Emergency Call

emergency call

Emergency Call

by

Pseudonymous

Junho of 2PM

Mystery & thriller

***

“AKU tidak bisa tidur” dan Junho pun setengah mati kebingungan. Ia tahu suatu saat sebuah telepon akan datang. Sebuah telepon iseng dari orang yang tidak bertanggungjawab. Tapi seseorang ini terlalu sering menelepon dan suaranya terdengar sangat yakin ketika Junho bertanya dengan sopan apakah seseorang ini sadar bahwa ia sedang menelepon ke saluran darurat yang berarti hanya boleh dihubungi dalam keadaan-keadaan genting saja. Lalu, pria di seberang sana akan mengomel marah:

“Apa pekerjaanmu? Kau seorang dispatcher. Tugasmu adalah mendengarkan. Aku butuh didengarkan. Apakah itu sulit?”

Junho tidak mampu menentang argumen pria ini. Ia memang seorang dispatcher dan tugasnya memang untuk mendengarkan. Junho akan melengos kesal dan sampai pada ujung cerita menyerahkan diri sepenuhnya, mendengarkan pria itu sepanjang malam menggerutu perihal insomnianya.

Junho memberinya beberapa tips untuk tidur untuk menghentikan telepon-telepon itu datang lagi. Mulai dari pil lelap, Ella Fitzgerald menjelang tidur, mengurangi konsumsi kafein, dan pada saat-saat tertentu ketika ia sedang dilanda kombinasi rasa putus asa, agak jengkel, dan sedang tidak ingin mendengar keluhan apapun, Junho menyarankan minuman keras supaya pria itu bisa mengakhiri insomnianya. Minuman keras mungkin terdengar jahat dan menjeremuskan, tapi hal itu berhasil. Namun setelah itu, pria itu akan menelepon lagi beberapa hari setelahnya dan mengeluh bahwa harga minuman keras terlalu berat untuk kantongnya dan ia kembali tidak bisa tidur. Junho menyerah.

Beberapa kawan dispatcher yang lain mulai bertanya-tanya, pada siapa Junho berbicara setiap malam. Junho akan mengangkat bahu tidak tahu. Ia hanya ingin menerima telepon-telepon itu dengan sabar dan mulai merasa dirinya sebagai konsultan pribadi pria itu. Diam-diam, Junho merasa iba pada pria penelepon itu. Pria itu tidak bisa tidur. Ia mungkin hanya merasa kesepian, pikir Junho. Pria itu butuh teman untuk diajak bicara sampai ia bisa tidur. Dan Junho menjadi teman setia pria itu selama 3 bulan lamanya, sampai suatu saat tiba-tiba saja, telepon itu menghilang.

Tidak ada lagi telepon yang mengeluh karena insomnia. Tidak ada lagi suara berat dan serak pria itu. Telepon itu benar-benar berhenti. Sungguh sebuah kebetulan yang terjadi di saat Junho juga menerima surat pemecatan dirinya karena dianggap bermain-main saat menjadi dispatcher, mengabaikan telepon-telepon darurat yang mengantri di ujung saluran untuk diangkat, sebaliknya mendengarkan gumaman seorang pria pengidap insomnia yang gila sepanjang subuh. Ia mencoba menjelaskan pada atasannya bahwa pria itu pria malang yang menyedihkan. Pria itu membutuhkannya. Pria itu butuh didengarkan. Tapi atasannya tidak mengerti. Ia pikir Junho sedang melawak. Itu alasan konyol. Dan Junho pun pulang ke rumah dengan pundak lusuh.

Ia kesulitan tidur pada malam ia diberhentikan. Junho terus memikirkan akhir pekerjaannya. Bagaimana ia harus hidup di masa depan dan bagaimana nasib pria itu selanjutnya jikalau ia menelepon lagi suatu saat dan tidak dapat menemukan teman bicara selain Junho. Namun, telepon yang berhenti secara tiba-tiba itu membuat Junho bertanya-tanya. Ia memikirkan hipotesa-hipotesa terbaik yang bisa digagaskan oleh otaknya. Mungkin pria itu sekarang bisa tidur, pikirnya. Mungkin obat tidur itu efektif. Mungkin Fitzgerald akhirnya berhasil membuainya ke dalam pelukan bantal dan selimut yang hangat. Mungkin pria itu sudah memiliki cukup uang untuk membeli minuman keras, dan cairan yang membakar tenggorokan itu akhirnya membantunya terlelap. Atau justru telah membunuhnya.

Junho merinding mendengar suara kepalanya yang menyahut kejam. Ia tahu-tahu merasa sedih membayangkan gambaran mengerikan seorang pria dengan kantung mata tebal tergeletak mati di samping meja telepon dengan botol-botol minuman keras di sekelilingnya. Junho panik. Merasa telah membunuh seseorang. Mungkin benar pria itu sudah mati karena kelebihan dosis minuman keras.

