Genosida – The End Of A Journey – Bag 1 (Part 8)

PART 1

†GENOSIDA†

Scriptwriter: April (@cici_cimol) | Main Cast: Kwon Jiyong (G-Dragon Of Big Bang), Sandara Park (2NE1) | Support Cast:  Find the other cast while reading^^ | Rating: PG-15 | Genre: Fantasy, Mistery, Romance | Length: 8 Part.

Previous: Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5, Part 6, Part 7

Disclaimer:

Human and thing belong to God. I only own the plot. Terinspirasi dari Novel Harry Potter dan The Hobbit.

GENOSIDA

Sebuah dunia dari dimensi lain yang sedang dalam tahap percobaan gila. Menarik manusia untuk menjadi bagiannya. Genosida merupakan pembantaian besar-besaran secara sistematis pada suatu kelompok dengan maksud memusnahkan. Siapakah diantara mereka yang berhasil keluar hidup-hidup?

Previously at Genosida:

Kelompok api yang berhasil keluar dari hutan ilusi akhirnya berhadapan langsung dengan kelompok yang selama ini mereka cari, kelompok air. Mereka bertarung dengan sengit, ditengah pertarungan itu, Sandara mengetahui fakta yang sebenarnya akan terjadi jika mereka benar-benar berhasil menghancurkan Genosida. Sandara akan kehilangan Kwon Jiyong selamanya. Disaat mereka berhasil membekuk Jo Kwon, dalam hitungan jam, Sandara akan kehilangan Jiyong… atau akan terus berada di dimensi ini selamanya.

 

PART 8  [ THE END OF A JOURNEY  BAG 1 ]

“Kenapa?” Sandara duduk disamping Jiyong yang sedang termangu menatap api unggun. Mata cokelat pria itu tetap tidak bergerak, seolah api yang sedang menari diantara kayu kering itu lebih menarik dibandingkan kehadiran Sandara.

“Kita hentikan saja sekarang, ya? Ini masih belum terlambat, kita ikuti permainan Genosida sampai selesai. Biarkan segalanya berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Kenapa kau sampai punya pikiran untuk menghancurkan tempat ini?” Untuk kesekian kalinya, Sandara memohon pada Jiyong. Walaupun dia tahu, jika Jiyong melakukan itu, maka Jiyong akan melukai harga dirinya dan mengecewakan seluruh orang yang sedang berkumpul disini dan memiliki niat yang sama seperti Jiyong.

Sandara menghela napas putus asa, sekarang mereka masih berkumpul dalam sebuah lingkaran besar dengan api unggun ditengah mereka dibibir hutan ilusi. Jo Kwon, dengan kedua tangan terikat sedang menundukan kepala dalam. Chaerin, mata kucing gadis itu tidak pernah lepas dari wajah Jiyong, sedangkan Daesung dan Junhyung tertidur karena kelelahan berteriak.

Ketiga orang dari elemen tanah dan satu-satunya pengendali udara yang tersisa, Ailee, sedang sibuk membuat makanan disisi lain yang sudah didirikan tenda. Mereka tampak sangat lelah dan penuh tekanan.

“Aku ingin bicara denganmu.” Jiyong menarik tangan Sandara dan berdiri, Sandara hanya bisa diam sambil mengikuti Jiyong yang berjalan didepannya. Mereka sampai di bebatuan yang cukup besar, agak jauh dari tempat mereka berkumpul.

“Kau tahu, kita tidak bisa mundur sekarang.” Jiyong menatap Sandara, Wajah gadis itu begitu cantik saat diterangi cahaya rembulan diatas mereka. Jiyong tersenyum lemah, bisakan dia terus melihat wajah itu? Melihat wajah itu berubah menjadi tua bersama dengannya?

“Apa karena aku?” Sandara mengerutkan kening kebingungan, tangannya menggenggam tangan Jiyong dengan erat. “Apa seperti yang Chaerin bilang? Kau melakukan ini karena aku? Karena kau ingin mengeluarkanku dari sini? Karena cepat atau lambat, Genosida akan menangkapku, mengeluarkan Diamond yang ku miliki dan menjadikanku seorang pemimpin, menyuntikkan cairan kental berwarna ungu kedalam tubuhku dan… dan…” Sandara tidak bisa melanjutkan kalimatnya, membayangkan Jiyong yang melayang diudara dan masuk kedalam pesawat putih besar. Mata Sandara mulai berair. Hatinya dipenuhi rasa sakit. “Aku akan tinggal disini Ji… asal bisa mengetahui kau masih hidup, kau masih bernapas, kau masih tertawa. Itu saja sudah cukup untukku. Jadi, hentikan ini, kumohon…”

Jiyong menarik Sandara dan memeluknya, melingkarkan tangannya dipinggang dan punggung gadis itu. Menyandarkan kepalanya dibahu Sandara. “Aku punya banyak sekali alasan Dara, dan alasanku yang utama memang dirimu.” Jiyong tersenyum lemah, merasakan Sandara mulai bergetar didalam pelukannya. “Tapi aku sama sekali tidak akan menyesal. Aku sama sekali tidak menyesal melakukan ini semua. Aku akan menyesal jika aku membiarkanmu terus disini dan menjadi seorang monster seperti aku, seperti Chaerin, seperti Jo Kwon. Aku akan hidup dalam penyesalan jika aku melakukan itu padamu.”

