My Last (Chapter 8)

my-last_request-by-diani

My Last (Chapter 8)

Written by DkJung

Poster by ettaeminho

Main Casts : [Infinite] Kim Myungsoo | [A Pink] Son Naeun | [Infinite] Lee Sungjong

Support Casts : [Beast] Lee Gikwang | [Girl’s Day] Bang Minah

Genre : Romance | Length : Chaptered | Rated : Teen

>< 

Kim Myungsoo, lelaki tampan yang terlibat cinta segitiga, dimana ia harus memilih antara menjadi lelaki normal atau gay, dengan memilih Son Naeun atau Lee Sungjong.

>< 

Teaser > Chapter 1 > Chapter 2 > Chapter 3 > Chapter 4 > Chapter 5 > Chapter 6 > Chapter 7

>Chapter 8<

“Baiklah, aku akan memberimu jawaban hari ini juga,” ucap Myungsoo dengan misterius.

Jinjja?”

“Hm. Kau mau tahu apa jawabanku?”

Naeun menganggukkan kepalanya dengan begitu antusias. Ia sungguh berharap jawaban Myungsoo sesuai dengan keinginannya.

“Kau siap mendengarnya?” Tanya Myungsoo kesekian kalinya dan dibalas anggukan kepala oleh Naeun untuk kesekian kalinya juga.

“Jawabanku adalah,” Myungsoo menggantungkan ucapannya sambil melangkah maju lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Naeun, lalu melanjutkan, “jangan bermimpi,” lalu kembali melangkah mundur.

Mwo?”

“Kau ingin menjadi kekasihku? Maldo andwae! Jangan bermimpi Son Naeun,” ujar Myungsoo dingin lalu berlalu meninggalkan Naeun di restoran seorang diri.

Nappeun,” gerutu Naeun sambil menatap kepergian Myungsoo.

>><< 

Myungsoo dan kedua orang tuanya tengah makan malam bersama di ruang makan. Akan tetapi, malam itu terlihat berbeda. Ekspresi wajah Tuan dan Nyonya Kim terlihat begitu gembira.

“Myungsoo-ya,” panggil Nyonya Kim. Myungsoo tidak menjawab melainkan hanya menatap mata ibunya.

“Kami akan mengadakan pesta pertunangan antara kau dan Naeun. Eottae?”

Detik itu juga, tepat saat Nyonya Kim menyelesaikan kalimatnya, Myungsoo langsung tersedak makanan yang tengah ia kunyah. Nyonya Kim pun langsung memberikan minum kepada anaknya yang sudah berkaca-kaca itu.

Wae geurae? Makanlah pelan-pelan,” ujar Nyonya Kim.

“Reaksimu berlebihan. Apa Naeun sejelek itu?” Tanya Tuan Kim.

Ne?” Tanya Myungsoo yang tak mengerti.

“Apa Naeun jelek sekali, sampai-sampai kau tersedak begitu mendengar namanya?”

Myungsoo menghela napas mendengar pertanyaan ayahnya yang menurutnya tidak nyambung itu. Ia terlihat berpikir untuk menjawab pertanyaan ayahnya. Ia masih sangat terkejut mendengar ia dan Naeun akan bertunangan, sementara mereka bahkan belum tamat sma. Ya, walaupun ia sudah tamat sma sekalipun, ia tidak mau cepat-cpat bertunangan sebelum menemukan orang yang pas di hatinya. Myungsoo mulai merasa bahwa perjodohan ini sangat berlebihan.

Abeoji, Eomma, aku belum tamat sma, kenapa aku harus bertunangan kenapa tidak tunggu sampai aku lulus? Lagipula, kalaupun aku sudah lulus, aku tidak mau cepat-cepat bertunangan, kenapa jadi berlebihan begini?”

Ya, apanya yang berlebihan? Kami hanya ingin membuat kalian semakin dekat dan semakin terikat dengan adanya pertunangan. Apa itu salah?” Tanya ayahnya.

Myungsoo lagi-lagi menghela napas.

Abeoji, aku rasa tidak harus secepat ini aku dan Naeun bertunangan. Lagipula kami masih dalam tahap… perkenalan, kurasa,” ucap Myungsoo dengan kurang yakin.

