Blue Medley Series: Reunion

reunion

B.L.U.E Medley Series: Reunion

 

by ree

 

Casts: CNBLUE, Gong Seungyeon, f(x)’s Jung Soojung, AOA’s Kim Seolhyun, SNSD’s Seo Joohyun  || Genre: romance, friendship || Rating: PG-15 || Length: series || Disclaimer: just my imagination

Sometimes it’s easy to forget how much you miss people until you see them again.

Colleen Hoover

 

 

 

***

 

Hari ini pertandingan basket antar universitas sudah memasuki tahap semifinal. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini beberapa tim baru dengan kekuatan tidak terduga bermunculan, berhasil mengukuhkan posisinya sebagai semifinalis mengalahkan sejumlah tim lain yang biasa menjadi langganan kandidat pemenang.

Di antara riuh rendah suara penonton di lapangan indoor tersebut, seorang gadis berambut panjang kecoklatan dengan jaket hoodie merah marun dan name tag panitia tampak sibuk mondar-mandir di sekeliling lapangan. Di tangannya tergenggam sebuah clipboard berisi beberapa lembar kertas, sesekali menulis sesuatu dan menghampiri beberapa pemain yang sedang menikmati waktu istirahat di pertengahan quarter kedua dan ketiga. Paras cantik, kulit putih, langsing, dan tinggi semampai membuat siapa saja yang melihatnya—terutama kaum lelaki—kehilangan konsentrasi sesaat. Bukan hal baru jika penonton pertandingan basket pada setiap tahunnya selalu terbagi menjadi tiga golongan; dua golongan pendukung masing-masing tim dan satu golongan pengamat para pemandu sorak serta gadis-gadis yang berlalu-lalang disana.

Soojung—gadis berambut panjang itu—terus melanjutkan langkahnya, tidak peduli pada suara decitan sepatu yang beradu dengan lantai lapangan, suara dentuman bola karet, seruan para pemain yang meminta operan bola, sorak-sorai penonton, maupun berpuluh pasang mata yang mengikuti kemana pun ia pergi. Ia yang hari ini sudah kena teguran karena datang terlambat di hari pentingnya sebagai penanggung jawab acara merasa harus melakukan semua tugasnya sebaik mungkin. Sejak hampir tiga jam yang lalu ia tiba di tempat tersebut, belum sekali pun ia menyempatkan diri untuk minum apalagi duduk. Masih banyak hal yang harus ia kerjakan dan ia ingin melakukan yang terbaik.

“Sudah hampir jam lima, Soojung. Kau sudah menemui tim Universitas Kyunghee? Bilang pada mereka jadwal pertandingan diundur sepuluh menit,” Ujar Lee Taemin, koordinator bidang acara, setelah melirik arlojinya.

Soojung, yang saat itu baru saja kembali ke pinggir lapangan setelah membagikan konsumsi pada para pemain, pelatih, dan official tim, terpaksa membatalkan niatnya untuk beristirahat sejenak. Dengan napas yang masih tersengal ia mengangguk pasrah, “Aku akan segera menemui mereka.”

Seolah tidak peduli dengan keadaan Soojung, Taemin merespon dingin, “Pastikan tidak ada pemain yang keluar-masuk aula sampai pertandingan dimulai. Jadwal hari ini sudah cukup terlambat dan kita tidak mau mengulur waktu lagi untuk mencari pemain yang hilang.”

Diam-diam Soojung menggerutu. Awalnya ia memang bersemangat, namun lama-kelamaan ia merasa hari ini Taemin memperlakukannya seperti budak. Hampir semua pekerjaan ia yang mengerjakan, sementara beberapa panitia lain dengan santainya duduk di pinggir lapangan, sesekali tertawa dan larut dalam euforia penonton. Inikah konsekuensi yang diterimanya hanya karena keterlambatan tiga puluh menit? Ia bahkan harus berargumen dulu dengan dosen ketika meminta izin untuk keluar kelas tadi.

Sesuai dengan kata-kata Taemin, Soojung langsung menuju ruang ganti para pemain basket dari Universitas Kyunghee untuk memberitahukan bahwa pertandingan diundur sepuluh menit lagi. Selesai dengan tugasnya, gadis itu pun segera beranjak dari ruangan tersebut. Namun baru saja ia membuka pintu, sebuah suara memanggil namanya.

“Jung Soojung?”

Gadis itu menoleh. Matanya membulat begitu mengetahui siapa pemilik suara tersebut. Orang yang sudah lama tidak ditemuinya. Orang yang tidak pernah ia sangka akan bertemu lagi setelah sekian lama.

“Kau Jung Soojung, ‘kan?” pria itu bertanya lagi, memastikan ia tidak mempermalukan diri di depan umum dengan memanggil orang yang salah karena saat ini gadis di hadapannya hanya diam membatu.

“Kau…” Soojung menemukan kembali suaranya setelah beberapa detik jantungnya serasa berhenti berdetak, “… Kang Minhyuk?”

Pria itu tersenyum—yang bukan membuat keadaan menjadi lebih baik, malah justru membuat Soojung semakin sulit bernapas. Ia benci dengan segala respon dari saraf motoriknya saat ini, membuatnya tampak bodoh. Ia benci karena ternyata perasaannya masih bisa kembali seperti dulu tiap kali ia melihat pria itu. Pria yang ia kira sudah berhasil dilupakan.

Pria yang dulu ditaksirnya setengah mati.

Soojung tidak pernah menyangka akan bertemu Minhyuk lagi di saat begini dan di tempat seperti ini. Seharusnya ia ingat Minhyuk kuliah di Universitas Kyunghee dan pernah menjadi anggota klub basket semasa SMA dulu. Dengan susah payah ia berusaha bersikap senatural mungkin, menyembunyikan perasaannya yang campur aduk antara senang, gugup, dan malu.

“Tidak disangka ya, kita bertemu disini,” Minhyuk memulai pembicaraan. Ia menggantikan tangan Soojung meraih kenop pintu dan membukanya, memutuskan untuk bercakap-cakap dengan gadis itu di luar ruangan untuk menghindari tatapan penasaran anggota tim yang lain. “Bagaimana kabarmu?”

“A..aku baik…” Jawab Soojung kikuk, “Kau main basket lagi?”

“Yah…” Minhyuk mengangkat bahu, “Hobi memang tidak bisa dibendung.”

Soojung tersenyum, diam-diam mengamati penampilan pria itu dari atas ke bawah. Minhyuk yang sekarang terlihat lebih tinggi, lebih tampan, dan lebih berisi. Dadanya yang bidang dan otot lengannya yang terbentuk sempurna membuat ia tidak kalah menarik dibandingkan pemain lainnya. Lolosnya tim Universitas Kyunghee ke babak semifinal baru tahun ini terjadi. Ia yakin Minhyuk akan menjadi bahan perbincangan baru para mahasiswi nantinya.

“Sepertinya hari ini kau sibuk sekali. Aku melihatmu mondar-mandir sejak tadi.”

Entah sejauh mana Minhyuk akan membuat darahnya berdesir. Sama sekali tidak disangka Minhyuk sejak tadi memperhatikannya, membuat pipinya terasa menghangat.

“Aku penanggung jawab acara hari ini,” Jawab Soojung jujur.

“Wah, hebat! Lama tidak bertemu, kau sudah berkembang pesat rupanya,” Puji Minhyuk. Ia ingat dulu Soojung adalah gadis pendiam dan cenderung introvert. Butuh waktu lama bagi Minhyuk untuk bisa dekat dengan Soojung, hingga gadis itu bersedia mencurahkan isi hati—selain kehidupan percintaan tentu saja—dan menunjukkan sifat aslinya. “Kau juga jadi lebih cantik. Pantas saja sejak tadi banyak yang memperhatikanmu.”

Entah hanya perasaan Soojung, raut wajah pria itu berubah menjadi sedikit kecewa pada kalimatnya yang terakhir. Diam-diam gadis itu menggelengkan kepala, berusaha mengembalikan akal sehatnya. Mana mungkin Minhyuk kecewa pada hal seperti itu? Toh ia  tidak pernah merasa dianggap lebih dari sekedar teman.

Minhyuk tersenyum, menyadari kata-katanya yang sedikit terdengar aneh. “Sepertinya pelatih sudah memanggilku. Tidak apa-apa ‘kan kalau kutinggal?”

Soojung mengangguk-angguk, “Pergilah. Kau harus mempersiapkan diri.”

Pria itu menyentuhkan sebelah tangannya ke puncak kepala Soojung dan menepuknya pelan, “Semangat, ya!”

Perlakuan Minhyuk lagi-lagi membuat Soojung membatu. Entah akan menjadi seperti apa wajah Soojung jika saja pria itu tidak segera menurunkan tangannya. “Ka…kau juga!” seru gadis itu ketika Minhyuk mulai berjalan meninggalkannya. Segala sikap yang ditunjukkan Minhyuk padanya masih terasa bagai mimpi. Sejak kapan Minhyuk suka menepuk kepalanya dan bersikap seolah hal itu sudah biasa?

Oh, ia hanya berharap pria itu tidak lagi memberikannya harapan baru.

***

 

“Jonghyun-ah, boleh kupinjam ponselmu?”

Jonghyun, yang saat itu baru saja mendudukkan dirinya di kursi ruang ganti gedung latihan martial arts, menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya Kim Woobin, salah satu rekannya di klub tersebut, tergopoh-gopoh menghampirinya. Wajah yang biasanya tampak sangar itu kali ini terlihat panik.

Jonghyun mengangguk, “Ambil saja di dalam tasku,” Ia lalu melemparkan kunci lokernya pada Woobin sebelum menghempaskan diri ke atas kursi. Seperti biasa, latihannya selalu berakhir pukul sembilan malam. Meskipun disibukkan dengan pekerjaannya sebagai pemilik kedai patbingsoo di salah satu sudut kota Seoul, Jonghyun sebisa mungkin tidak ingin melewatkan hobinya yang satu ini. Rasa lelah yang menjadi dua kali lipat tidak menjadi penghalangnya untuk melakukan hal-hal yang ia suka.

Begitu menerima kunci dari Jonghyun, Woobin cepat-cepat membuka pintu loker dan merogoh tas rekan yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri itu tanpa rasa canggung. Memang bukan pertama kalinya pria berbadan kekar itu melakukan hal yang sama. Sifatnya yang sedikit teledor membuatnya berulang kali lupa mengisi ulang baterai ponselnya setelah dipakai bekerja seharian.

Sambil meneguk air mineral yang dibawanya, Jonghyun memperhatikan Woobin yang sudah menempelkan ponsel di telinga dan dengan tergesa-gesa keluar dari ruangan. Tanpa dijelaskan pun ia sudah tahu untuk apa pria itu meminjam ponselnya. Rasa sayang pada istri membuat pria itu tidak ingin sedikit pun melewatkan kesempatan untuk memberi kabar, memastikan wanita itu baik-baik saja dan tidak perlu merasa khawatir.

“Ada email yang masuk. Kau belum tahu atau sengaja mengabaikan?” tanya Woobin setelah kembali masuk ruang ganti beberapa menit kemudian.

Jonghyun menggeleng, “Aku belum tahu,” Tanpa mau repot-repot mengambil kembali barang miliknya ia berkata lagi, “Apa katanya?”

Woobin memperhatikan layar ponsel Jonghyun dengan seksama, “Undangan reuni SMA.”

Jika saja tidak sadar sedang berada di tempat umum, mungkin saat ini ia sudah menyemburkan sejumlah air yang baru saja diteguknya. Rasa terkejut membuat air yang seharusnya masuk ke kerongkongan sebagian kecil berubah haluan ke tenggorokan. Alhasil ia pun terbatuk-batuk.

“Kau tidak bohong ‘kan?”

“Apa untungnya aku berbohong? Kalau tidak percaya lihat saja sendiri.”

“Pasti Yonghwa hyung yang mengirim,” Batin Jonghyun. Dan benar saja, nama Jung Yonghwa terpampang jelas di inbox-nya, membuatnya tanpa sadar mendecak malas.

“Ada apa?” Woobin merasa penasaran dengan ekspresi yang Jonghyun tunjukkan, “Kau sedang bertengkar dengan Yonghwa?”

“Tidak, hanya sedang malas,” Jawab Jonghyun sekenanya. Jika Yonghwa yang mengundang, maka sudah dapat dipastikan reuni yang dimaksud bukanlah reuni akbar yang mendatangkan seluruh murid satu angkatan. Paling hanya beberapa teman dekat. Namun diantara teman dekat, pasti nantinya disana akan tetap ada Gong Seungyeon.

Ya. Gong Seungyeon. Mantan pacarnya.

“Ah!” Woobin menjentikkan jarinya, baru mengetahui arti sikap Jonghyun, “Pasti kau malas bertemu dengan Seungyeon, ya?”

“Kalau sudah tahu tidak perlu bilang, Hyung,” Jonghyun bangkit dari tempat duduknya, bergegas mengambil peralatan mandi dan baju ganti. Ia tidak ingin Woobin membicarakan soal Seungyeon lebih lanjut. Ia tidak marah sebenarnya, hanya saja hubungan cinta mereka yang baru kandas dua bulan lalu membuatnya merasa canggung jika mendengar nama gadis itu lagi, apalagi bertemu dengannya secara langsung.

Sebenarnya jika dipikir-pikir, Jonghyun tidak begitu mengerti bagaimana ia bisa putus dengan Seungyeon. Segalanya terjadi begitu cepat. “Kita berbeda prinsip,” Ia masih mengingat jelas kata-kata Seungyeon waktu itu. Dan hanya dengan seperti itu, gadis itu tidak pernah lagi menghubunginya. Ia sakit hati, memang, tapi rasanya sudah cukup ia melewati masa mengemis perasaan agar gadis itu mau kembali padanya. Satu-satunya cara yang ia punya adalah menjauhkan diri dari gadis itu, melupakannya untuk selama-lamanya.

“Tidak ada salahnya datang ke acara reuni. Siapa tahu Yonghwa punya sesuatu yang penting yang harus dibicarakan,” Celetuk Woobin.

“Tidak mungkin,” Jonghyun menyurukkan handuk bekas pakainya ke dalam tas. Untuk apa pria itu repot-repot mengumpulkan orang secara mendadak padahal mereka baru saja bertemu saat Chuseok beberapa minggu yang lalu? Entah apa yang direncanakan Yonghwa kali ini, yang jelas ia tidak berharap semua ini bukan akal-akalan agar ia bertemu dengan Seungyeon lagi dan teringat kenangan masa lalu mereka lagi.

“Bukankah kalau terus-terusan menghindari Seungyeon kau akan semakin teringat padanya? Jangan mengorbankan kesempatanmu hanya karena seorang gadis, Jonghyun-ah. Anggap saja kau sedang diberi kesempatan langka bertemu kembali dengan teman-teman lamamu dan kau tidak bisa begitu saja melewatkannya karena ego pribadi.”

Kali ini perkataan Woobin sukses membuat gerakan Jonghyun terhenti. Ia jadi berpikir pria yang sudah dianggapnya kakak sendiri itu cenayang atau sejenisnya—selalu tepat membaca pikiran. Mungkin perkataan Woobin benar. Mungkin mudah jika dikatakan. Tapi tetap saja hatinya belum siap.

