My Last (Chapter 6)

my-last-request-dkjung1

My Last (Chapter 6)

Written by DkJung

Poster by Junnie!ART

Main Casts : [Infinite] Kim Myungsoo | [A Pink] Son Naeun | [Infinite] Lee Sungjong

Support Casts : [Beast] Lee Gikwang | [Girl’s Day] Bang Minah

Genre : Romance | Length : Chaptered | Rated : Teen

>< 

Kim Myungsoo, lelaki tampan yang terlibat cinta segitiga, dimana ia harus memilih antara menjadi lelaki normal atau gay, dengan memilih Son Naeun atau Lee Sungjong.

><

Teaser > Chapter 1 > Chapter 2 > Chapter 3 > Chapter 4 > Chapter 5

>Chapter 6<

Naeun tampak berpikir. “Kau benar.”

“Lagipula, kau tahu sendiri, kan, dia akan semakin membencimu kalau kau terus membuntutinya. Langkah yang paling pertama adalah, jangan buat dia membencimu, itu yang terpenting. Kalau dia masih membencimu, bagaimana bisa dia akan menyukaimu nantinya?” ujar Youngji.

Naeun menganggukan kepalanya berkali-kali. Sahabatnya ini memang lebih pintar darinya. Ia bahkan tidak pernah memikirkan tentang hal ini, dan ia malah mementingkan obsesinya untuk memiliki Myungsoo tanpa memikirkan apa-apa.

“Kau benar. Wah, bagaimana bisa kau sepintar ini, Heo Youngji?”

“Kau meledekku, ya? Dari dulu, aku selalu lebih pintar darimu tahu!”

Naeun memukul pelan lengan Youngji. Setelah itu, ia melihat ke koridor melalui jendela kelasnya, ada Myungsoo yang tengah melintasi kelasnya. Tidak biasanya Myungsoo melewati kelasnya. Tanpa disangka-sangka, Myungsoo pun langsung masuk ke ruang kelas Naeun, membuat gadis itu terkejut setengah mati.

“Youngji-ya, dia kesini–“

“Son Naeun, ikut aku!” ucapnya dengan tatapan tajam lalu berjalan kembali keluar kelas Naeun.

Naeun mendadak ketakutan, apalagi setelah melihat sorot mata Myungsoo yang mengisyaratkan kemarahan. Tidak biasanya Myungsoo menghampirinya duluan, bahkan biasanya, Myungsoo selalu bersikap seolah dirinya tidak mengenal Naeun.

“Sepertinya dia mau mengatakan sesuatu, cepat kau susul dia!” ujar Youngji.

Naeun hanya mengangguk lalu berlari kecil mengejar Myungsoo yang sudah berjalan cukup jauh. Naeun mengikuti Myungsoo hingga mereka berdua sampai di atap sekolah. Naeun semakin takut, pikirannya mulai tidak terkendali. Ia mulai membayangkan Myungsoo yang akan mendorongnya dari atap sekolah. Sungguh mengerikan.

Ya, jangan melamun!”

Naeun segera tersadar ketika Myungsoo sudah berdiri tepat dihadapannya.

“Ada apa kau memanggilku?” tanya Naeun dengan suara yang sangat pelan. Jujur saja, belakangan ini Naeun jadi takut melihat kemarahan Myungsoo, apalagi sejak kencan tempo hari, dimana Sungjong berkata ia akan memutuskan Myungsoo.

“Ini semua salahmu!”

Ne?”

“Sungjong memutuskanku! Dan semua karena ulahmu!”

“Syukurlah,” ucap Naeun tanpa sadar. Namun, ia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika Myungsoo menatapnya tajam.

“Apa ini yang kau inginkan? Apa tujuanmu selama ini adalah menghancurkan hidupku, huh?”

Naeun menggelengkan kepalanya. “Kau salah Oppa, justru aku ingin memperbaiki hidupmu yang sudah hancur,” ucap Naeun, mencoba untuk memberanikan diri menasihati Myungsoo, lagi.

“Kau, bagaimana bisa kau membuatku seperti ini? Hidupku baik-baik saja setidaknya sebelum aku bertemu denganmu, dasar gadis pembawa sial! Pergilah jauh-jauh dari kehidupanku!” gertak Myungsoo lalu berjalan meninggalkan Naeun.

Naeun terkejut mendengar ucapan Myungsoo. Mworagu? gadis pembawa sial? Enak saja!