Mworagu? Perkenalan? Mana mungkin sudah selama ini kalian baru saja pada tahap perkenalan? Eomma tidak percaya, kalian pasti sudah saling cocok satu sama lain, bukan? Karena itulah, kalian sebaiknya cepat bertunangan.”

Myungsoo semakin bingung harus meladeni perkataan orang tuanya dengan apa lagi. Setiap kali mereka sudah membicarakan tentang perjodohannya dengan Naeun, ia pasti tidak pernah bisa melawan dan berbuat banyak. Jadi kali ini, Myungsoo memutuskan untuk diam saja.

>><<

Kemarahan Sungjong sepertinya semakin menjadi. Ia kini tengah duduk terdiam di tempat tidurnya. Ponselnya tengah ia genggam erat dengan kedua tangannya. Setelah mengetahui Myungsoo menolaknya karena seorang gadis, Sungjong merasa tidak bisa terima. Ia lalu membuka kunci ponselnya dan langsung membuka aplikasi LINE. Ia mengklik akun Myungsoo. Ternyata, semua postingan Myungsoo di LINE dilike oleh Naeun, semuanya, tanpa terkecuali.

“Wah, gadis ini benar-benar,” gumam Sungjong sembari terus menscroll halaman home Myungsoo.

Mengetahui ini semua, rasanya kebencian Sungjong pada Naeun semakin bertambah. Ia sangat membenci Naeun karena telah merebut Myungsoo darinya.

“Awas saja kau Son Naeun, aku akan membuatmu menyesal karena telah merebut Myungsoo dariku!”

>><<

Di saat yang sama, Naeun juga tengah duduk di tempat tidunya sambil memainkan ponselnya. Suasana hatinya memang sedang kurang baik, apalagi setelah Myungsoo menganggap perasaan cintanya itu hanya mimpi belaka dan meninggalkannya sendirian di restoran. Karena merasa kesepian, akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Youngji. Tapi ternyata, ponsel sahabatnya itu tidak aktif. Naeun menghela napas. Ia benar-benar butuh seseorang untuk dijadikan teman curhat. Tiba-tiba saja, Naeun teringat teman sd nya, teman lelaki yang sering bermain bersamanya dan selalu menjadi teman curhatnya. Ya, walaupun kini mereka sudah jarang sekali berkomunikasi, tetapi Naeun tidak pernah melupakannya karena mereka pernah menjadi sahabat dekat.

Naeun pun membuka daftar kontak di ponselnya untuk mencari nama sahabatnya itu. Naeun ingat, terakhir kali ia meminta nomornya ketika lulus smp, mereka bertemu saat liburan sekolah, Naeun berpikir mungkin sahabatnya itu belum mengganti nomornya. Sebenarnya mereka akan bisa bersama-sama terus kalau saja sahabatnya itu tidak pindah ke Daegu ketika lulus sd. Setelah menemukan kontaknya, Naeun pun langsung menghubunginya.

“Son Naeun?” jawab seseorang.

“Lee Sungyeol? Apa benar ini kau?” Tanya Naeun.

Ne, ini aku. Ternyata kau masih menyimpan nomorku? Aku kira kau sudah melupakanku, aku hampir saja sedih,” ujar Sungyeol diiringi tawa.

Ya, mana mungkin aku sejahat itu melupakan sahabat kecilku? Bagaimana kabarmu?”

“Aku baik, kau sendiri?”

“Hm, sebenarnya, aku tidak terlalu baik. Kau tahu? Aku sedang patah hati.”

Mwo? Patah hati? Aish, jangan berbohong padaku, gadis cantik sepertimu mana mungkin patah hati? Lelaki mana yang berani membuatmu patah hati?”

“Iya, anehnya, ada lelaki yang berani menolak pesonaku. Kalau kuceritakan kau pasti tidak akan percaya, tetapi lelaki yang kusuka itu adalah seorang homoseksual!”

Mworaguyo? Apa kau yakin?”

“Aku sangat yakin, aku melihatnya sendiri, dia berpelukan dengan kekasihnya. Oh iya, lelaki yang kusuka itu pindahan dari Daegu, namanya Kim Myungsoo. Sekarang dia menjadi tetanggaku, dan orang tua kami menjodohkan kami.”

