My Last (Chapter 7)

my-last-request-dkjung1

My Last (Chapter 7)

Written by DkJung

Poster by Junnie!ART

Main Casts : [Infinite] Kim Myungsoo | [A Pink] Son Naeun | [Infinite] Lee Sungjong

Support Casts : [Beast] Lee Gikwang | [Girl’s Day] Bang Minah

Genre : Romance | Length : Chaptered | Rated : Teen

>< 

Kim Myungsoo, lelaki tampan yang terlibat cinta segitiga, dimana ia harus memilih antara menjadi lelaki normal atau gay, dengan memilih Son Naeun atau Lee Sungjong.

>< 

Teaser > Chapter 1 > Chapter 2 > Chapter 3 > Chapter 4 > Chapter 5 > Chapter 6

>Chapter 7<

“Myungsoo Oppa? Apa yang kau lakukan?” Tanya Naeun dengan mata berbinar yang masih tidak percaya melihat lelaki yang baru saja menolongnya. Sementara itu, seisi kantin mendadak ribut. Banyak siswa yang berteriak dan bertepuk tangan karena perbuatan Myungsoo yang memakaikan jas seragamnya pada Naeun sudah seperti pahlawan. “Oppa, gwenchana?” Tanya Naeun, kali ini pertanyaannya berbeda. “Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu padamu? Aneh,” balas Myungsoo. “Aniyo, keunyang, aku hanya heran melihatmu tiba-tiba jadi sebaik ini padaku, apa pikiran Oppa baik-baik saja?” “Jangan senang dulu, aku melakukan ini semua hanya untuk membalas hutangku padamu, itu saja, tidak lebih sedikitpun,” jawab Myungsoo dengan intonasi yang datar. Walaupun Myungsoo menjawab seperti itu, Naeun justru tersenyum mendengarnya. Ternyata, seorang Kim Myungsoo masih memiliki rasa kemanusiaan. Ya, walaupun tujuan murni Myungsoo hanya membalas hutang budi padanya, tapi Naeun tetap saja merasa senang. Kapan lagi Myungsoo bias bersikap baik padanya seperti sekarang ini? Di saat mereka tengah berjalan meninggalkan kantin, Gikwang hanya bisa memandang dari kejauhan. Ia merasa hubungannya dengan Naeun semakin jauh saja semenjak kehadiran Myungsoo. Mendadak, ia takut Myungsoo menyainginya lalu merebut Naeun darinya, tentu, ia tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi. Bagaimanapun caranya, ia akan terus berusaha untuk mendapatkan Naeun. “Oppa,” Minah yang kini sudah berdiri di samping Gikwang tiba-tiba bersuara. Gikwang menghela napas kesal. Dengan berat, ia menoleh ke arah Minah. Gadis itu tampak ketakutan, ia bahkan tidak berani menatap kedua mata Gikwang. “Mi-mianhae, Oppa,” ucapnya terbata sampil tertunduk. Gikwang mencibir. “Apa aku harus mendengar itu darimu? Naeun lah yang harus mendengarnya! Minta maaf padanya sana!” “Aku hanya ingin meminta maaf atas sikapku yang membuatmu semakin membenciku, bukan meminta maaf atas sikapku terhadap Naeun,” ucap Minah yang kini mulai berani mengangkat kepalanya untuk menatap Gikwang. “Mwo?” “Oppa, aku tidak peduli Naeun mau membenciku atau tidak, aku berbuat begini karena aku benci padanya, dia sudah merebutmu dariku Oppa. Tidakkah Oppa tahu? Aku sudah menyukaimu sejak lama, tapi kenapa kau justru menyukainya, bukan menyukaiku? Apa kelebihannya dariku?” “Banyak. Jelas banyak. Naeun tentu saja punya banyak kelebihan dibanding kau! Dan yang terpenting adalah, dia tidak memiliki hati yang busuk seperti hatimu.” Kata-kata itu sepertinya cukup menusuk hati Minah. Gikwang pun berlalu setelah mengatakannya.

