[FICLET] Bubble Tea

GALOO

If only memories can turn into a froth,

I do not mind having as much as the ocean has.

.

Pangsit Koreya | EXO’s Luhan | 296 words | Slice of Life | General

.

12 poisoned sweets following : A Cup of Coffee | Black Forest | Opera Cake Green Tea Latte

.

“Hanya sebentar, Mom..”

Begitu pamitnya kepada wanita bersurai keperakan di ruang santai, yang tengah memantau berita politik seorang diri ketika langkahnya menjulur menuruni anak tangga.

Tentu ia belum melupakan gerutuan lelah sebaitnya, soal punggung yang telah seharian duduk tegak di kelas manajemen dasar lima menit lalu. Nyatanya, kini punggungnya telah kembali ditugaskan menahan beban dengan duduk anteng menghadap kaca jendela kafe.

Ini bukan akhir minggu, dirinya pun sadar benar ini bukan timing yang tepat untuk berleha-leha menanti semburat jingga dihisap langit barat, sementara belasan paper mengantri untuk dijamah. Hanya saja, ia merasa perlu untuk sesekali menanggapi rasa mendamba yang mampir dalam hasrat manusiawinya.

Tak apa, hanya sekali. Janjinya dalam hati.

Detik-detik awal menyajikan reuni legit dari tetes demi tetes cairan keunguan yang kembali menyapa ratusan koloni papilanya setelah sekian lama abstain.

Bubble Tea Taro.

Belum jauh ia berkubang dalam delusi yang memabukkan, sudah terdengar derit memekakkan antara gesekan memori berkarat dan relung dadanya yang usang. Karena rupanya, dihadapan sepasang netranya, telah dihadirkan presensi gelas minuman serupa, pun sosok yang ia dambakan. Lengkap dengan gema celoteh abstrak familier, nan serupa candu bagi sepasang rungu berdebu rindu.

Oh yang terakhir itu diluar batas ekspektasi. Dan efeknya, rasa sesak mulai merambati sekujur tubuhnya lebih cepat, hingga sepasang retina hazelnya memanas.

Meski demikian, layaknya seorang masokis akut, Luhan begitu menikmati rasa nyeri yang menginvasi, dan enggan memberi sedikit celah bagi akal sehatnya yang hendak merajuk ingin berhenti berdelusi.

Namun ia tidak akan pernah mampu mencegah kehendak alam.

Panggilan masuk berdering sedetik mendahului website pemesanan tiket pesawat yang hendak muncul ke permukaan.

“Lu, sebelum pulang, kau bisa mampir ke butik Joanne? Dia bilang jas pengantinnya sudah jadi, dan dia mau kau mencobanya hari ini juga.”

“Tentu, Mom. Lima menit lagi aku kesana.”

Ah, rupanya sudah saatnya kembali menyapa realita, Xiao Lu.

~끝~

A/N : Gaes, kalo emang kesannya maksa banget, kalian ngga salah, emang ini dibuat dalam rangka membabat penyakit writer’s block yang rasanya awet banget, jadi kalo maksa…mohon maklum. Anyway, ini jadi semacam barang bukti kalau ternyata iman ini belum mampu ngepairing Aak Luhandi selain dengan masa lalu /slaps/ Huhuhuuu maafkeun daku menjadikanmu pelampiasan aak ㅠㅠ

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s