[ONESHOOT] THE REASON I DIE

RFF ONESHOOT

Title: THE REASON I DIE | Author: Cimolxx92 | Main Cast: Kim Jinwoo (WINNER), Lee Ha Yi |SupportCast: YG FAMILY |Rating: PG-15| Genre: Misteri, Crime, Frienship |Length: Oneshoot

Disclaimer
Plot Is Mine. The Characters are belong to God. Say No To Plagiarism!

Summary
Saat itu yang ada dipikiranku hanya satu… Menghilang dari dunia ini.
.
.

Aku menghentikan goresan penaku pada kertas kusam dan memandang langit biru dari balik tirai putih rumah sakit. Aku melirik jam dinding yang berdetak berisik. 15.45 KST. Lima menit lagi mereka akan membawaku kesebuah ruangan kosong dengan hanya ada satu meja. Seorang Dokter dengan kaca mata kusam akan duduk dihadapanku sambil mecorat-coret setumpuk data yang ada diatas meja. Kemudian mulai menanyaiku. Pertanyaan yang sama setiap harinya.

“Apa Kim Jinwoo ada di dekatmu?”

“Berapa umurmu sekarang?”

“Tahun berapa ini?”

“Apa yang kau bicarakan dengan Kim Jinwoo?”

“Apa dia membicarakan tentang kasus bunuh dirinya?”

Setiap harinya, Dokter itu akan menanyakan segala hal yang berkaitan dengan Kim Jinwoo. Kalian pasti bertanya, kenapa? Karena Jinwoo sudah mati. Dan apa hubungannya denganku? Kim Jinwoo adalah pacarku.

Aku menghela napas dalam dan berjalan pelan kearah jendela, angin sore berhembus lembut dan membawa aroma kota Seoul yang sibuk. Aku tersenyum sambil menyisir rambut ikal panjangku yang kucat dengan warna cokelat sempurna. Baju rumah sakit ini sangat longgar, atau aku yang mulai menjadi sangat kurus?

“Mereka akan datang sebentar lagi.”

Aku menoleh dan mendapati seorang laki-laki yang sangat kucintai itu sedang ikut berdiri disampingku sambil menatap kearah kesibukan kota Seoul diluar sana. Dia masih sama seperti terakhir kali kulihat. Kemeja putih dengan mantel biru tua dan syal hangat yang melilit lembut dilehernya. Syal hadiah natal dariku, syal yang kurajut sendiri. Rambut hitamnya yang lembut dan garis wajahnya yang lugu. Kim Jinwoo yang selalu kutunggu, Kim Jinwoo yang selalu melindungiku.

“Mereka masih sibuk mengatakan kalau aku ini gila.” Aku mendengus geli. Gila adalah kata-kata yang lucu untukku. Entah kenapa, karena seluruh orang yang ku kenal didunia ini mengatakan kata itu untukku, aku jadi menganggap kata gila itu benar-benar lucu.

“Kalau begitu, berhenti mengatakan hal-hal aneh yang membuat mereka memanggilmu gadis muda yang gila.” Jinwoo tersenyum, mata bulatnya yang hangat menatapku dengan lembut.

“Aku tidak bisa.” Aku menggeleng sambil cemberut. “Kalau aku bisa melihatmu, mereka juga harus bisa melihatmu.”

Hening.

Aku kembali memandangi jalanan kota Seoul. Jinwoo sudah mati, tetapi dia masih tetap saja menjagaku disini. Apa aku terlihat sangat mengkhawatirkan sampai-sampai dia tidak bisa pergi ketempat seharusnya dia pergi?

“Kalau diberi kesempatan hidup satu kali lagi, apa yang ingin kau lakukan?” Aku menatap sosok Jinwoo. Dia hanya tersenyum lama sambil memandangiku.

“Aku akan menikahimu.” Jinwoo mengalihkan pandangannya dan menatap langit yang sekarang mulai dihiasi semburat orange. “Hal yang paling aku inginkan sekarang adalah menikah denganmu dan memiliki dua orang anak. Satu laki-laki dan satu perempuan.”

Aku hanya terdiam mendengar perkataannya. Rasa sesak itu kembali muncul, rasa sesak yang membuat air hangat mengenangi kelopak mataku.

