Love Virus – Prolog

Love Virus

Title : Love Virus | Author : @ztsong | Genre : school-life, friendship, romance | Length : Chapter | Main Cast : Koo Junhoe (iKON), Kim Hanbin (iKON) and Chou Tzuyu (TWICE)

—oOo—

Bunyi alarm jam yang nyaring membuyarkan mimpi seorang lelaki yang masih terlihat nyaman berada diatas tempat tidurnya. Tangannya beralih menarik bed cover hingga menutupi seluruh tubuhnya. Bodoh, ia bahkan lupa tidak mematikan alarm jam yang terus berbunyi. Dengan posisi tubuh yang telungkup diatas tempat tidur, sebelah tangannya mulai menggerayangi permukaan meja untuk mencari jam weker. Setelah menemukannya, ia langsung mematikannya dengan sebelah tangan tanpa mengubah posisi tubuhnya kemudian kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.

Kali ini giliran ponselnya yang berdering. Spontan, lelaki ini menyibakkan bed cover yang menutupi tubuhnya dengan kesal. Tidak mau ambil pusing, ia segera berjalan mengambil ponselnya di meja belajar yang terletak di sebelah lemari pakaian sudut ruangan. Dengan mata setengah tertutup, ia mengangkat panggilan seseorang tanpa melihat siapa yang sedang menelponnya.

“Ya! Koo Junhoe! Kau cari mati? Apa yang kau lakukan dengan Kim Sohyun? Huh? Kau bisa saja di keluarkan dari sekolah!”

Junhoe—lelaki tersebut—langsung menjauhkan ponselnya ketika mendengar suara seseorang dengan nada tinggi disebrang telpon. Otaknya berjalan begitu lambat sehingga sekitar sepuluh detik berlalu, Junhoe baru meresapi perkataan temannya tadi. Apa katanya? Melakukan apa dengan Kim Sohyun? Dikeluarkan dari sekolah? Apa maksudnya?

Sebelah alisnya terangkat. Bingung. Dengan ragu-ragu Junhoe berkata, “Apa yang aku lakukan dengan Kim Sohyun? Di keluarkan dari sekolah?” tanyanya bingung, “Memangnya aku melakukan apa? Apa aku melakukan pelanggaran berat?”

Terdengar hembusan napas panjang disebrang sana, “Hei bodoh! Apa kau tidak membuka website sekolah? Artikel yang terpampang di website sekolah paling atas adalah kasusmu, bodoh!”

Lagi-lagi sebelah alis Junhoe terangkat. Ia semakin bingung dengan perkataan temannya yang terdengar marah-marah, “Aku benar-benar tidak mengerti, Jungkook,” keluh Junhoe.

“Kau dengan Sohyun benar-benar berlebihan. Apa kau lupa kalau di sekolah kita di larang keras untuk berciuman? Salah satu diantara kalian pasti harus mengundurkan diri dari sekolah. Jangan bilang kau lupa tentang hal itu, Junhoe! Aish, kau benar-benar bodoh!” hardik temannya yang bernama Jeon Jungkook.

Mata Junhoe membulat dengan sempurna, “Kau bilang apa barusan? Berciuman?”

“Ya, benar!”

“Sial, kapan aku melakukannya dengan Sohyun?!” bantah Junhoe dengan nada tinggi.

Jungkook tampak mendesis disebrang telpon, kemudian terdengar suara tarikan napas pelan dan hemubusan napas panjang namun Jungkook tak kembali mengeluarkan suaranya. Sepertinya ia menunggu penjelasan versi Junhoe.

“Hei, Jungkook!”

“…”

“Ya! Kau sedang mengerjaiku? Huh?”

Lagi-lagi Jungkook menarik napas dan menghembuskannya perlahan. “Cepatlah datang kesekolah. Kau tidak hadir di jam pertama membuatmu kembali mendapatkan poin. Kim Saem ingin berbicara denganmu.”

“Bagaimana dengan Sohyun?”

“Entahlah. Tadi pagi aku bertemu dengannya tetapi ketika mendengar berita tentang ciuman itu, aku tidak melihatnya lagi. Bahkan dia melewatkan jam pertama jadi dia mendapatkan poin seperti kau juga. Kau tahu? Teman-teman mengira kau dengan Sohyun—”

Tak mau mendengar penjelasan Jungkook lebih lanjut, Junhoe segera memutuskan sambungan telepon lalu mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Tanpa berpikir panjang, Junhoe segera melempar ponselnya keatas tempat tidur dan segera menuju ke kamar mandi untuk membasuh diri.

