[CHAPTER] IT’S CRAZY #4

( Poster by :HRa@HighSchoolGraphics (thanks ^^)

Author : Park Eun Ji
Main Cast:
Bae Suzy (MISS A)
Kim Myung Soo (INFINITE)
Yook Sung Jae (BTOB)
Yoo Young Jae (B.A.P)
Cameo:
Suprise for you 😉
Genre : Romance, School-life
Rating : PG-13
Disclaimer : All cast belong to God and his/herself 🙂 Plot?Mine! 🙂
Previous :#BREAKUP ~ #CRAZYDAY ~ #CONFUSED

CHAPTER 4 #ESPERANZA

Harapanku ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Begitu sampai di kantin, satu gelas terakhir jus kiwi kesukaanku baru saja dibawa oleh seseorang. Bahuku langsung lemas melihatnya. Akhirnya aku terpaksa membeli minuman ringan di mesin penjual minuman. Sungjae sempat bersikeras untuk membayariku tapi aku tidak mau. Akhirnya ia mengalah dan kami sekarang duduk berhadapan di sebuah meja di tengah kantin.

” Wajahmu terlihat sangat buruk setelah menerima telepon itu.” Sungjae berkomentar dengan mulut penuh, ia baru saja memasukkan satu sendok penuh nasi kari ke dalam mulutnya. Pemuda ini juga membelikanku tapi aku hanya memandangnya tanpa selera. Aku sudah bilang aku tidak mau makan, tapi Sungjae tetap saja membelikanku.
” Jangan bicara dengan mulut penuh. Nasimu bisa keluar mengenaiku.” Aku menatap Sungjae setengah jijik karena ada beberapa butir nasi yang hampir keluar dari mulutnya.
” Oke-oke.” Sungjae menelan makanannya lalu meminum lemonadenya. Ia menaruh sendoknya dan menatapku sungguh-sungguh. ” Mau cerita padaku?”
Aku tidak menjawab pertanyaan Sungjae. Masalahnya, ini urusan pribadiku. Aku tidak nyaman jika harus menceritakannya kepada orang yang baru kukenal. Baiklah, aku menceritakan urusan pribadiku padanya tempo hari saat di minimarket. Tapi saat itu aku merasa sangat sesak dan membutuhkan seseorang untuk meredakannya. Sekarang, aku merasa biasa saja. Aku sudah bisa berpikir lebih jernih.
” Baiklah, kau tidak perlu cerita jika merasa tidak nyaman.” Sungjae mulai kembali makan dengan lahap. ” Maaf, tadi aku mendengar sedikit percakapanmu di telepon tadi -karena aku ada di dekatmu. Tapi kusarankan kau lebih baik tidak usah bertemu dengan mantan pacarmu. Jangan jatuh ke lubang yang sama dua kali.”

Walaupun aku sudah mengatakan tidak akan menemuinya, tapi sebenarnya aku ingin menemuinya. Aku ingin memberikannya sedikit kesempatan untuk menjelaskan kenapa ia berpaling dariku.

Rindu. Kata itu lebih tepat rasanya. Sudah lama aku tidak berjumpa dengan Myungsoo. Aku penasaran apakah ia masih berbau parfum maskulin dengan sedikit wangi manis. Aku penasaran apakah ia masih tidak bisa memfokuskan pandangannya jika ia sedang gugup. Aku penasaran apakah ia masih sama seperti Myungsoo yang kukenal.

Tidak boleh. Aku tidak boleh seperti ini. Aku cuma ingin bertemunya dan cepat-cepat menyelesaikan masalah ini dan melanjutkan hidup tanpanya.

” Ah mau gila rasanya!” Aku berseru frustasi karena kepalaku terasa mau pecah. Permasalahan ini lebih rumit dari sebuah Puzzle berjumlah 3000 keping. Kuraih sendok lalu memakan nasi kariku dengan lahap. Lebih baik aku makan saja daripada menjadi gila.
” Coba lihat siapa yang berkata tidak mau makan tadi.” Terdengar celetukan Sungjae. Namun aku tidak peduli. Lebih baik aku makan daripada frustasi.

Bzzz.
Ponselku bergetar ketika aku hampir tertidur karena penjelasan Jang sonsaengnim. Dia membaca seluruh isi tentang zaman peradaban manusia dari buku cetak. Setiap kalimat yang ia lontarkan sama persis dengan buku cetak, tidak kurang tidak lebih. Aku mengeluarkan ponsel dan menyembunyikannya di bawah meja.

Aku bisa menebak apa yang kau rasakan saat ini. Kau pasti ingin segera bertemu dengan kasur bukan?

Aku tersenyum samar membaca pesan Sungjae yang tepat sasaran. Tadi saat di kantin Sungjae memaksa untuk meminta ID Lineku. Katanya ia ingin memperbanyak kontak di Linenya. Biarlah, aku tidak peduli dengan hal itu.

