[Chapter 9] Another Cinderella Story

Another Cinderella Story

“This is not Disney’s Cinderella anymore.”

by Shinyoung

Main Cast: Bae Suzy & Lee Junho || Support Cast: Ok Taecyeon, Lee Jieun || Genre: School Life, Drama & Romance || Length: Chapter 9/? || Rating: T || Credit Poster: Jungleelovely at Poster Channel || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2015 by Shinyoung.

Chapter 9 — Gone Girl

Prologue | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8

*

Mwoya?”

“Jangan keras-keras, Bodoh. Kau mau orang lain mengira aku tengah melakukan aksi penculikan padamu? Lihat, beberapa orang sudah melirik kita karena kau bertingkah yang tidak-tidak,” ujar Junho sambil merapikan kemeja putihnya.

“Aku melakukan itu karena kau menarikku!” pekik Suzy kesal, kemudian ia menghela nafas berat. “Sebenarnya ada apa, sih? Juga, kenapa kau harus makan disini? Kalau saja kau tidak makan disini, kita tidak akan makan bersama dan malam ini tidak akan menjadi malam yang panjang karena aku yakin mereka berdua—maksudku, ayahku dan ayahmu—pasti akan minum-minum dulu.”

“Lalu, kau tidak mau bersama mereka?”

Suzy menggeleng pelan. “Bukan itu, maksudku…,” Suzy terdiam sejenak. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu melanjutkan, “aku punya sedikit masalah hari ini. Aku sedang tidak mau berlama-lama di luar rumah. Awalnya, aku ingin punya waktu berdua dengan ayahku, tapi kupikir hari ini sudah cukup begitu melihat ayahku begitu senang saat bertemu dengan ayahmu.”

Junho tersenyum tipis dan menepuk kepala gadis itu pelan. “Kau memang anak yang berbakti, ya. Aku hanya ingin bilang, aku sedikit terkejut saat mendengar pernyataanmu sore tadi. Kau… Kau benar-benar hanya menganggapku sebagai temanmu? Kau yakin soal itu, Bae Suzy?”

Spontan, Suzy langsung membungkam mulutnya. Terus terang, dia sedang tidak mau membahas kejadian sore tadi. Pikirannya kembali melayang pada perkataan Tiffany dan juga Taecyeon mengenai dirinya yang berbohong. Berbohong memang tidak baik, tapi, dia belum siap untuk mengatakan yang sejujurnya pada Junho. Dia takut apabila ternyata perasaannya ini hanyalah perasaan yang punya masa aktif.

“Bae Suzy?”

Suzy mengerjap dan menyadari bahwa Junho mau sudah berada di hadapannya dalam jarak hanya 10 sentimeter. “Ya! Jangan mendekat,” desis Suzy kesal sambil mendorong laki-laki itu agar menjauh darinya. Namun, dorongannya tidak sekuat tenaga Junho untuk menahan tubuhnya agar tetap berada di dekat Suzy.

Perlahan, Suzy melangkah mundur, hingga ia menabrak sebuah dinding keras. Ia menoleh ke belakang dan menyadari bahwa sudah tidak ada lagi yang bisa digunakannya untuk kabur dari Junho. Junho hanya diam, kemudian ia menjulurkan tangannya ke depan dan bertumpu pada dinding kokoh itu.

“Junho! Kau gila? Kau mau aku berteriak saat ini juga dan—”

“Memangnya kau pikir aku mau apa padamu?”

“K-kau ingin… Ingin menciumku.”

Junho langsung tertawa kecil kemudian ia menjauhi Suzy dan melipat kedua tangannya di depan dadanya. Ia menatap Suzy dari atas hingga bawah dan memutar bola matanya seolah sama sekali tidak tertarik pada Suzy.

“Aku? Aku ingin menciummu? Aku bahkan tidak tertarik padamu, Bae Suzy. Kita hanya teman, bukan?” tanyanya sambil menekankan kata teman yang disebutkannya. Mendengar itu, Suzy merasa tertohok karena ia sendiri lah yang mengakui bahwa Junho hanya sebatas temannya, sama seperti apa yang dirasakannya pada Taecyeon.

Junho menatapnya lagi. “Dengar, aku tadi mau mengambil bulu mata yang ada di pipimu. Kau terus menerus mundur dan menjauhiku sehingga aku tidak bisa melihat dimana bulu mata itu sekarang. Kau menuduhku ingin menciummu? Mencium dirimu?”

Suzy mendengus. “Hentikanlah. Itu hanya prasangkaku. Jelas-jelas, posisimu itu tadi seperti ingin menciumku. Jangan berkilah dan sekarang cepat ambil bulu mata yang kau bilang barusan padaku. Aku tidak mau berlama-lama disini, mereka pasti mencari kita. Aku tidak mau juga mereka menuduh yang sembarangan tentang kita.”

Junho mendekat dan menahan tangan gadis itu. “Sebentar, jangan bergerak. Biar aku ambilkan.”

Ketika tangan Junho mendekati wajahnya, jantung Suzy langsung berdegup tak karuan. Mata Junho yang menatap lurus ke arah dimana bulu mata itu berada pun tak sanggup membuat jantung Suzy berdegup dengan normal. Degupan kencang itu semakin cepat begitu Junho mendekatkan wajahnya dan mencari-cari. Dengan lembut, lelaki itu mengambil bulu mata tersebut.