Ia menghela napas panjang. Dengan langkah sedikit gontai ia berjalan meninggalkan Woobin menuju kamar mandi. Rasanya ia perlu segera mendinginkan kepala.

“Akan kupikirkan nanti.”

 

***

 

Soojung menepuk-nepuk kedua pipinya di depan cermin. Rasa lelah baru menghinggapinya setelah seluruh rangkaian acara hari ini selesai, termasuk evaluasi yang berlangsung sedikit lebih lama dari biasanya. Sudah dua jam berlalu sejak pertandingan semifinal selesai dilaksanakan. Aula sudah mulai sepi karena hampir seluruh peserta dan sebagian panitia sudah pulang ke tempat masing-masing.

Gadis itu menghela napas, baru menyadari wajahnya yang kusam dan kantong matanya yang semakin melebar setelah hampir sebulan ini sangat disibukkan dengan jadwal organisasi yang padat. Ia membasuh wajahnya dengan air dari wastafel beberapa kali, menyekanya dengan handuk kecil dan kembali menepuk-nepuk pipinya pelan—berharap kulitnya tidak cepat mengendur.

Apa seperti ini wajahnya saat bertemu dengan Minhyuk tadi?

Tunggu. Kenapa ia harus begitu peduli?

Soojung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Sudah cukup dengan segala ingatan tentang Minhyuk yang ditemuinya tadi sore. Sekarang pria itu sudah pergi. Dan belum tentu mereka akan bertemu kembali. Tidak seharusnya ia masih berharap.

Gadis itu mendongak, mematut dirinya sekali lagi sebelum akhirnya bergegas pulang. Namun seseorang yang baru saja keluar dari pintu toilet tepat di belakangnya membuatnya terkejut setengah mati. Bukan hanya karena orang yang sejak tadi ia pikirkan ternyata masih ada di tempat itu, tapi juga kenyataan mengejutkan lain.

“Kau… kenapa ada di sini?!” Soojung setengah terpekik.

Minhyuk—pria yang baru saja keluar dari toilet dan sempat menunjukkan rasa terkejutnya itu—mengernyit, “Ini kan toilet laki-laki.”

Soojung cepat-cepat menoleh ke kiri dan kanan, kemudian merutuki diri sendiri karena baru menyadari barisan urinoir yang ada disana.

“Astaga! Maaf… maaf… aku akan segera pergi.”

Minhyuk hanya tersenyum geli melihat tingkah laku Soojung. Mungkin gadis itu sudah terlalu lelah untuk membedakan toilet pria dan wanita. Setelah mencuci tangannya di wastafel, ia pun bergegas menyusul.

“Soojung-ah, kuantar pulang saja bagaimana?”

Soojung, yang saat itu hendak melangkahkan kakinya keluar aula, menoleh ketika namanya dipanggil, “Maksudmu?”

Minhyuk sedikit mempercepat langkahnya menghampiri gadis itu, “Ini sudah malam. Lagipula kelihatannya kau pulang sendiri. Tidak baik seorang gadis pulang sendirian malam-malam,” Seolah ingin meyakinkan Soojung, ia menambahkan, “Kebetulan aku bawa mobil. Kuantar pulang saja, ya?”

Soojung terdiam, antara merasa ngeri dan bahagia. Ngeri membayangkan tindak kejahatan yang bisa dialaminya jika pulang sendiri, dan diantar Minhyuk? Mana mungkin ia tidak bahagia.

Gadis itu mengangguk. Lagi-lagi berusaha keras menyembunyikan perasaannya dan menunjukkan sikap tenang, “Baiklah.”

Namun kenyataan yang terjadi setelahnya sedikit meleset dari perkiraan Soojung. Sepanjang perjalanan mereka berdua lebih banyak diam, menimbulkan suasana canggung. Soojung bukan tipe yang berani memulai pembicaraan terlebih dulu, jadi hanya bisa menggigit-gigit bibirnya sambil menatap ke jendela. Sesekali ia mencuri-curi pandang ke arah Minhyuk yang sedang asyik menyetir.

“Rasanya sudah lama sekali, ya, kita tidak bertemu,” Seolah bisa membaca pikiran Soojung, Minhyuk tiba-tiba angkat suara. Matanya masih fokus ke jalanan di hadapannya, namun senyumnya yang mengembang cukup membuat jantung gadis itu berdetak lebih cepat lagi.

“Ah, iya juga, ya,” Jawab Soojung kaku.

“Tahu begini, harusnya dari dulu aku sering-sering mampir.”

“Kau tidak tahu aku kuliah disini?”

“Aku tahu, hanya saja aku baru pertama kali kesini. Boleh juga jadi tempat hiburan kalau sedang bosan di kampus.”

Soojung mengangguk-angguk, sedikit berharap Minhyuk mau mampir lagi untuk menemui dirinya, tapi rasanya itu tidak mungkin.

“Maaf ya…” ia memberanikan diri bersuara setelah beberapa menit terdiam, “…Soal kejadian di toilet tadi…”

Minhyuk terkekeh, “Jangan terlalu dipikirkan. Aku tahu kau lelah.”

Soojung menertawakan dirinya sendiri. Kenapa ia bisa begitu bodoh?

Tepat ketika mobil Minhyuk tiba di perempatan jalan, ponsel kedua orang itu berdering bersamaan. Beruntung saat itu masih lampu merah sehingga Minhyuk dapat segera mengecek ponselnya. Ada satu email yang masuk.

“Kau juga mendapat email, ya?” tanyanya pada Soojung begitu melihat gadis itu sedang memandangi layar ponselnya dengan wajah serius.

“Ya.” Soojung mengalihkan pandangannya ke arah Minhyuk, “Undangan reuni SMA?”

Minhyuk mengangkat bahu, “Yonghwa hyung yang mengirimnya. Pasti tidak semua orang diundang. Kau mau datang?”

Soojung berpikir sejenak, “Mungkin.”

“Kujemput, ya?”

Dahi gadis itu mengernyit. Kenapa rasanya Minhyuk ingin sekali mengantar-jemputnya? Ia merasa seperti murid Taman Kanak-Kanak yang mendapatkan perhatian berlebih dari orang tua. “Kau bahkan tidak tahu rumahku.”

“Dengan mengantarmu hari ini aku ‘kan bisa tahu.”

Cukup lama Soojung terdiam sebelum akhirnya mengatakan, “Baiklah, kalau itu tidak—“

Kata-katanya terputus begitu mendengar suara ponsel Minhyuk kembali berdering. Deringannya kali ini berbeda, lebih panjang dan berulang-ulang. Pria itu segera menekan tombol hijau dan menempelkan benda elektronik itu di telinga.

“Ya, aku sudah menerimanya.” Ujarnya pada seseorang di seberang telepon. Hanya dengan mendengar satu kalimat itu pun Soojung langsung dapat mengetahui bahwa lawan bicara Minhyuk menanyakan perihal email yang mereka terima barusan.

“Iya sayang, besok kujemput.” Terdengar suara Minhyuk lagi, yang kali ini sukses membuat tubuh Soojung menegang. Beruntung saat itu ia sedang menoleh ke jendela di sampingnya sehingga Minhyuk tidak bisa melihat perubahan raut wajahnya saat ini.

Sayang?

Ia tidak salah dengar, ‘kan?

“Jadi, Minhyuk sudah—“

“Jadi bagaimana, Soojung?”

Pertanyaan Minhyuk sontak membuat lamunan Soojung buyar. Kata ‘sayang’ yang dilontarkan pria itu beberapa menit yang lalu terngiang-ngiang di benaknya dan membuatnya tidak fokus, “Oh, eh, apanya?”

“Kujemput Jumat besok.” Jelas Minhyuk.

Sebenarnya, hal ini adalah kesempatan langka bagi Soojung. Momen berdua dengan Minhyuk belum tentu bisa setahun sekali ia dapatkan, meskipun hanya sekedar mengantar-jemput. Tapi semua bayangan itu hancur setelah ia mendengar pembicaraan Minhyuk di telepon tadi. Setelah ia menyadari Minhyuk sudah memiliki seorang kekasih.

“Aku… berangkat sendiri saja.” Tolak Soojung. Ia lebih memilih merasa berat hati memberikan penolakan dibanding harus duduk di jok belakang dan melihat Minhyuk dan kekasihnya bermesraan.

Oh, membayangkan hal itu saja sudah membuat hatinya seperti teriris-iris.

“Kenapa?” Entah karena memang tidak sadar atau pura-pura, yang jelas Soojung tidak ingin memberikan penjelasan pada pertanyaan Minhyuk yang satu ini.

“Aku takut akan datang terlambat karena urusan organisasi. Aku tidak mau merepotkanmu dan…” ia menggigit bibir, sulit rasanya untuk terdengar baik-baik saja, “… pacarmu.”

“Maksudmu, Yoonhye? Santai saja, dia pasti juga akan senang bertemu denganmu lagi.”

Ini salah satu yang ditakutkan Soojung; Minhyuk memberitahukan siapa nama kekasihnya. Mungkin akan lebih baik jika ia tidak mengenal gadis itu, namun sayangnya nama yang barusan disebutkan adalah nama salah satu teman SMA mereka yang dipastikan akan datang ke acara reuni—Kim Yoonhye.

Soojung mendengus, dengan cara sehalus yang ia bisa agar terdengar seperti helaan napas. “Ya Tuhan, kenapa harus Yoonhye yang menjadi kekasih Minhyuk?”

“Tidak apa-apa, aku sendiri saja.” Tegas Soojung, “Rumahku ada di belokan kedua di sebelah kanan.” Ia berusaha mengalihkan topik dengan menunjuk-nunjuk ke arah jalan. Pupus sudah segala harapannya tentang Minhyuk. Dalam seketika reuni tidak lagi berarti apa-apa baginya.

Lelah. Rasa lelahnya menjadi terasa berkali-kali lipat.

 

***

 

Malam itu Yonghwa tidak dapat tidur dengan nyenyak. Sudah lebih dari tiga kali ia tersentak bangun dan meraba-raba kasur di sebelahnya. Kosong. Spreinya dingin dan masih rapi, tanda orang yang biasa menempatinya sama sekali belum menyentuh tempat tersebut.

Dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul pria itu merentangkan tangannya ke sisi yang lain, bermaksud mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Matanya mengerjap beberapa kali, guna meyakinkan penglihatannya pada jam yang tertera pada layar ponsel. Sudah hampir pukul dua dini hari, dan Seohyun belum juga menampakkan batang hidungnya.

Yonghwa mendudukkan diri di atas kasur, termenung beberapa saat untuk mengumpulkan kesadaran, kemudian menyeret kakinya menuju pintu keluar. Dibukanya pintu tersebut sepelan mungkin, takut mengganggu Seohyun yang sedang berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaan kantor di ruang keluarga.

Namun dugaannya meleset. Alih-alih sedang mengetik atau membaca buku, wanita itu justru sedang berbaring di sofa sambil menutup matanya dengan sebelah lengan. Butuh beberapa saat bagi Yonghwa untuk memindai apakah Seohyun tertidur atau masih terbangun, namun helaan napasnya memberi keyakinan bahwa wanita itu masih terjaga.

“Kau lelah?” tanya Yonghwa setelah memposisikan dirinya di lengan kursi yang menjadi bantalan Seohyun. Dipijatnya bahu wanita itu ringan sambil sesekali diusap puncak kepalanya dengan penuh rasa sayang. Ia pasti sangat lelah sehingga tidak menyadari Yonghwa sudah terbangun dan menghampirinya.

Seohyun menurunkan lengannya dan tersenyum, “Tidak, hanya sedikit mengantuk.”

“Kalau begitu tidurlah.”

“Tidak, tidak. Aku harus menyelesaikan ini dul,.” Dengan sekali sentakan ia mendudukkan diri dan kembali fokus pada layar laptopnya, “Tidurlah lagi. Maaf kalau aku membangunkanmu,” Ia menganggap terbangunnya Yonghwa malam itu adalah karena suara cetikan keyboard yang dihasilkannya sejak tiga jam yang lalu.

“Memangnya kau tidak bisa mengerjakannya di kamar?” Yonghwa mengubah posisinya menjadi duduk di sebelah Seohyun, “Aku tidak bisa tidur kalau kau belum tidur.”

“Yakin kau mau aku mengerjakannya di kamar? Satu meja saja tidak bisa menampung semua buku-buku dan laporan ini. Bisa-bisa nanti tempat tidur kita penuh dengan buku.”

Yonghwa menghela napas panjang, menunjukkan rasa kecewanya yang dibuat-buat, “Kalau begitu tidur saja dulu, kau bisa mengerjakannya lagi besok pagi. Tidak baik memaksa mata terus-menerus menatap layar laptop, Seohyun-ah.”

“Aku akan istirahat. Nanti, setelah pekerjaan ini selesai,” Ia menangkup pipi Yonghwa dengan kedua tangannya, “Bersabarlah sebentar lagi, ya.”

Yonghwa menarik sudut-sudut bibirnya, membentuk seulas senyum. Seohyun memang terkadang suka keras kepala jika sudah menyangkut soal pekerjaan. Ia tidak ingin ikut campur dan menjadi penghalang karir wanita yang sangat dicintainya itu—atau lebih tepatnya tidak lagi. Namun sebelum karir mengancam kesehatannya, rasanya ia perlu turun tangan untuk mengingatkan.

Merasa tidak akan kembali tidur untuk beberapa jam ke depan, Yonghwa akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur. Tidak butuh waktu lama bagi Seohyun untuk mencium aroma kopi yang menguar dari sana. Ia ingat Yonghwa mendapatkan oleh-oleh biji kopi dari kakaknya yang baru kembali dari Brazil. Memang ia sempat melarang pria itu mengkonsumsi kopi secara berlebihan, namun ia akui aroma yang tercium tiap kali pria itu menyeduhnya membuat hatinya luluh. Lagipula tampaknya Yonghwa mulai sadar untuk mengurangi konsumsi kopinya setiap hari. Ia yang awalnya tidak bisa melewatkan satu hari pun tanpa kopi mulai mengubahnya dengan hanya meminum kopi dua sampai tiga kali seminggu.

“Untukmu.”

Seohyun sedikit berjengit ketika secangkir penuh kopi tiba-tiba terhidang di hadapannya. Ia menatap cangkir itu dan Yonghwa bergantian, “Aku tidak begitu suka kopi,” Alasan yang sia-sia sebenarnya, karena pria itu pasti sudah mengetahuinya namun tetap membuatkan dua cangkir kopi untuk mereka berdua.

“Sesekali tidak apa-apa,” Bujuk Yonghwa, “Kalau kau tidak butuh tidur berarti kau butuh kafein.”

“Logikamu berubah dalam sekejap. Mengerikan,” Cibir Seohyun, namun pada akhirnya tetap menerima cangkir yang disodorkan pria itu. Ia memang tidak bisa menolak harumnya aroma kopi, dan tampaknya Yonghwa sudah mengetahui kelemahannya yang satu ini.

Wanita itu menyeruput kopinya, dan terbelalak begitu mencecap rasanya, “Ini enak,” Pujinya jujur.

“Tentu saja. Apa sih yang tidak bisa dilakukan seorang Jung Yonghwa?”