Setelah mengetikkan pesan balasan untuk Sungjae, aku memasukkan ponselku ke saku. Aku mengangkat kepala dan menemukan Youngjae tengah mengamatiku dengan mata menyipit. Ia berkata tanpa suara. “Myungsoo?”
Aku langsung menggeleng dan menjawab dengan gerakan bibir. ” Sungjae.”
Youngjae terlihat sangat terkejut, “Aku ingin bicara nanti.” Pria berambut kecoklatan itu berkata tanpa suara kemudian membalikkan badannya karena kini Jang sonsaengnim tengah menjelaskan sambil berkeliling. Mengapa ia sangat terkejut? Apa ia tahu kalau Sungjae…Ah aku tidak tega mengatakannya.

” Bisa kita bicara empat mata?”
Saat ini bel pulang baru berbunyi nyaring. Semua murid bersorak senang seperti mendengar sebuah konser idolanya. Di tengah keramaian itu Youngjae tiba-tiba menghampiriku dan berkata dengan raut wajah serius. Biasanya ia tidak pernah minta untuk bicara berdua denganku, kami selalu bicara bertiga dengan Seolhyun.
” Hei raut wajah kalian kaku sekali. Kenapa?” Seolhyun menghampiri kami dengan raut wajah ceria. Sepertinya ia lega sekali karena pelajaran Jang sonsaengnim berakhir.
” Seolhyun, kau bisa pulang duluan? Aku ingin bicara dengan Suzy, berdua saja.” Youngjae berkata dengan wajah kaku. Sementara senyuman Seolhyun menghilang, wajahnya tampak sedikit kecewa karena ia tidak dilibatkan.
” Ma-”
” Baiklah. Lagipula otakku yang sederhana ini tidak sedang ingin diajak untuk berpikir keras.”  Seolhyun berkata dengan riang. Entah untuk menghiburku yang merasa bersalah atau ia menghibur dirinya sendiri. ” Sampai jumpa.” Ia melambaikan tangannya dengan semangat kemudian segera berlari untuk bergabung dengan Minah dan teman-temannya.
” Kita bicara disini saja, setelah kelas sepi.” Aku memberitahu Youngjae, ia mengangguk singkat kemudian duduk tenang di bangkunya sambil membaca sebuah buku. Sementara aku yang bingung harus berbuat apa selama menunggu kelas sepi akhirnya berjalan ke lokerku dan memasukkan buku-bukuku.

Sebenarnya apa yang ingin Youngjae bicarakan? Sungjae dan Youngjae berada di klub yang sama. Berarti apakah Youngjae tahu bahwa Sungjae seperti ‘itu’? Aku penasaran kenapa Youngjae begitu terkejut ketika mengetahui aku berhubungan dengan Sungjae.

” Sepertinya kau tertarik dengan Sungjae.”
Suara Youngjae yang tiba-tiba terdengar di sampingku membuatku menjatuhkan buku yang hendak kumasukkan ke dalam loker. Ah bukan, lebih tepatnya karena pendapatnya barusan.
Aku menggeleng sambil menggerakkan tanganku. ” Aku baru mengenalnya beberapa hari. Bagaimana mungkin aku tertarik padanya? Lagipula aku masih patah hati, ingat?”
Youngjae tidak bereaksi dengan tanggapanku yang agak heboh, ia tetap bersandar di dinding loker sambil melipat tangannya. ” Sikapmu menunjukkan perasaanmu yang sesungguhnya. Aku bukan orang yang baru mengenalmu hari ini, Suzy. Aku tahu pasti jika kau berbohong.”
” Entahlah, aku sendiri juga masih bingung dengan perasaanku Youngjae.” Aku menghela napas pasrah dan menutup pintu lokerku.
” Apa karena kau masih mencintai Myungsoo?”
Pertanyaan Youngjae membuatku terdiam dan menatap lantai putih kelasku yang bersih. Walaupun aku terlihat seperti membencinya tapi sebenarnya tidak. Aku masih menyayangi Myungsoo walau dia sudah menyakitiku. Bagaimanapun juga, ia pernah ada di kehidupanku dan membuatku menjadi lebih hidup.
” Bodoh.” Aku mengatai diriku sendiri begitu pandanganku memburam karena air mata. Aku kembali menangis karena Myungsoo.
” Kau harus menentukan pilihan Suzy. Kalau tidak kau akan menjadi yang jahat di sini. Mengerti maksudku?” Youngjae bertanya sambil menyodorkan tisu kepadaku.
Ia benar, jika aku tidak menentukan pilihan maka aku sama jahatnya seperti Myungsoo. Yang membuat kedua belah pihak tersakiti. Selain itu aku mengerti kenapa Youngjae berkata seperti itu padaku. Ia tidak mau masalah ini semakin dalam dan pada akhirnya aku akan lebih menderita.
Youngjae mengelus kepalaku sekilas. ” Maaf membuatmu menangis. Aku tahu kau membutuhkan waktu, tapi lakukan secepat mungkin walaupun tidak mudah bagimu. Aku dan Seolhyun selalu ada untuk mendukungmu. Tapi ini adalah masalahmu, kau sendiri yang harus menyelesaikannya.”
Aku mengangkat kepalaku dan berusaha untuk tersenyum. Youngjae tertawa pelan melihatku dan berkata ” Ya ampun kau terlihat menyedihkan sekali.”
Aku mengerucutkan bibirku dan meninju lengan Youngjae. “Siapa yang membuatku jadi seperti ini?”
Youngjae mengacak rambutku kemudian merangkulku. ” Baiklah, maafkan aku. Ayo kita pulang.”