Setelah seleai, lelaki itu mengalihkan pandangannya pada mata Suzy yang tampaknya sudah tidak kuat berdekatan dengan Junho. Alih-alih menjauhkan wajahnya, Junho justru mendekatkan wajahnya. Lelaki itu tersenyum miring.

“Apa yang kau pikirkan, Bae Suzy? Kau tampak takut ketika aku berada dekat seperti ini denganmu,” kata Junho.

“Cepat menjauhlah dariku! Orang-orang bisa berpikiran yang tidak-tidak!”

“Contohnya?”

Suzy menggigit bibirnya. “Misalnya… Mereka berpikir kita tengah melakukan hal yang tidak-tidak. Berciuman? Bercumbu? Atau yang lainnya.”

Junho tersenyum tipis. “Maksudmu seperti ini?”

Tepat saat itu, Junho medekatkan wajahnya dan membuat hilangnya jarak di antara mereka. Awalnya, Suzy tak menyangka bahwa Junho akan menciumnya. Tapi, ciuman itu benar-benar terjadi. Junho bahkan berhasil membuat ciuman itu menjadi panas ketika Suzy melepas tautan antar bibirnya dan membiarkan Junho menciumnya lebih dalam.

Ciuman itu hanya berlangsung sebentar, namun, itu berhasil membuat Suzy kembali bersorak girang di dalam hatinya. Begitu pula dengan jantungnya yang sebelumnya berdegup kencang semakin berdegup tak karuan, tak tertatur, bahkan jika Junho punya pendengaran yang tajam, mungkin lelaki itu bisa mendengarkan detak jantung Suzy yang sebenarnya.

“Junho… Aku—”

“Sebaiknya kita masuk sekarang. Maaf, aku menciummu lagi. Aku tidak akan membiarkan kejadian itu kembali terulang. Tampar saja aku apabila aku hendak melakukan hal itu lagi di luar kendali.”

“Dari mana saja kalian berdua?” Bae Seungjoon bertanya pada Suzy dan Junho ketika mereka memasuki ruangan VIP yang telah dipesan oleh Bae Seungjoon maupun Lee Junki beberapa saat yang lalu.

“Kami—”

Junho menggenggam pergelangan tangan Suzy dan mengeratkan genggamannya seolah meminta Suzy untuk membiarkannya berbicara. “Kami tadi jalan-jalan sebentar. Mencari udara segar. Kalian tidak perlu khawatir, aku tidak melakukan hal-hal yang aneh pada Suzy. Tanya saja padanya.”

Bae Seungjoon dan Lee Junki menoleh ke arah Suzy dan memandangnya dengan penuh tanya, berharap jawaban dari Suzy. “Iya, kami hanya jalan-jalan sebentar. Tentu saja, Junho tidak melakukan apapun kepadaku, dia teman yang baik.”

Untuk kedua kalinya, lidah Suzy terasa kelu karena kembali mengatakan bahwa Junho hanyalah temannya. Ia melirik Junho yang tengah menatap lurus ke arah kedua orang tua itu. Baik Bae Seungjoon, maupun Lee Junki mereka hanya menganggukkan kepala mereka, mempercayai apa yang dikatakan oleh Suzy.

Junho melepaskan genggaman tangannya, kemudian duduk di samping ayahnya. Begitu pula dengan Suzy yang duduk di samping ayahnya. Keduanya hanya terdiam ketika kedua orang tua mereka tengah asik tertawa senang. Berbeda dengan Min yang asik bermain ponsel sama sekali tidak mempedulikan keadaan, juga dengan Hyejung yang sibuk membaca komik yang baru dibelinya.

Malam berlangsung begitu panjang, membuat Suzy yang sudah menyelesaikan makanannya merasa sangat mengantuk. Mau tidak mau, dia harus menghubungi Tuan Jang untuk menjemput mereka berdua mengingat bahwa ayahnya yang sudah mabuk akibat minum terlalu banyak. Juga dengan Junho yang harus memijat pelipisnya melihat ayahnya telah mabuk. Juga dengan ibunya dan bibinya yang tak kalah dari suami mereka.

“Selamat malam, Tuan Jang.”

A-ah, ada apa, Nona Bae?” Sebuah suara serak menjawab disana. Suzy bisa mendengar nafas Tuan Jang yang menderu hebat, kemudian ia mendengar suara anak-anak yang tengah memanggil-manggil, dan juga suara istri Tuan Jang yang tampak berat. “Maafkan aku. Ada sedikit masalah dengan istri dan anak-anakku.

“Begitu, ya, Tuan Jang. Justru aku yang seharusnya minta maaf karena mengganggu tidurmu. Kulihat—” Suzy melirik jam arloji yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. “—ini sudah pukul 1 pagi. Pantas saja. . . Maafkan aku, Tuan Jang. Silahkan lanjutkan saja tidurmu dan mengurus anak-anakmu. Selamat malam.”

“Tunggu—”

Belum sempat Tuan Jang menyelesaikan kalimatnya, Suzy telah menutup sambungan teleponnya. Dia tidak mau mengganggu Tuan Jang yang telah tertidur lelap hanya karena dirinya yang tidak dapat mengendarai mobil untuk membawa dirinya dan ayahnya pulang. Bagaimana pun, dia tidak bisa tinggal diam.