“…,” hening, tidak ada jawaban dari Sungyeol.

Ya, Sungyeol-ah, kau mendengarku tidak? Kenapa diam saja?”

Mi–mian, tadi kau bilang siapa?”

“Kim Myungsoo, apa kau mengenalnya?”

“…”

Ya, Lee Sungyeol!”

“Sepertinya, kita perlu bertemu. Ada yang harus kuberitahukan padamu. Penting.”

>><<

Naeun menatap kosong papan tulis kelas sambil duduk di bangkunya. Kelas masih belum terlalu ramai pagi itu. Naeun sangat penasaran, apa yang akan Sungyeol ceritakan padanya. Siang ini, mereka akan bertemu sepulang sekolah di restoran tempat biasa Myungsoo dan Sungjong bertemu. Entah mengapa, Sungyeol sangat terburu-buru untuk meminta Naeun bertemu dengannya. Pastinya, ada hal penting yang akan ia bicarakan.

Ya, Son Naeun!” seru Youngji yang baru datang sambil menepuk kedua bahu Naeun. Otomatis, Naeun terkejut dan langsung memukul tangan Youngji dengan keras.

“Ah! Sakit sekali! Kau mau membunuhku?” keluh Youngji sambil memegangi tangannya yang baru saja dipukul Naeun. Sementara Naeun hanya memasang wajah cemberut lalu kembali meluruskan pandangannya ke arah papan tulis kelas.

Wae geurae? Kau tidak seperti biasanya, apa ada masalah?”

“Kenapa kau mematikan ponselmu tadi malam?” Tanya Naeun tanpa melihat ke Youngji.

“Ah, itu, aku baru saja mengganti baterainya dengan yang baru, lalu aku charge dalam keadaan non aktif, mianhae, apa kau marah?”

Naeun menghela napas lalu menggeleng pelan. “Aniyo.”

Youngji mengerutkan dahinya lalu memutuskan untuk duduk di bangku sebelah Naeun. Ia memperhatikan wajah Naeun lekat-lekat.

“Apa kau sedang ada masalah?” Tanya Youngji.

Aniyo, keunyang, sepertinya kali ini Myungsoo Oppa benar-benar menolakku.”

“Memangnya dia pernah benar-benar menerimamu?” ledek Youngji.

“Aku serius!”

“Apa kau tidak melakukan seperti yang aku sarankan? Jangan-jangan kau terus-menerus mengejarnya, bukannya membuat dia mencintaimu, iya kan? Kalau begitu, kau malah membuatnya semakin menjauh darimu. Aku kan sudah pernah bilang padamu, perempuan itu tidak seharusnya mengejar, mereka lah yang seharusnya dikejar!”

“Kau benar.”

Mwoga?”

“Aku tidak melakukan seperti yang kau sarankan, dan sekarang aku tahu bahwa dia sama sekali tidak mempunyai perasaan sedikitpun terhadapku. Aku harus bagaimana Youngji-ya?”

Aigoo, kau pasti mengemis cinta padanya setiap hari sampai-sampai dia tidak bisa menerimamu sedikitpun, dia pasti merasa ilfeel  terhadapmu, apalagi melihat sikapmu yang seperti itu. Oh iya, aku hampir lupa, apa kau tidak mengunci lokermu? Tadi aku lihat sepertinya sudah terbuka sejak pagi. Apa kau belum mengeceknya?”

Mwo?!”

Mendengar hal itu dari Youngji, Naeun langsung berlaru keluar kelasnya, menuju koridor tempat lokernya berada. Ternyata, lokernya memang tidak tertutup rapat. Dengan tergesa, Naeun membuka lokernya lalu mengecek isinya. Semuanya ada, tidak ada yang berubah. Sementara itu, Youngji baru saja datang setelah berlari menyusul Naeun.

Ya, kenapa kau meninggalkan ponselmu di dalam tas?” Tanya Youngji.

Waeyo?”

“Tadi Gikwang Sunbae tiba-tiba masuk ke kelas dan mengambil ponselmu dari dalam tas.”

