[Chapter 5] Forbidden Love

Forbidden Love

We shouldn’t have lived in the same building.

by Shinyoung (ssyoung)

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Kim Jongin & Jung Krystal || Genre: School Life & Romance || Length: Chapter 5/? || Rating: Teen (PG-15) || Credit Poster: goldenblood || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2015 by Shinyoung.

Chapter 5 — Closer

Prologue | Characters | 1 | 2 | 3 | 4

*

“Kau mau kemana?”

Pertanyaan Myungsoo tentu saja membuat Naeun langsung terkejut. Gadis itu menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap Myungsoo. Ia menatap laki-laki itu dengan kening berkerut. “Apa urusanmu?”

Eunji melirik keduanya. “Ada apa dengan kalian berdua? Akhir-akhir ini aku sering melihatmu berduaan dengannya, Son Naeun.”

Naeun menatap balik Eunji. “Yang benar saja! Aku tidak dekat dengannya. Aku dekat dengannya karena tugas kelompok tersebut. Kalau saja aku tidak sekelompok dengannya aku tidak akan dekat dengannya.”

Setelah itu, Naeun meninggalkan mereka dengan langkah yang dihentak-hentakkan. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja ditanyakan oleh Myungsoo. Dia tidak suka dengan keadaan sebenarnya dia mulai dekat dengan Myungsoo sejak tugas kelompok itu. Meskipun, sebenarnya dia juga tidak membenci Myungsoo.

“Son Naeun!”

Naeun menghentikan langkahnya. “O-oh, Jongin. Ada apa?”

Jongin tersenyum tipis. “Apa kau ada urusan sepulang sekolah hari ini?”

Naeun menggelengkan kepalanya. “Tidak. Ada apa? Ah, ya, maafkan aku soal tadi pagi. Sebenarnya aku berangkat dengan kakakku dan Myungsoo ikut dengan kami. Jadi, aku terpaksa berangkat dengna mereka. Kau tidak keberatan, bukan?”

“Tidak. Tidak,” jawab Jongin sambil tersenyum lebar. “Kalau begitu, apa kau mau pulang denganku? Aku sebenarnya ingin mengajakmu jalan-jalan. Aku baru saja pindah ke sini dan aku ingin mengelilingi Seoul.”

“Kalau kau mengajakku—”

Sebelum Naeun sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba seseorang menabraknya dan membuat buku-buku yang tengah dibawanya berjatuhan. Naeun langsung berteriak kesal ke arah orang tersebut dan menyadari bahwa orang tersebut adalah Kim Myungsoo. Myungsoo dengan santai meninggalkan Naeun tanpa membantunya.

Cepat-cepat, Naeun membereskan buku-bukunya dan meninggalkan Jongin, menyusul Myungsoo kemudian menghajar laki-laki itu dengan pukulan berkali-kali pada punggung laki-laki itu.

“Sialan kau, Kim Myungsoo!”

Y-ya!”

Myungsoo meringis beberapa kali sampai akhirnya Naeun menghentikan aksi brutalnya ketika menemukan sosok Hyuna yang baru keluar dari kamar mandi. Tentu saja gadis itu tidak mau kena masalah untuk kedua kalinya.

“Apa sih masalahmu?” tanya Myungsoo kesal. Namun, Naeun langsung merangkul laki-laki itu ketika Hyuna melangkah mendekati mereka. Senyum lebar terpasang di bibir Naeun saat Hyuna melewati mereka berdua.

Saat Hyuna memasuki ruang guru, Naeun mempererat rangkulannya pada Myungsoo dan mendekatkan dirinya pada Myungsoo “Dengar, ya, jika kau sekali lagi menabrakku seperti itu, aku tidak akan memaafkanmu! Kau akan habis di tanganku!”

Myungsoo menghela nafas pelan. “Kau mau kemana? Ke perpustakaan?”

Naeun mendengus kesal dan melepaskan tangannya. Ia menyerahkan buku-buku yang dibawanya pada Myungsoo. “Bantu aku membawa buku-buku itu ke perepustakaan sebagai hukumannya. Kau harus menjadi pembantuku selama sehari, kalau tidak aku tidak akan segan-segan memukulmu seperti tadi.”

Diam-diam, Myungsoo tersenyum tipis, namun dia tidak menanggapi perkataan Naeun. Keduanya pun meninggalkan tempat tersebut dan mulai melangkah menuju perpustakaan yang ada di lantai dua. Namun, di belakang sana, seseorang memperhatikan mereka dengan tatapan kesal bercampur dengan sedih.

 

 

“Kim Myungsoo!”

Myungsoo langsung menutup bukunya begitu mendengar suara Naeun. Laki-laki itu menolehkan kepalanya. Sedangkan itu, Jongin yang duduk tak jauh dari mereka memperhatikan keadaan tersebut.