“Aku ingin hidup.” Jinwoo berkata lirih “Aku sangat ingin hidup.”

===

“Siapa namamu?”

Aku mendongak dan menatap Dokter itu. Dia masih saja bertahan menanyakan pertanyaan yang sama selama dua bulan lamanya. Benar-benar hebat, aku memutar bola mataku malas dan mendengus kesal.

“Ajjushi, apa kau sangat bodoh sampai tidak tahu namaku?” Aku tertawa mengejek. “Well, Aku Lee Ha Yi, umurku 26 tahun, dan aku bekerja sebagai seorang stylist dari manajemen ternama di Korea, aku bahkan mengurusi banyak aktris dan aktor. Woon Bin, Kim Soo Hyun, Jo In Sung, Song Hye Kyo, Ha Ji Won, dan masih banyak lagi yang tidak bisa kuingat dan kusebutkan disini. Jadi cepat selesaikan masalah ini dan biarkan aku keluar dari tempat bau ini!!!”

Dokter itu hanya tersenyum masam sambil menggelengkan kepalanya. Ekspresi yang sama, bahasa tubuh yang sama, aku benar-benar merasa gila itu dapat menular. Buktinya selama dua bulan lamanya aku terkurung disini, aku merasa bauku sudah mirip orang gila. Dan aku sedikit curiga kalau Dokter dihadapanku ini juga sudah tertular penyakit gila dari pasien-pasiennya.

“Apa Kim Jinwoo ada di dekatmu?”

Aku melirik Jinwoo yang sekarang jelas-jelas sedang menempelkan bokongnya pada meja dan sedikit menghalangi pandanganku pada Dokter yang semakin hari semakin terlihat tua itu. Kali ini aku tersenyum manis dan menggeleng pelan. Dokter itu berjengit, seolah ada kabel tak terlihat yang sedang menyetrumnya. Dengan sedikit gugup, dia membetulkan letak kaca mata berdebunya yang kedodoran.

“Aku tidak melihat dia. bukankah Kim Jinwoo sudah mati? Bagaimana mungkin aku bisa melihat orang yang sudah jelas-jelas terkubur didalam tanah bisa berkeliaran didekatku? Apa Ajjushi pikir aku ini gila? Atau… Ajjushi yang sebenarnya gila dan sudah mengada-ada untuk menjebakku? Hoaaah, aku bisa menuntut ini!” Aku berkata dengan gaya dramatis dan lugu yang dibuat-buat, Jinwoo tertawa sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan, seolah takut suaranya terdengar oleh orang lain.

Dokter itu berdehem dan bergerak tidak nyaman ditempat duduknya, kemudian melanjutkan membaca data yang ada dikertas yang semakin lama terlihat semakin kusam.

“A…A,Apa yang kau bicarakan dengan Kim Jinwoo?” Rupanya Dokter itu bertekad untuk terus menanyakan pertanyaan yang sama. Aku menyeringai sambil menggeleng-gelengkan kepalaku yang penuh rambut dan menatap Dokter itu dengan pandangan kasihan. Padahal yang sebenarnya harus di kasihani pada situasi ini adalah aku. Karena aku baru saja kehilangan pacarku dengan cara tragis dan dia tiba-tiba muncul kembali dalam sosok yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.

“Ajjushi, kau sudah selesai?” Aku memajukan wajahku, kudengar Jinwoo mendengus geli “Keluarkan aku sekarang, atau aku akan memanggil pengacaraku, aku benar-benar bisa menuntutmu.” Aku menghela napas dalam “Orang tuaku, mereka yang melemparku kesini, aku mau bicara dengan mereka.”

Aku melihat Dokter itu berjengit dan menatapku dengan ekspressi pucat seperti mau muntah. Dia pasti berpikir kalau aku sudah benar-benar sembuh, kenapa aku harus gila dan terkurung di satu tempat yang berisi seluruh orang gila hanya gara-gara kehilangan seorang cowok?

“Aku akan menghubungi mereka segera, tunggu sebentar.” Dokter itu bangkit dan hampir tersandung kaki meja saat dia dengan cepat keluar ruangan. Aku tersenyum tipis dan menatap Jinwoo yang sedang sibuk meneliti tombol darurat diatas meja.