Ya!” teriak Naeun yang membuat Myungsoo menghentikan langkahnya lalu berbalik.

“Hidupmu itulah yang sial, Kim Myungsoo. Nasibmu benar-benar sial karena ditakdirkan menjadi seorang homoseksual. Justru aku datang padamu untuk membuat hidupmu menjadi lebih baik, tidakkah kau sadar itu?! Dan satu lagi, jangan pernah bilang aku ini gadis pembawa sial, karena kalau ibuku sampai mendengarnya, ia tidak akan suka!” ucap Naeun lalu berlari meninggalkan Myungsoo yang masih terdiam.

Naeun segera menuruni tangga tanpa berniat untuk berbalik.

Sementara Myungsoo masih berdiri di tempatnya. Sepertinya hidupnya memang sudah tidak beres.

>><<

Naeun terus-menerus membasahi wajahnya di wastafel toilet sekolahnya. Ia tidak menyangka bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu di hadapan Myungsoo tadi. Tapi mau bagaimana lagi? Myungsoo duluan yang memancing amarahnya. Tidak biasanya Naeun sampai semarah itu. Berkali-kali, Naeun menampar wajahnya sendiri.

Paboya, Son Naeun! Kalau begini caranya, yang ada dia akan semakin membencimu!” umpat Naeun pada bayangan dirinya di cermin.

Naeun menarik napasnya, lalu membuangnya. Ia melakukannya berulang-ulang agar dirinya kembali tenang. Namun sepertinya, tidak berhasil. Ia masih saja memikirkan perkataannya tadi.

“Kenapa aku harus memikirkannya? Lagipula, dia tidak akan pernah peduli dengan apapun yang kukatakan. Huh, tenanglah, Son Naeun, jangan panik!”

Naeun akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Ia mengambil tasnya yang ia taruh di pinggir wastafel lalu keluar dari toilet siswa. Di depan pintu toilet, ia berpapasan dengan Gikwang.

“Naeun-ah!”

Naeu hanya bisa tersenyum meihat Gikwang. Gadia itu tentunya masih merasa tidak enak bila bertemu Gikwang, apalagi, setelah ia secara tidak langsung menolak perasaan Gikwang.

“Kau mau pulang?” tanya Gikwang. Naeun hanya mengangguk.

“Mau kuantar?”

Naeun berpikir sejenak. Setelah menolak perasaannya rasanya sungguh jahat bila ia sekarang menolak niat baiknya. Lagipula, ia hanya akan mengantar pulang, kan? Tentu alangkah baiknya bila Naeun menerima tawarannya.

Arrasseo, gomawo Oppa,” ucap Naeun.

Keduanya lalu berjalan beriringan. Sementara itu, di pintu toilet, Minah sudah berdiri tegak memandangi Gikwang dan Naeun.

“Bagaimana bisa gadis itu menerima begitu saja tawaran Gikwang Oppa? Bukankah dia bilang bahwa dia kekasih Myungsoo? Apa sebenarnya dia juga menyukai Gikwang Oppa? Ini tidak bisa dibiarkan!” ucap Minah sambil terus menatap punggung Naeun dan Gikwang yang semakin menjauh.

>><<

Nauen duduk di kursi meja belajarnya. Ia mengeluarkan buku pelajarannya dari dalam tas. Ia lalu membereskan buku-buku yang harus ia bawa ke sekolah keesokan harinya. Setelah itu, ia pun mengambil ponselnya yang baru saja selesai ia charge. Setelah menyalakannya, ia membuka aplikasi LINE miliknya. Ketika ia sedang melihat-lihat timeline, ia melihat akun Myungsoo menuliskan ‘Hari yang sangat buruk’. Naeun langsung teringat kata-kata yang ia ucapkan pada Myungsoo di sekolah tadi. Apa yang tengah dilakukan lelaki itu sekarang?

Sepertinya, walaupun Naeun sangat marah dengan Myungsoo, ia tetap tidak bisa membenci Myungsoo. Rasa sukanya masih jauh lebih besar dari pada rasa kesalnya.

TUK TUK TUK

“Masuk saja, tidak dikunci,” ujar Naeun sambil menatap ke arah pintu kamarnya, menunggu orang yang mengetuk pintu kamarnya itu masuk.

Sosok wanita paruh baya memasuki kamar Naeun sambil tersenyum tipis. Naeun membalas senyumannya.

Wae geuraeyo, Eomma?”

“Naeun-ah, apa tadi kau pulang bersama Myungsoo?”