Naeun melangkah mendekati meja Myungsoo dan memberikan selembar uang 5000 won, diletakkannya di atas meja Myungsoo dengan suara sedikit keras. Beberapa anak langsung menoleh ke arah sumber suara karena penasaran.

“Belikan aku roti dan susu di kantin sekarang,” kata Naeun sambil melipat kedua tangannya. Myungsoo menatapnya bingung. Naeun pun menghela nafas. “Kau lupa? Kau harus menjadi pelayanku selama sehari ini. Kalau tidak aku akan memukulmu seperti tadi! Kau mau?”

Myungsoo menghela nafas, lalu ia bangkit, dan mengambil selembar uang yang ada di mejanya itu. “Baiklah—”

Ya! Son Naeun! Apa yang kau lakukan padanya?” tanya Sunggyu tidak percaya.

Naeun tersenyum tipis. “Tenang saja. Aku tidak melakukan apapun padanya. Aku hanya memberinya sedikit hukuman. Lihat, betapa hebatnya aku berhasil menyuruhnya pergi ke kantin!”

Myungsoo mendengus, kemudian melangkah keluar dari sana. Setelah berhasil keluar dari kelas itu dengan tatapan dari semua murid kelas 2-2, ia pun segera menarik ujung bibirnya. Dia tidak menduga bahwa dia berhasil membuat Jongin sedikit terkejut.

Namun, ia cepat-cepat membatalkan senyumnya. “Dengar, Kim Myungsoo. Kau melakukan ini karena dia adalah adik dari Dongwoon hyung. Kau melakukannya karena Dongwoon hyung. Kau tidak boleh tersenyum,” ujarnya sambil melangkah menuju kantin.

Tiba-tiba. . .

Seseorang menarik Myungsoo memasuki kamar mandi laki-laki dan menutup pintu kamar mandi tersebut. Laki-laki itu langsung mendorong Myungsoo ke dinding kamar mandi dan menghadapkan tubuh Myungsoo menghadap tembok. Namun, Myungsoo berhasil melepaskan kuncian laki-laki tersebut dan membalikkan badannya.

Tanpa ia duga, ia berhasil menjatuhkan laki-laki itu dan membuat laki-laki yang menyerangnya itu terjatuh menghadap lantai. Myungsoo menahan kedua tangan laki-laki itu ke belakang dan menguncinya seolah ia akan memborgol tangan laki-laki itu.

“Kim Jongin?”

Suara Myungsoo perlahan memelan ketika menemukan bahwa laki-laki yang baru saja menyerangnya adalah benar-benar Kim Jongin. Myungsoo langsung melepaskan kedua tangan Jongin dan menjauhinya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Cih,” Jongin mendengus lalu berusaha bangkit dari lantai. Ia menghadap Myungsoo dan tersenyum miring. “Dengar, sejak kapan kau mendekati Naeun? Kau sudah tau bahwa Naeun adalah targetku. Kenapa kau mendekatinya?”

“Oh ya? Aku tidak tahu bahwa ia adalah targetmu. Aku sudah terlanjur dekat dengannya, bagaimana?” tanya Myungsoo sambil melipat kedua tangannya. Lalu, ia mengeluarkan uang 5000 won yang tadi diberikan Naeun. “Kau lihat? Dia bahkan menyuruhku ke kantin untuk membelikannya roti dan susu.”

“Sial. Aku tidak akan menyelesaikan urusanmu hanya karena ada penghalang sepertimu. Bagaimanapun, kau bukan apa-apa,” kata Jongin, membenarkan kerah seragamnya. Ia kemudian membuang ludahnya ke arah toilet laki-laki. “Apa Naeun akan terus bersamamu jika dia tahu bagaimana masa lalumu?”

Myungsoo tersenyum. “Aku tidak yakin soal itu. Tapi, apa kau juga akan yakin kalau Naeun akan mau berteman denganmu jika dia tahu bahwa kau hanya mempermainkannya?”

 

 

“Aku ingin memberi kalian tugas kelompok. Satu kelompok 2 orang artinya kalian harus berpasangan,” kata Dongwoon sambil menatap seluruh murid kelas 2-2.

Beberapa murid bersorak bahagia seolah mereka telah menentukan dengan siapa mereka akan berpasangan, namun begitu matanya melihat Naeun yang tetap diam tak bersuara sambil menatap jendela membuatnya sedikit risih. Pria itu memukul meja dengan kayu panjang kurus yang selalu dibawa oleh semua guru Skoolite. Tentu saja, itu salah satu alat untuk menegakkan kedisiplinan.

“Dengar, kali ini aku yang akan menentukan dengan siapa kalian berkelompok.”