“Jangan berbicara padaku, kau tahu kan, banyak kamera mengawasimu. Rencana kita bisa gagal.” Jinwoo berbisik, dia benar-benar bertindak seolah suaranya bisa didengar oleh orang lain.

Beberapa menit yang membosankan terbuang dengan menonton pacarku yang sudah jadi hantu berkeliaran didalam ruangan kesana-kemari, aku mendengus saat melihat pintu putih didepanku terbuka, Dokter itu berjalan cepat dan memberikan sebuah ponsel padaku. Aku melirik sekilas benda yang dia letakan didepanku. Nomor orang yang paling aku benci tertera disana.

“Keluarkan aku dari sini.” Aku berkata dingin saat mendengar suara seorang wanita menyambut pendengaranku. Wanita yang sudah melahirkanku, wanita yang sudah membuangku.

“Kau sudah sadar?” Suara ibuku berkata dengan angkuh.

“Aku sudah bisa menerima kematian Jinwoo.” Aku melirik Jinwoo yang mematung menatapku. “Kau tidak perlu susah payah membuangku ke Rumah Sakit jiwa. Aku tidak akan mempermalukan keluargamu lagi karena kau memang sudah mencoretku dari silsilah keluarga. Jadi keluarkan aku sekarang.”

“Baiklah, kau memang sudah kuanggap orang lain saat kau keluar dari rumah saat umurmu 15 tahun dan memilih hidup sebagai seorang gelandangan bersama pacarmu yang gelandangan itu. Aku yakin kau juga akan berakhir seperti dia. Lanjutkan hidup menyedihkanmu… tut… tut… tut…”

Aku mengepalkan tanganku erat-erat dan menggertakan gigi saat sambungan itu terputus. Rasa sakit itu kembali datang. Masa kecil yang penuh penganiayaan di rumah itu. Saat aku hanya bisa melihat kedua orang tuaku bertengkar setiap hari, saat aku hanya bisa menerima pukulan dari ibuku sendiri.

Aku mendongak menatap Dokter dihadapanku yang mematung, tangannya seolah siap menekan tombol darurat yang ada diatas meja.

“Ajjushi… keluarkan aku sekarang… aku ingin membunuh seseorang…”

===

Tidak ada yang permanen didunia ini.

Makanya aku tidak pernah mempercayai apapun. Saat aku kembali ke apartemen, pengurus apartemen memintaku pindah karena para penghuni apartemen yang lain tidak mau ada orang gila tinggal di satu bangunan yang sama dengan mereka. Aku ditendang dari pekerjaanku, dan teman-teman yang aku kenal pura-pura tidak mengenaliku lagi.

Bagus, memang ini yang kubutuhkan sekarang. Menjadi pecundang yang menyedihkan.

Aku menyeret kakiku menaiki undakan batu menuju losmen kecil yang kutinggali sekarang dan terhenti saat melihat punggung Jinwoo. Jinwoo sedang berdiri ditepi ceruk, dia memperhatikan pemandangan kota Seoul dimalam hari.

Aku menghela napas pelan, Aku dan Jinwoo hidup bersama semenjak umur kami 15 tahun. Aku, gadis yang membenci rumah, aku selalu memilih tidur di taman dari pada harus pulang ke rumah.
Kami berdua memiliki satu kesamaan.

Kami muak pada peraturan, kami benci peraturan. Karena aturan itu sering membuat kami kecewa dan terluka.

Maka, aku dan Jinwoo melakukan banyak pelanggaran, mewarnai rambut, membolos, mencorat-coret tembok umum.

Tapi hanya sebatas kenakalan seperti itu, tidak lebih.

Hingga suatu hari, Jinwoo bilang kalau dia bergabung pada sebuah organisasi gelap yang menjual narkoba. Jinwoo menjadi pengedar. Aku sangat ketakutan padanya dan ingin pergi, tetapi dia bilang, dia tidak akan pernah memakai obat-obatan itu, dia hanya ingin mengedarkan dan mendapatkan uang untuk membiayai kuliah kami berdua.

Maka, semua itu terus berjalan.

Sampai aku menemukannya mati. Dia bunuh diri di sungai Han. Begitu yang kepolisian bilang. Aku menjadi sangat frustasi dan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jinwoo bukanlah orang yang akan bunuh diri. Aku mengenalnya dengan sangat baik, dia bukan tipe orang yang menyerah secepat itu.