“Suzy.”

Suara itu akhirnya berhasil membangunkan Suzy yang sedari tadi hanya diam. Refleks, Suzy sedikit terlonjak dan menoleh ke arah sumber suara itu. Ia mengangkat alisnya bertanya-tanya apa yang hendak dikatakan oleh Junho.

“Kau mau pulang, bukan?”

“U-um, iya,” jawab Suzy akhirnya dengan terbata-bata.

“Biar aku yang antar kau pulang.”

“Lalu, ayahku?”

Junho menoleh ke arah para orang tua, kemudian ia menggelengkan kepalanya karena merasa kesal melihat mereka justru mabuk, padahal mereka harus mengantar anak-anak mereka pulang. Dengan pasrah, ia mengangkat ponselnya untuk menghubungi seseorang. Setelah lama berbicara, ia mengalihkan pandangannya pada Suzy.

“Sebentar lagi, sekretaris ayahku akan bawa limousine dan mengantar mereka semua pulang. Kau sebaiknya pulang denganku.”

“Tapi, bukankah seharusnya kau mengantar ayahku dan aku pulang?”

“Kau sudah dengar bukan bahwa mereka mau liburan sebentar?”

Suzy mengangkat alisnya. “Liburan?”

Junho mendesah. “Kau benar-benar tidak memperhatikan mereka semua. Kau pasti sibuk dengan pikiranmu sendiri. Ya, jawabannya benar. Mereka mau liburan ke Pulau Jeju besok. Jadi, sebaiknya aku mengirim mereka ke rumah ayahku di Apgujeong. Kau tidak perlu khawatir. Besok mereka pasti akan kembali. Kau juga tidak mau mengurus ayahmu yang tengah mabuk, bukan?”

“Entahlah.”

“Kau mau minum apa?”

“Terserah,” jawab Junho ketika Suzy menghampirinya dan bertanya.

Lelaki itu mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian rumah Suzy yang begitu besar dan luas. Ia menoleh ke arah Suzy yang sudah melangkah jauh meninggalkannya. Mungkin dia mau membuat sesuatu atau meminta pelayannya untuk membuatkannya minuman. Ketika Suzy kembali dengan sebuah cangkir di tangannya, ia bisa menebak bahwa Suzy-lah yang membuat minuman tersebut.

“Diminum. Kau mau disini sampai jam berapa?” tanya Suzy.

“Uh, aku tidak tau. Ini sudah jam 2 pagi.”

“Ya, sudah. Kau tidur saja di kamar tamu untuk sementara. Aku tidak mau disalahkan apabila nanti aku mendnegar kabar kecelakaan mengenai dirimu,” Suzy bergurau. “Aku hanya bercanda.”

Junho tertawa pelan. “Abaikan saja. Ngomong-ngomong, dimana kamarnya? Biarkan aku yang pergi sendiri, aku belum mengantuk. Kau tidurlah duluan.”

Suzy mendesah. “Ada di sana,” katanya sambil menunjuk sebuah kamar yang tak jauh dari tempat mereka duduk. “Baiklah. Aku tidur dulu. Kalau kau butuh apa-apa, kau bisa ke kamarku karena semua pelayan akan tidur setelah aku tidur. Kamarku ada di lantai dua, cari saja sendiri karena aku memasang namaku di depan pintu kamar.”

Junho mengangguk mengerti. “Iya, kau tidurlah.”

“Jangan coba-coba menyelinap memasuki kamar yang lain. Apalagi ruang kerja ayahku.”

“Siapa juga yang mau kesana, Bae Suzy? Aku bukan orang ingin mencari tau sesuatu yang bukan milikku,” katanya kesal. Ia pun mengibas-ngibaskan tangannya ke arah Suzy meminta gadis itu segera meninggalkannya sendiri. “Sudah, kau tidur sana.”

Suzy hanya diam dan tak merespon perkataan Junho. Ia pun melangkah menuju tangga besar yang berwarna putih itu. Ia menaiki anak tangannya satu persatu dan mulai meninggalkan Junho sendirian. Begitu gadis itu hilang dari pandangannya, Junho hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

Tidak pernah ia merasa segugup ini jika berbicara dengan Bae Suzy. Dia tahu bahwa di dalam rumah ini hanya ada mereka berdua. Meskipun dia tahu bahwa dia tidak akan melakukan apapun pada Suzy, ada secercah rasa yang menyelinap di dalam pikiran Junho, meminta laki-laki itu agar menemani Suzy di kamarnya.

Namun, ia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menjauhi pikiran jahat tersebut. Dia sangat tahu bahwa Suzy ingin sendiri saat ini, tidak mau diganggu. Terutama akibat insiden Taecyeon tadi sore yang berhasil membuatnya sedikit terkejut akibat pernyataan lelaki itu. Tak ada yang menyangka bahwa Taecyeon bisa menyukai sosok Bae Suzy.

“Apa yang kau lakukan? Kau tidak tidur?”

Tubuh Junho melonjak, mencari-cari suara Suzy. Hingga akhirnya ia menemukan gadis itu berdiri di dekat balkon yang memagari sisi lantai dua. “O-oh, kau ada di sana. Kau sendiri kenapa tidak tidur? Apa kau mimpi buruk? Atau kau tidak tenang tidur karena di rumah ini ada aku?”