Mwo? Kenapa kau biarkan?”

Molla, dia bilang dia mau memasukkan nomor barunya di ponselmu.”

Andwae!”

Naeun pun segera berlari kembali ke kelasnya, namun ternyata Gikwang sudah tidak ada di sana. Ia lalu berlari menaiki tangga menuju koridor kelas 3. Begitu ia tiba di kelas 3-2, ia bisa melihat ponselnya tidak sedang berada di tangan Gikwang, melainkan di tangan teman-teman sekelas Gikwang yeng terlihat tengah menjahili Gikwang.

Ya, berikan ponselnya, itu milik Naeun!” seru Gikwang, namun sepertinya tidak didengar oleh teman-temannya. Sementara itu, teman-teman sekelasnya tampak memasang ekspresi terkejut sambil terus melihat sesuatu di ponsel Naeun.

YA!” teriak Naeun yang membuat sesisi kelas itu melihat dirinya.

“Berikan ponselku!”

“Tunggu, sebentar lagi, kami sedang memposting sesuatu yang menakjubkan!” ujar salah seorang siswa kelas 3-2.

Namun, karena sudah terlalu kesal, Naeun langsung menghampiri kerumunan orang itu lalu merebut paksa ponselnya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat ponselnya sudah log in di website  sekolah. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, yang baru saja mereka posting adalah foto-foto Myungsoo dan Sungjong, baik foto yang Naeun temukan di loker, juga foto-foto yang ia ambil ketika Myungsoo menemui Sungjong. Kini, foto itu sudah dipost di website, seluruh sekolah bisa melihatnya, termasuk Myungsoo.

“Naeun-ah, aku tahu aku salah, tapi bagaimana bisa kau menyukai lelaki gay?” Tanya Gikwang.

Naeun tidak menjawab Gikwang melainkan hanya menatapnya tajam dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.

“Apa nomor baru Oppa begitu penting? Sampai-sampai kau harus membawa ponselku ke kelasmu, dan membiarkan mereka mempost foto-foto ini, huh? Aku membencimu, Oppa! Jangan muncul di hadapanku lagi!” ujar Naeun lalu berlari pergi.

“Naeun-ah!”

>><<

Myungsoo yang baru saja datang ke sekolah itu berjalan santai menuju kelasnya. Awalnya, ia santai, tetapi, setelah melihat seisi kelasnya tengah mengerubungi bangkunya, ia memiringkan kepalanya sambil memicingkan matanya. Apa yang sedang mereka lakukan? Myungsoo pun langsung masuk ke kelasnya. Teman-temannya langsung membubarkan diri begitu tahu Myungsoo sudah datang.

Myungsoo yang masih tidak mengerti hanya diam lalu menghampiri bangkunya. Ia terkejut mengetahui mejanya sudah dicorat-coret. Yang mengejutkan adalah, kata-kata yang tertulis sungguh di luar dugaan. ‘Dasar kau gay, jangan sok tampan!’ ‘berani-beraninya kau masuk ke kelas kami, kau mau mencari ilmu atau mencari pacar?’ ‘jangan sebarkan virus gaymu itu di kelas kami, jangan buat para lelaki di kelas kami menyukaimu!’ ‘jangan dekati kami, kau menakutkan!’ ‘kami bahkan tidak sanggup harus mengikuti ujian akhir denganmu!’

Myungsoo menghela napas berat setelah membaca semua tulisan jahat di mejanya. Ia sempat ingin membela diri di hadapan teman-temannya, tapi ia tahu itu akan sia-sia, lagipula tidak akan ada seorang pun yang mempercayainya. Myungsoo pun memilih untuk tetap diam dan duduk saja dengan tenang di kursinya. Ketika ia mencoba mengingat siapa saja orang yang tahu bahwa dirinya gay, ia langsung tahu siapa yang bisa menyebarkan berita ini. Son Naeun.

>><< 

Myungsoo baru saja akan keluar dari kelasnya ketika tiba-tiba ia disiram dengan seember air dari samping pintu kelas. Seragam Myungsoo basah kuyup sementar ia hanya bisa menutup mata, menahan kesal sambil mengepalkan kedua tangannya.