“Jiyong… kau pikir aku bisa melanjutkan hidup dengan baik setelah ini? Aku tidak akan bisa, kau tahu itu, tidak akan pernah bisa…” Sandara mulai terisak didada Jiyong. Dia takut, takut kalau kehangatan yang dirasakannya saat ini hanyalah imajinasinya. Takut kalau sosok yang sedang mendekapnya ini akan menjadi sosok kabur yang hanya bisa dibayangkan didalam kepalanya. Takut, Dara takut melupakan wajah Jiyong.

“Mungkin awalnya kau akan merasakan itu, tapi percayalah. Kau akan melupakanku. Kau bisa melupakanku dan kembali kedalam hidup normalmu. Bertemu dengan pria baik, memiliki anak-anak yang tampan dan cantik, kemudian menjadi tua, kau akan dikelilingi oleh anak dan cucu-cucumu sampai tuhan memanggilmu kesisinya.” Jiyong mengelus rambut Sandara dengan lembut, mengendurkan pelukannya dan menatap mata besar Sandara yang sudah dihiasi air mata, Jiyong menyentuh wajah itu dan menghapus air mata Sandara.

“Akan ada orang lain yang menghapus air matamu dan tertawa bersamamu. Jadi lupakan aku.” Jiyong tersenyum dan mengecup kening Sandara.

“Ti, tidak Ji… Kumohon, jangan lakukan ini…” Dara bergetar, tidak, ini mustahil. Dia tidak akan pernah bisa hidup seperti itu tanpa Jiyong. Dia hanya ingin Jiyong, bukan orang lain. “Kumohon, jangan lakukan ini padaku… Ji…” Lutut Dara lemas, seluruh energinya terkuras, dia tidak bisa membayangkan kehilangan Jiyong. Kehilangan pria yang sekarang menatapnya penuh kasih.

“Kau bisa, Dara.” Jiyong berbisik dan mulai menciumi seluruh wajahnya. Keningnya, kedua matanya, pipinya, rahangnya, dan mencium bibir Dara dengan lembut. Merasakan mereka memiliki satu sama lain – mungkin untuk yang terakhir kalinya. “Kau bisa melakukannya… ini hanyalah mimpi… mimpi burukmu.” Jiyong berkata ditengah ciuman mereka, pria itu tidak sadar, setetes air mata jatuh ke pipinya. “Kau akan terbangun di dalam kamarmu yang hangat, dengan segelas cokelat panas, kau akan bisa melenyapkan semua mimpi ini ketika kau bertemu dengan teman-temanmu, dengan keluargamu…”

“Jangan… kumohon Ji… aku hancur… kau tahu, kau sedang menghancurkanku sekarang.” Dara merasakan hatinya diremas kuat, ingin sekali dia membuang hatinya yang sedang sakit ini ke tanah, menginjak-injaknya sampai hancur. Sampai rasa sakitnya tidak akan menyiksa Dara lagi.

“Ssssttt…” Jiyong menarik Dara dan memeluknya dengan sangat erat. “Semuanya akan baik-baik saja, percaya padaku….” Jiyong mengelus rambut gadis itu dan menyandarkan dagunya diatas kepala Dara.

“Tidak, a-aku tahu kau sedang berbohong.”

“Tidak, aku tidak berbohong… aku akan berusaha untuk hidupku juga, Dara… aku akan menemukan caranya. Percayalah padaku, aku akan menemukan cara untuk bertahan dan keluar dari sini.”

“Jangan tinggalkan aku…” Dara mencengkram T-shirt Jiyong dengan sangat erat, seolah nyawanya bergantung pada kain itu. “Kau tidak boleh meninggalkanku.”

“Aku janji….” Jiyong menggenggam tangan Dara dan membawanya ke wajahnya. Meminta gadis itu untuk percaya… percaya pada keajaiban yang mustahil akan terjadi.

***

“Sampai kapan kau mau tutup mulut?!” Seungri mendelik kearah Jo Kwon dengan kesal. Jo Kwon mendongak dan menatap Seungri dengan pandangan merendahkan.

 “Ayolah… jangan mempersulit kami…” Kyuhyun menatap malas, dia benar-benar tidak habis pikir, kenapa pria berwajah banci itu sangat setia pada Genosida? Apa Genosida sudah mencuci otaknya?!

“Dia tidak akan buka mulut.” Chaerin menyeringai. “Dia lebih memilih mati dari pada harus mengatakan titik kelemahan dimensi ini.”

“Sepertinya kau tahu sesuatu.” HyunA menyipitkan matanya menatap Chaerin yang dibalas tatapan galak dari wanita itu. “Kalian terlihat sangat dekat, kau juga pasti tahu sesuatu.”