Dengan perlahan aku menghampirinya dan berdiri disebelahnya, ikut memperhatikan keributan kota Seoul dibawah sana, dengan lampu berkelap-kelip dan ribuan orang yang sedang berusaha untuk hidup mereka masing-masing. Semua cerita tumpah ruah disana. Senang, sedih, takut, marah. Segala emosi manusia, kelicikan, dan keserakahan.

“Seberapa kerasnya aku berusaha untuk mengingat kejadian yang menyebabkan aku mati, tetap tidak bisa. Aku tidak mengerti kenapa aku tidak mengingat kejadian ketika aku mati, atau alasan apapun yang membuatku berpikir untuk bunuh diri.”

“Itulah alasan aku berusaha keluar dari rumah sakit jiwa itu kan? Aku akan menemukan alasan kenapa kau harus mati. Aku akan ke kantor polisi besok. Jangan terlalu khawatir.” Aku tersenyum padanya. Mata beningnya masih fokus pada pemandangan kota Seoul.

“Aku tidak punya alasan lagi berada di sini.” Aku tersenyum hambar pada kerlap-kerlip lampu yang seperti bintang dikejauhan. “Aku rasa, aku akan melakukan apapun untuk membalas apapun yang terjadi padamu. Kau bukan orang yang akan bunuh diri kan? Kau punya aku, jadi kau tidak mungkin bunuh diri.”

”Yeah, bunuh diri adalah hal yang sangat konyol.” Jinwoo mengangkat bahunya lemah.

“Tenanglah Jinwoo. Aku akan ikut denganmu. Jangan takut, sebentar lagi, aku akan ikut pergi denganmu.” Aku berbisik pelan, mencoba meyakinkan diriku sendiri kalau apa yang akan kulakukan selanjutnya adalah hal yang benar.

===

Well, semua yang namanya masalah memang tidak pernah bisa selesai dalam waktu singkat. Aku melotot menatap detektive dihadapanku, bibirnya yang melengkung cemberut tertutup oleh kumisnya yang tebal, dia menatapku seolah aku sudah benar-benar mengganggu harinya yang indah.

“Kasusnya benar-benar ditutup?” Aku kembali mengajukan pertanyaan yang sama semenjak 5 menit lalu aku mendaratkan pantatku diatas kursi kayu ini.

“Aku sudah bilang kalau dia bunuh diri. Tidak ada tanda-tanda dibunuh. Kami sudah mencoba mencari bukti. Dan hasilnya tetap sama sehingga kepala kepolisian memutuskan untuk menutup kasus ini.” Detektive itu menjelaskan dengan nada datar dan menatapku dengan malas.

“Ajjushi, aku ingin kasusnya kembali dibuka.”

“Kau gila? Kau pikir kasus seperti ini hanya terjadi pada satu orang? Dalam sehari, aku menangani kasus yang sama sebanyak lebih dari 100! Aku tidak punya waktu dengan ini, cepat pergi!” Detektive itu melambaikan kedua tangan kotornya padaku, menyuruhku meninggalkan tempat ini. Enak saja!

“Berikan aku bukti-bukti yang berhasil kau kumpulkan.”

“Apa? Aku sudah bilang tidak ada bukti apapun!”

“APAPUN YANG KAU TEMUKAN! WALAUPUN ITU HANYA SEUJUNG RAMBUT!” Aku berteriak frustasi dan memajukan wajahku sambil memukul meja keras-keras. Detektive itu berjengit dan mendesis kesal padaku. Tanpa berkata apapun dia merogoh lemari dibawah meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah file penuh sidik jadi dan foto-foto, dia mendorong file itu kearahku.

Aku menelan ludah susah payah saat dengan perlahan membuka isi file, perutku terasa mencelos dan jungkir balik saat melihat mayat biru Jinwoo yang membengkak, dengan gerakan cepat aku membalik halaman, hingga aku berhenti pada suatu plastik transparan. Sebuah sapu tangan. Sapu tangan yang selalu kuselipkan disaku jeans Jinwoo, napasku tercekat saat aku menyadari ada sebuah bordiran indah mawar merah darah diujung sapu tangan itu.

Bordiran mawar merah darah.

