[FF Freelance] fou à cause de vous

fou-a-cause-de-vous-by-eswg

 

fou à cause de vous

Script by

 

Chiquitajuveniles ©2015

 

|| Main Cast :Jeon Jungkook– Jung Soojung |Support cast : Bae Sooji , Lee Jonghyun, Etc | Length : Oneshoot | Genre : Romance, School life | Rating : PG-16 ||

Cr poster.echaminswag@HSG

Disclaimer :

Posted on Kingdom of f(exo) and kpop fanfic. And this fiction is purely mine.

*

Soojung dan Jungkook yang tidak mengetahui perasaan mereka dari masa kecil hingga sekarang. Dan baru dirasakan saat Soojung menghampiri Jungkook di club malam.

.

                Soojung melangkahkan kaki kecilnya dengan senang. Ia memegang sebuah kertas ujian bertuliskan angka 100 berwarna merah besar di sudut kanan atasnya. Soojung tersenyum bahagia.

Bruk!

Soojung terjatuh terjerembab ke tanah dan mengotori pipi mulusnya. Soojung menoleh kebelakang dan menatap tajam seseorang yang mendorongnya dengan kasar itu.

“Apa?! kau yang mendorongku ya?!”

Soojung menunjuk lelaki yang kini berdiri didepannnya itu dengan telunjuknya. Yang mengakibatkan lelaki itu tertawa sinis.

“Yang benar saja, kenapa kau bisa berpikiran begitu?”

“Karena kau ada dihadapanku sekarang! Dan raut wajahmu menunjukkan kalau kau yang mendorongku!”

Lelaki itu—Jungkook mendecih pelan. Memang iya sih dia mendorong Soojung, tapi dia tidak mau dijadikan tersangka sekarang.

Soojung berdiri dan menatap tajam Jungkook. “Aku ini lebih tua darimu! Harusnya kau leb—“

“Lebih tua? Tapi kita berada di tingkat pendidikan yang sama?”

Soojung melotot lebar. “Tentu saja tidak sama! Kau kelas 3, aku kelas 4. Aku lebih tua darimu Jungkook!”

“Yang benar saja, aku lahir 1 tahun setelahmu.”

“Tapi kan tetap saja!”

Mereka berdua terus bertengkar dan mengakibatkan guru guru disekolah mereka melerainya. Soojung mendengus kesal sedangkan Jungkook tenang saja.

Oh, jika begini caranya, bagaimana mereka berdua bisa akur?

.

“Eomma eomma!!”

Soojung berteriak kecil memanggil ibunya. “Waeyo?”

“Aku mendapat nilai 100!”

“Uwaaa.. daebak, anak eomma memang pintar!” Ny. Jung mengelus puncak kepala putrinya itu.

“Hehehe…”

“Soojung, mukamu kenapa?” tanya Sooyeon, selaku putri pertama dari keluarga Jung. Soojung tersentak kaget dan meraba pipinya yang kini tergores.

“Aku tadi jatuh eonni.”

“Terjatuh? Biasanya kan bagian kaki yang luka, kenapa wajahmu yang terluka?”

“Aku tadi jatuh tengkurap eonni. :D”

“Oh.. arraseo.. lain kali hati hati ne?”

“Ne!!”

Soojung berlari ke kamarnya dan tidur tiduran dikasur. Ia mengambil buku cerita dan mulai bernyanyi nyanyi.

“Pangeran yang tampan itupun menyelamatkan sang putri cantik dari ratu jahat.” Gumam Soojung.

“Lalu, pangeran mencium…. putri itu.”

Soojung merona merah ketika membaca bagian itu. ditambah lagi gambar di buku itu. Soojung tersenyum dan mulai membayangkan jika ia yang menjadi putri itu.

“Tapi itu kan tidak mungkin.” Keluh Soojung.

Ia pun pergi keluar kamarnya dan melihat kakaknya yang sedang fangirling didepan tv. “Mwo? Siapa itu eonni?”

Sooyeon menoleh melihat adik kecilnya menunjuk idolanya di tv. “Mereka adalah idol kesukaanku. Namanya Shinhwa. Keren sekali! Kalau kau sudah besar, kau pasti seperti aku.”

Soojung mengerjapkan matanya bingung dan akhirnya ikut duduk disebelah kakaknya.

Kring! Kring!

Sooyeon berdiri dan mengangkat teleponnya. “Yeobosoyo?”

…”

                “Ah.. ne.. sebentar ya.”

“Soojung-ah, temanmu menelepon.” Sooyeon memanggil Soojung keras. Soojung langsung beranjak dari sofa dan mengambil gagang telepon dari kakaknya.

“Ne?”

Hoi, bodoh.”

                “Mwo? Siapa ini?”

Jungkook.”

                “Kau lagi, ada apa?”

Aku hanya ingin meneleponmu.”

                “Hah? Lagipula kau dapat nomorku darimana?”

Rahasia.”

                “Kau bukan stalker kan?”

Bukan lah! Untuk apa aku mengikutimu?”

                “Mungkin saja.”

Kurang kerjaan sekali.”

                “Yasudah. Kalau begitu, kau kurang kerjaan jika meneleponku. Sudah kututup!”

Hey tung—“

                Soojung mendengus kesal dan kembali ke sofa. Sooyeon menatap adiknya bingung. “Ada apa? itu temanmu?”

“Dia bukan temanku, tapi musuhku.”

“Astaga Soojung-ah. mana mungkin musuhmu meneleponmu? Dan lagi, kau bermusuhan dengan lelaki? Aigoo..”

“Dia menyebalkan! Aku membencinya!”

Sooyeon tertawa kecil melihat tingkah adiknya. “Jangan membencinya Soojung.”