Hari ini begitu aneh!

—oOo—

Seorang lelaki yang mengenakan seragam Cheonjae High School dengan rapi tengah berjalan santai. Langkahnya berhenti ketika ia berada di depan kelas 2-B. Kim Hanbin—lelaki tersebut—berdiri dengan santai di ambang pintu kelas 2-B dengan wajah dingin. Hal itu membuat gadis penghuni 2-B histeris apalagi ketika Hanbin menarik sedikit sudut bibir kanannya membuat gadis-gadis itu kembali histeris, padahal Hanbin seperti memperlihatkan seringaiannya yang menakutkan. Aneh, pikir Hanbin.

Chou Tzuyu, salah satu gadis kelas 2-B itu tersenyum manis kearah Hanbin ketika mata keduanya bertemu. Ya, benar sekali! Hanbin dan Tzuyu memang sangat dekat bahkan seluruh penghuni Cheonjae High School baik siswa, guru atau staf menganggap keduanya berpacaran. Jika di lihat-lihat keduanya sangatlah cocok, mengingat bahwa keduanya sama-sama orang yang dianggap mempunyai pengaruh besar di Cheonjae High School. Ya, begitulah…

Kim Hanbin, ia adalah cucu dari mantan Presiden Korea Selatan. Ayahnya adalah seorang hakim terkenal dan Ibunya adalah pemilik sebuah butik besar yang mempunyai cabang di Jepang dan Cina. Meskipun seperti itu, Hanbin tidak pernah tinggal satu atap dengan kedua orangnya. Sejak kecil ia di asuh oleh neneknya dan ketika mulai sekolah ia selalu masuk ke sekolah berasrama. Ya, seperti sekarang.

Berbeda dengan Chou Tzuyu, Ibunya adalah Kepala Direktur Cheonjae High School sedangkan Ayahnya adalah pemilik CBS Entertainment, sebuah agensi hiburan yang menaungi artis-artis Korea. Artis dibawah naugan CBS ini bisa dikatakan sangat sukses dan membuat harga saham perusahaan naik dengan pesat sehingga CBS Entertainment masuk kedalam tiga besar agensi terbesar dan terkaya se-Asia.

Hanbin dan Tzuyu saling mengenal sejak usia mereka sepuluh tahun. Sejak saat itu pula mereka selalu berada di sekolah yang sama. Bahkan kedua orangtua Hanbin dan Tzuyu berniat untuk menjodohkan mereka. Sayangnya, Tzuyu langsung menolak perjodohan tersebut. Padahal Hanbin telah menyetujuinya karena memang sejak pertama kali bertemu dengan Tzuyu, ia mulai menyukainya.

“Aku sangat lapar, maukah kau menemaniku makan?” kata Hanbin.

Tzuyu mengerjapkan matanya berulang kali. Karena terlalu asik memandangi Hanbin dengan senyum manisnya membuat ia tidak sadar ketika Hanbin berjalan kearahnya dan sekarang berdiri tepat di depannya dengan badan membungkuk. Tzuyu sedikit memundurkan badannya ketika tubuh Hanbin semakin mencondong kedepan. Tak mau terlihat salah tingkah, Tzuyu segera berdiri dan meninggalkan ruang kelasnya.

Sudut bibir Hanbin kembali tertarik melihat tingkah Tzuyu, ia segera menyusul Tzuyu.

“Tidak usah percaya diri. Aku keluar bukan untuk menemanimu makan,” ujar Tzuyu ketika Hanbin berjalan sejajar dengannya.

Hanbin menaikan sebelah alisnya, heran. Kemudian ia terkekeh, “Aku juga tidak lapar.”

Tzuyu menghentikan langkahnya membuat lelaki di sampingnya ikut menghentikan langkahnya juga. Kemudian mata Tzuyu melirik kearah Hanbin, “Lalu kenapa kau mendatangiku?”

“Kurasa karena aku merindukanmu,” goda Hanbin.

Tzuyu memukul lengan Hanbin cukup keras, “Berhentilah mengatakan hal-hal yang tidak berguna.”

“Kurasa tidak salah jika aku merindukan calon istriku sendiri” ujar Hanbin kembali menggoda Tzuyu.

Tzuyu memutar bola matanya, lalu meninggalkan Hanbin. Ia ingin mengunjungi ruang dance yang terletak di lantai empat untuk sekedar menghilangkan rasa bosan.