Suzy memutar bola matanya. “Nanti aku tidur. Tidak. Tidak. Aku sama sekali tidak keberatan kau tidur di rumah ini. Justru, aku-lah yang sebelumnya memintamu untuk tidur di sini, bukan? Ini sudah larut malam. Be—tidak. Besok memang libur. Tapi setidaknya, kau harus tidur.”

Junho hanya tersenyum. “Baiklah. Aku akan tidur, Tuan Putri. Kau tidur duluan saja. Aku tidak mau melihatmu masih berada di luar kamar. Aku akan mengecek nanti.”

Suzy melotot. “Jangan! Jangan ke kamarku!”

“Siapa yang mau ke kamarmu? Aku hanya ingin mengecek di sekitar lantai dua. Jika aku menemukanmu masih belum tidur, maka aku akan mengecek kamarmu. Jadi kau tidur saja duluan. Jangan pedulikan aku,” ucap Junho sembari tersenyum miring.

“Terserah kau saja. Jangan ke kamarku jika kau bukan berada dalam keadaan genting. Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke kamarku begitu saja. Aku akan menguncinya. Jadi kau harus mengetuk pintu kamarku dahulu sebelum masuk.”

Junho mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah, Tuan Putri. Tenang saja.”

Setelah itu, Suzy melangkah meninggalkan Junho sendirian di ruang televisi. Lelaki itu menghela nafas dan memandang ke arah langit-langit kamar. Dia sedang membayangkan apa yang tengah dilakukan Suzy saat ini. Mungkin, gadis itu sudah melepaskan sandal rumahnya dan menyelinap masuk di balik selimut hangatnya. Bicara tentang selimut, saat ini juga dia ingin tidur.

Ia bangkit dari sofa dan mengenakan sandal rumahnya yang berwarna abu-abu. Sandal tersebut terasa hangat di balik angin malam jam 2 pagi. Dia mengusap matanya, kemudian melangkah menuju kamar yang sebelumnya sudah ditunjukkan Suzy sebagai kamar miliknya untuk sementara waktu.

Tiba-tiba, Junho teringat pada para orang tua tersebut. Ia bisa membayangkan ayahnya yang tengah mabuk dan juga ibunya. Min dan Hyejung yang juga ikut dengan mereka pasti sudah terlelap. Mereka bukanlah tipe anak yang peduli pada orang tua mereka apabila orang tua mereka tengah mabuk. Mereka hanya peduli pada ponsel dan komik mereka, seakan-akan, kedua benda tersebut lebih penting daripada nyawa kedua orang tua mereka.

“Sebaiknya aku tidur, bukan memikirkan mereka,” gumam Junho.

Tangannya menarik gagang pintu tersebut ke bawah dan membukanya dengan mendorong pintu tersebut ke dalam. Ia menemukan keadaan kamar yang sangat rapi. Mungkin telah dirapikan oleh pelayan Suzy. Tidak ada apa-apa di dalamnya. Hanya sebuah tempat tidur berukuran besar—bisa ditiduri oleh dua orang—terletak di tengah ruangan menempel pada dinding berwarna putih, sebuah meja kecil di kedua sisi tempat tidur.

Di atas salah satu meja kecil tersebut, terletak sebuah lampu kecil yang bisa digunakan. Di atas meja kecil yang lain terletak sebuah jam kecil yang mungkin bisa digunakannya sebagai alarm. Tak hanya itu, di sisi kanan kamar tersebut, sebuah jendela besar terpasang di dindingnya menghadap ke arah kolam renang. Di seberang tempat tidur sebuah lukisan pemandangan menempel dengan indah.

“Tak heran kalau ayahnya bisa jadi pengusaha paling kaya di Korea Selatan.”

Matahari menerobos masuk memasuki kamarnya. Tentu saja, cahaya tersebut mengganggu gadis itu. Suzy pun menarik nafasnya dalam-dalam tanpa membuka matanya sedikitpun. Ia justru menarik selimutnya untuk kembali menutupi dirinya dari cahaya matahari tersebut bak seorang gadis yang anti pada sinar matahari.

Namun, begitu mendengar suara pintu terbuka, ia langsung menyibakkan selimutnya dan terduduk di atas tempat tidur sambil merapikan rambutnya. Ketika melihat seorang pelayan masuk, ia menghela nafas kesal, dan memutar kedua bola matanya.

“Ada apa?”

“U-um, Nona Bae. Kau dipanggil oleh temanmu.”

Suzy mendengus kesal. “Baiklah. Bilang saja padanya, aku harus beres-beres kamar dahulu. Jika dia masih ingin bertanya, bilang saja padanya, aku tidak menerima pertanyaan selanjutnya. Intinya, bilang saja padanya, tunggu sebentar.”

Pelayan tersebut menganggukkan kepalanya mengerti. Kemudian, ia melangkah keluar, dan menutup pintu kamar Suzy rapat-rapat. Sedangkan Suzy, hanya bisa mengacak rambutnya kesal. Tidak ada pilihan lain, selain bangun dan segera mandi. Junho adalah tamu. Dia harus diperlakukan baik.