“Tidak, ini pasti tergantung dari kualitas bijinya.”

“Kau tidak percaya dengan kemampuanku, ya? Lain kali coba kau yang menyeduhnya. Kita lihat apakah rasanya sama dengan yang ini.”

Seohyun terkekeh. Selama mengenal Yonghwa, memang hampir tidak ada satu pun hal yang benar-benar tidak bisa dikuasainya. Pria itu selalu bisa menutupi kekurangannya dengan baik. Jadi ia bisa berkomentar apa?

“Baiklah, baiklah. Terima kasih, Tuan Jung Yonghwa yang tampan,” Seohyun mencubit pipi pria itu gemas, membuat si empunya meringis kesakitan.

“Ah, sakit sekali!” Yonghwa mengusap-usap pipi kirinya dan memasang tampang menderita yang dibuat-buat, “Kau harus mengobatinya,” Ia menunjuk bibir Seohyun dan pipinya bergantian.

Seohyun memutar bola matanya jengah. Mulai lagi sifat kekanakan pria yang sudah resmi berstatus sebagai suaminya itu. Namun toh ia tidak terlalu merasa risih. Dikecupnya pipi pria itu sesuai permintaannya. Dan sikapnya tersebut membuat Yonghwa menyeringai lebar.

“Hyun.”

“Hm?”

“Jumat ini kau ada acara?”

“Tidak. Kenapa?” Seohyun menghentikan gerakan tangannya dan menatap Yonghwa lekat-lekat. Sepertinya ia mengerti maksud pertanyaan pria itu barusan, “Mau mengajakku jalan-jalan, ya? Sebagai hadiah ulang tahun?”

“Ulang tahunmu ‘kan sudah lima hari yang lalu,” Kali ini gantian Yonghwa yang mencapit cuping hidung Seohyun gemas, “Ini untuk merayakan ulang tahunku.”

Ya! Kau kira ulang tahunmu kapan, huh? Bahkan sudah berlalu lebih lama daripada aku.”

Yonghwa tertawa lepas, “Baiklah, kau menang, nona Seo. Ini untuk merayakan hari ulang tahunmu. Maaf aku baru bisa mengajakmu pergi Jumat ini.”

Seohyun menggeleng, “Kau ‘kan sudah memberikanku hadiah,” Ia masih ingat bagaimana Yonghwa menyiapkan makan malam dan membersihkan rumah sendirian lima hari yang lalu, sebagai hadiah untuk dirinya yang ketika itu berulang tahun. Hadiah yang sederhana, memang, namun sangat bermakna.

“Anggap saja ini sebagai hadiah tambahan.”

“Memangnya kita mau kemana?”

“Rahasia. Aku tidak akan memberitahumu sampai kita tiba disana.”

Kedua alis Seohyun terangkat, tampak sama sekali tidak keberatan dengan keputusan Yonghwa untuk merahasiakan kemana mereka akan pergi. Ia percaya sepenuhnya pada pria itu dan pasrah saja mengikuti apa yang sudah direncanakan. Ia pun tersenyum, “Semoga tidak mengecewakan, Tuan Jung.”

Yonghwa, yang sudah yakin rencananya akan berjalan lancar, balas tersenyum, “Tidak akan.”

 

***

 

“Ya, ya, aku sudah membawanya, Bu. Jangan khawatir.”

Jungshin menghempaskan ponselnya ke jok kosong di sebelahnya setelah ibunya memutuskan sambungan telepon. Ia sedikit menyesal memberitahukan rencana reuni SMA yang akan dihadirinya pada wanita paruh baya itu, mengharuskannya membawa ‘hadiah’ bagi pasangan yang telah mengundangnya; Yonghwa dan Seohyun. Hubungan antara keluarganya dan keluarga Yonghwa yang terjalin dengan baik sejak mereka masih SMA membuat ibunya merasa harus menitipkan sesuatu pada Jungshin untuk diberikan pada Yonghwa dan istrinya. Dan sialnya, Jungshin tidak tahu kalau hadiahnya akan sebegini memalukan.

Pria jangkung itu sesekali mencuri-curi pandang ke arah tas jinjing besar di atas jok di sampingnya, masih ragu memutuskan untuk memberikan hadiah itu pada sepasang pengantin baru yang akan ditemuinya kelak. Yah, meskipun tidak bisa dibilang baru juga. Pernikahan kedua orang itu sudah memasuki bulan keenam. Dan menurut ibunya, hadiah yang dibawakannya sudah pantas diberikan pada mereka berdua.

Jungshin menghela napas. Masalahnya hadiah yang dibawakan ibunya adalah satu set peralatan makan bayi lengkap dengan alas makan dan tas kecil yang bisa dibawa bepergian. Pria itu tidak ingat Yonghwa pernah cerita kalau sudah memiliki anak.

Kening Jungshin berkerut, “Memangnya Seohyun sudah hamil?” pria itu lalu mendecak, “Ah, sudahlah. Kalau pun belum toh nanti mereka juga akan mengalaminya. Tidak ada salahnya memberikan benda-benda ini.”

Baru saja Jungshin berpikir demikian, ponselnya tiba-tiba berdering kembali. Sedikit terkejut ia ketika melihat orang yang dipikirkannya sejak tadilah yang menelepon.

“Ya, Hyung?”

“Jungshin-ah, bisakah kau pergi ke toko kue di Myeong-dong? Aku sudah memesan kue tart untuk Seohyun disana dan gadis-gadis itu sudah berjanji akan mengambilnya. Tapi ternyata yang bisa kesana hanya Seolhyun. Kasihan dia sendirian,” Terdengar suara Yonghwa dari seberang.

“Gadis-gadis itu?” Jungshin merasa ganjil dengan kata tersebut.

“Seolhyun, Seungyeon, dan Soojung,” jelas Yonghwa, “Aku tahu kau sudah di perjalanan menuju kafe. Tolong temani Seolhyun, ya?”

“Tapi, Hyung, sebentar lagi aku sampai…”

“Ayolah, Jungshin. Kau ‘kan laki-laki. Masa mengambil pesanan kue saja tidak bisa?”

Jungshin mendecak. Ia tidak suka kalau Yonghwa mulai mengungkit soal kejantanannya sebagai lelaki seperti ini, membuatnya terkesan pengecut dan lemah, “Baiklah, baiklah. Toko kue yang biasa ‘kan?”

“Aku tahu aku bisa mengandalkanmu, Jungshin. Ya, toko kue yang biasa. Aku sedang menuju kantor Seohyun, usahakan jangan sampai terlambat, ya.”

“Bujukanmu itu memang pintar sekali, Hyung. Sampai memujiku segala,” umpat Jungshin begitu sambungan telepon terputus. Ia yang tinggal satu kilometer lagi tiba di tempat reuni terpaksa harus memutarbalikkan mobilnya menuju toko kue di Myeong-dong. Namun mungkin dengan begini ia beruntung bukan menjadi orang pertama yang datang ke kafe itu. Bisa-bisa ia dianggap jomblo kesepian nantinya.

Sesampainya di toko kue, Jungshin langsung melangkahkan kakinya ke arah kasir tanpa mau repot melihat-lihat jajaran kue di etalase. Ia ingin segera menyelesaikan tugasnya tersebut.

“Saya mau mengambil pesanan atas nama Jung Yonghwa,” Ujarnya pada seorang pramuniaga.

“Jung Yonghwa? Pesanan itu baru saja diambil…” pramuniaga itu mengarahkan kedua tangannya pada seorang gadis yang berdiri persis di sebelah Jungshin, “… oleh nona ini.”

Jungshin menoleh ke arah yang ditunjuk pramuniaga itu. Sementara gadis yang sedang merogoh dompet di sebelahnya ikut menoleh.

“Kau… Seolhyun?” tanya Jungshin ragu.

“Ya, aku Seolhyun,” Untuk sepersekian detik gadis itu hanya menatap bingung, “Kau juga mau mengambil pesanan Jung Yonghwa?”

“Aku Lee Jungshin,” Pria itu memperkenalkan diri karena rupanya gadis di hadapannya ini tidak mengenalnya, atau mungkin tidak menyangka ia akan datang menyusul, “Yonghwa hyung memintaku kesini untuk menemanimu.”

Mendengar penjelasan Jungshin, mata gadis itu melebar dan mulutnya menganga membentuk huruf ‘O’, “Kau Jungshin? Astaga, aku sama sekali tidak menyadarinya!”

“Aku juga hampir tidak mengenalimu,” Jungshin, yang sudah lebih dulu berhasil mengendalikan keterkejutannya saat melihat Seolhyun, buru-buru mengeluarkan dompetnya dan mencegah gadis itu untuk membayar, “Biar aku saja.”

“Maaf, maksudku… Kau terlihat sedikit berbeda. Lebih tinggi dan ….” Seolhyun menimbang-nimbang kata yang tepat, “…good-looking.” Dipilihnya kata tersebut menggantikan kata ‘tampan’ yang menurutnya terlalu ekstrim untuk disebutkan pada pertemuan mereka setelah sekian lama. Namun bukan berarti ia berbohong. Ia ingat betul sosok Jungshin yang kurus, manja, dan terkesan lemah semasa SMA dulu. Jungshin yang dilihatnya saat ini jauh dari semua kesan tersebut, membuatnya sedikit sulit untuk tidak terpesona.

Tunggu. Terpesona?

“Sekarang kau jadi semakin cantik.” Puji Jungshin dalam perjalanan mereka menuju mobil, “Aku ingat dulu kau—“

“Gendut. Aku tahu,” Potong Seolhyun, “Aku mulai menjalani diet saat memasuki dunia perkuliahan. Teman-teman mengajakku ikut audisi di salah satu agensi, jadi aku harus benar-benar memperbaiki penampilan,” Jelasnya lalu tersenyum. Ia sama sekali tidak keberatan membicarakan keadaan fisiknya di masa lalu karena meskipun memalukan, hal tersebut bisa menjadi motivasinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

“Jangan memaksakan diri,” saran Jungshin, “Masih banyak pekerjaan lain yang sesuai dengan minat dan bakatmu.”

“Terima kasih. Aku memang tidak berniat menyiksa diri. Tapi sampai saat ini kenyataannya aku masih kuat, jadi kuteruskan saja.”

Sebelum memasuki mobil, terlebih dahulu Jungshin membukakan pintu untuk Seolhyun, yang lagi-lagi dibalas dengan kata ‘terima kasih’ dari gadis itu. Dulu ia memang tidak begitu dekat dengan Jungshin, hanya sebatas kenal karena Jungshin merupakan sahabat Yonghwa; kekasih Seohyun yang menjadi teman sekelasnya. Dan jujur, imej yang ditunjukkan Jungshin kurang menarik di matanya pada saat itu. Namun tampaknya kali ini ia harus mengubah penilaiannya.

“Kau sendiri bagaimana? Kau ‘kan dulu tidak begini,” Lanjut Seolhyun, merujuk pada penampilan fisik Jungshin yang juga sedikit berubah.

“Mungkin sekarang aku lebih peduli pada kesehatan,” Jawab Jungshin, “Tinggal sendirian justru membuatku mau tidak mau mengurus pola makan sendiri. Lagipula pekerjaan mengharuskanku lebih peduli pada penampilan.”

“Kau sudah bekerja?”

“Bukan pekerjaan tetap. Sesekali aku membantu teman-temanku menjadi model pakaian untuk outlet kecil-kecilan mereka.”

Seolhyun mengangguk-angguk, sedikit banyak mengerti tentang perasaan itu. Andai saja mereka tahu, mereka yang dulunya hampir tidak pernah dilirik orang lain karena keadaan fisik yang berbeda, akan menjadi salah satu primadona di acara reuni nanti.

“Eh, apa ini?” tanya Seolhyun begitu melihat tas jinjing besar yang diletakkan di bawah dashboard sebelum dirinya menduduki jok tersebut tadi.

“Ah, itu…” ragu-ragu Jungshin menjelaskan, “Ibuku menitipkan hadiah untuk Yonghwa hyung dan Seohyun. Tapi aku ragu untuk memberikannya.”

Seolhyun mengintip isi dari tas jinjing tersebut. Ia kemudia tertawa geli, “Mereka ‘kan belum punya anak.”

“Nah ‘kan benar dugaanku,” Gumam Jungshin, “Kalau begitu aku memberikannya nanti saja. Aku tidak mau merusak suasana. Bisakah kau taruh itu di jok belakang, Seolhyun-ssi?”

“Baiklah,” Gadis itu menuruti kata-kata Jungshin. Namun rasanya ada yang berbeda ketika Jungshin mengucapkan namanya dengan embel-embel ‘-ssi’ tadi. Entah kenapa ia jadi merasa tidak nyaman. Bisakah pria itu memanggilnya Seolhyun saja?

Seolhyun meringis diam-diam. Ia pasti sudah gila.

 

***

 

Jonghyun menghela napas panjang. Sudah lebih dari tiga puluh menit ia memarkirkan mobilnya tepat di depan gedung kursus Bahasa Mandarin di salah satu sudut kota Seoul. Ia harusnya pergi ke kafe tempat acara reuni, ia tahu itu. Namun entah mengapa tangannya serasa bergerak sendiri ketika membelokkan setir ke tempat ini tadi. Padahal ialah yang memberikan rekomendasi kafe pengganti setelah menolak tawaran Yonghwa untuk mengadakan reuni di restoran patbingsoo miliknya. Ia tidak ingin Seungyeon tidak datang setelah mengetahui hal tersebut. Ia tidak ingin mengorbankan keinginan gadis itu untuk berkumpul kembali dengan teman-temannya semasa SMA.

Ah, ya. Seungyeon. Gadis yang sejak tiga hari yang lalu kembali mengisi pikirannya lagi itu.

Gedung tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah tempat kerja sambilan Gong Seungyeon, di samping pekerjaan utamanya sebagai graphic designer. Ia merasa kelancarannya berbahasa Mandarin sayang jika hanya disimpan untuk diri sendiri. Jonghyun akui gadis itu memang seorang yang mandiri dan pekerja keras. Ia sama sekali tidak ingin bergantung pada Jonghyun saat keluarganya sempat mengalami kesulitan ekonomi dulu. Dan itulah yang menjadi salah satu daya tariknya.

Lama terdiam, Jonghyun akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil. Dipandanginya gedung itu sekali lagi. Matanya mengarah pada salah satu jendela di sudut kanan di lantai dua. Lampunya masih menyala dan masih terdengar suara riuh para peserta didik. Ia tahu betul kalau kelas tersebut adalah kelas Seungyeon. Memorinya kembali berputar ke waktu dimana gadis itu pernah mengajarinya Bahasa Mandarin secara intensif setelah tahu ia akan menjalani program pertukaran pelajar ke Beijing. Jonghyun memiliki kebiasaan sukar untuk mengingat, terutama pada hal-hal yang tidak disukainya. Kesabaran dan ketelatenan Seungyeon dalam mengajar membuatnya tanpa sadar menyunggingkan senyum.

Baru saja Jonghyun melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung, beberapa orang tampak sedang menuruni tangga yang terletak di ujung lorong. Peserta didik yang terdiri dari berbagai kalangan usia itu diam-diam memperhatikannya sambil membisikkan sesuatu. Awalnya Jonghyun merasa aneh, namun ia baru menyadari kalau beberapa dari orang-orang tersebut ada yang sudah mengenal dirinya yang memang hampir setiap hari datang kesana untuk menjemput Seungyeon sampai dua bulan yang lalu.

