Blue Medley Series: Breakfast

blue medley series - breakfast

B.L.U.E Medley Series: Breakfast

 

by ree

 

Casts: CNBLUE, Gong Seungyeon, f(x)’s Jung Soojung, AOA’s Kim Seolhyun, SNSD’s Seo Joohyun  || Genre: romance || Rating: PG-15 || Length: vignette || Disclaimer: just my imagination

 

 

 

 

“Just a simple thing to start your day.”

 

 

 

***

 

 

 

 

“Pagi, Jonghyun-ah!”

Jonghyun, yang ketika itu baru saja mendudukkan dirinya di depan meja kerja, menoleh. Tampak Cho Kyuhyun, rekan kerja yang sudah dianggapnya kakak sendiri itu sudah berada di balik bilik kerjanya sambil melipat kedua tangan di atasnya.

“Oh, pagi, Hyung!” sahut Jonghyun.

“Sepertinya kau benar-benar punya penggemar rahasia. Masa kau tidak sadar?”

Mendengar perkataan Kyuhyun, Jonghyun hanya bisa mengernyitkan dahi. Penggemar rahasia?

“Kau kira aku tidak tahu kalau setiap pagi ada seseorang yang memberikan makanan itu untukmu?” seolah mengerti arti tatapan Jonghyun, Kyuhyun mengedikkan dagunya ke arah meja.

Jonghyun menolehkan kepalanya mengikuti arah pandang pria itu. Benar saja, sebuah muffin cokelat dan segelas kopi hangat sudah tersimpan rapi di pojok mejanya, lengkap dengan secarik kertas yang tertempel disana.

To: Lee Jonghyun

Jonghyun mengambil kertas kecil tersebut. Lagi-lagi tidak ada nama pengirimnya. Di satu sisi ia merasa beruntung dan berterima kasih bisa mendapatkan sarapan gratis setiap pagi. Namun di sisi lain, ia ingin tahu siapa orang yang telah berbaik hati melakukannya, dan ingin berterima kasih secara personal.

“Ini sudah yang ketiga kalinya kan?” tanya Kyuhyun memastikan.

Jonghyun mengangguk. Matanya masih fokus memperhatikan tulisan yang tertera di kertas itu. “Hyung, apa kau tidak tahu siapa pengirimnya?”

Kyuhyun tersenyum penuh arti, “Kalaupun aku tahu, aku tidak akan memberitahumu.”

“Jadi kau benar-benar tahu?”

Kyuhyun mengedikkan bahu, “Entahlah…”

Hyung!”

“Menurutmu apa alasan dia tidak mencantumkan nama? Dia malu, Jonghyun-ah. Sudah jelas dia punya perasaan padamu dan dia hanya takut kau tidak bisa membalasnya.”

“Jadi pengirimnya perempuan?”

Kyuhyun memutar bola matanya, jengah. “Sudahlah, aku mau kerja. Jangan tanyakan apa-apa lagi padaku soal sarapan itu. Selamat mencari, Jonghyun-ah!”

Baru saja Jonghyun hendak membuka mulut, Kyuhyun sudah lebih dulu pergi meninggalkan meja kerjanya. Dilihat dari gesturnya, pria itu seolah ingin Jonghyun segera menemukan ‘si penggemar rahasia’ itu. Tentu saja tanpa bantuannya. Awalnya Jonghyun merasa dikerjai, namun tidak ada salahnya mencari tahu.

Di tengah jam kerja, kebetulan Jonghyun bertemu dengan Yoona, salah satu rekan kerjanya, di ruang fotocopy. Gadis itu memang pernah menjadi kekasih Jonghyun, namun hubungan mereka kandas setahun yang lalu. Sekarang Yoona sudah memiliki kekasih baru yang merupakan salah satu senior mereka, namun mereka masih tetap berhubungan baik sebagai teman dan rekan kerja.

Jonghyun mengeratkan pegangannya pada setumpuk kertas yang ia bawa. Ia teringat kata-kata Kyuhyun bahwa pengirim sarapannya tadi seorang wanita. Memang hampir tidak mungkin Yoona yang melakukannya, melihat bagaimana hubungan mereka sekarang. Tapi tidak ada salahnya bertanya.

Dengan ragu Jonghyun menghampiri gadis itu, “Yoona-ya…”

Yang dipanggil menoleh, “Hei! Apa kabar? Rasanya aku sudah lama tidak bertemu denganmu.”

“Aku… baik…” jawab Jonghyun canggung, “Ah, ada sesuatu yang ingin kutanyakan…”

“Hm?”

“Soal… muffin… dan kopi…” Jonghyun mengusap tengkuknya, masih bingung harus mengatakannya seperti apa, “Ada seseorang yang menaruhnya di mejaku beberapa hari belakangan ini…”

Yoona menghentikan pekerjaannya sejenak, “Maksudmu kau diberi muffin dan kopi oleh seseorang? Hei, kenapa tidak cerita-cerita?!” gadis itu mendorong pelan bahu Jonghyun, bermaksud menggodanya, “Siapa orangnya?”

“Aku tidak tahu. Makanya bertanya padamu.”

“Menurutmu aku tahu?”

Jonghyun mengedikkan bahu. Ia juga tidak yakin. “Mungkin?”

Yoona menepuk bahu Jonghyun, “Kau harus segera mencari tahu dan berterima kasih padanya. Gadis itu pasti sedang menunggumu.”

“Dari mana kau tahu dia seorang gadis?”

“Ayolah, Lee Jonghyun. Semua orang tahu itu. Aku juga seorang gadis, jadi pasti mengerti.” Yoona membereskan kertas-kertas yang baru saja selesai ia perbanyak. Sebelum pergi, ia mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu dan dengan setengah berbisik berkata, “Kutunggu kabar baiknya.”

Sepeninggal Yoona, Jonghyun hanya bisa mendesah. Jujur, ia merasa sedikit kecewa. Respon yang diberikan Yoona benar-benar tidak sesuai prediksinya.

“Tidak. Bukan Yoona orangnya.”

 

***

 

Pagi itu terasa agak berbeda bagi Soojung. Matanya lebih sulit untuk terbuka dan badannya terasa lemas sekali. Soojung menggenggam selimutnya, menerawang ke langit-langit kamar begitu ia berhasil terjaga sepenuhnya. Tetap saja ada yang berbeda. Tubuhnya serasa melayang dan pandangannya mulai berputar seratus delapan puluh derajat. Diletakkannya sebelah tangannya di dahi, berharap dengan begitu bisa menormalkan sedikit keadaan. Namun alih-alih ia tidak merasa pusing lagi, yang ia dapat justru kenyataan mengejutkan lain; suhu tubuhnya meningkat drastis.

Astaga, ia sakit.

Soojung tidak mengerti bagaimana ia bisa sampai sakit. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang dilakukannya beberapa hari belakangan. Tidak ada yang aneh. Ia bahkan tidak sempat bertemu dengan Minhyuk karena kesibukannya menjadi project officer pameran seni di kampus. Mungkin ia hanya lelah, ditambah dengan penyesuaian tubuhnya dari musim panas ke musim gugur. Kali ini ia serasa dipaksa untuk absen dari segala aktivitas, setelah berpuluh-puluh pesan yang disampaikan teman-temannya untuk beristirahat selama ini ia abaikan.

