[Chaptered] T(w)oday-s #2

t(w)day-s

T(W)ODAY-S

Main Cast : Suho (EXO) , Jimin (AOA) || Support Cast : Changmin (DBSK)

Genre : Action, Crime, Drama || Rating : PG-17 || Length : Chaptered

Author : ChoaiAK

*

*

#previous part

Apapun yang dipikirkan Jimin dia tetap tidak akan menyerah sampai disitu. Hanya karena Jimin mengatakan dia tidak berniat untuk berteman dengannya bukan berarti dia tidak akan berusaha untuk membuat gadis itu berubah pikiran. Seperti biasa, setiap jam istirahat atau saat jam kosong Jimin akan membaca bukunya. Suho yang duduk disebalahnya memperhatikannya dengan kepalanya yang bersandar di atas meja.

“Jimin…Shin Jimin…Shin Jimin. Jimin…Shi…n Jimin.”

Setelah beberapa lama akhirnya Jimin menyerah untuk bersikap tidak peduli dan melihat kearahnya. “apa?”

Suho hanya merengut memasang wajah cemberut seperti anak kecil. “Shin Jimin.”

“berhentilah memanggil namaku seperti itu.” ujarnya. “aku benar-benar tidak suka mendengarnya.” Jimin bicara dengan penekanan di setiap katanya.

“tapi aku suka menyebutnya seperti itu.” bantah Suho. “Shin Jimin. Aku. Suka. Pada. Mu.”

Kali ini Jimin benar-benar menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa dia gambarkan. Dia baru akan bicara lagi saat melihat Jimin tiba-tiba mengeluarkan ponselnya dan berdiri bersamaan saat dia menjawab siapapun yang menghubunginya.

“ini belum sampai seminggu…”hanya itu yang bisa di dengar Suho saat Jimin keluar dari dalam kelas.

Memperhatikannya dengan bingung dan penasaran dengan siapa yang menghubunginya sampai harus kelaur seperti itu. Dan apa maksudnya dengan ‘ini belum sampai seminggu’ memang apanya yang belum sampai seminggu. Sibuk dengan pikirannya yang penasaran tentang Jimin dia merasakan sesuatu bergetar dari dalam saku celananya. Dia langsung mengeluarkan ponselnya dan menjawab panggilan pada ponsel tersebut.

yeoboseyo.”

apa benar ini, Kim Joon Myeon?”

Sesaat Suho tertegun mendengar seseorang menyebut nama kecilnya yang tidak pernah dia dengar lagi sejak kedua orang tuanya meninggal  sepuluh tahun yang lalu dan kakeknya mengganti namanya menjadi Kim Suho.

***

Jimin berjalan cepat menuju tangga yang mengarah keatas dan jarang dilewati oleh siapapun.  Awalnya dia kira Changmin akan menanyakan tentang ‘tugas’ yang diberikan Park Byeong Su padanya. Tapi mendengar nada panik kakak laki-lakinya dia langsung mencari tempat sepi untuk mendengarkan apapun yang akan disampaikan oleh Changmin.

orang yang laki-laki itu ingin temui ternyata adalah cucu dari direktur perusahaan besar. Orang tuanya terbunuh saat Park Byeong Su menjalankan bisnis ilegalnya sepuluh tahun yang lalu tapi anak itu menjadi satu-satunya korban selamat dan mengalami trauma berat setelah itu. Karena ingin melindungi anak itu, keluarganya mengubah namanya.”

Jimin mendengarkan dengan serius, itu artinya orang bernama Kim Joon Myeon seorang murid di sekolah ini. Setidaknya aku bisa mempersempit pencarian, “lalu siapa nama barunya?”

“ini bukan lagi siapa nama barunya. Tapi kenapa Byeong Su selalu ingin mendapatkan anak itu.”

“memangnya apa yang diinginkan laki-laki itu?”

sebelum kecelakaan itu terjadi, kedua orang tuanya menyembunyikan bukti penting tentang bisnis itu. Dan kamu tahu, itu bukan sekedar bisnis biasa tapi bisnis besar yang menyangkut banyak hal. Obat-obatan terlarang, perdagangan manusia, pelacur semuanya. tidak-tidak, kamu tidak perlu tahu semua itu. Byeong Su menginginkan anak itu untuk mengingat dimana orang tuanya menyembunyikan bukti-bukti itu dan kalau dia tidak bisa mengingatnya maka…

“mereka akan membunuhnya.” Jimin menebaknya dengan tepat.

Dia mendengar suara-suara di balik suara Changmin, “oppa sedang ada dimana? Eomma?”

