My Boyfriend is Type B [1]

my boyfriend is type b

My Boyfriend is Type B

by astriadhima

Cast : RV’s Irene, MONSTA X’s Wonho, Jooyoung // Genre : Drama, Romance // Rating : G

credit poster leesinhyo@graphichomedesign

Mungkin karena golongan darahnya B…….

                Menjadi mahasiswa semester akhir adalah pilihan yang sulit ketika dirimu di hadapkan dengan dua masalah. Pertama, masalah keungan yang bisa mencekikmu hingga ubun-ubun. Beasiswa yang telah mereka berikan tak lagi penuh ketika mahasiswa lain menyabet gelar yang bertengger di bahumu. Oleh sebab itu, kau harus bekerja paruh waktu untuk bertahan hidup. Kedua, kau mulai terjerat cinta. Kelainan menjijikkan yang sebenarnya alami dan dirasakan setiap manusia. Jika ‘kelainan’ itu jatuh pada orang yang tepat, mungkin cinta adalah definisi paling tepat untuk kebahagiaan. Masalahnya, cinta sedang bersarang di dalam diriku. Mahasiswi semester akhir yang terbelit menipisnya finansial.

Sial!

Laki-laki itu kembali tertangkap oleh retinaku. Berjalan sepanjang meja kantin dengan memamerkan senyum 1000 wattnya. Dari setiap meja yang ia lewati, beberapa wanita sontak menatapnya dan membalas dengan senyuman. Mereka menggeser pantat, berharap jika laki-laki itu akan duduk di sampingnya. Tapi dari seluruh meja yang ia taburi bunga, ia malah memilih duduk dengan mahasiswa ingusan yang selalu bersamanya, Hyung Won. Mereka makan bersama tanpa bercakap-cakap, berbeda dengan belasan wanita di sekelilingnya yang tak pernah berkedip. Begitu pula aku, Won Ho layaknya pangeran berkuda putih. Sayangnya aku bukanlah Cinderella yang di takdirkan untuknya. Aku hanyalah tetangga Cinderella yang sampai kapanpun tak akan pernah dekat dengan pangeran. Terkadang aku merasa jika Cinderella adalah gadis yang beruntung.

            Onion ring dan sandwich berhasil masuk dalam kerongkonganku. Aku menelannya tanpa bersuara karena memang aku sedang duduk sendiri. Satu-satunya sahabat karibku tengah mengerjakan tugas akhir. Aku hanya bisa berharap yang terbaik untuknya. Yong Ji, apa kau baik-baik saja? Meskipun aku sendiri berada dalam situasi yang cukup buruk.

Wajah Won Ho terhalang dengan pipi gembul yang mengunyah makanan. Mataku menyipit. Dari lekuk wajahnya tentu saja ia adalah orang yang pandai makan. Pipinya meliuk-liuk saat mengunyah makanan, aku tak menyangka makanan itu bisa muat dalam mulutnya.

“Maaf, apa kau bisa minggir sedikit?” pintaku.

Si pria berpipi tembam balas menatapku. Ia berhenti mengunyah meskipun di kedua tangannya masih ada kentang goreng dan cheese burger.

“Apa ada masalah? Ku kira bangku ini kosong.”

“Bukan. Hanya saja aku sedang mengawasi seseorang.”

Pria berpipi tembam berbalik arah. Ia menatap pemandangan yang baru saja ia tutupi. Entah kenapa ia melangkah meninggalkan mejaku.

“Pekerjaan yang ada sekarang aneh-aneh ya. Aku tak habis pikir kenapa seseorang memintamu untuk mengawasi seseorang. Selama ini pekerjaan yang ku kenal hanyalah pekerjaan paruh waktu.”

Si pria berpipi tembam bergumam dengan sedikit kesal. Kemudian ia duduk dan memakan makanannya lagi.

Tunggu?

Itu tempat duduk Won Ho. Kemana perginya laki-laki itu?

Ternyata Won Ho menghilang bersamaan dengan pria berpipi tembam yang duduk di depanku. Sial, aku kehilangan momen mengamatinya lagi. Seharusnya ini bukanlah saat yang tepat untuk mengincar laki-laki. Seharusnya aku belajar lebih giat agar aku bisa menyabet peringkat itu lagi. Atau aku harus mencari uang.

Tunggu?

Pria tembam itu baru saja memberiku ide. Aku harus bekerja paruh waktu. Pelayan toko pun tak masalah.