Entah hanya sugestinya saja, setelah menyadari hal itu Soojung merasa semakin tidak enak badan. Matanya perih dan napasnya terasa hangat. Ia sudah berusaha bangkit, namun kembali terhempas di atas kasur karena rasa pusing yang mendera. Diraihnya ponsel yang tergeletak di atas nakas, dan terkejut melihat belasan pesan dan missed calls yang masuk. Sebagian besar dari Minhyuk dan sebagian lagi dari Amber─panik menanyakan tugas kuliah mereka yang sampai detik ini masih tersimpan rapi di atas meja belajarnya.

“Aku tidak bisa masuk kuliah hari ini, Amber. Bahkan untuk bangun saja rasanya aku tidak sanggup.” Jelas Soojung, setelah memutuskan untuk menelepon Amber.

“Kalau begitu aku yang akan kesana. Lima belas menit lagi sampai.” Putus Amber. Soojung hanya mengiyakan.

Tak lama setelah sambungan teleponnya dengan Amber berakhir, gantian Minhyuk yang menelepon. Tiba-tiba saja Soojung merasa gugup. Ia tidak ingin pria itu tahu keadaannya saat ini. Rasa khawatir akan membuat pria itu mengacaukan urusannya sendiri demi meluangkan waktu sepenuhnya untuk dirinya. Dan ia tidak ingin hal itu terjadi. Ia tidak ingin menjadi beban.

Soojung menekan tombol answer setelah menarik napas dalam-dalam. Ia tidak ingin terdengar sedang sakit. Atau setidaknya tidak ingin terdengar berbeda dari biasanya.

“Kau tidak ada di kelas hari ini.” suara Minhyuk terdengar dari seberang.

“Yah…” Soojung tidak tahu harus merespon seperti apa.

“Ada apa?” tanya Minhyuk dengan nada aku-tahu-segalanya-jadi-jangan-coba-berbohong.

Soojung mendesah. Memang tidak ada gunanya berpura-pura di depan kekasihnya yang satu ini.

“Aku sakit…”

“Kenapa─”

“Jangan khawatir, hanya demam biasa. Aku hanya perlu minum vitamin dan tidur, lalu akan merasa baikan.” Gadis itu buru-buru memotong karena tahu apa yang akan Minhyuk katakan.

Terdengar helaan napas Minhyuk di seberang sana, yang lebih terdengar seperti dengusan halus bagi Soojung. Pria itu pasti kesal karena Soojung tidak bilang apa-apa. Dan apapun yang akan dikatakan pria itu selanjutnya, Soojung sudah pasrah.

“Istirahatlah.” Ujar Minhyuk akhirnya. “Kau butuh istirahat.”

Soojung mengangguk meskipun ia tahu Minhyuk tidak akan melihatnya. Respon tenang pria itu memang di luar perkiraannya, namun ia tidak bisa menuntut lebih. Bukankah ia sendiri yang tidak jujur? Jadi ini konsekuensi yang harus ia terima.

Soojung menarik selimutnya kembali begitu sambungan telepon berakhir. Di satu sisi ia merasa bersalah, di sisi lain ia merasa ingin diperhatikan lebih, dan di sisi lainnya lagi ia merasa mungkin ini adalah jalan yang tepat. Mungkin pria itu sedang sibuk seperti dirinya beberapa hari yang lalu. Bagaimana pun juga Minhyuk bukanlah pahlawan super yang akan datang tepat waktu jika dibutuhkan.

Gadis itu memejamkan matanya kembali. Mungkin Minhyuk benar, ia butuh istirahat.

 

***

 

Jungshin memperhatikan lembaran kertas dihadapannya dengan seksama. Sesekali dipindainya kembali kalimat demi kalimat, memastikan tidak ada satu pun huruf yang terlewat sekaligus memahami keseluruhan isinya. Bukan karena ia tidak lancar membaca atau bodoh, hanya saja mendapatkan surat keterangan lengkap dengan kop salah satu universitas ternama baru kali ini ia mengalaminya. Dan jujur, ia tidak percaya kenapa harus dirinya. Kenapa harus toko roti milik keluarganya.

Jungshin menurunkan kertas tersebut dari pandangannya, yang kini beralih pada sesosok gadis berambut panjang yang sejak tadi duduk dihadapannya, melihatnya dengan pandangan bertanya-tanya dengan kedua tangannya menggenggam erat cangkir kopi.

“Bagaimana? Aku diterima?” tanya gadis itu antusias.

Bukannya menjawab, Jungshin malah memandangi lagi kertas tadi. Gadis dihadapannya yang ternyata mahasiswi ini baru saja menyerahkan surat lamaran magang di toko roti miliknya, lengkap dengan keterangan bahwa salah satu pemiliknya akan menjadi pembimbing.

“Magang? Disini? Dia kira tempat ini pabrik atau apa?” kira-kira begitulah isi pikiran Jungshin sekarang.

“Kenapa harus di toko roti?” Jungshin akhirnya bertanya. Dalam hati kecilnya sebenarnya ia keberatan, namun tidak punya alasan untuk menolak. Harusnya ia tahu ada alasan mengapa akhir-akhir ini gadis itu selalu datang ke tokonya setiap pagi, sekedar hanya untuk memesan satu moccha bun dan secangkir kopi, duduk diam memperhatikan pelayan dan pembuat roti yang berlalu-lalang, kemudian pergi begitu saja.

“Simpel. Penelitian yang kulakukan adalah tentang bagaimana pengaruh fortifikasi tepung terigu terhadap tekstur dan daya tahan simpan roti. Bukankah sudah tertulis jelas di surat itu?”

“Tapi kami hanya membuat roti. Maksudku─”

“Justru itu.” gadis itu meletakkan cangkir yang dipegangnya ke atas meja, lalu menatap Jungshin serius, “Aku sudah memulai penelitianku sejak sebulan yang lalu dan roti yang kuhasilkan selalu tidak memuaskan meskipun aku sudah melakukannya persis seperti yang tertera di literatur. Kau dan beberapa pembuat roti disini memang hanya membuat dan menjual roti, tapi setidaknya kalian berhasil membuatnya.”

Jungshin mengernyitkan dahi, mulai mengerti arah pembicaraan, “Maksudmu… kau mau belajar membuat roti?”

Gadis itu mengangguk beberapa kali seperti anak kecil, “Kurasa ilmu saja tidak cukup. Aku harus mempraktekkannya langsung dengan ahlinya. Maka dari itulah aku pilih dirimu.”

“Aku?!”

“Aku memperhatikan para karyawan yang berlalu-lalang meletakkan roti buatannya di display. Kebetulan roti yang kau buat sama denganku. Jadi aku memilihmu untuk menjadi pembimbing selama aku magang.”

Belum hilang rasa terkejut Jungshin, gadis itu kembali bertanya, “Jadi bagaimana? Aku diterima?”

Butuh waktu beberapa menit bagi Jungshin untuk menjawab. Toh gadis itu hanya ingin belajar cara membuat roti, dan interval waktu maksimal yang dibutuhkan hanya seminggu. Dengan kesibukannya, semua itu akan berakhir sekejap mata.

“Baiklah, nona Kim Seolhyun. Kau diterima.”

 

***

 

Seohyun meletakkan semua peralatan dapur yang baru saja selesai ia gunakan ke dalam bak cuci. Ia menoleh ke belakang beberapa kali, merasa heran karena tidak biasanya Yonghwa belum keluar kamar bahkan hingga kegiatan memasaknya selesai. Seohyun ingat betul bagaimana ia selalu dikejutkan dengan tangan yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya atau dagu yang tiba-tiba menempel di bahunya ketika ia sedang memasak. Yonghwa selalu terbangun karena mencium aroma daging asap atau roti panggang buatannya, dan dengan tidak adanya segala kejutan itu pagi ini membuatnya merasa sedikit khawatir.