“saat aku pulang laki-laki itu sedang memukul eomma sampai babak belur dan aku langsung menghubungi polisi. Aku tahu semua ini dari salah satu polisi. Jimin, oppa mohon hentikan sebelum terlambat…”

“oppa…” panggilnya agar Changmin berhenti bicara. “siapa nama anak itu? Kim Joon Myeon?”

Changmin terdiam sesaat, “Jimin-ah, cukup. Polisi sudah membawa Shin Young Kyeong dan mereka bilang dia tidak akan bisa mendekati kita lagi. Jadi tidak usah memikirkan apa yang diminta Byeong Su.

“siapa namanya, oppa?”

Dia mendengar kakaknya menghembuskan nafas pasrah karena dia masih mengajukan pertanyaan yang sama, “Kim Suho.

Matanya terbelalak saat mendengar nama Kim Suho dari mulut kakaknya. Dia segera berlari kembali ke kelas namun dia tidak bisa melihat Suho dimanapun. Dia memeriksa baik-baik mejanya, tidak ada tasnya tidak ada tanda-tanda dia masih ada di dalam kelas. Lalu dia melihat teman sekelasnya berjalan melewatinya.

“dimana Suho?”

Sesaat murid laki-laki itu tertegun karena diajak bicara oleh Jimin yang tidak pernah terlihat bicara dengan siapapun. Dia dan Suho memang selalu bicara saat tidak ada orang di sekitar mereka.

“dimana Kim Suho?!” bentaknya.

“ta…tadi, aku…lihat dia menerima telefon dari seseorang dan keluar membawa tasnya.”

Wajahnya seketika berubah tegang, rasa takut yang hilang dari dalam dirinya sejak Byeong Su muncul mendadak kembali merayapi tubuhnya.

Jimin! Jimin!” dia mendengar suara Changmin yang terdengar panik. Lalu saat dia melihat ponselnya ada tanda amplop kecil di sudut atas layar ponselnya. Ketakutannya menjadi luar biasa saat membawa pesan tersebut.

“oppa…” katanya. “mereka membawanya. Mereka…”

Tanpa mempedulikan tatapan heran teman-teman di kelasnya Jimin berlari keluar kelas dan menabrak gurunya yang baru saja akan masuk. Dia berlari sekuat tenaga menuju tempat mereka membawa Suho. Changmin masih berteriak memanggil namanya saat dia masuk kedalam sebuah taksi.

“mereka membawanya ke pabrik lama di tepi pelabuhan di pinggir kota.”

Jimin, jangan bertindak bodoh. Aku akan menghubungi polisi aku akan minta mereka menanganinya. Jadi kamu jangan pergi kesana. Oppa mohon, pulanglah. Oppa mohon.”

Tapi Jimin malah meminta supir taksi tersebut untuk mempercepat laju mobil dan memutuskan sambungan teleponnya dengan Changmin. Dia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Pikirannya kalut dan dadanya berdebar kencang karena ketakutan. Bahkan dia sampai berkeringat dingin membayangkan apa yang akan terjadi pada pemuda itu. Tangannya bergetar memegang ponsel yang ada dalam genggamannya.

“aku mohon. Aku mohon jangan sakiti dia.” dia terus mengatakan hal yang sama sampai dia melihat tempat yang ditujunya.

Saat orang yang menghubunginya mengatakan kalau dia bertemu dengan orang yang menyebabkan kematian orang tuanya terlihat seperti kecelakaan. Suho langsung keluar dan melihat sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari sekolahnya. Tanpa menaruh curiga yang besar dia mengikuti orang tersebut dan sampai di sebuah pabrik lama di dekat pelabuhan.

Tapi setelah mereka sampai di tempat sepi itu Suho semakin yakin ada yang tidak beres yang sedang dan akan di hadapinya. Dalam beberapa saat semua terbukti benar.  Seseorang memukul kepalanya dari belakang sampai dia tidak sadarkan diri.

Berlahan kesadarannya kembali. Tanpa langsung membuka matanya, Suho merasakan kedua tangan dan kakinya terikat di kedua sisi kursi. Kemudian dia mendengar bunyi besi-besi berdentang nyaring dekat dengan telinganya. Kepalanya sakit luar biasa hingga membuatnya meringis kesakitan. Lalu pelan-pelan membuka matanya dan melihat dengan jelas orang-orang yang sekarang berada di sekelilingnya setelah beberapa kali mengerjapkan mata karena pandangannya yang kabur.

Dia bergerak melepaskan diri meskipun hasilnya tetap nihil. Ikatan di tangan dan kakinya terikat dengan kuat. Sampai salah satu dari mereka mengeluarkan suara tawa yang menggema di pabrik yang tidak terpakai itu.