Di sepanjang jalan banyak toko yang di buka, dari toko sepatu, tas, aksesoris dan sebagainya. Masalahnya sebagian besar toko mewajibkan pelamarnya telah lulus kuliah dan memiliki waktu luang banyak. Beberapa restoran cepat saji juga memasang persyaratan yang sama. Ini semakin membuat kepalaku berputar. Jika terus dipaksakan aku tidak yakin uang tabunganku akan cukup hingga akhir bulan.

Hanya ada satu toko lagi yang tersisa. Dari jauh terlihat sebuah kertas yang di tempel di kaca toko. Mungkin isinya adalah lowongan kerja. Yang semoga saja bisa menerima mahasiswa semester akhir seperti dirinya.

DI PERLUKAN PEGAWAI

UMUR TAK MASALAH

KAMI HANYA MEMBUTUHKAN YANG PUNYA TEKAT

Aku menghela napas, setidaknya masih ada toko yang mau menerimaku meskipun persyaratan yang tercantum cukup aneh. Lalu aku masuk ke dalam toko.

Bau berbagai roti yang baru saja matang langsung menyeruak dalam hidungku. Bau buah-buahan kering yang selalu aku suka tak jemu aku rasakan. Seorang pelayan tengah mengawasiku.

“Apa anda ingin memakan sesuatu? Roti bluberry kami baru saja matang. Apa anda ingin mencoba?” tanya pelayan itu dengan sopan.

Entah mengapa bau-bauan yang ada pada roti itu begitu membiusku. Aku seolah berjalan di tengah kabut yang wangi. Aku bisa merasakan bahwa tubuhku ringan, seolah aku tak punya masalah. Sungguh aneh, kenapa perasaanku bisa dipermainkan oleh roti seperti ini.

“Nona?”

“Ya?”

“Apa anda ingin makan sesuatu?”

“Tidak. Aku disini untuk melamar kerja.”

Setelah aku mengutarakan maksud jika aku berada disini untuk bekerja, pelayan tadi membawaku menemui kepala cabang. Seorang pria maskulin sekitar umur 25 tengah mengawasiku. Dahinya berkerut, bisa saja ia tengah memikirkan aneh-aneh tentang aku. Mungkin berat badanku, riasan wajahku, atau penampilanku yang kurang menjanjikan.

“Aku melihat kertas lowongan kerja yang ada di depan. Disana tidak tertulis persyaratan macam-macam. Jadi aku rasa aku bisa bekerja disini.”

Pria itu mengangguk.

“Apa yang membuatmu ingin bekerja disini?”

“Emmm….”

“Ingat! Kami membutuhkan jiwa-jiwa yang memilki tekat.”

Pria itu berkata dengan sungguh-sungguh. Saat itu aku hanya takut.

Takut jika aku memberikan jawaban yang salah.

“Aku tidak tahu seberapa besar tekatku. Tapi yang jelas, aku merasa bahwa bau di tempat ini sangat enak. Aku merasa sangat ringan seolah seluruh masalah diatas pundakku terangkat. Aku hanya ingin berada di tempat yang membuatku nyaman. Setelah itu aku memutuskan untuk bekerja disini.”

Pria itu menarik napas. Ia menopang dagunya dan mengawasiku.

“Siapa namamu?”

“Bae Irene.”

Klatak

Gelas ramyun baru saja membentur lantai yang artinya aku telah menghabiskan stok ramyun ku yang terakhir. Wawancara di toko roti tadi membuatku lapar. Meskipun Kepala cabang bernama Jooyoung itu tak banyak mengajukan pertanyaan, tetap saja aku harus memutar otak untuk memberikan jawaban yang terbaik. Selebihnya bau-bauan roti lah yang membuatku sangat kelaparan. Entah kenapa hanya karena sebuah roti aku menjadi seperti ini.

Aku tak mungkin membeli sebuah roti. Isi dompetku begitu mengerikan. Hanya beberapa lembar won sisanya struk belanja.

Boleh aku berteriak?

AAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!

Akan kutegaskan jika bukan aku yang berteriak. Suara itu berasal dari jalan di luar. Sepertinya seorang laki-laki. Apa yang membuatnya berteriak sekencang itu. Seketika aku berlari.

Seorang lelaki ketakutan sambil memegangi celananya. Wajahnya tak terlihat jelas karena senter yang aku bawa hanya menyinari sebagian tubuhnya. Sepertinya ia ketakutan.

“Tolong jauhkan dia!”

Aku menyipitkan mata.

“Siapa?”

“Anjing itu.”

Mataku mengikuti arahan telunjukknya. Sekitar jarak 5 meter, seekor anjing menggeram lemah ke arahnya.

“Sangchu!” teriakku.