Seohyun baru saja memasang sarung tangan karet dan memulai kegiatan mencuci piring ketika melihat pintu kamarnya terbuka perlahan. Tampak Yonghwa keluar dari dalamnya, dengan wajah mengantuk dan rambut berantakan menyeret langkahnya menuju meja makan.

“Kau sakit?” tanya Seohyun begitu Yonghwa mendudukkan dirinya di kursi. Tidak ada pelukan atau kecupan selamat pagi seperti yang biasa ia lakukan.

Yonghwa menggeleng, “Apa sarapan kita pagi ini?”

Smoked meat sandwich dan jus apel+wortel, ditambah ginseng dan madu.” jawab Seohyun antusias. Ia menyeruput jus buatannya sendiri sambil menempati kursinya yang berada di hadapan Yonghwa.

Yonghwa memperhatikan makanan yang sudah tersaji di atas meja. Tidak ada yang aneh. Semuanya matang dengan sempurna dan indah dilihat mata. Namun entah kenapa ia tidak merasa berselera.

“Ada apa? Kau tidak suka?” Seohyun kembali bertanya setelah ia melihat pria itu menghela napas. Wajahnya tampak sedikit kecewa. Gadis itu memperhatikan seluruh hasil masakannya, meneliti apakah ada yang tidak beres.

“Bukan begitu, Seohyun-ah.” ujar Yonghwa. Ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, berusaha menyusun kata yang sebisa mungkin tidak menyakiti perasaan Seohyun. “Aku suka semua masakan yang kau buat. Hanya saja… aku bosan…”

Keduanya terdiam. Memang bukan kali pertama Seohyun membuat menu seperti hari ini. Terkadang ia juga menyiapkan English breakfast dan toast. Tapi hanya segitu saja variasinya. Seohyun memang masih dalam tahap peningkatan kemampuan memasak. Awalnya Yonghwa masih bisa mengerti dan mencoba menerima keadaan. Tapi kalau terus-menerus memakan ketiga menu itu setiap pagi selama lima bulan? Ia juga manusia yang punya rasa bosan.

“Kenapa kau tidak bilang? Aku bisa menggantinya dengan menu lain.” Seohyun akhirnya menyahut.

“Asal bukan sosis, bacon, telur, atau toast. Please.”

Seohyun berpikir sejenak. Itukah yang sebenarnya ingin dikatakan Yonghwa? Ia bosan dengan ketiga menu itu dan ingin mencoba menu yang lain?

“Baiklah, tapi tidak hari ini. Aku sudah hampir terlambat.”

Yonghwa menundukkan kepalanya. Tentu saja ia mau Seohyun mengganti menunya hari ini. Napsu makannya terhadap sandwich sudah mencapai limit. Tapi Seohyun juga bekerja seperti dirinya. Memaksa wanita itu untuk kembali repot di dapur dan membuatnya terlambat tiba di kantor tentu saja ia tidak tega.

“Bisakah aku minum kopi saja?”

Mendengar hal itu, Seohyun langsung menggeleng, “Aku tahu kau sudah banyak minum kopi di kantor. Dan aku tidak mau menambah tumpukan kafein dalam tubuhmu.”

“Seohyun-ah, aku─”

“Aku berusaha membuatkanmu sarapan yang terbaik, Yong. Aku selalu melakukannya.” Potong Seohyun. Tatapan matanya serius, seolah tidak ingin mendengar penolakan apapun dari pria itu, “Kau akan pergi ke Jepang selama beberapa hari, jadi kupikir aku harus menyiapkan masakan terbaikku. Bukan eksperimen yang entah akan berhasil atau tidak.”

Yonghwa memalingkan wajahnya. Saat ini ia sedang mengalami pergolakan batin. Di satu sisi ia membenarkan perkataan Seohyun, namun di sisi lain ia juga ingin hak dan keinginannya sebagai suami terpenuhi.

Melihat respon Yonghwa, Seohyun memutuskan untuk bangkit dari tempat duduknya, “Terserah kali ini kau mau memakannya atau tidak. Aku tidak memaksa.” Ia melepaskan apron yang dipakainya dan menggantinya dengan blazer hitam, kemudian meraih tas jinjing yang diletakkannya di atas kursi; bersiap untuk berangkat ke kantor. “Aku sudah merapikan semua barang bawaanmu. Cek lagi apa masih ada yang tertinggal. Jangan sampai terlambat ke bandara. Hati-hati di jalan.”

Yonghwa masih terpaku di tempatnya hingga Seohyun berjalan menuju pintu keluar. Sarapannya kali ini menjadi terasa sangat hambar hanya karena sedikit argumen yang diutarakannya. Ini tidak benar. Bukan seperti ini kehidupan rumah tangga yang ia inginkan. Ia ingin Seohyun ada di rumah, mengurusinya seharian. Bukan menjadi wanita karir yang selalu sibuk setiap saat.

Pria itu pun lalu beranjak dari tempat duduknya. Lebih baik ia bersiap untuk pergi.

 

***

 

Sepanjang hari itu Jonghyun merasa tidak fokus. Pikirannya dipenuhi oleh identitas ‘si penggemar rahasia’ yang sampai sekarang masih menjadi misteri. Satu kandidatnya telah gugur, yaitu Yoona. Ia masih punya satu kandidat lagi, namun rasanya terlalu tidak mungkin jika menanyakannya langsung.

Jonghyun masih memandangi tulisan di kertas kecil yang tadi pagi tertempel di gelas kopinya. Sengaja ia tempelkan kertas itu di sebelah layar komputer agar bisa selalu berada dalam jangkauan matanya.  Entah kenapa tulisan itu terasa familiar, namun tetap saja ia tidak ingat pernah lihat dimana.

Lamunan Jonghyun buyar seketika saat seorang wanita dengan setumpuk map tebal melintas di depan bilik kerjanya. Jonghyun tahu persis siapa orang itu. Tiffany. Gadis yang sempat ditaksirnya sebelum tahu bahwa dia adalah kekasih Nichkhun, rekan kerjanya yang baru saja dipromosikan sebagai manajer.

Dengan refleks Jonghyun berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Tiffany ketika gadis itu hampir saja kehilangan keseimbangan dan menjatuhkan beberapa map yang dibawanya.

“Terima kasih.” ujar Tiffany, yang dibalas dengan senyuman Jonghyun.

“Biar kubawakan.” tawar Jonghyun. Ia mengambil setengah dari jumlah map yang dibawa Tiffany. Kesempatan jalan berdua saja dengan gadis itu tidak selalu bisa ia dapatkan, dan ketika kesempatan itu datang, tentu saja tidak bisa ia lewatkan.

“Ng… Tiff… Ada sesuatu yang ingin kutanyakan…” Jonghyun tidak pandai berbasa-basi, jadi langsung saja ke inti pembicaraan.

Tiffany, yang menoleh ke arah Jonghyun untuk menanggapi perkataannya, tanpa sengaja melihat kekasihnya Nichkhun sedang berjalan ke arah mereka berdua, “Oh, Khun!”

Diam-diam Jonghyun meringis. Pasti selalu ada saja yang mengganggu.

