[Chapter 8] Another Cinderella Story

Another Cinderella Story

“This is not Disney’s Cinderella anymore.”

by Shinyoung

Main Cast: Bae Suzy & Lee Junho || Support Cast: Ok Taecyeon, Lee Jieun || Genre: School Life, Drama & Romance || Length: Chapter 8/? || Rating: T || Credit Poster: Jungleelovely at Poster Channel || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2015 by Shinyoung.

Chapter 8 — Finding The Truth

Prologue | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7

*

Sama seperti murid yang lainnya, Suzy berusaha untuk datang lebih awal hari itu. Tak terasa, sudah dua minggu ia bekerja sebagai wakil Junho dan tak terasa pula begitu banyak beban yang sudah ia pikul selama ini. Baru dua minggu saja sudah selelah ini, apalagi ia harus bekerja selama dua bulan ke depan.

Ini namanya penyiksaan, menurut Suzy.

Baru saja Suzy menarik gagang pintu ruangannya—lebih tepatnya lagi milik Lee Junho dan juga dirinya—dengan ragu, mendadak ia mengurungkan niatnya. Ia pun merapikan lagi rambutnya dan memastikan bahwa pagi itu ia sudah cukup menarik untuk dilihat. Namun, Suzy kembali berpikir, untuk apa ia melakukan hal tersebut?

“Ya, bukan untuk apa-apa, aku memang hanya ingin merapikan diri.”

Tangan Suzy kembali menarik gagang pintu ruangan itu ke bawah dan mendapati sosok Junho yang sudah sibuk mondar-mandir di dalam ruangan tersebut sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Suzy. Laki-laki itu tampaknya sedang memikirkan sesuatu, wajahnya menampakkan kegelisahan, rautan-raut kepanikan menyelimuti laki-laki itu.

Dengan hati-hati, Suzy melangkah masuk dan meletakkan buku-buku yang dibawanya di atas meja kaca membundar di tengah-tengah ruangan. Di sekeliling meja tersebut ada dua sofa yang digunakan untuk menerima tamu atau sekedar sebagai tempat istirahat Suzy dan Junho ketika mereka kelelahan.

Setelah berhasil meletakkan buku-bukunya tanpa menyadarkan Junho sedikitpun, Suzy melangkah dengan pelan-pelan ke arah punggung Junho. Sebelum mengejutkan lelaki itu, Suzy menyiapkan kedua tanganya untuk mencengkram bahu Junho dan membuat lelaki itu melonjak sedemikian rupa.

“Apa yang kau lakukan, Bae Suzy? Jangan main-main denganku,” tegur Junho tepat sasaran.

“E—Eh—Tidak, aku tidak melakukan apapun!” kilah Suzy dan segera menurunkan tangannya cepat dan menyimpan tangannya di balik badannya. Suzy pun tersenyum semanis mungkin untuk menyembunyikan kelakuan yang hendak dilakukannya pada Junho.

Junho hanya memutar bola matanya. “Apa yang kau sembunyikan dibalik sana?”

Suzy mengangkat tangannya lalu tersenyum lebar. “Aku tak menyembunyikan apapun. Uh—Uh, sudah, ya. Aku mau keluar dulu. Tadi aku ke sini hanya untuk meletakkan buku-buku. Setelah itu, aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggu orang yang tengah asik tertidur sampai-sampai tidak mendengarku masuk.”

Saat Suzy hendak melangkahkan kakinya, Junho mencengkram pergelangan tangan Suzy dan spontan membuat gadis itu langsung berhenti. Gadis itu membalikkan matanya dan mengangkat alisnya ke arah Junho.

“Ada apa?”

Junho terdiam, kemudian ia melepaskan tangannya. “Tidak jadi. Pergi saja.”

Suzy melotot ke arah Junho marah. “Kau mengusirku? Kalau ingin bertanya, tanya saja!”

“Aish,” Junho mendesah berat. Ia berdiri kemudian menepuk kepala gadis itu pelan dan mengacak rambutnya. “Sudahlah, kau kembali saja. Aku mau melanjutkan pekerjaanku. Kau masih punya banyak tugas, bukan?”

Suzy terdiam, kemudian merapikan rambutnya yang acak-acakan akibat perlakuan Junho barusan padanya. Ia pun mengerucutkan bibirnya dan mengangguk pelan. “Baiklah, kalau tidak jadi. Kalau kau memang ingin bertanya padaku, tanya saja. Aku tidak akan marah padamu.”

Junho mengangguk pelan. Ia kembali menepuk kepala Suzy. “Kembalilah. Oh iya, aku minta maaf soal ciuman kemarin.”

Mendadak, wajah Suzy langsung berubah menjadi kepiting rebus. Dia tahu bahwa sebenarnya, ada perasaan yang menggelitik apabila ia mengingat-ingat kejadian tersebut. Suzy pun segera memalingkan wajahnya agar Junho tidak mengetahui apa yang sebenarnya tengah tergambar pada wajahnya.

“Jangan sebut-sebut kejadian itu!” tukas Suzy. “Aku sudah memaafkanmu.”