Soojung menatap kakaknya bingung. “Karena, jika kau membencinya, bisa jadi kau mencintainya.”

***

Soojung menaikkan lengan jas sekolahnya. Ia menguncir rambutnya dan menghembuskan nafas. Soojung kini berada di kelas 2 SMA. Perangainya pun berbeda dengan dulu.

Soojung menoleh melihat sekumpulan lelaki yang berjalan ke arahnya. Teriakan teriakan pun terdengar. Suasana menjadi gaduh dan Soojung tetap cuek mengambil ramennya yang baru matang.

Soojung membawa ramennya ke meja dan duduk dihadapan Jinri, sahabat baiknya. “Aigoo, kau hanya memakan ramen?”

“Ne. Memang kenapa?”

“Tidak apa apa sih.. tapi, apa kau tidak lapar?”

“Aku tak sepertimu Ri-ah.” ucap Soojung sambil tersenyum. Jinri mendengus kesal dan memakan ayam gorengnya.

“Ya, Soojung! para yeoja disitu gaduh sekali ya.” ucap Jinri sambil menatap gadis gadis mengerikan itu.

“Mau bagaimana lagi, idola mereka sedang lewat.”

“Tapi kuakui, geng milik Jungkook itu benar benar bagus.”

“Bagus apanya?”

“Semuanya tampan disitu. Termasuk Jungkook.”

Soojung tersedak mie ramennya ketika mendengar kata kata terakhir Jinri. “Mwo? Kau bilang dia tampan? Nona Choi, kurasa kau harus memeriksakan matamu ke dokter.” Ucap Soojung lalu meminum minumannya.

“Aku tidak perlu memeriksakan mataku ke dokter. Dia tampan kok.”

“Itu menurutmu, menurutku tidak.”

“Ah, benar.. kau bermusuhan dengannya bukan?”

“Sejak dulu.” Soojung menyeruput mienya dengan tenang.

“Tapi setidaknya kau beruntung. Kau bisa dekat dengannya meskipun harus bertengkar.” Ucap Jinri.

“Aku tidak beruntung dan tidak akan pernah beruntung jika berada di dekatnya.” Soojung meminum air kuah mienya yang pedas itu.

Duk!

“Uhuk!!”

Soojung tersedak ketika seseorang mendorong punggungnya dari belakang. “Jungkook-ssi jangan mendorong seseorang yang sedang makan. Itu tidak sopan.”

Jungkook tersenyum remeh dan duduk disamping Soojung. “Bagaimana kau tau jika aku yang mendorongmu?”

“Sudah menjadi kebiasaanmu untuk mendorongku.”

“Ah.. benarkah? Kalau begitu, kau kudorong lagi.”

Bruk!

“Soojung-ah!!!” Jinri panik ketika Soojung terjatuh dari tempat duduknya. Sedangkan Jungkook tertawa melihat keadaan Soojung.

Soojung menatap Jungkook tajam dan berdiri meninggalkan kantin. “Sudah Soojung jangan dimasukan hati” ucap Jinri menenangkan.

Bel pulang pun berbunyi. Soojung menyelesaikan tugas piketnya dan mengambil tasnya.

Soojung berlari keluar sekolah sebelum hujan datang. Ia tersengal sengal dan melihat arlojinya. Matanya melirik Jungkook dan kawan kawannya itu tertawa.

“Cuih. Dasar menyebalkan.”’

***

4 years later..

“Kau bisa bekerja atau tidak?!”

Seorang lelaki paruh baya menghardik anaknya yang kini sedang duduk santai di sofa. “Tentu saja aku bisa.”

“Kau bekerjalah yang benar! Jangan seenaknya sendiri! Kau kira, dengan posisimu sebagai direktur kau bisa seenaknya hah?!”

“Aku tak pernah melakukan hal hal yang tidak baik. Aku selalu bekerja dengan benar.”

“Bekerja dengan benar apanya?! Setiap hari mempermainkan wanita dan membawanya ke apartemenmu. Kau kira appa tak tau?!!”

Jungkook berdiri dan menatap tajam ayahnya. “Aku tak pernah mempermainkan wanita.”

“Semenjak kau kupisah dengan wanita jalang itu, kau menjadi seperti ini! Apa untungnya wanita itu bagimu hah?!”

“Jiyeon bukan wanita jalang appa! Lagipula, aku mencintainya!”

“Cuih, tau apa kau soal cinta? Dia hanya wanita yang berniat menghancurkan bisnis appa!”

“Jiyeon ti—“

—PLAK!

Jungkook terkejut melihat appanya sendiri menamparnya. “Jangan membela wanita itu didepanku atau kau akan kupecat dan tidak kuanggap anakku sendiri.”

Jungkook terdiam melihat appanya sudah kembali ke kamarnya.

.

Soojung membereskan foto foto yang berserakan di ruang kerjanya. Pekerjaannya sebagai editor memang tak mudah. Ia berkali kali dimarahi oleh sang atasan. Namun untungnya, Soojung tak pernah didepak dari perusahaan itu.

“Soojung-ssi, kau tak apa? kau nampak tidak baik.”

Soojung menoleh dan tersenyum palsu. “Tak apa Naeun-ssi, aku hanya sedikit capek.”

“Ah. begitu, jangan terlalu lama menatap komputermu. Matamu bisa sakit. Jaga baik baik kesehatanmu.”

“Ne, gomawo Naeun-ssi.”

Soojung mengacak rambutnya dan melihat majalah majalah fashion di mejanya guna mencari ide. Namun pandangannya terhenti pada salah satu halaman.

“Jungkook?”

.

