[Chapter 2] Forbidden Love

Forbidden Love

We shouldn’t have lived in the same building.

by Shinyoung (ssyoung)

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Jung Krystal & Others || Genre: School Life & Romance || Length: Chapter 2/? || Rating: Teen (PG-15) || Credit Poster: goldenblood || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2015 by Shinyoung.

Chapter 2 — The Punishment

Prologue | Characters | 1

*

Oppa!

Panggilan tersebut berhasil membuat Son Dongwoon langsung melonjak. Ia menoleh dan membenarkan posisi kacamatanya. Matanya membulat begitu melihat sosok adiknya, Son Naeun, yang sudah berdiri di belakangnya sambil tersenyum lebar. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri menyadari pandangan tajam dari guru-guru senior.

Tentu saja, pandangan tajam tersebut berbanding terbalik bak langit dan jurang ketika ia melirik ke arah guru-guru muda yang seumuran dengannya. Guru-guru tersebut tersenyum manja ke arah Dongwoon ketika lelaki itu memegang kacamatanya, cepat-cepat Dongwoon langsung mengalihkan pandangannya dan menatap Naeun yang telah duduk di salah satu bangku di sampingnya.

“Ada apa? Aku tidak mau dengar apa pun darimu.”

“Aish!” Naeun merengek dan meninju lengan Dongwoon kesal. “Oppa! Maafkan aku. Hanya sekali ini saja. Tolong lah. Aku benar-benar tidak sengaja kemarin itu. Tolong bantu bicara pada Guru Hyuna dan katakan padanya bahwa aku benar-benar menyesal. Juga, ini semua salah Kim Myungsoo, kalau saja lelaki itu tidak mengatakanku gadis aneh, aku pasti tidak akan menginjak kakinya. Dasar lelaki lemah. Bagaimana jika aku menendang ‘itu’ miliknya? Apa dia akan menjerit hingga 8 oktaf?”

“Son Naeun…,” Dongwoon memanggil adiknya dengan pandangan penuh harap. Ia hanya bisa mendesah berat melihat tingkah adiknya yang tidak pernah berubah. Selalu saja seperti itu. “Dengar, aku tidak bisa mengatakan apapun lagi pada Guru Kim. Aku harap kau tidak berulah lagi setelah ini. Mau tidak mau kau harus melakukan tugas yang telah diberikan oleh Guru Kim. Jika kau membantah lagi, entah apa yang harus aku lakukan padamu…”

Dengan kesal, Naeun mengerucutkan bibirnya. “Arasseo! Kau sama sekali tidak membantu. Aku tidak suka pada Kim Myungsoo. Dia pasti akan menyuruhku untuk membersihkan gudang sekolah dan dia hanya diam saja. Duduk manis memperhatikanku apakah aku sudah melakukannya dengan benar atau tidak.”

Kursi Dongwoon berputar kembali menghadap laptopnya, lalu ia mengayun-ayunkan tangannya ke arah Naeun, seolah menyuruh adiknya itu segera pergi dari sini. “Kalau kau tidak mau bekerja dengan Kim Myungsoo, kau bisa meminta hal itu pada Guru Kim. Cepat kau keluar dari sini dan aku bukanlah Guru Konseling untuk mendengarkan curahan hatimu hari ini. Kau masih ada pelajaran, bukan?”

Walaupun Naeun ingin menolak perkataan kakaknya, ia akhirnya bangkit dari kursi yang didudukinya. Lalu, ia membungkuk sebentar. “Ne, Guru Son. Terima kasih atas bimbingannya, aku menghargainya,” ucap Naeun dengan suara sedikit dibesar-besarkan sehingga beberapa guru menoleh lagi ke arah mereka.

Setelah itu, Naeun segera meninggalkan ruang guru dan melangkah menuju kelasnya dengan perasaan menggebu-gebu. Tidak pernah, ia merasa sekesal ini. Sungguh, jika saja kemarin Kim Myungsoo tidak berteriak sekencang itu, mungkin hari ini dia bisa bebas pulang ke rumahnya atau bahkan bermain dulu dengan kedua sahabatnya yang lain.

 

 

“Ini harus kau berikan padaku dalam waktu 5 menit!”

Ne, ssaem. Hanya menceklis murid yang masuk, bukan?”

Dongwoon menganggukkan kepalanya. “Iya, kau cukup memberinya tanda ceklis di samping nama mereka. Setelah itu, kembali lagi ke sini dan bawa kertas itu. Oh, ya, satu lagi. Beritahu seluruh murid 2-2 untuk tidak berisik hanya karena Guru Yoon tidak masuk.”

Naeun menganggukkan kepalanya kemudian berjalan keluar. Ia menghampiri kelas 1-4 yang paling dekat dengan ruang guru untuk meminjam pena. Salah satu adik kelas yang meminjamkannya pena adalah adik dari Park Chorong, Park Jimin. Naeun pun menepuk kepala Jimin dengan senang dan mengembalikan penanya.