“Kim Joon Myeon!” teriaknya.

Suho melihat seorang pria yang mungkin seusia dengan kakeknya meskipun tubuh pria ini terlihat lebih atletis dari kakeknya. Pria itu tersenyum sinis saat berjalan kearahnya. Kemudian dia berhenti tepat di hadapan Suho yang kembali mencoba melepaskan diri.

“siapa kamu? Apa maumu? Lepaskan aku!”

Pria itu memasang ekspresi datar diwajahnya, “siapa aku? apa mauku?” dan dia tertawa terbahak-bahak membuat bulu kuduk Suho berdiri. “aku sudah pernah melepaskanmu sepuluh tahun yang lalu apa itu masih belum cukup? Apa aku masih kurang baik?”

“apa yang kau bicarakan?”

Pria itu membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada wajah Suho, “ayahmu, Kim Hun Joon mengambil sesuatu dariku dan menyembunyikannya. Dan hari itu dia membawamu dan ibumu untuk menyembunyikannya. Dimana? Dimana dia menyimpannya?”

Bayangan ayahnya mengenakan seragam kepolisian dan ibunya yang seorang jaksa melesat dalam pikirannya. Hari itu, apa yang terjadi hari itu? dia sama sekali tidak bisa mengingat apapun yang terjadi ‘hari itu’.

Tiba-tiba laki-laki itu menarik rambutnya dan mendorong kepalanya ke belakang dengan kasar, “kau tau apa yang aku lakukan pada orang tuamu?” dia terdiam sejenak dan tersenyum sinis, “aku menyabotase kecelakaan mobil yang dialami oleh orang tuamu. Kau ingat saat mobilmu meledak? Ingat?”

Suho menatap benci pada laki-laki yang lebih terlihat sebagai psikopat. Aku pasti akan membunuh laki-laki ini. aku pasti akan membunuhnya seperti dia membunuh orang tuaku. Pria tersebut kembali berdiri tegak.

“dimana mereka menyembunyikannya?” tanyanya sekali lagi.

“bukti apa yang kau maksud?! Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!” Suho berteriak melepaskan amarahnya pada laki-laki yang hanya membalasnya dengan tertawa. “aku pasti akan membunuhmu! Aku pasti akan membunuhmu!”

Bukk!!

Laki-laki itu meninjunya tepat di wajahnya. Perih dan sakit yang dia rasakan di sebelah wajahnya bahkan sampai di seluruh kepalanya  tidak sebanding dengan sakit hatinya mendengar pengakuan oleh pembunuh orang tuanya.

“harusnya aku membunuhmu. Membuatmu menyusul kedua orang tuamu yang suka ikut campur itu. Tapi karena aku masih punya sedikit belas kasihan padamu aku membiarkanmu hidup. Dan melihat kau hidup bergelimang harta dengan kekayaan kakekmu itu aku jadi penasaran bagaimana rasanya kalau dia juga kehilangan satu-satunya keluarga yang dia miliki.”

“katakan dimana mereka menyumbinyakan bukti itu dan aku akan melepaskanmu.”

Nafas Suho tersengal-sengal menahan amarah dan sakit bersamaan. “bukti? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Kenapa tidak kau bunuh saja anak itu bersama dengan orang tuanya? kenapa membiarkannya hidup tanpa ingatannya tentang apa yang terjadi saat itu.”

“kenapa? Karena aku juga seorang kakek, melihatmu membuat aku teringat pada cucuku.” Pria itu tertawa sinis melihat kearahnya. “setelah sepuluh tahun aku mengirimkan cucuku untuk mencarimu. Tapi gadis bodoh itu sama lembeknya dengan ibunya yang juga mirip seperti ibunya.”

Suho melihat pria tersebut duduk di kursinya semula. “mungkin sebentar lagi anak itu akan sampai kemari. Dan aku akan membuatnya melihatmu mati lalu aku akan membunuhnya dan membunuh saudaranya yang lemah itu, lalu membunuh ayah mereka yang tidak tahu diri itu dan kemudian membunuh ibu mereka. Putri kesayanganku yang memilih untuk di adopsi oleh keluarga ibunya.”

“kau sakit!” jerit Suho. Dia merasa muak dan mual mendengar orang itu menceritakan rencana pembunuhan yang ada dalam kepalanya.

Lalu salah satu diantara orang-orangnya membisikkan sesuatu kedekat telinganya dan membuatnya tersenyum lebih lebar lagi. “sepertinya cucuku sudah sampai. Sebentar lagi kau akan bertemu dengannya.”

*next part

WordPress’ Author

CLICK HERE

Advertisements

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s