“Aku hanya seorang pemimpin kelompok yang bisa membaca peta Genosida seperti Kwon Jiyong.” Chaerin menyeringai. “Tidak ada gunanya kalian melakukan ini pada kami, kalian hanya membuang-buang tenaga kalian.”

Jiyong dan Sandara kembali ketengah mereka dan duduk disebatang kayu lapuk, wajah keduanya menyiratkan rasa frustasi. Dara menatap Chaerin, ini gila, jika mereka menghancurkan dimensi ini, Chaerin juga akan pergi… ini benar-benar tragedi.

“Jo Kwon, apa kau pernah berpikir, sekali saja dalam hidupmu – untuk bebas dari Genosida?” Jiyong menatap Jo Kwon dengan tenang, seperti yang diduganya, membuatnya buka mulut akan sangat sulit dilakukan. Dan jalan kekerasan juga tidak akan membuahkan hasil.

Jo Kwon tertergun beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Jiyong. Perlahan matanya menatap langit malam yang tidak berbintang, senyum hambar tergambar jelas diwajahnya. Dara memicingkan matanya, langit? Kenapa Jo Kwon memandang langit dengan ekspresi seperti itu?

“Tidak pernah, aku sudah menyerahkan seluruh hidupku pada Genosida.” Jo Kwon mulai tertawa keras seperti orang gila. “Aku lebih suka hidup disini, didimensi ini, disini aku bisa memperjuangkan sesuatu, disini, aku tidak melihat hal-hal kotor yang terjadi pada dunia nyata. Lupakan saja rencana konyol kalian, kalian hanya akan menambah penderitaan bagi orang-orang yang masih terjebak didimensi ini.”

Seungri menghela napas kesal dan menatap Jo Kwon dengan kasihan. “Kau begitu sukanya tinggal disini? Kalau begitu, suruh orang gila yang sudah membuat kami terjebak disini untuk membuat dimensi seperti ini lagi, dan memasukanmu kedalamnya, kau bisa berkeliaran dengan suka cita tanpa harus diganggu oleh orang-orang kotor seperti kami. Sekarang cukup mudah kan? Kau tinggal bilang jalan keluar dari sini dan selesai, jangan menyeret kami lebih jauh lagi.”

“Kami sudah banyak kehilangan.” Yonghwa berkata lelah. “Teman-teman yang selalu berusaha kulindungi selalu menghilang satu-persatu dan itu membuatku terbiasa akan kematian. Tapi tidak bisa seperti ini terus kan? Setiap tahun, mereka merekrut orang-orang kesini hanya untuk mati, aku merasa benar-benar menjadi seperti gumpalan sampah.”

Mereka terdiam dalam keheningan dan hanya bisa menatap tarian ringan api diatas kayu lapuk yang berderik berisik. Sandara bisa merasakan kehilangan yang begitu besar terpancar dari semua orang yang sedang mengelilingi api unggun. Kemudian matanya menangkap sosok Chaerin yang sepertinya sangat terpengaruh oleh kata-kata Yonghwa. Wajah cantiknya menengadah menatap langit malam penuh bintang dengan mata berbinar. Chaerin benar-benar gadis yang cantik, memiliki pendirian dan keberanian yang besar. Dan dia juga telah kehilangan adik perempuan yang selalu berusaha dilindunginya.

“Ketika kau berusaha melindungi seseorang, maka keberanianmu akan semakin besar.” Chaerin berbisik pada langit. “Tetapi hal itu tidak mudah dipertahankan, seperti kau mempertahankan air yang jernih diatas telapak tanganmu. Itu semua hanya akan berakhir sia-sia dan penuh dengan pengorbanan.”

“Karena itu, akan kuhancurkan tempat ini.” Jiyong berkata tegas. “Jo Kwon, apa kau akan tetap seperti ini?”

“Yeah, Well, Aku akan tetap seperti ini, aku tidak melihat hal yang menguntungkan jika aku membantu kalian.”

Shit! Aku benar-benar ingin melemparkan belatiku padamu dan memajang kepalamu dirumahku!” HyunA berdiri kesal dan berjalan cepat menghampiri Jo Kwon, tetapi Sandara segera berlari menahannya.

“Jangan buang tenagamu untuk hal kotor seperti itu HyunA.” Sandara mengepalkan tangannya dengan penuh amarah. Sebagian dirinya, berharap kalau rencana ini gagal, tetapi setelah mendengarkan kata-kata yang keluar dari hati mereka yang berkumpul disini membuatnya memahami apa tujuan Jiyong, mengapa dia berusaha mati-matian untuk keluar dari sini. Amarah itu menguasai setiap tarikan napasnya, dengan cepat Sandara berbalik dan menghampiri Jo Kwon, dia bisa mendengar suara dibelakangnya berteriak untuk menghentikannya tapi terlambat, tangan Sandara mengayun keudara dan mendarat tepat dihidung Jo Kwon. Darah segar menetes dengan bunyi tulang patah pada saat bersamaan.

“Wohoooo! Nice Shoot!!!” Seungri bersorak kesenangan.

