My Last (Chapter 10)

my-last_request-by-diani

My Last (Chapter 10)

Written by DkJung

Poster by ettaeminho

Main Casts : [Infinite] Kim Myungsoo | [A Pink] Son Naeun | [Infinite] Lee Sungjong

Support Casts : [Beast] Lee Gikwang | [Girl’s Day] Bang Minah

Genre : Romance | Length : Chaptered | Rated : Teen

>< 

Kim Myungsoo, lelaki tampan yang terlibat cinta segitiga, dimana ia harus memilih antara menjadi lelaki normal atau gay, dengan memilih Son Naeun atau Lee Sungjong.

>< 

Teaser > Chapter 1 > Chapter 2 > Chapter 3 > Chapter 4 > Chapter 5 > Chapter 6 > Chapter 7 >Chapter 8 > Chapter 9

>Chapter 10<

“Hanya itu yang mau kukatakan pada Oppa. Mian, aku mungkin menyita waktu belajarmu. Semangat untuk ujiannya, tahun ini Oppa harus bisa masuk universitas favoritmu!” ucap Naeun sambil tersenyum dan mengacungkan kepalan tangannya di udara.

Myungsoo tersenyum tipis.

“Wah, baru kali ini Oppa tersenyum saat berbicara denganku! Rasanya menyenangkan. Oppa terlihat semakin tampan saja, bagaimana bisa aku melupakan Oppa dengan mudah?”

Senyuman Myungsoo langsung pudar begitu mendengar perkataan terakhir Naeun. Benar dugaannya, gadis ini memang berubah. Mungkin Naeun sudah menyerah. Bukankah Myungsoo seharusnya senang?

Naeun beranjak dari duduknya. Ia membungkuk sekilas.

Keurom, aku akan kembali ke rumah. Gomawo, sudah menyempatkan untuk datang.”

Setelah itu, Naeun benar-benar pergi. Sementara Myungsoo tidak mengatakan apa-apa dan hanya memperhatikan punggung Naeun yang semakin menjauh. Perasaannya masih sulit diartikan untuk saat ini. Akhirnya ia memilih untuk berdiam diri sejenak di taman itu. Ia melihat jam di ponselnya yang ia simpan di saku jaket. Pukul sembilan malam. Hampir larut memang.

Merasa bosan, ia pun memilih untuk memainkan ponselnya. Ia membuka akun Instagram miliknya yang sudah cukup lama tidak ia buka. Ternyata, ia sudah memfollow akun Naeun dan begitu juga sebaliknya. Apa mungkin Naeun yang melakukannya? Dia memang kadang memainkan ponsel Myungsoo tanpa izin.

Entah dorongan darimana, Myungsoo membuka akun Naeun. Ia menscroll setiap postingan Naeun. Sesekali ia tersenyum melihat beberapa foto yang menampilkan wajah ‘jelek’ gadis itu dengan ekspresi-ekspresi anehnya. Ternyata, Naeun tidak hanya mempost fotonya yang cantik dan anggun, tetapi juga yang lucu dan unik.

Namun, jarinya terhenti ketika ia melihat foto dirinya dan Naeun di dalam mobil. Ia ingat. Itu saat ia mabuk larut malam dimana Naeun membawanya pulang. Matanya terpejam, sementara Naeun tersenyum cerah dengan jari telunjuknya ia tempelkan pada pipi Myungsoo. Di sana tertulis ‘My furute husband <3’. Myungsoo tersenyum, entah apa sebabnya.

>><<

“Apa yang mau kau bicarakan?” Tanya Taeyeon begitu ia duduk di kursi kafe.

Sungjong mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Ia bingung bagaimana harus menanyai soal Myungsoo pada Taeyeon. Ia kenal Taeyeon karena wanita itu adalah satu-satunya kerabat Myungsoo yang tahu hubungan mereka.

Keuge, apa Myungsoo menceritakan sesuatu pada Noona?”

“Ah, apa maksudmu, soal hubungan kalian yang sudah putus? Keurae, dia memang menceritakannya, wae?”

“Apa, dia juga bercerita tentang seorang gadis?”

Taeyeon mengangguk. “Son Naeun. Myungsoo bilang dia menyukai gadis itu. Karena itulah, jangan ganggu hidup Myungsoo lagi. Aku sibuk, jadi aku harus pergi sekarang.”

Taeyeon beranjak lalu pergi meninggalkan Sungjong yang tengah dipenuhi amarah. Ia mengepalkan tangannya dengan keras lalu meninju meja dengan keras.