Saat kami keluar kelas dan sedang menyusuri koridor, pandanganku bertemu dengan Sungjae di ujung koridor. Begitu ia melihatku, pria yang selalu terlihat ceria itu melambai dan menghampiri kami.
” Kau mengenal dia?” Youngjae mengerutkan dahi melihat langkah Sungjae yang terlihat gembira sekali.
” Tentu saja.” Aku menjawabnya singkat.
” Tidak kusangka Sungjae yang berhubungan denganmu adalah Sungjae yang ini.” Youngjae berdecak.
” Memangnya kenapa?” Aku bertanya. Jangan-jangan Youngjae juga tahu kalau…
” Dia itu merepotkan. Permainan tenis mejanya sangat keren, aku tidak pernah menang darinya.” Keluh Youngjae. Aku menghela napas lega, ternyata ia tidak tahu.
” Lho? Kenapa kau terlihat lega? Kau mendukungnya ya? Tega sekali.” Youngjae pura-pura kecewa denganku. Sementara aku meringis melihat reaksinya.
” Wah ada Youngjae juga! Halo!” Sungjae melambai kepada Youngjae dengan semangat, sementara Youngjae membalasnya dengan malas.
” Suzy, tidak baca pesanku? ” Sungjae berkata padaku.
Aku menggeleng, tadi aku sibuk bicara dengan Youngjae sehingga tidak bisa memikirkan hal lain.
” Ya sudah, aku akan mengulanginya lagi. ” Sungjae berucap dengan semangat lalu menengok ke kanan dan ke kiri, seperti memastikan tidak ada yang mencuri dengar pembicaraannya. Lalu ia mendekatkan tubuhnya padaku dan Youngjae lalu berkata dengan suara rendah. ” Kalian tentu tahu kan tentang Esperanza Adonica?”

Anak paling pendiam di sekolah ini pun tahu mengenai hantu wanita itu. Menurut cerita yang kudengar dari kakak kelas, sebelum dibangun sekolah tempat ini merupakan gedung pertunjukan milik sebuah grup tari yang mempertontonkan tarian khas Spanyol setiap akhir minggu, Tari Flamenco. Esperanza adalah salah satu anggota dari grup tari tersebut. Ia memiliki kecantikan khas wanita Spanyol dengan kemampuan tari yang cukup hebat. Namun tidak ada seorang pun yang iri padanya karena Esperanza selalu ramah pada semua orang dan dengan senang hati mengajarkan ilmunya pada siapapun.

Sikapnya yang baik itu membuat Ketua grup tari tersebut, Geraldo menaruh hati pada wanita berambut coklat bergelombang itu. Namun, Esperanza tidak bisa membalas perasaan Geraldo karena hatinya sudah menjadi milik Mino, pasangan menarinya. Mino merupakan warga asli Korea pertama yang mendaftar sebagai anggota grup tari tersebut.

Geraldo berulang kali mengungkapkan perasaannya pada Esperanza, bahkan di depan Mino, yang notabene adalah kekasih Esperanza. Tapi Esperanza selalu menolaknya dengan halus dan senyum yang menawan. Geraldo menanggap Mino adalah penghalang. Karena Mino, Geraldo menganggap Esperanza tidak bisa membalas perasaannya. Padahal tidak, ada atau tidak adanya Mino, Esperanza tidak akan pernah mencintai Geraldo karena Esperanza sudah menganggapnya sebagai seorang yang patut dihormati. Seperti seorang murid dan guru, tidak lebih. Lalu Geraldo merencanakan sebuah pembunuhan untuk Mino agar Esperanza jatuh ke dalam pelukannya.

Pada suatu malam setelah mereka mengadakan pertunjukan, Geraldo meminta Mino untuk bertemu di atap gedung itu. Pemuda dengan rambut hitam lurus itu setuju dan Geraldo menyuruhnya untuk duluan karena ia beralasan ada beberapa hal yang harus diurus. Namun itu adalah taktik untuk menjebak Mino karena seorang pembunuh bayaran yang disewa Geraldo sudah menunggu di atap. Rencana Geraldo berjalan mulus, pembunuh yang disewanya melakukan tugasnya dengan baik dan membuat kematian Mino seperti bunuh diri. Esperanza, yang mengetahui kematian orang yang dicintainya berubah 180 derajat menjadi wanita yang pendiam. Ia menolak untuk bertemu dengan siapapun dan memutuskan untuk keluar dari grup tari itu. Motivasinya untuk menari menghilang bersama dengan kematian Mino.