Suzy bisa membayangkan betapa bahagianya sekarang ayahnya telah berangkat ke Pulau Jeju bersama teman-temannya. Apapun itu, Suzy harus menerima kenyataan bahwa dua jam yang lalu, ayahnya telah menelponnya menanyakan apakah dia baik-baik saja. Tentu saja, dia menjawab dengan jujur bahwa Junho mengantarnya ke rumah dan dia membiarkan Junho menginap untuk semalam.

Akibat kejujurannya itu, sekarang ayahnya mempercayakan Junho untuk mengurusnya. Dia membiarkan Junho untuk menginap di rumah Suzy selama beberapa hari hingga ayahnya pulang. Ketika Suzy mencoba menolak dan meminta Tiffany saja yang menjaganya, ayahnya mengatakan bahwa Tiffany punya urusan mendadak sehingga ia harus berangkat ke luar negeri.

Keberangkatan Tiffany tidak bisa dipercaya oleh Suzy. Gadis itu pun menelpon Tiffany dan menanyakan kebenarannya. Rupanya, ayah Suzy tidak berbohong soal itu. Tiffany benar-benar mematikan ponselnya hingga saat ini tidak dapat dihubungi. Mengingat bahwa Tiffany memilih keberangkatan paling awal untuk ke Inggris, mungkin dia baru bisa menghubungi Tiffany nanti malam.

Jadi, saat ini, yang bisa dilakukan Suzy adalah menerima kenyataan bahwa dia harus tinggal bersama Junho untuk beberapa hari ke depan. Ya, beberapa hari ini dia harus bisa mengontrol perasaannya. Bagaimana pun caranya, dia harus bisa mengontrol perasaannya. Entah itu, jantungnya yang tak bisa dikontrol atau keadaan mukanya. Bahkan, tingkah lakunya yang tidak dapat ia kontrol.

Setelah menyelesaikan semuanya selama 30 menit, Suzy langsung bergegas menuruni tangga untuk menemui Junho. Dia menyadari bahwa lelaki itu telah bosan menunggunya begitu melihat keadaan wajah lelaki itu. Dia melihat ke arah meja makan yang sudah dipenuhi makanan ini dan itu, namun sama sekali belum di sentuh.

“Kau menungguku atau kau memang sudah lapar?”

“Kau ini…” Junho menarik nafas dalam-dalam dan melirik ke arah Suzy yang menarik salah satu kursi untuk diduduki. “Tentu saja aku menunggumu. Mana mungkin seorang tamu makan duluan daripada pemilik rumahnya. Memangnya berapa lama, sih, membereskan ini dan itu? Bilang saja, kau baru bangun.”

“Sudahlah. Lupakan. Sekarang makan saja.”

“Selamat makan.”

Suzy menganggukkan kepalanya. “Selamat makan.”

Keduanya makan dalam diam. Tidak ada yang berusaha untuk mengajak berbicara, baik Junho maupun Suzy. Suzy memainkan ponselnya sembari menyuapkan makanannya satu persatu ke dalam mulutnya. Dia pikir, sebaiknya dia memainkan ponselnya daripada ia harus mengajak bicara Junho.

Pikiran Suzy sendiri sebenarnya tidak sepenuhnya terfokus pada makanan yang ada di hadapannya. Ada banyak bagian di pikirannya; Junho, makanan, apa yang harus dikerjakannya hari ini, apa yang harus dilakukannya jika ada Junho, apa yang harus dia lakukan agar Junho merasa tidak canggung berada di dekatnya, apa yang harus dilakukannya jika—ia tidak tahu lagi.

“Apa yang kau pikirkan? Cepat selesaikan makanannya kalau kau tidak mau di rumah ini sendirian.”

Suzy menaikkan alisnya, tangannya menyendokkan segumpal nasi, dan menatap Junho bingung. “Memangnya kau sendiri mau kemana? Kau mau pergi?”

Junho mengangguk sambil mengunyah makanannya. Ia menelan suapan terakhirnya kemudian tersenyum lebar. “Aku mau jalan-jalan. Kau tidak mau ikut? Kau pasti akan bosan sendirian di sini. Aku mau ke Apgujeong dan Cheongdam.”

“Kau mau apa di sana?”

“Tentu saja main. Bukannya aku sudah bilang?”

Suzy membulatkan bibirnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti dan melanjutkan makannya. Sedangkan Junho, dia sudah bangkit dan mendorong kursinya ke dalam, lalu melangkah menuju dapur, tetapi dia menghentikan langkahnya, lalu kembali menoleh ke arah Suzy.

“Kau tidak mau ikut?” tanyanya.

Suzy terdiam sebentar, berpikir sejenak. Menimbang-nimbang, apa yang akan terjadi jika ia ikut dengan laki-laki itu dan apa yang akan ia lakukan jika ia hanya sendirian di rumah, pasti membosankan. Bisikan jahat dari pikirannya terus mendorongnya untuk tetap ikut bersama lelaki itu.

“Baiklah, aku ikut. Tidak ada pilihan lain.”

“Um, Taewoon-ah, aku titipkan rumah ini padamu. Jadi, pastikan jangan ada satu pun pelayan yang memasuki kamarku atau kamar-kamar yang lain, ya,” titah Suzy pada salah satu pemimpin pelayan yang seumuran dengannya. Itulah sebabnya dia menggunakan bahasa informal pada lelaki tersebut.