“Y—Ya, tapi—”

Suzy membalikkan badannya dan hendak meninggalkan ruangan Junho. “Sudah, ya! Aku mau kembali ke kelas!” serunya. Dia pun membuka pintu ruangan Junho dan menutupnya dengan cepat.

Sedangkan itu, Junho hanya bisa tersenyum tipis.

“Kau sudah mencari data-data yang aku butuhkan?”

Wooyoung menganggukkan kepalanya. “Ini. Untuk apa, sih, kau mencari ini?” tanya Wooyoung bingung. Ia menelusupkan kedua tangannya ke dalam kantung celana seragamnya setelah menyerahkan berkas tersebut. “Bukankah pesta tahunan sekolah kemarin berjalan lancar dengan sponsor-sponsor yang dimintai oleh Suzy? Dia sudah bekerja dengan sangat baik bukan?”

Junho menganggukkan kepalanya pelan. “Aku bukan menilai soal pekerjaan Suzy dalam mencari sponsor. Aku ingin tahu siapa yang telah meracuni minuman Suzy. Aku penasaran kenapa hanya Suzy saja yang teracuni? Aku curiga orang itu punya pengaruh besar disini dan apa motifnya.”

Wooyoung memutar bola matanya. “Kalau kau suka padanya, kau tinggal bilang padanya. Tidak usah melakukan hal merepotkan seperti ini. Kau hanya akan membuang-buang waktumu, Lee Junho. Toh, kalaupun kau sudah menangkap orang itu, apa yang akan kau lakukan padanya?”

“Aku akan mengeluarkannya dari sekolah ini jika perlu.”

Wooyoung mendesis pelan. “Cih, memangnya kau benar-benar bisa?” tanyanya sambil menaikkan alisnya. “Sudah, ya, aku mau pulang. Jangan pulang sore-sore, bisa-bisa kau dihantui hantu sekolah. Memangnya kau mau?”

Junho hanya tertawa pelan dan membiarkan Wooyoung melangkah keluar dari ruangan kerjanya. Ia menghela nafas panjang lalu membuka setumpuk berkas yang baru saja diberikan oleh Wooyoung. Dengan cermat, ia membolak-balik halaman-halaman tersebut dan mencatat hal-hal penting yang mungkin saja ia butuhkan.

Baru saja, ia ingin membuka halaman selanjutnya, sebuah ketukan di pintu membuatnya melonjak. Cepat-cepat ia menutup berkas-berkas tersebut dan memberikan izin pada orang yang mengetuk pintu itu.

“Apa yang kau lakukan jam segini?”

Junho memijat pelipisnya sebentar kemudian ia bangkit dan membungkuk. “Sajangnim. Aku masih mengerjakan tugas-tugas sekolah yang belum selesai. Silahkan duduk disana.”

Laki-laki tua yang ia kenal sebagai pemilik sekolah sekaligus kepala sekolah SMA Seungri itu membuatnya bergetar. Tak hanya itu, sudah lama dia tidak berbincang-bincang dengan lelaki yang juga ia ketahui sebagai ayah dari Taecyeon.

“Aku kesini untuk menanyakan keadaan dia. Bagaimana dengannya? Apa dia masih sering membuat onar?”

Junho menggeleng pelan lalu terseyum hangat. “Dia sudah tidak lagi berulah. Entah apa yang membuatnya seperti itu tapi aku berharap itu adalah perubahan yang baik bukan perubahan yang buruk.”

“Aku harap juga begitu,” jawab Tuan Ok. “Jadi, bagaimana perkembangan sekolah? Apa ada peningkatan dengan bantuan gadis muda itu? Siapa? Oh, Bae Suzy.”

“Iya, sedikit,” ujar Junho lalu tersenyum tipis. “Apa Sajangnim tidak pulang?”

“Oh, setelah ini, aku akan pulang. Kau jangan pulang malam-malam. Apa gadis muda itu tidak menemanimu? Dia pasti masih mengerjakan tugasnya.”

“E—Eh?”

Tuan Ok mengerutkan keningnya. “Kau tidak tahu? Dia masih ada di taman sekolah sendirian mengerjakan sesuatu—aku tidak tahu itu apa tapi tampaknya dia masih serius. Dan yang memberitahunya adalah Guru Kang.”

“O—Oh, aku pikir kau melihatnya sendiri. Guru Kang juga belum pulang?”

“Dia baru saja pulang,” jawab Tuan Ok dan bangkit dari sofa yang didudukinya. “Sudah, ya, Lee Junho. Aku pulang dulu. Aku harap kau bisa mengerjakan tugas-tugasmu secepatnya dan jangan berlama-lama disini. Bisa-bisa kau ditemani orang yang tidak kau inginkan.”

Junho hanya tersenyum dan mengangguk, ia bangkit dari sofa juga dan membungkuk rendah pada Tuan Ok. Setelah Tuan Ok pergi, Junho baru bisa menghela nafas panjang. Cepat-cepat, ia melangkah menuju jendela yang berada di belakang meja kerjanya. Memang kebetulan jika jendela tersebut menghadap ke arah taman sekolah.

“Ah, dia masih disini rupanya.”

Suzy menutup buku-buku yang baru saja digunakannya untuk mengerjakan tugas. Kemudian ia memasukkan buku-buku tersebut ke dalam tasnya dan segera bangkit. Sejenak, ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 5 sore.