Naeun menggeleng. “Aniyo, wae?”

Nyonya Son menghela napas. Raut wajahnya mendadak berubah. Naeun yang melihat ekspresi wajah ibunya itu juga jadi penasaran, tidak biasanya ibunya itu menanyakan soal Myungsoo padanya.

“Myungsoo belum pulang dan ia tidak menjawab telepon ibunya.”

“Selarut ini?” tanya Naeun sambil mengerutkan dahi. Nyonya Son mengangguk.

“Apa mungkin, kau tau kemana biasanya ia pergi?”

Naeun menggelengkan kepalanya. “Gwenchana, Eomma, aku akan pergi mencarinya!” ucap Naeun sambil mengambil jaketnya lalu berlari keluar kamar.

“Naeun-ah, eodiga? Ini sudah malam!” seru ibunya, namun Naeun tidak mendengarkan sampai akhirnya ia keluar dari rumahnya.

>><<

Naeun terus berlari menyusuri jalanan komplek rumahnya tanpa henti. Ia harus terus mencari Myungsoo. Ia takut lelaki itu akan melakukan hal yang nekat, apalagi setelah ia baru saja putus dengan Sungjong. Mengingat bagaimana marahnya lelaki itu, Naeun jadi semakin khawatir hal buruk terjadi pada Myungsoo.

Naeun kini sudah keluar dari kompleknya, namun ia masih belum bisa menemukan Myungsoo. Berkali-kali ia salah memanggil orang yang ia temui karena mirip dengan Myungsoo.

Oppa, eodiya?” gumam Naeun yang mulai panik.

Namun, kepanikan Naeun itu untungnya hilang ketika ia menemukan Myungsoo tengah minum di sebuah kedai kecil.

Oppa!” panggil Naeun seraya menghampiri Myungsoo. Bau alkohol tercium sangat kuat dari tubuh Myungsoo.

Oppa, sudah berapa banyak kau minum?” tanya Naeun sambil memandangi botol-botol soju yang sudah kosong di atas meja.

Omo, Son Naeun! Ya, kaulah penyebab ini semua! Aku mabuk seperti ini, karena kau! Arra?” ucap Myungsoo yang tengah mabuk berat sambil mengarahkan telunjuknya pada wajah Naeun.

Oppa, kau mabuk berat, sebaiknya kita pulang,” ujar Naeun sambil berusaha menarik tangan Myungsoo agar lelaki itu bangun. Tetapi Myungsoo justru menepisnya dengan kasar.

“Tinggalkan aku sendiri! Jangan pernah muncul di hadapanku lagi!”

“Bagaimana bisa aku meninggalkanmu dengan keadaan seperti ini? Ppali, ireonha!”

Naeun pun mencoba lagi untuk menarik tangan Myungsoo lalu melingkarkannya di bahunya. Sepertinya, tubuh Myungsoo melemas. Naeun langsung memapah tubuh besar Myungsoo dengan susah payah keluar dari kedai menuju trotoar untuk menunggu taksi.

“Kau benar-benar merepotkan, Oppa!”

Tak lama kemudian, sebuah taksi berhenti di hadapan mereka. Naeun langsung membuka pintu taksi dengan susah payah lalu mendorong masuk tubuh Myungsoo sebelum akhirnya ia masuk melalui pintu di sisi lain taksi.

Naeun memandang Myungsoo yang tengah terlelap di sebelahnya. Lelaki itu bahkan tampan walau saat tertidur, itu yang Naeun pikirkan.

“Apa Oppa harus sampai semabuk ini hanya karena seorang lelaki? Oppa itu tampan, jangan sia-siakan hidupmu, Oppa. Aku akan selalu ada untuk menemanimu,” ucap Naeun lalu menyandarkan kepalanya di bahu Myungsoo yang masih terpejam.

“Ngomong-ngomong, kau berhutang padaku setelah ini.”

>><<

Myungsoo membuka matanya yang terasa lengket secara perlahan. Ia menatap ruangan di sekelilingnya. Ternyata, ia berada di kamarnya sendiri. Setelah melihat sekeliling, pandangannya terhenti pada satu objek, jam dinding. Ia sudah terlambat ke sekolah lebih dari dua jam. Myungsoo panik. Ia langsung menyibakkan selimutnya lalu berlari menuju kamar mandi. Lebih baik ia terlambat dari pada tidak sekolah sama sekali.