Selama satu bulan kedepan, Cheonjae High School terbebas dari kegiatan belajar mengajar karena sekolah tersebut akan mengadakan sebuah event besar, yaitu ulangtahun Cheonjae High School yang ke delapan belas. Tentunya hal itu membuat semua murid sibuk mempersiapkan segala hal untuk memeriahkan acara yang sangat penting ini. Untuk kegiatan ajar-mengajar, mereka sudah meluangkan waktu di hari sebelumnya untuk mengganti jam kosong selama satu bulan penuh. Mereka juga di tuntut untuk bisa menyesuaikan pelajaran dengan sekolah lain ketika kegiatan ajar-mengajar kembali normal. Tidak terlalu berat bagi anak-anak Cheonjae High School yang memang mayoritas muridnya adalah orang-orang dengan IQ jenius. Ya, beginilah tradisi Cheonjae High School sejak pertama kali di didirikan.

—oOo—

“Saem, saya tidak melakukan apa-apa dengan Sohyun. Berciuman? Astaga, kapan saya melakukannya?” bantah Junhoe. Ia sedang berada di ruangan Kim Seonsaengnim—wali kelasnya—. Melihat ekspresi Kim Seonsaengnim yang tampak tidak percaya, Junhoe kembali melanjutkan, “Bolehkah saya meminjam laptop anda? Saya ingin melihat foto yang yang mengatas namakan diri saya.”

Kim Seonsaengnim meraih tas yang berada disampingnya, lalu menyalakan laptop. Junhoe pun segera merubah posisi duduknya yang semula berhadapan dengan Kim Seonsaengnim menjadi disebelah Kim Seonsaengnim. Mata Junhoe menatap tajam ke layar laptop ketika jari-jari Kim Seonsaengnim dengan lincah menekan keyboard pada laptop untuk membuka website sekolah.

FF_LoveVirus_Website

Mata Junhoe melebar melihat judul artikel teratas yang terpampang di website sekolahnya. Kemudian matanya melirik ke foto yang tertampang dengan ukuran besar disana. Sebelah matanya menyipit, mencoba menajamkan penglihatannya. Detik berikutnya Junhoe menggebrak meja dengan spontan.

Saem, ini memang Kim Sohyun tetapi lelaki yang bersama Kim Sohyun bukan saya!” bantah Junhoe.

“Kau masih membantah? Sudah jelas ini kau, Koo Junhoe!” ujar Kim Seonsaengnim sembari menunjuk seorang lelaki yang berada di foto tersebut, “Postur tubuh lelaki ini mirip denganmu, gaya rambutnya pun begitu. Mengingat bahwa kau adalah kekasih Kim Sohyun, sudah jelas bukan lelaki yang berciuman dengannya adalah kekasihnya sendiri yaitu kau, Koo Junhoe.”

Junhoe menghela napas, “Saem, tapi itu bukan saya—”

“Karena poinmu lebih banyak dari Kim Sohyun, maka bersiap-siaplah, Junhoe,” potong Kim Seonsaengnim sebelum mendengar penjelasan Junhoe yang ia anggap tidak masuk akal.

Perasaan Junhoe mendadak tidak enak mendengar Kim Seonsaengnim menyuruhnya bersiap-siap seolah-olah akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Mungkinkah ucapan Jungkook tadi benar-benar akan terjadi padanya? Ah, tidak. Tidak mungkin!

“Saya akan mengurus surat-surat kepindahanmu segera. Jadi beritahu saya nama sekolah mana yang akan kau pilih nanti. Saya memberimu waktu sampai besok,” lanjut Kim Seonsaengnim sembari menutup laptop miliknya, “Kau bisa pergi sekarang.”

“Saem—“

“Saya sedang sibuk, Koo Junhoe. Tolong keluar!” sentak Kim Seonsaengnim.

Tiba-tiba ponsel Junhoe berdering, Junhoe mengambil ponselnya sekedar melihat siapa seseorang yang menelponnya. Kemudian raut wajahnya berubah ketika membaca nama yang tertera disana.

Kim Sohyun. Gadisnya sedang menelpon.

Junhoe sengaja tidak mengangkat panggilan dari Kim Sohyun. Setiap kali mendengar nama itu, otaknya secara otomatis mengulang bayangan foto Sohyun yang berciuman dengan lelaki lain. Hatinya benar-benar merasa sesak mengingat hal tersebut. Ia tidak pernah menyangka gadis yang ia sayangi telah berkhianat. Entah kenapa ia merasa Sohyun tidak akan melakukan hal tersebut, entah kenapa ia yakin bahwa ciuman itu hanya ketidaksengajaan, entah kenapa ia yakin Sohyun tidak akan menduakannya. Namun semua bukti sudah jelas. Kenapa rasanya sulit sekali menerima kenyataan tersebut?