“Son Naeun, dasar wanita jalang kau!”

>><<

TING TONG

Naeun berlari menuju pintu rumahnya begitu ia mendengar bunyi bel dari luar. Ia memang sedang sendirian di rumah sehingga hanya ia yang bisa membukakan pintu untuk tamu. Begitu ia membuka, ia cukup terkejut hingga mundur selangkah.

“Lee Sungjong?” ucap Naeun tak percaya melihat siapa yang mengunjungi rumahnya minggu pagi itu.

Wae? Apa kau tidak akan menyuruhku masuk? Jahat sekali,” ucap Sungjong sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

“Mau apa kau ke rumahku? Siapa yang memberimu alamat rumahku?”

“Memangnya itu penting? Lalu kau mau apa jika sudah tahu jawabannya? Yang penting sekarang aku sudah ada di sini, dan ada yang harus kubicarakan denganmu.”

Naeun memutar bola matanya lalu menghela napas. Ia lalu berjalan mundur, mempersilakan Sungjong untuk masuk. Sungjong langsung duduk di sofa ruang tamu tanpa diberi perintah. Ia memperhatikan sekeliling rumah Naeun yang cukup besar itu.

“Apa aku datang di waktu yang tepat?”

“Orang tuaku sedang ada urusan bisnis, mereka baru pulang besok,” jawab Naeun yang masih berdiri, enggan duduk berhadapan atau berdampingan dengan Sungjong, itu sama saja Naeun menerima dengan baik kunjungan Sungjong.

“Syukurlah. Kalau begitu, kita bisa mengobrol dengan leluasa. Tujuanku ke sini, untuk meminta sesuatu darimu. Hanya satu.”

“Apa itu?”

“Jauhi Myungsoo.”

Naeun memutar bola matanya.

Ya, memangnya kau siapa? Kau sudah bukan pacar Myungsoo Oppa lagi, kan? Apa hakmu melarangku untuk mendekatinya?”

“Siapa bilang aku dan Myungsoo telah putus? Dia hanya memutuskanku secara sepihak, dia tidak bertanya dulu padaku apa aku mau atau tidak. Itu tandanya kami belum putus!”

Mendengar jawaban Sungjong, Naeun tiba-tiba saja menjerit dengan kencang. Suaranya itu mungkin terdengar sampai luar rumahnya.

Mwohaneunggoya?!” Tanya Sungjong sambil menutup telinganya.

Naeun menghentikan jeritannya tetapi tidak menjawab pertanyaan Sungjong. Tak lama kemudian, Myungsoo berlari memasuki rumah Naeun tanpa permisi.

Wae geurae?” Tanya Myungsoo dengan wajah bingung.

Naeun sudah mengira Myungsoo akan datang karena orang tuanya juga sedang dalam perjalanan bisnis dengan orang tua Naeun. Ia sudah tahu Myungsoo sendrian di rumah, dan pasti lelaki itu mendengar jeritannya.

Hyung!” panggil Sungjong seraya berjalan menghampiri Myungsoo. Namun dengan cepat Myungsoo menepis gerakan tangan Sungjong yang hendak memeluknya.

Naeun masih diam, tak lama kemudian, dia menangis kencang. Entah apa sebabnya.

“Apa yang kau lakukan padanya?” Tanya Myungsoo pelan sambil melihat Naeun.

Ne?” Tanya Sungjong tak mengerti.

“KENAPA DIA MENANGIS?” bentak Myungsoo.

Sungjong terlihat terkejut, begitu juga Naeun yang langsung menghentikan suara tangisnya, meskipun air matanya masih keluar.

“Keluar,” ucap Myungsoo dengan suara yang amat pelan.

Mwo?” Tanya Sungjong lagi.

“AKU BILANG KELUAR!” Myungsoo pun kembali membentak Sungjong.

“Aku tidak mengerti apa salahku, terserah jika Hyung ingin aku pergi!”

Sungjong pun berlari keluar dari rumah Naeun dengan mata yang berkaca-kaca. Sementara Naeun masih menangis dalam hening.

Jangan terlalu berharap Son Naeun, dia melakukannya karena kau terlalu berisik, iya, jangan berharap banyak, pikir Naeun.

Myungsoo melirik Naeun. Sementara Naeun yang saat itu tengah memperhatikan Myungsoo langsung menunduk.