“Tiff, kalau setelah ini kau menemaniku minum kopi bagaimana? Aku jenuh seharian di kantor.” ajak Nichkhun, yang langsung menggantikan kekasihnya itu membawakan map begitu tiba di hadapan mereka berdua.

“Boleh saja.” sahut Tiffany antusias. Seolah teringat sesuatu, ia lalu kembali menolehkan kepalanya ke arah Jonghyun, “Oh iya, tadi kau mau bertanya apa?”

“Ah… Itu…” Jonghyun memutar otak, mencari pertanyaan baru selain pertanyaan yang sebenarnya ingin ia ajukan. Tidak mungkin secara gamblang ia bertanya apakah Tiffany yang selama ini mengirimkannya sarapan dengan adanya Nichkhun di tengah-tengah mereka. “Aku hanya mau bertanya, kira-kira dimana tempat membeli muffin yang enak?”

“Coba kunjungi kedai kopi di seberang kantor. Kebetulan aku dan Nichkhun mau kesana. Kau mau ikut?”

“Tidak, terima kasih.” tolak Jonghyun, “Aku ada rapat jam tiga.”

Setelah ketiga orang itu sampai di meja kerja Tiffany dan meletakkan map yang dibawa, Jonghyun langsung pamit pergi. Tidak ada lagi yang perlu ia tanyakan. Harusnya dari awal ia sadar Tiffany tidak mungkin melakukannya. Ia sama sekali tidak punya alasan untuk itu.

Jonghyun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan menggeram frustrasi. Kenapa harus ada orang yang membuatnya penasaran seperti ini? Dan kenapa ia bisa begitu peduli?

Tepat ketika Jonghyun memasuki bilik kerjanya, seorang gadis tampak sedang sibuk menelepon sambil menulis sesuatu di kertas catatan. Setelah mengakhiri pembicaraanya, gadis itu membalikkan badan. Ia terkejut ketika mengetahui Jonghyun sedang berdiri di belakangnya, mengamatinya dengan tatapan ingin tahu.

Jonghyun tahu benar gadis itu. Gong Seungyeon. Salah seorang karyawati yang baru bekerja beberapa bulan disana. Dulu Jonghyun pernah menjadi pembimbing lapangan ketika gadis itu magang. Seungyeon gadis yang baik, pekerja keras, dan juga cantik. Gadis itu sering membantu Jonghyun mengurusi pekerjaannya, makanya tidak heran jika tiba-tiba ia ada di bilik kerja pria itu untuk sekedar menggantikan Jonghyun menerima telepon atau menyerahkan laporan mingguan.

“Tadi atasan menelepon. Rapat hari ini ditunda sampai jam empat.” jelas Seungyeon, mengetahui arti tatapan Jonghyun tadi. “Oh, dan barusan ada telepon dari relasi kita di Taiwan. Beliau ingin membatalkan beberapa jenis makanan laut beku yang sudah dipesan. Aku sudah mencatat apa saja yang batal dan apa saja yang jadi dikirim.” gadis itu menyerahkan secarik kertas pada Jonghyun.

“Terima kasih.” Jonghyun menerima kertas catatan tersebut, merasa puas dengan hasil kerja Seungyeon yang selalu bagus.

Seungyeon mengangguk, “Kalau begitu aku kembali dulu. Kalau kau butuh bantuan kau bisa memanggilku.” pesannya sebelum ia meninggalkan bilik kerja Jonghyun, kembali ke bilik kerjanya yang berada sedikit jauh di belakang.

Setelah Seungyeon pergi, Jonghyun kembali mendudukkan dirinya di bangku. Ada perubahan pesanan dari pelanggan, yang berarti ia harus segera menghubungi pihak produksi.

Tanpa sengaja mata Jonghyun menangkap secarik kertas bertuliskan namanya yang sejak tadi pagi ia tempelkan di samping layar komputer. Kertas yang dikirimkan ‘si penggemar rahasia’. Matanya tiba-tiba saja terbelalak.

“Tulisan ini…”

Jonghyun memperhatikan tulisan itu dengan tulisan yang tertera pada catatan yang diberikan Seungyeon tadi. Matanya masih cukup normal untuk menyadari bahwa kedua tulisan itu sama persis, tiap karakter dan tiap arah coretannya.

Pria itu tersenyum. Akhirnya ia sudah menemukan siapa orangnya. Si penggemar rahasia.

 

***

 

Soojung membuka matanya perlahan begitu telinganya menangkap suara-suara dari luar. Suara yang ia yakin masih berada di dalam apartemennya, mungkin sekitaran dapur atau ruang makan. Tubuhnya langsung tersentak bangun.

“Astaga! Aku lupa Amber mau datang.” Ringisnya, mengabaikan rasa pening yang masih menggerayangi kepalanya dan mencoba turun dari kasur. Mungkin saja itu Amber, yang sedang kebingungan mencari tugas kuliah mereka sedangkan sejak tadi kamarnya terkunci. Diam-diam Soojung merasa kasihan sekaligus menyesali dirinya yang seenaknya saja tidur lagi.

Sambil menggenggam sebuah buku catatan di tangannya, dengan langkah terseok Soojung berjalan ke dapur. Sesekali ia berpegangan pada dinding atau kursi yang dilewatinya. Pandangannya masih mengabur dan serasa berputar. Hal itu pulalah yang menyebabkan ia harus mengernyitkan dahi begitu melihat sesosok manusia yang sibuk mondar-mandir di dapur, mengeluarkan beberapa bahan dari lemari pendingin dan entah sedang melakukan apa di depan kompor.

“Amber?” tanya Soojung lirih. Ia lalu menggelengkan kepalanya. Tidak, itu bukan Amber. Amber tidak pernah terlihat setinggi itu.

“Minhyuk.” Soojung berujar lagi. Entah sejak kapan pria itu sampai di apartemennya. Ia tidak terkejut sebetulnya, karena password apartemen satu sama lain bukanlah rahasia. Namun jika mengingat respon yang Minhyuk berikan terakhir kali, ia sedikit terkesan jika pria itu mau datang.

Mungkin Minhyuk memang benar-benar pahlawan super.

Yang dipanggil menoleh. Ia tersenyum sekilas sebelum melanjutkan lagi pekerjaannya memotong sayuran. “Tidak terkejut, huh?”

Soojung tertawa kecil, “Mana mungkin.” Ia lalu menghampiri kursi yang berada tidak jauh di dekatnya. Ia masih butuh pegangan. “Mana Amber?”

“Aku yang dilihatmu pertama kali ketika kau bangun, tapi kau malah menanyakan Amber? Ckck…” Minhyuk menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dia sudah mencari-cari tugas kuliah kalian tapi tidak ada dimana pun. Jadi dia memutuskan untuk kembali ke kampus.”

Soojung tersenyum, “Baiklah, Tuan Pencemburu, sejak kapan kau datang?”

Minhyuk berpikir sejenak, “Hmm… Sekitar empat puluh menit yang lalu?”

“Dan kau tidak membangunkanku?”

“Aku akan membangunkanmu. Nanti, setelah masakan ini matang. Tapi kau malah bangun duluan.”

“Aku kan sudah bilang jangan khawatir.”

“Menurutmu aku percaya begitu saja?” Minhyuk membalikkan badannya dan menghampiri meja tempat Soojung duduk. Ia memegang dahi gadis itu dan dengan tenangnya menempelkan dahinya disana. “Lihat, kau bahkan seperti mayat hidup.”