“Bae Suzy!”

Gadis itu menolehkan wajahnya dan mendapati laki-laki yang saat ini tidak ingin ia temui. Sangat. Terutama, dia memang sedang dalam proses ingin menjauhi lelaki misterius yang membuatnya harus ikut-ikutan bersembunyi.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Suzy tajam. “Kau belum pulang?”

Laki-laki itu tersenyum. “Wah, ada apa denganmu? Tiba-tiba berubah menjadi galak seperti itu? Apa aku punya salah denganmu?” tanya lelaki itu sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya dengan santai. “Jangan katakan kau juga ikut-ikutan seperti murid lain yang membenciku—membenci Ok Taecyeon lebih tepatnya.”

Suzy mendengus. “Memangnya aku tampak galak? Lupakan soal itu. Aku sama sekali tidak membencimu,” Suzy berkilah. Entah kenapa, rasanya Suzy merasa kesal dengan lelaki ini semenjak kejadian terakhir yang membuatnya terpaksa dicium oleh Junho. Ia pun mendesah pelan mencoba melupakan kejadian memalukan itu.

“Cih, sudahlah.” Taecyeon mengeluarkan tangannya dari saku celana seragamnya dan melipat tangannya di depan dada. “Kenapa kau belum pulang? Apa kau masih menunggu Lee Junho atau yang lainnya. Atau jangan-jangan kalian memang saling menunggu?”

“Apa maksudmu?”

Taecyeon memutar bola matanya. “Tidak usah berpura-pura seperti itu. Aku tau kalian pasti punya hubungan spesial sehingga tak sedikit orang yang membicarakan kedekatan kalian.”

“Aku—Aku tidak mengerti dengan pembicaraanmu!”

“Oh, ya?” Taecyeon menaikkan alisnya. “Barusan aku melewati ruangan Junho dan aku melihat dia masih disana sedang berbicara dengan ayahku. Saat aku ingin ke tempat parkir, aku melihatmu masih disini. Kupikir kalian memang sengaja melakukannya.”

Ya! Jangan menuduh hal yang tidak-tidak, sialan—”

“Tunggu. . . Sialan?”

“Ya, benar. Kau laki-laki sialan. Beraninya kau membicarakan hal-hal yang sama sekali bukan fakta. Dengar, aku sama sekali tidak punya hubungan dengan Lee Junho. Aku hanya menjalankan tugas yang diberikannya!”

Mendadak, nafas Suzy menjadi lebih cepat daripada biasanya. Dia tidak tahu mengapa  ia menjadi sekesal ini pada Taecyeon. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah semarah ini pada lelaki itu. Hingga akhirnya, ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Mungkin ini ada pengaruh juga karena ia tengah menstruasi.

“Suzy?”

Suzy menolehkan wajahnya dan mendapati Junho yang tengah menatapnya bingung. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya pada Taecyeon dan mengangkat alisnya. Ia menyampirkan tasnya pada bahu kanannya.

“Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Junho pada Taecyeon.

Taecyeon mendengus. “Jadi kalian berdua tengah melakukan sandiwara, ya?”

Suzy mengerutkan keningnya. “Apa yang kau bicarakan, Taecyeon? Aku sama sekali tidak mengerti. Berhentilah membicarakan hal-hal yang tidak-tidak.”

“Cih,” Taecyeon meludah sembarang. “Hal-hal yang tidak-tidak? Aku membicarakan sebuah fakta. Apa kalian berdua berpura-pura menanyakan, ‘apa yang kau lakukan disini’ pada masing-masing? Padahal, kalian berdua memang telah janjian bahwa kalian akan pulang bersama, ‘kan?”

“Apa yang kau bicarakan?” tanya Suzy kesal. “Aku sama sekali tidak mengerti! Aku tidak tahu bahwa Junho berada disini juga. Jangan menuduh yang aneh-aneh!”

“Aku tidak menuduhmu, Bae Suzy,” ucap Taecyeon dan tersenyum miring.

“Hentikan, Ok Taecyeon,” potong Junho.

“Oh. . . Sekarang, kau ingin membela pacarmu, ya?”

Junho melotot. “Aku dan Suzy bahkan tidak berpacaran. Omong kosong apa yang tengah kau bicarakan saat ini? Sekarang sudah sore, lebih baik kita semua pulang,” kata Junho sembari menghela nafas panjang.

Taecyeon menyampirkan tasnya pada bahu kanannya. “Dengar, ya, kalian berdua. Masalah kita belum selesai sampai kalian berdua mengatakan yang sebenarnya. Aku membencimu, Bae Suzy.”

Suzy terdiam. “Kau membenciku?”

“Ya, karena kau tidak membalas cintaku.”

“Apa?” Tubuh Suzy bergetar. “Aku tidak mengerti. . .”

Taecyeon tersenyum miring lagi. “Kau tidak mengerti? Aku menyukaimu, bodoh. Kau justru menyukai lelaki tolol ini. Kau menyukai Lee Junho, bukan?”

