[CHAPTER] IT’S CRAZY #3

itscrazy

( Poster by :HRa@HighSchoolGraphics (thanks ^^)

Author : Park Eun Ji
Main Cast:
Bae Suzy (MISS A)
Kim Myung Soo (INFINITE)
Yook Sung Jae (BTOB)
Yoo Young Jae (B.A.P)
Cameo:
Suprise for you 😉
Genre : Romance, School-life
Rating : PG-13
Disclaimer : All cast belong to God and his/herself 🙂 Plot?Mine! 🙂
Previous :#BREAKUP ~ #CRAZYDAY

CHAPTER 3 #Confused
” Kita sudah bicara tentang ini Junghoon. Kau dan aku sudah berakhir.” Tanpa banyak bicara lagi Sungjae menarik tanganku dan berusaha menjauhi pria itu. Tapi pria bernama Junghoon ini masih saja bersikeras untuk menghalangi Sungjae. Oh, dan aku juga.
” Aku tahu, dia ini cuma kamuflase kan? Kau masih mencintaiku kan?” Junghoon kembali menunjukku untuk yang kedua kalinya. Dia ini kenapa sih? Sekarang malah berkata yang aneh-aneh. Membuatku kesal saja.
Aku melepaskan pegangan tangan Sungjae dan berjalan mendekat menuju Junghoon. Pria itu membalas tatapan tajamku dengan tatapan menantang sambil bertolak pinggang. ” Jangan menunjuk-nunjukku seperti itu, orang aneh. Aku dan Sungjae-”
Junghoon langsung melotot padaku. Dia kembali menunjukku. dengan gaya yang menyebalkan.  “Apa katamu? Orang aneh?”
Aku hendak menyahuti ucapan Junghoon ketika Sungjae menarikku ke belakangnya dan mendekati Junghoon. Pria menyebalkan itu menurunkan jari telunjuknya dari hadapan Sungjae dan menatapnya dengan berbinar-binar.” Hentikan pikiran bodohmu Junghoon. Aku sudah tidak peduli lagi. Sebaiknya kau pergi atau akan kulaporkan ke polisi karena terlalu mengganggu.”
Junghoon tersentak. Pria berambut blonde bergelombang itu menekap mulutnya, matanya sudah berkaca-kaca. Kurasa air matanya akan jatuh beberapa detik lagi. ” Kau tega sekali padaku. ” Itu kata-kata terakhir yang ia ucapkan sebelum pergi dengan gaya yang dramatis seperti di opera sabun. Astaga, aku tidak menyangka akan bertatap muka langsung dengan orang tidak normal seperti itu.
Desahan putus asa Sungjae membuat perhatianku teralih padanya. ” Maafkan aku karena telah melibatkanmu.”
” Jadi kau ini…” Aku tidak tega melanjutkannya jadi aku tidak menyelesaikan perkatanku dan menatap Sungjae.
” Yah kau sudah bisa menyimpulkannya sendiri bukan?” Sungjae balik bertanya, menampilkan senyuman tipis yang menyedihkan.

Sungjae adalah seorang homoseksual. Kata-kata itu agak aneh jika disandingkan ke Sungjae. Masalahnya, dia tidak seperti seorang gay. Dengan tubuh tinggi dan rambut hitam yang membuat wajahnya semakin menarik pasti tidak ada orang yang percaya kalau Sungjae seperti ‘itu’. Bahkan, aku saja yang sudah melihat bukti kuatnya masih tidak percaya sampai detik ini.