Dan malam itu Junho terus berkeliaran, memutari ruangan dengan gelisah. Bayangannya dari lampu tidur yang menerangi mengikutinya dengan setia dari sudut dinding ke sudut dinding yang lain. Kecemasannya berujung pada kegiatan menggigiti kuku-kuku jari tangannya hingga ujung-ujung dagingnya terkelupas dan mengeluarkan darah, kebiasaan buruk yang sulit dihilangkannya sejak kecil. Rasa sepi yang membungkus keseluruhan dirinya dengan rapi membuat Junho jengah. Ia ingin memberontak dan menuntut diri untuk mendapatkan tidur yang nyenyak. Namun, kenyataannya Junho selalu terjaga sampai subuh dan ia terus menatap telepon tua di sudut tempat tidurnya, menimbang-nimbang apakah ia harus menelepon ke saluran darurat untuk memastikan jika pria itu menelepon atau tidak ke sana setiap malam.

Malam-malam kekurangan tidur itu pun terus berlanjut dalam hari-hari, minggu-minggu, dan bulan-bulan selanjutnya. Junho gelisah dalam kesendirian dan kebimbangannya untuk menelepon ke saluran darurat. Kekhawatirannya membuatnya sulit untuk menutup mata barang lima detik. Otaknya terus memaksanya membayangkan kematian mengenaskan dari pria penelepon itu. Imajinasinya menjadi terobsesi, dengan hak bebasnya untuk mengoyak-ngoyak bagian-bagian rapuh yang tersembunyi di dalam kepala Junho. Tubuhnya bertambah kurus. Rambut ikal hitamnya tampak berminyak dan berbau masam oleh keringat dingin. Kantung matanya menggantung tebal dan keabu-abuan di bawah mata. Untuk mengistirahatkan pikirannya, Junho mencoba mengikuti cara-cara yang pernah ia sarankan pada pria itu ketika tidak bisa tidur. Nyatanya, tidak satupun ada yang bekerja. Dan Junho pun mulai merasa mual dan hampir gila.

Ia mulai berbicara sendiri setiap malam, mengurung diri di flat sepanjang hari tanpa asupan gizi yang cukup, dan menghabiskan seluruh tabungannya untuk minuman keras. Tubuhnya mulai membandel, kantuknya tidak bisa lagi diakali oleh vodka. Junho terus melanturkan kosakata beruntun yang tidak bermakna pada bayangan gelap dirinya yang terpantul pada dinding melalui pencahayaan remang lampu tidur. Pada pukul dua pagi, Junho memutuskan mengakhiri insomnianya dengan merangkak pasrah ke samping meja telepon membelah lautan botol-botol kosong minuman keras yang ditenggaknya kapan hari di lantai. Ia merasakan perih luar biasa pada tulang rusuk bagian kanan bawahnya saat mencoba meraih gagang telepon. Minuman keras itu rupanya telah membunuh organ-organ dalam tubuhnya secara perlahan, hingga rasanya mengangkat gagang telepon pun Junho hampir tak sanggup. Ia membutuhkan bantuan, ia butuh tidur dan istirahat yang lama.

“112. Apa keadaan darurat Anda?” Seorang di ujung telepon menyahut lembut. Junho tidak tahu pasti suara itu milik siapa. Mungkin itu Nichkhun. Mungkin juga Taecyeon. Mungkin seseorang yang baru dipekerjakan untuk menggantikan dirinya. Ia tidak peduli. Ia butuh bantuan sekarang. Ia tidak bisa melanjutkan penderitaan ini seorang diri.

“Halo?” Suara asing itu terdengar lagi. “Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?”

Junho menarik napas dalam-dalam. Rusuknya terasa menusuk-nusuk jantung dan paru-parunya saat itu. Dan sebelum ia menghembuskan napas terakhir berbau alkohol yang mencekik lehernya, ia berbisik lirih, “Aku tidak bisa tidur.” []

5 thoughts on “Emergency Call

  1. Waaaaaaaah. 😄 aku suka sekali diksinya. Terus kan ini castnya Junho tp aku ngebayanginnya malah Junhoe ikon lol
    Di bagian Junho mulai susah tidur itu ngebuat aku bertanya-tanya, apa sebenernya tiap malam itu justru Junho ngomong sendiri? Dan cowok yg ‘meneleponnya’ itu dianya sendiri? Haduuuh, sepertinya perlu baca ulang biar ngerti inti ceritahya… 😅😅 maklum, agak lambat kalo udah gini genrenya 😁
    Uh, keep writing yaa!!! Suka sekali ❤❤

  2. Wow, baru nemuin cerita yang alurnya menarik kyk gini, alurnya bagus buat yang suka sama cerita2 misterius, yaang gak dijelasin secara gamblang akhirnya
    Kerennn
    Ditambah lagi akunngefans sama junho ^^

  3. suka sama gaya authornya nulis, pemilihan katanya bagus2😀 jadi enak bacanya😀

    kasian junho u.u tapi aku blum nangkep inti ceritanya, maksudnya siapa cwo yg nelp junho itu dan knp dia g nelp lagi. Oya, dibikin jadi ff series mungkin bakal lebih bagus, tapi jangan panjang2 bgt heheh

    keep writing thor😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s