Lambang dari organisasi gelap tempat Jinwoo selama ini mencoba menghasilkan uang dengan cara kotor.

“Kita tidak bisa meminta tolong pada polisi kan?” Aku berkata pelan, tahu kalau Jinwoo sedang melongok dari balik bahuku. “Aku akan selesaikan ini seorang diri.”

===

HENTIKAN INI! LEE HA YI!
“TIDAK AKAN! MEREKA MEMBUNUHMU!!!”
DAN MEREKA AKAN MEMBUNUHMU!”

“MEMANG ITU YANG KU MAU!” Aku berteriak nyaring dan berbalik cepat, tidak memperdulikan orang yang berlalu lalang dengan sibuk disekitarku dan menganggapku orang gila. “Pergilah, aku bilang aku akan menyelesaikan ini!” Aku berjongkok untuk mengencangkan tali sneakers-ku, berdiri lagi dan merapatkan jaket hitamku, dengan cepat aku memasang topi hitam dan mengikat rambutku. Aku kembali berbalik dan berjalan cepat, di pojok tikungan, terdapat sebuah gang sempit menuju losmen dimana mereka menyamar menjadi lintah darat tempat menggadaikan barang-barang.

“Tidak.” Jinwoo berkata lirih. “Aku tidak ingin kau kesana.”

“Aku bilang aku menyelesaikan ini!” Aku menggertakan gigi dengan kesal, aku berbalik untuk menatap sosoknya yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, aku menghapus air yang tergenang dikelopak mataku dengan kasar dan memandangnya dengan tatapan memohon. “Aku ingin melakukan ini, untukmu, untuk diriku sendiri. Aku tidak peduli lagi, sekarang aku tidak peduli pada diriku sendiri. Akal sehatku sekarang hanya sebatas benang tipis, Jinwoo kumohon…”

Kulihat matanya yang hangat bergetar, kemudian dia mengangguk pelan.

“Aku tunggu.” Dia berbisik dan tersenyum lembut padaku.

“Ya, tunggulah aku.” Aku berbalik cepat dan berlari, aku benar-benar tidak sanggup melihat sosoknya yang seperti itu. Jinwoo yang selama ini selalu bersamaku, terlihat sangat menyedihkan.

Aku berbelok ditikungan dan memasuki gang gelap yang lembab dan bau sampah, dengan perlahan, aku menaiki tangga karatan dan masuk kedalam sebuah losmen yang pintunya sudah rusak. Ruangan gelap, bau alkohol dan penuh dengan asap rokok menyambutku. Aku memicingkan mata menatap seseorang yang duduk dibalik meja sambil asik menonton video porno. Sambil merapikan topiku hingga menutupi separuh wajah, aku bergerak kearahnya.

Seorang pria tambun dengan kumis tebal mendongak dan menatapku. Dia berdiri dari duduknya dan mencoba menilai penampilanku.

“Aku mencari Kim Jinwoo.” Semburku. Detak jantungku semakin kencang saat dia bergerak mendekat kearahku. Aku memasukan tangan kananku kedalam saku jaket dan mencengkeram pisau lipat yang sengaja kubawa, aku menekan jari-jariku ke benda dingin itu, seolah benda itu adalah nyawaku.

“Kim Jinwoo?” Pria itu mendengus padaku dan memutar matanya. “Kenapa kau mencari si banci itu?”

“Aku pelanggannya.” Aku berkata keras, berusaha menyembunyikan suaraku yang bergetar. “Beberapa hari ini dia tidak mengedarkan dan persediaanku sudah habis. Dimana dia sekarang?”

“Kami membunuhnya.” Pria didepanku berkata tenang dan mulai menyalakan pemantik, asap rokok kembali mengepul dari mulutnya. Aku membeku ditempatku berdiri, rasanya tanah yang kupijak sangat dingin dan juga lembab, aku tahu mereka membunuhnya. Aku tahu ini akan terjadi pada Jinwoo suatu hari nanti.
Bodoh.

“Kenapa kalian membunuhnya? Dia punya salah?”