Lelaki yang dipanggil Taewoon itu menganggukkan kepalanya mengerti, lalu ia membungkukkan tubuhnya sebentar ke arah Suzy. Suzy hanya tersenyum, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumahnya. Begitu keluar dari rumahnya, ia menemukan mobil Junho yang telah terparkir rapi disana. Dia bertanya-tanya kapan lelaki itu pergi mengambil mobilnya. Mungkin, sebelum dia terbangun tadi pagi atau saat ia tengah merapikan dirinya.

Dia mengangkat bahunya tak peduli, lalu memasuki mobil Junho. Junho segera melajukan mobilnya begitu Suzy selesai memasang sabuk pengamannya. Lagi-lagi, keduanya hanya diam, hanya lagu dari radio yang mengisi keheningan tersebut. Lagu dari pendatang baru di panggung hiburan juga ikut mengalun di dalam mobil tersebut, ada beberapa lagu yang Suzy tahu dan juga yang tidak dia tahu.

“Kita telah sampai.”

“Kau yakin kita mau ke tempat ini?” tanya Suzy ragu.

Junho menggeleng. “Aku tidak mengajakmu ke tempat ini. Aku mengajakmu berkeliling disini. Kau tidak mau? Kalau tidak mau, kau bisa tunggu di sini. Aku mau berkeliling dulu, ditambah hari ini aku sedang baik padamu.”

Suzy menaikkan alisnya. “Baik katamu? Kapan kau baik padaku, huh?”

Junho melepaskan sabuk pengamannya. “Saat ini.”

Suzy pun ikut melepaskan sabuk pengamannya. “Saat ini? Kau pasti sedang berbual kepadaku. Sejak kapan seorang Lee Junho baik kepadaku? Aku pasti sedang bermimpi atau kau yang sedang berbohong padaku.”

Junho mendengus. “Terserah kau saja, Bae Suzy. Intinya kau mau ikut atau tidak?”

Suzy menarik nafas dalam-dalam. “Aku ikut. Aku tidak mau mati karena menunggumu di dalam mobil. Ditambah lagi, aku tidak tahan menunggu seseorang seharian hanya karena orang itu berkeliling di sekitar Apgujeong.”

Junho tertawa pelan. “Baiklah, baiklah, Tuan Putri. Silahkan, turun duluan.”

Suzy memutar bola matanya dan menuruti perkataan Junho. Ia segera turun dari mobil Junho, lalu merentangkan tangannya ke atas, meregangkan otot-ototnya yang kaku akibat terlalu lama di dalam mobil. Ia melirik ke arah Junho tak peduli ketika lelaki itu mengisyaratkannya untuk mengikuti lelaki itu.

“Kita mau kemana?”

Junho meliriknya. “Aku pikir kau tidak peduli. Kau mau tau?”

Suzy mendengus kesal. “Kau ini menyebalkan sekali. Aku bertanya, kau justru balik bertanya. Maka, kalau aku menjawab, kau akan balik menjawab? Begitu, huh?”

Junho kembali tertawa pelan. “Kau sedang menstruasi?”

“Benar, bukan? Kau lagi-lagi bertanya padaku! Bukannya menjawab, kau justru balik bertanya. Jawab saja, apa susahnya, sih? Tahu begini, aku tidak ikut dengan perjalanan menyebalkan ini. Lebih baik aku jalan-jalan bersama Jieun daripada bersama dirimu! Aku sangat menyesal.”

Junho mendekat ke arah gadis itu. Ia menaikkan alisnya dan merangkul Suzy. “Kau benar-benar menyesal karena memiliku?” tanya lelaki itu sambil mendekatkan wajahnya ke arah Suzy dan mengeratkan rangkulannya pada Suzy.

Spontan, Suzy langsung terdiam. Matanya bergerak ke sekitar, menghindari tatapan Junho yang begitu dalam. Dia hanya mencoba mendorong Junho, namun rupanya kekuatan Junho lebih besar daripada dorongannya. Akhirnya, Suzy hanya bisa menerima perlakuan menyebalkan sekaligus menegangkan dari Junho seharian itu.

Setelah asik berkeliling di Apgujeong dan Cheongdam-dong, mereka mengakhiri perjalanan mereka dengan mengunjungi salah satu studio foto. Awalnya, Junho menolak, namun karena Suzy yang sangat ingin melakukan foto bersama lelaki itu, akhirnya dia harus mengiyakan perkataan gadis itu. Mau tidak mau.

“Ayolah, Lee Junho! Seharian ini aku menuruti kemauanmu, sekarang kau yang harus menurutiku. Ayolah, kita hanya foto sekali saja. Untuk—” Suzy terdiam sejenak, berpikir keras, mencari kata-kata yang tepat. “—disimpan? Kenang-kenangan?”

“Baiklah, Tuan Putri,” sahut Junho sembari memutar kedua bola matanya menyerah. Ia langsung menurut begitu Suzy menariknya masuk ke dalam salah satu photobox yang kosong. “Ngomong-ngomong, aku—“

“Oh, ya, jangan panggil aku Tuan Putri. Memangnya kau ini bodyguard-ku?”

“Baiklah, Tu—Bae Suzy.”