” Tidak apa-apa jika kau mau menjauhiku sekarang. Aku tidak akan marah ataupun tersinggung karena aku sudah terbiasa.” Suara Sungjae yang muram memecah lamunanku.
Aku langsung menggeleng sambil mengibaskan tanganku. Sepertinya Sungjae salah paham denganku karena melihat ekspresiku. ” Tidak, bukan begitu maksudku. Kau tahu? Aku hanya terkejut saja. Kau tidak tampak seperti seorang gay.”
” Yah tapi beginilah kenyataannya. Aku gay. ” Sungjae menatapku nanar, tapi selanjutnya ia berkata dengan cepat ” Tapi sekarang sudah tidak. Aku ingin berubah.”
Wow, dia berkata ingin berubah. Kupikir dia akan mencari lelaki lain setelah putus dari Junghoon. ” ‘aku ingin berubah’, hanya tiga kata tapi memiliki arti yang banyak jika kau bersungguh-sungguh untuk melakukannya. Bagus, aku akan mendukungmu.” Kuberikan sebuah senyum kecil untuk Sungjae.
” Kau tidak malu atau jijik jika berdekatan denganku?” Sungjae bertanya dengan nada seperti anak 5 tahun yang bertanya kenapa ia harus makan sayuran. Aku tersenyum melihat ekspresi polos yang ditampilkan Sungjae.
” Memangnya aku punya alasan untuk bersikap seperti itu?” Aku berjalan sementara Sungjae mengikutiku. ” Tentu saja punya. Aku ini kan..yah kau tahu aku seperti apa kan?”
” Bagiku itu bukan masalah. Kau ini kan bukan kriminal atau bandar narkoba jadi aku tidak masalah jika berteman denganmu. ” Gurauku. Sungjae tidak tertawa mendengar gurauanku, yah aku tahu gurauanku itu tidak lucu.
” Terima kasih Suzy.” Sungjae berkata pelan lalu berhenti di pagar pembatas jalan dan memandang beberapa mobil yang lewat. Lampu jalanan menyinari rambut hitamnya dan pandangannya terlihat menerawang.
Aku hanya berdiri di samping Sungjae sambil memandangi jalanan yang agak lengang. Jalanan ini hanya diisi pohon-pohon di sisi jalan, bangku umum yang terlihat letih, toko-toko yang hampir tutup dan orang-orang yang sibuk dengan urusan masing-masing.
” Aku akan memberi pengaruh buruk bagi Seorin karena sifatku ini. Kurasa-”
” Ah! Seorin! ” Aku menepuk dahiku, teringat dengan Seorin yang sendirian di rumah. Walaupun sedang tertidur tapi tetap saja aku khawatir. Aku takut jika ia terbangun dan menangis begitu mengetahui aku tidak ada di rumah.
” Ada apa dengan Seorin?” Sungjae terlihat khawatir, tapi aku tidak punya waktu untuk memedulikannya.
” Ah bukan apa-apa hanya masalah kecil. Kalau begitu aku pergi dulu. ” Aku membalikkan badanku dan segera bergegas untuk kembali ke rumah. Tapi, tudung jaketku ditarik oleh Sungjae sehingga aku kembali menghadapnya.
” Kalau begitu sampai bertemu di sekolah.” Sungjae tersenyum lebar, sementara aku hanya menganggu singkat lalu segera pergi. Apakah ia lupa kalau besok hari Minggu?Semua sekolah diliburkan. Termasuk sekolah Seorin. Aku hanya mengangkat bahu dengan wajah datar lalu segera kembali ke rumah.