Soojung melihat model yang sedang berpose itu dengan frustasi. Ia melihat hasil hasil foto itu dan mencari yang terbaik.

“Bagaimana dengan ini Sooji?”

“Itu terlihat bagus, kau memang pintar dalam memilih foto Soojung-ah!”

Soojung mulai mengutak atik komputernya menjalankan tugasnya sebagai editor majalah terkenal.

Pukul 10 malam.

Soojung masih berada di kantornya menyelesaikan tugasnya. Memilih 1 foto diantara beribu ribu foto sangat menyebalkan baginya. Lagipula, ini bukan bidangnya. Dulu, Soojung adalah fotografer dan entah bagaimana ia dijadikan editor.

Tuut tuut.

Soojung mengambil handphonenya dan mengangkat telefon tanpa melihat nama kontaknya.

“Yeobosoyo?”

Yah..”

                “Hm? Siapa ini? Cepat, aku sedang sibuk.” Ucap Soojung sambil mengetik laptopnya.

Permisi nona, apakah nona bernama Jung Soojung?”

                Soojung menghentikan pekerjaannya sejenak dan mengernyitkan alisnya bingung. “Ne? Aku bernama Jung Soojung. siapa ini?”

Teman anda yang bernama tuan Jeon sedang mabuk berat di club kami. Sedari tadi dia memanggil nama anda dan mencoba menelepon anda. Mungkin anda bisa datang ke club kami.”

                “Apa nama clubnya?”

Club ****”

                Soojung menghembuskan nafas kesalnya. Si tuan menyebalkan itu lagi lagi membuat rusuh hidupnya. “Untuk apa dia memanggil namaku?!”

.

Soojung melangkahkan kakinya ke dalam club gelap itu. Matanya menatap sekelilingnya was was. Berharap tak ada orang yang melakukan sesuatu padanya.

Soojung menghampiri lelaki yang sedang tertidur di lounge bar itu. Soojung menggoyang goyangkan tubuh Jungkook berniat membangunkannya.

“Yah! Jungkook! Bangun! Kau menyusahkanku!”

“Emh..”

Soojung menggoyang goyangkan tubuh Jungkook lagi dengan keras. “Dia minum berapa gelas?” tanya Soojung pada pelayan di bar itu.

“sekitar 5 gelas nona.”

“Mwo?! Haish.. ya!! Jeon Jungkook!”

Jungkook bangun dan menatap Soojung. “Kutinggal dulu nona, jika ada perlu, bisa panggil saya.” Pelayan itu pergi hendak melayani pelanggan lain.

“Hey! Jungkook! Untuk apa kau kesini?! Apalagi memanggil namaku! Kau kira aku siapamu? Kau mengacaukan waktu berhargaku!” racau Soojung.

Namun naas, Jungkook hanya diam menatap Soojung tanpa membalas satupun perkataannya.

“Ya, Jung—“

—Cup~

Soojung terlonjak ketika Jungkook mencium bibirnya tiba tiba. Jungkook melingkarkan tangannya di pinggang Soojung dan menciumnya mesra.

Soojung mencari cara untuk melepaskan diri dari Jungkook dengan menendang sesuatu yang membuatnya kesakitan tapi percuma saja, justru Soojung yang kini kesakitan karena menendang kursi.

Jungkook menciumi leher jenjangnya yang mulus itu dan membuat Soojung bergidik.

DUAG!

“DASAR MESUM!! KAU MAU APAKAN AKU HAH?!!” Teriak Soojung yang menarik perhatian sekitarnya.

Jungkook mengaduh kesakitan dan menatap Soojung tajam. Namun, pandangannya langsung sirna ketika melihat ada lelaki yang mendekati Soojung.

Soojung berkali kali melepaskan sentuhan sentuhan yang sedikit mengganggu Jungkook. Lalu Jungkook melingkarkan tangannya ke pinggang Soojung, menariknya lebih dekat.

“Permisi tuan, tapi dia milikku.” Ucap Jungkook tajam.

Jungkook dan Soojung pun keluar dari club itu.

PLAK!

“Yak! Kau ini kehilangan akalmu eoh?! Berani beraninya kau menciumku!!” teriak Soojung kesal.

“…”

Soojung menatap Jungkook sebal. “Untuk apa kau ke club hah? Mau melakukan ‘itu’ dengan wanita jalang disana?”

“Aku sedang depresi.”

“Kau sedang depresi, pergi ke club dan memanggilku kesini. Oh bahkan kau menciumku. Apa kau sedang gila?!”

“Aku tidak gila.”

“Dan jangan lupakan jika aku menjadi sangat membencimu setelah kejadian ini.”

“Ya sudah.”

Sungguh Soojung ingin menendang wajah Jungkook saat ini. Amarahnya dibuat meledak karena pria didepannya itu.

“Huh dasar menyebalkan!!!” Soojung meninggalkan Jungkook dengan kesal.

Jungkook menatap Soojung dan merasakan debaran jantungnya yang tidak biasa.

***

Jungkook mengenakan jas kerjanya dan mengambil kunci mobilnya. Ia meneguk susu di meja dengan cepat dan pergi meninggalkan rumah.

Sesampainya di kantor, ia berjalan santai menuju ruangannya dan disambut sopan oleh karyawannya. Jungkook menaiki lift dan membuka handphonenya.

“Mwo? Aku meneleponnya 10 kali?!” Jungkook terkejut ketika melihat nomor Soojung ada di call historynya sebanyak 10.

“Pantas saja dia marah.” Gumam Jungkook pelan.

Pintu lift pun terbuka. Jungkook masuk ke ruangan kerjanya dan duduk di kursinya. Ia duduk terdiam sambil memikirkan sesuatu.