Setelah memakai seragam, Myungsoo langsung berlari ke ruang makan untuk sekedar mengambil roti yang ada di meja makan lalu berencana untuk memakannya di jalan menuju sekolah.

Eomma, ini sudah jam berapa? Kenapa tidak membangunkanku?” tanya Myungsoo sambil mengambil roti dengan cepat.

“Memangnya kenapa? Eomma sengaja membiarkanmu istirahat karena kau mabuk berat semalam,” jawab Nyonya Kim yang tengah membereskan meja makan.

Mwo?” Myungsoo mendadak menghentikan kegiatannya sambil mengerutkan alis.

“Kau tidak perlu ke sekolah hari ini, Eomma sudah menitipkan surat izin sakit pada Naeun, kau tenang saja. Huh, sebaiknya kau berterima kasih pada gadis itu. Dia memang sempurna, gadis yang cantik, baik hati lagi. Tidakkah kau jatuh cinta padanya?”

Myungsoo semakin tidak mengerti. Bagaimana bisa ia mabuk? Myungsoo benar-benar tidak ingat kapan ia mabuk.

Eomma, aku tidak mengerti. Kapan aku mabuk?”

“Kau tidak ingat, ya? Semalam kau mabuk berat. Tadinya Eomma sangat khawatir karena kau belum juga pulang hingga larut malam. Keunde, dengan baik hatinya Naeun mau mencarimu malam-malam seorang diri. Akhirnya, dia menemukanmu tengah mabuk lalu membawamu pulang dengan taksi. Dia memang gadis yang sangat baik,” jelas Nyonya Kim sambil tersenyum cerah. Tampaknya, ia semakin menyukai Naeun.

Mabuk? Semalam? Pulang dengan Naeun? Aku tidak ingat sama sekali, pikir Myungsoo.

“Ah, Eomma hampir lupa, kau harus berterima kasih sekaligus meminta maaf padanya! Kau ingat tidak? Semalam, kan, kau muntah hingga mengotori jaketnya begitu sampai di rumah, uh, memalukan sekali. Eomma jadi tidak enak dengan Naeun, tapi gadis itu sangat pemaaf, dia bahkan menolak ketika Eomma menawarkan diri untuk mencuci jaketnya.”

“Muntah? Apa sampai separah itu?” tanya Myungsoo, ibunya hanya mengangguk.

Myungsoo hanya terdiam. Ia berjalan pelan kembali ke kamarnya tanpa berkata sepatah katapun pada ibunya. Setelah memasuki kamar, ia mengunci pintu kamarnya lalu melemparkan tas sekolahnya ke atas kasurnya. Ia duduk di kursi meja belajarnya.

“Bagaimana bisa aku mabuk di hadapan gadis tengil itu? Harga diriku pasti jatuh,” gumam Myungsoo.

Myungsoo baru ingat kalau ia belum menyalakan ponselnya sejak bangun tidur. Setelah menyalakannya ternyata Naeun mengiriminya foto di LINE. Foto tersebut adalah foto dimana mereka berdua tengah berada di dalam taksi. Naeun tersenyum, sementara Myungsoo terpejam.

“Ini? Apa ini tadi malam?”

Myungsoo pun mencoba mengingat kejadian semalam dimana ia tengah mabuk berat.

“Ngomong-ngomong, kau berhutang padaku setelah ini.”

Kata-kata yang diucapkan Naeun semalam mulai terngiang di kepalanya. Sial.

>><<

Ya, Sungjong-ah!”

Sungjong menghentikan langkah kakinya di koridor sekolah begitu mendengar suara Sungyeol yang memanggil namanya. Ia lalu berbalik ketika melihat Sungyeol tengah menghampirinya.

Wae?”

“Apa benar kau sudah putus dengan Myungsoo?” taya Sungyeol.

Sungjong menundukkan kepala sejenak. Ia sendiri agak tidak tega memutuskan Myungsoo begitu saja secara sepihak. Tapi akhirnya, Sungjong pun menganggukkan kepalanya.

“Bagus! Sangat bagus! Dengan begitu, Kau bisa kembali normal dan menerima Yein!”

Ya, bisakah kau tidak menyebut nama gadis itu? Lebih baik aku menjadi gay selamanya daripada harus menerima gadis jalang itu!” ucap Sungjong sambil berjalan meninggalkan Sungyeol.

Sungyeol segera menyusul Sungjong hingga mereka berjalan beriringan. “Ya sudah, aku tidak akan memaksamu. Itu sih, terserah padamu. Yang terpenting, sekarang kau sudah putus dengan Myungsoo, aku merasa sangat lega.”

