Scandal

pinktape3(1)

©Immocha 2015

Cast: Kim Jong In , Jung Soojung| Genre: Romance| Leght: Oneshoot

Soojung tak ingat mengapa ia bisa tertidur di kamar Jongin. Terakhir yang dia ingat ia berlari menuju rumah Jongin, menangis di pundaknya dan menghabiskan berbotol-botol wine sambil mengeluarkan seluruh kekesalannya. Tidak hanya memaki Jongin, ia juga memukul lelaki itu dengan bantal sebagai pelampiasan kemarahannya. Jongin hanya diam menerima semua perlakuan Soojung dan sesekali mencoba menenangkan gadis berambut kecoklatan itu.

Soojung perlahan mengerjapkan matanya, mengacak rambutnya mencoba mengumpulkan semua memorinya. Ia berusaha mengingat hal-hal apa yang ia lakukan semalam sebelumnya. Soojung terduduk di pinggir tempat tidur, tangannya memijat pelan kepalanya.

“Ah, kenapa kepalaku sepusing ini?” gerutunya pelan, namun pertanyaannya terjawab saat ia menoleh ke arah meja yang tak jauh dari tempatnya duduk.

Beberapa botol wine bertengger cantik di atasnya, Soojung yakin jika semalaman ia menegak abis seluruh isi botol itu dan Jongin tak akan berani menghentikannya, tidak sebelum ia benar-benar mabuk berat. Ada satu pertanyaan yang harus dia pastikan ke Jongin. Ya, Soojung harus memastikan itu

“Kau sudah bangun rupanya.”

Jongin membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali dengan salah satu kakinya.

“Apa aku melakukannya lagi?”

“Tidak.”

“Syukurlah kalau begitu,” Soojung membuang nafas lega.

Jongin menyodorkan nampan yang dibawanya, ia memberi isyarat pada Soojung untuk segera mengambil alih nampan yang dibawanya.

“Kau gila. Mana mungkin aku menghabiskan makanan sebanyak ini?”

“Makan saja semampu perutmu, biar aku yang menghabiskan sisanya.”

“Apa kau yakin akan–”

Ucapan Soojung terhenti seketika saat Jongin tanpa interupsi telah terlebih dahulu menyuapkan satu sendok penuh bubur kedalam mulut Soojung.

“Berhentilah berbicara dan makanlah. Aku lelah Soojung, sekarang biarkan aku tidur sebentar.”

Jongin berbaring di sebelah Soojung, ia mulai memejamkan matanya saat Soojung mulai berbicara kembali.

“Kau belum tidur semalaman Jong?”

“Mana mungkin aku bisa tidur jika kau menangis dalam tidur semalaman dan aku harus menenangkanmu jika kau kembali melakukannya. Kau tahu, aku benar-benar seperti pengasuh anak semalam.”

“Sungguh?”

“Iya. Jadi, berhentilah bertanya dan biarkan aku tidur sebentar. Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti.”

“Baiklah, selamat tidur. Maaf aku terlalu sering merepotkanmu.”

Soojung mencium singkat pipi Jongin, merapikan selimutnya kemudian beranjak pergi ke ruang tengah untuk menghabiskan sarapannya.

***

Jongin berjalan melewati Soojung begitu saja, rambutnya masih berantakan. Tangannya masih sibuk mengucek matanya.

“Bola matamu akan segera keluar jika kau menguceknya terus bodoh!” ujar Soojung yang masih enggan mengalihkan perhatiannya dari telivisi.

“Aku menghabiskan semuanya tadi, jadi sebagai penggantinya aku membuatkanmu roti isi,” tambah Soojung saat ekor matanya melihat Jongin sedang membuka tudung saji diatas meja makan.

Jongin tersenyum, sebenarnya ia sudah mengerti benar bagaimana gelagat Soojung. Gadis itu akan mudah lapar di pagi hari, terlebih setelah ia menghabiskan stock wine Jongin.

“Terima kasih Soojung. Kau tidak ada kuliah hari ini?”

“Kenapa?”

“Tidak. Aku hanya menanyakan saja. Ku dengar kau sedang dekat dengan Seunghyun hyung.”

“Ah, gossip itu. Kau mendengarnya juga ternyata.”

Ada sedikit perasaan aneh yang muncul dalam diri Jongin. Entahlah, dia takut menarik kesimpulan sendiri.

“Itu tidak seperti yang kau pikirkan Jongin,” Soojung mencondongkan tubuhnya ke Jongin, “Dan berhentilah berpikir macam-macam dengan otak mesummu itu,” Soojung mendorong kebelakang kepala Jongin dengan jari telunjuknya.

Jongin terdiam sejenak, tapi kesadarannya dengan cepat kembali dan segera mengapit kepala Soojung diantara badan dan lengannya.

“Kau sudah berani rupanya, huh?”

Tawa Soojung pecah, tak ada satupun yang mau kalah, Soojung masih berusaha melepaskan diri dari Jongin, namun enggan mengakui kekalahannya.