“Soojung, dia bekerja dimana?”

.

“HATCHIII!!!!”

Soojung bersin saat menyelesaikan pekerjaannya. “Finally..” Soojung menghembuskan nafasnya lega. Soojung menari nari senang ketika pekerjaannya selesai. Ia pun keluar dari ruangannya.

Soojung melangkahkan kakinya ke ruang atasannya itu dengan gemetar. Tangannya tergerak untuk mengetuk pintu ruang bosnya.

“Masuk.”

Soojung membuka pintu dan membungkuk saat berada didalam. “Anyyeong haseyo, maaf mengganggu. Tapi, saya ingin menginformasikan jika saya selesai memilih foto foto model.” Ucap Soojung.

Tuan Lee Jonghyun mengambil foto foto yang diserahkan Soojung dan mulai melihatnya satu persatu.

“Hmm.. bagus, kali ini kau menyelesaikannya dengan sempurna.”

Soojung tersenyum cerah ketika mendengar perkataan Jonghyun itu. “Oh ya aku mempunyai tugas untukmu. Kita perlu model pria yang baik untuk menampilkan koleksi fashion musim gugur ini. Aku sudah mempunyai pilihan model yang tepat.”

“Lalu, apa yang ingin anda minta untuk saya tuan?”

“Datanglah ke perusahaan J&J sekarang dan temui direkturnya. Karena dialah yang ingin kujadikan model.”

“Baiklah tuan, saya permisi dulu.”

Soojung menutup pintu ruangan Jonghyun dengan pelan dan mulai berpikir. “J&J? Sepertinya aku pernah mendengarnya.”

Suzy menghampiri Soojung yang sedang berpikir itu. “Bagaimana Soojung? kau dimarahi atau tidak?”

Soojung tersenyum menanggapi pertanyaan Suzy. “Untuk saat ini, Dewi Fortuna memihakku. Jadi aku tak dimarahi! Hehe..”

“Benarkah?! Bagus kalau begitu! Kau bisa bersantai sekarang!”

“Sebenarnya tidak..”

“Mwo? Kau diperintah apa lagi?”

“Aku disuruh menemui model pria yang akan kita pakai nantinya.”

.

Soojung melangkah memasuki kantor besar itu dan menghampiri seorang karyawan yang sedang melayani orang orang.

“Permisi..”

“Ya ada apa?”

“Dimanakah kantor direktur?”

“Hm? Ada perlu apa dengan direktur?” tanyanya.

“Saya dari Cling Magazine ingin mengkonfirmasikan tentang kesediaannya sebagai model kami.”

“Oh.. begitu, baiklah, mari saya antar ke ruang direktur. Sebelumnya, perkenalkan nama saya Kwon Yuri.”

“Jung Soojung.”

Soojung menaiki lift bersama Yuri menuju ruang direktur J&J. Setelah sampai, Yuri mengetuk pintu direktur dan masuk.

“Permisi tuan direktur, ada seseorang dari Cling Magazine ingin bertemu anda?”

“C magazine? Baiklah, suruh dia masuk.”

“Baik tuan.”

Yuri mempersilahkan Soojung masuk dan menutup pintu. Soojung membungkukkan badannya memberi hormat. “Anyyeong haseyo, Jung Soojung imnida.. saya dari C—“

“—Soojung?!”

Soojung mendongakkan kepalanya melihat si pria menyebalkan yang ditolonginya kemarin sedang menghadap—menatapnya terkejut.

“Mwo?! Sedang apa kau disini?!”

“Ya! babo! Aku direktur J&J!” teriak Jungkook yang membuat kepala Soojung pening seketika.

“Jangan berbohong!”

“Untuk apa aku berbohong?”

Soojung mendecih pelan dan duduk di kursi dengan kasar. “Aku kesini mau konfirmasi tentang model brand Fall ini.”

“Hm? Oh, yang waktu itu.. ya ya, aku bersedia jadi model kalian.”

“Besok datang ke kantor Cling magazine jam 11. Ke lantai 3.” Soojung berkata dengan angkuh.

“Sudah itu saja yang mau kusampaikan.” Soojung berdiri meninggalkan Jungkook.

—Sret!

Soojung terkejut ketika tangannya dipegang oleh Jungkook secara tiba tiba. Soojung mengerjapkan matanya berulang kali.

“Bagaimana..? kau kan tadi disana? Sekarang..? kau bukan vampir ya kan?!”

Jungkook terdiam menatap Soojung. Err, jangan salahkan Soojung jika ia tidak nyaman kali ini. Pandangan Jungkook sama seperti seseorang yang ingin menerkam sesuatu.

“Wae? Lepaskan tanganku. Aku mau pergi bekerja lagi.”

“Kau bekerja di C magazine?”

Soojung mengernyitkan alisnya bingung. “Iya, kenapa?”

Jungkook melepaskan genggamannya dan seketika tersadar. “Ah bukan apa apa.”

Soojung menatap Jungkook aneh. “Kenapa tingkahmu menjadi aneh begini? Ya sudah, aku mau pergi. Jangan lupa besok!”

“Ya ya..”

***

“Wait, bukankah itu.. direktur J&j?!”

“Uwaa.. tampan sekali!!”

“Imut juga!”

Jungkook mengeratkan jasnya dan berjalan menuju lift. Sesekali ia melihat keadaan sekitar dan tersenyum. Jungkook berhenti dan menunggu pintu lift dibuka.

“Andwae!! Aku telat!!”

Jungkook menoleh melihat perempuan yang ada disebelahnya itu melompat lompat panik.

“Soojung?”

“Kyaa!! Liftnya terlalu lama! Lewat tangga darurat saja!!” Soojung langsung berlari meninggalkan Jungkook yang terdiam.