Daftar Murid Kelas 2-2

1. Bae Irene

2. Byun Baekhyun

3. Do Kyungsoo

4. Hong Yookyung

5. Jang Dongwoo

6. Jung Eunji

7. Kang Seulgi

8. Kim Minseok

9. Kim Myungsoo

10. Kim Namjoo

11. Kim Suho

12. Kim Sunggyu

13. Kim Yerim

14. Lee Hoya

15. Lee Sungjong

16. Lee Sungyeol

17. Nam Woohyun

18. Oh Hayoung

19. Oh Sehun

20. Park Chanyeol

21. Park Chorong

22. Park Joy

23. Son Naeun

24. Son Wendy

25. Yoon Bomi

Sekali lagi, Son Naeun menatap daftar hadir kelas 2-2 tersebut. Ia menceklis satu persatu di samping nama yang tertera berhubung Guru Yoon memintanya melalui kakaknya. Hari ini, Son Naeun mendapatkan giliran piket jadi dia lah yang harus mengerjakan segalanya, kecuali sebagai pengurus kelas.

Di Korea dan Jepang, setiap murid mendapatkan piket giliran, sehingga tidak selalu pengurus kelas lah yang dibebankan tugas dari guru. Tugas piket adalah menjalankan perintah guru—misalkan, menghapus papan tulis, membawa buku ke ruang guru, mencatat hal-hal penting atau menyampaikan sesuatu yang penting dari guru. Namun, tugasnya tidak lebih daripada seorang ketua kelas.

Sambil menyerahkan daftar hadir tersebut pada kakaknya dan memberikannya bungkukkan sebentar dan berlalu pergi meninggalkan ruang guru. Dongwoon hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya menyadari bahwa hari ini Son Naeun ‘sedikit’ berubah. Sedangkan, Naeun sendiri menggosok-gosokkan tangannya tidak sabar sambil melangkah menuju kelasnya yang berada di lantai dua.

Skoolite High School punya cerita tersendiri. Seperti yang tengah dilakukan kelas 2-2 sekarang, yaitu membuat lingkaran besar kemudian mereka mematikan lampu kelas. Berhubung Guru Yoon sedang tidak masuk hari ini karena menjenguk kekasihnya yang sakit, mereka bisa bebas selama 3 jam pelajaran Fisika.

Tak ada tugas yang diberikan tentu saja merupakan suatu kebanggaan untuk kelas 2-2. Namun, tidak bagi Kim Myungsoo. Dia lebih baik belajar Fisika hari ini daripada harus dipaksa untuk ikut membentuk lingkaran di dalam kelas tersebut. Dia sudah menyebut kelas tersebut sebagai kelas terkutuk karena ada Son Naeun di dalamnya. Selain itu, Kim Sunggyu sebagai ketua kelas justru mendukung kegiatan aneh tersebut.

“Sekarang kita mulai,” ujar Kim Sunggyu. “Siapa yang mau memulai duluan?”

Bae Irene mengangkat tangannya tinggi-tinggi hingga membuat beberapa murid merasa kesal. Daripada itu, Son Naeun sendiri sudah mulai memeluk tubuhnya. Myungsoo yang berada di bagian paling jauh dari Naeun hanya bisa tersenyum tipis mengejek gadis itu padahal mereka belum mulai.

Semua murid mengenal baik Irene yang sering menceritakan kisah seram. Tak hanya itu, ceritanya terkadang membuat bulu kuduk mereka langsung berdiri karena mereka bisa merasakan sesuatu yang aneh ketika Irene memulai ceritanya.

“Berhubung Naeun diminta untuk membersihkan gudang, maka aku akan menceritakan legenda gudang Skoolite High School,” ucap Irene enteng. Sedangkan itu Naeun langsung melotot ke arah Irene dan Irene hanya mengulurkan lidahnya.

Aish,” gumam Naeun kesal.

“Ada apa, Son Naeun?” tanya Kang Seulgi sambil menyipitkan matanya.

Naeun menggeleng cepat. “Aniyo! Lanjutkan saja!”

Park Joy tertawa kecil melihat tingkah Naeun yang begitu ketakutan namun gagal menyembunyikannya. Sedangkan itu Kim Yerim yang duduk disamping Joy, menyenggol bahu gadis itu untuk tetap diam.

“Kita awali dengan membaca doa, bagaimana?” usul Byun Baekhyun.

“Ide yang bagus, Baekhyun-ah. Aku tidak menyukai keadaan seperti ini,” sahut Hayoung yang sudah menggertak giginya karena ketakutan.

“Memangnya kalian semua percaya soal makhluk halus?” tanya Do Kyungsoo sambil memainkan ponselnya. “Aku sih tidak percaya dan untuk apa kita harus melakukan ini di siang bolong? Terlalu berlebihan.”

“Ya sudah, intinya yang tidak mau mendengarkan setidaknya hadir disini. Solidaritas,” ujar Woohyun santai. Beberapa murid yang tidak setuju dengannya meliriknya tajam, namun Park Chorong yang berada di sampingnya langsung melayangkan kilatan api kekesalan pada murid-murid tersebut.