IT’S CRAZY

Ponselku berbunyi ketika aku sedang mengambil daging sapi di supermarket. Ternyata ibuku yang menelepon. Aku menghentikan laju troliku.
” Halo, Ibu.” Aku mengangkat telepon dan melihat Seorin yang sedang kutuntun menatapku dengan semangat. Ia pasti juga ingin bicara dengan Ibu.
” Kau baik-baik saja? Bagaimana dengan Seorin? Kalian tidur dengan cukup kan? Kau sudah membeli-”
” Ibu, tenang.” Aku memotong rentetan pertanyaan Ibu. Ibuku memang cepat panik jika harus meninggalkan kami berdua seperti ini. Apalagi tanpa Ayah.
” Semuanya baik-baik saja. Ibu tak perlu khawatir, oke?” Aku meyakinkan Ibu, yang dibalas dengan helaan napas lega.
” Fokus saja pada pekerjaan Ibu, istirahat yang cukup dan jangan terlalu memaksakan diri Ibu. ” Aku menasihati Ibu. Ibuku terkadang sangat pekerja keras, kadang-kadang ia membawa pekerjaannya ke rumah dan bekerja sampai dini hari. Aku tidak mau Ibu sakit karena kelelahan.
Ibu tertawa, ” Baik anak manis. Sekarang Ibu mau bicara dengan Seorin, tolong berikan ponselmu pada Seorin ya?”
” Ini, Ibu mau bicara padamu. ” Aku memberikan ponselku kepada Seorin yang sangat gembira karena bisa bicara pada Ibunya. Sementara aku melanjutkan aktivitasku, kali ini aku mengambil buah-buahan yang terletak tidak jauh dari daging. Saat aku hendak mengambil buah apel, seseorang mencolek bahuku.
” Kak Seolhyun!” Seorin yang ternyata sudah selesai menelepon melompat girang melihat Seolhyun. Seolhyun mengacak rambut Seorin setelah sebelumnya ia memberiku cengiran lebar.
” Kau lagi.” Aku memasukkan apel ke troliku yang setengah penuh. Lalu memutuskan untuk pergi ke kasir.
” Hei, kau tidak senang ya bertemu denganku lagi?” Seolhyun memainkan alisnya dan membuatku mengernyit.
” Kau hanya membeli itu?” Aku melirik tangan Seolhyun yang hanya membawa sekotak permen untuk dibayar.
” Enak saja, ini permen limited edition tahu. Aku sudah mencarinya kemana-mana. Untung saja aku menemukannya di sini. Aku hampir putus asa karena tidak-”
” Oke aku mengerti, Sini. ” Aku tidak mau ambil pusing tentang permen-limited-edition. Tanganku meraih permen itu setelah menurunkan semua barangku di troli. Seolhyun tidak bisa menghindar karena  tangannya sibuk menggendong Seorin.

Kami keluar dari supermarket dan menuju halte bis. Selama menunggu bis, aku hanya memandang kosong kendaraan yang berlalu lalang dan sesekali melihat bis yang datang. Sementara Seorin dan Seolhyun sibuk bicara mengenai teman sekelasnya yang selalu menangis dimanapun.
Bis berwarna kuning berhenti di hadapanku. Itu bukan bisku ataupun Seolhyun jadi kami masih santai saja. Aku iseng melihat ke dalam bis dan menemukan Sungjae yang tengah terantuk kaca jendela di sampingnya.

” Ouch.” Aku meringis, pasti Sungjae merasa sakit. Suara rintihannya terdengar cukup keras. Ia lalu menengok ke sekelilingnya dengan tampang bingung dan mengantuk lalu air mukanya berubah panik. Ia segera turun dari bis dan bertemu dengan kami.
” Ini gawat sekali! Dimana aku sekarang?” Lelaki berperawakan tinggi itu mengacak rambutnya frustrasi dan memandang sekeliling.
” Kak Sungjae! ” Seorin tiba-tiba turun dari tempat duduknya dan menghampiri Sungjae dengan langkah kecilnya.
” Oh, Seorin kau sendirian?” Sungjae mengelus kepala Seorin sambil menguap.
” Tidak, aku bersama kak Suzy dan kak Seolhyun.” Seorin menarik tangan Sungjae sambil menunjuk kami berdua. Sungjae menampilkan senyuman lebar padaku dan Seolhyun. Lesung pipinya terlihat dengan jelas.
” Aku tertidur di bis lalu tersasar sampai ke sini. ” Jelas Sungjae singkat.
Bersamaan dengan itu, datang sebuah bis berwarna hijau. Kedatangan bis itu membuat Sungjae tersentak. ” Ah syukurlah bisnya cepat datang, kalau begitu sampai jumpa Seorin, Suzy dan-”
” Seolhyun.”  Aku menyebut nama Seolhyun karena ia tak kunjung bereaksi.
” Iya Seohyun. ” Sungjae bergegas masuk ke dalam bis yang sarat penumpang itu. Ia terlihat sangat terburu-buru sampai salah menyebutkan nama Seolhyun.
” Kak Sungjae seperti dikejar penagih hutang. ” Seorin berkomentar sambil memandang bus Sungjae yang menjauh.
” Hei, kau tidak apa-apa?” Aku bertanya kepada Seolhyun yang masih mematung. Dia menggeleng, masih dengan mata melebar dan mulut setengah terbuka.
” Dia, tampan sekali. Wajahnya sangat cocok untuk artis sebuah agensi.” Seolhyun mulai tersenyum dengan tatapan memuja. Kemudian ia tersenyum lebar sekali padaku dan matanya berbinar-binar. ” Tapi tunggu, sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat.”
” Benarkah?Dimana?” Aku bertanya dengan penasaran.
” Aku lupa.” Seolhyun berkata singkat sambil mengangkat bahu. Selanjutnya ia memegang tanganku dan menepuk-nepuknya.” Kau sangat cocok dengannya.”
” Astaga, cuaca panas ini sepertinya membuat isi otakmu meleleh. Semakin lama disini membuatmu jadi semakin ngawur.” Aku tertawa mendengar perkataan Seolhyun dan memilih untuk tidak ambil pusing dengan perkataannya.