Kata-kata Dongwoon barusan tentu saja membuat beberapa murid membuat suara gaduh. Mereka tentu saja merasa sedikit kesal karena mereka tidak bisa bekerja dengan teman sekelompok mereka.

Dongwoon pun melanjutkan setelah semuanya kembali diam, “Tugasnya mudah. Aku akan memberi kalian waktu 2 minggu untuk melakukannya. Kalian harus melakukan penelitian tentang jaringan hewan. Kalian harus mencari materi tentang jaringan hewan, namun aku tidak akan menerima materi yang kalian ambil dari internet. Aku ingin kalian sekali-kali mencoba untuk membaca di perpustakaan. Buku mana saja, aku menerimanya asalkan buku itu benar-benar ada. Jika ada yang mengambilnya dari internet sedikit saja, aku akan langsung memberikan kalian nilai nol—um, akan aku pertimbangkan lagi jika kalian mau mengaku bahwa kalian memang mengambilnya dari internet.”

“Dongwoon ssaem!” Joy mengangkat tangannya. Dongwoon mengalihkan pandangannya pada Joy dan menunggu gadis itu untuk berbicara. “Tapi, bagaimana jika kalimat-kalimat yang kami temukan pada buku ternyata juga sama persis di internet?”

“Kalian akan tetap dihukum.”

Semua murid langsung heboh dan membuat beberapa argumentasi seolah apa yang baru saja dikatakan oleh Dongwoon membuat mereka kesal. Baru kali ini, kelas Dongwoon seramai ini karena argumentasi. Padahal, sebelumnya mereka tidak pernah membantah apa pun yang dikatakan oleh Dongwoon karena Dongwoon selalu memberikan sesuatu yang membuat mereka mudah dalam mempelajari Biologi.

“Dengar,” kata Dongwoon sambil memukul meja lagi menggunakan kayu panjang. “Kalian akan tahu apa bedanya kalian hanya mengambil dari internet saja dan bagaimana jika kalian membacanya dari buku. Aku harap kalian menemukannya saat kalian melakukan pekerjaan ini. Itulah alasannya aku memberikan kalian waktu dua minggu. Seharusnya, aku hanya memberi kalian waktu sampai pertemuan selanjutnya karena ini hanya mencari materi, namun aku sudah menduga bahwa kalian pasti tidak akan mengerti.”

Naeun mendengus mendengar kata-kata kakaknya. “Ah, benar-benar menyulitkan saja. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.”

Dongwoon menyadari bahwa Naeun sudah memperhatikannya pun langsung tersenyum lebar. “Baiklah, sekarang aku ingin membagikan kelompoknya.” Dongwoon melirik bagian sudut kanan papan tulis dimana di sana tertulis dua orang nama yang mendapatkan bagian piket hari ini. “Kim Sunggyu dan Park Chorong.”

“Y-ya, ssaem?” jawab keduanya dengan ragu sambil mengangkat tangan.

“Kalian yang piket hari ini, bukan?”

“Iya,” jawab keduanya lagi.

Dongwoon tersenyum nakal. “Ooooh. . . Kalian berdua menjawab dengan serempak.” Murid-murid langsung menyahuti ucapan Dongwoon dengan berbagai sorakan untuk mengejek pasangan itu. “Baiklah, sudah-sudah. Aku ingin kalian mencatat kelompok yang aku sebutkan, setelah itu serahkan padaku secepatnya.”

Ne, ssaem,” jawab keduanya lagi.

Dongwoon mengambil kertas absensi yang ada di dalam rak di atas meja guru. Kemudian, ia langsung menyebutkannya dengan acak pasangan-pasangan tersebut. Beberapa murid merasa bahagia seperti pasangan Chanyeol dan Baekhyun yang langsung bersorak. Tak lama setelah itu, beberapa pasangan saling menggerutu.

“Kang Seulgi—”

“Dengan siapa ya aku?” tanya Seulgi tak sabar.

“Kim Jongin.”

Ssaem!” protes Seulgi, namun Dongwoon hanya menggelengkan kepalanya.

“Kim Myungsoo dan Son Naeun.”

Aigoo, kalian berdua lagi!” seru Eunji pada Naeun. Namun, Naeun hanya menarik napasnya dalam-dalam sambil melirik kakaknya kesal. Dia tahu kakaknya akan melakukan hal ini. “Bukankah hal itu akan menyenangkan, Kim Myungsoo-ssi?”

Ne?” tanya Myungsoo yang sepertinya tidak memperhatikan ucapan Eunji sambil menatap gadis itu bingung. Eunji hanya memberikan isyarat bahwa ia tengah membicarakan Naeun. Namun, Myungsoo hanya menganggukkan kepalanya bingung.