Mwohaneunggoya?” Tanya Myungsoo pelan pada beberapa orang teman lelakinya yang baru saja menyiramnya.

“Kami hanya tidak suka ada lelaki gay berada di kelas yang sama dengan kami,” jawab salah seorang dari mereka.

Ya, tidakkah kau malu? Apa kau tidak ingin pindah sekolah saja? Kalau aku jadi kau, aku akan pergi sejauh-jauhnya karena terlalu malu untuk menampakkan diriku di hadapan teman-teman,” ujar yang lainnya, lalu mereka tertawa bersama.

“Apa aku harus mendengar nasihat kalian? Apa aku harus menuruti permintaan kalian? Aku rasa tidak. Kalian mungkin berpikir begitu, tapi tidak denganku. Aku tidak akan pindah sekolah hanya karena hal seperti ini, jadi maaf bila keinginan kalian terhadapku tidak terkabul,” ucap Myungsoo lalu pergi meninggalkan teman-temannya.

Myungsoo terus melangkah tanpa peduli beberapa dari temannya itu memanggil namanya. Lagipula, Myungsoo tidak merasa malu, dan ia tidak akan menjadi lemah begitu saja hanya karena hal ini. Tapi tetap saja, orang yang menyebarkan berita ini benar-benar keterlaluan. Ketika Myungsoo melihat Naeun sudah berdiri di hadapannya, ia menghentikan langkah.

Oppa,” gumam Naeun yang terkejut karena melihat Myungsoo basah kuyup.

Mianhaeyo, Oppa,” lanjutnya.

Mwoga? Ah, apa kau merasa bersalah karena telah menyebarkan aibku? Tidak perlu meminta maaf, usahamu berhasil, dan kini tidak ada seorangpun yang mau menemaniku bahkan bersikap baik padaku. Semua orang merasa jijik dan membenciku, semua orang menjauhiku, bahkan teman-teman sekelasku sudah tidak mau menerimaku lagi,” ujar Myungsoo sambil menatap Naeun tajam.

Oppa, mianhae, itu tidak disengaja, itu, bukan aku yang melakukannya–“

“Tentu saja, mana mungkin kau mengakui kesalahanmu begitu saja, iya kan?”

Oppa.”

“Aku tahu, dari awal kau pasti sudah merencanakan ini semua, kan? Kau sendiri yang mengancamku bahwa jika aku tidak mau menjadi pacarmu, kau akan membongkar ini semua. Benar saja, kau melakukannya.”

Aniya…

“Dasar gadis murahan!”

Mwo?”

Ya, apa kau tidak punya harga diri, hingga kau melakukan perbuatan rendah seperti ini? Kau pikir aku akan menyukaimu karena kau telah melakukan ini semua? Aniyo, aku justru semakin muak melihatmu. Kau tahu, kan? Sejak awal, aku sudah tidak suka padamu, sangat tidak suka, dan sekarang, aku jadi sangat membencimu, kau sekarang bisa tahu kan bagaimana perasaanku padamu?”

Oppa, bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Aku sudah bilang bukan aku yang melakukannya! Aku tulus mencintai Oppa, aku tidak mungkin membocorkan aib orang yang kucintai, apa Oppa pikir cinta itu sebuah kesepakatan? Hanya karena kita pernah melakukan kesepakatan? Jangan samakan cinta dan kesepakatan, itu dua hal yang sangat berbeda. Aku memang pernah mengancam Oppa tentang aib ini, tapi aku tidak serius. Tentang kejadian hari ini, sekali lagi aku minta maaf, tapi benar-benar bukan aku yang menyebarkannya. Maaf juga karena selama ini aku mengemis cinta darimu.”

Myungsoo hanya menghela napas lalu kembali berjalan tanpa menghiraukan Naeun, ia bahkan melewati gadis itu sambil menyenggol bahunya dengan keras secara sengaja. Sementara Naeun hanya bisa berdiri diam lalu menangis.