Tunggu? Apa benar aku cocok dengannya? Harus kuakui, perkataan Ahjumma di sekolah Seorin dan perkataan Seolhyun benar. Dia bisa menjadi artis di agensi besar kalau dia mau. Dengan wajah tampannya pasti akan mudah.

Apa? Kenapa aku merasa aku mulai tertarik pada Sungjae? Ini tidak bagus. Tidak mungkin aku berpaling secepat itu bukan?

dan kenapa aku jadi ambil pusing perkataan Seolhyun? Sepertinya panasnya udara musim panas juga mempengaruhi otakku.

” Sudah saatnya kau melupakan Myungsoo.” Seolhyun melepas pegangannya padaku dan tersenyum padaku.
” Aku sudah melupakannya!” Aku berkata dengan agak keras, Seolhyun terkekeh melihat tingkahku. Memangnya aku lucu?
” Kau belum melupakannya. Sorot matamu menunjukkan kebenarannya. ” Seolhyun berkata dengan serius.
Aku terdiam, Seolhyun benar. Aku selalu mengingat Myungsoo, sebenci apapun aku terhadapnya. Myungsoo sebenarnya orang yang baik, hanya saja aku tidak bisa menerima kenapa ia berselingkuh. Cara itu sangat tidak sesuai dengan Myungsoo yang selalu memikirkan segalanya sebelum bertindak.
” Kau harus membuka hatimu untuk orang lain. ” Ucap Seolhyun sebelum bangkit dan naik ke dalam bis.
Aku meresapi kata-kata Seolhyun. Tidak mungkin rasanya aku bisa membuka hatiku untuk orang lain, aku tidak mau tersakiti untuk yang kedua kalinya.