Geraldo pikir Esperanza akan menjadi miliknya karena kekasihnya telah terbunuh. Tapi ia salah, perasaan Esperanza justru semakin dalam pada Mino dan membuatnya tidak mempedulikan siapapun. Beberapa hari kemudian, Esperanza datang ke gedung pertunjukan untuk mengambil barang-barangnya dan Mino yang tertinggal di loker. Geraldo mengetahui kedatangan Esperanza dan membunuhnya dengan sebilah pisau di hadapan para anggotanya yang saat itu sedang mengadakan latihan rutin. Geraldo merasa sangat kesal karena Esperanza yang terlihat tergila-gila pada Mino dan tidak mau membuka hati untuknya sedikitpun. Sejak saat itu, Esperanza menjadi arwah penasaran dan kerap kali menghantui setiap lelaki yang tengah bermesraan dengan wanita. Ia iri karena kisah cinta mereka terlihat bahagia, tidak seperti dirinya yang berakhir tragis.

” Kau ikut kan Suzy?” Suara Sungjae membuyarkan lamunanku tentang hantu Esperanza, atau biasa dipanggil dengan Flamenco Lady karena ia memakai gaun merah untuk Tari Flamenco saat menampakkan diri.
” Apa?” Aku mengerutkan dahiku, tidak mengerti apa yang dibicarakan Sungjae.
Sungjae menepuk dahinya pelan. “Astaga, Youngjae tolong jelaskan padanya ya. Aku harus ke psikolog.” Detik berikutnya Sungjae menutup mulutnya. Ia terlihat sedikit terkejut seperti keceplosan berbicara.
” Psikolog?” Ulang Youngjae.
” I..iya! Kan sebentar lagi kita akan ujian ja..jadi aku ingin berkonsultasi dengan psikolog agar mentalku lebih siap pada saat ujian akhir.” Sungjae terlihat gugup. ” Sampai jumpa!” Ia berseru kemudian menuruni tangga dengan terburu-buru.
” Aneh sekali anak itu.” Youngjae mengerutkan dahinya melihat tingkah Sungjae. Aku tahu alasannya ia bersikap aneh. Sungjae pergi ke psikolog bukan karena ujian akhir, melainkan untuk menyembuhkan ‘penyakit’ menyimpangnya.
” Suzy, sepertinya kau menyembunyikan sesuatu. ” Youngjae memicingkan matanya begitu mengetahui aku sedang tersenyum penuh arti. ” Katakan, apa yang kau sembunyikan.”
Aku memainkan rambut panjangku, berusaha mengatur ekspresiku. Aku tidak akan melanggar janjiku kepada Sungjae untuk tidak mengatakan hal itu pada siapapun. ” Tidak, bukanlah hal penting. Oh ya, apa sih yang ia bicarakan tadi?” Aku berusaha mengalihkan perhatian Youngjae sambil menuruni tangga menuju lantai dasar.
Youngjae mengetuk dahiku pelan. ” Makanya jangan terlalu sering melamun. ” Aku menghentakkan kakiku pada anak tangga terakhir. Aku kan hanya mengingat kembali, bukannya melamun.
” Sungjae mengajak kita untuk melihat Esperanza.”
“APA?!” Aku tanpa sadar berseru begitu mendengar ide gila Sungjae. Bukan. Bukan ide gila. Itu IDE YANG SANGAT GILA.
” Ah. Kau takut dengan hantu. Iya kan?”
Aku mengangguk dengan wajah ngeri menjawab pertanyaan Youngjae. Kami bertiga -Aku,Youngjae,Seolhyun- pernah ke sebuah rumah hantu di taman bermain. Saat di dalam, aku sangat ketakutan sampai tidak bisa berjalan sehingga Youngjae terpaksa menggendongku di punggungnya agar kami bisa keluar. Sejak saat itu, aku menjadi penakut dan merasa ada yang mengawasiku jika aku sendirian. Walaupun aku belum melihat hantu sungguhan, tapi rasanya seperti melihat hantu sungguhan saat berada di rumah hantu itu.
” Kalau tidak mau tidak apa-apa. Kami bisa berdua saja. ”
Apa? Berdua? Aku tahu Sungjae  dalam tahap penyembuhan. Tapi bisa saja penyakitnya kambuh jika ia berdua saja dengan Youngjae. Jujur saja, Youngjae cukup tampan untuk seorang pria. Ia memiliki rambut yang lembut seperti bayi dan kacamata berbingkai hitam yang membuat penampilannya semakin terlihat kharismatik. Selain itu jika berada di dekatnya membuatku merasa seperti terlindungi karena ia punya aura yang menenangkan. Bukannya aku berpikiran buruk, tapi bisa saja terjadi sesuatu kalau aku tidak ikut. Mengerti maksudku kan?
” Bagaimana dengan Seolhyun?” Aku teringat dengan Seolhyun yang sangat menyukai hal-hal seperti ini. Tapi selanjutnya aku teringat, dia sedang-
” Belajar.” Youngjae melanjutkan apa yang ada di pikiranku barusan. ” Kau tahu kan nilai-nilainya agak merosot akhir-akhir ini.”

” Ah.” Aku menggumam mengerti. Seolhyun sebenarnya anak yang cerdas, hanya saja ia agak malas. Jika nilai-nilainya turun seperti sekarang baru ia akan belajar mati-matian sendirian agar tidak ada nilai merah. Tdak ada pilihan, aku harus ikut. Aku tidak mau ada hal-hal yang buruk terjadi pada Youngjae.