>><<

Naeun berjalan keluar dari toilet siswi sambil memegang jas seragamnya yang basah karena baru saja ia cuci. Ya, walau hanya dengan air. Tentu saja, karena sabun yang tersedia di toilet sekolah hanya sabun pencuci tangan. Ketika ia sampai di depan pintu, rupanya Myungsoo sudah bersiri di sana dan sudah menyiapkan kantong plastik untuk jas seragam Naeun yang basah. Naeun tak bisa menahan senyumnya yang mendadak mengembang. “Ingat, aku hanya membayar hutang.” Lagi-lagi, perkataan Myungsoo tidak membuatnya menghentikan senyumannya. Mendadak, ide jahil Naeun muncul. “Keunde, Oppa, hutangmu itu belum sepenuhnya lunas. Aku baru menganggap hari ini kau membayar seperempatnya.” “Mwo? Sedikit sekali! Mana bisa? Aku sudah menurunkan harga diriku di depan banyak orang, dan kau anggap aku membayar itu seperempatnya? Shireo, hari ini aku membayar hutangku dengan lunas!” “Ya, mana bisa begitu? Aku mencari Oppa hingga larut malam tanpa kendaraan apapun di tengah udara yang dingin, memergokimu meminum-minuman keras yang belum saatnya diminum anak sekolah, meminta orang tuamu untuk merahasiakannya, bahkan aku harus sampai memapahmu berjalan ketika pulang. Keurom, Oppa anggap tadi itu lunas? Maldo andwae! Tadi itu setengahnya!” “Tiga perempat!” “Setengah! Kalau tidak, aku tidak akan menghitung yang Oppa lakukan hari ini!” Naeun langsung berlari meninggalkan Myungsoo sebelum lelaki itu menawar lagi. Sebenarnya, Naeun masih ingin Myungsoo bersikap baik padanya seperti hari ini, tidak hanya sekali, Naeun ingin seterusnya. Baru saja Naeun hendak memasuki kelas, Gikwang ternyata sudah berdiri di depan pintu kelasnya. Ia terlihat mondar-mandir entah menunggu apa. Tetapi, ia sendiri juga tidak ingin terlalu percaya diri dengan mengklaim bahwa Gikwang tengah menunggunya. Naeun pun memutuskan untuk mencoba mengabaikan keberadaan Gikwang, antisipasi barangkali Minah tiba-tiba menyerangnya lagi. “Naeun-ah!” Tapi rupanya usahanya gagal. Gikwang justru menahan lengannya saat ini. Apa Naeun harus menepisnya? Oh tidak, sepertinya kurang sopan. “Aku mau menaruh bajuku dulu,” ucap Naeun sembari berusaha melepaskan genggaman Gikwang di lengannya. “Aku mau bicara.” “Tidak ada yana perlu dibicarakan, lebih baik sekarang Oppa kembali ke kelas sebelum ada yang tidak suka melihat kita.” “Maksudmu Minah? Aku tidak ada hubungan apapun dengannya, dan aku pun tidak menyukainya!” “Aku tidak peduli, lagipula itu tidak ada hubungannya denganku.”

