto seorang laki-laki yang tampak gagah dengan pakaian kepolisiannya yang sengaja disandarkan di depan batu nisannya.

Namun, di antara para pelayat yang beranjak itu, seorang pelayat lain masih berdiri di depan makam itu dengan bantuan sebuah tongkat yang diapit di antara ketiak kanannya. Sejak tadi, mata orang itu memandangi wajah laki-laki di dalam foto. Air matanya mengalir meski telah susah payah ia bendung, membentuk aliran sungai kecil di pipinya. Di pipinya yang masih tampak jelas bekas-bekas luka dan lebam di beberapa bagian.

“Seokjin-ah?” Salah seorang pelayat menghampiri lelaki itu, Seokjin. “Sudah cukup kau menangis seperti itu. Mark tidak akan senang melihat sahabatnya menangisi kepergiannya seperti ini, kau tahu?”

Ya. Makam itu adalah makam Opsir Mark Yi-En Tuan. Polisi yang tertembak mati saat penggerebekan di Daegu kemarin.

Buru-buru Seokjin menyeka air mata yang benar-benar telah membasahi kedua pipinya. “Aku… aku benar-benar sedih, Jinwoo. Aku… sungguh merasa bersalah pada Mark. Seandainya hari itu dia…”

“Sudahlah!” Laki-laki lain yang baru saja datang, memotong ucapan Seokjin. “Mark, kau, aku, Jinwoo, kita semua sudah tahu resiko dari pekerjaan kita ini. Dan salah satunya adalah… seperti yang dialami Mark, mati tertembak saat bertugas,” ujar Mino.

“Mark sudah melakukan bagian terberat dari tugas ini. Dia telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Sangat baik,” tutur Jinwoo, menepuk pundak kanan Seokjin.

“Dan, tugas kita sekarang adalah menyelesaikan tugas ini. Jangan sampai membuat Mark kecewa,” tambah Mino.

Mendengar itu, Seokjin mengangguk pelan.

Ya. Mark, sahabatnya, sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Dari penggerebekan hari itu, beberapa anggota The Red Bullet berhasil ditangkap, sementara beberapa lainnya telah ditembak mati saat pengejaran, termasuk Suga dan Rapmon yang tertembak di saat yang sangat tepat. Jika waktu itu Mino tidak tiba tepat waktu dan tanpa diduga menembak Rapmon, mungkin… Seokjin sudah berada di atas sana bersama Mark.

Beruntung, polisi yang satu itu masih berumur panjang.

“Ayo, pulang, Seokjin-ah. Banyak laporan yang harus kita buat,” ajak Mino.

“Lagi pula, Jungkook sendirian di rumah sakit sekarang. Tidak baik seorang kakak meninggalkan adiknya yang baru dioperasi kemarin sendirian,” tambah Jinwoo.

Seokjin memandangi foto Mark di sana untuk terakhir kalinya. Terima kasih untuk semuanya, Mark.

@@@@@

Seokjin berjalan tertatih-tatih menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar inap Jungkook. Tangan kanannya bergerak membuka pintu kamar nomor 201, masuk dan menutup pintunya kembali secara perlahan. Kedua matanya sekali lagi melihat Jungkook terbaring di sana, di atas tempat tidur rumah sakit. Tampak memejamkan mata, mungkin tidur.

Di waktu yang sama dengan Mino yang tiba dan menembak Rapmon, ambulans yang telah ditelepon oleh Mark sebelumnya juga tiba. Jungkook dilarikan ke rumah sakit dan langsung dioperasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di perutnya. Berbeda dengan Mark, Jungkook masih bisa diselamatkan.

Tepat di saat Seokjin duduk di kursi di dekat tempat tidur dan menyandarkan tongkatnya di sisi tempat tidur, Jungkook membuka kedua matanya perlahan.

“Kau dari mana, Hyung?” tanya Jungkook. Suaranya terdengar lemah.

“Dari pemakaman Mark,” jawab Seokjin sekenanya. “Bagaimana keadaanmu?”

Jungkook menghela napas panjang sebelum menjawab, “Mendingan.”

“Syukurlah.” Seokjin menghela napas lega. “Ah, ya, tadi Bambam dan beberapa teman sekelasmu datang menjengukmu sebelum berangkat ke sekolah,” kata Seokjin. “Mereka membawakanmu buah-buah. Kau mau memakan sesuatu, hm? Apel? Jeruk?” tawar Seokjin sembari memandang adiknya.

“Jeruk sepertinya menyegarkan, Hyung.”