Belum hilang rasa gugup Soojung karena jarak wajah mereka yang sangat dekat, Minhyuk kembali menjauhkan tubuhnya. Sambil berjalan menuju dapur ia berujar, “Kembalilah tidur. Badanmu masih panas dan wajahmu memerah. Demammu sudah berada dalam level yang patut dikhawatirkan.”

Entah Soojung harus senang atau malah kecewa mendengar hal itu. “Wajahku memerah karenamu, bodoh!”

“Tidak, aku mau disini saja.” Soojung menopangkan dagunya di atas meja, “Melihatmu pakai apron begitu belum tentu sekali dua kali dalam setahun.”

Minhyuk hanya tersenyum. Sebenarnya ia belum bisa dibilang mahir dalam memasak. Untung waktu itu ia sempat melihat kakak perempuannya memasak dan mempelajarinya dari video di internet. Ia sadar ia tidak bisa terus menunggui Soojung seharian, jadi hanya inilah yang bisa ia lakukan.

 

***

 

Ternyata semua tidak berjalan semudah yang Jungshin bayangkan. Seolhyun, yang awalnya berdecak kagum dengan pemandangan tiap sudut dapur yang memang baru pertama kali dilihatnya, sedikit demi sedikit mulai menginterupsi segala hal yang pria itu lakukan. Mulai dari mempertanyakan jenis ragi yang dipakai, mengkritik jumlah bahan-bahan yang digunakan, sampai melarang Jungshin membanting dan memukul adonan seperti yang sedang ia lakukan sekarang.

“Kalau adonan roti dibanting atau dipukul, komponen protein yang ada di dalamnya bisa rusak dan bisa berpengaruh pada tekstur akhir adonan nantinya.” Koreksi Seolhyun.

“Kalau begitu kutanya padamu. Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menguleni adonan sampai kalis dan elastis tanpa membanting atau memukulnya?”

Seolhyun tampak berpikir, “Ng… cukup lama…” lalu ia buru-buru menambahi, “Kita bisa memakai alat.”

Jungshin menggelengkan kepalanya, “Kurasa kau lebih tahu dari aku kalau adonan yang terlalu lama diuleni akan menyebabkan teksturnya menjadi lunak karena gluten di dalamnya kehilangan kemampuan untuk mengikat. Dan toko roti keluargaku melarang untuk menggunakan alat selama pencampuran adonan, karena panas dari mesin pengaduk bisa berpengaruh pada tekstur akhirnya.”

Pria itu lalu menyodorkan sebuah mangkuk besar barisi adonan kasar ke hadapan Seolhyun, “Coba kau uleni sampai kalis. Tanpa dibanting dan dipukul seperti teori yang kau katakan tadi. Aku mau membandingkan kecepatan waktunya dengan adonan yang kubuat.”

Seolhyun terdiam. Ia tidak bisa menolak karena ia meyakini teori yang diketahuinya dan tentu saja ia harus mempertanggungjawabkannya. Dengan ragu-ragu ia pun menerima mangkuk tersebut dan mulai menguleni.

Benar kata Jungshin. Adonan milik Seolhyun tidak juga menjadi kalis dan elastis seperti yang diinginkan. Seolhyun sampai ingin menangis. Tangannya sudah lelah dan beberapa karyawan mulai mendelik sinis ke arahnya, menilai bahwa keberadaannya disana hanya mengganggu. Jungshin yang awalnya cuek akhirnya memutuskan membantu Seolhyun. Pria itu menguleni dengan tekanan yang lebih besar─karena dia laki-laki─dan sesekali dibanting dan dipukul, seperti yang selama ini ia lakukan.

“Istirahatlah. Sepertinya kau lelah.” Ujar Jungshin begitu adonan milik Seolhyun sudah selesai diuleni, “Masih ada satu jam sambil menunggu proofing1).”

Seolhyun menggeleng, “Aku masih mau mencoba lagi.”

“Hah?”

“Aku mau membandingkan bagaimana hasil roti yang diuleni dengan dan tanpa dipukul. Beritahu aku takaran bahan-bahannya. Aku mau membuat adonan lagi.” Dengan sigap gadis itu mengambil tepung terigu, mentega, gula, serta ragi dan mulai menimbangnya.

“Tapi─”

“Kau bisa lanjutkan pekerjaanmu, Jungshin-ssi. Jangan khawatirkan aku.”

Jungshin pun menurut. Memang sudah menjadi tujuan Seolhyun untuk belajar, jadi ia tidak seharusnya menghalangi. Ia pun beranjak untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. “Baiklah. Takaran bahan-bahan sudah kutempel di dinding. Panggil aku jika kau butuh sesuatu.”

Seolhyun mengangguk, lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Bagaimana pun juga ia harus berhasil. Ia tidak ingin waktu seminggunya sia-sia.

Kerja keras Seolhyun membuatnya tidak mengenal waktu. Ia yang hari itu mengabaikan segala tawaran untuk istirahat ataupun sekedar makan untuk mengganjal perut terus berusaha membuat adonan yang baik. Beberapa kali ia gagal dan harus mengulang. Namun Seolhyun sudah tidak peduli.

“Seolhyun-ssi…” panggil Jungshin untuk yang kesekian kalinya. Tampaknya gadis itu sedang berkonsentrasi penuh sehingga suaranya tidak pernah dihiraukan. Dan akhirnya pria itu pun menepuk bahu Seolhyun, menyadarkannya akan keadaan sekitar.

“Ini sudah sore. Toko sudah tutup. Pulanglah, besok kau bisa kembali lagi.”

“Tapi─” Seolhyun memandang sekeliling. Ia tidak percaya dapur sudah kosong dan ia tidak menyadarinya sama sekali. Jungshin bahkan sudah mengganti seragam putihnya dengan kemeja biasa. Di tangannya tersampir coat cokelat miliknya, tanda ia sudah bersiap pulang.

“Kau tidak makan bahkan tidak istirahat seharian. Aku tidak mau toko roti keluargaku terpampang di berbagai media massa karena memakan korban seorang mahasiswi magang─jika kau tahu maksudku.”

“Tapi adonanku baru saja jadi.” Seolhyun menunjukkan adonan buatannya. Jungshin mencomot sedikit dan menekannya dengan ibu jari. Memang sudah kalis dan kenyal seperti seharusnya.

“Kalau begitu kita bagi menjadi bulatan-bulatan kecil dan taruh di dalam proofer2). Aku sudah mengaturnya agar adonannya bisa ditinggal semalaman.” Pria itu meletakkan kembali coat yang dibawanya ke meja, menyingsingkan lengan kemejanya, dan mulai membantu Seolhyun membentuk adonan menjadi bulatan-bulatan kecil.

“Menurutmu apa adonanku akan berhasil?” tanya Seolhyun ragu. Ia terus memperhatikan loyang adonannya yang sudah dimasukkan ke dalam proofer, berharap mereka akan mengembang dengan baik hingga esok pagi.

Jungshin memandangi Seolhyun dan adonan itu bergantian. Seolhyun sudah berusaha keras. Gadis itu mengetahui dengan baik teknologi yang tepat dalam membuat roti, hanya saja tidak terbiasa melakukannya.

Pria itu pun mengangguk, “Ya.”

 

***

 

Sudah dua hari Yonghwa berada di Jepang karena urusan pekerjaan. Di luar dugaannya, jadwal yang sudah disusun selama ia disana benar-benar menyita waktu. Ia bahkan tidak memiliki waktu luang yang cukup untuk beristirahat. Rencana untuk mengunjungi beberapa tempat wisata tampaknya harus ia kubur dalam-dalam.