>><<

Myungsoo yang masih berdiri di depan pintu toilet itu tidak terima dengan keputusan sepihak Naeun. Bagaimana bisa gadis itu meganggap hutang yang ia bayar baru setengah? Namun, Myungsoo tidak ingin ambil pusing. Akhirnya, ia memilih untuk kembali saja ke kelasnya. Ketika ia baru saja melangkah, kakinya terasa menginjak sesuatu. Ia membungkuk untuk meraih selembar foto yang entah sejak kapan sudah tergeletak di sana. Ternyata, itu adalah foto dirinya dan Naeun. Myungsoo tidak ingat kapan foto itu diambil. Bahkan ia tengah terpejam di foto itu. “Kapan foto ini diambil?” gumam Myungsoo. Ketika mencoba menerka, ia baru ingat. ia bangun dari tidurnya tadi pagi dengan baju yang sama dengan baju di foto itu, baju yang ia pakai saat ia mabuk. Pasti foto itu diambil Naeun ketika ia tengah tidak sadarkan diri. “Dasar, gadis itu.” Akhirnya, Myungsoo menunda tujuannya untuk kembali ke kelasnya dan memilih untuk mengembalikan foto yang sudah pasti milik Naeun itu. Ketika ia baru beberapa meter di depan kelas Naeun, ia melihat gadis itu tengah berdebat dengan seorang lelaki, ya kelihatannya. Dan lelaki itu yang terlihat tengah memaksanya, karena ia memegang tangan Naeun sementara Naeun berusaha melepasnya. Merasa kurang nyaman melihat hal itu, Myungsoo pun menghampiri keduanya. “Ini milikmu, kan?” Tanya Myungsoo to the point sambil menjulurkan foto yang ia pegang dengan tangan kanannya ke depan wajah Naeun. Sementara itu, Gikwang yang melihat kehadiran Myungsoo langsung melepaskan genggamannya dari tangan Naeun lalu melangkah pergi. Naeun hanya bisa menghela napas lega. “Oppa, dimana kau menemukannya?” “Kau menjatuhkannya di toilet, dasar ceroboh.” Naeun pun mengambil foto tersebut dari tangan Myungsoo. Ia memandangi sebentar foto itu sambil tersenyum tipis. “Dasar iseng.” “Ne?” “Apa-apaan kau, mengambil gambarku ketika aku sedang mabuk? Benar-benar kurang kerjaan.” “Memangnya kenapa? Setidaknya, aku berhasil mengambil gambar Oppa. Apa Oppa tidak tahu, betapa sulitnya untuk memotretmu?” “Kau ini, seperti tidak pernah melihat orang tampan saja,” ucap Myungsoo sebelum ia berjalan pergi menuju kelasnya meninggalkan Naeun. Naeun terdiam mendengar perkataan terakhir Myungsoo. Ucapannya itu memang benar, tapi, ia tidak percaya orang seperti Myungsoo bisa senarsis itu.

>><<

Myungsoo menghentikan langkhnya menuju gerbang pintu sekolahnya begitu ia melihat seorang lelaki berseragam sekolah lain tengah berdiri tegak menatapnya. Menatap penuh harap. Dengan pasti, Myungsoo berjalan menghampiri lelaki itu. “Bagaimana kau bisa ada di sini?” Tanya Myungsoo. “Hyung, bisakah kita bicara sebentar? Hanya Berdua, jebal.” “Bicara soal apa? Bukankah kita ini sudah putus?” “Aku menyesal sudah putus denganmu. Oleh karena itu, ikutlah denganku sebentar, Hyung.” Myungsoo mengerutkan kedua alisnya. Entah mengapa, ia kini tidak begitu gembira ketika mendapati sosok Sungjong di hadapannya seperti saat berpacaran dulu. Ya, walaupun mereka baru putus beberapa hari, tetapi rasanya, memang sudah berubah. “Jebal, Hyung,” ujar Sungjong yang terus memohon. Entah mengapa, semenjak putus dari Sungjong, Myungsoo merasa berbeda. Kali ini, rasanya ia tidak semudah dulu untuk meluangkan waku bila Sungjong ingin bicara dengannya. Tapi, karena merasa terlalu jahat bila ia menolak, akhirnya Myungsoo memutuskan untuk mengabulkan permohonan Sungjong. Sementara itu, dari kejauhan, Naeun tampaknya tengah memperhatikan Myungsoo dan Sungjong yang tengah mengobrol di gerbang sekolah itu dari kejauhan. Naeun terkejut, bagaimana bisa mereka berdua bertemu lagi? Bukankah mereka berdua sudah putus? “Andwae, aku tidak bisa diam saja, aku tidak mungkin membiarkan mereka kembali bersatu. Aku harus menyelamatkan Myungsoo Oppa,” gumam Naeun.