“A—Aku tidak menyukainya. Lagipula, aku memang tidak menyukaimu, Ok Taecyeon. Aku. . . Aku hanya menganggapmu sebagai temanku, sama seperti perasaanku pada Junho. Aku menganggap kalian semua sebagai temanku,” kata Suzy terbata-bata.

“Cih, kau berbohong lagi.”

Suzy membenamkan wajahnya di atas bantalnya. Rasanya dia tidak mau berangkat ke sekolah besok. Perlahan, air matanya mulai menetes. Ia kembali teringat bagaimana wajah Junho ketika mendengar pernyataannya.

Benar.

Taecyeon benar.

Dia berbohong. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Bagaimana pun, sejak awal Junho selalu bersikap baik padanya. Dia menyukai Junho. Dia menyukai bagaimana Junho bersikap manis padanya. Dia menyukai seluruh perlakuan Junho. Dia ingat ketika ia diberitahu oleh ayahnya bahwa Junho lah yang membawanya ke rumah sakit ketika ia terkena racun.

“Suzy-ya. . . Bolehkah aku masuk ke dalam?”

Cepat-cepat Suzy menghapus air matanya dan ia pun langsung terduduk di atas tempat tidurnya. Sedangkan Tiffany melangkah masuk ke dalam kamarnya. Ia pun tak kuasa menatap wajah Tiffany yang begitu hangat.

“Ada apa? Kau belum makan malam dan kau pasti baru saja selesai menangis,” kata Tiffany sembari duduk di sampingnya. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian mengedarkan padangannya pada kamar Suzy. “Apa yang terjadi di sekolah?”

Suzy menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak ada apa-apa. Aku menangis karena aku tengah menstruasi. Menstruasi yang kali ini membuat perutku sakit.”

Tiffany tertawa pelan. “Kau ini bukan pembohong yang handal, ya. Kalau kau sakit perut, sekarang kau pasti sudah tiduran di atas tempat tidur. Tidak terduduk seperti ini. Ayo, ceritakan padaku apa yang terjadi sebenarnya? Apakah ada hubungannya dengan Jieun?” tanya Tiffany.

Lagi-lagi, Suzy menggelengkan kepalanya. “Bukan. Bukan apa-apa. Sungguh.”

Tiffany tersenyum tipis. “Kalau begitu, ini pasti ada hubungannya dengan Lee Junho. Apa yang terjadi antara dirimu dengannya? Jika bukan dengan Lee Junho, maka ini ada hubungannya dengan Ok Taecyeon.”

Suzy menolehkan kepalanya cepat pada Tiffany. “B-Bagaimana bisa kau mengetahui semua itu? Tunggu. . . Jangan bilang kalau kau selalu mengawasiku dari manapun? Katakan, Tiffany unnie! Apa yang kau lakukan?”

Tiffany menganggukkan kepalanya. “Tentu saja, aku tidak akan membiarkanmu seorang diri di sekolah. Aku harus tahu apa saja yang terjadi denganmu di sekolah. Jadi. . . Bisakah kau ceritakan kejadianmu yang kali ini? Aku tidak tahu apa-apa.”

Suzy mendengus. “Bohong. Kau pasti sudah tahu yang sebenarnya.”

“Jadi. . . Apa yang akan kau lakukan ke depannya? Kau sudah mengatakan bahwa kau tidak merasakan apapun pada Junho—si tolol itu. Sebenarnya, kau menyukainya, bukan? Kau membohongi perasaanmu sendiri.”

Suzy menghela nafas berat. “Benar. Aku menyukainya. Kau puas, unnie?”

Tiffany hanya tertawa. “Aku belum puas. Aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan ke depannya? Apa kau akan terus bersikap seolah kau tidak memiliki perasaan pada Lee Junho? Atau kau punya trik yang lainnya?”

“Entahlah. . . Aku—Rasanya, aku tidak mau berangkat ke sekolah besok. Aku tidak mau menghadapi Junho. Rasanya pasti aneh.”

“Kau ini selalu memberikan spekulasi yang aneh. Aku yakin, Junho bisa mengatasi situasi tersebut. Coba kau ajak bicara dan bersikaplah bahwa tidak ada apapun yang terjadi antara dirimu dengannya. Apa kau mau bolos sekolah hanya karena masalah itu? Apa kau tidak takut ayahmu akan bertanya yang macam-macam?”

Spontan, Suzy menggeleng. Tentu saja, dia tidak mau hal tersebut sampai terjadi. Dia tidak mau apapun yang terjadi padanya berhubungan dengan ayahnya. Dia tidak mau mengganggu kehidupan ayahnya. Dia tidak mau melengserkan posisi ayahnya sebagai pengusaha terkaya di Korea Selatan.

“Kau tidak mau, bukan?” tanya Tiffany sekali lagi dan Suzy mengangguk mantap kali ini, lebih mantap daripada sebelumnya. “Karena itu, jangan sampai kau membolos sekolah. Kau hanya akan membuat ayahmu merasa kecewa karena telah membiayaimu di sekolah internasional dan kau bisa bergaul dengan murid-murid intelek.”

“. . . Tapi, tetap saja. Aku masih merasa bahwa aku tidak bisa menemuinya besok.”

“Percayalah padaku, kau bisa melakukannya.”