Sinar senter tepat menyinari kedua matanya. Aku kenal anjing itu. Ia sangat ramah pada orang yang sering ia temui, tetapi tidak untuk orang asing. Pemuda ini tentulah orang asing baginya. Aku menghampiri Sangchu.

“Tenanglah Sangchu. Dia sepertinya bukan orang yang berbahaya.”

Kepala Sangchu terasa dingin. Ia sudah tak menggeram lagi. Ia merasakan sentuhan dari tanganku dan aku merasakan bulu-bulunya yang menyusup ke dalam telapak tanganku. Sungguh nyaman meskipun sangat dingin. Sepertinya Sangchu belum masuk rumah.

“Apa yang membuatmu yakin jika aku bukan orang yang berbahaya?”

Si pemuda berkata ringan. Bunyi gemerisik yang berasal dari tangannya terdengar tidak nyaman. Sangchu menggeram lagi tetapi aku mencegahnya dengan sentuhan. Lalu aku mengarahkan senter itu pada si pemuda.

Tepat pada kedua bola matanya.

Sangat bersinar.

1000 watt?

“Won Ho!” Aku memekik saking terkejutnya. Ia malah menyunggingkan senyum yang membuatku sulit bernapas.

Ia mengangkat salah satu tangannya yang membawa kantung plastik. “Aku hanya membeli beberapa botol soju.”

Berjalan beriringan seperti ini sangat jarang aku lakukan, terutama bersama Won Ho. Mungkin peluangnya hanya seper seribu persen sepanjang hidupku. Aku merasa canggung dan kaku. Selama ini aku hanya mengawasinya dari jauh, tak pernah berjarak kurang dari 10 meter. Tetapi sekarang ia berada di sebelahku. Aku bisa mencium bau parfum mahal dengan hidungku sendiri. Seandainya ini hanya mimpi, aku tidak ingin bangun. Aku ingin menikmatinya dulu.

“Bagaimana bisa Sangchu menangkapmu? Anjing itu memang sensitif dengan orang asing.”

Sangchu menggonggong tanda setuju. Anjing itu berjalan bersamaku juga, langkah kecilnya bersemangat.

“Aku hanya beli Soju. Aku berfikir jika aku lewat jalan pintas akan lebih sampai, tetapi sesampai tiba di jalan itu dia terus mengawasiku dan menggonggong. Sebenarnya aku tak takut anjing, tetapi dia sangat menakutkan.”

Sangchu menggonggong.

Won Ho tersentak.

“Bagi orang asing Sangchu sangat mengerikan. Tatapannya seolah ingin menggigit siapapun yang ia lihat. Tetapi setelah kau terbiasa dengannya dan Sangchu terbiasa denganmu, dia sangat manis.”

“Apa dia anjingmu?”

“Bukan. Dia milik Nyonya Oh yang tinggal disebelahku. Seluruh warga komplek mengenal Sangchu, ia anjing yang baik dan manis.”

Sangchu berlari mendahuluiku. Ia berlari hingga berhenti di sebuah tempat lapang. Awalnya aku berlari sendiri, tetapi kemudian aku bisa menangkap suara langkah kaki Won Ho. Ia berlari di belakangku.

Sangchu berhenti di depan lapangan sekolah dasar. Angin berhembus dari penjuru arah. Ia menggonggong.

Aku sibuk mengatur napas begitu pula Won Ho. Ia memegangi dadanya.

“Apa yang dia mau?”

Aku menggeleng.

Sangchu terus menggonggong. Ia terus menatap kearah langit, seolah langit akan runtuh di hadapannya.

Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat sebuah bintang jatuh tepat di depan bulan. Sungguh indah.

Dari depan aku bisa mendengar suara ponsel Won Ho berbunyi. Beberapa saat kemudian ia mengangkatnya. Won Ho tak mengatakan sepatah katapun. Setelah mendengar suara tak dari ponselnya, ia menarik napas dalam.

“Aku harus pergi, maaf tidak bisa mengantarmu. Semoga kita bisa bertemu lagi. Kau mahasiswi teater kan?”

Aku menelan ludah. Sinar rembulan bersinar makin terang. Aku berharap aku tak sedang dalam posisi berbaring, karena saat aku bangun kejadian ini hanya sebatas khayalan. Aku menatap Won Ho. Sinar bulan tampak berkobar di kedua matanya. Mata yang indah dan tak membosankan. Aku tak menyangka Won Ho mengenal diriku. Meski aku yakin dia tidak tahu namaku. Setidaknya ia tahu jika aku mahasiswi teater. Tak masalah jika dia tak tahu siapa aku. Aku berhak bahagia kan?