“Yeah. Dia meminjam uang sebesar 2 juta won untuk operasi ibunya dan tidak bisa mengembalikan sesuai waktu yang dijanjikan. Bos kami berencana untuk menjual pacarnya ke rumah bordil, dia menolak dan… yeah, kami mencekokinya racun yang tidak bisa terdeteksi oleh autopsi Dokter yang sangat hebat sekalipun. Setelah dia mati, kami memutuskan untuk membuangnya ke sungai Han dan membuat alibi kalau dia bunuh diri.”

“Wow, kerja yang bagus.” Aku berkata pelan, menyandarkan tubuhku ke dinding kotor. Kilasan memori menjijikan tentang cara mereka membunuh Jinwoo membuat seluruh darahku mengalir deras ke kepalaku. “Kalian benar-benar hebat, tapi karena kalian, aku jadi kehilangan pengedar terbaik yang pernah kutemui dan aku harus menahan diri untuk menghisap ganja selama kurang lebih 21 jam. Kalian benar-benar sial.” Aku meludah dan kembali mencengkeram pisau dingin di sakuku.

Kudengar pria dibalik meja itu terbahak dengan menjijikan. “Yaaa, kau bisa menemukan pengedar yang lain disini, kau tidak usah takut.”

“Kalau begitu dimana bosmu?” Aku berjalan mendekat dan mencium bau menjijikan disekitarku. “Aku ingin bertemu dengan bosmu, kupikir berurusan dengan anak buahnya yang tidak becus membuat kepalaku sakit. Aissh, aku benar-benar kesal sekarang, dimana dia?”

“Kau ingin bertemu bosku?” Pria didepanku kembali tertawa. “Jika kau ingin menemuinya, kau harus menjual jiwamu dulu.”

“Menjual jiwa?”

“Ya, kau harus menjadi anjing penjaga untuknya. Yang menyalak saat bahaya datang pada majikannya, dan menurut saat perintah datang padanya.”

“Aku adalah pelanggan.” Aku berkata dingin, kurasakan detak jantungku semakin kencang. “Kau tidak bisa menjadikanku anjing seperti semua orang yang berkecimpung dalam bisnis underground ini.”

“Kalau begitu aku tidak bisa membantumu. Kau bisa pergi sekarang.”
Aku terpaku ditempatku berdiri, berpikir kalau situasi yang kuhadapi ini sedikit menakutkan dan sedikit lucu, maksudku, mereka ingin

menjadikanku anjing mereka? Aku bukan orang tolol seperti Jinwoo, aku tidak akan bertekuk lutut pada mereka. Tapi… ini harus diakhiri kan? Jika aku tidak mengakhirinya sekarang, maka aku hanya akan terus hidup sebagai gadis gila yang kehilangan pacarnya.

“Well.” Aku mengangkat bahu dan berusaha terlihat acuh. “Bawa aku pada bosmu.” Aku menyeringai pada pria didepanku. “Aku punya tawaran bagus untuknya, lebih dari sekedar anjing penjaga.”

Pria itu memandangku sesaat sebelum dia berjalan memutari mejanya dan memutar kenop pintu, saat dia berjalan keluar dari ruangan kotornya, dia mendekatiku sambil terus mendengus senang seolah apa yang akan dia lakukan selanjutnya dapat membuatnya menjadi satu-satunya anjing kesayangan bosnya.

“Ikut aku.”

Aku menatap pria itu melewatiku dan berjalan pelan diantara lorong gelap, aku menarik napas pelan dan merasakan kalau ini adalah saat-saat terakhirku bisa bernapas, bagaimana aku bisa sampai pada tahap ini? Aku tertawa dalam hati dan membayangkan diriku yang sudah menjadi hantu keluar dari sini, menyapa Jinwoo sambil berkata, “Hei, semuanya sudah berakhir, sekarang kita akan baik-baik saja!”

Pria didepanku berbelok disalah satu lorong dengan aku yang terus mengekor dibelakangnya. Akhirnya dia menghentikan langkahnya dan mengetuk pintu karatan yang sepertinya tidak pernar dipakai dalam waktu yang lama, suara dalam dan serak seseorang menyamput pendengaranku.

“Siapa?”

“Aku nomor 881.” Pria yang membimbingku menjawab. “Aku membawa seseorang yang mengenal nomor 91.”

“Kim Jinwoo?”

“Ya.” Pria didepanku menoleh padaku dan menyeringai senang. “Dia salah satu pelanggan Jinwoo, Dia bersedia menjual jiwanya pada anda, hanya untuk sebungkus marijuana.”