“Kau kumpulan sampah dari sampah yang paling kotor, FUCK!!!” Sandara berteriak dengan frustasi, dia merasa jika tidak mengeluarkan amarahnya, maka dia akan mati tercekik karena napasnya benar-benar serasa membakar setiap organ dan akal sehatnya. “Apa yang kau pikirkan ketika kau bilang mengabdikan dirimu pada Genosida? Kau sama saja sudah membunuh dirimu sendiri! Kau membunuh ratusan orang yang terjebak disini setiap tahunnya! Kau memisahkan keluarga! Teman! Dan orang yang mereka cintai!!! Kau sama saja dengan monster!!! Kau… kau…” Sandara kehabisan napas, dia bisa merasakan air matanya menetes dengan deras. “Apa kau tidak pernah, sekali saja, mencintai seseorang? Apa, a… apa kau tidak pernah merindukan keluargamu?! Mereka yang ada disini memiliki keluarga yang selalu berdoa dan menanti mereka pulang dengan selamat! YOU BASTARD!!!”

“Sandara hentikan…” Sandara merasakan tangan Jiyong pada lengannya tapi dia menepisnya dengan keras dan kembali berteriak.”

“KATAKAN DIMANA JALAN KELUARNYA, SEKARANG!!!” Sandara menjerit nyaring. “AKU TIDAK PEDULI JIKA KAU DAN ORANG-ORANGMU MATI JIKA DIMENSI INI HILANG!!! KEMBALIKAN AKU PADA AYAHKU!!! KEMBALIKAN AKU PADA BAU BUKU DIPERPUSTAKAAN! KEMBALIKAN AKU PADA KEHIDUPANKU! SEKARANG!!!”

“SANDARA!!!” Jiyong mengguncang tubuh Sandara dengan keras, tapi tetap tidak bisa menyadarkannya, dia terus mengamuk dan berteriak.

“KEMBALIKAN JIYONG PADA KEHIDUPAN YANG SUDAH KALIAN RENGGUT! KEMBALIKAN ADIK CHAERIN!!! KEMBALIKAN LEE HA YI!!! KEMBALIKAN TEMAN-TEMANKU YANG HILANG, KUMOHON…” Sandara kehabisan napas, Dia merasakan Jiyong menariknya kedalam pelukannya, dia bisa merasakan Jiyong membelai lembut punggung dan rambutnya, berusaha membuatnya tenang.

“Hey, It’s Okay Dara, Semua akan baik-baik saja. It’s Okay…”

Keheningan malam kembali menyelimuti mereka. Jiyong terus menerus berbisik pada Sandara. Perlahan, Sandara mulai tenang. Jiyong melepaskan pelukannya dan menatap Sandara. Tapi gadis itu tidak menatapnya. Jiyong tahu apa ketakutan terbesar dalam diri gadis itu, bukan untuk kehilangan dirinya, tapi dia takut kehilangan keluarganya.

“Sandara, lihat aku.” Jiyong berbisik dan kembali menyeka tetes air mata yang jatuh dipipinya. “Lihat aku Dara.”

Dengan letih, Sandara menengadah dan menatap Jiyong, menatap matanya yang bersinar hangat. Seulas senyum tergambar diwajahnya. “Kau akan kembali pada Ayahmu, Pada adikmu. Kau akan terbangun ditempat tidur yang hangat, mendengarkan lagu kesukaanmu, tertawa bersama Ayahmu, berjalan di trotoar dengan beberapa Ahjumma dan Ahjussi yang menyapa dan menanyakan kabarmu. Merasakan aroma roti panggang diujung jalan, merasakan hangatnya mentari dan dinginnya angin. Kau akan kembali pada semua itu, aku janji.”

“Bersama denganmu.” Sandara berbisik, perlahan menyandarkan kepalanya dibahu Jiyong. “Bersama denganmu.”

“Jiyong…”

Jiyong menatap Chaerin, Gadis itu menyunggingkan senyum sinis padanya, tetapi mata kucingnya berbinar indah diterangi cahaya rembulan.

“Aku akan menceritakan apa yang aku tahu. Tentang Genosida.” Chaerin berkata pelan, kemudian matanya mengarah pada Sandara yang masih berada dalam pelukan pria yang dicintainya. “Aku akan menebus kesalahan besar yang kubuat dalam hidupku – menghancurkan cintamu. Dia begitu berharga untukmu, aku tidak akan menghancurkan rasa cintamu untuk yang kedua kalinya. Aku akan berusaha menjaga perasaan itu untukmu.”

“Kau gila Chaerin.”  Jo Kwon menyela. “Jika kau diam, mereka akan menyerah, jangan membuat ini semakin rumit.”

“Kau tahu kan? Pesawat putih yang pernah masuk kesini?” Chaerin melanjutkan ucapannya dan menatap Jo Kwon dengan sengit. “Mereka masuk lewat langit.”

“LEE CHAERIN! HENTIKAN!!!” Jo Kwon menggeram marah.

“Tidak ada SEORANGPUN Yang bisa memerintahku! Kau! Tutup mulutmu jika kau tidak ingin mengucapkan kebenaran dari semua ini!!!”