“Dasar.”

.

Jungkook berpose berkali kali. Memang melelahkan, tapi Jungkook menjalankannya dengan semangat.

“Baiklah, cukup untuk pemotretan kali ini.”

Jungkook mengambil minumannya dan meneguknya hingga habis. Ia menatap Soojung yang memilih foto di sudut ruangan. Jungkook tersenyum dan menghampiri Soojung.

“Hei Soojung.”

“Mwo?”

“Yak! Judes sekali!”

“Apa? palli!!!”

“Kau ada waktu nanti siang?”

“Tidak ada.”

“Hah?! Bahkan 1 menit?!”

“Memangnya kenapa?”

“Aku mengajakmu makan siang bodoh.”

“BAIKLAH!”

.

Soojung dan Jungkook datang ke restoran elegan dan membuat Soojung tak nyaman. “Hey Jungkook kau membawaku kesini seperti mau melamarku saja.”

Jungkook terkekeh pelan mendengar ucapan Soojung. “Melamarmu? Dunia akan runtuh jika aku melamarmu.”

Soojung mengerucutkan bibirnya dan berjalan dengan kesal. “Jangan seperti itu, kau tidak mau kan jika aku menerkam bibirmu lagi?”

Soojung yang mengerti maksud ucapan Jungkook langsung memasang raut muka datar. Jungkook tertawa sekali lagi. “Ngomong ngomong bibirmu kemarin manis, aku menikmatinya.”

Soojung mendelik kesal dan menutupi wajahnya dengan buku menu. “Jangan seperti itu, aku tau kau malu.”

“Di dalam mimpimu tuan Jeon!”

Jungkook lagi lagi tertawa. Ia senang sekali menggoda gadis yang lebih tua darinya itu.

Setelah selesai memesan, mereka berdua duduk dalam diam. Soojung memain mainkan gelasnya sedangkan Jungkook memainkan garpu.

“Jadi..”

“Apa tujuanmu mengajakku kesini?”

Jungkook mendongak menatap Soojung. “Huh?”

“Pshh… kau pasti punya tujuan untuk membawaku kesini? apa tujuanmu itu?”

“Aku tak punya tujuan apa apa. Aku hanya ingin mengajakmu kemari.”

“Yang benar saja. Aku tak akan masuk ke dalam perangkapmu!”

“Terserahmu.”

.

Soojung dan Jungkook sudah berada didepan rumah Soojung. “Gomawo untuk semuanya. Sampai jumpa.”

“Tunggu!”

Soojung menatap Jungkook bingung. “Wae? Ada apa?”

Jungkook turun dari mobil dan membukakan pintu Soojung. Soojung menatap Jungkook terheran heran. “Ada apa denganmu akhir akhir ini?”

“Tidak apa apa. Oh ya, aku mampir sebentar ke rumahmu ya? sudah lama aku tak kesini.”

Soojung memutar bola matanya. “Arraseo. Ayo.”

Jungkook melangkahkan kakinya ke rumah Soojung yang lumayan besar itu. Ia tersenyum mengingat masa kecilnya yang sering datang ke rumah Soojung untuk menggodanya.

“Ada apa senyum senyum begitu?”

Jungkook tersentak dan mendapati Soojung yang berdiri dengan lengan terlipat di dada. “Pasti ada sesuatu yang aneh di kepalamu saat ini. Ya kan?!”

Jungkook melotot dan menggeleng gelengkan kepalanya. “Tentu saja tidak! Aku bukan pria mesum seperti yang kau kira!”

“Semua pria itu sama saja.” Soojung meniup poninya pelan dan berjalan ke kamarnya.

Memang sih Soojung benar. Buktinya Jungkook sudah menelan ludahnya melihat penampilan Soojung saat ini. Biasa saja sih, hanya kaos hitam kebesaran dan hotpants hitam. Namun, ini pertama kalinya Jungkook melihat Soojung seperti itu seumur hidupnya.

“Oh ya, kau stress karena ditinggal pacarmu itu ya? poor Kookie~ wkwk.”

Jungkook kembali ke dunia nyata setelah mendengar ejekan Soojung. “Yak! Jiyeon itu berarti bagiku!”

“Berarti apanya? Wanita jalang seper—“

“—JIYEON BUKAN WANITA JALANG!” teriak Jungkook.

Soojung memutar bola matanya. “Oh akui saja Jungkook, senakal nakalnya diriku, namun setidaknya aku tak meniduri pria pria di malam hari sepertinya! Aku mengenalnya! Dia wanita jalang!”

“Kenapa kalian semua berkata Jiyeon wanita jalang?!”

“Karena itu fakta. Sudahlah, kau terlalu terobsesi dengannya. Kuberitahu ya, kau itu terobsesi bukan jatuh cinta!”

“Padahal Jiyeon kukira wanita polos ternyata.. ckck..” Soojung mengambil novelnya dan membacanya.

Soojung menatap Jungkook yang masih berdiri itu aneh. “Oh ya, kau ngapain ke rumahku? Kalau tidak ada keperluan, sudah sana pergi!”

Jungkook menatap Soojung dan mendekatinya. “Aku punya keperluan disini.”

“Mwo? Dengan siapa?”

“Denganmu.”

Bersamaan dengan itu, Jungkook mencium Soojung dan mendorongnya ke tempat tidur. Jungkook mencium Soojung mesra dan melepasnya sejenak.

PLAK!

“SUDAH KUBILANG KAU INI PRIA MESUM!”

“Ini hukuman bagimu nona Jung.”

Soojung menatap Jungkook bingung. “Karena kau telah mengejek Jiyeonku.”