Naeun menggigit bibir bawahnya. “Lihat saja nanti, Son Dongwoon! Aku akan balas dendam denganmu.”

 

 

“Krystal, kau dicari Seulgi.”

“Kenapa gadis gila itu mencariku?” tanya Krystal sambil membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam buku. Gadis itu mencari-cari Seulgi yang rupanya sudah menunggunya di luar kelas.

Murid-murid 2-1 yang tergolong sebagai murid-murid pandai dan berprestasi tentu saja akan langsung pulang setelah bel berbunyi. Mereka tidak mau menyia-nyiakan waktu mereka di sekolah untuk hal tidak berguna.

Wae?!” tanya Krystal tajam sambil menatap Seulgi kesal.

“Oh, ayolah! Kau ini jahat sekali, Jung Krystal,” kata Seulgi sambil merangkul gadis itu. “Aku mau pergi ke kafe baru yang buka dua hari lalu itu. Kau mau ikut tidak? Kau bisa belajar di sana.”

Krystal langsung tersenyum lebar. “Kafe baru? Ayo kita ke sana! Ngomong-ngomong soal Kim Myungsoo. Bagaimana laki-laki itu? Apa dia masih dekat dengan Son Naeun? Akhir-akhir ini aku jarang melihatnya ada di kelas. Dimana saja dia?”

Seulgi tersenyum tipis. “Dia satu kelompok dengan Naeun. Tentu saja, dia masih dekat dengan Son Naeun. Bahkan, anak-anak di kelas ikut mengejek mereka berdua.”

Mendengar itu, Krystal langsung menghentikan langkahnya. Ia menjejakkan kakinya berkali-kali dengan kesal, membuat beberap murid langsung menoleh ke arahnya. Namun, murid-murid itu hanya mengabaikannya karena mereka tahu tingkah Krystal yang terkadang menyebalkan dan terkadang harus diacungi jempol.

“Ah!” gerutu Krystal, lalu melanjutkan langkahnya.

“Sudahlah, berhenti menggerutu,” kata Seulgi sambil mengambil kunci mobilnya yang ada di dalam saku roknya. “Tidak ada gunanya kau mengejar-ngejar Kim Myungsoo. Dia tidak akan pernah melirikmu sedikit pun sampai kau mengubah wajahmu dan tingkahmu menjadi Son Naeun.”

“Kau gila, ya?” tanya Krystal.

Keduanya memasuki mobil Seulgi. Seulgi pun menghidupkan mesinnya dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman sekolah.

“Tidak!” seru Krystal tiba-tiba setelah lama keduanya diam dalam hening. “Aku tidak mau berhenti. Aku yang menyukainya duluan. Aku sudah menyukainya dari hari pertama masuk. Aku selalu mendekatinya, bersikap baik padanya, namun kenapa dia tidak pernah menyukaiku kembali? Memangnya aku kurang apa? Son Naeun tidak sepertiku! Dia gila dan dia bukan queenka.”

“Jung Krystal. . . Memangnya laki-laki seperti Kim Myungsoo harus menyukai gadis sempurna seperti dirimu?” tanya Seulgi, membuat Krystal sedikit tertohok. “Memangnya laki-laki di dunia ini hanya ada Kim Myungsoo saja? Kau tahu Oh Sehun di kelasku? Dia menyukaimu, tapi kau tidak pernah memperhatikannya. Ah, sudahlah.”

“Seulgi­-ya. . . Kau marah padaku?” tanya Krystal sambil menyentuh lengan Seulgi dan menggoncang-goncangkannya.

Ya! Kita bisa kecelakaan!” seru Seulgi. “Jangan bercanda. Aku tidak marah padamu, aku hanya ingin memberitahumu bahwa apa yang kau lakukan selama ini memang tidak salah. Kau berhak menyukai Kim Myungsoo, tapi jika kau sudah tahu bahwa kemungkinannya itu dibawah 50%, kenapa kau tidak mencoba melihat yang lain? Kau harus memberikan kesempatan pada orang lain yang menyukaimu.”

“Uh. . .”

“Kita sudah sampai,” kata Seulgi sambil mematikan mesin mobilnya. Ia membereskan bawrang-barangnya, lalu mengambil tasnya. Tepat saat ia baru ingin melangkahkan kakinya keluar dari mobil, matanya menangkap seseorang yang ia kenal. “O-oh, buka—”

Wae? Kau mengenali seseorang?” tanya Krystal yang ikut penasaran kemudian mengikuti arah pandang mata Seulgi. “Siapa itu? Dia satu sekolah dengan kita? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?”

Seulgi cepat-cepat menarik tasnya keluar. “Ayo, Krystal! Kita harus mengejarnya! Aku tadi lupa memberi tahunya sesuatu!”