“Lepaskan dia.” Jiyong berkata pada Yonghwa. Matanya menatap Chaerin, dia bertanya pada dirinya berulang kali, dapatkah dia mempercayai wanita itu untuk kedua kalinya?

“Hyung! Chaerin bisa saja hanya membual sekarang. Jangan terpengaruh dengan mudah, Kau ingat apa yang sudah dia perbuat sebelumnya bukan?” Seungri berdiri panik, matanya menatap Chaerin penuh dengan kecurigaan. “Dia mungkin akan menusuk kita dari belakang, dia itu licik Hyung.”

“Apa yang dikatakan Seungri benar, kau yakin?” Yonghwa menatap Jiyong, menunggu keputusan dari pria itu. Diantara para pemimpin setiap elemen yang ada di Genosdia, Hanya Kwon Jiyong yang paling kuat, itulah alasan mengapa mereka sangat mempercayainya.

Jiyong terdiam, masih menatap Chaerin dan menenggelamkan Sandara dalam pelukannya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bahwa keputusan yang diambilnya benar. Jiyong merasakan Sandara bergerak dalam pelukannya. Gadis itu menatapnya dan tersenyum. Seperti Jiyong merindukan senyum ibunya, dia juga akan sangat merindukan senyum itu, dan dia juga tidak ingin senyum itu hilang. Sandara melepaskan diri dari Jiyong dan berjalan perlahan kearah Chaerin.

“Tolong bantu kami Chaerin.” Sandara berbisik pelan. Chaerin menatap mata bulat Sandara dan tersenyum. Dia tahu sejak awal, gadis mungil dihadapannya berbeda dari gadis lain yang pernah Chaerin temui. Ada sebuah magnet yang membuat siapapun tertarik padanya, bahkan Genosida mengejar gadis ini seperti mereka mengejar Jiyong dulu. Chaerin tahu, sejak pertama kali menemukannya hampir mati ditangan Jiyong, dia tahu kalau gadis ini akan merubah segalanya.

“Jika kau berhasil keluar, maukah kau menceritakan tentang kami?” Chaerin berkata dengan senyum tertahan.

“Apa itu syaratnya?” Sandara memiringkan kepala kecilnya dengan bingung. Tapi melihat senyum yang begitu hangat dari Chaerin membuatnya begitu senang. Seperti menemukan seorang Kakak yang sudah lama sekali dicarinya.

“Yeah, itu syaratnya. Ceritakan tentang kami, tentang aku, Jennie, Jiyong, dan seluruh penghuni Genosida. Beberapa orang akan bilang cerita ini gila, beberapa akan bilang kalau ini adalah fiksi yang luar biasa. Tapi, yeah, itu lumayankan? Maksudku, setidaknya ada yang tahu mengenai keberadaan kami. Betapa rindunya kami pada sinar matahari pagi dan indahnya bintang-bintang diangkasa didunia nyata, bukan didalam dimensi yang dibuat oleh orang gila.”

“Tunggu, apa maksudmu dimensi ini dibuat?” Kyuhyun menatap Chaerin dengan penasaran.

“Bisakah kau melepaskanku dulu?”

“Ouh Yeah. Jangan coba bermain curang lagi.” HyunA menggoyangkan jarinya yang ramping, dalam sekejap, tanah yang membelenggu tubuh Chaerin menghilang. Chaerin terhuyung dan mencoba menggerakan otot-ototnya yang mati rasa akibat terlalu lama diam dalam posisi yang sama.

“Jadi jelaskan.” Ailee kembali bergabung dengan membawa sekeranjang roti gandum yang masih sangat hangat dan harum. Dengan cekatan dia membagikannya kesetiap orang, melewatkan Jo Kwon dan kembali menatap Chaerin. “Siapa yang membuat dimensi ini dan apa tujuannya.”

“Bukankah itu cukup jelas? Untuk membinasakan umat manusia tentunya, dalam skala besar.” Chaerin mengunyah rotinya dengan rakus dan duduk disebuah batang pohon. “Genosida berasal dari bahasa latin, yang artinya memusnahkan sekelompok orang dalam jumlah yang besar. Mereka cukup pintar untuk memancing orang-orang masuk kedalam perangkap dengan menggunakan kelemahan dari masing-masing individu yang masuk. Misalnya Sandara, dia masuk dengan mudah karena iming-iming mendapatkan beasiswa disebuah Universitas. Kalian semua tahu maksudku kan?”

“Tapi kenapa? Kenapa mereka melakukan itu?” Seungri bertanya dengan kesal. “Psikopat itu senang melihat kita mati satu per satu saat berusaha melewati misi?”

“Aku juga tidak tahu siapa mereka sebenarnya, tapi aku pernah masuk kedalam pesawat yang mirip piring terbang, pesawat yang sering muncul dalam cerita dan film fiksi ilmiah. Saat itu mereka menawanku yang memberontak karena berusaha mengeluarkan Jennie dari tempat terkutuk ini. Dan tebak apa yang tidak sengaja kudengar dari mereka? Ini adalah pembalasan dendam atas apa yang terjadi pada abad pertengahan ditahun 1692, tepatnya didaerah Roma, terjadi pembantaian besar-besaran yang dilakukan kekaisaran Roma pada para penyihir di kota Salem. Mereka menyebut peristiwa itu dengan tragedy The Salem Witch Trial.”