Tidak ada di Skoolite High School yang tidak tahu bahwa Nam Woohyun dan Park Chorong adalah sepasang ketua murid dan wakil ketua murid yang memiliki hubungan sampingan—sebagai sepasang kekasih juga. Tidak ada yang berani marah pada Park Chorong karena mereka tahu bahwa gadis itu memiliki keahlian dalam hapkido. Baik para gadis yang berusaha mendekati Nam Woohyun, mereka memilih untuk mencari laki-laki lain daripada mati karena jurus Park Chorong.

“A-aku mau izin ke kamar mandi dulu, ya?” tanya Naeun yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat pintu kelas dengan wajah penuh ketakutan. Gadis itu sudah menahan peluhnya dari tadi agar tidak terlalu terlihat.

Naeun tidak tahu mengapa ia jadi sepenakut ini padahal ia selalu tertawa apabila menonton film horor, entah itu Insidious, Silent Hill, Evil Dead, Final Destination, Posession, Paranormal Activity, atau yang lainnya. Dia adalah maniak film horor bersama kedua sahabatnya. Bahkan, para wanita yang bertugas menjual karcis bioskop sudah bosan melihat mereka setiap kali film horor muncul di bioskop.

Yang membuat petugas bioskop lebih bingung lagi pada mereka adalah setiap kali film horor muncul, mereka selalu menjadi orang pertama yang berhasil membeli tiket dan tak hanya itu, ketika mereka masuk ke dalam bioskop, mereka membeli banyak popcorn. Lalu, selama pertunjukkan film, ketika semua orang berteriak ketakutan, suara tawa mereka yang menggelegar mengalahkan teriakan orang. Mungkin…

Mereka menertawai orang-orang yang ketakutan atau mereka terlalu cinta pada wajah-wajah jelek sang pemeran hantu.

“Baiklah, kau pergilah dulu ke kamar mandi,” ujar Sunggyu tenang.

Semua orang tahu bahwa Tiga Sekawan Aneh adalah penahluk film horor yang melegenda. Bahkan, tidak ada yang bisa mengalahkan kesintingan mereka. Mereka sama sekali tidak punya rasa takut, mungkin rasa itu terkalahkan oleh kesintingan mereka. Karena itulah, Sunggyu mengizinkan Naeun untuk keluar.

“Aish! Gila! Tahu begini aku tidak akan menceritakan pada mereka kalau aku dihukum untuk membersihkan gudang sekolah.” Naeun memijit pelipisnya kemudian mulai melangkah menuju tangga.

Sedangkan itu, di kelas. . .

Beberapa murid mulai ribut karena Naeun yang tidak kembali. Sunggyu sudah menghubungi nomor gadis  itu, namun rupanya Naeun mematikan ponselnya. Ketika keadaan kelas yang cukup berisik itu, Myungsoo memanfaatkannya dengan diam-diam menyelinap keluar. Dia sendiri malas apabila harus duduk di dalam kelas itu mendengarkan kisah-kisah yang sebenarnya tidak ada.

Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana seragamnya, lalu mulai melangkah menuju tangga. Sesampainya di atap sekolah, ia segera membuka pintu tersebut. Matanya bergerak liat mencari-cari murid yang ada di sana. Namun, rupanya tidak ada siapa-siapa. Begitu ia melangkah keluar, ia langsung menutup pintu tersebut dan menguncinya.

YA! Kenapa kau mengikutiku ke sini?”

Myungsoo bergidik pelan, lalu ia mencari-cari sumber suara tersebut dan mendapati Son Naeun yang tengah duduk di sebuah bangku panjang. Myungsoo langsung mengerutkan keningnya begitu melihat celana training yang digunakan gadis itu di bawah rok seragam gadis itu.

“Aku tidak mengikutimu, Bodoh,” ujar Myungsoo santai.

Ia berjalan menuju balkon atap sekolah dan memandang ke seluruh kota. Sekolah tersebut memang berada di tengah kota dan langsung menghadap ke pinggir jalan. Jadi, dia dapat memandang mobil-mobil yang tengah berlalu lalang di jalan raya dan juga orang-orang yang tengah sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing.

Ketika ia baru saja ingin mengeluarkan ponselnya, tiba-tiba Naeun berdiri tepat di sampingnya lalu mengambil ponselnya tanpa izin. Myungsoo langsung melotot ke arahnya dengan kesal.

“Kembalikan ponselku, Son Naeun!”

Ani. Aku tidak akan mengembalikannya sebelum kau mengatakan alasanmu mengikutiku ke sini. Aku tahu kau pasti punya niat tertentu atau kau disuruh oleh Sunggyu untuk mencariku, bukan?”

“Cih,” Myungsoo berdecak pelan dan memutar bola matanya malas. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menunjuk ke arah Naeun. “Dengar, Son Naeun. Aku ke sini karena mereka heboh mencarimu. Aku tidak tahu kau di sini dan aku selalu pergi ke sini kalau aku sedang malas. Lagi pula untuk apa aku mendengarkan cerita-cerita yang sama sekali tidak benar itu. Sekarang kembalikan ponselku.”