IT’S CRAZY

Aku menguap lebar sambil menyusuri koridor kelas yang masih sangat sepi. Tadi aku begitu kaget melihat jam dinding yang sudah menunjukkan angka 7.45 . Jadi aku bergegas pergi ke sekolah, tanpa mandi,tanpa sarapan. Saat aku pergi, Ibuku yang sudah pulang dari tugas dinasnya tidak ada. Aku kira ia sudah pergi dan mengantar Seorin. Jadi aku pergi begitu saja. Saat Ibu menelepon dan bertanya kenapa aku pergi pagi sekali baru aku menyadari bahwa jam di kamarku sudah habis baterainya sejak kemarin dan aku datang terlalu pagi di sekolah. Akan kuganti baterai di jam dinding kamarku secepatnya.
” Hei, kau menyukai Suzy bukan?” Saat aku ingin membuka pintu kelas, terdengar suara rendah Seolhyun. Aku segera melipir ke samping pintu agar ia tidak melihatku.
” Apa?” Suara bingung Youngjae terdengar.
” Aku kebetulan lewat dan melihat kalian berdua di taman tempo hari. ” Nada mengintrogasi Seolhyun terdengar kembali.
” Aku hanya menghibur Suzy, tidak lebih. Kau kan tahu tipeku seperti apa. Suzy bukan tipeku.” Youngjae berkata santai. Aku lega sekali Youngjae tidak ada perasaan apa-apa padaku. Tidak bisa kubayangkan jika Youngjae tertarik padaku yang merupakan sahabatnya sejak SMP. Itu klise sekali. Tipe wanita ideal Youngjae itu wanita yang anggun dan dewasa, aku jauh sekali dari kategori itu. Itu sama sekali bukan karakterku.
Kubuka pintu kelas dengan berisik, membuat mereka berdua tersentak kaget. Aku merentangkan tangan sambil tersenyum. ” Kejutan! Tidak biasanya kan aku datang sepagi ini?”
” Ha…halo Suzy. Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Sungjae?” Seolhyun menggamit lenganku dan mengantarku sampai ke bangkuku. Dalam hati aku tertawa melihat kegugupan Seolhyun. Seolhyun saat gugup sangat lucu, wajahnya akan terlihat sedikit pucat dan ia akan memainkan ujung baju seragamnya untuk membuat diriya lebih tenang.
Youngjae duduk di bangku di depanku dan duduk menghadapku tanpa membalik bangkunya. Ia bersikap biasa saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa. ” Sungjae?”
” Iya, dia guru di sekolah Seorin.” Aku memberi penjelasan kepada Youngjae. Youngjae sedikit mengangkat alisnya, terlihat masih bingung.
” Kau berpacaran dengan seorang guru? ” Youngjae sepertinya mengira aku berpacaran dengan seorang guru yang usianya dua kali lipat dari usiaku karena sekarang dia menatapku dengan tatapan tidak percaya.
” Kau tahu, dia terlihat seumuran dengan kita.” Seolhyun yang sudah tidak gugup lagi berkomentar.
” Itu tidak penting, aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Lagipula dia itu…” Aku menghentikan ucapanku begitu menyadari aku akan mengatakan rahasia Sungjae. Seolhyun dan Youngjae menatapku untuk menunggu perkataanku.
” Dia guru Seorin dan akan aneh rasanya bila kau memiliki hubungan khusus dengannya.” Youngjae melanjutkan perkataanku. Seperti biasa, ia selalu membuat kesimpulan yang tepat. Oke, tidak sepenuhnya tepat. Tapi setidaknya itu mampu membuat topik ini berakhir.
” Hei omong-omong kalung norak itu sudah kau buang?” Seolhyun menyadari aku yang sudah tidak memakai kalung Myungsoo.
Aku mengangkat bahu. ” Youngjae yang membuangnya. ”
Seolhyun bertepuk tangan sambil memandang Youngjae dengan kagum, sementara Youngjae menampilkan senyum tipis sambil mengangkat sedikit alisnya. Seolah-olah bangga dengan perbuatannya.
” Remember remember remember~ ” Sebuah suara terdengar bersamaan dengan pintu kelas yang terbuka perlahan. Joohyuk melambaikan tangan sambil tersenyum singkat begitu melihat kami dan kembali bersenandung pelan mengikuti lagu A Pink yang sedang diputar di headset putihnya.
Seolhyun kembali memainkan ujung seragamnya dan bangkit berdiri dengan tidak santai. Wajahnya terlihat merona. ” A..aku harus ke toilet! Sampai jumpa.” Ia berkata dengan suara yang agak keras kemudian segera berlari keluar kelas.
” Sepertinya teman kita itu menyukai Joohyuk.” Aku tersenyum melihat tingkah Seolhyun dan menatap Joohyuk yang sedang menonton video klip di ponselnya dengan tatapan memuja. Tampak tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Aku berani bertaruh, jika ada kebakaran atau bumi terbelah dua sekalipun Joohyuk tidak akan bergerak 1 milimeter pun dari tempat duduknya.
” Jika itu benar, aku turut prihatin dengan Seolhyun.” Youngjae berkata dengan datar. Aku setuju dengannya. Joohyuk yang seorang Pink Panda akut tentu tidak akan menyadari perasaan Seolhyun. Ia lebih peduli pada tingkah imut Chorong dan kawan-kawannya daripada pada Seolhyun.

IT’S CRAZY

Aku membaringkan diri di rumput halaman belakang sekolah dan memandang langit biru yang berawan. Setelah jam olahraga tadi, seharusnya aku mengikuti klub memasak. Namun, karena ruangannya sedang diperbaiki jadi aku memutuskan untuk ke sini.