“Sushi lagi?” tanpa sadar Yonghwa menyuarakan pikirannya, begitu tahu atasan dan rekan kerjanya yang lain mengajaknya makan malam di sebuah restoran sushi. Terhitung sudah empat kali mereka makan makanan yang sama di tempat berbeda. Entah apa yang dipikirkan orang-orang itu, daftar menu yang ada di otak mereka tampaknya hanya sushi dan ramen.

“Kenapa? Kau tidak suka?” tanya Lee Hongki, salah satu rekan kerjanya.

“Ah, bukan begitu. Tapi… tidak bisakah kita mencoba makanan lain? Gyudon misalnya? Atau sukiyaki?”

“Tapi sushi di restoran ini terkenal enak sekali. Sayang kalau kau tidak mencobanya.” tutur Kangnam, relasi bisnis yang merangkap menjadi tour guide mereka selama di Jepang.

“Bagaimana? Apa kita batalkan saja?” Han Seungho, atasan mereka, angkat bicara.

Orang-orang itu terdiam. Dari situlah Yonghwa tahu bahwa tidak ada dari mereka yang setuju dengan usulannya. Dan tampaknya ia harus mengalah.

“Tidak perlu.” Yonghwa memecah keheningan, “Kita makan sushi saja.”

Tepat seperti dugaan Yonghwa, mood orang-orang itu berubah ceria kembali. Ia benar-benar tidak mengerti. Salahkah ia merasa bosan? Apa di dunia ini hanya dirinya yang punya rasa itu? Atau rasa bosannya yang terlalu berlebihan?

Yonghwa menghela napas. Ia rindu pada Seohyun.

 

***

 

Keesokan paginya, Jonghyun memarkirkan mobilnya tepat di depan kedai kopi yang terletak di seberang kantor tempatnya bekerja. Sengaja ia datang lebih pagi dari biasanya. Ada sesuatu yang ingin ia pastikan.

Jonghyun langsung menghampiri meja kasir setelah masuk ke dalam kedai. Sebuah senyum terukir di wajahnya. Perhitungannya tidak salah. Gadis itu ada disana, sedang sibuk menuliskan sesuatu pada secarik kertas berwarna merah muda yang sama persis dengan yang selama ini ada di meja kerja Jonghyun. Gadis bernama Gong Seungyeon itu.

“Aku pesan dua cappuccino.” Jonghyun berujar.

Mendengar suara yang sudah tidak asing di telinganya, gadis itu pun menoleh. Kentara sekali Ia terkejut dan dengan terburu-buru menyembunyikan kertas yang tadi sedang ditulisnya.

“Oh, hai, Seungyeon.” sapa Jonghyun, bersikap seolah ia baru menyadari keberadaan Seungyeon disana.

“Sun…Sunbae… bagaimana─”

“Tiffany bilang kedai kopi ini enak.” potong Jonghyun, setengah berbohong.

“Oh… Yah… Begitulah…” Seungyeon menyisipkan rambutnya ke belakang telinga, tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Melihat Jonghyun di dekatnya secara tiba-tiba seperti ini membuat ia gugup setengah mati.

Tidak lama kemudian pesanan Jonghyun datang. Pria itu mengambil kedua gelas cappuccino dan menyerahkan salah satunya pada Seungyeon.

“Untukmu.” ujar Jonghyun.

Seungyeon memperhatikan gelas kopi itu dan Jonghyun bergantian dengan kaku. Ia benar-benar tidak mengerti.

“Kau tidak mau memberikan salah satu muffin itu padaku?” Jonghyun mengedikkan kepalanya ke arah muffin yang tersaji di depan Seungyeon. Muffin cokelat yang sama persis dengan yang ia terima sejak tiga hari yang lalu.

“Ah, aku lupa.” Jonghyun mengambil kertas kecil dan pulpen yang sengaja ia persiapkan, menuliskan nama ‘Gong Seungyeon’ disana, menempelkannya di salah satu gelas kopi, dan menyerahkannya kembali pada gadis itu, “Bagaimana? Sama denganmu, kan?”

Seungyeon, yang awalnya terkejut, berangsur-angsur tertawa sambil menutupi wajahnya, “Kau sudah tahu, ya?”

Jonghyun mengangguk, “Jangan tanya bagaimana aku bisa tahu. Yang jelas bukan dari orang lain.” pria itu lalu mengajak Seungyeon duduk di salah satu kursi yang terletak di dekat jendela, bermaksud menikmati sarapan sebelum masuk kerja.

“Jadi? Muffin itu benar untukku kan?” tanyanya setelah mereka berdua duduk berhadapan.

Lagi-lagi Seungyeon tertawa. Dengan refleks ia menyerahkan salah satu muffin yang dibelinya pada Jonghyun, “Ah, aku malu sekali.” rutuknya.

“Kenapa harus malu? Aku tidak keberatan.”

Seungyeon menyesap kopinya. Jonghyun pasti tahu bukan itu yang ia permasalahkan. Meskipun Jonghyun berusaha bersikap biasa, tetap saja ia tidak tahu harus memasang tampang seperti apa nantinya.

“Seungyeon-ah…”

Seungyeon menoleh, “Hm?”

Untuk sesaat Jonghyun terdiam. Ia baru menyadari Seungyeon memiliki mata yang indah. Warna irisnya yang cokelat terang tampak seolah berkilauan terkena sinar mentari pagi. Mata itu membuatnya semakin terlihat cantik. Dan mata itu yang menjerat Jonghyun, membuat dadanya berdegup tidak karuan.

Setelah berhasil mengontrol diri, Jonghyun kembali melanjutkan kalimatnya, “Bagaimana kalau mulai besok kau membuatkanku bekal makan siang juga? Aku ingin mencicipi masakan buatanmu.”

 

***

 

Sementara Minhyuk sibuk dengan masakannya, Soojung hanya duduk manis di kursinya. Matanya tidak lepas dari punggung pria itu. Ia senang Minhyuk ada di dekatnya ketika ia membutuhkan, namun keheningan yang mulai menyelubungi mereka membuatnya sedikit tidak nyaman.

“Kau marah ya?” tanyanya, merujuk kepada pembicaraan mereka di telepon beberapa jam yang lalu.

Butuh beberapa saat bagi Minhyuk untuk menyahut, “Ya.”

“Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir.”

“Aku hanya kecewa karena aku bukan orang yang pertama kali tahu.” Ujar Minhyuk, “Dan mengetahui kalau sebenarnya kau menyembunyikannya dariku malah membuatku semakin kecewa.”

“Bukan begitu maksudku. Aku hanya tidak mau menjadi beban.”

“Kalau begitu berarti kau menganggap hubungan ini sebagai beban?” tanya Minhyuk retoris, “Tidak seperti itu, Soojung-ah. Kau tetap menjadi yang paling kuprioritaskan. Ck, aku tidak mengerti jalan pikiranmu.”

Soojung menggigit bibirnya. Ternyata selama ini ia yang keliru. Laki-laki selalu ingin perempuan lebih terbuka dengan isi hatinya, seharusnya ia sadar itu. Rasanya ia ingin membayarnya dengan membenturkan kepalanya ke dinding.

“Maaf…”

Bersamaan dengan itu Minhyuk menghampirinya, meletakkan semangkuk bubur yang baru saja matang dan teh hangat ke atas meja. Ia mendudukkan dirinya di hadapan gadis itu. “Jangan lakukan lagi, oke?”