“Tu, Tunggu, jadi maksudmu mereka itu adalah… Penyihir?” Jiyong berkata tidak percaya.

“Bukankah itu cukup jelas? Mungkin ini memang tidak masuk akal, Ini adalah abad 21 dimana teknologi berkembang dan kita tidak memerlukan yang namanya sihir. Tapi apa yang terjadi disini adalah sihir! Kau lihat Troll?! Itu hanya ada dalam legenda sihir! Danau penuh makhluk menjijikan yang menghisap Lee Ha Yi, Hutan ilusi! Ribuan burung yang menyerang Dara! Apa kau pikir manusia biasa bisa melakukan itu semua?!” Chaerin berkata tanpa jeda yang membuatnya hampir tersedak roti yang berusaha ditelannya.

“Eeerrr, jadi mereka adalah keturunan dari penyihir di Salem?” HyunA merasa kalau apa yang mereka bicarakan adalah hal paling mustahil. “Well, bukannya aku tidak percaya, hanya saja… aku merasa sedikit aneh, maksudku…”

“Tapi tempat ini nyata HyunA.” Kyuhyun berkata sabar. “Apa yang kau injak ini nyata, segala hal yang terjadi ini bukan hanya sekedar mimpi.”

“Jadi sihir benar-benar ada, dan mereka sedang mencoba menguasai dunia.” Ailee menyodorkan segelas teh pada Sandara. “Minumlah Dara, tubuhmu menggigil.”

Well, Aku rasa, mereka berhasil menggabungkan sihir yang mereka miliki dengan teknologi yang berkembang sekarang dan melakukan balas dendam dengan salah sasaran. Maksudku, kenapa mereka menyerang orang dari seluruh dunia? Bukankah peristiwa itu terjadi di Roma? Kenapa mereka melampiaskan seluruh kemarahan mereka pada kita?” Sandara menatap Chaerin dengan kening berkerut. “Dan mereka membiarkanmu tahu semua itu?”

“Mereka menyerang orang non sihir. Mereka memiliki tujuan, menjadikan dunia ini dibawah kendali para penyihir.” Jo Kwon menyela saat Chaerin hendak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Sandara.

Keheningan kembali menyelimuti mereka, jelas, walau didalam keremangan malam, seluruh mata yang ada ditempat ini tertuju pada Jo Kwon.  Jo Kwon menggedikkan bahunya pada Daesung dan Junhyung yang dengan cermat mendengarkan pembicaraan mereka. “Lepaskan mereka kalau kalian masih ingin mendengar kelanjutan ceritaku.”

“Cih, sekarang kau peduli pada temanmu? Dasar menjijikan.” Seungri berkata geram. Matanya berkilat penuh kebencian pada Jo Kwon. “Shit! Aku belum pernah merasa sebenci ini pada seseorang, kau mendapatkan gelar kehormatan didalam hidupku, sebagai orang paling kubenci didunia.”

“Wow, Aku merasa terharu mendengarnya. Jika kau tidak melepaskan mereka, mereka bisa mati karena dehidrasi.” Jo Kwon menjawab dengan tenang dan tersenyum hangat pada Seungri.

“Lepaskan mereka.” Jiyong berkata tegas pada Yonghwa. Dengan cepat, Yonghwa menghancurkan tanah yang membelenggu Daesung dan Junhyung. “Ailee, beri mereka makanan.”

Ailee bergegas membantu Daesung dan Junhyung.

“Lanjutkan ceritamu.” Jiyong menatap Jo Kwon, tetapi Jo Kwon malah tenggelam dalam dunianya sendiri, dia terus menerus menatap langit malam.

“Ada sesuatu.” Sandara berbisik sambil memperhatikan Jo Kwon. “Apa langit adalah jalan keluarnya?”

“Kau tahu? Penyihir sangat menyukai langit malam, itulah kenapa didalam buku cerita anak-anak, penyihir selalu digambarkan memakai topi hitam dan jubah beludru berhiaskan motif bintang, itu karena langit malam memberikan petunjuk kepada mereka, mereka bisa membaca apa yang akan terjadi dimasa depan dengan melihat rasi-rasi bintang.” Jo Kwon menatap Sandara dan memiringkan kepalanya, seulas senyum sinting kembali menghiasi wajahnya. “Dan, karena itu juga, Diamond yang bersarang dalam dirimu sangat berharga, karena itu bukan sembarang diamond, batu mulia itu adalah serpihan sebuah bintang.”

“Apa maksudmu mengatakan semua itu?” Sandara melangkah mendekati Jo Kwon. Matanya menatap mata Jo Kwon yang berbinar licik dan menyiratkan keprihatinan padanya.