” Aku ikut. ” Dengan suara sedikit bergetar, aku berkata. Youngjae menatapku skeptis, sementara aku menatapnya dengan ekspresi yang dibuat setenang dan seberani mungkin.

” Kau yakin?” Youngjae bertanya. Ekspresinya separuh khawatir separuh cemas. Mungkin ia merasa cemas jika harus menggendongku lagi jika aku ketakutan.
Aku mengangguk mantap. ” Sudah lama sejak kejadian itu. Kurasa tidak apa-apa jika aku ikut.”
Youngjae mengangkat bahu. ” Yasudah, tapi jangan memintaku untuk menggendongmu. Kau makan banyak akhir-akhir ini. Kurasa berat badanmu bertambah.”
” Youngjae.” Aku berkata dengan geram. Apakah ia tidak tahu kalau berat badan adalah topik yang sangat sensitif bagi seorang wanita?
” HEI BERHENTI!” Aku mulai mengejar Youngjae yang sudah berlari menjauhiku dengan ekspresi jahil di wajahnya. Bocah itu, tidak akan kubiarkan dia lari begitu saja sebelum menerima pukulan dariku.

IT’SCRAZY

Aku merapatkan jaketku karena merasa dingin. Angin musim gugur bertiup lebih dingin daripada biasanya. Nyaliku menjadi ciut begitu melihat suasana sekolah yang sepi dan minim penerangan. Tapi aku tak boleh mundur, aku harus menjaga Youngjae dari Sungjae.

Saat ini menunjukkan pukul 12 tengah malam. Setelah perundingan melelahkan di Line, kami memutuskan untuk berkumpul di pohon besar dekat sekolah. Tempat ini dipilih karena kami bisa bersembunyi tanpa ketahuan dan bisa mengawasi Park ahjussi dengan bebas. Beliau adalah penjaga sekolah selama beberapa puluh tahun. Rambutnya sudah memutih semua, namun tubuhnya masih terlihat gagah dan gesturnya sangat sigap. Ia seperti singa yang sedang mencari mangsa. Mangsanya adalah orang-orang yang berusaha mencuri soal ujian atau aset-aset berharga di ruang kepala sekolah. Juga murid-murid yang menyelinap masuk tanpa izin untuk merusak properti sekolah atau sekadar iseng untuk menguji nyali.

Jam 12 malam adalah waktu Park ahjussi pulang, ia akan mengunci pintu gerbang dengan rapat dengan gembok dan rantai. Sehingga siapapun tidak bisa masuk kecuali dengan izin Park ahjussi.

Terdengar derit suara pintu besi sekolah yang ditutup. Aku mengawasi Penjaga Park  yang tengah mengunci gerbang sekolah sambil membawa senter dan gelas kertas yang mengeluarkan uap panas. Aku mendekatkan diri ke batang pohon yang lebar dan memiliki kulit kayu yang kasar agar tidak terlihat Park ahjussi.  Begitu ia melewatiku dengan santai, barulah aku meghembuskan napas lega dan mengetikkan pesan di ponselku.

Kalian dimana?Penjaga Park sudah pulang. Cepat! Aku sudah hampir ketakutan di sini T^T

Kutekan tombol send di ponselku dengan keras. Mereka berdua itu, apa mereka sengaja untuk mengerjaiku?

Ponselku bergetar. Aku membuka ponselku dan menjatuhkan ponselku begitu melihat gambar Sadako yang dikirimkan Sungjae. Anak ini, apa tidak tahu aku sudah ketakutan di sini sejak tadi?