“Mwo?! Tunggu—“

Jungkook mencium Soojung lagi dan tangannya bergerak mengusap perut Soojung yang mulus itu. Soojung yang sungguh—dengan terpaksa melakukan hal menjijikkan ini akhirnya ikut saja. Namun, Soojung yang usil itu menggigit lidah Jungkook yang sibuk bermain dengan lidahnya.

Eit, namun pepatah senjata makan tuan kini berlaku pada Soojung. Benar saja, Soojung kini kesakitan karena salah menggigit lidahnya sendiri.

Jungkook yang terlihat menikmati permainannya itu menghiraukan Soojung yang kini kesakitan akibat ulahnya sendiri. Jungkook menciumi leher Soojung dan membuat kissmark disana.

“YAK! Sialan kau Jungkook! Akan kuberikan jurus mematikanku! Hiaah!!!”

Grep!

Jungkook menahan tangan Soojung sekaligus melepas ciumannya dan menatap Soojung. Jungkook tersenyum miring. “Jurus mematikan apa hm?” tanya Jungkook dengan suara seraknya.

Sialan! Dia terlihat sexy jika seperti itu! jangan tergoda dengannya Jung Soojung!”

“Astaga kau tidak tau?”

Jungkook mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telinga Soojung. “Tujuanku kesini untuk merasakan kembali bibirmu Soojung.”

Sungguh Soojung ingin pingsan sekarang.

Jungkook menatap Soojung hangat dan merasakan debaran jantungnya yang keras dan tidak seperti biasanya.

***

Soojung mendapatkan mimpi buruk. Beberapa hari ini, si setan Jungkook itu terus saja menggodanya. Bukan menggoda seperti dulu, namun menggoda ala om om hidung belang yang menjijikkan itu.

“Soojung? ada apa di lehermu itu?”

Soojung terdiam membeku sambil meraba lehernya. “Bukankah itu kissmark?”

Soojung menatap Sooji yang menatapnya bingung dan penasaran. “B..bukan. bukan! Aku habis digigit nyamuk! Hehe..”

“Benarkah? Akhir akhir ini bibirmu juga terlihat bengkak.”

“Ngg.. iya! Benar! Di rumahku banyak nyamuk sekarang. Hehe. Soal bibirku ini, aku sering menggigitnya karena kesal.”

“Kau keterlaluan Jungie. Lain kali jangan brutal seperti itu. hahaha!”

Soojung meringis pelan dan berlari meninggalkan Sooji.

Soojung membanting pintu ruang kerjanya dan menjatuhkan diri di kursi empuknya. Pekerjaannya akhir akhir ini semakin berat. Belum lagi ditambah kedatangan Jungkook.

Soojung pun melanjutkan pekerjaannya dengan setengah hati.

.

“Kau harus segera menikah Jungkook.”

Jungkook menoleh melihat ayahnya yang menatapnya datar. “Menikah? Umurku masih terlalu muda.”

“Tidak, umurmu sudah cukup untuk menjalani hidup baru. Namun, kau tidak boleh menikahi Jiyeon.”

“Arra arra.. lagipula Jiyeon sudah mempunyai kekasih lain.” Ucap Jungkook cuek. Sedetik kemudian Jungkook termenung memikirkan perkataannya.

Kenapa aku begitu enteng saat mengatakannya?”

“Bagus. Karena appa tidak mau kau berhubungan dengan wanita jalang itu lagi.”

Jungkook menatap ayahnya tajam lalu kembali melanjutkan aktivitasnya di layar segi empat itu.

Jungkook menatap kontak seseorang dan tersenyum. “Soojung.”

.

Soojung menyesap susu coklatnya sambil membuka youtube. Boyband kesukaannya, EXO kini comeback. Meski Soojung terlihat seperti gadis dingin tak berperasaan, sebenarnya Soojung juga punya idola sendiri.

“D.O oppa~ kenapa kau begitu tampan?! Andwae!!! Lay oppa!! Kyaaa!!!!” Soojung tersenyum sendiri melihat biasnya di music video itu.

“Kyaaa! Sehun op—“

Handphone Soojung bergetar menandakan ada telepon masuk. Soojung yang sedang asyik menonton youtube itu langsung mendengus kesal.

“Wae?”

Kau dimana?”

                “Di suatu tempat yang kau tak perlu tau.”

Cafe?”

                “Bukan.”

Aku sudah melihatmu.”

                Soojung tersedak susunya dan menoleh ke jendela. Ia melihat Jungkook sedang menatapnya. “Terserahmulah.”

Jungkook yang dari kejauhan itu tersenyum melihat tampang datar Soojung. Ia pun menghampiri Soojung di cafe itu.

Deg deg deg

Jungkook berhenti sejenak dan memegang dadanya. “Kenapa?

.

Soojung menatap Jungkook dengan sinis. “Mau apa kau membawaku ke kantormu hah?!”

Jungkook menatap Soojung sebentar lalu menggenggam tangannya erat. Soojung melotot dan mencoba melepaskan genggaman Jungkook. “Yak! Kau mau apa?!”

“Selamat siang direktur.”

Beberapa karyawan membungkuk pada Jungkook sedangkan Jungkook melengos pergi tanpa menghiraukan mereka.

“Yak! Sopanlah sedikit pada bawahanmu!”

“Wae? Aku atasannya.”

“Meskipun kau atasannya setidaknya hargai mereka.”

Jungkook berhenti dan menghadap Soojung. “Kau tak tau apa apa disini. Jadi jangan seenaknya menyuruhku.”

“Aku tak menyuruhmu! Aku hany—“

Jungkook meraup bibir Soojung sehingga membungkam kata katanya. Jungkook meraih tengkuk Soojung untuk memperdalam ciuman mereka.