Seokjin mengambil sebuah jeruk yang berada di atas meja dan mulai mengupas kulitnya. Jungkook yang terbaring di tempat tidur pun hanya memandangi kakaknya mengupas kulit jeruk. Suasana terasa begitu sepi, bahkan… sedikit terasa canggung—setidaknya, itu yang dirasakan Jungkook.

Hyung?”

“Hm?” Seokjin menyahut tanpa menoleh.

“Boleh aku bertanya sesuatu padamu?”

Seokjin memalingkan wajahnya dari jeruk yang sedang dikupasnya ke arah Jungkook, lantas berkata, “Apa ada kaitannya dengan statusku dalam keluarga kita, hm?”

Jungkook mengangguk pelan.

“Kau mau bertanya apa?”

Lelaki yang terbaring di tempat tidur itu menghela napas panjang, kemudian bertanya, “Kenapa kau menyembunyikan padaku bahwa kau…” Jungkook sengaja membuat jeda karena merasa tidak enak untuk menyebut ‘anak angkat’.

Namun, Seokjin tahu apa yang dimaksud Jungkook dan langsung menyambung kalimat adiknya itu, “Bahwa aku hanya anak angkat?”

Lagi, Jungkook mengangguk pelan.

Kini gantian Seokjin yang menghela napas panjang sebelum memulai penjelasannya. “Pertama, appa dan eomma melarangku untuk membahas itu dimana pun dan kepada siapa pun. Kedua, aku sepenuhnya tidak bermaksud untuk menyembunyikan hal itu darimu. Aku hanya menunggu waktu yang tepat dan—ya, aku hanya tidak membayangkan kau tahu fakta itu dengan cara yang telah terjadi.” Seokjin menghentikan ucapannya sejenak. “Memangnya kenapa? Apa kau tidak mau menganggapku sebagai Hyung-mu lagi setelah tahu bahwa aku hanyalah anak yang diadopsi oleh kedua orangtuamu 20 tahun yang lalu, hm?”

“Bukan begitu,” elak Jungkook cepat, “tapi…” ia menggumam ragu.

“Dengar,” Seokjin memotong ucapannya, “seseorang yang disebut saudara bukan hanya dia yang lahir dari orangtua yang sama denganmu, tetapi orang yang selalu berada di sisimu, melindungimu dan berkorban untukmu, tidak peduli kau punya hubungan darah dengannya atau tidak. Kau mengerti?”

“Ya. Maafkan aku.”

Seokjin mengulum senyum. “Tidak apa-apa.”

Untuk ketiga kalinya hari ini, Jungkook mengangguk.

Seokjin lantas menyuapkan sepotong jeruk yang telah dikupasnya ke dalam mulut Jungkook. Tersenyum melihat adiknya itu terlihat cukup menikmati buah yang dibawa oleh temannya dalam kondisi sakit. Dengan telaten Seokjin menyuapi sepotong demi sepotong jeruk, sampai…

“Permisi?”

Seorang suster masuk ke dalam ruangan dan menghampiri 2 adik-kakak itu.

“Ah, suster, ada apa?” tanya Seokjin.

“Apakah Anda keluarga dari pasien Jeon?”

“Ya. Saya kakaknya. Kenapa?”

“Dr. Han meminta Anda untuk menemuinya di ruangan beliau.”

“Ah, baiklah. Saya akan segera ke sana suster. Terima kasih.”

Setelah suster keluar dari ruangan dan ia selesai dengan tugasnya menyuapi Jungkook dengan jeruk, ia meraih tongkatnya dan bersiap untuk menemui dr. Han, dokter yang menangani Jungkook.

“Aku pergi menemui dr. Han dulu,” pamit Seokjin.

“Ya.”

Agak tertatih, Seokjin menggerakan tongkat yang membantunya berjalan karena kaki kanannya yang masih terasa sakit setelah ditembak oleh Suga kemarin. Namun, baru beberapa langkah…

Hyungah?” Jungkook memanggilnya.

Seokjin menoleh. “Ada apa?”

“Terima kasih.”

Kening Seokjin berkerut samar. “Untuk?”

“Karena menepati janjimu untuk melindungiku.”

Seulas senyum terukir di wajah tampan Seokjin. “Aku kakakmu dan kau adalah adikku. Tugas seorang kakak adalah melindungi adiknya. Kau tidak perlu berterima kasih untuk hal yang sudah seharusnya aku lakukan, paham?”

“Ya.”

“Ya, sudah. Istirahatlah~”

Jungkook memandangi Seokjin yang bergerak menjauh dan menghilang dari pandangannya setelah laki-laki itu menutup pintu. Jungkook lalu mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit kamar, memandangnya sesaat.

Appa, eomma, terima kasih telah membuat Seokjin Hyung menjadi kakakku.