” Lebih baik aku pulang saja.” Aku tidak peduli lagi, sudah setengah jam aku menunggu dan mereka berdua belum datang juga. Youngjae bisa menjaga dirinya sendiri jika Sungjae berbuat yang tidak-tidak.
Aku mengambil ponselku dan membersihkan sisa tanah yang menempel di ponselku dengan tangan. Kemudian aku berbalik.
” AARRGHH!”
Di hadapanku, Sungjae berteriak dengan mimik muka menyeramkan untuk menakut-nakutiku. Refleks, aku meninju perutnya.
” Aduh perutku. ” Sungjae mengaduh karena sakit di perutnya.
” Rasakan, siapa suruh datang terlambat dan mengejutkanku seperti itu.” Aku melipat tangan di dada dan mengedarkan pandangan di sekitar. ” Kau sendirian?”
” Aku di sini.”
” Hua!” Aku langsung berlindung di belakang Sungjae begitu mendengar suara pelan di belakangku.
” Hei, tenang ini aku.” Youngjae menyorotkan senter ke wajahnya agar aku bisa melihatnya dengan jelas. Perlahan, aku melepaskan genggaman tanganku di lengan Sungjae.
” Wah, daebak! Daebak! ” Sungjae bertepuk tangan heboh. ” Bakat menakutimu lebih keren daripadaku.” Youngjae hanya menatap Sungjae datar sambil menarik lenganku untuk mendekat kepada dirinya.
” Ini tidak lucu tahu. Aku seperti kelinci percobaan saja. ” Aku melipat tanganku di dada dan mengerucutkan mulutku.
Sungjae tertawa pelan, ia mengacak pelan rambutku. ” Baiklah gadis cilik, aku tidak akan menakutimu lagi. Sekarang, ayo keluar dari tempat ini. Disini banyak nyamuk.” Sungjae mengibaskan tangannya untuk mengusir nyamuk yang mencoba menghisap darah di lengannya dan berjalan menuju jalanan sekolah yang lengang.
” Kuharap kau tahu jalan lain untuk masuk ke sekolah. Seluruh akses masuk sudah ditutup oleh Park ahjussi.” Youngjae berkata dengan nada sedikit mengancam begitu melihat Sungjae yang sedikit gelagapan karena melihat gerbang sekolah yang tertutup rapat.
” Ah!” Aku berseru. Aku ingat pintu kecil di sebelah barat sekolah ini, pintu itu terhubung dengan sebuah laboratorium biologi yang sudah tidak digunakan sejak tahun lalu. Para murid terkadang suka menggunakannya untuk kabur dari sekolah karena pintu itu adalah satu-satunya pintu yang tidak dijaga oleh satpam.
” Ayo, aku tahu jalan masuk rahasia.” Aku tersenyum misterius. Youngjae menatapku dengan bingung sementara Sungjae terlihat tertarik dengan perkataanku.

Kriiitttt.

Pintu kayu yang kubuka berderit nyaring. Kami bertiga mengernyit karena suara pintu itu yang memilukan, membuat suasana seram semakin terasa. Kami menyalakan senter dan menyusuri lorong sempit yang terasa pengap karena kurangnya ventilasi dan tidak pernah terkena sinar matahari. Ketika sampai diujung, kubuka pintu belakang laboratorium biologi.

Aku menyorot senter ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan ini berukuran cukup besar dengan 3 buah meja panjang yang diletakkan di sisi kiri dan kanan ruangan. Satu meja terdiri dari beberapa kursi tua. Ada meja yang kursinya kosong, ada yang tersisa hanya 2 buah. Semuanya terlihat tua dan berdebu. Di sudut ruangan, terdapat rak-rak yang berisi bahan percobaan yang diawetkan dalam sebuah wadah berisi cairan bening. Seperti ular, ikan dan sebagainya. Dan di sebelah rak tersebut, dipasang beberapa pigura yang memuat hewan-hewan yang di awetkan seperti kupu-kupu, burung dan kodok. Untuk burung dan kodok, kulitnya telah dibuka sehingga menampakkan orgam dalamnya. Di bagian depan dekat papan tulis, terdapat rangka manusia beserta organ dalamnya. Namun ada beberapa bagian yang tidak lengkap seperti sebelah tulang kaki yang hilang dan bagian hati yang sudah rusak. Sementara di papan tulis, terdapat gambar berbagai macam bakteri dengan tulisan berantakan yang ditulis dengan spidol hitam. Tampaknya seseorang lupa untuk menghapusnya. Semuanya terlihat penuh debu dan berbau apek.

Satu kata untuk pengamatanku : Menyeramkan.

Aku berlari mendekati Youngjae dan Sungjae yang ternyata sudah berjalan jauh di depanku. Selain merasa seram, aku juga merasa mual melihat organ-organ dalam hewan itu. Lebih baik aku melihat hantu daripada harus berlama-lama di ruangan itu. Aku serius.

” Payah, begitu saja sudah takut. Itu cuma laboratorium, Suzy.” Sungjae mencibirku saat kami sudah keluar dari tempat mengerikan itu.
” Masa bodoh, pokoknya aku akan muntah jika berlama-lama di sana. Tega sekali mereka mem
perlakukan binatang seperti itu.” Aku berkata dengan ngeri. Orang-orang yang melakukan penelitian itu, apa mereka tidak berperi kemanusiaan?
” Itu kan untuk kepentingan kita juga. Bayangkan bagaimana jika tidak ada pelajaran biologi. Kita tidak akan pernah tahu sistem pencernaan kita, kita tidak akan pernah tahu obat dari penyakit yang bisa menyerang kita, kita-”
” Astaga kalian ini, sebenarnya apa sih tujuan kita datang ke sini?” Youngjae mulai mengingatkan kami yang mulai melantur.
” Sungjae, bagaimana caranya agar kita bisa melihatnya?” Di tengah cahaya remang-remang, aku bertanya kepada Sungjae.
Sungjae mengecek jamnya. ” Kata para senior, dia akan terlihat pada pukul 1 di aula sekolah di lantai tiga. Itu artinya sekitar 15 menit lagi.” Ia memandangku dan Youngjae dengan ekspresi tertarik, matanya terlihat berbinar. ” Ini akan jadi pengalaman yang menarik.”
Menarik? Bagiku ini akan jadi pengalaman yang buruk. Lantas, aku berdoa di dalam hati sambil mengkuti langkah mereka berdua menuju aula. Aku memegang erat lengan Youngjae sambil menyorot senterku ke segala arah. Bisa saja di antara kegelapan ini, ‘mereka’ muncul secara tiba-tiba.
” Tenang saja.” Youngjae berkata singkat namun di dalam kata-katanya terdapat kekuatan untuk menenangkanku. Sedikit, aku jadi lebih tenang.