“Terserah kau saja.”

>><<

“Naeun-ah, boleh aku duduk di sebelahmu?” Tanya Gikwang yang tengah membawa nampan berisi makanan siangnya pada Naeun yang tengah memakan makan siangnya bersama Youngji.

Keurom, duduklah Oppa,” ucap Naeun sambil tersenyum.

Setelah mendapat persetujuan dari Naeun, Gikwang langsung duduk di samping Naeun dengan wajah sumringah.

Melihat Naeun yang dengan begitu mudahnya membiarkan Gikwang duduk di sampingnya, Youngji mengerutkan dahinya. Ia menatap Naeun dengan tatapan bertanya, sementara Naeun hanya tersenyum sambil mengangkat bahu. Namun, ketika mereka tengah makan dengan tenang, tiba-tiba saja Minah datang membawa nampannya dan duduk di hadapan Gikwang sambil menatap Naeun geram.

Mwoya, tidak bisakah kau lihat banyak kursi kosong?” Tanya Youngji yang terlihat tidak suka dengan keberadaan Minah.

“Memangnya kenapa? Bukankah kursi sebelahmu ini juga kosong?” balas Minah sambil menatap sinis Youngji sekilas lalu kembali menatap Naeun geram.

Naeun hanya menghela napas lalu memutuskan untuk tidak menganggap keberadaan Minah lalu melanjutkan makan siangnya.

Ya, Son Naeun, aku harap aku tidak perlu menjelaskan maksudku duduk di sini,” ucap Minah yang mulai kesal melihat sikap tak acuh Naeun.

“Bang Minah, pindahlah, jangan ganggu makan siang kami,” ujar Gikwang yang mencoba bicara secara baik-baik dengan Minah.

Shireo, aku baru akan pindah kalau Oppa juga ikut pindah denganku. Aku tidak suka melihat Oppa makan bersama perempuan lain!”

“Kau tidak punya hak untuk menyuruhku pindah, Bang Minah. Pindahlah sekarang juga selagi aku masih bersikap baik padamu,” lanjut Gikwang yang mulai menekankan suaranya.

Minah hanya mencibir. Ia tidak akan pindah sampai Gikwang juga ikut pindah dengannya.

“Apa kau tidak dengar?!” Gikwang mulai membentak.

Naeun mulai merasa risih dengan suasana makan siangnya. Ia pun memutuskan untuk beranjak sambil membawa nampannya untuk berpindah tempat duduk. Namun, ketika ia melewati sisi lain meja, tempat Youngji dan Minah duduk, dengan jahatnya Minah menyandung kaki Naeun dengan kakinya hingga Naeun terjatuh. Makanannya berserakan kemana-mana dan sebagian mengotori seragamnya.

YA, BANG MINAH!” teriak Gikwang yang membuat perhatian sesisi kantin langsung berpusat pada dirinya.

Mendengar bentakan itu, Minah hanya bisa menundukkan kepala. Takut. Ia belum pernah melihat Gikwang sampai semarah itu padanya. Mungkin. Sikap jahat Minah pada Naeun sudah sering Gikwang ketahui, tetapi, reaksinya belum pernah sampai semarah ini.

Naeun meringis. Malu dan sakit. Itulah yang ia rasakan saat itu. Sungguh tidak nyaman rasanya diperhatikan oleh seisi kantin saat itu. Ia pun mencoba bangkit tanpa membereskan makanannya yang sdah berserakan. ia bisa saja marah kalau ia tidak berpikir akibat dari kemarahannya itu justru akan memperpanjang masalah. Sudahlah, lagipula, ini bukan pertama kalinya Minah mengerjainya.

Ketika Naeun baru saja berusaha berdiri, tiba-tiba, sudah ada yang memasangkan jas seragam pada tubuhnya. Ia pun menoleh ke belakang. Sungguh tidak dapat dipercaya, seorang Kim Myungsoo baru saja menyelamatkannya.

>To Be Continued<

Tinggalkan komentarnya ya.

25 thoughts on “My Last (Chapter 6)

  1. anjirrrrrr!!!! bang !!!! otak lu ude sembuhhh!!!???? Yawlahh eonn >_< kece abesszzzzz part ini!!!!! 😀 duhh duhhh yg terakhir bikin aku senyum" sndri malem" wkwkkkk …. wahhh seprtiny myubgie ntt sadar tuhh 😀 asekkkk

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s