Memandang langit adalah sesuatu yang menyenangkan. Pikiranku terasa lebih ringan ketika memandang langit biru yang dihiasi awan putih yang lembut serta burung-burung yang sesekali terbang melintas. Jika beruntung, sebuah pesawat akan melintas dan terlihat seperti sebuah pesawat mainan karena ukurannya sangat kecil karena jarak yang sangat jauh. Jika semua hal itu disatukan, akan menjadi pemandangan yang sangat menarik. Namun kali ini, hanya awan tipis yang menghiasi langit yang berwarna kebiruan tanpa ada matahari. Aku memejamkan mata, mulai menyerah atas rasa kantuk yang datang mendadak.

Tap tap tap

Langkah kaki terdengar mendekat ke arahku. Tapi aku tidak terlalu peduli, paling itu hanya petugas kebersihan sekolah. Kemudian aku merasakan sesuatu ditaburkan di wajahku diikuti dengan bau khas yang samar. Aku membuka mata dan segera bangkit dari tidur untuk membersihkan rumput kering di wajahku. Siapa sih yang iseng menaruh rumput di wajahku?

” Annyeong.”
Aku menengok dan menemukan Sungjae sedang duduk di sampingku sambil tersenyum lebar. Aku terlalu sibuk dengan rumput sampai aku tidak menyadari keberadaanya.
” Oh kau rupanya. ” Aku berkata santai lalu detik berikutnya aku tersadar. ” KAU?”
Sungjae mengernyit mendengar suaraku yang agak keras. Ia memakai seragam sekolahku, berarti ia satu sekolah denganku?
” Sudah kubilang kan kita akan bertemu di sekolah?” Sungjae menyeringai sambil membersihkan sisa rumput yang tertinggal di poniku dengan sekali gerakan kasual. Aku teringat dengan perkataan ambigunya. Kupikir aku akan bertemu dengannya di sekolah Seorin, ternyata malah di sekolahku.
” Perkataanmu itu menjebak sekali ya.” Aku kembali membaringkan badanku di atas rumput. Kebetulan sekali, sebuah pesawat lewat di langit. Aku menatap pesawat itu sampai menghilang dengan kagum.
” Sepertinya kau suka sekali dengan pesawat terbang.” Sungjae ternyata mengamatiku dari tadi. Ia sudah ikut berbaring di sampingku.
” Keinginanku sejak kecil adalah menaiki pesawat terbang. ” Selama ini, aku hanya berpergian dengan menggunakan kereta. Orang tuaku sangat sibuk untuk bekerja sehingga tidak bisa pergi ke tempat yang jauh.
” Aku ingin menjelajah dunia, bertemu dengan banyak orang dan mempelajari bahasa di setiap negara yang kukunjungi.” Aku menceritakan keinginan terpendamku dengan semangat. Dulu, saat aku masih SD aku memiliki tetangga yang suka berkeliling dunia. Setiap malam natal, ia selalu pulang dan kami sekeluarga berkumpul di rumahnya untuk mendengarkan pengalamannya yang beragam. Setiap kata yang ia ucapkan membuatku semakin penasaran dan ingin mengunjungi tempat itu langsung. Ia selalu bercerita dengan mata yang berkilat-kilat cerdas. Aku ingin seperti dirinya, memiliki pengetahuan luas dengan cara yang unik, yaitu dengan berkeliling dunia.
” Wah, sepertinya menarik.” Dari sudut mata, aku merasakan Sungjae menatapku dengan penuh minat. Seolah-olah ia tertarik dengan apa yang kubicarakan.
” Sangat.” Aku tersenyum memandang awan besar yang bergerak pelan. Mengisi ruang yang sangat luas di langit.
” Omong-omong, kenapa aku tidak pernah melihatmu?” Aku baru pertama kali melihat Sungjae di sekolah ini. Apakah ia murid baru?
Sungjae terkekeh pelan mendengar pertanyaanku. ” Yah aku bukan tipe orang yang populer. Aku lebih suka menghabiskan waktuku di sini atau bermain tenis meja. ”
Ruangan untuk bermain tenis meja berada di sudut sekolah. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mengetahuinya. Aku mengetahui hal ini dari Youngjae, yang suka bermain di sana. Pantas saja Sungjae berada di sini, ruangan itu juga tengah di renovasi karena sudah lama tidak diperbaiki.
” Lagipula sepertinya kelas kita berjauhan. Aku kelas 3-5, kau kelas 3-1 bukan?” Sungjae balik melontarkan pertanyaan padaku. Aku mengangguk, kelas kami saja berada di pertama dan terakhir. Ini yang membuat kami semakin jarang bertemu.
” Lalu, bagaimana bisa kau menjadi guru? Hei, itu milikku!” Aku bangkit dan berseru melihat Sungjae yang seenaknya saja mengambil susu rasa pisang yang kuletakkan di sampingku. Aku berencana akan meminumnya nanti.
Sungjae tertawa melihat ekspresi tidak rela yang aku pasang. “Aku cuma guru magang di sana. Hutang kimbab yang waktu itu lunas sekarang. Kau mengambil kesukaanku, aku mengambil kesukaanmu.”
Aku memasang tampang cemberut. Sungjae tertawa melihat ekspresiku. ” Kau jadi semakin lucu dengan wajah cemberutmu itu.”
Tiba-tiba ponselku bergetar, tanpa melihat siapa yang menelepon aku mengangkatnya. ” Yoboseyo?”
” Suzy, tolong jangan dimatikan dulu. Bisakah kita bertemu di akhir minggu ini?”
Myungsoo. Aku sangat menyesal kenapa tidak melihat siapa yang menelepon. Kalau aku tahu itu dia aku tidak akan mengangkatnya.
” Aku harus bekerja part-time. ” Aku menolak secara tidak langsung. Yah sebenarnya aku belum mengambil pekerjaan. Tapi aku berbohong, aku sudah benar-benar tidak ingin menemuinya.
” Akan kutunggu sampai kau selesai. Aku ingin membicarakan hubungan kita lagi.” Myungsoo berkata dengan sungguh-sungguh.
” Kita sudah bicara kemarin dan bagiku semuanya selesai. Kau dan aku putus.” Aku menekankan kata terakhir agar ia mengerti. Kenapa dia keras kepala sekali? Tidak cukupkah ia sudah menyakitiku sekali?
” Myungsoo, cepat! Pejabat itu sudah keluar!” Terdengar suara teriakan seseorang. Ia sedang bertugas rupanya.
” Aku akan menunggu di tempat pertama kali kita bertemu dari jam 10 pagi. Tolong datanglah.” Myungsoo berkata dengan cepat lalu sambungan terputus.
” Aku tidak akan datang.” Aku bergumam kesal lalu memasukkan hpku ke dalam saku rok dengan kesal. Biarkan saja dia menunggu seharian, dulu aku juga sering menunggunya tanpa kepastian.
Aku berjalan menuju kantin, kurasa segelas jus bisa meredakan kemarahanku.