“Aku—”

“Berhentilah mengeluh,” saran Tiffany dan menepuk kepala Suzy pelan. Ia bangkit dari tempat tidurnya kemudian ia menatap Suzy pelan. “Mari kita ke bawah sekarang. Ayahmu meminta kita berdua untuk makan malam bersama di luar.”

“Junho!”

“Ada apa, sih?”

Min mendengus kesal. “Kau tidak mau ikut makan?

Junho menutup berkas-berkas yang dibacanya, lalu memutar badannya selagi ia masih berada di atas kursinya. “Kau tidak lihat apa bahwa aku masih sibuk?” tanya Junho sambil menunjuk tumpukkan buku dan kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya.

Min melirik ke belakang Junho lalu memutar bola matanya. “Bisa kah kau hentikan semua pekerjaan itu? Untuk apa, sih, kau sesibuk itu? Kenapa kau tidak meminta wakil atau murid yang lain untuk mengerjakan semua ini? Lagi pula, apa mereka tidak khawatir melihat kau yang sudah punya kantung mata?”

Junho mengangkat bahunya dan kembali memutar dirinya menghadap meja belajar. Dengan kesal, Min pun menerobos masuk ke dalam kamar Junho dan menarik lelaki itu. Junho pun melotot ke arah Min.

“Apa? Kau mau memberontak?! Kau sudah tahu berapa makan malam yang kau lewatkan hanya untuk mengerjakan tugas-tugas tak penting itu?!” tanya Min lagi.

“Lee Minyoung! Lee Junho! Apa yang kalian lakukan di atas sana?”

“Bukan apa-apa, Bu!” seru Min secepat mungkin sebelum Junho meneriakkan sesuatu yang membuat ibunya berpikiran macam-macam tentang dirinya.

“Cepat! Turun ke bawah. Kau tahu, ayahmu sudah mengajak kita semua untuk makan malam di luar. Tapi, semua itu gagal karena kau. Kau selalu mengerjakan tugas ini dan itu sehingga ayahmu membatalkan makan malam di luar sana,” jelas Min kesal.

Junho menahan langkahnya, kemudian melepaskan tangan Min dari pergelangan tangannya. Ia pun menghela nafas kemudian merapikan pakaiannya yang kusut akibat perbuatan Min barusan.

“Biarkan aku ganti baju dulu, setelah itu kita semua berangkat makan malam di luar. Bilang pada Abeoji bahwa kita semua makan malam di luar. Biar aku yang membayar makan malam semuanya,” kata Junho tegas.

Mata Min yang sebelumnya penuh kobaran api pun langsung berubah menjadi berbinar-binar. Sedangkan Junho, dia tidak mau mendengar tanggapan yang diberikan oleh Min pun langsung membalikkan badannya dan kembali memasuki kamarnya. Lelaki itu menutup pintu kamarnya sekeras mungkin.

Unnie, apa yang kau lakukan pada Junho Oppa hingga dia seperti itu?” tanya Hangyul yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya. “Kau meracuninya dengan pembersih lantai atau bagaimana?”

Tawa Min pun langsung pecah. Ia hanya melambaikan tangannya tak kuat dan menghapus air matanya akibat tertawa berlebihan. Min pun menghampiri Hangyul dan mendorong gadis itu masuk ke dalam kamarnya.

“Sebaiknya kau cepat ganti baju karena kita semua akan makan di luar! Junho akan membayar makanannya,” ujar Min penuh semangat. “Cepat! Cepat! Kau dandan secantik mungkin.”

“Baiklah, unnie. Terserah kau saja.”

Tak lama setelah itu, semua keluarga telah berkumpul. Ayah Junho pun muncul dari ruangan kerjanya dengan pakaian rapi. Ia menatap Junho lalu menggosok pelipisnya pelan. Ia mendesah berat kemudian tersenyum tipis.

“Jadi, Lee Junho, kita semua akan makan dimana?”

“Aku akan menyetir mobilnya.”

“Ayo, sebaiknya kita turun,” ucap Bae Seung-Joon ketika keduanya telah tiba di sebuah restoran ternama.

Suzy melepas sabuk pengamannya. Ia melirik ke arah dalam restoran yang begitu mewah dan tampaknya hanya dikunjungi oleh orang-orang dengan uang yang diatas rata-rata. Selain itu, Suzy bisa melihat bahwa gaya yang dipakai oleh restoran tersebut cukup klasik dan moderen.

Malam ini, ayahnya menggunakan BMW, bukan limousine. Alasannya, Suzy telah mewanti-wanti ayahnya agar malam ini menggunakan mobil BMW saja, semenjak ayahnya tidak meminta bodyguard untuk mengawal mereka.

Appa. . . Apa ini tidak berlebihan? Kita hanya berdua dan kita makan disini?” tanya Suzy sembari meletakkan sabuk pengamannya ke belakang. Ia menoleh pada ayahnya yang baru saja melepas sabuk pengaman.

Ayahnya mengangguk pelan dan mengusap puncak kepala anaknya. “Maaf, Suzy-ya, aku sudah memesan meja untuk kita berdua. Aku yakin kau pasti suka makan disini. Ini adalah sebuah kesempatan untuk makan berdua. Kita jarang makan malam berdua karena kesibukanku.”