“Kau tidak tahu fungsi intercom?” Tanya Myungsoo tiba-tiba.

Ne?”

“Kau punya intercom tetapi tidak tahu cara memakainya? Payah.”

Ya, tentu saja aku tahu! Aku sering memakainya.”

“Lalu kenapa tamu seperti dia bisa masuk? Kau tidak melihatnya dulu lewat intercom? Bagaimana bisa kau mengizinkannya masuk?”

Naeun kembali menundukkan kepalanya. Memang salahnya. Ia tadi memang tidak melihat intercom dulu dan langsung membuka pintu.

“Ditambah lagi, kau ini mengganggu ketentraman tetangga, termasuk aku.”

Mianhae.”

“Masih untung aku ada, bagaimana jika aku tidak ada? Siapa yang akan membantumu mengusirnya?”

Mianhae.”

Keurae! Terus saja minta maaf! Kau memang sudah seharusnya meminta maaf! Kau memang punya banyak salah!” seru Myungsoo lalu pergi meninggalkan Naeun, pulang ke rumahnya.

Sepertinya ada yang berbeda dengan Myungsoo Oppa hari ini.

>><<

Naeun tengah berjalan pelan menuju gerbang sekolahnya ketika Youngji datang dengan tiba-tiba sambil menepuk punggungnya.

“Naeun-ah!” panggilnya, sementara Naeun hanya menoleh sekilas.

Aigoo, kau ini kenapa? Tidak bersemangat sekali,” ucap Youngji sembari mencubit kedua pipi Naeun.

Gwenchana,” jawab Naeun sambil menyingkirkan tangan Youngji.

“Ayolah, apa kau ada masalah? Tidak biasanya kau lemas begini.”

“Youngji-ya.”

“Hm?”

“Apa wajar bila seorang lelaki memarahi seorang gadis karena gadis itu berbuat salah? Apa tandanya lelaki itu peduli? Atau justru sebaliknya?”

“Tergantung, memang apa kesalahan gadis itu?”

“Bagaimana jika gadis itu membahayakan dirinya, sehingga si lelaki menjadi sangat marah?”

“Biasanya, lelaki seperti itu adalah tipe yang tidak bisa memperlihatkan rasa khawatirnya, sehingga ia menunjukkannya dengan kemarahan, walau sebenarnya dia sangat khawatir. Biasanya, dia tipe lelaki yang sangat cuek. Apa Myungsoo Oppa habis memarahimu?”

Ne. dia memarahiku karena mengizinkan Sungjong masuk ke rumahku.”

Ya! Itu tandanya dia khawatir padamu! Sungjong adalah orang yang berbahaya, dia takut hal buruk terjadi padamu!”

“Aku tidak yakin begitu.”

“Kalau begitu apa lagi? Alasan apa lagi yang masuk akal? Jelas-jelas dia khawatir denganmu. Aku rasa, dia mulai menyukaimu.”

Ya! Jangan mengada-ngada!” seru Naeun sambil memegang kedua pipinya yang mulai memerah.

>><<

Myungsoo melempar tasnya ke atas sofa lalu membaringkan tubuhnya di sofa tersebut. Ia menatap langit-langit rumahnya. Suasana yang benar-benar hening saat itu, membuat ingatan Myungsoo kembali pada hari kemarin, saat ia tiba-tiba mendengar suara teriakan Naeun. Bagaimana bisa ia langusng berlari menghampirinya? Apa ia sangat khawatir?

Tidak. Sebisa mungkin Myungsoo meyakinkan dirinya bahwa kemarin ia memang merasa terganggu dengan teriakan Naeun, makanya ia langsung berlari ke rumah Naeun. Ya, memang haruslah begitu kenyataannya. Sampai detik ini, ia masih belum bisa menerima bahwa mungkin sudah ada perasaan dalam hatinya untuk Naeun.

TING TONG

“Aduh, mengganggu saja,” gumamnya sambil bangun lalu berjalan menuju pintu.

Ketika sampai di depan pintu, Myungsoo mencium aroma makanan kesukaannya. Segera ia membuka pintu.

Oppa!” seru Naeun. Gadis itu terlihat ceria seperti sebelumnya.

Ternyata Naeun yang membawakan bibimbap untuknya. Tangan kanan Naeun menyodorkan ponselnya yang meemperlihatkan bahwa ia mendapat pesan dari Nyonya Kim untuk membelikan Myungsoo bibimbap, karena Myungsoo memang belum terlalu banyak menghafal daerah-daerah di kompleknya, ditambah lagi Myungsoo jarang sekali keluar rumah. Berbeda dengan Naeun yang justru sering sekali keluar rumah.