Krystal menatapnya bingung, namun ia hanya mengangkat bahunya tak peduli. Ia pun keluar dari mobil Seulgi, lalu mengikuti gadis itu masuk ke dalam kafe. Setibanya di dalam sana, Seulgi tampak sudah berbincang-bincang serius dengan laki-laki yang tak pernah ia lihat di sekolah itu.

“Seulgi-ya,” panggil Krystal sambil mendekati mereka berdua. Namun, Seulgi memberikannya isyarat untuk tetap diam.

“Kim Jongin, aku bisa memberi tahu hal ini pada Dongwoon ssaem.”

“Kim Jongin?” tanya Krystal dengan suara pelan sambil menatap laki-laki itu. Ia tampaknya tidak asing di mata Krystal, namun Krystal hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menatap wajah Seulgi yang sudah kesal—sangat kesal sebenarnya.

“Beri tahu saja, kau bisa mengerjakannya sendiri. Aku bisa mengerjakannya sendiri,” kata Kim Jongin tidak peduli. “Lagi pula, aku tidak sudi mengejakannya denganmu. Aku sudah memberi tahumu, kau bisa mencari pasangan lain.”

“Seulgi, mau aku bantu?” tanya Krystal akhirnya. “Aku bisa membantumu mengerjakannya, dengan begitu kau akan tetap mendapatkan nilai. Bagaimana?”

“Sudahlah! Kita pulang saja. Aku tidak mood makan di sini setelah bertemu dengannya,” kata Seulgi sambi melepaskan tangan Krystal yang sebelumnya terpaut padanya. Gadis itu meninggalkan Krystal dan Jongin dalam keadaan diam.

Krystal membalikkan badannya pada Jongin. “Kim Jongin-ssi, kau ini benar-benar egois. Apa kau pikir mendapatkan nilai itu semudah yang kau ucapkan barusan padanya? Minta maaf padanya!”

Jongin mendengus pelan, lalu tersenyum miring. “Jung. . . Krystal?” tanyanya setelah membaca papan nama Krystal. “Ah. . . Kau pindahan dari luar negeri, ya? Kau sepertinya tidak mengerti kehidupan di Korea. Bagiku, uang adalah segalanya. Jadi, tolong jangan ikut campur dengan urusan kami. Aku tidak ingin kau menghabiskan waktumu hanya untuk masalah kecil seperti ini. Kalau kau mau, kau bisa melakukan hal yang tadi kau tawarkan padanya, aku tidak akan menolak tawaranmu kalau aku jadi dia.”

Setelah itu, Kim Jongin meninggalkan Krystal sendirian, memasuki kafe tersebut dan duduk di salah satu tempat duduk yang ada di sudut kafe. Krystal memperhatikan laki-laki itu dengan kesal. Ia mendengus kesal, lalu melangkah keluar dari kafe itu sambil menyumpah dalam hatinya bahwa dia tidak akan membiarkan hal tersebut terus terjadi, terutama menyakiti Kang Seulgi yang notabene merupakan sahabatnya sejak kecil.

 

 

Ya, Kim Myungsoo.”

Tanpa mengalihkan pandangannya, Myungsoo menjawab, “Mwo?

Woohyun menghela napasnya pelan. Ia menunjuk ke arah pintu sambil menatap laki-laki yang sama sekali tidak menatapnya balik itu. “Sepertinya. . . Jung Krystal mencarimu lagi. Dia tidak berisik seperti biasanya, sih, hanya saja wajahnya yang berdiri di sana menggangguku.”

Myungsoo menutup bukunya, lalu ia menolehkan kepalanya ke arah pintu kelasnya. Di sana, berdirilah sosok Jung Krystal, namun gadis itu tidak menoleh ke arahnya sedikitpun. Padahal, dia yakin bahwa Krystal hafal di mana ia duduk. Myungsoo mengalihkan pandangannya lagi ke arah buku. “Sepertinya dia tidak mencariku, kalau kau tidak suka dia ada di sini, sebaiknya usir saja karena aku juga tidak suka melihatnya ada di depan pintu.”

M-mwo. . . Baiklah,” kata Woohyun akhirnya, lalu melangkah menuju pintu kelas, menghampiri Krystal yang tampaknya masih mencari-cari seseorang. “Jung Krystal, kau mencari siapa? Myungsoo menitipkan pesan agar kau segera pergi dari—”

Belum sempat Woohyun menyelesaikan kalimatnya, seseorang melangkah masuk ke dalam kelas, melewati mereka berdua tanpa mengucapkan sepotong kata pun. Begitu menyadari siapa yang baru saja memasuki kelas 2-2, Krystal langsung menahan bahu laki-laki itu dan membuat laki-laki itu membalikkan badannya.