“Kau adalah kuncinya Park.” Jo Kwon mendengus menahan tawa yang hampir meledak dalam dirinya. “Kau kira berapa banyak orang yang bisa mendapatkan Diamond itu? Nol, kau adalah satu-satunya yang berhasil mendapatkannya, dan Diamond itu tidak menunjukan gejala penolakan pada dirimu. Kau adalah kunci, yang bisa membuka jalan keluar dari semua ini.”

Sandara membeku. Tiba-tiba otaknya terasa kosong, seperti ada jeda waktu yang terhenti didalam dirinya. Dia hanya bisa menatap Jo Kwon yang mulai tertawa dengan keras. Sebagian dirinya tidak mengerti apa yang dikatakan Jo Kwon.

“Berhenti tertawa, atau kubunuh kau SEKARANG JUGA KEPARAT!” Jiyong mengeluarkan api ditangannya, gerakannya terhenti karena Sandara berjalan cepat menuju Jo Kwon. Gadis itu berlutut untuk mensejajari wajahnya dengan wajah menyedihkan dihadapannya.

“Jika aku kuncinya, beritahu aku dimana pintunya. Jika ada kunci, pintu yang tertutup bisa terbuka bukan?” Sandara mendesis kesal dan mencengkerang kerah jaket Jo Kwon. “DIMANA TEMPAT ITU!”

“Wah, wah, tapi kau tidak bisa kembali pada Ayahmu loh. Jika Diamond itu lepas dari tubuhmu, kau bisa hufffttt… mati.” Jo Kwon kembali menyemburkan tawanya. Tetapi diluar dugaan, bukannya membuat Sandara takut dengan kata-katanya, gadis itu malah semakin kuat mencengkeram Jo Kwon.

“Beritahu aku, dimana tempat itu.” Sandara menggeram, Jo Kwon menatap mata bulat Sandara yang tidak bergetar sedikitpun.

“Well, Tempat itu adalah tempat dimana segalanya dimulai, Saat kau kehilangan dan saat kau mendapatkan.”

Sandara melepaskan cengkeramannya, dia berdiri dan menghadap kearah teman-temannya, dengan perlahan menatap wajah mereka satu persatu, seualas senyum tergambar dibibirnya. Akhirnya, dia bisa membawa mereka pulang.

Pioca.” Sandara tertawa pelan. “Danau Pioca, I, itu adalah saat aku kehilangan Lee Ha Yi, dan saat aku mendapatkan kesempatan untuk dekat dengan Jiyong. Kita harus kesana sekarang, sebelum matahari terbit! Pioca paling lemah pada malam hari kan? Kita juga tidak bisa menunggu sampai besok, maksudku… Genosida bisa saja mulai mencariku lagi, Jadi… Jadi…”

“Dara-yaaa.” Seungri berkata lemah.

“Ayo, kita harus bersiap!” Sandara bergegas menghampiri perlengkapan mereka yang berada disekitar kayu lapuk yang mereka duduki, tapi semua orang yang ada disana hanya terdiam seperti patung. “Apa yang kalian lakukan? Kita harus bergegas! Dari awal tempat itu memang yang paling aneh, bau mayat, danau hitam seperti tinta dengan Zombie bertebaran, dan lagi pulau aneh itu, pasti dipulau itu ada sesuatu.”

“Dara…”

Dara berbalik dan mendapati Jiyong berdiri dihadapannya. Mata pria itu menatapnya tegas, entah mengapa, Sandara tahu apa yang ada didalam pikiran Jiyong.

“Tidak ada jalan lain, kumohon biar aku lakukan ini… aku akan mengakhiri ini…” Sandara menatap Jiyong dengan mata memohon. “Apa kau akan membiarkan mereka terus menerus menyeret ribuan orang non sihir setiap tahun dan mati disini? Tidak Jiyong, aku bukannya berlagak seperti pahlawan, sekarang aku sedang takut, oke? Aku sangat, sangat takut, jadi…” Sandara tidak sanggup melanjutkan ucapannya, air matanya kembali menetes, Jiyong kembali memeluknya, mencoba merasakan keberadaan gadis itu, mencoba menenangkan pikirannya yang tersimpul menjadi untaian benang kusut. “Jadi biarkan aku melakukan ini. Jangan membuatku kembali lemah.” Sandara melanjutkan ucapannya dengan putus asa.

“Jiyong, kita tidak punya banyak waktu.” Ailee mengingatkan. “Kita harus bergerak sebelum mereka menyadari apa yang sedang terjadi disini.”

Jiyong memejamkan matanya, berusaha mengusir imajinasi mengerikan yang akan dia hadapi beberapa jam lagi. Perlahan, Jiyong merasakan tangan Sandara membelai lembut rambutnya, gadis itu berbisik pelan ditelinganya, bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

“Apa aku pernah mengatakan ini? Aku mencintaimu, Kwon Jiyong.”

“Aku juga. Aku mencintaimu.” Jiyong membalas bisikan Sandara.

“Jika aku punya cara lain bertemu denganmu, kau ingin pertemuan yang seperti apa?”