Suzy tersenyum lebar lalu menganggukkan kepalanya. Ia memilih-milih aksesoris yang akan dikenakannya. Dia juga memilih-milih topi yang mungkin cocok dikenakan oleh Junho. Karena terlalu sibuk memilih-milih, Junho akhirnya menyambar salah satu snapback hitam dan dikenakannya.

Suzy meliriknya. “Nah! Kenapa tidak kau saja yang pilih dari tadi?”

Junho menghela nafas berat. “Sudahlah. Ayo, kita berfoto saja.”

Suzy tersenyum tipis. Begitu layar mereka mulai berhitung mundur, Junho langsung merangkul Suzy dan mengeratkan rangkulannya pada Junho. Suzy mencoba melepaskan rangkulannya sambil mendorongnya, namun lagi-lagi ia gagal melepaskan Junho.

Tepat saat kamera menunjukkan angka satu, Junho mendekatkan wajahnya ke arah Suzy dan mengecup pipi gadis itu. Sedangkan itu, Suzy yang tidak sempat bereaksi menyadari bahwa hasil fotonya pasti tampak seperti pasangan kekasih—ia yang tengah tersenyum lebar sambil membuat tanda damai dengan dua jari tangan kirinya dan Junho yang mengecup pipinya.

Mwoya?!”

“Untuk terima kasih karena kau menemaniku hari ini,” sahut Junho santai.

Setibanya di tempat parkir, cepat-cepat, Suzy langsung turun dari mobil Junho. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa tidak ada siapapun yang melihatnya baru saja turun dari mobil Junho. Dia tidak mau mendengar isu yang tidak-tidak mengenai dirinya—sebagai wakil ketua murid.

Junho yang dengan santai keluar dari mobilnya mencoba melangkah di belakang Suzy, tanpa gadis itu ketahui. Beberapa murid melirik mereka dengan pandangan bertanya-tanya. Suzy yang tidak tahu apa-apa justru menatap balik murid-murid itu dengan pandangan bingung, ia mencoba melirik seragamnya, mencari-cari kesalahannya.

Namun, ia tidak menemukan apapun.

Seragam yang dikenakannya sudah benar dan rapi, tanpa ada noda sedikitpun. Namun, begitu ia melihat salah satu murid yang menunjuk sesuatu di belakangnya, ia langsung memabalikkan badannya dan menemukan sosok Junho yang entah sudah sejak kapan mengikutinya dengan santai.

YA!” desis Suzy kesal. “Apa yang kau lakukan?”

“Aku? Aku hanya mencoba melangkah menuju kelasku. Bukankah kita satu arah?”

Suzy mendengus. “Lupakan saja!”

Junho tertawa pelan begitu gadis itu melangkah lebih cepat. Namun, dia punya sesuatu yang lain yang mungkin akan merusak reputasinya sebagai ketua murid, juga reputasi Bae Suzy sebagai wakil ketua murid. Dia yakin setelah ini dia akan mendengar isu hangat yang menyebar ke seluruh murid sekolah.

“Jangan lupa, aku menunggumu sepulang sekolah nanti, Chagiya!”

Seperti itulah akhirnya, kabar hangat mengenai Lee Junho dan Bae Suzy langsung menyebar. Dengan usaha yang sia-sia, Suzy mencoba memantapkan murid-murid bahwa ia tidak berpacaran dengan Lee Junho. Namun, bagaimana mungkin murid-murid akan percaya padanya apabila Junho telah memanggilnya dengan sebutan ‘chagiya’?

Seharian itu, sekolah diisi dengan kabar keduanya. Di saat Suzy yang mati-matian memantapkan murid-murid bahwa dia tidak berpacaran dengan Lee Junho, Junho hanya menanggapi pertanyaan murid-murid dengan seulas senyum tipis. Mungkin, beberapa telah mempercayainya.

Namun, seulas senyum tipis Junho langsung berakhir begitu mendengar kabar yang sama sekali tidak ingin ia dengar hari itu.

“Lee Junho! Ini gawat!”

Jang Wooyoung memasuki ruangan kerja Junho sembari terengah-engah. Nafasnya tak teratur, juga bulir-bulir keringat telah memenuhi kening lelaki itu. Di belakang Wooyoung, ada Jieun yang tak kalah panik dari Wooyoung.

Junho mengerutkan keningnya, ia melirik jam dinding yang menempel di atas pintu ruangannya. Jam menunjukkan pukul 1 siang. Dia mengerutkan keningnya. “Ada apa? Padahal satu jam lagi kita pulang sekolah. Kalau tidak terlalu gawat, kau bisa memberitahuku besok lagi.”

Jieun menggelengkan kepalanya cepat. “Bukan! Ini bukan soal sekolah, Lee Junho. Ini soal pacarmu—maksudku, Bae Suzy. Bae Suzy, dia hilang!”

Raut wajah Junho langsung berubah begitu mendengar kabar yang baru saja diucapkan oleh Jieun. Sebelumnya, wajahnya tampak tenang, penuh kedamaian, dan juga tampak bahagia, juga tentram. Namun, wajahnya langsung berubah 180 derajat menjadi penuh tanya, bingung, panik, dan takut.

“Hilang?!” Junho melebarkan matanya. “Kau bilang dia hilang? Kapan terakhir kali kau melihatnya di sekolah?”