Naeun berdeham dan ia pun mengembalikan ponsel Myungsoo. “Arasseo. Jadi karena itu kau memanfaatkan keadaan dan pergi ke sini? Kau tidak akan mengatakan pada mereka kalau aku di sini, bukan?”

Myungsoo segera menyambar ponselnya dan menyelinapkannya ke dalam saku celana seragamnya. “Untuk apa aku mengatakan keberadaanmu? Aku tidak peduli soal kalian semua. Terutama soal kisah-kisah yang sama sekali tidak ada faktanya. Jadi, aku ingin bertanya padamu. Apa alasanmu berada di sini? Bukannya kau berani?”

“Uh… Itu…”

 

 

“Son Naeun! Kau kemana saja tadi?”

“Aku ketiduran di perpustakaan sekolah.”

“Kau tidak tahu apa semua orang mencarimu?”

Arasseo. Maafkan aku. Aku belum tidur tadi malam,” ucap Naeun sambil melirik Myungsoo yang langsung mendengus kecil sambil memutar bola matanya.

Laki-laki itu melipat kedua tangannya sambil berdiri di dekat pintu kelas dan memperhatikan keramaian itu. Seharusnya ia bisa menyambar tasnya dan langsung pulang. Namun, ia langsung ingat begitu melihat Son Naeun bahwa ia punya hukuman untuk membersihkan gudang bersama gadis aneh itu.

“Naeun, mau pulang dengan kami, tidak?”

Naeun menggeleng pelan sambil mengerucutkan bibirnya dan menggembungkan pipinya ke arah Bomi dan Eunji. Ia memeluk ke dua sahabatnya itu. “Maaf aku seminggu ini tidak bisa pulang dena kalian. Aku harus membersihkan gudang itu selama seminggu. Menyebalkan sekali.”

Mereka melepaskan pelukan Naeun, kemudian baik Bomi dan Eunji langsung melirik Myungsoo yang tengah menunggu gadis itu. Bomi dan Eunji langsung tertawa puas melihat keadaan itu.

Ya! Kenapa kalian justru tertawa? Tidakkah kalian kasihan padaku?”

Ani. Aku hanya kasihan melihat partnermu itu menunggumu. Dia pasti sudah mati karena kebosanan menuggumu,” ujar Bomi sambil menunjuk Myungsoo. “Sudah kau pergilah dengannya, kami harus pulang. Dia tampak bosan.”

“Selamat bersenang-senang, Son Naeun,” Eunji mengejeknya sambil tertawa.

Kedua sahabatnya itu langsung pergi dan ia mengambil tasnya lalu beralih pada Myungsoo. Laki-laki itu melepaskan kedua tangannya dari depan dadanya dan mengikuti Naeun keluar dari kelas. Di dalam pikirannya, ia bertanya-tanya apakah Naeun keberatan mendapatkan hukuman dengannya? Mungkin jawabannya adalah iya.

Ia ingin bertanya pada Naeun apakah gadis itu masih marah padanya karena mendapatkan hukuman dengannya, namun ia memilih untuk memungkam mulutnya. Lebih baik diam daripada berkicau yang tidak penting. Terutama, dia yakin, perasaan Naeun sedang buruk karena gadis itu tidak bsia pulang bersama kedua sahabat anehnya.

“Apa yang kau lakukan di sana?”

“Ah…” Myungsoo tersadar bahwa ia daritadi hanya diam saja memperhatikan Naeun membuka pintu gudang sekolah. “Maaf.”

Naun hanya mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam gudang tersebut. Ketika mereka masuk, Naeun langsung terbatuk-batuk karena banyaknya debu yang terpendam di dalam ruangan tersebut. Di tambah lagi, gudang tersebut tidak memiliki lampu. Jadi, mereka hanya punya waktu setengah jam sebelum jam 5 alias matahari benar-benar akan hilang.

“Hati-hati,” ucap Myungsoo dari belakang.

Naeun menoleh ke belakang. “Cih, kau bisa peduli padaku?”

Setelah itu, Naeun kembali memalingkan wajahnya ke depan dan terkejut begitu melihat sebuah benda di hadapannya yang hampir saja membuatnya terjatuh jika Myungsoo tidak menahan tubuh gadis itu.

“Lihat? Kau masih ingin mengatakan aku tidak peduli padamu?”

Naeun terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan Myungsoo. Pertanyaan Myungsoo begitu menampar pipinya. Myungsoo melepaskan tangannya kemudian mereka mulai merapikan gudang tersebut. Untungnya gudang tersebut tidak terlalu kotor, namun tetap saja debu berada di mana-mana.

“Mungkin, besok kau harus bawa masker,” saran Myungsoo sambil menyapu meja-meja bekas yang berdebu. Gadis itu hanya mengangguk pelan ketika Myungsoo meliriknya menunggu jawaban darinya. “Kau punya masalah dengan pernafasan?”

“Oh, astaga. Haruskah aku menjawab pertanyaanmu.”

“Tidak masalah jika kau tidak menjawab.”