Lalu aku mengangguk dan membiarkannya pergi.

Aku terus memandang Won Ho hingga punggungnya tak keliatan. Sangchu menjilat kakiku hingga terasa geli. Saking senangnya aku langsung menggendongnya. Sangchu sangat berat mengingat ia bukan anjing kecil lagi. Tetapi aku terlampau senang untuk mengeluh berat.

“Terima kasih, Sangchu!”

Sangchu menggonggong.

Semalaman aku tak bisa tidur. Bayangan Won Ho serta bau parfumnya terus melekat dalam ingatanku. Hasilnya, pagi ini mataku menahan beban 100 pon karena mengantuk.

Hanya ada 2 keas hari ini. Aku hanya perlu duduk untuk sementara waktu, atau sekalian tidur di meja. Aku bisa menahannya. Setelah itu aku akan mampir ke klinik. Aku butuh tidur.

Aku memasuki kelas pertama.

“Selamat pagi!”

Toko baru saja buka, namun dari dalam sudah menguar berbagai macam bau roti. Beberapa pelanggan yang menantikan sarapan mereka menunggu dengan manis di kursi depan toko. Pelayan langsung mengahmpiri mereka dengan cekatan. Roti dengan isi telur yang lembut sangat diidamkan seluruh pelanggan pagi itu.

Sebuah mobil sedan berhenti di halaman toko. Setelah itu Jooyoung keluar dengan setelan jas rapi. Ia mengunci mobil lalu bergegas menuju toko.

“Kita harus tutup hari ini.”

Ki Hyun, salah satu pelayan di toko itu terkejut dan menatap Jooyoung. “Apa Pak? Kenapa begitu mendadak?”

“Presiden akan datang hari ini. Kalian harus bersiap-siap.” Jawab Jooyoung seadanya. Pemuda itu langsung meluncur ke dalam toko lalu ruangannya. Kemudian ia menelpon seseorang yang tentu saja mustahil diangkat. Nada sambung terus terdengar tetapi si pemilik ponsel tidak kunjung menjawab.

Ttak!

Akhirnya ponsel itu berakhir naas dengan jatuh ke lantai. Jooyoung berteriak sekencang-kencangnya.

Nyonya Shin tiba di toko sekitar pukul 10 pagi. Toko sudah tutup dan seluruh pegawai berbaris rapi menyambutnya. Jooyoung menyimpan rasa gelisahnya di dalam ruangan pribadinya, menunggu Nyonya Shin datang.

Sesekali ia memandangi ponsel yang tergeletak di lantai. Siapa tahu orang itu tertarik dan menelponnya. Dalam hatinya bergemuruh, jika ia bisa ia akan membunuh orang itu dengan segera.

Nyonya Shin memasuki ruangan Jooyoung. Meskipun sudah berusia lanjut (sekitar 60-an), Nyonya Shin tetap terlihat bugar. Ia begitu menjaga kesehatannya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Nyonya Shin dengan nada membentak.

Jooyoung awalnya tidak menjawab sebelum satu pernyataan telah berhasil membolongi hatinya.

“Berhenti membayang-bayanginya. Sampai kapan kau akan membantunya terus. Cepatlah menikah dengan pacarmu.”

Hatinya seketika mencelos.

Jooyoung memberikan hormat sekaligus minta maaf.

“Maafkan saya nenek. Hanya saja aku belum bisa melepasnya dalam dunia bisnis sendirian. Ia masih perlu banyak bantuan.”

“Apa dia sering kemari untuk mengecek toko?”

“Ya. Sesekali dia mampir. Asal nenek ketahui, ia masih belum tamat kuliah. Jadi wajar jika ia hanya beberapa kali berkunjung kemari.

“Tidak bisa!” Jawaban Jooyoung dib alas dengan bentakan. Nyonya Shin tampak geram.

“Ia tidak bisa seenaknya begitu. Aku sudah terlalu tua untuk marah. Ia harus siap mewarisi perusahaan saat waktunya tiba nanti.”

Jooyoung mengepalkan tangannya.

Jika dia belum siap, kenapa kau tak memberikannya padaku?

Aku baru saja memasuki klinik sebelum alarm ponselku berbunyi. Mataku menyipit karena terlalu mengantuk.

13.00 Menerima hasil lamaran kerja di Toko Roti

Status : Penting

“Ya Tuhan!” Hampir saja aku melupakan yang ini. Jooyoung sepertinya adalah atasan yang sangat disiplin. Jadi aku harus berada disana secepatnya Jangan sampai ia mencabut lamaranku hanya karena aku telat mengambil pengumuman.