“Aku pikir dia pergi ke UKS setelah istirahat karena dia bilang dia tidak enak badan. Aku bilang padanya bahwa aku akan memberi tahu Guru Cho soal keadaannya jika dia tidak masuk kelas. Saat aku mengecek di UKS, dia tidak ada. Aku panik, jadi aku meminta Wooyoung untuk membantuku mencarinya, namun dia tidak ada dimana-mana. Dia benar-benar hilang seperti di telan bumi.”

“Kau sudah menghubungi nomor ponselnya?”

Wooyoung mengangguk. “Namun, ponselnya tidak aktif. Aku tidak bisa mencari jejaknya, padahal dia selalu mengaktifkan lokasinya. Dia bilang padaku karena ayahnya selalu mengawasinya dengan dia mengaktifkan lokasi ponselnya itu.”

Junho mengerang kesal. “Sial!”

Pikirannya langsung kacau. Dia tidak bisa tinggal diam. Dia mencoba berpikir dalam-dalam, siapa yang mungkin menculik gadis itu. Tidak mungkin ada yang membenci Suzy hanya karena dia mengungkapkan bahwa dia berpacaran dengan Suzy.

Namun, wajahnya langsung berubah begitu menemukan sesuatu yang tidak beres dengan pikirannya itu. Ada sesuatu yang tidak benar dengan pikirannya. Ada sesuatu yang ganjal dengan pikirannya.

Junho melirik Wooyoung dan Jieun. “Periksa semua murid, apa mereka masih berada di kelas? Kalau ada yang tidak masuk, tanyakan keterangannya! Aku akan menemui guru-guru untuk memberitahu mereka. Ayah Suzy bisa mengamuk padaku jika dia mendengar bahwa Suzy benar-benar menghilang karena dia baru saja berangkat ke Pulau Jeju.”

To be Continued

April 22, 2015 — 01:00 A.M.

::::

a.n: terimakasih yang telah bersedia membaca fanfiction ini. satu chapter lagi, fanfiction ini akan selesai. jadi dimohon kesabarannya, karena setelah ini tidak akan ada libur-libur lagi buat gue. gue harus curi-curi waktu lah intinya. dimohon kesetiaannya, untuk memberikan komentar, likes, dan vote atau rate. terimakasih.

Advertisements

37 thoughts on “[Chapter 9] Another Cinderella Story

  1. Wah yang ini tambah keren,
    Kata2nya juga makin santai,
    Jadi ga kerasa bacanya
    Semangat yaa
    Lanjut tinggal 1 chapter lagi
    Abis ini kalok ada kesempatan, bikin ff junho lagi yaa
    terimakasihh

    • waah seriusan? hihi, makasiiih udah baca, komentar, dan kasih semangaat. sipsiiip kalau ada waktu yaa karena habis ini aku masih ada projek ff myungsoo-naeun huahaha. keep reading yaa ❤

  2. Ya elah .. Abang junho cari” + curi” kesempatan kiss.kiss .. Mkin ksini mkin suka iii.. Konflik ny pas dah, ga njelimet, ank sekolahan ya.. Di panjngin lagi donk chap ny or buat ff junzy lgi ..
    Mksih ya udh update, d tunggu next chap ny ..

  3. Yak katanya junho tidak tertarik ma suzy kenapa ambil ksempatan…..akui aja junho klau suka ma suzy….
    apa suzy bnar2 d clik….d tgg klanjutannya

  4. akhirnya chap ini keluar juga hihi aku udh nunggu nunggu..
    aku suka banget sama hubungan junzy eon..
    daebbak

    • huehehehe makasiiih udah nungguiin. maaf yaa agak lama, berhubung aku juga sambil revisi bahasanya hehe. makasiih udah baca dan komentar 😀 keep reading! <#

  5. Apa apaan udah tbc ajaaa>< taecyeon kali ya yg nyuri suzy? Krna dia cmburu kali yaa *ngarang bebas* kekekek, next eon, next panjangin lagi yaa

    • waaah makasiih yaa udah baca dan komentaar. duuuh, ff ini belum keren, masih banyak ff yang lebih keren di luar sana </3 siiipsiip. makasih udah baca dan komentaar 😀 keep reading! ❤

    • Haai. Maaf ya kalau sekarang gabisa update. Tolong ngertiin, bentar lagi aku UKK. Ini aja aku baru sampe rumah, bener2 gaada waktu buat buka laptop jadi ya gitu deh. Kemungkinan update lagi pas ukk. Harap bersabar yaa, makasih. Semoga yg lain juga baca ini💕💕

  6. Sumpah ceritanya bkin gereget bgt …
    Sumpah gk sbr bgt sm kelanjutanya , bnr” gk sbr nih hahaha….
    Pasti yang culik suzy si taecyeon …
    Akh junho the best >.<

  7. Aku sudah ketinggalan 3 chapter…pas liat ternyata sudah chapter 9..alhasil baca dlu dr chapter 7…dan ternyata sudah sebulan lebih..hiksss..
    suzy di culik siapa?apakah taecyeon?junho sampe panik gtu… gemes sm Junzy hehehe.. ditunggu next chapternya yaaa..hwaiting
    aq ttp setia menunggu FF mu yg ini authornim.. semangat buat Tugas2nya..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s