>><<

Naeun berjalan gontai menuju rumahnya dengan mata bengkak yang menatap kosong ke depan. Sungguh, ia tidak menyangka ini semua akan terjadi. Hanya karena kecerobohannya, kini tersebar sudah berita bahwa Myungsoo adalah seorang gay. Ia tak bisa berbuat apa-apa, Myungsoo sudah sangat membencinya. Meminta maaf pun tidak akan ada gunanya lagi. Kini Naeun hanya bisa menerima kenyataan bahwa dirinya dan Myungsoo tidak akan pernah bisa bersatu, selamanya.

Ketika Naeun sampai di depan gerbang rumahnya, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Tertera nama Sungyeol di layar ponselnya. Ia pun langsung teringat bahwa ia punya janji dengan Sungyeol untuk bertemu.

Ne, Sungyeol-ah? Mianhae, aku lupa kita ada janji hari ini. Sesuatu yang buruk baru saja terjadi, jadi tadi aku mencoba mengurusnya dulu,” ujar Naeun lemas.

Gwaenchana. Jigeum eodiya? Kita masih bisa bertemu.”

“Aku ada di depan rumahku.”

“Kalau begitu aku akan ke sana, tunggu aku.”

Arrasseo.”

Naeun lalu mengakhiri panggilan. Jujur, ia semakin penasaran apa yang mau Sungyeol beritahukan padanya, mengingat betapa inginnya Sungyeol menemuinya. Bahkan, ia akan ke rumah Naeun saat ini.

Sambil menunggu Sungyeol tiba di rumahnya, Naeun mengalihkan pandangannya pada rumah Myungsoo lalu melihat ke jendela kamar Myungsoo. Ia lalu menghela napas berat mengingat Myungsoo yang begitu membencinya.

Sepertinya memang sudah tidak ada harapan lagi untukku.

“Son Naeun?”

Naeun sedikit terkejut lalu membalikkan tubuhnya dan mendapati Sungyeol sudah berdiri tegak di belakangnya.

Ya, sejak kapan kau di sini?”

“Kenapa kau melamun?” Tanya Sungyeol.

Naeun hanya menggeleng pelan sambil tersenyum masam. “Kita bicara di dalam saja, ya,” ujar Naeun sembari berjalan memasuki rumah mendahului Sungyeol.

Keduanya pun duduk di ruang tamu berhadapan.

“Apa yang mau kau bicarakan?” Tanya Naeun.

“Ini, tentang masa lalu Myungsoo, aku tidak tahu bagaimana mengakatannya, tapi kau pasti ingin tahu apa penyebab Myungsoo menjadi seorang gay.”

Naeun pun langsung tertarik pada topik pembicaraan yang mulai dibuka oleh Sungyeol.

“Sebenarnya, Myungsoo dulu adalah lelaki normal. Ia benar-benar bahagia setelah memiliki kekasih bernama Park Jiyeon. Dia gadis cantik teman seangkatan kami di sma di Daegu. Dan, Myungsoo berhasil menyatakan cintanya pada Jiyeon ketika kami masih kelas 1. Tapi sayangnya, belum lama mereka berpacaran, sepertinya Myungsoo melakukan kesalahan. Jiyeon hamil saat itu. Aku, yang memang sahabat dekat Myungsoo, juga mengenal Jiyeon, bahkan Jiyeon memberitahukan kehamilannya padaku dulu, sebelum memberitahukannya pada Myungsoo. Sayangnya, respon Myungsoo mengenai kehamilan Jiyeon itu negatif. Ia marah, ia merasa tidak percaya dan akhirnya depresi. Ia menyuruh Jiyeon untuk menggugurkan kandungannya, tapi Jiyeon malah mengancam akan bunuh diri bersama bayinya jika Myungsoo tidak mau bertanggung jawab. Malangnya, Jiyeon benar-benar bunuh diri karena Myungsoo tidak juga menghubunginya. Myungsoo seolah melarikan diri. Dia bahkan absen dari sekolah cukup lama karena kejadian itu. Aku berusaha membujuknya untuk kembali sekolah. Saat itu, ada murid pindahan bernama Lee Sungjong yang akhirnya menjadi sahabat kami juga. Tapi, sepertinya, hubungan antara Sungjong dan Myungsoo menjadi lebih dari sahabat. Aku tidak tahu kapan awalnya, tetapi mereka terlalu sering berdua, kemana-mana dan dimana-mana meraka selalu berdua. Mungkin, mereka sudah berpacaran selama setahun lebih tanpa sepengetahuanku. Mereka berdua sama-sama gagal dalam hubungan. Mungkin, karena depresi, Myungsoo bisa sampai berpacaran dengan Sungjong hingga kini ia benar-benar mencintai Sungjong,” tutur Sungyeol panjang.