“Ya! Cepat lepaskan aku atau aku akan – ”

“Akan apa? Coba katakan apa yang akan kau lakukan.” Bukannya melepaskan Soojung, Jongin semakin membuat gadis itu berteriak.

“Jongin.”

Sepasang mata coklat mengamati Jongin dan Soojung. Apa yang sedang mereka lakukan hingga Jongin menggendong Soojung di punggungnya. Setelah sepersekian detik, Soojung sadar akan kehadiran gadis di hadapannya, ia langsung merosotkan tubuhnya dan langsung menjaga jarak dengan Jongin. Jongin menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal, suasana canggung menyelimuti mereka. Tak mau terlibat lebih jauh, Soojung membuka suara memecah keheningan.

“Kurasa aku harus pulang untuk memberi makan Gori,” Soojung mengambil handphonenya yang tergeletak di meja, “Kuharap kau tidak salah paham Sohyun.” Soojung menepuk bahu Sohyun kemudian pergi begitu saja tanpa mengucapkan kata apapun untuk Jongin. Jongin menatap kepergian Soojung yang terkesan terburu-buru, tapi ia tahu jika Soojung tidak pulang untuk memberi makan Gori melainkan untuk menghindari Sohyun.

“Duduklah dulu, aku akan mengambilkanmu minum. Kau ingin minum apa?”

“Jus Jeruk jika tidak keberatan.”

“Baiklah, tunggu sebentar.”

Jongin berlalu dari hadapan Sohyun untuk mengambil minuman di kulkas, sedangkan Sohyun menatap sepotong roti isi dengan pertanyaan penuh di kepalanya.

“Ini,” Jongin memberikan segelas jus jeruk sesuai permintaan Sohyun.

Jongin duduk disamping Sohyun, mengambil sisa roti isinya dan menjejalkan kemulutnya banyak-banyak tanpa memperhatikan perubahan sikap Sohyun.

“Apakah dia bermalam disini semalam?” Sohyun bertanya, ada sedikit rasa khawatir yang tergambar jelas di raut wajahnya.

“Iya, dia pergi dari rumahnya, dia hampir merusak pintuku jika tidak segera ku buka. Dia benar – benar berantakan.” Jawab Jongin sembari mengunyah rotinya.

“Kurasa kau mulai berlebihan. Soojung adalah seorang perempuan.”

“Terserah kau saja. Tapi, dia berantakan dan aku tidak berbohong tentang itu.”

Jongin meneguk langsung air dari botol minumnya langsung tanpa menuangnya dalam gelas terlebih dahulu.

“Aku tidak suka dia bermalam disini.”

Pernyataan Sohyun barusan membuat Jongin harus menghentikan tangannya memilin rambut Sohyun.

“Kukira kau tidak akan keberatan karena dia adalah sahabatku sejak kecil. Tapi ternyata aku salah.”

“Tidak. Tidak keberatan selama dia tidak menginap.”

“Baiklah aku akan berusaha agar Soojung tidak melakukannya lagi. Aku akan menyuruhnya tidur di jalan lain kali.”

Jongin tidak pernah serius dengan ucapannya.

Tidak untuk menyuruh Soojung tidur di jalan saat sahabatnya itu membutuhkannya. Bahkan Sohyun tidak pernah tau apa yang terjadi antara dirinya dan Soojung sebelumnya. Jongin tidak suka seseorang menuntut dirinya untuk melakukan apa yang mereka inginkan.

Ada perasaan yang tidak mengenakkan setiap kali Sohyun membahas Soojung di pertemuan mereka, dan Jongin tidak mengerti kenapa.

***

“Aku pulang,”

Hanya keheningan yang menjawab Soojung saat ia pulang. Tak ada sambutan hangat ibunya atau gonggongan gori seraya berlari kecil menghampiri Soojung. Tentu saja, itu tidak pernah terjadi karena ia memilih untuk tinggal di apartment Jongin. Ia akan menghubungi Jongin jika ia hendak mengunjungi apartmentnya, ia tidak ingin sahabatnya itu bermasalah dengan kekasihnya lagi karena Sohyun cemburu dengan kedekatannya dengan Jongin.

Soojung menghempaskan tubuhnya di sofa, menggapai remote tv dengan sebelah kakinya. Entahlah, Soojung semakin malas beraktivitas akhir – akhir ini. Ia bisa seharian hanya berbaring di ruang tamu, tanpa tertarik untuk melihat TV yang ia nyalakan. Merasa bosan karena selama dua jam hanya berdiam diri, Soojung merogoh ponsel di saku celananya. Tangannya dengan lincah megetikkan beberapa kata di layar ponselnya, namun tak selang beberapa lama ia menghapusnya. Ada keraguan dalam dirinya untuk sekedar mengirim pesan singkat pada Jongin.

“Biarlah, untuk kali ini saja, aku tidak peduli.”