Naeun memutar bola matanya. “Tidak aku tidak punya masalah. Aku hanya alergi debu.”

Myungsoo mendengus. “Memangnya kakakmu tidak tahu kalau kau punya masalah itu? Kenapa dia menyuruhmu membersihkan gudang yang penuh debu ini.”

Naeun mendecak. “Berhentilah bertanya. Ya, kakakku memang tidak tahu! Kau puas?”

Myungsoo hanya diam kemudian melanjutkan pekerjaannya. Selama setengah jam, mereka membersihkan ini dan itu tanpa bersuara sedikitpun. Keduanya memilih untuk diam dan membungkam daripada berujung pada perkelahian atau cekcok mulut. Naeun juga merasa sedikit bersalah karena memarahi laki-laki itu.

Padahal, dia tahu bahwa Myungsoo sama sekali tidak bersalah. Ada kemungkinan, laki-laki itu hanya ingin mencairkan suasana. Sambil berpikir, Naeun juga baru menyadari bahwa laki-laki itu tidak terlalu menyebalkan dan tidak terlalu dingin seperti yang dikatakan orang-orang.

“Ayo, pulang,” ucap Naeun akhirnya.

“Kenapa? Memangnya sudah jam 5?”

Naeun mengangguk kemudian melangkah keluar dari gudang tersebut. Naeun hanya bisa memijat pelipisnya menyadari bahwa pekerjaan mereka baru sedikit. Gudang tersebut terlalu besar untuk dibersihkan dan juga terlalu berantakan. Begitu keduanya keluar, gadis itu langsung mengunci gudang tersebut.

“Kau pulang saja dulu. Aku harus mengembalikan kunci ini,” ucap Naeun ketika menyadari bahwa laki-laki itu menunggunya.

“Kau yakin? Kakakmu sudah pulang?”

“Dia tidak akan pulang jam segini. Guru-guru sekolah kita selalu pulang jam 8 atau pulang malam. Mereka punya banyak pekerjaan dan mereka memilih bekerja di sekolah yang menyediakan fasilitas internet gratis daripada harus mengerjakan di rumah dan membawa tumpukkan kertas ke rumah,” jelas Naeun panjang lebar.

“Oh, baiklah. Aku akan menunggumu di gerbang.”

“Jangan menungguku. Kau pulang saja,” kata Naeun kesal. “Aku tidak mau—“

“Tidak mau orang-orang curiga dengan kita yang pulang berduaan. Toh, apartemen kita bersebelahan. Aku 205 dan kau 204. Kalau ada yang bertanya tinggal bilang kalau aku dan kau dihukum bersamaan.”

“Terserah kau!”

 

 

Son Naeun memutar bola matanya begitu melihat sosok laki-laki yang tengah sibuk memainkan ponselnya sambil bersender pada gedung pos satpam. Laki-laki itu menyadari kehadiran Naeun dan menyimpan ponselnya.

“Ayo.”

“Kau tidak berniat buruk, bukan?” tanya Naeun waspada.

“Aku? Kalau aku melakukan sesuatu padamu, aku pasti sudah gila. Aku hanya khawatir bahwa aku akan dimarahi kakakmu karena tidak pulang bersamamu. Kau tahu bukan jalan ke arah gedung apartemen selalu gelap?”

“Baiklah. Terserah kau.”

Keduanya pun melangkah menuju halte bus dan memilih diam lagi. Karena tidak kuat berdiam-diaman, akhirnya Naeun membuka mulutnya untuk mencairkan suasana dengan mulai bertanya pada Myungsoo.

“Kau tinggal sendiri?” Naeun mengawali pertanyaan.

“Iya. Aku tinggal sendiri. Kau?”

“Aku hanya tinggal dengan kakakku. Seperti yang kau lihat, kami selalu berdua. Tidak pernah bersama siapapun,” Naeun menjawab dengan santai sambil memasukkan tangannya ke dalam saku roknya. Ia melirik Myungsoo sebentar.

“Ah. Pantas saja, aku tidak pernah mendengar kericuhan dari apartemenmu. Kau selalu sendiri sampai kakakmu pulang, bukan?” tanya Myungsoo tepat.

“Ya. Begitulah. Kau sendiri kenapa tidak tinggal dengan orang tuamu? Atau apakah orang tuamu juga bekerja di luar negeri?” tanya Naeun penasaran ketika bus berwarna biru datang menghampiri halte dimana mereka menunggu.

“Ah… Mereka bercerai. Itulah sebabnya aku tinggal sendirian,” Myungsoo menjawab tanpa beban sambil menempelkan kartunya pada sebuah alat di dekat sang supir bus.

Naeun hampir saja terjatuh ketika bus tersebut mulai melaju jika Myungsoo tidak menahan tubuhnya untuk kedua kalinya. Naeun melirik laki-laki itu ketika keduanya terduduk di bangku paling belakang.

“Maaf,” ujar Naeun pelan.

“Untuk apa?” tanya Myungsoo bingung.

“Kau sudah menyelamatkanku dua kali hari ini.”