“Permisi di—ah.. maafkan aku.” Seorang karyawan membungkuk minta maaf ketika ingin berbicara pada Jungkook.

Soojung langsung melepas ciumannya dan pergi meninggalkan Jungkook. Sedangkan Jungkook menatap karyawan itu kesal.

“Ada apa?”

“Tuan Jeon ingin menuju kemari untuk melihat perusahaannya.”

“Lalu?”

“Hanya itu saja tuan.”

“Ya sudah! Kau menggangguku! Pergi bekerja!” bentak Jungkook.

“B..baik tuan.”

Jungkook mengacak rambutnya kesal. Akibat ulah karyawannya, ia hanya menikmati bibir Soojung sebentar. “Aih.. sialan!”

.

Soojung menatap pantulan dirinya di cermin. Ia membasuh wajahnya sekali lagi dan memegang dadanya.

“Ada apa denganku? Yak! Ada apa denganku!!” Soojung menggeleng gelengkan kepalanya.

Soojung menepuk dadanya berusaha menghentikan degup jantungnya yang kencang itu. “Aku tidak mungkin menyukainya! Tidak mungkin! Dan tidak akan pernah!”

Soojung mengambil nafas sebanyak banyaknya berusaha menetralkan detak jantungnya. “Sekali lagi Jung Soojung, kau tidak mungkin jatuh cinta pada lelaki mesum itu!”

Soojung keluar kamar mandi setelah ia rasa jantungnya berdetak normal. Namun usahanya itu sia sia ketika ia melihat Jungkook bersandar di tembok menunggunya.

“Kau darimana saja hah?”

“Eng? Aku? Aku dari kamar mandi. Waeyo?”

“Kau membuatku khawatir.” Ucap Jungkook sambil menarik tangan Soojung. Soojung menggerutu dalam hati karena perilaku Jungkook.

“Tunggu.”

Soojung melepaskan tangan Jungkook dan membuat keduanya saling menatap. “Untuk apa kau menarik tanganku? Kenapa kau membawaku kesini?”

“Sebentar lagi ayahku datang. Kau sudah kenal dengannya bukan? Apalagi ayahku berkata dia nyaman denganku. Sampai sampai ia menyuruhku untuk menikahimu hahaha.”

“Kau tidak akan menikahiku. Titik.” Ucap Soojung kesal.

Jungkook tersenyum tipis meski di dalam hatinya ia merasa kecewa dengan jawaban Soojung. “Meski begitu, kau harus memakai baju yang bagus. Dan kau.. err..”

Soojung melirik Jungkook sinis. “Aku kenapa?”

“Kau kurang menarik. Ayo ikut aku untuk menata ulang dirimu.”

“Yak yak.. tunggu!! Yak!!!!”

***

Beberapa karyawan membungkuk pada seorang pria tua yang berjalan bersama asistennya.

“Dimana Jungkook?”

“Direktur sedang pergi sebentar. Beliau berkata agar anda menunggu di ruangan direktur hingga direktur kembali.”

“Astaga anak itu. Baiklah terima kasih.”

Karyawan itu menunduk dan ayah Jungkook pun pergi ke ruangan Jungkook.

.

Jungkook menggandeng tangan Soojung menuju ruangannya. Soojung mendecih pelan sambil sesekali melepaskan tangan Jungkook. Namun seperti biasanya, genggamannya erat sekali.

“Yak Jungkook! Kau tak tau betapa susahnya aku memakai high heels ini huh?”

“Itu hanya wedges sayang.”

“Meskipun itu hany—tunggu kau memanggilku apa tadi?! Sayang?!!”

“Diamlah atau aku akan menciummu lagi.”

Soojung merengut kesal. Selalu begitu, jika Soojung tak mau diam, Jungkook akan menciumnya. Yah, walaupun Soojung menikmatinya namun tetap saja harga dirinya sebagai wanita tak bisa dianggap remeh.

Cklek.

“Maaf aku terlambat appa.”

Jungkook membungkuk pelan diiringi oleh Soojung yang juga membungkuk pelan. Ayah Jungkook menatap Jungkook dan Soojung bergantian.

“Jung—“

“Ah appa, apakah appa masih ingat? Dia Soojung, teman kelasku yang sering kuganggu.”

Tuan Jeon langsung melebarkan matanya. “Oh astaga! Kau Jung Soojung?! kau sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik rupanya!”

Soojung tersenyum canggung sambil membungkuk pelan. “Gamsahamnida.”

“Lalu untuk apa kau membawanya kemari Jungkook?”

“Dia yang akan menjadi pendampingku appa.”

Soojung dan tuan Jeon pun membelalakkan matanya lebar. Namun dengan segera tuan Jeon tersenyum. “Benarkah? Bagus kalau begitu. Kau memilih wanita yang tepat.”

“Tunggu.. tung—“

“—untuk apa Appa kemari?” tanya Jungkook memotong perkataan Soojung.

“Aku ingin menemuimu dan menengok perusahaanku ini. Sekaligus memastikan kau tidak bersama Jiyeon lagi.”

“Tidak. Aku sudah tidak menyukainya.”

Soojung menoleh ke Jungkook dengan tidak percaya. Baru seminggu yang lalu ia memarahinya karena menjelek jelekkan Jiyeon namun sekarang malah mengatakan ia tak suka dengan Jiyeon.

“Bagus. Sebaiknya kau jauh jauh dari wanita itu.”

“Ne..”

Soojung menatap Jungkook dan ayahnya bergantian. Sungguh, Soojung seperti obat nyamuk sekarang.