>><<

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Myungsoo to the point. “Santai saja, Hyung. Bagaimana kalau kita mengobrol saja setelah makan? Kapan lagi kita bisa bertemu seperti ini,” ucap Sungjong. “Sungjong-ah, wae irae? Apa kau sakit? Kenapa kau tiba-tiba ingin makan denganku? Bukankah kau sendiri yang telah memutuskan hubungan denganku? Kenapa kau kini memohon-mohon untuk meminta waktuku?” Sungjong menundukan kepalanya. Ia masih ragu untuk mngungkapkan alasan mengapa ia dating jauh-jauh ke Seoul hanya untuk makan siang dengan Myungsoo. “Hyung, sebenarnya, aku menyesal telah memintamu untuk putus. Aku, sedang emosi saat itu, aku tidak tahu bahwa aku akan menyesalinya seperti sekarang, dan aku ingin, kita kembali seperti dulu, Hyung.” Naeun yang duduk tak jauh dari Myungsoo dan Sungjong lengkap dengan penyamaran kacamata hitam dan maskernya itu dapat mendengar jelas percakapan keduanya. Ia hanya bisa mengendus kesal sambil mengepalkan kedua tangannya. Kalau saat itu Naeun tidak bisa menahan amarahnya, ia bisa saja langsung meninju wajah Sungjong di hadapan Myungsoo. Tapi Naeun tahu, cara itu tidak dapat menyelesaikan masalah, dan Naeun yakin Myungsoo belum tentu membelanya, karena pada dasarnya, Myungsoo masih belum bisa sepenuhnya melupakan Sungjong. Sementara itu, Myungsoo masih membeku mendengar pertanyaan Sungjong. Entah mengapa, ia merasa kesulitan untuk menjawabnya. Padahal, tadinya ialah yang berharap saat-saat seperti ini terjadi, saat dimana Sungjong memintanya untuk kembali bersama. Tapi kali ini rasanya berbeda, rasanya seperti ada yang mengganjal bila Myungsoo menerima permintaan Sungjong begitu saja. Myungsoo pun mencoba berpikir sejenak sambil mengalihkan pandangannya dari Sungjong mengitari setiap sudut restoran. Namun, pandangannya mendadak tertuju pada seorang gadis berseragam sekolah yang sama dengannya, dengan rambut panjang bergelombang diikat ekor kuda, menggunakan kacamata hitam dan masker. Awalnya mencurigakan. Tetapi, melihat gerak-gerik dan penampilan gadis itu, Myungsoo bisa langsung tahu bahwa gadis itu adalah Naeun. Entah dapat ide darimana, Myungsoo beranjak dari kursinya menghampiri Naeun. Tentu saja gadis itu terkejut dan hendak beranjak juga dari tempatnya, tetapi Myungsoo lebih ceat menahan bahu Naeun agar tetap duduk di kursinya. Naeun yang masih terkejut itu hanya bisa diam. “Bagaimana bisa kau ada di sini?” Tanya Myungsoo dengan nada yang begitu halus. Bukannya menjawab, Naeun justru mengerutkan dahinya. Ia bingung, apa pertanyaan itu menyindirnya, atau benar-benar ditujukan padanya. Karena melihat Naeun yang terdiam, Myungsoo berlutut lalu membuka penyamaran Naeun. Mulai dari kacamata, masker, dan membuka ikatan rambut Naeun sehingga rambut panjangnya tergerai. Tanpa ragu, Myungsoo bahkan merapikan rambut Naeun. Naeun hanya bisa membeku di tempat duduknya. Sungjong yang melihat hal itu langsung beranjak menghampiri Myungsoo dan Naeun. “Mwoya ige?” tanyanya. Myungsoo tersenyum sinis ketika mendengar pertanyaan Sungjong. Ia lalu berdiri dan membalikkan tubuhnya menghadap Sungjong. “Sungjong-ah, setelah kita tidak bertemu akhir-akhir ini, aku lupa memberimu kabar bahwa aku sudah punya kekasih. Mianhae, sepertinya kita tidak bisa kembali seperti dulu. Aku rasa, mungkin jalan terbaik untuk kita saat ini memang harus putus. Aku tidak bisa meninggalkan kekasihku begitu saja hanya demi kau yang jelas-jelas sudah memutuskanku,” tutur Myungsoo. Sungjong menghela napas tak percaya. Ia sungguh tidak mengharapkan