Pada akhirnya, Suzy hanya menganggukkan kepalanya dengan alasan dia tidak mau mengecewakan ayahnya. Bagaimanapun, ayahnya telah berusaha untuk mencari waktu agar bisa makan berdua dengannya. Memang benar bahwa mereka jarang, bahkan baru sekali saja makan malam berdua akibat kesibukan ayahnya. Ini adalah kesempatannya untuk makan bersama ayahnya. Mengungkapkan kata-kata yang selama ini selalu dipendamnya. Selama ini dia hanya bercerita pada Tiffany dan Tiffany.

Tak pernah sekalipun pada ayahnya. Meskipun dia memang ingin bercerita, ayahnya selalu tidak ada dan selalu sibuk mengerjakan hal ini dan itu. Jikalau dia menganggu ayahnya, bisa-bisa dia justru menunda ayahnya untuk menyelesaikan pekerjaan. Jika ayahnya memang tidak ada pekerjaan, ayahnya justru sudah naik ke tempat tidur karena terlalu lelah. Suzy bisa mengerti semuanya.

“Baiklah, Appa. Ayo, sebaiknya kita turun saja.”

Keduanya pun turun dari mobil bersamaan dan Suzy langsung menyelipkan tangannya diantara tangan kiri ayahnya. Bae Seung-Joon pun menoleh ke arah Suzy dan tersenyum hangat pada anaknya. Suzy hanya tertawa melihat senyuman hangat ayahnya. Ketika keduanya memasuki restoran, seorang pelayan lelaki menghampiri mereka dan memberi hormat.

“Atas nama Tuan Bae?”

Bae Seung-Joon pun menganggukkan kepalanya. Lelaki itu menuntun mereka menuju ke arah salah satu meja yang berada di dekat jendela. Ketika mereka telah duduk di meja mereka, pelayan itu langsung pergi dan memberi instruksi pada mereka untuk memanggilnya jika mereka telah siap dengan pesanan mereka. Suzy pun mengedarkan pandangannya pada restoran tersebut.

Restoran mewah dengan meja-meja berbentuk bulat yang dilindungi oleh kain putih persegi penuh bermotif di ujungnya. Di atas setiap meja ada sebuah vas kecil berisi bunga palsu menghiasi meja. Lampu-lampu yang bergantung diatas sana berjejer dengan rapi. Warna lampu yang cukup ke kuningan menciptakan suasana restoran yang berwarna oranye. Lagu yang mengalun pelan di seluruh penjuru restoran adalah lagu-lagu Korea. Suzy cukup terkejut ketika mendengarnya, namun ia bisa mengerti bahwa tampaknya restoran itu punya keunikan tersendiri.

“Suzy, kau mau pesan apa?” tanya Bae Seung-Joon.

“A—Ah, aku? Sebentar, ya. . . Aku mau lihat dulu.” Suzy menarik buku menu yang belum dibukanya semenjak pelayan pria tadi meninggalkannya. Dia justru sibuk mengedarkan pandangannya pada restoran tersebut. Ia pun membuka buku menu itu dan membalik-balik halamannya. “Hm. . . Aku pesan steak bolognese, dessert-nya vanilla ice cream, dan minumnya milkshake.

“Baiklah.”

Bae Seung-Joon menekan sebuah tombol yang ada di dekat mejanya, kemudian pelayan pria tadi datang menghampiri meja mereka. Ia mencatat pesanan yang disebutkan oleh Bae Seung-Joon, kemudian pergi setelah memberi pesan pada mereka untuk menunggu sekitar 15 menit. Bae Seung-Joon hanya menganggukkan kepalanya.

Sedangkan Suzy mulai memainkan ponselnya untuk memberi tahu pada Jieun bahwa malam ini dia sedang makan malam bersama ayahnya. Jieun menanggapinya dengan emoticon super meriah karena senang mengetahui Suzy bisa makan malam dengan ayahnya. Jieun tahu bahwa Suzy tak pernah makan malam dengan ayahnya dan Suzy sangat menunggu-nunggu kesempatan itu.

“Suzy?”

Suzy menyimpan ponselnya ke dalam tas berwarna hitam miliknya. Bukan seperti tas milik para artis, dia hanya memakai tas biasa yang sering dipakai oleh teman-temannya. Dia sendiri memang meminta hal tersebut pada Tiffany untuk tidak mengenakan sesuatu yang terlalu mewah mengingat banyaknya aksi kejahatan.

Ne, Appa?

Bae Seung-Joon melipat kedua tangannya sembari menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia menggigit bibirnya dan menatap Suzy. “Ada yang ingin kau ceritakan? Mungkin tentang sekolahmu? Atau yang lain. Mungkin… Tentang masalah percintaanmu?”

Suzy langsung melotot. “Appa!” desisnya kesal. “Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Aku hanya. . .”

“Hanya apa?” goda Bae Seung-Joon. “Ceritakanlah.”

“Aku mau bertanya. Apa ayah memang mengenal ayah Taecyeon? Seperti apa Taecyeon itu? Apa dia sebaik yang ayahg kenal?”