Soojung mengangguk, kemudian mulai menyuapkan bubur ke mulutnya. Entah karena Minhyuk yang berbakat atau karena kekuatan cinta, masakan itu terasa enak bahkan ketika papila lidahnya sedang tidak peka seperti saat ini. Rasanya ia bisa menghabiskan seluruh isi mangkuk besar itu sendirian.

“Bagaimana rasanya?” tanya Minhyuk takut-takut, tidak percaya diri dengan hasil karyanya sendiri.

“Kau tidak berharap aku menyamakan amatiran sepertimu dengan Dae Janggeum kan?” Soojung terkekeh, “Ini tidak buruk.”

“Setidaknya masih bisa dimakan.” Ujar Minhyuk lega. Lagipula ia memang tidak berharap banyak.

“Hei, kau tidak mau disini?” Soojung menepuk kursi yang ada di sebelahnya, “Aku butuh sandaran kepala.”

Kali ini giliran Minhyuk yang terkekeh. Sepertinya demam gadis itu tidak separah kelihatannya. Namun tetap saja ia menurut. Soojung langsung menyandarkan kepala di bahunya begitu ia pindah duduk. Sesekali gadis itu menyuapkan bubur yang masih tersisa di mangkuk ke arahnya.

“Kalau begini nanti aku bisa tertular virus darimu.”

“Kalau begitu gantian aku yang akan datang ke apartemenmu dan mengurusmu.”

“Memangnya kau bisa?”

“Bagaimana pun juga kau pasti akan memakan apapun yang kubuat. Tidak perlu khawatir.”

“Percaya diri sekali!” Minhyuk menyentil pelan dahi gadis itu.

Soojung tertawa. Ia lalu melingkarkan kedua tangannya pada lengan Minhyuk, “Jangan pergi dulu, ya.”

“Tidak akan.” Sahut Minhyuk, “Aku masih harus membereskan dapur, memberimu paracetamol dan handuk basah di dahimu. Kau ingin aku melakukan semua itu kan?”

Minhyuk masih berceloteh, “Setelah minum obat, baru kau boleh tidur lagi. Saat bangun nanti cek lagi termometer di ketiakmu, suhunya sudah turun atau belum. Kalau belum, nanti malam aku akan menemanimu pergi ke dokter. Kau mengerti?”

Hening. Soojung tidak memberikan respon dan Minhyuk merasa beban di tangan kanannya tiba-tiba saja menjadi semakin berat. Pria itu pun menoleh. Rupanya Soojung tertidur.

“Hei, bangunlah. Jangan tidur seperti ini.” Minhyuk menggerakkan tangannya perlahan. Tetap tidak ada respon.

“Hei! Aku tahu kau hanya pura-pura. Bangun, Soojung-ah.” Kali ini Minhyuk menepuk pelan pipi gadis itu. Ada respon, namun Soojung tetap enggan membuka mata.

Aish! Jung Soojung, cepat bangun sebelum kucium!”

 

***

 

Pemandangan pagi itu benar-benar tidak pernah terlintas di benak Jungshin akan terjadi. Ia yang selama ini terkenal sebagai orang yang datang paling pagi ke toko tampaknya harus mengaku kalah dari Seolhyun. Entah sudah berapa lama gadis itu datang dan berdiri sendirian di cuaca sedingin ini, gadis itu sama sekali tidak menghubunginya. Dan sedikit banyak Jungshin bisa mengerti apa alasannya; gadis itu penasaran dengan hasil adonan roti yang dibuatnya kemarin.

“Kenapa tidak menghubungiku? Aku bisa datang lebih cepat dan kau tidak perlu menunggu seperti ini.” celoteh Jungshin sambil membuka pintu toko.

“Aku takut mengganggumu. Lagipula ini hanya kekhawatiranku yang berlebihan.”

“Sudah kubilang aku tidak mau toko roti ini terpampang di berbagai media massa sebagai toko roti kriminal yang membiarkan seorang mahasiswi magang mati beku di depan toko.”

Bukannya merasa bersalah, Seolhyun malah tertawa. Setidaknya gurauan Jungshin bisa sedikit menghangatkan suasana.

Mereka pun berjalan menuju dapur. Tanpa basa-basi Seolhyun langsung melangkahkan kakinya menuju proofer tempat ia meletakkan adonannya kemarin sore dan mengeluarkannya dari sana.

“Tidak buruk. Adonannya mengembang dengan baik, tidak berlebihan.” Komentar Jungshin, yang membuat Seolhyun merasa sedikit lega.

“Kita langsung panggang saja bagaimana?”

Jungshin mengangguk setuju, “Tunggu sekitar dua puluh menit. Akan kupanaskan oven.”

Setelah roti tersebut selesai dipanggang, kedua orang itu langsung mencicipinya. Rasanya memang enak, namun tekstur yang dihasilkan sedikit bantat dan rongga di bagian dalam rotinya masih tidak merata. Seolhyun tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia hanya terdiam, memandangi roti buatannya yang masih belum ada perkembangan.

“Kau tidak perlu menghabiskannya kalau tidak suka.”

“Kenapa? Rasanya tidak buruk.” Jungshin masih terus mengunyah roti. Ia mengambil dua buah gelas kertas dan mengisinya dengan kopi yang sudah dibuatnya sambil menunggu roti dipanggang tadi. “Minumlah. Kau belum makan apapun kan?”

Gadis itu menggeleng.

“Roti buatanmu bisa menjadi sarapan kita.”

“Aku bahkan tidak menganggap itu layak dimakan.”

“Rotimu matang dan mengembang dengan sempurna. Teksturnya sudah menyerupai roti pada umumnya, hanya saja pengembangannya kurang merata.”

Seolhyun memandangi Jungshin. Pria itu tampak memakan roti buatannya dengan lahap. Komentarnya tidak terkesan menjatuhkan seperti yang ia kira. Dan itu membuat semangatnya sedikit demi sedikit kembali muncul.

Gadis itu pun mulai menggigit rotinya, memakannya tidak kalah lahap.

“Bagaimana? Sudah siap membuat roti lagi?” tanya Jungshin, setengah menggoda.

Seolhyun mengangguk mantap, “Tentu saja.”

 

***

 

Yonghwa merebahkan badannya di kasur. Semua kegiatan yang dilaluinya selama dua hari ini benar-benar menguras tenaganya, ditambah dengan menu makannya yang monoton. Selama acara makan malam tadi ia terus teringat pada Seohyun. Apa yang dikatakan orang-orang tampaknya benar; kita baru akan menyadari sesuatu itu berharga setelah kehilangan.

Pria itu mengubah posisi tubuhnya menghadap nakas. Dipandanginya ponsel yang tergeletak disana. Layarnya hitam. Semenjak perdebatannya dengan Seohyun pagi itu, wanita itu belum pernah menghubunginya. Entah apa yang sedang ia lakukan dan pikirkan. Sedangkan Yonghwa yang sudah terlalu lelah dengan segala kegiatannya, langsung jatuh tertidur begitu berbaring di kasur hotel.

Dengan sekali gerakan Yonghwa meraih ponselnya. Ia harus mengakhiri perang dinginnya dengan Seohyun malam ini. Bagaimanapun respon yang diberikan Seohyun nanti, ia harus menerima. Terserah apapun yang akan Seohyun lakukan, yang penting mereka bisa berdamai.