“Seharusnya terima kasih bukan maaf. Kau tidak bisa membedakan maaf dan terima kasih, ya?” tanya Myungsoo sambil meliriknya sekilas. Sebelum Naeun menjawab laki-laki itu sudah memejamkan matanya seolah-olah dia tertidur.

“Aish.”

Wae?” Myungsoo bertanya padanya dengan datar. “Kau masih ingin bertanya padaku?”

“Sejujurnya… Aku bukan minta maaf karena kah telah menyelamatkanku hari ini,” Naeun menjawab dengan pelan. Myungsoo membuka matanya dan meliriknya sekilas.

“Lalu?”

“Aku minta maaf karena aku bertanya kau harus mengatakan soal orang tuamu. Seharusnya aku tidak bertanya,” Naeun menjawab dengan takut. Ia melirik-lirik Myungsoo sambil berharap agar laki-laki itu tidak marah padanya.

“Ya… Aku sudah terbiasa dengan pertanyaan itu. Lagi pula aku yang memutuskan untuk mengatakannya padamu atau tidak. Jadi kau tidak perlu minta maaf padaku.”

“Oh… Arasseo.”

Setelah itu keduanya pun langsung terdiam. Myungsoo yang awalnya ingin tidur membatalkan niatnya ketika melihat Naeun yang telah memejamkan matanya dan bergerak ke sana kemari akibat bus.

“Ah… Gadis ini. Menyusahkan saja.”

Saat mereka hampir tiba di halte tujuan mereka, Myungsoo menggoyangkan bahu kirinya, mencoba membangunkan Naeun yang tertidur pulas dan menggunakan bahu Myungsoo sebagai tempatnya meletakkan kepala.

Namun, gadis itu tak mengusiknya. Akhirnya, dengan berat hati, Myungsoo pun membopong gadis itu pada punggungnya. Dengan sulit, ia menekan bel merah pada tiang jendela dan bus pun berhenti pada halte tujuan.

Cham… Gadis sekarang selalu bergantung pada kekasihnya, ya. Tidak tahu apa bahwa mereka punya berat badan yang besar,” komentar sang supir bus begitu melihat Myungsoo yang turun sambil menggendong Naeun pada punggungnya.

Myungsoo hanya tersenyum sekilas pada sang supir bus lalu turun dari bus tersebut. Ia menatap gedung apartemennya dan menghela nafas berat. Myungsoo melirik gadis yang tertidur pulas di punggungnya itu dan mulai melangkah menuju gedung apartemen mereka.

Sesampainya disana, seorang wanita yang tengah asik menggunakan kaca mata hitamnya itu menghampiri mereka dengan ekspresi terkejut.

Mwoya?! Are you two dating?”

Myungsoo membungkuk sebentar lalu kembali menatap wanita itu dan menggeleng. “Tidak, Noona. Kami mendapat hukuman yang sama karena itu lah kami pulang bersama. Dapatkah kau mengantarkan kami ke apartemennya? Dia tidak mau bangun.”

Gina mendengus pelan lalu mengangguk. “Arasseo. Tinggal katakan saja bahwa kalian berdua memang berpacaran. Padahal aku tidak pernah melihat kalian berdua berbicara. Ah, dunia ini…”

Myungsoo mengikuti Gina masuk ke dalam lift. “Tidak. Kami memang tidak berpacaran. Aku hanya membawanya pulang.”

Gina mengangguk. “Alright. Alright. Mungkin aku juga harus memberitahumu kunci apartemen Naeun. Siapa tau kejadian seperti ini terulang kembali dan aku sedang tidak ada di rumah atau kau bisa membawanya ke apartemenmu. Kau tinggal sendiri, bukan?”

“Iya. Aku tinggal sendiri. Tapi, aku tidak bisa menerima kuncinya,” tolak Myungsoo.

Wae? Tenang saja Dongwoon sudah bilang padaku aku bisa memberitahumu karena dia percaya kau adalah murid yang baik.”

“Kapan?” Myungsoo mengerutkan keningnya.

“Tepat sebelum kalian datang dia menelponku. Dia sudah menduga bahwa kejadian ini akan terjadi, jadi dia mempercayakan Naeun padamu. Dia memintamu untuk menjaga Naeun sampai dia pulang. Dia mengizinkanmu untuk keluar masuk apartemennya. Bukankah Son Dongwoon adalah guru yang baik?” tanya Gina sambil memencet tombol kunci apartemen Naeun.

“Ah… Baiklah. Jika dia yang meminta. Aku pikir karena kau berpikir bahwa kami berdua berpacaran karena itu kau mengizinkanku–”

“Tidak. Tidak. Kau bisa telpon Dongwoon jika kau masih belum percaya padaku.”

“Tidak apa-apa. Kalau begitu, terima kasih.”

Of course. Selamat bersenang-senang kalian berdua!” goda Gina sambil berlalu pergi meninggalkan Myungsoo sendirian yang masih ingin menolak pernyataan itu.