“Koo Junhoe!”

Junhoe segera sadar dari lamunannya. Kemudian ia membungkukkan badannya berkali-kali kepada Kim Seonsaengnim sebagai permintaan maaf. Kemudian ia keluar dari ruangan Kim Seonsaengnim. Tepat setelah Junhoe menutup pintu, ponselnya kembali berbunyi. Ada sebuah notifikasi.

Kim Sohyun.

Nama gadis itu kembali tertera di layar ponselnya. Sebuah pesan singkat.

FF_LoveVirus_SMS

Junhoe menghela napas. Ya, mungkin memang benar apa yang Sohyun katakan lewat pesan. Mereka harus berbicara satu sama lain bukan? Mencoba untuk mencari jalan keluar, berjuang bersama-sama untuk meredakan kasus yang menimpa mereka, atau mungkin mencoba untuk mengakhiri semuanya?

Junhoe melangkahkan kakinya menuju taman, kepalanya menunduk menatap lantai yang ia langkahi dengan tatapan kosong. Bahkan ia tidak sadar ketika seluruh siswa-siswi disekolahnya tengah memperhatikannya dengan berbagai macam tatapan. Kasian? Jijik? Meremehkan? Terkejut? Ya, mungkin seperti itulah tatapan yang diberikan kepada Junhoe. Tetapi Junhoe tetap tidak menyadarinya. Di kepalanya hanya terlintas ucapan Kim Seonsaengnim dan gadis bernama Kim Sohyun.

Bagaimana cara untuk memberitahu kepada orangtuanya bahwa ia harus dipindahkan? Bagaimana reaksi kedua orangtuanya ketika mendengar penyataan darinya nanti? Mungkinkah namanya akan di hapus dari daftar keluarga? Mungkinkah ia akan di usir dari rumahnya? Mungkin kah mereka tidak akan peduli lagi?

Junhoe mengusap wajahnya dan ia baru menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian. Ia tersenyum kecut kemudian memilih jalan yang sepi. Menjadi pusat perhatian membuatnya merasa sangat risih. Hah, mungkin memang nasibnya kurang beruntung. Ya, mungkin.

Sekarang Junhoe telah berdiri di bawah pohon rindang perbatasan antara sekolahnya dengan taman yang indah. Ia melihat seorang gadis tengah duduk manis disana. Posisi gadis itu membelakanginya sehingga gadis itu tidak menyadari bahwa sekarang Junhoe tengah memperhatikannya.

Junhoe kembali melangkah. Hanya satu langkah. Entah kenapa tiba-tiba kakinya terasa berat untuk melangkah mendekati gadis bernama Kim Sohyun itu. Apa yang harus ia lakukan jika bertemu dengan gadis itu? Pantaskah ia marah kepada gadisnya mengenai foto ciuman itu? Bagaimana jika…

“Sohyun… Kim Sohyun.”

Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir Junhoe tanpa disadarinya, membuat pemilik nama Kim Sohyun itu menoleh. Jantungnya berdegup sangat kencang ketika gadis itu mulai mendekatinya. Tetapi tiba-tiba foto ciuman tersebut kembali terngiang dalam pikiran Junhoe. Membuat hatinya mencelos.

Mianhae.”

“…”

“Junhoe, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf.”

“…”

“Junhoe, tolong maafkan aku. Aku—“

Junhoe menghela napas, ia mencoba tersenyum seolah-olah tidak ada hal yang terjadi, “Sudahlah, tidak ada yang perlu diselali, lagipula semuanya sudah terjadi,” potong Junhoe. Ia muak mendengar permintaan maaf dari Sohyun yang berulang-ulang. Ia tidak suka melihat orang yang mengemis maaf kepadanya. Apalagi jika raut wajahnya seperti raut wajah Kim Sohyun yang terlihat begitu menyesali semuanya. Matanya yang sayu, bibirnya yang bergetar. Sungguh, ia benar-benar tidak suka melihat raut wajah seperti itu.

“Aku—“

“Kita akhiri saja semuanya, kurasa kau bahagia dengan lelaki itu daripada aku,” Junhoe kembali memotong ucapan Sohyun. Kalimat yang baru saja ia ucapkan benar-benar membuat dadanya semakin sesak. Sebisa mungkin ia berbicara dengan nada santai dan tidak ada emosi. Tapi ia sendiri tidak yakin. Entah Sohyun menyadarinya atau tidak, suara Junhoe barusan terdengar begitu menyedihkan.