jawaban seperti itu dari Myungsoo. Sungjong lalu mengalihkan pandangannya pada Naeun, gadis yang ia kira Myungsoo sebut sebagai kekasihnya. Diperhatikannya wajah gadis itu baik-baik dengan penuh dendam. Sementara Naeun hanya menundukkan kepalanya, tidak tahu harus berbuat apa. “Hyung, apa gadis ini yang membuatmu berpaling dariku?” Myungsoo melirik Naeun sejenak sebelum akhirnya mengangguk mantap. “Daebak, jadi sekarang kau sudah menyukai perempuan? Kau mencampakkanku, Hyung.” “Ani, kaulah yang mencampakkanku, bahkan kau tidak pernah memberiku waktu untuk memberi penjelasan. Kau langsung membuat keputusan secara sepihak. Keuraeseo, jangan salahkan aku bila kali ini aku sudah mempunyai kekasih baru. Sekarang, aku ingin kau pergi dari hadapanku.” “Hyung–“Jebal.” Sungjong hanya bisa menghela napas menyerah. Ia menatap Myungsoo dan Naeun secara bergantian sebelum akhirnya pergi meninggalkan keduanya. Setelah Sungjong pergi, Myungsoo langsung duduk di kursi di hadapan Naeun. “Oppa, neo gwenchana?” Tanya Naeun yang khawatir melihat ekspresi wajah Myungsoo yang tampak kosong. “Apa kau ini penguntit?” Tanya Myungsoo tiba-tiba. “Ne?” “Kenapa kau terus-menerus mencampuri urusanku? Kenapa kau terus mengurusi seluk-beluk kehidupanku? Sebenarnya kau ini siapa? Mau sampai sejauh mana kau mencampuri kehidupanku? Kapan kau akan pergi dari hadapanku?” “Oppa!” “Apa aku pernah memintamu untuk terus berada di sampingku? Apa aku selalu memintamu untuk terus ikut campur kehidupanku? Apa salahku hingga harus bertemu denganmu?” “Oppa, wae irae? Tenangkanlah dirimu dulu. Mian, aku memang membuntutimu, aku minta maaf karena aku tidak meminta izinmu dulu untuk mengikutimu sampai ke sini. Tetapi niatku ini baik, aku hanya tidak ingin kau kembali bersama Sungjong, aku tidak ingin kalian kembali menjadi pasangan, aku hanya ingin mencegah semuanya sebelum terlambat.” “Sekarang kau sudah lihat, kan? Kami benar-benar putus dan kami tidak akan pernah bersatu lagi. Kau sudah puas, kan? Lebih baik kau pergi, aku sedang tidak ingin melihat wajahmu.” “Oppa.” “Jebal, tinggalkan aku sendiri.” “Ucapanmu itu seolah-olah terdengar ‘jangan tinggalkan aku sendiri’ bagiku. Oppa, aku tidak akan pernah meinggalkanmu dalam keadaan seperti ini lagi, terakhir kali aku meninggalkanmu, kau menjadi mabuk berat dan meminum minuman yang belum saatnya kau minum. Saat seperti ini adalah saat dimana kau perlu seseorang untuk menemanimu dan mendengarkan curhatmu, bukannya malah menyendiri dan terjerumus pada hal-hal yang berbahaya! Aku akan menjadi orang itu, aku akan menjadi orang yang menemani Oppa di saat seperti ini, aku akan menjadi orang yang akan mendengarkan cerita Oppa, dan orang yang akan selalu menjaga Oppa sampai kapanpun. Karena aku, mencintaimu, Oppa.” “Cinta? Apa yang membuatmu mencintaiku?” “Cinta tidak memerlukan alasan untuk bisa ada, tetapi cinta adalah alasan mengapa aku selalu berada di samping Oppa.” Myungsoo mengerutkan dahi. Kali ini, ia memutuskan untuk tidak menghindari Naeun lagi. Lagipula, gadis itu secara tidak langsung baru saja membantunya menyelesaikan masalahnya dengan Sungjong. Akhirnya, Myungsoo beranjak dari kursinya. Ia memberi isyarat pada Naeun untuk ikut berdiri juga hingga akhirnya mereka berdua berdiri berhadapan. Myungsoo maju selangkah mendekati Naeun. “Apa kau bersungguh-sungguh bahwa kau mencintaiku?” Tanya Myungsoo. Naeun hanya mengangguk dengan tatapan penuh harap. “Baiklah, aku akan memberimu jawaban hari ini juga.” “Jinjja?” “Hm. Kau mau tahu apa jawabanku?”