Jonghyun berusaha keras untuk tidak menanggapi tatapan tersebut. Entah apakah orang-orang itu sudah tahu status hubungannya dengan Seungyeon saat ini atau hanya terkejut melihat kehadirannya setelah sekian lama, ia tidak peduli. Namun saat kepalanya kembali mendongak ke arah tangga, sosok yang menjadi pemeran utama sudah berdiri disana, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Cukup lama kedua orang itu terdiam di tempat masing-masing, sampai akhirnya Seungyeon kembali melangkahkan kakinya perlahan setelah semua peserta didiknya keluar dari gedung. Suasana gedung yang sepi ditambah dengan kebisuan di tengah-tengah mereka semakin membuat Jonghyun merasa khawatir. Khawatir gadis itu benar-benar sudah melupakannya dan mengusirnya pergi.

“Kenapa kesini?” tanya Seungyeon setelah cukup mengeliminasi jarak di antara mereka. Ia bisa lebih ketus lagi, sebenarnya. Tapi jika itu untuk Jonghyun, jujur ia tidak sanggup.

“Menemuimu,” Jawab Jonghyun tanpa basa-basi. Sebenarnya bukan itu tujuan utamanya datang. Namun melihat gadis itu lagi setelah sekian lama, ia rasa ia memang benar-benar mau menemuinya.

“Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Lee Jonghyun. Semua sudah—“

“Tidak ada yang bilang aku kesini untuk meminta penjelasan,” Potong Jonghyun. Ia meneliti penampilan gadis itu dari atas ke bawah. Seungyeon tampak sedikit lebih pucat dan lebih kurus dari yang terakhir ia lihat, membuatnya berpikir apa saja yang sudah dilakukan gadis itu selama dua bulan terakhir.

“Kau tampak frustasi.”

Jonghyun menyandarkan punggungnya ke dinding dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, kemudian mendengus pendek, “Bagaimana mungkin aku tidak frustasi kalau kau memutuskan hubungan kita secara sepihak?”

Seungyeon membuang pandangannya ke samping. Dapat Jonghyun lihat gadis itu menelan ludah. Air mukanya memancarkan rasa bersalah yang tidak begitu kentara, “Aku membayangkan masa depan. Dan aku tidak berpikir kau melakukan hal yang sama.”

“Kita tidak muda lagi. Seharusnya kita mulai berpikir tentang hubungan yang lebih serius—“

“Apa yang kau bayangkan?”

Gadis itu menggeleng lemah, “Tidak ada. Tidak ada apa-apa di masa depan kita. Salah satu hal yang membuatku berpikir mungkin sebaiknya aku mengakhirinya, sebelum khayalanku terlalu tinggi dan membuatku terjatuh nantinya.”

“Seungyeon-ah, aku—“

“Aku tahu,” Potong Seungyeon sambil tersenyum miris, “Aku tahu kau masih ingin fokus pada pekerjaanmu dan sama sekali belum terpikir kesana. Tapi aku tidak bisa. Aku butuh kepastian kemana arah hubungan ini karena tanggung jawabku sebagai tulang punggung keluarga. Aku hanya takut menantikan harapan kosong.”

“Kita sudah pernah membicarakan ini, Jonghyun. Kuharap kau mengerti.” Gadis itu memperbaiki letak sling bag-nya dan berjalan meninggalkan Jonghyun. Ia tidak ingin membahas hal yang sama dua kali dan membuat luka di hatinya yang belum kering kembali menganga. Namun belum sampai tiga langkah, lengannya segera ditahan oleh Jonghyun.

“Maaf… karena aku tidak memikirkan posisimu di mata keluarga. Dan maaf… mungkin selama ini aku terlalu memikirkan diri sendiri.”

“Apa jika permintaan maafmu kuterima, keputusanmu bisa berubah?”

Jonghyun terdiam, bingung bagaimana harus menanggapi. Jujur, menikah dan membina sebuah keluarga masih sangat jauh dari pikirannya. Ia butuh waktu. Namun tampaknya Seungyeon tidak mau lagi mengerti.

Melihat respon yang diberikan Jonghyun, lagi-lagi Seungyeon tertawa getir.

“Datanglah ke acara reuni,” Ujar Jonghyun kemudian, yang malah semakin membuat hati Seungyeon hancur karena pria itu memutuskan untuk mengabaikan pertanyaannya.

“Dan menemukan pria baru? Aku bukan gadis murahan, Lee Jonghyun.”

“Aku tidak bilang begitu,” Jonghyun mulai geram karena Seungyeon menyalahartikan permintaannya barusan.

Gadis itu menghela napas lagi, berusaha membendung air matanya yang sudah menyeruak keluar, “Pergilah. Aku ada urusan. Jangan menungguku datang.”

Tanpa menunggu jawaban Jonghyun, gadis itu mempercepat langkahnya menuju pintu keluar. Ia tidak ingin Jonghyun melihatnya menangis dan mendapatkan perhatian lagi darinya. Ia tidak ingin Jonghyun membuatnya berharap lagi.

Sementara itu, Jonghyun yang merasa tidak berguna hanya bisa melampiaskan kekesalannya pada dinding. Tanpa ia tahu gadis itu tidak sepenuhnya pergi, hanya bersembunyi di bagian samping gedung dan menangis terisak-isak disana.

Tanpa mereka tahu, hati keduanya sama-sama terluka.

 

***

 

Setelah melalui kurang lebih satu jam perjalanan, Yonghwa akhirnya tiba di gedung kantor tempat Seohyun bekerja. Ia yang tadinya berencana untuk menunggu Seohyun di tempat parkir mengubah keputusannya setelah melihat sosok pria dan wanita yang baru saja keluar dari lobby. Wanitanya itu tidak berjalan sendiri. Ada Cho Kyuhyun yang mengekorinya di belakang, entah mengatakan apa yang membuat Seohyun tertawa kemudian menunjuk ke arah Audi hitamnya di lapangan parkir.

Dari gerak-geriknya saja Yonghwa sudah tahu, pria itu bermaksud menawarkan tumpangan pada Seohyun. Beruntung gadis itu masih ingat padanya dan menolaknya secara halus. Namun untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Yonghwa segera melesatkan mobilnya ke depan gedung, tepat di samping kedua orang tersebut.

Pria itu membuka kaca mobil dan mencondongkan tubuhnya ke arah jok kosong di sebelahnya, “Seohyun-ah, ayo naik.”

“Maaf, Kyuhyun-ssi, aku duluan. Terima kasih atas tawarannya,” Seohyun mengedikkan kepalanya sopan sebelum memasuki mobil. Cepat-cepat Yonghwa menutup kembali kacanya ketika mengetahui pria itu hendak mengatakan sesuatu lagi. Mungkin mau mengucapkan ‘sampai nanti’ atau ‘hati-hati di jalan’, namun ia sama sekali tidak peduli.

Seohyun, yang belum menyadari perubahan raut wajah Yonghwa, bersenandung kecil sambil meletakkan berkas-berkas yang dibawanya ke jok belakang. Kegiatannya sempat terhenti ketika mendengar Yonghwa berujar, “Aku tidak begitu suka melihatmu dekat dengan Kyuhyun.”

Seohyun tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah Yonghwa lekat-lekat, dan disanalah ia baru menyadari pria itu sedang merasa cemburu, “Tenang saja, ia hanya rekan kerja,” sahutnya, tidak kuasa untuk menyembunyikan senyumannya.

“Mungkin kau bagimu seperti itu. Tapi baginya? Tidak ada yang tahu apa yang ia pikirkan.”

Seohyun memutar bola matanya, “Ayolah, Yong. Memang siapa yang peduli dia menganggapku apa? Aku ‘kan sudah menikah.”

“Aku peduli,”  Balas Yonghwa, terang-terangan menunjukkan sikap tidak suka, “Tidak ada yang bisa menjamin kau akan mencintaiku selamanya, sekalipun sudah bersumpah di depan altar. Tidak ada yang bisa menjamin apa yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan hatimu.”

Seohyun terbelalak, tidak percaya pada apa yang Yonghwa katakan, “Astaga! Kita sudah hidup bersama selama enam bulan! Semudah itukah kau mengatakannya? Kau anggap pernikahan kita ini apa?!”

“Karena aku mencintaimu, Hyun. Aku takut kehilanganmu karena pria itu.”

“Kalau begitu seharusnya kau percaya padaku. Kata-katamu tadi menyakitiku, kau tahu?” Seohyun melipat kedua tangannya di depan dada dan mendengus kesal. Kepalanya ditolehkan ke arah jendela dan sesekali tangannya menghapus air mata yang mengalir ke pipinya. Ia benar-benar tidak menyangka Yonghwa punya pemikiran bodoh seperti itu. Sikap kekanakan yang dimiliki pria itu tampaknya sudah mencapai ambang batas kesabarannya.

Perdebatannya dengan Yonghwa otomatis langsung membuat mood Seohyun jatuh ke tingkat paling dasar. Suasana yang seharusnya romantis karena akan merayakan ulang tahun bersama berubah menjadi kelam. Mungkin bisa saja ia meminta turun dari mobil dan kembali ke rumah seorang diri, namun ia selalu ingat pesan ibunya untuk tidak meninggalkan suaminya sebesar apapun pertengkaran yang mereka alami.

Beberapa saat kemudian tangisnya pun mereda. Seohyun masih terdiam tanpa sedikit pun sudi memalingkan wajahnya dari jendela. Ia berharap Yonghwa menyadari kesalahannya dan meminta maaf, namun hingga detik ini pria itu hanya membisu. Sama sekali tidak berusaha mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Keduanya tetap dalam posisi yang sama hingga Yonghwa menghentikan mobilnya di salah satu kafe. Pria itu melepas sabuk pengamannya dan dengan lembut menggenggam tangan kiri Seohyun, “Maafkan aku…”

Awalnya Seohyun tetap menjaga gengsi dengan tidak mengubah posisinya, namun bagaimana pun juga mereka sepasang suami-istri yang akan hidup bersama sampai ajal menjemput. Tidak mungkin ia akan terus-terusan mengacuhkan Yonghwa.

Lagipula ia mencintai pria itu.

“Jangan pernah berpikir seperti itu lagi,” Ujarnya kemudian.

Yonghwa mengangguk, kemudian menangkupkan kedua tangannya pada pipi Seohyun, menghapus bekas air mata yang tertinggal disana, “Aku percaya padamu,” Dikecupnya dahi wanita itu dengan penuh kasih sayang.

“Sekarang kita turun,” Lanjutnya lagi. Ia keluar dan membukakan pintu untuk Seohyun selagi wanita itu melepas sabuk pengamannya. Dengan bergandengan tangan, mereka pun memasuki kafe tersebut.

 

***

 

“Jadi ini kejutannya?” komentar Seohyun begitu mereka menginjakkan kaki di bagian dalam kafe. Wajahnya tampak tidak begitu antusias. Ia mengira Yonghwa menyiapkan sesuatu yang lebih besar dibandingkan makan malam bersama di kafe yang sudah sering mereka kunjungi itu. Namun ia berusaha mengerti dan mengambil sisi positifnya. Bagaimana pun juga momen berdua dengan Yonghwa selalu menjadi hal favoritnya selama ini.

“Siapa bilang ini kejutannya?”

“Jadi apa?”

Yonghwa hanya tersenyum penuh arti. Terus digandengnya tangan Seohyun menuju lorong ruang VIP. Keduanya berhenti tepat di depan pintu salah satu ruangan. Yonghwa mengisyaratkan agar Seohyun yang membuka pintu tersebut. Meskipun bingung, Seohyun hanya menurut. Betapa terkejutnya ia ketika melihat orang-orang yang dikenalnya sudah berkumpul di ruangan itu, menunggunya di depan pintu masuk dan meneriakkan kata ‘surprise’.

Seohyun menutup mulutnya dengan telapak tangan, tampak sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan teman-teman baiknya semasa SMA. Satu per satu dipeluknya orang-orang yang ada disana, meluapkan rasa rindu dengan saling menanyakan kabar dan mengenang masa lalu.

“Aku sama sekali tidak menyangka kalian akan datang.” Ujar Seohyun, dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya. Wanita itu sudah mendudukkan diri di tengah orang-orang tersebut diikuti Yonghwa yang duduk di sebelahnya.

“Yah, karena dipaksa Yonghwa.” Celetuk Hyoyeon, salah satu teman Seohyun yang berambut pendek pirang, setengah bergurau.

“Jadi ini semua rencanamu?” Seohyun menoleh ke arah Yonghwa. Suasana hatinya sudah kembali membaik setelah bertemu dengan teman-teman lamanya.

Yonghwa mengangguk, “Aku memikirkan hadiah yang tidak biasa. Dan berpikir mungkin kau akan sangat senang jika bisa reuni dengan teman-teman SMA.”

“Yonghwa selalu memikirkanmu. Ia bahkan melarang kami membawa pasangan masing-masing jika bukan dari SMA kita. Kesan nostalgianya akan hilang, katanya.”

Seohyun menatap pria itu, tersenyum. Selalu ada kesempatan bagi Yonghwa untuk membuatnya bahagia. Dan berkali-kali ia bersyukur pada Tuhan karena diberikan pasangan hidup yang sempurna.

Sebagai bentuk rasa terima kasihnya pada Yonghwa, wanita itu pun mencium pipinya—yang disambut dengan sorakan semua orang yang hadir dan membuat keduanya menjadi sedikit malu. Untuk mencairkan suasana, Yonghwa mempersilakan teman-temannya memesan makanan apa saja. Tentu saja semua orang langsung bersemangat karena soal biaya pria itulah yang akan menanggung.

Di tengah kebisingan acara reuni, sesekali Yonghwa melirik ke arah pintu. Ada salah satu orang yang belum datang. Seseorang yang memegang peran penting membawakan kue tart yang menjadi inti acara ini.

“Jungshin-ah, kau tidak tersasar ‘kan?”

 

***

 

“Tunggu, Seolhyun! Jangan buru-buru!”

Jungshin menutup pintu mobilnya dan melangkahkan kakinya lebar-lebar, bermaksud menyusul Seolhyun. Gara-gara sempat terkena macet, ia dan gadis itu akhirnya datang sedikit terlambat. Jungshin sudah berusaha menenangkan Seolhyun dengan mengatakan ‘semua akan baik-baik saja’ dan ‘Yonghwa hyung pasti akan mengerti’. Namun tampaknya gadis itu tidak bisa menghilangkan rasa gelisahnya sehingga langsung cepat-cepat berlari begitu Jungshin mematikan mesin mobilnya.

“Seolhyun-ssi, tenanglah,” Panggil Jungshin lagi. Namun seperti yang sudah-sudah, Seolhyun tidak menyahut. Gadis itu justru semakin mempercepat langkahnya.

Karena panik, Seolhyun tidak memperhatikan jalan di depannya. Akibatnya bisa ditebak, ia tersandung begitu hendak memasuki gedung kafe karena tidak sadar jika lantainya sedikit lebih tinggi dibandingkan lantai luar gedung. Jungshin yang melihatnya buru-buru merentangkan tangan untuk menolong. Sedikit terlambat, memang, karena yang terselamatkan hanya gadis itu dan tidak untuk kuenya. Kotak karton berisi kue tart yang sudah lengkap dengan puluhan lilin kecil di atasnya jatuh ke lantai, tercecer dan tidak jelas lagi bentuknya.