“Kau!” pekik Krystal begitu mengetahui wajah laki-laki itu.

Seluruh murid kelas 2-2 langsung menolehkan wajah mereka ke arah pintu kelas. Kebanyakan dari mereka membulatkan mata mereka karena tidak percaya melihat apa yang baru saja terjadi. Biasanya, Krystal hanya ke kelas 2-2 untuk mencari Seulgi atau Myungsoo atau juga Son Naeun karena gadis itu dekat dengan Myungsoo akhir-akhir ini.

Namun, sekarang melihat Kim Jongin yang ada di hadapan Krystal, mereka tidak bisa menduga bahwa Myungsoo telah digantikan oleh Jongin.

A-ani, kenapa kau mencari Kim Jongin?” tanya Woohyun bingung.

“Bukan urusanmu,” jawab Krystal dengan pedas. Ia kembali beralih pada Jongin. “Kau tahu apa yang kau lakukan pada sahabatku? Dia tidak masuk hari ini karena dia harus menyelesaikan tugasnya sendirian! Ini semua salahmu!”

Woohyun melepaskan tangan Krystal dari bahu Jongin, lalu merangkul keduanya sambil melirik-lirik murid-murid yang menatap mereka dengan wajah bingung. “Tenang dulu, Jung Krystal. . . Ada apa sebenarnya? Bisa kau jelaskan pada kami? Mungkin, kami bisa membantumu untuk memberi tahu Jongin. Masalah tidak akan terselesaikan jika kau bertindak gegabah.”

Krystal melepaskan rangkulan Woohyun. “Beritahu padanya untuk mencari Kang Seulgi sekarang! Aku tidak bisa menghubunginya dari pagi. Kalau sampai dia tidak masuk karena dia harus mengerjakan tugas tersebut, kau harus bertanggung jawab, Kim Jongin!”

Setelah mengucapkan hal itu, Krystal langsung meninggalkan kelas 2-2 dengan hawa membara. Naeun yang bahkan baru ingin memasuki kelas pun menghentikan langkahnya begitu melihat Krystal keluar dari kelasnya dengan mata berapi-api. Naeun memperhatikannya sampai ia memasuki kelasnya, 2-1, yang tepat berada di samping kelasnya.

Dengan ragu, Naeun melangkah masuk ke dalam kelas. Wajah-wajah tegang memenuhi kelas, kecuali Kim Myungsoo. Laki-laki itu bahkan sama sekali tidak memperhatikan kelas, ia tetap duduk di kursinya sambil memasang headphone yang menutupi kedua telinganya.

“Tentu saja, dia tidak pernah memperhatikan keadaan kelas,” kata Naeun sambil melangkah masuk.

 

 

Ponsel Naeun berdering dengan sangat kencang, sampai-sampai membangungkan gadis itu dari tidur lelapnya. Dengan sigap, gadis itu terbangun begitu mendengar nada dering ponselnya.

“’Cause I’ve got a jet black heart. . . And there’s a hurricane underneath it. Trying to keep us apart. I write with a—“

Naeun menyambar ponselnya, lalu mendekatkan ponselnya ke arah telinganya. “Eo? Wae?! Kau mengganggu tidur nyenyakku!”

Dongwoon terkekeh di sana. “Kau tidak perlu marah-marah seperti itu. Aku sepertinya akan pulang larut karena aku harus mempersiapkan soal-soal ujian akhir semester. Kau tidak perlu menungguku. Aku tidak sempat membeli bahan makanan, kalau kau tidak berani ke minimarket, kau bisa minta Myungsoo mengantarmu. Sebenarnya—

“Baiklah!” Naeun menjawab dengan kesal. “Kau pasti meminta Myungsoo untuk mengantarku, bukan? Meskipun aku tidak memintanya juga dia pasti akan menuruti kemauanmu. Sudah, ya, aku tutup!”

Setelah itu, Naeun langsung menutup ponselnya. Ia menatap ponselnya kesal, lalu ia terduduk di atas tempat tidurnya. Matanya menatap jam yang terdapat di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, jarum jam menunjukkan pukul 8 malam. Pantas saja, dia merasa sangat lapar.

Sekolah selesai tepat pada pukul 7 malam. Ia tiba di rumah setengah jam yang lalu, artinya dia telah tertidur selama 30 menit. Seragam lusuh masih menempel di tubuhnya. Ia menghela napas dan memutuskan untuk menuju kamar mandi. Dia tidak akan keluar dari apartemennya dengan keadaan seperti ini.

Dia mandi dengan cepat dan mengganti pakaiannya menjadi pakaian casual yang selalu ia gunakan di rumahnya. Ia menyambar ponselnya dan membuka kontak di ponselnya. Selama ini, dia selalu meletakkan kontak Dongwoon pada nomor 1 dan Choi Gina—sang pemilik apartemen—pada nomor 2.