>To Be Continued<

Maaf untuk update yang super lama dikarenakan aku hiatus nulis ff saat ukk. Btw, Alhamdulillah lah ya nilai raportku bagus-bagus, jadi semangat nulis lagi deh, kkk~ Maaf kalo yg ini kependekan. Jangan lupa tinggalkan komentarnya seperti biasaaaa.

Advertisements

16 thoughts on “My Last (Chapter 7)

  1. ahhhh,,TBC gnggu bget tuh author nim,,gi asyik2 ngebabca jga,,,,aishhhh jinjjaaa,,
    wahhh,,this story daebakkk bnget,,please update soon the next part author nim..gomawo^^
    fighting,,,,

  2. Itu tbc young?? Uuaa astagaa ffnya makin kerenn…
    Shiyoung jaanggg :****
    Itu jan bilang myungsoo mau nyium naeun /?
    Penunggu setia nih young /abaikan. Tpi aku ngliat knpa sepikk T.T ayolahh para siderr tobatlah sblom ff kiamat…
    Uuaa… Cbalah ngayal posisi shinyoung dan author yg lain uaaa /mianhee
    Boww.. Youngg fightingg nee asaaaa next d tnggu loh, kpn aja d tnggu aslkan ttp d lnjutin xd
    Fihtinggg

      • Ngikk.. Udh slah hebol lgii 😭😭😭
        Pkoknya mahh nungguin truss.. Mau update kapan aja mah setia asal kagak gantung xd
        Tpi jan lma sih biar kagak lupa.. Kwkwkw
        Pen tau knpa myungsoo bsa suka sma ujong..
        Kwkwkw klo bisa sih tmbahin plasbekan dia suka ujong /?

  3. yaaahhhhh anjir lagi seru2 baca juga -,- udah lama nunggu kelanjutan ff ini sekalinya ada bikin penasaran daebak lah thor udah bikin diriku penasaran akakak ditunggu lanjutannya thor kalo bisa seceptnya eaaakkk

  4. Walaupun belum jelas apa jawaban myungsoo tapi senang juga akhirnya dia terbuka mata hatinya soal cinta. Jangan bilang dia akan mengejar sungjoong lagi setelah mendengar penuturan naeun tadi. Kan bisa dia balik bahwa cinta tidak memiliki alasan, kalau ya skakmat buat naeun.

  5. ALHAMDULILLAH YAH BERKAH RAMADHAN/? Yeyeye! Akhirnya publised lanjutannya~ Ayooo step by step Myungsoo bakal jd normal nih. Huu senangnya 😀 masalah sm sungjong udh clear tuh.Udah deh Naeun buruan bikin Myung jd beneran normal lg. Hwaiting! Waaa apa jawaban dr Myungsoo yaa :’) Pls update soon ya author :3

  6. finally…… update jugaaaa 😀 ahaaaay, tambah seru aja nih ceritanyaaaa..
    kayaknya myungsoo cemburu deh sama gikwang yang megang tangan naeun, dan akhirnya dia bisa move on dari sungjong wkwkwkwk
    aduuuh itu tbcnya pass banget, bikin penasaran apa yang bakal myungsoo lakuin sama naeun 😀 ditunggu sangat next chapternya author 😀

  7. Wah senang sekali akhirnya update. Sblmnya selamat utk nilai rapor author yg bagus2 hehe

    Emg agak kpendekkan tp gak apa lah thor yg pnting next chap lbh panjang ya hehe
    Itutuh thor sbnrnya aku kurang ngerti di bagian akhir knp tiba2 myungsoo ngelakuin itu ke sungjong maksudku dia bnr2 udh normal atau udh ngelupain sungjong gitu? Klo iya kok bs scpt itu? Atau itu dia lakuin cm sebatas balas budi ke naeun??

  8. eonn 😀 sini deh eon.. aku pukul yahh !!BUAKKK!!! canda candaa 😀 knpa hrus TBC di tengah adegan yg aku tunggu eonn -____- wohaaaaaaa!!!!! itu jwabnnya pasti “aku mau” HARUS!!!!! HARUS!!! myungie gk boleh NOLAK!!!! #maksa-____- wohaaaaa cept di update ya eonn

  9. eonnie dipanjangin dong isi chapternya seru tau..
    tp iya eon aku juga penasaran sebenernya gimana sih pertemuan myungsoo sama sungjong ?
    trus yg di chap sebelumnya kok myungsoo agak sensi gitu disinggung soal anak ??
    trus kenapa myungsoo bisa jd gay ??

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s