“Astaga! Bagaimana ini?” pekik Seolhyun semakin panik. Dari wajah dan suaranya Jungshin tahu gadis itu hampir menangis. Ia berjongkok di depan kue yang sudah hancur tersebut, mengangkat kotaknya yang terkoyak dengan nanar, “Semuanya salahku. Rencana Yonghwa oppa gagal gara-gara aku. Aku harus bagaimana??”

Jungshin ikut berjongkok di samping Seolhyun dan mengusap punggung gadis itu dengan hati-hati, berusaha menenangkannya. Jika membeli kue lagi tentu tidak akan sempat, apalagi mereka sudah datang terlambat. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencoba mencari alternatif lain.

Begitu melihat ke dalam kafe, muncul ide di benak Jungshin. Ia bangkit berdiri dan membujuk gadis itu untuk masuk ke dalam. Awalnya Seolhyun tidak mau, karena ia sangat malu bertemu dengan Yonghwa. Namun setelah Jungshin mengutarakan idenya, gadis itu pun akhirnya menurut.

“Apa tidak apa-apa?” tanya Seolhyun khawatir.

“Serahkan padaku,” Jungshin menghampiri manajer kafe yang kebetulan sedang berdiri tidak jauh dari sana dan meminta untuk disiapkan selusin cupcakes warna-warni lengkap dengan lilin yang ditancapkan di setiap kuenya. Ia juga meminta salah seorang pelayan untuk mengantarkan kuenya jika sudah siap. Tanpa diduga Seolhyun manajer itu langsung menyanggupi permintaan Jungshin, meninggalkan mereka berdua menuju dapur untuk segera memerintahkan salah satu juru masak menyajikan pesanan pria itu.

“Dulu manajer itu salah satu seniorku di kampus. Kami cukup dekat karena masuk klub yang sama,” Jelas Jungshin, seolah bisa membaca kebingungan Seolhyun.

“Ayo kita ke ruang VIP. Acaranya diadakan disana,” ajak Jungshin.

“Tapi kuenya?”

“Nanti diantarkan. Sudah, tenang saja.”

Meskipun masih berat hati, Seolhyun akhirnya mengangguk dan mengikuti langkah Jungshin. Entah apa yang mendorong Jungshin, ia pun melingkarkan sebelah tangannya ke bahu Seolhyun setelah melihat ekspresi gadis itu. Sesekali bahu itu ditepuknya pelan, sekedar untuk menenangkannya karena tidak lama lagi mereka akan bertemu dengan orang banyak.

 

***

 

Tanpa disadari, beberapa pasang mata tak hentinya menatap ke arah Jungshin dan Seolhyun begitu kedua orang tersebut memasuki tempat reuni. Beberapa ada yang tersenyum penuh arti, beberapa tertawa, bahkan Minhyuk yang duduk di pojok sengaja berdeham untuk menarik perhatian.

Suara Minhyuk rupanya berhasil menyadarkan kedua orang itu. Jungshin langsung menurunkan tangannya dari bahu Seolhyun, sementara gadis itu sedikit menjauhkan dirinya dari Jungshin. Dari situlah mereka baru sadar sudah menjadi tontonan banyak orang.

“Kalian berdua kelihatan serasi sekali.”

“Aku baru tahu Lee Jungshin dan Kim Seolhyun ternyata berpacaran.”

“Itu Lee Jungshin dan Kim Seolhyun? Astaga, aku sampai tidak mengenali mereka berdua!”

Begitulah kira-kira celotehan beberapa orang di ruangan tersebut. Namun Jungshin terlalu malas untuk menanggapi, sedangkan Seolhyun yang masih merasa galau memilih untuk tidak menjawab berbagai pertanyaan tidak penting itu.

“Seolhyun, kau habis menangis?” pertanyaan iseng Soojung langsung menarik perhatian beberapa orang di dekat mereka.

Seolhyun memalingkan wajahnya ke arah lain, “Tidak…”

Ya! Mana kuenya?” bisik Yonghwa pada Jungshin ketika pria itu mendudukkan dirinya di kursi.

Jungshin menempelkan telunjuknya di bibir, “Tadi ada sedikit kesalahan teknis. Tapi tenang saja, semua sudah kuurus.”

“Benar kata orang-orang, kalian serasi juga.” Ujar Minhyuk jahil. Jungshin, yang tidak ingin Seolhyun merasa tidak nyaman karena terus-terusan digoda, menepuk keras bahu pria itu.

“Sekarang saja kalian duduk bersebelahan. Padahal masih banyak bangku kosong lain. Apa ada cerita yang tidak kami ketahui?” Yoonhye ikut-ikutan menggoda.

“Diamlah kalian semua. Jangan menggoda Seolhyun terus.” Jungshin memasang tampang serius. Sudah cukup Seolhyun merasa tidak nyaman karena rasa bersalahnya pada Yonghwa, jangan ditambah dengan olok-olok menyangkut dirinya.

Diam-diam Seolhyun mencuri pandang ke arah Jungshin. Namun di saat bersamaan pria itu juga tengah meliriknya. Keduanya terkejut dan membuang pandangan ke arah berlawanan. Seolhyun tidak begitu keberatan sebenarnya dengan semua olok-olok itu. Lagipula Jungshin juga tidak begitu menanggapi.

Gadis itu terdiam, larut dalam pikirannya sendiri. Seharusnya ia juga bersikap biasa saja, karena memang tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Tapi kenapa jantungnya malah berdebar-debar?

 

***

 

Tak lama kemudian, datanglah seorang pelayan ke dalam tempat reuni dengan membawa satu nampan besar berisi selusin cupcakes warna-warni. Melihat hal tersebut, Jungshin langsung berinisiatif berdiri dan menyanyikan lagu ‘Happy Birthday’ sambil bertepuk tangan. Seolhyun, yang sejak awal sudah mengetahui rencana Jungshin, mengikuti apa yang pria itu lakukan.

Tak butuh waktu lama hingga semua orang yang ada di ruangan itu—kecuali Seohyun—melakukan hal yang sama. Yonghwa mengisyaratkan pada wanita itu untuk berdoa dan meniup lilin ketika sang pelayan mengantarkan cupcakes tersebut ke hadapan Seohyun. Seohyun menurut. Tepat ketika lagu selesai, semua yang ada di ruangan itu bertepuk tangan meriah.

“Berterimakasihlah pada Yonghwa. Ini semua rencananya,” Bisik Jungshin pada Seohyun. Suaranya tidak cukup pelan untuk membuat Yonghwa bisa mendengarnya.

Seohyun menoleh ke arah Yonghwa. Pria itu menunjuk pipi kanannya sambil tersenyum jahil, “Sebagai ucapan terima kasih.”

Seohyun mendecak, “Tadi ‘kan sudah.”

“Kalau begitu yang ini,” Yonghwa beralih menunjuk bibirnya. Namun bukannya kecupan manis seperti yang diharapkan, ia malah mendapat pukulan ringan dari wanita itu.

“Ini ‘kan tempat umum. Sembarangan!”

“Nah, nona Seo Joohyun, kue pertama akan diberikan pada siapa?” Jungshin mengambil sendok di meja dan pura-pura menggunakannya sebagai mikrofon, bersikap layaknya seorang master of ceremony pada malam itu.

“Tentu saja padaku,” Celetuk Yonghwa.

Seohyun tersenyum. Pria itu tidak salah. Tentu saja cupcake pertama harus diberikan pada Yonghwa, otak di balik semua rencana ini. Rasanya sebuah cupcake saja tidak cukup untuk membayar semua yang telah dilakukan pria itu hari ini. Wanita itu menyerahkan salah satu cupcake pada Yonghwa, kemudian mengecup bibirnya singkat. Yonghwa tentu saja kaget, tidak menyangka Seohyun mau mengabulkan permintaan yang tadinya hanya main-main itu. Sementara si wanita hanya menunduk malu. Biarlah orang berkata apa, yang jelas Yonghwa pantas menerimanya.

“Ya sudah, sekarang semua boleh makan kuenya,” Seohyun berujar. Ia menyibukkan diri dengan membagi-bagikan sisa cupcakes pada orang-orang yang hadir sembari menyembunyikan wajahnya yang merah padam.

Yonghwa tentu saja tahu. Ia hanya tersenyum geli melihat tingkah laku Seohyun yang menurutnya lucu. Tak lupa ia diam-diam mengacungkan jempol pada Jungshin dan Seolhyun, yang telah membantunya melancarkan rencana ini. Ia sama sekali tidak marah begitu melihat kue yang diberikan bukanlah kue tart pesanannya. Yang penting Seohyun bahagia, itu sudah cukup.

“Terima kasih.”

***

 

 

Lama setelah hingar-bingar itu berlangsung, Jonghyun baru menampakkan dirinya. Susah payah ia menjelaskan pada semua orang kalau ia ada urusan, jadi terlambat datang. Entah urusan apa, pria itu tidak mau menyebutkan.

“Aku benar-benar kecewa padamu. Pertama kau menolak waktu kusarankan untuk mengadakan reuni di restoran milikmu, lalu sekarang kau malah tidak ikut merayakan ulang tahun Seohyun,” Sahut Yonghwa begitu Jonghyun menghempaskan diri di salah satu kursi.

“Maaf, Hyung,” Hanya itu yang bisa Jonghyun lontarkan, “Bukankah dengan hadirnya aku di reuni ini berarti sudah ikut merayakan ulang tahunnya?”

“Kau ini!” Yonghwa menjitak pelan kepala Jonghyun. Sahabat yang sudah dianggapnya adik sendiri itu memang suka semena-mena.

“Wah, ada cupcakes, ya? Bagianku mana?” tanyanya setelah memperhatikan sekeliling.

“Ada di Seungyeon,” Jawab Yonghwa.

Ekspresi Jonghyun seketika berubah. Senyum yang mengembang di bibirnya perlahan memudar. Saat datang tadi ia memang sudah memindai semua orang di dalam ruangan, termasuk Seungyeon yang ternyata datang dan duduk di hadapannya. Sengaja ia mengabaikan gadis itu karena tidak ingin merusak suasana.

Dengan ragu Jonghyun melirik ke arah Seungyeon. Tampaknya gadis itu juga sedang memandanginya karena langsung memalingkan wajah begitu mata keduanya bertemu. Jonghyun hanya diam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Maaf, ya, karena jumlah cupcakes-nya tidak cukup jadi ada beberapa yang kubagi untuk dua orang,” Jelas Seohyun, “Kalian tidak keberatan ‘kan?”

Jonghyun mendengus. Ia tidak bisa protes karena sampai saat ini Seohyun tidak tahu-menahu soal hubungannya dan Seungyeon yang kandas di tengah jalan. Tapi Yonghwa tahu. Kenapa pria itu malah membiarkannya?

“Sebenarnya aku tidak terlalu ingin. Itu untuk Seungyeon saja,” Jawab Jonghyun akhirnya. Ia yakin Seungyeon tidak akan mau berinteraksi dengannya saat ini, jadi ia memutuskan untuk mengalah.

“Aku tidak terlalu suka makanan manis. Ini untuk Jonghyun saja,” Seolah tidak mau kalah, Seungyeon mendorong cupcake di hadapannya ke tengah meja tanpa sedikit pun memandang Jonghyun.

“Aku tidak—“

“Sudah, bagi dua saja,” Yonghwa menengahi. Ia mulai gerah dengan sikap yang ditunjukkan kedua orang itu. Kelihatan sekali dua-duanya masih saling mencintai, lalu kenapa memutuskan untuk berpisah?

Baik Jonghyun maupun Seungyeon sama-sama terdiam, gengsi untuk mengambil cupcake tersebut atau membaginya menjadi dua bagian seperti kata Yonghwa. Namun lama-kelamaan Jonghyun menjadi jengah. Tanpa ragu ia menyambar cupcake yang dianggurkan itu dan menggigitnya.

“Kau bilang tidak mau, ‘kan? Ya sudah kumakan,” Sahutnya cuek.

Seungyeon mendengus. Ia kesal bukan karena tidak mendapat cupcake, namun kesal karena melihat respon yang diberikan Jonghyun. Tidak bisakah pria itu sedikit lebih peka? Apa ini artinya pria itu sudah tidak peduli padanya?

Seungyeon mengamati Jonghyun yang sedang asyik menikmati cupcake-nya sambil mengobrol dengan Yonghwa dan Minhyuk. Kelihatan sekali pria itu mencoba mengacuhkannya. Ia meneguk minumannya berkali-kali, diam-diam menyesal telah menyuruh Jonghyun untuk pergi.

“Tidak adakah sesuatu yang bisa kau lakukan?”

 

***

 

Rupanya acara reuni malam itu tidak hanya kelabu bagi Seungyeon, tapi juga Soojung. Seharusnya dari awal ia mengikuti kata hatinya untuk tidak datang, karena memang dirasa hatinya belum siap. Namun Soojung tetap memaksakan diri, menganggap ia akan baik-baik saja karena keberadaan teman-temannya yang lain disana.

Kenyataannya yang terjadi sangat jauh di luar perkiraan. Mood-nya yang langsung jatuh begitu melihat Minhyuk dan Yoonhye membuatnya malas berinteraksi dengan siapapun. Bahkan dengan Seohyun, Seungyeon, dan Seolhyun yang merupakan teman dekatnya pun hanya ia jawab sekenanya. Selebihnya ia lebih banyak diam, sesekali memainkan ponsel dan menyandarkan kepalanya ke atas meja.

Sebenarnya bisa saja ia meminta izin untuk pulang lebih cepat, namun kesempatan bertemu dengan teman-teman lama rasanya sayang untuk dilewatkan begitu saja. Lagipula Minhyuk masih disana. Mungkin terdengar kurang ajar, tapi ia masih ingin memandangi pria itu diam-diam dari kejauhan, meskipun terkadang harus bermain kucing-kucingan dengan kekasihnya yang punya tatapan tajam. Gadis bernama Yoonhye itu seolah selalu tahu jika ada seseorang yang memperhatikan Minhyuk. Dan jika sudah begitu, Soojung akan pura-pura sibuk dengan ponselnya atau pura-pura mengobrol dengan Seungyeon.

“Kau sakit, Soojung?” tiba-tiba Seohyun sudah duduk di sampingnya, menatapnya cemas. Soojung sedikit terkejut wanita itu masih memperhatikannya di sela-sela kesibukannya mengobrol dengan teman-teman klub pemandu soraknya dulu; Hyoyeon, Tiffany, Sunny, dan Yuri.

Soojung menggeleng, “Tidak. Hanya saja mood-ku sedang tidak bagus.”

“Maaf, acaranya membosankan, ya?”

“Bukan, bukan acaranya. Kau tidak perlu khawatir.”

“Ada sesuatu yang tidak kuketahui? Kau tidak mau cerita?”

Mendengar pertanyaan Seohyun, tiba-tiba saja Soojung menjadi gugup. Haruskah ia menceritakan semuanya? Tentang perasaannya pada Minhyuk yang bertepuk sebelah tangan?