Sebelum ia sempat menekan nomor 1, tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Ia mengira panggilan tersebut dari Dongwoon, namun rupanya panggilan itu berasal dari Myungsoo. Gadis itu menghela napas pelan.

Eo?

Kau masih di rumah, bukan?” tanya Myungsoo dengan suara yang sangat berat. Naeun menduga laki-laki itu baru bangun tidur, entahlah, dia sendiri tidak mau menduga apapun. “Aku mau ke sana. Dongwoon hyung menyuruhku untuk menjagamu. Kalau bukan karena Dongwoon—”

“Cukup, aku sudah pernah mendengar kau mengatakan hal itu,” jawab Naeun dengan cepat. “Aku mau ke minimarket. Kau bisa temani aku, bukan? Oh, lebih tepatnya. . . Kau mau melaksanakan tugas yang disuruh oleh kakakku, bukan?”

Baiklah, aku akan ke sana.”

Setelah itu, Naeun keluar dari kamarnya. Ia mengambil beberapa lembar uang yang diletakkan kakaknya di atas kulkas, lalu ia menyambar jaket tebalnya yang tergantung di dekat pintu apartemennya. Untuk mempermudah, ia mengambil sepatu hitam yang biasanya ia gunakan ke sekolah.

Tepat saat ia melangkah keluar dari sana, Myungsoo sudah berdiri di samping pintu apartemennya dengan posisi tubuh yang disandarkan pada dinding. Naeun tersenyum tipis pada laki-laki itu, namun ia langsung menarik lagi ujung bibirnya ke bawah begitu menyadari bahwa laki-laki itu adalah Kim Myungsoo.

“Kau sakit, ya?” tanya Myungsoo sambil melangkah duluan.

“Aku tidak sakit. Sakit apa?” tanya Naeun balik.

“Kau tadi tersenyum padaku, aku kira kau sedang sakit,” jawab Myungsoo.

Begitu mendengar jawaban Myungsoo, Naeun langsung memutar kedua bola matanya. Gadis itu melangkah di samping Myungsoo dengan langkah berat, ia menatap keluar balkon.

Bintang-bintang memenuhi langit malam itu. Bulan sabit pun ikut menghiasi langit malam di antara bintang-bintang yang berkelap-kelip. Cahaya bulan yang bersinar terang menyinari perkotaan membuat mata Naeun ikut bersinar kala menatap keindahan tersebut.

Myungsoo yang berdiri di sampingnya pun melirik gadis itu. Tatapannya langsung tertuju pada kedua bola mata Naeun yang bersinar terang. Tanpa Myungsoo sadari, kedua ujur bibirnya telah tertarik ke atas tatkala ia menatap kedua bola mata yang indah itu.

Namun, lama-kelamaan, Naeun langsung sadar bahwa ada yang tidak beres. Gadis itu pun melirik Myungsoo, namun Myungsoo tampak santai-santai saja. Mereka berbelok ke arah lift apartemen. Naeun melangkah dahulu begitu Myungsoo mempersilahkannya.

Keduanya hanya diam tanpa bersuara sesampainya mereka di lantai dasar. Meskipun keduanya hanya diam, Naeun memiliki keinginan untuk mengajak laki-laki itu berbicara. Padahal, jika di sekolah, dia selalu mengajak Myungsoo berbicara ini dan itu. Entah itu pertengkaran, atau apapun itu sehingga mereka berhasil berbicara.

“Son Naeun, apa tidak sebaiknya kita pergi ke mall saja?”

“Um. . .”

Naeun menghitung uangnya. Sebenarnya memang cukup jika ia pergi ke mall. Hanya saja ia tidak yakin jika ia harus membawa belanjaan yang cukup banyak. Biasanya, dia selalu menemani kakaknya belanja dan mereka naik mobil. Namun, kali ini ia hanya ditemani oleh Myungsoo.

“Kau memikirkan bagaimana kita membawa pulang belanjanya?” tanya Myungsoo akhirnya setelah Naeun terdiam untuk beberapa saat. Laki-laki itu menyentuh bahu Naeun dengan pelan, lalu memutar tubuh gadis itu agar menghadapnya. “Aku ditugaskan untuk membantumu. Jadi, kau tidak perlu memikirkan apapun. Kau hanya perlu menyiapkan uangnya.”

Naeun kembali terdiam, lalu ia mengangguk dengan ragu. Gadis itu akhirnya merapatkan jaketnya dan mengikuti Myungsoo yang menggiringnya menuju halte bus. Keduanya menaiki bus yang menuju mall terdekat. Naeun menarik napas dalam-dalam.