Bae Seung-Joon terdiam sejenak. “Aku tidak tahu. Tapi, aku minta maaf jika aku pernah mengecewakanmu, Suzy. Saat malam pesta tahunan sekolah. . . Sebelumnya, Taecyeon meminta pada ayahnya untuk memintamu pergi bersamanya. Maka dari itu, ayah Taecyeon mengatakan pesan Taecyeon untukku. Itulah mengapa aku memintamu untuk datang bersamanya. Aku tidak mengerti apa tujuannya—tapi, aku percaya bahwa Taecyeon pasti menyukaimu.”

Suzy memutar bola matanya. “Tapi, aku tidak menyukainya, Appa.

Bae Seung-Joon membulatkan matanya. “Dia sudah mengatakan hal tersebut padamu?”

Suzy menggigit bibirnya. “Dia memberitahunya tadi saat pulang sekolah. Aku mengatakan bahwa aku hanya menganggapnya sebagai teman. Aku… Aku benar-benar tidak menyukai Taecyeon dan aku merasa—merasa sedikit takut padanya.”

“Takut?” Alis Bae Seung-Joon bertautan. “Apa yang dia lakukan padamu? Apa dia mengancammu hal yang tidak-tidak? Atau haruskah aku memesan bodyguard baru demi keamananmu?”

Suzy segera melambaikan tangannya pada ayahnya. “T-tidak! Tidak usah, Appa. Kau ini berlebihan. Bukan. Dia bukan mengancamku. Aku hanya punya firasat buruk akan hubungannya dengan Lee Junho—”

“Lee Junho? Kau mengenal Lee Junho? Kau mengenalnya?”

N-ne. Ada apa, Appa?” tanya Suzy perlahan. Dia menatap ayahnya dengan takut. Dia takut ayahnya mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan Junho sehingga ayahnya melarangnya untuk berteman dengan Junho. Tapi, Suzy langsung terdiam dan teringat bahwa untuk apa dia takut jika ia tidak bisa berteman dengan Junho? Dia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia yakin bahwa ada yang tidak beres dengan pikirannya akhir-akhir ini.

“Kenapa ekspresimu? Kau takut aku melarangmu berteman—tunggu. Jangan bilang kau berpacaran dengan Lee Junho?” tanya Bae Seung-Joon lalu tertawa kecil. Belum sempat Suzy menjawab lagi, Bae Seung-Joon langsung tersenyum. “Ah. . . Aku baru ingat, bahwa Junho-lah yang membawamu ke rumah sakit. Pantas saja kalian mengenal. Kau tidak perlu takut bahwa aku melarangmu untuk berpacaran—”

Appa…,” panggil Suzy pelan. “Aku tidak berpacaran dengannya.”

“Oh, ya?” tanya Bae Seung-Joon penasaran. “Mungkin akan berpacaran dengannya. Aku tidak melarangmu. Dia anak yang baik dan aku mengenal ayahnya juga. Ayahnya adalah rekan kerjaku. Ayahnya punya saham di perusahaanku dan dia adalah orang yang sangat aku percaya. Ayahnya sudah mengenalku selama 20 tahun semenjak aku masih duduk di bangku SMA.”

“J-jadi… Appa berteman dengan ayahnya Junho dan ayahnya Taecyeon?”

Bae Seung-Joon menganggukkan kepalanya. “Lebih tepatnya, kami bertiga memang berteman sejak kami duduk di bangku SMA. Karena itu—”

“Wah, sebuah kebetulan. Bae Seung-Joon?”

Baik Bae Seung-Joon maupun Suzy langsung menolehkan kepala mereka. Betapa terkejutnya Suzy begitu mendapati sosok Junho yang berdiri di belakang seorang lelaki tua yang baru saja menyapa ayahnya. Sedangkan itu, seorang wanita cantik juga tersenyum ke arah ayahnya dan menyapa ayahnya.

“Lee Junki! Apa yang kau lakukan disini?” tanya Bae Seung-Joon. “Kau ini, selalu membuatku terkejut. Kau juga makan disini atau bagaimana?”

“Tentu saja! Anakku mau membayarkanku makan disini.”

Bae Seung-Joon melirik Suzy. “Kalau begitu, kenapa kita tidak bergabung saja? Akan aku panggil pelayan untuk menyatukan meja kita semua. Ada berapa orang?”

Lee Junki tertawa pelan. “Kau bisa saja, Seung-Joon! Aku yang akan panggil pelayan. Aku datang bersama saudaraku. Jadi kami berjumlah 7 orang. Kita bisa pesan ruangan pribadi yang di lantai dua kalau begitu.”

Bae Seung-Joon mengangguk dengan setuju. “Tentu saja! Kau ini pintar sekali. Ayo, ayo.”

Sedangkan kedua orang tua itu hanyut dalam pembicaraan mereka sembari menuju seorang pelayan untuk memesan sebuah ruangan di lantai dua, Suzy hanya bisa melirik Junho yang tengah menatapnya malas. Sedangkan itu, Suzy hanya bisa mendengus kesal dan mengalihkan pandangannya dari Junho.

“Suzy, ikut aku.”