Lagi-lagi Soojung melirik sekilas ke arah pria itu, kemudian menghela napas begitu mengetahui kekasihnya masih ada di sampingnya; bergelayut manja di lengan kiri tanpa sedetik pun berpikir untuk memisahkan diri.

Seohyun mengikuti arah lirikan Soojung. Minhyuk. Pasti ada sesuatu di antara mereka berdua. Tanpa sengaja matanya menangkap Minhyuk yang sedang mencuri-curi pandang ke arah Soojung tanpa disadari oleh gadis itu. Ia tampak risih dan berkali-kali ia mencoba melepaskan tangan Yoonhye dari tangannya, namun gadis itu tetap saja merangkulnya lagi dan lagi.

Seohyun tersenyum. Rasanya ia mengerti.

“Kau bisa cerita padaku, Soojung. Kita ‘kan teman.”

Cukup lama Soojung menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengangguk samar. Mungkin ia bisa percaya pada Seohyun. Lagipula terus-terusan memendamnya seorang diri lama-kelamaan membuatnya frustasi.

“Jadi begini, Seohyun-ah. Aku… jatuh cinta pada Minhyuk…”

 

***

 

Seolhyun memoleskan lipstik berwarna coral pink ke bibirnya sekali lagi. Ia lalu memperhatikan wajahnya di depan cermin, memastikan riasannya tidak terlalu berlebihan namun cukup untuk menyembunyikan bekas air mata akibat menangis tadi. Setelah dirasa cukup, gadis itu pun keluar dari toilet. Namun betapa terkejutnya ia ketika Jungshin tiba-tiba melintas di depannya.

“Oh, kau ada disini?” tanya Jungshin yang juga sempat terkejut. Untung saja mereka tidak bertabrakan.

“Yah, habis membetulkan riasan,” Jawab Seolhyun jujur, “Kau mau kemana?”

“Ke lantai tiga. Kau mau ikut?”

Seolhyun mengernyit. Kenapa tiba-tiba pria itu meninggalkan tempat reuni dan malah naik ke lantai tiga? Memang ada apa disana?

Penasaran, Seolhyun pun mengikuti langkah Jungshin menaiki tangga menuju lantai tiga. Kata ‘wow’ meluncur begitu saja dari mulutnya begitu sampai disana. Ia baru tahu kafe tersebut menyediakan tempat makan rooftop dengan pemandangan kota Seoul di malam hari. Taman buatan serta hiasan lampu-lampu kecil menambah kesan romantis bagi siapa saja yang mengunjungi tempat tersebut.

Seolhyun melayangkan pandangannya ke setiap sudut. Meskipun indah, namun tempat itu cukup sepi. Selain dirinya dan Jungshin, hanya ada dua pasangan yang tampak sedang menikmati makan malam dengan letak yang berjauhan.

“Tidak banyak pelanggan yang tahu tempat ini. Hanya teman-teman dekat dan kenalan pemiliknya saja, itu pun harus membayar lebih karena privasi mereka akan tetap dijaga.” Jelas Jungshin, seolah mengetahui isi pikiran Seolhyun.

“Lalu apa yang kita lakukan disini? Kita bisa mengganggu privasi mereka.”

“Aku ‘kan kenal dengan manajernya.”

“Lalu? Kau mau manajer itu mempertaruhkan pekerjaannya demi menuruti keinginanmu? Itu tidak sopan, tahu!”

“Sudahlah, diam dan duduk saja,” Jungshin memegang kedua bahu gadis itu dan mendudukkannya di salah satu kursi taman di bagian tengah rooftop, jauh dari kedua pasangan yang sudah lebih dulu datang, “Suaramu itu malah yang akan mengganggu privasi mereka.”

Seolhyun melipat kedua tangannya di depan dada, “Lalu kau ingin kita bertingkah seperti dua pasangan itu? Candle light dinner?”

“Aku ‘kan tidak tahu kalau ternyata kau mau ikut. Jadi tidak, nona Kim Seolhyun. Tidak ada candle light dinner malam ini.”

“Lalu apa alasanmu datang kemari?”

“Aku…” Jungshin menghela napas panjang, “Aku bosan dengan suasana di tempat reuni.”

“Kau juga merasakannya, ya? Suasana canggung itu?”

Jungshin mengangguk, “Seohyun terlalu disibukkan oleh teman-teman satu klub pemandu sorak dulu, Jonghyun dan Seungyeon sedang perang dingin, Soojung kelihatan seperti mayat hidup, dan Minhyuk… aku risih dengan kekasihnya Yoonhye, tidak menghargai kami yang ingin mengobrol diantara laki-laki saja.”

Seolhyun terdiam. Semua itu memang benar. Mungkin sekilas suasana reuni tampak ramai dan akrab. Namun di balik itu semua, ada suasana kelam dan canggung pada masing-masing individunya.

“Mungkin… Soojung seperti itu karena Minhyuk,” Seolhyun yang awalnya ragu akhirnya memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Jungshin. Ia sedikit berharap pria itu bisa membantu karena jujur, ia kasihan melihat Soojung yang terus-terusan murung.

“Minhyuk?” tanya Jungshin tidak mengerti, “Maksudmu… Soojung menyukai Minhyuk?”

“Bahkan lebih dari itu. Sudah sejak SMA. Soojung terlalu takut untuk mengutarakan perasaannya, dan Minhyuk juga tidak menunjukkan tanda-tanda ia memiliki perasaan yang sama.”

Jungshin mengangguk-angguk. Satu fakta baru yang ia dapatkan. Kenapa dari dulu ia tidak sadar? Mungkin Soojung terlalu pandai menyembunyikan perasaannya.

“Lalu bagaimana denganmu?” Jungshin balik bertanya.

“Bagaimana apanya?”

“Apa kau sudah punya orang yang disukai juga? Atau pacar, mungkin?”

 “Aku tidak punya pacar,” Jawab Seolhyun menggantung, “Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?”

“Ingin tahu saja,” Jungshin menengadahkan kepalanya ke langit, matanya menerawang, “Dulu aku juga punya orang yang disukai.”

Seolhyun mengamati pria itu. Entah apa alasan Jungshin tiba-tiba mau menceritakan kehidupan percintaannya di masa lalu. Tapi tidak ada salahnya ia mendengarkan.

“Gadis itu gendut, pemalu, jarang bicara, dan terkesan dimusuhi oleh teman-teman sekelas. Beruntung ia memiliki tiga orang teman yang mau menerima apa adanya. Entah apa yang membuatnya menarik di mataku, aku tidak tahu. Hanya saja aku merasakan sesuatu yang tidak kurasakan pada perempuan lain.”

Mendengar cerita Jungshin, Seolhyun tercekat. Gendut, pemalu, jarang bicara, dan memiliki tiga orang teman? Jangan-jangan…

“Begitu teman-temanku tahu aku menyukai gadis itu, mereka malah mengolok-olokku, mengatakan selera wanitaku payah. Kuakui aku tidak cukup berani dan mudah terpengaruhi waktu itu, jadi sebelum sempat menyatakan perasaanku padanya, kami sudah keburu lulus. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya setelah itu. Tapi baru-baru ini tanpa sengaja aku bertemu dengannya lagi. Ia sudah jauh lebih cantik dan langsing, meskipun sifat pemalunya masih belum bisa dihilangkan.”

Seolhyun berusaha menormalkan detak jantungnya. Siapapun yang mendengarnya pasti akan tahu siapa gadis yang dimaksud Jungshin, “Apa… kau masih menyukai gadis itu?”

Jungshin menatap Seolhyun lekat-lekat, menambah keyakinan gadis itu bahwa yang sejak tadi diceritakan pria itu adalah dirinya, “Aku tidak tahu.”

Dengan sekali sentakan Seolhyun bangkit dari tempat duduknya. Jantungnya benar-benar berdetak di luar kendali. Ia tidak tahu harus menanggapi Jungshin seperti apa. Ia bahkan tidak yakin dengan perasaannya. Mana mungkin ia bisa menyukai seseorang yang baru ditemuinya lagi setelah sekian lama?

“Aku… ke bawah duluan,” Dengan kepala tertunduk Seolhyun melesat pergi ke arah tangga. Namun langkahnya terhenti ketika Jungshin menahan lengannya.

“Maaf…” Jungshin terdengar sedikit menyesal. Niatnya menghindari kecanggungan di tempat reuni, ia malah menciptakan suasana canggung di antara mereka berdua, “Kata-kataku tadi… jangan terlalu dipikirkan.”

Seolhyun masih terdiam. Mana mungkin ia tidak memikirkan kata-kata Jungshin? Terlalu banyak kejutan yang ia dapatkan dan ia tidak tahu harus berbuat apa.

“Memang benar dulu aku menyukaimu,” Jungshin memutuskan untuk mengakui perasaanya agar gadis itu merasa sedikit lebih tenang, “Tapi itu ‘kan hanya masa lalu.”

Dugaan Jungshin meleset. Bukannya tenang, kata-kata pria itu justru membuat Seolhyun merasa kecewa. Ini aneh karena tadinya ia menganggap tidak memiliki perasaan apa-apa pada pria itu.

Seolhyun menoleh sekilas. Dengan senyum yang dipaksakan ia menyahut, “Ya. Itu ‘kan hanya masa lalu.”

 

***

 

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Satu per satu orang yang hadir dalam acara reuni sudah meninggalkan tempat, kembali ke rumah masing-masing. Hingga akhirnya hanya tersisa Yonghwa dan Seohyun. Mereka memang sengaja meninggalkan tempat itu paling akhir sebagai penanggungjawab dari keberlangsungan acara reuni kecil-kecilan tersebut.

Setelah mengantar kepulangan teman-temannya, Yonghwa menghampiri Seohyun yang sedang duduk di salah satu kursi di ruangan itu. Wajahnya tampak muram, kontras dengan ekspresi yang ditunjukkannya selama acara tadi.

“Ada apa?” tanya Yonghwa. Ia menarik kursi di sebelah Seohyun dan duduk di atasnya, “Kau masih marah karena masalah sebelum kita berangkat tadi?”

Seohyun menggeleng, “Bukan itu.”

“Lalu?”

“Kau sadar tidak? Acara reuni kita memang dari luar terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya banyak masalah yang tidak kuketahui tentang mereka.”

“Seperti?”

“Seperti Jonghyun dan Seungyeon. Aku tidak tahu sebelumnya kalau mereka sudah putus dua bulan yang lalu. Aku juga baru tahu kalau selama ini Soojung memendam perasaan pada Minhyuk. Dan aku bahkan baru tahu kalau sebenarnya Jungshin dan Seolhyun dekat satu sama lain.”

“Soal Jungshin dan Seolhyun, mereka baru saja bertemu hari ini, itu pun karena kuminta mereka membawakan kue ulang tahun untukmu. Aku juga terkejut mereka bisa akrab lebih cepat dari perkiraanku.”

“Lalu soal dua pasangan lainnya? Kau sudah tahu sejak lama, ‘kan?”

Yonghwa mengangguk-angguk, “Yah…”

“Teman macam apa aku ini,” Gerutu Seohyun, “Selama ini aku hanya memikirkan diri sendiri dan lupa dengan mereka. Mereka tidak pernah menceritakan masalah mereka padaku. Aku menjadi orang terakhir yang paling tahu, dan itu membuatku merasa tidak berguna.”

“Jangan berkata begitu,” Yonghwa merangkul wanita itu, “Mereka hanya tidak mau merepotkanmu, karena kau sudah memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Waktu memang terasa cepat sekali berlalu, Seohyun. Semua sudah memiliki jalannya masing-masing.”

“Sepertinya lain kali aku harus meluangkan waktu untuk berkumpul dengan mereka lagi. Aku tidak mau menjadi satu-satunya yang berbahagia.”

“Bilang saja kalau butuh bantuanku. Nanti aku akan menghubungi mereka.”

Seohyun menatap pria itu sambil tersenyum, “Kau juga sebaiknya meluangkan waktu untuk teman-temanmu. Kurasa mereka sedang dalam posisi yang kurang baik sekarang.”

“Aku tahu,” balas Yonghwa, “Mereka butuh saran dari ahli percintaan sepertiku.”

“Di saat seperti ini masih saja bercanda!” Seohyun mencubit pinggang pria itu gemas, yang dibalas dengan rintihan Yonghwa. Kali ini rasa sakitnya tidak main-main.

“Ini sakit sekali, tahu!”

“Bohong.”

“Sumpah, Seohyun. Dipegang pun rasanya sakit.”

Melihat ekspresi kesakitan Yonghwa, Seohyun berubah panik, “Benarkah? Kita pulang saja, ya. Nanti kuobati di rumah.”

“Pakai cinta, ya?”

“Kau ini! Sakit betulan tidak sih?”

“Betulan!” Yonghwa mengusap-usap lagi bekas cubitan Seohyun, “Tapi kalau kau yang mengobati ‘kan pasti langsung sembuh!”

“Dasar gombal! Kucubit lagi, nih!”

 

***

 

“Maaf, tapi sebaiknya kita putus saja.”

Pernyataan Minhyuk sontak membuat Yoonhye terkejut. Mata gadis itu melebar dan kedua alisnya bertaut. Apa ia tidak salah dengar? Baru beberapa menit yang lalu Minhyuk dengan sukarela dan tanpa diminta—tidak biasanya ia bersikap seperti itu—mengantarnya pulang. Baru beberapa menit yang lalu hatinya berbunga-bunga karena perubahan sikap pria itu dari biasanya.

“Kau bercanda, ‘kan?”

“Aku serius.”

Yoonhye menganga, “Jadi inikah alasannya kau mengajakku cepat-cepat pulang? Apa yang sudah kulakukan padamu, Minhyuk? Apa salahku?”

“Tidak ada,” Jawab Minhyuk cepat, “Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak membiarkan hubungan ini berlangsung lama dan mempermainkan perasaanmu. Sudah cukup aku berpura-pura di hadapanmu… dan di hadapannya…”

“Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti.”

“Tolong mengertilah, Yoonhye. Sejak awal aku memang tidak benar-benar menyukaimu. Hubungan kita semata-mata hanya karena rasa balas budi pada orang tua. Kita sudah sama-sama dewasa, tidak seharusnya mau menerima begitu saja perasaannya diatur orang lain.”

“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Maksudku… kau bisa menolaknya sejak dulu. Aku sudah terlanjur benar-benar mencintaimu, Minhyuk. Dan aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja,” Yoonhye mengacak-acak rambutnya frustasi. Tidak pernah terlintas di benaknya hubungan mereka berdua akan berakhir seperti ini. Tidak sebelum acara reuni tadi dilaksanakan.

“Karena aku belum yakin. Tapi setelah melihatnya, aku merasa tidak bisa menahannya lebih lama lagi.”

“Dia? Kau menyukai Soojung?” Yoonhye sudah curiga pasti ada sesuatu antara mereka berdua, sejak ia menyadari kedua orang itu saling melirik satu sama lain sepanjang acara reuni berlangsung, “Kau, seorang Kang Minhyuk, menyukai gadis aneh bernama Jung Soojung?”

“Jaga bicaramu.”

“Cih! Kau bahkan sudah berani membelanya di hadapanku.”