Sesampainya mereka di sana, Naeun langsung menarik salah satu kereta belanja. Ia melangkah masuk meninggalkan Myungsoo yang memperhatikan Naeun dari belakang. Laki-laki itu hanya mengikuti Naeun dengan sabar dan memperhatikannya mengambil bahan-bahan makanan.

“Kim Myungsoo!” panggil Naeun dengan ragu.

Myungsoo mendongakkan kepalanya saat ia tengah membaca ponselnya, lalu menatap gadis itu bingung. “Ada apa?”

Naeun menggigit bibir bawahnya dengan kesal, lalu ia mendorong kereta belanja yang tadi dibawanya pada Myungsoo. “Ambil itu, bawakan barang-barang yang akan aku beli.”

Arasseo,” jawab Myungsoo. “Kau mau masak apa?”

“Entahlah.” Naeun mengangkat kedua bahunya. “Bisa kau beri aku saran?”

“Bagaimana dengan pasta daging?” saran Myungsoo.

Naeun meliriknya dengan tajam. “Ya, apa aku terlihat seperti koki handal yang ada di restoran bintang lima? Aku tidak bisa memasaknya. Kenapa kau memberi saran makanan itu, sih?”

Myungsoo tertawa pelan. Namun, Naeun langsung menatapnya kesal. Cepat-cepat, Myungsoo menghentikan tawanya. Dia tidak menduga bahwa ia akan tertawa melihat tingkah Naeun yang daritadi marah-marah.

“Aku hanya memberimu saran,” ucap Myungsoo santai. “Kalau begitu, aku saja yang memasaknya.”

“Memangnya kau bisa?” tanya Naeun dengan nada meremehkan.

“Percaya saja padaku,” kata Myungsoo.

Walaupun Naeun tidak percaya, memang sudah seharusnya Naeun percaya karena mengetahui Myungsoo yang tinggal sendirian selama bertahun-tahun. Darimana dia tahu? Tentu saja, dia sudah tahu segalanya mengenai Myungsoo karena ulah kakaknya yang selalu membuatnya panas.

Bicara soal kakaknya, dia jadi rindu padanya.

“Sepertinya kalian berdua menikmati masa-masa tanpaku, ya?”

Keduanya langsung membalikkan badan. Mereka pun menemukan sosok Dongwoon yang telah tersenyum miring ke arah Myungsoo dan Naeun—terutama Naeun. Dongwoon merangkul adiknya itu dan juga Myungsoo.

Ia melangkah di antara keduanya. “Jadi, bagaimana dengan waktu kalian berdua? Apa kalian menikmatinya?” Ia melirik Naeun. “Son Naeun, adikku yang manis, apa kau menyukainya?”

Naeun menginjak kaki Dongwoon tanpa segan. “Sama sekali tidak!”

 

To be Continued 

December 29, 2015— 01:00 P.M.

::::

a.n.: Ini update paling telat yang pernah ada. Kena wb dan ya gitu deh, urusan sekolah yang tiada henti. Tapi, hasilnya juga memuaskan untuk sekolahnya. Makasih buat semua yang udah nunggu fan-fiction ini terus lanjut. Jangan lupa komentar, like, rate, dan segala macam feedback lainnya, ya!♥

12 thoughts on “[Chapter 5] Forbidden Love

  1. your update,,finally,,after so longggg for waitinggg,,
    tmbah pnsaran ajah ma myung n kai,,
    flash backny hrus d tnggu ni,,
    pngen myungeun momentny d tmbah lgiii..
    n the last i hope,,seulgi baik2 aj tuh,,ksian diany d stuin ma jongin,,
    jonginnn nyebelin dehhh,,
    keep writing n fighting,,gomawo^^

  2. hahahah gemes gemes gitu baca kelakuaanya myungsoo sama naeun..
    masih penasaran sama masa lalunya myungsoo sama kai? kayaknya suram banget wkw
    ditunggu banget kelanjutannya thor😀

  3. Duh telat lg baca lanjutan fanfic ini😦 Huaa part ini lumayan byk jd kebayar deh kangen nya sm ff ini x) makin penasaran deh sesuram apasih masa lalu nya myungsoo sampe2 jongin blg kyk gt. Jongin jg kliatannya dia itu playboy/badboy gt entahlah-_- YEAYY! Cheap moments myungeun bikin hebring ih suka deh♡ ttp fokus sekolahnya ya makasi udh mw sempetin waktu buat lanjutin fanfic ini dan keep writing young!!

    • aduhhh komentar kamu yg paling kerennnn. makasih banyaak udh baca, komentar, dan kritik sarannya sangat membantuuu. wahh iya siiip deh makasih juga buat semangatnya! keep reading yaaa♡♡♡

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s