Suzy menoleh dan mendapati bahwa Junho sudah menggenggam tangannya dan menariknya ke luar dari restoran itu. Sedangkan, keluarga Junho justru tidak menyadari bahwa dua orang itu sudah berada di luar restoran untuk melakukan pembicaraan yang tak terduga sama sekali.

 

To be Continued

April 4, 2015 — 01:30 P.M.

::::

a.n: Eh, gila! Maafin banget. Gila, udah satu bulan lebih gue gak update. Ini adalah akibat dari gue yang disuruh bikin film Indonesia sama guru. Gila, itu film bener-bener bikin gue stress berat dan gue sekarang ada tugas film lagi. Event sekolah dan wajib ikut, kalau enggak kelas gue gak bisa ikut event lain. Oke, gue sempet dapet writer’s block juga sih. Maafin ya. Yang penting gue masih update kan? Dua chapter lagi beres, oke. Tenang aja. Hehe. Sekian. Wajib comment, like, dan apalah itu. Bye!

31 thoughts on “[Chapter 8] Another Cinderella Story

  1. Finally author akhirnya dapet juga.
    Udah tiap hari liatin email buat nunggu updatetannya akhirnya hari ini di update juga
    Makasi banyak ya
    Fanfiction ini udah jadi semangat tersendiri buat aku selama masa2 mau ujian ini
    Segera update ya
    Semangat:D ♥♡

    • duh ya Allah terharu sekali bacanya :’)) penantianmu sudah tersampaikan ya. siiip justru aku yang makasih karena udah nungguin. sipsiiip semangat buat ujiannya yaaa 😉

  2. Udah chapter 8?aku ketinggalan berapa chapter yahaha? Btw aku suka ceritanya. Udah ciuman aja?ugh aku engga tau, mereka udah sama2 suka deh cuma masih gengsi gitu wkwk.
    Chapter selanjutnya ditunggu, fighting!

  3. waah maksudnya junho apa tuh tiba tiba narik tangan suzy ??
    eonnie ceritanya seru banget..
    tp kenapa si taec kok jd jahat gjtu sih ??
    apa karna patah hati cintanya ditolak suzy ??
    tp kok jahat sama junho juga eon ??
    eonnie jangan lama lama ya update lanjutan ceritanya..
    aku penasaran banget sama lanjutannya..
    btw hwaiting eonnie buat tugasnya bikin film ^_^

    • huehe, kenapa dia jahat yaa? nanti aku jelaskan kook. tenang ajaa hehe. insyaAllah aku cepet ya update nya. gak bisa kompromi sama tugas niih 😦 hehe. makasih yaaa udah baca, komentar, dan semangatnya!! siap semangat buat filmnya juga makasiih banyak! keep reading ❤

  4. Akhir na part ini d publish jga.. Aq dh lma bnget nunggu kelanjutan na… Kelanjutan hbungan junho oppa n suzy 😍😍😍…
    Dtunggu next part’na ya ….

  5. Huahhh, akhirnya dilanjutin jugaa, kirain ff ini bakal gak di lanjutin, baguss eonn, next eon jgn kelamaan yaa 😉 😉 😉

  6. Wahhh…
    Suzy ny udh ngakuin tu perasaan ke nuneo, nuneo ayo donk jgn krja mulu. Yg d kantor aj ga sibuk bnget gtu ..
    Btw, nuneo ny romantis banget, main tarik” aj tu ank org.. Mw ngomongin ap tu ya.?? Pkek bedua”an aj..
    Aish min, jgn lama” dunt update nya..HaHaHa..
    Kta nungguin looo, tu writer blocking ny d sruh jauh”.. Jgn dekat” …

    Btw, tu buat film apaan.?? Aktor ny.???? *kepo ..:D ..
    *makasih udh d update.. #kissue:*

  7. chapter 8?? aigoo.. aku ketinggalan 😦 .
    seminggu ini aku blum cek, abisnya thor, aku hampir setiap hari cek disini tapi blm update2.
    fighting untuk next chapnya and fighting untuk tugasnya^^ (karena jujur, aku juga lagi ngehadepin tugas numpuk -,-” and itu gk enak bgt) *ehh curhat, mian hehee

    • hihi gapapa. yap, aku juga kayak gitu. disaat semua orang mungkin bakalan mikirin tentang pelajaran, aku musti mikirin tentang fanfic, dan real-life aku hehe. jadi tolong dimaklumi ya kalau aku agak lama update-nya. hihi, intinya makasih udah baca, komentar, dan semangatnya ❤ keep reading yaa 😀

  8. Akhir’y muncul heehehe
    junho mo ngomong apa yea ma suzy? Kyak’y junho marah deh suzy blangklau junho tman’y gk menyukai kkk
    spa yg akan terjd?

  9. akhirnyaaaa :” kirain gak bakal dilanjutin :”
    2 more chapters??? :”
    well, at least kita udh tau perasaan suzy tapi tapi tapi berasa cepet bgt :”
    semangat ya thor ngerjain tugasnya btw~ ^^ it’s fun actually buat film, tp editingnya itu yg bikin puyeng @.@

  10. Jd aYah Taec, Suzy dan junho adalah tmn deket..dan anaknya terlibat cinta segi tiga.. jadi makin seru nih..hehehe.. semangat authornim 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s