Hening.

Aku bisa mendengar suara kursi bergeser dari balik ruangan, dengan sekuat tenaga, aku mencoba menghentikan kakiku yang terus bergetar seperti setumpuk jelly. Ini adalah saatnya. Aku tahu, aku tidak akan pernah bisa kembali.

“Masuklah.” Pria didepanku menggedikan kepalanya kedalam pintu saat kenop pintu akhirnya berputar, aku mengangguk dalam diam, menarik topiku lebih dalam dan mulai melangkah masuk.

Ruangan itu jelas bukan sebuah ruangan yang pantas untuk menyambut seorang tamu, pencahayaan minim yang berasal dari sebuah lampu gantung dan sebuah meja raksasa yang dipenuhi oleh berbagai macam obat terlarang. Seseorang duduk dibalik bangku, dia terlihat pucat dan kurus seolah dia tidak pernah memakan apapun selain barang-barang terlarang yang ada diatas mejanya, matanya begitu kecil dan bibirnya begitu keriput. Aku rasa, dia bukan orang yang membahayakan mengingat tubuhnya terlihat ringkih dan tidak berdaya.

Aku melangkahkan kakiku perlahan dan berhenti saat tangan kurus pria itu terangkat. Beberapa detik kemudian, beberapa orang berpakaian hitam yang muncul entah darimana mulai mengepungku.

“Geledah dia.” Pria itu memberi perintah dan dengan serentak dua orang dibelakangku mengunci tanganku dan mulai mencari sesuatu di bajuku.

“TUNGGU!!!” Aku berteriak, tidak boleh, mereka tidak boleh menemukan pisau yang ada disakuku.

“Apakah seperti ini sambutan yang kudapatkan? Aiish, YA! YANG BENAR SAJA! Ajjushi! Aku kesini untuk bergabung dan beginikah caramu menyambut seseorang yang berharga sepertiku?!”

“Berharga?!” Pria itu berdiri dari duduknya dan tertawa keras, seolah apa yang baru saja kukatakan adalah hal terlucu yang pernah dia dengar.

“Katakan padaku, kenapa kau bisa menjadi berharga.”

“Karena, aku tahu semua hal tentang organisasimu, kau ingat Kim Jinwoo? Aku bisa saja membocorkan semua ini pada polisi.” Aku berkata tegas dan menatap mata kecilnya, berusaha menekan rasa takut yang mencengkeram tenggorokanku. “Lepaskan aku sekarang!”

“Tsk… gadis bodoh, kau pikir kau bisa melakukan itu sesuka hatimu? Kau pikir kami begitu bodoh hingga termakan omong kosongmu itu? Kau pikir… kami tidak tahu, tentang siapa kau sebenarnya?”
Aku membeku, kurasakan tanganku yang terkunci kembali bergetar hebat.

“Lepaskan dia.” Pria itu berkata tenang, kedua orang dibelakangku serentak mundur. “Lee Ha Yi, seorang gadis yang diabaikan oleh keluarganya sendiri, Seorang gadis yang sangat dicintai oleh Kim Jinwoo.”
Pria itu dengan perlahan berjalan mendekat kearahku. “Cinta. Perasaan konyol yang dirasakan manusia, karena cinta, dia telah terbunuh. Jadi jangan sekali-kali kau menyalahkan aku, aku tidak membunuhnya sama sekali, rasa cintanya pada ibunya dan padamulah yang menyebabkan Kim Jinwoo mati.” Pria itu berhenti tepat didepanku, aku merasakan aroma soju yang menyengat dari tubuhnya, tangannya terangkat, detik berikutnya, topi yang kukenakan terhempas kelantai, dengan kasar, pria itu mengangkat daguku, memaksaku menatap matanya yang licik dan dingin. “Cantik. Aku selalu penasaran bagaimana rupamu.”

Aku menatapnya tanpa berkedip, anehnya saat ini, semua rasa takutku hilang, digantikan perasaan benci yang membuat perutku mual melihat wajah didepanku, rasa benci yang membuatku tidak sempat memikirkan rasa takut.