“Jangan membuatku muak, Yoonhye,” Ujar Minhyuk tegas, “Aku memutuskan untuk meninggalkanmu karena tidak ingin menyakitimu lebih jauh. Tapi sikapmu benar-benar mengecewakan.”

“Karena aku tidak suka padanya! Dia dengan kurang ajarnya mencoba merebutmu dariku. Kenapa kau masih membela gadis sialan itu?!”

“Bagaimana kalau aku menyukainya sejak dulu?” kata-kata Minhyuk sukses membungkam Yoonhye, “Bagaimana kalau ternyata aku menyukainya jauh sebelum aku berpacaran denganmu?”

Yoonhye menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis, “Tidak mungkin.”

“Itulah kebenarannya.”

“Lalu bagaimana denganku? Kau mau membuatku menderita?”

“Kau juga membuatku menderita dengan memaksakan diri terus berada di sisimu. Kita bertiga akan sangat menderita jika terus berada dalam posisi ini. Tolong mengertilah.”

“Tidak!” Yoonhye menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, tidak ingin lagi mendengarkan semua alasan Minhyuk, “Aku tidak mau mengerti!”

Minhyuk mendengus kuat. Ia menyesali sikapnya yang tidak tegas pada Yoonhye selama ini, meskipun sudah sebisa mungkin menunjukkan sikap yang membuat gadis itu tidak terlalu berharap padanya. Namun perhitungannya salah. Yoonhye sudah terlanjur memiliki keinginan yang kuat untuk memilikinya, sama kuat dengan keinginannya untuk memiliki Soojung.

“Berikan aku kesempatan, Minhyuk. Beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku,” Yoonhye menggenggam sebelah lengan Minhyuk dengan kedua tangannya, tampak sangat memohon.

Pria itu melepaskan genggaman tangan Yoonhye, kemudian memijit pelipisnya. Ia tidak sedingin itu pada Yoonhye, namun hatinya lebih tidak rela jika Soojung yang harus menderita, “Kumohon pergilah.”

“Minhyuk—“

“Pergilah. Kau bisa mendapatkan pria yang lebih pantas daripada aku,” Minhyuk membuka sabuk pengaman Yoonhye, mengusirnya secara halus.

Gadis itu masih terisak ketika membuka pintu di sampingnya. Tatapan memelasnya berangsur-angsur berubah menjadi tatapan kebencian, “Kau akan menerima balasannya,” ancamnya sebelum membanting pintu mobil dan berjalan pergi.

Sepeninggal Yoonhye, Minhyuk menyandarkan punggungnya ke jok dan menghela napas berat. Ia merasa bersalah pada Yoonhye, namun juga tidak bisa membendung perasaannya pada Soojung. Ia menyayangi gadis itu. Sangat. Biarlah nanti ia dimusuhi Yoonhye dan keluarganya, ia tidak peduli. Asalkan Soojung bisa bahagia bersamanya.

Pria itu memejamkan matanya sejenak, berusaha menenangkan hati dan pikirannya yang kacau balau. Mulai sekarang ia berjanji akan menjalani kehidupan sesuai kemauannya, bukan kemauan orang lain. Dan itu dimulai dari kisah cintanya.

Tak ingin membuang waktu, ia pun menyalakan mesin mobilnya kembali. Ada seseorang disana yang sedang menunggunya. Seseorang yang juga sedang terluka.

 

***

 

Seungyeon melangkah cepat menyusuri trotoar. Ia lupa sudah dua bulan terakhir ini ia pulang ke rumah sendiri, tidak ada yang mengantar. Jika ingat, maka ia akan meminta izin pulang lebih awal tadi. Jungshin memang sudah berbaik hati memberikannya tumpangan, namun pria itu hanya bisa mengantar hingga pertengahan jalan karena rumahnya dan rumah Seolhyun berbeda arah. Ya, pria itu memang bermaksud mengantar Seolhyun pulang sebelum kembali ke apartemennya sendiri.

Seungyeon mengerang pelan. Ia juga lupa jika daerah sekitar Jungshin menurunkannya barusan cukup gelap dan sepi. Ia harus berjalan kurang lebih seratus meter untuk sampai ke halte terdekat. Banyaknya gang-gang sempit di antara pertokoan membuat daerah tersebut kerap kali dijadikan sarang para bandit dan pria-pria nakal. Tapi mau bagaimana lagi? Hanya itulah satu-satunya jalan agar ia bisa sampai ke rumah.

Gadis itu menyedekapkan tangannya di depan dada, memegang erat sling bag-nya sambil diam-diam matanya mengawasi sisi kanan dan kiri, mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun di saat yang tidak tepat ponselnya yang disimpan di dalam tas bergetar. Tempat yang sepi membuat bunyi getaran ponsel itu terdengar jelas. Seungyeon khawatir jika hal tersebut malah menarik perhatian orang-orang jahat yang bersembunyi entah dimana.

Sudah hampir dua menit berlalu dan ponsel itu masih terus bergetar. Diam-diam ia menyumpahi siapa saja yang meneleponnya di saat genting seperti ini. Tidak ingin ketakutannya menjadi kenyataan, akhirnya gadis itu pun memutuskan untuk merogoh tasnya dan menjawab panggilan tersebut.

Namun tanpa Seungyeon sadari, justru posisi itulah yang membuatnya lengah. Ia yang sedang sibuk mencari ponsel di dalam tasnya sama sekali tidak mengetahui kehadiran seseorang yang mengendap-endap di balik punggungnya. Ketika jarak mereka sudah cukup dekat, orang itu langsung merampas tas Seungyeon dan lari secepat kilat.

“Astaga! Hei, kembalikan tasku!” Seungyeon berteriak sekuat tenaga, “Pencuri! Tolong! Siapa saja tolong aku, tasku dicuri!”

Sungguh tidak beruntung nasib Seungyeon malam itu. Suasana yang sepi dan reputasi buruk daerah itu membuat teriakan minta tolongnya menjadi hal yang sia-sia. Merasa tidak akan berhasil, Seungyeon akhirnya nekat berlari mengejar pencuri itu. Ia memang pernah menjadi atlet marathon semasa SMA dulu, namun bukan seperti ini cara untuk menerapkan keahliannya di kehidupan sehari-hari.

“Hei, jangan lari kau! Dasar pencuri sialan!” Seungyeon kembali berteriak. Sekeras apapun ia berusaha menyusul langkah si pencuri, ia tetaplah seorang wanita yang memiliki tenaga lebih lemah. Setelah hampir lima ratus meter, Seungyeon mulai merasa tidak kuat. Apalagi sebelah hak sepatunya patah. Sementara pencuri itu sama sekali tidak terlihat kekurangan tenaga.

Ia akhirnya menyerah. Dengan sisa tenaga yang dimiliki ia melepas sebelah platform yang patah tadi dan melemparkannya kuat-kuat ke arah pencuri itu. Tampaknya usaha tersebut sedikit membuahkan hasil, karena pencuri itu meringis kesakitan setelah sepatu Seungyeon mendarat mulus di punggungnya. Langkahnya sedikit melambat. Tanpa ragu-ragu Seungyeon melemparkan sepatunya yang sebelah lagi. Pencuri tersebut akhirnya jatuh, tidak kuat dengan rasa nyeri yang menjalar di punggungnya akibat lemparan sepasang sepatu bersol tebal tersebut.

Wajah Seungyeon sedikit berubah cerah. Ia yang merasa punya harapan lagi langsung mempercepat langkahnya untuk kembali berlari. Namun lari dengan bertelanjang kaki di aspal bukanlah perkara mudah. Permukaannya yang kasar membuat ia berkali-kali meringis kesakitan.

Tepat pada saat ia merasa ingin menyerah, seseorang melesat cepat dari belakangnya dan mengejar pencuri itu. Saking cepatnya, Seungyeon tidak dapat melihat dengan jelas siapa orang itu. Namun dari postur tubuhnya pastilah ia seorang laki-laki.

Tak butuh waktu lama bagi pria misterius itu untuk menangkap sang pencuri. Dengan lihai ia mengunci tubuh si pencuri, membanting tubuhnya, dan memberikan perlawanan agar pencuri itu tidak bisa kabur lagi. Beberapa saat kemudian sebuah mobil patroli datang dan dua orang polisi yang keluar dari dalamnya langsung meringkus penjahat tersebut.

Apa yang dilakukan pria misterius itu untuk melumpuhkan si pencuri menguatkan dugaan Seungyeon akan identitasnya. Hanya ada satu orang yang dikenalnya yang bisa mengeluarkan jurus-jurus tersebut. Seseorang yang pernah menjadi atlet judo semasa SMP.

 

***

 

Selama perjalanan pulang, baik Seolhyun maupun Jungshin sama-sama terdiam. Seolhyun tampak sibuk dengan pikirannya, sedangkan Jungshin segan untuk menginterupsi. Gadis itu hanya bersuara untuk memberitahukan kemana Jungshin harus berbelok, selebihnya kembali pada kegiatannya semula; memandang ke luar jendela.

Jungshin diam-diam mendecak, menyesali perbuatan bodohnya yang membuat Seolhyun menjadi tidak nyaman. Memangnya respon seperti apa yang ia harapkan dari gadis itu? Siapapun pasti merasa kikuk dan menghindar jika berada dalam posisi Seolhyun.

“Ini rumahku,” Ujar Seolhyun, yang sudah Jungshin duga hanya akan bersuara ketika mereka sudah sampai di tempat tujuan, “Mau mampir, Jungshin-ssi?”

“Terima kasih, tapi ini sudah malam. Lain kali saja,” Tolak Jungshin halus.

Seolhyun mengangguk-angguk, kemudian melepas sabuk pengamannya sebelum turun dari mobil. Jungshin merasa tidak enak hati jika mereka berpisah begitu saja, jadi memutuskan untuk ikut keluar.

“Terima kasih sudah mengantarku. Selamat malam, Jungshin-ssi,” Seolhyun melambaikan tangannya sekilas sebelum berbalik dan masuk ke dalam rumah. Namun baru ia hendak membuka pintu pagar, Jungshin memanggilnya.

“Seolhyun-ah.”

“Ya?” gadis itu membalikkan badannya dengan cepat, seolah sudah menunggu Jungshin untuk melakukan hal tersebut.

Tunggu. Ia tidak salah dengar, ‘kan? Jungshin memanggilnya ‘Seolhyun-ah’ dan bukan ‘Seolhyun-ssi’?

“Maaf soal pernyataanku di kafe tadi. Aku tidak bermaksud—“

“Aku tahu,” Potong Seolhyun maklum, “Aku tidak akan berpikir macam-macam.”

Jungshin mengangguk-angguk, senang karena Seolhyun tidak lagi salah paham. “Kalau begitu masuklah, sudah larut malam.”

“Baiklah, selamat malam,” Seolhyun kembali melanjutkan niatnya membuka pintu pagar. Namun seolah teringat sesuatu, ia pun kembali berbalik.

“Oh iya, Jungshin-ssi,” sedikit ragu ia berujar, “Sabtu depan di kampusku akan ada pameran seni. Kau mau datang?”

Jungshin mengangguk, “Tentu saja. Aku akan datang.”

Mendengar jawaban Jungshin, Seolhyun menyunggingkan senyum. Namun buru-buru ia sembunyikan karena tidak ingin terlihat berlebihan, “Nanti aku akan menemanimu keliling kampus dan… jangan bawa wanita, ya.”

“Apa?” Jungshin tidak bisa mendengar dengan jelas karena perkataan gadis itu pada kalimat terakhir lebih mirip seperti gumaman.

“Oh, eh, aku bilang apa tadi?” Seolhyun baru sadar tanpa sengaja telah menyuarakan pikirannya, “Tidak apa-apa. Selamat malam,” Ia buru-buru berbalik dan membuka pintu pagar.

Jungshin mengira itu adalah obrolan terakhir mereka pada malam itu. Namun entah karena alasan apa lagi, gadis itu kembali menghadapkan dirinya ke arah Jungshin, “Jungshin-ssi, lain kali… kita makan malam di kafe itu lagi, ya. Di rooftop,” Telunjuk kanannya diacungkan ke udara, melambangkan rooftop.

Jungshin terkekeh pelan, “Baiklah, nanti kita kesana.”

Ekspresi yang ditunjukkan Seolhyun tidak jauh berbeda dengan sebelumnya ketika mendengar jawaban Jungshin. Namun kali ini lebih sumringah. Sebelum Jungshin menyadari hal tersebut, gadis itu cepat-cepat menunduk dan membalikkan badan.

“Baiklah, selamat malam, Jungshin-ssi,” Kali ini ia benar-benar membuka pintu pagar dan masuk ke dalam rumah, tanpa membalikkan badannya lagi.

Jungshin memperhatikan punggung gadis itu hingga menghilang di balik pintu utama. Lagi-lagi ia tersenyum membayangkan kepolosan Seolhyun. Kedua orang itu sama-sama tidak melihat senyuman yang terukir jelas di wajah masing-masing. Nampaknya acara reuni hari ini telah berhasil menumbuhkan bibit cinta yang baru.

“Tidur yang nyenyak, Seolhyun-ah.”

 

***

 

Jantung Seungyeon berdegup kencang melihat rangkaian adegan di hadapannya. Suara sirine mobil polisi seolah mengembalikannya ke alam sadar, mengingatkan bahwa ia baru saja menjadi korban kejahatan yang dapat merenggut nyawa. Segala perlawanan yang dilakukannya tadi seolah hanya mimpi. Bagaimana bisa ia bertindak nekat seperti tadi?

Tubuh gadis itu limbung. Mengingat semua yang telah dilakukan membuatnya pusing. Bagaimana jika polisi dan orang itu tidak datang? Bagaimana jika pencuri itu membalas dendam dan menodongkan senjata? Ia mungkin sudah tidak ada lagi di dunia.

Seungyeon hampir terjatuh jika saja tubuhnya tidak ditahan oleh salah satu polisi, “Anda baik-baik saja, nona? Tidak ada yang terluka?”

“Ya, aku baik-baik saja,” Seungyeon melepaskan pegangan polisi itu dan berusaha berdiri tegap, namun entah kenapa kedua kakinya menjadi lemas.

“Lain kali berhati-hatilah jika melewati daerah ini. Usahakan jangan berjalan sendirian di malam hari. Terlalu berbahaya.”

Seungyeon menunduk dalam, mengucapkan terima kasih. Ia sedikit bergidik ketika melihat si pencuri digiring oleh polisi lainnya menuju mobil. Ia menunduk, tidak ingin pencuri itu mengingat wajahnya dan melakukan balas dendam setelah keluar dari penjara nanti. Oh, mungkin ia sedikit berlebihan, tapi tidak ada salahnya berjaga-jaga.

Lagi-lagi gadis itu harus menahan napas. Bukan karena si pencuri, melainkan karena pria yang menolongnya tahu-tahu sudah berada dalam jarak dekat. Pria itu berjalan sambil menenteng tas miliknya, tampak sedikit kikuk begitu menyadari Seungyeon memperhatikannya meskipun gadis itu akui ia tampak keren luar biasa.

Mungkin superhero di dunia nyata benar-benar ada.

Pria itu menyodorkan tas yang dibawanya begitu jarak antara dirinya dan Seungyeon sudah cukup dekat, “Periksa dulu isinya, ada yang kurang atau tidak.”