“Tapi aku menyayangimu, Junhoe. Sungguh hanya kau,” balas Sohyun. Dari awal ia sudah menduga Junhoe pasti meminta untuk mengakhiri hubungan mereka.

“I don’t care, urusi saja masalahmu sendiri,” jawab Junhoe santai.

Ada sedikit penyesalan mengingat bahwa gadis yang berdiri dihadapannya ini mempunyai hubungan dengan lelaki lain. Itu artinya ia gagal menjaga gadisnya? Benarkah seperti itu? Apakah Sohyun bosan dengannya? Apakah Sohyun tidak mencintainya lagi? Itukah alasan sehingga Sohyun diam-diam berhubungan dengan lelaki lain tanpa sepengetahuannya? Tetapi baru saja Sohyun mengatakan bahwa gadis itu menyayanginya. Lalu apa maksud dari semua tindakakannya?

Sohyun hanya diam. Kepalanya menunduk. Melihat respon dari dari Sohyun, Junhoe mengacak rambutnya kesal dan segera beranjak dari tempatnya.

Namun tangan Sohyun menahannya, membuat Junhoe menghentikan pergerakkannya, “Junhoe, kumohon dengarkan aku sebentar saja.”

Merasa enggan menatap gadis bernama Sohyun itu—karena membuatnya mengingat foto ciuman tersebut—, Junhoe hanya berdiri membelakangi Sohyun, membiarkan gadis itu menggenggam tangannya, menunggu gadis itu mengeluarkan suaranya. Namun dengan posisi yang seperti ini membuat Junhoe tidak tahan. Tidak tahan berperilaku seperti ini, ingin rasanya ia memeluk Sohyun. Namun ia sadar siapa dirinya sekarang.

“Ciuman itu… Sebenarnya—“

“Aku tidak ingin mendengarnya,” potong Junhoe—lagi. Sohyun ini bodoh atau bagaimana? Apa ia tidak mengerti bagaimana perasaanku? Huh? Kenapa membahas tentang ciuman itu lagi?

“Aku ingin mengatakan yang sebenarnya. Ini semua murni salah paham. Tolong dengarkan aku sekali saja,” Sohyun mencoba menjelaskan.

Junhoe menepis tangan Sohyun kasar sehingga membuat Sohyun mundur beberapa langkah, “Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun. Apa kau lupa? Aku bukan siapa-siapa, begitupula dengan kau,” ujar Junhoe setengah membentak.

Sohyun tersentak kaget melihat Junhoe membentaknya. Namun ia tidak peduli, ia mendekati Junhoe lagi kemudian menggenggam sebelah tangan Junhoe dengan kedua tangan, “Junhoe, lelaki itu sebenarnya—“

“Hentikan!”

“Dia menciumku karena—“

“Hentikan, Sohyun!” Junhoe menepis tangan Junhoe kasar membuat gadis itu terjatuh. Raut wajah Junhoe tergambar jelas bahwa ia sedang emosi, “Enyah dari hadapanku! Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Aku benar-benar kecewa denganmu! Kau pikir kau siapa seenaknya saja mempermainkanku? Huh? Kau sengaja melakukannya? Sialan! Sekarang apa kau puas telah membuatku dikeluarkan dengan tidak hormat? Dikeluarkan karena kasusmu yang memalukan! Apa kau sengaja tidak mengatakan kepada semua orang bahwa lelaki yang bersamamu bukan aku? Apa kau sengaja melakukannya untuk melindungi dirimu sendiri? Kau sengaja menjebak semua orang dengan kebohonganmu? Terserah! Aku tidak peduli lagi denganmu. Berciuman secara sengaja ataupun tidak aku tidak peduli. Maaf, tapi aku benar-benar membencimu sekarang.”

Setelah mengatakan hal itu ia mulai melangkahkan kakinya. Langkah demi langkah ia lalui membuat jarak antara dirinya dengan Sohyun semakin jauh. Junhoe mendengar suara isak tangis gadis itu. Hatinya bergetar. Ingin rasanya ia berbalik, menghampiri Sohyun, memeluknya, menghapus air matanya. Tapi tidak bisa. Ia terlanjur kecewa. Ya, sangat kecewa.