“Kulit halus, kau memang benar, Kau sangat berharga, aku bisa membayangkan berapa harga yang harus dibayar lelaki hidung belang diluar sana untuk tidur denganmu.” Aku merasakan tangan kotornya menyentuh permukaan kulitku, saat itu juga aku merasakan ruang hampa disudut hatiku, ah, tidak sebenarnya hatiku memang selalu terasa hampa, rasanya keberadaanku didunia ini tidak diperlukan sama sekali, tapi ada seorang pria yang menyadarkanku dari semua itu. Kim Jinwoo, si bodoh itu membuatku mengerti persahabatan dan cinta, si bodoh itu, satu-satunya orang didunia ini yang tersenyum padaku dan bilang kalau semuanya akan baik-baik saja, si bodoh yang menggenggam tanganku dan memelukku dengan hangat.

Si bodoh yang selalu berbisik lembut, berkata kalau aku cantik, berkata kalau dia sangat mencintaiku.

Dan… Si bodoh itu pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan, kembali padaku dalam wujud yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Dengan perlahan, aku memasukkan tanganku yang berkeringat dingin kedalam saku, aku menatap sampah didepanku, yang terus menempelkan tubuh rongsokannya padaku. Aku tahu, aku harus mengakhiri ini semua, mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa. Kematian dibalas kematian. Itu adalah aturanku.

Hei, kau Lee Ha Yi?
Mau apa kau?
Namaku Kim Jinwoo, Ayo kita berteman.

Aku mengeluarkan pisau dan dengan sekuat tenaga, kuhempaskan pisau itu tepat ke perut sampah yang mencengkeramku.

Dalam sekejap, keadaan disekitarku hening, seolah waktu berhenti, kurasakan hangatnya darah mengalir ditanganku yang masih dengan erat mencengkeram pisau, Pria didepanku terhuyung, namun, dia tidak menjerit sakit, hanya saja, ekspresi diwajahnya mencerminkan kemarahan dan rasa sakit yang harus dia tahan akibat perbuatanku. Seolah, dia ingin bilang padaku kalau pisau kecil yang masih menempel diperutnya itu bukan masalah besar.

“Bunuh dia.” Dengan suara tercekat yang serak, pria itu memberi perintah.
Dan detik itu juga, kudengar suara ledakan pistol membahana, aku bisa merasakan hembusan timah panas diruang pengap dan sempit itu, melayang diudara dalam gerakan lambat, dan bersiap menembus tubuhku.

Aku tidak mau berteman denganmu.

Kenapa?
Karena aku benci berteman.

Tapi, kau tahu? Kalau kita berdua bersama-sama. Hal-hal yang baik bisaterjadi. Itulah mengapa orang menyebutnya takdir.

Aku tersenyum perlahan, “Takdir” yang diberikan Jinwoo padaku benar-benar luar biasa, Aku memejamkan mataku dan merasakan rasa sakit dari timah panas itu menembus dadaku. Telingaku berdengung dan kurasakan seluruh tubuhku berat, aku tersungkur ke lantai yang kotor dan penuh debu. Detak jantungku melemah, tapi aku tidak merasa takut, walau aku kesulitan mengambil oksigen, aku hanya merasa, kalau rasa sakit yang menyiksa ini akan segera berakhir. Mungkin takdir yang Jinwoo berikan padaku bukanlah sesuatu yang manis seperti permen atau kue-kue tart yang dihias indah dan dipajang di etalase. Tapi, setidaknya, semua hal yang sudah dia berikan itu, lebih berharga dari apapun yang manis dan mahal didunia ini.

Mungkin hanya satu hal yang kusesali. Aku belum sempat mengucapkan “Terimakasih” padanya.

Aku mencintaimu, Lee Ha Yi.

Aku juga, aku juga mencintaimu. Kim Jinwoo…

Terimakasih.

Terimakasih, berkat kehadiranmu, aku bisa merasakan perasaan indah ini sebelum aku meninggal, Terimakasih banyak.

=THE END=

Leave your comments juseyooo^^

6 thoughts on “[ONESHOOT] THE REASON I DIE

  1. Huaaaaaa sedih banget😦
    Kesel, terharu nyesek😦
    Dendamnya hayi akhirnya terbalaskan, mungkin mereka berdua bakalan ketemu di dunia lain. Ah msh kebawa ceritanya kan-_-
    Daebak thor. Fighting!🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s