Eommoni berpesan padaku, bahwa Oppa jangan sampai telat makan, mereka akan pulang nanti malam.”

Eommoni? Kau memanggil ibuku seperti itu? Apa kalian sangat dekat? Lalu, kenapa ibuku hanya mengirim pesan padamu, sedangkan padaku tidak?”

“Bukankah Oppa belum terlalu hafal daerah ini? Bagaimana Oppa akan membeli makanan jika tidak tahu jalan? Sudahlah, terima saja makanan dariku ini.”

Naeun meraih tangan kanan Myungsoo lalu menariknya untuk memegang kotak makanan yang dibawa Naeun.

“Makanlah yang banyak, Oppa kan mau ujian.”

Myungsoo memutar bola matanya.

“Apa kau mau menggodaku lagi? Kau mau berusaha mendapatkanku lagi dengan cara memberiku ini?”

Oppa, kenapa bicaramu begitu? Aku kan berniat baik. Lagipula, aku tidak akan ke sini kalau Eommoni tidak menyuruhku.”

“Baiklah, terserah kau saja. Aku menerima pemberianmu ini karena tidak ada pilihan lain, daripada aku kelaparan.”

Setelah itu, Myungsoo langsung menutup pintu rumahnya tanpa mengizinkan Naeun bicara sepatah kata lagi. Naeun hanya mengendus kesal. Bagaimana bisa Myungsoo tidak mengucapkan terima kasih sama sekali?

>><<

Pukul Sembilan malam, Myungsoo membukakan pintu garasi mobil ketika kedua orang tuanya baru saja pulang. Setelah mobil masuk ke garasi, Myungsoo langsung menutup kembali rolling door garasi itu lalu kembali ke kamarnya. Nyonya Kim yang baru turun dari mobil hanya menggelengkan kepala melihat anaknya.

Aigoo, dia bahkan tidak menyambut kepulangan orang tuanya dan malah masuk ke rumah begitu saja setelah membukakan pintu garasi. Bagaimana bila garasinya tidak berpintu, apa dia tidak akan keluar sama sekali? Anak itu,” gerutu Nyonya Kim.

Tuan Kim tidak berkomentar mendengar gerutuan istrinya. Keduanya pun baru saja hendak masuk ke rumah ketika Tuan dan Nyonya Son berlari menghampiri mereka.

“Ada apa ini?”

“Kami tidak bermaksud mengganggu tapi, apa kalian melihat Naeun? Dia tidak ada di rumah, dia juga meninggalkan ponselnya. Begitu kami masuk, rumah juga tidak dalam keadaan terkunci. Lampu-lampu belum ada yang dinyalakan. Apa yang harus kami lakukan?” Tanya Nyonya Son yang tengah panik.

“Tenang dulu. Aku akan bertanya pada anakku, siapa tahu hari ini dia sempat bersama dengan Naeun, ayo masuk dulu,” ujar Nyonya Kim.

Mereka pun masuk ke rumah keluarga Kim lalu duduk di kursi ruang tamu. Sementara Nyonya Kim langsung masuk ke kamar Myungsoo tanpa mengetuk dahulu.

Eomma, sudah kubilang ketuk dulu.”

“Kau bertemu Naeun hari ini?”

Ne, wae?”

“Apa kau tahu dia kemana? Tampaknya dia belum pulang sejak sore.”

Myungsoo yang tadinya tengah duduk serius di kursi tempat belajarnya langsung beranjak dan mengambil jaket. Ia pun berlari keluar rumah tanpa berpamitan, membuat orang tua Naeun bingung sementara Nyonya Kim terus memanggilnya.

>><<

Gadis itu, jinjja! Dimana pikirannya saat ini? Apa dia sudah gila? Ini sudah malam dan, dia itu seorang gadis!

Myungsoo terus berlari mengitari komplek. Napasnya sudah tidak beraturan dan pelipisnya mulai mengeluarkan keringat. Namun, belum ada tanda-tanda keberadaan Naeun. Myungsoo pun memutuskan untuk berlari ke jalan raya, siapa tahu ia bisa menemukan Naeun di sana.

Setelah menghabiskan waktu setengah jam, Myungsoo belum juga menemukan Naeun. Keringatnya sudah bertambah banyak, walaupun tidak terlalu banyak karena udara yang dingin.