Setelah menekan speed dial, Yonghwa menempelkan ponselnya ke telinga. Detik demi detik menunggu panggilannya tersambung terasa sangat lama baginya. Ada kekhawatiran yang terselip di hatinya, khawatir Seohyun tidak mau mengangkat teleponnya.

“Halo?” umur Yonghwa serasa bertambah seratus tahun begitu mendengar suara istrinya. Suara yang sangat dirindukannya.

“Bagaimana kabar di Korea? Kau baik-baik saja kan?”

“Yah, seperti biasa. Kau sendiri?”

“Aku baik.” Jawab Yonghwa singkat, “Seo, ada yang ingin kubicarakan…”

“Hm?”

Yonghwa menghela napas, “Maaf… mungkin aku sudah egois. Aku tahu bagaimana keadaanmu, tapi masih menuntut ini-itu. Harusnya aku bisa lebih memahamimu. Maafkan aku…”

Hening. Seohyun tidak langsung memberikan respon dari seberang sana, yang membuat Yonghwa mulai merasa gugup.

“Aku juga minta maaf, Yong. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk bekerja dan mengesampingkan kewajibanku. Tuntutanmu itu wajar, dan tidak seharusnya aku merasa tidak terima.”

Diam-diam Yonghwa mengangguk, senang karena ternyata mereka bisa sama-sama mengerti dan tidak membuat masalah ini semakin berlarut-larut.

“Kenapa selama ini kau tidak menghubungiku?”

“Bukankah laki-laki yang biasanya menghubungi duluan?”

“Kau tidak tahu bagaimana jadwalku disini, Seo. Aku ingin sekali menghubungimu, tapi tidak pernah sempat. Maaf…”

“Kau tahu? Selama dua hari ini aku pulang ke rumah ibuku dan meminta kursus memasak kilat. Lihat saja kalau kau pulang nanti, menu sarapanmu tidak lagi sandwich, bacon, ataupun toast.” Tutur Seohyun setengah bergurau.

Yonghwa terkekeh, “Kurasa kau harus menundanya sampai lusa.”

“Eh? Kenapa? Bukankah kau pulang besok? Jadwalmu diundur?”

“Tidak, tidak, bukan begitu…” Yonghwa kembali serius, “Aku kangen sandwich dan jus apel+wortel buatanmu, Seo. Lucu, ya? Padahal baru dua hari.”

“Kau yakin?”

“Yakin. Besok buatkan, ya?”

Smoked meat sandwich?”

“He eh.”

“Dan jus apel+wortel?”

“Yup.”

“Dengan ginseng dan madu?”

“Iya, sayangku. Jangan buat aku mengulangnya dua kali.”

Seohyun tertawa lepas, tidak menyangka justru Yonghwa yang memintanya membuat menu ‘yang katanya membosankan’ itu.

“Hei! Jangan tertawa!” untung saja Seohyun tidak melihat wajahnya sekarang. Kalau tidak wanita itu pasti tidak bisa berhenti tertawa melihat wajahnya yang memerah.

“Iya, iya… besok kubuatkan. Sekarang tidurlah, kau pasti lelah.”

“Hmmm…” Yonghwa menarik selimutnya sampai ke dada. Suaranya memberat. Ia memang sudah sangat mengantuk. Namun ia ingin terus mendengar suara wanita yang dicintainya itu sampai nantinya ia terlelap.

“Kau tahu, Seo?” Yonghwa bergumam saat kesadarannya tinggal setengah, “Aku rindu padamu.”

Meskipun tidak melihat, Yonghwa tahu di seberang sana Seohyun sedang tersenyum. “Aku juga rindu padamu, Yong. Cepatlah pulang.”

Yonghwa mengangguk, “Aku akan pulang lebih cepat dari kecepatan cahaya.”

Tawa Seohyun adalah hal terakhir yang diingatnya sebelum ia jatuh tertidur. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, kali ini Yonghwa bisa tidur tenang dengan senyum menghiasi wajahnya. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk pulang ke Korea, bertemu Seohyun, dan menikmati sarapan berdua lagi, seperti biasa.

 

***

 

 

 

  1. Proofing: proses pendiaman adonan untuk fermentasi. Pada proses ini, khamir dalam ragi akan mengubah gula yang terkandung dalam adonan menjadi alkohol dan gas karbondioksida, sehingga roti dapat mengembang.
  2. Proofer: alat yang digunakan untuk proofing. Biasanya berbentuk balok dengan rak-rak di bagian dalamnya. Suhu dan RH bisa disesuaikan dengan suasana optimal bagi pertumbuhan khamir, agar roti dapat mengembang sempurna.

 

 

 

 

___________________________________

Halo! Akhirnya aku punya kesempatan buat nulis FF lagi🙂

Sesuai yang aku tulis di atas, ini series loh ya, jadi ga ada hubungannya dengan chapter sebelumnya. Kalo di Blue Medley sebelumnya aku pairing Jonghyun dengan Tiffany, mulai dari sini aku bakal pairing Jonghyun dengan Gong Seungyeon. Yoona sama Tiffany kan udah taken ya, lagian Gong Seungyeon kan partner WGM-nya. Kalo Jungshin… aku masih pairing dia sama Seolhyun karena dua-duanya sama-sama belom taken hahahaha… *sudahsudah

Soal pembuatan roti di cerita Jungshin, mungkin ada yang bertanya-tanya dari mana aku tahu sampai sedetail itu? Ya karena aku belajar. Itu bahan kuliahku selama ini, guys. Teknologi pengolahan roti. Jadi kalo ada yang masih ga ngerti atau ada yang mau ditanyain seputar roti dan kue, boleh boleh, hehehehe… Kayaknya seru deh ya kalo aku bikin FF seputar itu🙂

Oke, terima kasih atas comment-nya di FF ini dan semua FF-ku yang lain. Maaf kalau aku ga bisa balas satu per satu, tapi comment kalian tetep aku baca. Sampai ketemu di FF selanjutnya🙂

9 thoughts on “Blue Medley Series: Breakfast

  1. Wah, awalnya aku cuma tertarik gara2 pairingnya. Eh, ternyata ffnya rame banget, bahasanya bagus banget, aku suka deh. Bikin lagi seri berikutnya ya? Aku tunggu🙂

  2. wah rame ya haha~
    aaa paling suka sama ceritanya jungshin, ngga tau kenapa, ya lucu aja
    aku nggak tau loh sebelumnya kalo pembuatan roti ternyata ada mata kuliahnya juga, aku kira cuka modal resep sama praktek
    duh suka semuanya deh pokoknya
    seri lainnya ditunggu

    • Hai! Iya ada, kalo yang kuliah di Teknologi Pangan dan ngambil mata kuliah ini pasti udah ga asing lagi. Bukan cuma masak-memasak, tapi kita juga tahu bagaimana teknologi yang tepat dan apa-apa aja yang terjadi selama proses pengolahan pangan.
      Terima kasih sudah membaca🙂

  3. zzz baru baca ff cnblue lagi dan sekalinya baca, dpt ff yg bagus ceritanya. bukan cuma romantis, tp ada ilmu yg dibagi juga di ff ini haha good job author! ditunggu ff selanjutnya!!^^

  4. pairingnya itu lo thor.. cocok. jonghyun sma seungyeon. yonghwa sma seohyun, minhyuk sma krystal, keurigo.. jungshin sma seolhyun. cocok..
    smga ada ff yang lain dgn pairing yg cocok.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s