Setelah mendengar cerita Sungyeol, Naeun mendadak teringat perkataan Myungsoo ketika kencan pertama mereka di bioskop.

Oppa pasti sudah gila! Bagaimana bisa kau menyukai seorang lelaki? Bagaimana kalian akan punya anak nantinya, huh? Apa Oppa tidak lihat film tadi? Apa yang bisa Oppa lakukan dengan Sungjong? Dia tidak akan memberimu apa-apa!”

“Jangan pernah bicara soal anak di hadapanku, karena kau sama sekali tidak tahu apa-apa. Kau tidak pernah merasakan bagaimana rasanya punya anak! Tidak semua orang bisa bahagia karena adanya anak, kau tahu?!”

>To Be Continued<

maaf karena lama update. maaf untuk typo. mohon beri komentar🙂

Mohon tinggalkan komentar.

18 thoughts on “My Last (Chapter 8)

  1. Akhirnyaaa aku tau alasan myung jdi gay…. Kyaaaa knpa jiyeon bsa hm?? Astaga myung… Uuuu kasihan naeun :(( ayolahh myung bka mata dan hti mu buat naeun /? Kwkwkw next jung mkin daebakk aja nih critaa 👏👏👏👏👏👌👌👌😘😘😘

  2. Eehh iyaa lupa.. Aku kira myung bkal nyium naeun tdi /plak… Hahaha trnya myung ttp aja sinis sma naeun, uuhh naen mkin jleb :(( buat plasbekan myung sma jiyon dong /? Ehh tpi nnti myung mkin jdi depres aahhh

  3. Sumvaah Daebakk thor O.O lanjut yakk?? Pengennya dipart selanjutnya ada adegan myungeun so sweet dehh ^^ hehe
    Kira2 kapan chp selanjutnya???
    #waitYOU

  4. Akhirnya update lagi fanfic fav aku. hehe
    Duh makin pelik aja konflik nya T.T keliatannya sih masih butuh waktu buat Myungsoo jd normal lagi. Pas baca sebab Myung jd gay itu bikin syok bgt:”) Ditambah Myungsoo udah benci Naeun, duh tambah susah aja nih buat naeun dapetin myung. Dtggu lanjutannya soalnya penasaran bgt >< semangat!

  5. yeee,,d update jga akhirny,,wahhh myung d bully nie,,kasian ma naeunny hiks hikss,,
    tpi naeun mash smngat kan tuk ngejar cintany myung,,soalny dah tau tuh napa myung tba2 jdi gay,,fighting naeun yang,,,fighting too auhtor nim,,please don’t be so long for next part author-nim,,gomawoo^^

  6. hai, aku new reader tapi udah baca dari chapter pertama. aku nunggu myungsu gantian ngejar naeun wk btw ngga nyangka myungsu ngehamilin anak orang hiyyy ditunggu kelanjutannya :))

  7. Ini ya ampun omg, jd gitu toh alasan knp myungsoo jd gay ckckck
    Oh ya thor ini kpn bagian myungsoo mulai suka naeun?? Sedih saya ngeliat naeun diginiin -,-

  8. ooh jadi itu alasasannya myungsoo jadi gay, tapi kalo dipikir pikir juga salahnya myungsoo siih, kok bisa nglakuin kaya gituan sampe jiyeon hamil.
    aah bener bener kasihan sama naeun😥 gara gara gikwang niih huuu… ditunggu next chapnya thor😀

  9. Hola.. aku new reader, aku udh bca ff ini dri chap pertama hehe :’D tp maaf bgt thor baru bsa komen skrg :’v
    Next teruuuss….. ff nya keren😀
    KEEP WRITTING!!! Ppaliwa ne, udh kepo nih sama crita slnjutnya*O*

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s