Soojung mengetik dengan cepat apa yang ia inginkan, lalu tanpa membaca ulang pesannya ia mengirimkannya pada Jongin. Soojung tidak ingin jika ia membaca ulang apa yang ia ketik, itu akan mengurungkan niatnya untuk mengirimnya lagi.

“Tinggal menunggu apa yang akan terjadi.” Gumamnya ceria lalu berjalan cepat menuju dapur.

Soojung harus sedikit berjinjit untuk menggapai laci teratas. Matanya berbinar seperti anak kecil saat menemukan apa yang ia cari. Selai Cokelat. Soojung menyukai cokelat dan ia bisa memakan selai cokelat tanpa roti. Mungkin seperti beruang yang memakan madu. Kemudian ia beranjang ke kulkas, membuka lebar-lebar pintunya. Mengeluarkan sebotol wine dan sebotol cola. Soojung meletakkan semuanya diatas meja makan lalu membungkusnya menggunakan taplak meja.

Soojung yang saat ini hanya mengenakan celana jeans robek dan kaos putih yang cukup longgar ditubuhnya siap untuk menikmati matahari terbenam.

***

Nafasnya terengah ketika berhasil menemukan Soojung di lantai paling atas apartemennya. Senyum merekah menghias di wajahnya membuat matanya membentuk bulan sapit.

“Kau mencuri persediaanku jung?”

Jongin mengangkat tangan dan mengacak rambut Soojung pelan. Jongin beringsut merapatkan jarak diantara dia dan Soojung. Sekarang tangan Jongin sudah merangkul bahu Soojung dan gadis itu menyenderkan kepalanya di bahu Jongin.

“Malam ini cerah ya?”

“Hmm.” Jongin bergumam pelan. “Tapi udaranya cukup dingin.” Lanjutnya.

“Tentu saja bodoh, sebentar lagi musim dingin. Kau Lupa?”

“Tidak. Kau tidak merasa dingin Soojung?”

“Sedikit. Tapi ini menghangatkan.” Soojung mengangkat tangannya yang digenggam erat Jongin.

Jongin mengeratkankan rangkulannya. “Sudah merasa lebih hangat?”

Soojung menganggukkan kepalanya.

“Jadi, bagaimana kau bisa menemukanku disini.” Soojung menggeser badannya agar bisa dengan mudah menatap wajah Jongin.

“Mudah saja. Saat aku pulang, aku menemukan tasmu tergeletak di sofa. Aku memanggilmu, Kukira kau sedang tertidur dikamar, ternyata aku salah. Tapi ada yang ganjil dengan suasana dapurku, dan bingo!”

Soojung tertawa mendengar penjelasan Jongin. Soojung mungkin sudah membuka sebuah ruang baru didalam hatinya. Kehadiran Jongin selalu membuat hidupnya terasa lebih berwarna. Namun, kini ada arti lain tentang Jongin di hidupnya. Bersamanya, Soojung merasakan bahwa dalam keadaan sesulit apapun, pasti akan bisa ia lalui. Selama ada langkah yang menyejajarinya, ada tubuh tinggi yang melindunginya, ada rengkuhan yang menghangatkannya.

“Aku senang selalu menghabiskan waktu denganmu. Terima kasih karena selalu ada untukku.” Soojung tersenyum samar. Entahlah, ia terlalu bingung untuk mendeskripsikan perasaannya. Jongin sudah memiliki Sohyun dan ia tak mungkin hadir di tengah- tengah mereka. Mungkin menyimpannya sendiri lebih baik.

“Apa kau benar-benar ingin aku selalu ada untukmu?” Soojung mengangguk semangat.

“Kau sahabat terbaikku Jongin.”

“Bukan.” Ucapan Jongin membuat dahi Soojung berkerut. “Tetaplah disampingku tidak hanya sebagai sahabatku Jung.”

Mendengarkan perkataan itu Soojung terbelalak. Ia berpikir sahabatnya ini sedikit aneh. Yang benar saja tidak hanya sebagai sahabat. Lalu hubungan seperti apa yang Jongin harapkan.

“Kau memikirkan Sohyun?” Jongin menebak isi kepala Soojung yang dijawab dengan anggukan ragu. “Aku akan menyelesaikannya, kau tidak perlu ragu.”

Soojung terdiam. Angin kembali bertiup mengusik helai-helai rambut panjang Soojung yang menatap Jongin penuh arti. Jongin mulai mendekatkan wajahnya, mengecup lembut kening Soojung, kemudian turun menuju hidungnya. Mata Soojung terus terpejam saat merasakan hembusan hangat nafas Jongin di wajahnya. Dan detik berikutnya, semuanya terjadi begitu saja. Alasan yang tidak komperhensif memang, tapi begitulah semuanya terjadi.

 #########

Halo, semuanya..

ini perlu dilanjut atau di cukupkan saja ya?

tolong saran dan kritiknya..

Terima kasih banyak buat semua reader rff yang mau baca fanfiction ini ~~

 

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s