Daripada membuang tenaganya berbicara dengan wanita itu, ia akhirnya memilih untuk membawa masuk Naeun ke dalam dan meletakkannya di salah satu sofa. Ia segera meregangkan seluruh otot-ototnya kesana kemari. Kemudian, ia melirik Naeun yang tertidur pulas sambil mendengus.

“Ah… Benar-benar. Kalau saja dia tidak mirip dengannya, aku tidak mau repot-repot membawanya kemari dan membuat seluruh ototku kesakitan.”

 

 

“Kim Myungsoo!”

“Ah… Dia lagi.”

Ya!”

Myungsoo melirik gadis itu kesal. “Ada apa?”

Jung Soojung atau yang lebih sering disapa Krystal itu mendengus ke arah laki-laki itu lalu merangkulnya. Namun, Myungsoo langsung menepis rangkulan gadis itu. “Kau ini kenapa, sih? Padahal saat masih SMP, kau mau merangkulku! Sekarang aku mau merangkulmu saja sulitnya minta ampun. Apa masalahmu, huh?”

Myungsoo menghentikan langkahnya kemudian memutar badannya dan menghadap gadis itu. “Dengar, ya, Krystal. Masalahku tidak ada kaitannya denganmu. Sekarang kita duduk di bangku SMA bukan lagi di bangku SMP. Aku bukan Kim Myungsoo yang kau kenal dulu. Kalau kau memang keberatan dengan pernyataan itu, pergilah jauh-jauh dariku. Jangan dekati aku lagi.”

Setelah mengucapkan itu, Myungsoo segera bergegas pergi sambil memijat pelipisnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya pusing. “Ya! Kemarin aku lihat kau bersama Son Naeun! Kau dekat dengannya? Kenapa kau tidak terusik dengan keberadannya?”

Myungsoo menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. “Apa pedulimu? Kemarin aku dapat hukuman yang sama dengannya. Kau puas?”

Beberapa murid sempat melirik ke arah mereka. Memang sudah jadi rahasia umum apabila selama ini Krystal selalu mengejar sosok Myungsoo kemana pun. Meskipun, Krystal tahu bahwa tak ada tempat baginya di hati Myungsoo, ia tetap melaksanakan misinya. Krystal tidak akan menyerah begitu saja. Beberapa orang memang membencinya karena sikapnya yang keras kepala dan kritis, namun beberapa orang mungkin akan menyukainya karena dia adalah salah satu orang yang selalu mengeluarkan pendapatnya dengan jujur di muka umum walaupun dia tahu tidak ada yang mendukung pendapatnya.

Sedangkan itu, Naeun yang baru saja ingin ke kafe sekolah bersama Bomi dan Eunji di pagi hari itu, sempat melirik mereka. Namun, ia mengabaikannya dan tetap berjalan bersama kedua sahabatnya. Dia tidak punya urusan apa pun dengan Kim Myungsoo selain sekolah dan hukuman yang membuatnya menjadi gila.

Mengingat hal kemarin saja sudah membuatnya frustasi. Padahal kemarin, Myungsoo hanya membuatkannya makan saja dan pergi.

.

.

.

Hei, Son Naeun. Bangun. Kau tidak akan membiarkan seorang lelaki terus-menerus di dalam apartemenmu, bukan?”

Suara itu akhirnya membangunkan Naeun. Naeun mengerjap pelan dan mendapati sosok Myungsoo yang sudah berada di sampingnya. Ia mengedarkan pandangannya dan mendapati bahwa dia sudah berada di dalam apartemennya… bersama Kim Myungsoo. Gadis itu terbangun dan segera melindungi tubuhnya.

YA! Apa yang kau lakukan padaku? Kau sudah menyentuh tubuhku?”

“Cih, gadis ini.” Myungsoo bangkit dari tempatnya membangunkan Naeun tadi, kemudian ia melangkah menuju dapur apartemen Naeun. Tidak ada sekat yang memisahkan ruang televisi dengan dapur tersebut sehingga Naeun bisa melihat laki-laki itu mengangkat sebuah mangkuk. “Lihat? Aku baru saja memasakkan makanan untukmu. Aku sudah menelpon kakakmu dan mengatakan aku ada di dalam apartemenmu karena kau tadi tertidur di bus. Aku harus menggendongmu dari halte bus sampai ke dalam apartemen ini. Jadi, kau masih ingin curiga denganku?”

Naeun terdiam panjang kemudian ia menggeleng pelan. Ia melirik selimut yang menyelimutinya. “Darimana kau dapat selimut ini?”

Myungsoo menghela nafas. “Dari kamar kakakmu. Dia sendiri yang bilang ambil saja selimut di kamarnya daripada mengambilnya di kamarmu. Dia tahu kau akan mengamuk jika aku masuk ke dalam kamarmu.”

“Tidak. Aku tidak akan marah hanya saja…” Naeun terdiam sebentar memikirkan kata-kata yang tepat untuk melanjutkan kalimatnya tersebut. Namun, ia menggeleng. “Tidak. Aku tidak akan marah karena keadaannya darurat. Kalau keadaannya bukan seperti ini, mungkin aku akan mengamuk.”