—oOo—

Junhoe baru saja memotong dan mewarnai rambut untuk mengubah gaya rambutnya beberapa jam lalu. Setelah pulang dari sekolah, ia memberitahu kedua orangtuanya mengenai berita yang menuduhnya tidak jelas. Walaupun pada awalnya Junhoe mendapat omelan menyebalkan dari sang ibu dan pukulan keras di punggungnya, untung saja pada akhirnya orangtua Junhoe percaya kalau lelaki yang berada dalam foto tersebut bukanlah Junhoe. Untuk masalah sekolah, Junhoe sudah memberitahu Kim Seonsaengnim dimana sekolah yang ia inginkan. Orangtua Junhoe meminta Junhoe untuk bersekolah di sekolah swasta elit yang memiliki asrama. Cheonjae High School. Tidak sembarang orang bisa bersekolah disana. Para guru disana sangatlah selektif dalam memilih muridnya. Ada dua golongan jenis murid yang bersekolah di Cheonjae High School. Pertama adalah orang yang memiliki kecerdasan dengan IQ minimal 160 dan yang kedua adalah orang-orang yang terpandang yang sangat kaya namun juga harus memiliki kecerdasan. Tidak sulit bagi Junhoe untuk bisa masuk sebagai siswa baru di Cheonjae High School. Ia selalu masuk peringkat tiga besar di sekolahnya. Hanya saja ia tidak pernah menduduki peringkat pertama karena seringkali melanggar aturan-aturan sekolah membuatnya mendapat poin semakin banyak. Andaikan ia mematuhi aturan mungkin ia akan menduduki peringkat pertama sejak ia bersekolah disana.

Junhoe memutar bola matanya kearah jam dinding. Ah! Ternyata sudah pukul enam pagi. Waktu berlalu begitu cepat. Sangat cepat. Ya, dengan berjalannya waktu semoga ia bisa melupakan semua kejadian memalukan itu. Kejadian memalukan di sekolah lamanya. Menuduh dan mengeluarkannya seenaknya sendiri.

Junhoe mengusap wajahnya, kemudian merenggangkan tangan sekedar untuk melemaskan otot tangan dan bahunya yang pegal. Semalaman ia mengepak baju-baju yang akan ia bawa ke sekolah barunya. Hari ini adalah hari pertama ia memulai kehidupan barunya di Cheonjae High School. Ia berharap semoga saja ia mendapat kesan-kesan baik selama bersekolah disana. Hm, semoga saja.

Tiba-tiba ponsel Junhoe berbunyi. Sebuah notifikasi masuk. Junhoe segera mengambil ponsel miliknya yang terletak di atas koper. Tangannya sibuk mengotak-atik iPhone miliknya dan melihat notifikasi tersebut. Ternyata notifikasi dari instagram miliknya. Ia segera membuka instagram dan melihat komentar dari beberapa orang—yang sebagian besar adalah teman-temannya sendiri—pada foto yang ia unggah beberapa jam lalu untuk memamerkan gaya rambutnya. Tetapi matanya tertuju pada komentar seseorang paling bawah.

FF_LoveVirus_IG_Junhoe

Junhoe berdecak kesal. Siapa pemilik akun instagram choutzuyu ini? Ck, kenapa menilai wajahku biasa saja? Apa ia tidak menyadari tampannya seorang lelaki bernama Koo Junhoe ini? Pikir Junhoe penuh percaya diri.

Kemudian Junhoe meng-klik username choutzuyu tersebut untuk melihat bagaimana rupa pemilik akun itu. Junhoe melengos begitu melihat foto yang diunggah oleh gadis pemilik akun instagram choutzuyu tersebut. Pantas saja mengatakan orang lain biasa, ternyata gadis ini cantik. Hah, dasar. Apakah semua gadis cantik selalu mengatakan orang lain biasa saja? Sombong sekali.

Kemudian secara tidak sengaja jarinya meng-klik foto terakhir yang di upload oleh choutzuyu tersebut.

FF_LoveVirus_IG_Tzuyu

Wah? Apakah gadis bernama choutzuyu ini begitu terkenal? Ia baru saja mengunggah fotonya tiga menit lalu tetapi sudah banyak yang menyukai dan mengomentari foto gadis itu. Jangan-jangan gadis ini adalah seorang trainee? Atau ulzzang? Mungkinkah?

Tunggu, mata Junhoe tiba-tiba tertuju pada lokasi di dalam foto tersebut. Cheonjae High School? Mata Junhoe terbelelak tidak percaya.

Ah, ternyata ia akan satu sekolah dengan gadis ini.

—oOo—

More? Cek LIBRARY

4 thoughts on “Love Virus – Prolog

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s