“Son Naeun!”

Myungsoo tak henti-hentinya menyerukan nama Naeun. Tetapi belum ada jawaban dari sejak ia keluar dari rumahnya hingga ia sampai di jalan raya.

“Sebenarnya kau ini pergi kemana? Hari sudah semakin larut,” gumamnya.

Myungsoo berhenti sejenak lalu mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia takut tidak bisa menemukan Naeun. Ketika ia berjalan lagi, ia melihat sesosok gadis tengah berjalan pelan-pelan dengan rambut tergerai sambil menenteng tas selendang dengan kepala tertunduk.

Ya, Son Naeun!”

Gadis itu mendongak dan terkejut ketika Myungsoo berlari menghampirinya lalu menariknya ke dalam pelukan lelaki itu. Pelukan yang sangat erat. Gadis itu, memang benar Son Naeun.

Mendapat perlakukan yang tidak diduga dari Myungsoo, Naeun hanya bisa mematung. Ia tidak sanggup membalas pelukan Myungsoo. Namun, tak lama kemudian, Myungsoo melepas pelukannya dan menatap Naeun tajam.

Paboya! Bagaimana bisa kau keluar rumah tanpa mengunci pintu dan membawa ponsel? Kemana saja kau jam segini baru muncul? Kau tahu aku sangat khawatir? Aku sudah mencarimu kemana-mana!”

Oppa, kenapa kau marah?”

“Bagaimana aku tidak marah? Setidaknya kau beritahu aku kalau kau mau pergi setelah mengantarkan makanan padaku, jadi aku bisa bilang pada orang tuamu. Kau tahu betapa terkejutnya aku mendengar kau belum pulang? Aku kira kau hilang!”

“Aku terburu-buru! Youngji tiba-tiba masuk rumah sakit karena kecelakaan, orang tuanya terlalu sibuk jadi pihak rumah sakit menghubungiku, aku menemaninya dulu, dan tadi saat aku pulang naik bus, aku tertidur sehingga aku ketinggalan pemberhentian. Akhirnya aku jalan kaki sampai sini.”

Myungsoo menghela napas. Antara lega, iba, dan marah. Naeun tampak tenang saja walaupun Myungsoo megkhawatirkannya.

“Kau ini, membuatku khawatir saja! Kau tahu? Aku sudah berlarian kesana kenari untuk mencarimu!”

Wae?”

Mwo?”

“Kenapa Oppa harus mengkhawatirkanku? Bukankah Oppa akan lebih senang jika aku tidak ada?”

Mwoya?”

“Padahal Oppa tidak usah mencariku.”

“Kau ini bicara apa? Memangnya kau tidak mau pulang?”

Naeun menundukkan kepalanya. Matanya mulai berair hingga air matanya menetes.

“Jangan bersikap baik padaku, jebal. Kalau Oppa seperti ini, aku tidak akan bisa melupakan Oppa. Oppa yang sehari-hari bersikap kasar dan mengacuhkanku saja sudah membuatku jatuh cinta hingga tidak bisa berpaling darimu, apalagi kalau Oppa menjadi orang yang baik seperti ini? Aku tidak sanggup. Bagaimana aku bisa melupakan Oppa? Bukankah Oppa sendiri yang melarangku untuk mendekatimu? Kenapa Oppa justru memberiku harapan? Wae?” ucap Naeun sambil menangis.

Ia lalu memegang dadanya.

“Aku tidak bisa menerima perlakuan Oppa yang baik seperti ini. Hatiku akan semakin sakit karena tidak bisa memilikimu.”

“Kalau memang sulit untuk melupakanku, jangan lakukan itu,” ucap Myungsoo.

Naeun mendongak, menatap kedua mata Myungsoo. Myungsoo pun mendekatkan wajahnya pada wajah Naeun lalu mencium bibir gadis itu.

>To Be Continued<<

maaf kalo masih kependekan dan maaf kalo masih ada typo.

tetap tinggalkan komentarnya yaaaaaa^^

25 thoughts on “My Last (Chapter 10)

  1. kayaknya myungsoo udah mulai jatuh cinta deh denan naeun…………..hehehe terus lanjut thor ini makin menarik..

  2. cinta akan datang tanpa kamu sadari……..kayaknya ini berlaku buat myungsoo walaupun ia seorang gay ternyata kamu bisa normal juga…hehehe

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s