“Baiklah, appa mau pergi ke perusahaan appa lainnya. Jaga dirimu baik baik. Soojung jaga Jungkook ne?”

Soojung tersenyum canggung dan dengan terpaksa ia mengangguk pelan.

Cklek.

“YAK! APA MAKSUDMU MENJADI PENDAMPINGMU HAH?!!”

Jungkook menutup telinganya yang budeg setelah mendengar teriakan Soojung. “Aku akan menikahimu, tentu saja.”

“Tapi bisa bisanya kau berbicara seperti itu didepan Appamu! Kita bahkan belum berhubungan! Dan kau belum meminta persetujuan dariku!!”

Soojung menghembuskan nafasnya berkali kali layaknya sapi gila. Sedangkan Jungkook mengusap pipi Soojung pelan.

“Kurasa, sekarang saatnya aku jujur. Ayo, ikut aku.”

“SHIREO!”

“Sudah ikut aku sekarang sayang.”

“YAK!”

***

Jungkook membawa Soojung ke tengah tengah padang rumput yang tenang. Soojung menatap Jungkook dengan bingung.

“ya! apa yang kita lakukan disini? kau tidak berbuat macam macam padaku bukan?!”

Jungkook menatap Soojung hangat dan tersenyum. “Tentu saja tidak.”

“Lalu? Apa yang ingin kau lakukan?”

Jungkook tersenyum dan mendekat ke Soojung. Ia meraih tangan Soojung dan memegangnya hangat.

“Aku ingin membuat pengakuan.”

Soojung menaikkan alisnya bingung dan jika boleh jujur, jantung Soojung berdebar debar sekarang.

“Tentang apa?”

“Perasaanku padamu.”

Oh, Soojung ingin pingsan sekarang. Sungguh, ia benar benar ingin pingsan. Jantungnya yang berdetak tak beraturan dan keringat dingin yang menetes di pelipisnya membuatnya gila.

“Sudah lama aku menyukaimu Soojung-ah. Aku memang belum menyadarinya. Aku selalu berkencan dengan wanita yang berbeda sewaktu dulu. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang membuatku seperti orang gila sepertimu.”

“T..tunggu Jungkook—“

“Aku selalu memikirkanmu sebelum tidur membayangkan apa yang kau lakukan hari itu juga. Aku menyadarinya setelah kau datang di club malam itu.”

“Lalu Jiyeon? Bukankah kau cinta mati padanya?”

“Benar katamu Soojung. aku hanya terobsesi dengannya. Aku tidak jatuh cinta padanya. Buktinya, aku bisa tenang saat mengetahui ia mempunyai kekasih lagi.”

“Aku menyukaimu Soojung. Bukan, aku mencintaimu. Sangat.”

Soojung menatap Jungkook bingung. Pasalnya, apa yang akan Soojung perbuat setelah ini? Menyatakan perasaannya balik? Atau..

“Aku bahkan sudah menyiapkan ini.” Jungkook mengambil sebuah kotak beludru merah dan membukanya tepat dihadapan Soojung.

“B..bukankah itu..”

“Maukah kau menikahiku?”

Soojung terdiam mematung saat Jungkook berlutut padanya. Soojung tersenyum tipis. “Maaf..”

Jungkook mendongakkan kepalanya melihat Soojung. “Maaf, aku tak bisa menolakmu.” Soojung tersenyum manis pada Jungkook.

Jungkook tersenyum lebar dan memeluk Soojung. “Kau menyukaiku?”

“Aku mencintaimu. Bukan menyukaimu.” Ucap Soojung lalu memeluk Jungkook.

Jungkook tersenyum dan mencium Soojung lembut. Soojung yang biasanya melakukan adegan ekstrim saat dicium itu akhirnya mengalungkan tangannya pada leher Jungkook dan menciumnya balik.

***

1 year later…

Soojung menguap malas sambil mengganti channel tv. Ia memakan snacknya sambil menguap lebar.

“Yak kapan pria mesum itu pulang huh?!”

Soojung sudah menikah dengan Jungkook. Ya, tepatnya setelah lamaran itu, mereka berdua menikah 1 minggu kemudian.

Soojung pun mengambil kaset DVD dan menyetelnya. Soojung berkali kali menguap sambil memakan snack malamnya.

“Aigoo..” Soojung terhipnotis didepan layar karena adegan mesra di film itu. Soojung tersenyum berkali kali melihatnya.

Cklek.

“Oh, kau sudah pulang?” tanya Soojung tanpa mengalihkan pandangannya dari TV.

“Ne, kau sedang apa?” tanya Jungkook sambil sedikit melonggarkan dasinya.

“Menonton.”

Jungkook menengok ke arah layar tv melihat tontonan yang dilihat istrinya. Jungkook menelan ludahnya perlahan ketika kedua pemain itu melakukan adegan yang intim.

Tet.

“Yaa kenapa dimatikan?!” Soojung protes ketika Jungkook mematikan tv.

“Film itu tak layak untuk ditonton.”

“Tak layak apanya? Itu kan romantis. Apalagi aku sudah dewasa.”

“Meski—“

“—aku kan butuh hiburan. Week!” Soojung memeletkan lidahnya pada Jungkook.

Jungkook tersenyum miring dan mendekati Soojung. “Kau mau hiburan?”

“Mwo?”

“Akan kuberi hiburan padamu sekarang juga.”

Soojung yang sudah mulai mengerti arah pembicaraan ini pun langsung berusaha melarikan diri. “Ani.. tung..tunggu!!!”

Naasnya, Jungkook sudah membawa Soojung ke kamar. “JUNGKOOK! RASAKAN PEMBALASANKU!”

END

 

 

 

 

One thought on “[FF Freelance] fou à cause de vous

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s