“Pertemuan yang sederhana.” Jiyong menjawab lemah. Dia mulai membayangkan bagaimana pertemuan sederhana itu akan terjadi. “Aku harus mencari sebuah buku, jadi aku pergi keperpustakaan dimana Ayahmu berada. Aku mencari buku dengan tenang, tetapi bukan buku yang sangat kuinginkan yang kutemukan, aku menemukan seorang gadis cengeng dengan kacamata tebal sedang membaca sebuah buku sebesar kotak sepatu. Gadis itu tenggelam dalam bukunya tanpa sadar ada pria bodoh yang sedang menguntitnya dan jatuh cinta padanya secara diam-diam.”

Sandara tertawa pelan, dia melepaskan pelukan Jiyong dan memberikan ciuman ringan pada bibir pria itu.

“Ayo kita bertemu seperti itu!” Sandara berkata penuh semangat dan tersenyum saat melihat Jiyong mengangguk.

“Ehm, Jadi, sekarang bagaimana?” Kyuhyun, yang berada paling dekat dengan mereka bertanya dengan wajah memerah.

Jiyong berbalik menghadap teman-temannya, mereka semua menatapnya penuh harap.

Pioca berada dibagian barat, memakan waktu sekitar dua jam, aku rasa, kita tidak perlu membawa banyak senjata, bawa bom rakitan dan pisau belati sudah cukup.” Jiyong tertegun menatap Jo Kwon. “Kita memerlukan dia.”

“Aku akan menjaganya.” Chaerin bangkit. “Aku yang paling tahu mengenai Jo Kwon, dia tidak akan bisa lepas dariku.”

“Kami bisa mempercayaimu kan?” HyunA berkata sambil mengantungi selusin bom rakitan kesaku jaketnya.

Well, Bukankah sesama Gizibe harus saling percaya?” Chaerin mengangkat sebelah alisnya pada HyunA yang dibalas HyunA dengan kedipan mata.

“Perhatikan langitnya.” Jiyong kembali berkata tegas, dia memicingkan mata saat menatap langit berwarna biru beludru yang dihiasi kerlipan bintang yang indah. “Aku tahu, ada sesuatu dengan langitnya.”

Mereka semua mengangguk. Sandara menggendong isi ransel yang penuh bahan peledak dan memperhatikan teman-temannya sudah siap meninggalkan tempat itu.

“Jangan biarkan aku kehilangan lagi.” Sandara berteriak riang dan tersenyum pada semua teman-temannya. “Besok, mataharinya pasti akan terasa sangat hangat!”

Jiyong berjalan menghampiri Sandara dan meremas tangan gadis itu, mereka kembali tersenyum. “Kalian siap?! Ingat tetap fokus!”

Jiyong dan Sandara berjalan perlahan, tangan mereka berbagi kehangatan satu sama lain, dibelakang mereka, Ailee, HyunA, Yonghwa, Kyuhyun, Junhyung, Daesung, Seungri, dan Chaerin yang mengikatkan tangannya dengan erat pada ikatan yang mengelilingi tubuh Jo Kwon, mengikuti Jiyong dan Sandara menyeberangi padang rumput, menuju danau pioca.

Mereka bertekad akan mengakhiri Genosida. Dimensi yang penuh jeritan putus asa ini… akan hancur sebelum matahari terbit.

 

= TO BE CONTINUED =

Leave your comments juseyooo. Terimakasih untuk pembaca yang setia menantikan kelanjutan FF saya ini. Maaf untuk tidak update dalam jangka waktu yang sangaaaat lama. Maaf ya! Semoga masih ada yang bersedia baca dan komen disini. See you in The End Of A Journey Part 2. Please keep support me! Good Luck Guys^^

Advertisements

7 thoughts on “Genosida – The End Of A Journey – Bag 1 (Part 8)

  1. Sampai kaget pas liat ff ini dipost!
    Sumpah seneng banget..mudah2’an lancar terus buat ff ini..ditunggu kelanjutannya!
    SEMANGAT!!!

  2. Ya ampun, sumpah kaget waktu liat ff ini di post lagi, udah lama banget ya~ sampe lupa juga kalo buka rff ya salah satunya karena nunggu ff ini :’)
    sampe lupa gimana part sebelumnya ehehe aku baca lagi aja deh dari awal
    Keep writing! Kalo bisa jangan lama lama lagi ya
    Next part soon!!!

  3. kak, aku seneng banget ff nya dilanjut:’)
    sampe teriak” gaje gapeduli sekitar xD
    buka wp ini salah satu tujuannya buat mastiin ff ini bakal dilanjut ato enggak><
    aku bener" berharap banyak ff ini dilanjutt:')
    hwaiting, kakヽ•´з`•ノ

  4. apa cuma saya yg nangis baca chap ini?? serius loh saya mewek:”( pas bagian ji sama dara itu nyesek bgt yaampun:'(
    please buat ji sama dara happy end. mereka udah banyak bgt perjuangannya:'(
    gabisa berkata apaapa. intinya ini ff keren bgt dan semoga endingnya jg memuaskan perasaan saya yg sedang sedih ini:’) semangatttttttt!!!!^^^^^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s