-THE END \^O^/-

Anditia Nurul ©2015

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

-Also posted on Read Fanfiction-

 

Yah, akhirnya ending juga… hehehe. Doooh, maaf ya kalo ending-nya mungkin kurang memuaskan. Dan maaf banget kalo FF ini kurang greget action-nya (padahal genre utamanya action). I was trying my best to present you this action-fic… hehehe. Terima kasih sudah mengikuti FF ini sejak awal. Terima kasih juga sudah meninggalkan komentar dan like kalian. You guys are the best. ^^d

12 thoughts on “(THE RED BULLET) BROTHER [Chap. 6-END]

  1. Endingnya…. keren ><
    tapi rada ngga tega juga :"

    Pokoknya ditunggu ff brothership lainnya ya~~~
    hwaiting! ^-^)9

  2. nggak nyangka kalo endingnya bakalan happy, eh ini bisa dibilang happy nggak sih /?
    aku kira semua bakalan mati, seokjin namjoon jungkook, ya semuanya mati jafi nggak ada yang bahagia, duh angst banget ya
    tapi duh kereeeeen! actionnya dapet, deg degan sepanjang adegan tembak tembakan dan apalah itu sampe merinding sendiri ih
    btw namjoon kemana? dia kabur atau mati ditembak sama mino?
    duh pokoknya keren banget! nice story! ditunggu cerita lainnya

    • Iya. Ini happy kok, say
      Hehe… dari awal, emang rencana yg mati cuma penjahatnya😀
      Syukurlah kalo action-nya dapat. Kirain ngga ‘-‘>
      Mati. Ada penjelasannya kan di narasi😀

      Sip. Makasih udah RC^^

  3. Huwaaaaaaa sumpah ini sedih terutama bagian Mark meninggal. Kenapa harus dia? Kenapa gak Mino aja? *eh
    Hmm agak kasihan sama Rapmon sih soalnya dia sama Seokjin ga sempet baikan
    Tapi aku setuju dengan Seokjin yg kasarnya lebih pilih Jungkook. Karena aku pikir kita pasti bakal lebih sayang sama orang yg ada disamping kita dalam waktu lama ketimbang saudara kandung yg terpisah
    It’s a great job ditunggu karyanya yg lain ^^

    • Ehehe… awalnya sih rencana ga ada yg mati polisinya, tapi pas ditulis, posisi Mark keknya bakal greget/? kalo dia is dead. Jadi gitu dh ←alasan macam apa?😀 Iya. Udh terlanjur jahat. Ga mau baikan😀 Yaps. Setuju.

      Makasih udah RC^^

      Terkirim dari Samsung Mobile

  4. Gak nyangka Seokjin sama Jungkook tetep hidup/? Happy Ending! eh tapi kan Mark sama Namjoon mati._. ini happy ending apa sad ending /lah. Endingnya keren btw!
    gak kebayang ya, kukira itu Namjoon nembak Suga karena hatinya telah luluh(?) oleh masa lalu /apasi. tapi ternyata dianya cuma mau nggantiin Suga yang mau mbunuh mereka berdua.-. sebenernya Namjoon disini kasian(?) tapi kenapa dia jahat;_; idenya Mark nyuruh Jin ndorong lampu mobil keren ya, eh bukan si ini kan idenya author ya’-‘ tapi justru nambahin beban(?)nya Jin dengan dipukuli Namjoon. Anggota TRB bener-bener sadis ya sumpah._.
    Bener-bener dari prolog sampe chap 6 aku suka banget! apa lagi ini genrenya brothership! ya maklum aja, aku gak suka bts x oc, ff yaoi juga gak suka.___. ((((yaterus))))
    FFnya bagus menarik keren deh pokoknya! ditunggu ff bts brothership yang lain😀

    • Happy ending, dong. Kan pusatcerita di sini kan Seokjin.😀 Hehe… kalo Namjoon ga jahat ntar siapa yg nghalangin Seokjin buat nyelamatin Jungkook? Sebenarnya Suga bisa aja sih, tapi kurang greget/? kalo cuma dia…😀 Wkwkwk… tadinya itu scene buat nyari bantuan, eh… malah ga sesuai rencana Mark.

      Makasih pujiannya. Makasih udh RC^^

      Terkirim dari Samsung Mobile

  5. Demi apa ini keren banget .. (y) brothershipnya kerasa banget😥 jadi terharu aku..😥 lain kali bikin yg castnya taetae ya thor😀 jimin juga ndak papa😀

    and last.. I like it

  6. annyeong.. ^^
    aku reader baru, nemu ff ini kereeeeen banget ceritanya kak seru suka banget lah.. telat banget ya komennya? maafkan baru berani komen sekarang T.T
    Ditunggu karya lainnya kak ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s