Kami akhirnya sampai di aula dan duduk di salah satu kursi. Aku duduk di tengah, dengan Youngjae di sisi kanan dan Sungjae di sebelah kiriku.
” Matikan senternya. Sensasinya akan semakin terasa jika suasana gelap.” Sungjae menyeringai penuh minat dan mematikan senternya. Youngjae mematikan senternya dengan tenang sementara aku mematikan senterku dengan tangan gemetar.
” Aku akan menjagamu. Percayalah padaku. ” Di dalam kegelapan yang menakutkan ini, Sungjae berkata dengan mantap. Selama aku mengenalnya, tidak pernah ia bicara seserius ini. Biasanya dia akan berkata dengan nada dan ekspresi yang ceria dan penuh semangat.

Kenapa jantung ini berdebar dengan kencangnya?

Ketakutanku seperti menguap begitu saja. Kata-kata Sungjae seperti sebuah benteng yang akan melindungi siapapun di dalamnya. Aku jadi merasa aman.

Tiba-tiba, musik khas Tari Flamenco berkumandang dengan lembut. Ketakutan itu kembali kurasakan, tubuhku menjadi sulit untuk di gerakkan. Tuhan, tolong aku.

Udara dingin semakin terasa di sini. Padahal ini ruangan tertutup dan tidak ada satu jendela pun yang terbuka. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, namun aku berusaha menahannya agar dua orang di sampingku ini tidak khawatir.

Lalu lampu di panggung mendadak menyala dan tampak seorang wanita dengan baju tari khas Flamenco di tengah. Tubuhnya transparan dan kakinya tidak menapak tanah. Terdapat ekspresi lembut namun penuh dendam di mata wanita itu. Esperanza lebih cantik dari yang kubayangkan, rambut bergelombangnya terlihat halus dan tubuhnya tinggi semampai. Tapi aura yang dikeluarkannya terasa menyeramkan.

Aku bisa merasakan Sungjae mulai menegang dan Youngjae meneguk salivanya dengan sikap kaku. Ini puluhan kali lebih menyeramkan daripada yang di rumah hantu. Ada sensasi aneh yang kurasakan ketika melihat hantu secara langsung.

“Ini tidak bagus, ayo kita pergi.” Sungjae berbisik sambil menatap Esperanza dengan ngeri. Dari awal memang ini sudah tidak bagus, kenapa ia baru menyadarinya sekarang?

Tatapannya tiba-tiba tertancap lurus ke arah kami. Air mataku langsung mengalir, sementara Youngjae menarik lenganku untuk pergi dari tempat ini. Namun dalam sekejap mata, Esperanza sudah ada di hadapan kami. Lampu aula berkedap-kedip karena kemarahan Esperanza.

” Kau mirip dengan Mino.” Suara lembut Esperanza terdengar. ” Itu membuatku sakit.” Nada bicaranya menjadi tajam dan penuh kebencian. Saat ini, seluruh jendela aula tiba-tiba terbuka dan menghembuskan angin kencang.
” Kami tidak berniat mengganggu. Maaf kalau kedatangan kami membuatmu tidak nyaman. Tolong biarkan kami pergi.” Suara Youngjae terdemgar tenang. Ia menyembunyikanku di balik punggungnya. Gestur Esperanza terlihat tidak berubah, ia masih menyimpan kesedihan dan kebencian di balik matanya.
” Kalian membuatku iri.” Ia berkata dengan lirih sambil menatapku. ” Aku tidak bisa membiarkannya.” Suaranya kembali berubah menjadi tajam.
Angin bertiup makin kencang dan lampu-lampu semakin berkedap-kedip dengan cepatnya. Musik Tari Flamenco semakin cepat temponya dan semakin keras berkumandang. Gawat, sepertinya ia tidak akan melepaskan kami begitu saja.
” Maafkan aku.” Sungjae mendekati Esperanza dan mencipratkan cairan berwarna merah bening dari sebuah botol kaca. Esperanza menghilang begitu saja tanpa perlawanan. Lampu kembali padam, Jendela kembali tertutup dan Musik Tari Flamenco berhenti bermain. Berganti dengan kesunyian dan suasana yang terasa dingin. Sama seperti sebelum kehadiran Esperanza.

Kakiku masih gemetar, aku tidak sanggup berjalan lagi. Ini pengalaman yang buruk. Ini jauh lebih menyeramkan daripada yang ada di rumah hantu.