Seungyeon mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan orang itu—Jonghyun. Barang-barang berharga seperti ponsel dan dompet masih tersimpan di dalamnya—mungkin belum sempat dikeluarkan si pencuri. Satu-satunya yang hilang adalah lipstiknya, barangkali terjatuh saat tasnya direbut atau saat si pencuri berlari tadi. Tapi apalah arti sebuah lipstik. Ia bisa membelinya lagi kapan-kapan.

Baru saja gadis itu hendak mengucapkan terima kasih, ia dikejutkan dengan perlakuan Jonghyun selanjutnya. Pria itu berjongkok di hadapannya, terlihat seperti menunggu sesuatu.

“Ma…mau apa?”

“Menggendongmu, tentu saja,” Jawab Jonghyun seolah-olah pertanyaan Seungyeon adalah pertanyaan paling bodoh sedunia.

“Tapi, kakiku tidak—“

“Kau mau berjalan-jalan di aspal dengan bertelanjang kaki begitu? Kau ‘kan bukan gadis penjual korek api.”

Seungyeon mengamati kedua kakinya. Benar juga. Selama adegan kejar-kejaran tadi ia tidak merasakan apa-apa, tahu-tahu kakinya sudah kotor dan memar dimana-mana.

“Aku… bisa pulang sendiri…” Seungyeon masih merasa gengsi. Namun tampaknya Jonghyun jengah dengan hal tersebut, sehingga berinisiatif menarik sebelah tangan gadis itu untuk dilingkarkan di lehernya; memaksa agar tubuh gadis itu menempel di punggungnya.

Seungyeon yang kaget sedikit terpekik, “Ya! Kau ini kasar sekali, sih?”

Jonghyun mendirikan tubuhnya sambil menopang kedua lutut Seungyeon dengan kedua tangannya; menggendong gadis itu menuju mobilnya yang terparkir sedikit jauh dari sana, “Aku memang kasar dan egois. Puas?”

Jonghyun melanjutkan kalimatnya sebelum gadis itu sempat membuka mulut, “Tapi sekasar dan seegois apapun, aku tetap tidak bisa hidup tanpamu.”

Kata-kata itu sukses membuat Seungyeon terdiam beberapa saat, “Jangan-jangan, kau yang—“

“Ya. Aku membuntutimu sejak tadi, memastikan kau baik-baik saja selama perjalanan pulang. Tapi ternyata malah terjadi hal yang kutakutkan. Aku juga yang menelepon polisi,” Jelas Jonghyun.

“Kenapa kau tidak memberiku tumpangan?”

“Memangnya kau akan menerimanya? Kau bahkan menyuruhku pergi.”

Seungyeon tercekat. Ia ingat kata-kata yang dilontarkannya pada Jonghyun di tempat kursus. Meminta Jonghyun untuk pergi dari kehidupannya adalah kesalahan fatal. Jika sudah begini, siapa sebenarnya yang bodoh?

“Jangan pernah pulang sendirian lagi. Carilah teman atau naik taksi jika aku tidak ada.”

“Maaf…”

“Apa jika permintaan maafmu kuterima, keputusanmu bisa berubah?”

Lagi-lagi Seungyeon tercekat. Pertanyaan Jonghyun seolah menyindirnya, “Keputusan apa?”

“Aku butuh bantuanmu… untuk bersabar sebentar lagi jika ingin hubungan ini tetap berlanjut.”

“Tapi kita ‘kan sudah—“

“Aku tidak pernah menganggap kita benar-benar putus,” Potong Jonghyun, “Aku hanya menganggap kau sedang memberiku waktu untuk berpikir. Dan akhirnya aku tahu, aku punya alasan kenapa belum juga memikirkan tentang hubungan yang lebih serius.”

Seungyeon termenung, menunggu kata-kata Jonghyun selanjutnya.

“Aku ingin datang ke hadapanmu dan keluargamu sebagai pria yang siap dalam segala hal, baik fisik, mental, maupun materi. Jadi orang tuamu bisa tenang menyerahkan anak mereka padaku.”

“Kau… memikirkan semua itu?” rasanya Seungyeon tidak percaya kata-kata semacam itu akan keluar dari mulut Jonghyun. Kata-kata itu membuatnya malu karena selama ini ia hanya mementingkan ego pribadi. Ialah yang egois, bukan Jonghyun.

“Aku ini juga pria dewasa, Seungyeon. Aku tidak ingin terburu-buru dan malah menjadi salah langkah. Kurencanakan semuanya dengan matang karena kebahagiaanmu adalah prioritas utama.”

Rasanya Seungyeon ingin segera turun dari gendongan Jonghyun dan bersembunyi. Ia merasa malu sekali. Kenapa ia terlalu mengkhawatirkan posisinya sementara posisi Jonghyun tidak ia pedulikan? Tanpa pria itu sadari selama ini ia telah memikirkan kelangsungan hidup mereka di masa depan jauh dari apa yang ia bayangkan. Harusnya ia bisa mengerti. Dan kata-kata Jonghyun membuatnya merasa menjadi wanita idiot.

“Maafkan aku, Jonghyun… Aku tidak tahu…” Seungyeon menyurukkan wajahnya di bahu pria itu, “Maaf…”

Jonghyun tersenyum. Ia lega karena akhirnya Seungyeon mau mengerti. Ia menyentuhkan kepalanya ke kepala gadis itu, menandakan ia sudah memaafkannya karena kedua tangannya sedang dalam posisi yang tidak memungkinkan.

“Jadi, bagaimana?”

“Apa?”

“Jawabanmu.”

Seungyeon menopangkan dagunya di bahu Jonghyun, “Katamu kita tidak benar-benar putus.”

“Sudah kuduga kau masih mencintaiku,” Jonghyun terkekeh bangga.

Seungyeon mencubit pipi pria itu gemas, namun tidak bisa membalas apa-apa karena yang dikatakan Jonghyun memang benar. Menjalani hidup tanpa pria itu? Membayangkannya saja ia tidak sanggup.

“Omong-omong, kenapa sepertinya kita belum sampai juga, ya?”

“Sengaja kuperlambat. Supaya bisa lebih lama bicara denganmu,” Jawab Jonghyun jujur, yang malah mendapat tepukan keras dari gadis itu di punggungnya. Bukannya meringis, pria itu justru tertawa terbahak-bahak. Akhirnya masalah mereka dapat terselesaikan dengan baik.

“Dasar!”

“Jangan banyak bergerak, Seungyeon. Nanti kau jatuh.”

 

***

 

Soojung menyandarkan kepalanya ke papan penyangga halte. Entah kenapa hari ini ia sangat lelah, padahal selain kuliah tidak ada kegiatan lain yang ia lakukan. Saat reuni pun ia hanya duduk diam dan tidak banyak bicara. Mungkin bukan fisiknya yang lelah, namun hatinya. Bayang-bayang Minhyuk bersama Yoonhye masih melekat kuat di ingatannya meskipun ia sudah memikirkan berbagai hal lain untuk melupakannya.

Sekuat itukah perasaannya pada Minhyuk hingga ia menjadi seperti orang bodoh begini?

Soojung menghela napas. Lagi. Entah sudah berapa banyak bus yang berlalu-lalang di halte tempatnya berada sekarang, namun gadis itu seolah tidak peduli. Ia masih belum ingin pulang. Ia bahkan menolak Jungshin yang sudah berbaik hati menawarinya tumpangan. Rasanya ia ingin semalaman berada disana, mengingat semua kenangannya di masa lampau sebelum membuangnya jauh-jauh.

Ya. Ia ingin melupakan Minhyuk.

Rasanya ia tidak akan mungkin memenangkan hati Minhyuk, setelah melihat pria itu dan Yoonhye yang selalu mesra. Ia tidak ingin menjadi orang ketiga. Dan ia tidak mungkin punya kekuatan untuk menjauhkan Yoonhye dari Minhyuk. Jadi ia saja yang pergi.

Gadis itu menunduk dalam, menyembunyikan kepalanya di antara lipatan tangan yang ditopang kedua paha. Semakin ia mencoba memantapkan hati untuk pergi, semakin ia merasa tidak rela. Jika saja tidak ingat punya harga diri, pasti saat ini ia sudah mati-matian mengejar pria itu dan berlutut memohon agar pria itu berpaling padanya.

“Ya Tuhan, kenapa aku jadi seperti ini?”

Semua hal tentang Minhyuk termasuk reuni hari ini membuatnya tidak mampu lagi membendung air mata. Diam-diam ia menangis, menyesali dirinya yang masih saja menyukai Minhyuk dan Minhyuk yang sudah dimiliki orang lain.

“Dasar Kang Minhyuk bodoh!”

“Ya, aku memang bodoh. Maafkan aku.”

Soojung tercekat. Suara itu… Apa mungkin ia terlalu larut dalam kesedihan sehingga berhalusinasi?

Soojung cepat-cepat menyeka air matanya dengan punggung tangan. Pandangannya yang mengabur karena air mata membuatnya tidak sadar ada seseorang yang sudah berdiri di hadapannya. Orang itu berjongkok, menyentuh lembut pipinya dan menghapus air matanya. Pada saat itulah ia baru mengetahui siapa sosok tersebut.

“Jangan menangis lagi, Soojung. Itu membuatku sakit,” orang itu berujar lagi. Suaranya yang lirih justru membuat tangis Soojung semakin meledak. Kenapa orang itu harus datang? Kenapa lagi-lagi ia diberi harapan?

“Soojung—“ Minhyuk menjadi panik melihat gadis itu yang tak kunjung berhenti menangis. Soojung memukuli dadanya berkali-kali, kesal karena perasaannya terus dibolak-balikkan. Sementara Minhyuk pasrah saja gadis itu memukulinya, karena ia sadar Soojung bersikap demikian karena ulahnya.

“Pergi, Minhyuk!” raung Soojung di sela-sela pukulannya. Kehadiran Minhyuk malam itu meruntuhkan pertahanannya, dan ia tidak suka menerima kenyataan bahwa dirinya benar-benar membutuhkan pria itu, “Pergi!”

“Aku tidak akan pergi, Soojung,” Minhyuk menangkap kedua tangan Soojung dengan sebelah tangannya, sedangkan tangannya yang lain menangkup pipi gadis itu, “Bisakah kita bicara?”

Perlahan-lahan perlawanan Soojung berhenti. Perlakuan Minhyuk selalu berhasil membuat hatinya rapuh. Dan pada akhirnya ia menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan, kembali menangis sesenggukan.

Minhyuk, yang merasa iba dengan keadaan Soojung, membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Entah bagaimana penderitaan yang dialami gadis itu selama ini, pastilah sangat buruk. Hatinya hancur melihat Soojung yang menjadi seperti ini. Dan ialah satu-satunya orang yang bisa memperbaikinya.

Minhyuk mengusap lembut kepala dan punggung Soojung, membiarkan gadis itu meluapkan segala emosinya. Usahanya itu berhasil, karena tangis Soojung berangsur-angsur mereda. Ketika dirasa Soojung sudah mulai tenang, ia melepaskan pelukannya dan mengusap kembali air mata dari wajah gadis itu.

Sementara Soojung hanya bisa tertunduk sambil memalingkan wajah, malu jika Minhyuk melihat wajahnya yang tidak karuan. Namun pria itu menggenggam tangannya erat seolah tidak ingin melepaskannya.

“Bisakah kita bicara?” ulangnya hati-hati.

Berbeda dengan tadi, kali ini Soojung mengangguk samar. Gadis itu akhirnya membiarkan dirinya mengikuti kemana pun Minhyuk melangkah. Sesuai dugaannya, Minhyuk membawa mereka ke sebuah taman tidak jauh dari sana dan mendudukkannya di sebuah ayunan gantung. Pria itu berlutut di hadapan Soojung, masih enggan melepaskan genggaman tangannya.

“Maafkan aku, Soojung. Maaf atas semua yang kulakukan selama ini,” Ujarnya tulus, “Dulu aku terlalu pengecut untuk mengutarakan perasaan padamu, hingga akhirnya keadaan menjadi berubah di luar kendali.”

Soojung tidak merespon. Matanya yang sembab masih menatap kosong gundukan pasir yang ada di bawah kaki mereka.

“Aku mencintaimu. Sejak dulu… dan tidak pernah berubah.”

Soojung mendengus lemah, “Lalu Yoonhye? Dia pacarmu.”

“Bukan berarti aku mencintainya,” Jelas Minhyuk, “Kami dijodohkan. Karena takut kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku, aku menerima perjodohan itu. Tadinya kupikir hubungan kami tidak akan berlangsung lama, tapi ternyata perasaan Yoonhye sudah berkembang jauh di luar perkiraanku.”

“Perasaan wanita itu seperti tanaman, Minhyuk. Kau memupuknya, mereka akan terus tumbuh. Kau menebangnya, mereka masih memiliki akar untuk kembali tumbuh. Kau mencabut akarnya, maka mereka akan mati untuk selama-lamanya.” Ujar Soojung dengan suara serak dan bergetar.

“Aku mengerti. Karena itu aku ingin memperbaikinya denganmu. Aku ingin kembali pada orang yang benar-benar kucintai dan benar-benar mencintaiku.” Pria itu kembali mengeratkan genggamannya pada kedua tangan Soojung, “Bisakah… kau menerimaku kembali?”

Lama Soojung terdiam hingga Minhyuk mulai merasa gadis itu tidak sudi menerimanya lagi. Ia menatap gadis itu lekat-lekat, hampir menyerah ketika akhirnya Soojung berujar, “Berjanjilah padaku satu hal,” ia menunduk, “Jangan permainkan perasaanku lagi.”

Minhyuk tentunya sangat bahagia mendengar gadis itu bersedia menerimanya lagi. Ia memeluk gadis itu erat, menunjukkan ketulusan perasaannya. Akhirnya ia bisa memulai kehidupannya yang baru, “Tidak akan, Soojung. Aku janji.”

Soojung membalas pelukan itu dan memejamkan matanya. Ia senang mengetahui kenyataan bahwa selama ini ia tidak bertepuk sebelah tangan. Dan ia senang Minhyuk mau mengutarakan perasaannya dengan jujur. Segala penantiannya usai sudah.

“Aku juga mencintaimu.”

 

***

 

 

______________________________________________

Hufty, akhirnya kelar juga ini Blue Medley Series ke-3. Kalau mau tahu ini mencapai 45 halaman Ms. Word loh, hahaha… semoga ga pada bosen, ya.

Aku pengen buat sesuatu yang agak beda di Blue Medley kali ini. Kalo yang 2 seri sebelumnya adalah omnibus, seri yang ke-3 ini aku bikin satu kesatuan cerita, cuman tetep mereka berdelapan jadi pemeran utamanya. Dan tema reuni yang kupilih, karena mungkin ada di kejadian nyata juga, kalo dibalik acara reuni yang keliatannya simpel banyak keruwetan yang terselubung di masing-masing orangnya lol.

Oke, sampai jumpa di FF-ku selanjutnya🙂

2 thoughts on “Blue Medley Series: Reunion

  1. Aaaa suka suka! Suka semuanya~ apalagi jonghyun sama seungyoon duh manisnya ahaha~
    Nice story! Blue medley lainnya ditunggu

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s