Aku langsung berlari dan menaiki bus lalu menuju toko.

Nyonya Shin dan Jooyoung terus menunggu. Hingga sekarang adiknya itu tak menelpon lagi. Jooyoung berkali-kali mengirimkan pesan suara dengan embel-embel jika nenek sedang berada di toko. Tetapi tetap saja lelaki itu tak menjawab. Jooyoung ingin sekali mengutuknya.

“Kapan pacarmu akan kau bawa ke rumah? Tempo hari kau berteriak jika kau sudah punya pacar.”

Jooyoung menghela napas.

“Aku hanya takut jika dia belum siap. Setelah aku mengenalkannya pada nenek, pasti nenek tidak sabar untuk segera menggelar pesta pernikahan kami. Pacarku belum siap menerimanya.” Jooyoung mencoba menjelaskan.

“Sebenarnya kau punya pacar tidak sih?” Nyonya Shin kembali menelisik.

Jooyoung menelan ludah.

“Tentu saja ada. Kenapa nenek selalu tak mempercayai perkataanku?”

“Atau jangan-jangan kau menyembunyikan pacarmu di toko ini.” Nyonya Shin bergumam.

Tepat setelah itu pintu ruangan berderit. Seorang wanita dengan wajah lelah memasuki ruangan. “Maaf, diluar tidak ada orang jadi aku langsung masuk. Aku ingin mengambil pengumuman.”

Nyonya Shin terpaku. Ia memandangi gadis itu dengan bertanya-tanya. Siapa wanita itu hingga ia bisa seenaknya masuk ke ruangan Jooyoung. Tidak biasanya laki-laki seperti Jooyoung mengijinkan orang asing untuk memasuki ruangannya.

Atau jangan-jangan.

“Apa kau pacarnya Jooyoung?”

Jooyoung sendiri terkejut mendengar pertanyaan neneknya. Ia menatap gadis dengan wajah payah itu. Ia pelamar tempo hari yang datang ke tokonya. Benar, ia menyuruhnya datang lagi pukul 1. Dan sekarang, Jooyoung memandang arlojinya. Tepat pukul 1.

Jooyoung langsung berdiri dan menggandeng tangan wanita itu.

“Sebenarnya aku tak berharap akan mengenalkannya saat situasi seperti ini.”

Wanita itu bertanya-tanya kenapa Jooyoung berkata aneh dan menggenggam tangannya. Juga wanita tua itu siapa? Sepertinya kemarin orang itu tidak ada disini.

“Bawalah ke rumah segera. Ia sepertinya cukup menarik.” Ujar Nyonya Shin sambil mengangguk.

Apa?

Wanita itu berteriak dalam hati. Apa yang baru saja ku dengar?

“Cepat bawa Won Ho kemari!”

Tepat setelah Nyonya Shin berteriak, pintu ruangan terbuka lagi. Terlihat sosok Won Ho yang memakai busana santai. Berbeda dengan Jooyoung dan Nyonya Shin. Ekspresinya menyebalkan.

“Maaf, membuat kalian menunggu lama.”

Won Ho berkata sambil memberi hormat. Ia tak sengaja menatap tangan Jooyoung yang sedang menggenggam pergelangan tangan seseorang. Wanita?

Saat matanya bertemu dengan mata itu. Ia pernah menemuinya.

Wanita semalam? Apa yang ia lakukan disini?

Keduanya sama-sama terlihat bingung.

 -tbc-

Hai hai aku dateng memboyong ff baru di bulan ramadhan. Ceritanya ff ini aku buat karena lagi demen banget sama yang namanya MONSTA X. Terutama si playboy berhidung mancung Wonho haha. Gemes banget, pas liat muka dia bawaannya pengen masukin karung di bawa pulang.

Jadi terimalah persembahanku ini, semoga terhibur. Mohon dukungannya biar ff ini cepet kelar juga😀

6 thoughts on “My Boyfriend is Type B [1]

    • wah kamu harus tau, kalo urusan sama orang ganteng mah gini hehe.. btw Jooyoung itu featuringnya Hyorin di Erase, Wonho anak boyband baru yg ada di ava, ganteng hehe. berdua anak starship. hehe sori maksa. makasih ya udah baca

  1. Weeeee salah paham nih~ neneknya sih, engga sabaran banget pengen nimang cicit ya /apaan
    Waaahhh suka suka! Walaupun ngga begitu paham sama monsta x nggapapalah ntar bisa dicari tau /mulaigoogling
    Next part soon

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s