Sebenarnya aku marah karena aku takut, takut jika aku berhadapan dengan Myungsoo secara langsung. Jika itu terjadi, perasaanku pada Myungsoo bisa kembali muncul. Ya aku tahu dia telah mengkhianatiku tapi sekarang perasaanku tengah bimbang. Antara ingin membenci Myungsoo, bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apapun, atau malah kembali padanya.

Tiba-tiba, ada yang menarik tanganku. Aku menengok dan menemukan Sungjae tengah tersenyum padaku. Gara-gara Myungsoo, aku jadi lupa dengan keberadaannya. ” Sebagai ungkapan terima kasih karena kau tidak menjauhiku, aku akan menraktirmu segelas jus di kantin.”

Aku tersenyum penuh arti, Sungjae benar-benar tahu apa yang kuinginkan.

-TBC-

A/N : Halo ^^ Maaf ya aku kembali menghilang selama hampir sebulan x( Kuliah dan Writer’s block benar-benar menghambat otakku untuk menulis cerita ini x( Mungkin chapter selanjutnya aku update agak lama. Tapi akan kuusahakan diupdate seminggu/dua minggu sekali. Maaf kalau chapter ini kurang seru dan mungkin banyak typo ._.v Have a great weekend and Happy Sunday everyone ^^ *BOW*

One thought on “[CHAPTER] IT’S CRAZY #3

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s