” Suzy, kau tidak apa-apa?” Sungjae menyalakan senternya begitu menyadari aku langsung terduduk di salah satu kursi.
” A…aku-” Aku bicara dengan tergagap dan suara bergetar. Sementara lampu aula tiba-tiba menyala.
” Wah, rupanya ada tiga berandal kecil di sini.”
Suara berat Penjaga Park  membuat kami menengok berbarengan. Ia sedang berdiri di pintu aula sambil bersedekap.
” Apa yang kalian lakukan disini? Mau berbuat mesum? Untung aku datang tepat waktu.” Ia memandangku yang masih terduduk dengan wajah ketakutan. Sepertinya ia salah paham dengan ekspresiku ini.
” Bukan begitu! Kami hanya melihat Esperanza dan barusan kami berhasil. Makanya ia ketakutan seperti ini. Ia ketakutan karena melihat Esperanza, bukan karena kami ingin berbuat mesum padanya.” Sungjae angkat suara untuk bertanggung jawab.
” Bagaimana bisa Anda ada di sini?” Youngjae bertanya kepada Penjaga Park.
Penjaga Park  menjawab dengan lancar. ” Aku sudah tahu rencana kalian. Makanya aku menipu kalian dengan berpura-pura meninggalkan sekolah ini.”
” Bagaimana kalian bisa lolos? Esperanza tidak akan melepaskan orang-orang seperti kalian. Apalagi sepasang kekasih seperti kalian berdua. ” Ia memandangku dan Youngjae bergantian.
” Kami hanya sahabat.” Aku membantah perkataan Penjaga Park.
” Dia bukan tipeku.” Youngjae berkata singkat.
Sungjae mengangkat botol kacanya, yang berisi setengah cairan merah bening itu. ” Ramuan khusus. Aku mendapatkannya dari kenalanku.” Penjaga Park  hanya menatap cairan itu dengan menyipitkan mata. Tampaknya ia tak percaya dengan perkataan Sungjae
” Baiklah anak-anak, sekarang cepat keluar dari tempat ini. Aku tidak akan melapor kepada kepala sekolah karena aku sedang berbaik hati sekarang.” Penjaga Park  mendorong punggung kami agar keluar dari sekolah ini. Syukurlah, kami tidak akan dihukum karena menyusup seperti ini.

IT’S CRAZY

Aku merubah posisi tidurku dengan gelisah. Sejak tadi aku tidak bisa tidur, aku masih terbayang-bayang dengan tatapan dingin Esperanza. Juga dengan sensasi menyeramkannya saat aku melihat makhluk yang seharusnya tak kasat mata dengan mataku sendiri. Lampu kamar tidak kumatikan karena aku takut ia mengikutiku dan tiba-tiba menampakkan diri di tengah kegelapan. Akhirnya aku bangkit dari tempat tidur dan memutuskan untuk membereskan meja belajarku yang sangat berantakan.

Kubuang sobekan kertas dari buku tulis yang berisi tentang hal-hal tidak penting. Buku-buku yang tersebar di meja kurapikan dan kumasukkan ke dalam rak. Saat membereskan laci meja belajar, mataku terpaku pada sebuah kotak berukuran sedang. Aku membukanya dan berbagai macam barang pemberian Myungsoo terdapat di sana. Buku novel, foto polaroid, setangkai bunga mawar yang sudah mengering, dan beberapa aksesoris. Barangnya tidak banyak karena ia jarang membelikan barang untukku. Tiba-tiba aku teringat dengan ajakan Myungsoo untuk bertemu di tempat pertama kali kami bertemu. Aku akan menggunakan kesempatan itu untuk mengembalikan barang-barang ini. Segera kuketik pesan di ponselku kepada Myungsoo.

Aku akan datang menemuimu.

Mendadak, aku merasa tidak takut lagi. Rasa takut itu berganti dengan rasa sesak.

Kuharap aku bisa tidur dan melupakan semuanya.

-TBC-

A/N : Yuhuuu~ Author kembali lagi kkk~ Maaf ya aku baru bisa memenuhi hasrat/?/ kalian untuk membaca lanjutan FF ini😦 Di minggu tenang menjelang UTS ini aku meluangkan waktu untuk memposting ini sebelum otak berasap karena UTS kkk~ Wish Me Luck and Good Luck buat kalian yang akan menjalankan UTS seperti aku kkk~ aku sangat terbuka mengenai kritik dan saran mengenai FF ini jadi jangan ragu untuk meninggalkan komentar ya ^^ dan don’t be a silent reader ok?;) Happy Friday guys GBU xx

2 thoughts on “[CHAPTER] IT’S CRAZY #4

  1. woohaa… ini bakalan jd cinta segi empat thor? darbak! lanjut thor.. itu kalo nanti si esperanza tiba-tiba nongol lg kayanya keren deh.. hehe..
    semangat nulis thor!

  2. wahh ternyata sudah Update,, Aku tidak tahu..huhuhu.. mian yaaa
    baca chapter ini bikin senyum2 plus ngeri.. eps yg menyeramkan…kkk
    apa yg akan terjadi selanjutnyaa,, apa masih ada adegn seram lagi?apa yg akan terjadi saat suzy bertemu myungsoo?dan apa yg terjadi dengan sungjae dan youngjae.. jadi penasarannn,, ditunggu kelanjutannya yaa..
    dan semoga sukses dengan UTSnya.. Hwaiting ..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s