“Terserah katamu saja. Sekarang, kau makan. Aku mau pulang,” kata Myungsoo sambil melirik jam tangannya. “Ini jam setengah 7. Kau tidak apa-apa sendirian, bukan?”

“Tentu saja. Oh, ya, kau makan saja di sini.” Naeun bangkit dari sofa tersebut, kemudian melangkah mendekati dapur dan menatap ke arah sup hangat yang baru saja dibuat oleh Myungsoo. “Aku tidak akan menghabiskan ini sendirian dan Dongwoon Oppa pasti sudah makan sebelum dia pulang. Ngomong-ngomong, aku minta maaf dan terima kasih.”

Myungsoo mengangkat alisnya. “Untuk apa minta maaf?”

Naeun menggigit bibir bawahnya. “Aku sudah berpikiran negatif soal tadi.”

“Bukan masalah. Kau pantas melakukan itu karena kau tidak tahu apa-apa. Sekarang kita makan dan setelah itu aku akan pulang. Kau ingat? Kita punya tugas dan aku tidak mau mengerjakannya di sekolah,” katanya sambil melirik Naeun.

YA! Kau memang mau mengerjakan tugasmu atau menyindirku?”

.

.

.

“Naeun-ah!”

“Dia pasti sedang memikirkan sesuatu yang rumit,” komentar Eunji sambil menarik-narik rambut Naeun, namun gadis itu tak kunjung sadar. Sampai akhirnya Bomi pun bernafas di leher Naeun dan membuat gadis itu bergidik lalu tersadar. “Akhirnya dia sadar juga. Kau memang pandai, Bomi­-ya.”

Ya… Kalian ini. Maaf, aku tadi memikirkan Dongwoon oppa.”

Bomi berdecak kagum sambil duduk di salah satu kursi yang ada di dalam kafe tersebut. Begitu pula dengan Naeun, sedangkan Eunji berlalu ke meja kasir dan memesan beberapa makanan juga kopi. “Naeun kita memang selalu perhatian dengan kakaknya. Ngomong-ngomong, bagaimana hukumanmu dengan Myungsoo kemarin? Apa kau menikmatinya? Berdua dengannya membersihkan gudang.”

Naeun mendecak kesal. “Tidak seperti yang kau pikirkan, Yoon Bomi. Kami hanya berbicara biasa saja dan membersihkan gudang tersebut.”

Bomi melotot. “K-kau?! Kau bicara dengannya?” desis Bomi tidak percaya sambil memelankan suaranya. “Kau yakin yang kemarin bekerja denganmu itu Kim Myungsoo yang ada di kelas kita? Kau bicara dengannya? Heol, Son Naeun. Aku jadi merinding.”

Naeun mendesis ke arah Bomi sambil mengerucutkan bibirnya. “Memangnya aku bicara dengan setan? Jelas-jelas kemarin dia pulang dengangku. Ah, kau ini terlalu imajinatif. Mana mungkin aku bicara dengan—”

“Son Naeun.”

“Y—” Naeun mendapati Krystal yang berdiri di sampingnya. “Ya? Ada apa?”

“Bicaralah sebentar denganku.”

 

To be Continued 

July 8, 2015— 06:00 A.M.

::::

a.n.: Halo, maaf, ya! Maaf kalau update-nya lama banget. Maaf. Aku harus selesaikan satu fanfiction dulu dan sempat kena writer’s block gitu. Untung aja langsung dapet ide waktu duduk di kamar mandi, fyi. Jangan lupa komentar, like, rate, dan segala macam feedback lainnya, ya!♥

Advertisements

15 thoughts on “[Chapter 2] Forbidden Love

  1. huhuhu,,akhrny d update jga author nim,,dah lma nunggu klnjutan nie ff krain kga d lnjtin,,thank u for update and than next chap,,jeballl jgn lma2 ya author-nim,,keep writing and fighting and hwaiting,,,^^

    • hehe makasiiih udah nungguin 😦 sipsiiip. soalnya sebelumnya kan aku harus nyelesaiin another cinderella story dulu hehe. siip! makasih udah baca, komentar, dan semangatnyaa! ❤

  2. Akhirnyaaa update lanjutannya. Wuii makin seru ceritanya nih! It’s okay author walaupun lama diupdate bakal dtggu kok asalkan pasti dilanjutin sampe slesai 🙂 “Ah… Benar-benar. Kalau saja “dia tidak mirip dengannya”,….” Hah apaan nih mksud monolog myungsoo yg ini? Jgn2 ada masa lalu myungsoo yg blm terungkap. Penasarannn!!! Keep writing! Semangaat!

  3. Alhamdulillah!!!!! Yuhuyyyy akhkrnya di publish jugaaaa 😀 Aaaaaaa!!!! I love ittttttt!!!! Aku dateng lg eonnie 😀 aku nepatin janji untuk gk jdi silent reader 😀 duhhh myungie nunjukin sikap sayangnya tuhh asekkkk 😀 cucok.. kyknya ntar myungsoo yg ngejar naneun 😀 #soktau-_- ….

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s